Anda di halaman 1dari 8

Tanggal : 10 Maret 2017

Bahan Bacaan : Renungan (Diambil dari artikel), 9 Cara untuk


Mengetahui Kehendak Tuhan

9 Cara untuk Mengetahui Kehendak Tuhan

Banyak orang-orang percaya yang masih bergumul untuk mengetahui apakah


sebenarnya kehendak Allah bagi diri mereka. Ada hal-hal yang dinyatakan secara jelas
dalam Alkitab misalnya agar kita mengampuni orang yang bersalah terhadap kita,
bahkan agar kita mendoakan orang yang menganiaya kita. Namun, bagaimana kita
dapat mengetahui kehendak Allah untuk hal-hal praktis dalam kehidupan seperti: hal
memilih pekerjaan, mencari pasangan hidup, menentukan study lanjutan maupun
memilih tindakan tertentu yang berkenan kepada Allah ketika kita harus menyikapi /
menghadapi situasi dan kondisi tertentu. Apakah yang dikatakan Alkitab tentang cara-
cara untuk mengetahui kehendak Allah?

Berikut ini 9 cara untuk mengetahui kehendak Tuhan dan penjelasannya :


1) Penggunaan tiang awan dan tiang api (Keluaran 13:21-22).
Tuhan hanya memakai cara ini pada waktu memimpin bangsa Israel dari Mesir ke
Kanaan. Setelah itu, Tuhan tidak pernah lagi memakai cara ini. Ini menunjukkan bahwa
cara yang dipakai oleh Tuhan dalam Kitab Suci belum tentu dapat diterapkan pada
jaman ini! Bandingkan dengan Ibrani 1:1.

2) Penggunaan Urim dan Tumim / undian (Keluaran 28:30, Bilangan


17:21, Yosua 7:16-18, 1Samuel 14:41-42, Amsal 16:33, Kisah Para Rasul 1:26).
3) Mujizat, seperti:
• Theophany.
• Malaikat.
• Penglihatan / pendengaran.
• Tuhan / Roh Kudus berbicara langsung.
4) Mimpi (seperti yang dialami Yusuf, Firaun, dan sebagainya).

5) Meminta tanda.
Contoh:
• Gideon dalam Hakim-hakim 6:36-40.
• Hamba Abraham sewaktu mencarikan istri untuk Ishak (Kej 24:12-dan seterusnya).
• Yonatan dalam 1Samuel 14:6-15.

Beberapa hal yang harus diperhatikan:


a) Dalam ketiga contoh di atas permintaan tanda selalu bersifat specifik / tertentu. Jangan
meminta pimpinan Tuhan dengan berdoa seperti ini: “Tuhan kalau memang Engkau
menghendaki saya melakukan hal ini berikanlah bagi saya tanda (tanpa spesifikasi
tanda apa yang diinginkan).” Mengapa? Karena kalaupun anda menerima suatu tanda,
anda tidak dapat yakin bahwa tanda itu dari Tuhan atau bukan. Dapat juga terjadi
sesuatu yang anda kira sebagai tanda dari Tuhan padahal sebenarnya bukan.

b) Kita tidak boleh meminta tanda dengan cara memojokkan / membatasi Tuhan (baik
itu kita sadari atau tidak). Yang saya maksudkan dengan ‘tanda yang memojokkan /
membatasi Allah’ itu bukanlah tanda yang sukar / tidak masuk akal, tetapi apabila kita
baik secara langsung /sadar maupun secara tak langsung /tak sadar, meminta seperti ini:
“ Tuhan, jika Engkau menghendaki jalan yang ini, mohon lancarkanlah jalannya.”

Contoh: Ketika berdoa seperti ini: “Tuhan jikalau Engkau menghendaki kami untuk
membangun sebuah gedung gereja, mohon berikanlah 50% uangnya dalam 1 minggu.”
Ini memojokkan / membatasi Tuhan! Bagaimana jika Tuhan menghendaki untuk
membangun gedung gereja tetapi Ia hanya mau menyediakan 10% atau 20% uangnya
dalam waktu satu minggu?

c) Perlu diingat bahwa dalam jaman Kitab Suci-pun Tuhan tidak selalu mau memberi
tanda! Bandingkan Matius 12:38-39 Matius 16:1-4 1Korintus 1:22-23. Apalagi pada jaman
sekarang!

