Anda di halaman 1dari 5

Tim Penertiban Tak Bertaji

Posted By: Redaksi Lombok poston: 27 Mei 2016

http://www.lombokpost.net/

Maraknya sejumlah bangunan melanggar tata ruang dan perizinan menjadi sorotan kalangan dewan.
Tim penertiban yang ada pun seakan tak bertaji dengan tidak melakukan penindakan.

Ketua Komisi I DPRD Lobar Muhammad Zulkarnain mengatakan, di kawasan wisata Senggigi masih
banyak bangunan yang melanggar roi pantai. Menyalahi perda yang mengatur ketentuan batas
bangunan dengan pantai.

”Di perda kita itu jaraknya 30 meter, tapi di lapangan bahkan ada yang jaraknya hanya lima meter dari
bibir pantai,” kata Zulkarnain.

Pelanggaran tersebut, tentu mengambil hak masyarakat. Ruang publik yang diperuntukan bagi
masyarakat, dijadikan lahan privat pengusaha. ”Ruang publik itu lebih penting dibandingkan
pendapatan yang akan diraih daerah,” tegas dia.

Selain itu, lanjut Zulkarnain, di Senggigi mulai bermunculan usaha yang tidak sesuai dengan
ketentuan dan perizinan awal. Banyak pengusaha membuka usaha baru di luar siteplan yang pertama
kali diajukan.

Dengan berkembangnya wisata Senggigi, pengusaha berusaha menambah jenis usahanya. Misalnya,
sebuah hotel yang awalnya membangun 50 kamar, tapi dalam perkembangannya bertambah 100
kamar. Atau, hotel yang kemudian membuka usaha lain seperti karaoke, bar, hingga spa.

”Izinnya ada, tapi pada saat penambahan itu, ada tidak mereka mengurus izin baru, itu yang kita ingin
tanyakan,” katanya.

Tak sampai di sana. Zulkarnain pun menyoroti masih banyaknya vila yang berstatus pribadi namun
dikomersialkan. Ini menyebabkan menguapnya potensi pendapatan yang diraih daerah.

”Ada kontribusi dan retribusi yang seharusnya dibayar ke pemkab, jika memang vila-vila tersebut
izinnya sesuai. Jangan vila pribadi tapi dikomersilkan,” ujarnya.

Zulkarnain pun mempertanyakan peran dari tim penertiban. Adanya dugaan pelanggaran tata ruang
dan perizinan seperti itu, seolah-olah dibiarkan begitu saja. Tidak terlihat upaya untuk melakukan
penindakan.
”Tim penertiban ini kita pertanyakan. Ada tidak data validnya terkait pelanggaran itu? Kalau tidak ada
kita akan turun,” tegas Zulkarnain.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Lobar Sulhan Muchlis Ibrahim melihat perlu dilakukan audit.
Menyasar seluruh bangunan yang ada di kawasan wisata Senggigi maupun wilayah lainnya.

”Kita akan lakukan audit menyeluruh, biar terlihat dimana saja ada pelanggaran,” tandasnya.

Dewan Sidak Hotel


Posted By: Redaksi Lombok poston: 19 Mei 2016

http://www.lombokpost.net/

Lembaga legislatif Lombok Barat nampaknya mulai gerah. Sebabnya, di Senggigi masih banyak
terjadi pelanggaran ruang publik yang dilakukan pengusaha.

Ini dibuktikan dengan surat pengaduan yang masuk ke DPRD Lobar, Senin (16/5). Surat yang
mengatasnaman lembaga Blue Voice ini mengatakan, adanya pelanggaran tata ruang yang dilakukan
Hotel K di Senggigi.

Menanggapi itu, Wakil Ketua DPRD Lobar Sulhan Muchlis Ibrahim bersama dua Anggota Komisi II
DPRD Lobar Indra Jaya Usman dan Hj Nurhidayah turun langsung. Mereka, bersama Satpol PP
Lobar, melakukan pemantauan di Hotel K, sekitar pukul 15.00 Wita, Rabu (18/5).

Hasilnya, memang terdapat beberapa bangunan semi permanen, terdiri dari pos jaga, kolam renang,
dan gudang pekerja. Bangunan ini terletak dekat dengan bibir pantai.

Melihat itu, Sulhan meminta pihak hotel untuk menjelaskan bagaimana siteplanpembangunan hotel.
Apakah pembangunannya yang dilakukan tidak melanggar roi pantai dan tidak merusak lingkungan.

”Kalau tidak bisa meyakinkan itu, kita minta Pemkab Lobar untuk meninjau ulang perizinannya,” kata
Sulhan.

Terkait izinnya, kata Sulhan, usai dikonfirmasi ke BPMP2T, rupanya hotel K telah mengantongi izin.
”Katanya sudah ada izin, dan itu keluar pada saat Rusman Hadi jadi kepala BPMP2T,” ungkapnya.
Karena itu, guna memperjelas permasalahan ini, dewan berencana akan memanggil manajemen
Hotel K beserta pelapor ke DPRD Lobar. ”Akhir Mei kita panggil, kita minta siteplan hotel dan peta
situasi,” tegasnya.

Indra Jaya Usman mengatakan, harus ada evaluasi terhadap dugaan pelanggaran ini. Bila memang
nanti terbukti melanggar, maka pemkab harus meninjau ulang izin yang diberikan.

”Jumlah areal izinnya tinjau ulang. Kalau ada bangunan masuk roi pantai, ya dibongkar,” ujarnya.

