Anda di halaman 1dari 343

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN

NOMOR 5 TAHUN 2016

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH


(RPJMD) KABUPATEN BINTAN TAHUN 2016-2021

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BINTAN,

Menimbang : a. Bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah


(RPJMD) merupakan dokumen perencanaan
pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahun
memuat visi, misi dan arah pembangunan daerah;

b. Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang


Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah perlu
menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021 yang
merupakan perwujudan visi, misi dan Program Bupati
Bintan yang memuat kebijakan penyelenggaraan
Pembangunan;

c. Bahwa sesuai dengan amanat peraturan perundang-


undangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) ditetapkan dengan peraturan daerah;
d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1956 tentang
Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten dalam
lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Tengah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 25,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3896);

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang


Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 111, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4237);

3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4286);

4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4389);

5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang


Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4438);

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana


Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4700);

8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);

9. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang


Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4739);

10. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintah Daerah;

11.Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana


Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 137 Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4575);

12.Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang


Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

13.Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang


Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan
Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4585);

14.Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang


Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

15.Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang


Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor
25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4614);

16.Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata


Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4663);

17.Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata


Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor
97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4664);

18.Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang


Pedoman Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan
Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kepada Masyarakat
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4693);

19.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang


Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);

20.Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang


Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

21.Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang


Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 2008 Nomor 20, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);

22.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun


2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

23.Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Rencana Tata


Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

24.Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang


Pengesahan, Pengundangan dan Penyebarluasan
Peraturan Perundang-undangan;

25.Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-
2019;

26.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007


tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah;

27.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010


tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8
Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah;

28.Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 2 Tahun


2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005-2025
(Lembaran Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2009
Nomor 2).

29.Peraturan Daerah Kabupaten Bintan No. 2 Tahun 2012


tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bintan
Tahun 2011-2031;

30.Peraturan Daerah Kabupaten Bintan No. 5 Tahun 2015


tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) Kabupaten Bintan Tahun 2005-2025;

31.Peraturan Daerah Kabupaten Bintan Nomor 6 Tahun 2015


Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2016 (Lembaran
Daerah Kabupaten Bintan Tahun 2015 Nomor 6);

32.Peraturan Bupati Bintan Nomor 31 Tahun 2015 tentang


Penjabaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun
Anggaran 2016 (Berita Daerah Kabupaten Bintan Tahun
2015 Nomor 31);

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BINTAN
dan BUPATI BINTAN

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA


PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)
KABUPATEN BINTAN TAHUN 2016-2021.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :

1. Daerah adalah Kabupaten Bintan.

2. Bupati adalah Bupati Bintan

3. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahan


oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
menurut azas otonomi dan Tugas Pembantuan dengan prinsip
otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Bintan.

5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD


adalah Dewan Perwakilan Rakyat daerah Kabupaten Bintan.

6. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah


Satuan Kerja Perangkat Daerah pada Pemerintah Kabupaten Bintan.
7. Pembangunan Daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang
dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata,
baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha,
akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun
peningkatan indeks pembangunan manusia.

8. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya


disebut RPJMD adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah
Kabupaten Bintan untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak
tahun 2016 sampai dengan tahun 2021.

9. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada


akhir periode perencanaan.

10. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan


dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

BAB II
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

Pasal 2

(1) RPJMD merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah


sebagai landasan dan pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam
melaksanakan pembangunan 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2016
sampai dengan Tahun 2021

(2) Rincian RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
Lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
(3) RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi pedoman
penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) setiap
tahunnya.

Pasal 3

RPJMD menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra SKPD dan
sebagai acuan bagi seluruh pemangku kepentingan di Daerah dalam
melaksanakan kegiatan pembangunan selama kurun waktu Tahun 2016-
2021.
Pasal 4
RPJMD dilaksanakan oleh Bupati dalam rangka penyelenggaraan
pembangunan di Daerah.

BAB III SISTEMATIKA

Pasal 5

RPJMD sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 disusun dengan sistematika


sebagai berikut :
a. BAB I : Pendahuluan

b. BAB II : Gambaran Umum Wilayah

c. BAV III : Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka


Pendanaan

d. BAB IV : Analisis Isu-Isu Strategis

e. BAB V : Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

f. BAB VI : Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Daerah

g. BAB VII : Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah

h. BAB VIII : Indikasi Rencana Program Prioritas Yang Disertai Kebutuhan


Pendanaan

i. BAB IX : Penetapan Indikator Kinerja Daerah

j. BAB X : Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan

k. BAB XI : Penutup

BAB IV
PENGENDALIAN DAN EVALUASI

Pasal 6

(1) Bupati melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD.


(2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. Kebijakan perencanaan RPJMD;
b. Pelaksanaan RPJMD.
(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi.
a. Kebijakan perencanaan RPJMD;
b. Pelaksanaan RPJMD; dan
c. Hasil RPJMD.
(4) Tata cara pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB IV
PERUBAHAN RPJMD

Pasal 7

(1) Perubahan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila :


a. Hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses
perumusan tidak sesuai dengan tahapan dan tata cara penyusunan
rencana pembangunan daerah;
b. Hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi
yang dirumuskan tidak sesuai dengan Peraturan perundang-
undangan;
c. Terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau
d. Merugikan kepentingan daerah dan nasional.

(2) Perubahan yang mendasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
c, meliputi terjadinya bencana alam, goncangan politik, krisis ekonomi,
konflik sosial, gangguan keamanan, pemekaran daerah, atau
perubahan kebijakan nasional.

Pasal 8

RPJMD Perubahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ditetapkan dengan


Peraturan Daerah.
Pasal 9

Dalam hal pelaksanaan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran tahunan


tetapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir pembangunan jangka
menengah, perubahan RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB V
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 10

Pada saat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun


2022-2027 belum tersusun, maka penyusunan RKPD Tahun 2022
berpedoman pada RPJMD dan RPJPD Kabupaten, serta mengacu pada
RPJMD Provinsi.

BAB VI
PENUTUP

Pasal 11

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Bintan.

Ditetapkan di Bandar Seri Bentan


pada tanggal 16 Agustus 2016

BUPATI BINTAN,

APRI SUJADI, S.Sos

Diundangkan di Bandar Seri Bentan


pada tanggal 16 Agustus 2016

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BINTAN,

Ir. LAMIDI,MM

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN TAHUN …… NOMOR …...


PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN
NOMOR … TAHUN …..

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)


KABUPATEN BINTAN TAHUN 2016-2021

I. UMUM
Pada hakikatnya perencanaan pembangunan daerah merupakan
bagian integral yang tidak terpisahkan dari sistem perencanaan
pembangunan nasional dengan arah, tujuan, kebijakan, sasaran dan
prioritasnya sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN dengan tujuan untuk
memberikan gambaran mengenai wujud masa depan yang diinginkan
dalam kurun waktu lima tahun. RPJMN sebagai rencana jangka menengah
selanjutnya diterjemahkan secara konkrit, spesifik, dan operasional
menjadi rencana tahunan.
Selain untuk mencapai sasaran pembangunan nasional,
pembangunan daerah juga bertujuan untuk meningkatkan hasil-hasil
pembangunan daerah bagi masyarakat secara adil dan merata agar
masyarakat lebih sejahtera. Dalam rangka memberikan arah dan tujuan
dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan daerah sesuai
dengan visi-misi Bupati berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah, serta mendasarkan pada Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, perlu disusun Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah kurun waktu 5 (lima) tahun.
RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati
untuk waktu 5 (lima) tahun yang penyusunannya berpedoman pada
RPJPD, RTRW Kabupaten dan RPJMD Provinsi dan RTRW pemerintah
kabupaten/kota lainnya, memuat arah kebijakan keuangan daerah,
strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program pembangunan
daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja
dalam rangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
Penyusunan RPJMD dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan pembangunan, serta mengacu pada
ketentuan peraturan. RPJMD digunakan sebagai pedoman penyusunan
Renstra-SKPD dan pedoman penyusunan RKPD pada setiap tahun
anggaran. Berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut diatas, perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang RPJMD.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas

Pasal 2

Cukup jelas

Pasal 3

Cukup jelas

Pasal 4

Cukup jelas

Pasal 5

Cukup jelas

Pasal 6

Cukup jelas

Pasal 7

Cukup jelas

Pasal 8

Cukup jelas

Pasal 9

Cukup jelas
Pasal 10

Cukup jelas

Pasal 11

Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR …..

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN

NOMOR 5 TAHUN 2016

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

KABUPATEN BINTAN TAHUN 2016-2021

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BINTAN

TAHUN ……
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................ i

DAFTAR TABEL .................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ I-1


1.1 Latar Belakang ................................................................. I-1
1.2 Proses Penyusunan ............................................................ I-3
1.3 Landasan Hukum Penyusunan .......................................... I-4
1.4 Hubungan Antar Dokumen ............................................... I-9
1.5 Maksud dan Tujuan .......................................................... I-15
1.5.1 Maksud ................................................................. I-15
1.5.2 Tujuan ................................................................... I-16
1.6 Sistematika Penulisan ....................................................... I-17

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH .............................................


2.1 Aspek Geografi dan Demografi ....................................... II-1
2.1.1 Karakteristik Lokal Wilayah ................................. II-1
2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah .......................... II-7
2.1.3 Wilayah Rawan Bencana ...................................... II-9
2.1.4 Demografi ............................................................. II-12
2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat .................................... II-15
2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi .... II-15
2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial .................................. II-25
2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga.......................... II-35
2.3 Aspek Pelayanan Umum .................................................. II-36
2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib ............................... II-36
2.3.1.1 Pendidikan ............................................. II-38
2.3.1.2 Kesehatan ............................................. II-39
2.3.1.3 Pekerjaan Umum .................................. II-54
2.3.1.4 Perumahan ............................................ II-56
2.3.1.5 Penataan Ruang .................................... II-59
2.3.1.6 Perencanaan Pembangunan .................. II-60
2.3.1.7 Perhubungan ......................................... II-61
2.3.1.8 Lingkungan Hidup ................................ II-63
2.3.1.9 Pertanahan ............................................. II-65
2.3.1.10 Kependudukan dan Catatan Sipil .......... II-66
2.3.1.11 Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak ............................... II-69
2.3.1.12 Keluarga Berencana dan Keluarga
Sejahtera ............................................... II-71
2.3.1.13 Sosial ..................................................... II-72
2.3.1.14 Ketenagakerjaan ................................... II-75
2.3.1.15 Koperasi Usaha Kecil dan Menengah ... II-77
2.3.1.16 Penanaman Modal ................................. II-79
2.3.1.17 Kebudayaan .......................................... II-81


 
2.3.1.18 Kepemudaan dan Olahraga .................. II-82
2.3.1.19 Kesatuan Bangsa .................................. II-84
2.3.1.20 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum
Administrasi Keuangan Daerah,
Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian ............................................ II-85
2.3.1.21 Ketahanan Pangan ................................ II-86
2.3.1.22 Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ... II-87
2.3.1.23 Statistik.................................................. II-88
2.3.1.24 Kearsipan ............................................. II-88
2.3.1.25 Komunikasi dan Informatika ................ II-89
2.3.1.26 Perpustakaan ........................................ II-90
2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan .............................. II-91
2.3.2.1 Pertanian ............................................... II-91
2.3.2.2 Pariwisata ............................................. II-94
2.3.2.3 Energi dan Sumber Daya Mineral ......... II-95
2.3.2.4 Kelautan dan Perikanan ........................ II-96
2.3.2.5 Perdagangan .......................................... II-97
2.3.2.6 Perindustrian ........................................ II-98
2.4 Aspek Daya Saing Daerah ................................................ II-98
2.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah ................... II-98
2.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur .................. II-99
2.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi ...................................... II-103
2.4.4 Fokus Sumber Daya Manusia ............................... II-105
2.5 Perkembangan IPM Kabupaten Bintan ............................ II-105
2.5.1 Perkembangan Komponen IPM di Kab. Bintan .... II-109

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN SERTA KERANGKA


PENDANAAN
3.1 Kinerja Masa Lalu ............................................................ III-2
3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD .................................. III-2
3.1.2 Neraca Daerah ...................................................... III-7
3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu .................. III-11
3.2.1 Proporsi Penggunaan Anggaran ........................... III-11
3.2.2 Analisis Pembiayan .............................................. III-12
3.3 Kerangka Pendanaan ....................................................... III-14
3.3.1 Analisis Pengeluaran Periodik Wajib dan
Meningkat Serta Prioritas Utama .......................... III-14
3.4 Proyeksi Data Masa Lalu ................................................. III-16
3.4.1 Proyeksi Penerimaan Daerah ................................ III-16
3.4.2 Proyeksi Belanja Daerah ...................................... III-19
3.4.3 Proyeksi Pembiayaan Daerah ............................... III-21
3.5 Perhitungan Kerangka Pendanaan .................................... III-21

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS .............................................. IV-1


4.1 Permasalahan Pembangunan Daerah ................................ IV-1
4.1.1 Aspek Kesejahteraan Masyarakat ......................... IV-2
4.1.2 Aspek Pelayanan Umum ...................................... IV-4
4.1.3 Aspek Daya Saing Daerah .................................... IV-10

ii 
 
4.2 Isu Strategis ...................................................................... IV-13
4.2.1 Isu Strategis Internasional .................................... IV-14
4.2.2 Isu Strategis Nasional ........................................... IV-15
4.2.2.1 Kebijakan RPJPN 2005-2025 .............. IV-15
4.2.2.2 Kebijakan RPJMN 2015-2019 ............. IV-18
4.2.3 Isu Strategis Regional ........................................... IV-19
4.2.4 Isu Strategis Lokal ................................................ IV-24
4.2.5 Isu Pengembangan Wilayah Berdasarkan
Rencana Tata Ruang ............................................. IV-
4.2.5.1 Pusat Kegiatan ...................................... IV-
4.2.5.2 Arahan Kawasan Strategis Kabupaten .. IV-

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN ......................................


5.1 VISI ............................................................................... V-1
5.2 MISI ............................................................................... V-3
5.3 Tujuan dan Sasaran .......................................................... V-4

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH


6.1 Strategi .............................................................................. VI-1
6.2 Arah Kebijakan ............................................................... VI-9

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI


KEBUTUHAN PENDANAAN ............................................... .... VIII-47

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH ..................... IX-15

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN ....... X-2

BAB XI PENUTUP ............................................................... XI - 1

iii 
 
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jenis dan Luas Penggunaan Lahan di Kabupaten Bintan,


Tahun 2011 ............................................................................... II-8
Tabel 2.2 Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran Kab. Bintan 2010-2014
di Kabupaten Bintan Tahun 2015 ................................................. II-10
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Laki-laki dan Perempuan
di Kabupaten Bintan Tahun 2015 ................................................. II-13
Tabel 2.4 Jumlah Penduduk yang Menurut Kelompok Umur dan
Dependency Rasio di Kab. Bintan Tahun 2014-2015 ................... II-13
Tabel 2.5 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja
Menurut Lapangan Pekerjaan di Kab. Bintan 2010-2014 ............. II-15
Tabel 2.6 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kab. Bintan Atas
Dasar Harga Konstan Tahun 2010 Menurut Lapangan Usaha,
Tahun 2014-2015 .......................................................................... II-16
Tabel 2.7 Distribusi Produk Domestik Regionl Bruto Kab. Bintan
Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha,
Tahun 2014-2015 ......................................................................... II-17
Tabel 2.8 Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Kab. Bintan Atas
Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha,
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-19
Tabel 2.9 Pendapatan Regional dan Angka Perkapita Kab. Bintan
Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-22
Tabel 2.10 Proporsi Jumlah Penduduk Miskin Terhadap Jumlah
Penduduk Kab. Bintan 2010-2014 ............................................... II-24
Tabel 2.11 Angka Melek Huruf (AMH) Tahun 2010-2014 ........................... II-25
Tabel 2.12 Perbandingan Angka Melek Huruf (AMH) Nasional Provinsi
Kepulauan Riau, dan Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014.......... II-26
Tabel 2.13 Rata-rata Lama Sekolah Tahun 2010-2014 .................................. II-27
Tabel 2.14 Perbandingan Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) ..
Nasional, Provinsi Kepulauan Riau, dan Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-27
Tabel 2.15 Angka Partisipasi Kasar (APK), SD, SLTP dan SLTA
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-28
Tabel 2.16 Angka Partisipasi Murni (APM) SD, SLTP, SLTA
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-28
Tabel 2.17 Angka Harapan Hidup (AHH) Tahun 2010-2014 ........................ II-31
Tabel 2.18 Perbandingan Angka Harapan Hidup (AHH) Nasional,
Provinsi Kepulauan Riau dan Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ..... II-31
Tabel 2.19 Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha Utama di Kab. Bintan Tahun 2014 .................... II-34
Tabel 2.20 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah, 2010-2014 ....................................................... II-34
Tabel 2.21 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Pendidikan, 2010-2014 ... II-37
Tabel 2.22 Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Masyarakat Miskin
Di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................................ II-50
Tabel 2.24 Rasio Tempat Ibadah Per 1000 Penduduk Kabupaten Bintan

iv 
 
Tahun 2010-2014........................................................................... II-
85
Tabel 2.25 Rasio Tempat Pemakaman Umum per 1000 Penduduk
Tahun 2012-2014 ......................................................................... II-54
Tabel 2.26 Rasio Tempat Pembuangan Sampah Per Satuan Penduduk
Di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................................ II-55
Tabel 2.27 Panjang Jalan dilalui Roda 4 di Kab. Bintan Tahun
2010-2014 ............................................................................... II-55
Tabel 2.28 Rumah Tangga Pengguna Listrik di Kab. Bintan ......................... II-58
Tabel 2.29 Rumah Tangga Bersanitasi di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ..... II-59
Tabel 2.30 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber
HPL/HGB di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ............................... II-60
Tabel 2.31 Jumlah Penumpang Angkutan Darat dan Laut di
Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ..................................................... II-61
Tabel 2.32 Jumlah Pengujian Kendaraan Bermotor di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-62
Tabel 2.33 Persentase Penduduk Berakses Air Minum di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-65
Tabel 2.34 Persentase Kepemilikan KTP di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 .. II-67
Tabel 2.35 Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran Penduduk
Tahun 2010-2014 .......................................................................... II-68
Tabel 2.36 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah
(Eksekutif) Tahun 2010-2014 ...................................................... II-69
Tabel 2.37 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-69
Tabel 2.38 Proporsi Kursi DPRD yang diduduki Perempuan di
Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ..................................................... II-70
Tabel 2.39 Rasio Perempuan dalam Angkatan Kerja di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-70
Tabel 2.40 Rasio KDRT di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ........................... II-71
Tabel 2.41 Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak
Dari Tindakan Kekerasan di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ........ II-71
Tabel 2.42 Rasio Akseptor KB di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................ II-72
Tabel 2.43 Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-72
Tabel 2.44 Cakupan Peserta KB Aktif di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ...... II-72
Tabel 2.45 Jumlah Total Sarana Sosial di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ..... II-73
Tabel 2.46 Jumlah PMKS yang mendapat Bantuan Sosial
Di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................................. II-74
Tabel 2.47 Persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan
Sosial di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ...................................... II-75
Tabel 2.48 Kondisi Ketenagakerjaan Menurut Jenis Kelamin Di Kab. Bintan
Tahun 2014 ................................................................................... II-75
Tabel 2.49 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah, 2010-2014 ......................................................... II-78
Tabel 2.50 Jumlah Koperasi di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ..................... II-78
Tabel 2.51 Jumlah Unit MKM Berdasarkan Sektor Usaha di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-79
Tabel 2.52 Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Penanaman Modal


 
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-79
Tabel 2.53 Indikator Kinerja Kebudayaan Tahun 2010-2014 ........................ II-81
Tabel 2.54 Jumlah Situs, Benda dan Kawasan Cagar Budaya yang
Dilindungi dan Dipelihara di Kab. Bintan 2010-2014 ................. II-82
Tabel 2.55 Jumlah Organisasi Pemuda di Kab. Bintan tahun 2010-2014 ...... II-82
Tabel 2.56 Jumlah Organisasi Olahraga di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ... II-83
Tabel 2.57 Jumlah Kegiatan Kepemudaan di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 II-83
Tabel 2.58 Jumlah Kegiatan Olahraga di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ...... II-83
Tabel 2.59 Jumlah Kegiatan Pembinaan Terhadap LSM, Ormas dan OKP
Di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................................ II-84
Tabel 2.60 Jumlah Kegiatan Pembinaan Politik Daerah di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-84
Tabel 2.61 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 Penduduk
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-86
Tabel 2.62 Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk Tahun 2010-2014 ... II-86
Tabel 2.63 Perkembangan Indikator Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................................. II-88
Tabel 2.64 Perkembangan Indikator Kinerja Kearsipan Tahun 2010-2014.... II-89
Tabel 2.65 Perkembangan Indikator Kinerja Komunikasi dan Informasi
Tahun 2010-2014 .......................................................................... II-90
Tabel 2.66 Perkembangan Jumlah Perpustakaan dan Koleksi Buku
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-91
Tabel 2.67 Kontribusi Sektor Pertanian/Perkebunan Terhadap PDRB
Di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................................ II-92
Tabel 2.68 Perkembangan Nilai Tukar Petani di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 .......................................................................... II-93
Tabel 2.69 Perkembangan Produksi Padi atau Bahan Pangan Utama Lokal
Lainnya di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................... II-94
Tabel 2.70 Perkembangan Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-94
Tabel 2.71 Kontribusi Sektor Pertambangan Terhadap PDRB di Kab. Bintan
Tahun 2010-2014 ......................................................................... II-96
Tabel 2.72 Volume dan Nilai Produksi Perikanan Tangkap di Kab. Bintan
Tahun 2012-2014 ......................................................................... II-96
Tabel 2.73 Rasio Tempat Pembuangan Sampah Persatuan Penduduk .......... II-101
Tabel 2.74 Persentase Rumah Tangga yang menggunakan Listrik ............... II-102
Tabel 2.75 Perkembangan IPM Kab. Bintan Tahun 2010-2014 .................... II-107
Tabel 2.76 Perkembangan Angka Harapan Hidup dan Indeks Kesehatan
Di Kab. Bintan Tahun 2010-2014 ................................................ II-111
Tabel 2.77 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah dan Indeks Pendidikan
Di Kab. Bintan 2010-2014 ............................................................ II-113
Tabel 2.78 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke atas yang Melek Huruf
Dan Buta Huruf di Kab. Bintan pada Tahun 2010-2014 ............. II-114
Tabel 2.79 Pendapatan Riil Perkapita dan Indeks Daya Beli Masyarakat
Kab. Bintan Tahun 2010-2014 .................................................... II-116
Tabel T-III C.1 Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah
Tahun 2011-2015 Kab. Bintan ...................................................... III-5
Tabel T-1 Pertumbuhan Neraca Daerah dari Tahun 2013-2015 Kab. Bintan III-7
Tabel T-III C.2 Rata-Rata Pertumbuhan Neraca Daerah Kab. Bintan ................... III-9

vi 
 
Tabel T-III C.3 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur
Kab. Bintan ............................................................................... III-12
Tabel T-III C.4 Penutup Defisit Riil Anggaran Kab. Bintan .................................. III-13
Tabel T-III C.5 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Kab. Bintan ............... III-13
Tabel T-III C.6 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kab. Bintan ............ III-14
Tabel T-III C.7 Pengeluaran Periodik, Wajib dan Mengikat Serta Prioritas
Utama Kab. Bintan ........................................................................ III-15
Tabel T-5 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai
Pembangunan Daerah Kab. Bintan .............................................. III-21
Tabel T-6 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan
Daerah Kab. Bintan ...................................................................... III-22
Tabel 3.1 Identifikasi Isu-isu Kunci/ Strategis Aspek Ekonomi Prioritas .... IV-24
Tabel 3.2 Isu-Isu Kunci/Strategis Aspek Sosial –Masyarakat Prioritas Isu .. IV-29
Tabel 3.3 Isu-Isu Kunci/Strategis Aspek Lingkungan Prioritas Isu .............. IV-31
Tabel 3.4 Daftar 11 Isu Kunci Pembangunan Berkelanjutan di Kab. Bintan IV-33
Tabel 8.1 Indikasi Rencana Program Prioritas .............................................. [1]

Tabel 5-1 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 1 ............ V-5
Tabel 5-2 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 2 ............ V-7
Tabel 5-3 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 3 ............ V-9
Tabel 5-4 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 4 ............ V-14
Tabel 5-5 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 5 ............ V-20
Tabel 5-6 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 6 ............ V-21
Tabel 5-7 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 7 ............ V-23
Tabel 5-8 Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Bintan di Misi 8 ............ V-24

vii 
 
RPJMD 2016-2021

BAB. 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan telah terpilih dan dilantiknya Bupati Bintan dan Wakil


Bupati Bintan masa bakti periode 2016-2021, pada tanggal 17
Februari 2016 berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri
Republik Indonesia Nomor 131.21-230 Tahun 2016 Tentang
Pengesahan Pengangkatan Bupati Bintan Provinsi Kepulauan Riau
dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor
132.21-231 Tahun 2016 Tentang Pengesahan Pengangkatan Wakil
Bupati Bintan Provinsi Kepulauan Riau, maka melekat kewajiban
untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021 sebagai
pedoman pembangunan selama 5 (lima) tahun serta perwujudan
amanat regulasi sebagaimana diatur dalam Pasal 65 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, yang menyatakan bahwa kepala daerah mempunyai tugas
menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang RPJPD dan
rancangan Perda tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas
bersama DPRD, serta menyusun dan menetapkan RKPD.

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun


perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan sistem
perencanaan pembangunan nasional. Selanjutnya berdasarkan
pasal 15 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah, dinyatakan bahwa
Peraturan Daerah tentang RPJMD ditetapkan paling lama 6
(enam) bulan setelah Kepala Daerah dilantik.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐1


RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021 merupakan
penjabaran visi, misi dan program Bupati Bintan yang akan
dilaksanakan dan diwujudkan dalam suatu periode masa jabatan.
Penyusunan RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021
berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) Kabupaten Bintan Tahun 2005-2025 dan memperhatikan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional dan
RPJM Provinsi Kepulauan Riau, memuat arah kebijakan keuangan
daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan
program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), lintas Satuan
Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan
rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka yang
bersifat indikatif yang dibiayai oleh APBD dan sumber dana lainnya
yang dapat diperoleh dari APBD Provinsi, APBN maupun sektor
swasta. RPJMD tetap memperhatikan sumber daya dan potensi
yang dimiliki, faktor-faktor keberhasilan, evaluasi pembangunan
serta isu-isu strategis yang berkembang.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) akan


digunakan sebagai rujukan dalam penyusunan Rencana Strategis
(Renstra) SKPD, Rencana Kerja (Renja) SKPD, Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD), RAPBD, penyusunan LKPJ (Laporan
Keterangan Pertanggung Jawaban) Kepala Daerah, sebagai tolok
ukur kinerja Kepala Daerah.

Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses


penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai
unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan
dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan
wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu yang meliputi:
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dan Rencana
Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐2


Sebagai pelaksanaan amanat tersebut, Pemerintah Kabupaten
Bintan telah menetapkan RPJPD Kabupaten Bintan 2005-2025 di
dalam Peraturan Daerah Nomor 05 Tahun 2015. Salah satu
substansi strategis dalam RPJPD tersebut adalah menetapkan Visi
Daerah: Terwujudnya Kabupaten Bintan yang madani dan sejahtera
melalui pencapaian Bintan Gemilang 2025 (Gerakan melangkah
maju di bidang kelautan, pariwisata dan kebudayaan).
Sebagaimana diketahui pula pada setiap tahap 5 (lima) tahunan
RPJPD tersebut kemudian diuraikan menjadi Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yaitu: Tahap
I (2005-2010), Tahap II (2010-2015), Tahap III (2016-2021), Tahap
IV (2021-2025).

1.2 Proses Penyusunan

Dokumen RPJMD pada dasarnya disusun berdasarkan beberapa


pendekatan berikut :

- Pendekatan Politik, pendekatan ini memandang bahwa


pemilihan Kepala Daerah sebagai proses penyusunan rencana
program, karena rakyat pemilih menentukan pilihannya
berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan
oleh para calon Kepala Daerah. Untuk itu, rencana
pembangunan adalah penjabaran agenda pembangunan yang
ditawarkan Kepala Daerah saat kampanye ke dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah.

- Pendekatan Teknokratik, pendekatan ini dilaksanakan dengan


menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga
yang secara fungsional bertugas untuk hal tersebut.

- Pendekatan Partisipatif, pendekatan ini dilaksanakan dengan


melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) pembangunan.
Pendekatan ini bertujuan untuk mendapatkan aspirasi dan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐3


menciptakan rasa memiliki.

- Pendekatan Atas-Bawah (top-down) dan Bawah-Atas (bottom-


up), pendekatan ini dilaksanakan menurut jenjang
pemerintahan. Hasil proses tersebut kemudian diselaraskan
melalui musyawarah pembangunan.

Penyusunan RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021 melalui


berbagai tahapan analisis sektoral, penjaringan aspirasi masyarakat
serta dialog yang melibatkan stakeholders kunci. Adapun proses
penyusunan secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 1.1 : Proses Penyusunan RPJMD Kabupaten Bintan


Tahun 2016-2021
RPJPD Kabupaten
Bintan
2005-2025

Analisa Kondisi Rancangan Awal RPJMD RPJM Nasional


Eksisting (oleh Bappeda) dan Provinsi

Visi, Misi, Program


(Kepala Daerah Terpilih)

Musrenbang RPJMD

Perumusan Rancangan
Akhir RPJMD

RPJMD ditetapkan
Dengan Perda
Setelah
Berkonsultasi dengan
Provinsi

1.3 Landasan Hukum Penyusunan

Landasan hukum penyusunan RPJMD Kabupaten Bintan Tahun


2016-2021 adalah :

1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan


Provinsi Kepulauan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐4


Tahun 2002 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4237);

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4286);

3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan


Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4389);

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan


Keuangan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);

6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana


Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4725);

8. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan


Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Tahun
2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4739);

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐5


9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah
Daerah;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana


Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 137 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4575);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang


Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 140 Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4578);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman


Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman


Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4593);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan


Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara


Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara


Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐6


Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pedoman


Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kepada
Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala
Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan
Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kepada
Masyarakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4693);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang


Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4737);

19. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi


Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4741);

20. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang


Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4816);

21. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008


tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2008 Nomor 21,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

22. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Rencana Tata


Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐7


Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4833);

23. Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan,


Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-
undangan;

24. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019;

25. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang


Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

26. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang


Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

27. Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 2 Tahun


2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah
Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2009 Nomor 2).

28. Peraturan Daerah Kabupaten Bintan No. 2 Tahun 2012 tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bintan Tahun 2011-
2031;

29. Peraturan Daerah Kabupaten Bintan No. 5 Tahun 2015 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)
Kabupaten Bintan Tahun 2005-2025;

30. Peraturan Daerah Kabupaten Bintan Nomor 6 Tahun 2015


Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Bintan Tahun Anggaran 2016 (Lembaran Daerah Kabupaten
Bintan Tahun 2015 Nomor 6);

31. Peraturan Bupati Bintan Nomor 31 Tahun 2015 tentang


Penjabaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Tahun

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐8


Anggaran 2016 (Berita Daerah Kabupaten Bintan Tahun 2015
Nomor 31);

1.4 Hubungan Antar Dokumen

Pemerintah daerah dalam membuat perencanaan pembangunan


mengeluarkan 6 (enam) jenis dokumen perencanaan dan
penganggaran yaitu RPJP Daerah, RPJM Daerah, Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Strategis (Renstra) Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD), dan Rencana Kerja SKPD (Renja-SKPD).

Dari segi waktu dokumen tersebut dapat dibagi menjadi empat,


yaitu dokumen perencanaan jangka panjang (20 tahun) yaitu
RPJPD, perencananaan tata ruang wilayah (20 tahun) yaitu RTRW,
perencanaan jangka menengah (5 tahun) yaitu RPJMD dan Renstra-
SKPD, serta jangka pendek (1 tahun) yaitu RKPD dan Renja-SKPD.

RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi, misi dan program


Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP
Daerah dengan memperhatikan RPJM Nasional. RPJM Daerah
dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan
menjadi pedoman Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam
menyusun Rencana Strategis (Renstra) SKPD, Rencana Kerja
(Renja) SKPD dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD. Dari
RKPD dan RKA–SKPD inilah selanjutnya disusun RAPBD.

Dokumen-dokumen perencanaan dan penganggaran bersifat


hierarkis, artinya dokumen yang jangka waktunya lebih panjang
menjadi rujukan bagi dokumen yang jangka waktunya lebih pendek
dan dokumen yang dikeluarkan oleh pemerintah yang lebih tinggi
menjadi rujukan bagi dokumen yang dikeluarkan oleh pemerintah
di bawahnya. Skema kedudukan RPJMD dengan dokumen
perencanaan lainnya disajikan dalam gambar berikut ini.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐9


Gambar 1.2 : Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

PEDOMAN DIJABARKAN
RPJP RPJM
NASIONAL
RKP
NASIONAL

DIPERHATIKAN

PEDOMAN DIJABARKAN
RPJP RPJM RKP PEDOMAN
PENYUSUNAN
DAERAH DAERAH DAERAH RAPBD

5 TAHUN 1 TAHUN
20 TAHUN
PEDOMAN DIACU

RENSTRA RENJA
SKPD PEDOMAN
SKPD
5 TAHUN 1 TAHUN

Secara lebih terperinci hubungan antara RPJMD dengan


dokumen perencanaan lainnya adalah sebagai berikut :

1. RPJMD Kabupaten Bintan dengan RPJPD Kabupaten Bintan

RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021 adalah rencana


pembangunan tahap ketiga dari pelaksanaan RPJPD 2005-2025.
Oleh sebab itu, penyusunan RPJMD selain memuat visi, misi,
dan program Bupati dan Wakil Bupati Bintan periode 2016-
2021, juga berpedoman kepada RPJPD Kabupaten Bintan 2005-
2025. Dengan kata lain menyelaraskan pencapaian visi, misi,
tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan program pembangunan
jangka menengah daerah dengan visi, misi, arah, kebijakan
pembangunan jangka panjang daerah.

Sasaran pokok sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD


dijabarkan dalam program pembangunan daerah sesuai dengan
arah kebijakan pembangunan daerah periode 5 (lima) tahun
berkenaan. Suatu program pembangunan daerah harus
menjabarkan dengan baik sasaran-sasaran pokok sebagaimana
diamanatkan dalam RPJPD dan tujuan maupun sasaran dari visi
dan misi rencana pembangunan 5 (lima) tahun. Untuk itu,
diperlukan identifikasi berbagai permasalahan pembangunan
daerah untuk menjabarkan pencapaian sasaran pokok

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐10


sebagaimana diamanatkan dalam RPJPD dan mencapai tujuan
dan sasaran RPJMD.

Gambar 1.3 : Tahapan RPJPD Kabupaten Bintan

2. RPJMD Kabupaten Bintan dengan Renstra SKPD

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun


2010 Pasal 85 Ayat (2), Renstra SKPD disusun sesuai tugas dan
fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJMD dan bersifat
indikatif. RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021 menjadi
pedoman dalam penyusunan Renstra SKPD dalam waktu 5
(lima) tahun. Renstra SKPD merupakan penjabaran teknis
RPJMD yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan teknis
operasional dalam menentukan arah kebijakan serta indikasi
program dan kegiatan setiap urusan bidang dan/atau fungsi
pemerintahan untuk jangka waktu 5 (lima) tahunan, yang
disusun oleh setiap SKPD di bawah koordinasi Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten
Bintan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐11


Visi, misi, tujuan, strategi dan kebijakan dalam Renstra SKPD
dirumuskan dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran
program yang ditetapkan dalam RPJMD. Visi SKPD merupakan
keadaan yang ingin diwujudkan SKPD pada akhir periode
Renstra SKPD, sesuai dengan tugas dan fungsi yang sejalan
dengan pernyataan visi kepala daerah dan wakil kepala daerah
dalam RPJMD.

Perumusan rancangan Renstra SKPD merupakan proses yang


tidak terpisahkan dan dilakukan bersamaan dengan tahap
perumusan rancangan awal RPJMD. Penyusunan rancangan
akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan rancangan
Renstra SKPD, yang berpedoman pada RPJMD yang telah
ditetapkan dengan peraturan daerah. Penyempurnaan
rancangan Renstra SKPD tersebut bertujuan untuk
mempertajam visi dan misi serta menyelaraskan tujuan, strategi,
kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah
sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD yang ditetapkan dalam
RPJMD.

Gambar 1.4 : Hubungan Kinerja Pembangunan Daerah

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐12


3. RPJMD Kabupaten Bintan dengan Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD)

Pelaksanaan RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021


setiap tahunnya akan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD), sebagai suatu dokumen
perencanaan tahunan Pemerintah Kabupaten Bintan yang
memuat prioritas program dan kegiatan dari Rencana Kerja
SKPD. Rancangan RKPD merupakan bahan utama pelaksanaan
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Daerah
Kabupaten Bintan yang dilaksanakan secara berjenjang mulai
dari tingkat kelurahan, kecamatan, dan tingkat kabupaten.

Prioritas dan sasaran pembangunan pada RKPD harus


berpedoman pada RPJMD Kabupaten Bintan, RPJMD Provinsi
Kepulauan Riau, serta RPJM Nasional. Berpedoman pada
RPJMD mengandung makna bahwa prioritas dan sasaran
pembangunan tahunan daerah harus selaras dengan program
pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD. Selain itu,
rencana program serta kegiatan prioritas tahunan daerah juga
harus selaras dengan indikasi rencana program prioritas yang
ditetapkan dalam RPJMD.

Prioritas Pembangunan Daerah yaitu tema atau agenda


pembangunan pemerintah daerah tahunan yang menjadi benang
merah/tonggak capaian antara (milestones) menuju sasaran 5
(lima) tahunan dalam RPJMD melalui rencana program
pembangunan daerah tahunan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐13


Gambar 1.5 : Bagan Alir Hubungan antara Penyusunan Prioritas Program dan
Kegiatan Pembangunan Daerah

4. RPJMD Kabupaten Bintan dengan Perencanaan Lainnya

Sebagai subsistem, maka berbagai dokumen perencanaan yang


berkaitan dengan RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021
juga perlu ditelaah baik dokumen pada level nasional, Provinsi
Kepulauan Riau, Kabupaten/Kota di sekitar Kabupaten Bintan,
yaitu:
a) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
b) Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kepulauan Riau;
c) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bintan;
d) Rencana Induk Pariwisata Daerah Kabupaten Bintan;

Penyusunan RPJMD Kabupaten Bintan berpedoman pada RTRW


Kabupaten Bintan yaitu dengan menyelaraskan pencapaian visi,
misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan program
pembangunan jangka menengah daerah dengan pemanfaatan
struktur dan pola ruang. Penyusunan RPJMD memperhatikan
dan mempertimbangkan berbagai pola dan struktur tata ruang
yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bintan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐14


Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Bintan Tahun 2011-2031, sebagai acuan untuk
mengarahkan lokasi kegiatan dan menyusun program
pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang.

Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat


kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 5 (lima) tahun
mendatang yang asumsi-asumsinya, meliputi: 1) Struktur
ruang dalam susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai
pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara
hirarkis memiliki hubungan fungsional; 2) Distribusi peruntukan
ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang
untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya; dan 3) Pemanfaatan
ruang melalui program yang disusun dalam rangka mewujudkan
rencana tata ruang yang bersifat indikatif, melalui sinkronisasi
program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di
daerah secara terpadu.

Dalam menyusun RPJMD ini juga selain berpedoman pada


RTRW daerah sendiri, juga perlu memperhatikan RTRW daerah
lain seperti RTRW Kota Tanjungpinang, guna tercipta
sinkronisasi dan sinergi pembangunan jangka menengah daerah
antar kabupaten/kota serta keterpaduan struktur dan pola
ruang, terutama yang berdekatan atau yang ditetapkan sebagai
satu kesatuan wilayah pembangunan kabupaten/kota, dan atau
yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam
pelaksanaan pembangunan daerah.

1.5 Maksud dan Tujuan

1.5.1 Maksud
RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021 dimaksudkan sebagai
pedoman bagi seluruh komponen daerah (pemerintah, masyarakat,
dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya) dalam
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐15
mewujudkan cita-cita masyarakat Kabupaten Bintan sesuai
dengan dengan visi, misi, dan program pembangunan Bupati
terpilih masa bakti 2016-2021, sehingga seluruh upaya yang
dilakukan oleh pelaku pembangunan bersifat sinergis, koordinatif,
dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya di dalam satu
pola sikap dan pola tindak.

1.5.2 Tujuan
1. Merumuskan gambaran umum kondisi daerah sebagai dasar
perumusan permasalahan dan isu strategis daerah, sebagai
dasar prioritas penanganan pembangunan daerah 5 (lima
tahun) kedepan. Sebagai pedoman bagi seluruh SKPD di
lingkungan Pemerintah Kabupaten Bintan dalam menyusun
Renstra SKPD periode 2016-2021;
2. Merumuskan gambaran pengelolaan keuangan daerah serta
kerangka pendanaan sebagai dasar penentuan kemampuan
kapasitas pendanaan 5 (lima) tahun ke depan;
3. Menerjemahkan Visi dan Misi Bupati Bintan dan Wakil Bupati
Bintan kedalam tujuan dan sasaran pembangunan daerah
tahun 2016-2021, yang disertai dengan program prioritas
untuk masing-masing SKPD tahun 2016-2021, dengan
berpedoman pada RPJPD Kabupaten Bintan Tahun 2005-
2025;
4. Menetapkan berbagai program prioritas yang disertai dengan
indikasi pagu anggaran dan target indikator kinerja yang akan
dilaksanakan pada tahun 2016-2021.
5. Menetapkan indikator kinerja SKPD dan Indikator kinerja
Bupati Bintan dan Wakil Bupati Bintan sebagai dasar
penilaian keberhasilan Pemerintah Kabupaten Bintan periode
2016-2021

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐16


1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan RPJMD Kabupaten Bintan Tahun 2016-2021


mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun
2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8
Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara, Penyusunan,
Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah, terdiri dari 11 (sebelas) bab, sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN
Menjelaskan tentang latar belakang, dasar hukum
penyusunan, hubungan antar dokumen, sistematika
penulisan, serta maksud dan tujuan penyusunan
RPJMD Kabupaten Bintan.

BAB 2 GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


Gambaran umum kondisi daerah menjelaskan tentang
kondisi Kabupaten Bintan secara komprehensif sebagai
basis atau pijakan dalam penyusunan perencanaan.
Aspek yang dibahas diantaranya adalah: (i) geografi dan
demografi, (ii) kesejahteraan masyarakat, (iii) pelayanan
umum, serta (iv) daya saing daerah.

BAB 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


SERTA KERANGKA PENDANAAN
Bab ini menguraikan analisis pengelolaan keuangan
daerah yang pada dasarnya dimaksudkan untuk
menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau
kemampuan keuangan daerah dalam mendanai
penyelenggaraan pembangunan daerah.

BAB 4 ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS


Bab ini memuat berbagai permasalahan pembangunan
dan isu strategis yang akan menentukan kinerja
pembangunan dalam 5 (lima) tahun mendatang.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐17


BAB 5 VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN
Bab ini menjelaskan visi dan misi Pemerintah Daerah
Kabupaten Bintan untuk kurun waktu 5 (lima) tahun ke
depan, yang disertai dengan tujuan dan sasarannya.

BAB 6 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


Bab ini memuat dan menjelaskan strategi dan arah
kebijakan pembangunan Kabupaten Bintan untuk
kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Selain itu juga
diuraikan mengenai kebijakan keuangan daerah
Kabupaten Bintan dalam jangka menengah.

BAB 7 KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM


PEMBANGUNAN DAERAH
Bab ini menjelaskan mengenai kebijakan umum yang
akan diambil dalam pembangunan jangka menengah
dan disertai dengan program pembangunan daerah
yang akan direncanakan.

BAB 8 INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS


YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
Dalam Bab ini diuraikan hubungan urusan pemerintah
dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi
tanggung jawab SKPD.

BAB 9 PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH


Dalam bab ini ditetapkan dan dijelaskan
mengenai indikator kinerja daerah Kabupaten Bintan
dalam 5 (lima) tahun ke depan.

BAB 10 PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN


Bab terakhir ini memuat pedoman transisi
implementasi RPJMD dari periode sebelum dan
sesudahnya, serta dan kaidah pelaksanaannya.

BAB 11 PENUTUP

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐18


Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan I‐19
RPJMD 2016-2021

BAB. 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1 Aspek Geografi Dan Demografi

2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Secara geografis, wilayah Kabupaten Bintan terletak antara 100’


Lintang Utara 120’ Lintang Selatan 10400’ Bujur Timur 10830
Bujur Timur. Secara keseluruhan luas wilayah Kabupaten Bintan
adalah 87.411,92 Km2 terdiri atas wilayah daratan seluas 1.319,51
Km2 (1,50%) dan wilayah laut seluas 86.092,41 Km2 (98,50%). Pada
Tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Bintan telah memekarkan
beberapa wilayahnya melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun
2007 tentang Pembentukan Kelurahan Toapaya Asri di Kecamatan
Gunung Kijang, Desa Dendun, Desa Air Glubi di Kecamatan Bintan
Timur, Kelurahan Tanjung Permai, Kelurahan Tanjung Uban Timur
di Kecamatan Bintan Utara, Kelurahan Tembeling Tanjung di
Kecamatan Bintan Teluk Bintan, Desa Kukup dan Desa Pengikik di
Kecamatan Tambelan dan Kelurahan Kota Baru di Kecamatan
Teluk Sebong.

Selain itu juga dilakukan Pemekaran Kecamatan melalui Peraturan


Daerah Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan
Toapaya, Kecamatan Mantang, Kecamatan Bintan Pesisir dan
Kecamatan Seri Kuala Lobam. Dengan terjadinya pemekaran
wilayah maka jumlah Kecamatan yang terdapat di wilayah
Kabupaten Bintan bertambah dari 6 (enam) Kecamatan menjadi 10
(sepuluh) kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Bintan, Sri Kuala
Lobam, Bintan Utara, Teluk Sebong, Bintan Timur, Bintan Pesisir,
Mantang, Gunung Kijang, Toapaya, dan Tambelan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-1


A. Wilayah dan Batas Administrasi

Kabupaten Bintan memiliki 240 buah pulau besar dan kecil. Hanya
49 buah diantaranya yang sudah dihuni, sedangkan sisanya
walaupun belum berpenghuni namun sudah dimanfaatkan untuk
kegiatan pertanian, khususnya usaha perkebunan. Dilihat dari
topografinya, pulau-pulau di Kabupaten Bintan sangat bervariasi.
Umumnya dibentuk oleh perbukitan rendah membundar yang
dikelilingi oleh daerah rawa-rawa. Wilayah Kabupaten Bintan
merupakan bagian paparan kontinental yang dikenal dengan nama
Paparan Sunda, dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kabupaten Natuna, Anambas dan Malaysia;
Sebelah Selatan : Kabupaten Lingga;
Sebelah Barat : Kota Batam dan Kota Tanjungpinang;
Sebelah Timur : Provinsi Kalimantan Barat.

