Anda di halaman 1dari 19

BAB II

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

A. Gambaran Umum Harian Kompas

1. Sejarah dan Perkembangan Kompas

Harian Kompas merupakan surat kabar Nasional yang berpusat di Jakarta.

Kompas diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara. Ide awal penerbitan harian

ini datang dari Jenderal Ahmad Yani yang menginginkan keinginannya untuk

menerbitkan surat kabar yang berimbang, kredibel, dan independen. Ide tersebut

kemudian diutarakan kepada P.K. Ojong (1920-1980) dan Jakob Oetama yang

sudah mengelola Majalah Intisari pada tahun 1963. Awalnya harian ini diterbitkan

dengan nama Bentara Rakyat namun kemudian atas usul Presiden Soekarno

namanya diubah menjadi Kompas. Kompas diharapkan menjadi pemberi arah dan

jalan dalam mengarungi lautan dan rimba.

Pada akhirnya Kompas diterbitkan untuk pertama kali pada tanggal 28 Juni

1965 dan diterbitkan keesokan harinya dengan motto “Amanat Hati Nurani

Rakyat”. Pada terbitan perdana, Kompas hanya diterbitkan dengan empat halaman

dan berisi iklan sebanyak enam buah. Koran Kompas awalnya masih terbit sebagai

surat kabar mingguan dengan 8 halaman, lalu terbit 4 kali seminggu. Pada awal

penerbitan kantor redaksi Kompas masih menumpang di rumah Jakob Oetama,

kemudian berpindah ke kantor redaksi majalah Intisari. Sedangkan redaksi malam

juga menumpang di redaksi majalah penabur, di Jl. Kramat Jakarta. Pelaksana

keredaksian dilakukan di salah satu ruangan percetakan P.N Eka Grafika.

49
50

Saat penerbitan Kompas, suasana politik di Indonesia sedang memanas

karena pengaruh munculnya G30S/PKI. Sehingga saat itu penerbitan surat kabar

anti komunis dilarang terbit dan surat kabar pro komunis dibiarkan menyajikan

berita. Kemunculan Kompas saat itu juga mendapat reaksi negatif dari massa pro

komunis karena Kompas dianggap sebagai corong umat Katholik dengan mengira

Kompas kependekan dari “Komando Pastur”. Kompas memang didirikan oleh

mayoritas orang-orang Katolik dan di bawah yayasan Bentara Rakyat yang dimiliki

oleh orang Katolik dan pernah berafiliasi dengan Partai Katholik. Namun hal

tersebut tidak dapat menjadi dasar yang kuat atas tuduhan massa tersebut. Karena

sejak awal pendirian Kompas tujuannya adalah untuk menyelamatkan rakyat

Indonesia dari penyimpangan opini dan hasutan komunis dan demi menegakkan

Orde Baru.

Meskipun di awal penerbitan performa Kompas masih dianggap tidak

meyakinkan dan kurang bersaing dibanding dengan kompetitor surat kabar lainnya.

Namun sebulan setelah penerbitan perdana, tiras kompas meningkat menjadi 8003

eksemplar dan dicetak oleh Percetakan Masa Merdeka. Atas masih memanasnya

suasana politik, pada 1 Oktober 1965 Penguasa Pelaksana Perang Daerah

(Papelrada) Jakarta Raya mengeluarkan larangan terbit untuk semua harian,

termasuk KOMPAS. Empat hari kemudian KOMPAS diperbolehkan terbit.

Setelah sempat menempati PT. Kinta yang merupakan percetakan terbaik

di Jakarta saat itu Kompas tetap memiliki obsesi untuk memiliki percetakan

sendiri untuk meningkatkan kredibilitas Kompas sebagai harian. Pada

pertengahan tahun 1972 pun Kompas akhirnya memiliki percetakan sendiri yaitu
51

percetakan Gramedia dan secara berangsur-angsur seluruh kegiatan

keredaksionalan terpusat di kompleks Palmerah Jakarta Pusat. Meskipun pada

waktu itu kegiatan administrasinya masih dilakukan di Gedung Perintis Jakarta

Barat.

