Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KELOMPOK BESAR SATUAN ACARA PENYULUHAN

MASALAH JKN DI RUMAH SAKIT SWASTA


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunitas IV
Dosen Pengampu : Nur Rakhmawati, S.Kep., M.Kes

Disusun Oleh :
KELOMPOK H

1. Winda Sopiyaningsih (S13060)


2. Yonatan (S13061)
3. Yuliani Disari (S13062)
4. Yunita Estiningsih (S13063)
5. Zeni Dwi Setyowati (S13064)
6. Siska Puji Lestari (S12046)
7. Ekha Puji (S12012)

PROGRAM STUDI NERS KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit pada era globalisasi berkembang sebagai industri padat karya,
padat modal dan padat teknologi, disebut demikian karena rumah sakit memanfaatkan
Sumber Daya Manusia (SDM) dalam jumlah yang besar dan beragam kualitasnya.
Dalam pengalaman sehari-hari ketidakpuasan pasien yang paling sering dikemukakan
dalam kaitannya dengan sikap dan prilaku petugas kesehatan rumah sakit, antara lain:
keterlambatan pelayanan dokter dan perawat, dokter sulit ditemui, lamanya proses
masuk rawat, keterbatasannya obat dan peralatan ketersediaannya sarana serta
ketertiban dan kebersihan rumah sakit (Muninjaya, 2012).
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Komponen pelayanan rumah sakit mencakup 20 pelayanan. Bardasarkan Undang-
undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 bahwa rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang
dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi,
dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan
pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pembangunan kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun
2009 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi -
tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomis. Untuk mewujudkan tujuan tersebut pemerintah telah
mengupayakan dengan berbagai program Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
SJSN pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan untuk memberikan
jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta atau
anggota keluarga.
Menurut perkiraan yang diperoleh dari kantor perburuhan internasional hanya
sekitar 20-30% dari total penduduk dunia yang memiliki akses kepada tunjangan tunai
jaminan sosial yang menguntungkan, 70-80% selebihnya hidup dalam kondisi sosial
yang tidak terjamin meski ada kemajuan dalam hak-hak asasi. Angka ini menunjukan
besarnya permasalahan yang harus dihadapi dunia saat ini. Untuk negara-negara
berkembang indonesia sekitar 20% yang mendapatkan jaminan sosial sesuai dengan
prinsip-prinsip asuransi yang menguntungkan bagi pesertanya (Chazali, 2013).
Filsafat negara Indonesia yaitu pancasila terutama sila ke-5 mengakui hak
asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga terdapat pada UU 36 tahun 2009 yang
dinyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses
atas sumber daya dibidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang
aman, bermutu dan terjangkau, dan sebaliknya setiap orang juga mempunyai untuk
turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial. Undang-Undang No. 36 tahun
2009 pasal 20 ayat 1 juga menegaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas
pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui SJSN bagi upaya kesehatan
perorangan. Mewujudkan komitmen global tersebut, pemerintah bertanggung jawab
atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui BPJS kesehatan yang
merupakan badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan
kesehatan (Penpres RI Nomor 12 Tahun 2013).
SJSN merupakan program yang bertujuan memberikan kepastian perlindungan
dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat indonesia untuk melaksanakan Undang-
Undang No. 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial dan UU N0. 24 tahun 2011
tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) (Mundihartono, 2012 ).
Berdasarkan UU No. 40 tahun 2004 bahwa asuransi sosial merupakan
mekanisme pengumpulan iuran yang bersifat wajib dari peserta, guna memberi
perlindungan kepada peserta atas resiko sosial ekonomi yang menimpa mereka dan
atau anggota keluarganya. Dengan demikian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang
dikembangkan di Indonesia saat ini merupakan bagian dari SJSN. Tujuannya adalah
agar semua penduduk indonesia di lindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka
dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang layak (UU No. 40 tahun 2004)
Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 menetapkan bahwa Jaminan Sosial
Nasional akan diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri dari BPJS Kesehatan dan
BPJS ketenagakerjaan yang diimplementasikan dimulai 1 januari 2014. Secara
operasional pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan
Presiden (UU No. 24 tahun 2011).
Tujuan khusus dari BPJS tahun 2014 terdiri dari 8 sasaran yaitu : (1) BPJS
Kesehatan mulai beroperasi (2), BPJS Kesehatan mengelola jaminan kesehatan
setidaknya bagi 121,6 juta peserta (sekitar 50 juta masih dikelola Badan lain) (3)
Paket manfaat medis yang dijamin adalah seluruh pengobatan untuk seluruh penyakit.
Namun, masih ada perbedaan kelas perawatan di rumah sakit bagi yang mengiur
sendiri dan bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya dibayarkan oleh
Pemerintah, (4) Rencana Aksi Pengembangan fasilitas kesehatan tersusun dan mulai
dilaksanakan,(5) Seluruh peraturan pelaksanaan (PP, Perpres, Peraturan Menteri, dan
Peraturan BPJS) yang merupakan turunan UU SJSN dan UU BPJS telah diundangkan
dan diterbitkan (6) Paling sedikit 75% peserta menyatakan puas, baik dalam layanan
di BPJS maupun dalam layanan di fasilitas kesehatan yang dikontrak BPJS, (7) Paling
sedikit 65% tenaga dan fasilitas kesehatan menyatakan puas atau mendapat
pembayaran yang layak dari BPJS, (8) BPJS dikelola secara terbuka, efisien, dan
akuntabel (Mundihartono, 2012)
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kesehatan merupakan badan hukum
publik yang dibentuk oleh pemerintah untuk mewujudkan terlaksananya program
jaminan kesehatan nasional (JKN) yang ditujukan bagi seluruh masyarakat di
indonesia karena kepersetaan bersifat wajib, BPJS kesehatan menargetkan semua
penduduk indonesia terdaftar sebagai peserta JKN paling lambat pada tanggal 1
januari 2019 dengan tingkat kepuasan 85% (http://bpjs-kesehatan.go.id.com, 2014).
Kepuasan konsumen dapat diartikan sebagai suatu sikap konsumen ditinjau
dari kesukaan atau ketidaksukaan terhadap pelayanan yang pernah dirasakan.
Kepuasaan konsumen merupakan reaksi perilaku setelah pembelian, hal ini dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian uang yang sifatnya terus menerus
terhadap pembelian jasa yang sama dan akan mempengaruhi ucapan konsumen
terhadap produksi yang dihasilkan.
Penanganan keluhan merupakan satu komponen untuk menyelesaikan masalah
pelayanan kesehatan, baik yang bersifat administratif maupun bersifat medis.
Permasalahan bisa terjadi antara peserta dan fasilitas kesehatan; antara peserta dan
BPJS kesehatan; antara BPJS kesehatan dan fasilitas kesehatan; atau antara BPJS
kesehatan dan asosiasi fasilitas kesehatan. Mekanisme yang dapat ditempuh untuk
