Anda di halaman 1dari 16

SIFAT KIMIA DAN BOLOGI TANAH

Disusun oleh:

AMBARWATI A. KARSAN
A 351 16 036

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2017

1
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini
dengan baik dan tepat waktu.
Seperti yang telah kita ketahui “Sifat kimia dan biologi tanah” itu sangat
penting kita pelajari. Semua akan dibahas pada makalah ini apa saja Sifat kimia
dan biologi tanah sehingga layak dijadikan sebagai materi pelajaran.
Tugas ini kami buat untuk memberikan penjelasan mengenai pokok Sifat
kimia dan biologi tanah. Semoga makalah yang kami buat ini dapat membantu
menambah wawasan kita menjadi lebih luas lagi.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun
makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat
kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini. Atas perhatiannya kami ucapkan
banyak terima kasih.

Palu, 16 November 2017

AMBARWATI A. KARSAN

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................... i
Daftar Isi...............................................................................................................ii
Bab I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah..................................................................................1
C. Tujuan....................................................................................................1
Bab II PEMBAHASAN.................................................................................2
A. Sifat Kimia Tanah.................................................................................2
B. Sifat Biologi Tanah...............................................................................8
Bab III PENUTUP..........................................................................................10
A. Kesimpulan............................................................................................10
B. Saran......................................................................................................11
Daftar Pustaka.....................................................................................................12

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanah merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan
manusia. Fungsi tanah juga untuk perkembangan tanaman dan tempat untuk
mengembangkan media teknik seperti pembangunan jalan raya dan rumah
tanah yang memiliki banyak kegunaan dan karakteristik. Setiap daerah
dengan karakteristik tanah yang berbeda jua memiliki perbedaan karakteristik
tanah.
Karakteristik tanah secara fisik dapat dilihat dari teksturnya,
warnanya, ukuran butirannya, dan banyak karkteristik lainnya. Faktor – faktor
alam sangat menentukan keadaan tanah suatu wilayah. Faktor alam yang juga
berpengaruh penting dalam karakteristik tanah adalah sifat kimia dan biologi
tanah. Dalam makalah ini, penyusun menjabarkan sifat – sifat kimia dan
biologi pada tanah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sifat kimia tanah?
2. Bagimana pengaruh pH terhadap sifat tanah?
3. Bagaimana sifat biologi tanah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sifat kimia tanah
2. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap sifat tanah
3. Untuk mengetahui sifat biologi tanah

4
BAB I

PENDAHULUAN

D. Latar Belakang
Tanah merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan
manusia. Fungsi tanah juga untuk perkembangan tanaman dan tempat untuk
mengembangkan media teknik seperti pembangunan jalan raya dan rumah
tanah yang memiliki banyak kegunaan dan karakteristik. Setiap daerah
dengan karakteristik tanah yang berbeda jua memiliki perbedaan karakteristik
tanah.
Karakteristik tanah secara fisik dapat dilihat dari teksturnya,
warnanya, ukuran butirannya, dan banyak karkteristik lainnya. Faktor – faktor
alam sangat menentukan keadaan tanah suatu wilayah. Faktor alam yang juga
berpengaruh penting dalam karakteristik tanah adalah sifat kimia dan biologi
tanah. Dalam makalah ini, penyusun menjabarkan sifat – sifat kimia dan
biologi pada tanah.

E. Rumusan Masalah
4. Bagaimana sifat kimia tanah?
5. Bagimana pengaruh pH terhadap sifat tanah?
6. Bagaimana sifat biologi tanah?

F. Tujuan
4. Untuk mengetahui sifat kimia tanah
5. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap sifat tanah
6. Untuk mengetahui sifat biologi tanah

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sifat Kima Tanah


1. Derajat Kemasaman Tanah (pH)
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah
yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya
konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+
didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+
dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding
terbalik dengan banyaknya H+. pada tanah-tanah masam jumlah ion H+
lebih tinggi daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih
banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- , maka tanah
bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Anonim 1991).
Nilai pH berkisar dari 0-14 dengan pH 7 disebut netral sedangkan
pH kurang dari 7 disebut masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis.
Walaupun dcmikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0-9,0. Di
Indonesia unumnya tanahnya bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga
tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun
sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan
tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah
sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang
sangat kering kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (pH lebih dari 9,0)
karena banyak mengandung garam Na (Anonim 1991).

2. C-Organik
Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu
faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya
pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan
kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan
bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik (Anonim 1991).

6
Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara
komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Musthofa (2007)
dalam penelitiannya menyatakan bahwa kandungan bahan organik dalam
bentuk C-organik di tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2 persen,
Agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun dengan waktu
akibat proses dekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah
penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun.
Kandungan bahan organik antara lain sangat erat berkaitan dengan KTK
(Kapasitas Tukar Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah. Tanpa
pemberian bahan organik dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan
biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan menyebabkan
terjadinya pemadatan tanah (Anonim 1991).