Pada Tahun 1978, Kompas pernah menjadi satu-satunya di Indonesia yang

menjadi anggota lembaga akuntan publik Internasional Audit Beaureas of

Circulation, Sidney, Australia. Tujuan mengikuti akuntan publik tersebut untuk

menarik pasar iklan dan memberikan citra yang baik bagi Kompas di mata dunia

persuratkabaran nasional dan Internasional. Pada September 1978, Kompas terbit

dengan format baru yaitu terbit 7 kali dalam seminggu dimana umumnya surat

kabar lain terbit enam kali seminggu.

Saat ini harian Kompas memiliki kantor redaksi tetap yang terletak di Jalan

Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270. Nomor Telepon (021) 5347710, 5347720,

5347730, 5302200 telex 65582 KP IA, dan fax 5486085. Sedang alamat adalah

PO. BOX 4612 Jkt 12046. Bagian Iklan berkantor di Jalan Gajah Mada 109-110.

Bagian Sirkulasi ada di Jalan Gajah Mada 104 Jakarta. Kompas telah

mengantongi surat ijin usaha Penerbitan Pers (SIUPP) SK Mentri Penerangan RI

Nomor 0130/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1985 tanggal 19 November 1985 dan

keputusan Laksus Pangkopkamtibda No. 130/PC/1969 tanggal 12 Januari 1969

dan terdaftar di ISSN dengan nomor 0215-207 X. Harian ini dicetak oleh PT.

Gramedia Kompas terbit 7 kali dalam seminggu, dengan halaman regular 28

halaman untuk hari Senin- Sabtu dan hari Minggu terbit 24 halaman.

Gaya penulisan yang dimiliki oleh P.K. Ojong dan Jakob Oetama terdapat
52

perbedaan. Penulisan oleh P.K. Ojong lebih berani, lugas, dan sederhana.

Sedangkan gaya penulisan Jakob Oetama sendiri memiliki gaya kritik yang bijak

dan tidak langsung atau Implisit. Namun sejak 1980 P.K. Ojong meninggal dunia,

Jakob Oetama yang memegang kendali editorial Kompas. Pemberitaan Kompas

saat itu menjadi sangat hati-hati dan moderat dalam memberitakan isu-isu politik

yang sensitif namun masih tampak gaya pemberitaan yang berani.

Seiring perkembangannya kini Kompas sendiri memiliki tiga bagian

halaman, yaitu bagian depan yang memuat berita nasional dan internasional,

bagian berita bisnis dan keuangan, serta bagian berita olahraga dan iklan baris

atau klasika. Setiap tahunnya, tiras dan sirkulasi Kompas mengalami

peningkatan. Hal ini dikarenakan sistem manajemen dan teknologi percetakan

yang sudah baik. Sehingga, distribusi Kompas ke seluruh pelosok daerah di

Indonesia semakin mudah dan dibantu juga oleh sistem keagenan yang

menjangkau wilayah nasional dan Internasional di seluruh dunia.

Perkembangan Kompas tidak hanya sampai media cetak saja namun kini

berkembang ke Kompas e-paper atau koran digital Kompas. E-paper ini

diluncurkan pada 1 Juli 2009. E-paper memiliki kesamaan dengan Kompas cetak

tetapi memiliki format digital.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Kompas_(surat_kabar)#Sejarah)

2. Profil Kompas

Sebuah institusi, lembaga, atau organisasi haruslah memiliki visi dan misi

untuk mengarahkan jalannya organisasi. Begitu juga dengan Kompas, secara umum

visi Kompas adalah untuk menjadi institusi yang memberikan pencerahan bagi
53

berkembangnya masyarakat Indonesia yang demokratis dan bermartabat serta

menjunjung tinggi asas dan nilai kemanusiaan. Misi Kompas adalah mengantisipasi

dan merespon dinamika masyarakat secara professional, sekaligus memberi arah

dengan menyediakan dan menyebarluaskan informasi terpercaya.

