Anda di halaman 1dari 8

A.

PENGERTIAN
Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang
(Ansari, 2011). Imobilisasi adalah suatu keadaan dimana penderita harus istirahat di tempat
tidur,tidak bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau gangguan pada alat/organ
tubuh yang bersifat fisik atau mental. Dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak
bergerak / tirah baring yang terus – menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi
fisiologis (Bimoariotejo, 2009).

B. ETIOLOGI
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan
otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis. Osteoartritis merupakan penyebab
utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada
demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi juga menyebabkan
imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan dapat menyebabkan orangusia
lanjut terus menerus berbaring di tempat tidur baik di rumah maupun dirumah sakit
(Setiati dan Roosheroe, 2007).
Penyebab secara umum:
 Kelainan postur
 Gangguan perkembangan otot
 Kerusakan system saraf pusat
 Trauma lanngsung pada system mukuloskeletal dan neuromuscular
 Kekakuan otot

C. KLASIFIKASI
Menurut Mubarak (2008) secara umum ada beberapa macam keadaan imobilitas
antara lain :
1. Imobilitas fisik : kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik yang
disebabkan oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut.
2. Imobilitas intelektual : kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada
kasus kerusakan otak
3. Imobilitas emosional : kondisi ini bisa terjadi akibat proses pembedahan atau
kehilangan seseorang yang dicintai
4. Imobilitas sosial : kondisi ini bisa menyebabkan perubahan interaksi sosial
yang sering terjadi akibat penyakit.(Mubarak, 2008).
I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Aspek biologis
1) Usia.
Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan aktifitas, terkait
dengan kekuatan muskuloskeletal. Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah
postur tubuh yang sesuai dengan tahap pekembangan individu.
2) Riwayat keperawatan.
Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah riwayat adanya gangguan pada sistem
muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain dalam melakukan aktivitas,
jenis latihan atau olahraga yang sering dilakukan klien dan lain-lain.
3) Pemeriksaan fisik, meliputi rentang gerak, kekuatan otot, sikap tubuh, dan
dampak imobilisasi terhadap sistem tubuh.
b. Aspek psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji di antaranya adalah bagaimana respons
psikologis klien terhadap masalah gangguan aktivitas yang dialaminya,
mekanisme koping yang digunakan klien dalam menghadapi gangguan aktivitas
dan lain-lain.
c. Aspek sosial kultural
Pengkajian pada aspek sosial kultural ini dilakukan untuk mengidentifikasi
dampak yang terjadi akibat gangguan aktifitas yang dialami klien terhadap
kehidupan sosialnya, misalnya bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan,
peran diri baik dirumah, kantor maupun sosial dan lain-lain
d. Aspek spiritual
Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana keyakinan dan nilai yang
dianut klien dengan kondisi kesehatan yang dialaminya sekarang, seperti apakah
klien menunjukan keputusasaannya? Bagaimana pelaksanaan ibadah klien
dengan keterbatasan kemampuan fisiknya? Dan lain-lain (Asmadi, 2008).
e. Kemunduran musculoskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah
penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan otot; rentang gerak sendi; dan
kekuatan skeletal. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk
memantau perubahan dan keefektifan intervensi.
f. Kemunduran kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau
meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya sedikit petunjuk
diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda
tromboflebitis meliputi eritema, edema, nyeri tekan dan tanda homans positif.
Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak
seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, pucat,
tremor tangan, berkeringat, kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop
g. Kemunduran Respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan
pneumonia. Tanda-tanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut
jantung. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada, perkusi, bunyi napas,
dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang
terjadi.
h. Perubahan-perubahan integument
Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi.
Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak
teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang
dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan
i. Perubahan-perubahan fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik
berupa berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen bagian bawah, dan batas
kandung kemih yang dapat diraba. Gejala-gejala kesulitan miksi termasuk
pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada
abdomen bagian bawah
j. Perubahan-perubahan Gastrointestinal
Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen
bagian bawah, rasa penuh, tekanan. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna,
anoreksia, mual gelisah, depresi mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala.
k. Faktor-faktor lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Di dalam
rumah, kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas, penerangan yang tidak
adekuat, tangga yang tinggi, lantai licin, dan tempat duduk toilet yang rendah
dapat menurunkan mobilitas klien. Hambatan-hambatan institusional terhadap
mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang, tempat tidudan posisi yang
tinggi, dan cairan pada lantai. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan
yang potensial dapat meningkatakan mobilitas