Sementara itu, manajer Hotel K Monica menganggap bangunan yang masuk dalam roi pantai
merupakan bangunan sementara. Bukan bangunan permanen.

BANGUNAN LANGGAR TATA RUANG,


KAWASAN WISATA SENGGIGI
TERANCAM LONGSOR
Thursday, March 10, 2016 Syahrafie

http://www.nuansagiskonsultan.com/

Pariwisata NTB saat ini sedang tumbuh dan menggeliat. Hal itu terlihat dengan makin berkembang
dan tumbuhnya investasi dalam bidang perhotelan.

DI kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat hingga Kabupaten Lombok Utara (KLU) terutama di
daerah-daerah perbukitan saat ini semakin marak pembangunan fasilitas-fasilitas wisata seperti
vila, hotel dan lainnya. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan longsor beberapa tahun
mendatang. Untuk itu, pemerintah di dua kabupaten tersebut diminta hati-hati dan selektif
memberikan izin, jangan sampai pembangunan fasilitas wisata melanggar tata ruang.
Lokasi pelanggaran Tata Ruang terjadi di kawasan perbukitan Senggigi Kecamatan Batulayar Kabupaten
Lombok Barat, kawasan yang semestinya dikhususkan sebagai kawasan yang memberikan perlindungan
bagi kawasan dibawahnya, yang hal ini berarti tidak boleh ada bangunan permanen diatasnya guna
menjaga kelestarian lingkungan. kondisi ini terjadi karena pembangunan yang tidak didasarkan pada
rencana tata ruang tetapi berdasarkan pemilik modal tanpa memperhatikan aspek lingkungan.

Sesuai dengan arahan dari Perda RTRW Nomor 11 Tahun 2011 Kabupaten Lombok Barat,
menetapkan kawasan bukit Senggigi sebagai kawasan resapan air yang memberikan
perlindungan bagi kawasan dibawahnya.

Penataan kawasan wisata primadona NTB tersebut kini kurang terkendali, seperti bukit-bukit yang
menjadi penyangga cenderung dimanfaatkan semaunya. Sementara dampak negatif yang
ditimbulkan akan menelan biaya perbaikan lingkungan yang lebih besar dari biaya perizinan atau
kontribusi yang diperoleh.

Sebagaimana diketahui, penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Dimana hal ini telah diatur dalam UU
No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional.

Ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 69 - 75 UU Tata Ruang ternayata cukup memberatkan
bagi para pelanggar ketentuan ruang. Sebagai contoh pasal 70 ayat (1) yang berbunyi "Setiap orang
yang memanfaatkan ruang tidak sesuai ijin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang
sebagaimana dimaksud dalam pasal 61 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun
dan denda paling banyak 500 juta.

Pengaturan Pembangunan Hotel dan Vila di Senggigi Memprihatinkan

18 April 2016 08:42:19 Diperbarui: 18 April 2016 13:18:53

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/riomanalu
Dalam sebuah liburan keluarga di pantai Senggigi, Lombok, saya agak resah menyaksikan
pembangunan hotel Katamaran yang sangat mepet dengan pantai. Jika laut sedang naik pasang,
pagar hotel tersebut pasti akan bersentuhan dengan air. Pada momen seperti itu, masih adakah
ruang bagi warga untuk menikmati pantai secara bebas dan gratis? Dalam Undang-Undang No. 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, disebutkan bahwa jarak
pagar atau bangunan minimal 100 meter dari pasang tertinggi ke arah darat. Pembangunan hotel
Katamaran di Senggigi jelas telah melanggar aturan ini. Aturan tersebut dibuat untuk mengakomodir
hak warga menikmati pantai yang memang disediakan Pencipta secara gratis kepada semua
manusia. Maka tak ada alasan bagi pengusaha untuk menyerobot hak warga tersebut. Tahun 2015,
WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) telah menyoroti buruknya penataan pembangunan
hotel dan villa di kawasan pariwisata Senggigi (merdeka.co.id 11/02/2015). WALHI mengkritisi
Pemda Lombok yang tidak punya kepekaan terhadap isu lingkungan dan menyebut banyak
pembangunan hotel dan villa di Senggigi salah urus. Tidak ada regulasi yang mengatur tentang tata
ruang di kawasan tersebut. Selain itu, pembangunan hotel dan vila tidak dibarengi dengan
pelaksanaan Undang-Undang No 32 tentang lingkungan hidup. Di mana, pengembangan wisata
tidak bertolak belakang dengan tata ruang, adanya izin lingkungan serta jaminan perusahaan
terhadap dampak negatif yang ada. Tampaknya, Pemda Lombok tidak menggubris kritik tersebut.
Pemerintah diharapkan semakin tegas menegakkan aturan dan menindak para pelanggar UU
lingkungan karena kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan dan hak warga terhadap alam
masih sangat rendah di negeri ini. Maka perlu dirancang sanksi-sanksi yang memberi efek jera. Jika
kerusakan lingkungan dan penyerobotan hak warga tidak semakin meluas, praktek-praktek
pembangunan seperti yang terjadi di Senggigi oleh hotel Katamaran harus disorot secara luas.
Ijinnya perlu diperiksa dan pembangunan harus dihentikan jika terdapat pelanggaran. Ini memang
bukan pekerjaan mudah dan takkan berhasil tanpa peran pemimpin yang bersih (bebas dari suap),
peka terhadap isu lingkungan dan hak-hak warga. Apakah Lombok sudah punya pemimpin seperti
itu? Kalau belum, maka keindahan alam Lombok tidak lama lagi hanya akan menjadi kisah masa
lalu.