Anda di halaman 1dari 23

 

SAP XIII

IDE DAN KONSEP USAHA


KEWIRAUSAHAAN (A2)
 

OLEH: KELOMPOK 1

1. NI KADEK SUGIARTINI (1506205007)

2. PUTU EKA CAHYA SETYAWATI (1506205015)

3. PUTU AYU SUPRIATI (1506205019)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2017
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur yang kami panjatkan kehadapan Tuhan yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-nya kami dapat menyelesaikan tugas paper mata kuliah kewirusahaan yang berjudul
"Ide dan Konsep Usaha"
Dalam kesempatan ini, penulis juga menyampaikan terimakasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu sehingga paper ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis sangat berharap paper ini dapat berguna dalam menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai cakupan ilmu kewirausahaan dalam hal ini khususnya mengenai
peluang usaha serta hal-hal yang berkaitan dalam meraih peluang tersebut. Untuk itu, kami
harapkan adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan serta koreksi di masa yang
mendatang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang lain.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan
dan kami mohon kritik atau saran yang membangun.

Denpasar, Mei 2017

Penulis

KEWIRAUSAHAAN i
 
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................... i


Daftar Isi .................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Ringakasan Eksekutif “Graha Banten” ................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................... 3


2.1 Segmenting, Targeting, Positionning (STP) ............................................ 3
2.2 Analisis SWOT ........................................................................................ 7
2.3 Bauran Pemasaran .................................................................................... 9
2.4 Kebutuhan Modal Investasi ..................................................................... 11
2.5 Sumber Modal .......................................................................................... 13
2.6 Lokasi Produksi........................................................................................ 13
2.7 Luas Usaha Dagang ................................................................................. 13
2.8 Sarana dan Prasarana ............................................................................... 13
2.9 Pemeliharaan ............................................................................................ 14
2.10 Layout Toko dan Sarana Transportasi ................................................... 15
2.11 Teknis Pelaksanaan Usaha ..................................................................... 16
2.12 Teknis Pemesanan Produk ..................................................................... 17

BAB III PENUTUP .................................................................................................. 18


3.1 Simpulan .................................................................................................. 18
3.2 Saran ................................................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 20

KEWIRAUSAHAAN ii
 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Usaha


Pada era globalisasi saat ini, pertukaran atau pengadopsian budaya telah lazim
dilakukan. Dengan adanya sistem informasi dan teknologi yang berkembang sangat
pesat menyebabkan segala hal menjadi lebih praktis dan mudah. Pergerakan dan
perubahan yang semakin nyata, mendorong pola pikir manusia menjadi lebih
sederhana. Adapun yang dimaksud dengan pola pikir sederhana, di mana masyarakat
dunia memiliki anggapan bahwa semua masalah dapat diselesaikan dan aktivitas-
aktivitas yang rumit dapat dipermudah.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di sini, tidak hanya memengaruhi
kehidupan manusia di bidang telekomunikasi saja. Perubahan secara signifikan juga
terasa pada bidang-bidang lainnya, seperti bidang ekonomi, sosial, dan politik.
Perkembangan teknologi disertai dengan kemudahan akses transportasi menyebabkan
perubahan menjadi semakin kompleks.
Perubahan di berbagai bidang ini tidak hanya dirasakan oleh negara-negara maju
saja. Namun, negara berkembang seperti Indonesia juga sangat terpengaruh oleh
perubahan tersebut. Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dengan
letak geografis yang strategis, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pelaku
aktif dalam era ini. Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya khas dengan 33
provinsinya ini, merupakan negara yang mencakup bangsa dengan berbagai suku dan
adat. Salah satu provinsi dengan suku dan adat istiadatnya yang masih kental adalah
Provinsi Bali.
Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menjadi ketertarikan
tersendiri bagi masyarakat mancanegara. Selain, daerah wisatanya yang memesona,
Bali juga memiliki wisata budaya yang erat kaitannya dengan upacara keagamaan.
Bahasa khiasan yang sering menyebut Bali sebagai 'Pulau Seribu Pura dan Seribu
Dewa' dengan mayoritas masyarakat beragama Hindu sesuai dengan data dari BPS
pada tahun 2014 yang menunjukkan jumlah warga Bali yang beragama Hindu sebesar
1.977.807 jiwa ini, memiliki beragam acara-acara keagamaan yang telah membudaya.
Kegiatan keagamaan yang membudaya atau biasa disebut dengan istilah Yadnya
inilah yang akan kami bahas, di mana upacara-upacara ini dilakukan sesuai dengan