3. N-Total
Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar
1,5 % bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein
(Hanafiah 2005).
Menurut Hardjowigeno (2003) Nitrogen dalam tanah berasal dari:
a. Bahan Organik Tanah : Bahan organik halus dan bahan organik kasar
b. Pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara
c. Pupuk
d. Air Hujan

Sumber N berasal dari atmosfer sebagai sumber primer, dan


lainnya berasal dari aktifitas didalam tanah sebagai sumber sekunder.
Fiksasi N secara simbiotik khususnya terdapat pada tanaman jenis
leguminoseae sebagai bakteri tertentu. Bahan organik juga membebaskan
N dan senyawa lainnya setelah mengalami proses dekomposisi oleh
aktifitas jasad renik tanah.
Hilangnya N dari tanah disebabkan karena digunakan oleh
tanaman atau mikroorganisme. Kandungan N total umumnya berkisar

7
antara 2000 – 4000 kg/ha pada lapisan 0 – 20 cm tetapi tersedia bagi
tanaman hanya kurang 3 % dari jumlah tersebut (Hardjowigeno 2003).
Manfaat dari Nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman pada
fase vegetatif, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino,
lemak, enzim, dan persenyawaan lain (RAM 2007). Nitrogen terdapat di
dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik
meliputi NH4, NO3, NO2, N2O dan unsur N. Tanaman menyerap unsur ini
terutama dalam bentuk NO3, namun bentuk lain yang juga dapat menyerap
adalah NH4, dan urea (CO(N2))2 dalam bentuk NO3. Selanjutnya, dalam
siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami mineralisasi
sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi. Sebagian N terangkut,
sebagian kembali scbagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan kembali
lagi, hilang melalui pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan.
Ada yang hilang atau bertambah karena pengendapan.

4. P-Bray
Unsur Fosfor (P) dalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk
buatan dan mineral-mineral di dalam tanah. Fosfor paling mudah diserap
oleh tanaman pada pH sekitar 6-7 (Hardjowigeno 2003).
Dalam siklus P terlihat bahwa kadar P-Larutan merupakan hasil
keseimbangan antara suplai dari pelapukan mineral-mineral P, pelarutan
(solubilitas) P-terfiksasi dan mineralisasi P-organik dan kehilangan P
berupa immobilisasi oleh tanaman fiksasi dan pelindian (Hanafiah 2005).
Menurut Leiwakabessy (1988) di dalam tanah terdapat dua jenis
fosfor yaitu fosfor organik dan fosfor anorganik. Bentuk fosfor organik
biasanya terdapat banyak di lapisan atas yang lebih kaya akan bahan
organik. Kadar P organik dalam bahan organik kurang lebih sama
kadarnya dalam tanaman yaitu 0,2 – 0,5 %. Tanah-tanah tua di Indonesia
(podsolik dan litosol) umumnya berkadar alami P rendah dan berdaya
fiksasi tinggi, sehingga penanaman tanpa memperhatikan suplai P
kemungkinan besar akan gagal akibat defisiensi P (Hanafiah 2005).

8
Menurut Foth (1994) jika kekurangan fosfor, pembelahan sel pada
tanaman terhambat dan pertumbuhannya kerdil.

5. Kalium (K)
Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah Nitrogen dan Fosfor
yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Muatan positif dari
Kalium akan membantu menetralisir muatan listrik yang disebabkan oleh
muatan negatif Nitrat, Fosfat, atau unsur lainnya. Hakim et al. (1986),
menyatakan bahwa ketersediaan Kalium merupakan Kalium yang dapat
dipertukarkan dan dapat diserap tanaman yang tergantung penambahan
dari luar, fiksasi oleh tanahnya sendiri dan adanya penambahan dari
kaliumnya sendiri.
Kalium tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral-
mineral yang mengandung kalium. Melalui proses dekomposisi bahan
tanaman dan jasad renik maka kalium akan larut dan kembali ke tanah.
Selanjutnya sebagian besar kalium tanah yang larut akan tercuci atau
tererosi dan proses kehilangan ini akan dipercepat lagi oleh serapan
tanaman dan jasad renik. Beberapa tipe tanah mempunyai kandungan
kalium yang melimpah. Kalium dalam tanah ditemukan dalam mineral-
mineral yang terlapuk dan melepaskan ion-ion kalium. Ion-ion adsorpsi
pada kation tertukar dan cepat tersedia untuk diserap tanaman. Tanah-
tanah organik mengandung sedikit Kalium.

