Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH EKOLOGI

BIODIVERSITAS
DIVERSITAS FAUNA PADA TANAH DAN PERANNYA TERHADAP LAJU
DEKOMPOSISI SERASAH KARET (Hevea brasiliensis)

Oleh :

Kelompok 12

Bagus Saputra B1A016122


Anjar Sari B1A016123
Hanif Tri Hartanto B1A016147

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keanekaragaman hayati merupakan asosiasi antara faktor abiotik dan


biotik. Faktor abiotik terdiri dari suhu, kadar air, porositas, tekstur tanah,
salinitas, pH, kadar organik tanah, dan unsur mineral. Pengetahuan
keanekaragaman jenis dan perubahan komposisi fauna tanah sangat penting
diketahui untuk pendugaan terhadap pengaturan proses dekomposisi dan
produktivitas tanah (Suin, 1997). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
keanekaragaman fauna tanah skala makrofauna dan mesofauna di Hutan
Tanaman Tegakan Karet Ciampea Bogor serta mengetahui perannya terhadap
laju dekomposisi serasah karet. Studi ini diharapkan dapat memberikan
informasi mengenai keanekaragaman fauna tanah dan peranannya terhadap laju
dekomposisi serasah sehingga keberadaan fauna tanah dapat terjaga dengan
mempertimbangkan aspek kesinambungan kelestarian ekosistem hutan.

1.2 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Memenuhi tugas terstruktur mata kuliah ekologi.
2. Mengetahui keanekaragaman fauna tanah.
Manfaat :
1. Memberikan informasi mengenai keanekaragaman fauna tanah dan
peranannya terhadap menjaga kelestarian ekosistem hutan.
BAB II
ISI