Richard L. Strauss dalam bukunya yang berjudul ‘How to really know the will of God’,
halaman 132 berkata sebagai berikut:

“Scripture relates no instance of a believer seeking the will of God through signs after the
day of Pentecost. Today we have the permanent indwelling of the Holy Spirit and the
completed revelation of Scripture. We have no need for signs. To devise specific stipulations
and to demand them of God is to reduce God to our mold, to make him after our own
image, to create our own God. Let God be God! He must be free to deal with us as he
pleases” (= Kitab Suci tidak menceritakan satu kejadianpun tentang seorang percaya
yang mencari kehendak Allah melalui tanda-tanda setelah hari Pentakosta. Pada jaman
ini kita dihuni secara tetap oleh Roh Kudus dan kita mempunyai wahyu Kitab Suci yang
lengkap. Kita tidak membutuhkan tanda-tanda. Memikirkan syarat / ketentuan tertentu
dan menuntutnya dari Allah sama dengan merendahkan Allah ke ukuran kita, membuat
Allah sesuai dengan pemikiran kita, untuk menciptakan Allah versi kita sendiri.
Biarkanlah Allah sebagaimana adanya Allah. Ia harus bebas memperlakukan kita sesuai
kehendak-Nya).
d) Jika anda tetap ingin meminta tanda, sebaiknya mintalah tanda yang berpadanan
dengan kehendak Tuhan yang sedang anda pergumulkan.

Contoh:
-Ada seorang yang merasa Tuhan memanggilnya untuk menjadi seorang hamba Tuhan,
tetapi ia mempunyai hutang dan istrinya masih belum sungguh-sungguh Kristen (Kristen
KTP). Maka saya menasehatkan dia untuk meminta tanda berupa pelunasan hutang
dan pertobatan istrinya. Mengapa? Karena hal-hal ini berpadanan dengan panggilan dia
untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Ia tidak mungkin pergi ke sekolah Theologia dan
menjadi hamba Tuhan dalam keadaan masih mempunyai hutang yang belum dibayar
dan mepunyai istri yang masih Kristen KTP!

-Ketika kami meminta tanda: “Tuhan, jika Engkau menghendaki kami untuk membeli
ruko / rukan, ubahkanlah pandangan saudara-saudara yang lebih setuju pada
pembelian gedung sekolah. Sebaliknya: jika Tuhan menghendaki kami untuk membeli
gedung sekolah, ubahkanlah pandangan saudara-saudara yang lebih setuju pada
pembelian ruko / rukan.

6) Nabi / pelihat (1Samuel 9:6-9).

7) Ada damai atau tidak ada damai.

Ini didasarkan atas ajaran Kitab Suci yang menunjukkan bahwa apabila anda berjalan
sesuai dengan kehendak Tuhan, maka anda akan memiliki damai, dan sebaliknya jika
anda berjalan di luar kehendak Tuhan anda tidak akan memiliki damai (Yesaya 48:18,22
; 2Samuel 24:10).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:


a) Seringkali kita sukar membedakan damai / sukacita dari Tuhan dengan kesenangan
duniawi. Lebih-lebih dalam persoalan jatuh cinta, sukacita karena cinta sukar dibedakan
dengan sukacita / damai dari Tuhan!

b) Ada damai atau tidak ada damai tidak hanya ditentukan oleh keputusan yang sedang
anda pergumulkan, tetapi oleh seluruh kehidupan anda. Kalaupun dalam hal yang
sedang anda pergumulkan itu anda memilih jalan yang sesuai kehendak Tuhan, tetapi
apabila dalam hal-hal yang lain anda menyimpan dosa, maka anda tetap tidak akan
damai.
c) Orang yang berjalan di luar kehendak Tuhan bisa saja mempunyai damai yang palsu.

Contoh dalam Kitab Suci: Yunus bisa tidur pada waktu ia melarikan diri dari kehendak
Tuhan.

