Anda di halaman 1dari 20

TUGAS HUKUM DAN PERKEMBANGAN SOSAL

Dosen : Prof. Dr Wayan P. Windia, SH MSi

OLEH
TOGAR SITUMORANG,SH,.MH,.MAP
NIM (1690911014)

PROGRAM DOKTOR ILMU HUKUM

PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2017

1
I.PENDAHULUAN

1.Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan hidup yang berisikan suatu perintah


dan larangan atau perizinan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu hal, hukum
bersifat memaksa serta dengan maksud untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan
bermasyarakat (Soerojo Wignjodipoero, 2010). Bukan hanya sekedar kumpulan huruf
dan kata-kata yang dirangkai menjadi sesuatu peraturan kemudian dinamakan undang
– undang. Didalam sosiologi hukum, hukum dipandang tidak hanya sebagai undang-
undang saja, melainkan ada norma-norma yang hidup di masyarakat yang tertuang
didalamnya. Sifat lainnya dari undang – undang adalah bersifat humanis, fleksibel dan
dapat diterima oleh masyarakat. Dalam pengamatan sosial terutama bidang sosiologi
terhadap hukum (sebagai objeknya), hukum selalu tidak otonom. Hukum tidak dapat
berdiri sendiri dengan ketentuan perundang-undangan semata. Eugen Ehrlich
(1962:351) menyatakan “at the present as well as any other time, the centre or gravity
of legal development lies not in legislation, nor in jurist science nor in judicial decision,
but in society it self” (baik kini dan di masa kapanpun, pusat kegiatan dan
perkembangan hukum bukanlah dalam perundang-undangan, bukan dalam ilmu
hukum, juga bukan dalam putusan pengadilan, tetapi di dalam masyarakat sendiri).

Teori yang dikemukakan oleh Eugen Erlich tersebut mendasarkan bahwa


masyarakat sebagai pusat perkembangan hukum tidak lain sebagai cikal bakal untuk
lahirnya sebuah Undang-Undang. Oleh karena itu termasuk segala perubahan sosial
yang terjadi di masyarakat merupakan instrumen yang dapat memberi pengaruh

terhadap pusat kegiatan dan perkembangan hukum untuk masa-masa


selanjutnya. Tentu berdasarkan perkembangan hukum yang dipengaruhi
oleh masyarakat tersebut, maka dipandang perlu untuk menguraikan
secara konkret pengaruh perubahan sosial terhadap perkembangan dalam
aliran pemikiran hukum. Hukum dipengaruhi pada kondisi dimana
terdapat krisis ekonomi yang menimbulkan beberapa permasalahan dan

2
harus dihadapi oleh pemerintah dalam tahap perkembangannya. Isu
ekonomi yang utama berupa kesinambungan fiskal untuk membiayai
pembangunan ekonomi di setiap daerah. Dengan demikian tantangan Pemerintah
Daerah di era desentralisasi fiskal adalah dituntut untuk mampu meningkatkan
kapasitas Pemerintah Daerah dalam rangka melaksanakan tugas dan tanggung jawab
mereka dengan baik sebagai pelayan umum (public servant). Tidak hanya kapasitas
Pemerintah Daerah dalam mengatur pengeluaran atau belanja tetapi juga dalam rangka
meningkatkan pendapatan (revenue) yang berguna untuk membiayai pembangunan
dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Konsekuensi dari penerbitan UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan


Daerah dan UU No. UU 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dengan dilengkapi munculnya dengan UU
No. 32 tahun 2004 dan UndangUndang No.33 tahun 2004 menimbulkan problematika
sendiri. Dengan munculnya undang-undang diharapkan pemerintah daerah memiliki
kewenangan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan sumber daya dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun proses ini berlanjut pada
penyediaan fasilitas publik yang baik dan tidak kecil jumlah pengeluarannya seperti
pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, komunikasi, pertanian,
lingkungan dan tenaga kerja. Dalam pemenuhan kegiatan ini, biaya yang dikeluarkan
Pemerintah daerah harus bisa memanfaatkan alternatif pembiayaan yaitu baik berupa
obligasi untuk pembangunan daerahnya sehingga bisa menjadi mandiri tanpa selalu
mengandalkan dana pajak, restribusi dll.

3
Obligasi adalah suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang
merupakan suatu pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi
beserta janji untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada
saat tanggal jatuh tempo pembayaran. Ketentuan lain dapat juga dicantumkan dalam
obligasi tersebut seperti misalnya identitas pemegang obligasi, pembatasan-
pembatasan atas tindakan hukum yang dilakukan oleh penerbit. Dengan penerbitan
obligasi ini maka dimungkinkan bagi penerbit obligasi guna memperoleh pembiayaan
investasi jangka panjangnya dengan sumber dana dari luar perusahaan. Desentralisasi
fiskal di Indonesia mempedomani UU No.33 / tahun 2004 tentang perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dimana dalam pasal 5 ayat
(1) disebutkan bahwa sumber-sumber Penerimaan Daerah dalam pelaksanaan
desentralisasi dapat diperoleh dari terdiri dari Pendapatan Daerah dan Pembiayaan.

