Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL KIMIA BAHAN ALAM

ISOLASI KAFEIN DARI DAUN TEH

DISUSUN ILEH :

KELOMPOK 7

1. BQ. HARTINA (E1M015017)


2. LINA NUR AFIFAH (E1M015043)
3. NILA MUTIA SARI (E1M015050)
4. SHAFA AMINA RAEHANI (E1M015065)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MATARAM

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Teh (Camellia sinensis)merupakanminuman yang dikenal oleh seluruh lapisan
masyarakat. Teh memiliki banyak khasiat, salah satunya adalah mencegah terjadinya
penggumpalan darah. Kondisi ini menyebabkan menurunnya kemungkinan terjadinya
serangan jantung koroner. Teh juga dapat digunakan sebagai antioksidan,
memperbaiki sel-sel yang rusak, menghaluskan kulit, melangsingkan tubuh, mencegah
kanker, mengurangi kolesterol dalam darah, dan melancarkan sirkulasi darah. Hal ini
disebabkan karena teh mengandung senyawa-senyawa bermanfaat seperti polifenol,
theofilin, flavonoid/metihxantin, tanin, vitamin C dan E, catechin, serta sejumlah
mineral seperti Zn, Se, Mo, Ge, Mg.
Umumnya senyawa kimia yang terkandung dalam daun teh terdiri dari 4
kelompok, yaitu substansi fenol (kafein, dan flafano), substansi bukan fenol (mineral
dan vitamin), substansi aromatic, dan enzim. Dari beberapa literatur, diketahui bahwa
kopi dan teh banyak mengandung kafein dibandingkan jenis tanaman lain, karena
tanaman kopi dan teh menghasilkan biji kopi dan daun teh dengan sangat cepat,
sementara penghancurannya sangat lambat. Kandungan kafein dalam daun teh
berkisar antara 2%-5% (Hermanto, 2007).
Kafein merupakan zat penikmat yang terdapat di dalam teh. Kafein termasuk
kelompok senyawa yang dikenal sebagai alkaloid. Alkaloid adalah salah satu senyawa
bahan alam yang mempunyai struktur dasar bernitrogen, biasanya mempunyai rasa
yang pahit, berstruktur kompleks, dan mempunyai aktifitas fisiologi tertentu.Kafein
adalah suatu senyawa organik yang mempunyai nama lain 1,3,7-trimetil xanthin yang
dapat merangsang kerja pernapasan, hati dan sistem saraf pusat.
Kafein memiliki efek farmakologis yang bermanfaat secara klinis
sebagaibahan obat untuk gangguan limpa, jantung dan saraf pusat. Kafein bertindak
sebagai antioksidan dalam tubuh.Kafein juga seringditambahkan dalam jumlah
tertentu ke dalam minuman suplemen.Akan tetapi, jika kandungan kafein dalam teh
terlalu banyak, kafein dapat bertindak sebagai racun dalam tubuh. Berdasarkan uraian
tersebut, maka perlu dilakukan isolasi kafein dari daun teh.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara mengisolasi senyawa kafein dalam teh?
2. Bagaimana cara mengidentifikasi hasil isolasi senyawa kafein dari daun teh?

C. TUJUAN
1. Untuk mengisolasi senyawa kafein dari daun teh.
2. Untuk mengidentifikasi hasil isolasi senyawa kafein dari daun teh.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. TANAMAN TEH
1. Taksonomi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Dialypetalae
Ordo : Clusiales
Familia : Theaceae
Genus : Camellia
Spesies : Camellia sinensis
2. Pengertian
Tanaman teh (Camellia sinensis) merupakan tanaman tahunanyang berasal
dari daratan Asia Selatan dan Tenggara, namun sekarang telah dibudidayakan di
seluruh dunia, baik daerah tropis maupun subtropis. Pada umumnya, teh (Camelia
sinensis) tumbuh di daerah tropis dengan ketinggian antara 200-2000 meter diatas
permukaan laut. Suhu cuaca antara 14-25 derajat celsius. Ketinggian tanaman
dapat mencapai hingga 9 meter untuk Teh Cina dan Teh Jawa, ada yang berkisar
antara 12-20 meter tingginya untuk tanaman Teh jenis Assamica. Hingga saat ini,
di seluruh dunia terdapat sekitar 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara.
Tumbuhan ini merupakan perdu atau pohon kecil yang biasanya dipangkas bila
dibudidayakan untuk dipanen daunnya.
3. Bagian-bagian tanaman teh
a. Akar
Akar teh berupa akar tunggang dan mempunyai banyak akar cabang. Apabila
akar tunggangnya putus, akar – akar cabang akan menggantikan fungsinya
dengan arah tumbuh yang semula melintang (horisontal) menjadi ke bawah
(vertikal). Akar bisa tumbuh besar dan cukup dalam.
b. Batang