KEWIRAUSAHAAN 1
 
waktu dan daerahnya. Suatu kegiatan keagamaan memiliki persembahan yang berbeda
dengan kegiatan keagamaan pada hari lainnya. Persembahan yang biasa disebut Banten
ini memang dipersiapkan oleh masing-masing rumah tangga atau desa bersangkutan.
Tetapi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa era globalisasi memengaruhi
hingga seluruh pelosok dunia tanpa terkecuali Bali. Pola pikir masyarakat Hindu di Bali
yang kini mulai mengagung-agunkan kepraktisan, mendorong mereka menjadi malas
untuk berkarya khususnya membuat sarana persembahyangan yang disebut banten tadi.
Padahal, setiap bertemu hari suci, masyarakat Hindu di Bali diwajibkan menghaturkan
persembahan yang disesuaikan dengan penghasilan dan situasi serta kondisi mereka.
Ironis memang, ketika suatu bangsa yang mulai malas untuk mempelajari budayanya
sendiri. Di samping itu, banten yang biasanya dibuat oleh kaum perempuan ini menjadi
sukup rumit, karena gadis-gadis atau ibu-ibu di Bali memiliki kesibukan di bidang
karir masing-masing. Sehingga, lelah dan tidak memiliki waktu luang menjadi alasan
utama mereka ketika menjelang hari raya. Namun, di lain pihak, kami mengambil sisi
positif dari adanya perubahan prilaku masyarakat ini. Perubahan ini memberikan
peluang bagi kami untuk memulai suatu usaha karena melihat minat masyarakat yang
menyukai hal-hal yang mudah untuk dikerjakan, sekaligus memanfaatkan kemajuan
teknologi yang ada., maka tercetuslah ide kami dalam membuat usaha banten dan
peralatan upakara yang dijual secara langsung dan online.

1.2 Ringkasan Eksekutif : "Graha Banten"


Usaha Dagang Banten Serta Perlengkapan Upakara Secara Langsung Dan Online
Graha Banten merupakan suatu gagasan usaha yang menawarkan produk utama
berupa banten dengan daerah pemasarannya di Provinsi Bali. Ide bisnis yang
mengusung konsep penjualan secara langsung maupun tidak langsung atau online ini
menawarkan produk banten yang beragam dan umumnya sering digunakan oleh
masyarakat Hindu Bali dalam aktivitas Yadnya mereka. Pendirian toko Graha Banten
direncanakan di daerah Denpasar dengan pertimbangan dekat dengan pasar dan
mempunyai peluang yang tinggi. Di samping itu, penulis mengajukan program
pemasaran berbasis aplikasi, dengan harapan usaha ini dapat menjamah seluruh
masyarakat Hindu yang ada di Bali.

KEWIRAUSAHAAN 2
 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Segmentation, Targeting, and Positioning (STP)


 Analisis Situasi Ekonomi
Otonomi daerah diharapkan mampu menggali potensi daerahnya dalam upaya
peningkatan pendapatan daerah sekaligus mampu menangani setiap masalah yang
timbul dalam berbagai aktivitas pembangunan. Pengenalan terhadap potensi daerah,
baik yang bisa digali sebagai kekuatan atau keunggulan maupun yang berpotensi
sebagai kendala atau kelemahan merupakan masukan yang sangat berharga guna
merancang strategi untuk mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan.
Masyarakat miskin diidentikkan dengan masyarakat yang bekerja di bidang sektor
informal.
Peningkatan peran wanita untuk ikut aktif dalam kegiatan ekonomi khususnya
di sektor informal pada dasarnya tidak saja ditujukan untuk menanggulangi
kemiskinan tetapi juga meningkatkan perempuan ikut aktif pada kegiatan ekonomi
kemasyarakatan. Salah satu sektor informal yang banyak menyerap tenaga kerja
adalah sektor perdagangan dan pada umumnya sektor perdagangan terkonsentrasi di
pasar-pasar. Penetapan sasaran meningkatkan peran aktif perempuan merupakan
langkah yang strategis karena dilihat dari proporsinya, penduduk perempuan
berimbang dengan penduduk laki-laki. Peningkatan peran wanita untuk ikut aktif
dalam kegiatan ekonomi khususnya di sektor informal pada dasarnya tidak saja
ditujukan untuk menanggulangi kemiskinan, melainkan lebih luas dari itu, yakni
untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga (Bappeda, 2009). Salah satu sektor
informal yang banyak menyerap tenaga kerja adalah pada sektor Perdagangan, Hotel
dan Restaurant. Ini ditunjukkan dengan jumlah penduduk dari kabupaten terbesar di
Bali, yaitu Kabupaten Badung berumur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut
lapangan usaha Tahun 2009 dan 2010, Badung Dalam Angka ( 2011) sebanyak
67.960 orang atau 29,34 persen pada tahun 2009 dan 103.750 orang atau 33,45
persen tahun 2010. Diikuti sektor Pertanian sejumlah 49.710 orang atau 21,45 persen
pada tahun 2009 dan 60.800 orang atau 19,60 persen tahun 2010. Ini menunjukkan
tenaga kerja di Kabupaten Badung cenderung memilih sektor perdagangan, hotel
dan restaurant sebagai mata pencaharian mereka. Sektor perdagangan yang tidak

