Anda di halaman 1dari 7

BAHASA DAN LINGKUNGAN

MAKALAH EKOLINGUISTIK

OLEH:

APRILIA KARTIKA PUTRI


NIM: 1720722014

NASTITI KHARISMA
NIM: 17207220

PASCASARJANA LINGUISTIK
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keterkaitan antar bidang ilmu bukanlah hal yang baru. Berbagai bidang ilmu
cenderung saling berkaitan karena kehidupan manusia yang mengaplikasikan bidang
ilmu tersebut juga tidaklah terkotak-kotak antara bidang ilmu yang satu dengan yang
lainnya. Saat seorang linguistik ingin mempelajari perubahan fonologi dari sebuah
unsur tuturan saat si penutur berbicara dalam lingkungan sosial tertentu, maka ia juga
harus mempertimbangkan teori-teori sosiologi yang nerkaitan dengan itu. Keterkaitan
itu memunculkan ilmu sosiolinguistik.
Saat seorang linguis menyadari bahwa semua yang dilakukan oleh dirinya diatur
oleh otak di dalam kepalanya, termasuk bahasa, ini juga memunculkan kajian baru,
yakni psikolinguistik dan neurolinguistik. Pola-pola yang serupa seperti ini juga
menimbulkan berbagai bidang ilmu yang sering dikelompokkan ke dalam bagian dari
makrolinguistik: linguistik historik komparatif, linguistik evolusionari, linguistik
klinis, juga termasuk ekolinguistik.
Ekolinguistik merupakan kajian interdisipliner yang mengkaji keterkaitan antara
ekologi (lingkungan) dengan linguistik (bahasa). Dibandingkan dengan kajian
interdisipliner yang berhubungan dengan linguistik lainnya, bidang ini termasuk baru;
kajiannya diulai pada 1970an oleh Haugen, sebeum akhirnya mulai dikembangkan
oleh Halliday di tahun 1990 (Subiyanto, 2009) dan terus berkembang hingga saat ini.
Keterkaitan antara bahasa dan lingkungan inilah yang menjadi topik dari makalah ini.
Makalah ini akan mengupas keterkaitan antara bahasa dan lingkungan tersebut
melalui berbagai permasalahan di masing-masing bidang dan juga keberagaman di
kedua bidang ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat ditentukan rumusan
masalah dalam makalah ini, yakni:
1. Seperti apa keterkaitan bahasa dan lingkungan dari berbagai masalah keduanya?
2. Seperti apa keterkaitan keberagaman bahasa dan lingkungan?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan


Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka dapat ditentukan tujuan dan
manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu:

2
1. Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan bahasa dan lingkungan
2. Untuk mengetahui keterkaitan keberagaman bahasa dan lingkungan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Permasalahan-permasalahan Bahasa dan Lingkungan

B. Keberagaman Bahasa dan Lingkungan

3
Bahasa yang digunakan oleh manusia sangatlkah beragam. Di Indonesia saja,
menurut BPS 2010, terdapat 1158 bahasa daerah yang digunakan, dengan bahasa
Indonesia esebagai bahasa pemersatu bangsa ini. Belum lagi jika dibandingkan
dengan penduduk bumi lainnya yang jika secara total, menurut data Bank Dunia 2016,
adalah 7, 442 miliar penduduk. Keragaman bahasa ini, menurut Setiawan (2014),
secara umum disebabkan karena adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh
kelompok dan juga dikarenakan penuturnya sendiri yang tidak homogen.
Kridalaksana (dalam Setiawan, 2014) mencanangkan tiga ragam bahasa: yakni
ragam bahasa karena daerah asal penutur, ragam bahasa karena pendidikan penutur,
dan ragam bahasa karena sikap penutur. Keberagaman bahasa karena daerah asal
penutur merupakan contoh yang mudah sekali ditemui di Indonesia. Orang yang
berasal dari daerah Sumatera Brat, misalnya, memiliki bahasa Minang sebagai bahasa
daerahnya. Ini berbeda dengan bahasa Jawa oleh masyarakat dari daerah Jawa Tengah.
Keberagaman ini juga menimbulkan logat yang khas saat mereka berbicara dengan
bahasa kedua mereka, yakni bahasa Indonesia.
Keragaman bahasa berikutnya menurut Kridalaksana adalah karena perbedaan
latar belakang pendidikan penutur. Penutur A yang memiliki latar belakang
oendidikan lebih tinggi dari Penutur B, misalnya, akan terlihat dari pemilihan
kosakata yang ia pilih dan ketepatan penggunaan kosakata tersebut. Kemudian,
penyebab keberagaman bahasa yang terakhir, menurut Kridalaksana, disebabkan oleh
sikap penutur. Bagaimana sikap penutur terhadap lawan tuturnya yang walaupun
meggunakan bahasa yang sama, misalnya, mempengaruhi pemilihan kata yang ia
gunakan.
Namun begitu, dalam tulisan Glausiusz (dalam Fill & Muhlhausler, 2001),
terdapat unsur lainnya yang juga mempengaruhi keberagaman bahasa. Jika
Kridalaksana (dalam Setiawan, 2014) menjabarkan tiga faktor penyebab keragaman
bahasa: daerah asal penutur, perbedaan latar pendidikan, dan sikap penutur, maka
pakar ini memiliki pendapat lain, bahwa curah hujan juga mempengaruhi
keberagaman bahasa.