c. Daun
Daun tunggal dan letaknya hampir berseling. Tulang daun menyisip.
Permukaan atas daun muda berbulu halus, sedangkan permukaan bawahnya
bulunya hanya sedikit. Daun teh memiliki panjang 4–15 cm dan lebar 2–5 cm.
Daun segar mengandung kafeina sekitar 4%. Daun muda yang berwarna hijau
muda lebih disukai untuk produksi teh; daun-daun itu mempunyai rambut-
rambut pendek putih di bagian bawah daun. Daun tua berwarna lebih gelapdan
permukaannya halus dan tidak berbulu lagi.. Daun dengan umur yang berbeda
menghasilkan kualitas teh yang berbeda-beda, karena komposisi kimianya
yang berbeda. Biasanya, pucuk dan dua hingga tiga daun pertama dipanen
untuk permrosesan. Teh putih, teh hijau, teh oolong, teh hitam (atau teh merah)
semuanya dihasilkan dari olahan daun spesies ini, namun diproses secara
berbeda untuk memperoleh tingkat oksidasi yang berbeda.
d. Bunga
Bunga muncul dari ketiak daun. Warnanya putih bersih dan berbau
wangi lembut. Namun, ada bunga yang berwarna semu merah jambu. Mahkota
bunga berjumlah 5 – 6 helai. Putik dengan tangkai yang panjang atau pendek
dan pada kepalanya terdapat tiga buah sirip. Jumlah benang sari 100 – 200.
e. Buah
Buah teh berupa buah kotak berwarna hijau kecokelatan. Dalam satu
buah berisi satu sampai enam biji, rata – rata tiga biji. Buah yang masak dan
kering akan pecah dengan sendirinya serta bijinya ikut keluar. Bijinya
berbentuk bulat atau gepeng pada satu sisinya, berwarna putih sewaktu masih
muda dan berubah menjadi cokelat setelah tua.
f. Biji
Biji Camellia sinensis serta biji Camellia oleifera dapat dipres atau
diperas untuk mendapatkan minyak teh, suatu bumbu yang agak manis
sekaligus minyak masak yang berbeda dari minyak pohon teh, suatu minyak
atsiri yang dipakai untuk tujuan kesehatan dan kecantikan dan berasal dari
dedaunan tumbuhan yang berbeda.

B. MANFAAT DAN KANDUNGAN DAUN TEH


Teh adalah suatu bahan pangan yang dapat diolah menjadi sebuah produk.
Daun teh merupakan bagian terpenting yang paling banyak dimanfaatkan untuk diolah
sebagai minuman. Teh memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai antioksidan.
Teh juga berfungsi untuk memperbaiki sel-sel yang rusak, menghaluskan kulit,
melangsingkan tubuh, mencegah kanker, mencegah penyakit jantung, mengurangi
kolesterol dalam darah, dan melancarkan sirkulasi darah.
Umumnya senyawa kimia yang terkandung dalam daun teh terdiri dari 4
kelompok, yaitu substansi fenol (kafein, dan flafano), substansi bukan fenol (mineral
dan vitamin), substansi aromatic, dan enzim. Dari beberapa literatur, diketahui bahwa
kopi dan teh banyak mengandung kafein dibandingkan jenis tanaman lain, karena
tanaman kopi dan teh menghasilkan biji kopi dan daun teh dengan sangat cepat,
sementara penghancurannya sangat lambat. Kandungan kafein dalam daun teh
berkisar antara 2%-5% (Hermanto, 2007).
Kunci manfaat teh bagi kesehatan terletak pada komponen bioaktifnya, yaitu
polifenol yang secara optimal terkandung dalam daun teh. Secara umum, polifenol
terbagi atas dua bagian besar, yaitu flavonoid dan asam fenolat. Flavonoid merupakan
golongan terbesar dari senyawa polifenol. Senyawa flavonoid dapat mencegah
penyakit kardiovaskuler dengan cara menurunkan laju oksidasi lemak. Beberapa
penelitian juga menyatakan bahwa flavonoid dapat menurunkan hiperlipidemia pada
manusia. Pada penyakit jantung, penghambatan oksidasi LDL oleh flavonoid dapat
mencegah oksidasi partikel lipid dan menurunkan risiko terjadinya aterosklerosis
(Astawan dan Kasih, 2008).
Teh juga mengandung tannin. Kandungan tanin pada teh berkhasiat
menyegarkan tubuh dan pikiran, melancarkan peredaran darah, memacu kerja jantung
dan stroke, memperbaiki perencanaan makanan dan mampu membakar lemak. Selain
itu, kandungan vitamin C pada daun teh segar cukup tinggi bahkan lebih tinggi dari
pada tomat dan jeruk sehingga baik untuk mencegah flu.

