Anda di halaman 1dari 74

METODE INSPEKSI,

PERAWATAN, DAN PERBAIKAN


INFRASTRUKTUR
S-2 MAGISTER TEKNOLOGI REKAYASA INFRASTRUKTUR
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

BAHASAN:

GEOTEKNIK JALAN
M. Shouman, Dipl. Ing. HTL, MT
MEKANISME PENYEBARAN BEBAN RODA:

W
p0 
BEBAN RODA, W A0
p0
p1  A1
A0

karena A 0  A 1  p1  p 0

p0

A0 LAPIS PERKE-RASAN (lentur)


p1

A1 TANAH DASAR/ SUBGRADE


LAPISAN PERKERASAN (LENTUR):

SURFACE

BASE

SUBBASE
SUBGRADE

1. Lapisan permukaan (surface course)

2. Lapisan fondasi atas (base course)

3. Lapisan fondasi bawah (subbase course)

4. Lapisan tanah dasar (subgrade)


BEBAN LALU LINTAS YANG BEKERJA
DI ATAS KONSTRUKSI PERKERASAN:

1. Beban kendaraan (beban vertikal)

2. Beban rem (beban horisontal)

3. Pukulan roda kendaraan (beban getaran)


BERDASARKAN SIFAT
PENYEBARAN BEBAN:

1. Lapisan permukaan harus mampu menerima seluruh jenis


beban yang bekerja

2. Lapisan fondasi harus mampu menerima beban vertikal dan


getaran

3. Lapisan tanah dasar dianggap hanya menerima beban


vertikal saja.
KRITERIA, SYARAT, & FUNGSI:

Lapisan Permukaan (Surface)  struktural/nonstrukutral

- Penahan beban roda (stabilitas tinggi)


- Lapis kedap air
- Lapis aus
- Lapis penyebar beban (tegangan)

Agar dapat memenuhi fungsi tersebut di atas, pada umumnya


lapisan permukaan dibuat dengan menggunakan bahan pengikat
aspal sehingga menghasilkan lapisan yang kedap air dengan
stabilitas yang tinggi serta daya tahan yang lama.
KRITERIA, SYARAT, & FUNGSI:

Lapisan Fondasi Atas (Base)  CBR > 50% dan PI < 4%

• Menahan gaya lintang dari beban kendaraan dan


menyebarkannya (tegangan) ke lapisan di bawahnya
• Lapisan peresapan
• Bantalan terhadap lapisan permukaan

Bahan yang sering digunakan untuk lapisan ini antara lain batu
pecah, kerikil pecah, dan apabila diperlukan juga bisa berupa
tanah yang distabilisasi dengan semen atau kapur.
KRITERIA, SYARAT, & FUNGSI:

Lapisan Fondasi Bawah (Subbase)  CBR  20% & PI  10%

• Menyebarkan beban ke lapisan dasar (subgrade)


• Efisiensi penggunaan material (lebih murah dibanding
lapisan base)
• Mencegah partikel halus tanah dasar naik ke lapisan
base
KRITERIA, SYARAT, & FUNGSI:

Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)  CBR  3%

• Lapisan tanah setebal 50 – 100 cm, dimana akan


diletakkan lapisan fondasi
• Berupa tanah dasar asli atau tanah urug yang
dipadatkan, atau tanah hasil stabilisasi yang
dipadatkan secara baik.
LAPISAN TANAH DASAR DITINJAU DARI MUKA
TANAH ASLI, DIBEDAKAN ATAS:

Galian (Cut)

Timbunan (Embankment)

Tanah Asli
MASALAH-MASALAH BERHUBUNGAN
DENGAN TANAH DASAR:

1. Perubahan bentuk dari jenis tanah tertentu akibat beban lalu


lintas.

• Perubahan bentuk yang besar akan menyebabkan jalan rusak.