Sebagai institusi pers Kompas memiliki visi yang lebih spesifik, yaitu:

a) Kompas adalah lembaga pers yang bersifat umum dan terbuka.

b) Kompas tidak melibatkan diri dalam kelompok-kelompok politik tertentu

baik politik, agama, sosial, atau golongan ekonomi.

c) Kompas secara aktif membuka dialog dan berinteraksi positif dengan segala

kelompok.

d) Kompas adalah koran nasional yang berusaha mewujudkan aspirasi dan

cita-cita bangsa.

e) Kompas bersifat luas dan bebas dalam pandangan yang dikembangkan

tetapi selalu memperhatiakan konteks struktur kemasyarakatan dan

pemerintah yang menjadi lingkungan.

Kompas juga berpegang teguh pada motto “Amanat Hati Nurani Rakyat”

yang dicantumkan di bawah logo Kompas. Motto ini mengamanatkan Kompas

untuk selalu mengedepankan keterbukaan dan meninggalkan perbedaan latar

belakang suku, agama, ras, dan golongan. Kompas memiliki keinginan untuk

merepresentasikan diri sebagai “Indonesia Mini” karena Kompas sendiri memiliki

keinginan untuk ikut mencerdaskan bangsa. Kompas ingin menempatkan

kemanusiaan sebagai nilai tertinggi dan membuang kepentingan kelompok.


54

3. Struktur Organisasi Kompas


SUSUNAN REDAKSI KOMPAS

Pemimpin Umum : Jacob Oetama

Wakil Pemimpin Umum :St. Soelarto,Agung Adi Prasetyo

Pimpinan Redaksi

Penanggung jawab :Suryopratomo,

Wakil Pimpinan

Redaksi :Bambang Sukartiono, Ricard Bangun

Redaktur Pelaksana :Trias Kuncahyo

Wakil Redaktur

Pelaksana :Taufik H. Miharja

Sekretaris Redaksi :Retno Bintarti

Wakil Sekertaris

Redaksi :Oemar Samsuri

4. Kebijakan Redaksional

Penentuan kebijakan redaksional suatu media dipengaruhi oleh tujuan

media yang mendasari media untuk menyajikan informasi kepada masyarakat dan

kondisi objektif pembaca sendiri. Kebijakan redaksional juga menjadi standar

kelayakan sebuah informasi atau berita disajikan dalam media. Karena kebijakan

redaksi adalah proses untuk menentukan sikap media untuk menentukan bagaimana

menanggapi sebuah peristiwa atau fenomena dapat disajikan sebagai konten berita

di sebuah media massa khususnya surat kabar. Kebijakan redaksi ditentukan oleh

jajaran redaksi (redaktur, editor, layouter, dll) suatu media sendiri.


55

Pada harian Kompas, kebijakan redaksi akan menjadi ciri khas atau karakter

dalam hal cara pandang berita yang berbeda dengan media lain. Kebijakan

redaksional dari Kompas merupakan proses penjabaran dan implementasi dari visi

dan misi kompas. Seperti yang telah disebut di atas, visi Kompas untuk menjadi

institusi yang memberikan pencerahan bagi berkembangnya masyarakat Indonesia

yang demokratis dan bermartabat serta menjunjung tinggi asas dan nilai

kemanusiaan. Sedangkan misi Kompas adalah mengantisipasi dan merespon

dinamika masyarakat secara professional, sekaligus memberi arah dengan

menyediakan dan menyebarluaskan informasi terpercaya. Visi dan misi Kompas ini

akan menjadi tolok ukur dan acuan dalam segala kegiatan dan keputusan.

Dalam keputusan redaksionalnya, Kompas bersifat umum dan terbuka.

Kompas sangat menjunjung tinggi nilai demokrasi sesuai dengan visinya.