6. Natrium (Na)
Natrium merupakan unsur penyusun lithosfer keenam setelah Ca
yaitu 2,75% yang berperan penting dalam menentukan karakteristik tanah
dan pertumbuhan tanaman terutama di daerah kering dan agak kering yang
berdekatan dengan pantai. Karena tingginya kadar Na di laut, suatu tanah
disebut tanah alkali jika KTK atau muatan negatif koloid-koloidnya
dijenuhi oleh ≥ 15% Na, yang mencerminkan unsur ini merupakan
komponen dominan dari garam-garam larut yang ada. Pada tanah-tanah

9
ini, mineral sumber utamanya adalah halit (NaCl). Kelompok tanah alkalin
ini disebut tanah halomorfik, yang umumnya terbentuk di daerah pesisir
pantai iklim kering dan berdrainase buruk. Sebagaimana unsur mikro, Na
juga bersifat toksik bagi tanaman jika terdapat dalam tanah dalam jumlah
yang sedikit berlebihan (Hanafiah, 2005).

7. Kalsium (Ca)
Kalsium tergolong dalam unsur-unsur mineral essensial sekunder
seperti Magnesium dan Belerang. Ca2+ dalam larutan dapat habis karena
diserap tanaman, diambil jasad renik, terikat oleh kompleks adsorpsi tanah,
mengendap kembali sebagai endapan-endapan sekunder dan tercuci
(Leiwakabessy 1988). Adapun manfaat dari kalsium adalah mengaktifkan
pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang dan
membantu keberhasilan penyerbukan, membantu pemecahan sel,
membantu aktivitas beberapa enzim (RAM 2007).

8. Magnesium (Mg)
Magnesium merupakan unsur pembentuk klorofil. Seperti halnya
dengan beberapa hara lainnya, kekurangan magnesium mengakibatkan
perubahan warna yang khas pada daun. Kadang-kadang pengguguran daun
sebelum waktunya merupakan akibat dari kekurangan magnesium
(Hanafiah 2005).

9. Kapasitas Tukar Kation (KTK)


Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat
erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan
kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih
tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau
tanah-tanah berpasir (Hardjowogeno 2003). Nilai KTK tanah sangat
beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri.

10
Besar kecilnya KTK tanah dipengaruhi oleh :
a. Reaksi tanah
b. Tekstur atau jumlah liat
c. Jenis mineral liat
d. Bahan organik
e. Pengapuran serta pemupukan

Soepardi (1983) mengemukakan kapasitas tukar kation tanah


sangat beragam, karena jumlah humus dan liat serta macam liat yang
dijumpai dalam tanah berbeda-beda pula.

10. Kejenuhan Basa (KB)


Kejenuhan basa adalah perbandingan dari jumlah kation basa
yang ditukarkan dengan kapasitas tukar kation yang dinyatakan dalam
persen. Kejenuhan basa rendah berarti tanah kemasaman tinggi dan
kejenuhan basa mendekati 100% tanah bersifal alkalis. Tampaknya
terdapat hubungan yang positif antara kejenuhan basa dan pH. Akan tetapi
hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh sifat koloid dalam tanah dan
kation-kation yang diserap. Tanah dengan kejenuhan basa sama dan
komposisi koloid berlainan, akan memberikan nilai pH tanah yang
berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan derajat disosiasi ion H+ yang
diserap pada permukaan koloid (Anonim 1991).
Kejenuhan basa selalu dihubungkan sebagai petunjuk mengenai
kesuburan sesuatu tanah. Kemudahan dalam melepaskan ion yang dijerat
untuk tanaman tergantung pada derajat kejenuhan basa. Tanah sangat subur
bila kejenuhan basa > 80%, berkesuburan sedang jika kejenuhan basa
antara 50-80% dan tidak subur jika kejenuhan basa < 50 %. Hal ini
didasarkan pada sifat tanah dengan kejenuhan basa 80% akan
membebaskan kation basa dapat dipertukarkan lebih mudah dari tanah
dengan kejenuhan basa 50% (Anonim 1991).