Gambar 2.1 : Peta Administratif Kabupaten Bintan

PETA ADMINISTRASI KABUPATEN BINTAN 

Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bintan, tahun 2011-2031

Secara morfologi Pulau Bintan memiliki perbedaan ketinggian yang


tidak ekstrim, yaitu antara 0-350 meter dari permukaan laut.
Puncak tertinggi berada di Gunung Bintan 348 meter, dan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-2


selanjutnya Gunung Bintan Kecil 196 meter. Bukit-bukit lainnya
merupakan bukit-bukit dengan ketinggian dibawah 100 meter.
Bukit-bukit tersebut merupakan daerah hulu-hulu sungai yang
sebagian besar mengalir kearah Utara dan Selatan dengan pola sub
paralel, sedangkan pola anak-anak sungainya berpola sub radial.
Sungai-sungai itu umumnya pendek-pendek, dangkal dan tidak
lebar.

B. Topografi

Kabupaten Bintan pada umumnya memiliki topografi yang


bervariatif dan bergelombang dengan kemiringan lereng berkisar
dari 0-3% hingga di atas 40% pada wilayah pegunungan. Ketinggian
wilayah pada pulau-pulau yang terdapat di Kabupaten Bintan
berkisar antara 0–50 meter diatas permukaan laut hingga mencapai
ketinggian 400-an meter diatas permukaan laut. Secara
keseluruhan kemiringan lereng di Kabupaten Bintan relatif datar,
umumnya didominasi oleh kemiringan lereng yang berkisar antara
0%-15% dengan luas mencapai 55,98% (untuk wilayah dengan
kemiringan 0–3% mencapai 37,83% dan wilayah dengan kemiringan
3%–15% mencapai 18,15%). Sedangkan luas wilayah dengan
kemiringan 15%–40% mencapai 36,09% dan wilayah dengan
kemiringan >40% mencapai 7,92%.

C. Geologi

Kabupaten Bintan merupakan bagian dari paparan kontinental


yang terkenal dengan nama “Paparan Sunda”. Pulau-pulau yang
tersebar di daerah ini merupakan sisa erosi atau pencetusan daerah
daratan pra tersier yang membentang dari Semenanjung Malaysia
di bagian Utara sampai dengan Pulau Bangka dan Belitung di
bagian Selatan. Proses pembentukan lapisan bumi di wilayah ini
berasal dari formasi-formasi vulkanik, yang akhirnya membentuk
tonjolan-tonjolan pada permukaan bumi yang disebut pulau, baik

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-3


pulau-pulau yang ukurannya cukup besar, maupun pulau yang
ukurannya relatif kecil.

D. Jenis Tanah

Persebaran jenis tanah di Pulau Bintan didominasi oleh komposisi


jenis tanah Hapludox-Kandiudult-Dystropets (46,4% dari luas
daratan Pulau Bintan) yang tersebar seluruh bagian Kabupaten
Bintan. Dominasi kedua adalah jenis tanah dengan komposisi
Hapludox-Kandiudults (27,6% luas daratan) dan tersebar di daerah
Berakit dan Sungai Kawal. Sedangkan komposisi jenis tanah
lainnya adalah Sulfagquents-Hydraquents-Tropaquepts (9,9% dari
luas daratan Pulau Bintan) tersebar di pesisir pulau dan terluas di
pesisir daerah Teluk Bintan, Hapludox-Dystropets-Tropaquods
(9,7%) tersebar di daerah Teluk Bintan, Tropaquets-Fludaquents
(3,2%) tersebar di sekitar Sungai Kawal daerah Bintan Timur dan
Gunung Kijang, dan komposisi tanah Kandiudults-Dystropets-
Tropaquets seluas 2,4% yang tersebar di daerah pegunungan, yaitu
Gunung Kijang, Lengkuas dan Gunung Bintan. Sedangkan
komposisi jenis tanah yang ada di gugusan Kepulauan Tambelan
adalah Dystropets-Tropudults-Paleudults, Tropudults-Dystropets-
Tropothods dan Kandiudult Kandiudox.

E. Hidrologi dan Hidrogeologi

Sungai-sungai di Kabupaten Bintan kebanyakan kecil-kecil dan


dangkal, hampir semua tidak berarti untuk lalu lintas pelayaran.
Pada umumnya hanya digunakan untuk saluran pembuangan air
dari daerah rawa-rawa tertentu. Sungai yang agak besar terdapat di
Pulau Bintan terdiri dari beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), dua
diantaranya DAS besar yaitu DAS Jago seluas 135,8 Km² dan DAS
Kawal seluas 93,0 Km² dan hanya digunakan sebagai sumber air
minum. Pasang surut di perairan Pulau Bintan bertipe campuran
cenderung semidiurnal atau mixed tide prevailing semidiurnal

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-4


(wyrtki,1961). Dimana saat air pasang/surut penuh dan tidak
penuh terjadinya dua kali dalam sehari, tetapi terjadi perbedaan
waktu pada antar puncak air tingginya.

Hasil prediksi pasut menggunakan Oritide-Global Tide Model di


sekitar perairan pantai Trikora (Kecamatan Gunung Kijang) pada
bulan Juli memperlihatkan bahwa tinggi rata-rata air pasang
tertinggi +73,48 cm, air surut terendah -121,31 cm, dengan
tunggang maksimum sekitar 194,79 cm dan pada bulan September,
tinggi rata-rata air pasang tertinggi +75,69 cm, air surut terendah -
101,06 cm dengan tunggang maksimum sekitar 176,75 cm. Secara
umum tatanan air bawah tanah dapat dikelompokkan menjadi 2
kelompok berdasarkan keterdapatannya. Air bawah tanah tersebut
terdapat dalam berbagai sistem akuifer dengan litologi yang
berbeda-beda. Adapun air bawah tanah tersebut terdiri dari :

1) Air Bawah Tanah Dangkal

Air bawah tanah dangkal pada umumnya tersusun atas


endapan aluvium dan kedudukan muka air bawah tanah
mengikuti bentuk topografi setempat. Lapisan akuifer ini pada
umumnya tersusun atas pasir, pasir lempungan, dan lempung
pasiran yang bersifat lepas sampai kurang padu dari endapan
aluvium dan hasil pelapukan granit. Kedudukan muka air
bawah tanah akan menjadi semakin dalam di daerah yang
topografinya tinggi dengan daerah sekitarnya. Kedalaman muka
air bawah tanah pada umumnya sekitar 2m-3m. Air bawah
tanah dangkal ini tersusun atas lapisan akuifer bebas
(unconfined aquifer) yang di beberapa tempat bagian
bawahnya dibatasi oleh lapisan kedap air yang berupa lapisan
lempung dan lempung pasiran. Ketebalan rata-rata lapisan
akuifer air bawah tanah dangkal sekitar 13m dan pada
umumnya akan menipis ke arah perbukitan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-5


2) Air Bawah Tanah Dalam

Air bawah tanah dalam di wilayah Kabupaten Bintan tersusun


atas litologi berupa pasir kompak, pasir, dan pasir lempungan
dan tersusun atas sistem akuifer bebas (unconfined aquifer),
walaupun di beberapa tempat terdapat lapisan kedap air yang
berupa lempung dan lempung pasiran yang tidak menerus atau
hanya membentuk lensa-lensa, sehingga di beberapa tempat
terbentuk sistem akuifer tertekan (confined aquifer) atau semi
tertekan (semi confined aquifer), sehingga secara umum sistem
akuifer yang berkembang di wilayah Pulau Bintan, Kabupaten
Bintan tergolong multi-layer dimana antara satu lokasi dengan
lokasi lain kedalaman lapisan akuifernya tidak berada pada
level yang sama. Pada bagian bawah dari lapisan akuifer dalam
dibatasi oleh granit yang bersifat kedap air sampai mempunyai
sifat kelulusan terhadap air yang kecil tergantung adanya celah
atau rekahan pada tubuh granit tersebut. Ketebalan rata-rata
lapisan akuifer air bawah tanah dalam kisaran sekitar 26 m.

3) Mata air

Keterdapatan mata air muncul pada batuan sedimen yang


terdapat dalam mata air bawah tanah perbukitan bergelombang.
Tipe pemunculannya umumnya diakibatkan oleh pemotongan
topografi pada tekuk lereng dengan dataran. Mata air tersebut
dapat dimanfaatkan untuk air minum pedesaan.

F. Iklim

Pada umumnya wilayah Kabupaten Bintan beriklim tropis. Selama


periode Tahun 2010-2015 temperatur rata-rata terendah 23,9oC
dan tertinggi rata-rata 31,8oC dengan kelembaban udara sekitar
85%. Kabupaten Bintan mempunyai 4 macam perubahan arah
angin yaitu:
Bulan Desember-Pebruari : Angin Utara

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-6


Bulan Maret-Mei : Angin Timur
Bulan Juni-Agustus : Angin Selatan
Bulan September-November : Angin Barat

Kecepatan angin tertinggi adalah 9 knot dan terjadi pada bulan


Desember-Januari, sedangkan kecepatan angin terendah pada
bulan Maret-Mei.

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah

Pola pemanfaatan ruang wilayah dalam kawasan perkotaan dan


perdesaan terdiri dari Kawasan lindung, Kawasan budidaya.
Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumberdaya buatan. Kawasan budidaya
adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam,
sumber daya manusia dan sumber daya buatan.

Pemanfaatan kawasan lindung sebagai kawasan hutan lindung


sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah secara umum,
terutama pada area sekitar gunung yang ada di setiap pulau
Kabupaten Bintan dengan luas 4.490,60 Ha, Sedangkan
pemanfaatan yang cukup dominan adalah kawasan lindung
setempat berupa sempadan sungai, sempadan pantai, mata air dan
waduk sebesar 37.223,63 Ha.

Untuk pemanfaatan kawasan budidaya meliputi kawasan


perkebunan, dimana pada kawasan ini tersebar di seluruh
kecamatan yang ada di Kabupaten Bintan. Pemanfaatan lain
adalah kawasan pariwisata dengan kondisi yang ada di Wilayah
Kecamatan Teluk Sebong dengan objek wisata Lagoi mencapai luas
sebesar 23.000 Ha, dan Pantai Trikora di Kecamatan Gunung
Kijang, dan Pantai Mapur di Bintan Timur seluas 5.243,74 Ha. Pada
kawasan industri pemanfaatannya sebesar 7.285,69 Ha terdapat di
Kecamatan Bintan Timur, Gunung Kijang dan Kecamatan Seri
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-7
Kuala Lobam. Sedangkan kawasan pertambangan tersebar merata
di Kabupaten Bintan di antaranya di Kecamatan Bintan Timur,
Bintan Utara, Kecamatan Teluk Sebong, Kecamatan Teluk Bintan,
dan Kecamatan Gunung Kijang.

Luasan pemanfaatan ruang berdasarkan Perda Nomor 2 Tahun


2012 tentang RTRW Kabupaten Bintan Tahun 2011-2031 dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 : Jenis dan Luas Penggunaan Lahan di Kabupaten Bintan, Tahun
2011
LUAS (Ha)
NO. JENIS PENGGUNAAN LAHAN
Darat Perairan %
A. Kawasan Lindung 34.935,06 15.519,42 33,68
1 Hutan Lindung 4.781,97 3,19
2 Kawasan Perlindungan 21.026,12 14,04
Setempat
3 Daerah Perlindungan Laut 333,62 0,22
4 Danau 1.083,38 0,72
5 Waduk/Kolong 607,59 0,41
6 Lamun 2.364,85 1,58
7 Terumbu Karang 12.820,95 8,56
8 Mangrove 7.435,99 4,96
B. Kawasan Budidaya 97.910,14 2.951,55 67,33
1 Hutan Produksi 9.236,41 6,17
2 Pertanian 22.237,63 14,84
3 Perkebunan 9.284,78 6,20
4 Pertambangan 7.029,12 4,69
5 Industri 8.831,67 5,90
6 Pariwisata 22.307,22 14,89
7 Permukiman 12.524,04 8,36
8 Zona Bandar Udara 107,06 0,07
9 Kawasan Bandar Seri Bentan 4.843,21 3,23
10 Zona Pelabuhan 2.951,55 1,97
11 TPA 4,70 0,004
131.340,92 18.470,97
Total 100,00
149.811,88
Sumber : RTRW Kabupaten Bintan Tahun, 2011-2031

Untuk pemanfaatan budidaya laut berupa budidaya perikanan laut,


yang pada umumnya disepanjang perairan di wilayah Kabupaten
Bintan. Kegiatan budidaya laut di beberapa pulau di Kabupaten
Bintan ini mempunyai potensi yang cukup besar dengan dilakukan
penangkapan ikan dari alam dengan menggunakan alat yang tidak
merusak lingkungan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-8


Pada umumnya ikan yang mempunyai komoditas ekspor seperti
ikan kerapu, ikan kakap berdasarkan permintaan terus meningkat
baik lokal maupun international, hal ini untuk mendorong harus
dilakukannya budidaya ikan terutama jenis ikan yang mempunyai
nilai ekonomis tinggi, dari berbagai jenis ikan biota laut yang telah
dibudidayakan antara lain seperti ikan kerapu (Ephinephelus spp),
kakap (Lutjanus spp), rumput laut dan kerang-kerangan.
Sedangkan daerah tangkapan ikan terbagi atas kegiatan perikanan
pantai (coastal fisheries) dan perikanan lepas pantai (offshore
fisheries) mencapai luasan sebesar 96.268,00 Km2. Penangkapan
ikan di areal penangkapan (fishing ground) di kawasan pulau-pulau
dengan perairan yang luas di Kabupaten Bintan.

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana

Secara geografis Kabupaten Bintan tidak termasuk kedalam wilayah


potensi rawan bencana besar / masif seperti Gempa Bumi,
Tsunami, Kekeringan, atau Air Bah sebagaimana yang dialami pada
daerah Kabupaten/Kota lainnya di Indonesia. Pemerintah Daerah
Kabupaten Bintan tetap memiliki kewaspadaan tinggi terhadap
potensi bencana yang timbul. Berdasarkan kejadian maupun
sejarah di Kabupaten Bintan, beberapa potensi bencana yang ada
seperti Angin Puting Beliung, Kebakaran Hutan/Belukar/Lahan
Perkebunan dan Kekeringan akibat kemarau, masih dalam batas
status regional artinya tidak berdampak luas dan masih bisa diatasi
ataupun ditanggulangi oleh pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat
dari upaya-upaya Pemerintah Daerah dalam menanggulangi serta
mengantisipasi segala potensi bencana yang ada.

Status bencana yang terjadi selama priode tahun 2011 – 2015


adalah kebakaran semak belukar dengan frekwensi yang cukup
tinggi terjadi pada bulan Januari dan Pebruari. Hal ini terjadi
karena musim panas yang membuat kebun ataupun semak belukar

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-9


kering sehingga mudah terbakar apabila orang melakukukan
pembukaan lahan untuk kebun.
Tabel 2.2 :Cakupam pelayanan bencana kebakaran Kabupaten Tahun
2010-2014
KONDISI CAPAIAN TAHUN
KINERJA
INDIKATOR KINERJA AWAL
2011 2012 2013 2014
TAHUN
2010
Cakupan pelayanan bencana
kebakaran kabupaten 100% 100 100 100 100

Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tahun 2010-2014

A. Frekuensi Kejadian Bencana di Kabupaten Bintan priode 2011 –


2015

Secara umum bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten


Bintan pada Tahun 2011 sebanyak 65 kejadian yang terdiri dari
bencana kebakaran hutan/semak belukar sebanyak 63 kali
kejadian, dan bencana kebakaran pada rumah penduduk sebanyak
2 kali kejadian (2 unit rumah) rumah. Sedangkan untuk bencana
alam lainnya adalah banjir yang merendam lahan seluas 16 Ha.

 Pada tahun 2012 Sebanyak 41 kasus Kebakaran Hutan/semak


belukar, Kebakaran Rumah penduduk sebanyak 2 kali kasus (2
unit rumah), Kebakaran Mobil sebanyak 3 kasus, Angin Puting
Beliung di Kec. Bintan Timur 1 kasus (rusak 1 rumah), Kec.
Teluk Bintan 1 Kasus (rusak 1 rumah), Kec. Mantang 1 kasus
(rusak 12 rumah), dan Sambaran Petir di Kec. Bintan Timur 2
kasus (rusak 2 rumah), Bintan Pesisir 1 kasus (meninggal 1
orang, luka-luka 10 rang).
 Pada tahun 2013 dapat dilaporkan bahwa jumlah bencana yang
terjadi sebanyak 49 kasus (Rata-rata hampir 4 peristiwa perbulan
atau hampir setiap minggu terjadi 1 peristiwa bencana yang
terdiri bencana kebakaran, angina kencang dan banjir). Adapun
Jumlah korban yang tercatat, sebagai berikut: korban meninggal
dunia 2 jiwa, korban Luka-luka 1 jiwa, dan sedikitnya 161 jiwa
yang perlu perawatan sedang dan ringan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-10


 Dari kerusakan yang dialami, Nilai kerugian yang ditimbulkan
tercatat sedikitnya ditaksir Rp 386.125.500 (Tiga ratus delapan
puluh enam seratus dua puluh lima ribu lima ratus rupih).
 Pada tahun 2014 dilaporkan bahwa jumlah bencana yang terjadi
tercatat sebanyak 188 kejadian bencana, kejadian yang menyolok
adalah kebakaran semak belukar dengan frekwensi yang cukup
tinggi terjadi pada bulan Januari dan Pebruari. Hal ini terjadi
karena musim panas yang membuat kebun ataupun semak
belukar kering sehingga mudah terbakar apabila orang
melakukukan pembukaan lahan untuk kebun.

B. Antisipasi daerah dalam menghadapi kemungkinan bencana

Paradigma penanggulangan bencana sudah dikembangkan dari


yang dulu berpola responsif-tanggap darurat menjadi lebih
ditekankan pada upaya pencegahan dan pengurangan risiko
bencana. Agar tercapai tujuan yaitu menghindari terjadinya
bencana, Pemerintah Kabupaten Bintan mengembangkan kebijakan
penanggulangan bencana yang difokuskan pada:
a. Mengurangi risiko bencana dengan membangun kesiapsiagaan
dan infrastruktur diseluruh lini secara terencana dan terpadu
(pra bencana)
1. Penguatan Peraturan Perundangan dan Kapasitas
Kelembagaan
2. Prencanaan Partisipatif dan Pengaturan Penanggulangan
bencana
3. Penelitian, Pendidikan, dan Pelatihan
4. Peningkatan Kapasitas dan Partisipasi Masyarakat dan Para
Pemangku Kepentingan lainnya dalam Penanggulangan
Bencana
5. Pencegahan dan Mitigasi Bencana
6. Peringatan Dini
7. Kesiapsiagaan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-11


b. Membangun ketahanan dan ketangguhan masyarakat dan
kelembagaan dalam menanggulangi bencana (tanggap darurat)
c. Secepatnya memulihkan dan membangun kembali kehidupan
masyarakat pasca bencana menjadi lebih baik (pasca bencana)

Apabila teridentifikasi terdapat potensi bencana yang akan terjadi


maka dilakukan tindakan berupa langkah kesiapsiagaan seluruh
jajaran aparat pemerintah. Tindakan ini dilakukan untuk
meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun kerugian harta benda
milik masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana. Selain itu
tindakan ini juga akan memudahkan upaya tanggap darurat
apabila bencana itu terjadi sehingga peran semua pihak dapat
berjalan efektif berdasarkan sistem yang telah dirancang dan
disepakati bersama.

2.1.4 Demografi

A. Jumlah dan Komposisi Penduduk

Berdasarkan Badan Pusat Statistik Penduduk (BPS) penduduk


Kabupaten Bintan tahun 2015 berjumlah 153.020 jiwa yang terdiri
dari 39.079 rumah tangga dengan Laju Pertumbuhan Penduduk
(LPP) sebesar 1,26%. Jumlah penduduk laki-laki sebesar 78.824
jiwa (51,51%) dan penduduk perempuan sebesar 74.196 jiwa
(48,49%). Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dengan
perempuan (sex ratio) sebesar 106,24. Artinya setiap 100
perempuan berbanding dengan 106 penduduk laki-laki, jumlah
penduduk laki-laki 3,02% lebih banyak dibandingkan jumlah
penduduk perempuan. Persentase ini tidak mengalami peningkatan
yang signifikan dari tahun sebelumnya. Kecamatan yang terpadat
penduduknya masih tercatat kecamatan Bintan Timur dengan
jumlah penduduk tertinggi 41.607 jiwa (27,19%), sedangkan yang
terendah adalah di kecamatan Mantang yakni sebanyak 4,168 jiwa
(2,75%).

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-12


Tabel 2.3 : Jumlah Penduduk Laki-laki dan Perempuan di Kabupaten
Bintan Tahun 2015

Penduduk
No. Kecamatan
Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Teluk Bintan 4.871 4.327 9.198
2. Bintan Utara 11.363 11.381 22.744
3. Teluk Sebong 9.506 8.435 17.941
4. Seri Kuala Lobam 8.601 10.398 18.999
5. Bintan Timur 21.564 20.043 41.607
6. Gunung Kijang 7.285 6.084 13.369
7. Mantang 2.297 1.929 4.226
8. Bintan Pesisir 4.590 3.821 8.411
9. Toapaya 6.127 5.295 11.422
10. Tambelan 2.620 2.483 5.103
Jumlah 78.824 74.196 153.020
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2016

Angka beban ketergantungan (Dependency Ratio) atau


perbandingan antara penduduk yang belum produktif ataupun
yang sudah tidak produktif lagi (usia 0-14 tahun ditambah
penduduk usia 65 tahun ke atas) dibagi dengan penduduk usia
produktif (usia 15-64 tahun). Dependency Ratio Kabupaten Bintan
pada tahun 2014 mencapai 52.44 dan terus menunjukkan
peningkatan pada tahun 2015 sebesar 52,49. Artinya bahwa pada
tahun 2015, untuk setiap 100 penduduk usia produktif di
Kabupaten Bintan menanggung sekitar 52 penduduk usia
belum/tidak produktif.

Tabel 2.4 : Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur


dan Dependency Rasio di Kabupaten Bintan,
Tahun 2014-2015

Tahun
No Kelompok Umur
2014 2015
1. 0-4 16.350 16.518
2. 5-9 16.566 16.769
3. 10-14 14.085 14.291
4. 15-19 10.159 10.301
5. 20-24 10.595 10.684
6. 25-29 15.235 15.373
7. 30-34 16.022 16.178
8. 35-39 13.914 14.068

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-13


9. 40-44 11.141 11.282
10. 45-49 8.437 8.570
11. 50-54 5.944 6.050
12. 55-59 4.419 4.503
13. 60-64 3.270 3.336
14. 65-69 2.288 2.339
15. 70-74 1.442 1.473
16. 75+ 1.256 1.285
Jumlah 151.123 153.020
Dependency Rasio 52,44 52,49
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2016

B. Penduduk 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan

Menurut BPS, berdasarkan persentase penduduk berumur 15


tahun keatas yang bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Kabupaten
Bintan sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan yang
pada tahun 2010 menempati peringkat kedua mata pencaharian
penduduk dengan jumlah 16,71% mengalami pergeseran pada
tahun 2011 sampai dengan Tahun 2013 menempati peringkat
ketiga mata pencaharian penduduk, dan pada tahun 2014 kembali
mengalami peningkatan menjadi peringkat kedua dengan jumlah
21,07%. Sedangkan sektor industri dan pertambangan yang pada
tahun 2010 menempati peringkat ketiga mata pencaharian
penduduk dengan jumlah 15,60%, pada tahun 2011 mengalami
pergeseran tahun 2014 dan menempati peringkat keempat pada
angka 12,28%. Sedangkan sektor perdagangan, rumah makan dan
hotel menunjukkan perkembangan yang positif, pada tahun 2010
hanya menempati peringkat keempat mata pencaharian penduduk
dengan angka 15,54% terus meningkat pada tahun 2011 sampai
dengan Tahun 2014 kembali menempati peringkat ketiga mata
pencaharian penduduk dengan persentase 19,01%. Hal ini
disebabkan berkembangnya sektor kepariwisataan di Kabupaten
Bintan sehingga terjadi pergeseran mata pencaharian penduduk
Kabupaten Bintan khususnya sektor pariwisata.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-14


Tabel 2.5 : Persentase Penuduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja
Menurut Lapangan Pekerjaan di Kabupaten Bintan Tahun 2010-
2014

No Mata Pencaharian 2010 2011 2012 2013 2014


1. Pertanian 31,75 25,62 27,62 32,27 25,32
2. Pertambangan dan 4,48 7,07 3,02 3,27 1,02
3. Industri dan perdagangan 15,60 12,13 11,46 13,42 12,28
4. Listrik, Gas dan Air 0,51 0,91 1,45 1,32 1,47
5. Bangunan 8,93 8,88 9,71 10,38 8,09
Perdagangan, Rumah
6. Makan dan Hotel 15,54 19,47 21,36 17,92 19,01
Angkutan, Pegudangan
7. dan Komunikasi 4,51 4,38 4,66 5,60 6,59
Keuangan, Asuransi dan
8. Usaha Persewaan 1,98 2,94 3,21 1,68 5,15
Jasa Kemasyarakatan,
9. Sosial dan Perorangan 16,71 18,61 17,50 14,14 21,07
10. Lainnya - - - - -
Jumlah 100,00 100,00 100,0 100,0 100,0
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi


Tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggi merupakan
tujuan yang ingin dicapai oleh setiap daerah. Namun manfaat
tersebut harus juga dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dengan kata lain, aspek pemerataan juga menjadi pertimbangan
penting dalam keberhasilan pembangunan.
A. Pertumbuhan PDRB
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi
perekonomian secara makro adalah data produk domestik regional
bruto (PDRB). Terdapat 2 (dua) jenis penilaian PDRB yaitu atas
dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Selain
menjadi bahan dalam penyusunan perencanaan, angka PDRB
juga bermanfaat untuk bahan evaluasi hasil pembangunan
yang telah dilaksanakan. Adapun beberapa kegunaan angka
PDRB ini antara lain: (1) Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan
ekonomi dan pertumbuhan setiap sektor ekonomi; (2) Untuk
mengetahui struktur perekonomian; (3) Untuk mengetahui

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-15


besarnya PDRB per kapita penduduk sebagai salah satu indikator
tingkat kemakmuran/kesejahteraan; (4) Untuk mengetahui tingkat
inflasi/deflasi, berdasarkan pertumbuhan harga produsen.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten


Bintan, PDRB Kabupaten Bintan pada tahun 2015 atas Dasar
Harga Konstan Tahun 2010 sebesar Rp12,40 trilyun,- meningkat
dari tahun 2014 yaitu Rp11,65 trilyun,- yang diukur dari tujuh
belas sektor lapangan usaha yaitu :
Tabel 2.6 : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bintan Atas
Dasar Harga Konstan Tahun 2010 Menurut Lapangan Usaha,
Tahun 2014-2015

Lapangan Usaha 2014 2015*


Sektor Primer 2,661,828.80 2,788,208.46
Pertanian, Kehutanan, dan
766,191.01
1 Perikanan 712,504.96
2 Pertambangan dan Penggalian 1,949,323.84 2,022,017.46
Sektor Sekunder 6,081,361.34 6,483,546.31
3 Industri Pengolahan 4,362,139.71 4,597,373.08
4 Pengadaan Listrik dan Gas 15,155.91 15,586.05
Pengadaan Air, Pengelolaan
7,306.09
5 Sampah, Limbah dan Daur Ulang 7,029.38
6 Konstruksi 1,697,036.34 1,863,281.09
Sektor Tersier 2,907,221.52 3,133,259.63
Perdagangan Besar dan Eceran;
1,129,985.97
7 Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 1,028,784.86
8 Transportasi dan Pergudangan 241,850.83 262,818.42
Penyediaan Akomodasi dan
613,644.81
9 Makan Minum 563,777.25
10 Informasi dan Komunikasi 164,481.27 171,139.20
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 179,674.48 184,485.47
12 Real Estate 127,019.76 133,127.99
13 Jasa Perusahaan 112.28 113.10
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial 274,469.16
14 Wajib 257,405.99
15 Jasa Pendidikan 212,798.10 225,275.81
Jasa Kesehatan dan Kegiatan
113,266.07
16 Sosial 107,636.63
17 Jasa lainnya 23,680.06 24,933.63
11,650,411.6 12,405,014.4
PDRB BERLAKU
6 1
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2016

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-16


Sektor-sektor yang memiliki nilai kontribusi besar terhadap PDRB
adalah sektor Industri Pengolahan sebesar 37,18%, sektor
konstruksi 15,68%, sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar
15,18%, sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor sebesar 9,01% serta Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum sebesar 6,29%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel : Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bintan
2.7 Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, Tahun
2014-2015
Lapangan Usaha 2014 2015*
Sektor Primer 21.49 20.89
1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 5.73 5.71
2 Pertambangan dan Penggalian 15.76 15.18
Sektor Sekunder 52.60 53.01
3 Industri Pengolahan 37.15 37.18
4 Pengadaan Listrik dan Gas 0.11 0.10
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
0.06 0.05
5 Limbah dan Daur Ulang
6 Konstruksi 15.30 15.68
Sektor Tersier 25.91 26.10
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
8.80 9.01
7 Mobil dan Sepeda Motor
8 Transportasi dan Pergudangan 2.09 2.16
Penyediaan Akomodasi dan Makan
6.24 6.29
9 Minum
10 Informasi dan Komunikasi 1.17 1.10
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 1.42 1.36
12 Real Estate 1.04 1.03
13 Jasa Perusahaan 0.00 0.00
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
2.30 2.31
14 dan Jaminan Sosial Wajib
15 Jasa Pendidikan 1.78 1.78
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0.87 0.86
17 Jasa lainnya 0.20 0.20
PDRB BERLAKU 100.00 100.00
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2016

1) Pertumbuhan Ekonomi

Untuk memperlihatkan pertumbuhan PDRB secara riil


digunakan PDRB Harga Konstan. PDRB Harga Konstan ini
merepresentasikan pertumbuhan ekonomi tanpa dipengaruhi
oleh masalah perubahan harga atau inflasi yang terjadi atas
barang dan jasa yang diproduksi karena menggunakan harga
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-17
dasar yang konstan yakni harga dasar tahun tertentu yang
dipilih yaitu tahun 2010. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)
yang diukur dari kenaikan PDRB (Produk Domestik Regional
Bruto) berdasarkan harga konstan pada tahun 2015 mengalami
perlambatan dari tahun 2014. Pada tahun 2014 LPE Kabupaten
Bintan adalah 8,46% mengalami perlambatan pada tahun 2015
menjadi 6,48%. Penurunan LPE di Kabupten Bintan pada tahun
2015 disinyalir imbas dari kondisi makro perekonomian di
tingkat regional, nasional serta dunia masih labil dan fluktuatif,
pelarangan ekspor bahan mentah pertambangan menurunkan
aktifitas pertambangan yang turut berimbas pada pertumbuhan
sektor Pertambangan dan Penggalian. Fluktuasi harga Bahan
Bakar Minyak yang ditetapkan pemerintah berdasarkan harga
pasar memberikan dampak pada ketidakpastian harga pasar,
kenaikan Tarif Dasar Listrik, isu stabilitas ekonomi nasional
melalui paket-paket kebijakan yang diambil ditingkat pusat
yaitu menurunnya dana bagi hasil yang ditransfer pemerintah
pusat yang menyebabkan turunnya belanja publik. Selain itu
bencana nasional kabut asap turut memberikan dampak pada
jumlah wisatawan serta lama tinggal wisatawan yang pada
gilirannya akumulasi dari keseluruhan isu tersebut turut
mempengaruhi Laju Pertumbuhan Ekonomi sepanjang Tahun
2015.
Grafik 2.1 : Laju Pertumbuhan Persektor Kabupaten Bintan Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2014-2015

Sumber : BPS Kabupaten Bintan (data Diolah), Tahun 2016

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-18


2) Struktur Ekonomi
Dalam Struktur Ekonomi Kabupaten Bintan Trahun 2010-
2014, sektor-sektor yang memiliki nilai kontribusi besar
terhadap PDRB adalah sektor Industri Pengolahan sebesar
50,53%, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar
20,76%, sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 9,94%
dan sektor Pertanian sebesar 5,78%, sektor Pengangkutan dan
Komunikasi sebesar 3,80%, sektor Bangunan 4,58%, sedangkan
sektor lain seperti Listrik, Gas dan Air Bersih Keuangan,
Persewaan dan Jasa, masing-masing memberikan kontribusi
kurang dari 3,00%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 2.8 : Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bintan
Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, Tahun
2010-2014
TAHUN
LAPANGAN USAHA
2010 2011 2012 2013 2014
SEKTOR PRIMER 16,71 16,66 16,49 16,36 15,72
1. Pertanian,
Petenakan,
5,74 5,75 5,76 5,74 5,78
kehutanan,
perikanan
2. Pertambangan &
10,96 10,91 10,73 10,62 9,94
penggalian
SEKTOR SEKUNDER 55,29 55,05 55,63 55,98 55,43
3. Industri pengolahan 50,69 50,44 50,79 51,13 50,53
4. Listrik, gas dan air
0,32 0,32 0,31 0,30 0,32
bersih
5. B a n g u n a n 4,28 4,30 4,53 4,55 4,58
SEKTOR TERSIER 28,01 28,28 27,89 27,67 38,85
6. Perdagangan, hotel
20,07 20,38 20,19 19,96 20,76
dan restoran
7. Pengangkutan dan
3,73 3,72 3,65 3,72 3,80
komunikasi
8. Keuangan,
1,45 1,47 1,44 1,40 1,48
persewaan dan jasa
9. J a s a - j a s a 2,74 2,72 2,62 2,59 2,81
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : BPS Kabupaten Bintan (data Diolah), Tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-19


Grafik 2.2 : Struktur Ekonomi Kabupaten Bintan Tahun 2014 ADH Berlaku

Sumber : BPS Kabupaten Bintan (data Diolah), Tahun 2015

B. Laju Inflasi

Inflasi merupakan salah satu indikator penting yang dapat


memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga
barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dan berpengaruh
terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Perkembangan
harga barang dan jasa tersebut menjadi salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi tingkat daya beli.

Berkaitan dengan inflasi, adanya pengaruh sejumlah faktor


ekonomi dan adanya kebijakan Pemerintah Pusat menaikkan harga
BBM pada bulan Agustus 2014 yang lalu dan penyesuaian Tarif
Dasar Listrik (TDL), angka inflasi mengalami tekanan mencapai
7,49%. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
tahun 2010 yaitu 6,17%.

Secara tahunan (year on year) tekanan inflasi pada semester II-


2014 meningkat cukup tajam dibanding semester sebelumnya. Jika
diamati yang memberi andil/sumbangan tekanan inflasi, bergerak
cukup variatif, namun secara umum kelompok yang memberikan
andil cukup besar dalam pembentukan inflasi selama periode itu
yakni pada kelompok pengeluaran transportasi sebesar 12,40%,
kelompok pengeluaran perumahan sebesar 7,77%. Peningkatan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-20


tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM) bersubsidi yang memicu penyesuaian tarif
transportasi dan juga mempengaruhi volatile food. Disisi lain,
kuatnya tekanan eksternal terutama akibat melemahnya nilai tukar
rupiah terhadap Dolar (US).
Grafik 2.3 : Laju Inflasi Kabupatren Bintan 2010-2014

12

10 10.09

8
7.49
6 6.17

4 3.92
3.32
2

0
2010 2011 2012 2013 2014
laju Inflasi

Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015

C. PDRB per Kapita

Selama ini Produk Domestik Regional Bruto pendapatan per kapita


masih tetap dipakai sebagai tolak ukur kemajuan pembangunan
suatu daerah. PDRB per kapita merupakan PDRB atas dasar harga
berlaku dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.
Selang lima tahun terakhir ini PDRB per kapita Kabupaten Bintan
atas dasar harga berlaku mengalami kenaikan yang cukup berarti.

PDRB per Kapita di Kabupaten Bintan berada di angka yang cukup


baik. Hasil pembangunan eknomi yang dapat digunakan untuk
menunjang kesejahteraan di Kabupaten Bintan terus bertambah
setiap tahun. Pada tahun 2010, PDRB per kapita Kabupaten Bintan
berada pada angka 31,11 juta rupiah. Angka ini terus meningkat
pada tahun 2012 menjadi 36,28 juta rupiah kemudian pada tahun
2013 menjadi 39,04 juta rupiah dan puncaknya pada tahun 2014
berada pada angka 41,51 juta rupiah.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-21


Grafik 2.4 : Perkembangan Pendapatan Per Kapita Kabupaten Bintan
Periode 2010-2014
40 37.31
34.98
35 32.48
30.27
30 27.88

25 23.58
22.50
20.51 21.46
19.59
20  Pendapatan Per Kapita ADHB
Pendapatan Per Kapita ADHK
15

10

0
2010 2011 2012 2013 2014

Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Tabel 2.9 : Pendapatan Regional dan Angka Perkapita Kabupaten Bintan


Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha, Tahun
2010-2014
Tahun
No Rincian
2010 2011 2012 2013 2014
1. Produk Domestik
Regional Bruto
Atas Dasar 3.127,87 3.321,17 3.525,75 3.745,75 3.965.37
Harga Pasar
(Milyar Rupiah)
2. Penyusutan
Barang Modal 140,79 149,49 158,70 168,60 178,48
(Milyar Rupiah)
3. Produk Domestik
Regional Netto
Atas Dasar 2.987,08 3.171,68 3.367,06 3.577,15 3.786,89
Harga Pasar
(Milyar Rupiah)
4. Pajak Tak
Langsung Netto 184,87 196,29 203,39 221,39 223,82
(Milyar Rupiah)
5. Produk Domestik
Regional Netto
Atas Dasar 2.802,21 2.975,39 3.158,67 3.355,76 3.563,07
Harga Faktor
(Milyar Rupiah)
5. Per Kapita
21.870.144 22.895,62 23.950,18 25.119,012 26.239,38
Produk Domestik

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-22


Regional Bruto
(milyar Rupiah)
6. Per Kapita
Pendapatan
19.593,15 20.511,86 21.456,63 22.503,76 23.577,23
Regional (milyar
Rupiah)
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015

D. Ketimpangan Pendapatan/Indeks Gini Ratio

Berdasarkan pengalaman pembangunan di berbagai negara


diperoleh pembelajaran bahwa untuk mempercepat
pembangunan manusia dapat dilakukan antara lain melalui
dua hal, yaitu distribusi pendapatan yang merata dan alokasi
belanja publik yang memadai untuk pendidikan dan kesehatan.
Korea Selatan sebagai contoh sukses, tetap konsisten melakukan
dua hal tersebut. Sebaliknya Brazil mengalami kegagalan karena
memiliki distribusi pendapatan yang timpang dan alokasi belanja
publik yang kurang memadai untuk pendidikan dan kesehatan
(UNDP, BPS, Bappenas, 2004).

Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah salah satu ukuran yang


paling sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan
pendapatan secara menyeluruh. Koefisien Gini didasarkan pada
kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang
membandingkan distribusi pada variabel tertentu (misalnya
pendapatan) dengan distribusi Uniform (seragam) yang mewakili
persentase kumulatif penduduk. Ukuran kesenjangan Indeks Gini
berada pada besaran 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai 0 (nol) pada indeks
gini menunjukkan tingkat pemerataan yang sempurna, dan
semakin besar nilai Gini maka semakin tidak sempurna tingkat
pemerataan pendapatan atau semakin tinggi pula tingkat
ketimpangan pengeluaran antar kelompok penduduk berdasarkan
golongan pengeluaran. Jadi, Indeks Gini bernilai 0 (nol) artinya
terjadi kemerataan sempurna, sementara Indeks Gini bernilai 1
(satu) berarti ketimpangan sempurna.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-23


Standar penilaian ketimpangan Gini Rasio ditentukan dengan
menggunakan kriteria seperti berikut (Hera Susanti dkk, Indikator-
Indikator Makro Ekonomi, LPEM-FEUI, 1995) :

 GR < 0.4 : dikategorikan sebagai ketimpangan rendah


 0.4 < GR < 0.5 : dikategorikan sebagai ketimpangan sedang (Moderat)
 GR > 0.5 : dikategorikan sebagai ketimpangan tinggi

Perkembangan Gini Ratio Kabupaten Bintan detunjukan dengan


kenaikan koofisien Gini dari 0,28 poin tahun 2010 menjadi 0,34
poin pada tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa sasaran
pembangunan yang telah kita tetapkan dapat berinteraksi secara
simultan sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh sebagian besar
masyarakat.

E. Tingkat Kemiskinan

Tingkat kemiskinan di Kabupaten Bintan pada tahun 2010


mencapai 10.545 jiwa (7,34%). Namun tahun 2014 tingkat
kemiskinan mengalami penurunan menjadi sebanyak 9.600 jiwa
(6,32%) (LKPJ AMJ Kabupaten Bintan). Jumlah penduduk miskin
dan berdasarkan BPS dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.10 : Proporsi Jumlah Penduduk Miskin Terhadap Jumlah Penduduk
Kabupaten 2010-2014
Laju Jumlah
Jumlah
Pertumbuhan Penduduk Persentase
Tahun Penduduk
Penduduk Miskin Penduduk Miskin
(Jiwa)
(%) (Jiwa)
2010 143.020 2,59 10.545 7,34
2011 145.057 1,42 9.307 6,04
2012 147.212 14,9 10.000 6,29
2013 149.120 1,3 9.325 6,23
2014 151.123 1,34 9.600 6,32

Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-24


2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial
A. Aspek Pendidikan
Berikut ini diuraikan gambaran umum indikator kinerja dalam
aspek pendidikan selama lima tahun terakhir dari 2010 sampai
dengan 2014.
1) Angka Melek Huruf (AMH)
Angka Melek Huruf adalah proporsi penduduk berusia 15
tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf
latin atau lainnya. Selama periode 2010-2014, capaian angka
melek huruf cukup mengalami peningkatan. AMH pada tahun
2014 sebesar 97,68%, meningkat bila dibandingkan dengan
tahun 2010 yang berada di tingkat 95,09%.

Grafik 2.5 : Perkembangan Angka Melek Huruf Kabupaten Bintan Periode


2010-2014
Angka Melek Huruf
98 97.68
97.32
96.92
97
96.14
96
95.09 Angka Melek
95 Huruf
(Persen)
94

93
2010 2011 2012 2013 2014

Tabel 2.11 : Angka Melek Huruf (AMH) Tahun 2010-2014

Tahun Angka Melek Huruf


(Persen)
2010 95,09
2011 96,14
2012 96,92
2013 97,32
2014 97,68
Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Secara umum peningkatan kemampuan baca tulis penduduk


usia 15 tahun ke atas selama periode 2010-2014 di Kabupaten
Bintan cukup baik. Dari tabel terlihat bahwa pada tahun 2014
persentase penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupetan
Bintan yang dapat membaca dan menulis huruf latin mencapai

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-25


97,68 persen. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun
sebelumnya yang hanya mencapai 97,32 persen. Ini dapat
diartikan bahwa dari 100 orang.

Tabel 2.12 : Perbandingan Angka Melek Huruf (AMH) Nasional


Provinsi Kepulauan Riau, dan Kabupaten Bintan
Tahun 2010-2014

Wilayah 2010 2011 2012 2013 2014


Kabupaten Bintan 95,09 96,14 96,92 97,32 97,68
Propinsi Kepulauan 96,08 97,19 97,67
96,00 96,00
Riau
Nasional 91,90 92,20 93,25 92,91 92,99
Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

penduduk Kabupaten Bintan yang berusia 15 tahun ke atas,


sekitar 97 orang diantaranya bebas buta huruf dan sisanya (3
orang) masih tergolong kategori buta aksara. Jika dibandingkan
dengan Angka Melek Huruf penduduk Indonesia secara
keseluruhan (AMH Nasional) maka AMH Kabupaten Bintan lebih
baik dari AMH Nasional.
2) Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)
Indikator pendidikan lainnya yang merupakan komponen IPM
adalah Rata-rataLama Sekolah. Selama periode 2010 - 2014,
Rata-rata Lama Sekolah penduduk Kabupaten Bintan terus
mengalami peningkatan. Rata-rata Lama Sekolah 8,63 tahun
pada tahun 2010 menjadi 9,06 tahun pada tahun 2014. Angka
ini menunjukkan bahwa pada tahun 2014, rata-rata lama
sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Bintan
sudah mencapai 9,06 tahun, berarti rata-rata sudah sampai
taraf pendidikan sembilan tahun atau setara dengan kelas tiga
Sekolah Menengah Pertama. Selama kurun waktu 5 tahun
terakhir, kenaikan Rata-rata Lama Sekolah penduduk di
Kabupaten Bintan hanya sebesar kurang dari 1 tahun. Hal ini
menunjukkan bahwa jika ingin mencapai tingkat pendidikan
setara SMA masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-26


Pada tahun 2011, bila dibandingkan dengan Rata-rata Lama
Sekolah Nasional dan Rata-rata Lama Sekolah Provinsi
Kepulauan Riau maka Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten
Bintan lebih baik dari Rata-rata Lama Sekolah Nasional tetapi
masih lebih rendah dari Rata-rata Lama Sekolah Provinsi
Kepulauan Riau. Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15
tahun ke atas di Propinsi Kepulauan Riau pada tahun 2014
telah mencapai 9,73 tahun atau setara dengan kelas tiga
Sekolah Menengah Pertama.

Grafik 2.6 : Rata-Rata Lama Sekolah Tahun 2010-2014


9.1
9.06
9 9.01
8.95
8.9 8.91

8.8

8.7
8.63
8.6

8.5

8.4
2010 2011 2012 2013 2014

Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Tabel 2.13 : Rata-Rata Lama Sekolah Tahun 2010-2014


Tahun Rata-rata Lama
Sekolah(RLS)
2010 8,63
2011 8,91
2012 8,95
2013 9,01
2014 9,06
Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Tabel 2.14 : Perbandingan Perkembangan Rata-rata Lama


Sekolah (RLS) Nasional, Provinsi Kepulauan Riau,
dan Kabupaten Bintan Tahun 2010 -2014

Wilayah 2010 2011 2012 2013 2014


Kabupaten Bintan 8,63 8,91 8,95 9,01 9,06
Propinsi Kepulauan
7,95 7,95 8,96 9,16 9,73
Riau
Nasional 8,94 8,94 7,9 7,92 7,94
Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-27


3) Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni
(APM)
Kondisi Kabupaten Bintan dari tahun 2010 sampai dengan
tahun 2014 dalam hal angka partisipasi kasar (APK) dan angka
partisipasi murni (APM) adalah sebagai berikut:

Tabel 2.15 :Angka Partisipasi Kasar (APK) SD, SLTP dan SLTA Tahun
2010-2014
Angka Partisipasi Kasar ( APK ) (%)
Tingkat Pendidikan
2010 2011 2012 2013 2014
1. SD 80,05 107,70 121,94 105,48 105,63
2. SLTP 70,82 88,79 68,72 90,81 96,91
3. SLTA 72,89 71,44 72,66 82,23 94,73
Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Tabel 2.16 :Angka Partisipasi Murni (APM) SD, SLTP dan SLTA Tahun
2010-2014
Angka Partisipasi Murni ( APM ) (persen)
Tingkat Pendidikan
2010 2011 2012 2013 2014
1. SD 97,52 95,64 96,01 97,91 94,11
2. SLTP 63,42 65,39 65,54 85,59 71,18
3. SLTA 50,35 52,94 65,24 67,42 62,20
Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan, Tahun 2015
Angka Partisipasi Murni SD diperoleh dengan membagi jumlah
murid SD usia 7-12 tahun pada suatu waktu dengan penduduk
usia 7-12 tahun pada waktu yang sama. Indikator ini digunakan
untuk mengetahui besarnya tingkat partisipasi (murni)
penduduk pada jenjang pendidikan SD. Dari hasil evaluasi
kinerja Wajib Belajar Dikdas 9 tahun tergambarkan bahwa
tahun 2014 Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan SD
tercatat sebesar 97,52 persen. Artinya sebanyak 97,52 persen
penduduk yang berusia 7-12 tahun telah tertampung di SD dan
terdapat sebesar 2,48 persen penduduk yang berusia 7-12
tahun yang belum menikmati program wajib belajar.
Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk pendidikan SD pada tahun
2014 sebesar 105,63 persen. Hal ini membuktikan bahwa
jumlah murid SD yang dapat ditampung pada sekolah-sekolah
SD yang ada sudah melebihi jumlah penduduk usia sekolah,

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-28


namun demikian masih banyak murid SD yang berumur kurang
atau melebihi usia 7-12 tahun yang mengikuti pendidikan SD.
B. Aspek Kesehatan
1) Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Bintan tahun 2014
sebesar 7,2 per 1.000 Kelahiran Hidup (23 kasus), bila
dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya terjadi
penurunan AKB yaitu : 8,49 per 1.000 KH (2012) dan 7,50 per
1.000 KH (2013). Angka kematian bayi nasional berada di 32
kematian per 1.000 kelahiran hidup. AKB Kabupaten Bintan
sudah berada pada tingkat yang cukup baik.