KEWIRAUSAHAAN 3
 
lepas dari budaya, ritual, dalam kehidupan sehari-hari adalah berdagang banten.
Meningkatnya aktivitas masyarakat dalam kesibukan sehari-hari masyarakat Bali,
baik dalam bidang ekonomi maupun perkantoran mengakibatkan masyarakat tidak
sempat lagi untuk membuat banten atau canang (Nilakusmawati, 2009). Untuk
mempermudah kegiatan ritualnya masyarakat kini cenderung membeli
canang/banten yang sudah jadi, sehingga menjadi lebih praktis dan lebih hemat dari
segi waktu. Prospek sektor informal terus berlangsung disertai dengan pesatnya
penambahan tenaga kerja yang masuk ke sektor tersebut mengindikasikan perlunya
studi yang mendalam mengenai perkembangan, prospek dan faktorfaktor yang
mempengaruhi kinerja sektor informal yang dilihat dari pendapatannya.

 Analisis Kompetitor
Kemajuan bisnis bisa dilihat dari bagaimana kita dapat mengidentifikasi dan
menganalisis para pesaing serta tahu cara mengantisipasinya. Melihat persaingan
aplikasi berbasis internet yang menjual banten di Bali, belum banyak terdapat
pesaing khususnya untuk yang menjual banten berbasis aplikasi. Banten yang
ditawarkan memang cukup bervariasi dan diferensiasinya di sini banten dipasarkan
secara online dan dikatakan cukup murah. Keadaan ini membuat Graha Banten
mudah dijangkau oleh para konsumen. Di sisi lain Graha Banten memiliki
penawaran fasilitas tergolong unik dan tetap mempertahankan keajegan Bali. Banten
yang dijual pun tetap sesuai dengan aturan banten yang digunakan dalam upacara
keagamaan pada umumnya. Keunikan dalam penawaran fasilitas ini diharapkan
dapat meningkatkan minat konsumen untuk membeli banten secara online, dimana
pemasaran produk Graha Banten umumnya dipasarkan di Bali saja. Adapun contoh
gambaran untuk aplikasi yang digunakan oleh Graha Banten, sebagai berikut.

KEWIRAUSAHAAN 4
 
 Analisis Sosial dan Budaya
Pengaruh dari globalisasi pada masyarakat Indonesia menciptakan budaya
baru masyarakat Indonesia yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Salah
satunya adalah masyarakat tidak suka "ribet". Masyarakat Bali yang setiap harinya
disibukkan dengan bekerja demi mencari nafkah, ditambah lagi dengan besarnya
jumlah hari suci keagamaan di Bali yang membutuhkan sarana upakara (banten). Di
sinilah peluang yang kami ambil agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Bali
untuk sarana upakara yang dibutuhkan.
Masyarakat pada umumnya ingin membeli barang yang harganya murah
dengan pelayanan yang lebih memuaskan. Meskipun kebutuhan akan banten
maupun sarana upakara lainnya banyak dijual di pasar maupun tempat lain,
kebiasaan masyarakat akan kemudahan dalam beraktifitas akan mendukung
tumbuhnya usaha Graha Banten ini. Kami tetap memperhatikan aturan yang baik
dalam pembuatan banten karena tidak hanya untuk kepuasan pelanggan karena
banten yang murah, tetapi juga memperhatikan aspek budaya/kesakralan banten
yang akan digunakan untuk upacara keagamaan.

Selain itu melihat pergeseran budaya yang sudah kebarat-baratan dan dengan
munculnya alat komunikasi yang semakin canggih seperti handphone atau gadget,
membuat masyarakat menjadi terpaku dan menyukai hal-hal yang berbau online. Hal
ini dibuktikan dengan banyaknya jumlah pengguna internet khususnya di Bali, yaitu
6.148.796 jiwa pada tahun 2016 (Survey APJII 2016).