Dikatakan bahwa obligasi juga merupakan suatu surat berharga yang dijual
kepada publik di mana disana dicantumkan berbagai ketentuan yang menjelaskan
berbagai hal seperti nilai nominal, tingkat suku bunga, jangka waktu, nama penerbit
dan beberapa ketentuan lainnya yang terjelaskan dalam Undang-undang yang
disyahkan oleh lembaga yang terkait (Irham Fahmi dan Yovi Lavianti (2011:116).
Secara umum jenis obligasi dapat dilihat dari penerbitnya, yaitu, Obligasi perusahaan
dan Obligasi Pemerintah. Obligasi pemerintah sendiri terdiri dalam beberapa jenis,
yaitu:

1. Obligasi Rekap diterbitkan guna suatu tujuan khusus yaitu dalam rangka
Program Rekapitalisasi Perbankan;
2. Surat Utang Negara (SUN), diterbitkan untuk membiayai defisit APBN;
3. Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sama dengan SUN, diterbitkan untuk
membiayai defisit APBN namun dengan nilai nominal yang kecil agar dapat
dibeli secara ritel;
4. Surat Berharga Syariah Negara atau dapat juga disebut "obligasi syariah" atau
"obligasi sukuk", sama dengan SUN, diterbitkan untuk membiayai defisit
APBN namun berdasarkan prinsip syariah.

4
5. Obligasi daerah.

Penerbitan Obligasi ini sebagai salah satu solusi kegiatan pelaksana otonomi
daerah mengacu pada UU No.5 Tahun 1974 tentang Pokok- pokok Pemerintah
Daerah, dimana hak dan kewajiban Pemerintah Daerah untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahannya, dan ketika menemui keterbatasan dalam sumber
pendanaan. Selain itu, H.M.N. Purwosutjipto, S.H. (2000:203-208), dalam bukunya
yang berjudul Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Hukum Surat Berharga
mengatakan bahwa obligasi adalah surat bukti pengakuan utang, yang dapat
dikeluarkan oleh pemerintah atau oleh perusahaan, dengan jangka waktu sekurang-
kurangnya satu tahun. Obligasi dijual dengan memberikan bunga tetap tertentu, dan
obligasi dapat dijual kembali kepada orang lain atau melalui pasar modal, kapan saja
pemiliknya membutuhkan uang tunai.
Sebagian besar daerah kabupaten dan kota sangat bergantung pada dana
perimbangan yang diberikan Pemerintah Pusat, baik itu Dana Bagi Hasil (DBH), Dana
Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Seperti yang tercantum
dalam UU No.22 tahun 1999 pasal 7 ayat 1 Tentang kewenangan Pemerintah Daerah
bahwa dijelaskan kewenangan daerah mencakup kebijakan tentang perencanaan
nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan
keuangan, sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan
dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta
teknologi tinggi yang strategis, konservasi, dan standardisasi nasional. Maka sejak
Undang –undang Otonomi daerah yang dituangkan pada UU No.22 tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah maka penataan pemerintahan dan keuangan daerah semakin
mempunyai peranan.
Jalloh (2009) mengatakan bahwa pasar keuangan berperan penting dalam
meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui mobilisasi sumber daya keuangan dan
arus masuk modal. Perkembangan ini melibatkan setiap individu dari pemerintahan
daerah dan juga lembaga – lembaga pemerintahan. Sebagai contoh, pemerintah dapat
menerbitkan obligasi untuk membangun infrastruktur jalan raya, membangun rumah

5
sakit, transportasi umum, membangun bendungan, bandar udara, dan infrastruktur
sosial lainnya. Pemerintah Daerah dapat menerbitkan Obligasi Daerah untuk
membiayai kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan
memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi urusan Pemerintah Daerah
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Hal ini tentu akan mendorong
penciptaan kekayaan negara dan tentu berdampak pada pertumbuhan ekonomi
domestik.
PERKEMBANGAN OBLIGASI

