Anda di halaman 1dari 13

Politeknik Negeri Semarang Percobaan 08 Nama : Rizky Ahmed Hakeem

Jurusan: Teknik Elektro Kelas : LT-1A


DAYA SERI DAN
Prodi : D3–Listrik PARALEL NIM : 3.31.16.0.22
Makul : Praktikum Listrik Dosen : Djodi Antono, B.Tech,
Dasar M.Eng.

I. Dasar Teori
Daya Listrik atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Electrical Power adalah
jumlah energi yang diserap atau dihasilkan dalam sebuah sirkuit/rangkaian. Sumber
Energi seperti Tegangan listrik akan menghasilkan daya listrik sedangkan beban yang
terhubung dengannya akan menyerap daya listrik tersebut. Dengan kata lain, Daya listrik
adalah tingkat konsumsi energi dalam sebuah sirkuit atau rangkaian listrik.
Nilai-nilai dari tahanan yang akan digunakan dalam rangkaian listrik dan elektronika
yang harus diketahui adalah nilai tahanan dan daya dari tahanan tersebut. Kedua nilai ini
harus diketahui sebelum digunakan karena arus yang mengalir melalui tahanan akan
menghasilkan yang kemudian disebar ( Daya Dispasi).
Daya dari tahanan harus lebih besar yang timbul dalam tahanan berupa panas.
Rating day dari tahanan dapat dihitung sebagai berikut:
𝑃 = 𝑉 × 𝐼 (𝑊𝑎𝑡𝑡)
𝑃 = 𝐼 2 𝑅 (𝑊𝑎𝑡𝑡)
𝑉2
𝑃= (𝑊𝑎𝑡𝑡)
𝑅

II. Rangkaian Pecobaan

Gambar 8.1 Pengukuran Daya DC


Gambar 8.2 Pengukuran Daya DC pada resistor terhubung seri

Gambar 8.3 Pengukuran Daya DC pada resistor terhubung paralel


III. Langkah Percobaan
1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 8.1
2. Onkan catu daya dan atur tegangan catu daya selangkah demi selangkah dari 2
volt sampai dengan 12 volt. Pada setiap langkah ukur tegangan VL dan arus RL
,catat hasil pengukuran pada tabel 8.1
3. Offkan catu daya dan ukur resistansi resistor dengan multimeter dan hitung daya
pada resistor tersebut
4. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 8.2
5. Onkan catu daya dan atur tegangan catu daya selangkah demi selangkah dari 2
volt sampai dengan 12 volt. Pada setiap langkah ukur tegangan dan arus pada R1
dan R2 ,catat hasil pengukuran pada tabel 8.2
6. Offkan catu daya dan ukur resistansi resistor dengan multimeter dan hitung daya
pada resistor tersebut
7. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 8.3
8. Onkan catu daya dan atur tegangan catu daya selangkah demi selangkah dari 2
volt sampai dengan 12 volt. Pada setiap langkah ukur tegangan dan arus pada R1
dan R2 ,catat hasil pengukuran pada tabel 8.3
9. Offkan catu daya dan ukur resistansi resistor dengan multimeter dan hitung daya
pada resistor tersebut
IV. Hasil Percobaan

Tabel 8.1 dengan RL = 220 ohm


Catu daya 𝑉1 𝐼𝑅𝐿 𝑃𝑅𝐿 R Diukur 𝐼2𝑥
(V) (V) ( mA) ( Watt) (Ω) R Diukur
( Watt )
2 2 8,5 0,017 224 0,016

4 4 16,7 0,066 224 0,063


6 5,9 26 0,15 224 0,15

8 7,9 34,5 0,27 224 0,27

10 9,8 43,2 0,42 224 0,42


12 11,9 53 0,67 224 0,63
Tabel 8.2 dengan R1 = 47 ohm dan R2 = 100 ohm
Catu daya 𝑉1 𝑉2 I 𝑃𝑅1 𝑃𝑅2 R Diukur 𝐼2𝑥
(V) (V) (V) ( mA) ( Watt) ( Watt) (Ω) R Diukur
( Watt )
2 0,6 1,33 12,8 0,007 0,02 148 0,024

4 1,3 2,7 26,3 0,035 0,07 148 0,104

6 1,8 4,2 39,7 0,071 0,17 148 0,233

8 2,5 5,5 53,12 0,13 0,29 148 0,418

10 3,1 6,9 69,5 0,22 0,48 148 0,714

12 3,9 8,1 80 0,31 0,65 148 0,950

Tabel 8.3 dengan R1 = 47 ohm dan R2 = 100 ohm


Catu daya 𝑉1 𝑉2 I 𝑃𝑅1 𝑃𝑅2 R Diukur 𝐼2𝑥
(V) (V) (V) ( mA) ( Watt) ( Watt) (Ω) R Diukur
( Watt )