KEWIRAUSAHAAN 5
 
Berdasarkan beberapa analisis yang telah dilakukan maka di dapat hasil untuk
menentukan segmentasi, penentuan target, dan memosisikan perusahaanm sebagai
beruikut.
1) Segmentation (Segmentasi Pasar)
Untuk mencapai target pemasaran dengan optimal, maka Graha Banten membagi
pasar menjadi beberapa segmentasi, yaitu segmentasi demografi, segmentasi
psikografis, segmentasi geografi, dan segmentasi benefit.
a) Segmentasi demografi
 Pembagian usia : 10 tahun ke atas
 Jenis kelamin : Laki-laki dan Perempuan
 Tingkat Ekonomi : Menengah ke bawah/menengah ke atas (semua
kalangan)
b) Segmentasi psikografis
Sasaran pasar dari produk ini adalah masyarakat Bali yang beragama Hindu
yang menyukai kepraktisan.
c) Segmentasi geografi
Untuk letak geografis pemasaran sendiri, yaitu dengan dibukanya sebuah toko
di daerah Denpasar/Badung yang merupakan pusat daerah perdagangan di Bali
sehingga pemasaran produk ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
d) Segmentasi benefit
Dalam hal kebutuhan dari manfaat produk, masyarakat dibagi menjadi dua
segmen, yaitu:
o Masyarakat membeli produk karena tidak memiliki skill dalam membuat
produk tersebut.
o Masyarakat membeli produk karena tidak memiliki waktu luang karena
kesibukan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2) Targeting (Target Pasar)
Dari keempat dasar segmentasi pasar dapat dikatakan bahwa segmen yang cukup
membuka harapan adalah konsumen atau masyarakat yang membeli produk ini
karena tidak memiliki skill atau keterampilan dalam membuat produk tersebut dan
mereka yang tidak memiliki waktu luang karena kesibukan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari.

KEWIRAUSAHAAN 6
 
3) Positioning (Posisi)
Graha Banten berusaha menempatkan dirinya pada pelanggan yang bisa membeli
produk ini dengan membanggakan bahwa produk Graha Banten memiliki keunikan
yang tidak dimiliki di tempat lain, yaitu dengan adanya layanan berbasis aplikasi
online. Ketika pelanggan teringat akan distributor banten yang dapat dipesan secara
online, maka mereka akan mengingat Graha Banten. Selain itu hanya di Graha
Banten yang menyediakan banten dengan sistem penjualan paket, jadi tertanam
dalam benak konsumen bahwa Graha Banten adalah tempat mereka untuk memesan
banten dengan harga ekonomis dan sangat mudah dijangkau dimanapun mereka
berada.

2.2 Analisis SWOT


Analisis SWOT merupakan suatu analisa sebagai dasar dalam menentukan usaha, yang
terdiri dari Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang) dan
Threat (ancaman). Dalam usaha dagang banten secara langsung dan online dapat
diketahui bahwa aspek-aspek tersebut ialah:
FAKTOR INTERNAL
STRENGTH WEAKNESS
Harga masih dapat disesuaikan dengan Pemasaran masih terbatas dalam ruang
kemampuan pasar, baik itu secara lingkup daera Bali saja.
eceran maupun grosir.
Terdapat fasilitas tambahan seperti jasa Kepercayaan atau adat yang berbeda
kurir dan jasa online sehingga untuk antara konsumen dengan produk yang
konsumen yang malas bepergian, cukup ditawarkan memungkinkan konsumen
mengakses dan melakukan pemesanan merasa kurang puas.
melalui media sosial.

Penjualan banten dilengkapi dengan Kebutuhan biaya pengganti apabila


informasi mengenai makna banten dan produk rusak, maka penjual

bagian-bagiannya serta kegunaannya. memerlukan biaya cadangan.

Penawaran banten yang dikemas secara Tidak tersedianya stok beberapa jenis
eceran dan paket dengan wadah banten produk yang dibutuhkan oleh
yang terdiferensiasi. konsumen apabila pemesanan