Meskipun Kompas melihat di Indonesia banyak sekali keberagaman, namun

Kompas melihat hal ini sebagai semangat untuk bekerjasama. Kompas sebagai

institusi pembawa kepentingan dan suara hati rakyat, menilai nilai demokrasi harus

ditanamkan dan berkembang dalam setiap diri rakyat Indonesia. Sehingga, dalam

setiap kegiatan penerbitan atau jurnalisme Kompas menanamkan untuk melihat

dengan cara pandang lain dan harus melihat kedua sisi. Selain itu, Kompas juga

sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Sehingga sebagai institusi pers Kompas

mengedepankan keterbukaan dan menutup pengkotakan latar belakang suku,

agama, ras, dan golongan.

Pada kesimpulannya, kebijakan redaksional Kompas merupakan

perpanjangan dari visi, misi, dan motto Kompas yaitu, “Amanat Hati Nurani
56

Rakyat”. Kompas juga memiliki nilai-nilai dasar yang digunakan sebagai acuan dan

tolok ukur dalam penentuan kegiatan dan keputusan, yaitu: (Oetama, 2007: 65-66)

1. Menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat

dan martabatnya.

2. Mengutamakan watak yang baik

3. Profesionalisme

4. Semangat kerja tim.

5. Berorientasi pada kepuasan konsumen (pembaca, pengiklan, mitra kerja

penerima proses selanjutnya)

6. Tanggung jawab sosial

B. Gambaran Umum Harian Republika

1. Sejarah dan Perkembangan Republika

Republika merupakan koran nasional yang dilahirkan oleh kalangan

komunitas muslim bagi publik di Indonesia. Penerbitan Republika dianggap

merupakan sebuah hasil dari perjuangan dari kalangan umat Islam Indonesia.

Perjuangan ini juga didalangi oleh seorang mantan wartawan tempo yaitu Zaim

Uchrowi. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang diketuai oleh B.J.

Habibie dapat menembus ketatnya regulasi izin pemerintah untuk izin penerbitan

saat itu. Republika lahir pada tanggal 5 Desember 1990 namun baru tiga tahun

kemudian mulai diterbitkan.

Pada saat B.J. Habibie masih menjabat menjadi presiden RI, Republika

berada di bawah perusahaan PT Abdi Bangsa. Namun pada akhir 2000, Republika
57

dimiliki oleh kelompok Mahaka Media karena lengsernya B.J. Habibie dan

surutnya kiprah politik ICMI selaku pemegang saham PT Abdi Bangsa. Republika

merupakan sebuah nama yang diberikan oleh Presiden Soeharto yang disampaikan

kepada beberapa pengurus ICMI setelah mengajukan nama “Republik” untuk

harian umum tersebut.

Republika didirikan ICMI bertujuan untuk membangun media massa

Indonesia yang berfungsi sebagai penopang agar langkah itu bermanfaat bagi

kesejahteraan bersama. Lahirnya harian Republika ini dianggap memberikan

harapan baru bagi komunikasi Indonesia Islam untuk tidak lagi berdiri di pinggiran

saja. PT. Abdi Bangsa sendiri sebagai perusahaan induk Republika dianggotai dan

dikelola oleh mayoritas pejabat negara, tokoh cendekiawan, dan tokoh masyarakat

di kalangan muslim. Pada tanggal 19 Desember 1992, perusahaan ini mendapat

Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP) dengan nomor

283/SK/MENPEN/SIUPP/A7/1992.

Republika sendiri baru diterbitkan perdana pada tahun 1993 dengan jumlah

penerbitan yang besar yaitu sebanyak 100.000 eksemplar. Jika dibanding surat

kabar lainnya, Republika tergolong surat kabar yang usianya masih sangat muda.

Namun distribusinya sudah sampai ke seluruh daerah di Indonesia. Penghasilan

iklan-iklan besar maupun kecil juga sudah banyak masuk di harian Republika.

Tahun 1993, Republika juga pernah mendapatkan penghargaan bergengsi dalam

bidang produksi yaitu sebagai perwajahan koran terbaik dalam lomba perwajahan

pers yang diselenggarakan Serikat Grafika Pers. Dengan beberapa pencapaian


58

tersebut, Pardi Hadi selaku mantan pimpinan redaksi mengklaim sudah 1,3 juta

lembar saham yang terjual.

