Anda di halaman 1dari 4

Motivasi manajer melakukan manajemen laba berkaitan dengan adanya keyakinan bahwa informasi

akuntansi sebagai salah satu sumber informasi merupakan cermin keberhasilan perusahaan (gumanti,
2014).

GCG
Corporate governance (CG) merupakan tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara
berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah kinerja perusahaan (Saputra2015).
Tata kelola perusahaan mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat
serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang
saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok,
pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat (Agustia,2013). Menurut Naftalia
(2013) menyatakan bahwah dengan adanya corporate governance diharapkan dapat berfungsi sebagai alat
untuk memberi keyakinan kepada para investor dan kreditur bahwa mereka akan menerima return atas dana
yang telah mereka investasikan di suatu perusahaan.

Tindakan menajemen yang melakukan manipulasi pada laporan keuangan perusahaan didasarkan
pada asumsi lemahnya corporate governance yang diterapkan. Banyak penelitian yang menyatakan
bahwah ciri utama dari lemahnya corporate governance adalah adanya tindakan mementingkan diri
sendiri di pihak para petinggi perusahaan dalam artian manajer, direktur maupun komisaris. Perilaku
manipulasi oleh manajer yang berawal dari konflik kepentingan tersebut dapat diminimumkan melalui
suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk menyerasikan berbagai kepentingan tersebut.
(Rahmah2017).

Corporate Governance merupakan suatu sistem pengendalian internal perusahan yang memiliki
tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan
aset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam jangka panjang.
(Effendi;2009).

GCG disimpulkan sebagai suatu proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan
mengelola usaha dalam rangka meningkatkan kemajuan usaha dan akuntabilitas perusahaan yang
juga menekankan pada pentingnya pemenuhan tanggung jawab badan usaha sebagai entinitas bisnis
dalam masyarakat dan stakeholders. (marlisa2016)

Manurut Brown, et al 2004 dalam (Hamid;2015) mengemukakan Good Corporate Governance


merupakan sebuah sistem tata kelola perusahaan yang berisi seperangkat peraturan yang mengatur
hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah,
karyawan, serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya dalam kaitannya dengan hak-
hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain, suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan
perusahaan, dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah (added value) bagi semua pihak yang
berkepentingan (stakeholders).

Prinsip penerapan GCG menurut Effendi (2009), untuk mewujudkan prinsip GCG di suatu perusahaan
publik, maka prinsip independensi (Independency), transparansi dan pengungkapan (Transparency
and Disclosure), akuntabilitas (Accountability), pertanggungjawaban (Responsibility), serta kewajaran
(Fairness) harus menjadi landasan utama bagi aktivitas komite audit.

a. Prinsip Independensi
Komite audit diharapkan dapat bersikap independen terhadap kepentingan pemegang saham
mayoritas maupun minoritas. Selain itu, anggota komite audit seharusnya tidak memiliki hubungan
bisnis apapun dengan perusahaan maupun hubungan kekeluargaan dengan anggota direksi dan
komisaris perusahaan, sehingga terhindar dari benturan kepentingan.Oleh karena itu, nama-nama
anggota komite audit (terutama di perusahaan publik) hendaknya diumumkan ke masyarakat atau
publik sebagai wujud akuntabilitas terhadap sikap independensi mereka. Hal ini penting agar
masyarakat dapat melakukan kontrol social serta penilaian terhadap para anggota komite audit
tersebut.

b. Prinsip Transparansi

Prinsip ini ditunjukkan melalui piagam komite audit (audit committee charter), program kerja tahunan,
serta rapat komite audit secara periodik yang didokumentasikan dalam notulen rapat. Komite audit
hendaknya membuat laporan secara berkala kepada komisaris tentang pencapaian kinerjanya sebagai
wujud pengungkapan (disclosure). Diharapkan agar laporan tersebut dituangkan dalam laporan
tahunan (annual report) perusahaan yang dipublikasikan kepada publik.

c. Prinsip Akuntabilitas

Prinsip ini ditunjukkan oleh frekuensi pertemuan dan tingkat kehadiran anggota komite audit. Selain
itu, komite audit seharusnya memiliki kapabilitas, kompensasi, dan pengalaman di bidang audit serta
proses bisnis perusahaan agar dapat bekerja secara professional.

d. Prinsip Pertanggungjawaban

Prinsip ini ditunjukkan oleh aktivitas komite audit yang dijalankan sesuai dengan peraturan dan
ketentuan yang berlaku. Selain itu, kinerja komite audit hendaknya dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada publik, selain kepada dewan komisaris.

e. Prinsip Kewajaran

Keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak pemangku kepentingan yang timbul sebagai akibat
dari perjanjian dan perundang-undangan yang berlaku.

TA

Tax avoidance yaitu merupakan usaha pengurangan bahkan meniadakan hutang pajak yang harus
dibayar perusahaan dengan cara legal atau tidak melanggar undang-undang yang ada dengan
memanfaatkan kelemahan peraturan perpajakan di suatu Negara. Saputra (2015)
Salah satu motif manajemen merekayasa labanya adalah untuk tujuan perpajakan, jadi perusahaan
akan melaporkan laba yang kecil sehingga beban pajak yang dibayarkan perusahaan pun semakin
kecil. (putri2017)

Pihak manajemen untuk mencapai tujuan tersebut mungkin akan mengakui beban dalam jumlah
besar agar dapat membebankan pada natura atau sanksi administrasi perpajakan yang merupakan
biaya yang termasuk dalam non deductable expense (Sari dan Lyana, 2015).