• Tanah dengan plastisitas tinggi cenderung akan mengalami hal
tersebut.
• Lapisan tanah lunak di bawah tanah dasar harus diperhatikan.
• Daya dukung tanah dasar yang diwakili oleh nilai CBR dapat
merupakan indikasi dari perubahan bentuk yang akan terjadi.
MASALAH-MASALAH BERHUBUNGAN
DENGAN TANAH DASAR:

2. Sifat kembang-susut tanah akibat perubahan kadar air

• Kembang-susut tanah dipengaruhi oleh sifat kimia butiran tanah


(lempung) dan kandungan minerologi yang dimilikinya.
• Cara untuk mengatasi hal ini antara lain dengan memperhatikan
pemadatan tanah, stabilisasi kapur, menghambat keluar-
masuknya air pada tanah, memodifikasi konstruksi, dll
MASALAH-MASALAH BERHUBUNGAN
DENGAN TANAH DASAR:

3. Daya dukung tanah yang tidak merata akibat perbedaan jenis


tanah

• Apabila dijumpai daya dukung yang tidak merata di sepanjang


ruas jalan yang akan dibangun, maka bisa dilakukan perencanaan
tebal perkerasan yang berbeda-beda dengan membagi jalan
menjadi segmen-segmen berdasarkan sifat tanah yang berlainan.
MASALAH-MASALAH BERHUBUNGAN
DENGAN TANAH DASAR:

4. Daya dukung tanah yang tidak merata akibat perbedaan jenis


tanah

• Perlu pengawasan yang baik pada saat pelaksanaan pekerjaan


tanah dasar, misalnya dengan mengontrol kadar air tanah agar
optimum saat dipadatkan dan besarnya energi pemadatan yang
diperlukan.
MASALAH-MASALAH BERHUBUNGAN
DENGAN TANAH DASAR:

5. Differential Settlement

• Perbedaan penurunan ini bisa jadi disebabkan oleh adanya


lapisan tanah lunak (jenuh) di bawah tanah dasar. Untuk itu perlu
dilakukan penyelidikan tanah yang lebih seksama. Tindakan yang
sering diambil untuk mengatasi hal ini antara lain dengan
perbaikan tanah, drainase vertikal, dll.
• Apabila resiko kemungkinan terjadinya differential settlement
sangat besar bisa jadi perlu direncanakan sistem jalan layang
(jembatan).
MASALAH-MASALAH BERHUBUNGAN
DENGAN TANAH DASAR:

6. Kondisi geologi dari lokasi jalan.

• Perlu dipelajari dengan teiliti adanya kemungkinan lokasi jalan


terletak di atas patahan, dll
MEKANISME KERUSAKAN JALAN
AKIBAT SWELLING DAN SHRINKAGE

1. Kondisi awal (akhir musim hujan)

2. Akhir musim kemarau evaporasi

3. evaporasi
MEKANISME KERUSAKAN JALAN
AKIBAT SWELLING DAN SHRINKAGE

4. Musim hujan awal

5.

6. Akhir musim hujan


INDIKATOR SWELLING SOIL

KRITERIA WILLIEM (1958) KRITERIA SEED (1962)


5

60
4
50
VERY HIGH
PI of Whole Sample

3
40

Activity
VERY HIGH
30
HIGH 2
HIGH Swelling Potensial = 25%
20 Swelling Potensial = 5%
MEDIUM LOW Swelling Potensial = 1.5%
1
10
LOW

0 10 20 30 40 50 60 70 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Clay Fraction o Whole Sample (% < 2) Percent clay sizes (% < 2)
I. TANAH DAN KOMPOSISINYA
Batasan Ukuran Partikel Tanah
Ukuran Butir (mm)
Nama Insitusi Kerikil Pasir Lanau Lempung

Massachusetts Institute of Technology (MIT) >2 2 – 0,06 0,06 – 0,002 <0,002


U. S. Department of Agriculture (USDA) >2 2 – 0,05 0,05 – 0,002 <0,002
American Association of State Highway and
Transportation Officials (AASHTO) 76,2 - 2 2 – 0,075 0,075 – 0,002 <0,002