Perkembangan Republika makin meluas, bahkan Republika merupakan

koran pertama yang masuk jaringan internet dengan membuka situs web

(www.republika.co.id). Pada 7 Desember 1995 Presiden Soeharto meresmikan

penyediaan sarana IMN (Indonesia Media Network) oleh Republika yang

menyajikan analisis aktual berbahasa Inggris untuk konsumsi masyarakat

Internasional. Harian Republika dapat dikelompokkan sebagai media cetak yang

berkualitas secara professional, berwawasan liberal, dan diinformasikan oleh nilai-

nilai Islam progresif

(http://id.wikipedia.org/wiki/Republika_%28surat_kabar%29).

2. Profil Republika

Dilihat dari latar belakang sejarahnya, Republika merupakan surat kabar

yang didirikan oleh komunitas muslim. Hal ini sedikit banyaknya akan

mempengaruhi karakteristik atau gaya Republika yang bernuansa Islam. Walaupun

demikian, Republika tetap menyajikan berita-berita umum seperti sosial, politik,

budaya, pendidikan, olahraga, hiburan, dan berita-berita lainnya. Karakteristik

Republika ini membawa Republika kepada pasar masyarakat muslim lebih

mendominasi meskipun Republika untuk semua kalangan.

Sama halnya dengan institusi pers lain, Republika juga menanamkan visi

dan misi untuk institusinya. Visi Republika adalah menjadikan Republika sebagai

koran umat yang terpercaya dan mengedepankan nilai-nilai universal yang sejuk,
59

toleran, damai, cerdas, dan profesional namun mempunyai prinsip dalam

keterlibatannya menjaga persatuan bangsa dan kepentingan umat Islam yang

berdasar pada Rahmatan lil ‘alamin. Lewat visi tersebut Republika memiliki misi

a) Menciptakan dan menghidupkan sistem manajemen yang efisien dan efektif

serta mampu dipertanggungjawabkan secara profesional.

b) Menciptakan budaya kerja yang sehat dan transparan.

c) Menciptakan kinerja dengan menciptakan sistem manajemen yang kondusif

dan profesional.

d) Meningkatkan penjualan iklan dan koran, sementara menekan biaya

operasional (antara lain dengan memiliki mesin cetak).

e) Memprioritaskan pengembangan pemasaran surat kabar Republika di

Jabodetabek, tanpa harus mematikan di daerah yang sudah ada.

f) Merajut tali persaudaraan dengan organisasi-organisasi Islam di Indonesia.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Republika_(surat_kabar))

3. Struktur Organisasi Republika

SUSUNAN PENGURUS HARIAN REPUBLIKA

Direktur Utama : Daniel JP Wewengkang

Direktur Pemberitaan : Ikhwanul Kiram Mashuri

Direktur Operasional : Mira R. Djarot

Direktur Business Development : Tommy Tamtono


60

Komisaris Utama : Adi Sasono

Wakil Komisaris Utama : Erick Thohir

GM Keuangan : Didik Irianto

GM Marketing dan Sales : Yulianingsih

Manajer Iklan : Indra Wisnu Wardhana

Manajer Produksi : Nurrokhim

Manajer Sirkulasi : Darkiman Ruminta

Manajer Keuangan : Hery Setiawan

Wakil Pimpinan Redaksi : Nashihin Masha

Redaktur Pelaksana : Agung Pragitya Vazza

Kepala Newsroom : Aris Hilman

Kepala Republika Online : Yayat Supriyatna

Redaktur Senior : Arif Punto Utomo

Wakil Redaktur Pelaksana : Eiba Damhuri,Selamat Ginting

Redaktur Pelaksana : Nurul S Harnami,Subroto.