menyelesaikan ketidakpuasan para pihak tersebut adalah: 1) Jika peserta tidak puas
terhadap pelayanan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan
BPJS kesehatan, peserta dapat mengajukan pengaduan kepada fasilitas kesehatan
yang bekerja sama dengan BPJS dan atau BPJS kesehatan. 2) Jika peserta dan/atau
fasilitas kesehatan tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari BPJS kesehatan maka
dapat menyampaikan pengaduan kepada Menteri Kesehatan (Kemenkes RI, 2013).
Rumah Sakit Islam Malahayati merupakan rumah sakit umum swasta yang
bergerak dalam bidang pelayanan medis atau kesehatan masyarakat, yang bertujuan
untuk membantu pemerintah serta melayani masyarakat dalam meningkatkan derajat
kesehatan baik kesehatan jasmani, rohani dan sosial. Rumah sakit ini berkembang
menjadi rumah sakit swasta yang berada dilingkungan Yayasan RSIM dan berada
dibawah pimpinan direktur RSIM dan merupakan rumah sakit kelas c. Sumber daya
manusia di Rumah Sakit Islam Malahayati terdiri dari tenaga medis yang berjumlah
21 orang, sedangkan tenaga paramedis keperawatan sebanyak 183 orang, tenaga non
keperawatan sebanyak 25 orang dan tenaga non kesehatan berjumlah 86 orang (Profil
RSIM, 2014).
Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak RSIM Medan berupa
pelayanan medis yaitu medical check up, dokter umum, dokter gigi, dan dokter
spesialis/sub spesialis seperti anak, bedah, kebidanan dan kandungan, penyakit dalam,
syaraf THT, mata, kulit dan kelamin, jantung, bedah tulang, jiwa, urologi, dan bedah
syaraf. Pelayanan penunjang yaitu laboraturium patologi klinik, x-ray, USG, EKG,
fisioterapi, konsultasi gizi, farmasi dan hemodialisa (Pofil RSIM, 2014).
Kepuasan pelanggan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan
kesehatan dapat diukur dan dibandingkan antara pelayanan yang diharapkan dengan
pelayanan yang dirasakan oleh peserta. Dengan demikian ada dua faktor utama yang
mempengaruhi mutu pelayanan dalam kaitan dengan kepuasan yang pertama
pelayanan yang diharapkan dan kedua pelayanan yang dirasakan (Pohan, 2007).
Menurut Kotler (1997) dalam rangkuti (2008), kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara kinerja yang
dirasakan dan yang diharapkan. Zeitham dan Berry (1985) oleh Tjiptono (2005)
mengemukakan ada 5 dimensi yang digunakan untuk mengukur kulitas pelayanan
yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy.
Hasil penelitian Liharris (2010) tentang pengaruh kualitas pelayanan terhadap
kepuasan pasien rawat inap di RSU Bunda Thamrin Medan bahwa bukti fisik,
kehandalan, ketanggapan, jaminan dan perhatian memiliki pengaruh terhadap
kepuasan pasien rawat.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan penulis dengan mewawancarai 10
pasien yang dirawat di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan pada bulan september
tahun 2014, pelayanan di RSIM Medan diketahui bahwa dalam proses penerimaan
pasien rumah sakit ini mudah dilakukan dan cepat namun untuk mendapatkan
ruangannya pasien harus menunggu lama di UGD sebelum dipindahkan ke
ruanganny, jam kunjungan dokter yang tidak pasti kapan datangnya, dan persediaan
obat yang sering tidak tersedia sesuai kebutuhan, serta kebersihan yang kurang dijaga.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan perlindungan kesehatan dalam rangka memenuhi kebutuhn
dasar kesehatan tentang JKN
2. Tujuan Khusus
Diharapkan Masyarakat mampu :
a. Untuk mengetahui pengertian dari JKN
b. Untuk Mengetahui cara pendaftaran JKN
c. Untuk Mengetahui metode pembayaran JKN
d. Untuk mengetahui prinsip sistem JKN
BAB II
TINJAUAN KASUS DAN ANALISA