Grafik 2.7 : Angka Kematian Bayi Per 1.000 Kelahiran Hidup, 2010 - 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Bintan, tahun 2015

2) Angka Kematian Balita


Angka Kematian Anak Balita (AKABA) di Kabupaten Bintan
tahun 2014 sebesar 1,25 per 1.000 Kelahiran Hidup (4 kasus),
bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya terjadi
penurunan AKABA yaitu : 1,31 per 1.000 KH (2012) dan 2,63
per 1000 KH (2013). Angka kematian balita nasional menurut
Rancangan Awal RPJMN 2015 - 2019 berada di angka 40
kematian per seribu Balita. Hal ini berarti AKABA di Kabupaten
Bintan sudah cukup rendah.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-29


Grafik 2.8 : Angka Kematian Balita Per 1.000 Kelahiran Hidup, 2010 -
2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Bintan, tahun 2015


3) Angka Kematian Ibu Melahirkan
Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Bintan tahun 2014
sebesar 126 per 100.000 Kelahiran Hidup (4 kasus), bila
dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya terjadi
penurunan AKI yaitu : 327 per 100.000 KH (2012) dan 164 per
100.000 KH (2013). Angka ini masih lebih baik dari angka
kematian ibu melahirkan nasional yang berada di 359 kematian
per 100.000 kelahiran hidup.

Grafik 2.9 : Angka Kematian Ibu Per 1.000 Kelahiran Hidup, 2010 - 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Bintan, tahun 2015


4) Angka Usia Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup (AHH) adalah perkiraan rata-rata banyak
tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup.
Indikator ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja
pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup dan
kesejahteraan penduduk secara umum. Karena salah satu

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-30


komponen kesejahteraan adalah kualitas kesehatan yang dapat
diturunkan melalui umur harapan hidup.

Grafik 2.10 : Angka Harapan Hidup

70.1
69.98 70
70
69.91
69.9
69.8 Angka Harapan Hidup
69.8 69.76
69.71
69.7
69.6
69.5
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021

Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Bintan, tahun 2015

Tabel 2.17 : Angka Harapan Hidup (AHH) Tahun 2010-2014


Tahun Angka Harapan
Hidup
2010 69,71
2011 69,76
2012 69,80
2013 69,91
2014 69,98
Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Dari hasil penghitungan menunjukkan bahwa Angka Harapan


Hidup penduduk Kabupaten Bintan dari tahun ke tahun
semakin meningkat. Pada tahun 2014 Angka Harapan Hidup
Kabupaten Bintan sebesar 69,98 tahun. Ini berarti bahwa bayi
yang lahir pada tahun 2014 diperkirakan akan dapat hidup
selama 69,98 tahun dengan syarat besarnya kematian atau
kondisi kesehatan yang ada tidak berubah.

Tabel 2.18 : Perbandingan Angka Harapan Hidup (AHH) Nasional, Provinsi


Kepulauan Riau, dan Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Domain 2010 2011 2012 2013 2014
Kabupaten Bintan 69,71 69,76 69,80 69,91 69,98
Provinsi Kepulauan Riau 69,60 69,70 69,75 69,80 69,85
Nasional 68,70 69,00 69,87 69,43 69,65
Rata-rata daerah 67,05
tertinggal
Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-31


Untuk memenuhi syarat tersebut diperlukan upaya peningkatan
kesehatan yang lebih komperhensif lagi oleh pemerintah dengan
mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya
memiliki hidup yang sehat. Angka Harapan Penduduk ini jauh
lebih baik jika dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup
penduduk Indonesia secara keseluruhan, tetapi masih lebih
rendah jika dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup
Provinsi Kepulauan Riau.
5) Persentase Balita Gizi Buruk
Balita gizi buruk adalah status gizi balita sangat kurus berdasar
standar antropometri Berat badan dibanding tinggi badan atau
panjang badan (BB/TB) nilai ambang batas z score <-3 SD.
Prevalensi balita gizi buruk di Kabupaten Bintan tahun 2014
sebesar 0,21 persen (26 kasus dari 11.860 Balita yang
ditimbang). Angka ini lebih rendah dibanding angka gizi buruk
Provinsi Kepulauan Riau dan Nasional tahun 2013 (Riskesdas
2013) dimana angka gizi buruk Provinsi Kepulauan Riau 6
persen dan angka gizi buruk Nasional 5,3 persen.sedangkan
target Nasional adalah < 10 (kurang dari sepuluh) persen.
Kalau dilihat trend prevalensi gizi buruk Kabupaten Bintan lima
tahun terakhir terlihat peningkatan di tahun 2013 (57 kasus)
dan terjadi penurunan sebesar 0,21 persen pada tahun 2014.

Garik 2.11 : Balita Gizi Buruk Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

0.5
0.44
0.45 0.4
0.4
0.35
0.3
0.25 0.2 0.21
0.2
0.15
0.1
0.05
0
2011 2012 2013 2014

Sumber: BPS Kabupaten Bintan, 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-32


C. Kesempatan Kerja
Tenaga kerja adalah modal dasar bagi geraknya roda
pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus
mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses
demografi. Pertumbuhan tenaga kerja yang kurang diimbangi
dengan pertumbuhan lapangan kerja akan menyebabkan tingkat
kesempatan kerja cenderung menurun. Namun jumlah penduduk
yang bekerja tidak sepenuhnya dapat dipandang sebagai jumlah
kesempatan kerja yang ada, hal ini dikarenakan sering terjadi
mismatch dalam pasar kerja. Berdasarkan data BPS Kabupaten
Bintan tahun 2014 terdapat 67.749 jiwa penduduk angkatan kerja
dan sekitar 91,88 persen diantaranya telah bekerja. Dari penduduk
yang bekerja, sebagian besar, yaitu sekitar 25,32 persen bekerja di
sektor pertanian. Sektor-sektor berikutnya yang cukup besar
peranannya dalam ketenagakerjaan di Kabupaten Bintan
diantaranya sektor perdagangan (19,01 persen), jasa (21,07) dan
industri pengolahan (12,28 ).
Gambar 2.2 : Persentase Penduduk 15 tahun ke Atas yang Bekerja Menurut
Lapangan Pekerjaan

Sumber : BPS Kabupaten Bintan, 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-33


Tabel 2.19 : Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha Utama di Kabupaten Bintan Tahun 2014

No. Lapangan Usaha Utama Kontribusi


1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan dan 25,32
Perikanan
2 Pertambangan & Penggalian 1,02
3 Industri Pengolahan 12,28
4 Listrik dan Air 1,47
5 Bangunan 8,09
6 Perdagangan, Rumah Makan & Hotel 19,01
7 Angkutan, Pegudangan & Komunikasi 6,59
8 Keuangan, Asuransi & Usaha Persewaan 5,15
Bangunan
9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial & Perorangan 21,07
Sumber : Data BPS Kabupaten Bintan, 2015

D. Koperasi Usaha Kecil dan Menengah


Koperasi dan UKM sudah terbukti bertahan terhadap gejolak
eksternal. Kontribusinya bagi perekonomian daerah memegang
peran strategis dan memberikan peluang yang sangat besar dalam
penyerapan tenaga kerja.
Perkembangan jumlah Koperasi dan UKM di Kabupaten Bintan,
dari tahun 2010–2014 mengalami kenaikan. Tercatat pada tahun
2010, jumlah koperasi aktif sebanyak 133 koperasi, mengalami
kenaikan sebanyak 62 unit koperasi atau 68,20% dibanding tahun
2010 yaitu sebanyak 195 unit koperasi. Demikian halnya untuk
UKM pada tahun 2011 juga mengalami kenaikan sebesar 19.743
UMKM atau sebesar 10,83% debanding dengan tahun 2010.
Tabel 2.20 : Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah, 2010‐2014
KONDISI CAPAIAN TAHUN
KINERJA
NO INDIKATOR KINERJA
AWAL TAHUN 2011 2012 2013 2014
2010
1. Jumlah 206 /150 Unit 244/140 171/104 287/193 227/195
koperasi/koperasi aktif
2. Persentase koperasi 72,82% 118,45 83,01 139,32 85,90%
aktif
3. Jumlah UMKM Aktif 1327 Unit 1.450 1.485 1.593 1.675
4. Jumlah BPR/LKM aktif 2 Unit 3 3 3 3
5. Jumlah UKM non 12 Unit 13 13 15 15
BPR/LKM UKM
Sumber : Data Diolah Tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-34


E. Penanaman Modal
Perkembangan investasi di Kabupaten Bintan dari tahun 2010
sampai dengan tahun 2014 mengalami peningkatan. Jumlah
investasi pada tahun 2010 sebesar Rp67.06 Milyar dan pada tahun
2014 mencapai Rp 1,764 Triliun. Sedangkan rasio daya serap
tenaga kerja sebesar 91,3%.

Grafik 2.11 : Realisasi Investasi Kabupaten Bintan Tahun 2010‐2014

Sumber : BPMPD Tahun 2015

2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga


A. Kebudayaan
1) Jumlah Grup Kesenian

Jumlah grup kesenian digunakan sebagai salah satu indikator


untuk melihat kondisi kebudayaan suatu daerah. Berdasarkan
data dalam dokumen Evaluasi RPJMD 2016, jumlah grup
kesenian yang dibina di Kabupaten Bintan mengalami
peningkatan jumlah grup kesenian dari yang bermula sebanyak
lima grup di tahun 2011 menjadi 32 grup di tahun 2014.
Analisis pada data menunjukkan adanya indikasi peningkatan
minat masyarakat terhadap kesenian secara umum. Hal ini
menjadi modal untuk mewujudkan pembangunan di aspek
kebudayaan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-35


2) Jumlah Gedung Kesenian

Jumlah Gedung Kesenian juga merupakan salah satu indikator


adanya alokasi ruang untuk kegiatan kesenian. Jumlah gedung
kesenian di Kabupaten Bintan meningkat dari hanya 1 gedung
saja pada tahun 2011 menjadi 5 gedung pada tahun 2014.
Bertambahnya jumlah gedung ini dapat diartikan sebagai
adanya usaha menyediakan sarana untuk mengekspresikan
kesenian yang dikembangkan di Kabupaten Bintan.

B. Pemuda dan Olahraga


1) Jumlah Klub Olahraga

Perkembangan jumlah klub olahraga menunjukkan minat


masyarakat dalam kegiatan olahraga. Klub olahraga adalah
wujud antusiasme masyarakat terhadap kegiatan olahraga yang
dapat ditampung dalam sebuah klub. Jumlah klub olahraga di
Kabupaten Bintan meningkat dari 369 klub olahraga menjadi
378 klub olahraga yang tersebar di seluruh Kabupaten Bintan.
Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan minat warga
terhadap kegiatan olahraga.

2) Jumlah Gedung Olahraga

Kebutuhan sarana bagi generasi muda untuk dapat


mengaktualisasikan diri secara positif merupakan salah
satu kebutuhan yang perlu disediakan oleh pihak
Pemerintah Kabupaten Bintan. Sampai dengan tahun 2014
terdapat 11 gedung olahraga di Kabupaten Bintan.

2.3 Aspek Pelayanan Umum

2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib


Aspek pelayanan urusan wajib Pemerintah Kabupaten Bintan
dalam kurun waktu tahun 2010 hingga 2014 digambarkan pada
tabel berikut :

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-36


Tabel 2.21 : Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Pendidikan, 2010‐2014
KONDISI CAPAIAN TAHUN
KINERJA
NO INDIKATOR KINERJA AWAL
2011 2012 2013 2014
TAHUN
2010
1. Indeks Pendidikan 82,97 83,9 84,19 84,5 85,3
2. Angka Rata-rata Lama 8,63 8,91 8,95 9,01 9,06
Sekolah (RLS) Tahun
3. Angka partisipasi sekolah 99,20% 95.61 99,3 99,4 99,98
(Pendidikan Dasar)
4. Rasio anak perempuan 93,50% 99.00 94.00 94,5 97
terhadap terhadap anak
laki-laki ditingkat
pendidikan dasar, lanjutan
dan tinggi yang diukur dari
angka partisipasi murni
anak perempuan terhadap
anak laki-laki
5. Angka Partisipasi Kasar 80,05% 107,70 121,94 105,48 105,63
(APK) SD/MI/Paket A
6. Angka Partisipasi Kasar 70,82% 88,79 68,72 90,81 96,91
(APK) SMP/MTs/Paket B
7. Angka pendidikan yang 20,82% 21.00 16,12 23 24
ditamatkan SD/MI/Paket A
8. Angka pendidikan yang 17,79% 21.00 31,17 31,17 21
ditamatkan
SMP/MTs/Paket B
9. Angka Partisipasi Murni 97,52% 95,64 96,01 97,91 94,11
(APM) SD/MI/Paket A
10. Angka Partisipasi Murni 63,42% 65,39 65,54 85,59 71,18
(APM) SMP/MTs/Paket B
11. Rasio ketersediaan sekolah 57,96 57.89 59 60 65,79
per penduduk usia sekolah
dasar per 10.000
penduduk (Pendidikan
Dasar)
12. Persentase SD-SMP yang 73% 74 75 76 76
memiliki komputer yang
bisa digunakan siswa
untuk akses internet
melalui komputer
13. Rasio guru per murid 1:13 1:13 1:13 1:13 1:13
SD/MI (Pendidikan Dasar)
14. Rasio guru per murid SLTP 1:12 1:11 1:12 1:12 1:12
(Pendidikan Dasar)
15. Rasio ketersediaan sekolah 23,26 33.23 24.05 26 34,5
per penduduk usia sekolah
menengah per 10.000
penduduk (Pendidikan
Menengah)
16. Rasio guru per murid SLTA 1:11 1:11 1:11 1:11 1:11
(Pendidikan Menengah)
17. Rasio guru terhadap murid 0,81 0.86 0,4 0,44 0,44
per kelas rata-rata

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-37


(Pendidikan Menengah)
18. Angka partisipasi sekolah 42,93% 63.87 47,81 44,5 59,03
(Pendidikan Menengah)
19. Angka Partisipasi Kasar 72,89% 71,44 72,66 82,23 94,73
(APK) SMA/SMK/MA/Paket
C
20. Angka pendidikan yang 28,58% 29.00 29.37 29,37 32
ditamatkan
SMA/SMK/MA/Paket C
21. Angka Partisipasi Murni 50,35% 52,94 65,24 67,42 62,20
(APM)
SMA/SMK/MA/Paket C
22. Rasio melek huruf 102,63% 103 106 103 105,42
perempuan terhadap laki-
laki usia 15-24 tahun yang
diukur melalui angka
melek huruf
23. Angka kelulusan SD 97,90% 96.70 100 100 100
24. Angka kelulusan SLTP 93,29% 82.20 100 98 99,95
25. Angka kelulusan SLTA 99,51% 95.07 97,92 99,65 99,47
26. Guru yang memenuhi 42,57% 50.06 44,98 80 85
kualifikasi S1/D-IV
Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Tahun 2015

2.3.1.1 Pendidikan
Fokus utama pembangunan pendidikan adalah menghasilkan
lulusan yang lebih baik. Untuk itu, indeks pendidikan sebagai
instrumen pengukuran dan acuan dalam merencanakan program
pendidikan ke depan mendesak untuk diterapkan, upaya yang
ditempuh adalah dengan mengembangkan lembaga pendidikan
yang berstandar nasional ataupun bertaraf internasional,
mengembangkan pusat keunggulan ilmiah; penyediaan sumber
daya pendidikan yang handal; penciptaan lingkungan yang
kondusif terhadap pendidikan; menarik minat peserta didik
sebanyak mungkin; mencetak lulusan yang berkualitas, berdaya
saing tinggi, dan berakhlak mulia; meningkatkan masyarakat
terdidik dan berbudaya; dan meningkatkan proporsi masyarakat
yang berpendidikan menengah dan tinggi.
Sampai dengan tahun 2014 capaian indeks pendidikan Kabupaten
Bintan berkisar pada 85,3 poin angka tersebut cukup tinggi jka
dibandingkan pada capaian tahun 2010 sebesar 82,97 poin.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-38


Grafik 2.12 : Indeks Pendidikan Kabupaten Bintgan Tahun 2010-2014

Sumber : BPS Kabupaten Bintan Tahun 2015

2.3.1.2 Kesehatan

1) Posyandu
Pembentukan posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan
puskesmas agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat lebih tercapai. Idealnya satu posyandu melayani
100 balita. Untuk itu perlu dihitung rasio ketersediaan
posyandu per balita seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.
Posyandu aktif di Kabupaten Bintan tahun 2014 adalah 158
buah. Jika dibandingkan dengan jumlah balita yang ada di
Kabupaten Bintan 13.949 dengan rata-rata rasio jumlah
Posyandu per 1.000 balita sudah diatas standar Nasional yaitu
11,3. Belum tercapainya rasio Posyandu per 1.000 balita karena
belum dimanfaatkan secara maksimal fungsi Kelompok
Pembangunan (Pokbang) dan perencanan pembangunan
Posyandu di tahun berikutnya. Upaya yang dilakukan adalah
dengan meningkatkan fungsi Pokbang menjadi Posyandu dan
pembangunan Posyandu yang direncanakan pada tahun 2015
dan 2016. Untuk rasio Posyandu per Puskesmas bervariasi.
Rasio Posyandu yang tertingi adalah di UPTD Puskesmas Sri
Bintan sebesar 30 per 1.000 balita dan terendah di UPTD
Puskesmas Teluk Sasah sebesar 5,7 per 1.000 balita.
Perkembangan jumlah Posyandu di kabupaten Bintan empat
tahun terakhir cukup tinggi yaitu 140 Posyandu pada tahun

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-39


2010, 146 Posyandu tahun 2011, 150 Posyandu tahun 2012,
dan 153 Posyandu pada tahun 2013. Berikut ini perkembangan
capaian rasio posyandu per 1.000 Balita di Kabupaten Bintan
tahun 2010-2014.
Grafik 2.13 : Rasio Posyandu Per 1.000 Balita Tahun 2010 –
2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

Posyandu merupakan lembaga kemasyarakatan sebagai wadah


yang mampu memberikan pelayanan kesehatan dan sosial
dasar masyarakat. Meningkatnya jumlah posyandu didukung
juga dengan adanya bantuan pembangunan posyandu baru
melalui dana APBD dan DAK anggaran pengentasan kemiskinan
Provinsi Kepulauan Riau. Hampir seluruh Posyandu di
Kabupaten Bintan telah memiliki bangunan permanen.
Grafik 2.14 : Jumlah Posyandu di Kabupaten Bintan Tahun
2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-40


2) Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu per Satuan Penduduk
Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu per 100.000 penduduk pada
tahun 2014 sebesar 78,08. Nilai rasio tersebut telah melampaui
target tahun yaitu 65,7. Jika dibandingkan dengan angka rasio
tahun 2013, terjadi peningkatan angka rasio. Meningkatnya
angka rasio tersebut disebabkan penambahan 2 (dua) UPTD
Puskesmas di tahun 2014 yaitu UPTD Puskesmas Kuala
Sempang dan UPTD Puskesmas Sei Lekop. Jumlah keseluruhan
fasilitas pelayanan primer (Puskesmas, Poliklinik, Pustu dan
Polindes/Poskesdes) sebanyak 118 unit dengan jumlah
penduduk yang mengalami penurunan dari 160.331 jiwa tahun
2013 menjadi 140.267 jiwa di tahun 2014.
Grafik 2.15 : Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Per 100.000 Penduduk
Tahun 2010 - 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2010


3) Rasio Rumah Sakit per Satuan Penduduk
Rasio Rumah Sakit per 100.000 penduduk tahun 2014 di
Kabupaten Bintan sebesar 1,32. Jumlah Rumah Sakit di
Kabupaten Bintan tahun 2014 tetap sama dengan jumlah di
tahun 2013 yaitu 2 (dua) Rumah Sakit dengan jumlah
penduduk 151.123 jiwa (BPS, 2014). Angka rasio tersebut
merupakan perbandingan dari jumlah Rumah Sakit yang ada di
wilayah Kabupaten Bintan dengan jumlah penduduk di kali
100.000. berikut ini perkembangan rasio rumah sakit per

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-41


100.000 penduduk di Kabupaten Bintan selama tahun 2010
sampai 2014.
Grafik 2.16 : Rasio Rumah Sakit Per 100.000 Penduduk Tahun
2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

4) Rasio Dokter per Satuan Penduduk


Rasio Dokter Per 100.000 penduduk di tahun 2014 di
Kabupaten Bintan sebesar 48.31 per 100.000 penduduk, angka
tersebut dibawah target yang di tetapkan pada tahun 2014 yang
menargetkan angka rasio dokter umum sebesar 68 per 100.000
penduduk. Penurunan angka rasio dokter umum di tahun 2014
dibandingkan dengan angka rasio di tahun 2013 yaitu
disebabkan adanya dokter PTT tahun 2013 yang tidak
memperpanjang kontrak kerja di tahun 2014 dan juga ada
dokter umum yang telah menjadi dokter spesialis. Upaya yang
harus di lakukan yaitu merekrut dokter umum baik secara jalur
Honor, PTT maupun Tes CPNS dan mendistribusikan tenaga
dokter umum secara merata dengan mempertimbangkan
kondisi geografis, jumlah penduduk dan angka kesakitan dalam
suatu wilayah kerja Puskesmas.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-42


Grafik 2.17 : Rasio Dokter Per 100.000 Penduduk Tahun 2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

5) Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani


Angka penemuan ibu hamil dengan resiko tinggi tahun 2014
sebanyak 74,88 persen (521 Bumil resti). Dari semua ibu hamil
yang mengalami komplikasi pada kehamilan maupun persalinan
sudah ditangani tidak hanya di Puskesmas, namun telah
dilakukakan rujukan ke Fasilitas Kesehatan yang lebih
memadai seperti Rumah Sakit.
Upaya-upaya yang telah dilakukan yaitu melakukan
penjaringan atau mendeteksi ibu hamil yang mempunyai resiko
sedini mungkin, dengan memberdayakan kader posyandu,
melaksanakan P4K, dan setiap ibu hamil diwajibkan untuk di
pemeriksa Hb, Golongan Darah, test HIV dan malaria,
memfasilitasi terbentuknya Rumah Tunggu Kelahiran (RTK)
terutama didaerah perbatasan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-43


Grafik 2.18 : Cakupan Ibu Hamil dengan Komplikasi Yang Ditangani Tahun
2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

6) Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang


Memiliki Komplikasi Kebidanan
Persentase Pertolongan Persalinan oleh tenaga Kesehatan
(Linakes) di Kabupaten Bintan tahun 2014 sebesar 99,8 persen
dari 3.181 persalinan. Angka ini lebih rendah jika dibanding
tahun 2013 yaitu 99,87 persen namun telah mencapai target
MDG's 2015 yaitu > 95 persen, hal ini menunjukkan bahwa
Linakes di Kabupaten Bintan sangat berhasil. Namun masih
terdapat 7 atau 0,2% persalinan ditolong oleh Dukun terlatih
dan kemudian dilakukan kunjungan atau perawatan nifas oleh
tenaga kesehatan.
Grafik 2.19 : Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang
Memiliki Komplikasi Kebidanan Tahun 2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-44


Upaya untuk meningkatkan cakupan Pertolongan Persalinan
terus dilakukan dengan memberikan hasil evaluasi dan
feedback melalui pertemuan review program serta bimbingan
tekhnis dan monitoring ke Puskesmas, khususnya pada daerah
yang memiliki capaian rendah agar dapat meningkatkan
cakupan.
Dalam upaya peningkatan cakupan Pertolongan Persalinan
tersebut seksi KIA dan Yayasan Medis KB melaksanakan
berbagai kegiatan, yaitu : (1) Peningkatan cakupan pertolongan
persalinan oleh tenaga medis dan kunjungan ibu dan anak
melalui Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu
Kelahiran, (2) Penguatan Manajemen dan Jejaring Rujukan di
tingkat Kabupaten melalui Manual Rujukan yang
ditandatangani oleh Bupati Bintan, (3) Pembentukan Tim AMP
tingkat Kabupaten Bintan, (4) Peningkatan koordinasi dengan
lintas program dan lintas sektor kesehatan untuk peningkatan
cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga medis dan
kunjungan ibu dan anak di Fasilitas Kesehatan, (5) Peningkatan
kerjasama dengan organisasi profesi, (6) Bimbingan tekhnis,
monitoring dan evaluasi bagi bidan koordinator di Kecamatan
dan Desa.

7) Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)


Kegiatan imunisasi dasar lengkap merupakan pemberian vaksin
kepada bayi umur < 1 tahun yang meliputi BCG, Polio, DPT+HB
dan Campak. Pemberian vaksin ini bertujuan untuk mencegah
penyakit - penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)
yaitu Difteria, Pertusis, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio
dan Hepatitis B. sebagai indikator keberhasilan program
imunisasi di tingkat desa/kelurahan adalah jika imunisasi
dasar lengkap telah mencapai 90% dari jumlah bayi yang ada
atau disebut juga dengan Universal ChildImunization (UCI).

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-45


Di Kabupaten Bintan untuk tahun 2011, 2013 dan 2014 semua
desa/kelurahan telah UCI, sedangkan di tahun 2012 ada 1 desa
yaitu dasa Mantang Besar yang belum UCI. Desa Mantang Besar
pada tahun 2012 belum mencapai 85% cakupan imunisasi
dasar lengkap sehingga desa ini belum UCI, dengan
permasalahan adanya kesenjangan data estimasi dengan dara
riil sasaran dan ada juga balita yang telah diimunisasi akan
tetapi belum tercatat oleh petugas kesehatan. Berdasarkan
permasalahan ini pada tahun 2014 dinas kesehatan Kabupaten
Bintan beserta puskesmas yang ada di kabupaten bintan
bekerja sama dengan kader-kader posyandu serta bidan desa
untuk mencatat semua bayi by name dan by addres yang
diimunisasi di wilayah kerjanya masing-masing, serta
menggunakan data sasaran riil yang didapatkan dan
disejalankan dengan data dari Bidang Kesehatan Keluarga
khususnya Seksi Kesehatan Ibu dan Anak.
Grafik 2.20 : Persentase Desa Yang Mencapai UCI Tahun 2010-2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

Usaha-usaha yang akan dilakukan ke depannya untuk


mempertahankan semua desa/kelurahan tetap UCI antara lain
sweeping, pendataan bayi, sosialisasi pentingnya imunisasi dan
PD3I, sosialisasi vaksin baru, menjaga logistik vaksin tetap

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-46


lancar dan penggunaan vaksin yang efektif dan efisien serta
tetap menjalin hubungan kerja sama yang baik antara kader,
bidan desa, petugas kesehatan yang melaksanakan imunisasi
dan bidang-bidang yang ada di dinas kesehatan Kabupaten
Bintan.
8) Cakupan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan
Seluruh kasus balita gizi buruk yang ditemukan setiap
tahunnya telah dilaksanakan perawatan sesuai dengan kasus
yang ditemukan baik rawat inap maupun rawat jalan.
Pemantauan dan perawatan kasus gizi buruk yang ditemukan
tahun 2014 sebanyak 26 kasus telah sesuai dengan tatalaksana
anak gizi buruk oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas khususnya
Puskesmas perawatan yang telah dilatih pada tahun 2013.
Balita gizi buruk juga diberikan makanan tambahan pemulihan
serta multi vitamin serta pembinaan gizi anak kepada keluarga
balita.
Grafik 2.21 : Cakupan Balita Gizi Buruk Yang Mendapat Perawatan Tahun
2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

9) Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC


BTA
Jumlah penemuan kasus TB Paru BTA Positif di Kabupaten
Bintan Tahun 2014 sebesar 126 kasus (160/100.000

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-47


penduduk). Jumlah penemuan ini menurun jika dibandingkan
dengan tahun 2013 yaitu sebesar 138 kasus. Secara
keseluruhan, kasus TB Paru BTA Positif yang ditemukan 100%
sudah dilakukan pengobatan sesuai dengan rekomendasi WHO
yaitu menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan setiap
penderita diawasi/dipantau oleh seorang Pengawas Menelan
Obat (PMO).
Grafik 2.22 : Kasus TB Paru (BTA Positif) yang Ditangani Tahun 2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

Terjadinya penurunan penemuan kasus TB Paru BTA Positif di


Kabupaten Bintan disebabkan oleh penemuan yang telah
dilakukan dengan maksimal melalui penjaringan suspek TB di
dalam maupun diliuar gedung, kontak serumah, serta tingginya
tingkat kepatuhan penderita TB dalam menjalani pengobatan
secara tuntas, sehingga dengan menelan obat secara teratur
dan tuntas maka otomatis menurunkan penularan TB kepada
masyarakat lainnya. Adapun sebaran penemuan Kasus dari 126
kasus TB Paru BTA Positif yang ditemukan di Kabupaten Bintan
yaitu sebagai berikut UPTD Puskesmas Kijang 30 orang, UPTD
Puskesmas Kelong 1 orang, UPTD Puskesmas Toapaya 9 orang,
UPTD Puskesmas Kawal 15 orang , UPTD Puskesmas Teluk
Bintan 5 orang, UPTD Teluk Sebung 2 orang, UPTD Tanjung
Uban 9 orang, UPTD Teluk Sasah 12 orang, UPTD Tambelan 9
orang , UPTD Sri Bintan 4 orang , UPTD Berakit 2 orang, UPTD

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-48


Kuala Sempang 1 orang, UPTD Sei Lekop 11 orang, RSUD Tg.
Uban Provinsi Kepri 5 orang, dan RSUD Bintan 15 orang.
10) Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditandai
dengan panas mendadak berlangsung terus-menerus selama 2-
7 hari tanpa sebab yang jelas, tanda-tanda perdarahan
(sekurang-kurangnya uji Torniquet positif), disertai/tanpa
pembesaran hati (hepatomegali), trombositopenia (trombosit
≤100.000/µl), peningkatan hematocrit ≥20%.
Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD
adalah presentase penderita DBD yang ditangani sesuai standar
di suatu wilayah dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan
dengan jumlah penderita DBD yang ditemukan/dilaporkan
dalam kurun waktu satu tahun yang sama. Penderita DBD yang
ditangani sesuai standar SOP adalah penderita DBD yang
didiagnosis dan diobati/dirawat sesuai standar, ditindaklanjuti
dengan penanggulangan fokus (PF).
Grafik 2.23 : Persentase Kasus DBD yang Ditangani Tahun 2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015


Penanganan penyakit DBD di Kabupaten Bintan telah
terlaksana 100% sejak tahun 2010 hingga 2014. Target SPM
adalah 100% di tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa
penanganan terhadap penyakit DBD di Kabupaten Bintan telah
berjalan dengan baik dan dapat dipertahankan hingga sekarang.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-49


Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena
penyakit DBD telah dilakukan beberapa upaya pengendalian
penyakit DBD, dimulai dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE)
setelah adanya laporan kasus dari Rumah Sakit/Puskesmas.
Kemudian dilakukan pengasapan (Fogging Focus) dan abatesasi
massal dengan radius ±100 meter dari tempat tinggal kasus.
Selain itu lebih mengoptimalkan kegiatan PSN dengan 3M Plus
secara serentak serta menjaga kebersihan lingkungan kepada
seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
11) Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat
Miskin
Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin
adalah jumlah kunjungan pasien masyarakat miskin di sarana
kesehatan strata pertama di satu wilayah kerja tertentu pada
kurun waktu tertentu. Sarana kesehatan strata pertama adalah
tempat pelayanan kesehatan yang meliputi puskesmas, balai
pengobatan pemerintah dan swasta, praktek bersama dan
perorangan.
Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal untuk kabupaten dan
kota di seluruh Indonesia, target yang harus dicapai oleh
masing-masing kabupaten untuk indikator cakupan pelayanan
kesehatan dasar pasien miskin adalah 100% di tahun 2015.
Berdasarkan data perkembangan cakupan pelayanan kesehatan
dasar masyarakat di Kabupaten Bintan, terjadi peningkatan dari
tahun 2010 hingga 2014. Selama tahun 2011 sampai dengan
2014 cakupan pelayanan dasar untuk masyarakat miskin
mencapai 100%, sehingga memenuhi target SPM Indonesia.
Tabel 2.22 : Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Masyarakat Miskin
di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Cakupan pelayanan
kesehatan rujukan 90,30% 100% 100% 100% 100%
pasien masyarakat
miskin
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-50
Pada tahun 2014 jumlah pelayanan Kesehatan Dasar dan
rujukan bagi masyarakat miskin Kabupaten Bintan sebesar
4.653 kunjungan dengan rincian pelayanan menggunakan
Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebesar 2.445
kunjungan dan yang menggunakan Kartu Bintan Sejahtera
(KBS) sebesar 2.208 kunjungan, bila dibandingkan tahun
sebelumnya terjadi peningkatan sebanyak 3486 kunjungan dari
1.167 kunjungan (2013). Hal ini disebabkan karena kurangnya
pemahaman masyarakat tentang SKTM, sebagian masyarakat
menganggap SKTM adalah hak bagi semua masyarakat sebagai
jaminan kesehatan padahal sesuai namanya SKTM (Surat
Keterangan Tidak Mampu) hanya berlaku bagi masyarakat tidak
mampu. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menurunkan
jumlah pelayanan kesehatan dasar dan rujukan bagi
masyarakat miskin tahun 2015 adalah mengarahkan
masyarakat yang menggunakan SKTM untuk mendaftar ke
BPJS Kesehatan, karena premi asuransi BPJS Kesehatan tidak
terlalu besar untuk pelayanan kelas III, 25.500 per bulan per
Jiwa.
12) Cakupan Kunjungan Bayi
Cakupan kunjungan bayi adalah bayi yang mendapat pelayanan
kesehatan minimal 4 kali sesuai dengan standar pelayanan
kesehatan bayi yaitu 1 kali pada usia 29 hari sampai dengan 2
bulan, 1 kali pada usia 3 bulan, 1 kali pada usia 6-8 bulan, dan
1 kali pada usia 9-11 bulan. Presentase cakupan kunjungan
bayi di Kabupaten Bintan pada tahun 2014 sebesar 80,2 persen,
bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya terjadi
penurunan yaitu : 95,2 persen (2012) dan 96 persen (2013), hal
ini disebabkan karena perubahan standar dalam pelayanan
kesehatan bayi, awalnya menggunakan cakupan imunisasi
campak berubah menjadi pencatatan kohort bayi. Berdasarkan
target cakupan kunjungan bayi di RPJMD Kabupaten Bintan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-51


2011-2015 yaitu 112% dan target Nasional sebesar 60% maka
terjadi kesenjangan yang cukup besar yaitu sebesar 52%, maka
target RPJMD cakupan bayi di revisi menjadi 90%. Upaya-upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan kunjungan bayi tersebut
antara lain melalui peningkatan cakupan pelayanan di
Posyandu dan kelas ibu balita.

Grafik 2.24 : Cakupan Kunjungan Bayi Tahun 2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

13) Cakupan Puskesmas


Cakupan Puskesmas di Kabupaten Bintan tahun 2014 sebesar
140 persen, angka tersebut telah melampau target tahun 2015
yaitu sebesar 100 persen. Cakupan Puskesmas merupakan
perbandingan jumlah Puskesmas dengan jumlah Kecamatan
yang ada di Kabupaten Bintan. Tahun 2014, UPTD Puskesmas
berjumlah 14 unit dalam 10 Kecamatan. Hal ini menunjukkan
bahwa setiap Kecamatan di Kabupaten Bintan sudah memiliki
Puskesmas, bahkan ada Kecamatan yang memiliki lebih dari 1
Puskesmas seperti; (1) Kecamatan Teluk Sebong memiliki 3
Puskesmas yaitu: UPTD Puskemas Teluk Sebong, UPTD
Puskesmas Sri Bintan dan UPTD Puskesmas Berakit, (2)
Kecamatan Bintan Timur yaitu; UPTD Puskesmas Kijang dan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-52


UPTD Puskesmas Sei Lekop serta ada UPTD Puskesmas yang
memiliki wilayah kerjanya di 2 Kecamatan yakni UPTD
Puskesmas Kuala Sempang yakni Kecamatan Seri Kuala Lobam
dan Kecamatan Teluk Bintan. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa akses pelayanan kesehatan di Kabupaten
Bintan sudah cukup baik.
Grafik 2.25 : Cakupan Puskesmas Tahun 2010 – 2014

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2015

14) Cakupan Pembantu Puskesmas


Cakupan Pembantu Puskesmas meliputi Puskesmas Pembantu
dan Polindes/Poskesdes yang merupakan jejaring dari
Puskesmas. Tahun 2014, cakupan pembantu Puskesmas
sebesar 168.63 persen, angka tersebut jauh melampaui target
tahun 2015 yaitu sebesar 95 persen. Cakupan Pembantu
Puskesmas adalah perbandingan jumlah Pustu dan
Polindes/Poskesdes yaitu sebanyak 86 unit berbanding dengan
jumlah Desa/Kelurahan yang ada di Kabupaten Bintan yakni 51
Desa/Kelurahan. Jumlah Puskesmas Pembantu tidak
mengalami penambahan (28 unit) begitu juga dengan jumlah
Polindes/Poskesdes yakni 58 unit. Dapat disimpulkan bahwa di
setiap Desa/Kelurahan di Kabupaten Bintan telah memiliki
Pustu, Polindes/Poskesdes, bahkan ada di beberapa
Desa/Kelurahan memiliki 2 unit fasilitas pelayanan kesehatan
sekaligus yakni Pustu dan Polindes/Poskesdes.
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-53
2.3.1.3 Pekerjaan Umum
Ketersediaan infratruktur yang layak dan memadai merupakan
aspek dasar yang diperlukan dalam proses pembangunan. Berikut
ini diuraikan hasil kinerja Urusan Pekerjaan Umum selama periode
2010-2014.
1) Rasio Tempat Pemakaman Umum per Satuan Penduduk
Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk adalah
indikator ketersediaan tempat pemakaman umum yang ada di
Kabupaten Bintan. Berdasarkan data tahun 2014, rasio tempat
pemakaman umum per 1000 penduduk mencapai nilai 115.
Sementara ini pemakaman umum yang ada di Kabupaten
Bintan ada beberapa pemakaman yang berada di 7 (tujuh)
Kecamatan, namun sampai saat ini belum dikelola oleh
pemerintah daerah dengan total luas makam 952.957,3 m2.
Telah terjadi penurunan daya dukung lahan pemakaman TPU
karena adanya pertumbuhan jumlah penduduk dan
meningkatnya jumlah penggunaaan lahan pemakaman di setiap
tahunnya, sedangkan lahan pemakaman tetap. Melihat hal
tersebut, maka masih dibutuhkan adanya penambahan lahan
pemakaman di Kabupaten Bintan.

Tabel 2.25 : Rasio Tempat Pemakaman Umum per 1000 Penduduk


Tahun 2012-2014
Rasio Tempat Pemakaman Umum
No. Tahun
per 1000 penduduk
1 2014 115
2 2013 120
3 2012 70,32
Sumber: DKPP Kab. Bintan tahun 2015

2) Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per Satuan Penduduk


Rasio tempat pembuangan sampah per satuan penduduk
adalah indikator ketersediaan volume tempat pembuangan
sampah per satuan penduduk. Indikator tersebut didapatkan
dari rumus volume tempat pembuangan sampah dibagi jumlah
penduduk dikali 1.000, sehingga indikator tersebut dapat

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-54


menunjukkan ketersediaan tempat pembuangan sampah per
1.000 penduduk. Berdasarkan data perkembangan rasio tempat
pembuangan sampah terjadi peningkatan selama kurun waktu
2010 sampai 2014. Hal ini menunjukkan perhatian pemerintah
daerah akan kebersihan lingkungan warganya. Berikut ini
perkembangan rasio tempat sampah di Kabupaten Bintan.

Tabel 2.26 : Rasio Tempat Pembuangan Sampah Per Satuan Penduduk


di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Rasio tempat
pembuangan sampah
50 53 57 112 117
(TPS) per satuan
penduduk
Sumber: DKPP Kab. Bintan tahun 2015

3) Panjang Jalan dilalui Roda 4


Panjang jalan dilalui roda 4 adalah indikator yang menunjukkan
rasio panjang jalan yang dapat dilalui roda 4 yang disediakan
oleh pemerintah baik pusat maupun daerah untuk melayani per
1.000 penduduk dengan rumus panjang jalan (Km) dibagi
dengan jumlah penduduk dikali 1.000. Indikator ini dapat
menunjukkan tingkat pelayanan jalan per 1.000 penduduk.

Tabel 2.27 : Panjang Jalan Dilalui Roda 4 di Kabupaten Bintan Tahun


2010-2014

Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Panjang Jalan Dilalui
415,75 465,341 486,101 561,702 650,65
Roda 4 (km/1000
Km Km Km Km Km
penduduk)
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kab. Bintan, tahun 2015
Panjang jalan dilalui roda 4 pada tahun 2010 yaitu sepanjang
415,75 Km, dan mengalami peningkatan pada tahun 2011
menjadi 465,341 Km. Pada tahun 2012 capaian kinerja panjang
jalan mencapai sepanjang 486,101 Km dan terus meningkat
sampai tahun 2014 menjadi 438,75Km. Hal ini

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-55


mengindikasikan bahwa masyarakat semakin membutuhkan
transportasi darat untuk mendukung berbagai kegiatan.
4) Panjang Jalan Kabupaten Dalam Kondisi Baik (>40 Km/Jam)
Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik adalah indikator yang
menunjukan tingkat layanan jalan kabupaten yang tersedia.
Panjang jalan Kabupaten Bintan dalam kondisi baik (>40Km/Jam)
pada tahun 2010 yaitu sepanjang 215,5 Km dan meningkat pada
tahun 2011 menjadi sepanjang 230 Km. Pada tahun 2012 panjang
jalan mencapai 232,071 Km, demikian pula pada tahun 2013
meningkat menjadi 230 Km. Pada tahun 2014 panjang jalan
mencapai sepanjang 265,071 Km.

2.3.1.4 Perumahan
Penyelenggaraan urusan perumahan dilaksanakan agar
masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah yang
layak dan terjangkau di dalam kondisi yang sehat, aman,
harmonis, dan berkelanjutan. Perkembangan rumah tangga
pengguna air bersih di Kabupaten Bintan relatif meningkat, walau
kenaikan jumlah Kepala keluarga (KK) yang membutuhkan
bertambah, maka bertambah pula rumah tangga pengguna air
besih yang harus dilayani. Pada tahun demikian pula dengan
Rumah Tangga Pengguna Listrik, pelayanan diberikan dengan
optimal sehingga diupayakan semua warga mendapatkan
pelayanan dalam pemanfaatan listrik.
1) Rumah Tangga Pengguna Air Bersih
Menurut BPS, selama periode 2005-2007 penyediaan air bersih
di Kabupaten Bintan dilakukan oleh Perusahaan DaerahAir
Minum (PDAM) yaitu PDAM Kijang, PDAM Tanjung Uban,dan
PDAM Teluk Sekuni Tambelan. Dari ketiga PDAM tersebut maka
PDAM Tanjunguban memiliki jumlah pelanggan, volume
produksi, dan tingkat distribusi yang paling besar. Hal ini
dikarenakan Kecamatan Bintan Utara banyak memiliki industri
besar/sedang serta jumlah penduduk yang relatif besar.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-56


Sementara itu, menurut data PODES 2007, sumber air bersih di
kecamatan lainnya seperti Kecamatan Teluk Bintan, Teluk
Sebong, Mantang, Seri Kuala Lobam, Bintan Pesisir, Gunung
Kijang dan Kecamatan Toa Paya umumnya berasal dari sumur
gali.
Jumlah penduduk yang menggunakan akses air bersih
sebanyak 131.477 jiwa (87%) dari 151.123 jiwa. Dari 2010-2013
terjadi peningkatan jumlah penduduk yang menggunakan air
bersih. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat untuk
menggunakan air bersih/ minum tinggi dan sejalan dengan
pelaksanaan program pembangunan sarana air bersih/minum
terutama untuk daerah yang rawan air dan penyakit yang
ditimbulkan oleh penggunaan air minum tinggi, melalui sumber
pendanaan pembangunan air bersih/ minum yang berasal dari
dana APBN dan APBD Kabupaten/Provinsi.
Pada tahun 2014 penduduk yang menggunakan akses air bersih
berjumlah 131.477 jiwa yang terdiri dari 20.792 unit sarana
sumur gali terlindung dengan jumlah pengguna 95.664 jiwa, 18
unit jaringan perpipaan (PDAM dan BP-SPAM) dengan pengguna
35.754 jiwa. Pencapaian ini masih dibawah target RPJMD
Kabupaten Bintan tahun 2014 yaitu 92,5 persen. Hal ini
dikarenakan masih banyaknya RT yang menggunakan air bersih
yang bersumber dari sumur gali (SGL) yang tidak memenuhi
syarat kesehatan sesuai dengan Permenkes Nomor 461 Tahun
1990 Tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih, antara lain: fisik
meliputi warna, kekeruhan, bau, mikrobiologi meliputi coliforem
dan total coliforem dan kimia meliputi kadar magnesium, besi,
aluminium dan lain-lain
2) Rumah Tangga Pengguna Listrik
Rumah tangga pengguna listrik menunjukkan indikator jumlah
rumah tangga yang menggunakan listrik di Kabupaten Bintan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-57


Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah rumah tangga
pengguna listrik dibagi dengan jumlah rumah

Tabel 2.28 : Rumah Tangga Pengguna Listrik di Kabupaten Bintan

Tahun
Indikator
Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah Rumah
15.718 19.341 27.269 28.662 28.320
Tangga Pengguna
RT RT RT RT RT
Listrik
Rasio
Elektrifikasi (%) 47,84% 59,35% 63,57% 75,49% 75,53%
Sumber: Distamben Kab. Bintan, tahun 2015
tangga. Rumah Tangga pengguna listrik (termasuk sosial, bisnis,
publik) sampai dengan tahun 2014 semakin bertambah hal ini
dilihat dari tabel berikut:
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, rasio elektrifikasi di
Indonesia saat ini mencapai 80,54% dan ditargetkan pemerintah
akan mencapai 100% pada tahun 2020. Di Kabupaten Bintan
sendiri rasio elektrifikasi pada tahun 2014 baru mencapai
75,54%, yang artinya mengalami kenaikan sebesar 0,05% dari
75,49% pada tahun 2013. Hal ini menunjukkan bahwa
Kabupaten Bintan yang pada tahun 2014 hanya mencapai
75,53%, sehingga masih perlu peningkatan elektrifikasi atau
perluasan jaringan listrik sehingga dapat menjangkau ke
daerah-daerah pelosok.
3) Rumah Tangga Bersanitasi
Rumah tangga bersanitasi adalah salah satu indikator untuk
mengukur tingkat penyediaan sarana sanitasi di Kabupaten
Bintan. Indikator ini dihitung dengan rumus jumlah rumah
tangga bersanitasi dibagi dengan jumlah seluruh rumah tangga
yang ada di Kabupaten Bintan. Persentase rumah tinggal
bersanitasi pada tahun 2010 sebesar 72,66%, kemudian
meningkat menjadi 78,30% pada tahun 2011. Pada tahun 2012
sampai 2013 terjadi peningkatan menjadi 76,03%. Sementara
itu tahun 2014 sedikit menurun menjadi 76%.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-58


Tabel 2.29 : Rumah Tangga Bersanitasi di Kabupaten Bintan Tahun
2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Persentase Rumah
Tangga Bersanitasi 72,66% 78,3% 74,56% 76,03% 76%
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kab. Bintan, tahun 2015

2.3.1.5 Penataan Ruang


Dari berbagai telaah tentang penataan ruang, ruang terbuka hijau
merupakan salah satu komponen terpenting yaang sebaiknya
dianalisis, dengan salah satu penilaiannya adalah rasio ruang
terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB.
Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian penting dari ekosistem
perkotaan. RTH adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang
lebih luas dalam bentuk kawasan maupun dalam bentuk area
memanjang atau jalur di mana penggunaannya lebih bersifat
terbuka. RTH meliputi taman kota, taman wisata alam, taman
rekreasi, taman lingkungan pemukiman, taman gedung
perkantoran dan gedung komersial, lapangan olah raga,
pemakaman umum, sempadan sungai, pantai dan kawasan jalur
hijau.
Saat ini, RTH di Kabupaten Bintan yang dikelola oleh pemerintah
daerah terdiri dari 1 taman umum besar yang berada di Kijang
Kota, 12 taman kecil yang tersebar di kecamatan-kecamatan,
dengan total luas ±6.600 m2, ruang terbuka hijau juga berada
difasilitas sosial dan fasilitas umum diantaranya taman dan parkir
gedung olah raga, taman mesjid raya dan lapangan olah raga. Agar
kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya
tampung lingkungan, pengembangan ruang terbuka hijau dari luas
kawasan perkotaan paling sedikit 30% (tiga puluh persen).