(http://www.republika.co.id/page/about)

4. Kebijakan Redaksional

Dilihat dari sejarah berdiri dan perkembangannya, surat kabar Republika

didirikan oleh komunitas muslim. Sehingga, hal tersebut membawa ciri khas dan

karakter pada konten Republika yang bernuansa Islam. Penyajian Republika

tentang pembahasan dunia Islam ini membawa perbedaan dengan media lain.

Namun meskipun berbasis Islam, Republika tetap menyajikan berita-berita yang

bersifat umum baik di bidang politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Republika
61

memiliki semangat sebagai sarana penyalur aspirasi rakyat Indonesia yang belum

terwujud secara proporsional. Sehingga ia memberi wadah yang luas bagi

pemberitaan yang menyangkut dan membela kepentingan masyarakat. Wadah

tersebut diwujudkan dalam bentu berita, tajuk rencana, opini, atau komentar.

Republika dalam menjalankan kegiatan persnya memiliki prinsip tidak

menggunakan istilah The Watch Dog of Government namun, The watch Dog of

Environment. Dengan prinsip ini Republika berharap dapat menjaga dan

mengawasi lingkungan sosial atas penyalagunaan kekuasaan bukan monopoli

pemerintah belaka, tetapi siapa saja dan terjadi bila lingkungan sosial mendukung.

Republika juga melaksanakan phropetic journalism (jurnalis profetis) yaitu

menyebarluaskan dengan cara memberi dan menyajikan informasi yang dapat

mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat.

Secara tata jurnalisme, Republika juga memiliki karakter yang kuat

dibanding dengan media lain. Republika juga mengedepankan pengemasan,

penyajian, dan pendalaman berita. Republika dalam mengemas berita memiliki tata

Bahasa yang lugas dan atraktif sehingga mudah dibaca dan dipahami. Penyampaian

Bahasa yang digunakan tidak kaku, renyah dan dengan penuturan yang popular.

Hal ini didukung dengan visualisasi grafis yang menarik. Republika juga

menguatkan berita dengan unsur grafis baik foto, gambar, atau tabel.

C. Gambaran Umum Muktamar Muhammadiyah dan NU

Menurut Barton (2011, 2008) Organisasi masyarakat Islam khususnya

Muhammadiyah dan NU memainkan peran utama dalam memperlancar kedamaian,


62

pertahanan, dan demokrasi (dalam Barton, 2014:289). Keduanya sama-sama

memiliki pengikut setia yang cukup banyak di Indonesia. Masing-masing kedua

organisasi ini memiliki ciri khas dan karakter yang kuat. Muhammadiyah memiliki

semangat dalam pengembangan pendidikan dan sains, memanfaatkan sedikit

bisnis-bisnis kaum borjuis dan mendukung pengembangan ekonomi dan budaya

modern. Sedangkan Nahdlatul Ulama lebih memiliki semangat dalam

pengembangan rohani baik hati maupun pikiran dan hubungan yang kuat dengan

ajaran agama. Namun keduanya telah berkontribusi pada kebangkitan politik Islam

di Indonesia.

Muhammadiyah dipandang sebagai representasi dari kelas menengah

modern Indonesia (urban) sedangkan NU sendiri diasosiasikan sebagai gaya

tradisional dan pedesaan dari komunitas rural. Kedua organisasi sama-sama

memiliki perhatian terhadap pendidikan khususnya untuk transfer ajaran agama.

Muhammadiyah sangat dekat dengan pendidikan yaitu sekolah atau madrasah.

Sedangkan NU lebih dekat dengan sekolah asrama atau pesantren. Kedua

organisasi Islam ini memiliki forum musyawarah yang sama yaitu muktamar.