Unified Soil Classification System 76,2 – 4,75 4,75 – 0,075 <0,075


Analisis Mekanis Tanah:
 Analisis Ayakan: partikel > 0,075 mm.
 Analisis Hydrometer: partikel < 0,075 mm

Ukuran Ayakan Standar Amerika


No. Lubang No. Lubang
Ayakan (mm) Ayakan (mm)
4 4,750 50 0,300
6 3,350 60 0,250
8 2,630 80 0,180
10 2,000 100 0,150
16 1,180 140 0,106
20 0,850 170 0,088
30 0,600 200 0,075
40 0,425 270 0,053
Alat Hydrometer
KURVA DISTRIBUSI BUTIRAN

Tanah A:
 Kerikil (>4.75 mm) = 0%
 Pasir (4,75 mm - 0,075 mm) = 38%
 Lanau/lempung (<0,075 mm) = 62%

Ukuran Efektif = D10

Koefisien keseragaman = Cu
D 60
Cu =
D10
Koefisien gradasi = Cc
2
D30
Cc =
D 60 x D10

Cu dan Cc berguna untuk


klasifikasi tanah berbutir kasar
BENTUK KURVA DISTRIBUSI BUTIRAN

Kurva I : gradasi buruk (purely graded)


Kurva II : gradasi baik (well graded)
Kurva III : gradasi senjang (gap graded)

Ciri well graded:


 Cc = 1 – 3 (kerikil dan pasir)
 Cu > 4 (kerikil)
 Cu > 6 (pasir)
II. HUBUNGAN BERAT VOLUME

V = Vs + Vv = Vs + Vw + Va
W = Ws + Ww

Vs = volume butiran padat


Vv = Volume pori
Vw = Volume air dalam pori
Va = Volume udara dalam pori
Ws = berat butiran padat
Ww = berat air

Vv Ww
Angka Pori: e= Kadar Air: w=
Vs Ws
Vv Berat Volume: W
Porositas: n=
V =
V
Vw W
Derajat Kejenuhan: S= Berat Vol. Kering: d  s
Vv V
e max  e Dr [%] Kondisi tanah
Kerapatan Relatif: Dr 
e max  e min 0 – 15 Sangat lepas
15 – 50 Lepas
Dr : kerapatan relatif [%] 50 – 70 Menengah
e : angka pori 70 – 85 Padat
emax : angka pori pada kondisi paling lepas 85 – Sangat padat
emin : angka pori pada kondisi paling padat 10
0

Tipe tanah e w, jenuh d


[%] [kN/m3]
Pasir lepas, seragam 0.8 30 14.5
Pasir padat, seragam 0.45 16 18
Pasir kelanauan, lepas, bersudut 0.65 25 16
Pasir kelanauan, padat, bersudut 0.4 15 19
Lempung, kaku 0.6 21 17
Lempung, lunak 0.9 – 1.4 30 –50 11.5 – 14.5
Lempung organik, lunak 2.5 – 3.2 90 – 120 6–8
Glacial till 0.3 10 21
III. KONSISTENSI TANAH

Padat Semi Plastis Cair


Padat
w [%]

Batas Batas Batas


Susut Plastis Cair
(SL) (PL) (LL)

Kondisi tanah sebagai fungsi dari kadar air:

• Padat
• Semi padat
• Plastis
• Cair
Batas-batas antara kondisi di atas (Batas-Batas Atterberg):

Batas susut (SL): kadar air (dalam %), dimana terjadi transisi dari keadaan
padat ke keadaan semi padat
Batas plastis (PL): kadar air, dimana terjadi transisi dari keadaan semi padat
ke keadaan plastis
Batas Cair (LL): kadar air, dimana terjadi transisi dari keadaan plasti ke
keadaan cair

Indeks Plastisitas (PI) = LL – PL

Activity: PI
A
(% berat fraksi berukuran.lempung )
KLASIFIKASI TANAH

 Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan


beberapa jenis tanah yang berbeda-beda tetapi mempunyai
sifat yang serupa ke dalam kelompok-kelompok dan
subkelompok-subkelompok berdasarkan pemakaiannya.