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-59


Tabel 2.30 : Rasio Ruang Terbuka Hijau Per Satuan Luas Wilayah Ber-
HPL/HGB di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

Rasio Ruang Terbuka Hijau Per Satuan Luas


Indikator Kinerja Wilayah Ber-HPL/HGB
2010 2011 2012 2013 2014
Luas Ruang Terbuka Hijau 141.000
yang dikelola - 129,865 186,126 191,351
M2
Rasio ruang terbuka hijau per
30% :
satuan luas wilayah ber - 14:86 10 : 90 10 : 90
70%
HPL/HGB di perkotaan
Rasio ruang terbuka hijau per
satuan luas wilayah ber 60% :
- 3:97 8 : 92 8 : 92
40%
HPL/HGB di pedesaan
Sumber: LKPJ AMJ Bupati Bintan Tahun 2010-2015
Pada tahun 2014 Luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dikelola
oleh Kabupaten Bintan sebesar 191.351 m2, dengan rincian
sebagai berikut:
1. Taman Kota Sakera (Kp. Bugis) Kec. Bintan Utara : 20.000 m2
2. Taman Kota Sekilo Kecamatan Seri Kuala Lobam : 30.000 m2
3. Taman Kota Kijang Kota Kec. Bintan Timur : 74.000 m2
4. Pulau-pulau jalan di Kabupaten Bintan : 21.440 m2
5. Taman Lain-lain : 45.911 m2
Sehingga total Luas RTH yang dikelola oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten Bintan adalah sebesar 191.351 m2.

2.3.1.6 Perencanaan Pembangunan


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)
Kabupaten Bintan telah disahkan menjadi Peraturan Daerah
Kabupaten Bintan No. 5 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Menengah Daerah (RPJPD)
Kabupaten Bintan Tahun 2005-2025, sehingga menjadikan periode
2010-2015 telah tersusun dokumen perencanaan pembangunan
jangka panjang yang dapat diacu dan terlegitimasi. RPJMD
Kabupaten Bintan juga sudah ditetapkan menjadi Peraturan
Daerah Kabupaten Bintan Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bintan Tahun
2010-2015.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-60


Selama periode 2010-2015 dokumen Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD) setiap tahunnya telah ditetapkan dengan Peraturan
Bupati. Penjabaran program RPJMD ke dalam RKPD Kabupaten
Bintan dalam dua tahun terakhir (2005-2015) juga sudah
terakomodasi secara optimal. Dengan kata lain, seluruh program
yang ada di RPJMD sudah diimplemetasikan lebih lanjut di dalam
RKPD.

2.3.1.7 Perhubungan
1) Jumlah Arus Penumpang Pelabuhan dan Terminal
Jumlah penumpang yang masuk terminal angkutan darat di
Kabupaten Bintan mencapai 479 orang dan jumlah penumpang
yang keluar terminal angkutan darat telah mencapai target
yaitu sebanyak 2052 orang. Sementar itu, jumlah penumpang
angkutan laut yang masuk pelabuhan sebanyak 729.342 orang
dan jumlah penumpang yang keluar pelabuhan sebanyak
802.874 orang. Jumlah penumpang yang masuk maupun
keluar dari Pelabuhan atau Terminal Angkutan Darat
mengalami penurunan pada tahun 2014. Berikut ini
perkembangan jumlah penumpang selama tahun 2010 sampai
2014.
Tabel 2.31 : Jumlah Penumpang Angkutan Darat dan Laut
di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Indikator Tahun
Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah
penumpang 602.028
660.510 719.960 732.557 729.342
yang masuk Orang
Pelabuhan
Jumlah
penumpang 612.216
667.988 722.649 825.972 802.874
yang keluar Orang
Pelabuhan
Jumlah
penumpang
yang masuk 300
1020 2010 683 479
Terminal Orang
Angkutan
Darat

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-61


Jumlah
penumpang
yang keluar 1600
2680 4120 1975 2052
Terminal Orang
Angkutan
Darat
Sumber: Dinas Perhubungan Kab.Bintan, Tahun 2015

2) Rasio Ijin Trayek


Selama kurun waktu tahun 2010 sampai dengan 2014, rasio
ijin trayek di Kabupaten Bintan hanya ada 3 trayek. Hal
tersebut disebabkan karena:
a. Kemajuan Prekonomian dibeberapa Kecamatan belum dapat
menciptakan peluangan bagi industri-industri, usaha-usaha
kecil/menengah, pengembangan perumahan dan lain-lain
sehingga tidak tersedianya peluang bagi tenaga kerja.
b. Adanya kemudahan untuk memiliki kendaraan pribadi,
sehingga masyarakat lebih memiliki menggunakan kendaran
pribadi dari pada angkutan umum.
Dengan kondisi tersebut diatas pengusaha angkutan umum
belum bisa mengembangkan usahanya (membuka trayek-trayek
baru) karena minimnya penumpang.
3) Jumlah Uji KIR angkutan Umum
Jumlah pengujian kendaraan bermotor (uji kir angkutan umum)
sudah mencapai target yaitu 2.067 kali dengan Kepemilikan KIR
angkutan umum mencapai 100% sejak tahun 2013. Berikut ini
jumlah pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Bintan.

Tabel 2.32 : Jumlah Pengujian Kendaraan Bermotor di Kabupaten


Bintan Tahun 2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah pengujian kendaraan 1415 3554 5577 1276 2067
bermotor (uji KIR angkutan Kali Kali Kali Kali Kali
umum)
Sumber: Dinas Perhuubungan Kab.Bintan, Tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-62


4) Jumlah Pelabuhan Laut danTerminal Bis
Jumlah pelabuhan pada tahun 2010 berjumlah 10 unit,
kemudian berkembangan menjadi 9 unit pada tahun 2011
sampai 2013. Sementara itu perkembangan jumlah pelabuhan
pada tahun 2014 menjadi 10 unit dengan terminal bis 1 unit,
sedangkan bandar udara dalam pelaksanaan yaitu Bandara
Busung, dan Bandara Tambelan dalam proses pembangunan.
5) Kepemlikian KIR Angkutan Umum
Kepemilikan KIR Angkutan Umum di Kabupaten Bintan sampai
dengan tahun 2014 mencapai 100%. Pada tahun sebelumnya
kepemilikan KIR Angkutan Umum hanya mencapai 74,85%
(pada tahun 2013), dan 80% pada tahun 2011-2012.
6) Lama Pengujian Kelayakan Angkutan Umum
Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) pada tahun
2010 mencapai 2 jam (sangat lama). Dalam perkembangannya,
pada tahun berikutnya (tahun 2014) pengujian kelayakan
angkutan umum hanya membutuhkan waktu 25 menit.
7) Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum
Biaya pengujian kelayakan angkutan umum pada tahun 2014
yaitu Rp 45-57 ribu rupiah. Biaya relatif lebih murah
dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2010-2011 biaya
pengujian kelayakan angkutan lebih sedikit Rp 38-45 ribu
rupiah. Sementara itu pada tahun 2012-2013 biaya tersebut
meningkat menjadi Rp 45-77 ribu rupiah.

2.3.1.8 Lingkungan Hidup


1) Penanganan Sampah
Rencana pengembangan sistem persampahan di Kabupaten
Bintan diarahkan dikelola secara terpadu antara pemerintah
dan masyarakat. Partisipasi masyarakat terutama diarahkan
untuk membuat bak-bak sampah baik yang dilakukan
secara individual maupun secara kelompok, dan
pengangkutan sampah dari bak-bak sampah melalui gerobak

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-63


sampah yang disediakan ke lokasi tempat pembuangan
sementara (TPS). Dalam hal ini pengadaan bak amrol dan
penempatannya juga dapat diperhitungkan sebagai Tempat
Pembuangan Sementara (TPS).
Rencana pelayanan pengelolaan sampah tersebut untuk
melayani sampah-sampah dari rumah tangga, kawasan
komersil seperti pasar dan pertokoan, perkantoran, serta
pusat pemerintahan. Sedangkan sistem pengolahan
persampahan untuk daerah-daerah yang belum terjangkau
oleh sistem pelayanan ini, diarahkan penanganannya
dilakukan melalui pengolahan secara individu atau secara
komunal setempat, melalui cara pengomposan maupun
melakukan 3R (reduce, reuse, recycle) dengan menggunakan
sistem Bank Sampah. Dengan sistem pengelolaan
persampahan seperti ini diharapkan dapat dihindari
terjadinya masalah-masalah lingkungan seperti pencemaran
lingkungan, timbulnya genangan, gangguan estetika dan
penyebaran penyakit. Beberapa program yang akan
dikembangkan dalam pengembangan sistem pengelolaan
persampahan di Kabupaten Bintan, yaitu:
a. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di masing-
masing Kecamatan di Kabupaten Bintan. Pendataan Bank
Sampah yang telah dikembangkan oleh instansi terkait.
b. Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) adalah tempat
untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media
lingksungan secara aman bagi manusia dan lingkungan,
dan telah dioperasikan seluas 5 hektar di Kecamatan Bintan
Timur sedangkan 5 Hektar untuk wilayah Kecamatan Bagian
Utara.
2) Persentase Penduduk Berakses Air Minum
Strategi penanganan penyediaan Sistem Penyediaan Air Minum
Ibu Kota Kecamatan (SPAM IKK) di Kabupaten Bintan telah

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-64


dapat mendukung terjaminnya peningkatan dan keberlanjutan
kegiatan perekonomian di kecamatan dan perdesaan sehingga
telah meningkatkan Persentase penduduk berakses air minum
dari tahun 2010 tercatat 93,81% meningkat menjadi 98,67%
pada tahun 2014.

Tabel 2.33 : Persentase Penduduk Berakses Air Minum di Kabupaten


Bintan Tahun 2010-2014

Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Persentase Penduduk
93,81 41,86 37,91 61,69 98,67
Berakses Air Minum
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Kab. Bintan, tahun 2015
3) Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Amdal
Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL sejak
tahun 2013 telah mencapai 100%. Pengawasan yang dilakukan
atas 62 perusahaan dengan kategori pengawasan pada
perusahaan yang melakukan pengelolaan limbah B3 yang telah
menerapkan AMDAL
Tercatat sampai dengan tahun 2014 dari 34 kasus
pencemaran lingkungan yang ada baik kasus yang
dilaporkan/pengaduan masyarakat maupun laporan
pengaduan oleh beberapa perusahaan akibat adanya dugaan
pencemaran atau perusakan lingkungan hidup sudah dapat
diselesaikan atau ditindaklanjuti seluruhnya mencapai 90%.
Sedangkan tahun sebelumnya mencapai 100%. Sehingga
jumlah pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan
pecemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang
ditindaklanjuti telah mencapai target yang ditetapkan.

2.3.1.9 Pertanahan
Luas Lahan milik Pemerintah daerah hingga Tahun 2014 adalah
lebih kurang 418 ha. Dengan presentase sertifikat mencapai 70%.
Sertifikasi aset lahan pemda dilaksanakan melalui Program
Penataan, Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-65


Tanah. Namun sertifikasi aset lahan Pemda tersebut tidak
sepenuhnya dapat dilaksanakan karena rencana sertifikasi lahan
yang diajukan sebelumnya termasuk dalam kawasan hutan
sehingga BPN dan Kanwil Kehutanan menundanya. Jumlah
sertifikat (persil) lahan pemda pada tahun 2014 sebanyak 65
persil. Keseluruhan lahan tersebut dimanfaatkan secara optimal.
Untuk perasalahan resetlement Busung dan Pengudang masih
dalam proses tahap pendataan lahan dan permintaan perubahan
lokasi lahan kepada perusahaan. Penyelesaian sengketa tanah
untuk RSUD dan LAM milik PT. ANTAM telah diselesaikan dengan
ditandatanganinya perjanjian pinjam pakai lahan. Sehingga pada
tahun 2014 mencapai 100%. Sementara itu untuk kegiatan
pengadaan lahan untuk lanjutan pembangunan Bandar Udara
Keamatan. Tambelan hanya dapat dilaksanakan hanya sampai
pembuatan dokumen perencanaan dikarenakan efisiensi keuangan
daerah

2.3.1.10 Kependudukan dan Catatan Sipil


1) Rasio penduduk ber KTP per 1000 penduduk telah menikah
Data pencatatan yang dilakukan oleh Kantor Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bintan pada
tahun 2014 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang telah
menikah sebanyak 64.572 Jiwa, sementara data yang penduduk
ber KTP sebanyak 65.014 Jiwa, sehingga didapat rasio
penduduk ber KTP per 1000 penduduk telah menikah sebesar
1.007 jiwa dari target sebesar 700 jiwa. Hal ini mengalami
kenaikan dikarenakan rasio penduduk menikah cenderung
memiliki KTP.
2) Kepemilikan KTP
Dari 95.186 orang wajib KTP, telah mencapai 80,1%, yang
sudah melakukan perekaman KTP baik menggunakan SIAK dan
eKTP adalah 79.418 orang, yang sudah memiliki KTP (selesai
dicetak) sebanyak 65.014 orang sedangkan sisanya belum

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-66


memiliki KTP disebabkan oleh: (1) proses pencetakan KTP pada
tahun 2014 masih di pusatkan di Pemerintahan Pusat dalam
hal ini Kementerian Dalam Negeri, sehingga belum
didistribusikan seluruhnya ke daerah; (2) blanko pengisian KTP
untuk saat ini hanya disediakan oleh pusat; (3) sisanya setelah
didata sebanyak 15.000.000 orang lebih penduduk Kabupaten
Bintan belum merekam KTP.
Tabel 2.34 : Persentase Kepemilikan KTP di Kabupaten Bintan Tahun
2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Kepemilikan KTP 92,36% 90,34% 92,42% 81% 80,1%
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Bintan, 2015
3) Penetapan KTP Nasional Berbasis NIK
Penetapan KTP Nasional Berbasis NIK sudah dilaksanakan
dengan baik sejak tahun 2011 hingga saat ini. Tahun 2014
penduduk yang melakukan perekaman mencapai 79.418 jiwa
dari yang wajib KTP sebanyak 95.186 jiwa yaitu 83%. Hal ini
menunjukkan perkembangan perekaman berdasarkan dengan
pertumbuhan penduduk yang berkembang sesuai dengan
demografis di Kabupaten Bintan.
4) Rasio Bayi Berakte Kelahiran per 100 Bayi Lahir
Perolehan akte kelahiran adalah bayi yang lahir pada tahun
2014, dan lahir pada bulan November sampai Desember 2013
yang dilaporkan pada bulan Januari dan Februari 2014 (masuk
dalam <60 hari), namun tidak termasuk bayi yang lahir pada
bulan November dan Desember 2014 namun belum melaporkan
dalam (<60 hari). Usaha yang dilakukan pemerintah Kabupaten
Bintan adalah memberikan insentif bagi ibu yang melaporkan
kelahiran bayinya dalam <60 hari serta himbauan melalui
media elektronik.
Pada periode tahun 2013 jumlah bayi yang telah memiliki akte
kelahiran seluruhnya tercatat sebanyak 3.933 jiwa sedangkan
tahun 2014 jumlah bayi yang telah memiliki akte kelahiran
tercatat sebanyak 3.602 jiwa, ini dapat dilihat bahwa tahun
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-67
2014 jumlah bayi yang telah memiliki akte kelahiran ada
penurunan dibandingkan pada tahun 2013. Namun untuk
target capaian per tahun adalah 2.000 jiwa, dimana dalam
pelaksanaan di tahun 2014 tercapai 3.602 jiwa, jadi ada
peningkatan dalam target capaian yang telah ditetapkan.
5) Rasio Pasangan Berakte Nikah per 1000 Pasangan Penduduk
Menikah
Berdasarkan hasil pencatatan yang dilakukan oleh Kantor
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bintan
bahwa pada periode tahun 2013 jumlah pasangan nikah non
muslim yang berakte nikah tercatat sebanyak 75 pasangan dari
jumlah sudah menikah sebanyak 70.953 pasang, sedangkan
pada tahun 2014 jumlah pasangan nikah non muslim yang
berakte nikah tercatat sebanyak 141 pasangan dari jumlah
sudah menikah sebanyak 56.245 pasangan. Ini adanya
kenaikan pengurusan akta nikah di tahun 2014.

6) Kepemilikan Akta Kelahiran Penduduk


Pada periode tahun 2014 jumlah penduduk yang telah memiliki
akte kelahiran seluruhnya tercatat sebanyak 78.204 jiwa dari
jumlah penduduk sebanyak 140.267 Jiwa (56%), Hal ini perlu
adanya kerja keras dinas kependudukan khususnya bidang
pencatatan sipil dalam peran untuk membuat terobosan dalam
kebijakan-kebijakan bagi masyarakat yang tidak memiliki
dokumen, sehingga untuk masyarakat mendapat haknya dalam
kepemilikan dokumen kelahirannya.
Tabel 2.35 : Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran Penduduk Tahun
2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014

Kepemilikan akta
59,81% 60,60 56,17 54,42 56
kelahiran penduduk
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Bintan, 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-68


2.3.1.11 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
1) Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah
(eksekutif)

Capaian kinerja indikator persentase partisipasi perempuan di


lembaga pemerintah (eksekutif) setiap tahunnya menunjukan
peningkatan. Sampai dengan tahun 2014, indikator ini
meningkat sebesar 52,1% jika dibandingkan pada tahun 2010
sebesar 24,46%.
Tabel 2.36 :
Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga
Pemerintah (Eksekutif) Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Persentase partisipasi
perempuan di lembaga 24.46% 24,5% 24,7% 51% 52,1%
pemerintah (eksekutif)
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015

2) Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta


Keberhasilan program kesetaraan gender dapat juga dilihat dari
indikator ini dimana partisipasi perempuan dilembaga swasta di
Kabupaten Bintan dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun
2010 tercatat 13% meningkat menjadi 29,4% di tahun 2014.

Tabel 2.37 :
Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta
Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Persentase partisipasi
perempuan di lembaga
13% 14% 14,1% 15,25% 29,4%
swasta

Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015


3) Proporsi kursi DPRD yang diduduki perempuan
Untuk proporsi kursi DPRD yang diduduki perempuan sedikit
mengalami penurunan dari 24% tahun 2010 menjadi 10% pada
tahun 2014. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pencalonan dan
besaran perolehan suara akhir untuk menduduki kursi
legislatif. Perolehan suara perempuan yang duduk di lembaga
legislatif tahun 2014 sebesar 23% kursi legeslatif. Perolehan
suara perempuan yang duduk di lembaga legislatif tahun 2014

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-69


sebesar 23% atau sebanyak 4 (empat) orang perempuan dari 25
orang anggota legislatif. Dibandingkan dengan Pemilu tahun
2009 jumlah yang duduk dilembaga legislatif 6 (enam) orang
dari 25 anggota.ini menurun sekitar 2%. Tidak terpenuhinya
kuota pusat dimana 30% untuk perempuan, hal ini disebabkan
masih kurangnya pemahaman dan pengetahuan partai politik,
dan masih kurangnya partisipasi perempuan dalam berpolitik.
Tabel 2.38 : Proporsi Kursi DPRD yang Diduduki Perempuan di
Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014


Proporsi kursi DPRD
yang diduduki 24% 24% 24% 24% 16%
perempuan
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015
4) Persentase Perempuan dalam Angkatan Kerja
Persentase perempuan angkatan kerja di Kabupaten Bintan
mengalami peningkatan yang cukup besar. Pada tahun 2010
tercatat 35,18% perempuan dalam angkatan kerja sedangkan
pada tahun 2014 menjadi 42,91% ditahun 2014. Peningkatan
ini sejalan dengan pertumbuhan penduduk Kabupaten Bintan.
Tabel 2.39 : Rasio Perempuan dalam Angkatan Kerja di
Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014


Persentase
Perempuan dalam 35.18% 35,5% 37% 41,5% 42,91%
Angkatan Kerja
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015
5) Rasio Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
Jumlah rumah tangga pada Tahun 2014 adalah 37.276 rumah
tangga, sedangkan kejadian kekerasan dalam rumah tangga
(KDRT) yang terjadi adalah sebanyak 3 (tiga) kasus. Dengan
demikian KDRT yang terjadi dibandingkan dengan jumlah
rumah tangga 0,01%, hal ini menunjukkan KDRT masih dapat
ditekan. Keberhasilan ini adalah sebagai upaya pemerintah
dalam menerapkan Peraturan Daerah tentang perlindungan
anak.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-70


Tabel 2.40 : Rasio KDRT di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Rasio KDRT 0,02% 0,03% 0,02% 0,1% 0,01%
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015
6) Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak
Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak
dari tindakan kekerasan di Kabupaten Bintan sudah mencapai
100% pada tahun 2014. Artinya kejadian tindakan kekerasan
terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan telah dapat
diselesaikan seluruhnya.
Tabel 2.41 : Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan
Anak dari Tindakan Kekerasan di Kabupaten Bintan
Tahun 2010-2014

Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014


Penyelesaian pengaduan
perlindungan perempuan
100% 100% 100% 100% 100%
dan anak dari tindakan
kekerasan
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015

2.3.1.12 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

1) Rasio akseptor KB
Akseptor KB adalah pasangan usia subur di mana salah
seorang menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi untuk
tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun
non program. Jumlah peserta KB di Kabupaten Bintan terus
mengalami perkembangan yang berarti kesadaran masyarkat
semakin meningkat untuk menekan laju pertumbuhan
penduduk. Hal ini ditunjukan dengan peningkatan pencapaian
kinerja Rasio Aseptor KB dari tahun 2010 sebesar 69,66
meningkat menjadi 77,89 pada tahun 2014.
Tabel 2.42 : Rasio Akseptor KB di Kabupaten Bintan Tahun 2010-
2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Rasio Akseptor KB 1,9% 2% 2,2% 0,03% 2,6%
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-71


2) Rata-rata jumlah anak per keluarga
Jumlah rata-rata jumlah anak per keluarga di Kabupaten
Bintan masih berkisar pada angka 2,45. Hal ini menunjukkan
bahwa masyarakat Kabupaten Bintan ikut dalam
mensukseskan program pemerintah dalam menekan laju
pertumbuhan penduduk.
Tabel 2.43 : Rata-Rata Jumlah Anak Per Keluarga di Kabupaten Bintan
Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Rata-rata Jumlah 1,45 1,45 1,45 2 2,45
Anak per Keluarga orang orang orang orang orang
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015
3) Cakupan peserta KB aktif
Peserta KB aktif adalah pasangan usia subur yang salah satu
pasangannya masih menggunakan alat kontrasepsi dan
terlindungi oleh alat kontrasepsi tersebut. Pasangan usia subur
(PUS) adalah pasangan suami istri yang istrinya berusia 15-49
tahun. Angka cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat
pemanfaatan kontrasepsi di antara para PUS. Berdasarkan
Peraturan Kepala BKKBN No 55/HK-010/B5/2010 target SPM
untuk indikator cakupan sasaran PUS menjadi peserta KB aktif
adalah 65% pada tahun 2014.
Untuk cakupan peserta KB Aktif sampai dengan tahun 2014
meningkat cukup signifikan sebesar 82,45% jika dibandingkan
dengan tahun 2010 sebesar 58,91%. Jika dibandingkan dengan
SPM, maka cakupan peserta KB Aktif di Kabupaten Bintan telah
memenuhi target.
Tabel 2.44 : Cakupan Peserta KB Aktif di Kabupaten Bintan Tahun
2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Cakupan peserta
KB aktif 58,91% 59% 60% 75,3% 82,45%
Sumber : BPMPKB Kab. Bintan tahun 2015

2.3.1.13 Sosial

1) Sarana Sosial (Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti


Rehabilitasi)
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-72
Indikator sarana sosial merupakan salah satu indikator yang
digunakan dalam mengindentifikasi adanya pusat
perkembangan kegiatan sosial. Sarana sosial yang dimaksud
adalah panti asuhan, panti jompo, panti rehabilitasi, rumah
singgah.

Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti


rehabilitasi sangat diperlukan untuk pemberdayaan dan
penanganan kepada masyarakat penyandang masalah
kesejahteraan sosial. Pemerintah Kabupaten Bintan dari
tahun ke tahun tidak hanya menambah sarana sosial tetapi
juga memperbaki kualitas pelayanan pada sarana sosial yang
ada, seperti melaksanakan pembangunan dan rehabilitasi
sarana sosial, semenisasi jalan menuju sarana sosial serta
perbaikan sarana pendukung. Berdasarkan pencatatan yang
dilakukan oleh Dinas Sosial Kabupaten Bintan jumlah sarana
sosial pada tahun 2014 sebanyak 11 sarana sosial, meningkat
dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu sebanyak 5 sarana
sosial.
Tabel 2.45 : Jumlah Total Sarana Sosial di Kabupaten Bintan Tahun
2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Jmlh total sarana sosial
5 5 5 10 11
(unit)
Sumber : Dinas Sosial, Kab. Bintan tahun 2015
2) Jumlah PMKS yang Mendapat Bantuan Sosial

Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini


menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang belum
terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena
belum memperoleh pelayanan sosial dari Pemerintah. Akibatnya
masih ada masyarakat yang mengalami hambatan pelaksanaan
fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara
layak dan bermartabat. Pemerintah Kabupaten Bintan dalam
memberikan bantuan bagi PMKS mengalami peningkatan yang

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-73


cukup signifikan dimana pada tahun 2010 jumlah PMKS yang
mendapat bantuan sebanyak 2.478 jiwa menjadi 6.839 jiwa
pada tahun 2014. Pemerintah Kabupaten Bintan sejak tahun
2010 hingga tahun 2014 telah melaksanakan serangkaian
program dan kegiatan guna mengatasi persoalan munculnya
PMKS di daerah Kabupaten Bintan maupun untuk
meningkatkan kapasitas PSKS di Kabupaten Bintan.
Tabel 2.46 : Jumlah PMKS yang Mendapat Bantuan Sosial di
Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
2.478 2,019 1,751 5,763 6,839
Jumlah total sarana Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa
sosial
Sumber : Dinas Sosial, Kab. Bintan tahun 2015

3) Persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan


Sosial
Dalam penanganan kesejahteraan sosial, diperlukan peran serta
masyarakat yang seluas-luasnya, baik perseorangan, keluarga,
organisasi keagamaan, organisasi sosial kemasyarakatan,
lembaga swadaya masyarakat, badan usaha maupun lembaga
kesejahteraan sosial asing demi terselenggaranya kesejahteraan
sosial yang terarah, terpadu dan berkelanjutan. Pemerintah
Kabupaten Bintan melalui Dinas Sosial telah melakukan
berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk
meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat.
Dalam hal penanganan kemiskinan, Dinas Sosial telah
melakukan pemberdayaan terhadap keluarga miskin melalui
kegiatan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni, Pembinaan
Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan usaha ekonomi produktif
(USEP) serta memberikan peningkatan kemampuan warga
miskin untuk dapat mengakses permodalan atau
pengembangan kegiatan usahanya melalui lembaga keuangan
mikro (LKM) KUBE. Hal ini membuktikan besarnya perhatian
Pemerintah Kabupaten Bintan dalam meningkatkan taraf hidup
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-74
bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. Perhatian
Pemerintah Kabupaten Bintan terhadap masyarakat
penyandang masalah kesejahteraan sosial dari tahun ke tahun
terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 jumlah
penyandang masalah kesejahteraan sosial yang ditangani
sebesar 93%, meningkat sebesar 68,07% dibandingkan tahun
2010 yang baru mencapai 24,93%, capaian ini melebihi dari
target RPJMD Kabupaten Bintan dengan target yang
direncanakan sebesar 36 persen.

Tabel 2.47 : Persentase Penanganan Penyandang Masalah


Kesejahteraan Sosial di Kabupaten Bintan Tahun 2010-
2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Persentase
Penanganan 24,93% 23,08% 26,62% 74,19% 93%
Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial
Sumber : Dinas Sosial, Kab. Bintan tahun 2015

2.3.1.14 Ketenagakerjaan

Urusan ketenagakerjaan memiliki aspek multidimensi dan lintas


sektoral sehingga peranannya menjadi salah satu aspek yang
strategis dalam pembangunan daerah. Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja (TPAK) di Kabupaten Bintan selama periode 2010-2014
mengalami fluktuatif namun menunjukkan tren meningkat. Hal ini
menunjukkan semakin besar bagian dari penduduk usia kerja
Kabupaten Bintan yang terlibat dalam kegiatan produktif. Jika
pada tahun 2010 tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar
62,79%, maka pada tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi
64,95%.
Tabel 2.48 : Kondisi Ketenagakerjaan Menurut Jenis Kelamin di
Kabupaten Bintan, 2014

Uraian Jumlah
1. Penduduk Usia Kerja (orang) 104.312
2. Angkatan Kerja 67.749
3. Bekerja 62.247
4. Pengangguran 5.502

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-75


5 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 64,95
(%)
6 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 8,12
7. Rata-Rata Jam Kerja 44,82
(jam/minggu)
Sumber : diolah dari Sakernas 2014, BPS Kabupaten Bintan

Walaupun capaian kesempatan kerja telah cukup baik, namun


tidak dapat disangkal bahwa pengangguran yang ada masih cukup
banyak. Tahun 2014 tingkat pengangguran di Kabupaten Bintan
mencapai 8,12%. Masih cukup tingginya angka pengangguran ini
diantaranya karena meningkatnya warga luar yang datang ke
Kabupaten Bintan tanpa memiliki keterampilan khusus.
Terhentinya eksplorasi tambang boksit sebagai konsekwensi
ditutupnya perusahaan-perusahaan tambang sehingga terjadinya
rasionalisasi pekerja sektor tambang. Dampak perlambatan
pertumbuhan ekonomi nasional dan dunia juga berimbas kepada
tutupnya beberapa pabrik di Lobam, selain itu tingkat persaingan
yang tinggi dan terbatasnya ketersediaan lapangan kerja baru juga
memberikan kontribusi akan tingkat pengangguran yang ada.Pada
aspek perlindungan ketenagakerjaan, telah dilakukan penyuluhan
perlindungan waktu kerja dan waktu istirahat, pemeriksaan
terpadu norma kerja umum keselamatan dan kesehatan kerja,
penyuluhan pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja. Untuk menciptakan suasana hubungan industrial yang
harmonis juga telah dilaksanakan penyuluhan lembaga kerjasama
(LKS Bipartit).
Selama periode tahun 2010-2014 jumlah kasus Perselisihan
Hubungan Industrial (PHI) sebanyak 116 kasus yang diselesaikan
ditingkat perantara sebanyak 68 kasus dan jumlah kasus yang
diteruskan ke Pengadilan Hubungan Industrial sebanyak 41 kasus.
Mengenai kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 67
kasus, diselesaikan ditingkat perantara sebanyak 42 kasus dan
yang diteruskan ke Pengadilan sebanyak 28 kasus.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-76


2.3.1.15 Koperasi Usaha Kecil dan Menengah

Pemberdayaan Koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah


merupakan langkah yang strategis dalam meningkatkan dan
menguatkan dasar kehidupan perekonomian dari sebagian besar
rakyat Indonesia khususnya melalui penyediaan lapangan kerja dan
mengurangi kesenjangan serta tingkat kemiskinan. Dalam hal ini
pemberdayaan Koperasi dan UMKM berkaitan langsung dengan
kehidupan dan peningkatan kesejahteraan bagi sebagian besar
rakyat (pro poor). Selain itu, potensi dan peran strategisnya telah
terbukti menjadi penopang kekuatan pertumbuhan ekonomi (pro
growth). Keberadaan Koperasi dan UMKM yang dominan sebagai
pelaku ekonomi nasional juga merupakan subjek vital dalam
pembangunan khususnya dalam rangka perluasan kesempatan bagi
wirausaha baru dan penyerapan tenaga kerja serta menekan angka
pengangguran (pro job). Keberadaan Koperasi terbukti merupakan
pelaku usaha yang mandiri, kukuh, dan fleksibel dalam kondisi
normal maupun krisis sekalipun. Bahkan tidak dapat disangkal
oleh siapapun bahwa Koperasi dan UMKM merupakan leader
perekonomian Indonesia, menjadi jantung ekonomi rakyat dan
pelopor tumbuhnya ekonomi kerakyatan.
Selain itu, peningkatan kualitas koperasi untuk berkembang secara
sehat sesuai dengan jati dirinya dan membangun efisiensi kolektif
terutama bagi pengusaha mikro dan kecil. Dengan demikian
pengembangan Koperasi dan UMKM merupakan prioritas dan
menjadi sangat urgen dan vital, upaya untuk memberdayakan
UMKM harus terencana, sistematis dan menyeluruh baik tatanan
makro maupun mikro.
Perkembangan jumlah Koperasi dan UKM di Kabupaten Bintan, dari
tahun 2010–2014 mengalami kenaikan. Tercatat pada tahun 2010,
jumlah koperasi aktif sebanyak 133 koperasi, mengalami kenaikan
sebanyak 62 unit koperasi atau 68,20% dibanding tahun 2010 yaitu
sebanyak 195 unit koperasi. Demikian halnya untuk UKM pada

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-77


tahun 2011 juga mengalami kenaikan sebesar 19.743 UMKM atau
sebesar 10,83% debanding dengan tahun 2010.

Tabel 2.49 : Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah, 2010‐2014
Kondisi Capaian Tahun
Kinerja
Indikator
No Awal
Kinerja 2011 2012 2013 2014
Tahun
2010
1. Jumlah 206 /150 244/140 171/104 287/193 227/195
koperasi/koperasi Unit
aktif
2. Persentase 72,82% 118,45 83,01 139,32 85,90
koperasi aktif
3. Jumlah UMKM 1327 Unit 1.450 1.485 1.593 1.675
Aktif
4. Jumlah 2 Unit 3 3 3 3
BPR/LKM aktif
5. Jumlah UKM non 12 Unit 13 13 15 15
BPR/LKM UKM
Tabel 2.50 : Jumlah Koperasi Di Kabupaten Bintan Tahun 2010 - 2014

MODAL MODAL SHU


TIDAK ANGGOTA/ VOLUME
NO JENIS KOP AKTIF SENDIRI LUAR RP.JU
AKTIF ORANG USAHA
RP.JUTA RP.JUTA TA

1 KPRI 30 5 3,105 19,980 3,224 16,213 3,389


2 KUD 3 5 1,660 851 343 195 143
3 KSU 40 21 5,171 1,075 220 442 145
4 KOPANTREN 1 1 65 110 0 56 4
5 SEKUNDER 1 0 48 0 5,449 450 0
KOP.
6 120 0 14,833 17,539 4,848 7,286 2,431
LAINNYA
2014 195 32 24,882 39,555 14,084 24,642 6,112
2013 193 94 24,747 25,503 9,875 31,465 6,885
2012 171 104 24,362 21,831 8,875 30,381 5,767
2011 191 75 24,036 16,196 9,801 29,918 4,876
2010 133 98 22,952 11,526 7,049 3,365 3,853

Sumber : Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan


Grafik 2.26 : Jumlah Koprasi Di Kabupaten Bintan Tahun 2010 – 2014
350

300

250

200 Aktif
Tidak Aktif
150
Jumlah Koperasi
100

50

0
2014 2013 2012 2011 2010

Sumber : Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-78


Tabel. 2.51 : Jumlah Unit MKM Berdasarkan Sektor Usaha di Kabupaten
Bintan Tahun 2010 - 2014
Kecamatan
Jumlah
No Sektor Usaha Tamb Gn.Ki Teluk Teuk
Bintim Binut UMKM
elan jang Sebong Bintan
1 Perdagangan 36 321 175 74 59 66 731
2 Industri 16 55 10 18 11 9 119
3 Pertanian/ 9 57 27 59 20 18 190
Perkebunan
4 Perikanan 32 79 56 71 48 57 343
5 Peternakan 8 26 33 46 9 12 134
6 Aneka Jasa 9 33 30 57 18 11 158
2014 110 571 331 325 165 173 1675
2013 98 554 319 313 150 159 1593
2012 97 548 317 310 149 158 1579
2011 96 541 317 303 146 158 1561
2010 72 395 237 246 127 146 1223
Sumber : Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan
Grafik 2.27 : Jumlah Unit Umkm Berdasarkan Sektor Usaha Di Kabupaten Bintan
Tahun 2010 - 2014

2000
1500 2014
1000
2013
500
0 2012
2011
2010

Sumber : Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan

2.3.1.16 Penanaman Modal

Dengan pelaksanaan otonomi daerah, maka Pemerintah Daerah


dituntut untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) yang
salah satunya dilaksanakan melalui peningkatan investasi di
Kabupaten Bintan. Untuk menumbuhkan minat investasi perlu
didukung dengan memantapkan sistem administrasi pemerintah
dan pembangunan yang efektif dan efisien dengan tujuan
terciptanya lingkungan yang kondusif
Tabel 2.52 : Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Penanaman Modal, 2010‐2014
KONDISI CAPAIAN TAHUN
KINERJA
NO INDIKATOR KINERJA AWAL
2011 2012 2013 2014
TAHUN
2010
1. Lama Proses Perizinan 3-14 hari 3-14 3-14 3-14 3-14

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-79


hari hari hari hari
2. Penyelesaian izin lokasi 100% 100 100 100 100
3. Jumlah investor berskala 121/8 121/10 127/11 130/14 174/17
nasional (PMA/PMDN) Investor
4. Jumlah nilai investasi USD 875,89 945,46 950,28 1.038
perusahaan berskala 752,40
nasional (PMA/PMDN)
dalam Juta USD
5. Rasio daya serap tenaga 176,93 180 185 195 107
kerja
6. Kenaikan / penurunan Rp67.06 235,53 428,52 475,25 1.457
Nilai Realisasi PMDN Milyar
(Milyar Rp)

Perkembangan investasi di Kabupaten Bintan dari tahun 2010


sampai dengan tahun 2014 mengalami peningkatan. Jumlah
investasi pada tahun 2010 sebesar Rp67.06 Milyar dan pada tahun
2014 mencapai Rp 1,764 Triliun. Sedangkan rasio daya serap
tenaga kerja mencapai 91,3%

1) Jumlah investor berskala nasional (PMA/PMDN), sampai


dengan tahun 2014 jumlah invetor PMA mencapai 174
perusahaan sedangkan PMDN berjumlah 17 perusahaan.
Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun
2010 yang tercatat sebanyak 121 PMA dan 8 PMDN.
2) Sementara itu besaran Jumlah nilai investasi perusahaan
berskala nasional (PMA/PMDN) pada tahun 2014 mencapai
US$1,038 ribu, angka ini meningkat signifikan bila
dibandingkan dengan besaran investasi di Kabupaten Bintan
tahun 2010 yang tercatat sebesar US$752,40. Meningkatnya
nilai investasi ini disebabkan bertambahnya 53 perusahaan
selama periode 2010-2014. (Pada kolom Jumlah nilai investasi
perusahaan berskala nasional (PMA/PMDN) Juta USD. Untuk
capaiannya adalah gabungan dari total investasi PMA dan
PMDN)
3) Rasio daya serap tenaga kerja, yaitu jumlah tenaga kerja
indonesia (TKI) yang terserap pada Perusahaan PMA dan PMDN
yang telah beroperasi. dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-80


karena besaran rasio penyerapannya tergantung dengan jumlah
perusahaan untuk tahun 2014 mencapai 107, artinya 1:107.
4) Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (dalam Milyar
Rp) memperlihatkan trend positif meningkat dimana pada
tahun 2010 nilainya Rp.67,6 Milyar terus meningkat sehingga
tahun 2014 mencapai Rp.1.457 Milyar.

2.3.1.17 Kebudayaan
Sejak tahun 2010 sampai 2014 setiap tahun diselenggarakan
festival seni dan budaya. Penyelenggaraan seni dan budaya
meliputi Festival Tari, Bintan Culture Festival, Pentas Kesenian
Rakyat, Pentas Seni di Event Tour De Bintan, Panggung Seni dan
Budaya Bintan di Kite Tour De Asia serta festival lainnya dalam
rangka melestarikan budaya lokal sekaligus mempromosikan
daerah tujuan wisata di Kabupaten Bintan.

Tabel 2.53 : Indikator Kinerja Kebudayan Tahun 2010-2014


No Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
1. Penyelenggaraan
festival seni dan budaya 5 kali 3 kali 3 kali 8 kali 12 kali
2. Sarana
21
penyelenggaraan seni 19 unit 8 unit 8 unit 21 unit
unit
dan budaya
Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kab. Bintan tahun 2015
Sementara itu, jumlah sarana penyelenggaraan seni dan budaya di
Kabupaten Bintan pada tahun 2010 sebanyak 19 unit berkembang
menjadi 21 unit pada tahun 2014.

Keberadaan benda cagar budaya menjadi salah satu potensi


pariwisata di Kabupaten Bintan. Jumlah situs, benda dan kawasan
cagar budaya yang dilindungi dan dipelihara, hingga tahun 2014
cagar budaya yang dilindungi serta dipelihara di Kabupaten Bintan
berjumlah 12 situs.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-81


Tabel 2.54 : Jumlah Situs, Benda dan Kawasan Cagar Budaya yang
Dilindungi dan Dipelihara di Kabupaten Bintan Tahun 2010-
2014

Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014


Jumlah situs, benda dan
kawasan cagar budaya yang 1 1 6 6 12
dilindungi dan dipelihara

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kab. Bintan tahun 2015

2.3.1.18 Kepemudaan dan Olahraga

1) Jumlah Organisasi Pemuda


Jumlah organisasi pemuda yang didata oleh Dinas Pendidiakan,
Pemuda dan Olahraga pada tahun 2014 telah mencapai 110
buah bertambah sebanyak 6 unit sejak tahun 2010 yang
tercatat sebesar 104 buah. Secara berturut-turut, Jumlah
organisasi pemuda pada tahun 2011 sampai dengan 2013
adalah 106, 108, dan 110 organisasi.

Tabel 2.55 :Jumlah Organisasi Pemuda di Kabupaten Bintan Tahun


2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah organisasi 104 106 108 110 110
pemuda Orgs. Orgs. Orgs. Orgs. Orgs.
Sumber : Dinas Pendidikan, Kab. Bintan tahun 2015
2) Jumlah Organisasi Olahraga
Jumlah orgainasi/klub olahraga juga terus bertambah sesuai
dengan pertumbuhan minat masyarakat di bidang olahraga
hingga tahun 2014 jumlah klub olahraga yang terdaftar telah
mencapai 378 klub.