Contoh dalam hidup sehari-hari: jika anda mempunyai suatu pelayanan atau pekerjaan
yang menjengkelkan dan mengakibatkan banyak stress pada anda, maka pada waktu
anda meninggalkan pelayanan / pekerjaan itu, bisa saja anda lalu merasa lega ( rasa
lega ini biasanya yang disalah-tafsirkan sebagai damai / sukacita), sekalipun itu bukan
kehendak Tuhan!

d) Apabila pada suatu pergumulan kita mengambil keputusan untuk memilih satu hal
tertentu, dan dengan mendadak ada damai yang memenuhi diri anda, maka mungkin
itu dapat diartikan bahwa damai tersebut menunjukkan bahwa kita telah memilih hal
yang sesuai dengan kehendak Tuhan (Catatan: saya katakan ‘mungkin’ karena bisa saja
terjadi seperti contoh ke 2 dalam point c) di atas.
Contoh: Sewaktu saya dipanggil Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan, dan saya
mengambil keputusan untuk memilih menjadi hamba Tuhan, mendadak ada damai
yang luar biasa dalam hati saya.

e) Juga perlu diingat bahwa orang yang berjalan sesuai kehendak Tuhan dapat mengalami
begitu banyak kesukaran / serangan setan / hal-hal yang menakutkan, yang justru lalu
menyebabkan ia menjadi gelisah / tidak damai (karena kurang beriman dan
sebagainya).

Contoh dalam Kitab Suci: Matius 8:23-25 Matius 14:22-26 Matius 14:29-30 Keluaran 14:1-
12.

Contoh dalam hidup sehari-hari:

-Menaati Tuhan untuk melayani menjadi guru sekolah minggu, tetapi lalu merasa kesal
karena kenakalan anak-anak sekolah minggu atau karena pelayanan yang
kelihatannya tidak ada gunanya.

-Menaati Tuhan sehingga jatuh miskin, lalu menjadi takut / kuatir.

-Memutuskan membeli gedung sekolah untuk dijadikan gedung gereja, kemudian


menjadi gelisah memikirkan bagaimana mendapatkan dana sebesar Rp 750 juta yang
diperlukan untuk membeli dan merenovasi gedung tersebut.

Dalam hal ini perlu diingat bahwa yang salah bukanlah jalan yang dipilih itu, tetapi sikap
hati pada saat memilih jalan yang benar itu.

8) ‘Pintu yang tertutup’ atau ‘pintu yang terbuka’.


Ini didasarkan atas pandangan bahwa jika sesuatu memang adalah kehendak Tuhan,
maka tidak mungkin tiba-tiba hal itu tidak dapat dilaksanakan / pintu tertutup.
Apabila menggunakan cara ini untuk mencari kehendak Tuhan, perlu diingat bahwa:

a) Pintu terbuka dapat datang dari setan.


Contoh: Yunus mendapat tempat di kapal. Padahal ia melarikan diri dari kehendak
Tuhan.

Penerapan:
§ Karena itu misalnya anda berdoa meminta pekerjaan, lalu ada tawaran pekerjaan,
jangan terlalu cepat menganggap ‘pintu terbuka’ itu sebagai datang dari Tuhan.

§ Jika anda berdoa meminta pasangan hidup, lalu ada lawan jenis yang mendekati
anda. Itu belum tentu datang dari Tuhan!

§ Ketika kami hendak membeli sebuah gedung sekolah seharga Rp 750 juta, tiba-tiba
ada seorang yang bersedia meminjami dana sebesar Rp 500 juta dengan bunga 1%. Ini
belum tentu datang dari Tuhan!
b) Anda harus bisa membedakan antara pintu yang betul-betul ditutup oleh Tuhan dan
pintu yang hanya seolah-olah tertutup / ditutup oleh setan. Apabila pintu memang
ditutup oleh Tuhan, maka itu tidak akan bisa dibuka oleh siapapun (Wahyu 3:7b), dan
itu menunjukkan bahwa memang bukan kehendak Tuhan bagi anda untuk melewati
pintu itu. Tetapi apabila pintu seolah-olah tertutup / ditutup oleh setan, maka perlu
diingat bahwa:

§ Tuhan lebih berkuasa dari setan, dan karenanya Tuhan bisa membuka pintu manapun
termasuk pintu yang ditutup oleh setan (Wahyu 3:7b, Keluaran 14:15-31 - Laut Teberau
dibelah!).

§ Iman dan doa dapat memindahkan gunung (Markus 11:22-24)!

Catatan: seringkali pintu yang betul-betul tertutup sukar / tidak bisa dibedakan dari
pintu yang seolah-olah tertutup. Tetapi kadang-kadang hal itu dapat dibedakan.
Misalnya anda jatuh cinta pada seorang gadis, dan tiba-tiba gadis itu menikah dengan
orang lain. Maka ini tentu harus dianggap sebagai pintu yang betul-betul tertutup!

Penerapan:
§ Harga gedung sekolah yang Rp 750 juta tidak menunjukkan bahwa itu betul-betul
merupakan pintu yang tertutup!

§ Pada waktu kami hendak membeli gedung sekolah itu, tiba-tiba ada ruko / rukan
yang ditawarkan dengan harga yang terjangkau bagi kami. Ini belum tentu merupakan
pintu terbuka yang datang dari Tuhan! Bisa saja ini datang dari setan, yang tidak
menghendaki kami membeli gedung sekolah!

9) Penggunaan Kitab Suci / Akitab.


Setelah Pentakosta dan setelah Kitab Suci lengkap, maka secara umum Tuhan
menunjukkan kehendaknya melalui Kitab Suci!

a) Dalam mencari kehendak Tuhan yang bersifat umum:


Kehendak Tuhan yang bersifat umum ini berlaku untuk setiap orang, ada dalam Kitab
Suci dan bisa didapatkan dari belajar Kitab Suci dengan menggunakan pikiran yang
diterangi Roh Kudus sehingga mengerti Kitab Suci.
§ Ada yang terdapat secara explicit / jelas dalam Kitab Suci.
Misalnya:
§ Orang Kristen tidak boleh menikah dengan non kristen (2Korintus 6:14).
§ Orang Kristen tidak boleh bercerai kecuali kalau pasangannya berzinah (Matius 5:32
Matius 19:9).
§ Orang Kristen harus tunduk pada pemerintah (Roma 13:1-2), kecuali dalam hal-hal
dimana pemerintah bertentangan dengan Kitab Suci (Kisah Para Rasul 5:29).
Contoh: pada waktu saya mengetahui bahwa orang yang bersedia meminjamkan dana
Rp 500 juta itu menghendaki status tanah diubah dari fasilitas umum menjadi fasilitas
rumah , maka saya yakin menjadi yakin bahwa itu bukan kehendak Tuhan, karena
perubahan status tanah ini melawan peraturan pemerintah!
§ Ada yang terdapat secara implicit dalam Kitab Suci.
Contoh:
§ larangan merokok.
§ kita mendapat kesempatan berkhotbah kepada sekelompok orang yang tak beriman
(kafir atau kristen KTP). Apakah yang harus kita beritakan? Tentang Allah Tritunggal
atau tentang Predestinasi? Tentu tidak! Karena ini tidak sesuai dengan hikmat maupun
Kitab Suci! Dalam hal ini, pikiran / hikmat + Kitab Suci jelas mengharuskan kita memilih
untuk memberitakan Injil kepada mereka!
Karena sudah ada dalam Kitab Suci, maka hal-hal ini tidak perlu / tidak boleh lagi
ditanyakan kepada Tuhan!
b) Dalam mencari kehendak Tuhan yang bersifat khusus:
Ada hal-hal yang tidak mungkin bisa didapatkan dari sekedar belajar / merenungkan
Kitab Suci, misalnya:

§ siapa jodoh saya? Kalau saya laki-laki maka jodoh saya tentu harus perempuan dan
karena saya Kristen maka ia harus orang Kristen, tetapi perempuan Kristen yang mana?
Tentu harus yang cocok dengan saya dan yang saya cintai, tetapi bagaimana kalau ada
lebih dari satu orang seperti itu? Yang mana yang harus saya pilih?
§ saya mendapat 2 tawaran pekerjaan, kedua pekerjaan itu wantunya tidak bersamaan
dengan acara gereja. Yang mana yang harus saya pilih?
§ saya diterima di 2 sekolah. Yang mana yang harus saya pilih?
§ menentukan mana yang akan dibeli, apakah membeli ruko / rukan atau gedung
sekolah?