KEWIRAUSAHAAN 7
 
dilakukan secara mendadak.
Produsen adalah ibu-ibu rumah tangga Apabila beberapa jenis produk banten
yang memiliki pengetahuan dan seperti canang yang "ready", namun
keterampilan di bidang ini. Sehingga, tidak laku, maka akan sulit diolah
selain mendapat keuntungan, usaha ini kembali.
juga dapat memberdayakan ibu rumah
tangga.
Penjualan produk dapat disesuaikan _
dengan pemesanan dan budget yang
dimiliki konsumen.
Terdapat penawaran perlengkapan _
upakara lainnya sebagai faktor
pendukung.
FAKTOR EKSTERNAL
OPPORTUNITY THREATS
Belum banyaknya usaha sejenis di Bali, Menurunnya daya beli konsumen.
apalagi yang menggunakan fasilitas
penjualan online.
Gaya hidup masyarakat yang Kendala pada bahan baku yang
menginginkan segalanya serba instan sewaktu-waktu tersendat sehingga
dan mudah menjadikan usaha dagang menghambat produksi banten itu
ini sebagai solusi terbaik dalam sendiri.
menyambut hari suci kegamaa.
Banyaknya perempuan di Bali yang Ancaman serbuan market follower
sibuk dan tidak memiliki skill dalam sejenis.
pembuatan alat upakara (banten).
Peubahan sosial dan teknologi yang Banyaknya pesaing yang menjual
mendorong konsumen menjadi lebih banten di pasar-pasar tradisional dengan
modern dan konsumtif. menawarkan harga yang lebih murah.
Usaha dagang produk ini berpeluang _
untuk terus dilanjutkan atau bersifat
kontinuitas.

KEWIRAUSAHAAN 8
 
2.3 Bauran Pemasaran

Untuk strategi pemasaran sendiri


menggunakan bauran pemasaran
dengan 7P (Product, Place, Price,
Promotion, People, Process, dan
Physical evidence), yaitu sebagai
berikut :

a) Product (Produk)
 Canang
- Canang Sari
- Canang Tangkih
- Canang Raka
- Canang Genten
- Canang Pengerawos
- Canang Genten
 Pejati
 Banten Prayascita
 Banten Pengulapan
 Banten Otonan
 Banten Melaspas
 Banten Mecaru
 Banten Soda
 Banten Biokaon
 Banten Ngeruak
 Banten Ngerapuh
 Peralatan Pendukung Upakara Lainnya

b) Price (Harga)
Harga-harga barang di Graha Banten ini berkisar antara Rp500,00 s.d.
Rp2.500.000,00. Terdapat pula segmentasi produk yang Graha Banten miliki

KEWIRAUSAHAAN 9
 
dimana terdapat produk yang dijual secara terpisah dan ada pula yang dijual
secara paket. Penawaran produk ini juga disesuaikan dengan pesanan dari
konsumen. Sehingga setiap produk dapat dibeli oleh berbagai kalangan pada
setiap tingkatan ekonomi.
c) Place (Tempat)
Adapun lokasi penjualan dari Graha Banten akan dibangun Toko di daerah
Panjer, Denpasar.
 Sistem transportasi yaitu menggunakan sebuah pick up. Dimana pick up ini
digunakan untuk mendistribusikan produk-produk yang akan dijual di
Graha Banten serta berguna untuk mengantarkan pesanan konsumen
apabila konsumen membutuhkan jasa delivery.
 Untuk sistem pembuatan berasal dari produsen banten yaitu himpunan ibu-
ibu pembuat banten, di mana tempat pengambilan banten sendiri berada di
daerah Batu Bulan.
d) Promotion (Promosi)
Promosi yang akan dilakukan oleh Graha Banten, yakni melalui media
sosial dengan pemanfaatan aplikasi online serta pembuatan iklan yang
dipasang pada media massa seperti koran dan majalah keagamaan. Selain itu,
berdasarkan survei yang telah kami lakukan ke beberapa pedagang banten di
sekitaran Badung dan Denpasar bulan Februari 2017, kami mendapatkan
bahwa promosi dengan cara mudah seperti WOM (Word of Mouth) merupakan
cara yang cukup efektif untuk memperkenalkan usaha ini.
Apabila usaha dagang banten ini sudah berjalan lancar dan
berkelanjutan, maka Graha Banten akan melaksanakan Corporote Social
Responsibility (CSR) dengan cara ikut berpartisipasi dalam acara keagamaan
di kawasan sekitar toko dengan beryadnya (menyumbang banten yang
diperlukan dan memberikan dana punia).

e) Process (Proses)
Dalam perencanaan proses, Graha Banten akan memberikan pelayanan
yang ramah kepada konsumen yang berkunjung ke Graha Banten untuk
membeli banten atau peralatan upakara. Komplain akibat produk maupun

