Anda di halaman 1dari 23

TUGAS HIDROLIKA

PRAKTIKUM III

ASPEK HIDROLIKA DALAM


BANGUNAN AIR

Dosen:
Ir. Bowo Djoko M., M. Eng

Kelas:
HIDROLIKA C

Disusun oleh:

Intan Rahmawati 3313100007


Dania Dwi Dimiati 3313100011
Mohammad Ma’ruf A. 3313100025

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2014
DAFTAR ISI

Bab 1: Pendahuluan
1.1Latar Belakang
1.2Tujuan
1.3Ruang Lingkup
Bab 2: Studi Literatur dan Metodologi
2.1 Studi Literatur
2.2 Metodologi
Bab 3: Hasil Pengamatan dan Pengukuran
Bab 4: Pembahasan
Bab 5: Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktikum lapangan ini diadakan untuk menunjang pemahaman
mahasiswa terhadap matakuliah Hidrolika yang mengenai bangunan air
seperti gorong-gorong, weir, street inlet, rumah pompa air, terjunan, siphon
dan bar screen dan mengetahui dimensinya serta dapat menghitung debit,
kecepatan dan head loss yang terjadi.
Bangunan air ada berbagai macam jenis dan fungsi sesuai
peruntukannya. Dalam ilmu hidrolika, pengetahuan mengenai berbagai
macam jenis bangunan air perlu diketahui sebab pada saat mendesain suatu
bangunan air perlu diketahui beberapa perilaku hidrolika air, oleh
karenanya sifat tersebut dapat merusak struktur suatu bangunan bila tidak
diantisipasi saat awal perencanaan. Selain itu, keberadaan bangunan ini
cukup penting dalam hal konservasi sumber daya air, dimana dapat
memulihkan air yang tercemar. Bangunan air ini terdapat baik dalam
instalasi pengolahan air limbah maupun air bersih, namun beberapa
bangunan ini juga terdapat pada saluran drainase.
Maka diperlukan pengamatan pada bangunan air yang telah ada
yang dapat dijadikan sebagai contoh struktur bangunan air yang akan
direncanakan kelak.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pengamatan bangunan ini adalah mahasiswa mampu
mengetahui aspek hidrolika bangunan air di bidang Teknik Lingkungan dan
mengenal macam-macam objek bangunan air meliputi bar screen, pintu air,
gorong-gorong, siphon, bangunan terjun, weir, dan street inlet.

1.3 Ruang Lingkup


1). Mengambil gambar foto lokasi koordinat (google earth) bangunan air.
2). Mengukur spesifikasi bangunan air tersebut.
3). Mengukur kedalaman air.
4). Menghitung debit yang mengalir (asumsi).
5). Menghitung kehilangan tekanan (berdasarkan asumsi debit tersebut).
BAB II
STUDI LITERATUR DAN METODOLOGI

2.1 Studi Literatur


a). Bar Screen
Sebenarnya bar screen bukanlah bangunan air, karena bar screen
merupakan Merupakan unit pengolahan pendahuluan fisik dalam Waste
Water Treatment Process, berbentuk batang parallel, tongkat, kawat, kawat
mesh, perforated plate dan kisi. Letak bar screen berada sebelum unit pompa
dan grit chamber, yang berfungsi menyisihkan material berukuran besar
yang dapat nantinya merusak unit-unit operasi seperti pompa dan
menghindari pencemaran badan air. Bar screen terdapat 2 jenis, yaitu
saringan kasar dan saringan halus. Saringan kasar yaitu sebuah alat yang
tersusun atas batang atau tongkat parallel dengan bukaan atau spasi antar
batang 6-150 mm yang berfungsi untuk melindungi pompa, valve dan
jaringan pipa dari kerusakan atau sumbatan. Saringan halus yaitu sebuah alat
yang berbentuk drum dengan bukaan atau spasi antar batang kurang dari 6
mm yang terbuat dari bahan tembaga atau perunggu. (Suroso, 2010)
Bar screen yang dioperasikan manual harus dibersihkan secara
periodik dengan tangan untuk menghindari adanya penyumbatan pada aliran
air buangan. Jarak antar bar screen biasanya 25 mm hingga 50 mm. Tebal
bar creen sendiri biasaya 10 mm hingga 50 mm dan lebarnya 50 mm dengan
kemiringan 30 hingga 75 derajat terhadap arah horizontal (Saefudin, 2007).
Rumus mencari head loss saat air melewati bar screen adalah :