Glausiusz: Hubungan antara Curah Hujan dan Keberagaman Bahasa


Di Afrika Barat, terdapat lebih dari 700 bahasa yang perbedaannya, menurut
Glausiusz, bisa dibandingkan dengan perbedaan bahasa Inggris dengan bahasa Cina.
Kamerun dengan 12 juta penduduknya juga memiliki jumlah bahasa yang banyak,
275 bahasa. Persamaan diantara mereka berdua adalah mereka sama-sama daerah
dengan curah hujan tinggi.
4
Nettle, seorang antropolinguis di Oxford, menemukan bahwa adanya korelasi
antara lamanya musim hujan dengan jumlah bahasa di wilayah tersebut. Nettle
melakukan penelitiannya selama 4 tahun, dengan membandingkan peta-peta ekologis
dengan berbagai peta rentangan bahasa. Nettle membagi negara-negara di Afrika
Barat menjadi 4 bagian, menghitung jumlah penutur tiap bahasa di tiap bagian, dan
membandingkannya dengan curah hujan di tiap bagian yang telah ia bagi tersebut.
Dari hasil penelitiannya, ia menemukan bahwa di daerah selatan dimana musim
hujannya bertahan hingga 11 bulan, terdapat sampai 80 bahasa perbagian. Semakin ke
utara, dimana merupakan lahan tandus savana dengan musim hujan kurag dari 4
bulan, jumlah bahasanya menurun, hingga rata-rata hanya 3 bahasa per bagian di
dekat gurun Sahara. Kasus yang sama juga ia temukan di Niger, negara kering dengan
hanya 20 bahasa, dan Nigeria, negara dengan curah hujan tinggi dengan 430 bahasa.
Nettle menyimpulkan bahwa curah hujan ini berpengaruh besar terhadap
perkembangan bahasa daerahnya. Daerah dengan curah hujan tinggi, seperti yang
mencapai 11 bulan tersebut, dapat menghasilkan produksi makanan lebih dari cukup
untuk masyarakatnya. Ini menyebabkan kontak dengan daerah lain dengan bahasa
yang berrbeda tidak terlalu diperlukan, sehingga ada kemungkinan besar bahassa-
bahasa mereka akan berkembang. Sebaliknya, daerah dengan curah hujan sedikit,
membutuhkan kontak dengan daerah lainnya untuk produksi makanan mereka.
Akibatnya, terdapat penurunan alam perkembangan bahasa mereka sendiri.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dijabarkan oleh penulis dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Menurut Kridalaksana, keberagaman bahasa disebeabkan karena tiga hal: asal
daerah penutur, latar belakang pendidikan penutur, dan sikap penutur.
2. Namun begitu, Glausiusz menemukan faktor lainnya, yakni lingkungan, yang
tergambar dari tulisan mereka di daerah dengan curah hujan tinggi di Afrika Barat
dan Melanesia.

5
3. Glausiusz menulis tentang penelitian Nettle yang menemukan adanya korelasi
antara jumlah curah hujan di sebuah daerah dengan jumlah bahasa yang dimiliki
oleh masyarakatnya.
4. Ini dikarenakan daerah dengan curah hujan yinggi tidak terlalu memerlukan kontak
dengan daerah lain (dengan bahasa yang berbeda) karena mereka dapat
memproduksi makanan mereka sendiri, sehingga bahasa mereka dapat
berkembang. Kebalikannya, daerah dengan curah hujan rendah memerlukan daerah
lain karena mereka tidak mampu memproduksi makanan untuk mereka sendiri
sehingga penggunaan bahasa mereka pu menjadi berkurang/bahasa mereka
mengalami pergeseran lebih cepat.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan.
Karena itulah, kritik, saran, dan masukan sangat diharapkan oleh penulis demi
semakin baiknya makalah ini. Kritik, saran, dan masukan tersebut juga diharapkan
dapat membantu pemahaman pembaca yang lebih baik lagi mengenai bahasa dan
lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Glausiusz, Josie. 2001. “The Ecology of Language: Link Between Rainfall and Language
Diversity” dalam A. Fill dan P. Muhlhausler (penyunting) The Ecolinguistics Reader:
Language, Ecology, and Environment (165-166). New York: Continuum
Subiyanto, Agus. 2009. Ekolinguistik: Model Analisis dan Penerapannya. Jurnal Fakultas
Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Tidak diterbitkan.
Setiawan, Bayu. 2014. Keberagaman Bahasa. Diakses 12 Februari 2018.
https://bayusetiawan21.wordpress.com/2014/11/03/keragaman-bahasa/

6
7