Anda di halaman 1dari 5

REVIEW: PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 68 TAHUN 2010

TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN


RUANG
Disusun untuk Memenuhi Nilai Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pilihan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
(TKP 525)
Dosen Pengampu: Novia Sari Ristianti, ST, MT

Disusun Oleh:
Hanifah Cindy Pratiwi (21040113130100)

DEPARTEMEN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
REVIEW: PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 68 TAHUN 2010
TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG

A. PENDAHULUAN
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 Tentang Bentuk Dan Tata Cara Peran
Masyarakat Dalam Penataan Ruang, disebutkan bahwa dalam kegiatan perencanaan tata ruang, pemanfaatan
tata ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, pemerintah dan pemerintah daerah dapat secara aktif
melibatkan masyarakat yang terkena dampak langsung dari kegiatan penataan ruang, yang memiliki keahlian di
bidang penataan ruang, dan yang memiliki kegiatan pokok di bidang penataan ruang. Keterlibatan tersebut
merupakan bentuk dari peran masyarakat yang telah menjadi hak dan kewajiban mereka.
Pelibatan masyarakat dalam kegiatan penataan ruang tersebut antara lain bertujuan agar masyarakat turut
bertanggung jawab dalam seluruh kegiatan penataan ruang. Sebab masyarakat juga lah yang akan memanfaatkan
ruang tersebut untuk melakukan kegiatannya, serta setiap pelanggaran yang terjadi akan dirasakan juga akibatnya
oleh masyarakat. Selain itu pelibatan tersebut juga bertujuan untuk mewujudkan pelaksanaan penataan ruang
yang transparan, efektif, akuntabel, dan berkualitas. Dengan ikut serta masyarakat dalam kegiatan penataan
ruang, mereka akan mengetahui peraturan-peraturan mengenai penataan ruang, sehingga dapat meningkatkan
kepedulian dan kesadaran untuk mematuhi seluruh peraturan tersebut.

B. BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG


Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 mengatur bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam
penataan ruang pada tahap perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang
di tingkat nasional, provinsi, dan/atau kabupaten/kota, dengan tujuan:
a. menjamin terlaksananya hak dan kewajiban masyarakat di bidang penataan ruang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. mendorong peran masyarakat dalam penataan ruang;
c. menciptakan masyarakat yang ikut bertanggung jawab dalam penataan ruang;
d. mewujudkan pelaksanaan penataan ruang yang transparan, efektif, akuntabel, dan berkualitas; dan
e. meningkatkan kualitas pelayanan dan pengambilan kebijakan penataan ruang.
Bentuk peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang berupa pemberian masukan yang dapat
disampaikan secara langsung ataupun tertulis, masukan tersebut antara lain mengenai:
a. persiapan penyusunan rencana tata ruang;
b. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan;
c. pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah atau kawasan;
d. perumusan konsepsi rencana tata ruang melalui media komunikasi atau forum pertemuan;
e. penetapan rencana tata ruang.
Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban melaksanakan standar pelayanan minimal dalam rangka
pelaksanaan peran masyarakat dalam penataan ruang. Pada tahap perencanaan tata ruang Pemerintah dan
pemerintah daerah berkewajiban:
a. memberikan informasi dan menyediakan akses informasi kepada masyarakat tentang proses
penyusunan dan penetapan rencana tata ruang melalui media komunikasi yang memiliki jangkauan
sesuai dengan tingkat rencana;
b. melakukan sosialisasi mengenai perencanaan tata ruang;
c. menyelenggarakan kegiatan untuk menerima masukan dari masyarakat terhadap perencanaan tata
ruang; dan
d. memberikan tanggapan kepada masyarakat atas masukan mengenai perencanaan tata ruang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sedangkan bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang dapat berupa:
a. menyampaikan masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang melalui media komunikasi atau
forum pertemuan;
b. kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, atau sesama unsur masyarakat dalam
pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan;
d. peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang darat, ruang laut, ruang
udara, dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan lokal serta sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan;
e. kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta memelihara dan meningkatkan
kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam; dan
f. kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pada tahap pemanfaatan ruang ini Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban:
a. memberikan informasi dan menyediakan akses informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan
ruang melalui media komunikasi;
a. melakukan sosialisasi rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. melaksanakan pemanfaatan ruang sesuai peruntukannya yang telah ditetapkan dalam rencana tata
ruang; dan
c. memberikan tanggapan kepada masyarakat atas masukan mengenai pemanfaatan ruang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dan yang terakhir adalah bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang dapat berupa:
a. menyampaikan masukan terkait arahan atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan
disinsentif serta pengenaan sanksi kepada pejabat yang berwenang;
b. keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
c. pelaporan kepada instansi atau pejabat yang berwenang dalam hal menemukan dugaan penyimpangan
atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar rencana tata ruang yang telah
ditetapkan; dan
d. pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang terhadap pembangunan yang
dianggap tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Pada tahap pengendalian pemanfaatan ruang ini Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban:
a. memberikan informasi dan menyediakan akses informasi kepada masyarakat tentang pengendalian
pemanfaatan ruang melalui media komunikasi;
b. melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pengendalian pemanfaatan ruang;
c. memberikan tanggapan kepada masyarakat atas masukan mengenai arahan atau peraturan zonasi,
perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
d. menyediakan sarana yang memudahkan masyarakat dalam menyampaikan pengaduan atau laporan
terhadap dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar
rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
Sistem informasi dan komunikasi penyelenggaraan penataan ruang dibangun oleh pemerintah untuk
meningkatkan peran masyarakat, sehingga dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Sistem informasi dan
komunikasi tersebut harus memuat informasi tentang kebijakan, rencana, dan program penataan ruang yang
sedang dilakukan, yang akan dilakukan, atau yang sudah ditetapkan; informasi rencana tata ruang yang sudah
ditetapkan; informasi arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima
tahunan; dan informasi arahan pengendalian pemanfaatan ruang yang berisi arahan/ketentuan peraturan zonasi,
arahan/ketentuan perizinan, arahan/ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.