Untuk mendorong pemuda/pelajar berpartisipasi aktif dibidang


olahraga Pemerintah Kabupaten Bintan terus membangun
sarana dan prasarana olahraga yang memadai dan cukup
lengkap. Hingga tahun 2014 terdapat 220 organisasi olahraga di
Kabupaten Bintan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-82


Tabel 2.56 :
Jumlah Organisasi Olahraga di Kabupaten Bintan
Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah organisasi
216 217 218 219 220
olahraga
Sumber : Dinas Pendidikan, Kab. Bintan tahun 2015
3) Jumlah Kegiatan Kepemudaan
Untuk meningkatkan peran serta pemuda disegala bidang Dinas
Pendidiakan, Pemuda dan Olahraga secara rutin melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang melibatkan pemuda/pelajar yang
diselenggarakan ditingkat desa/kelurahan hingga berskala
nasional. Hingga tahun 2014 tercatat kegiatan kepemudaan
telah mencapai 20 kegiatan.
Tabel 2.57 :
Jumlah Kegiatan Kepemudaan di Kabupaten Bintan
Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah kegiatan 10 13 16 19 20
kepemudaan Kegiatan Kegiatan Kegiatan Kegiatan Kegiatan
Sumber : Dinas Pendidikan, Kab. Bintan tahun 2015
4) Jumlah Kegiatan Olahraga
Jumlah kegiatan olahraga di Kabupaten Bintan mengalami
peningkatan setiap tahunnya. Perkembangan jumlah kegiatan
olahraga dari 11 kegiatan pada tahun 2010 menjadi 14 kegiatan
pada tahun 2014.
Tabel 2.58 :
Jumlah Kegiatan Olahraga di Kabupaten Bintan Tahun
2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah kegiatan 10 11 12 13 14
olahraga Kegiatan Kegiatan Kegiatan Kegiatan Kegiatan
Sumber : Dinas Pendidikan, Kab. Bintan tahun 2015
5) Gelanggang/Balai Remaja (selain milik Swasta) dan Lapangan
Olahraga

Jumlah gelanggang / balai remaja di Kabupaten Bintan sebanyak


10 unit dan bertambah menjadi 11 unit pada tahun 2014.
Sementara itu jumlah lapangan olahraga juga mengalami
peningkatan dari 21 unit pada tahun 2013 menjadi 22 unit pada
tahun 2014. Hal ini tentu akan lebih memacu para pemuda/pelajar
untuk berprestasi dibidang olahraga yang diminati.
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-83
2.3.1.19 Kesatuan Bangsa

1) Kegiatan pembinaan terhadap LSM


Pada tahun 2014 kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas
dan OKP telah dilaksanan sebanyak 2 kali, pembinaan ini
terhadap OKP dan LSM merupakan kegiatan yang rutin
dilaksanakan sejak tahun 2010 Ormas dan OKP, Koordinasi
dan Pemantauan Kegiatan Orang Asing, NGO dan Lembaga
Masyarakat Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Terkait
Kegiatan Orang Asing, NGO dan Lembaga Asing.
Tabel 2.59 :
Jumlah Kegiatan Pembinaan Terhadap LSM, Ormas dan
OKP di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Kegiatan pembinaan
terhadap LSM, Ormas dan 5 Keg. 5 Keg. 3 Keg. 3 Keg. 2 Keg.
OKP
Sumber : Badan Kesbang Linmas, Kab. Bintan tahun 2015
2) Kegiatan Pembinaan Politik Daerah
Pada tahun 2014 kegiatan pembinaan politik daerah
dilaksanakan sebanyak 4 kegiatan seperti Verifikasi dan seleksi
administrasi partai politik, Fasilitasi Koordinasi Pemantauan
Penyelenggaraan Pemilu yang Berkualitas Jujur dan Adil,
Partisipasi Pemilihan Kepala daerah Kabupaten Bintan.
Pembentukan Tim Pemantuan Perkembangan Politik

Tabel 2.60 : Jumlah Kegiatan Pembinaan Politik Daerah di Kabupaten


Bintan Tahun 2010-2014

Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014


Kegiatan pembinaan politik
2 Keg. 2 Keg. 1 Keg. 5 Keg. 4 Keg.
daerah
Sumber : Badan Kesbang Linmas, Kab. Bintan tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-84


2.3.1.20 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian
dan Persandian

1) Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk


Rasio tempat ibadah per satuan penduduk menunjukan
indikator ketersediaan tempat ibadah bagi penduduk di
Kabupaten Bintan. Rasio tempat ibadah dihitung dari jumlah
tempat ibadah dibagi dengan jumlah penduduk dikali 1.000,
sehigga dapat menjelaskan rasio ketersediaan tempat ibadah
per 1.000 penduduk. Jumlah tempat ibadah yang dimaksud
adalah jumlah total tempat ibadah yang tersedia, termasuk
masjid, langgar, gereja, pura, dan vihara. Sampai dengan tahun
2014 menunjukkan rasio tempat ibadah di Kabupaten Bintan
sebesar 29,04%. Berikut ini perkembangan rasio tempat ibadah
per 1000 penduduk di Kabupaten Bintan selama tahun 2010-
2014.

Tabel 2.24 : Rasio Tempat Ibadah Per 1000 Penduduk Kabupaten


Bintan Tahun 2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Rasio Tempat Ibadah
Per Satuan Penduduk 30,87 24,48 24,14 30,40 29,04
(unit /1000 penduduk)
Sumber: LKPJ AMJ Bupati Bintan Tahun 2010-2015
2) Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja
Satpol PP selaku SKPD yang bertugas menegakkan
Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati (Kepala Daerah),
menyelenggarakan ketertiban umum, ketentraman
masyarakat dan perlindungan masyarakat, melakukan
koordinasi dengan pihak kepolisian dan pihak terkait
lainnya dalam upayaantisipasi gangguan terhadap
masyarakat. Pada indikator ini digunakan untuk melihat
perkembangan rasio jumlah polisi pamong praja dibandingkan
10.000 penduduk. Berdasarkan data tahun 2010 sampai 2014,
rasio jumlah polisi pamong praja sebesar 12,76.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-85


Tabel 2.61 : Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Per 10.000 Penduduk
Tahun 2010-2014

Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014


Rasio jumlah Polisi
Pamong Praja per 12.51 11,94 13,29 11,77 12,76
10.000 penduduk
Sumber : SATPOL PP, Kabupaten Bintan Tahun 2015

3) Rasio Linmas per 10.000 Penduduk


Indikator jumlah linmas untuk melihat potensi perbandingan
penjamin keamanan sosial di lingkungan masyarakat. Rasio
linmas per 10.000 penduduk di Kabupaten Bintan mengalami
peningkatan pada tahun 2014 sebesar 227 dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya.
Tabel 2.62 :
Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk Tahun 2010-
2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Rasio Linmas per 10.000 63,89 51,54 48,08 61,44 227
penduduk
Sumber : SATPOL PP, Kabupaten Bintan Tahun 2015

4) Rasio Poskamling per Desa/Kelurahan


Keberadaan pos kamling dalam fungsinya menjaga
keamanan dan antisipasi tindak kriminal di setiap
Desa/Kelurahan memiliki sebaran yang beragam bergantung
pada kondisi masing-masing lokasi. Jumlah poskamling
menunjukkan trend yang meningkat hingga pada tahun 2014.
Rasio poskamling per desa/kelurahan di Kabupaten Bintan
berturut-turut adalah 1,08; 0,55; 0,55; 3,4; dan 4.

2.3.1.21 Ketahanan Pangan

1) Regulasi ketahanan pangan


Regulasi ketahanan pangan telah dilaksanakan sejak tahun
2010. Beberapa regulasi yang menjadi dasar kinerja dalam
memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Bintan antara
lain:

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-86


- Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan
- SK Bupati Bintan Nomor.185 /IV/2009 tentang Pembentukan
Dewan Ketahanan Pangan
- Perbup Bintan Nomor 17 Tahun 2010 tentang Kebijakan
Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis
Sumber Daya Lokal

2) Persentase Ketersediaan Pangan Masyarakat


Persentase ketersediaan pangan masyarakat (terutama sembilan
pokok kebutuhan) yang ditargetkan dalam tahun 2014 adalah
100% pada realitasnya sudah tercukupi atau tercapai. Ini
disebabkan tingkat kebutuhan dan suplai 9 (Sembilan) bahan
makanan pokok (sembako) di semua desa sudah tercapai, yaitu:
beras, gula,minyak goreng, garam, cabai,tepung,bawang merah,
daging dan telur.

2.3.1.22 Pemberdayaan Masyarakat dan Desa


Jumlah kelompok binaan LPM di Kabupaten Bintan masih
mengalami stabilisasi pada kisaran 1 LPM. Sementara itu upaya
pemerintah Kabupatan Bintan dalam memberdayan LSM juga
ditunjukan dengan meningkatnya 34 lembaga tahun 2010 menjadi
53 lembaga tahun 2014.

Indikator pemberdayaan masyarakat dan desa lainnya ditunjukkan


dengan jumlah PKK aktif. Kelompok/organisasi pemberdayaan
perempuaan yang biasanya terdapat di kelompok rumah tangga,
mengalami perkembangan yang cukup tinggi sampai tahun 2013
yaitu mencapai 740 kelompok PKK aktif di Kabupaten Bintan.
Sementara itu pada tahun 2014 terjadi penurunan jumlah PKK
aktif menjadi 665 kelompok.

Posyandu aktif di Kabupaten Bintan tahun 2014 adalah 158


buah. Perkembangan jumlah Posyandu di Kabupaten Bintan
empat tahun terakhir cukup tinggi yaitu 140 Posyandu pada tahun
2010, 146 Posyandu tahun 2011, 150 Posyandu tahun 2012,
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-87
153 tahun 2013. Meningkatnya jumlah posyandu didukung juga
dengan adanya bantuan pembangunan posyandu baru melalui
dana APBD dan DAK anggaran pengentasan kemiskinan Provinsi
Kepulauan Riau. Hampir seluruh Posyandu di Kabupaten Bintan
telah memiliki bangunan permanen. Dari perkembangan jumlah
posyandu tersebut, sudah seluruhnya merupakan posyandu aktif.

Tabel 2.63 : Perkembangan Indikator Pemberdayaan Masyarakat


dan Desa di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
No Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah kelompok
1. 1 1 1 1 1
binaan LPM
Rata-rata jumlah
2. 1,71 1,71 1,75 11,9 1,8
kelompok binaan
484
3. Jumlah PKK aktif 485 486 740 665
kelompok
4. Jumlah LSM Aktif 35 53
5. Posyandu aktif 70,70% 100% 100% 153% 100%
Sumber : BPMPKB, Kab. Bintan tahun 2015

2.3.1.23 Statistik
Indikator kinerja untuk sub fokus statistik adalah keberadaan
buku kabupaten dalam angka dan PDRB Kabupaten. Buku
Kabupaten Dalam Angka, Buku Bintan Dalam angka sudah
diterbitkan sejak tahun 2011 hingga tahun 2014, untuk tahun
2014 masih dalam proses penyusunan. Sementara itu, Buku PDRB
Kabupaten, diterbitkan sejak tahun 2011 hingga tahun 2014,
untuk tahun 2014 masih dalam proses penyusunan

2.3.1.24 Kearsipan
Indikator ini digunakan untuk melihat sejumlah perkembangan
aktivitas kegiatan pengelolaan arsip secara baku di Kabupaten
Bintan. Pengelolaan arsip secara baku menjadi penting artinya
mengingat pasal 3 UU No. 7 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kearsipan menyebutkan bahwa tujuan kearsipan adalah untuk
menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional
tentang perencanaan, pelaksanaan penyelenggaraan kehidupan
kebangsaan serta untuk menyediakan bahan pertanggungjawaban

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-88


tersebut bagi kegiatan pemerintah.

Pengelolaan arsip di Kabupaten Bintan masih belum memenuhi


standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dapat dilihat dari
pencapaian persentase pengelolaan arsip hingga tahun 2014 baru
mencapai 50%. Hal ini masih perlu peningkatan SDM kearsipan di
SKPD melalui pelatihan dan apresiasi kepada pimpinan.
Peningkatan SDM pengelola kearsipan di Kabupaten Bintan masih
belum memenuhi kompetensi, sehingga perlu ditingkatkan memalui
bimbingan teknis maupun pelatihan serta pengadaan tenaga ahli
arsip yaitu arsiparis hal ini terlihat dari prosentase kegiatan
pelatihan/Bimtek.

Tabel 2.64 : Perkembangan Indikator Kinerja Kearsipan Tahun 2010-


2014

No Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014


1. Pengelolaan arsip 60% - 70% 40% 50%
secara baku
2. Peningkatan SDM 2 Keg 1 0 3 3
pengelola
kearsipan
Sumber : Kantor Perpustakaan dan Arsip, Kab. Bintan tahun 2015

2.3.1.25 Komunikasi dan Informatika


Jumlah jaringan komunikasi sudah mencapai target yaitu 6
provider (XL, 3, Telkomsel, Indosat, Axis, Smart Fren).
Sementara itu, rasio jumlah jaringan komunikasi telah mencapai
target yaitu 1,35. Jumlah Jaringan yang dimaksud adalah Jaringan
Telkom. Dengan tersedianya layanan tersebut masyarakat semakin
mudah menggunakan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) baik
untuk berkomunikasi maupun mengakses internet dengan
menggunakan telepon seluler serta wifi (internet), dampak
kemajuan serta kemudahan akses TIK ini juga mempengaruhi
keberadaan usaha warnet / wartel yang terus berkurang.

Walaupun kemajuan TIK sangat cepat namun media surat kabar


maupun majalah masih dipilih oleh masyarakat dalam mencari
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-89
informasi. Jenis surat kabar nasional/lokal yang beredar di
Kabupaten Bintan antara lain Haluan Kepri, Batam Pos, Tanjung
Pinang Pos, Kompas, dan sebagainya mengalami peningkatan
jumlahnya. Pada tahun 2014, jumlah surat kabar nasional yang
beredar mencapai 15 jenis dan surat kabar lokal sebanyak 45 jenis.

Sarana komunikasi yang tak kalah pentingnya adalah Radio/TV.


Jumlah penyiaran radio/TV lokal/nasional yang melakukan
penyiaran di Bintan terus bertambah seiring kemajuan teknologi
dan informasi saat ini perusahaan penyiaran lokal yang beroperasi
di Kabupaten Bintan adalah : Bintan TV/Bintan Radio, Batam TV,
Kepri TV, TVRI, AN TV. Web site milik pemerintah daerah juga
mengalami perkembangan, dari 16 situs menjadi 20 situs pada
tahun 2014.
Tabel 2.65 : Perkembangan Indikator Kinerja Komunikasi dan
Informasi Tahun 2010-2014
No Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah jaringan
1 6 Provider 6 6 6 6
komunikasi
Rasio Jumlah
2 jaringan 1,14 0,05 0,046 0,046 1,35
komunikasi
Jumlah surat
4 kabar 6 /13 Jenis 10/30 10/30 8/44 15/45
nasional/lokal
Jumlah penyiaran 0 /2/9
5 0 /1/0 0 /1/0 7/10/1 6/2/10
radio/TV Jenis
Web site milik
6 16 Situs 16 16 20 20
pemerintah
Sumber : LKPJ Akhir Masa Jabatan Bupati Bintan Tahun 2010-2015

2.3.1.26 Perpustakaan
Kabupaten Bintan belum mempunyai Perpustakaan Daerah yang
representatif. Jumlah pengunjung perpustakaan se-Kabupaten
Bintan baik Perpustakaan daerah, Perpustakaan Desa/Kelurahan,
Perpustakaan Mobil Keliling, Perpustakaan Kapal Apung dan
Perpustakaan sekolah hingga tahun 2014 berjumlah 16.987
pengunjung. Sementara itu, koleksi buku perpustakaan daerah
Kabupaten Bintan hingga tahun 2014 berjumlah 16.386 buku.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-90


Tabel 2.66 : Perkembangan Jumlah Perpustakaan dan Koleksi Buku
Tahun 2010-2014
Indikator Kinerja 2010 2011 2012 2013 2014

Perkembangan Jumlah
Taman Bacaan/
25 31 36 35 35
Perpustakaan Kelurahan
dan Desa

Perkembangan Koleksi
Buku yang tersedia di 8.405 11.608 15.511 15.511 16.386
Perpustakaan Daerah
Sumber : Kantor Perpustakaan dan Arsip, Kab. Bintan tahun 2015

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan

2.3.2.1 Pertanian

1) Kontribusi Sektor Pertanian/Perkebunan terhadap PDRB


Pada tahun 2010 Kontribusi Sektor Pertanian/Perkebunan
terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) adalah
sebesar 7,21%, dan pencapaian tahun 2014 adalah sebesar
5,78 %. Berdasarkan hasil capaian tahun 2013 yakni
sebesar 5,69%, maka capaian tahun 2014 mengalami
peningkatan sebesar 0,1%. Secara umum, capaian Kontribusi
Pertanian/ Perkebunan terhadap PDRB tidak sesuai dengan
target yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena
konstribusi sektor lain (pariwisata) ternyata lebih
meningkat dan mampu secara dominan mempengaruhi
PDRB Kabupaten Bintan meskipun dilihat dari hasil capaian
produksi, sektor pertanian mengalami peningkatan. Indikator
kinerja lainnya dalam meningkatnya kontribusi sektor
pertanian/ perkebunan terhadap PDRB dan Nilai Tukar Petani
(NTP) adalah Persentase Peningkatan Produksi Perkebunan.
Pada tahun 2010, capaian produksi komoditi unggulan
perkebunan sebesar 24.513,98 ton, dan pada tahun 2014
sebesar 112.157,50 ton. Angka ini merupakan angka
akumulasi dari tahun sebelumnya, dimana Tahun 2013
tercatat realisasinya adalah 107.195,50 ton ditambahkan
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-91
dengan capaian Tahun 2014 sebesar 4.962 ton menjadi
112.157,50 ton. Capaian prestasi yang melampaui target ini
disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah investasi
dan pembangunan sektor perkebunan berjalan sangat baik
dan kondusif. Bahkan beberapa kelompok tani masyarakat
dan perusahaan melakukan pembukaan lahan perkebunan
baru. Selain itu, pertambahan luas Tanaman
Menghasilkan (TM) dari komoditi kelapa sawit, baik
perkebunan rakyat maupun perkebunan besar Swasta (PT.
Tirta Madu) dan perkebunan karet pada PT. Numbing
yang melaksanakan kegiatan perkebunannya di pulau
tersendiri, yakni Pulau Mapur, Kecamatan Bintan Pesisir
dan PT. Pulau Bintan Djaya juga meningkat.
Pada tahun 2010, produksi komoditi hortikultura adalah
sebesar 12.811 ton dan pada tahun 2014 adalah 44.509 ton.
Dibandingkan dengan capaian tahun 2013, capaian tahun
2014 mengalami penurunan sebesar 179.14%, hal ini
disebabkan oleh faktor cuaca berupa kemarau cukup panjang
yang melanda Kabupaten Bintan mulai dari Bulan Februari
hingga pertengahan tahun 2014, yang menyebabkan
produksi hortikultura, khususnya tanaman sayuran dataran
rendah mengalami penurunan produksi. Bahkan dibeberapa
tempat terjadi kebakaran lahan dan hutan yang menyebabkan
turunnya produksi komoditi hortikultura di Bintan.
Tabel 2.67 : Kontribusi Sektor Pertanian/Perkebunan terhadap PDRB di
Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Kontribusi sektor pertanian/
5,74% 5,75% 5,76% 5,74% 5,78%
perkebunan terhadap PDRB
Sumber : Distanhut, Kab. Bintan tahun 2015
2) Nilai Tukar Petani
Salah satu alat ukur kesejahteraan petani yang digunakan
adalah Nilai Tukar Petani (NTP) yang dihitung dari rasio harga

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-92


yang diterima petani (HT) terhadap harga yang dibayar petani
(HB). Berdasarkan data NTP di Kabupaten Bintan, selama
tahun 2010 sampai dengan 2014, NTP mencapai lebih dari
100, artinya petani mengalami surplus. Harga produksinya
naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya.
Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya,
dengan demikian tingkat kesejahteraan petani lebih baik
dibandingkan tingkat kesejahteraan petani sebelumnya.
Sampai dengan tahun 2014, NTP Kabupaten Bintan mencapai
109%.
Tabel 2.68 : Perkembangan Nilai Tukar Petani di Kabupaten Bintan Tahun
2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Nilai Tukar Petani 105% 103,95% 104,76% 105,01% 109%
Sumber : Distanhut, Kab. Bintan tahun 2015

3) Meningkatnya Produksi Padi atau Bahan Pangan Utama Lokal


Lainnya

Pada tahun 2010 produksi padi atau bahan pangan utama


lokal lainnya per tahun adalah 24,17 Ton/tahun dan
ditargetkan pada tahun 2014 adalah sebesar 25 Ton/tahun
dan realisasi 2014 adalah 53 ton. Tercapainya target tersebut
disebabkan oleh karena adanya demplot dari Lokal Pengkajian
Teknologi Pertanian (LPTP) yang menggunakan varietas
inpara 2 inpara 3 dan Inpara 5 serta ciherang yang
umurnya lebih pendek dan sangat cocok untuk daerah rawa
sehingga meningkatkan produksi padi. Produksi padi di
Kabupaten Bintan terkonsentrasi di daerah Kampung Parit
Bugis Desa Bintan Buyu Kecamatan Teluk Bintan dan
Kampung Poyotomo Desa Sri Bintan Kecamatan Teluk Sebong.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-93


Tabel 2.69 : Perkembangan Produksi Padi atau Bahan Pangan
Utama Lokal Lainnya di Kabupaten Bintan Tahun
2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Produksi padi atau bahan
angan utama lokal lainnya 24,17 8,99 8,95 10,37 53
(t /H )
Sumber : Distanhut, Kab. Bintan tahun 2015

2.3.2.2 Pariwisata
1) Kunjungan Wisata

Pariwisata merupakan salah satu jenis industri yang mampu


mendorong pertumbuhan ekonomi yang relatif cepat,
menyediakan tenaga kerja, meningkatkan penghasilan dan
taraf hidup serta menstimulasikan sektor- sektor industri
lainnya. Pengalaman di Kabupaten Bintan menunjukkan
bahwa industri pariwisata mampu menstimulan industri
lainnya seperti hotel atau penginapan, jasa travel, restoran,
transportasi, industri kerajinan, industri makanan atau
catering, pertanian, peternakan, perikanan serta jasa tour
guide.

Jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bintan pada


tahun 2014 mencapai 502.270 orang, terdiri dari wisatawan
mancanegara sebanyak 331.209 orang, wisatawan nusantara
sebanyak 49.161 orang dan Publik Area sebanyak 121.900
orang. Sedangkan pada tahun 2013 total jumlah wisatawan
yang berkunjung sebesar 451.580. Jumlah ini diperkirakan
akan terus meningkat seiring dengan semakin membaiknya
kondisi perekonomian regional dan situasi keamanan daerah
yang semakin kondusif

Tabel 2.70 : Perkembangan Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten


Bintan Tahun 2010- 2014
Tahun
Wisatawan
2010 2011 2012 2013 2014
Mancanegara 277.929 283.601 315.111 324.689 331.209

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-94


Nusantara 23.714 29.190 37.745 48.428 49.161
Publik Area 85.714 99.395 81.606 78.463 121.900
Total 387.357 412.186 434.462 451.580 502.270
Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kab. Bintan tahun 2015

2) Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB

Dari sisi makro ekonomi sektor pariwisata memainkan peranan


cukup signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Kabupaten Bintan. Nilai PDRB sektor pariwisata (Pajak
Hotel Restoran dan Hiburan) terus mengalami peningkatan,
pada tahun 2010 tercatat 63,2 Miliar Rupiah dan terus
meningkat sampai pada tahun 2014 mencapai 93,6 Miliar
Rupiah dengan rata-rata kontribusi sebesar 54,64% dari total
PAD Kabupaten Bintan pada tahun 2010-2014.

2.3.2.3 Energi dan Sumber Daya Mineral


1) Pertambangan Tanpa Ijin

Kegiatan pertambangan di Kabupaten Bintan secara umum


terdiri dari pertambangan mineral logam berupa bijih bauksit,
mineral non logam berupa pertambangan pasir dan
pertambangan batuan berupa pertambangan granit. Kegiatan
pertambangan tanpa ijin di Kabupaten Bintan pada tahun
2013 adalah yang paling banyak, yaitu sebanyak 11 kegiatan
pertambangan tanpa ijin. Namun, pada tahun 2014,
pertambangan tanpa ijin sudah tidak ada lagi. Sementara itu,
pada tahun 2011 sampai 2013 masih terdapat kegiatan
pertambangan tanpa ijin.

2) Kontribusi Sektor Pertambangan terhadap PDRB

Kabupaten Bintan merupakan salah satu sektor yang


kontribusinya cukup besar. Dari tahun 2011 sampai dengan
tahun 2013 kontribusi pertambangan tidak mengalami
perubahan yang cukup signifikan, akan tetapi pada tahun
2014 mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena telah

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-95


diberlakukannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun
2014 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui
Kegiatan Pengolahan dan Permurnian Mineral di Dalam Negeri.

Tabel 2.71 :Kontribusi Sektor Pertambangan Terhadap PDRB di


Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Tahun
Indikator Kinerja
2010 2011 2012 2013 2014
Kontribusi sector
pertambangan terhadap 11,96% 10,91% 10,73% 10,62% 9,94%
PDRB
Sumber : Distamben, Kab. Bintan tahun 2015
Kabupaten Bintan merupakan salah satu kabupaten yang
belum memiliki pengolahan mineral (khususnya bauksit), oleh
sebab itu kegiatan pertambangan di Kabupaten Bintan
dihentikan sementara. Dilihat dari besaran kontribusi tiap
tahunnya, besaran sektor pertambangan di tahun 2014
sebesar 9,94%.

2.3.2.4 Kelautan dan Perikanan


Produksi perikanan tangkap di Kabupaten Bintan yang besar
adalah dari kelompok pelagis besar, kemudian krustase dan pelagis
kecil. Secara keseluruhan pemanfaatan ikan tangkapan di
Kabupaten Bintan baru mencapai 29,73%, dapat dilihat dari tabel
dibawah ini :

Tabel 2.72 : Volume dan Nilai Produksi Perikanan Tangkap di


Kabupaten Bintan Tahun 2012-2014
Hasil Produksi Tangkap (Ton)
No Kecamatan
Volume Nilai (Rp)
1. Bintan Utara 1.574 23.616.000.000
2. Teluk Sebong 2.137 32.058.000.000
3. Teluk Bintan 6.694 100.416.000.000
4. Gunung Kijang 4.031 60.462.000.000
5. Bintan Timur 12.883 193.248.000.000
6. Tambelan 4.556 68.346.000.000
7. Toapaya 0 0
8. Bintan Pesisir 11.449 171.738.000.000
9. Mantang 5.639 84.588.000.000
10. Seri Kuala Lobam 1.324 19.866.000.000
2014 50.289 754.338.000.000
2013 49.339 740.088.000.000

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-96


Hasil Produksi Tangkap (Ton)
No Kecamatan
Volume Nilai (Rp)
2012 41.228 618.420.000.000
Pertumbuhan (%) 16,44 % 16,44 %
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan, Kab. Bintan tahun 2015

Dari tabel terlihat bahwa peluang pengembangan sumberdaya


perikanan tangkap di perairan Kabupaten Bintan masih bisa
dikembangkan. Artinya peningkatan upaya dan armada masih
memungkinkan untuk terus dilakukan agar pemanfaatan potensi
bisa lebih optimal. Kelompok ikan yang masih berpotensi
dikembangkan adalah dari kelompok ikan demersal (ikan-ikan
karang) dan pelagis kecil. Lokasi pengembangan perikanan pelagis
kecil dan demersal diantaranya adalah di sekitar perairan
Tambelan, Pulau Mapur (Bintan Pesisir) dan Mantang. Pada lokasi
ini sumberdaya masih cukup baik terutama dari kelompok ikan
demersal. Walaupun disinyalir stok demersal menurun karena
aktivitas penangkapan dengan menggunakan alat tangkap yang
merusak seperti bom dan racun, trawl dan pencurian ikan oleh
kapal asing

Dengan meningkatnya produksi perikanan tangkap yang ada di


Kabupaten Bintan maka pemenuhan kebutuhan konsumsi ikan di
Kabupaten Bintan akan bertambah. Produksi perikanan Kabupaten
Bintan terus mengalami peningkatan sejak tahun 2010. Jumlah
produksi perikanan Kabupaten Bintan selama periode 2010-2014
rata-rata sebesar 32.986,64 ton per tahun. Produksi paling tinggi
selama periode tersebut adalah pada tahun 2014 yaitu mencapai
50.289 ton.

2.3.2.5 Perdagangan
Sektor perdagangan merupakan sektor strategis bagi Kabupatan
Bintan yaitu merupakan penyumbang terbesar pada pembentukan
PDRB setelah sektor industri pengolahan. Sebagai sektor strategis,
sektor perdagangan memegang peranan yang penting dalam

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-97


pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bintan karena sangat terkait
dengan sektor-sektor lain seperti sektor pertanian, industri,
pariwisata dan lainnya. Sektor perdagangan terbagi dalam
perdagangan dalam negeri dan perdagangan luar negeri. Kontribusi
sektor perdagangan terhadap PDRB meningkat dari 20,19% tahun
2010 meningkat menjadi 20,76 pada tahun 2014. Secara urut,
perkembangan kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB
selama tahun 2011 sampai 2013 adalah 20,49%; 20,32%; dan
20,36%.

2.3.2.6 Perindustrian
Secara umum sektor industri di Kabupaten Bintan memberikan
kontribusi yang relatif melambat terhadap pertumbuhan PDRB di
Kabupaten Bintan, yakni sebesar 50,53%. Apabila dibandingkan
dengan kondisi tahun 2010 yang sebesar 50,69%. Dengan daya
serap tenaga kerja 12,28% pada tahun 2014.

Sampai dengan tahun 2014 kinerja bidang perindustrian masih


menunjukan stagnasi hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor,
diantaranya melemahnya kinerja perekonomian nasional serta
tingkat pengendalain infalsi yang belum menunjukan kearah trend
positif. Sementara itu perubahan positif yang ditunjukan oleh
meningkatnya jumlah unit usaha industri kecil dan menengah dari
100 unit tahun 2010 meningkat menjadi 319 unit tahun 2014.
Untuk jumlah unit usaha yang terkait dengan agroindustri dan
industri hasil hutan 26 unit tahun 2010 meningkat menjadi 319
tahun 2014 serta jumlah unit usaha yang terkait dengan industri
kerajinan rumah tangga dari 6 unit tahun 2010 meningkat menjadi
52 unit ditahun 2014.

2.4 Aspek Daya Saing Daerah

2.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah

A. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-98


Indikator pengeluaran rata-rata konsumsi rumah tangga per kapita
dimaksudkan untuk mengetahui tingkat konsumsi rumah tangga
yang menjelaskan seberapa atraktif tingkat pengeluaran rumah
tangga. Semakin besar angka konsumsi RT semakin atraktif bagi
peningkatan kemampuan ekonomi daerah.
Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita per bulan pada
tahun 2010 tercatat berada di angka Rp.733.903,-. Pengeluaran
rumah tangga ini mengalami fluktuasi dengan puncak tertinggi
pengeluaran rata-rata pada tahun 2013 sebanyak Rp.1.063.227,-
lalu kemudian turun menjadi Rp.864.984,- pada tahun 2014.

B. Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Per Kapita


Pengeluaran konsumsi non pangan per kapita dimaksudkan untuk
mengetahui daya beli masyarakat di luar bahan pangan sehingga
dapat diketahui alokasi konsumsi di luar kebutuhan pangan.
Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita Kabupaten Bintan
tahun 2010 sebesar 51,04% angka tersebut relatif stabil sampai
dengan tahun 2014 sebesar 50,75%

2.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur

A. Sarana Transportasi
Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa pada tahun 2013,
mobil penumpang berjumlah 220 unit, mobil angkutan barang
berjumlah 664 unit, mobil barang berjumlah 374 unit, dan sepeda
motor berjumlah 10.330 unit.

B. Sarana Perdagangan Jasa


Sarana perdagangan dan jasa yang ada saat ini tercatat sebanyak
63 unit, yang terdiri dari 25 unit bank umum pemerintah, 32 unit
bank umum swasta, 4 unit bank pembangunan daerah dan 6 unit
bank perkreditan rakyat (BPR). Jumlah koperasi yang aktif sampai
tahun 2015 sebanyak 175 unit, dan restoran/rumah makan
berjumlah 154 unit.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-99


C. Sarana Telekomunikasi
Berdasarkan data potensi dari PT. Telkom,saat ini Kabupaten
Bintan memiliki 11.583 unit kapasitas sambungan telepon, namun
baru sekitar 69,14 persen atau 8.009 unit yang terpasang. Sarana
telekomunikasi yang ada saat ini berjumlah 285 unit, terdiri dari 51
unit wartel, dan 234 unit SST (Satuan Sambungan Telepon).

D. Prasarana Air Bersih


Jika dilihat dari tahun 2010-2014 terjadi peningkatan jumlah
penduduk yang menggunakan air bersih, peningkatan ini
dikarenakan kesadaran masyarakat untuk menggunakan air
bersih/ minum tinggi dan sejalan dengan pelaksanaan program
pembangunan sarana air bersih/minum terutama untuk daerah
yang rawan air dan penyakit yang ditimbulkan oleh penggunaan air
minum tinggi, melalui sumber pendanaan pembangunan air bersih/
minum yang berasal dari dana APBN dan APBD
Kabupaten/Provinsi.

Pada tahun 2015 penduduk yang menggunakan akses air bersih


berjumlah 134.802 jiwa yang terdiri dari 20.485 unit sarana sumur
gali terlindung dengan jumlah pengguna 98.837 jiwa, 20 unit
jaringan perpipaan (PDAM dan BP-SPAM) dengan pengguna 35.965
jiwa

E. Prasarana Persampahan
Kabupaten Bintan memiliki luas areal daratan 1.319,51 km2
dengan sepuluh kecamatan. Persampahan manjadi salah satu
masalah utama dikarenakan belum adanya suatu sistem
pengelolaan yang terpadu. Adapun sarana dan prasarana
persampahan yang telah disediakan Dinas Kebersihan Pertamanan
dan Pemakaman Kabupaten Bintan, antara lain : TPS (Tempat
Pembuangan Sementara) sejumlah 62 unit (35 unit berada di Kijang
Kec. Bintan Timur, 5 unit berada di Kawal Kec. Gunung Kijang, 10
unit berada di Tanjung Uban Kec. Bintan Utara, 2 unit berada di
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-100
Kec. Teluk Bintan, 2 unit berada di Kec. Teluk Sebong, dan 3 unit
berada di Kec. Seri Kuala Lobam, 3 unit di Kel. Sei. Lekop dan 2
unit di Kelurahan Kijang Kota di Kecamatan Bintan Timur). Truk
pengangkut sampah (terdiri atas Dump truck sampah sejumlah 15
unit, Motor kaisar sampah sejumlah 12 unit, sampan sampah
sejumlah 1 unit), Gerobak sampah, dan sarana pendukung lain
untuk pengelolaan sampah.

Menurut hasil perhitungan terhadap jumlah timbulan sampah


maka diperoleh jumlah TPS yang dibutuhkan di Kabupaten Bintan
adalah sebanyak 115 unit, namun sampai dengan tahun 2015
hanya terdapat 62 unit TPS (termasuk amrol) di Kabupaten Bintan.
Bila dibandingkan dengan jumlah TPS pada tahun 2014 terjadi
peningkatan beberapa unit dikarenakan adanya penambahan
pengadaan TPS permanen dan bak amrol di Kabupaten Bintan.

Tabel 2.73 : Rasio Tempat Pembuangan Sampah Persatuan Penduduk


No. Tahun Indeks
1 2015 117
2 2014 62
3 2013 57
4 2012 57
5 2011 53
Sumber : Dinas Kebersihan, Pertamanan dan
Pemakaman Kab. Bintan tahun 2015

F. Prasarana Drainase
Sistem jaringan drainase di Kabupaten Bintan sebagian besar
terdapat di pusat-pusat kegiatan dan di sepanjang jaringan jalan
utama. Sedangkan di luar pusat kota dan di pulau-pulau sekitar
wilayah yang tidak dilalui jalan utama umumnya menggunakan
sistem jaringan drainase alami yang sebagian besar masih berupa
tanah serta dalam keadaan dangkal (tertutup tanah). Sistem
drainase di wilayah ini kondisinya masih belum memadai, yang
umumnya kondisi salurannya terputus dan belum menunjukkan
suatu jaringan yang terpadu dan terpola.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-101


G. Prasarana Jalan
Panjang jalan di Kabupaten Bintan pada tahun 2015 mencapai
684,24 km, yang terdiri dari jalan yang beraspal 649,305 km, jalan
kerikil 19,350 dan jalan tanah 15,590. Apabila dilihat dari kondisi
jalannya, sebanyak 440,879 km jalan berada dalam kondisi baik,
26.559 km berada dalam kondisi sedang, 53.118 km berada dalam
kondisi rusak,dan sepanjang 10,6236 km berada dalam kondisi
rusak berat. Dari tingkat kemantapan jalan, terjadi peningkatan
yang lebih baik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 tingkat
kemantapan jalan sudah mencapai 80,00 %. Detail datanya dapat
dilihat pada tabel berikut

H. Prasarana Listrik
Di Kabupaten Bintan sendiri rasio elektrifikasi pada tahun 2013
baru mencapai 75,49%, yang artinya hanya mengalami kenaikan
sebesar 1,16% dari 74,33% pada tahun 2014. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.74 : Persentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Listrik
NO SUMBER DAYA PELANGGAN RE (%)
1. Listrik Pedesaan 1.505 3,70%
2. PLN 31.447 77,33%
3. PLTS / SHS 179 0,44%
4. Rumah Tangga Belum Berlistrik 6.263 15,40%
JUMLAH RUMAH TANGGA 40.668
Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Bintan tahun 2015

Grafik 2.28 : Persentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Listrik


Tahun 2015

3,70%
0,44%
15,40% Listrik
Pedesaan

77,33% PLN

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Bintan Tahun 2015 (data
diolah)

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-102


2.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi

A. Angka Kriminalitas
Kabupaten Bintan memiliki kepadatan penduduk yang tidak terlalu
tinggi, namun salah satu masalah sosial yang dihadapi adalah
gangguan kamtibmas yang terjadi di masyarakat. Dari data
dibawah ini dapat dilihat bahwa gangguan kamtibmas yang terjadi
lima tahun terakhir menunjukkan tren menurun. Demikian pula
dengan penanganan maupun penyelesaian tindak kriminalitas yang
terjadi. Tindak kriminalitas yang dominan adalah Pencurian dengan
rata-rata 28 kasus setiap tahunnya. Secara umum tingkat
penyelesaian kasus mencapai 45%. Upaya pengendalian kamtibmas
oleh aparat berwajib terus dilakukan dalam rangka menciptakan
keamanan yang kondusif. Upaya ini juga melibatkan masyarakat
dalam menjaga kamtibmas khusunya dilingkungan masing-masing.

Grafik 2.29 : Jumlah Gangguan Kamtibmas di Kabupaten Bintan


dari tahun 2011-2014

300
274
250
228
200 196
150 Dilaporkan
123 127
100 99 Diselesaikan
74
50 57

0
2011 2012 2013 2014

Sumber : BPS/Polres Kabupaten Bintan tahun 2015

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-103


Grafik 2.30 : Jumlah Gangguan Kamtibmas di Kabupaten Bintan dari tahun 2011-
2014

Sumber : BPS/Polres Kabupaten Bintan tahun 2015

B. Lama Proses Perijinan


Kabupaten Bintan terus meningkatkan pelayanan perizinan
melalui optimalisasi waktu proses perizinan. Hingga tahun
2014 rata-rata waktu proses pengurusan izin mencapai 3-14
hari kerja.

C. Jumlah dan Macam Pajak dan Retribusi Daerah


Jenis Pajak Daerah yang direncanakan menjadi bagian
Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bintan meliputi : (1)Pajak
Hotel, (2)Pajak Restoran (3)Pajak Hiburan, (4) Pajak Reklame,
(5)Pajak Penerangan Jalan, (6)Pajak Mineral Bukan Logam &
Batuan, (7)Pajak Parkir, (8)Pajak Air Tanah, (9)Pajak Sarang
Burung Walet (10) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan
Perkotaan. Tahun 2011-2015 dapat direalisasikan sebesar
Rp.603.790.551.640,31. Sedangkan untuk tahun 2015 realisasi
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-104
Pajak daerah mencapai Rp.137.520.270.491,77, dan Retribusi
Daerah Rp.9.081.792.543,00,-

2.4.4 Fokus Sumber Daya Manusia

A. Rasio lulusan DIV/S1/S2/S3 per 10.000 penduduk.


Capaian indikator rasio lulusan DIV/S1/S2/S3 per 10.000
penduduk pada tahun 2014 sebesar 246, mengalami
peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 168,65. Hal ini
mengindikasikan bahwa kualitas tenaga kerja (rasio lulusan
DIV/S1/S2/S3) meningkat menjadi lebih baik. Dalam 10.000
penduduk terdapat 246 lulusan DIV/S1/S2/S3. Indikator ini
merupakan bagian dari indikator kualitas sumber daya
manusia yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan
daya saing daerah dan perkembangan investasi di daerah.

B. Rasio Ketergantungan
Angka beban ketergantungan (Dependency Ratio) atau
perbandingan antara penduduk yang belum produktif ataupun
yang sudah tidak produktif lagi (usia 0-14 tahun ditambah
penduduk usia 65 tahun ke atas) dibagi dengan penduduk usia
produktif (usia 15-64 tahun) Kabupaten Bintan menunjukkan
peningkatan dari tahun 2010 sampai tahun 2014. Kabupaten
Bintan pada tahun 2010 Dependency Ratio nya mencapai 52.19
dan terus menunjukkan peningkatan sampai tahun 2014 yaitu
52,44. Artinya bahwa pada tahun 2014, untuk setiap 100
penduduk usia produktif di Kabupaten Bintan menanggung
sekitar 52 penduduk usia belum/tidak produktif.
2.5 Perkembangan IPM Kabupaten Bintan

Aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan masyarakat,


aspek pelayanan umum, serta aspek daya saing daerah seluruhnya
dirahkan untuk mencapai Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
dengan melakukan pengelolaan yang lebih sistematis dan terarah
agar dapat sesuai dengan kapasitas dan daya dukung yang ada,

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-105


serta dikelola dalam kerangka keharmonisan lingkungan
(environmental friendly). Seluruh aspek tersebut bersinergi dalam
mewujudkan peningkatan IPM sebagai tujuan penyelenggaraan
pembangunan daerah.

Gambar 2.3. Tujuan Pembangunan Daerah

Aspek Geografis dan Demografis

Aspek Kesejahteraan Masyarakat

IPM
Pelayanan Urusan Wajib
Aspek Pelayanan Umum
Pelayanan Urusan Pilihan

Aspek Daya Saing daerah

Perkembangan indikator makro selama kurun waktu tahap Ketiga


RPJPD (2005-2025), merupakan cermin kinerja pembangunan
Kabupaten Bintan, yang juga mengindikasikan sejauh mana
dampak pembangunan dapat meningkatkan kualitas sumber daya
manusia warga Kabupaten Bintan. Indikator yang digunakan
adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengukur
pencapaian kemajuan pembangunan sosial maupun ekonomi.
Secara umum pembangunan manusia di Kabupaten Bintan selama
kurun waktu 2010-2014 terus mengalami peningkatan.
Tahun 2010 sampai dengan 2014 menunjukkan bahwa pencapaian
IPM cenderung mengalami peningkatan. Menurut data BPS pada

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-106


tahun 2010 capaian IPM Kabupaten Bintan sebesar 74,44
sedangkan target RPJMD sebesar 75,03. Pada tahun 2011
mengalami peningkatan sebesar 75,17, namun masih belum
mencapai target RPJMD sebesar 75,19. Sedangkan tahun 2012
peningkatan capaian IPM sebesar 75,68 telah mampu melampaui
target RPJMD yang ditagetkan sebesar 75,42. Demikian pula
capaian tahun 2013 mencapai 75,99 dan tahun 2014 yaitu 76,51
yang telah melampaui target akhir RPJMD yang ditargetkan yaitu
hanya sebesar 76,06.
Tabel 2.75 : Perkembangan IPM Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
Tahu Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
No.
n Target Realisasi
1. 2010 75,03 74,44
2. 2011 75,19 75,17
3. 2012 75,42 75,68
4. 2013 75,63 75,99
5. 2014 75,82 76,51
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Grafik 2.31 : Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten


Bintan Tahun 2010-2014

Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Pembangunan manusia merupakan sebuah proses pembangunan


yang bertujuan agar masyarakat mampu memiliki lebih banyak
pilihan khususnya dalam pendapatan, kesehatan dan pendidikan.
Ketiga unsur pembentuk IPM tersebut tidak berdiri sendiri
melainkan saling berpengaruh satu sama lainnya. Selain itu
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-107
dipengaruhi pula oleh faktor lainnya seperti ketersediaan
kesempatan kerja, yang pada gilirannya ditentukan oleh
pertumbuhan ekonomi, infrastruktur serta kebijakan pemerintah.
IPM akan terus dapat meningkat apabila ketiga unsur tersebut
dapat ditingkatkan. Nilai IPM yang tinggi menandakan keberhasilan
pembangunan ekonomi di daerah tersebut.
Dari capaian IPM Kabupaten Bintan dapat dilihat adanya komitmen
dari pemerintah daerah Kabupaten Bintan untuk meningkatkan
berbagai sektor pembangunan yang bermuara pada pembangunan
manusia Kabupaten Bintan. Selain itu posisi dengan adanya
berbagai kebijakan percepatan pembangunan baik dari level pusat
sampai daerah dengan dukungan penuh dari masyarakat turut
berkontribusi secara signifikan dalam upaya peningkatan
pembangunan manusia Kabupaten Bintan tersebut. Namun kondisi
Kabupaten Bintan yang terdiri dari pulau-pulau terutama dengan
Tambelan sebagai Kecamatan terjauh menjadi tantangan bagi
Pemerintah Daerah Kabupaten Bintan dalam upaya menghindari
disparitas tinggi pembangunan di berbagai sektor pembangunan
sehingga pada akhirnya pemerataan pembangunan pembangunan
manusia dapat terwujud. Kedepannya upaya peningkatan IPM di
Kabupaten Bintan perlu dilakukan secara simultan, baik melalui
pendekatan sektoral pendidikan, kesehatan dan ekonomi, maupun
secara terintegrasi melalui anggaran pemerintah, swadaya
masyarakat dan partisipasi dunia usaha, atau kemitraan antara
pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Dengan nilai IPM
sebesar 76,51 maka Kabupaten Bintan termasuk dalam klasifikasi
menengah ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan
yang dilaksanakan cukup berhasil meningkatkan kualitas hidup
yang diukur dari indikator kesejahteraan rakyat yang meliputi (i)
indikator kesehatan, (ii) indikator pendidikan, serta (iii) daya beli
masyarakat yang meningkat.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-108


2.5.1 Perkembangan Komponen IPM di Kabupaten Bintan

A. Angka Harapan Hidup (AHH)


Pencapaian Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Bintan dari
tahun 2010 sampai tahun 2014 menunjukkan peningkatan.
Perkembangan positif ini sangat mempengaruhi angka Indeks
Kesehatan (IK) Kabupaten Bintan. Menurut data BPS Kabupaten
Bintan capaian AHH Kabupaten Bintan tahun 2010 sebesar 69,71,
dengan IK sebesar 74,5. Pada tahun 2011 AHH meningkat hingga
69,76 dengan IK sebesar 74,6. Tahun 2012, AHH telah mencapai
69,8 dengan IK sebesar 74,7. Tren peningkatan terus berlanjut di
tahun 2013 dengan AHH mencapai 69,91 dengan IK sebesar 74,9.
Tahun 2014 AHH mencapai 69,98 dengan IK mencapai 75,0.
Pemerintah Kabupaten Bintan terus berupaya secara komprehensif
dan berkoordinasi lintas sektoral secara intensif dalam rangka
mewujudkan perbaikan bidang kesehatan dengan capaian utama
Angka Harapan Hidup (AHH) dan Indeks Kesehatan (IK). Angka
Harapan Hidup (AHH) dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain
Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH). Oleh karena
itu pemerintah Kabupaten Bintan berusaha keras untuk menekan
Angka Kematian Bayi maupun Angka Kematian Ibu saat melahirkan
setiap tahunnya dalam rangka membantu mendorong Angka
Harapan Hidup. Angka Harapan Hidup diyakini memiliki korelasi
negatif terhadap kemiskinan. Peningkatan Angka Harapan Hidup
sangat penting karena dipercaya mampu menekan bahkan
mengurangi angka kemiskinan. Intervensi pemerintah melalui
berbagai kebijakan untuk memperbaiki kondisi kesehatan
diharapkan mampu berdampak pada meningkatnya produktivitas
golongan miskin, kesehatan yang lebih baik dan meningkatkan daya
kerja, mengurangi hari tidak bekerja dan menaikkan output energi.
Terkait dengan usaha peningkatan pelayanan kesehatan terutama
bagi masyarakat miskin, Pemerintah Kabupaten Bintan sangat
proaktif dalam mendukung implementasi Sistem Jaminan Sosial

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-109


Nasional. Sejak tahun 2012 telah terdaftar sebanyak 29.210 jiwa
peserta Jamkesmas dan pada tahun 2014 program Jaminan
Kesehatan Nasional mulai dilaksanakan dengan peserta awal yang
berasal dari Jamkesmas, Askes dan TNI-Polri.
Sebagai tahap awal pada tahun 2015 ini program Jamkesda Bintan
secara bertahap akan terintegrasi dengan Jaminan Kesehatan
Nasional yang menggunakan data dari Tim Nasional Percepatan
Penanggulangan Kemiskinan KBS Kesehatan. Proses
pengintegrasian tersebut akan terus dilakukan khususnya bagi
masyarakat miskin yang belum menjadi anggota BPJS Kesehatan
dan bagi masyarakat miskin yang belum menjadi anggota BPJS
namun memiliki Kartu Bintan Sejahtera masih tetap dapat
memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Selanjutnya, bagi masyarakat miskin yang belum menjadi anggota
BPJS maupun yang tidak memiliki KBS Kesehatan diberikan
kesempatan untuk menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu
(SKTM) yang diterbitkan oleh Desa/Kelurahan untuk dapat
memanfaatkan pelayanan kesehatan yang berlaku selama 3 bulan.
Selain mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan, Pemerintah
Kabupaten Bintan juga memberikan bantuan transportasi,
akomodasi dan konsumsi bagi masyarakat miskin yang menjadi
peserta BPJS PBI maupun yang menggunakan KBS dan SKTM yang
dirujuk ke luar daerah Kabupaten Bintan.
Berkaitan dengan itu pula, Pemerintah Kabupaten Bintan telah
menyiapkan 2 unit rumah singgah untuk memfasilitasi pasien yang
dirujuk ke Jakarta dan Kalimantan Barat untuk pasien dari
Kecamatan Tambelan. Selain itu, telah dilakukan kerja sama
dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Kanker
Darmais, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita dan Rumah Sakit
Islam Cempaka Putih di Jakarta. Sedangkan di Kalimantan Barat
dilakukan kerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul
Aziz Singkawang.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-110


Tabel 2.76 : Perkembangan Angka Harapan Hidup dan Indeks
Kesehatan di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014
No Tahun Angka Harapan Hidup Indeks Kesehatan
1. 2010 69,71 74,5
2. 2011 69,76 74,6
3. 2012 69,80 74,7
4. 2013 69,91 74,9
5. 2014 69,98 75,0
Sumber: BPS Kabupaten Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Grafik 2.32 : Indeks Kesehatan Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

75.2
75 75
74.9
74.8
74.7
74.6 74.6
74.5
74.4
74.2
2010 2011 2012 2013 2014
Realisasi
Sumber: BPS Kabupaten Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Pencapaian Indeks Kesehatan (IK) Kabupaten Bintan yang disajikan


tabel diatas yaitu dari tahun 2010-2014, menunjukkan peningkatan
capaian IK yang cendrung meningkat. Dimana pada tahun 2010,
capaian IK di Kabupaten Bintan baru sekitar 74,52 poin, terus
meningkat menjadi 74,6 poin di tahun 2011. Sedangkan pada tahun
2012, capaian IK Kabupaten Bintan terus meningkat menjadi
sebesar 74,7 poin. Pada tahun capaian IK sebesar 74,75, sedangkan
pada tahun 2014 IK Kabupaten Bintan mencapai 75 dimana hanya
terpaut 0,3 dari target RPJMD tahun 2014. Walaupun pencapaian
IK sampai dengan tahun 2014 belum memenuhi target sesuai yang
ditargetkan dalam RPJMD tetapi Kontribusi IK terhadap
pembentukan IPM cukup signifikan sehingga IPM Kabupaten Bintan
terus meningkat.

B. Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)


Tolok ukur bidang pendidikan adalah indikator mutu pendidikan
yang dapat dilihat dari tingginya angka partisipasi. Angka

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-111


partisipasi tersebut terdiri atas angka partisipasi kasar (APK) dan
angka partisipasi murni (APM). Dari hasil evaluasi kinerja Wajib
Belajar Dikdas 9 tahun diketahui bahwa tahun 2010 sampai pada
tahun 2014 Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan SD
berfluktuatif. Pada tahun 2010 APM pendidikan SD tercatat 97,52%,
pada tahun 2011 menurun menjadi 95,64% pada tahun 2012
meningkat menjadi 96,01% kemudian terus meningkat menjadi
97,91% pada tahun 2013 dan 94,11% pada tahun 2014. Artinya
pada tahun 2014 ada sebanyak 94,11% penduduk yang berusia 7-
12 tahun telah tertampung di SD. Sedangkan Angka Partisipasi
Kasar (APK) untuk pendidikan SD juga berfluktuasi, pada tahun
2010 APK pendidikan SD sebesar 80,05%, meningkat pada tahun
2011 menjadi 107,70% meningkat pada tahun 2012 menjadi
121,94% menurun pada tahun 2013 menjadi 105,48% meningkat
pada tahun 2014 menjadi sebesar 105,63%. Hal ini membuktikan
bahwa jumlah murid SD yang dapat ditampung pada sekolah-
sekolah SD yang ada sudah melebihi jumlah penduduk usia
sekolah, namun demikian masih banyak murid SD yang berumur
kurang atau melebihi usia 7-12 tahun yang masih mengikuti
pendidikan SD.
Untuk APK jenjang SMP/MTs tahun 2010 sampai tahun 2014 juga
berfluktuasi. Pada tahun 2010 APK SMP/MTs sebesar 70,82%,
tertinggi terus menunjukkan trend peningkatan sampai pada tahun
2014 menunjukkan angka 96,91%. Pada tahun 2010 APM
SMP/MTs sebesar 63,42%, tertinggi pada tahun 2013 yaitu sebesar
85,59% sedangkan pada tahun 2014 menunjukkan angka 71,18%.
Untuk APK jenjang SMA tahun 2010 mencapai 72,89% sedangkan
pada tahun 2014 trend meningkat hingga 94.73%, hal ini
menunjukan bahwa pada tahun 2014 terdapat peningkatan sebesar
21,84%. Sedangkan APM jenjang SMA pada tahun 2010
menunjukkan angka 50,53% sedangkan pada tahun 2014 mencapai
62,20%.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-112


Jika dilihat berdasarkan komponennya peningkatan capaian angka
IPM Kabupaten Bintan dewasa ini merupakan kontribusi terbesar
dari Indeks Pendidikan yang semakin baik. Menurut data BPS
tahun 2010 capaian Indeks Pendidikan sebesar 82,6 poin dengan
rata-rata lama sekolah 8,63 tahun meningkat menjadi 83,9 poin
dengan rata-rata lama sekolah 8,91 di tahun 2011. Sementara itu
ditahun 2012 angka rata-rata lama sekolah mencapai 8,95 tahun
dan Indeks Pendidikan sebesar 84,5. Pada tahun 2013 Indeks
Pendidikan Kabupaten Bintan mencapai 84,9 dengan rata-rata lama
sekolah 9,01 tahun. Sedangkan pada tahun 2014 Indeks Pendidikan
mencapai 85,3 dengan rata-rata lama sekolah 9,06. Dengan telah
dicapainya angka 9 tahun untuk rata-rata lama sekolah maka
Kabupaten Bintan telah berhasil melaksanakan Program Wajib
Belajar 9 Tahun. Di sisi lain juga menunjukkan bahwa penurunan
angka drop out yang cukup signifikan dari tahun ke tahun sehingga
mampu menunjang pencapaian rata-rata lama sekolah yang
membanggakan.

Tabel 2.77 : Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah dan Indeks


Pendidikan di Kabupaten Bintan Tahun 2010-2012
Rata-Rata
No. Tahun Indeks Pendidikan
Lama Sekolah
1. 2010 8,63 82,6
2. 2011 8,91 83,9
3. 2012 8,95 84,5
4. 2013 9,01 84,9
5. 2014 9,06 85,3
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Grafik 2.33: Indek Pendidikan Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014


86
85.3
85 84.9
84.5
84 83.9
83.13 83.21 83.35
83 83 83.05
82.6
82

81
2010 2011 2012 2013 2014
Target RPJMD

Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2015


Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-113
Upaya pembangunan di bidang pendidikan telah menunjukkan
dampak yang baik di masa sekarang dan diprediksi dapat
berdampak lebih besar di masa mendatang. Penuntasan buta huruf
dan penurunan angka rawan drop out murid sekolah terus
digalakkan dan menjadi prioritas utama. Berdasarkan data BPS
Kabupaten Bintan diperoleh gambaran capaian persentase Melek
Huruf (AMH) penduduk 15 tahun ke atas mencapai 95,09% tahun
2010 dan meningkat menjadi 96,14% di tahun 2011. Tahun 2012
meningkat cukup signifikan menjadi 96,92%. Tahun 2013 Angka
Melek Huruf mencapai 97,32% dan kembali meningkat pada tahun
2014 pada angka 97,68%. Sehingga persentase Buta Huruf juga
dapat ditekan dari 4,91% di tahun 2010 menjadi 2,32% ditahun
2014.

Tabel 2.78 : Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke atas yang


Melek Huruf dan Buta Huruf di Kabupaten Bintan pada
Tahun 2010-2014
No. Tahun Melek Huruf(%) Buta Huruf(%)
1. 2010 95,09 4,91
2. 2011 96,14 3,86
3. 2012 96,92 3,08
4. 2013 97,32 2,68
5. 2014 97,68 2,32
Sumber : BPS Kabupaten Bintan, 2015

Grafik 2.34 : Angka Melek Huruf Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

Sumber :BPS Kabupaten Bintan, 2015


Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-114
Berbagai pencapaian di bidang pendidikan tersebut dilakukan
melalui implementasi kebijakan penyelenggaraan Bantuan
Operasonal Sekolah (BOS) maupun Bantuan Operasional Sekolah
Daerah (BOSDA), pengalokasian Bantuan Operasional Manajemen
Mutu (BOMM), pemerataan pendidikan melalui bantuan kepada
siswa SMA/SMK kurang mampu, serta melakukan pembangunan
dan revitalisasi gedung-gedung sekolah sebagai upaya
meningkatkan partisipasi murid secara berkelanjutan. Selain itu
pemerintah daerah Kabupaten Bintan juga menaruh perhatian
penting terhadap guru melalui peningkatan kualitas serta
kesejahteraan guru.

C. Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity/PPP)


Berdasarkan data BPS pencapaian daya beli (Purchasing Power
Parity) masyarakat Kabupaten Bintan yang diukur dengan
pendapatan riil perkapita/tahun menunjukkan adanya peningkatan
dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 pendapatan riil perkapita
mencapai sebesar Rp646.570,- meningkat menjadi sebesar
Rp650.000,- pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012
kembali mengalami peningkatan sebesar Rp653.630. Untuk tahun
2013 Pendapatan riil perkapita meningkat sehingga mencapai
Rp656.590 dan pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp659,870.
Demikian pula dengan Indeks Daya Beli penduduk Kabupaten
Bintan, dalam kurun waktu tahun 2010-2014. Terus mengalami
peningkatan, dari 66,2 pada tahun 2010 meningkat menjadi 67,0
pada tahun 2011 dan terus meningkat tahun 2012, dimana
kemampuan daya beli masyarakat Kabupaten Bintan mencapai
67,9. Selanjutnya pada tahun 2013 Indeks Daya Beli penduduk
Kabupaten Bintan meningkat menjadi 68,6 hingga pada tahun 2014
yang mencapai 69,3. Peningkatan Indeks Daya Beli tidak terlepas
dari pengaruh kinerja makro dan mikro ekonomi. Hal ini tercermin
dari besaran pencapaian pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang
cukup terkendali.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-115


Tabel 2.79 : Pendapatan Riil Perkapita dan Indeks Daya Beli Masyarakat
Kabupaten Bintan,Tahun 2010-2014
No Tahun Pendapatan Riil Indeks Daya Beli
Perkapita (Rp.000)
1. 2010 646,57 66,2
2. 2011 650,00 67,0
3. 2012 653,63 67,9
4. 2013 656,68 68,6
5 2014 659,87 69,3
Sumber : BPS Kabupaten Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Grafik 2.35 : Indeks Daya Beli Kabupaten Bintan Tahun 2010-2014

Sumber : BPS Kabupaten Kabupaten Bintan, Tahun 2015

Pada umumnya indikator-indikator IPM berkembang secara steady,


kecuali indeks daya beli. Indeks Daya Beli berkaitan langsung
dengan pendapatan penduduk, yang dipengaruhi oleh kinerja
perekonomian. Perekonomian yang kondusif akan memungkinkan
terciptanya iklim ekonomi yang prospektif. Iklim perekonomian yang
kondusif diharapkan akan membuka kesempatan kerja sehingga
mampu meningkatkan pendapatannya yang pada gilirannya akan
meningkatkan daya beli masyarakat. Tingkat kondusiftias
perekonomian sangat sensitif terhadap perkembangan
perkembangan harga (inflasi). Inflasi tinggi akan dapat memberi
dampak secara langsung menurunkan daya beli masyarakat.
Pengendalian laju inflasi dipercaya akan sangat berdampak dalam
menjaga dan menumbuhkan daya beli masyarakat. Mengantisipasi
kebijakan makro ekonomi nasional yang mungkin mengalami
perubahan-perubahan yang dapat mempengaruhi daya beli

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-116


masyarakat maka pemerintah daerah Kabupaten Bintan telah
melaksanakan program Peningkatan Ketahanan Masyarakat, serta
program Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan,
dan program lainnya sehingga kebutuhan dasar masyarakat
terutama masyarakat miskin dan tertinggal dapat terpenuhi dalam
rangka mendukung peningkatan daya beli masyarakat Kabupaten
Bintan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan II-117


RPJMD 2016-2021

BAB. 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN


SERTA KERANGKA PENDANAAN

Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 20014


tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Daerah, yang menetapkan dan mengatur pembagian kewenangan dan
pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
serta Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah, bahwa keuangan daerah harus dikelola secara tertib,
efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab sesuai
dengan azas kepatutan dan rasa keadilan.

Pemerintah Kabupaten Bintan dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan


daerah berpedoman pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri
(Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 jo. Pemendagri Nomor 59 Tahun
2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pengelolaan
Keuangan Daerah Kabupaten Bintan dilaksanakan dalam suatu sistem
terintegrasi diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan
dengan Peraturan Daerah. APBD merupakan instrumen yang menjamin
terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan
kebijakan pendapatan maupun belanja daerah.

Struktur APBD Kabupaten Bintan terdiri dari (1) Penerimaan Daerah


yang didalamnya terdapat pendapatan daerah dan penerimaan
pembiayaan daerah;(2) Pengeluaran Daerah yang didalamnya terdapat
Belanja Daerah dan (3) Pengeluaran Pembiayaan Daerah.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-1


Pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk
menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan
daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah, sehingga
analisis pengelolaan keuangan daerah menjelaskan tentang aspek
kebijakan keuangandaerah, yang berkaitan dengan pendapatan, belanja
dan pembiayaan daerah guna mewujudkan visi dan misi.

3.1 Kinerja Masa Lalu

3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD

Gambaran kinerja Pelaksanaan APBD menguraikan


perkembangan Pendapatan dan belanja tidak langsung, Proporsi
sumber pendapatan, pencapaian kinerja pendapatan, dan
gambaran realisasi belanja daerah. Pendapatan daerah
merupakan penerimaan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan
pembiayaan pembangunan di daerah yang diperoleh dari sumber-
sumber penerimaan daerah antara lain Pendapatan Asli Daerah
(PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain pendapatan yang sah.
Kapasitas keuangan daerah akan menentukan kemampuan
pemerintah daerah dalam menjalankan fungsi pelayanan
masyarakat. Kebijakan pendapatan daerah memiliki beberapa
dasar hukum sebagai landasan utama yaitu :

1. Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara;

2. Undang Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Perbendaharan


Negara;

3. Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional;

4. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan


Daerah;

5. Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-2


Keuangan Daerah antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang


Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai
Daerah otonom.

Adapun landasan hukum spesifik di bidang pendapatan daerah


adalah:

1. Undang Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah


dan Retribusi Daerah;

2. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata


Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah.

Menyikapi diberlakukannya Undang Undang Nomor 28 Tahun


2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pemerintah
Kabupaten Bintan telah melakukan restrukturisasi dasar
pemungutan pendapatan daerah melalui perubahan atas beberapa
Peraturan Daerah dan penerbitan Peraturan Daerah baru.
Beberapa jenis pajak dan retribusi daerah yang akan dikelola di
Kabupaten Bintan adalah:

1. Pajak Daerah terdiri dari:


a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Mineral bukan logam dan batuan;
g. Pajak Parkir;
h. Pajak Air Tanah;
i. Pajak Sarang Burung Walet;
j. PBB Perdesaan dan Perkotaan;

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-3


k. BPHTB.

2. Retribusi

Retribusi yang diberlakukan di Kabupaten Bintan adalah


sebanyak 29 jenis yang dipungut setiap tahun untuk mendukung
Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bintan dan dibagi dalam 3
(tiga) kelompok, yaitu :

1. Retribusi Jasa Umum


a. Retribusi Pelayanan Kesehatan;
b. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;
c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda
Penduduk dan Akta Capil;
d. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat;
e. Retribusi Pelayanan Parkir Tepi Jalan Umum;
f. Retribusi Pelayanan Pasar;
g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;
h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran;
i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;
j. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus;
k. Retribusi Pengolahan Limbah Cair;
l. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang;
m. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.

2. Retribusi Jasa Usaha


a. Retribusi Pemakaian Daerah;
b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan;
c. Retribusi Tempat Pelelangan;
d. Retribusi Terminal;
e. Retribusi Tempat Khusus Parkir;
f. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa;
g. Retribusi Rumah Potong Hewan;
h. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan;
i. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-4


j. Retribusi Penyeberangan di Air; dan
k. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

3. Retribusi Perizinan Tertentu


a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;
b. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol;
c. Retribusi Izin Gangguan;
d. Retribusi Izin Trayek;
e. Retribusi Izin Usaha Perikanan.
 
Tabel . T‐III.C.1
Rata‐rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah
Tahun 2011 s/d Tahun 2015
Kabupaten Bintan

2011 2012 2013 2014 2015 Rata‐rata


NO Uraian
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)** Pertumbuhan (%)
1 PENDAPATAN 722.572.379.228,45 863.183.192.668,87 916.419.942.252,10 883.789.695.260,37 781.766.171.173,87 6,72
1.1 Pendapatan Asli Daerah 136.232.925.611,22 136.751.503.919,87 136.547.923.743,53 190.843.040.464,25 186.630.120.661,87 7,93
1.1 Pajak Daerah 107.697.659.311,96 108.758.174.413,11 103.498.450.682,70 146.315.996.740,77 137.520.270.491,77 5,22
1.
1.1 Retribusi Daerah 4.093.814.034,26 6.815.075.635,00 7.529.058.472,91 12.979.651.973,09 9.081.792.543,00 33,31
2.
1.1 Hasil Pengelolaan Keuangan 
Daerah yang dipisahkan 5.252.730.714,00 4.666.718.216,00 7.551.057.329,00 7.978.087.657,00 13.411.204.438,00 ‐0,55
3.
1.1 Lain‐Lain PAD Yang Sah 19.188.721.551,00 16.511.535.655,76 17.969.357.258,92 23.569.304.093,39 26.616.853.189,10 32,19
4.
1.2 Dana Perimbangan 493.753.852.008,00 630.295.541.906 671.229.402.784,00 596.250.029.822,00 497.680.184.131,00 8,95
1.2 Dana bagi hasil pajak/bagi hasil 
bukan pajak 293.112.660.008,00 381.628.653.906,00 360.912.608.784,00 273.981.788.822,00 142.922.557.131,00 17,56
1.
1.2 Dana Alokasi Umum 184.730.492.000,00 232.884.448.000,00 288.685.934.000,00 304.974.241.000,00 290.035.577.000,00 ‐1,12
2.
1.2 Dana Alokasi khusus 15.910.700.000,00 15.782.440.000,00 21.630.860.000,00 17.294.000.000,00 64.722.050.000,00 0,00
3.
1.3 lain‐lain Pendapatan Daerah yang 
sah 92.585.601.609 96.136.146.843 108.642.615.724,57 96.696.624.974,12 97.455.866.381 ‐3,01
1.3 Hibah 11.825.321.914,00 10.554.608.165,00 689.494.300,00 0 0 ‐0,56
1.
1.3 Dana Darurat 0 0 0 0 0 0,00
2.
1.3 Dana bagi hasil pajak dari Provinsi 
dan Pemerintah Daerah Lainnya **) 31.084.021.721,23 28.126.641.581,00 40.574.153.987,57 20.407.566.803,12 45.281.828.656,00 ‐6,34
3.
1.3 Dana penyesuaian dan otonomi 
khusus ***) 17.405.196.000,00 22.055.574.000,00 28.406.592.000,00 51.033.390.000,00 48.536.973.000,00 2,65
4.
1.3 Bantuan Keuangan dari provinsi 
atau pemerintah Daerah lainnya 32.271.061.974,00 35.399.323.097,00 38.972.375.437,00 25.255.668.171,00 3.637.064.725,00 ‐12,37
5.
 
 
Pendapatan daerah Kabupaten Bintan selama lima tahun terakhir
memperlihatkan perkembangan cukup berarti. Keberhasilan-
keberhasilan ini tidak terlepas dari berbagai faktor berikut, antara
lain: (a) kebijakan pemerintah, (b) pendapatan masyarakat, (c)
fluktuasi harga komoditas andalan, dan (d) kondisi daerah yang
relatif aman. Dari sisi Pendapatan Asli Daerah maka terdapat dua
komponen pendapatan yang memberikan kontribusi dalam
peningkatan PAD yaitu Pajak Daerah dan Lain-lain Pendapatan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-5


Asli Daerah. Sedangkan dua komponen lain yaitu Retribusi
Daerah dan Bagian Laba Usaha Daerah menunjukkan kontraksi
negatif selama kurun lima tahun terakhir. Rendahnya pencapaian
dua komponen PAD ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah
daerah agar lebih intensif meningkatkan upaya ekstensifikasi dan
intensifikasi pendapatan asli daerah serta mengambil langkah-
langkah yang inovatif dalam menggali potensi PAD selama lima
tahun ke depan.

Selanjutnya, dari sisi Dana Perimbangan maka dua komponen


utama Dana Perimbangan yaitu Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil
Bukan Pajak serta Dana BagiHasil Pajak dan Bantuan Keuangan
Dari Propinsi masih memberikan kontribusi paling besar dalam
kurun waktu 2011-2015.

Berdasarkan data sebagaimana telah diuraikan di atas maka


dapat disimpulkan bahwa pembiayaan pembangunan di
Kabupaten Bintan masih sangat bergantung pada sumber
pendanaan dari pemerintah pusat yaitu dari Dana Perimbangan
khususnya Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak dan Dana Alokasi
Umum. Hal ini dapat dilihat dari masih besarnya komposisi Dana
Perimbangan dalam distribusi pendapatan daerah yang mencapai
lebih dari 80%. Besarnya tingkat ketergantungan fiskal daerah
kepada pemerintah pusat tentunya menjadi faktor pembatas bagi
pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan karena
Dana Perimbangan bersifat uncontrollable dan sulit diprediksi
sebagaimana terlihat dalam perkembangannya selama ini. Oleh
karena itu, untuk meningkatkan kapasitas kemampuan fiskal ke
depan maka Pemerintah Daerah perlu melakukan upaya
peningkatan Pendapatan Asli Daerah, meningkatkan peran serta
sektor swasta serta menggalakkan sektor investasi dalam
melaksanakan pembangunan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-6


3.1.2 Neraca Daerah 

Neraca daerah disusun bertujuan untuk mengetahui kemampuan


keuangan pemerintah daerah melalui perhitungan rasio serta
kemampuan aset daerah untuk penyediaan dana pembangunan
daerah.
Tabel . T-1
Pertumbuhan Neraca Daerah dari tahun 2013
Kabupaten Bintan

No Uraian 2013 2014 2015


1. ASET
1.1 ASET LANCAR
1.1.1 Kas 81.597.277.231,13 10.167.686.860,50 10.873.219.663,52
Investasi
1.1.2 Jangka Pendek 125.000.000.000,00 109.000.000.000,00 0,00
1.1.3 Piutang 19.615.133.865,29 73.727.881.682,49 131.463.627.098,97
1.1.4 Persediaan 6.174.579.178,78 6.915.382.657,00 18.155.052.023,00

1.2 ASET TETAP


1.2.1 Tanah 417.806.902.094,00 377.271.965.538,00 377.195.985.163,00
Peralatan dan
1.2.2 mesin 240.907.805.596,00 259.781.874.086,97 291.207.959.221,00
Gedung dan
1.2.3 bangunan 823.507.556.242,00 908.831.234.247,00 971.493.374.225,00
Jalan, irigasi
1.2.4 dan Jaringan 929.665.281.734,00 1.000.742.079.668,00 1.069.345.949.670,00
Aset Tetap
1.2.5 Lainnya 8.602.010.003,00 9.917.720.503,00 10.269.098.297,00
Konstrusi dalam
1.2.6 pengerjaan 16.699.927.356,00 10.002.784.951,00 10.002.784.951,00
1.2.7 dst

1.3 ASET LAINNYA


Tagihan
Penjualan
1.3.1 Angsuran 0 0 487.997.626,07
Tagihan
tuntutan Ganti
Kerugian
1.3.2 Daerah 0 0 0
Kemitraan
dengan pihak
1.3.3 kedua 0 0 0
Aset tak
1.3.4 berwujud 3.788.346.600,00 3.906.844.100,00 4.554.901.600,00
1.3.5 dst

JUMLAH ASET
DAERAH

2 KEWAJIBAN
KEWAJIBAN
JANGKA
2.1 PENDEK
Utang
Perhitungan
2.1.1 Pihak Ketiga 114.613.595,50 186.406.856,50 186.406.856,50

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-7


Uang Muka dari
2.1.2 Kas Daerah 0 0 0
Pendapatan
diterima
2.1.3 dimuka 0 0 0
2.1.4 dst

3 EKUITAS DANA
EKUITAS DANA
3.1 LANCAR
3.1.1 SILPA 208.451.004.284,63 121.765.858.004,04 0
Cadangan
3.1.2 Piutang 19.615.133.865,29 73.727.881.682,49 0
Cadangan
3.1.3 Persediaan 6.174.579.178,78 6.915.382.657,00 0
3.1.4 dst

EKUITAS DANA
3.2 INVESTASI
Diinvestasikan
dalam aset
3.2.1 tetap 2.437.189.483.025,00 2.566.547.658.993,97 0
Diinvestasikan
dalam aset
3.2.2 lainnya 18.432.801.406,24 77.785.945.257,24 0
3.2.3 dst
JUMLAH
KEWAJIBAN
2.758.308.048.124,44 2.922.970.366.972,24 2.080.314.908.101,88
DAN EKUITAS
DANA

Dari tabel Pertumbuhan Neraca Daerah Kabupaten Bintan tiga


tahun terakhir, dapat dilihat rata-rata pertumbuhan Aset,
Kewajiban maupun Ekuitas. Pada Tahun 2013 Aset bertumbuh
sebesar 21,99 persen, Kewajiban dan Ekuitas bertumbuh sebesar
10,32 persen, Tahun 2014 Aset bertumbuh sebesar 3,62 persen,
Kewajiban dan Ekuitas bertumbuh sebesar 5,97 persen, Tahun
2015 Aset bertumbuh sebesar 4,50 persen, Kewajiban dan
Ekuitas turun sebesar (28,83) persen. Sedangkan rata-rata
Pertumbuhan Neraca Aset sebagaimana pada tabel dibawah ini :

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-8


Tabel . T‐III.C.2
Rata‐rata Pertumbuhan Neraca Daerah
Kabupaten Bintan

No Uraian Rata‐rata Pertumbuhan
(%)
1. ASET
1.1 ASET LANCAR
1.1.1 Kas ‐20,38%
1.1.2 Investasi Jangka Pendek ‐38,88%
1.1.3 Piutang 107,14%
1.1.4 Persediaan 103,08%

1.2 ASET TETAP
1.2.1 Tanah ‐3,18%
1.2.2 Peralatan dan mesin 14,70%
1.2.3 Gedung dan bangunan 10,57%
1.2.4 Jalan, irigasi dan Jaringan 8,53%
1.2.5 Aset Tetap Lainnya 6,57%
1.2.6 Konstrusi dalam pengerjaan ‐0,83%
1.2.7 dst

1.3 ASET LAINNYA
1.3.1 Tagihan Penjualan Angsuran 0,00%
1.3.2 Tagihan tuntutan Ganti Kerugian Daerah                                                       ‐
1.3.3 Kemitraan dengan pihak kedua                                                       ‐
1.3.4 Aset tak berwujud 12,41%
1.3.5 dst

JUMLAH ASET DAERAH

2 KEWAJIBAN
2.1 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
2.1.1 Utang Perhitungan Pihak Ketiga ‐33,33%
2.1.2 Uang Muka dari Kas Daerah                                                       ‐
2.1.3 Pendapatan diterima dimuka                                                       ‐
2.1.4 dst

3 EKUITAS DANA
3.1 EKUITAS DANA LANCAR
3.1.1 SILPA ‐48,82%
3.1.2 Cadangan Piutang 47,70%
3.1.3 Cadangan Persediaan 15,57%
3.1.4 dst

3.2 EKUITAS DANA INVESTASI
3.2.1 Diinvestasikan dalam aset tetap ‐27,77%
3.2.2 Diinvestasikan dalam aset lainnya 217,58%
3.2.3 dst
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA ‐4,18%
 
Analisis neraca daerah dilakukan dengan mengukur beberapa
rasio sebagai berikut:

a. Rasio Lancar (Current ratio)

Current Ratio atau dikenal juga dengan sebutan Rasio Lancar


adalah perbandingan nilai Aktiva Lancar dengan suatu nilai
Kewajiban Lancar yang ada pada suatu laporan keuangan daerah.
Current Ratio digunakan dalam rangka memberikan gambaran
tentang kemampuan daerah dalam membayar kewajiban jangka
pendeknya (hutang & pinjaman) dengan menggunakan aktiva
lancar (kas, piutang, persediaan) yang dimilikinya.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-9


b. Rasio Quick (Quick ratio)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
daerah dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan
menggunakan aktiva yang lebih likuid. Maksudnya tidak seluruh
aktiva lancar turut diperhitungkan, yakni dengan menyisihkan
elemen persediaan barang lebih dahulu kemudian
diperbandingkan dengan total hutang lancar.

c. Rasio Total Hutang Terhadap Total Aset

Debt to Total Assets Ratio (DAR) digunakan untuk mengukur


seberapa besar jumlah aktiva perusahaan dibiayai dengan total
hutang. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah
modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna
menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

d. Rasio Hutang Terhadap Modal

Merupakan Perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas


dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan
modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya

e. Rata-rata Umur Piutang

Rasio ini mengukur efisiensi pengolahan piutang perusahaan,


serta menunjukkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk
melunasi piutang atau merubah piutang menjadi kas.

f. Rata-rata Umur Persediaan

Rata-rata umur persediaan adalah rasio untuk melihat berapa


lama dana tertanam dalam bentuk persediaan (merubah
persediaan menjadi penjualan).

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-10


Analisis Rasio Keuangan
Kabupaten Bintan

2013 2014 2015


NO Uraian (Rp) (Rp) (Rp)
1 Rasio Lancar (Current ratio)                                                46,72                   11,99                             6,63
2 Rasio quick (quick ratio)                                              148,42                127,80                          43,06
3 Rasio Total Hutang Terhadap Total Aset                                             0,0006                0,0003                       0,0002
4 Rasio Hutang Terhadap Modal                                             0,0007                0,0003                       0,0002
5 Rata‐rata Umur Piutang                                                   2,79                      1,39                             0,91
6 Rata‐rata Umur Persediaan                                                   2,49                      2,86                             8,48
 
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat kemampuan daerah dalam
menjalankan Finansial jangka pendeknya dalam tiga tahun
terakhir menunjukkan persentase yang menurun ini memberikan
gambaran keadaan keuangan daerah dalam kondisi tidak sehat.
Sedangkan kemampuan daerah dalam memenuhi kewajiban
jangka panjangnya menunjukan persentase yang positif.
 

3.2 Kebijakan Pengelolaam Keuangan Masa Lalu


3.2.1 Proporsi Penggunaan Anggaran
 
Pengelolaan belanja daerah dilaksanakan berlandaskan pada
prinsip anggaran kinerja (performance base budgetting) yaitu
belanja daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau
kinerja. Kinerja tersebut mencerminkan efisiensi dan efektifitas
pelayanan publik, untuk memperoleh gambaran realisasi dari
pembelanjaan dan pengeluaran pembiayaan daerah sebagai bahan
untuk menentukan kebijakan dimasa mendatang diperlukan
analisis. Yang bertujuan untuk menentukan kebijakan efisiensi
anggaran aparatur selama periode yang direncanakan.
 

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-11


Tabel . T‐III.C.3
Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur
Kabupaten Bintan

Tota l  Bel a nja   Tota l  Pengel ua ra n 


Untuk Pemenuha n  (Bel a nja  + 
Kebutuha n  Pembi a ya a n  Pros enta s e
NO Ura i a n Apa ra tur Pengel ua ra a n)
(Rp) (Rp)
a b (a )/(b)x 100%
1 Tahun 2013 597.477.778.614,00 680.771.434.394,24 87,76
2 Tahun 2014 665.587.155.120,96 755.372.278.290,96 88,11
3 Tahun 2015 600.722.348.302,22 724.357.897.118,92 82,93
 
 
3.2.2 Analisis Pembiayaan 

Pembiayaan Daerah merupakan transaksi keuangan daerah yang


dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daerah
dan belanja daerah. Selisih lebih pendapatan daerah terhadap
belanja daerah disebut surplus anggaran sedangkan selisih
kurang pendapatan daerah terhadap belanja daerah disebut defisit
anggaran. Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
dari pengaruh kebijakan pembiayaan daerah pada tahun-tahun
anggaran sebelumnya terhadap surplus/defisit belanja daerah
sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan dimasa
datang.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-12


Tabel . T‐III.C.4
Penutup Defisit Rill Anggaran
Kabupaten Bintan

2013 2014 2015


NO Ura i a n
(Rp) (Rp) (Rp)
1 Realisasi Pendapatan Daerah 916.419.942.252,10 883.789.695.260,37 781.766.171.173,87

Dikurangi Realisasi :
2 Belanja Daerah 920.839.553.776,24 966.962.829.655,96 886.752.609.316,92
3 Pengeluaran Pembiayaan Daerah 6.904.500.000,00 7.256.000.000,00 0,00
A Defisit Rill ‐11.324.111.524,14 ‐90.429.134.395,59 ‐104.986.438.143,05

Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan: 
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA)Tahun 
219.113.195.808,77 208.451.004.284,63 121.765.858.004,04
4 Anggaran sebelumnya
5 Pencairan Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00
6 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang di Pisahkan 0,00 3.262.108.115,00 0,00
7 Penerimaan Pinjaman Daerah 0,00 0,00 0,00
8 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman daerah 0,00 0,00 0,00
9 Penerimaan Piutang Daerah 0,00 0,00 0,00
10 Pengembalian Pokok Dana Bergulir 661.920.000 481.880.000,00 50.562.500,00
B Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan Daerah 219.775.115.808,77 212.194.992.399,63 121.816.420.504,04
A‐B Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun berkenaan 208.451.004.284,63 121.765.858.004,04 16.829.982.360,99
 

Tabel . T‐III.C.5
Komposisi Penutup Defisit Rill Anggaran
Kabupaten Bintan

Proporsi dari total defisit rill
NO Ura i a n 2013 2014 2015
(%) (%) (%)
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun 
1
Anggran Sebelumnya 219.113.195.808,77 208.451.004.284,63 121.765.858.004,04
2 Pecairan Dana Cadangan                                            ‐                                               ‐                                               ‐

3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang di pisahkan                                            ‐ 3.262.108.115,00                                               ‐


4 Penerimaan Pinjaman Daerah                                            ‐                                               ‐                                               ‐

5 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah                                            ‐                                               ‐                                               ‐


6 Penerimaan Piutang Daerah                                            ‐                                               ‐                                               ‐

7 Pengembalian Pokok Dana Bergulir 661.920.000,00 481.880.000,00 50.562.500,00


8 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun berkenaan 212.870.615.808,77 204.938.992.399,63 121.816.420.504,04

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-13


Tabel T‐III.C.6
Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
kabupaten Bintan

2013 2014 2015


No Uraian % % %
Rp Rp Rp
dari SILPA dari SILPA dari SILPA
1 Jumlah SILPA 203.451.004.808,77 121.765.858.004,04 16.829.982.360,99
2 Pelampauan penerimaan PAD 2.459.269.486,53 1,21% 24.717.988.978,25 20,30% 9.731.640.806,87 57,82%
3 Pelampauan penerimaan dana Perimbangan 80.156.644.584,00 39,40% 5.866.953.541,00 4,82% ‐30.973.621.488,00 ‐184,04%
4 Pelampauan penerimaan Lain‐lain pendapatan 
11.357.046.726,00 5,58% 12.089.361.822,37 9,93% ‐32.151.225.280,00 ‐191,04%
daerah yang sah
5 Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya 0,00 0,00 0,00
6 Kewajiban pihak ketiga sampai dengan akhir 
tahun belum terselesaikan 0,00 0,00 0,00
7 Kegaiatan lanjutan 0,00 0,00 0,00

3.3 Kerangka Pendanaan


Kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil
keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan
program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima)
tahun ke depan. Berdasarkan proyeksi penerimaan daerah dan
belanja serta pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat
serta prioritas utama serta belanja tidak mengikat, maka dapat
diproyeksikan kapasitas riil keuangan daerah yang akan
digunakan untuk membiayai program/kegiatan selama 5 tahun
kedepan (2016-2020) dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bintan

3.3.1 Analisis Pengeluaran Periodik Wajib dan Meningkat Serta


Prioritas Utama

Analisis terhadap realisasi pengeluaran wajib dan mengikat


dilakukan untuk menghitung kebutuhan pendanaan belanja dan
pengeluaran pembiayaan yang tidak dapat dihindari atau harus
dibayar dalam satu tahun anggaran.

Belanja periodik yang wajib dan mengikat adalah pengeluaran


yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya dan
dibayar setiap tahunnya. Sedangkan belanja periodik prioritas

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-14


utama adalah pengeluaran yang harus dibayar setiap periodik oleh
pemerintah daerah dalam rangka keberlangsungan pelayanan
dasar prioritas pemerintah daerah yaitu pelayanan pendidikan
dan kesehatan serta sejenisnya. Total Pengeluaran Wajib dan
mengikat serta prioritas utama menjadi dasar untuk menentukan
kebutuhan anggaran yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat
ditunda dalam rangka penghitungan kapasitas riil keuangan.
Tabel T‐III.C.7
Pengeluaran Periodik, Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama
kabupaten Bintan

2015 Rata-rata

No Uraian Rp P ertumbuhan

A Belanja Tidak Langsung 420.816.234.786,00 1,01%


1 Belanja gaji dan Tunjangan 237.406.872.126,00 8,09%
2 Belanja Penerimaan Anggota dan 
Pimpinan DPRD serta Operasional  1.755.800.000,00 ‐5,17%
KDH/WKDH
3 Belanja Bunga                                        ‐                           ‐
4 Belanja Bagi Hasil                                        ‐                           ‐
B Belanja Langsung 465.936.374.530,92 ‐15,34%
1 Belanja Honorarium PNS Khusus untuk 
guru dan Tenaga medis                                              ‐                           ‐
2 Belanja Beasiswa Pendidikan PNS 418.000.000,00 ‐1,36%
3 Belanja Jasa Kantor ( Khusus tagihan 
bulanan kantor seperti listrik, air, telepon  8.764.910.769,00 30,42%
dan sejenisnya)
4 Belanja sewa gedung kantor (yang telah  1.479.294.600,00 ‐81,42%
ada kontrak jangka panjangnya)
5 Belanja Sewa perlengkapan dan peralatan 
kantor (Yang telah ada Kontrak jangka  1.315.881.150,00 ‐51,33%
panjangnya)
C Pembiayaan Pengeluaran                                              ‐                           ‐
1 Pembentukan Dana Cadangan                                              ‐                           ‐
2 Pembayaran Pokok Utang                                              ‐                           ‐
TOTAL (A+B+C) 886.752.609.316,92  
 
 
 
 
 

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-15


3.4 Proyeksi Data Masa Lalu

3.4.1 Proyeksi Penerimaan Daerah

Kinerja pendapatan daerah secara keseluruhan mengalami


peningkatan setiap tahunnya, meskipun masih ada beberapa
kendala pada jenis-jenis penerimaan tertentu. Untuk sumber
penerimaan PAD, penyesuaian dan pendekatan spesifik dalam
penanganannya masih dibutuhkan guna mengoptimalkan sumber
penerimaan tersebut, sementara untuk dana perimbangan, secara
khusus Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, kendala seperti
ketidaktersediaan data akurat adalah masalah utama pada
sumber penerimaan tersebut.

Arah kebijakan yang perlu diambil dalam melaksanakan upaya-


upaya peningkatan pendapatan daerah melalui penggalian potensi
dan penyuluhan kepada masyarakat perlu disertai dengan tertib
administrasi pungutan sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Demikian pula peningkatan kualitas pelayanan
kepada masyarakat dilaksanakan secara profesional melalui
peningkatan kompentensi aparatur daerah, kualitas kinerja
layanan lembaga serta penyederhanaan prosedur pengelolaan
pendapatan daerah dalam rangka memenuhi kepuasan pelayanan
masyarakat.

Dalam lima tahun ke depan (2016-2020), Pemerintah Kabupaten


Bintan perlu menempuh langkah-langkah yang dapat menjamin
peningkatan kinerja Pendapatan Daerah tanpa memberikan beban
yang lebih berat kepada masyarakat. Hal ini harus menjadi
komitmen karena merupakan implementasi dari upaya
mewujudkan visi pembangunan Kabupaten Bintan. Pengelolaan
Pendapatan Daerah harus diarahkan pada upaya penggalian
potensi yang dimiliki daerah. Selain berbagai sumber pendapatan
yang telah dikelola selama ini, upaya-upaya yang lebih intensif

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-16


perlu ditujukan pada berbagai sumber pendapatan potensial,
tentu saja dengan memperhitungkan secara cermat kemampuan
ekonomi masyarakat. Arah kebijakan umum yang akan ditempuh
oleh Kabupaten Bintan pada periode Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM, 2016-2021) adalah menggali potensi
perekonomian daerah dan mengelola pendapatan daerah guna
memperkuat perekonomian daerah dan penyelenggaraan otonomi
daerah. Upaya penggalian sumber potensi ini sudah tentu harus
dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada
masyarakat. Untuk mewujudkan arah kebijakan pengelolaan
pendapatan daerah, Kabupaten Bintan perlu secara bertahap
menata infrastruktur dan suprastuktur daerah sehingga dapat
berinteraksi satu dengan yang lain dalam menjalankan fungsi-
fungsi lembaga dan bukannya saling tumpang tindih.

Dengan memperhatikan kewenangan, permasalahan, kebijakan,


potensi, strategi, prioritas dan pertumbuhan ekonomi serta
penataan daerah Kabupaten Bintan dalam lima tahun ke depan,
maka Pendapatan Asli Daerah secara khusus diproyeksikan
meningkat rata-rata sebesar 7,93% per tahun dan pendapatan
daerah diproyeksikan meningkat rata-rata sebesar 6,72% per
tahun.

Proyeksi penerimaan di atas berdasarkan asumsi:

a. Perkembangan ekonomi daerah relatif stabil;

b. Adanya perluasan basis pajak hotel, restoran, dan hiburan


yang selama ini dikenakan objek PPN akan menjadi objek
pajak daerah;

c. Pengalihan kewenangan pemungutan BPHTB dan PBB


Perdesaan dan Perkotaan dari pemerintah pusat ke
pemerintah daerah;

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-17


d. Adanya peningkatan daya beli masyarakat;

e. Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang


Sah diprediksikan meningkat;

f. Adanya situasi dan kondisi yang kondusif.

Dalam upaya peningkatan pengelolaan pendapatan daerah yang


berorientasi pada kepuasan pelayanan masyarakat, maka strategi
kebijakan pendapatan daerah untuk periode tahun 2016-2020
diarahkan pada upaya-upaya sebagai berikut :

a. Intensifikasi dan Ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah


guna meningkatkan kepatuhan dan memperkuat basis pajak
dan retribusi yang sudah ada. Upaya ini meliputi:

b. Penyempurnaan landasan hukum bagi pengenaan pajak dan


retribusi daerah;

c. Sosialisasi dan pemberian penyuluhan yang memadai kepada


masyarakat mengenai ketentuan pajak dan retribusi daerah;

d. Peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan


pendapatan daerah;

e. Peningkatan koordinasi dan kerjasama antar unit satuan kerja


terkait;

f. Peningkatan kualitas aparat pajak dan retribusi daerah;

g. Penyederhanaan dan modernisasi sistem perpajakan dan


retribusi daerah serta mengurangi kontak langsung wajib
pajak/retribusi dengan aparat;

h. Penjaringan data subjek dan objek pajak sarang burung walet


dan air tanah;

i. Updating data basis pajak daerah serta optimalisasi


pemanfaatan data perpajakan yang bersangkutan;

j. Pengkajian penerapan jenis pajak dan retribusi baru;

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-18


k. Pengkajian tarif pajak dan retribusi daerah;

l. Optimalisasi penyerapan penerimaan basis data PBB yang


akan diserahkan ke daerah;

m. Melaksanakan pemeriksaan dan penagihan pajak dan daerah.

n. Mendesain ulang sistem tarif maupun administratif dari


beberapa pungutan sehingga lebih efisien dan efektif secara
ekonomi.

o. Meningkatkan kontribusi penerimaan dari BUMD melalui


upaya perbaikan manajemen, peningkatan profesionalisme,
serta memperkuat permodalan BUMD.

p. Optimalisasi penerimaan yang berasal dari bagi hasil pajak


dan bagi hasil SDA melalui kerjasama pusat dan daerah.

q. Menunjang kegiatan penjaringan subjek Pajak Penghasilan


Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh OPDN).

r. Berupaya untuk memperoleh bantuan dana penyeimbang dan


hibah dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

s. Penyelenggaraan akuntabilitas kinerja pendapatan daerah


sampai pada semua arah, dan ;

t. Pemanfaatan teknologi informasi dan telematika yang aplikatif


terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang
pendapatan daerah.

Melalui strategi di atas diharapkan target-target pendapatan


daerah yang telah ditetapkan untuk lima tahun ke depan dapat
direalisasikan serta pelayanan yang diberikan dapat memuaskan
masyarakat.

3.4.2 Proyeksi Belanja Daerah


Belanja daerah 2016-2020 diarahkan pada upaya peningkatan
proporsi belanja yang memihak kepentingan publik, disamping
tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-19
penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan
efisiensi, efektivitas, dan penghematan sesuai dengan prioritas,
yang diharapkan dapat memberikan dukungan program-program
strategis daerah. Dengan demikian, maka belanja daerah akan
lebih diprioritaskan kepada hal-hal yang menyangkut kebutuhan
dasar masyarakat yaitu:

a. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan;

b. Pembangunan sektor kelautan dan perikanan;

c. Pengembangan potensi pariwisata dan agribisnis;

d. Perluasan kesempatan kerja;

e. Pemberdayaan ekonomi rakyat;

f. Pengembangan iklim investasi dan pembangunan


interkoneksitas;

g. Pembangunan infrastruktur daerah, terutama daerah-daerah


terpencil;

h. Penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan sosial;

i. Peningkatan sumberdaya aparatur dan supremasi hukum;

j. Pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Pada tahun-tahun belakangan sudah terjadi peningkatan alokasi


anggaran untuk sektor pendidikan, kesehatan, perikanan,
pertanian dan agribisnis, serta peningkatan kuantitas dan
kualitas infrastruktur di perdesaan dan daerah terpencil.