Tingginya penurunan biodiversitas vegetasi sebagai akibat alih fungsi lahan


hutan menjadi lahan pertanian menjadi perhatian yang serius. Keanekaragam hayati
(biological-diversity atau biodiversity) adalah semua makhluk hidup di bumi
(tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme) termasuk keanekaragaman genetik yang
dikandungnya dan keanekaragaman ekosistem yang dibentuknya (DITR, 2007).
Keanekaragaman hayati itu sendiri terdiri atas tiga tingkatan (Purvis dan Hector
2000), yaitu: (i) Keanekaragaman spesies, yaitu keanekaragaman semua spesies
makhluk hidup di bumi, termasuk bakteri dan protista serta spesies dari kingdom
bersel banyak (tumbuhan, jamur, hewan yang bersel banyak atau multiseluler). (ii)
Keanekaragaman genetik, yaitu variasi genetik dalam satu spesies, baik di antara
populasi-populasi yang terpisah secara geografis, maupun di antara individuindividu
dalam satu populasi. (iii) Keanekaragaman ekosistem, yaitu komunitas biologi yang
berbeda serta asosiasinya dengan lingkungan fisik (ekosistem) masing-masing. (iv)
Keanekaragaman hayati (biodiversity) merupakan dasar dari munculnya beragam
jasa ekosistem (ecosystem services), baik dalam bentuk barang/produk maupun
dalam bentuk jasa lingkungan yang sangat diperlukan oleh perikehidupan makhluk
hidup, khususnya manusia.
Schulte et al (2014) mengidentifikasi bahwa tanah melakukan berbagai
sinkronisasi layanan ekosistem atau 'fungsi tanah' dalam kaitannya penyediaan bahan
pangan, serat dan produksi bahan bakar, penjernihan air, penyerapan karbon, siklus
unsur hara, dan penyediaan habitat bagi keanekaragaman organisme, penyediaan dan
menjaga kualitas air bagi masyarakat. Kapasitas tanah berbeda-berbeda untuk
melakukan masing-masing fungsi tersebut yang sangat tergantung dari biodiversitas
tanah sebagai akibat penggunaan lahan yang berbeda dan infiltrasi merupakan
indikator yang baik hidrologi tanah.
Biodiversitas tanah di penggunaan lahan yang berbeda mempengaruhi
kandungan bahan organik dan struktur tanah melalui kegiatan organisme di dalam
tanah. Kandungan bahan organik tanah dan kegiatan organisme di dalam tanah serta
keragamannya sangat mempengaruhi struktur tanah. Cacing tanah memainkan peran
utama dalam memodifikasi proses tanah yang berakibat semakin memantapkan
struktur tanah, menurunkan berat isi tanah, meningkatkan porositas tanah, kapasitas
tanah menahan air, sistem aerasi dan infiltrasi tanah (Blanchart et al, 1999).
Hutan merupakan habitat alami bagi fauna tanah untuk mempertahankan
kesinambungan hidupnya. Fauna tanah sangat berperan penting dalam menjaga
keseimbangan ekosistem hutan. Kelangsungan hidup fauna tanah bergantung pada
kelestarian ekosistemnya. Pengalihgunaan hutan menjadi perkebunan merupakan
salah satu gangguan ekosistem hutan yang dapat mengakibatkan dampak terhadap
keberadaan fauna tanah. Dipilihnya ekosistem perkebunan karet (Hevea brasiliensis)
karena ekosistem tersebut merupakan perwakilan dari pengalihgunaan hutan menjadi
perkebunan karet.
Penelitian diawali dengan pengambilan sampel serasah daun H. brasiliensis.
Pengambilan sampel serasah diawali dengan pembuatan plot ukuran 1x1 m diatas
permukaan tanah yang berserasah dan menempatkannya pada bak plastik. Fauna
tanah yang terlihat ditangkap dan dimasukkan kedalam botol berisi alkohol 70%.
Serasah yang telah ditempatkan dalam bak plastik selanjutnya diekstraksi dengan
corong Barlese- Tullgren. Berikutnya membuat perangkap serasah dengan
menggunakan trash bag yang diletakkan pada tiga lokasi yaitu bagian tepi, tengah,
dan dalam pada jarak 150 meter dibawah tegakan H. brasiliensis. Setelah itu
trashbag dibiarkan selama 2 minggu. Selanjutnya dilakukan pengeringan dan
penimbangan sebanyak 50 gram. Kemudian serasah dimasukkan kedalam litterbag
berukuran 0,25 mm mesh kemudian litterbag direkat dengan menggunakan lem.
Kantung-kantung litterbag tersebut kemudian dibenamkan kedalam tanah dengan
kedalaman 5-7 cm pada 3 lokasi dengan 3 kali ulangan pada masing- masing lokasi.
Pemanenan serasah dilakukan dengan mengambil satu set litterbag pada
minggu ke-2, 4, 6, 8, 10, dan 12. Satu set litterbag terdiri dari 9 litterbag yang
berasal dari 3 kali ulangan pada masing-masing lokasi. Kemudian satu set litterbag
dimasukkan kedalam kantung plastik dan disimpan untuk dibawa ke laboratorium.
Serasah yang telah diambil dari lapangan selanjutnya diekstraksi dengan corong
Barlese-Tullgren dan meletakkan botol koleksi berisi alkohol 70% dibawah bibir
corong selama 24 jam. Setelah itu, fauna tanah yang berada dalam botol koleksi
disortir dan diidentifikasi dengan bantuan buku identifikasi Borror et al (1996).
Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai kekayaan jenis, keragaman
jenis, dan kemerataan jenis dengan Program Spesies Richness Biodiversity serta
perhitungan pendugaan laju dekomposisi.
Laju dekomposisi serasah setelah didekomposisi selama 12 minggu
mengalami penurunan bobot sebesar 98.92% (tepi), 99% (tengah), dan 99.12%
(dalam). Rata-rata laju dekomposisi serasah per 2 minggu yaitu 35.07% (tepi),
33.02% (tengah), dan 32.07% (dalam). Keseragaman kondisi vegetasi seperti pada
tegakan karet mendukung cepatnya laju dekomposisi dan mengakibatkan rendahnya