C. CONTOH STUDI KASUS


Peran masyarakat dalam penataan ruang seperti yang terjadi pada Peninjauan Kembali dan Revisi
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi (PZ) Provinsi DKI Jakarta. Dalam peninjauan kembali
dokumen rencana tata ruang tersebut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melibatkan masyarakat untuk turut serta
berparitisipasi. Dalam hal ini pemerintah DKI Jakarta mensosialisasikan mengenai peninjauan kembali tersebut di
setiap kecamatan di seluruh DKI Jakarta yang dihadiri perwakilan masyarakat, pejabat kecamatan, kelurahan
hingga RT dan RW. Selain itu pemerintah juga mensosialisasikannya melalui media sosial. Sosialisasi tersebut
memberitahu kepada masyarakat mengenai adanya peninjauan kembali dan revisi dokumen tata ruang, serta
memberitahu bagaimana cara masyarakat untuk dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Dalam hal ini masyarakat berperan dalam pengendalian pemanfaatan tata ruang. Masyarakat DKI Jakarta
dapat menyampaikan masukannya terkait peraturan zonasi melalui media sosial seperti email maupun dapat
langsung mendatangi dinas terkait, dalam hal ini yaitu Dinas Penataan Kota Provinsi DKI Jakarta selaku
penampung masukan mengenai peninjauan kembali. Dalam realisasinya, banyak masyarakat yang melaporkan
mengenai pelanggaran tata ruang yang terjadi melalui email. Pelanggaran tersebut adalah bangunan-bangunan
dengan aktvitas yang berada tidak pada zonasi yang seharusnya. Misalnya, banyak kegiatan perkantoran,
perdagangan dan jasa yang berada di zona perumahan.
Selain itu, dalam peninjauan kembali ini banyak juga masyarakat yang mengajukan keberatan mengenai
peraturan zonasi yang ada yang juga disampaikan melalui email dan juga langsung mendatangi kantor. Mereka
melakukan keberatan tersebut karena bangunan yang mereka miliki tidak melanggar zonasi sehingga menyulitkan
mereka dalam memperpanjang perizinan. Hal ini terjadi karena banyak bangunan yang sudah berdiri sejak lama
sebelum dikeluarkannya peraturan zonasi dan telah memiliki izin. Namun setelah dikeluarkannya peraturan zonasi,
justru bangunan yang sudah mereka miliki sejak lama tersebut tidak sesuai dengan zonasi yang ada pada
peraturan. Keberatan ini kemudian ditampung oleh instansi untuk selanjutnya dijadikan kajian dalam penyusunan
rekomendasi untuk revisi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi (PZ) Provinsi DKI Jakarta.

D. DAFTAR PUSTAKA
Pemerintah Republik Indonesia. 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 Tentang Bentuk Dan Tata
Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. 2016. “Peninjauan Kembali Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan
Zonasi (RDTR-PZ) Provinsi DKI Jakarta.” Dokumen Sosialisasi. Jakarta: Pemerintah Daerah Provinsi DKI
Jakarta