Anda di halaman 1dari 3

Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan

yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan


hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud
menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide
pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan
mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.[1].

Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda
pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis
hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta .[2] Selain
itu, berbeda dengan teorema, pernyataan teori umumnya hanya diterima secara "sementara" dan
bukan merupakan pernyataan akhir yang konklusif. Hal ini mengindikasikan bahwa teori
berasal dari penarikan kesimpulan yang memiliki potensi kesalahan, berbeda dengan penarikan
kesimpulan pada pembuktian matematika.

Teori merpakan suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan variabel yang berkaitan satu
sama yang lain secara sistematis dan telah tergeneralisasikan, sehingga dapat menjelaskan dan
memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta tertentu) Emory Cee.

Model adalah rencana, representasi, atau deskripsi yang menjelaskan suatu objek, sistem, atau
konsep, yang serngkali berupa penyederhanaan atau realitasi. Bentuknya dapat berupa model
fisik (maket, bentuk prototipe), model citra (gambar rancangan, citra komputer), atau rumusan
matematis.

Contoh Teori

Teori Poros

Pada dasarnya pandangan ini mnekankan peranan transportasi dalam mempengaruhi struktur
keruangan kota. Ide ini pertama kali di kemukakan oleh Bab Cook (1932) sebagai suatu ide
penyempurnaan ide konsenstris. Teori ini dikenal sebagai teori poros. Dalam teori konsenstris
terdapat asumsi bahwa mobilitas fungsi-fungsi penduduk mempunyai intensitas yang sama
dalam konfigurasi relief kota yang seragam. Oleh karena itu pada kenyataanya terdapat faktor
utama yang mempengaruhi mobilitas ini, maka dalam beberapa hal mesti aka nterjadi distorsi
model. Faktor utama yang mempengaruhi mobilitas adalah poros transportasi yang
menghubungkan CBD dengan daerah bagian luarnya. Keberadaan poros transportasi menurut
Bab Cook akan mengakibatkan distorsi pola konsentris, karena sepanjang rute transportasi
tersebut berasosiasi dengan mobilitas yang tinggi. Daerah yang di lalui transportasi akan
mempunyai perkembangan fisik yang berbeda dengan daerah-daerah jalur transportasi ini.
Akibat keruangan yang timbul adalah suatu bentuk sebaran keruangan yang disebut “Star –
Shaped Pattern atau oktopus – Light Pattern”. Dalam hal ini aksesibilitas diartikan dalam
perbandingan antara waktu dan biaya dalam hubunganya dalam transportasi yang ada.

Perkembangan zona-zona yang ada pada daerah sepanjang poros transportasi akan terlihat lebih
besar di banding dengan daerah-daerah yang terleltak di antaranya (Interstitial Areas).
Perkembangan sepanjang poros di batasi oleh persaingan dengan daerah yang lebih dekat
dengan CBD walau yang tersebut kedua ini tidak dilayani oleh fasilitas transport yang cepat.
Dengan kata lain daerah yang tidak dilayani oleh fasilitas transport yang cepat ini dapat bersaing
dengan daerah yang terlayani fasilitas transport dalam “Time Cost” karena jarak ke pusat lebih
kecil. Dalam gambar di atas untuk lokasi L dan M akan mempunyai tipe penggunaan yang sama
walau jarak CBD berlainan, namun dalam hal Time Cost menurut Bab Cook dapat sama. Lokasi
L walau jaraknya lebih jauh dari M ke CBD, hanya memerlukan “Time Cost” yang sama dengan
lokasi M karena di tunjang oleh fasilitas transportasi. Sementara itu, lokasi M juga memerlukan
“Time Cost” yang sama dengan lokasi L walau lokasinya lebih cepat ke CBD karena
transportasinya minimal. Jadi dalam hal “Time Cost” nilai aksesibilitas M dan L dianggap sama
ke CBD. Walau teori proses (Oksial Theory) ini hanya menambah sumbangan yang kecil
trhadap teori konsentris, namun ide pertama kali, untuk menyoroti dampak transportasi
terhadap lahan serta perhtungan “time Cost” nya patut mendapat penghargaan dan pujian

Teori Ukuran Kota

Dalam mengemukakan teorinya Burgesst banyak menggunakan istilah “larga”, “grade”,


“Largest” untuk sesuatu kota. Namun dia tidak mengemukakan apa yang dimaksudkan dengan
istilah itu. Teori konsentris tersebut dianggap cocok dengan kata CHICAGO, khususnya waktu
kota itu masih kecil. Namun setelah kota ini berkembang, dengan cepat dan besar, konsepnya
kurang sesuai lagi. Mestinya, apabila konsepnya benar maka struktur keruangan yang
dikemukakan masih dapat dilihat dengan jelas di kota-kota metropolitan, maupun pada kota-
kota lain maupun pada kelas yang berbeda-beda. Urutan-urutan persebaran keruangan kota dari
klaster kecil sampe pada tingkat metropolitan akan makin jelas stuktur konsentris ini. Pada kota-
ota terkecil belum ada diferensiasi penggunaan lahan pada kelas tersebut zona lingkaran
permukiman telah nampak mengelili daerah inti yang masih bercampur baur, tetapi sebagian
besar “resindentian”. Pada kelas berikutnya di tandai oleh kristalisasi kegiatan “Retailling”
pada daerah inti dan mulai terjadi inflasi kelingkaran permukiman dan seterusnya. Beberapa
hal di atas semata-mata merupakan ciri-ciri kelas kota ditinjau dari ukuran kota/besarnya kota
dan bukanya ciri-ciri proses pertumbuhan. Sementara itu sarjana lain, mulai menyoroti masalah
tersebut, diataranya adalah Taylor (1949) yang secara khusus menyoroti kota-kota berdasarkan
pertumbuhanya dan ternyata hasilnya jauh beda dengan teori konsesntris dari pada suatu kota.

Contoh Model