C. Kafein dan manfaatnya


Kafein ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang
bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan. Kafein ditemukan oleh
seorang kimiawan Jerman, Friedrich Ferdinand Runge, pada tahun 1819. Kafein juga
disebut guaranina ketika ditemukan pada guarana, mateina ketika ditemukan
pada mate, dan teina ketika ditemukan pada teh. Semua istilah tersebut sama-sama
merujuk pada senyawa kimia yang sama.Kafein memiliki berat molekul 194.19
dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air). Rumus
strukturnya adalah:
1,3,7-trimethylxanthine

Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi,
daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar. Secara
ilmiah, efek langsung dari kafein terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang
ada adalah efek tak langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan jantung, serta
memberikan efek samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur
(insomnia), dan denyut jantung tak beraturan (tachycardia).Kafein memiliki efek
farmakologis yang bermanfaat secara klinis sebagai bahan obat untuk gangguan limpa,
jantung dan saraf pusat. Kafein bertindak sebagai antioksidan dalam tubuh. Kafein
juga sering ditambahkan dalam jumlah tertentu ke dalam minuman suplemen.Kafein
digunakan pada penyakit tertentu, seperti neuralgia migrain dan terjadi kelelahan,
digabungkan dengan anmalgetik seperti aspirin. Dosis yang terlalu besar
menyebabkan insomnia, kurang tidur/istirahat dan tokirdodia ( Ahmad, 1992 ).
Kafein dari teh kering terdapat 3%, bahan inilah yang menimbulkan rasa
nikmat dari teh. Pada hakikatnya, kafein menyebar merata pada semua bagian
tanaman, tetapi kadarnya berbeda. Daun yang muda banyak mengandung kafein yaitu
sebesar 3-4%, sedangkan daun-daun yang ke-5 dan ke-6 mengandung 1,5% serta daun
yang paling ujung pangkal mengandung 0,5% kafein (Sujarwo, 1964 ).
Kristal kafein dalam air berupa jarum-jarum bercahaya. Bila tidak
mengandung air, kafein meleleh pada suhu 234 oC-239 oC dan menyublim pada suhu
yang lebih rendah. Kafein mudah larut dalam air panas dan kloroform, tetapi serikit
larut dalam air dingin dan alkohol. Kafein larut dalam larutan pirol dan
tetrahidrofuran.Kelarutan kafein dalam air adalah 2,2 gr/ml pada 25 ⁰C, 180 gr/ml
pada 80 ⁰C, dan 670 mg/ml pada 100 ⁰C. Kelarutan kafein dalam air berkurang
dengan adanya asam-asam organik.Kafein bersifat basa lemah dan hanya dapat
membentuk garam dengan basa kuat (Abraham, 2010).
D. Cara isolasi kafein
Isolasi adalah proses pengambilan atau pemisahan suatu zat dari suatu bahan
alam dengan menggunakan suatu pelarut yang sesuai. Kelarutan suatu zat didalam
pelarut tergantung dari ikatannya apakah polar atau non polar. Bahan-bahan organik
tidak selalu larut dalam air,oleh karena itu dapat dipisahkan dengan menggunakan
corong pemisah.