 Sistem klasifikasi tanah memberikan suatu bahasa yang


mudah untuk menjelaskan secara singkat sifat-sifat umum
tanah yang bervariasi tanpa penjelasan yang terinci.
Klasifikasi dibedakan atas:

 Klasifikasi berdasarkan Tekstur (USDA)


 Klasifisasi berdasarkan pemakaian, terdiri dari:

- System klasifikasi AASHTO


- System klasifikasi Unified Soil Classification (USCS)
Klasifikasi Berdasarkan Tekstur (USDA)

 Didasarkan pada ukuran batas butiran


 Ukuran batas butiran:
- pasir : butiran  2-0.05mm
- lanau : butiran  0.05-0.002 mm
- lempung : butiran <0.002 mm
Apabila tanah mempunyai kandungan kerikil:
- 20% kerikil
- 10% pasir
- 30% lanau
- 40% lempung

Koreksi tehadap kandungan kerikil:


10 *100
pasir   12.5%
(100  20)
30 *100
lanau   37.5%
(100  20)
40 *100
lempung   50.0%
(100  20)
Sistem Klasifikasi:

10 *100
pasir   12.5%
(100  20)
30 *100
lanau   37.5%
(100  20)
40 *100
lempung   50.0%
(100  20)

Lempung (berkerikil)
Klasifikasi Menurut AASHTO

 AASHTO membagi tanah menjadi 7 kelompok besar:


A-1 sampai A-7
 A-1, A-2, dan A-3 :  35% lolos ayakan No.200
 A-4, A-5, A-6, dan A-7:  35% lolos ayakan No.200
 Kriteria Plastisitas:
• Nama berlanau dipakai apabila bagian-bagian yang halus dari tanah
mempunyai PI  10.
• Nama berlempung dipakai apabila bagian-bagian tanah yang halus
mempunyai PI > 11.
Kerikil : bagian tanah yang lolos ayakan dengan diameter 75
mm, dan yang tertahan ayakan no.20 (2mm)

Pasir : bagian tanah yang lolos ayakan No.20 (2mm), dan


tertahan ayakan No.200 (0. 075mm)

Lanau dan lempung:


bagian tanah yang lolos ayakan No.200.
PI  (LL-30)  A-7-5 PI > (LL-30)  A-7-6
Rentang LL vs. PI untuk kelompok A-2, A-4, A-5, A-6, dan A-7
GROUP INDEX (GI):
 GI dipergunakan untuk mengevaluasi mutu dari suatu tanah
sebagai material lapisan tanah dasar jalan (subgrade)

 Kualitas tanah dinyatakan berbanding terbalik dengan harga GI

 Persamaan untuk menghitung GI:


GI= (F-35)[0. 2+0.005(LL-40)]+0.01 (F-15) (PI-10)
F : persentase butiran yang lolos ayakan No.200
LL : batas cair (liquid limit)
PI : index plastisitas

 Harga GI ini ditulis dalam kurung di belakang nama klasifikasi


tanah yang bersangkutan. Contoh: A-4(3)
Aturan untuk menghitung harga GI:
 Apabila dari perhitungan didapat harga GI yang negatif, maka
harga GI dianggap nol

 Harga GI yang tidak bulat (pecahan), dibulatkan ke angka


yang paling dekat

 Tidak ada batas atas

 Untuk tanah A-1a, A-1b, A-2-4, A-2-5, dan A-3, harga GI


selalu sama dengan nol

 Untuk tanah A-2-6, A-2-7 hanya bagian dan PI saja yang


digunakan, sehingga persamaan di atas menjadi:
GI = 0.01(F-15)(PI-10)
Klasifikasi Menurut USCS