11
B. Sifat Biologi Tanah
1. Total Mikroorganisme Tanah

Tanah dihuni oleh bermacam-macam mikroorganisme. Jumlah


tiap grup mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang terdiri dari beberapa
individu, akan tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram
tanah. Mikroorganisme tanah itu sendirilah yang bertanggung jawab atas
pelapukan bahan organik dan pendauran unsur hara. Dengan demikian
mereka mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Anas
1989).
Selanjutnya Anas (1989), menyatakan bahwa jumlah total
mikroorganisme yang terdapat didalam tanah digunakan sebagai indeks
kesuburan tanah (fertility indeks), tanpa mempertimbangkan hal-hal lain.
Tanah yang subur mengandung sejumlah mikroorganisme, populasi yang
tinggi ini menggambarkan adanya suplai makanan atau energi yang cukup
ditambah lagi dengan temperatur yang sesuai, ketersediaan air yang cukup,
kondisi ekologi lain yang mendukung perkembangan mikroorganisme
pada tanah tersebut.
Jumlah mikroorganisme sangat berguna dalam menentukan
tempat organisme dalam hubungannya dengan sistem perakaran, sisa
bahan organik dan kedalaman profil tanah. Data ini juga berguna dalam
membandingkan keragaman iklim dan pengelolaan tanah terhadap aktifitas
organisme didalam tanah (Anas 1989).
2. Jumlah Fungi Tanah
Fungi berperan dalam perubahan susunan tanah. Fungi tidak
berklorofil sehingga mereka menggantungkan kebutuhan akan energi dan
karbon dari bahan organik. Fungi dibedakan dalam tiga golongan yaitu
ragi, kapang, dan jamur. Kapang dan jamur mempunyai arti penting bagi
pertanian. Bila tidak karena fungi ini maka dekomposisi bahan organik
dalam suasana masam tidak akan terjadi (Soepardi, 1983).

12
3. Jumlah Bakteri Pelarut Fosfat (P)
Bakteri pelarut P pada umumnya dalam tanah ditemukan di
sekitar perakaran yang jumlahnya berkisar 103 – 106 sel/g tanah. Bakteri
ini dapat menghasilkan enzim Phosphatase maupun asam-asam organik
yang dapa melarutkan fosfat tanah maupun sumber fosfat yang diberikan
(Santosa et.al.1999 dalam Mardiana 2006). Fungsi bakteri tanah yaitu turut
serta dalam semua perubahan bahan organik, memegang monopoli dalam
reaksi enzimatik yaitu nitrifikasi dan pelarut fosfat. Jumlah bakteri dalam
tanah bervariasi karena perkembangan mereka sangat bergantung dari
keadaan tanah. Pada umumnya jumlah terbanyak dijumpai di lapisan atas.
Jumlah yang biasa dijumpai dalam tanah berkisar antara 3 – 4 milyar tiap
gram tanah kering dan berubah dengan musim (Soepardi, 1983).
4. Total Respirasi Tanah
Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas
mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah
merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat
aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai
korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas
mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil
antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne (Anas 1989).
Penetapan respirasi tanah didasarkan pada penetapan :
a. Jumlah CO2 yang dihasilkan
b. Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroba tanah

Pengukuran respirasi ini berkorelasi baik dengan peubah


kesuburan tanah yang berkaitar dengan. aktifitas mikroba seperti:
a. Kandungan bahan organik
b. ransformasi N atau P
c. Hasil antara
d. pH
e. Rata – rata jumlah mikroorganisme

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Tanah merupakan salah satu factor penting dalam kehidupan
manusia. Fungsi tanah juga untuk perkembangan tanaman dan tempat untuk
mengembangkan media teknik seperti pembangunan jalanraya dan rumah.
Tanah yang memiliki banyak kegunaan ini juga memiliki banyak
karakteristik. Setiap daerah dengan karakteristik morfologi yang berbeda juga
memiliki perbedaan karakteristik tanah.
Kolid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik yang
sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi per
satuan berat (massa). Koloid tanah yang berperan yaitu koloid anorganik
(Koloid liat atau mineral) dan koloid organik (humus). Kedua koloid ini
mempunyai sifat dan ciri yang jauh berbeda.
Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan
hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas
Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK
merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation
exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negative.
Hubungan antara pH tanah dengan derajat kejenuhan basa dapat
digunakan untuk merubah pH tanah baik menaikan maupun menurunkan pH.
Semakin tinggi pH tanah semakin tinggi pula % kejenuhan basa.
Secara ekologis tanah tersusun oleh 3 kelompok material, yaitu
material hidup (faktor biotik) berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor
abiontik berupa bahan organik, dan faktor abiotik berupa pasir debu dan liat.
5% dari penyusun tanah merupakan bahan organik, mesikpun hanya 5%,
bahan organic berperan sangat penting karena tidak saja berperan sebagai
koloidal tanah.

14
B. Saran
Kita sudah patutnya menjaga lingkungan disekitar kita agar
lingkungan kita bisa dimanfaatkan secara maksimal dan efisien tanpa
merusak kondisi alam yang sudah ada. Selain itu rasa peduli terhadap
lingkungan juga harus ditingkatkan, dengan cara memulai dari diri sendiri,
memulai dari hal yang paling kecil, dan memulai dari sekarang untuk
melakukan gerakan menanam kembali pohon yang rusak, menggunakan air
dengan seefisien mungkin dan kegiatan yang lainya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya.

http://boymarpaung.wordpress.com/2009/02/19/sifat-kimia-tanah/

Http://dasar2ilmutanah.blogspot.com

16