KEWIRAUSAHAAN 10
 
lainnya akan langsung ditanggapi oleh pegawai dengan berkomunikasi pada top
leader dari usaha dagang banten ini sesegera mungkin.
f) People (Manusia)
 Pencetus gagasan: Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Udayana Program Studi Manajemen angkatan 2015.
 Pegawai : Salah satu yang memegang peranan penting dalam strategi
pemasaran produk Graha Banten adalah pegawai dari Graha Banten itu
sendiri. Pegawai Graha Banten menawarkan keramahtamahan pada
konsumen baik secara langsung maupun dalam hubungan secara tidak
langsung (melalui media sosial atau via telepon)
 Kebudayaan : Menurut kami people atau manusia yang bekerja dengan
baik tidak hanya pandai memasarkan produk namun juga haruslah orang
yang memiliki pribadi serta sikap yang baik. Oleh karena itu Graha
Banten menyebutkan bahwa people with good personality adalah yang
terpenting dalam karakter seorang pegawai.
g) Physical Evidence
Merupakan elemen yang langsung berhubungan dengan konsumen,
yakni fasilitas seperti interior dan suasana. Untuk interior sendiri Graha Banten
akan menghias toko dengan lukiasn-lukisan yang berkaitan dengan agama
Hindu dan budaya Bali. Pemasangan logo perusahaan di depan toko dengan
daftar banten yang ditawarkan. Selain itu, suasana toko juga dibuat semenarik
dan setenang mungkin, yakni dengan diaktifkannya musik-musik Bali
dipadukan dengan musik-musik keagamaan. Ruangan yang tidak begitu luas
namun tetap dengan konsep penataan produk yang rapi serta harum dupa yang
memenuhi ruangan, sehingga hal ini diharapkan dapat membuat para
pengunjung menjadi lebih nyaman dalam melakulan transasksi.

2.4 Kebutuhan Modal Investasi


Besarnya dana investasi yang diperlukan untuk merealisasikan rencana usaha,
baik untuk kebutuhan aktiva lancar maupun untuk aktiva tetap.

KETERANGAN JML HARGA/UNIT TOTAL


MODAL TETAP
Aplikasi 5th @ Rp 1,080,000 Rp 5,400,000
Mobil Pick Up 1bh @ Rp 100,000,000 Rp 100,000,000

KEWIRAUSAHAAN 11
 
Motor 1bh @ Rp 15,000,000 Rp 15,000,000
Handphone 1bh @ Rp 3,200,000 Rp 3,200,000
Rak (Tempat Produk) 2bh @ Rp 1,500,000 Rp 3,000,000
Kulkas 1bh @ Rp 2,000,000 Rp 2,000,000
Meja Kasir 1bh @ Rp 2,750,000 Rp 2,750,000
Mesin Kasir 1bh @ Rp 3,750,000 Rp 3,750,000
Laptop 1bh @ Rp 4,800,000 Rp 4,800,000
Kursi Plastik 2bh @ Rp 75,000 Rp 150,000
Pajangan (Gambar Dewa) 2bh @ Rp 50,000 Rp 100,000
Papan Nama Toko 1bh @ Rp 1,000,000 Rp 1,000,000
Tong Sampah Besi 1bh @ Rp 120,000 Rp 120,000
Kipas Angin 1bh @ Rp 300,000 Rp 300,000
Papan Daftar Pesanan 1bh @ Rp 60,000 Rp 60,000
Total Modal Tetap Rp 141,630,000
MODAL KERJA
Pembelian Barang Dagang Rp 10,000,000
Awal
Kas Rp 5,200,000
Sewa Toko 5th @ Rp 20,000,000 Rp 100,000,000
Pulsa 4kali @ Rp 100,000 Rp 400,000
Pembersih Lantai 2bh @ Rp 10,000 Rp 20,000
Spidol 3pcs @ Rp 10,000 Rp 30,000
Kresek Merah 10pack @ Rp 10,000 Rp 100,000
Kresek Sedang 15pack @ Rp 6,000 Rp 90,000
Kresek Kecil 10pack @ Rp 4,500 Rp 45,000
Besek 5kodi @ Rp 35,000 Rp 175,000
Sapu Ijuk 2bh @ Rp 12,500 Rp 25,000
Serok 1bh @ Rp 15,000 Rp 15,000
Alat Pel Lantai 1bh @ Rp 60,000 Rp 60,000
Keset 1bh @ Rp 140,000 Rp 140,000
Ember 1bh @ Rp 15,000 Rp 15,000
Penghapus Papan 1pcs @ Rp 5,000 Rp 5,000
Spanduk 1bh @ Rp 50,000 Rp 50,000
Total Modal Kerja Rp 116,370,000
TOTAL INVESTASI Rp 258,000,000