keragaman fauna tanah yang berperan dalam proses dekomposisi. Laju dekomposisi
tertinggi terjadi pada minggu ke-2 dan pada minggu berikutnya terjadi penurunan
laju dekomposisi. Menurut Hilwan (1993), hal tersebut disebabkan karena semakin
lama waktu dalam mendekomposisi maka semakin besar kehilangan bobot serasah
dan semakin rendah laju dekomposisi serasah setiap periodenya. Laju dekomposisi
serasah apabila dikaitkan dengan indeks keanekaragaman total fauna tanah, pada
periode awal terdekomposisi yaitu minggu ke-2 ialah berbanding lurus. Hal ini
terbukti dari nilai laju dekomposisi tertinggi pada minggu ke-2 diikuti dengan nilai
indeks kekayaan jenis tertinggi. Hasil uji lanjut Duncan menyatakan bahwa bagian
tepi merupakan tempat yang menghasilkan penurunan bobot dan laju dekomposisi
tertinggi dan pengamatan pada minggu ke-2 merupakan waktu yang memiliki laju
dekomposisi tertinggi dan penurunan bobot terendah dilihat dari nilai rataan totalnya.
Antara laju dekomposisi dan penurunan bobot memiliki korelasi yang kuat dan
berlawanan.
Komposisi fauna tanah pada ekosistem karet, kelimpahan fauna tanah
tertinggi didominasi oleh Acari. Ordo ini dapat ditemukan pada setiap waktu
pengamatan dan tiga tipe lokasi. Acari termasuk dalam kelas Arachnida dan
merupakan salah satu kelompok yang sangat besar, berukuran kecil, dan lunak serta
biasanya terdapat pada semua habitat hidup. Arief (2001), menyebutkan keberadaan
fauna dalam tanah sangat tergantung pada ketersediaan energi dan sumber makanan
untuk kelangsungan hidupnya. Adanya ketersediaan energi dan hara bagi fauna tanah
tersebut, maka perkembangan dan aktivitas fauna tanah akan berlangsung baik dan
timbal baliknya akan memberikan dampak positif bagi kesuburan tanah.
Kelimpahan dan keanekaragaman fauna tanah berdasarkan jumlah
kelimpahan total fauna tanah yang ditemukan selama pengamatan, menggambarkan
bahwa pada tahap awal dekomposisi ordo Acari mendominasi, dengan kelimpahan
yang tertinggi sampai pada minggu ke-2. Pada minggu ke-4 pergeseran dominansi
oleh ordo Colembolla sampai pada minggu ke-6 dan ordo Acari muncul lagi pada
minggu ke-8. Pada minggu ke-10 dan tahap akhir dekomposisi, kelimpahan tertinggi
didominasi oleh ordo Colembolla. Kekayaan jenis fauna tanah mengacu pada
banyaknya spesies yang ditemukan pada suatu ekosistem. Hasil analisis indeks
keanekaragaman totalmenunjukkan bahwa pada minggu ke-2 mempunyai jumlah
jenis fauna tanah tertinggi.
Indeks keragaman merupakan gabungan dari indeks kekayaan jenis dan
indeks kemerataan jenis menjadi satu nilai. Indeks yang dipakai pada penelitian ini
adalah indeks Shanon-Wiener (H’). Hasil analisis menunjukkan bahwa keragaman
jenis memiliki nilai yang berbeda. Hasil analisis diketahui bahwa fauna tanah yang
ditemukan pada tegakan karet mempunyai penyebaran yang merata. Hal ini
ditunjukkan dengan besarnya nilai kemerataan jenis yang tidak bernilai nol.
Kemerataan jenis ini didukung oleh kondisi habitat dan kondisi fauna tanah (perilaku
tinggal dan makan). Perkebunan karet memiliki nilai indeks kekayaan terendah
karena merupakan salah satu gangguan hutan, dan gangguan hutan akan berdampak
pada penurunan keberadaan fauna tanah dan perannya dalam mendaur hara di suatu
tempat seperti peran terhadap proses dekomposisi.
Keberadaan makrofauna tanah sangat berperan dalam proses yang terjadi
dalam tanah diantaranya proses dekomposisi, aliran karbon, bioturbasi, siklus unsur
hara, dan agregasi tanah. Diversitas makrofauna dapat digunakan sebagai
bioindikator ketersediaan unsur hara dalam tanah. Hal ini dikarenakan makrofauna
mempunyai peran penting dalam memperbaiki proses-proses dalam tanah. Diversitas
makrofauna yang aktif dipermukaan tanah tidak menunjukkan adanya hubungan
yang nyata dengan parameter ketersediaan unsur hara. Sebaliknya terdapat hubungan
yang nyata antara diversitas makrofauna dalam tanah dengan beberapa sifat tanah (N
total, porositas, dan air tersedia).
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Laju Dekomposisi serasah pada tiga lokasi tegakan karet selama kurun waktu
12 minggu atau 6 periode memiliki nilai yang berbeda. Laju dekomposisi
tertinggi terjadi pada minggu awal dekomposisi yaitu minggu ke-2.
Hubungan antara keanekaragaman total fauna tanah dengan laju dekomposisi
adalah berbanding lurus. Hal ini terbukti dari nilai laju dekomposisi tertinggi
pada minggu ke -2 diikuti oleh nilai kekayaan jenis tertinggi.
2. Hubungan antara laju dekomposisi serasah dengan bobot serasah terhadap
waktu dekomposisi ialah berkorelasi kuat dan berlawanan. Semakin lama
waktu dekomposisi maka semakin besar kehilangan bobot serasah dan
semakin rendah laju dekomposisi serasah setiap periode.
3. Lokasi plot dan waktu pemanenan serasah berpengaruh nyata terhadap
penurunan bobot dan laju dekomposisi.
4. Ordo yang mendominasi pada kelimpahan total fauna tanah pada setiap
waktu pengamatan yaitu ordo Acari pada minggu ke-0, minggu ke-2, dan
minggu ke-8 serta ordo Collembola pada minggu ke-4,minggu ke-6, minggu
ke-10, dan minggu ke-12. Kedua ordo tersebut memiliki peran penting dalam
proses dekomposisi.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Jakarta : Penerbit Kanisius.