(Anonim, 2012)
b). Pintu Air
Pintu air merupakan bangunan penunjang pada suatu bendungan
irigasi dan bendungan pengendali banjir. Pintu air sudah ada sejak jaman
dahulu,dimana jaman dahulu pintu air sangaatlah sederhana. Dengan
terjadinya revolusi industri pada waktu itu maka merupakan awal
perkembangan pintu air pada khususnya dan pada teknologi pada umumnya.
Hal ini terlihat dari berbagai macam pintu air yang digunakan dari pintu air
dengan sistem manual sampai dengan pintu air dengan sistem full otomatis.
Pintu air dari jaman dahulu sampai jaman modern ini sangatlah bermanfaat
dan tidak dapat dibayangkan kalau jaman modern ini tidak diikuti dengan
perkembangan dari penggunaan pintu air pada bendungn irigasi dan
bendungan pengendalian banjir. Pada jaman modern sekarang ini air yang
melimpah yang tidak terkendali sesulit apapun sudah dapat diatasi dengan
mudah tanpa harus memperkerjakan banyak orang. Yaitu dengan pintu air
pada bendungan. Pintu air dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan cara
pengoperasianya. Pintu air tiga macam yaitu pintu air dengan pengoperasian
secara manual, pintu air dengan pengoperasian semi otomatis dan pintu air
dengan pengoperasian full otomatis. Penggunaan pintu air secara manual
sering kita jumpai pada pengaturan irigasi pada persawahan dan aliran
dengan tekanan kecil. Untuk penggunaan pintu air semi otomatis banyak
digunakan pada bendungan yang bertekanan tinggi. Sedangkan untuk pintu
air full otomatis digunakan untuk pengedalian banjir pada bangunan
pelimpah pada suatu bendungan bertekanan tinggi (Arjianto, 2004).

c). Gorong – gorong


Gorong-gorong adalah bangunan yang dipakai untuk membawa
aliran air (saluran irigasi atau pembuang) melewati bawah jalan air lainnya
(biasanya saluran), di bawah jalan, atau jalan kereta api. Terbuat baja,
polyvinyl chlorida (PVC) atau dari beton. Gorong-gorong juga digunakan
sebagai jembatan ukuran kecil, digunakan untuk mengalirkan sungai kecil
atau sebagai bagian drainase ataupun selokan jalan (Saefudin, 2007).
Rumus mencari head loss pada bangunan ini adalah :

(Anonim, 2012)

d). Siphon
Bangunan siphon merupakan salah satu bangunan persilangan yang
dibangun untuk mengalirkan debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya
terpotong oleh lembah dengan bentang panjang atau terpotong oleh sungai.
Bangunan siphon berupa saluran tertutup untuk menyeberangkan debit
dari sisi hulu ke sisi hilir. Bangunannya berupa saluran tertutup yang
dipasang mengikuti bentuk potongan melintang sungai atau lembah,
kontruksi siphon harus dipilih pada lokasi yang panjang bentang sungai
minimum, agar biaya kontruksi hemat, serta kehilangan energinya kecil.
Bangunan siphon (berupa saluran tertutup berpenampang lingkaran atau
segi empat) dipasang di bawah dasar sungai, atau bisa juga dipasang di
atas permukaan tanah jika melintasi lembah (cekungan). (Suroso, 2010)