2 2 2 55,4 0,07 0,035 32 0,098

4 4 4 113 0,307 0,14 32 0,408

6 6 6 170 0,69 0,33 32 0,92

8 8 8 250 0,34 0,64 32 2

10 10 10 320 2,17 1,023 32 3,27

12 12 12 375 3,06 1,43 32 4,5


V. Pembahasan Hasil Percobaan

1. Dari tabel 8.1 diatas dapat kita ketahui bahwa daya yang dihitung melalui rumus
𝑃 = 𝑉 × 𝐼 (𝑊𝑎𝑡𝑡) maupun dengan rumus 𝑃 = 𝐼 2 𝑅 (𝑊𝑎𝑡𝑡) memiliki nilai yang
hampir sama. Contohnya:
 Untuk V1 = 2 Volt , I = 0,008 A dan R = 224 Ω
𝑃 = 𝑉 × 𝐼 = 2 × 0,008 = 0,016 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0082 × 224 = 0,014 𝑊𝑎𝑡𝑡
 Untuk V1 = 5,9 Volt , I = 0,026 A dan R = 224 Ω
𝑃 = 𝑉 × 𝐼 = 5,9 × 0,026 = 0,153 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0262 × 224 = 0,151 𝑊𝑎𝑡𝑡
 Untuk V1 = 9,8 Volt , I = 0,043 A dan R = 224 Ω
𝑃 = 𝑉 × 𝐼 = 9,8 × 0,043 = 0,421 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0432 × 224 = 0,414 𝑊𝑎𝑡𝑡
Dari ketiga contoh diatas dapat kita ketahui ada sedikit perbedaan sedikit
antara dua rumus tersebut. Hal itu dikarenakan beberapa hal yakni:
 Adanya toleransi pada resistor yang mengakibatkan nilai resistor tidak
presisi seperti yang tertera pada gelang warna.
 Kesalahan pengukuran
 Kesalahan pembacaan alat ukur
 Tegangan sumber yang tidak presisi sesuai dengan gambar rangkaian.
Selain itu daya yang terdapat pada gambar rangkaian 8.1 hanya ada satu nilai
daya yakni nilai daya pada RL saja tidak ada lainnya.

2. Dari tabel 8.2 diatas dapat kita ketahui bahwa rangkaian tersebut merupakan
rangkaian seri yang memiliki tegangan yang berbeda pada setiap resistornya daya
yang dihitung melalui rumus 𝑃 = 𝑉 × 𝐼 (𝑊𝑎𝑡𝑡) maupun dengan rumus 𝑃 =
𝐼 2 𝑅 (𝑊𝑎𝑡𝑡) memiliki nilai yang hampir sama. Contohnya:
 Untuk V1 = 0,6 Volt ,V2= 1,33 Volt, I = 0,012 A dan R = 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 0,6 × 0,012 = 0,007 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 1,33 × 0,012 = 0,015 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,007 + 0,015 = 0,022 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0122 × 148 = 0,0213 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 1,8 Volt ,V2 = 4,2 Volt, I = 0,039 A dan R = 148 Ω


𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 1,8 × 0,039 = 0,07 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 4,2 × 0,039 = 0,16 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,07 + 0,16 = 0,23 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0392 × 148 = 0,225 𝑊𝑎𝑡𝑡
 Untuk V1 = 3,1 Volt ,V2 = 6,9 Volt, I = 0,069 A dan R = 148 Ω
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 3,1 × 0,069 = 0,21 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 6,9 × 0,069 = 0,47 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,21 + 0,47 = 0,68 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0692 × 148 = 0,70 𝑊𝑎𝑡𝑡
Dari ketiga contoh contoh diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa rangkaian
tersebut merupakan rangkaian seri dimana kedua jumlahan kedua daya resistor
tersebut sama dengan daya total yang ada dalam rangkaian tersebut. Namun ada
sedikit perbedaan sedikit antara dua rumus tersebut. Hal itu dikarenakan beberapa
hal yakni:
 Adanya toleransi pada resistor yang mengakibatkan nilai resistor tidak
presisi seperti yang tertera pada gelang warna.
 Kesalahan pengukuran
 Kesalahan pembacaan alat ukur
 Tegangan sumber yang tidak presisi sesuai dengan gambar rangkaian.