Perlu anda ingat bahwa:

1. Pikiran manusia terbatas, dan Kitab Suci tidak memberi petunjuk dalam segala hal.

2. Tuhan sering menyuruh / bekerja dengan cara yang bertentangan dengan logika /
pikiran manusia ( Bandingkan Matius 14:29 Yohanes 11:3-dst 1Raja-raja 17:9-16 2Raja-raja
5:10).

3. Jika kita lihat situasi dalam Yohanes 11, maka apabila kita hanya menggunakan pikiran
+ terang Roh Kudus + Kitab Suci saya yakin kita tidak akan menunda 2 hari, seperti yang
Yesus lakukan (Yohanes 11:6).

Kadang-kadang ada hal yang menurut pikiran kita maupun Kitab Suci merupakan
sesuatu yang baik, tetapi Tuhan tidak menghendaki kita melakukannya.

Contoh:
• Daud hendak membangun Bait Allah (2Samuel 7:1-17).
• Paulus hendak memberitakan Injil di Asia / Bitinia (Kisah Para Rasul 16:6-7).

Untuk memecahkan persoalan ini, maka ada orang yang menemukan cara-
cara / metode-metode sebagai berikut:

a. Penggunaan Kitab Suci dengan cara ‘at random’.

Caranya adalah dengan berdoa meminta pimpinan Tuhan, lalu membuka Kitab Suci
secara sembarangan dan menunjuk ayat secara sembarangan. Ayat ini dianggap sebagai
petunjuk / jawaban Tuhan.
Saya berpendapat bahwa Tuhan tidak pernah mengajar kita menggunakan Kitab Suci
dengan cara ini.
Richard L. Strauss dalam bukunya yang berjudul ‘How to really know the will of God’,
halaman 82-83 berkata sebagai berikut:
“Some Christians seem to think the Bible is some sort of sanctified soothsayer, a hallowed
horoscope, or a holy Ouija board. When they have a question or a decision to which they
have not been able to find an answer, in sheer desperation they close their eyes, empty
their minds of any past knowledge of the Word, open the Bible at random, point to a text,
and accept that fragment as divine guidance. Or maybe they use a casual dive into a
Bible promise box to get an answer to their dilemma. ... Although God did lead men by
casting lots on some occasions before his Word was completed, there is no indication that
we should resort to such methods of chance today” (= Beberapa orang Kristen
kelihatannya mengira / menganggap Alkitab sebagai sejenis peramal yang dikuduskan,
horoscope yang disucikan, atau suatu Ouija board yang suci. Ketika mereka mempunyai
pertanyaan atau suatu keputusan terhadap mana mereka tidak bisa mendapatkan
jawaban, dalam keputus-asaan mereka menutup mata mereka, mengosongkan pikiran
mereka dari semua pengetahuan yang lalu tentang Firman Tuhan, membuka Alkitab
secara sembarangan, menunjuk pada satu text, dan menerima bagian / potongan itu
sebagai petunjuk ilahi. Atau mungkin mereka terjun begitu saja ke dalam suatu kotak
janji Alkitab untuk mendapatkan jawaban bagi persoalan mereka. ... Sekalipun Allah
memang memimpin manusia dengan pembuangan undi dalam beberapa peristiwa
sebelum Firman-Nya dilengkapkan, tidak ada petunjuk bahwa kita harus mengambil
jalan metode kebetulan seperti itu pada jaman ini).

b. Penggunaan buku saat teduh.


Caranya adalah dengan berdoa menanyakan sesuatu kepada Tuhan, lalu membaca
buku saat teduh untuk hari itu, dan menganggapnya sebagai petunjuk Tuhan.
Ada yang tidak setuju dengan cara ini dan menganggap sama seperti ‘ciam shie’*.
Jawaban saya:

• saya tidak bisa melihat persamaan antara Firman Tuhan dengan ‘ciam shie’!
• saya juga percaya bahwa penulis buku saat teduh itu dipimpin oleh Tuhan pada
saat ia menulis (tentu saja kita perlu memilih buku saat teduh yang ditulis oleh orang
percaya yang benar!). Tuhan tahu kapan saya akan menggunakan buku saat teduh itu
untuk menanyakan kehendak Tuhan dan Tuhan dapat memimpin penulis buku saat
teduh itu untuk menjawab pertanyaan saya.