Dalam perencaan siphon ada beberapa hal yang harus


dipertimbangkan, antara lain:
- Siphon harus menahan gaya uplift pada saat kondisi airnya kosong
- Siphon harus dibuat pada kedalaman yang cukup di bawah dasar sungai
- Untuk mengurangi kehilangan energy maka lokasi siphon diusahakan pada
bentang sungai terpendek, serta memperkecil jumlah belokan apda
kontruksi siphon

Gambar profil memanjang shipon (Suroso, 2010)


Rumus mencari head loss pada bangunan siphon:
 Head loss karena gesekan

 Head loss karena belokan

 Head loss karena peralihan masuk dan keluar


 Head loss karena saringan (bar screen)

d). Bangunan Terjun


Bangunan terjunan adalah bangunan yang dibuat di tempat tertentu
memotong saluran, dimana aliran air setelah melewati bangunan tersebut
akan merupakan terjunan. Banguan terjun dibangun untuk mengatasi
kemiringan medan yang terlalu curam, sementara kemiringan yang
dibutuhkan oleh saluran tergolong landai. Bangunan terjun biasanya
dibangun pada daerah yang kondisi topografinya memiliki kelerengan yang
curam. Bangunan terjunan perlu dibangun pada daerah berbukit dimana
kemiringan saluran dibatasi, agar tidak terjadi suatu gerusan. Selain itu pada
saluran terbuka bangunan tersebut berfungsi untuk mengubah kemiringan
saluran yang pada awalnya cukup curam agar menjadi landai, dimana pada
keadaan tersebut kecepatan aliran akan berubah menjadi kecepatan aliran
tidak kritis. Pembangunan bangunan terjun juga memerlukan pembuatan
kolam pada bagian hilir terjunan, karena kedua bangunan ini merupakan
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dimensi kolam yang direncanakan
harus memperhitungkan energi air yang datang dari bangunan terjun, karena
itu kolam harus diperhitungkan sedemikian panjang sehingga pada akhir
kolam energi air sudah tidak ada.
Secara keseluruhan bangunan terjunan juga dapat berfungsi untuk :
1.Mengendalikan erosi pada selokan dan sungai.
2.Mengendalikan tinggi muka air pada saluran.
3.Mengendalikan kecuraman saluran alam maupun buatan.
4.Mengendalikan air yang keluar, pada spillway atau pipa.
(Saefudin, 2007).
Ada 4 bagian dari bangunan terjun, yaitu :
- Bangunan pengontrol, berada di hulu sebelum terjunan, berfungsi
untuk mencegah penurunan muka air yang berlebihan.
- Bagian pembawa, berfungsi sebagai penghubung antara elevasi
bagian atas dengan bagis bawah.
- Peredam energy, berfungsi untuk mengurangi energi yang
dikandung oleh aliran sesudah mengalami terjunan sehingga tidak
berpotensi merusak konstruksi bangunan terjun.
- Perlindungan dasar bagian hilir, berfungsi untuk melindungi dasar
dan dinding saluran dari gerusan air sesudah mengalami terjunan.
Menurut jenisnya bangunan terjun dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Bangunan terjun tegak. Bangunan ini digunakan bila beda tinggi
energi tidak lebih dari 1,5 meter.
2. Bangunan terjun miring. Bangunan ini digunakan bila beda tinggi
energi lebih dari 1,5 meter. Kemiringan bangunan ini dibuat
securam mungkin dengan perbandingan maksimum 1 : 1, agar
didapat bangunan yang efisien dari segi biaya.
(Suroso, 2010)

Bangunan terjun dapat digabung dengan bangunan-bangunan lain seperti


box, gorong-gorong dan jembatan untuk mengurangi biaya keseluruhan.