Muktamar merupakan forum musyawarah terbesar yang ada dalam ormas Islam

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), muktamar memiliki

pengertian konferensi, kongres, rapat, perundingan, atau pertemuan

(http://kbbi.web.id/muktamar). Wikipedia mendefinisikan muktamar sebagai forum

diskusi yang mempertemukan para wakil organisasi untuk mengambil keputusan

mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama. Definisi tersebut juga


63

menggambarkan muktamar yang diselenggarakan oleh organisasi Islam

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Merujuk dari definisi muktamar

menurut KBBI dan Wikipedia, muktamar yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah

dan NU merupakan sebuah pertemuan besar yang diikuti oleh perwakilan anggota

atau pengurus organisasi dari seluruh daerah di Indonesia untuk bersama-sama

membahas masalah dan isu yang menyangkut masa depan organisasi. Secara lebih

jelas perjalanan muktamar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dijelaskan

sebagai berikut:

1. Muktamar Muhammadiyah

Muktamar Muhammadiyah dianggap menjadi forum permusyawaratan

tertinggi dan terbesar di dalam organisasi. Muktamar Muhammadiyah dilaksanakan

setiap lima tahun sekali. Di dalam organisasi Muhammadiyah, muktamar secara

khusus dan jelas diatur di dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah

Tangga (ART). Muktamar dijelaskan pada anggaran dasar Muhammadiyah Bab IX,

tentang permusyawaratan Pasal 22 dan 23 yang berbunyi sebagai berikut:

“Pasal 22
Muktamar
(1) Muktamar ialah permusyawaratan tertinggi dalam Muhammadiyah
yang diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab Pimpinan Pusat
(2) Anggota Muktamar terdiri atas:
a. Anggota Pimpinan Pusat
b. Ketua Pimpinan Wilayah
c. Anggota tanwir wakil wilayah
d. Ketua Pimpinan Daerah
e. Wakil Daerah yang dipilih oleh Musyawarah Pimpinan Daerah,
terdiri atas wakil Cabang berdasarkan perimbangan jumlah Cabang
dalam tiap Daerah
f. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat
(3) Muktamar diadakan satu kali dalam lima tahun.
64

(4) Acara dan ketentuan lain tentang Muktamar diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga
Pasal 23
Muktamar Luar Biasa
(1) Muktamar Luar Biasa ialah muktamar darurat disebabkan oleh keadaan
yang membahayakan Muhammadiyah dan atau kekosongan kepemimpinan,
sedang Tanwir tidak berwenang memutuskannya.
(2) Muktamar Luar Biasa ditiadakan oleh Pimpinan Pusat atas keputusan
Tanwir
(3) Ketentuan mengenai Muktamar Luar Biasa diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga” (http://www.muhammadiyah.or.id/id/3-content-51-det-anggaran-
dasar.html)
Muktamar di Muhammadiyah ini dianggap perhelatan yang besar yang

menyangkut arah gerak organisasi ke depannya. Inti dari perhelatan muktamar

sendiri adalah pemilihan ketua umum Muhammadiyah periode selanjutnya, namun

juga terdapat beberapa agenda lain seperti pembahasan isu, program kerja, evaluasi

kepengurusan, dll. Hingga 2015, muktamar Muhammadiyah telah dilaksanakan

sebanyak 47 kali. Berdasarkan direktori Muktamar Muhammadiyah, Muktamar

Muhammadiyah pertama kali dilaksanakan di Yogyakarta tahun 1912 dan diketuain

oleh KH. Ahmad Dahlan. Dari tahun 1912 hingga 1940 muktamar dilaksanan

setahun sekali. Kemudian, tahun 1944 hingga 1978 dilaksanakan setiap 3-4 tahun

sekali. Setelah 1985 hingga sekarang muktamar dilaksanakan lima tahun sekali.

(http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-57-det-direktori-muktamar.html)

Ketua umum Muhammadiyah melalui muktamar juga telah berganti 15 kali

mulai dari KH. Ahmad Dahlan, KH Ibrahim, KH. Hisyam, KH. Mas Mansyur, Ki

Bagus Hadikusumo, Buya AR Sutan Mansur, H.M. Yunus Anis, KH. Ahmad

Badawi, KH. Faqih Usman, KH. AR Fachruddin, KHA. Azhar Basyir, M. A, Prof.

