Anda di halaman 1dari 6

Politeknik Negeri Semarang Percobaan 09 Nama : Rizky Ahmed Hakeem

Jurusan: Teknik Elektro Kelas : LT-1A


JEMBATAN
Prodi : D3–Listrik WHEATSTONE NIM : 3.31.16.0.22
Makul : Praktikum Listrik Dosen : Djodi Antono, B.Tech,
Dasar M.Eng.

I. Dasar Teori
Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie
pada 1833 dan meningkat kemudian dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada
tahun 1843. Ini digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui hambatan listrik
dengan menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan, satu kaki yang mencakup
komponen diketahui kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer.Jembatan Wheatstone
adalah suatu alat pengukur, alat ini dipergunakan untuk memperoleh ketelitian dalam
melaksanakan pengukuran terhadap suatu tahanan yang nilainya relatif kecil sekali
umpamanya saja suatu kebocoran dari kabel tanah/ kartsluiting dan
sebagainya. Jembatan Wheatstone adalah alat yang paling umum digunakan untuk
pengukuran tahanan yang teliti dalam daerah 1 sampai 100.000 Ω. Jembatan Wheatstone
terdiri dari tahanan R1, R2, R3, dimana tahanan tersebut merupakan tahanan yang
diketahui nilainya dengan teliti dan dapat diatur.
Prinsip kerja jembatan wheatstone banyak digunakan dalam alat-alat ukur, misalnya
untuk mengukur tahanan yang tidak diketahui nilai resistansinya, pengukuran ini
berdasarkan pada sifat jembatan wheatstone yang dapat dibuat seimbang.
Metode Jembatan Wheatstone adalah susunan komponen-komponen elektronika yang
berupa resistor dan catu daya seperti tampak pada gambar berikut:

Gambar 9.0 Rangkaian jembatan Wheatstone


dengan Galvanometer

Hasil kali antara hambatan hambatan


berhadapan yang satu akan sama dengan hasil
kai hambatan hambatan berhadapan lainnya
jika beda potensial antara c dan d bernilai nol.
II. Rangkaian Pecobaan

Gambar 9.2 Jembatan Wheatstone dengan Galvanometer

Gambar 9.3 Jembatan Wheatstone dengan Lampu


Gambar 9.4 Jembatan Wheatstone dengan satu resistor tidak diketahui nilainya

III. Langkah Percobaan


1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 9.1 , dengan posisi potensiometer pada
kedudukan di tengah.
2. On-kan catu daya dan atur tegangan csumber sebesar 6 volt.
3. Atur kedudukan potensiometer sampai galvanometer tepat di tengah skala.
4. Off-kan catu daya dan ukur satu persatu nilai resistansi resistor dengan ohmmeter.
Catat hasil pengukuran pada tabel 9.1.
5. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 9.2 , dengan posisi potensiometer pada
kedudukan di tengah.
6. On-kan catu daya dan atur tegangan csumber sebesar 6 volt.
7. Atur kedudukan potensiometer sampai galvanometer tepat di tengah skala.
8. Off-kan catu daya dan ukur satu persatu nilai resistansi resistor dengan ohmmeter.
Catat hasil pengukuran pada tabel 9.2.
9. Lakukan percobaan seperti pada gambar rangkaian 9.3 ,catat hasil percobaan pada
tabel 9.3
IV. Hasil Percobaan

Tabel 9.1 dengan Galvanometer yang memiliki resistansi 5 kΩ


R1 R2 R3 R4 R1 × R4 = R2 × R3
(Ω) (Ω) (Ω) (Ω) (Ω)

10 10 400 400 4000 = 4000


(seimbang)
Tabel 9.2 dengan Lampu DC
R1 R2 R3 R4 R1 × R4 = R2 × R3
(Ω) (Ω) (Ω) (Ω) (Ω)

9,8 9,9 14,5 14,5 14,21 = 14,35


(Tidak Seimbang)