( Anonim, 2012 )
Rumus yang digunakan dalam menghitung head loss adalah
- Mencari lebar bangunan pengontrol

- Mencari head loss karena gesekan dan perubahan lebar

e). Weir (Ambang)


Terjemahan yang biasa digunakan untuk weir ialah ambang, yaitu
sekat penghalang yang dikalibrasi, dibuat melintang (tegak lurus arah aliran)
di saluran (kanal). Alat ukur primer ini sederhana, murah dan dapat dibuat
dari beragam bahan, seperti aluminum, fiberglass, pelat logam, plastik, kayu.
Jenis ambang atau sekat ini dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk
takiknya (notch), yaitu segiempat panjang, tapezium (Cipoletti), dan segitiga
(misalnya Thompson). Dapat juga dibedakan atas bentuk puncaknya, yaitu
ambang tajam (sharp crested weir), ambang bulat (ogee weir), ambang lebar
(broad crested weir), dan ambang sempit (narrow crested weir). Selain itu,
ambang bisa juga dibagi menjadi dua: ambang kontraksi (contracted weir)
dan ambang tanpa kontraksi (suppressed weir). (Arjianto, 2004).

e). Street Inlet


Street Inlet ini adalah lubang di sisi-sisi. Street inlet dan
cekungan penampangnya harus mempunyai ukuran yang memadai untuk
menerima dan menyalurkan limpasan potensial yang di hitung tanpa
menyebabkan luapan. Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan air
hujan yang ada di sepanjang jalan menuju saluran tepi jalan. Konstruksinya
harus berdaya tahan tinggi sehingga tidak terkikis dan dapat menerima
beban potensial tanpa resiko ambruk. Sesuai dengan kondisi dan
penempatan saluran serta fungsi jalan yang ada, maka pada jenis
penggunaan saluran terbuka, tidak diperlukan street inlet, karena
ambang saluran yang ada merupakan bukaan bebas.
Perlengkapanstreet inlet mempunyai ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

- Ditempatkan pada daerah yang rendah di mana limpasanair hujan menuju


ke arah tersebut.
- Jumlah street inlet harus cukup untuk dapat menangkap limpasan
air hujan pada jalan yang bersangkutan.
- Air yang masuk melalui street inlet harus dapat secepatnya menuju ke
dalam saluran
(Saefudin, 2007).

2.2 Studi Literatur


Persiapan Peralatan

Menuju lokasi

- Mengukur spesifikasi bangunan


- Mengukur kedalaman air

Menghitung debit aliran menggunakan rumus yang telah diketahui


dan kehilangan tekanan (headloss) dari debit yang telah diketahui

LAPORAN
PRAKTIKUM

1) Waktu dan Lokasi


Kegiatan pengukuran bangunan air di bidang Teknik Lingkunagbn
dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2014 pada pukul 09.00 – 15.00. Lokasi
kegiatan dilakukan di Jalan Raya ITS, daerah Jalan Arif Rahman Hakim,
daerah kali Jagir, Surabaya, dan daerah Mulyosari.
2) Jenis Penelitian
Metode penelitian meliputi pengukuran langsung di lapangan. Pengukuran
langsung di lapangan meliputi spesifikasi bangunan dan kedalaman air.
3) Alat dan bahan
 Rafia
 Meteran
 Kamera
BAB III
HASIL PENGAMATAN
 Alat dan Bahan:
1. Meteran

2. Benang koor / tali raffia

3. Kamera

 Hasil Pengamatan

No. Perlakuan Pengamatan

1. Mengambil gambar foto lokasi - Bar Screen : di rumah pompa Jalan


koordinat bangunan air. Raya ITS dekat pintu masuk PPNS.

(Sebelah kiri adalah foto lokasi


koordinat bangunan air dari
Google Earth ; Sebelah kanan
adalah foto asli bangunan air di
lokasi)
- Pintu air : di dekat pos SKK ITS arah
jalan keputih.

- Gorong-Gorong : di daerah Rumah


Sakit Haji Sukolilo.

- Siphon : mencari melalui data


sekunder.
siphon Ligung, Kab. Majalengka.

- Bangunan Terjun : mencari melalui


data sekunder. (di Mojokerto)

- Weir : di rumah pompa kali Jagir.