Kristalisasi adalah suatu teknik pemurnian. Kristalisasi dapat didefinisikan


sebagai tahap perubahan dimana produk yang berupa kristal diperoleh dari suatu
larutan yang multi komponen yang membentuk fase tunggal homogen. Syarat suatu
larutan agar dapat mengkristalisasi adalah larutan telah mencapai lewat jenuh. Cara
yang dapat dilakukan untuk mencapai kondisi lewat jenuh tersebut diantaranya dengan
perubahan temperatur dan penguapan pelarut (Fitra dkk, 2017: 10).

Prosedur klasik untuk memperoleh kandungan senyawa organik di jaringan tumbuhan


kering adalah dengan cara mengekstraksi serbuk bahan dengan alat soxhlet dengan
menggunakan sederetan pelarut secara berganti-ganti dengan ester, eter, minyak
bumi dan kloroform (untuk memisahkan lipid dan terpenoid). Kemudian digunakan
alkohol dan etil asetat (untuk senyawa yang lebih polar). Metode ini berguna bila kita
bekerja dengan skala gram. Ekstrak yang diperoleh dijernihkan dengan penyaring
menggunakan celite dan pompa air, lalu dipekatkan dalam hampa. Sekarang hal ini
biasanya dilakukan dalam penguap putar yang akan memekatkan larutan menjadi
volume kecil tanpa terjadi pencairan pada suhu antara 300C dan 400C (Harborne,
1987:210).
Ekstraksi pelarut atau ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling
baik dan populer. Alasan utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik
dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat
terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur,
seperti benzena, karbon titraklorida atau kloroform. Batasannya adalah zat terlarut
dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut. Teknik ini dapat
dipergunakan untuk hal preparative, pemurnian, memperkaya pemisahan serta analisis
pada semua skala kerja (Khopkar, 1990:85).
BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. ALAT DAN BAHAN


1. ALAT
a. Gelas kimia
b. Corong pisah
c. Gelas ukur
d. Corong kaca
e. Pipa refluks
f. Pengaduk
g. Labu bulat
h. Hotplate
i. Rotatory evaporator
j. Statif
k. Klem
l. Neraca analitik
m. Pipet tetes
n. Pipa penghubung
o. Erlenmeyer
p. Penotol
q. Penggaris
r. Pensil
s. UV lamp

2. BAHAN
a. Daun teh
b. Kertas saring
c. Serbuk CaCO3
d. Aquadest
e. Larutan CCl4
f. Na2SO4 anhidrat
g. Aluminium foil
h. Kertas saring
i. Tissue
j. Plat silica gel
k. Plastik bening

B. CARA KERJA
1. Isolasi Kafein dari Daun Teh
a. Ditimbang100 gram daun teh kemudian dimasukkan ke dalam labu bulat.
b. Dicampurkan 20 gram serbuk CaCO3 serbuk dengan 300ml air kemudian
dimasukkan larutan CaCO3 ke dalam labu bulat yang berisi daun teh.
c. Dilakukanrefluks selama 2 jam.
d. Disaringhasil refluks dengan kertas saring dan didinginkan hasilnya.
e. Dipekatkan filtrat hasil saringan sampai 50 mL menggunakan evaporator.
f. Ditambahkan10ml CCl4. (konsentrasinya)
g. Mengekstraksi dengan cara menggojoknya, menampung lapisan bawah.
h. Mengulangi proses 6&7 sebanyak 4 kali.
i. DitambahkanNa2SO4 anhidrat pada hasil penggojokan sampai jernih, kemudian
menyaring hasilnya.
j. Diuapkanfiltrat sampai filtrat kering.
k. Ditambahkanaseton yang telah dipanaskan kedalamnya sampai seluruh residu
larut dan terbentuk kristal.
l. Didekantasikristal yang terbentuk, kemudian dikeringkan.
m. Ditimbangkristal yang terbentuk.
2. Pemurnian kafein dengan Uji KLT
a. Dilarutkan Kristal dengan kloroform
b. Disiapkan fase gerak
1. Diambil larutan etil asetat dengan metanol (3:1) atau kloroform dengan
metanol (9:1) vol/vol kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia dan ditutup
dengan plastic bening.
c. Disiapkan fase diam
1. Diambil plat KLT dan kemudian dipotong dengan ukuran panjang 10 cm dan
lebar 6 cm.
2. Dibuat garis start pada plat KLT dengan jarak 1 cm dari bagian bawah plat.
3. Dibuat garis finish pada plat dengan jarak 1 cm dari bagian atas plat.
4. Dibuat titikpada garis start plat dengan pensil.
5. Ditotolkan larutan Kristal + kloroform pada plat KLT tepat pada titik yang
dibuat.
d. Pemisahan
1. Dimasukkan plat KLT yang sudah ditotoli larutan ke dalam gelas kimia yang
berisi larutan eluen.
2. Ditutup kembali gelas kimia tersebut dengan plastik bening.
3. Ditunggu sampai fase geraknya mencapai garis finish plat.
e. Menentukan Rf
1. Dikeluarkan plat KLT dari gelas kimia.
2. Dilihat kualitas warna yang terbentuk pada plat dengan cara dimasukkan plat
KLT ke dalam UV lamp. Apabila warna plat tidak bisa terlihat, maka plat KLT
harus disemprotkan dengan larutan ninhidrin pada semua permukaan plat.
3. Dikeringkan plat dengan hair dryer sampai warna plat dapat terlihat jelas.
4. Dilihat kualitas warna yang terbentuk pada plat dengan cara dimasukkan plat
KLT ke dalam UV lamp untuk melihat warna.
5. Diukur panjang noda atau warna yang terbentuk dengan penggaris.
6. Dihitung nilai Rf larutan Kristal.