A. Zaman Kerajaan

Indonesia terdiri dari pulau-pulau dan tanah yang dikuasai oleh berbagai
kerajaan dan kekaisaran, kadang-kadang hidup berdampingan dengan damai sementara
di lain waktu berada pada kondisi berperang satu sama lain. Walaupun demikian,
jaringan perdagangan telah berkembang di wilayah ini terhitung sejak awal permulaan
sejarah Asia. Berkaitan dengan jaringan perdagangan ini yang merupakan aset penting
bagi sebuah kerajaan untuk mendapatkan kekayaan dan komoditas, yang diperlukan
untuk menjadi kekuatan besar. Pada masa kerajaan di Indonesia belum mengenal istilah
transaksi perbankan seperti yang sekarang ini sudah ada dan berlaku. Dikarenakan
perkembangan perekonomian masih terbatas pada kepemilikan Sumber Daya Alam
yang diperjual belikan. Proses penyempurnaan terjadi ketika manusia sudah mengenal
proses kepemilikan barang baik berupa benda maupun barang bergerak yang bisa di
perjual belikan. Sebagaimana mestinya pemerintah yang dalam hal ini kedudukannya
disebut dengan kerajaan belum memerlukan istilah pinjaman dana untuk membangun
dan menambah perkembangan wilayahnya yang dikareakan masih terpenuhinya
sumber kekayaan Kerajaan. Dimana dalam melakukan transaksipun masih belum ada
peraturan tertulis yang mengatur dan membuat kegiatan tersebut menjadi legal dan
dapat dipastikan pelanggaran maupun resiko kerugian serta kehilangan dapat terjadi
sewaktu – waktu.

6
B. Zaman Kolonial

Periode Permulaan (1878-1992)


Di Indonesia, kegiatan transaksi saham dan obligasi dimulai pada abad ke-19.
Menurut buku Effectengids yang dikeluarkan Vereniging voor den Effectenhandel pada
tahun 1939, transaksi efek telah berlangsung sejak 1880. Berhubung bursa belum
dikenal, maka perdagangan saham dan obligasi dilakukan tanpa organisasi resmi
sehingga catatan resmi tentang transaksi tersebut tidak lengkap. Menurut perkiraan,
bahwa yang diperjualbelikan waktu itu adalah saham atau obligasi yang listing di bursa
Amsterdam yang dimiliki oleh investor yang ada di Batavia, Surabaya, dan Semarang.
Dengan demikian, karena belum ada bursa resmi, dapat dikatakan bahwa periode ini
adalah periode permulaan sejarah pasar modal Indonesia.

Periode Pembentukan Bursa (1912-1925)

Perkembangan transaksi efek semakin meningkat, tetapi bursa yang resmi


belum ada. Akhirnya, pada tanggal 14 Desember 1912, Amserdamse Effectenbueurs
mendirikan cabang bursa di Batavia. Bursa ini merupakan bursa tertua keempat di Asia,
setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo. Bursa yang dinamakan Vereniging voor de
Effectenhandel, memperjualbelikan saham dan obligasi perusahaan/perkebunan
Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah (propinsi
dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang diterbitkan oleh
kantor administrasi di negeri Belanda serta efek perusahaan Belanda lainnya. Pada saat
awal terdapat 13 anggota bursa yang aktif (makelar) yaitu: Fa. Dunlop & Kolf; Fa.
Gijselman & Steup; Fa. Monod & Co.; Fa. Adree Witansi & Co.; Fa. A.W. Deeleman;
Fa. H. Jul Joostensz; Fa. Jeannette Walen; Fa. Wiekert & V.D. Linden; Fa. Walbrink
& Co; Wieckert & V.D. Linden; Fa. Vermeys & Co; Fa. Cruyff dan Fa. Gebroeders.
Setelah berdirinya Bursa Efek Batavia, maka periode ini pada tanggal 11 Januari 1925
terbentuk Bursa Efek Surabaya. Pada tanggal 1 Agustus 1925 terbentuk Bursa Efek
Semarang.

7
C. Zaman Kemerdekaan

Perdagang efek perkembangan mulai marak pada periode ini, namun tidak
bertahan lama karena dihadapkan pada resesi ekonomi pada tahun 1929 dan pecahnya
Perang Dunia II (PD II). Pada saat PD II, bursa efek di negeri Belanda tidak aktif karena
sebagian saham-saham milik orang Belanda dirampas oleh Jerman. Hal ini sangat
berpengaruh terhadap bursa efek di Indonesia. Keadaaan makin memburuk dan tidak
memungkinkan lagi Bursa Efek Jakarta untuk beroperasi, sehingga pada tanggal 10
Mei 1940, Bursa Efek Jakarta resmi ditutup. Bursa Efek Surabaya dan Semarang telah
lebih dulu ditutup. Setelah tujuh bulan ditutup, pada tanggal 23 Desember 1940 Bursa
Efek Jakarta kembali diaktifkan, karena selama PD II Bursa Efek Paris tetap berjalan,
demikian pula halnya dengan Bursa Efek London yang hanya ditutup beberapa hari
saja. Akan tetapi, aktifnya Bursa Efek Jakarta tidak berlangsung lama, karena Jepang
masuk ke Indonesia pada tahun 1942, Bursa Efek Jakarta kembali ditutup.