- Street Inlet : di SPBU Mulyosari.

2. Mengukur spesifikasi bangunan Hasil pengukuran :


air tersebut dan Mengukur
kedalaman air. - Bar Screen :
- Tebal @ bar screen : 1 cm
- Jarak antar bar screen : 4 cm
- Sisi miring : 23 cm dari muka tanah
- tinggi : 17 cm dari muka tanah
- Kedalaman air : 250 cm
- Lebar : 650 cm
- Diameter pipa besar : 90 cm
- Diameter pipa kecil : 35 cm
- Pintu Air :
- Lebar pintu air : 140 cm
- Tinggi pintu air dari muka tanah :
184 cm
- Diameter putaran pintu : 40 cm
- Panjang besi pintu : 95 cm
- Tinggi plat pintu air : 69 cm
- Tebal plat pintu air : 8 cm
- Kedalaman air : 20 cm

- Gorong-Gorong :
- Lebar gorong-gorong : 203 cm
- Tinggi gorong-gorong dari muka air
: 95 cm
- Tebal gorong-gorong : 10 cm
- Kedalaman air : 25 cm

- Siphon :
Mencari data siphon melalui data
sekunder.

- Lebar : 500 cm
- Kedalaman air : 200 cm

- Bangunan Terjun :
Mencari data bangunan terjun melalui
data sekunder.

- Lebar : 600 cm
- Kedalaman air : 250 cm

- Weir :
- Lebar : 200 cm
- Tinggi dari muka air : 400 cm
- Kedalaman air : 410 cm

- Street Inlet :
Lebar : 81 cm
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 BAR SCREEN

Kelompok kami melakukan pengamatan bar screen yang berlokasi di


rumah pompa jalan raya ITS dekat pintu masuk ppns. Bar screen disisi kanan dan
kiri rumah pompa tersebut. Berikut gambar pengamatan bar screen yang berada
pada lokasi tersebut :

Berikut data pengukuran yang kami peroleh :


- Tebal @ bar screen : 1 cm
- Jarak antar bar screen : 4 cm
- Sisi miring : 23 cm dari muka tanah
- tinggi : 17 cm dari muka tanah
- Kedalaman air : 250 cm
- Lebar : 650 cm
- Diameter pipa besar : 90 cm
- Diameter pipa kecil : 35 cm

Perhitungan debit yang mengalir (asumsi) :


Q=AxV
= b x h x (1/n)(R)2/3(S)1/2
= 6,5 x 2,5 x (1/0,03)(0,45)2/3(1/1000)1/2
= 10,058 m3/det

Perhitungan Kehilangan tekanan atau headloss (berdasarkan asumsi debit


tersebut)
hL = [(V2n2)/R2/3]L
= [(0,6120,032)/0,452/3]6,5
= 3,8 x 10-3 m
4.2 PINTU AIR

Kelompok kami melakukan pengamatan pintu air yang berlokasi di dekat


pos SKK ITS arah jalan keputih. Berikut gambar pengamatan pintu air yang
berada pada lokasi tersebut :

Berikut data pengukuran yang kami peroleh :


- Lebar pintu air : 140 cm
- Tinggi pintu air dari muka tanah : 184 cm
- Diameter putaran pintu : 40 cm
- Panjang besi pintu : 95 cm
- Tinggi plat pintu air : 69 cm
- Tebal plat pintu air : 8 cm
- Kedalaman air : 20 cm

Perhitungan debit yang mengalir (asumsi) :


Q=AxV
= b x h x (1/n)(R)2/3(S)1/2
= 1,4x0,2x(1/0,03)(0,2)2/3(1/1000)1/2
= 0,1 m3/det

Perhitungan Kehilangan tekanan atau headloss (berdasarkan asumsi debit


tersebut)
hL = [(V2n2)/R2/3]L
= [(0,3620,032)/0,22/3]1,4
= 4,78 x 10-4 m

4.3 GORONG-GORONG
Kelompok kami melakukan pengamatan gorong-gorong yang terletak di
daerah Rumah Sakit Haji Sukolilo. Gorong-gorong pada jalan ini memilki bentuk
kotak. Berikut gambar pengamatan gorong-gorong yang berada pada lokasi
tersebut :