Blanchart E., Albrech, A., Alegre, J., Duboisset, A., Gilo, C., Pashanas, B., Lavelle,
P. and Brussaard, L. 1999. Effects of Earthworms on Soil Structure and
Physical Properties in Earthworm Management in Tropical Agroecosystems,
(eds P. Lavelle, L. Brussaard and P. Hendrix) CAB International. Pp. 149-
172.

Borror DJ, Charles AT, Norman FJ. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga.
Partosoedjono S, penerjemah. Yogyakarta: gadjah Mada University Press.
Terjemahan dari: An Introduction to the Study of Insect.

DITR [Department of Industry Tourism and Resources of Australian Government].


2007. Biodiversity Management: Leading Practice Sustainable Development
Program for the Mining Industry. Department of Industry, Tourism and
Resources, Government of Australia, Canberra.

Endrawati, M. A., Wicaksono, K. S., Suprayogo, D. 2017. Biodiversitas Vegetasi


dan Fungsi Ekosistem Hubungan Antara Kerapatan, Keanekaragaman
Vegetasi, dan Infiltrasi Tanah pada Inteceptisol Lereng Gunung Kawi,
Malang. Jurnal Tanah dan Sumber Daya Lahan. 4(2). pp. 57-588.

Haneda, N. F & Asti, W. 2014. Keanekaragaman Fauna Tanah dan Perannya


Terhadap Laju Dekompodisi Serasah Karet (Hevea brasiliensis) di Kebun
Percobaan Cibodas–Ciampea Bogor. Jurnal Silvikultur Tropika. 5(1). pp. 54-
60.
Hilwan I. 1993. Produksi, Laju Dekomposisi, dan Pengaruh Alelopati Serasah Pinus
merkusii Jungh. Et De Vriese dan Acacia mangium Willd. Di Hutan Gunung
Walat, Sukabumi, Jawa Barat [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.
Kusmana, C. 2015. Kenanekaragaman Hayati (Biodversitas) Sebagai Elemen Kunci
Ekosistem Kota Hijau. Biodiversitas Indonesia. 1(8). pp. 1747-1755.

Nenobahan, M. F., Ainurrasjid., Farida. S. 2016. Diversitas Makrofauna Tanah pada


Hutan Produksi (Pinus Merkusii dengan dan tanpa Tanaman Wortel). Jurnal
ilmu-ilmu kehutanan. 1(1). pp. 45-51.
Purvis A, Hector A. 2000. Getting the measure of biodiversity. Nature 405: 212-219.
Schulte, R.P.O, Creamer, R.E., Donnellan, T., Farrelly, N., Fealy, R., O’Donoghue,
C. and O’Uallachain, D. 2014. Functional land management: A framework
for managing soilbased ecosystem services for the sustainable intensification
of agriculture. Environmental Science and Policy Journal 38: 45-58.
Suin NM. 1997. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta: Bumi Aksara.
Yang X, Chen J. 2009. Plant litter quality influences the contribution of soil fauna to
litter decomposition in humid tropical forests, southwern China. Soil Biology
and Biochemistry. 41:910-918.