Tabel 9.1 dengan Galvanometer yang memiliki resistansi 5 kΩ


R1 R2 R3 R4 𝑅10 × 𝑅11
(Ω) (Ω) (Ω) (Ω) 𝑅𝑥 =
𝑅12
(Ω)
10 10 400 400 1300

V. Pembahasan Hasil Percobaan

1. Dari tabel 9.1 diatas dapat kita ketahui bahwa hasil kali anatara dua resistor yang
bersilangan tempat sama dengan hasil kali dua resistor yang bersilangan tempat
sebelahnya. Selain itu jarum penunjuk pada galvanometer tersebut menunjuk pada
angka nol. Hal itu membuktikan bahwa tidak ada arus yang mengalir pada titik
tengah dari jembatan wheatstone atau dengan kata lain bahwa kedua bagian
jembatan tersebut memiliki beban yang seimbang antara satu bagian dengan
bagian lainnya
2. Dari tabel 9.2 diatas dapat kita ketahui bahwa ada perbedaan nilai resistansi
sedikit antara satu bagian dengan bagian lainnya yang seharusnya dalam jembatan
wheatstone tersebut memiliki nilai yang sama sehingga tidak ada arus yang
mengalir pada titik tengah jembatana wheatstone tersebut. Apabila ada perbedaan
nilai resistansi maka aka nada arus yang mengalir pada tititk tengah jembatan
wheatstone tersebut. Selain itu lampu pada jembatan wheatstone itu menjadi
padam karena beban dari dua bagian hampir sama atau seimbang.
Selain itu perbedaan nilai tersebut dapat terjadi dikarenakan beberapa hal yakni:
 Adanya toleransi pada resistor yang mengakibatkan nilai resistor tidak
presisi seperti yang tertera pada gelang warna.
 Kesalahan alat ukur
 Kesalahan pengukuran
 Kesalahan pembacaan alat ukur
 Tegangan sumber yang tidak presisi sesuai dengan gambar rangkaian.

3. Dari tabel 9.3, diatas dapat kita ketahui bahwa nilai Rx dapat dicari dengan
membagi bagian lain dari resistor tersebut dengan resistor yang bersilangan
tempat dengan resistor Rx. Hal itu dapat dilakukan dikarenakan jembatan
wheatstone tersebut memiliki nilai yang seimbang untuk resistansi dari kedua
bagian tersebut. Sehingga kita dapat mencari besarnya resistor tanpa
menggunakan alat ukur hanya menggunakan jembatan Wheatstone. Selain itu
perhitungan tersebut dapat kita lakukan karena galvanometer menunjuk pada
angka nol atau dengan kata lain memiliki nilai resistansi yang sama antar bagian
jembatan wheatstone.

VI. Menjawab Pertanyaan


1. Terangkan mengapa lampu pada percobaan gambar rangkaian 9.2 lampu padam ?
Buktikan dengan perhitungan!
Jawab:
Lampu pada rangkaian 9.2 menjadi pada karena nilai resistansi antar bagian
pada jembatan wheatstone hampir sama (seimbang) atau sangat kecil sekali
sehinnga lampu tersebut menjadi padam. Selain itu hal itu dapat dibuktikan
melalui perhitungan yakni:
𝑅5 × 𝑅8 = 𝑅6 × 𝑅7

9,8 × 14,5 = 9,9 × 14,5

14,21 = 14,35

Terjadi perbedaan sekitar 0,14 ohm, nilai yang sangat kecil sekali supaya lampu
tersebut dapat menyala

2. Pada percobaan rangkaian 9.1 sesuaikah perbandingan R1: R2 =R3 : R4?


Jawab:
Dari rangkaian 9.1 serta tabel 9.1 yang memiliki perhitungan:
𝑅1 × 𝑅4 = 𝑅2 × 𝑅3

10 × 400 = 10 × 400

4000 = 4000

Dengan mengubahnya menjadi:

𝑅1 ∶ 𝑅2 = 𝑅3 ∶ 𝑅4

10 × 10 = 400 × 400

1=1

Memiliki nilai yang sama walaupun menggunakan rumus yang berbeda. Jadi
perbandingan R1: R2 =R3 : R4 tersebut sesuai dengan gambar rangkaian 9.1.
VII. Kesimpulan
1. Jembatan Wheatstone merupakan suatu alat ukur yang berguna untuk mengukur
besarnya suatu nilai resistansi sebuah resistor.
2. Jembatan Wheatstone memiliki prinsip yakni hasil kali anatara dua resistor yang
bersilangan tempat sama dengan hasil kali dua resistor yang bersilangan tempat
sebelahnya.
3. Apabila nilai resistansi antar bagian sama atau seimbang maka titik tengah pada
Jembatan Wheatstone tersebut tidak memiliki resistansi dan arus.

VIII. Daftar Pustaka


https://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Wheatstone
https://blogmateriperkuliahan.blogspot.com/2016/11/makalah-jembatan-
wheatstone.html