Adapun data pengukuran yang tercatat sebagai berikut :


- Lebar gorong-gorong : 203 cm
- Tinggi gorong-gorong dari muka air : 95 cm
- Tebal gorong-gorong : 10 cm
- Kedalaman air : 25 cm

Perhitungan debit yang mengalir (asumsi) :


Q=AxV
= b x h x (1/n)(R)2/3(S)1/2
=2,03x0,25x(1/0,03)(1,015)2/3(1/1000)1/2
= 0,57 m3/det

Perhitungan Kehilangan tekanan atau headloss (berdasarkan asumsi debit


tersebut) :
hL = [(V2n2)/R2/3]L
= [(1,06420,032)/1,0152/3]2,03
= 3,06 x 10-3 m

4.4 SIPHON

Kelompok kami mendapat data mengenai siphon dari data sekunder yaitu
literatur internet berlokasi di Ligung, Kab. Majalengka. Bangunan siphon
merupakan salah satu bangunan persilangan yang dibangun untuk mengalirkan
debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya terpotong oleh lembah dengan
bentang panjang atau terpotong oleh sungai. Bangunan siphon berupa saluran
tertutup untuk menyeberangkan debit dari sisi hulu ke sisi hilir. Bangunan siphon
(berupa saluran tertutup berpenampang lingkaran atau segi empat) dipasang di
bawah dasar sungai, atau bisa juga dipasang di atas permukaan tanah jika
melintasi lembah (cekungan).

Gambar profil memanjang shipon (Suroso, 2010)

Berikut data pengukuran yang kami peroleh :


- Lebar : 500 cm
- Kedalaman air : 200 cm

Perhitungan debit yang mengalir (asumsi) :


Q=AxV
= b x h x (1/n)(R)2/3(S)1/2
= 5x2x(1/0,03)(0,9)2/3(1/1000)1/2
= 9,82 m3/det

Perhitungan Kehilangan tekanan atau headloss (berdasarkan asumsi debit


tersebut) :
hL = [(V2n2)/R2/3]L
= [(0,9820,032)/0,452/3]6,5
= 9,6 x 10-3 m
4.5 BANGUNAN TERJUN

Kelompok kami mendapat data mengenai bangunan terjun dari data


sekunder yaitu literatur internet yang berlokasi di Mojokerto. Bangunan terjun
dibangun untuk mengatasi kemiringan medan yang terlalu curam, sementara
kemiringan yang dibutuhkan oleh saluran tergolong landai. Bangunan terjun
biasanya dibangun pada daerah yang kondisi topografinya memiliki kelerengan
yang curam.

Berikut data pengukuran yang kami peroleh :

- Lebar : 600 cm
- Kedalaman air : 250 cm

Perhitungan debit yang mengalir (asumsi) :


Q=AxV
= b x h x (1/n)(R)2/3(S)1/2
= 6x2,5x(1/0,03)(0,9)2/3(2/1000)1/2
= 14,73 m3/det

Perhitungan Kehilangan tekanan atau headloss (berdasarkan asumsi debit


tersebut) :
hL = [(V2n2)/R2/3]L
= [(1,3820,032)/0,452/3]6,5
= 1,38 x 10-2 m

4.6 WEIR (AMBANG)

Kelompok kami melakukan pengamatan weir di rumah pompa kali Jagir,


Surabaya. Weir (ambang) yaitu sekat penghalang yang dikalibrasi, dibuat
melintang (tegak lurus arah aliran) di saluran (kanal). Alat ukur primer ini
sederhana, murah dan dapat dibuat dari beragam bahan, seperti aluminum,
fiberglass, pelat logam, plastik, kayu. Jenis ambang atau sekat ini dapat
diklasifikasikan berdasarkan bentuk takiknya (notch), yaitu segiempat panjang,
tapezium (Cipoletti), dan segitiga (misalnya Thompson). Dapat juga dibedakan
atas bentuk puncaknya, yaitu ambang tajam (sharp crested weir), ambang bulat
(ogee weir), ambang lebar (broad crested weir), dan ambang sempit (narrow
crested weir). Selain itu, ambang bisa juga dibagi menjadi dua: ambang kontraksi
(contracted weir) dan ambang tanpa kontraksi (suppressed weir).