Hal-hal lain yang perlu diingat adalah:


§ Harus diperhatikan untuk tidak mengambil jawabannya dengan cara sembarangan.
Jangan melihat kata tertentu, lalu dilepaskan dari konteksnya dan dianggap sebagai
jawaban.
Contoh: seseorang menanyakan apakah Tuhan menghendaki kami membeli ruko / rukan
atau gedung sekolah, dan mendapatkan jawaban dari Mazmur 127. Ia lalu melihat
adanya kata ‘rumah’ dalam Mazmur 127:1 itu yang lalu ia tafsirkan sebagai ‘ruko / rukan’.
Illustrasi: waktu saya jadi guru agama, murid saya bertanya: Pak, kapan ulangan? Saya
menjawab, "hari Rabu akan saya beri tahu." Tetapi murid saya hanya mengambil kata
‘hari Rabu’ dan menganggap itu sebagai jawaban saya. Memotong kalimat dengan cara
seperti itu tentu menyesatkan!
§ Jawaban harus disesuaikan dengan pertanyaannya. Karena itu ingat baik-baik
pertanyaannya, lalu lihat apakah jawaban Tuhan itu menjawab pertanyaan itu atau
tidak.
§ Dalam mendapatkan jawaban Tuhan melalui saat teduh ini, kita tak boleh
bergantung pada perasaan. Misalnya jawabannya jelas ya, tetapi kita menolak, karena
hati kita tidak merasakan hal itu! Sikap seperti ini punya kecondongan seperti para
penganut Neo Orthodox yang hanya menganggap Kitab Suci sebagai firman Tuhan
kalau ‘berbicara’ kepadanya.

Jadi, jawaban firman Tuhan ini bersifat obyektif, bukan subyektif!


§ Tuhan tidak selalu langsung menjawab pertanyaan anda. Jika Tuhan tidak menjawab,
maka anda harus tekun bertanya. Kalau Ia terus tidak menjawab, mungkin karena ada
dosa dalam diri anda (1Samuel 14:37 1Samuel 28:6). Jika demikian, maka anda harus
bertobat dahulu, baru bertanya lagi.
§ Tuhan tidak selalu menjawab dengan jelas / meyakinkan. Kalau anda tidak yakin /
masih ragu-ragu maka anda bisa bertanya lagi.

Contoh:
§ Pergumulan saya untuk menjadi hamba Tuhan.
§ Saya mendapatkan jawabannya dari buku saat teduh Streams in the desert, vol 2, tgl
22 Maret. Dalam renungan itu diceritakan tentang seekor anjing gembala yang rela
meninggalkan anaknya dan bahkan mengorbankan nyawanya demi mencari 3 domba
yang sesat / hilang. Lalu pada bagian akhir saat teduh itu ada tantangan: kalau anjing
itu yang hanya mengharapkan senyum tuannya rela melakukan itu untuk mencari
domba yang hilang, bagaimana dengan engkau? Ada 1000 juta orang terhilang,
maukah engkau pergi?

c. Meminta jawaban Tuhan melalui khotbah.


Hampir sama seperti no b. di atas, tetapi di sini anda meminta jawaban Tuhan melalui
khotbah. Tentu saja anda harus memilih pengkhotbah yang benar-benar Alkitabiah dan
Injili, bukan seadanya pengkhotbah!

Keterangan:
*Ciamsi, qianshi, qiuqian adalah suatu cara mencari jawaban atas permasalahan diri
yang dihadapi oleh orang-orang. Adapun isinya adalah syair-syair yang merupakan
cuplikan dari kisah-kisah jaman dahulu. Seperti kisah Sanguo, Chunqiu, maupun kisah-
kisah lainnya. Ciamsie baru mulai ada dalam catatan sejarah pada masa dinasti Tang.
Budaya-Tionghoa.Net |