A. Kasus/Masalah
BPJS Kesehatan Klarifikasi Isu Pasien Meninggal Akibat Ditolak Rumah Sakit
Rabu, 31 Agustus 2016 — 10:13 WIB
JAKARTA (Pos Kota)-Direktur Hukum, Komunikasi, dan Hubungan Antar-
Lembaga BPJS Kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan
Bayu Wahyudi mengklarifikasi beredarnya isu bahwa kematian pasien peserta JKN-
BPJS Kesehatan bernama Muhammad Rizky Akbar akibat adanya penolakan oleh
sejumlah rumah sakit, tidaklah sepenuhnya benar.
Peserta tersebut ternyata telah memperoleh hak jaminan pelayanan kesehatan
oleh BPJS Kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah yang dialami
ananda Muhammad Rizky, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,”
ujarnya dalam keterangan persnya.
Menurut Bayu, untuk kasus emergency, peserta JKN-KIS wajib memperoleh
pelayanan kesehatan dari fasilitas kesehatan manapun yang terdekat dari lokasi, baik
dari fasilitas kesehatan yang sudah bermitra dengan BPJS Kesehatan maupun yang
belum.
Selama ini Rizky diketahui terdaftar sebagai anak pegawai swasta yang telah
aktif menjadi peserta JKN-KIS sejak 8 Agustus 2014 dengan hak kelas perawatan
kelas II. Menurut Bayu pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah rumah sakit
yang memberikan pelayanan kesehatan kepada Rizky.
Pada tanggal 10 Juli 2016, Rizky mengalami pembengkakan di bagian kaki
dan tidak mau makan ataupun minum, sehingga kemudian dibawa ke RS Siloam
Tangerang dengan jaminan pribadi. Pasien saat itu tidak dirawat inap dan diberikan
resep rawat jalan. Esoknya, pada tanggal 11 Juli 2016, Rizky semakin pucat sehingga
dibawa oleh sang ibu ke Klinik Sumber Asih dan dirujuk ke RS Hermina Tangerang
dengan jaminan BPJS Kesehatan.
“Hasil konsultasi dengan dokter anak, diperlukan pemeriksaan ke bagian
jantung anak, sehingga dokter segera merujuknya ke RSJPD Harapan Kita. Informasi
dari pihak keluarga, di UGD RSJPD Harapan Kita, Rizky hanya diberikan resep obat
batuk dan tidak disarankan dirawat karena kondisinya dinilai masih baik sesuai
dengan hasil pemeriksaan klinis yang telah dilakukan. Pasien pun kembali ke RS
Hermina Tangerang, dan dokter menyarankan agar Rizky dirawat di RS yang
memiliki fasilitas dan tenaga dokter spesialis jantung anak. Selanjutnya, pasien diberi
rujukan ke RS Awal Bros Tangerang,” kata Bayu.
Hari itu pula, tanggal 11 Juli 2016, ayah pasien membawa Rizky ke RS Awal
Bros Tangerang dengan jaminan BPJS Kesehatan. Rizky sempat disarankan dirawat
di RS Awal Bros Tangerang, namun karena di RS tersebut juga tidak ada dokter
spesialis jantung anak, maka pihak RS menyarankan agar Rizky segera ditangani oleh
dokter spesialis jantung anak. Dalam hal ini, RS terdekat yang memiliki dokter
spesialis jantung anak adalah RS Eka Hospital (non-provider BPJS Kesehatan).
Pada hari yang sama, ayah pasien pun memutuskan membawa Rizky ke RS
Eka Hospital dengan pembiayaan pribadi. Menurut informasi keluarga, Rizky sempat
dirawat satu malam di PICU RS tersebut dan 5 hari di ruang rawat inap biasa sebelum
akhirnya diperbolehkan pulang.
Satu bulan kemudian, tanggal 19 Agustus 2016, Rizky merasakan nafasnya
berat. Keluarganya membawa ke RS Eka Hospital karena rekam medis pasien ada di
RS tersebut. Selanjutnya, pasien sempat dirawat di ICU, namun akhirnya pasien yang
bersangkutan meninggal dunia pada 27 Agustus 2016.
“Kami telah berkoordinasi dengan RS Eka Hospital terkait penjaminan biaya
pelayanan kesehatan Rizky oleh BPJS Kesehatan, yang masuk dalam kondisi
emergency dan dirawat sejak tanggal 19 Agustus 2016, sampai dengan peserta yang
bersangkutan meninggal dunia,” katanya.
(faisal/sir)