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan : Kerusakan sensori persepsi.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan :Kerusakan neurovaskuler

III. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


NO.DX TUJUAN & KRITERIA HASIL INTERVENSI
1 Setelah dilakukan asuhan Energy Management
keperawatan selama 3x24 jam
 Observasi adanya pembatasan
diharapkan masalah intoleransi
klien dalam melakukan aktivitas
aktifitas dapat teratasi dengan
 Kaji adanya factor yang
kriteria hasil:
menyebabkan kelelahan
 Berpartisipasi dalam aktivitas fisik  Monitor nutrisi dan sumber
tanpa disertai peningkatan tekanan energi tanga dekuat
darah, nadi dan RR  Monitor pasien akan adanya
 Mampu melakukan aktivitas kelelahan fisik dan emosi secara
sehari hari (ADLs) secara mandiri berlebihan
NOC :  Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
 Energy conservation
 Self Care : ADLs Activity Therapy

 Kolaborasikan dengan Tenaga


Rehabilitasi Medik dalam
merencanakan progran terapi
yang tepat.
 Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas yang
mampu dilakukan
 Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yangsesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan
social
 Bantu untuk mengidentifikasi
dan mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
 Bantu untu mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
 Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang

2 Setelah dilakukan tindakan Exercise therapy : ambulation


keperawatan selama 3x24 jam
 Monitoring vital sign
diharapkan masalah gangguan
sebelm/sesudah latihan dan lihat
mobilitas fisik dapat teratasi
respon pasien saat latihan
dengan kriteria hasil:
 Konsultasikan dengan terapi
fisik tentang rencana ambulasi
 Klien meningkat dalam aktivitas
sesuai dengan kebutuhan
fisik
 Bantu klien untuk menggunakan
 Mengerti tujuan dari peningkatan
tongkat saat berjalan dan cegah
mobilitas
terhadap cedera
 Memverbalisasikan perasaan
 Ajarkan pasien atau tenaga
dalam meningkatkan kekuatan
kesehatan lain tentang teknik
dan kemampuan berpindah
ambulasi
 Memperagakan penggunaan alat
 Kaji kemampuan pasien dalam
Bantu untuk mobilisasi (walker)
mobilisasi

NOC :  Latih pasien dalam pemenuhan


kebutuhan ADLs secara mandiri
 Joint Movement : Active sesuai kemampuan
 Mobility Level  Dampingi dan Bantu pasien saat
 Self care : ADLs mobilisasi dan bantu penuhi
 Transfer performance kebutuhan ADLs ps.
 Berikan alat Bantu jika klien
memerlukan.
 Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan

3 Setelah dilakukan tindakan Self Care assistane : ADLs


keperawatan selama 3x24 jam
 Monitor kemempuan klien
diharapkan masalah defisit
untuk perawatan diri yang
perawatan diri dapat teratasi
mandiri.
dengan kriteria hasil:
 Monitor kebutuhan klien untuk
alat-alat bantu untuk kebersihan
 Klien terbebas dari bau badan
diri, berpakaian, berhias,
 Menyatakan kenyamanan
toileting dan makan.
terhadap kemampuan untuk
 Sediakan bantuan sampai klien
melakukan ADLs
mampu secara utuh untuk
 Dapat melakukan ADLS dengan
melakukan self-care.
bantuan
 Dorong klien untuk melakukan

NOC : aktivitas sehari-hari yang

Self care : Activity of Daily Living normal sesuai kemampuan yang

(ADLs) dimiliki.
 Dorong untuk melakukan secara
mandiri, tapi beri bantuan ketika
klien tidak mampu
melakukannya.
 Ajarkan klien/ keluarga untuk
mendorong kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya jika
pasien tidak mampu untuk
melakukannya.
 Berikan aktivitas rutin sehari-
hari sesuai kemampuan.
 Pertimbangkan usia klien jika
mendorong pelaksanaan
aktivitas sehari-hari.

IV. EVALUASI
Evaluasi yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan
mobilitas adalah :
a. Peningkatan fungsi sistem tubuh
b. Peningkatan kekuatan dan ketahanan otot
c. Peningkatan fleksibilitas sendi
d. Peningkatan fungsi motorik, perasaan nyaman pada pasien, dan ekspresi pasien
menunjukkan keceriaan
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba Medika.

Perry & Potter. 2006. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan praktik. Edisi
4. Jakarta : EGC.

Tarwoto & Wartonah, 2003. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.

Wilkinson, Judith M. 2007. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC dan
kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.

Kushariyadi. 2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika

Santosa,Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima


Medika