Membagi tanah menjadi 2 kelompok besar


 Tanah berbutir kasar (Coarse Grained Soil):
- Tanah kerikil dan pasir dimana < 50% berat lolos ayakan No.200
- Simbol kelompok ini dimulai dengan huruf G (Gravel/kerikil) atau S
(Sand/pasir)
 Tanah berbutir halus (Fine Grained Soil):
- Tanah dimana > 50% berat lolos ayakan No.200
- Simbol kelompok ini dimulai dengan huruf M (Silt/lanau anorganik), C
(Clay/lempung anorganik), O untuk tanah lempung dan lanau organik
- Simbol PT (peat) dipakai untuk tanah gambut, muck, dan tanah lain
dengan kadar organik tinggi
 Simbol lain:
- W = well graded (tanah dengan gradasi baik)
- P = poorly graded (tanah dengan gradasi buruk)
- L = low plasticity/plastisitas rendah (LL< 50)
- H = high plasticity/plastisitas tinggi (LL>50)
Tanah berbutir kasar (Coarse Grained Soil):
 Tanah berbutir kasar ditandai dengan simbol kelompok GW,
GP, GM, GC, SW, SP, SM, dan SC

 Selain itu masih perlu diperhatikan faktor-faktor berikut


untuk klasifikasi yang lebih teliti:
- Persentase butiran yang lolos ayakan No.200 (0.075 mm)
- Persentase fraksi kasar yang lolos ayakan No.4 (4.75 mm)
- Koefisien keseragaman (Cu) dan koefisien gradasi (Cc) untuk tanah
dengan persentase lolos ayakan No.200 antara 0 sampai 12%
- LL dan PI bagian tanah yang lolos ayakan No.40 (0.425 mm),
dimana  5% dari tanah tersebut lolos ayakan No.200
- Apabila persentase butiran yang lolos ayakan No.200 adalah antara
5% sampai 12%, diperlukan simbol ganda seperti GW-GM, GP-GM,
GW-GC, GP-GC, SW-SM, SW-SC, SP-SM, dan SP-SC.
Tanah berbutir halus (Fine Grained Soil):

 Klasifikasi tanah berbutir halus dengan simbol ML, CL, OL,


MH, CH, dan OH didapat dengan cara menggambar batas cair
dan index plastisitas tanah yang bersangkutan pada bagan
plastisitas.

 Garis diagonal pada bagan plastisitas dinamakan garis A


yang mempunyai persamaan (fungsi) PI = 0,73 (LL - 20)
Untuk gravel

Untuk sand

Untuk lanau
& lempung
PEMADATAN TANAH
SPESIFIKASI UJI PEMADATAN

ASTM D-698 AASHTO T-99 ASTM D-1557 AASHTO T-180

Penjelasan Metoda A Metoda B Metoda C Metoda D Metoda A Metoda B Metoda C Metoda D

Volume cm3 943.9 2124.3 943.9 2124.3 943.9 2124.3 943.9 2124.3

Tinggi mm 116.33 116.33 116.33 116.33 116.33 116.33 116.33 116.33

Diameter mm 101.6 152.4 101.6 152.4 101.6 152.4 101.6 152.4

Berat palu kg 2.5 2.5 2.5 2.5 4.54 4.54 4.54 4.54

Tinggi jatuh mm 304.8 304.8 304.8 304.8 457.2 457.2 457.2 457.2

Jumlah 3 3 3 3 5 5 5 5
lapisan

Pukulan/lapis 25 56 25 56 25 56 25 56

Lolos ayakan No. 4 No. 4 ¾ in. ¾ in. No. 4 No. 4 ¾ in. ¾ in.

standard modified
KURVA PEMADATAN
Berat volume kering,
d (kN/m3)
19.5 Kurva ZAV
(zero-air-void)
19.0

18.5
d max
18.0
Hasil Uji Pemadatan
Proctor Standar untuk
17.5 Lempung Berlanau

17.0

woptimum
10 15 20 Kadar air, w (%)
CONTOH HASIL UJI PEMADATAN STANDARD

Volume Mold = 943,9 cm3


Berat penumbuk = 2,5 kg
Tinggi jatuh = 304,8 mm
Jumlah lapisan = 3 lapis
Jumlah tumbukan = 25 kali/lapis