B. Analisa
Klarifikasi dari pihak BPJS sangatlah tepat, karena Pasien sudah mendapatkan
fasilitas rumah sakit dan mendapat jaminan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, Sejak 8 agustus 2014 kartu pasien telah aktif dan menjadi peserta JKN-KIS
dengan kelas II, tidak hanya itu saja, keluarga disini juga terlalu banyak ganti Rumah
Sakit akhirnya Pasien mungkin capek harus bolak balik rumah sakit yang berbeda,
maka dari itu semua Rumah sakit juga sudah memberikan fasilitas yang cukup baik
kepada pasien hanya saja di Rumah Sakit EH (non-provider BPJS Kesehatan)
walaupun begitu keluarga menggunakan jaminan pribadi, sebelumnya pasien juga
dirawat satu malam di PICU RS tersebut dan 5 hari dirawat diruang inap biasa
sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Satu bulan kemudian Pasien merasakan
nafas berat dan keluarga membaa ke RS Eh karena Rekam Medis masih ada, akhirnya
dirawat di ICU namun akhirnya pasien meninggal dunia.

BAB III
ROLE PLAY

Tema : Metode Penyuluhan Kesehatan


Sub Pokok Bahasan : Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Hari/Tanggal : Rabu, 26 Oktober 2016
Tempat : Rumah Ketua RT, Desa Mojosongo
Waktu : 30 Menit

A. Media
1. Power point
2. Leafleat
3. LCD
4. Laptop

B. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

C. Sasaran
Masyarakat di wilayah lingkungan Mojosongo, Kelurahan Wijaya kota Surakarta
D. Setting Tempat
E. Kegiatan Penyuluhan

NO WAKTU KEGIATAN PENYULUH RESPON PESERTA


1 5 menit Pembukaan
a. Salam a. Membalas salam
b. Perkenalan b. Mendengarkan
c. Menjelaskan Tujuan c. Memperhatikan
d. Kontrak Waktu d. Memberi respon
e. Melakukan Apersepsi e. Memberi respon
2 30 Menit Inti Kegiatan
a. Untuk mengetahui a. Menyimak
pengertian dari JKN b. Menyimak
b. Untuk Mengetahui cara c. Menyimak
pendaftaran JKN d. Menyimak
c. Untuk Mengetahui metode e. Bertanya,
pembayaran JKN Menjawab
d. Untuk mengetahui prinsip pertanyaan
sistem JKN
e. Evaluasi Materi

3 5 menit Penutup
1. Salam Penutup a. Menjawab salam
2. Evaluasi b. Memperhatikan
/menjawab

F. Pengorganisasian
1. Winda Sopiyaningsih : Narator
2. Yonatan :
3. Yuliani Disari :
4. Yunita Estiningsih :
5. Zeni Dwi Setyowati :
6. Siska Puji Lestari :
7. Ekha Puji :
G. Materi
Terlampir

H. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Sarana yang disiapkan pagi hari sebelum acara dimulai
b. Media dipersiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan kegiatan
c. Struktur peran telah ditentukan 1 hari sebelum pelaksanaan
d. Kontrak waktu dengan Ketua RT atau masyarakat yang akan diberi
penyuluhan tentang JKN
2. Evaluasi Proses
a. Pemberi materi memberi materi pendidikan kesehatan dari awal hingga akhir
kegiatan
b. Respon masyarakat baik selama proses pemberian materi pendidikan
kesehatan
c. Kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan mahasiswa tercapai dengan baik
d. Kegiatan pendidikan kesehatan dimulai tepat pada waktu yang telah
ditentukan
e. Masyarakat mengikuti proses pendidikan kesehatan dari awal hingga akhir

3. Evaluasi Hasil
a. 90 % masyarakat hadir dalam kegiatan penyuluhan
b. 90% masyarakat mengetahui pengertian dari JKN
c. 80% masyarakat Mengetahui cara pendaftaran JKN
d. 80% masyarakat Mengetahui metode pembayaran JKN
e. 80% masyarakat Mengetahui prinsip sistem JKN
(Lampiran Materi)
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN)

A. Pengertian JKN
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme
asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) bagi seluruh rakyat
indonesia, maupun untuk warga negara asing yang bekerja paling singkat 6 (enam)
bulan di Indonesia yang pengaturannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah
membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah.