Dr. H. M. Amien Rais, Prof. Dr. H. A. Syafii Maarif, Prof. Dr. H. M. Din
65

Syamsuddin, dan Dr. H. Haedar Nashir, M. Si. Tujuan dari muktamar

Muhammadiyah adalah untuk mengevaluasi program, perencanaan program dan

melakukan pemilihan pimpinan.

Di tahun 2015 ini, pelaksanaan muktamar Muhammadiyah ke-47 berada di

Kota Makassar pada tanggal 3-7 Agustus 2015. Muktamar Muhammadiyah kali ini

mengusung tema “Gerakan Pencerah Menuju Indonesia Berkemajuan”. Menurut

Muhammadiyah pelaksanaan muktamar disebut hari raya-nya Muhammadiyah.

Oleh karena itu, setiap pelaksanaan muktamar seluruh anggota, pengurus,

simpatisan Muhammadiyah dan masyarakat akan menyambut dengan sangat

antusias. Muhammadiyah juga memiliki logo khusus muktamar Muhammadiyah

ke-47.

Gambar 2.1: Logo Muktamar Muhammadiyah ke-47


66

2. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU)

Menurut Nahdlatul Ulama, muktamar juga merupakan forum

permusyawaratan tertinggi dalam organisasi. Muktamar di NU juga dilaksanakan

setiap lima tahun sekali. Sama halnya dengan Muhammadiyah, NU juga memiliki

dua muktamar yaitu, muktamar dan muktamar luar biasa. Dalam Anggaran Dasar

NU, muktamar disebut pada Bab IX tentang permusyawaratan pasal 22, yaitu:

“Permusyawaratan tingkat nasional yang dimaksud pada pasal 21 terdiri


dari:
a. Muktamar
b. Muktamar Luar Biasa
c. Musyawarah Nasional Alim Ulama
d. Konferensi Besar (http://pcnukebumen.or.id/ad-art-nu-terbaru/)
Hingga tahun 2015, Muktamar NU telah dilaksanakan sebanyak 33 kali.

Muktamar NU pertama kali dilaksanakan tahun 21-23 September 1926 di Surabaya.

Saat itu hingga tahun 1940 muktamar NU masih dilaksanakan setahun sekali,

setelah tahun 1946 hingga tahun 2015 muktamar dilaksanakan lima tahun sekali.

Dalam periode tersebut ketua umum PBNU pun sudah mengalami pergantian dari

KH Hasan Gipo, KH Idham Chalid, KH Abdurrahman Wahid, KH Hasyim Muzadi,

dan KH Said Aqil Siroj. Rais Aam Syuriah PBNU pun juga telah berganti sebanyak

sembilan kali. (Kompas, 1 Agustus 2015). Pengurus muktamar NU secara khusus

menyediakan website untuk muktamar dengan alamat http://muktamar.nu.or.id/.

Tahun 2015, NU kembali menyelanggarakan muktamar dengan tema

“Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Muktamar

NU ke-33 dilaksanakan pada tanggal 1-5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur.

Empat pondok pesantren menjadi saksi perhelatan akbar muktamar NU, yaitu
67

Tebuireng, Tambakberas, Darul Ulum, dan Denanyar. Muktamar NU dihadiri oleh

muktamirin atau peserta pemilik suara di Muktamar NU dan muhibbin atau

penggembira. Agenda muktamar NU adalah membahas isu-isu aktual, program

kerja, evaluasi kepengurusan, dan intinya adalah pemilihan ketuam umum PBNU

dan ketua Rais Aam. Dalam mekanisme pemilihan ketua Rais Aam, NU

menyepakati sistem yaitu dengan Metode yang dipilih ialah melalui musyawarah

untuk mufakat oleh ahlul halli wal aqdi tanpa adanya voting. ahlul halli wal aqdi

adalah institusi khusus yang berfungsi sebagai badan legislatif yang terdiri dari

orang-orang berpengaruh dalam NU. NU juga memiliki lambing khusus yang

digunakan untuk muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33.

Gambar 2.2: Logo Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33