Anda di halaman 1dari 2

Departemen Kesehatan RI tahun (1994) rekam medis merupakan proses kegiatan yang

dimulai pada saat diterimanya pasien di Rumah Sakit, tujuan rekam medis adalah sebagai

penunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan

di Rumah Sakit, hal ini harus didukung oleh sistem penyelenggaraan rekam medis yang baik dan

benar.

Selain memberikan pelayanan, rumah sakit juga harus mengelola dana untuk membiayai

operasional serta menjalankan proses manajemen dalam melaksanakan aktifitasnya. Melihat

situasi tersebut, sudah tepat jika rumah sakit menggunakan sisi kemajuan komputer, baik piranti

lunak maupun perangkat kerasnya dalam upaya membantu penanganan manajemen yang

sebelumnya dilakukan secara manual.

Setiap rumah sakit diwajibkan menyelenggarakan rekaman atau catatan dari segala pelayanan

yang diberikan kepada pasien yang disebut rekam medis menurut Huffman (1994).

Sistem EHR adalah salah satu sistem rekam kesehatan elektronik yang merupakan kegiatan

mengkomputerisasi isi rekam medis kesehatan dan proses yang berhubungan dengannya. EHR

adalah rekaman atau catatan elektronik informasi terkait kesehatan (HealthRecord-Information)

seseorang yang mengikuti standar interoperabilitas nasional dan dapat dibuat, dikumpulkan,

dikelola, digunakan, dan dirujuk oleh dokter atau tenaga kesehatan yang berhak (authorized)

pada lebih dari satu organisasi pelayanan kesehatan, National Alliance for Health Information

Technology (2008)

Penyelenggaraan EHR di rumah sakit sejalan dengan adanya tuntutan masyarakat akan
pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas, karena keuntungan yang dapat diperoleh dengan
EHR yaitu mencegah kejadian medical error. Keuntungan lain dari EHR yaitu dapat
memberikan peringatan dan kewaspadaan klinik (clinical alerts and reminders), hubungan
dengan sumber pengetahuan untuk menunjang keputusan layanan-kesehatan (health care
decision support) dan analisis data agregat (Johan Harlan).
Sementara itu penelitian Cooper (2007) di Inggris berupaya mengeksplorasi permasalahan

etika pada pelaksanaan EHR. Kontribusi penelitian Cooper yakni berkaitan dengan sejauh mana

data pada EHR bisa diakses oleh pihak terkait karena berhubungan dengan kerahasian dari

pasien.

Selanjutnya Otto dan Nevo (2013) meneliti tentang dampak intervensi kebijakan EHR di

kalangan rumah sakit. Dalam hal intervensi kebijakan pada masalah penggunaan EHR diperlukan

kombinasi dari berbagai pihak yang berkepentingan, tidak hanya mengandalkan satu kebijakan

(kebijakan tunggal) seperti hanya dari pimpinan rumah sakit.