B. Cara Pendaftaran JKN


Untuk memudahkan masyarakat sebagai peserta BPJS, BPJS memberikan
pelayanan dalam melakukan pendaftaran. Dalam pendaftaran JKN dapat
dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu pendaftaran secara manual yang dapat
dilakukan secara langsung ke kantor BPJS terdekat atau dapat juga melalui
pendaftaran yang dilakukan secara online yaitu dengan mengakses melalui situs
http://bpjskesehatan.go.id/.
1) Pendaftaran secara On-Line
Untuk pendaftaran secara on-line terdapat beberapa hal yang perlu
dipersiapkan. Hal-hal yg harus dipersiapkan sebelum Pendaftaran Peserta
BPJS-Kesehatan secara Online, yaitu:
a. Kartu Tanda Penduduk
b. Kartu Keluarga
c. Kartu NPWP
d. Alamat E-mail dan nomor telpon yang bisa dihubungi
Calon Peserta mengisi isian secara lengkap (Nama, Tanggal lahir, Alamat, Email
dll). Besaran Iuran adalah sesuai dengan Kelas Perawatan yang di pilih:
- KELAS III = Rp. 25.500/Bulan
- KELAS II = Rp. 42.500/Bulan
- KELAS I = Rp. 59.500/Bulan
Setelah menyimpan Data, Sistem akan mengirimkan email pemberitahuan nomor
registrasi ke alamat email sesuai dengan yang diisikan oleh calon peserta agar e-ID
dapat digunakan/aktif, calon peserta agar melakukan pembayaran di bank.
Pembayaran Iuran harus dilakukan tidak melewati 24 jam sejak pendaftaran. Setelah
Calon Peserta melakukan pembayaran di bank, maka peserta dapat mencetak e-ID
dengan link yang terdapat pada email pemberitahuan.
2) Pendaftaran secara manual
Sedangkan untuk pendaftaran secara langsung di kantor BPJS yang perlu
dipersiapkan, yaitu:
a. Calon peserta mengisi Daftar Isian Peserta (DIP), membawa Kartu
Keluarga/Kartu Tanda Penduduk (KTP)/Paspor pas foto bewarna 3x4
sebanyak 1 lembar. Untuk anggota keluarga menunjukan Kartu
Keluarga /Surat Nikah/Akte Kelahiran.
b. Data diperoses oleh petugas BPJS Kesehatan untuk diterbitkan nomor
Virtual Account (VA) perorangan dan diserahkan ke calon peserta.
c. Calon peserta membayar uang iuran Anjungan Tunai Mandiri
(ATM)/Setor Tunai sesuai dengan nomor VA perorangan ke bank yang
telah bekerja sama.
d. Membawa bukti pembayaran untuk dicetakkan Kartu Peserta.
e. Peserta menerima kartu peserta sebagai identitas dalam mengakses
pelayanan.

C. Metode Pembayaran JKN


Sesuai Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 metode pembayaran atau iuran
dari program ini dibagi menjadi 3 jenis:
1. Iuran Jaminan Kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah
daerah dibayar oleh Pemerintah Daerah (orang miskin dan tidak mampu).
2. Iuran Jaminan Kesehatan bagi peserta Pekerja Penerima Upah (PNS,
Anggota TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai pemerintah non pegawai
negeri dan pegawai swasta) dibayar oleh Pemberi Kerja yang dipotong
langsung dari gaji bulanan yang diterimanya.
Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi:
a. Istri atau suami yang sah dari Peserta; dan
b. Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari Peserta,
dengan kriteria:
1) tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai
penghasilan sendiri,
2) dan belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25
(dua puluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal.
3. Pekerja Bukan Penerima Upah (pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja
mandiri) dan Peserta Bukan Pekerja (investor, perusahaan, penerima pensiun,
veteran, perintis kemerdekaan, janda, duda, anak yatim piatu dari veteran atau
perintis kemerdekaan) dibayar oleh Peserta yang bersangkutan.

D. Prinsip Sistem JKN


Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsip-prinsip Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) berikut:
1. Prinsip Kegotongroyongan
Gotong royong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam hidup
bermasyarakat dan juga merupakan salah satu akar dalam kebudayaan kita.
Dalam SJSN, prinsip gotong royong berarti peserta yang mampu membantu
peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat membantu yang sakit atau
yang berisiko tinggi, dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Hal ini
terwujud karena kepesertaan SJSN bersifat wajib untuk seluruh penduduk,
tanpa pandang bulu. Dengan demikian, melalui prinsip gotong royong jaminan
sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Prinsip Nirlaba
Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Sebaliknya,
tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta.
Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana amanat, sehingga hasil
pengembangannya, akan di manfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan
peserta.
3. Prinsip Keterbukaan, Kehati-hatian, Akuntabilitas, Efisiensi, dan Efektivitas.
Prinsip-prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana
yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.
4. Prinsip Portabilitas
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan
yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan atau
tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Prinsip Kepesertaan Bersifat Wajib
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga
dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat,
penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan
pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan pertama
dimulai dari pekerja di sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal
dapat menjadi peserta secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) dapat mencakup seluruh rakyat.
6. Prinsip Dana Amanat
Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badan-
badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka
mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.
7. Prinsip Hasil Pengelolaan Dana Jaminan Sosial
Dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-
besar kepentingan peserta.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
B. Rekomendasi/Saran

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Presiden No 111 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden NO 12
tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan
Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial
Nasional, Hlm.17