KEWIRAUSAHAAN 12
 
2.5 Sumber Modal
Perincian sumber perolehan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan, sebagai
berikut:

Modal Sendiri Modal Asing Total Modal


Modal Tetap Rp 84,978,000 Rp 56,652,000 Rp 141,630,000
Modal Kerja Rp 69,822,000 Rp 46,548,000 Rp 116,370,000
60% 40% 100%

2.6 Lokasi Produksi


Graha Banten memilih lokasi toko di Denpasar, tepatnya di daerah Panjer. Alasan
kami memilih lokasi di Denpasar karena Denpasar merupakan pusat kota, selanjutnya
daerah Panjer kami nilai cukup strategis dan kawasan perdagangan, serta daerah Panjer
dekat dengan bahan baku maupun pasar. Sehingga, konsumen yang tinggal di wilayah
Denpasar akan mudah menjangkau produk kami, selain itu kami pun akan mudah
melayani serta memenuhi kebutuhan para konsumen dan atau pelanggan.
Berdasarkan survei yang telah kami lakukan baik survei lapangan maupun
melalui media sosial, harga sewa toko per tahun di daerah Denpasar khususnya di
daerah Panjer berkisar antara Rp 20.000.000,00 hingga Rp 40.000.000,00 per are.
Ukuran toko yang kami sewa yaitu 1 are atau 100m² dengan harga sewa toko yaitu Rp
20.000.000,00.

2.7 Luas Usaha Dagang


Luas lahan toko Graha Banten yaitu 1 are atau 100m², luas tersebut akan
digunakan untuk area operasional toko atau kantor, sudah temasuk lahan parkir dan
area tempat suci.

2.8 Sarana dan Prasarana


Sarana yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha dagang banten ini, sebagai berikut.
a) Sarana media sosial yaitu, sarana yang berbasis aplikasi dan kami gunakan sebagai
pusat data jaringan online pemesanan bagi konsumen.
b) Kendaraan roda dua operasional kantor yang digunakan untuk menyalurkan dan
atau mengantar pesanan dalam jumlah kecil ke lokasi yang diminta oleh pelanggan.

KEWIRAUSAHAAN 13
 
c) Kendaraan roda empat (pick up) yang juga digunakan untuk mengantarkan pesanan
ke lokasi pelanggan, namun pick up ini digunakan untuk pesanan dalam jumlah
besar dan atau dengan ukuran yang besar pula.

Prasarana yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha kami yaitu :


a) Prasarana kerja yang dibutuhkan karyawan seperti seragam atau pakaian kerja.
b) Prasarana kesehatan bagi karyawan dan secara umum yaitu kotak P3K serta toliet.
c) Prasarana administrasi / pembukuan yang diperlukan adalah ATK (alat tulis kantor),
dan papan daftar pesanan.
d) Prasarana komunikasi dan elektronik yang diperlukan yaitu komputer/laptop,
handphone sebagai pusat data dan penunjang sistem jaringan online, serta mesin
kasir sebagai alat hitung dan pusat data transaksi penjualan serta pembelian.
e) Prasarana kenyamanan kerja seperti meja, kursi, dan kipas angin.
f) Prasarana kebersihan seperti sapu ijuk, serok, keset, tong sampah besi, alat pel
lantai, ember, dan cairan pembersih lantai
g) Prasarana perlengkapan lainnya seperti kulkas, pajangan, spanduk, rak (tempat
produk), papan nama toko, tas plastik (merah besar, sedang, kecil), dan alas banten
(besek).

2.9 Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dibutuhkan adalah bentuk pemeliharaan terhadap alat
transportasi, alat komunikasi dan elektronik. Biaya pemeliharaan satu buah sepeda
motor (roda dua) sebesar Rp 2.000.000 dan sebuah pick up (roda empat) sebesar Rp
9.000.000 pertahun. Sedangkan pemeliharaan alat komunikasi dan elektronik adalah
sebesar Rp 1.000.000 per tahun. Jadi total biaya pemeliharaan atau service adalah Rp
12.000.000

KEWIRAUSAHAAN 14
 
2.10 Layout Toko dan Sarana Transportasi

10 M 

KEWIRAUSAHAAN 15
 
2.11 Teknis Pelaksanaan Usaha

BIAYA
ANGKUT

TOKO GRAHA BANTEN

TRANSPORTASI

KONSUMEN

SERATI BANTEN PENDAPATAN


PENGIRIMAN

KEWIRAUSAHAAN 16
 
2.12 Teknis Pemesanan Produk

DOWNLOAD APLIKASI
GRAHA BANTEN PADA
GOOGLE PLAY DAN APP

PILIH 
ORDERANMU 

ISI DAN LENGKAPI


SEMUA DATA YANG
DIPERLUKAN

1. PILIH CARA PEMBAYARAN :


PEMBAYARAN

‐ ONLINE PAYMENT( PAYMENT OVER IDR 100 )