D. Zaman Orde baru (1966- 1998)

Pasar modal tidak menjalankan aktivitasnya sampai tahun 1977. Penutupan


pasar modal Indonesia tersebut tidak lepas dari orientasi politik pemerintah Orde Lama
yang menolak modal asing dalam kebijakan nasionalisasi. Setelah pemerintahan
berganti kepada Pemerintahan Orde Baru, kebijakan politik dan ekonomi Indonesia
tidak lagi konfrontatif dengan dunia Barat. Pemerintahan Orde Baru segera
mencanangkan pembangunan ekonomi secara sistematis dengan pola target lima
tahunan. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Barat untuk membangun.
Pertumbuhan mulai, perekonomian bergerak. Pemerintah pun berencana mengaktifkan
kembali pasar modal. Pasar surat utang di Indonesia menunjukan pertumbuhan yang
pesat sejak diterbitkannya obligasi rekapitalisasi oleh pemerintah pada tahun 1999 dan
dimulainya perdagangan recap bonds tersebut di pasar sekunder pada tahun 2000.
Kondisi makro ekonomi Indonesia yang ditandai dengan penurunan tingkat suku bunga
juga sangat mendukung perkembangan pasar surat utang pada saat itu. Nilai recap

8
bonds, atau kemudian disebut Surat Utang Negara (SUN), yang diperdagangkan di
pasar sekunder senilai Rp. 31, 6 triliun pada tahun 2000.

E. Zaman Reformasi

Tahun 2003

Pada tanggal 18 September 2003, Perseroan menerbitkan Obligasi Panin


Sekuritas I Tahun 2003 Dengan Tingkat Bunga Tetap. Obligasi ini memiliki Jumlah
Pokok sebesar Rp 100 miliar dan berjangka waktu 5 (lima) tahun, dengan tingkat bunga
tetap sebesar 14,25% (empat belas koma dua lima persen) per tahun yang dibayarkan
setiap 3 (tiga) bulan. Obligasi ini dicatatkan di Bursa Efek Surabaya pada tanggal 19
September 2003. Obligasi ini telah jatuh tempo dan dilunasi tepat waktu pada tanggal
18 September 2008. Seluruh dana hasil penerbitan Obligasi telah digunakan untuk
memperkuat modal kerja, khususnya meningkatkan pembiayaan fasilitas perdagangan
marjin sebagai fasilitas pinjaman perdagangan nasabah Perseroan. Seiring dengan
kondisi yang sangat kondusif tersebut, penerbitan baru obligasi korporasi pada tahun
2003 pernah mencapai hingga Rp. 23,5 triliun atau mengalami peningkatan sekitar
108% dalam setahun. Selama kurun waktu tahun 1999 hingga tahun 2008 jumlah
emiten obligasi di Indonesia telah tumbuh rata-rata 11% pertahun, sementara nilai
emisi tumbuh dengan rata-rata 26% pertahunnya.
Pertumbuhan pasar surat utang Indonesia juga ditandai dengan semakin
beragamnya jenis dan jumlah instrumen surat utang yang diterbitkan oleh Pemerintah
maupun swasta. Jenis yang beragam tersebut meliputi Obligasi Negara seri fixed dan
variable coupon, zero coupon, ORI (Obligasi Negara Ritel), SPN (Surat
Perbendaharaan Negara), dan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara), dalam mata
uang rupiah dan valuta asing, serta obligasi korporasi seperti straight bonds, amortized
bonds, callable /puttable bonds, Sukuk korporasi (mudharabah, ijarah, dll) dan MTN
(Medium Term Notes). Nilai outstanding dari obligasi yang diterbitkan oleh
pemerintah dan swasta dan diperdagangkan di pasar sekunder dari tahun ke tahun juga

9
mengalami pertumbuhan yang pesat dari sekitar Rp. 49 triliun pada tahun 2000 dan
menambah ditiap tahunnya.