Berikut data pengukuran yang kami peroleh :

- Lebar : 200 cm
- Tinggi dari muka air : 400 cm
- Kedalaman air : 410 cm

Perhitungan debit yang mengalir (asumsi) :


Q=AxV
= b x h x (1/n)(R)2/3(S)1/2
= 2x4,1x(1/0,03)(0,9)2/3(1/1000)1/2
= 8,05 m3/det

Perhitungan Kehilangan tekanan atau headloss (berdasarkan asumsi debit


tersebut) :
hL = [(V2n2)/R2/3]L
= [(0,9820,032)/0,452/3]6,5
= 9,6 x 10-3 m

4.7 STREET INLET

Kelompok kami melakukan pengamatan street inlet di SPBU


Mulyosari. Street Inlet ini adalah lubang di sisi -sisi jalan yang
berfungsi untuk m e n a m p u n g d a n m e n ya l u r k a n l i m p a s a n a i r h u j a n
y a n g b e r a d a d i sepanjang jalan menuju ke dalam saluran. Sesuai dengan
kondisi dan penempatan saluran serta fungsi jalan yang ada, maka pada
jenis penggunaan saluran terbuka, tidak diperlukan street inlet, karena
ambang saluran yang ada merupakan bukaan bebas.

Berikut data pengukuran yang kami peroleh :

- Lebar pintu air : 81 cm

Perhitungan debit yang mengalir (asumsi) :


Q=AxV
= b x h x (1/n)(R)2/3(S)1/2
= 0,81x2,5x(1/0,03)(0,9)2/3(1/1000)1/2
= 1,98 m3/det

Perhitungan Kehilangan tekanan atau headloss (berdasarkan asumsi debit


tersebut) :
hL = [(V2n2)/R2/3]L
= [(0,9820,032)/0,452/3]0,81
= 9,6 x 10-3 m
BAB V
KESIMPULAN

Pada percobaan kali ini dapat disimpulkan bahwa :

- Pengenalan terhadap bentuk bangunan dalam ilmu hidraulika perlu diketahui bagi para
mahasiswa agar mengetahui detai-detail komponen yang ada pada bangunan air.
- Beberapa objek bangunan air yaitu bar screen, pintu air, gorong-gorong, siphon, bangunan
terjun, weir, dan street inlet.
- Bangunan air memiliki jenis dan fungsi yang berbeda-beda pada setiap bentuk bangunan.
Selain itu bentuk dan ukuran suatu bangunan ditentukan sesuai kebutuhan yang
diperlukan.
- Dari praktikum yang telah dilakukan, kita dapat menghitung besar head loss yang terjadi
pada setiap bangunan air, dari literature yang kami dapat.
\
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Perencanaan Bangunan Air. http://www.ilmutekniksipil.com/bangunan-


air/perencanaan-bangunan-pelengkap diakses pada tanggal 1 November 2014.
Saefudin, Aep. 2007. Bioremediasi di Instalasi Pengolahan Air Limbah di Bojongsoang.
Bandung. Institut Teknologi Bandung.
Suroso, Agus. 2010. Irigasi dan Bangunan Air. http://pksm.mercubuana.ac.id/new/learning/
Files_modul/11026-12-217834407103.doc diakses pada 1 November 2014.
Arjianto, Agung. 2004. Rancang Bangun Model Mekanisme Buka-Tutup Pintu Air Otomatis.
Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta.