Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan akan layanan rumah sakit yang bermutu semakin meningkat
seiring dengan semakin membaiknya perekonomian dan derajat kesehatan
masyarakat. Dalam beberapa tahun belakangan ini, industri rumah sakit
Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup berarti dengan
diterbitkannya berbagai peraturan dan perundang-undangan yang bertujuan
untuk mendorong investasi dan menciptakan kondisi bisnis dan jasa rumah
sakit yang lebih baik. Terbukti, tidak hanya pemerintah yang memang
berkewajiban menyediakan jasa layanan kesehatan kepada masyarakat, para
pelaku bisnis pun kini semakin aktif berinvestasi di Industri rumah sakit
Indonesia. Hal ini lah yang menjadi pendorong bermunculannya berbagai
rumah sakit swasta baru dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini.
Untuk itu dibutuhkan suatu wadah atau sarana pelayanan kesehatan gigi dan
mulut yang bersifat intensif, spesifik, lengkap dan terpadu dengan fasilitas
penunjang yang memadai. Menurut Undang Undang Republik Indonesia
nomor 44 tahun 2009 mengenai rumah sakit pasal 19, pelayanan rumah sakit
dibedakan menjadi dua yaitu rumah sakit umum dan rumah sakit khusus.
Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberi pelayanan diagnosis
dan pengobatan untuk penderita dengan kondisi medik tertentu baik bedah
maupun non bedah. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 340/MenKes/Per/III/2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit
Bab V pasal 23,yang termasuk jenis rumah sakit khusus adalah rumah sakit
khusus ibu dan anak, jantung, kanker, orthopedi, paru, jiwa, kusta, mata,
ketergantungan obat, stroke, penyakit infeksi, bersalin, gigi dan mulut,
rehabilitasi medik, telinga hidung tenggorokan, bedah, ginjal, kulit dan
kelamin. Rumah Sakit Gigi dan Mulut ini (RSGM), berfungsi secara khusus
sebagai klinik yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
umum seputar permasalahan gigi dan mulut yang juga menyediakan beraneka
perawatan yang lebih mendalam pada tiap permasalahan gigi dan mulut.
Di Kota Klaten belum terdapat adanya rumah sakit khusus guna mewadahi
dan menyediakan jasa pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Maka dari itu
perlu diadakannya RSGM guna memfasilitasi pelayanan kesehatan gigidan
mulut terkhusus masyarakat yang tinggal di Klaten.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana cara merancang bangunan dengan pendekatan arsitektur tropis
pada bangunan rumah sakit gigi dan mulut?

1
b. Bagaimana cara merancang bangunan dengan pendekatan arsitektur
kontemporer pada bangunan rumah sakit gigi dan mulut?
c. Bagaimana cara merancang bangunan dengan pendekatan arsitektur islam
pada bangunan rumah sakit gigi dan mulut?

1.3 Tujuan
a. Merancang rumah sakit gigi dan mulut dengan pendekatan arsitektur
tropis.
b. Merancang rumah sakit gigi dan mulut dengan pendekatan arsitektur
kontemporer.
c. Merancang rumah sakit gigi dan mulut dengan pendekatan arsitektur
islam.

1.4 Sasaran
Sasaran pokok dari proyek ini adalah membuat konsep desain rumah sakit
gigi dan mulut dengan pendekatan arsitektur tropis, arsitektur kontemporer
dan arsitektur islam sekaligus sesuai standar peraturan perundang- undangan
mengenai rumah sakit gigi dan mulut.

1.5 Lingkup Pembahasan


1.5.1 Batasan
Batasan permasalahan dan persoalan dalam penulisan adalah ilmu
arsitektur dan disiplin ilmu yang lain guna mendukung dalam proses
perancangan.
1.5.2 Lingkup
Pembahasan mengarah pada bangunan arsitektur tropis , kontemporer
dan arsitektur islam.

1.6 Luaran / Desain yang dihasilkan


Mahasiswa dapat merancang bangunan dengan ketentuan sebagai
berikut :
- Bangunan fungsi tunggal bertingkat 8-15 lantai dengan spesifikasi
tertentu yang dikhususkan untuk membantu pelayanan masyarakat
melalui rumah sakit gigi dan mulut dengan konsep arsitektur tropis dan
kontemporer.
- Menyajikan hasil rancangan ke dalam gambar arsitektur dan gambar
kerja.
- Menyajikan hasil rancangan ke dalam gambar-gambar arsitektur,
gambar struktur, gambar utilitas gambar landscape dan gambar
pendukung.

2
1.7 Metode Pembahasan
1.7.1 Pengumpulan Data
1. Studi Literatur
Pencarian lewat buku – buku pedoman, studi pustaka serta
referensi lain.
2. Studi Lokasi
Pencarian lokasi yang tepat untuk pembangunan kantor.
3. Studi Komparatif
Mengamati Rumah sakit Budi Sehat.
1.7.2 Pengolahan Data
1. Identifikasi Data
2. Analisa Data
Pengamatan data dengan mempertimbangkan potensi –
potensi yang dapat mendukung penulisan proposal.
3. Sintesa
Hasil dari analisis dapat dibuat dalam bentuk kerangka yang
berupa deskriptif.
4. Hasil
Hasil akhir berupa konsep hasil penelitian yang dipadukan
dengan referensi yang ada sebagai dasar perencanaan dan
perancangan.
Sistematika Penulisan
Sistematika dalan penyusunan laporan ini dibagi dalam beberapa
bab sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan meliputi, latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan dan sasaran, lingkup dan batasan, metode pembahasan, dan
sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN LITERATUR
Pada bab ini berisi referensi dan landasan teori dan buku yang
membahasa perencanaan dan perancangan kantor, pembahasan mengenai
kebutuhan pelayanan masyarakat, serta gaya arsitektur yang digunakan.
BAB III TINAJUAN LOKASI
Pada bab ini berisi tinjauan umum dan khusus lokasi, serta yang
berkaitan dengan objek kegiatan yang dilanjutkan dengan studi lingkungan
kawasan yang akan direncanakan.
BAB IV TINJAUAN KOMPARASI
Pada bab ini berisi tentang info-info yang berkaitan dengan
beberapa kantor yang menjadi objek perbandingan.
BAB V ANALISIS DAN KONSEP
Pada bab ini berisi tentang analisis berupa analisis tapak dan
analisis ruang yang menghasilkan besaran ruang serta konsep bangunan.

3
BAB II

LITERATUR

2.1 Pengertian Rumah Sakit Gigi dan Mulut


Dalam buku “Arsitektur Rumah Sakit” karya Adhi, dkk (2010), kata
rumah sakit berasal dari kata hospital, yakni sebuah institusi pelayanan
kesehatan yang menyediakan tempat untuk pasien rawat inap dalam jangka
waktu tertentu. Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang
rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat. Sedangkan menurut PerMenKes
Nomor159b/MEN.KES/PER/II/1988Rumah Sakit adalah sarana upaya
kesehatan yangmenyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatanserta dapat
dimanfaatkan untuk pendidikan tenagakesehatan dan penelitian. Menurut
WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian integral dari
suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan
paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan
penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat
pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik.
Dalam PerMenKes Nomor159b/MEN.KES/PER/II/1988, rumah sakit di
bedakan menjadi dua sesuai jenis pelayanannnya, yakni rumah sakit umum
dan rumah sakit khusus. Adapun rumah sakit khusus menurut PerMenKes RI
nomor 340/MENKES/PER/III/2010 pasal 1 yakni rumah sakit yang
memberikan pelayanan utama pada suatu bidang atau satu jenis penyakit
tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ atau jenis penyakit.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340/MenKes/Per/III/2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit Bab V pasal
23,yang termasuk jenis rumah sakit khusus adalah rumah sakit khusus ibu dan
anak, jantung, kanker, orthopedi, paru, jiwa, kusta, mata, ketergantungan
obat, stroke, penyakit infeksi, bersalin, gigi dan mulut, rehabilitasi medik,
telinga hidung tenggorokan, bedah, ginjal, kulit dan kelamin. Rumah Sakit
Gigi dan Mulut ini (RSGM), berfungsi secara khusus sebagai klinik yang
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum seputar
permasalahan gigi dan mulut yang juga menyediakan beraneka perawatan
yang lebih mendalam pada tiap permasalahan gigi dan mulut.

2.2 Fungsi RSGM


Adapun fungsi RSGM menurut KepMenKes Nomor
1173/MENKES/PER/2004 yaitu:

4
a) Pelayanan medik gigi dasar, spesialistik dan subspesialistik.
b) Pelayanan penunjang; seperti pelayanan kefarmasian, laboratorium,
radiologi gigi, pelayanan anastesi.
c) Pelayanan rujukan.
d) Pelayanan gawat darurat kesehatan gigi dan mulut.
e) Penelitian dan pengembangan.

2.3 Peraturan Perundang Undangan Mengenai RSGM


Dalam PerMenKes RI nomor 24 tahun 2006, bangunan rumah sakit harus
menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang cacat dan lanjut usia
untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi semua pengguna baik di dalam
maupun diluar Bangunan Rumah Sakit secara mudah, aman, nyaman dan
mandiri. Fasilitas aksesibel yang dimaksud meliputi koridor, toilet, tangga,
ram, tempat parkir, telepone umum, jalur pemandu, rambu, dll. Bangunan
rumah sakit terdiri atas ruang rawat jalan, rawat inap, IGD, ruang operasi,
perawatan intensif, rehabilitasi medik, radiologi, laboratorium, sterilisasi,
bank darah, farmasi, rekam medis, tenaga kesehatan, pendidikan dan latihan,
kantor dan administrasi, ibadah, penyuluhan kesehatan masyarakat rumah
sakit, ruang tunggu, ruang mekanik, dapur, laundry, pengolahan sampah,
taman, kamar jenazah, dan tempat parkir yang cukup.
2.3.1 Syarat RSGM Sarana dan Prasarana
Menurut KepMenKes Nomor 1173/MENKES/PER/2004, adapu sarana
dan prasarana RSGM meliputi:
1. Ruang Rawat Jalan
2. Ruang Gawat Darurat
3. Ruang pemulihan/Recovery room.
4. Ruang Operasi.
5. Farmasi dan Bahan Kedokteran Gigi.
6. Laboratorium Klinik.
7. Laboratorium Teknik Gigi.
8. Ruang Sentral Sterilisasi.
9. Radiologi.
10. Ruang Tunggu.
11. Ruang Administrasi.
12. Ruang Toilet; dan Prasarana yang meliputi tenaga listrik,penyediaan
air bersih, instalasi pembuangan limbah, alat komunikasi, alat
pemadam kebakaran dan tempat parkir.

2.3.2 Syarat Ketenagakerjaan RSGM


Menurut Permenkes RI Nomor 1173/Menkes/Per/X/2004tentang Rumah
Sakit Gigi Dan Mulut dalamPasal 11 ayat 1, RSGM harus mempunyai tenaga
yang meliputi :

5
1. Tenaga medis kedokteran gigi :
a. Dokter Gigi.
b. Dokter Gigi Spesialis yang meliputi.
o Bedah Mulut.
o Meratakan Gigi (Orthodonsi).
o Penguat Gigi (Konservasi).
o Gigi Tiruan (Prosthodonsi).
o Kedokteran Gigi Anak (Pedodonsi).
o Penyangga Gigi ( Periodonsi ).
o Penyakit Mulut.
2. Dokter/Spesialis lainnya :
a. Dokter dengan pelatihan PPGD
b. Dokter Anestesi
c. Dokter Penyakit Dalam
d. Dokter spesialis anak
3. Tenaga Keperawatan :
a. Perawat Gigi
b. Perawat
4. Tenaga Kefarmasian :
a. Apoteker
b. Analis farmasi
c. Asisten apoteker
5. Tenaga Keteknisisan Medis :
a. Radiografer
b. Teknisi Gigi
c. Analis kesehatan
d. Perekam medis
6. Tenaga Non Kesehatan :
a. Administrasi
b. Kebersihan

2.3.3 Pengelompokan Tipe Kelas RSGM


Berikut pemaparan kelas tipe di dalam RSGM sesuai dengan PerMenKes
nomor 340/MENKES/PER/III/2010 mengenai klasifikasi rumah sakit
sebagai berikut:

A. Pelayanan
No Jenis Pelayanan A B C
1 Pelayanan medik gigi dasar v v v
2 Pelayanan medik gigi spesialistik :
a. Bedah mulut v v v
b. Orthodonti v v v

6
c. Periodonti v v -
d. Phrostodonti v v -
e. Konservasi gigi v v v
f. Oral medicine v v -
g. Pedodonti v v -
3 Pelayanan IGD v v v
4 Pelayanan Penunjang Klinik
a. Pelayanan kefarmasian v v v
b. Pelayanan Lab
 Lab. Klinik v v -
 Lab. Teknik Gigi v v v
c. Pelayanan Radiologi gigi v v v
d. Pelayanan Anesthesi v - -
e. Pelayanan Rekam Medik v v v
f. Pelayanan Sterilisasi Instrumen v v v

B. Sumber Daya Manusia


No Jenis Tenaga Kerja Kelas A Kelas B Kelas C
Total t. Total T. Total T.
Tetap Tetap Tetap
1 Tenaga Medis
Kedokteran Gigi
(dokter gigi
spesialis)
a. Bedah Mulut 4 2 2 1 1 -
b. Orthodonsi 3 1 3 1 1 -
c. Konservasi 2 1 2 1 1 -
d. Prosthodonti 2 1 1 - - -
e. Pedodonsi 2 1 1 - - -
f. Periodonsi 2 1 1 - - -
g. Penyakit Mulut 2 1 1 - - -
Dokter ahli lainnya A B C
h. Kesehatan gigi 1 1 -
masyarakat
i. Dental Material 1 1 -
j. Oral Biologi 1 - -
k. Dental 1 - -
Radiologi
2 Dokter Spesialis
Lainnya
l. Anesthesi 1 - -
m. Patologi Klinik 1 - -
n. Dokter dengan 1 -
pelatihan
PPGD
3 Dokter gigi 10 7 3

7
4 Dokter Umum 1 1 -
5 Keperawatan 10 7 3
6 Kefarmasian
 Asisten apoteker 1 1 -
7 Keteknikan Medis
 Radiografer 1 1 1
 Teknisi gigi 3 2 1
8 Laboratorium
 D3 analisis 1 - -
kesehatan
9 Rekam Medis
 D3 rekam medis 1 - -
 Tenaga terlatih 1 1 1
10 Tenaga non
kesehatan
 Administrasi 3 2 1
 Kebersihan 8 5 3

C.Sarana dan Prasarana


No Nama Bangunan/ ruangan A B C
Sarana
1  Rawat jalan
 Rawat jalan gigi medik dasar v v v
 Rawat jalan gigi medik spesialis
a. R. Bedah mulut v v v
 R. Bedah minor
 R. Bedah mayor
o R. Persiapan Ok
o R. Pemulihan
o R. Cuci dan sterilisasi
o R. Ganti Baju
o Set Tang Cabut
o Set instrument bedah minor
o Set rususitasi dan darurat
medic
o Hand instrument
 Orthodonsi v v v
o Set Tang Orto
o Sendok Cetak
o Negatoskop
o Hand instrumen
 Konservasi v v v
o Light cured unit
o Amalgamator
o Hand instrument
o Sendok cetak

8
o Set alat endodontik
o Set tang klamer
o Hand instrument
 Prosthodonsi v v -
o Micromotor
o Polish mesin
o Trimmer
o Articular&occludator
o Set tang klamer
o Hand instrumen
 Pedodonsi v v -
o Set tang cabut gigi anak
o Set tang cabut gigi dewasa
o Set tang SSC
o Light cured Unit
o Amalgamator
o Hand instrument
 Periodonsi v v -
o Ultrasonic scaller
o Instrument bedah periodonti
o Mount retractor
o Alat dan bahan untuk splinting
o Hand instrument
 Penyakit mulut v v -
o Hand instrument
o Alat untuk punch biopsi
 Kesehatan gigi masyarakat v v -
 Dental Material v v -
 Oral Biologi v v -
 Dental radiologi v v -
2 IGD
a. R. Tindakan v v v
b. R Tunggu v v v
3 R. Pemulihan v v -
4 R. Operasi
a. Mayor v v -
b. Minor v v v
5 Farmasi dan Bahan Kedokteran Gigi v v v
6 Lab. Klinik v - -
7 Lab Teknik Gigi
a. Lab kering v v v
b. Lab basah v v v
8 R. Dental Material v - -
9 R. Sterilisasi v v -
10 R. Radiologi v v v
11 R. Tunggu v v v
12 Rekam medik v v v

9
13 R. Diklat v v -
14 R. Dokter v v v
15 R. Perawat v v v
16 R. Administrasi
a. Direksi v v v
b. Staf v v v
17 R. Perpustakaan v - -
18 Locker v - -
19 Kantin v - -
20 Toilet v v v
Prasarana
1 Tenaga listrik v v v
2 Air Bersih v v v
3 Instalasi Pengolahan Limbah v v v
4 Alat Komunikasi v v v
5 Ruang instalasi
a. R. Genset v v v
b. R. Kompresor v v v
c. R. Alat Pemadam kebakaran v v v
6 T. Parkir v v v

C. Peralatan
No Peralatan A B C
1 Dental Unit 75 25 25
2 Dental Chair 75 25 25
3 T Tidur 3 2 2
4 Peralatan Medik Gigi
o Intra Oral Camera 1 1 -
o Dental X-ray 3 2 1
o Panoramic X-ray 1 1 -
o Cephalometri X-ray 1 1 -
o Sterilisator 8 5 3
o Autociave 3 2 1
o Camera digital 1 1 1
o Digital X-ray 1 - -
o Ultrasonic Scaller 10 1 -
5 Bed R. Inap 400 200 100

2.3.4 Struktur Bangunan Rumah Sakit


1. Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan dan dilaksanakan
dengan sebaik mungkin agar kuat, kokoh, dan stabil dalam memikul
beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety),
serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur
bangunan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan rumah sakit.
2. Kemampuan memikul beban baik beban tetap maupun beban sementara
yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur harus diperhitungkan.

10
3. Penentuan mengenai jenis, intensitas dan cara bekerjanya beban harus
sesuai dengan standar teknis yang berlaku.
4. Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan terhadap pengaruh
gempa sesuai dengan standar teknis yang berlaku.
5. Pada bangunan rumah sakit, apabila terjadi keruntuhan, kondisi
strukturnya harus dapat memungkinkan pengguna bangunan menyelamatkan
diri.
6. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus dilakukan
pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan Pedoman
Teknis atau standar yang berlaku. dan harus dilakukan atau didampingi oleh
ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.3.5 Zonasi Ruang


Zonasi ruang adalah pembagian atau pengelompokan ruanganruangan
berdasarkan kesamaan karakteristik fungsi kegiatan untuk tujuan tertentu.
Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit terdiri atas zonasi
berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit, zonasi berdasarkan
privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan.
1. Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri dari
:
a) area dengan risiko rendah, diantaranya yaitu ruang kesekretariatan dan
administrasi, ruang pertemuan, ruang arsip/rekam medis.
b) area dengan risiko sedang, diantaranya yaitu ruang rawat inap penyakit
tidak menular, ruang rawat jalan.
c) area dengan risiko tinggi, diantaranya yaitu ruang ruang gawat darurat,
ruang rawat inap penyakit menular (isolasi infeksi), ruang rawat intensif,
ruang bersalin, laboratorium, pemulasaraan jenazah, ruang radiodiagnostik.
d) area dengan risiko sangat tinggi, diantaranya yaitu ruang operasi.
2. Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari :
a) area publik, yaitu area dalam lingkungan rumah sakit yang dapat diakses
langsung oleh umum, diantaranya yaitu ruang rawat jalan, ruang gawat
darurat, ruang farmasi, ruang radiologi, laboratorium.
b) area semi publik, yaitu area dalam lingkungan rumah sakit yang dapat
diakses secara terbatas oleh umum, diantaranya yaitu ruang rawat inap, ruang
diagnostik, ruang hemodialisa.
c) area privat, yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit,
diantaranya yaitu seperti ruang perawatan intensif, ruang operasi, ruang
kebidanan, ruang sterilisasi, ruanganruangan petugas.
3. Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari :
a) Zona pelayanan medik dan perawatan, diantaranya yaitu ruang rawat jalan,
ruang gawat darurat, ruang perawatan intensif, ruang operasi, ruang

11
kebidanan, ruang rawat inap, ruang hemodialisa. Perletakan zona pelayanan
medik dan perawatan harus bebas dari kebisingan.
b) Zona penunjang dan operasional, diantaranya yaitu ruang farmasi, ruang
radiologi, laboratorium, ruang sterilisasi.
c) Zona penunjang umum dan administrasi, diantaranya yaitu ruang
kesekretariatan dan administrasi, ruang pertemuan, ruang rekam medis.

2.3.6 Kebutuhan Total Luas Lantai Bangunan


1. Perhitungan perkiraan kebutuhan total luas lantai bangunan untuk rumah
sakit umum kelas A minimal 100 m2/ tempat tidur.
2. Perhitungan perkiraan kebutuhan total luas lantai bangunan untuk rumah
sakit umum kelas B minimal 80 m2/ tempat tidur.
3. Perhitungan perkiraan kebutuhan total luas lantai bangunan untuk rumah
sakit umum kelas C minimal 60 m2/ tempat tidur.
4. Perhitungan perkiraan kebutuhan total luas lantai bangunan untuk rumah
sakit umum kelas D minimal 50 m2/ tempat tidur. 5. Kebutuhan luas lantai
bangunan untuk rumah sakit khusus dan rumah sakit pendidikan disesuaikan
dengan kebutuhan.

2.3.7 Desain Komponen Bangunan Rumah Sakit


1. ATAP
Atap harus kuat, tidak bocor, tahan lama dan tidak menjadi tempat
perindukan serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya.
2. LANGIT-LANGIT
a. Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan, tidak
mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak berjamur.
b. Rangka langit-langit harus kuat.
c. Tinggi langit-langit di ruangan minimal 2,80 m, dan tinggi di selasar
(koridor) minimal 2,40 m.
d. Tinggi langit-langit di ruangan operasi minimal 3,00 m.
e. Pada ruang operasi dan ruang perawatan intensif, bahan langit-langit
harus memiliki tingkat ketahanan api (TKA) minimal 2 jam.
f. Pada tempat-tempat yang membutuhkan tingkat kebersihan ruangan
tertentu, maka lampu-lampu penerangan ruangan dipasang dibenamkan pada
plafon (recessed).
3. DINDING DAN PARTISI
a. Dinding harus keras, rata, tidak berpori, kedap air, tahan api, tahan
karat, harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur.
b. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.
c. Khusus pada ruangan-ruangan yang berkaitan dengan aktivitas
pelayanan anak, pelapis dinding dapat berupa gambar untuk
merangsang aktivitas anak.

12
d. Pada daerah yang dilalui pasien, dindingnya harus dilengkapi pegangan
tangan (handrail) yang menerus dengan ketinggian berkisar 80 - 100 cm
dari permukaan lantai. Pegangan harus mampu menahan beban orang
dengan berat minimal 75 kg yang berpegangan dengan satu tangan pada
pegangan tangan yang ada.
e. Bahan pegangan tangan harus terbuat dari bahan yang tahan api, mudah
dibersihkan dan memiliki lapisan permukaan yang bersifat non-porosif.
f. Khusus ruangan yang menggunakan peralatan x-ray, maka dinding
harus memenuhi persyaratan teknis proteksi radiasi sinar pengion.
g. Khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah
yang mudah terpicu api, maka dinding harus dari bahan yang
mempunyai Tingkat Ketahanan Api (TKA) minimal 2 jam, tahan bahan
kimia dan benturan.
h. Pada ruang yang terdapat peralatan menggunakan gelombang
elektromagnetik (EM), seperti Short Wave Diathermy atau Micro Wave
Diathermy, tidak boleh menggunakan pelapis dinding yang
mengandung unsur metal atau baja.
i. Ruang yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi (misalkan ruang
mesin genset, ruang pompa, ruang boiler, ruang kompressor, ruang
chiller, ruang AHU, dan lain-lain) maka bahan dinding menggunakan
bahan yang kedap suara atau menggunakan bahan yang dapat menyerap
bunyi.
j. Pada area dengan resiko tinggi yang membutuhkan tingkat kebersihan
ruangan tertentu, maka pertemuan antara dinding dengan dinding harus
dibuat melengkung/conus untuk memudahkan pembersihan.
k. Khusus pada ruang operasi dan ruang perawatan intensif, bahan
dinding/partisi harus memiliki Tingkat Ketahanan Api (TKA) minimal
2 jam.
4. LANTAI
a. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata,
tidak licin, warna terang, dan mudah dibersihkan.
b. Tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan
porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu.
c. mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan. d) penutup lantai harus
berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.
d. Ram harus mempunyai kemiringan kurang dari 70, bahan penutup lantai
harus dari lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi
basah).
e. khusus untuk ruang yang sering berinteraksi dengan bahan kimia dan
mudah terbakar, maka bahan penutup lantai harus dari bahan yang
mempunyai Tingkat Ketahanan Api (TKA) minimal 2 jam, tahan bahan
kimia.

13
f. khusus untuk area perawatan pasien (area tenang) bahan lantai
menggunakan bahan yang tidak menimbulkan bunyi.
g. Pada area dengan resiko tinggi yang membutuhkan tingkat kebersihan
ruangan tertentu, maka pertemuan antara lantai dengan dinding harus
melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai (hospital plint).
h. Pada ruang yang terdapat peralatan medik, lantai harus dapat
menghilangkan muatan listrik statik dari peralatan sehingga tidak
membahayakan petugas dari sengatan listrik.
5. PINTU DAN JENDELA
a. Pintu utama dan pintu-pintu yang dilalui brankar/tempat tidur pasien
memiliki lebar bukaan minimal 120 cm, dan pintu-pintu yang tidak
menjadi akses tempat tidur pasien memiliki lebar bukaan minimal 90
cm.
b. Di daerah sekitar pintu masuk tidak boleh ada perbedaan ketinggian
lantai tidak boleh menggunakan ram.
c. Pintu Darurat
d. Setiap bangunan rumah sakit yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus
dilengkapi dengan pintu darurat.
e. Lebar pintu darurat minimal 100 cm membuka kearah ruang tangga
penyelamatan (darurat) kecuali pada lantai dasar membuka ke arah luar
(halaman).
f. Jarak antar pintu darurat dalam satu blok bangunan gedung maksimal 25
m dari segala arah.
g. Pintu untuk kamar mandi di ruangan perawatan pasien dan pintu toilet
untuk aksesibel, harus terbuka ke luar, dan lebar daun pintu minimal 85
cm.
h. Pintu-pintu yang menjadi akses tempat tidur pasien harus dilapisi bahan
anti benturan.
i. Ruangan perawatan pasien harus memiliki bukaan jendela yang dapat
terbuka secara maksimal untuk kepentingan pertukaran udara.
j. Pada bangunan rumah sakit bertingkat, lebar bukaan jendela harus aman
dari kemungkinan pasien dapat melarikan/ meloloskan diri.
k. Jendela juga berfungsi sebagai media pencahayaan alami di siang hari.
6. TOILET/KAMAR MANDI
Toilet umum
a. Toilet atau kamar mandi umum harus memiliki ruang gerak yang cukup
untuk masuk dan keluar oleh pengguna.
b. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian
pengguna (36 - 38 cm).
c. Permukaan lantai harus tidak licin dan tidak boleh menyebabkan
genangan.
d. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup.

14
e. Kunci-kunci toilet atau grendel dapat dibuka dari luar jika terjadi
kondisi darurat.
Toilet untuk aksesibilitas
a. Toilet atau kamar mandi umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan
tampilan rambu/simbol "disabel" pada bagian luarnya.
b. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup
untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda.
c. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian
pengguna kursi roda sekitar (45 - 50 cm)
d. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat
(handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan
pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pegangan
disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk
membantu pergerakan pengguna kursi roda.
e. Letak kertas tissu, air, kran air atau pancuran (shower) dan
perlengkapan-perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan
harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang
memiliki keterbatasan keterbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna
kursi roda.
f. Permukaan lantai harus tidak licin dan tidak boleh menyebabkan
genangan.
g. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna
kursi roda.
h. Kunci-kunci toilet atau grendel dapat dibuka dari luar jika terjadi
kondisi darurat.
i. Pada tempat-tempat yang mudah dicapai, seperti pada daerah pintu
masuk, dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat (emergency
sound button) bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
7. KORIDOR
Ukuran koridor sebagai akses horizontal antar ruang dipertimbangkan
berdasarkan fungsi koridor, fungsi ruang, dan jumlah pengguna. Ukuran
koridor yang aksesibilitas tempat tidur pasien minimal 2,40 m.
8. TANGGA
a. Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam
Tinggi masing-masing pijakan/tanjakan adalah 15 – 17 cm.
b. Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 600.
c. Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan dalam keadaan
darurat, untuk mengevakuasi pasien dalam kasus terjadinya kebakaran
atau situasi darurat lainnya.
d. Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan
pengguna tangga.
e. Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail).

15
Gambar 1. Tipikal tangga

Gambar 2 . Pegangan rambat pada tangga


f. Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65-80 cm dari
lantai, bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu, dan bagian
ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai, dinding
atau tiang.
g. Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujung-ujungnya
(puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm.

16
h. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, harus dirancang sehingga
tidak ada air hujan yang menggenang pada lantainya.

Gambar 3 . Desain profil tangga

Gambar 4 .Detail pegangan rambat tangga

17
Gambar 5 .Detail pegangan rambat pada dinding

9. RAM
a. Ram adalah jalur sirkulasi yang memiliki kemiringan tertentu, sebagai
alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga.
b. Kemiringan suatu ram di dalam bangunan tidak boleh melebihi 70,
perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan dan akhiran ram
(curb ramps/landing).
c. Panjang mendatar dari satu ram (dengan kemiringan 70) tidak boleh lebih
dari 900 cm. Panjang ram dengan kemiringan yang lebih rendah dapat
lebih panjang.
d. Lebar minimum dari ram adalah 2,40 m dengan tepi pengaman.
e. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ram harus bebas
dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar
kursi roda dan brankar/tempat tidur pasien, dengan ukuran minimum 160
cm.
f. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ram harus memiliki tekstur
sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.

18
Gambar 6. Tipikal ram
g. Lebar tepi pengaman ram (low curb) maksimal 10 cm sehingga dapat
mengamankan roda dari kursi roda atau brankar/ tempat tidur pasien agar
tidak terperosok atau keluar ram.
h. Apabila letak ram berbatasan langsung dengan lalu lintas jalan umum atau
persimpangan, ram harus dibuat tidak mengganggu jalan umum.
i. pencahayaan harus cukup sehingga membantu penggunaan ram saat
malam hari. Pencahayaan disediakan pada bagian ram yang memiliki
ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian-bagian yang
membahayakan.
j. dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin
kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai.

2.4 Komponen Rumah Sakit


Menurut buku “Arsitektur Rumah Sakit” karya Adhi, dkk (2010), rumah
sakit memiliki beberapa komponen, yakni :
1. Pasien
Berdasarkan umurnya, pasien terbagi menjadi dua, yakni dewasa dan
anak. Sedangkan nerdasarkan jenis penyakitnya, pasien terbagi menjadi dua,
yakni pasien penyakit umum dan pasien ibu. Secara umum, aktivitas yang
dilakukan oleh kelompok ini dalam rumah sakit yakni untuk mendapatkan
perawatan dan pengobatan, melakukan konsultasi dengan tenaga medis,
melakukan proses administrasi.

19
2. Penunggu pasien
Yakni keluarga yang menunggu pasien ketika menjalani perawatan di
rumah sakit. Secara umum, aktivitas yang dilakukan berupa menunggu
pasien, melakukan konsultasi dengan tenaga medis, melakukan proses
administrasi.
3. Pengunjung pasien
Pihak dari keluarga maupun kerabat pasien ketika menjalani perawatan di
rumah sakit. Secara umum aktivitas yang dilakukan berupa mengunjungi
pasien dan berinteraksi dengan pasien dan tenaga medis.
Pasien, penunggu pasien dan pengunjung pasien dapat digolongkan
sebagai pengguna tidak tetap, yaitu pengguna yang beraktivitas dalam rumah
sakit untuk waktu relatif singkat.
4. Staf dan petugas medik
Staf atau pengguna medik yang melaksanakan aktivitas pelayanan medik
seperti dokter, perawat, bagian rekam medik. Secara umum, aktivitas yang
dilakukan oleh kelompok ini berupa melakukan perawatan, koordinasi atau
rapat dan membuat laporan kesehatan.
5. Staf atau petugas non medik
Petugas non medik yang melaksanakan aktivitas pelayanan non medik
seperti kepala atau pimpinan rumah sakit, bagian pengelola admiistrasi dan
bagian servis.Secara umum, aktivitas yang dilakukan oleh kelompok ini
berupa memimpin pengelolaan rumah sakit, melakukan koordinasi atau rapat,
mengembangkan rumah sakit, melakukan pekerjaan administrasi, melakukan
pemasaran dan melakukan pemeliharaan rumah sakit.

2.5 Arsitektur Tropis


Menurut Tri Harsono (2010), artikel dalam buku “Arsitektur dan Kota
Tropis Dunia Ke Tiga” , arsitektur tropis harus diartikan sebagai rancangan
spesifik suatu karya arsitektur yang mengarah pada pemecahan problematik
iklim tropis. Iklim tropis sendiri dicirikan oleh berbagai karakteristik,
misalnya kelembaban udara yang tinggi, dapat mencapai angaka di atas 90%,
suhu udara relatif tinggi, antara 15 hingga 35ºC, radiasi matahari yang
menyengat dan mengganggu, serta curah hujan tinggi yang dapat mencapai
angka di atas 3000 mm/tahun. Faktor-faktor iklim tersebut berpengaruh
sangat besar terhadap aspek kenyamanan fisik manusia terutama aspek
kenyamanan termal (termis). Arsitektur tropis diharapkan mampu menjawab
seluruh persoalan iklim tersebut dengan bentuk rancangan yang hampir tanpa
batas. Bukan sebatas pada penyelesaian atap yang lebar saja. Aspek
kenyamanan visual (pencahayaan) serta kenyamanan termal (termis)
merupakan dua hal dominan yang perlu dipecahkan agar penghuni bangunan
tropis dapat mencapai kebutuhan kenyamanan secara fisik. Atap lebar
memang diperlukan pada bangunan tropis berlantai rendah. Namun rancangan

20
ini tidak merupakan jaminan bahwa penghuni akan mampu mencapai
kenyamanan fisik secara visual dan termal sebagaimana diharapkan seperti di
atas.
Tidak tersedianya bukaan-bukaan sebagai sarana ventilasi dalam bangunan
secara memadai, mengakibatkan ruang dalam bangunan tropis terasa panas.
Hal ini dapat disebabkan oleh adanya radiasi dinding atau langit-langit, atau
disebabkan oleh meningkatnya kelembaban dalam ruang tersebut akibat
minimnya aliran udara. Banyak faktor lain yang dapat menghambat
pencapaian kenyamanan fisik bagi pengguna bangunan yang pada umumnya
disebabkan oleh rancangan arsitektur yang tidak tepat di mana kondisi iklim
setempat (tropis) tidak diperhitungkan dalam proses perancangan.

2.6 Arsitektur Kontemporer


Di dalam artikel Retno,dkk (2015), bahwa seorang arsitek dapat
menggunakan berbagai pendekatan untuk mendesain suatu karya arsitektur, di
antaranya adalah pendekatan kontemporer. Menurut, Indah Widiastuti, ST.,
MT., PH.D , dosen arsitektur Institut Teknologi Bandung, ada dua macam
pendekatan kontemporer dalam arsitektur yaitu waktu dan bentuk.
Berdasarkan waktu, arsitektur kontemporer adalah arsitektur yang dibuat dan
dikenal pada masa kini bukan di masa lalu ataupun di masa depan.
Berdasarkan bentuk, yang dimaksud dengan arsitektur kontemporer adalah
arsitektur yang mengambil bentuk suatu bangunan monumental yang pada
masanya dikenal sebagai arsitektur kontemporer.
Adapun ciri-ciri arsitektur kontemporer, yaitu:
1. Ekspresi bangunan bersifat subjektif.
2. Kontras dengan lingkungan sekitar
3. Menonjolkan bentuk unik, diluar kebiasaan, dan atraktif

2.7 Arsitektur Islam


Menurut Ziauddin Sardar , Islami dari arsitektur dan lingkungan Islam
bukan hanya terletak pada bentuk dan strukturnya, melainkan suasana
yang tercipta yang mendorong ingatan kepada Allah, memotivasi perilaku
yang sesuai dengan ketentuan syari’at, dan menganjurkan nilai yang
melekat dalam acuan konsep kunci Al Quran. Selain itu, menurutnya juga,
suasananya harus hidup dan dinamis yang kekuatannya dirasakan dan
dialami. Suasananya terbentuk oleh totalitas dari sistem yang melahirkan
lingkungan Islam tersebut meliputi prinsip prinsip perancangan, bentuk
dan struktur bangunan dalam hubungan manusia dengan alam. Hal yang
harus kita perhatikan diawal adalah bagaimana kita memahami tentang
kebutuhan manusia terhadap arsitektur. Kebutuhan tersebut diantaranya
memberi ketenangan jiwa dengan kepemilikan atau keberadaan ruang
yang dibutuhkan, mewadahi aktivitas lahiriyah manusia secara individual

21
maupun komunal, melindungi dan memberi kenyamanan tubuh manusia,
mewadahi dimensi psikologis manusia melalui suasana ruang tertentu,
serta sebagai tanda estetika untuk memberikan rasa kepuasan akan
keindahan yang diserap melalui indera,akal dan qalbu.

2.8 Struktur
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002
tentang Bangunan Gedung Pasal 18 tentang Persyaratan Keandalan Bangunan
Gedung (1) Persyaratan kemampuan struktur bangunan gedung yang stabil
dan kukuh dalam mendukung beban muatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (2) merupakan kemampuan struktur bangunan gedung yang
stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam
mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk
daerah/zona tertentu kemampuan untuk mendukung beban muatan yang
timbul akibat perilaku alam. (2) Besarnya beban muatan dihitung
berdasarkan fungsi bangunan gedung pada kondisi pembebanan maksimum
dan variasi pembebanan agar bila terjadi keruntuhan pengguna bangunan
gedung masih dapat menyelamatkan diri. (3) Ketentuan mengenai
pembebanan, ketahanan terhadap gempa bumi dan/atau angin sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.
Dasar pemilihan suatu sistem struktur untuk bangunan tinggi adalah
harus memenuhi syarat kekuatan dan kekakuan. Sistem struktur harus mampu
menahan gaya lateral dan beban gravitasi yang dapat menyebabkan deformasi
geser horisontal dan lentur. Hal lain yang penting dipertimbangkan dalam
perencanaan skema struktural dan layout adalah persyaratan-persyaratan
meliputi detail arsitektural, utilitas bangunan, transportasi vertikal, dan
pencegahan kebakaran. Efisiensi dari sistem struktur dinilai dari
kemampuannya dalam menahan beban lateral yang tinggi, dimana hal ini
dapat menambah tinggi rangka. Suatu bangunan dinyatakan sebagai
bangunan tinggi bila efek beban lateral tercermin dalam desainnya. Defleksi
lateral dari suatu bangunan tinggi harus dibatasi untuk mencegah kerusakan
elemen struktural dan non-struktural. Kecepatan angin di bagian atas
bangunan juga harus dibatasi sesuai dengan kriteria kenyamanan, untuk

22
menghindari kondisi yang tidak nyaman bagi penghuninya. Gambar berikut
ini adalah batasan-batasan umum, dimana suatu sistem rangka dapat
digunakan secara efisien untuk bangunan bertingkat banyak.

Pengelompokan Sistem Bangunan Tinggi


Sumber: Chen & Liu, 2005

Berbagai jenis sistem struktur di atas dapat diklasifikasikan atas dua


kelompok utama, yaitu :
- medium-height building, meliputi : shear-type deformation
predominant
- high-rise cantilever structures, meliputi : framed tubes, diagonal
tubes, and braced trusses
Klasifikasi ini didasarkan atas keefektifan struktur tersebut dalam
menahan beban lateral. Dari diagram di atas, sistem struktur yang terletak
pada ujung kiri adalah sistem struktur rangka dengan tahanan momen yang
efisien untuk bangunan dengan tinggi 20-30 lantai. Dan pada ujung kanan
adalah sistem struktur tubular dengan efisiensi kantilever tinggi. Sistem
struktur lainnya merupakan sistem struktur yang bentuknya merupakan
aplikasi dari berbagai batasan ekonomis dan batasan ketinggian bangunan.

23
Menurut Council on Tall Buildings and Urban Habitat 1995, dalam
menyusun suatu metode klasifikasi bangunan tinggi berdasarkan sistem
strukturnya, klasifikasi ini harus meliputi bahasan atas empat tinjauan,
yaitu rangka lantai, dan konfigurasi serta distribusi beban. Pengelompokan
ini ditekankan pada tahanan terhadap beban lateral. Sedangkan bahasan
terhadap fungsi pikul-beban dari sub-sistem bangunan tinggi bisa lebih
bebas ditentukan. Suatu sistem pencakar langit yang efisien harus
mempunyai elemen penahan beban vertikal yang sesuai dalam sub-sistem
beban lateral dengan tujuan untuk meminimalkan beban lateral terhadap
keseluruhan struktur. Adapun jenis-jenis struktur inti bangunan tinggi
meliputi:

1. Sistem struktur dinding pendukung sejajar (parallel bearing walls)


Sistem ini terdiri dari unsur bidang vetikal yang di perkuat dengan berat
dinding itu sendiri, sehingga mampu menahan gaya aksial lateral secara
efisien. Sistem struktur dinding sejajar ini digunakan pada bangunan-
bangunan apartemen yang tidak membutuhkan ruang bebas yang luas dan
sistem-sistem mekanisnya tidak memerlukan struktur inti.

2. Sistem struktur inti dan dinding pendukung (core and bearing


walls)
Sistem ini berupa bidang vertikal yang membentuk dinding luar dan
mengelilingi sebuah struktur inti. Hal ini memungkinkan ruang interior
terbuka yang bergantung pada kemampuan bentangan dari struktur lantai.

24
Sistem ini memuat sistem-sistem transportasi mekanis vertikal serta
menambah kekakuan bangunan.

3. Sistem struktur boks berdiri sendiri (self supporting boxes)


Sistem ini merupakan unit tiga dimensi prefabrikasi yang menyerupai
bangunan dinding pendukung yang diletakan di suatu tempat dan di
gabung dengan unit lainnya. Sebagai contoh boks-boks ini di tumpuk
seperti bata dengan pola “English Bond” sehingga tersusun seperti balok
dinding berselang-seling.

4. Sistem struktur plat terkantilever (cantilever slab)


Pemikulan plat lantai dari sebuah inti pusat akan memungkinkan
ruang bebas kolom yang batas kekuatan platnya adalah batas besar ukuran
bangunan. Sistem ini memerlukan banyak besi, terutama apabila proyeksi
pelat sangat besar. Kekakuan plat dapat di tingkatkan dengan
menggunakan teknik-teknik pratekan.

25
5. Sistem struktur plat rata (flat slab)
Sistem ini terdiri dari bidang horizontal yang umumnya adalah plat
lantai beton tebal dan rata yang bertumpu pada kolom. Apabila tidak
terdapat penebalan plat pada bagian atas kolom, maka sistem ini di katakan
sistem plat rata. Pada kedua sistem ini tidak terdapat balok yang dalam
(deep beam) sehingga tinggi lantai bisa minimum.

6. Sistem struktur interspasial (interspasial)


Sistem struktur rangka tinggi selantai yang terkantilever diterapkan
pada setiap lantai antara untuk memungkinkan ruang fleksibel di dalam
dan di atas rangka. Ruangan yang berada di dalam lantai rangka di atasnya
dapat di gunakan sebagai wadah untuk kegiatan aktivitas lainya.

26
7. Sistem struktur gantung (suspension)
Sistem ini dapat memungkinkan penggunaan beban secara efisien
dengan menggunakan penggantungan sebagai pengganti kolom untuk
memikul beban lantai. Kekuatan unsur tekan pada sistem ini harus
dikurangi sebab adanya bahaya tekuk, berbeda dengan unsur tarik yang
dapat mendaya gunakan kemampuan secara maksimal. Kabel-kabel ini
dapat meneruskan beban gravitasi ke rangka di bagian atas yang
terkantilever dari inti pusat.

8. Sistem struktur rangka selang-seling (staggered truss)


Rangka tinggi yang selantai disusun sedemikian rupa sehinga pada
setiap lantai bangunan dapat menumpangkan beban di bagian atas suatu
rangka begitupun di bagian bawah rangka di atasnya. Selain memikul
beban vertikal, susunan rangka ini akan mengurangi tuntutan kebutuhan

27
ikatan angin dengan cara mengarahkan beban angin ke dasar bangunan
melalui struktur balok-balok dan plat lantai.

9. Sistem struktur rangka kaku (rigid frame)


Sistem struktur ini terdiri dari kolom dan balok yang bekerja saling
mengikat satu dengan yang lainnya. Kolom sebagai unsur vertikal yang
bertugas menerima beban dan gaya, sedangkan balok sebagai unsur
horizontal media pembagi beban dan gaya. Sistem ini biasanya berbentuk
pola grid persegi, organisasi grid serupa juga di gunakan untuk bidang
horizontal yang terdiri atas balok dan gelagar. Dengan keterpaduan rangka
spasial yang bergantung pada kekuatan kolom dan balok, maka tinggi
lantai ke lantai dan jarak antara kolom menjadi penentu pertimbangan
rancangan.

28
10. Sistem struktur rangka kaku dan inti (rigid frame and core)
Rangka kaku akan bereaksi terhadap beban lateral. Terutama melalui
lentur balok dan kolom. Perilaku demikian berakibat ayunan (drift) lateral
yang besar sehingga pada bangunan dengan ketinggian tertentu. Akan
tetapi apabila di lengkapi dengan struktur inti, maka ketahanan lateral
bangunan akan sangat meningkat karena interaksi inti dan rangka. Sistem
inti ini memuat sistem-sistem mekanis dan transportasi vertikal.

11. Sistem struktur rangka trussed (trussed frame)


Sistem ini terdiri dari gabungan rangka kaku (atau bersendi) dengan
rangka geser vertikal yang mampu memberikan peningkatan kekuatan dan
kekakuan struktur. Rancangan sistem struktur dapat berdasarkan pada
penggunaan rangka untuk menahan beban gravitasi dan rangka vertikal
untuk beban angin yang serupa dengan rangka kaku dan inti.

29
12. Sistem struktur rangka belt-trussed dan inti (belt-trussed frame and
core)
Sistem struktur belt-trussed bekerja mengikat kolom fasade ke inti
bangunan sehingga meniadakan aksi terpisah rangka dan inti pengakuan
ini dinamai “cap trussing” apabila berada pada bagian atas bangunan, dan
dinamai “belt-trussed” apabila berada di bagian bawahnya.

13. Sistem struktur tabung dalam tabung (tube in tube)


Dalam struktur ini, kolom dan balok eksterior di tempatkan sedemikian
rapat sehingga fasade menyerupai dinding yang diberi pelubangan (untuk
jendela). Seluruh bangunan berlaku sebagai tabung kosong yang
terkantilever dari tanah. Inti interior (tabung) dapat meningkatkan
kekakuan bangunan dengan cara ikut memikul beban bersama kolom-
kolom fasade tersebut.

30
14. Sistem struktur kumpulan tabung (bundled tube)
Sistem struktur ini dapat di gambarkan sebagai suatu kumpulan
tabung-tabung terpisah yang membantuk tabung multi-use. Pada sistem ini
kekakuan akan bertambah. Sistem ini dapat memungkinkan bangunan
mencapai bentuk yang paling tinggi dan daerah lantai yang sangat luas.