Tahun 2004

Perkembangan terbaru berkaitan dengan pembentukan Otoritas Jasa Keuangan


(OJK) melalui UU No. 3 Tahun 2004 yang mengamanatkan fungsi pengawasan
perbankan dan keuangan lainnya akan dialihkan ke Lembaga Pengawas Jasa Keuangan
(LPJK) independen atau sering disebut dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sesuai
dengan UU Nomor 3 Tahun 2004, OJK harus terbentuk selambat-lambatnya 31
Desember 2010 sebagai lembaga independen yang mengawasi lembaga keuangan, baik
bank maupun bukan bank, seperti perusahaan sekuritas, anjak piutang, sewa guna
usaha, modal ventura, perusahaan pembiayaan, reksa dana, asuransi, dan dana pensiun
serta lembaga lain yang berkegiatan mengumpulkan dana masyarakat.
Salah satu embrio OJK adalah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan (Bapepam-LK) yang sekarang masih di bawah Kementerian Keuangan.
Dengan adanya OJK maka Bapepam-LK akan lepas dari Kementerian Keuangan. Ide
pembentukan OJK berasal dari pengalaman Indonesia dalam menghadapi krisis
keuangan. Alhasil, setelah munculnya krisis keuangan global dan ditambah dengan isu
panas Bank Century maka pembentukan OJK semakin ramai dibicarakan. Bahkan UU
No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia mengamanatkan bahwa sebelum 31
Desember 2010, OJK sudah harus terbentuk. Oleh karena OJK merupakan hal yang
baru dan berkembang dalam pasar modal Indonesia maka pembahasan mengenai OJK
ini akan dibahas pada bagian selanjutnya yaitu Bab II bagian b mengenai
Pengembangan Pasar Modal Indonesia.

10
Tahun 2005
Pada tanggal 15 Maret 2005, Perseroan menerbitkan Obligasi Panin Sekuritas
II Tahun 2005 Dengan Tingkat Bunga Tetap. Obligasi ini memiliki Jumlah Pokok
seluruhnya sebesar Rp 75 miliar, yang terdiri dari 2 (dua) seri, yaitu:

 Seri A, memiliki Jumlah Pokok sebesar Rp 25 miliar dengan tingkat bunga tetap
sebesar 10,5 % (sepuluh koma lima persen) per tahun. Jangka waktu Obligasi
adalah 370 hari, telah jatuh tempo dan dilunasi tepat waktu pada tanggal 20
Maret 2006.
 Seri B, memiliki Jumlah Pokok sebesar Rp 50 miliar dengan tingkat bunga tetap
sebesar 11,625% (sebelas koma enam dua lima persen) per tahun. Jangka waktu
Obligasi adalah 2 (dua) tahun, telah jatuh tempo dan dilunasi tepat waktu pada
tanggal 15 Maret 2007.

Obligasi ini dicatatkan di Bursa Efek Surabaya mulai tanggal 16 Maret 2005
sampai dengan tanggal jatuh tempo. Seluruh dana hasil penerbitan Obligasi digunakan
untuk memperkuat modal kerja, khususnya meningkatkan pembiayaan fasilitas
perdagangan marjin sebagai fasilitas pinjaman perdagangan nasabah Perseroan.

Tahun 2006
Sebagai informasi, sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 2006, pemerintah
telah menerbitkan 12 seri Obligasi Negara Riteil (ORI). Pada umumnya, ORI
diterbitkan satu seri setiap tahunnya, kecuali pada tahun 2007 dan 2008, pemerintah
menerbitkan dua seri ORI pada tahun yang sama. Sepanjang satu dasawarsa
penerbitannya, ORI telah menyerap dana sebesar Rp144,125 triliun, dengan total
investor mencapai 214.852 investor. Nominal penerbitan ORI tertinggi mencapai
Rp27,439 triliun, yaitu seri ORI012, terendah sebesar Rp2,714 triliun dari penerbitan
seri ORI005. Penerbitan ORI sendiri memiliki peran strategis bagi perekonomian
nasional. Selain berfungsi sebagai salah satu sumber pembiayaan defisit Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ORI juga menjadi alternatif investasi bagi

11
masyarakat, khususnya investor ritel. Selain itu, penerbitan ORI merupakan salah satu
strategi Pemerintah untuk melakukan pendalaman pasar Surat Berharga Negara,
dengan memanfaatkan potensi besarnya jumlah penduduk Indonesia. Penerbitan ORI
juga mendukung terwujudnya masyarakat yang berorientasi pada investasi jangka
menengah dan panjang. Yang tidak kalah penting, melalui penerbitan ORI, pemerintah
bermaksud mewujudkan cita-cita kemandirian dalam pembiayaan pembangunan.
Perkembangan pasar surat utang tersebut turut mendorong iklim investasi
jangka panjang. Hal ini terlihat dari pertumbuhan dan keberagaman jenis instrumen
investasi berbasis surat utang seperti reksadana, unit-link, bancassurance, EBA (Efek
Beragun Aset), dan lain-lain. Semakin berkembangnya pasar surat utang Indonesia
merupakan bukti nyata pentingnya peran instrumen surat utang sebagai instrumen
fiskal dan moneter bagi pemerintah maupun sebagai instrumen pendanaan dan
investasi bagi dunia usaha. Perkembangan pasar dan struktur surat utang yang semakin
kompleks mendorong diperlukannya suatu mekanisme penetapan nilai pasar wajar
Efek yang objektif, transparan, dan independen. Meskipun ketentuan Marked-to-
Market (MtM) sudah menjadi salah satu standar dalam penetapan nilai pasar wajar Efek
pada industri keuangan, namun di pasar OTC (over the counter) praktek MtM masih
rentan akan manipulasi, cenderung bias, dan kurang transparan. Sulitnya mendapatkan
harga yang benar-benar mencerminkan nilai wajar semakin diperburuk dengan kondisi
pasar obligasi yang relatif kurang likuid. Berbeda dengan pasar saham, maka hanya
sebagian kecil dari seluruh obligasi yang beredar di pasar sekunder diperdagangkan
setiap hari dan memiliki informasi harga harian. Kondisi ini menjadikan kebutuhan
akan nilai pasar wajar harian menjadi sangat vital bagi pelaku pasar dan investor dalam
pengelolaan investasi dan risiko portfolio.