f. Dilarutkan Kristal dengan kloroform


g. Dibuat eluen etil asetat dengan metanol (3:1) atau kloroform:metanol (9:1)
h. Dielusi noda dan disemprot dengan pereaksi spesifik
i. Dihitung nilai Rf
j. Tandai spot yang terlihat.
DAFTAR PUSTAKA

Sumardjo, Damin. 2009.Pengantar Kimia. Jakarta: EGC.

Fitra, F. Zulharmita. Wahyu, N. 2017.”Pembuatan kafein benzoat secara semisintetis dari


serbuk teh kayu karo”. Jurnal Farmasi Higea.9 (1) :9-19.

Thariq, Nugraha Majid. 2010. Pembuatan teh rendah kafein melalui proses ekstraksi dengan
pelarut etil aseta [skripsi].Semarang (ID): Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

Kesia, Rialita, M. Gayatri, C. Fretly, W. 2013.”Analisis kafein dari kopi bubuk di kota
manado menggunakan spektrfotometri UV-VIS”. Jurnal Ilmiah Farmasi .2 (4) :122-
128.

Soleh, Dedi Effendy dkk. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Teh. Bogor: Nitro Pdf
Profesional.

Abraham, 2010. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. UNHALU : Kendari.

Hasnawati, 2005. Analisis Kuantitatif Kafein Dalam Minuman Suplemen Menggunakan


Spektrofotometer UV-Vis. UNHALU. Kendari.

Hermanto, Sindhu. 2007. Kafein, Senyawa Bermanfaat atau Beracunkah?.http://Chem-is-


try.org [9 Juni 2010].

http://id.wikipedia.org /Kafeina.htm (diakses tanggal 15 maret 2012).

Ahmad, Mustafa, 1992, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.

Finar, 1985, Organic chemistry, Longsman, london.

Sujarwo, 1964, Bercocok Tanam Teh, Summur, Bandung.

Winarno, 1991, Komoditi Teh, yayasan Obor, Jakarta.

Astawan, Made dan Andreas Leomitro Kasih. 2008. Khasiat Warna-Warni Makanan.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, h. 31, 290, 292-294, 296.
Setyamidjaja, Djoehana. 2000. Teh: Budi Daya danPengolahan Pascapanen. Yogyakarta:
Kanisius, hal. 122, 126, 130-132.
Rohdiana, D., dan Widiantara, T. 2004. Aktivitas Antioksidan Beberapa Klon Teh Unggulan,
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia
(PATPI), 17-18 Desember, Jakarta

ratna somantri & tanti k, 2011. KISAH DAN KHASIAT TEH. Pt gramedia pustaka utama
anggota IKAPI : jakarta