16.20
d max
16.10
16.00

berat vol. kering (kN/m3)


No. uji Berat basah  Kadar air d
15.90
kN/m kN/m
kg 3 % 3 15.80
1 1.6 16.95 10 15.41 15.70

2 1.674 17.73 12 15.83 15.60

3 1.733 18.36 14 16.10 15.50

4 1.760 18.65 16 16.07 15.40

5 1.755 18.60 18 15.76 15.30

6 1.728 18.31 20 15.26 15.20


8 10 12 14 w opt 16 18 20 22
kadar air (% )
PENGARUH AIR TERHADAP PEMADATAN
d (kN/m3)

Sebagai Memenuhi
pelumas pori

2

Butiran Padat
1

Air
 = 0= d (w=0%)

Butiran Padat

0 w1 w2
Kadar air, w (%)
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMADATAN

 kadar air
 jenis tanah
 cara pemadatan
Bentuk umum kurva pemadatan empat jenis
tanah (ASTM D-698)
Macam-macam tipe kurva pemadatan :

Lee dan Suedkamp (1972):


(1) Tipe A kurva mempunyai satu
puncak, untuk tanah yang
mempunyai batas cair = 30-70.
(2) Tipe B kurva mempunyai satu-
setengah puncak, tanah yang
mempunyai batas cair < 30
(3) Tipe C kurva mempunyai puncak
ganda, untuk tanah yang
mempunyai batas cair < 30
(4) Tipe D kurva mempunyai puncak
tertentu atau disebut ganjil, untuk
tanah yang mempunyai batas cair
> 70, kemungkinan kurva seperti
tipe C atau D.
Pengaruh energi pada pemadatan lempung
berpasir :
PENENTUAN NILAI CBR

CBR: perbandingan antara beban yang dibutuhkan untuk penetrasi contoh tanah
sebesar 0.1 in. atau 0.2 in. dengan beban yang ditahan oleh batu pecah
standar pada penetrasi 0.1 in. atau 0.2 in. (dinyatakan dalam %)
Benda Uji: tanah dalam mold hasil kompaksi
Perlengkapan: Mesin penekan, Proving Ring, Proving Ring, piston dengan
luas penampang 3 in2
Kecepatan piston: 0.05 in/menit
Beban standar: Penetrasi Beban standar Beban standar
[inch] [lbs] [lbs/in2]

0.1 3000 1000


0.2 4500 1500
0.3 5700 1900
0.4 6900 2300
0.5 7800 2600
x
CBR0.1"  x100%
3000

y
CBR0.2"  x100%
4500

Nilai CBR adalah harga tertinggi dari


CBR0.1” dan CBR0.2”
PEMADATAN LAPANGAN

Penggilas (Rollers) yang sering digunakan untuk


pemadatan tanah:

 Pneumatic rubber tired compactors


 Smooth-wheeled rollers
 Sheepsfoot rollers
 Vibratory rollers
 Tamping foot rollers
Pneumatic rubber-tired roller
Gambar:
pemadatan lempung dengan
pneumatic rubber-tired roller.

Pemadatan lempung biasanya


lebih susah dibanding
pemadatan pasir dan kerikil,
karena lempung memerlukan
kondisi kadar air optimum
selama pemadatan.
Ban-ban karet memberikan
tekanan statis pada lempung
dan menyebabkan kepadatan
yang bagus
Smooth-wheeled rollers

Gambar:
Pemadatan pasir dengan
vibratory steel-wheeled roller.