12
Peran sentral pasar surat utang perlu didukung oleh keberadaan pasar yang
wajar dan transparan. Nature perdagangan surat utang yang OTC dan tidak terpusat
(de-centralized), menjadikan isu likuiditas dan transparansi melalui ketersediaan harga
pasar wajar (fair market price valuation) menjadi sangat kritikal di dalam menciptakan
pasar surat utang yang wajar, teratur, dan efisien. Sebagai solusi atas kebutuhan akan
pasar surat utang yang wajar, teratur, efisien, serta berdaya saing global, pada tahun
2006, tepatnya pada tanggal 5 Juli, pemerintah dan Bank Indonesia mengeluarkan Surat
Keputusan Bersama (SKB) Gubernur Bank Indonesia, Menko Perekonomian, Menteri
Keuangan, dan Meneg BUMN yang berisi Paket Kebijakan Sektor Keuangan. Dalam
rangka penyempurnaan struktur sektor keuangan yang lebih kuat, seimbang dan stabil,
SKB 5 Juli 2006 tersebut mengamanahkan pembentukan suatu lembaga independen
yang berfungsi untuk melakukan valuasi terhadap surat utang.

Tahun 2007
Sebagai tindak lanjut dari kebijakan pembentukan lembaga independen yang
melakukan valuasi terhadap surat utang, selanjutnya Presiden RI mengeluarkan Inpres
No. 6 Tahun 2007 yang mengintruksikan dilakukannya dengan sasaran kelembagaan
Pasar Modal. Salah satu inisiatif terkait dengan Pasar Modal tersebut adalah
peningkatan likuiditas dan stabilitas Pasar Obligasi (surat utang) melalui
pengembangan mekanisme pembentukan harga (price discovery mechanism).
Selanjutnya didalam inisiatif tersebut, Presiden menginstruksikan penyusunan
peraturan tentang persyaratan, kriteria, dan tatacara pendirian lembaga yang melakukan
valuasi surat utang. Menindaklanjuti hal tersebut, pada tanggal 19 September 2007,
Bapepam dan LK kemudian mengeluarkan Peraturan No V.C.3 tentang Lembaga
Penilaian Harga Efek (LPHE). Peraturan tersebut mengatur persyaratan pendirian dan
kewajiban LPHE sebagai pihak yang melakukan penilaian harga Efek bersifat utang,
Sukuk, dan surat berharga lainnya untuk menetapkan harga pasar wajar secara objektif,
independen, kredibel, dan dapat dipertanggung jawabkan.

13
Pembentukan LPHE, atau biasa disebut juga Bond Pricing Agency (BPA)
merupakan fenomena baru di Indonesia. Kehadiran BPA juga sudah menjadi
kebutuhan di beberapa negara, khususnya di negara-negara yang perkembangan pasar
surat utangnya diawali oleh krisis sektor keuangan. Negara-negara seperti Meksiko,
Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand adalah negaranegara yang pernah mengalami
krisis sektor keuangan sebelumnya. Kebutuhan suatu pasar surat utang yang
transparan, likuid, wajar, teratur, dan efisien, telah mendorong otoritas pasar modal
untuk membentuk BPA sebagai lembaga resmi yang melakukan penilaian dan
penetapan harga pasar wajar secara harian dari seluruh instrumen surat utang, Sukuk,
dan surat berharga lainnya yang diperdagangkan di pasar sekunder. Dalam
perkembangannya, informasi harga pasar wajar yang diterbitkan BPA menjadi
referensi yang wajib digunakan oleh institusi keuangan dalam penetapan secara harian
nilai aset bersih (NAB) dan nilai pasar wajar portfolio. Karena pendapatan daerah yang
diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja daerah maka pemerintah
daerah akan menggunakan penerimaan yanga bersumber dari pembiayaan. Secara rata-
rata, pada tahun 2012, penerimaan daerah yang bersumber dari pembiayaan adalah
sebesar 6%. Rendahnya persentase ini menunjukkan bahwa peluang untuk mencari
sumber dana tambahan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal masih terbuka lebar.