KONFIRMASI

‐ CASH ON DELIVERY ( PAYMENT UNDER IDR


100 )
2. LAKUKAN PEMBAYARAN

PESANAN
SIAP
PESANAN AKAN DI DATA OLEH ADMIN
GRAHA BANTEN, DAN DILAKUKAN PACKING
DIKIRIM !!!!

KEWIRAUSAHAAN 17
 
BAB VIII
PENUTUP

3.1 Simpulan

Studi kelayakan sangat diperlukan oleh berbagai pihak, khususnya


paraminvestor selaku pemrakarsa, lembaga keuangan bank selaku pemberi kredit, dan
pemerintah yang memberikan fasilitas tata peraturan hukum dan perundang-undangan.
Dalam hal ini investor berkepentingan untuk mengetahui tingkat keuntungan dari
investasi, lembaga keuangan bank berkepentingan untuk mengetahui tingkat keamanan
kredit yang diberikan serta kelancaran pengembaliannya, dan pemerintah lebih
menitikberatkan pada manfaat investasi tersebut secara makro baik bagi perekonomian
dan kondisi di lingkungan masyarakat.

Adapun usaha yang dibahas dalam studi kelayakan ini yaitu usaha dagang banten
secara langsung maupun online. Pembahasan usaha ini dimulai dari aspek pasar dan
pemasaran, di mana pada aspek tersebut dibahas bagaimana analisis pasar dan hasilnya
dirumuskan pada beberapa subbab seperti Segmentasi, Targeting, dan Positionning.
Selain itu subbab lainnya seperti, analisis SWOT, dan bauran pemasaran. Hasil dari
pembahasan tersebut dirangkum, antara lain pasar yang dituju dari usaha ini adalah
orang-orang beragama Hindu yang memiliki jadwal padat dalam kehidupan sehari-
harinya dan tidak sempat dalam membuat / menyiapkan sarana upakara (banten).
Dengan kelebihan dan kelemahan yang dimiliki usaha ini dapat berjalan dengan
menjual beberapa jenis banten seperti canang, banten sodan, banten otonan dan
sebagainya. Usaha dagang banten ini juga dioperasikan dengan membuka toko dan
memberi fasilitas pemesanan online serta sistem delivery.

3.2 Saran

Seperti yang kita ketahui bahwa bisnis yang berkembang di Indonesia, khususnya
di Bali tidaklah sedikit. Bisnis yang berkembang memiliki risiko kegagalan apabila
kelayakannya tidak dikaji dengan baik, sehingga diperlukan wawasan yang luas
mengenai bisnis tersebut serta hal-hal yang berkaitan. Hal ini akan mempermudah
penyusun dalam mengkaji suatu bisnis apakah layak atau tidak dan wawasan ini juga

KEWIRAUSAHAAN 18
 
didukung dengan observasi di lapangan pada usaha-usaha sejenis yang sudah ada
sebelumnya. Dengan harapan studi kelayakan dibuat tanpa mengada-ngada dan
meminimalisir perbedaan yang terlalu jauh antara analisis dengan dakta di lapangan.
Studi kelayakan bisnis ini diharapkan mampu menjadi tolok ukur praktis dalam
pengambilan suatu keputusan.

KEWIRAUSAHAAN 19
 
DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 2008. Prinsip-prinsip Pemasaran Edisi 12 Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.

Kementerian Perdagangan. 2006. Perizinan Perdagangan Dalam Negeri.


http://www.kemendag.go.id/files/pdf/2012/12/06/perizinan-perdagangan-dalam-negeri-
id0-1354805998.pdf (Diakses tanggal 10 Maret 2017)

Husnan, Suad dan Suwarsono Muhammad. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Yogyakarta : Unit
Penerbi dan Percetakan

Suparyanto. 2013. Kewirausahaan : Konsep dan Realita pada Usaha Kecil. Bandung :
Afabeta.
Purwosutjipto, HMN, 1991, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 1 Pengetahuan
Dasar Hukum Dagang, Djambatan, Jakarta, hal. 15-16.

Wiagustini, Ni Luh Putu. 2014. Manajemen Keuangan. Denpasar : Udayana Press.

KEWIRAUSAHAAN 20