2.9 Utilitas
2.9.1 Sanitasi
a. Air Bersih
Air bersih merupakan masalah yang selalu dijumpai di kota-kota besar
(Suzantri et al, 2006). Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan
sehari-hari baik domestik (rumah tangga) maupun non domestik
(perkantoran, industri, komersial dan fasilitas umum lainnya) yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah
dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan
dan dapat langsung diminum.
b. Air limbah
Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal
dari rumah tangga, industri, maupun tempat – tempat umum lainnya. Dalam
perkembangannya dewasa ini, air limbah bahkan dapat dimanfaatkan sebagai
material bahan konstruksi [Hardjasaputra et al, 2008]. Pada umumnya air
limbah mengandung bahan-bahan atau zat – zat yang dapat membahayakan
kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Meskipun
merupakan sisa air, namun volumenya besar, karena lebih kurang 80 % dari
air yang digunakan kegiatan manusia sehari – hari dibuang dalam bentuk
yang sudah kotor (tercemar). Untuk kemudian air limbah ini akan mengalir ke
sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali. Oleh sebab itu air
buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara baik. Buruknya kualitas
sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi

31
dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system). Sistem pengolahan
air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan secara Pengolahan
individual, yaitu pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-
masing rumah terhadap limbah domestik yang dihasilkan. Selain skema
tersebut, juga telah dikembangkan sistem saluran air limbah yang diusulkan
oleh Wirahadikusumah & Novera (2005).
c. Pengolahan Sampah
Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya
banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik Apabila
dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas
yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Apabila dibakar akan menimbulkan
pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah di sungai dapat
mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Dengan
demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber
pencemar pada tanah, badan air dan udara.
d. Gas Medik
Ketentuan ini berlaku wajib untuk Rumah sakit yang menggunakan
sistem instalasi gas medik dan vakum medik. Bila terdapat istilah gas medik
atau vakum, ketentuan tersebut berlaku bagi semua sistem perpipaan untuk
oksigen, nitrous oksida, udara medik, karbon dioksida, helium, nitrogen,
vakum medik untuk pembedahan, pembuangan sisa gas anestesi, dan
campuran dari gas-gas tersebut. Bila terdapat nama layanan gas khusus atau
vakum, maka ketentuan tersebut hanya berlaku bagi gas tersebut.
Potensi bahaya kebakaran, ledakan dan lainnya yang berkaitan dengan
sistem perpipaan sentral gas medik dan sistem vakum bedah-medik harus
dipertimbangkan dalam perancangan, pemasangan, pengujian, pengoperasian
dan pemeliharaan dari sistem ini.

32
BAB III

TINJAUAN LOKASI

3.1 Letak Geografi Klaten

a. Geografis dan Letak Geografi

Secara geografis Kabupaten Klaten terletak di antara 110°30'-110°45'


Bujur Timur dan 7°30'-7°45' Lintang Selatan. Luas wilayah kabupaten Klaten
mencapai 655,56 km2. Di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten
Sukoharjo. Di sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul
(Daerah Istimewa Yogyakarta). Di sebelah barat berbatasan dengankabupaten
Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) serta Kabupaten Magelang dan di
sebelah utara berbatasan dengankabupaten Boyolali. Wilayah Kabupaten
Klaten terbagi menjadi tiga dataran yakni Sebelah Utara Dataran Lereng
Gunung Merapi, Sebelah Timur Membujur Dataran Rendah, Sebelah Selatan

33
Dataran Gunung Kapur. Menurut topografi kabupaten Klaten terletak di
antara gunung Merapi dan pegunungan Seribu dengan ketinggian antara 75-
160 meter di atas permukaan laut yang terbagi menjadi wilayah lereng
Gunung Merapi di bagian utara areal miring, wilayah datar dan wilayah
berbukit di bagian selatan.

Keadaan iklim Kabupaten Klaten termasuk iklim tropis dengan musim


hujan dan kemarau silih berganti sepanjang tahun, temperatur udara rata-rata
28°-30° Celsius dengan kecepatan angin rata-rata sekitar 153 mm setiap
bulannya dengan curah hujan tertinggi bulan Januari (350mm) dan curah hujan
terrendah bulan Juli (8mm).

b. Wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 (tiga) dataran :

1. Dataran Lereng Gunung Merapi membentang di sebelah utara meliputi


sebagian kecil sebelah utara wilayah Kecamatan Kemalang,
Karangnongko, Jatinom dan Tulung.

2. Dataran Rendah membujur di tengah meliputi seluruh wilayah kecamatan


di Kabupaten Klaten, kecuali sebagian kecil wilayah merupakan dataran
lereng Gunung Merapi dan Gunung Kapur.

3. Dataran Gunung Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi


sebagian kecil sebelah selatan Kecamatan Bayat dan Cawas.

c. Ketinggian daerah :

 Sekitar 3,72% terletak di antara ketinggian 0 - 100 meter di atas permukaan


laut.

 Terbanyak 83,52% terletak di antara ketinggian 100 - 500 meter di atas


permukaan laut.

 Sisanya 12,76% terletak di antara ketinggian 500 - 2500 meter di atas


permukaan laut.

d. Klasifikasi Tanah di Kabupaten Klaten.


Jenis tanah terdiri dari 5 (lima) macam :

1. Litosol : Bahan induk dari skis kristalin dan batu tulis terdapat di daerah
kecamatan Bayat.

2. Regosol Kelabu : Bahan induk abu dan pasir vulkanik termedier terdapat
di Kecamatan Cawas, Trucuk, Klaten Tengah, Kalikotes, Kebonarum,
Klaten Selatan, Karangnongko, Ngawen, Klaten Utara, Ceper, Pedan,

34
Karangdowo, Juwiring, Wonosari, Delanggu, Polanharjo, Karanganom,
Tulung dan Jatinom.

3. Grumusol Kelabu Tua : Bahan induk berupa abu dan pasir vulkan interme-
dier terdapat di daerah Kecamatan Bayat, Cawas sebelah selatan.

4. Kompleks Regosol Kelabu dan Kelabu Tua : Bahan induk berupa batuk
apurnapal terdapat di daerah Kecamatan Klaten Tengah dan Kalikotes
sebelah selatan.

5. Regosol Coklat Kekelabuan : Bahan induk berupa abu dan pasir vulkan
intermedier terdapat di daerah Kecamatan Kemalang, Manisrenggo,
Prambanan, Jogonalan, Gantiwarno dan Wedi.

3.2 Pembagian lokasi

Alternatif 1

1. Lokasi :Jl. Diponegoro karanganom, Klaten.

2. Luas site : ±6900 m²

3. Keadaan tanah : Lahan Kosong

4. Batasan site
a. Bagian Utara : Pemukiman Penduduk
b. Bagian Selatan : Pemukiman Penduduk
c. BagianTimur : Jl. Diponegoro

35
d. Bagian Barat : Pemukiman Penduduk

5. Fasilitas umum :
a. Dekat dengan jalan raya;
b. Dekat dengan jaringan listrik.

6. View tapak

36
Alternatif 2

37
1. Lokasi : Jl. Mayor khusmanto,klaten,jawa tengah

2. Luas Site : ±5.500 m²

3. Keadaan Tanah : Lahan kosong

4. Batasan Tapak
a. Sebalah Utara : Pemukiman penduduk
b. Sebelah Timur : Pemukiman Penduduk
c. Sebelah Barat : Lahan kosong
d. Sebelah Selatan :

5. Fasilitas umum :

a. Dekat dengan jalan raya;


b. Dekat dengan masjid;
c. Dekat dengan jaringan listrik.

6. View tapak
:

38
Alternatif 3

1. Lokasi : Jl. Klaten-solo,jombor,ceper,kab.klaten jawa


tengah

2. Luas Site : ± 7.800 m²

3. Keadaan Tanah : Lahan Kosong

4. Batasan Tapak
a. Sebalah Utara : Pemukiman
b. Sebelah Timur : Lahan pertanian
c. Sebelah Barat : Lahan Pertanian

39
d. Sebelah Selatan : Hotel

5. Fasilitas umum :

a. Dekat dengan jalan raya;


b. Dekat dengan jaringan listrik.

6. View tapak :

40