14
Salah satu sumber pembiayaan adalah pinjaman daerah. Pinjaman daerah
adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau
menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah tersebut dibebani
kewajiban untuk membayar kembali. Berbeda dengan pendapatan, penerimaan yang
berasal dari pinjaman mengandung kewajiban untuk membayar kembali pokok
pinjamannya dan juga bunganya. Oleh sebab itu, penggunaan pinjaman daerah harus
dilakukan dengan memperhatikan kemampuan daerah dalam memenuhi kewajiban
yang timbul tersebut agar tidak membahayakan keuangan daerah. Walaupun investasi
publik yang dilakukan harus menghasilkan penerimaan namun dalam peraturan
perundang-undangan tidak ditentukan jumlah minimum penerimaan yang harus
diperoleh. Pada waktu investasi yang dilakukan telah mencapai tahap operasional,
jumlah penerimaannya pun tidak dipersyaratkan harus dapat mencapai titik impas atau
dapat menutup seluruh biaya operasional yang timbul. Bahkan, penerimaan yang
dihasilkan juga tidak dipersyaratkan harus dapat memenuhi kebutuhan untuk
pembayaran bunga dan pokok dari obligasi daerah yang diterbitkan.

Tahun 2015
OJK punya peran sangat vital atas keberhasilan penerbitan obligasi daerah oleh
pemda. Lewat MoU, diharapkan setiap pihak (stakeholder) punya pandangan yang
sama tentang pentingnya obligasi daerah bagi pembangunan di daerah. Hingga
penghujung tahun 2015, belum ada satupun pemerintah daerah (pemda) yang berhasil
menerbitkan obligasi daerah. Padahal tahun 2015 ini direncanakan menjadi tahun
pertama penerbitan obligasi daerah bagi pemda. Sampai-sampai Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) sepanjang tahun 2015 pun terus berupaya untuk mendorong
penerbitan obligasi daerah. Sejumlah upaya telah dilakukan oleh OJK. Bahkan, sejak
awal tahun 2015, OJK sudah concern memacu pertumbuhan perekonomian khususnya
di sektor pasar modal.

15
Saat itu, OJK mengarahkan industri jasa keuangan pada tiga hal, yang mana
salah satunya adalah dalam hal mendukung pembangunan berkelanjutan serta
meningkatkan akses keuangan dan kemandirian finansial masyarakat dalam
mendukung pemerataan pembangunan. Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D
Hadad mengatakan bahwa dalam rangka mendorong penerbitan obligasi daerah, OJK
mengambil peran dengan merevitalisasi peran Bank Pembangunan Daerah (BPD) serta
mengidentifikasi potensi-potensi penerbitan obligasi daerah untuk membiayai proyek-
proyek pembangunan di daerah. Untuk diketahui, obligasi daerah merupakan salah satu
sumber pinjaman daerah jangka menengah dan/atau jangka panjang. Yang
membedakannya dengan obligasi biasa (bond), yakni obligasi daerah diterbitkan untuk
tujuan mendapatkan modal yang diterbitkan oleh pemda melalui penawaran umum
(Initial Public Offering/IPO). Dari sisi regulasi, UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan
peluang kepada pemda untuk menggali dana (fund raising) lewat obligasi daerah.
Beberapa waktu setelah itu, selain pihak OJK, Menteri Keuangan Bambang PS
Brodjonegoro juga telah melonggarkan aturan persyaratan penerbitan obligasi daerah,
salah satunya dengan menghapus persyaratan tentang studi kelayakan. Kelonggaran itu
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 180/PMK.07/2015 tentang
Perubahan Atas PMK Nomor 111/PMK.07/2012 tentang Tata Cara Penerbitan dan
Pertanggungjawaban Obligasi Daerah. Selain dilonggarkan dalam hal studi kelayakan,
dalam aturan yang sama, yakni Pasal 9 ayat (2) huruf b yang mengatur tentang aturan
mengenai penyertaan laporan penilaian studi kelayakan oleh penilai yang terdaftar di
OJK juga dihapus. Namun, di sisi lain, peran serta kewenangan Menteri Keuangan dan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan justru diperkuat. Keduanya, diberi tugas
untuk menilai secara administrasi atas dokumen rencana penerbitan obligasi daerah.