Penghindaran pajak terhadap manajemen laba dilakukan perusahaan dengan menggunakan pos-
pos pendapatan maupun beban untuk mencapai laba yang diinginkan. Manajemen dapat
menggunakan celah yang ada untuk meminimalkan laba agar pembayaran kewajiban pajak menjadi
rendah seperti yang dikemukakan oleh Hoque et al., (2011) yang salah satu cara melakukan
penghindaran pajak adalah dengan mengakui pembelanjaan modal sebagai pembelanjaan
operasional dan dibebankan terhadap laba bersih, sehingga dapat mengurangi kewajiban pajak.

Pengaruh penghindaran pajak terhadap manajemen laba dikarenakan perbedaan antara peraturan
perpajakan dengan peraturan akuntansi dalam hal pengakuan dan pendapatan yang dapat
dimanfaatkan oleh pihak manajemen untuk melakukan rekayasa laba (Wardana, 2014)

Manajer memandang kebijakan penghindaran pajak adalah cara untuk meniminumkan beban pajak
secara legal sehingga dapat meningkatkan laba dan meningkatkan kinerja perusahaan yang
berpengaruh positif pada nilai perusahaan yang tercermin dari kenaikan nilai saham (Chen et al.,
2014). (chen2014)

Ngadiman2014 Tax avoidance memiliki unsur-unsur kerahasiaan yang mengurangi transparansi suatu
perusahaan, oleh sebab itu sangat perlu untuk ditetapkan tata kelola perusahaan yang baik.

Ilmiani2014

Salah satu cara untuk mengefisienkan beban pajak adalah melalui penghindaran pajak (tax avoidance)
Penghindaran pajak yang juga disebut sebagai tax planning adalah proses pengendalian tindakan agar
terhindar dari konsekuensi pengenaan pajak yang tidak dikehendaki.

Tax avoidance merupakan tindakan penghematan pajak yang masih dalam koridor perundang-
undangan (lawful fashion). Hal tersebut berarti tidak ada suatu pelanggaran hukum yang dilakukan
dan sebaliknya akan diperoleh penghematan pajak dengan cara mengatur tindakan yang
menghindarkan aplikasi pengenaan pajak melalui pengendalian fakta-fakta sedemikian rupa sehingga
terhindar dari pengenaan pajak yang lebih besar atau sama sekali tidak kena pajak (Zain, 2007).

Jurnal ismi 2016

Hanlon dan Heitzman (2010) mengatakan bahwa penghindaran pajak belum mempunyai definisi dan
konstruk yang disepekati oleh para peneliti akibatnya masing-masing mempunyai definisi, apakah
penghindaran pajak merupakan tindakan yang diperkenankan atau tidak. Hanlon dan Heitzman (2010)
sendiri mengatakan penghindaran pajak secara luas sebagai pengurangan pajak secara eksplisit.
(Hanlon, M. & Heitzman,S. 2010. A Review of Tax Research Journal of Accounting and Economics, 50,
127-178.

Handayani (2015) menyatakan penghindaran pajak adalah strategi dan teknik penghindaran pajak
yang dilakukan secara legal karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan. (Handayani
Cahyaning dewi, Aris M Abdul, Mujiyati. 2015. Pengaruh Return on Asset, Karakter Eksekutif, dan
dimensi tata kelola perusahaan yang baik terhadap tax avoidance. Syariah paper accounting. ISSN
2460-0784.
Khomsatun dan Martani (2015) mengatakan bahwa konsep penghindaran pajak secara umum adalah
usaha untuk mengurangi jumlah pajak yang harus dibayarkan dengan menggunakan
transaksitransaksi yang menyebabkan pengurangan beban pajak

Untuk itu, manajer akan menggunakan kemampuanya dalam mengelola laba fiskal dan akuntansi
dengan memanfaatkan perbedaan dua kebijakan, yaitu di bidang perpajakan dan standar akuntansi.

Bab 3 ilmiani 2014

Data sekunder dalam penelitian adalah data keuangan dan informasi yang terdapat dalam Annual
Report perusahaan yang dijadikan sampel. Penentuan sampel dalam penelitian ini berdasarkan
purposive sampling. Adapun kriteria sampel adalah:

a. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama tahun pengamatan yaitu tahun 2010-
2012.
b. Perusahaan dengan data yang lengkap dari tahun 2010-2012.
c. Perusahaan dengan nilai laba yang positif agar tidak mengakibatkan nilai Cash Effective Tax
Rate (CETR) terdistorsi (Kurniasih dan Maria, 2013).
d. Perusahaan dengan nilai CASH ETR kurang dari satu agar tidak membuat masalah dalam
estimasi model.

ML
Manajemen laba adalah suatu kondisi dimana manajemen melakukan intervensi dalam proses
penyusunan laporan keuangan bagi pihak eksternal sehingga dapat meratakan, menaikkan, dan
menurunkan laba (Gunawan, et.al, 2015).

manajemen laba merupakan usaha piha manajemen yang disengaja untuk memanipulasi laporan
keuangan dalam batasan yang dibolehkan oleh prinsip-prinsip akuntansi dengan tujuan memberikan
informasi yang menyesatkan para pengguna laporan keuangan bagi keuntungan pihak
manajer.(rahmah2017)

UP
Ukuran perusahaan adalah tolak ukur besar kecilnya perusahaan dengan melihat besarnya nilai ekuiti,
nilai penjualan atau nilai total aset yang dimiliki perusahaan. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan
di proksi dengan nilai logaritma natural dari total aset perusahaan, mulai dari tahun 2012-2014. Skala
pengukuran pada variabel ini menggunakan skala ratio. (marlisa2016)