3. Dari tabel 8.3, diatas dapat kita ketahui bahwa rangkaian tersebut merupakan
rangkaian parallel yang memiliki nilai teganganan yang sama selain itu untuk
daya yang dihitung melalui rumus 𝑃 = 𝑉 × 𝐼 (𝑊𝑎𝑡𝑡) maupun dengan rumus 𝑃 =
𝐼 2 𝑅 (𝑊𝑎𝑡𝑡) memiliki nilai yang hampir sama. Contohnya:
 Untuk V1 = 2 Volt ,V2= 2 Volt, I = 0,055 A dan R = 32 Ω, R1 = 48 Ω dan
R2 = 100 Ω
𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,055 = 0,037 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,055 = 0,017 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 2 × 0,114 = 0,074 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 2 × 0,017 = 0,034 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,074 + 0.034 = 0,108 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0552 × 32 = 0,096 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 4 Volt ,V2=4 Volt, I = 0,113 A dan R = 32 Ω, R1 = 48 Ω dan


R2 = 100 Ω
𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,113 = 0,076 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,133 = 0,054 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 4 × 0,076 = 0,304 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 4 × 0,054 = 0,216 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,304 + 0216 = 0,520 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,1132 × 32 = 0,408 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 6 Volt ,V2=6 Volt, I = 0,170 A dan R = 32 Ω, R1 = 48 Ω dan


R2 = 100 Ω
𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,170 = 0,114 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,170 = 0,055 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 6 × 0,114 = 0,684 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 6 × 0,055 = 0,33 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,684 + 0,33 = 0,984𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,172 × 32 = 0,924 𝑊𝑎𝑡𝑡
Dari ketiga contoh contoh diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa rangkaian
tersebut merupakan rangkaian paralel dimana kedua jumlahan kedua daya resistor
tersebut sama dengan daya total yang ada dalam rangkaian tersebut. Namun ada
sedikit perbedaan sedikit antara dua rumus tersebut. Hal itu dikarenakan beberapa
hal yakni:
 Adanya toleransi pada resistor yang mengakibatkan nilai resistor tidak
presisi seperti yang tertera pada gelang warna.
 Kesalahan pengukuran
 Kesalahan pembacaan alat ukur
 Tegangan sumber yang tidak presisi sesuai dengan gambar rangkaian.
VI. Menjawab Pertanyaan
1. Tentukan masing-masing daya pada rangkaian 8.2 dan 8.3 serta hubungannya?
Jawab:
a) Rangkaian 8.2 R1 = 48 ohm , R2 = 100 ohm dan Rtot = 148 ohm
 Untuk V1 = 0,6 Volt ,V2= 1,33 Volt, dan I = 0,012 A
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 0,6 × 0,012 = 0,007 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 1,33 × 0,012 = 0,015 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,007 + 0,015 = 0,022 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0122 × 148 = 0,0213 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 1,3 Volt ,V2= 2,7 Volt, dan I = 0,026 A


𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 1,3 × 0,026 = 0,033 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 2,7 × 0,026 = 0,070 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,033 + 0,070 = 0,103 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0262 × 148 = 0,100 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 1,8 Volt ,V2 = 4,2 Volt, dan I = 0,039 A


𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 1,8 × 0,039 = 0,07 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 4,2 × 0,039 = 0,16 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,07 + 0,16 = 0,23 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0392 × 148 = 0,225 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 2,5 Volt ,V2 = 5,5 Volt, dan I = 0,053 A


𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 2,5 × 0,053 = 0,132 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 5,5 × 0,053 = 0,291 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,132 + 0,291 = 0,423 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0532 × 148 = 0,415 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 3,1 Volt ,V2 = 6,9 Volt, dan I = 0,069 A


𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 3,1 × 0,069 = 0,21 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 6,9 × 0,069 = 0,47 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,21 + 0,47 = 0,68 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0692 × 148 = 0,70 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 3.9 Volt ,V2 = 8,1 Volt, dan I = 0,08 A


𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼 = 3,9 × 0,08 = 0,312 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼 = 8,1 × 0,08 = 0,648 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,312 + 0,648 = 0,96 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,082 × 148 = 0,947 𝑊𝑎𝑡𝑡

b) Rangkaian 8.3 R1 = 48 ohm , R2 = 100 ohm dan Rtot = 32 ohm, Hubungan


Paralel
 Untuk V1 = 2 Volt ,V2 = 2 Volt, dan I = 0,055 A
𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,055 = 0,037 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,055 = 0,017 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 2 × 0,114 = 0,074 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 2 × 0,017 = 0,034 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,074 + 0.034 = 0,108 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,0552 × 32 = 0,096 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 4 Volt ,V2 = 4 Volt, dan I = 0,113 A


𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,113 = 0,076 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,133 = 0,054 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 4 × 0,076 = 0,304 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 4 × 0,054 = 0,216 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,304 + 0216 = 0,520 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,1132 × 32 = 0,408 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 6 Volt ,V2 = 6 Volt, dan I = 0,170 A


𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,170 = 0,114 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,170 = 0,055 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 6 × 0,114 = 0,684 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 6 × 0,055 = 0,33 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 0,684 + 0,33 = 0,984𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,172 × 32 = 0,924 𝑊𝑎𝑡𝑡
 Untuk V1 = 8 Volt ,V2 = 8 Volt, dan I = 0,25 A
𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,25 = 0,168 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,25 = 0,081 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 8 × 0,168 = 1,344 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 8 × 0,081 = 0,648 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 1,344 + 0,648 = 1,992 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,252 × 32 = 2 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 10 Volt ,V2 = 10 Volt, dan I = 0,32 A


𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,32 = 0,216 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,32 = 0,103 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 10 × 0,216 = 2,16 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 10 × 0,103 = 1,03 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 2,16 + 1,03 = 3,19 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,322 × 32 = 3,27 𝑊𝑎𝑡𝑡

 Untuk V1 = 12 Volt ,V2 = 12 Volt, dan I = 0,37 A


𝑅2 100
𝐼1 = ×𝐼 = × 0,37 = 0,25 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑅1 48
𝐼2 = ×𝐼 = × 0,37 = 0,12 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒
𝑅1 + 𝑅2 148
𝑃𝑅1 = 𝑉1 × 𝐼1 = 12 × 0,25 = 3 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅2 = 𝑉2 × 𝐼2 = 12 × 0,12 = 1,44 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑅1 + 𝑃𝑅2 = 3 + 1,44 = 4,44 𝑊𝑎𝑡𝑡
𝑃𝑇𝑂𝑇 = 𝐼 2 𝑅 = 0,372 × 32 = 4,38 𝑊𝑎𝑡𝑡
Dari perhitungan masing-masing daya baik dalam rangkaian 8.2 atau
rangkaian seri maupun rangkaian 8.3 atau rangkaian parallel memiliki nilai daya
yang sama jika dihitung dengan 2 rumus yang berbeda. Daya pada kedua
rangkaian tersebut merupakan jumlahan daya dari resistor-resistor yang terdapat
dalam rangkaian tersebut. Selain itu ada sedikit perbedaan antara rumus 1 dengan
lainnya hal itu dikarenakan beberapa hal yaitu:
 Adanya toleransi pada resistor yang mengakibatkan nilai resistor tidak
presisi seperti yang tertera pada gelang warna.
 Kesalahan pengukuran
 Kesalahan pembacaan alat ukur
 Tegangan sumber yang tidak presisi sesuai dengan gambar rangkaian.

2. Gambarkan karakteristik dari masing masing tahanan antara tegangan dan daya ?
Jawab:
a) Rangkaian 8.2 untuk R = 48 ohm

Karakteristik tahanan terhadap tegangan dan


daya
0.35

0.3

0.25
DAYA (WATT)

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0,6 volt 1,3 volt 1,8 volt 2,5 volt 3,1 volt 3,9volt
R = 48 ohm 0.007 0.035 0.071 0.13 0.22 0.31

b) Rangkaian 8.2 untuk R= 100 ohm

Karakteristik tahanan terhadap tegangan dan


daya
0.7
0.6
DAYA (WATT)

0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
1,33 volt 2,7 volt 4,2 volt 5,5 volt 6,9 volt 8,1 volt
R = 100 ohm 0.02 0.07 0.17 0.29 0.48 0.65
c) Rangkaian 8.3 untuk R = 48 ohm

Karakteristik tahanan terhadap tegangan dan


daya
3.5

2.5
DAYA (WATT)

1.5

0.5

0
2 volt 4 volt 6 volt 8 volt 10 volt 12 volt
R = 48 ohm 0.07 0.3 0.69 1.34 2.17 3.06

d) Rangkaian 8.3 untuk R = 100

Karakteristik tahanan terhadap tegangan dan


daya
1.6
1.4
1.2
DAYA (WATT)

1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
2 volt 4 volt 6 volt 8 volt 10 volt 12 volt
R = 100 ohm 0.035 0.14 0.33 0.64 1.023 1.43
VII. Kesimpulan
1. Daya pada suatu rangkaian sama dengan jumlahan daya dari daya pada masing-
masing resistor baik rangkaian tersebut rangkaian seri maupun rangkaian parallel.
2. Untuk menghitung besarnya daya menggunakan beberapa rumus namun hasil dari
perhitungan tersebut memiliki nilai yang hampir sama meskipun ada sedikit
perbedaan. Hal itu dikarenakan beberapa hal yaitu:
 Adanya toleransi pada resistor yang mengakibatkan nilai resistor tidak presisi
seperti yang tertera pada gelang warna.
 Kesalahan pengukuran
 Kesalahan pembacaan alat ukur
 Tegangan sumber yang tidak presisi sesuai dengan gambar rangkaian.
3. Semakin besar tegangan maupun arus semakin besar daya dari suatu tahanan.
Sebaliknya jika semakin besar tahanan semakin kecil daya jika tegangannya
konstan.

VIII. Daftar Pustaka


http://teknikelektronika.com/pengertian-daya-listrik-rumus-cara-menghitung/