16
Instrumen atau surat-surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal sering
di-sebut efek. Pengertian efek adalah setiap surat berharga yang diterbitkan oleh
perusahaan seperti surat pengakuan utang, surat berharga komersial (commercial
paper), saham, obligasi, tanda bukti utang, bukti right (right issue), waran (warran),
unit penyertaan kontrak, kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan
setiap turunan (derivatif) dari efek. Berikut ini adalah penjelasan dari instrumen-
instrumen Pasar Modal.
Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara
pemberi pinjaman (dalam hal ini adalah pemodal) dengan yang diberi pinjaman
(emiten). Jadi surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik
kertas tersebut memberikan pinjaman kepada perusahaan yang menerbitkan surat
obligasi. Obligasi digolongkan sebagai efek yang memberikan penghasilan tetap
karena penerbit (issuer) menjanjikan kepada pemegang obligasi untuk:

– Membayar bunga periodik tetap

– Membayar jumlah prinsipal tetap pada atau sebelum jatuh waktu

Bunga obligasi umumnya dibayarkan setiap jumlah waktu yang tetap, misalnya
setiap 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Besarnya bunga tergantung dari kupon. Selain itu
seperti halnya saham biasa, obligasi juga mengenal penghasilan dari capital gain yang
bisa terjadi apabila saat pemegang obligasi melakukan penjualan obligasinya,
mendapatkan harga yang lebih tinggi dari harga ketika saat membelinya. Obligasi
Konversi (convertible bond), sudah dikenal di pasar modal Indonesia. Untuk kalangan
emiten swasta, sebenarnya obligasi konversi lebih dulu populer dari pada obligasi.
Obligasi konversi sekilas tidak ada bedanya dengan obligasi biasa, misalnya
memberikan kupon tetap, memiliki jatuh tempo, dan memiliki nilai pari. Hanya saja
obligasi konversi memiliki keunikan, yaitu bisa ditukar dengan saham biasa

17
PENUTUP

Dalam keputusan RI Nomor 775/KMK 001/1982 disebutkan bahwa obligasi


adalah jenis efek berupa surat pengakuan utang atas pinjaman uang dari masyarakat
dalam bentuk tertentu, untuk jangka waktu yang sekurang-kurangnya tiga tahun dengan
menjanjikan imbalan bunga yang jumlah serta saat pembayarannya telah ditentukan
terlebih dahulu oleh emiten / Badan Pelaksana pasar modal. (Abdul manan, 2012:32).
Penerbitan Obligasi Daerah sangat layak diterbitkan yaitu untuk melindungi
kepentingan pemeritah daerah dan investor. Obligasi daerah harus dikelola dengan baik
agar memberikan image untuk mendukung penerbitan obligasi berikutnya. Dan waktu
penerbitan obligasi daerah harus diperhatikan Pemerintah Daerah dalam rangka
penjualan obligasi tersebut. Investor dapat menggunakan berbagai pendekatan untuk
mengelola obligasi daerah dan diharapkan akan memberikan banyak manfaat, bagi
pemerintah daerah sebagai pihak emiten yang merupakan pengguna dana obligasi
untuk di salurkan kepada proyek-proyek. Peneribitan Obligasi yang baik dapat
mengurangi masyarakat melakukan penanaman modal pada investasi yang salah dan
tidak diatur serta dilindungi oleh Hukum.
Di tengah tingginya kebutuhan akan pembangunan sarana dan prasarana untuk
meningkatkan pelayanan publik di daerah dan terbatasnya sumber dana untuk
membiayainya maka sumber pembiayaan yang berasal dari pinjaman daerah berupa
penerbitan obligasi daerah yang dijual di pasar modal merupakan salah satu alternatif
sumber pembiayaan yang cukup menjanjikan. Obligasi daerah hanya dapat digunakan
untuk membiayai suatu kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan
penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Walaupun, investasi yang akan
dibangun dengan menggunakan dana dari penerbitan obligasi daerah harus
menghasilkan penerimaan, tidak berarti bahwa jumlah penerimaannya harus
mencukupi untuk menutup seluruh biaya investasi, biaya operasional, dan tingkat
pengembalian yang diminta seperti pada investasi yang dilakukan oleh sektor swasta.
Dalam peraturan perundang-undangan hanya disebutkan bahwa investasi yang
dilakukan harus menghasilkan penerimaan tanpa menyebutkan berapa. Dengan

18
persyaratan yang cukup ringan ini maka terbuka kesempatan bagi pemerintah daerah
untuk melakukan investasi sektor publik yang penting bagi pelayanan publik namun
tidak menarik dibangun oleh sektor swasta karena tidak memenuhi kelayakan secara
komersial.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://www.negarahukum.com/hukum/hukum-dan-perubahan-sosial.html diunduh 16/2/2017


pkl.10.51

http://www.academia.edu/21114016/Sejarah_Dan_Perkembangan_Sosiologi_Hukum
diunduh 16/2/2017 pkl.11.59

H.M.N. Purwosutjipto, S.H. 2000. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia:


Hukum Surat Berharga. Jakarta: Djambatan.

Eugen Ehrlich. 1962. Fundamental Principles of the Sociology of Law (Law and
Society Series). Transaction Publisher (October 3, 2001).

Abdul manan, Hukum Ekonomi Syariah (dalam persfektik kewenangan peradilan agama).
Jakarta; kencana prenada media grup; 2012.

20