Penggunakan penggilas
vibrator pada pemadatan pasir
dan kerikil akan lebih efektif
dibanding tekanan statis
(static pressure)

Kadar air tanah saat


pemadatan tidak berpengaruh
terhadap hasil pemadatan

Tenaga total yang dihasilkan


pada vibratory roller sama
dengan berat roller ditambah
beban dinamik akibat vibrasi
Vibratory Sheepsfoot roller

Pemadatan Lempung:

Pads (kaki kambing) pada drum


menekan tanah bila kondisinya
lepas (lunak) dan
memadatkannya dari bawah ke
atas.
Setelah beberapa lintasan dan
jika tanah sudah agak
terpadatkan, seluruh berat roller
akan membebani tanah dan
memadatkannya melalui pads
yang tertumpu langsung di atas
permukaan tanah sehingga
menghasilkan tekanan
pemadatan yang cukup besar
terhadap tanah
Tamping-foot roller

A tamping-foot roller:
cocok untuk pemadatan
lempung.
Seperti sheepsfoot roller, kaki-
kaki yang menonjol di atas
drum terpenetrasi pada
permukaan tanah yang
lepas/lunak dan
memadatkannya dari bawah
ke atas
Highway off-ramp construction

Roller ini dilengkapi dengan cangkul


perata untuk membentuk permukaan
subgrade dan kaki-kaki kambing
untuk memadatkan tanah
(kelempungan).
Sebelumnya tanah diurugkan di atas
tanah dasar dengan menggunakan
truk.
Kemudian roller menghamparkannya
dengan ketebalan 15 - 20 cm, pada
saat yang sama kaki kambing
memadatkannya hamparan tanah
tadi
Off-ramp construction - Conditioning

Untuk mengkondisikan tanah


lempung pada kadar air
optimumnya, dilakukan
penyemprotan air dengan mobil
tangki.
Selain itu penyemprotan air juga
membantu mengurangi debu saat
pengerjaan tanah
KONTROL KEPADATAN LAPANGAN
Kurva Pemadatan vs. CBRdesign
d d

d max
56x
95% d max
25x

10x

wopt w CBRdesign CBR


Metoda:
 Metoda kerucut pasir (sand cone methode)
 Metoda balon karet (rubber balloon methode)
 Menggunakan alat kepadatan nuklir
Aplikasi Sand Cone:
Prosedur Pengujian Sand Cone:

a. Kalibrasi pasir untuk menentukan d pasir dan berat kerucut (Wc)


b. Timbang botol berikut pasir di dalamnya dan kerucut (W1)
c. Buat lubang dengan diameter dan dalam kira-kira 10cm
d. Kumpulkan tanah dari lubang dan tambang (W2)
e. Tentukan kadar air tanah dari lubang (w)
f. Berat kering tanah dari lubang W
d  2
1 w

g. Telungkupkan kerucut di atas lubang dan buka keran sehingga pasir


memenuhi lubang dan kerucut, lalu tutup keran
h. Timbang botol, kerucut dan sisa pasir yang tertinggal (W4)
i. Berat pasir yang mengisi lubang dan kerucut: W5 = W1 – W4
j. Volume lubang: W5  Wc
V
 dpasir

berat kering tanah yang digali W3


k. Berat Volume tanah yang diuji (dari lubang) d  
Volume lubang V

l. Bandingkan berat volume kering hasil uji kerucut pasir dengan kurva pemadatan dan
CBR dari laboratorium (umumnya kepadatan dianggap cukup apabila d lapangan
sudah mencapai 95% dari d max).
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH KADAR AIR TERHADAP STRUKTUR TANAH

FLOCCULATED

DISPERSE
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH ENERGI KEPADATAN
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH KADAR AIR TERHADAP PERMEABILITAS
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH KADAR AIR TERHADAP POTENSI KEMBANG-SUSUT
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH ENERGI TERHADAP CBR
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH KADAR AIR TERHADAP CBR
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH KADAR AIR TERHADAP STRENGTH
s
1

2
3
4
5
STRAIN %

d

3
4
2
5
1

w%
SIFAT TANAH HASIL PEMADATAN
PENGARUH ENERGI TERHADAP KEDALAMAN PEMADATAN