Dalam perspektif ini, Pemerintah Kabupaten Bintan harus mampu


menjawab tuntutan tersebut di atas melalui berbagai program dan
kegiatan yang tercemin dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD). Kebijakan tersebut selanjutnya akan dijadikan sebagai
landasan penyusunan anggaran yang lebih bersifat teknis dan
operasional. Pada dasarnya alokasi belanja tahunan daerah,
seperti tercermin pada APBD yang merupakan kerangka kebijakan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-20


publik yang memuat hak dan kewajiban pemerintah daerah dan
masyarakat. Dengan demikian, sudah semestinya penganggaran
tetap mengacu pada norma dan prinsip anggaran yaitu;
transparansi dan akuntabilitas anggaran, disiplin anggaran,
keadilan anggaran, serta efisiensi dan efektifitas anggaran.

3.4.3 Proyeksi Pembiayaan Daerah


Pembiayaan anggaran timbul karena jumlah pengeluaran daerah
lebih besar dari penerimaan sehingga menimbulkan defisit.
Sumber penerimaan untuk pembiayaan anggaran daerah ini dapat
berasal dari sumber – sumber berikut :

a.  Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun lalu (SILPA)


b. Transfer dari dana cadangan;
c. Penerimaan pinjaman dan obligasi ; serta
d. Hasil Penjualan aset daerah yang dipisahkan.

3.5 Perhitungan Kerangka Pendanaan


 
Tabel T‐5 
Kapasitas Rill Kemampuan Keuangan Daerah 
Untuk mendanai Pembangunan Daerah 
Kabupaten Bintan 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-21
 
Tabel T-6
Rencana Penggunaan Kapasitas Rill Kemampuan Keuangan Daerah
kabupaten Bintan
 

 
 
Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia, kemudian
dialokasikan ke berbagai program/kegiatan sesuai urutan
prioritas. Prioritas program/kegiatan dipisahkan menjadi prioritas
I, Prioritas II dan Prioritas III, dimana prioritas I mendapat
prioritas pertama sebelum prioritas II. Prioritas III mendapat
alokasi anggaran setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan
dananya.

Prioritas I

Sesuai dengan yang diamantkan dalam RPJMN (Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional) kepala daerah
harus mempunyai program pembanguan daerah dengan tema
atau program unggulan (dedicated), termasuk untuk prioritas
bidang Pendidikan 20% (Dua puluh persen)

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-22


Program ini harus berhubungan langsung dengan kepentingan
publik yang memiliki manfaat yang tinggi

Prioritas II

Program Prioritas II merupakan program prioritas ditingkat SKPD


yang merupakan penjabaran dari analisis per usulan yang
berdampak luas pada masing-masing segementasi masyarakat
yang dilayani sesuai dengan prioritas.

Prioritas III

Merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-


belanja tidak langsung seperti, tambahan penghasilan PNS,
Belanja Hibah, Bantuan sosial dan organisasi masyarakat.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan III-23


RPJMD 2016-2021

BAB. 4 ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Pembangunan daerah secara sederhana diartikan sebagai sebuah


perubahan tingkat kesejahteraan secara sengaja dan terukur.
Perencanaan daerah juga diharapkan mampu menepis ketidakpastian
dalam proses merubah tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut.
Hakikat perencanaan itu adalah memperkecil peluang munculnya
ketidakpastian.

Dalam arti luas, perencanaan merupakan upaya manusia meminimalkan


ketidakpastian. Dan, perencanaan yang ideal adalah langkah-langkah
yang dilakukan manusia agar ketidakpastian semakin dekat dalam
kehidupan manusia. Salah satu langkah atau tahapan untuk mendekati
perencanaan ideal, sebagai dasar utama perumusan visi dan misi
pembangunan jangka panjang daerah perlu diketahui isu-isu strategis
dan permasalahan-permasalahan pembangunan yang secara eksisting
terjadi.

Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting,


sehingga, penyajian analisis ini akan menjelaskan butir-butir penting isu-
isu strategis yang akan dihadapi dalam pembangunan daerah untuk
waktu 20 (dua puluh) tahun mendatang.

4.1 Permasalahan Pembangunan Daerah

Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan


penyelenggaraan urusan pemerintahan yang relevan atau pada
akhirnya dijadikan dasar dalam perumusan visi dan misi
pembangunan jangka panjang daerah. Dengan demikian
permasalahan pembangunan daerah disajikan dengan merujuk pada
identifikasi permasalahan pembangunan daerah. Identifikasi yang

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-1


dilakukan tidak berdasarkan pada urutan urusan pembangunan,
tetapi lebih diutamakan pada permasalahan yang menonjol dan
urgen. Permasalahan pembangunan daerah yang akan dikelola dan
ditangani adalah yang permasalahan yang memiliki aspek medium
term problem formulation, karena dokumen yang disusun
merupakan dokumen perencanaan jangka menengah.

Formulasi beberapa pokok permasalahan pembangunan jangka


menengah Kabupaten Bintan antara lain sebagai berikut :

4.1.1 Aspek Kesejahteraan Masyarakat


1. Masih rendahnya upaya pembinaan kebudayaan Melayu. Hal
tersebut ditunjukkan dengan kondisi sebagai berikut:
a. Sebagai upaya pembentukan karakter masyarakat atas dasar
nilai keagungan Budaya Melayu, belum terlihat nyata dalam
mengoperasionalkan pepatah “dimana bumi dipijak, disama
langit dijunjung” hingga nuansa kebudayaan Melayu sangat
dirasakan tipis pada kehidupan masyarakat pada umumnya.
b. Lembaga Adat Melayu tidak memiliki nyata kegiatan
menyelenggarakan upaya pembinaan kebudayaan Melayu,
menjadikan tidak terlihatnya sebagai lembaga yang berkewajiban
membina kembangkan budaya Melayu.
2. Masih belum meratanya capaian pendidikan dan jangkauan
pelayanan pendidikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan kondisi
sebagai berikut :
a. Masih terdapat masyarakat yang buta huruf, kondisi angka
melek huruf (AMH) meningkat dari tahun 2010 sejumlah 95,09%
menjadi 97,68% pada tahun 2014, untuk tahun 2011 kondisi ini
masih di atas AMH Nasional yakni 92,99%, tetapi masih di bawah
AMH Provinsi Kepulauan Riau 98,07%, sehingga masih perlu
ditingkatkan;
b. Rata-rata lama sekolah (RLS) meningkat selama lima tahun
terakhir, yakni 8,63 tahun di tahun 2010 menjadi 9,06 tahun

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-2


pada tahun 2011, kondisi ini masih di bawah RLS Provinsi
Kepulauan Riau yakni 9,73 tahun, meskipun sudah di atas RLS
Nasional 7,94 tahun.
c. Masih rendahnya tingkat pendidikan level Sarjana (baik S1-S3)
serta tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk Kabupaten
Bintan Tahun 2014 adalah 3,5% dari jumlah penduduk usia 10
tahun ke atas, sedangkan penduduk usiao 10 tahun ke atas yang
tidak/belum sekolah atau tidak menamatkan SD/MI adalah
22,67%. Adapun tingkat pendidikan yang ditamatkan terbesar
menurut jenjang pendidikan, adalah tamatan SMA/MA sederajat
dan SMK yaitu mencapai 30,74% dari jumlah penduduk usia 10
tahun ke atas.
3. Masih dijumpai permasalahan-permasalahan di bidang kesehatan,
baik jangkauan layanan, aksesibilitas maupun kualitas dan
kuantitas pelayanan. Beberapa indikator dapat dilihat sebagai
berikut :
a. Angka Harapan Hidup (AHH) sebagai general indicator kualitas
kesehatan menunjukkan peningkatan, pada tahun 2010 adalah
69,71 tahun, meningkat pada tahun 2014 menjadi 69,98 tahun,
kondisi ini sudah berada di atas rata-rata Nasional 69,65 tahun,
dan di atas rata-rata Provinsi Kepulauan Riau 69,85 tahun. AHH
secara umum dipengaruhi oleh kualitas hidup masyarakat,
dimulai dari asupan nutrisi yang cukup, pola hidup sehat,
penanganan penyakit dan kualitas lingkungan yang baik,
sehingga masih bisa diupayakan untuk meningkat pada masa
yang akan datang;
b. Masih ditemukannya angka kematian bayi yang merupakan
indikator perhitungan kelangsungan hidup bayi sejumlah 7,5 per
1000 kelahiran hidup pada tahun 2013 dan menurun menjadi
7,2 pada tahun 2014, meskipun demikian angka kematian bayi
masih di bawah standar nasional, sehingga perlu menjadi
perhatian pemerintah mendatang;

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-3


c. Masih ditemukan balita yang gizi buruk, pada tahun 2014
sejumlah 0,21%, sehingga tetap memerlukan penanganan lebih
lanjut dan dilakukan deteksi dini pertumbuhan dan
perkembangan anak dengan unit-unit pelayanan kesehatan yang
telah ada.
d. Terdapat penderita HIV/AIDS, pada tahun 2014 sejumlah 58
orang, sehingga perlu penanganan sangat serius mengingat
penyakit ini tergolong menular dan mematikan, dalam jangka
panjang perlu ditargetkan untuk tidak ada lagi penderita
HIV/AIDS;
e. Masih diketemukan penyandang cacat sejumlah 478 jiwa pada
tahun 2014, khususnya cacat bawaan hal ini disebabkan banyak
faktor, yakni dimulai sejak anak didalam kandungan, pengaruh
penyakit menular, nutrisi, maupun genetis, sehingga
penanggulangannya perlu dilaksanakan secara komprehensif dan
berkelanjutan.

4.1.2 Aspek Pelayanan Umum


1. Kurangnya pemerataan (kualitas dan kuantitas) tenaga pendidik
sesuai karakteristik dan potensi daerah.
Rasio Guru dan Murid, sudah tercukupi untuk pendidikan dasar dan
menengah (rata-rata 1 guru : 11-13 siswa), tetapi sebaran guru dan
kualifikasi pendidikan belum sesuai dengan kebutuhan, terutama
untuk wilayah kepulauan yang berpotensi di bidang kelautan dan
pariwisata, sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan
potensi daerah.
2. Kurangnya pemerataan tenaga Dokter dan Paramedis sesuai
Karakteristik dan potensi daerah
Mengingat jangkauan dan sebaran wilayah Kabupaten Bintan
mayoritas adalah kepulauan, sehingga sesuai standar yang berlaku
tenaga Dokter dan Paramedis sangat kurang serta penyebarannya
belum seimbang, meskipun sarana dan prasarana kesehatan berupa

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-4


rumash Sakit Umum dan Puskesmas telah memenuhi kebutuhan
tetapi masih perlu ditingkatkan untuk untuk pemenuhan pelayanan
kesehatan yang baik dan berkualitas.
3. Masih dijumpainya angka kemiskinan yang signifikan
Pada tahun 2008 angka kemiskinan berkisar 7,6% (sebagian data
menunjukkan angka 11%), walaupun mengalami fluktuasi, menurun
pada tahun 2012 berkisar 7% dan 6,2% pada tahun 2013, dalam
jangka panjang kondisi ini masih bisa ditekan sampai di bawah 5%
mengingat potensi daerah dan sumber daya manusia yang dimiliki
memungkinkan untuk mengurangi angka kemiskinan di bawah 5%;
4. Masih terdapat Penyandang Masalah Sosial (PMKS)
Data pada tahun 2010 menunjukkan PMKS, selain beberapa
permasalahan yang disebutkan di atas seperti kemiskinan,
penyandang cacat dan HIV/AIDS, masih dijumpai warga Lanjut Usia
Terlantar 25 orang, orang, Wanita Tuna Susila 275 orang, Bekas
Narapidana 8 orang, Jumlah KK Rumah Tidak Layak Huni 558 KK,
Korban Bencana Alam 152 orang, Korban Penyalahgunaan Napza 7
orang, kondisi ini merupakan permasalahan serius yang harus
ditangani melalui proses pembangunan yang berkelanjutan untuk
menjamin berkurangnya PMKS;
5. Kurangnya sarana dan prasarana air bersih
Keberadaan sumber air bersih hanya ada di beberapa kecamatan saja
seperti Kecamatan Teluk Bintan, Teluk Sebong, Mantang, Seri Kuala
Lobam, Bintan Pesisir, Gunung Kijang dan Kecamatan Toa Paya yang
umumnya berasal dari sumur gali sehingga dalam jangka panjang
pada musim kemarau di kuatirkan akan kekurangan air bersih.
Ketersediaan sumber air bersih dan sarana prasarana pendukungnya
merupakan salah permasalahan utama yang ada di masyarakat di
masa yang akan datang.
6. Masih rendahnya nilai tambah yang dapat diperoleh masyarakat
dari bidang kelautan, perikanan dan pariwisata

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-5


Peluang pengembangan sumberdaya ikan tangkapan di perairan
Kabupaten Bintan masih bisa dikembangkan. Artinya peningkatan
upaya dan armada masih memungkinkan untuk terus dilakukan agar
pemanfaatan potensi bisa lebih optimal, terlebih dengan optimalisasi
pelaksanaan Minapolitan. Dengan luas wilayah lautan 86.398,33
Km2 yang merupakan 98,50 persen dari total luas wilayah, pada
tahun 2011 kontribusi sektor perikanan terhadap ekonomi wilayah
hanya mencapai 2,14%, demikian juga halnya dengan pariwisata,
kontribusi sektor pariwisata dalam PDRB adalah 19,76% sentra
pengembangan pariwisata alam di kawasan Lagoi dan didukung
sarana pariwisata dan rekreasi yang tersedia di Kabupaten Bintan
berjumlah 39 buah. Jumlah sarana pariwisata paling banyak terdapat
di Kecamatan Teluk Sebong yaitu 23 buah, dan yang paling sedikit
terdapat di Bintan Pesisir yaitu 1 buah, kondisi ini belum mampu
menjadi daya ungkit untuk peningkatan perekonomian masyarakat
secara optimal.
7. Belum terpenuhinya fasilitas perekonomian yang menjamin
optimalnya pemerataaan distribusi dan kemampuan dalam
konsumsi bahan pangan serta barang dan jasa ke masyarakat
Kesejahteraan tidak hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga
belanja yang dikeluarkan. Secara umum terjadi peningkatan
kemampuan daya beli masyarakat selama periode 2009 -2011 di
Kabupaten Bintan. Daya beli Kabupaten Bintan Tahun 2009 tercatat
sebesar 644,59 ribu per orang per bulan dan pada tahun 2010
meningkat menjadi 646,57 ribu. Pada tahun 2011 daya beli
masyarakat Kabupaten Bintan telah mencapai 650,00 ribu. Bila
dibandingkan dengan daya beli secara Nasional dan daya beli Provinsi
Kepulauan Riau maka daya beli masyarakat Kabupaten Bintan telah
lebih baik dari daya beli secara Nasional dan daya beli Provinsi
Kepulauan Riau, tetapi dari data Susenas 2011 tercatat bahwa
penduduk Kabupaten Bintan menghabiskan sekitar 51,53 persen dari
pengeluarannya untuk belanja makanan atau lebih dari separuhnya,

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-6


sehingga perlu dukungan pemerintah untuk mendekatkan produk-
produk tersebut ke masyarakat dan mengantisipasi terjadinya
kenaikan inflasi.
8. Masih terjadi pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup
Pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup terjadi di daratan dan
lingkungan perairan. Untuk perairan, seperti kawasan laut dan
pesisir sedangkan di daratan terjadinya polusi, pencemaran akibat
sampah dan pertambangan tanpa izin (pasir darat dan bauksit) serta
kerusakan kawasan konservasi/hutan. Pencemaran perairan (laut)
masih sering terjadi, dalam hal ini penangannya harus melibatkan
instansi vertikal dan beberapa pihak terkait, termasuk perlu
peningkatan penanganan kerusakan mangrove. Sedangkan untuk
pertambangan potensi pertambangan yang ada di Kabupaten Bintan
berupa pasir, bauksit dan batu granit. Luas lahan kawasan
pertambangan adalah sebesar 4.111 Ha yang lokasinya berada di
Kecamatan Teluk Bintan, Bintan Utara, Teluk Sebong, Bintan Timur
dan Kecamatan Gunung Kijang.kawasan pertambangan tersebar
merata di Kabupaten Bintan di antaranya di Kecamatan Bintan
Timur, Bintan Utara, Kecamatan Teluk Sebong, Kecamatan Teluk
Bintan, dan Kecamatan Gunung Kijang. Pertambangan tanpa ijin
masih terus berjalan, sehingga perlu diperkuat pengawasan dan
pengendaliannya untuk memperbaiki kondisi lingkungan serta perlu
peningkatan kinerja rehabilitasi kawasan eks tambang dan kehati-
hatian dalam proses eksploitasi yang sekarang masih berjalan dengan
memperhatikan Precautionary Principle (prinsip kehati-hatian) agar
tidak merusak lingkungan serta penanganan penambangan ilegal
walaupun sudah ada peraturan perundang-undangan yang melarang
ekspor bauksit dalam bentuk Raw Material.
9. Masih kurangnya keahlian/keterampilan masyarakat berdasarkan
potensi daerah
Survey tenaga kerja (SAKERNAS) 2011 terdapat 71.517 jiwa
penduduk angkatan kerja dan sekitar 92,38 persen diantaranya telah

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-7


bekerja. Dari penduduk yang bekerja, sebagian besar, yaitu sekitar
24,90 persen bekerja di sektor pertanian. Sektor sektor berikutnya
yang cukup besar peranannya dalam ketenagakerjaan diantaranya
sektor perdagangan (20,53 persen), jasa (19,01 persen) dan industri
pengolahan (12,79 persen), mengingat industri pengolahan masih
didominasi oleh pengoalahan logam dan elektronik yang investasinya
mencapai 64.628,70 US $ yang menyerap tenaga kerja sejumlah
4.375 orang, kondisi ini diharapkan bisa bergeser dan dikembangkan
ke arah industri pengolahan khususnya subsektor marine industries
dan hasil kelautan, serta jasa, khususnya pariwisata.
10. Belum optimalnya penggalian potensi dan pelestarian budaya,
khususnya budaya Melayu dan budaya Daerah
Tidak ditemukannya upaya penjabaran filosofi : Adat bersendi syarak,
syarak bersendi Kitabullah” dalam kehidupan saat ini sebagai tanda
berkarakternya kegiatan-kegiatan pada Budaya Melayu. Kegiatan
kesenian di Kabupaten Bintan belum menunjukkan perkembangan
yang pesat, hal ini terlihat dari masih kecilnya jumlah sanggar seni
yang ada. Meskipun demikian, untuk meningkatkan peranan seni dan
budaya di masyarakat pada tahun 2014 pemerintah daerah telah
melakukan kegiatan pembinaan seni pada 10 sanggar seni, dan
belum adanya karya seni dan budaya yang memperoleh penghargaan
dan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.
11. Masih belum terbentuknya sistem pemerintahan yang terintegrasi
dengan tujuan pembangunan dengan berbasis Good Governance.
Saat ini Kabupaten Bintan belum memiliki SKPD dengan pelayanan
sesuai Standar Operasional Prosedur, dan hanya 10 SKPD yang
menerapkan ISO. IKM terkait pelayanan aparatur adalah 72,46,
sedangkan terkait pelayanan umum di kecamatan adalah 72,34, Hasil
evaluasi Kemenpan/BPKP atas Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah Kab. Bintan adalah 30% dan SKPD yang mencapai nilai
LAKIP baik, 16.67%, untuk kondisi pertanahan Kabupaten Bintan
memiliki ±365 Ha Lahan Milik Pemerintah Daerah, 70% Lahan Pemda

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-8


yang tidak bersertifikat dengan bersertifikat 20 sertifikat (persil),
mengingat kawasan yang dikelola Pemerintah Kabupaten Bintan,
termasuk Ibu Kota Kabupaten (Seri Bentan) merupakan kawasan
lindung yang masih dikelola oleh Kementerian Kehutanan, secara
garis besar, kondisi ini perlu diperbaiki dan diselesaikan secara
komprehensif dan tuntas. Dukungan sistem yang baik dan efisien
dengan berorientasi e-gov yang dimulai dari sistem perencanaan
pembangunan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta audit dan
pertanggungjawaban harus terintegrasi dalam satu sistem dan
aparatur yang kuat dan efisien.
12. Kurang optimalnya penataan dan pemanfaatan ruang sesuai
dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah

Saat ini terdapat 1 Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW),
31.926,15 Ha luas wilayah produktif, 3362,63 HA luas wilayah
industri, 104 Ha luas wilayah yang terkena banjir, dan 3.115 Ha luas
wilayah perkotaan, dan 4 dokumen RDTR; Tingkat kesesuaian
pemanfaatan ruang di kawasan strategis dan Kecamatan sebesar
40%, 40% rekomendasi perizinan yang memanfaatkan kesesuaian
lahan, dan tingkat Kesesuaian Pemanfaatan Ruang sebesar 50%,
kondisi ini seiring perencanaan pembangunan jangka menengah,
harus dipacu kesesuaian dan ketaatan dalam implementasinya sesuai
Sub Wilayah Pengembangan mencapai 90%-100%..
13. Masih rendahnya peran pemuda dan perempuan dalam
pembangunan.

Peningkatan pemuda dan perempuan (gender issues) dalam


pembangunan merupakan prasyarat wajib yang harus terlibat.
Optimalisasi peran selama ini melalui pemberdayaan dan pembinaan.
Untuk pemuda, selain prestasi dan kompetensi, diarahkan juga pada
peningkatan prestasi oleh raga, even internasional seperti Tour de
Bintan yang rutin diselenggarakan harus mampu melahirkan atlit-
atlit lokal yang berprestasi internasional. Pembinaan telah dilakukan
kepada 104 organisasi pemuda, 10 kegiatan kepemudaan, 10 unit

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-9


gedung olahraga, 366 klub olahraga, 13 organisasi keluarga, dan 10
kegiatan olahraga. Komposisi peran perempuan dengan meningkatkan
Indeks kesetaraan gender, angka kesetaraan pada tahun 2014
berkisar dari 24,45 dalam jangka 5 tahun ke depan peran pemuda
dan perempuan secara simultan harus ditingkatkan.

4.1.3 Aspek Daya Saing Daerah


1. Tingginya inflasi dan indeks harga konsumen
Berdasarkan data BPS Kabupaten Bintan inflasi tahun 2014 Laju
inflasi tahun kalender (Januari – Desember) Tahun 2014 sebesar 3,32
persen, jauh lebih rendah dibanding laju inflasi periode yang sama
tahun sebelumnya yang mencapai 6,17 persen. Kenaikan Indeks
Harga Konsumen (IHK) dari 129,83 pada Bulan November 2014
menjadi 129,86 pada Bulan Desember 2014 telah menyebabkan pada
Bulan Desember 2014 terjadi inflasi sebesar 0,02 persen. Inflasi pada
bulan ini lebih rendah bila dibandingkan dengan inflasi pada bulan
yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,26 persen. Intervensi
menekan inflasi dan indeks harga konsumen harus dilakukan dengan
berbagai cara dan treatmen yang tepat, mengingat kondisi wilayah
yang tersebar di kepulauan, sehingga harus memunculkan kebijakan
daerah yang mampu menjaga keseimbangan dan menjaga stabilitas
harga yang berlaku.

2. Belum optimalnya iklim investasi daerah, industri kecil menengah


dan masih rendahnya fokus pengembangan ekonomi berbasis
kelautan dan pariwisata

Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain adalah kurangnya


percepatan penanganan perijinan, masih tingginya angka kriminalitas
dan rendahnya daya saing investasi dengan daerah lain. Selama ini
belum ada MOU/perjanjian kerjasama bidang perekonominan yang
dihasilkan,meskipun pengawasan yang terkait dengan kebijakan
perekonomian daerah sebanyak 200 perusahaan. Di Kabupaten
Bintan terdapat 100 unit usaha industri kecil dan menengah, 26 unit
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-10
usaha terkait agroindustri dan hasil hutan, 1 unit usaha yang terkait
dengan pengolahan limbah industri, 6 unit usaha terkait dengan
industri kerajinan rumah tangga. Terdapat 1700 Izin investasi. Rasio
PMA/PMDN sebesar 1/3 dan investasi perusahaan berskala nasional
sebesar 4.400.000 USD. Rasio daya serap tenaga kerja 138,05.
Peluang pengembangan investasi pada bidang ini dalam jangka
panjang sangat memungkinkan, bahkan bisa naik menjadi 7-10 kali
lipat sampai pada tahun 2020.

3. Masih rendahnya infrastruktur dasar (basic infrastructure)


dan infrastruktur penunjang sebagai complementary pusat
pertumbuhan kawasan ASEAN

Berdasar kondisi jalan, tingkat kemantapan jalan sebesar 80%, dalam


kurun waktu dua tahun terakhir tidak ada panjang jalan tanah yang
dibangun (Lintas Timur dan Jalan Strategis Lainnya), panjang jalan
aspal dibangun dan ditingkatkan sebesar 5.25 Km. Dukungan
infrstruktur yang mampu dimanfaatkan dalam skala nasional dan
internasional adalah pelabuhan internasional dan bandara udara.
Integrasi sistem transportasi antar moda baik di darat maupun
perairan harus terwujud pada tahun 2025. Ketersediaan pelabuhan
laut yang ada saat ini berjumlah 53 buah, terdiri dari 32 buah
pelabuhan rakyat, 4 buah pelabuhan yang berada dalam kawasan
KPBPB, 13 buah pelabuhan DUKS (Dermaga Untuk Kepentingan
Sendiri), dan 4 buah pelabuhan khusus negara. Pembangunan
Bandara udara berstandar internasional harus diwujudkan untuk
menguatkan daya saing daerah, sebagai complementary Batam dan
Singapura, Zona Bandar Udara yang disediakan seluas 107,06 Ha
harus ditambah menyesuaikan kebutuhan standar internasional,
sedangkan pelabuhan laut skala internasional sebagai complement
batam dan Singapura dapat segera diwujudkan karena telah
ditetapkan Zona Pelabuhan seluas 2.951,55 Ha (perairan)

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-11


4. Masih dijumpai kriminalitas di masyarakat
Kabupaten Bintan memiliki kepadatan penduduk dan permasalahan
sosial yang tidak terlalu tinggi, tetapi masih menghadapi gangguan
stabilitas sosial dengan adanya tindak pidana (kriminalitas) yang
terjadi di masyarakat. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi daya
saing daerah, khususnya iklim investasi dan jaminan rasa aman dan
nyaman dalam masyarakat. Upaya penurunan tindak pidana harus
dilaksanakan secara integratif dengan bersinergi bersama aparatur
penanggung jawab keamanan (POLRI) dan stake holder-nya.

5. Masih kurangnya inovasi daerah dan lemahnya daya saing


daerah dalam era global

Inovasi dan daya saing sangat berkaitan, inovasi untuk memajukan


aerah sangat dibutuhkan untuk penguatan daya saing daerah,
khususnya Bintan yang memiliki posisi strategis di kawasan ASEAN
dan Asia, selama ini belum ada data yang bisa menunjukkan hasil
inovasi daerah dan keunggulan kompetitif sebagai kekuatan daya
saing berskala nasional dan internasional. Penguatan yang diperlukan
dalam pembangunan jangka panjang adalah: peningkatan kualitas
aparatur yang berstandar internasional baik dari sisi pelayanan
maupun kemampuan perseorangan, minimal pengetahuan dan
pemahaman bahasa internasional beserta attitude nya. Pelayanan
dasar khususnya pendidikan dan kesehatan seharusnya di arahkan
untk berstandar (kualifikasi) internasional, mengingat berlakunya
FTZ, MEA pada tahun 2016. Standar pelayanan dan standar
operasional pemerintahan Kabupaten Bintan harus dirintis
menggunakan standar dan skill internasional, dengan didukung
sarana dan prasarana, infrastruktur dan potensi daerah yang tergali
secara optimal. Kabupaten Bintan bisa diandalkan menjadi pusat
pertumbuhan industri kelautan dan pariwisata alam. Gejala dan bibit
pertumbuhannya sudah nampak, tinggal policy/kebijakan dan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-12


dukungan semua pihak untuk meningkatkan dan mempercepat
pertumbuhannya.

4.2 Isu Strategis

Isu strategis dapat berasal dari dalam berupa permasalahan


pembangunan maupun yang berasal luar dalam skala regional,
nasional maupun international. Sesuai isu-isu strategis yang telah
dihasilkan dalam tahap perumusan yang dilaksanakan dengan focus
group discussion, dituangkan dalam bab ini. Dalam penyajian isu
strategis ini difokuskan pada isu dengan kategori medium term issues
yang diharapkan akan dapat memberikan pengaruh dimasa datang
terhadap pembangunan jangka panjang daerah.

Identifikasi isu yang bersifat strategis diharapkan akan


mempermudah menyatukan pandangan tentang prioritas
pembangunan dan secara teknokratis dapat menjelaskan secara
objektif serta memadai kepada semua pemangku kepentingan.
Analisis terhadap isu-isu yang bernilai strategis merupakan bagian
penting dan perannya sangat menentukan dalam proses penyusunan
rencana pembangunan daerah disamping bersifat melengkapi
tahapan proses yang telah dilakukan sebelumnya.

Merupakan satu keharusan bahwa suatu perencanaan


pembangunan bukan hanya dibuat untuk dan agar dapat diterima
oleh komunitas internal organisasi pembuatnya – dalam hal ini
pemerintah daerah -- melainkan harus dapat diterima semua pihak
di luar organisasi. Oleh karena itu pencermatan dan penelahan
lingkungan eksternal haruslah mendapat bagian yang memadai
dalam proses perencanaan yang bersifat strategis.

Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan


eksternal terhadap proses perencanaan. Jika dinamika eksternal,
khususnya selama 5 tahun yang akan datang diidentifikasi dengan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-13


baik maka pemerintah daerah dapat mempertahankan kelangsungan
penyelenggaraan pemerintahan untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus
diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan
karena dampaknya yang signifikan bagi entitas pemerintahan daerah
dan masyarakat dimasa datang.

Gambar 3.1
Bagan Alir Isu Strategis
Isu strategis
Isu Strategis Isu Strategis
Internasional Isu Strategis
Nasional Regional
ASEAN FTA, Internal Kab
Kebijakan RPJP Prov Bintan
FTZ, MEA,
RPJMN Keppri
ACFTA MDGs

Berdasar studi dan analisis yang dilakukan maka dapat disimpulkan


beberapa hal pokok yang menjadi isu strategis Wilayah Kabupaten
Bintan yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan yaitu:
internasional, nasional dan regional dan lokal

4.2.1 Isu Strategis Internasional


Selain Millenium Development Goals (MDGs), isu strategis
internasional dapat digunakan sebagai daya ungkit untuk memiliki
daya saing yang handal. Untuk mewujudkan hal tersebut,
diperlukan strategi yang tepat melalui penyediaan infrastruktur
yang memadai, sumber daya yang berkualitas, manajemen
pengelolaan wilayah yang efektif mampu mengekspos potensi
daerah. Untuk menghadapi hal ini diperlukan sinergitas antara
pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat yang dilandasi dengan
visi yang jauh ke depan, terukur, dan memperhatikan potensi yang
ada. Dalam kerangka regionalisasi ekonomi yang meliputi MEA,
AFTA+3 (Jepang, China, Korea Selatan), ASEAN-China Free
Trade Agreement (ACFTA) dan Asian Pacific Economic
Cooperation (APEC), serta dimulainya FTZ (Free Trade Zone) yang

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-14


akan langsung berdampak pada pembangunan di wilayah
kabupaten Bintan.

4.2.2 Isu Strategis Nasional


4.2.2.1 Kebijakan RPJPN 2005-2025
Isu strategis nasional bertumpu pada arahan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN 2005-20025) dengan rincian arahan
sebagai berikut :
a. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak Mulia, Bermoral,
Beretika, Berbudaya, dan Beradab
Terciptanya kondisi masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral,
danberetika sangat penting bagi terciptanya suasana kehidupan
masyarakat yangpenuh toleransi, tenggang rasa, dan harmonis. Di
samping itu, kesadaranakan budaya memberikan arah bagi
perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur
budaya bangsa dan menciptakan iklim kondusif dan harmonis
sehingga nilai-nilai kearifan lokal akan mampu merespon
modernisasi secara positif dan produktif sejalan dengan nilai-nilai
kebangsaan.
b. Mewujudkan Bangsa Yang Berdaya-Saing
Kemampuan bangsa untuk berdaya saing tinggi adalah kunci
bagitercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa. Daya saing
yang tinggi, akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangan-
tantangan globalisasi danmampu memanfaatkan peluang yang ada.
Untuk memperkuat daya saing bangsa, pembangunan nasional
dalam jangka panjang diarahkan untuk (a)mengedepankan
pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing;
(b) memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan di
setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun
keterkaitan sistem produksi, distribusi, dan pelayanan di dalam
negeri; (c) meningkatkan penguasaan, pemanfaatan, dan penciptaan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-15


pengetahuan; dan (d) membangun infrastruktur yang maju; serta (e)
melakukan reformasi di bidang hukum dan aparatur negara.
c. Mewujudkan Indonesia yang Demokratis Berlandaskan Hukum
Demokratis yang berlandaskan hukum merupakan landasan penting
untuk mewujudkan pembangunan Indonesia yang maju, mandiri dan
adil. Demokrasi dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
berbagai kegiatan pembangunan, dan memaksimalkan potensi
masyarakat, serta meningkatkan akuntabilitas dan transparansi
dalam penyelenggaraan negara. Hukum pada dasarnya bertujuan
untuk memastikan munculnya aspek-aspek positif dan menghambat
aspek negatif kemanusiaan serta memastikan terlaksananya keadilan
untuk semua warga negara tanpa memandang dan membedakan
kelas sosial, ras, etnis, agama, maupun gender. Hukum yang ditaati
dan diikuti akan menciptakan ketertiban dan keterjaminan hak-hak
dasa rmasyarakat secara maksimal. Untuk mewujudkan Indonesia
yang demokratis dan adil dilakukan dengan memantapkan
pelembagaan demokrasi yang lebih kokoh; memperkuat peran
masyarakat sipil sehingga proses pembangunan partisipatoris yang
bersifat bottom up bisa berjalan; menumbuhkan masyarakat tanggap
(responsive community) yang akan mendorong semangat sukarela
(spirit of voluntarism) yang sejalan dengan makna gotong royong;
memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah; menjamin
perkembangan dan kebebasan media dalam mengomunikasikan
kepentingan masyarakat; melakukan pembenahan struktur hukum
dan meningkatkan budaya hukum dan menegakkan hukum secara
adil, konsekuen, tidak diskriminatif, dan memihak pada rakyat kecil.
d. Mewujudkan Indonesia Yang Aman, Damai dan Bersatu
Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial,
ekonomi,dan budaya yang beragam, bangsa dan negara Indonesia
memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk
menjamin tetap tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Adanya gangguan keamanan dalam berbagai bentuk

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-16


kejahatan dan potensi konflik horisontal akan meresahkan dan
berakibat pada pudarnya rasa aman masyarakat. Terjaminnya
keamanan dan adanya rasa aman bagi masyarakat merupakan
syarat penting bagi terlaksananya pembangunan di berbagai bidang.
e. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan
Pembangunan yang merata dan dapat dinikmati oleh seluruh
komponen bangsa di berbagai wilayah Indonesia akan meningkatkan
partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan, mengurangi
gangguan keamanan, serta menghapuskan potensi konflik sosial
untuk tercapainya Indonesia yang maju,mandiri dan adil.
f. Mewujudkan Indonesia yang Asri dan Lestari
Sumber daya alam dan lingkungan hidup merupakan modal
pembangunan nasional dan, sekaligus sebagai penopang sistem
kehidupan. Sumber daya alam yang lestari akan menjamin
tersedianya sumber daya yang berkelanjutan bagi pembangunan.
Lingkungan hidup yang asri akan meningkatkan kualitas hidup
manusia. Oleh karena itu, untuk mewujudkan Indonesia yang
maju,mandiri, dan adil, sumber daya alam dan lingkungan hidup
harus dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan
pembangunan nasional. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan
yang berkelanjutan di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat
utama dalam pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan.
g. Mewujudkan Indonesia Menjadi Negara Kepulauan yang Mandiri,
Maju, Kuat dan Berbasiskan Kepentingan Nasional
Pembangunan kelautan pada masa yang akan datang diarahkan
pada pola pembangunan berkelanjutan berdasarkan pengelolaan
sumber daya laut berbasiskan ekosistem, yang meliputi aspek-aspek
sumber daya manusia dan kelembagaan, politik, ekonomi,
lingkungan hidup, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan
teknologi.
h. Mewujudkan Indonesia yang Berperan Aktif DalamPergaulan
Internasional

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-17


Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial merupakan amanat konstitusi
yang harus diperjuangkan secara konsisten. Sebagai negara yang
besar secara geografis dan jumlah penduduk, Indonesia
sesungguhnya memiliki peluang dan potensi untuk mempengaruhi
dan membentuk opini internasional dalam rangka memperjuangkan
kepentingan nasional. Dalam rangka mewujudkan Indonesia maju,
mandiri, adil dan makmur, Indonesia sangat penting untuk berperan
aktif dalam politik luar negeri dan kerja sama lainnya baik di tingkat
regional maupun internasional, mengingat konstelasi politik dan
hubungan internasional lainnya yang terus mengalami perubahan-
perubahan yang sangat cepat.

4.2.2.2 Kebijakan RPJMN 2015-2019


Dengan mempertimbangkan masalah pokok bangsa, tantangan
pembangunan yang dihadapi dan capaian pembangunan selama ini,
maka visi pembangunan nasional untuk tahun 2015-2019 adalah:
“TERWUJUDNYA INDONESIA YANG BERDAULAT, MANDIRI, DAN
BERKEPRIBADIAN BERLANDASKAN GOTONG-ROYONG”
Upaya untuk mewujudkan visi ini adalah melalui 7 Misi Pembangunan
yaitu :
1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan
wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan
sumber daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia
sebagai negara kepulauan.
2. Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan, dan demokratis
berlandaskan negara hukum.
3. Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri
sebagai negara maritim.
4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan
sejahtera.
5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-18


6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju,
kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional.
7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Untuk menunjukkan prioritas dalam jalan perubahan menuju Indonesia


yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan
berkepribadian dalam kebudayaan, dirumuskan sembilan agenda
prioritas. Kesembilan agenda prioritas itu disebut NAWA CITA, yaitu:
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan
memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara.
2. Membuat Pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola
pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-
daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem
dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan
terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia.
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar
Internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit
bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-
sektor strategis ekonomi domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa.
9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial
Indonesia.

4.2.3 Isu Strategis Regional

Isu strategis regional yang bisa diformulasikan dari Provinsi Kepulauan


Riau sebagai berikut :

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-19


1. Kemiskinan perlu terus diturunkan
Tingkat kemiskinan di Provinsi Kepulauan Riau cenderung menurun
dalam enam tahun terakhir, yaitu sebesar 8,13% (137.072 jiwa) pada
tahun 2010 menjadi 6,24% (122.398 Jiwa) pada tahun 2015, namun
lebih tinggi jika dibandingkan Bangka Belitung (4,97%).
2. Pengangguran cukup tinggi
Tingkat pengangguran terbuka cukup tinggi, yaitu sebesar 6,20%
pada tahun 2015. Apabila tidak memperoleh perhatian serius angka
pengangguran dapat terus meningkat.
3. Kualitas Pembangunan Manusia belum optimal
IPM Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan kecenderungan
meningkat. Angka IPM pada tahun 2014 sebesar 73,40 perlu terus
ditingkatkan agar kualitas SDM semakin baik, sehingga Angka Usia
Harapan Hidup, Angka Rata-rata Lama Sekolah, Angka Harapan
Sekolah, dan Tingkat pengeluaran perkapita (daya beli) semakin
tinggi.
4. Kesetaraan dan Keadilan Gender masih rendah
IPG Provinsi Kepri pada tahun 2014 baru mencapai 93,20, dan IDG
tahun 2013 sebesar 60,79. Dibandingkan IPM, IPG Provinsi Kepri
masih lebih rendah. Dilihat capaian masing-masing indikator
pembentuk IPG dan IDG, secara umum masih terdapat kesenjangan
hasil pembangunan antara laki-laki dan perempuan pada bidang
pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik.
5. Pemerataan dan Mutu Pendidikan masih rendah
Pemerataan dan kualitas pendidikan masih belum optimal, terkendala
pada kondisi geografis masing-masing kabupaten/kota yang
dipisahkan oleh laut. APK SMA/SMK/MA relatif rendah, baru
mencapai 89,37% pada tahun 2015. Pemerataan guru pada wilayah
terpencil belum merata.
6. Derajat Kesehatan Masyarakat belum optimal
Derajad kesehatan di Provinsi Kepulauan Riau belum optimal. Angka
Usia Harapan Hidup tahun 2014 sebesar 69,97 tahun, AKI sebesar

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-20


137 per 100.000 KH, AKB sebesar 16 per 1.000 KH, AKBa sebesar 25
per 1000 KH dan Gizi Buruk sebesar 0,53%. Prevalensi penyakit
menular dan penyakit tidak menular juga tinggi.
7. Kuantitas dan Kualitas Infrastruktur Belum Memadai
Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik tahun 2015
sebesar 71,97%, Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan 10,20%,
Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air
minum layak 73,57%, Proporsi rumah tangga dengan akses
berkelanjutan terhadap sanitasi dasar 71,35%.
8. Kesenjangan Antar Daerah Cukup Tinggi
Kesenjangan pembangunan antar daerah masih tergolong tinggi,
terutama antara Kota Batam dengan kabupaten/kota yang lain.
Ketimpangan pedapatan antar kelompok penduduk menunjukkan
angka yang cukup tinggi sebesar 0,36 pada tahun 2013.
9. Pengembangan Wilayah Perbatasan Belum Optimal
Kepulauan Riau memiliki 19 Pulau Terluar (Karimun 2, Batam 4,
Bintan 1, Natuna 7, Anambas 5) yang berbatasan langsung dengan
negara tetangga. Baru 1.795 pulau dari 2.408 pulau yang diakui dan
613 masih dalam proses penetapan di PBB. Tingkat pengembangan
wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga belum optimal.
10. Kapasitas Fiskal Daerah Yang Terbatas
Kapasitas keuangan daerah untuk membiayai belanja daerah relatif
kecil, pada tahun 2015 total penerimaan (pendapatan daerah dan
penerimaan pembiayaan daerah) hanya sebesar 2.637 milyar rupiah.
11. Pengembangan Kemaritiman dan pariwisata
Kepulauan Riau memiliki luas wilayah laut seluas 96% dengan
potensi maritim dan wisata yang besar, namun saat ini belum
dikembangkan.
12. Konektivitas Antar Pulau dan Antar Kabupaten Kota
Transportasi udara (penerbangan komersial) belum menjangkau
seluruh Kabupaten; Transportasi antar pulau belum memadai dari
aspek sarpras (pelabuhan dan dermaga dan kapal angkutan umum).

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-21


Hal ini ditandai dengan jumlah pelabuhan internasional 11 unit,
Jumlah pelabuhan barang internasional 6 unit, Pelabuhan Perintis 5
unit, Pelabuhan Samudera 3 unit.
13. Kerentanan terhadap Kerawanan Pangan yang Tinggi
Situasi kerentanan terhadap kerawanan pangan di kabupaten/kota di
Provinsi Kepulauan Riau tergolong tinggi. Berdasarkan peta
ketahanan pangan dan kerentanan pangan kabupaten/kota tahun
2015, dari sebanyak 43 kecamatan, tidak ada kecamatan yang
termasuk Prioritas 1 dan 2, ada 3 kecamatan pada Prioritas 3 (6,98
persen), 10 kecamatan pada Prioritas 4 (23,26 persen), 9 kecamatan
pada Prioritas 5 (20,93 persen), dan 21 kecamatan pada Prioritas 6
(48,84 persen). Kecamatan-kecamatan di Prioritas 3 dan 4 merupakan
kecamatan-kecamatan yang memiliki kerentanan terhadap kerawanan
pangan dan gizi tingkat sedang, sedangkan prioritas 5 dan 6 termasuk
kategori tahan pangan.
Sedangkan kebijakan level Provinsi dalam jangka panjang adalah
sebagai berikut :

1. Mewujudkan Masyarakat Kepulauan Riau yang Memiliki


Kepribadian dan Berakhlak Mulia

Menciptakan kondisi dimana masyarakat Kepulauan Riau yang


memiliki kepribadian dan berakhlak mulia sangat penting sebagai
landasan bagi pelaksanaan pembangunan yang lain. Sikap mental
dan moral mencerminkan budaya suatu masyarakat akan menjadi
ukuran bagi pihak luar dalam memandang Kepulauan Riau.
Pencitraan dan penilaian pihak luar terhadap Kepulauan Riau
merupakan kondisi riil yang menjadi sebuah nilai bagi
masyarakatnya untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan
penilaian tersebut.

2. Mewujudkan Sumberdaya Manusia Kepulauan Riau yang


Berkualitas Pendidikan, Memiliki Etos Kerja dan Produktivitas
Yang Tinggi

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-22


Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan modal dalam
meningkatkan daya saing daerah baik skala nasional dan global.
Pendidikan akan mepengaruhi etos kerja dan akhirnya
meningkatkan daya saing. Daya saing akan memberikan kelenturan
berpikir dan bertindak dalam mengelola peluang dan meningkatkan
tantangan menjadi peluang. Untuk mewujudkan sumber daya
manusia Kepulauan Riau yang berkualitas pendidikan, memiliki etos
kerja dan produktivitas yang tinggi perlu didukung dengan kebijakan
pembangunan.
3. Meningkatkan Daya Saing Daerah Agar Mampu Melaksanakan
Pembangunan Dalam Perekonomian Nasional dan Global
Khususnya Dalam Bidang Industri Pengolahan, Perikanan dan
Kelautan serta Pariwisata.
Kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh kuatnya
pemerintahan namun juga oleh kualitas sumberdaya manusia.
Sumberdaya manusia antar satu daerah dengan daerah lain
memiliki relativitas kemampuan. Untuk mengukur kemampuan
daerah dalam pergaulan secara nasional dan global agar tetap eksis
dapat dilakukan dengan peningkatan daya saing. Daya saing daerah
meliputi seluruh potensi baik sumberdaya alam (SDA), sumberdaya
buatan (SDB), sumberdaya manusia (SDM) dan sumberdaya sosial
(SDS) secara bersama-sama dan terintegrasi mencerminkan kondisi
daerah. Untuk mewujudkan peningkatan daya saing daerah agar
mampu melaksanakan pembangunan dalam perekonomian nasional
dan global.

4. Mewujudkan Masyarakat Kepulauan Riau yang Dapat Memenuhi


Seluruh Kebutuhan Dasar Hidupnya Secara Layak

Masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang seluruh


kebutuhannya terpenuhi dengan ketersediaan bahan kebutuhan
pokok dan pelayanan dasar yang terjangkau. Pembangunan
diarahkan untuk meningkatkan ekonomi daerah dan kesejahteraan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-23


seluruh masyarakat. Untuk mewujudkan masyarakat Kepulauan
Riau yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar hidupnya
secara layak arah kebijakan yang dilakukan mencakup aspek sosial,
ekonomi, infrastruktur dan lainya.

5. Mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau Sebagai Salah Satu Pusat


Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dalam Bidang Industri
Pengolahan, Perikanan dan Kelautan serta Pariwisata

Secara kodrati Kepulauan Riau berdekatan dengan negara yang


sudah maju seperti Singapura dan Malaysia serta didukung oleh
kebijakan pemerintah yang menetapkan Kepulauan Riau sebagai
salah satu kawasan strategis nasional. Potensi dan peluang tersebut
hanya akan memberi manfaat jika dilakukan perencanaan yang
komprehensif dalam menatap masa depan Kepulauan Riau yang
lebih maju. Dengan potensi yang ada, keinginan untuk menjadikan
Kepulauan Riau sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi
nasional tidak bisa ditunda lagi.

4.2.4 Isu Strategis Lokal


Isu strategis yang bisa dimunculkan dari skala lokal, khusus kabupaten
Bintan antara lain berupa :

1. Isu Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, ada 4 isu strategis di anggap paling penting
seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 3.1
Identifikasi Isu-isu Kunci / Strategis Aspek Ekonomi Prioritas

No Isu
1. Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan
Bebas
2. Pengembangan Kawasan Minapolitan
3. Pegembangan Pariwisata
4. Peningkatan Aksesibilitas Ke Pulau- Pulau Kecil
5. Pengembangan infrastruktur jalan, terminal, pelabuhan dan
lapangan udara berskala internasional

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-24


a. Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan
Internasional
Pemerintah Kabupaten Bintan mendukung program pemerintah pusat
yaitu pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan
Bebas di Provinsi Kepulauan Riau yang mencakup wilayah yang lebih
luas meliputi wilayah Batam, Bintan, dan Karimun. Upaya
pengembangan kawasan khusus tersebut juga mendapat dukungan
dari Pemerintah Singapura dengan ditandatanganinya Nota
Kesepakatan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah
Singapura pada tanggal 25 Juni 2006 tentang Kerjasama
Pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus di Provinsi Kepulauan Riau.

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam,


Bintan, Karimun (BBK) merupakan salah satu Kawasan Strategis
Nasional (KSN) dan kandidat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam
bentuk KPBPB. Terkait dengan pengembangan kawasan ini, telah
terdapat suatu proses penandatanganan kesepakatan kerjasama
ekonomi antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Singapura.
Kesepakatan kerjasama tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan
adanya penetapan lokasi pengembangan KPBPB melalui Peraturan
Pemerintah No.46/2007 untuk KPBPB Batam, PP No.47/2007 untuk
KPBPB Bintan dan PP No.48/2007 untuk KPBPB Karimun. Dalam
rangka upaya operasionalisasi KPBPB Batam, Bintan, Karimun telah
ditetapkan pula Peraturan Presiden No. 9, 10, dan 11 Tahun 2008
tentang Dewan Kawasan KPBPB Batam, Bintan, Karimun sebagai
bentuk kelembagaannya.

Selain kebijakan-kebijakan tersebut diatas yang telah menjadi


komitmen Pemerintah Indonesia, maka bila ditinjau dari aspek sistem
perkotaan nasional dan posisi geografisnya, kawasan BBK ini juga
memiliki potensi besar, antara lain :

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-25


 Fungsi Kawasan BBK secara nasional adalah sebagai Pusat
Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Strategis Nasional
(PKSN), dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang strategis;
 Secara geografis, kawasan BBK terletak pada jalur perdagangan
internasional yang menjadikannya sebagai pintu gerbang
masuknya arus investasi asing ke Indonesia, terutama karena
kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia. Apabila didukung
dengan keberadaan infrastruktur yang sesuai dan kompetitif,
maka kawasan ini dapat menjadi kawasan yang kompetitif dan
berdaya saing tinggi;
 Kawasan BBK terletak di tengah pasar internasional (Singapura,
China, India, Australia, dan pasar dunia yang lebih luas lainnya).

Dalam PP tersebut lokasi FTZ Bintan terdiri dari kawasan Bintan


Utara dengan liputan wilayah hampir setengah pulau Bintan.
Disamping itu, terdapat 5 lokasi lain yang berupa enclave yaitu
kawasan Anak Lobam, kawasan maritim Bintan Timur, kawasan
Galang Batang, kawasan Senggarang dan kawasan Dompak. Pulau
Bintan merupakan wilayah yang cukup siap untuk menarik investasi.
Keberadaan bonded zones di Bintan menyebabkan kawasan ini tidak
asing lagi bagi investor yang ingin menanamkan investasinya di sektor
industri manufaktur. Selain itu, Bintan selama ini juga telah menjadi
lokasi kunjungan wisatawan mancanegara, walaupun yang terbesar
masih berasal dari Singapura. Ditinjau dari sisi infrastruktur,
sekalipun belum sebaik Batam, namun Bintan telah memiliki fasilitas
pelabuhan laut dan pelabuhan udara. Dengan adanya pemekaran
wilayah, maka Kota Tanjung Pinang menjadi suatu wilayah
administratif yang berdiri sendiri. Namun demikian, dalam konteks
KEK BBK, penyebutan Bintan akan secara implisit diartikan sebagai
keseluruhan pulau Bintan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-26


b. Pengembangan Kawasan Minapolitan
Pemerintah melalui kebijakannya mengeluarkan Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil dan pada Pasal 63 ayat 1 dinyatakan bahwa pemerintah
dan pemerintah daerah wajib memberdayakan masyarakat dalam
meningkatkan kesejahteraannya. Ini berarti bahwa model-model
pemberdayaan akan terus bergulir sehingga penentuan model
pemberdayaan yang berbasis sosio-ekologi dan karakteristik daerah
nelayan adalah hal yang sangat perlu untuk dilakukan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor


12/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, maka
wilayah perairan Kabupaten Bintan termasuk salah satu kawasan
minapolitan yang ada di Indonesia. Secara keseluruhan luas wilayah
Kabupaten Bintan adalah 88.038,54 Km2 terdiri atas wilayah daratan
seluas 1.946,13 Km2 dan wilayah laut seluas 86.398,33 km2
(97,74%). Pada tahun 2009, volume produksi perikanan mencapai
20.083,35 Ton dan mengalami peningkatan produksi sebesar 4,18
persen dari tahun sebelumnya, dengan nilai produksi mencapai
157,76 Milyar Rupiah atau meningkat sebesar 3,56%. Hal ini
menunjukan bahwa potensi perikanan di Kabupaten Bintan cukup
besar, mengingat luas perairan yang jauh lebih besar dibandingkan
luas daratannya.

Berdasarkan potensi yang ada maka Pemerintah Kabupaten Bintan


melalui SK Bupati Bintan No : 377/VIII/2010, telah menetapkan
Kecamatan Mantang, Kecamatan Bintan Pesisir dan Kecamatan
Bintan Timur sebagai kawasan Minapolitan di Kabupaten Bintan
dengan fokus pengembangan perikanan tangkap di Kecamatan Bintan
Timur dengan komoditas ikan pelagis dan demersal, serta
pengembangan perikanan budidaya di Kecamatan Mantang dan
Kecamatan Bintan Pesisir dengan komoditas rumput laut, kerapu dan
teripang.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-27


Dengan di tetapkannya Kabupaten Bintan sebagai salah satu daerah
kawasan minapolitan dimana Kecamatan Mantang Sebagai Tempat
Budidaya, Kecamatan Bintan Timur, dan Kecamatan Bintan
Pesisirsebagai sentra pemasaran dan Kecamatan Bintan Pesisir
sebagai penagkapan ikan dan budidaya rumput laut. Potensi kelautan
dan perikanan di Kabupaten Bintan sangat besar karena hampir 98%
wilayah Kabupaten Bintan adalah lautan. Potensi perikanan yang
dimiliki Kabupaten Bintan terdiri dari perikanan tangkap, perikanan
budidaya, pengolahan produk perikanan, industri bioteknologi
kelautan, industri sumberdaya laut-dalam dan pemanfaatan muatan
barang kapal tenggelam, wisata bahari dan potensi mangrove dan
terumbu karang. Komoditas hasil kelautan dan perikanan yang
dikembangkan di Kabupaten Bintan merupakan komoditas unggulan
yang terdiri dari rumput laut (seaweed), padang lamun (seagrass), ikan
dan biota laut ekonomis tinggi serta komoditi hasil budidaya
perikanan.

c. Pegembangan Pariwisata

Kepariwisataan Provinsi Kepulauan Riau yang diimplementasikan ke


dalam 6 (enam) Unit Pengembangan Wilayah Pariwisata, maka
Kabupaten Bintan ini termasuk dalam Unit Pengembangan Wilayah
Pariwisata B yang pengembangannya diarahkan pada pengembangan
wisata terpadu (Kawasan Lagoi dan Kuala Sempang), ekowisata
(Kawasan Air Terjun Gunung Bintan), wisata religi/sejarah (Kawasan
Kota Kara dan Bukit Batu), wisata bahari (Kawasan Lagoi, Sakera
Tanjung Uban di Kecamatan Bintan Utara, Kawasan Trikora di
Kecamatan Gunung Kijang, kawasan Berakit dan beberapa pulau di
Kecamatan Tambelan, Bintan Pesisir dan Mantang), Desa Wisata
(Kawal dan Teluk Bakau di Kecamatan Gunung Kijang, Sebong Pereh,
Sei Kecil, Sebong Lagoi dan Berakit di Kecamatan Teluk Sebong,
Malang Rapat, serta Bintan Bekapur di Kecamatan Teluk Bintan).

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-28


d. Peningkatan Aksesibilitas Ke Pulau-Pulau Kecil

Wilayah Kabupaten Bintan berupa wilayah yang terdiri atas beberapa


gugusan pulau besar dan kecil, sehingga membutuhkan penyediaan
prasarana dan sarana wilayah dengan biaya tinggi (high cost),
sehingga aksesibilitas menuju ke beberapa gugus pulau kecil di
Kabupaten Bintan, terutama ke Pulau Tambelan terbatas. Selain itu
belum meratanya penyediaan prasarana dan sarana sosial ekonomi
wilayah, khususnya di beberapa pulau kecil, merupakan salah satu
isu utama di Kabupaten Bintan.

e. Pengembangan infrastruktur jalan, terminal, pelabuhan dan


lapangan udara

Selain jaringan jalan, rencana pengembangan sistem jaringan


trasportasi darat juga diarahkan pada pembentukan simpul-simpul
transportasi yaitu berupa terminal transportasi darat, pelabuhan dan
lapangan udara.

2. Isu Sosial – Masyarakat


Dalam bidang Sosial-Masyarakat, ada 2 isu strategis di anggap paling
penting seperti terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 3.2
Isu-isu Kunci / Strategis Aspek Sosial – Masyarakat Prioritas
No Isu
1. Pemerataan Penduduk dan Peningkatan Pelayanan Dasar
2. Sinkronisasi Kebijakan/Aturan

a. Pemerataan Penduduk dan Pelayanan Dasar

Pada tahun 2008 penduduk Kabupaten Bintan tercatat 125.028 jiwa


yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki 61.138 jiwa dan jenis kelamin
perempuan 63.920 jiwa dengan jumlah penduduk terbesar tedapat di
Kecamatan Bitan Timur (35.676 jiwa), sedangkan jumlah penduduk
terkecil terdapat di Kecamatan Mantang (3.673 jiwa). Apabila
dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2004 yang berjumlah
115.675 jiwa, maka laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2004-

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-29


2008 sebesar 1,62% per tahun. Kepadatan penduduk terbesar
terdapat di Kecamatan Bintan Utara dengan tingkat kepadatan
sebesar 64 jiwa/Km2, dan wilayah di Kabupaten Bintan yang memiliki
kepadatan penduduk terendah adalah di Kecamatan Tambelan dan
Teluk Sebong dengan tingkat kepadatan sebesar 28 jiwa/Km2.
Karakteristik geografis yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil
menyebabkan jarak menjadi kendala sehingga pembangunan menjadi
kurang merata. Selain itu keberpihakan yang terlalu besar pada FTZ
belum dirasakan dampak multiplier-nya terhadap kemerataan
kesejahteraan masyarakatBelum optimalnya pelayanan dasar ke
beberapa pulau-pulau kecil di Kabupaten Bintan menjadi salah satu
isu utama, hal ini disebabkan oleh masih rendahnya aksesibilitas
menuju remote area.

b. Sinkronisasi Kebijakan dan Aturan

Banyak kebijakan antar sektor dan antar daerah yang belum padu
dan sinkron sehingga tumpang tindih bahkan bertabrakan satu sama
lain. Sinkronisasi kebijakan di sini adalah perizinan yang terkait
dengan izin pemanfaatan ruang yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan/atau
pemerintah daerah harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan
ruang. Izin dimaksud antara lain berupa izin lokasi/fungsi ruang,
amplop ruang, dan kualitas ruang. Dengan demikian, perizinan
pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Bintan, dikeluarkan oleh
sesuai dengan kewenangan masing-masing yang telah diatur dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Isu Lingkungan
Dalam bidang Lingkungan, ada 4 isu strategis di anggap paling penting
seperti terlihat dalam table berikut :

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-30


Tabel 3.3
Isu-isu Kunci / Strategis Aspek Lingkungan Prioritas
No Isu
1. Kecenderungan Kawasan Lindung untuk Budidaya
2. Peningkatan Kualitas Lingkungan
3. Pengolahan Sampah
4. Peningkatan Kualitas Air Baku

a. Kecenderungan Kawasan Lindung Untuk Budidaya

Isu kawasan lindung untuk budidaya muncul karena banyak kegiatan


pembangunan baik berupa pembangunan permukiman perkotaan
maupun tambang yang merusak kelestarian hutan. Tentunya ini akan
dapat mengancam kelangsungan kehidupan di wilayah Kabupaten
Bintan yang terdiri dari pulau-pulau kecil yang umumnya memiliki
keterbatasan dalam hal ketersediaan air tawar. Keberadaan hutan
memiliki fungsi penting untuk dapat menjaga fungsi tata air dan
menjamin ketersediaan air bersih di wilayah Kabupaten Bintan yang
terdiri dari pulau-pulau kecil. Selain itu kehilangan hutan akibat
pemangkasan lahan yang umumnya berbukit untuk permukiman
perkotaan juga mengakibatkan meluasnya kawasan rawan kejadian
bencana tanah longsor.

b. Peningkatan Kualitas Lingkungan

Pencegahan pencemaran darat, perairan dan laut juga menjadi isu


lingkungan yang menjadi prioritas. Hal ini terkait dengan
berkembangnya aktivitas industri, pertambangan dan permukiman
yang seringkali tidak dilengkapi dengan perencanaan dan instalasi
pengolahan sampah dan limbah yang memadai. Sebagai akibatnya
kondisi lingkungan menjadi semakin buruk karena perkembangan
berbagai aktivitas tersebut. Dengan daya dukung lingkungan pulau
kecil yang terbatas, maka pencemaran darat, perairan dan laut ini
akan mengganggu keberlangsungan ekosistem termasuk juga aktivitas
ekonomi masyarakat yang ada di wilayah Kabupaten Bintan.
Banyaknya aktifitas pembangunan yang tidak dilengkapi dengan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-31


AMDAL juga menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas
lingkungan. Selain itu, kurang optimalnya pengawasan terhadap
kegiatan pembangunan juga akan menimbulkan penurunan kualitas
lingkungan.

c. Pengolahan Sampah

Sistem pengelolaan sampah dititik beratkan untuk mencegah


terjadinya masalah-masalah lingkungan, seperti pencemaran
lingkungan, timbulnya genangan, gangguan estetika dan penyebaran
penyakit. Dalam implementasinya pengembangan sistem pengelolaan
persampahan diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang bersih
dan sehat, yang penanganannya diprioritaskan untuk daerah-daerah
pusat kota yang belum mendapat pelayanan dan daerah permukiman
baru. pengolahan sampah yang dilakukan di TPA dengan cara sistem
open dumping, yang selanjutnya ditingkatkan menjadi sistem lahan
urug (sanitary land fill) yang dilengkapi sarana sistem drainase
permukaan maupun bawah permukaan, sistem pembuangan gas yang
dihasilkan oleh proses dekomposisi sampah dan sumur (pipa)
pemantau leachate (cairan yang ditimbulkan oleh sampah), serta daur
ulang. Selain itu sampah-sampah yang mempunyai potensi untuk
dapat dimanfaatkan kembali, seperti plastik, kertas dan kaleng dapat
dijadikan sebagai bahan baku industri pengolahan sampah, yang
selanjutnya dilakukan proses pengolahan dari sampah yang telah
dipisahkan menjadi bahan baku atau barang jadi.

d. Pencegahan Dan Pencemaran Air Baku

Pencemaran perairan dapat mengganggu ketersediaan air baku dan


aktivitas perikanan budidaya air tawar, sedangkan pencemaran laut
akan mengganggu keberlangsungan aktivitas perikanan tangkap
maupun budidaya laut.Kabupaten Bintan sangat mengandalkan
sumber air permukaan sebagai sumber air baku yang dapat
dimanfaatkan untuk air minum. Alternatif lain pemenuhan
kebutuhan air minum dapat dilakukan dengan membuat bak-bak

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-32


penampung air hujan yang dikelola secara individu, berupa sumur
penampungan air hujan yang dibuat di halaman rumah dengan
menggunakan material yang lulus air dan tahan longsor, serta harus
bebas dari kontaminasi atau pencemaran limbah.

4. Isu-isu Kunci Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Bintan


Hasil kompilasi isu-isu kunci maka diperoleh 11 (sebelas) isu kunci
pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bintan.

Tabel 3.4
Daftar 11 Isu Kunci Pembangunan Berkelanjutan Di Kabupaten Bintan
No ISU
ASPEK EKONOMI
1. Pengembangan Kawasan Pelabuhan Bebas Dan Pelayaran Bebas
2. Pengembangan Kawasan Minapolitan
3. Pengembangan Pariwisata
4. Peningkatan Aksebilitas Ke Pulau- Pulau Kecil
5. Pengembangan infrastruktur jalan, terminal, pelabuhan dan
lapangan udara
ASPEK SOSIAL
6. Pemerataan Penduduk Dan Peningkatan Pelayanan Dasar
7. Sinkronisasi Kebijakan/Aturan
ASPEK LINGKUNGAN
8. Kecendrungan Kawasan Lindung untuk Budidaya
9. Peningkatan Kualitas Lingkungan
10. Pengolahan Sampah
11. Peningkatan Kualitas Air Baku

5. Isu Pengembangan Wilayah Berdasarkan Rencana Tata Ruang


Dalam menentukan isu strategis dan visi, misi serta arah kebijakan
pembangunan perlu dipertimbangkan perwilayahan pembangunan secara
keruangan dan pusat kegiatan yang direncanakan sesuai dengan RTRW
Kabupaten Bintan tahun 2011-2031.

Tabel 3.4
Sistem Perkotaan Kabupaten Bintan

Skala Arahan Pengembangan


No. Hierarki Pusat Fungsi
Pelayanan Infrastruktur
1. PKL Bandar Seri Regional dan Pusat Pemerintahan Fasilitas pelayanan publik
Bentan Kabupaten Kabupaten, Pusat untuk tingkat kabupaten,
(Orde I) Perdagangan Jasa dan pelabuhan regional,

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-33


Skala Arahan Pengembangan
No. Hierarki Pusat Fungsi
Pelayanan Infrastruktur
Pemasaran, Pusat Produksi jaringan jalan yang
Pengolahan, Pusat terintegrasi (arteri,
Pelayanan Sosial, Pusat kolektor, dan lokal),
Kegiatan Pariwisata terminal regional

2. PKL Kijang Kabupaten Pusat permukiman, Fasilitas pelayanan publik


(Orde II) dan pendidikan, pertambanga, untuk tingkat kabupaten,
Kecamatan pertanian, perikanan, pelabuhan regional,
perdagangan dan jasa, jaringan jalan (arteri,
wisata, dan industri kolektor dan lokal),
terminal regional

3. PKL Tanjunguban Kabupaten Pusat permukiman, Fasilitas pelayanan publik


(Orde II) dan pertanian, Pendidikan, untuk tingkat kabupaten,
Kecamatan perdagangan dan jasa, pelabuhan regional,
wisata, dan industri jaringan jalan (arteri,
kolektor dan lokal),
terminal regional

3. PKLp Teluk Sekuni Kecamatan Pusat Permukiman, Fasilitas pelayanan publik


(Tambelan) konservasi, pertanian, untuk tingkat kecamatan
(Orde II) perikanan, dan wisata kepulauan, pelabuhan
lokal, jaringan jalan (lokal),
terminal lokal

4. PPK Orde III Kecamatan Pusat permukiman skala Fasilitas pelayanan publik
 Teluk Lobam kecamatan untuk tingkat kecamatan,
 Kota Baru jaringan jalan (lokal),
 Tembeling terminal lokal
Tanjung
 Kelong
 Mantang
 Kawal

5. PPL  Sebong Pereh Antar Desa Pusat permukiman skala Fasilitas pelayanan publik
 Malang Rapat lingkungan untuk tingkat desa dan
 Kuala lingkungan, jaringan jalan
Sempang (lokal)
 Sri Bintan
 Air Gubi
 Mantang Baru
 Berakit
 Numbing
 Penaga
 Toapaya
Selatan
 Toapaya Asri

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-34


Arahan Kawasan Strategis Kabupaten Berdasarkan pertimbangan dan
kriteria yang telah ditetapkan, maka secara keseluruhan usulan Kawasan
Strategis Kabupaten sesuai dengan RTRW Kabupaten Bintan tahun 2011-
2031 adalah sebagai berikut:

(1) Kawasan strategis Kabupaten Bintan, meliputi :


a. kawasan Industri Lobam;
b. kawasan Industri Galang Batang;
c. kawasan Industri Maritim di Kecamatan Bintan Timur;
d. kawasan Pariwisata Lagoi;
e. kawasan Pariwisata Sebong Pereh dan Sebong Lagoi;
f. kawasan Pariwisata sepanjang pantai Trikora dan sepanjang
pantai di Kecamatan Gunung Kijang;
g. kawasan Taman Wisata Laut Pulau Tambelan di Kecamatan
Tambelan;
h. kawasan Ibukota Kabupaten Bintan Bandar Seri Bentan;
i. kawasan Wisata Terpadu Kuala Sempang;
j. kawasan Wisata Bahari di Mapur;
k. kawasan Perkotaan Kijang dan Tanjung Uban;
l. kawasan Minapolitan Mantang, Bintan Timur dan Bintan Pesisir;
m. kawasan strategis Pusat Kegiatan Lokal Promosi Tambelan.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan IV-35


RPJMD 2016-2021

BAB. V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

5.1 VISI

Visi merupakan arah pembangunan atau kondisi masa depan


daerah yang ingin dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang. Visi juga
harus menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu
strategis yang harus diselesaikan dalam jangka menengah serta sejalan
dengan visi dan arah pembangunan jangka panjang daerah.

Kabupaten Bintan yang lebih sejahtera adalah cita-cita dan


harapan bersama dengan tekad melakukan sejumlah perubahan-
perubahan mendasar untuk mempersiapkan pondasi yang kuat bagi
pembangunan Kabupaten Bintan pada periode 2016-2021, guna
menyongsong terwujudnya Kabupaten Bintan Gemilang pada 2025.

Dengan mempertimbangkan kondisi daerah, permasalahan


pembangunan, tantangan yang dihadapi serta isu-isu strategis,
dirumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan jangka
menengah daerah maka Visi Kabupaten Bintan tahun 2016-2021 adalah :

Terwujudnya Kabupaten Bintan yang Madani dan Sejahtera

Melalui Pencapaian Bintan Gemilang 2025 (Gerakan Melangkah Maju


di Bidang Kelautan, Pariwisata, dan Kebudayaan)”

Adapun penjelasan visi tersebut berdasarkan kata kunci adalah sebagai


berikut :

Madani :

1. Masyarakat yang beradab dan agamis

2. menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan;

3. masyarakat yang demokratis

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 1 


 
4. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi

5. Program-program pembangunan berbasis masyarakat

Madani merupakan perwujudan dari masyarakat yang beradab,


menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan
ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sebuah masyarakat demokratis dimana
para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam
menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya;
dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi
kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program
pembangunan di wilayahnya. Namun demikian, masyarakat madani
bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara, taken for
granted. Masyarakat madani adalah konsep yang dibentuk dari poses
sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus.

Sejahtera :

1. Kesehatan

2. Pendidikan

3. Daya beli

Kesejahteraan yang ingin diwujudkan merupakan kesejahteraan


yang berbasis pada ketahanan keluarga dan Iingkungan sebagai dasar
pengokohan sosial. Masyarakat sejahtera tidak hanya dalam konteks
lahiriah dan materi saja, melainkan juga sejahtera jiwa dan batiniah.
Kesejahteraan dalam artinya yang sejati adalah keseimbangan hidup yang
merupakan buah dari kemampuan seseorang untuk memenuhi tuntutan
dasar seluruh dimensi dirinya, meliputi ruhani, akal, dan jasad. Kesatuan
elemen ini diharapkan mampu saling berinteraksi dalam melahirkan
masa depan yang cerah, adil dan makmur. Keterpaduan antara sejahtera
lahiriah dan batiniah adalah manifestasi dari sejahtera yang paripurna.
Kesejahteraan yang seperti inilah yang akan membentuk kepecayaan diri
yang tinggi pada masyarakat Kabupaten Bintan untuk mencapai kualitas

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 2 


 
kehidupan yang semakin baik, hingga menjadi teladan bagi daerah
lainnya.

Bintan Gemilang 2025 Gerakan Melangkah Maju di Bidang:

1. Kelautan

2. Pariwisata

3. Kebudayaan

Memiliki arti “Gerakan Melangkah Maju”, gerakan yang dimaksud


merupakan gerakan pembangunan yang dilakukan secara terencana dan
bertahap untuk lebih maju yang melibatkan secara aktif seluruh pihak di
kabupaten Bintan dengan jangka waktu target capaian sampai tahun
2025. Pembangunan dikembangkan sesuai potensi dan keunggulan
kabupaten Bintan, yaitu sektor kelautan dan pariwisata sebagai core dan
sekaligus sebagai driver activity. Serta dengan melestarikan dan
memajukan seluruh hasil kegiatan dan penciptaan akal budi masyarakat
seperti kesenian, dan adat istiadat dengan bersandar pada Budaya
Melayu.

5.2 Misi

Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan tersebut maka


ditentukan 8 (delapan) Misi pembangunan 2016-2021 yang akan dicapai
yaitu:

1. Mewujudkan Kabupaten Bintan sebagai daerah tujuan investasi yang


berdaya saing dengan mengoptimalkan potensi ekonomi lokal
terutama di bidang pariwisata dan kelautan.
2. Mewujudkan pelayanan infrastruktur daerah yang berkualitas,
terintegrasi dan merata.
3. Mewujudkan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik
(good governance) dan demokratis sebagai langkah melayani
masyarakat dengan sepenuh hati.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 3 


 
4. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan serta kualitas SDM
agar bisa bersaing dalam kompetisi global.
5. Mewujudkan pembangunan karakter masyarakat yang religius dan
berbudaya Melayu sebagai landasan pembangunan masyarakat.
6. Mengoptimalkan pemberdayaan masayarakat, Mewujudkan
Kesejahteraan Sosial dan pengarusutamaan gender dalam berbagai
aspek pembangunan.
7. Memberdayakan pemuda sebagai pelopor pembangunan di Kabupaten
Bintan
8. Mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas
pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

5.3 Tujuan dan Sasaran

Penetapan tujuan dan sasaran di dasarkan pada faktor-faktor


kunci keberhasilan yang dilakukan setelah penetapan visi dan misi.
Tujuan dan sasaran dirumuskan dalam bentuk yang lebih tepat dan
terarah dalam rangka mencapai visi dan misi Pemerintah Kabupaten
Bintan.

Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan


misi dan tujuan adalah hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan
dalam jangka waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun. Sedangkan
sasaran adalah penjabaran dari tujuan, yaitu sesuatu yang akan dicapai
atau dihasilkan oleh organisasi pemerintah dalam jangka waktu tahunan,
semesteran, triwulanan, atau bulanan. Sasaran diusahakan dalam
bentuk kuantitatif sehingga dapat diukur. Sasaran ditetapkan dengan
maksud agar perjalanan atau proses kegiatan dalam mencapai tujuan
dapat berlangsung secara fokus, efektif, dan efisien.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 4 


 
Tabel 5-1
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 1

Misi 1: Mewujudkan Kabupaten Bintan sebagai daerah tujuan investasi yang berdaya saing dengan mengoptimalkan
potensi ekonomi lokal terutama di bidang pariwisata dan kelautan
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Tujuan 1 : Terciptanya iklim yang kondusif bagi penanaman modal untuk kegiatan pembangunan di wilayah Kabupaten Bintan
yang sesuai dengan tata ruang
1 Meningkatnya realisasi Jumlah nilai investasi
investasi dan pelayanan perusahaan berskala
juta USD 1,251 1,251 1,351 1,451 1,551 1,661 1,771
perijinan nasional (PMA/PMDN) juta
USD
3-14 3-14 3-14 3-14 3-14
Lama proses perijinan hari 3-14 hari 3-14 hari
hari hari hari hari hari
Jumlah perijinan non
investasi yang dapat Ijin 350 375 400 425 450 475 500
diproses dalam satu tahun
2 Meningkatnya tingkat Jumlah dokumen tata
kepatuhan masyarakat ruang dan turunannya
perda 1 1 2 2 2 2 2
terhadap perda penataan yang diperdakan /
Ruang diperbupkan
Tingkat kesesuaian
% 75 75 95 95 95 95 95
pemanfaatan ruang

Tujuan 2 : Mengoptimalkan potensi ekonomi lokal terutama di bidang pariwisata dan Kelautan
1 Meningkatnya jumlah
Meningkatnya jumlah desa
kunjungan wisatawan Desa 0 5 5 5 5 5 5
wisata
nusantara dan mancanegara
Meningkatnya kunjungan Wisatawa 550.00
493.595 600.000 650.000 700.000 750.000 750.000
wisatawan n 0

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 5 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
2 Meningkatnya pengembangan Jumlah jasa pariwisata
Usaha
usaha dan industri pariwisata yang telah memiliki Tanda
pariwisat 20 23 25 30 32 39 39
melalui kemitraan dan Daftar Usaha Pariwisata
a
pembinaan BUMD (TDUP)
Persentase Pelaku Usaha
% 20 25 30 35 40 45 50
yang terlatih
Jumlah BUMD yang 2
BUMD 2 BUMD 2 BUMD 2 BUMD 2 BUMD 2 BUMD 2 BUMD
beroperasi BUMD
3 Meningkatnya jumlah Produksi perikanan 1.798,4
Ton 1.696,63 1.906,33 2.020,71 2.141,96 2.270,47 2.406,70
produksi perikanan budidaya 3
Jumlah sarana dan unit,
2, 450, 2, 475, 2, 500, 2, 550, 2, 575, 2, 600,
prasarana budidaya kantong, 2, 403, 129
130 130 130 130 130 130
perikanan ha
Persentase kelompok
% 45 50 55 60 65 70 75
nelayan yang aktif
Persentase Kelompok
Pembudidayaan Ikan % 45 50 55 60 65 70 75
(POKDAKAN) aktif
Persentase UMKM
% 45 50 55 60 65 70 75
perikanan yang aktif
4 Berkembangnya industri
pengolahan dan terjaganya
Persentase koperasi aktif koperasi 50 55 60 65 70 75 80
stabilitas harga kebutuhan
pokok
Persentase IKM
% 40 45 50 55 60 65 70
bersertifikasi mutu produk
Persentase tertib ukur
% n/a n/a 40 45 50 55 60
terhadap UTTP
Persentase ketersediaan
barang kebutuhan pokok % 100 100 100 100 100 100 100
bagi masyarakat
Persentase Fasilitas Pasar
n/a 15 20 25 30 35 40
yang Memadai

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 6 


 
Tabel 5-2
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 2

Misi 2: Mewujudkan pelayanan infrastruktur daerah yang berkualitas, terintegrasi dan merata
Target Kinerja Sasaran

Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Tujuan 1 : Meningkatkan ketersediaan infrastruktur dan keterhubungan antar wilayah dan antar pulau untuk mendukung pertumbuhan wilayah
secara merata
1 Terhubungnya pusat-
pusat kegiatan dan
pusat produksi Jumlah Pulau yang tercakupi
pulau 8 8 8 9 10 11 11
(konektivitas) antar jaringan Transportasi
pulau
Jumlah pengujian kendaraan
1952 2200 2.200 2.200 2.200 2.200 2.200
bermotor wajib uji (KIR)
Persentase wilayah yang
tercakupi jaringan operator % 95% 95% 96% 97% 98% 100% 100%
selular
2 Pengembangan dan
pemantapan jaringan Persentase tingkat kemantapan
% 1,442 1,442 1,442 1,442 1,442 1,442 1,442
dan prasarana jalan (Mantap Sempurna)
transportasi
Panjang jalan yang dibangun
km 531,76 29,095 20 15 17 20 543,76
dan ditingkatkan
3 Meningkatnya
Persentase Rumah Tangga
kapasitas dan fungsi
(RT) yang menggunakan air % 63,75 73,02 78,05 83,63 90,88 98,14 98,14
sanitasi, air
bersih
bersih/minum
Jumlah Sambungan Rumah
(SR) perdesaan yang SR 3302 654 250 250 270 290 5016
terpasang

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 7 


 
Target Kinerja Sasaran

Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Jumlah Sambungan Rumah
SR 2410 177 200 250 380 360 3777
(SR) Perkotaan yang terpasang
4 Meningkatnya kualitas
lingkungan
Persentase kawasan
permukiman dan
pemukiman yang tertata % 3,3 8 10 10 10 12 50
perumahan dikawasan
(6.176,36 Ha)
perkotaan dan
perdesaan
Tujuan 2 : Meningkatkan sarana prasarana pengairan untuk mengurangi resiko bencana
1 Meningkatnya
pengembangan dan Persentase drainase jalan yang
% 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662
pengelolaan jaringan terbangun
pengairan
Tujuan 3 : Meningkatkan pemerataan sarana dan prasarana wilayah perbatasan
1 Meratanya
pembangunan sarana Jumlah sarana dan prasarana
Unit 1 Unit 2 unit 2 unit 3 unit 3 unit 4 unit 4 unit
dan prasarana di di wilayah perbatasan
wilayah perbatasan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 8 


 
Tabel 5-3
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 3

Misi 3: Mewujudkan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan demokratis sebagai
langkah melayani masyarakat dengan sepenuh hati
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 1 : Mewujudkan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan demokratis
1 Meningkatnya
kemampuan, Persentase jumlah aparatur
profesionalitas dan etos yang sudah mengikuti % N/A 0,76 0,8 0,82 0,84 0,86 0,86
kerja aparatur pendidikan kedinasan
pemerintah
Persentase penempatan
% 60% 62% 67% 75% 81% 85% 85%
Aparatur sesuai kompetensi
2 Meningkatnya
Opini Laporan
Akuntabilitas dan 10
Pertanggungjawaban Peringkat 10 besar 10 besar 10 besar 10 besar 10 besar 10 besar
Kinerja Pemerintah besar
Pemerintah Daerah (LPPD)
Daerah
Penataan Kelembagaan
Pemerintah Desa yang sesuai
0 Desa 0 Desa 7 Desa 7 Desa 7 Desa 7 Desa 8 Desa
dengan Permendagri 84
Tahun 2015
Persentase rekomendasi
temuan ekternal (BPK) yang % 84,45 90 90 90 90 90 90
ditindak lanjuti
Jumlah SKPD yang mendapat
nilai akuntabilitas kinerja SKPD 14 10 7 7 7 6 6
minimal kategori CC

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 9 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Persentase SKPD yang
berhasil mencapai target % 80% 80 82 85 87 90 90
kinerja yang ditetapkan
Persentase Organisasi
Perangkat Daerah yang telah SKPD 20% 20% 40% 60% 80% 100% 100%
menyusun SOP
Persentase OPD yang
% 60% 60% 80% 100% 100% 100% 100%
memiliki capaian kinerja baik
Persentase Indikator yang
% 0% 0% 60% 80% 100% 100% 100%
telah mencapai SPM
Nilai Hasil Evaluasi 70,10
60,10 (Nilai 60,50 70,00 80,00 80,00 80,00
Akuntabilitas Kinerja Instansi (Nilai
B) (Nilai B) (Nilai BB) (Nilai A) (Nilai A) (Nilai A)
Pemerintah Kabupaten Bintan BB)
Persentase Sengketa lahan
% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
yang terselesaikan
Presentasse Nilai turun harga (4±1)
% (4±1) % (4±1) % (4±1) % (4±1) % (4±1) % (4±1) %
yang menyebabkan inflasi %
Kontribusi BUMD terhadap
% 2.84 M 2.84 M 2.85 M 2.86 M 2.87 M 2.88 M 2.89 M
PAD
Tingkat Kesesuaian
Implementasi Terhadap
% 76,15% 77,63% 79,10% 80,58% 82,05% 83,53% 85%
Perencanaan Sumber
Pendanaan DAK dan APBN
Web site milik pemerintah 22 23 24 25 26 26
Situs 21 Website
daerah Website Website Website Website Website Website
Persentase sarana prasarana
perkantoran pemerintahan % % 60% 70% 80% 90% 100% 100%
desa yang baik

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 10 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Persentase unit pelayanan
pemerintahan
(Kecamatan/Desa) yang
70% 70% 75% 80% 85% 95% 100%
memiliki komputer dan bisa
mengakses internet melalui
komputer
Opini Laporan
10
Pertanggungjawaban % 10 besar 10 besar 10 besar 10 besar 10 besar 10 besar
besar
Pemerintah Daerah (LPPD)
3 Meningkatnya Kualitas
Pengelolaan Keuangan Laporan Keuangan yang
WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP
dan Aset Pemerintah mendapat opini wajar
Daerah
Persentase keakuratan data
% 70% 70% 75% 80% 85% 90% 90%
neraca aset
Target Pendapatan dan 975 1.012 1.012
Milyar 881 / 176 875 /171 907 /177 940 /184
Pendapatan Asli Daerah /191 /198 /198
Persentase Desa yang
menyampai kan Laporan
Keuangan Desa tepat waktu % 84% 84% 88% 92% 96% 100% 100%
sesuai dengan aturan yang
berlaku
Tujuan 2 : Meningkatkan kinerja perencanaan Pembangunan
1 Meningkatnya
Persentase usulan melalui
partisipasi masyarakat
mekanisme perencanaan % 100 100 100 100 100 100 100
dalam perencanaan
yang diakomodir dalam RKPD
pembangunan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 11 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
2 Meningkatnya kualitas
perencanaan
pembangunan daerah
dan kapasitas Persentase tingkat keterisian
% 40 50 60 70 80 90 90
pengendalian dan data SIPD
evaluasi pembangunan
daerah
Penjabaran Program RPJMD
% 100 100 100 100 100 100 100
ke dalam RKPD
Persentase desa yang
menyusun RPJMDes sesuai % N/A 100 100 100 100 100 100
peraturan
Tujuan 3 : Meningkatkan kualitas pelayanan publik
1 Meningkatnya kualitas Tingkat kepuasan Masyarakat
pelayanan publik representatif Kecamatan dan % n/a 65 75 75 85 90 90
Kelurahan
Persentase penduduk ber
KTP-el dari jumlah penduduk % 93% 93% 95% 100% 100% 100% 100%
wajib KTP-el
Persentase bayi berakte
% 77% 77% 79% 81% 83% 85% 85%
kelahiran per Bayi Lahir
Pengelolaan arsip secara
% 10 20 40 60 80 100
baku
Persentase taman bacaan/
perpustakaan Kelurahan, % 10 20 40 60 80 100
Desa dan Sekolah yang aktif

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 12 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Tujuan 4 : Meningkatkan kesadaran masyarakat dan aparatur terhadap hukum dan wawasan kebangsaan
1 Meningkatnya
kesadaran dan ketaatan
masyarakat dalam Cakupan Penegakan Perda
% 14,29 19,64 25.00 32.14 39.29 48.21 57.14
penerapan produk dan Perkada
hukum
Rasio Petugas Linmas % 94,91% 95.73 96.55 97.37 98.19 99.01 100
2 Meningkatnya
kesadaran masyarakat
dalam kehidupan politik Partisipasi pemilih dalam
75% 0 0 0 0 75 75
dan wawasan pemilihan Bupati
kebangsaan
Kegiatan pembinaan politik
2 3 3 3 3 3 3
daerah

 
 
 
 
 
 
 
 

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 13 


 
Tabel 5-4
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 4

Misi 4 : Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan serta kualitas SDM agar bisa bersaing dalam kompetisi global

Target Kinerja Sasaran


Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 1 : Meningkatkan Kualitas sumberdaya manusia agar berpendidikan, berprestasi dan berdaya saing
1 Meningkatnya
keluasan dan
APK PAUD 0-6 Tahun 56,74 57,73 58,73 59,73 61.00 62,5 62,5
kemerataan akses
PAUD bermutu
Rasio guru murid PAUD Guru 1:09 1:08 1:08 1:08 1:08 1:08 1:08
2 Meningkatnya Angka
Partisipasi Murni dan
Angka Partisipasi
Kasar APM SD/MI/SLB/Paket A % 94,69 95,21 95,75 96,31 96,89 97 97,5
(SD/MI/SLB/Paket A
dan SMP/MTS/Paket
B)
APK SD/MI/SLB/Paket A % 102,75 104,79 104,25 103,69 103,11 103 102,5
APM SMP/MTs/Paket B % 76,95 77,3 77,8 78 78,3 78,95 80
APK SMP/MTs/Paket B % 100,5 122,7 122,2 122 121,7 121,1 120
Angka Rata-rata Lama
Tahun 8,28 9 9 9 9 9 9
Sekolah (RLS)

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 14 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
3 Meningkatnya angka
melek huruf didorong
dengan meningkatnya
Ketersediaan,
Angka Melek Huruf (AMH) % 99,63 99,63 99,72 99,81 99,91 100 100
Keterjangkauan,
Kualitas, Kesetaraan
dan Kepastian
pendidikan
4 Meningkatnya
kompetensi Guru dan
Tenaga Kependidikan Persentase guru yang lulus
yang berdampak pada % 16,92 52,52 57,77 66,44 76,4 87,86 100
Uji Kompetensi Guru (UKG)
kualitas hasil belajar
siswa
Tujuan 2 : Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang tinggi dengan pelayanan yang terjangkau dan berkualitas.
1 Meningkatnya status
kesehatan dan gizi ibu,
anak dan lansia serta Persentase Puskesmas
pengendalian penyakit yang menyelenggarakan 0 0 20 40 60 80 80
menular dan tidak kesehatan kerja dasar
menular
Presentase balita gizi
0,35 0,35 0,35 0,34 0,33 0,33 0,33
buruk
Kasus Kematian Bayi 32 39 37 35 34 32 32
Angka Kelangsungan Hidup
990 990 990 990 990 990 990
Bayi (AKHB).
Persentase persalinan oleh
% 96,4 96,4 96,5 96,5 97,1 97,2 97,2
tenaga kesehatan (PN)
Persentase persalinan di
fasilitas pelayanan % 98 98 98 98 98 98 98
kesehatan (PF)
Jumlah kasus kematian ibu 7 7 7 7 7 7 7

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 15 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Cakupan Pelayanan
% 70 72 74 76 78 80 80
Kesehatan Usia Lanjut
Persentase sinyal
kewaspadaan dini yang % 91 92 93 94 95 95 95
direspon
Persentase penurunan
kasus Penyakit yang dapat
% 34,5 35 37 38 40 40 40
Dicegah Dengan Imunisasi
(PD3I) tertentu
Jumlah Kecamatan dengan
API < 1 per 1.000 10 10 10 10 10 10 10
penduduk
Jumlah Kecamatan
endemis Filariasis berhasil
kecamatan 0 2 2 2 2 2 2
menurunkan angka
mikrofiliria menjadi < 1%
Persentase Kecamatan
dengan IR DBD < 49 per % 20 33 33 33 33 33 33
100.000 penduduk
Persentase Kecamatan
dengan angka keberhaslan
pengobatan TB Paru BTA % 80 81 82 83 84 85 85
Positif (sucsess rate)
minimal 85%
Persentase angka kasus
% 90 90 90 90 90 90 90
HIV yang diobati.
Persentase Kecamatan
yang 50% Puskesmasnya
melakukan pemeriksaan
% 53 53 60 67 73 80 80
dan tatalaksana
Pneumonia melalui
program MTBS

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 16 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
Persentase penurunan
prevalensi merokok pada % 7,2 6,9 6,4 5,9 5,6 5,4 5,4
usia ≤ 18 tahun
Jumlah Desa/Kelurahan
desa/kelurahan 18 19 20 21 22 23 23
yang melaksanakan STBM
Persentase Tempat Umum
yang memenuhi syarat % 80 82 84 86 88 90 90
kesehatan
Persentase penduduk yang
% 76 78 80 82 84 86 86
melaksanakan STOP BABS
Jumlah Desa/Kelurahan
yang menyelenggarakan desa/kelurahan 8 9 11 13 15 17 17
tatanan kawasan sehat
2 Meningkatnya kualitas
dan kuantitas sumber Jumlah Kecamatan yang
daya kesehatan serta memiiliki 1Puskesmas yang kecamatan 0 1 2 4 7 10 10
ketersediaan obat dan tersertifikasi akreditasi
alat kesehatan
Jumlah Puskesmas yang
Minimal Memiliki 5 Jenis Puskesmas 5 5 7 9 12 15 15
Tenaga Kesehatan
Jumlah Puskesmas yang
memiliki Jaringan SIK Puskesmas 5 5 6 7 8 9 9
Online
Persentase kesediaan obat
% 67,5 70 73 75 78 80 80
dan vaksin di Puskesmas
Persentase Puskesmas
yang melaksanakan
% 13 13 20 33 46 60 60
pelayanan kefarmasian
sesuai standar

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 17 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
3 Meningkatnya cakupan
jaminan pemeliharaan
kesehatan keluarga Jumlah penduduk yang
miskin serta menjadi peserta Penerima
1.140 5.000 6.000 8.000 10.000 12.000 12.000
pemberdayaan dan Bantuan Iuran (PBI)
promosi kesehatan melalui JKN
kepada Masyarakat
Persentase Desa
Memanfaatkan Dana Desa % 0 6 10 14 16 18 18
10% untuk UKBM
Persentase Desa Siaga
% 100 100 100 100 100 100 100
Aktif
Jumlah Dunia Usaha yang
Memanfaatkan CSRnya 2 2 2 2 2 2 2
untuk Program Kesehatan
Persentase Desa yang
% 43 47 50 58 62 70 70
melaksanakan PHBS
4 Terkendalinya
pertumbuhan
penduduk serta
meningkatnya Cakupan peserta KB aktif % 77,1 77,8 78.02 78.51 78.63 79,35 80
keluarga yang
berkualitas dan
sejahtera
Angka pertumbuhan
KK 2.3 2.01 2 2 2 2 2
penduduk
Jumlah keluarga yang
terlayani oleh kader Catur
Bina
keluarga 578 589 594 600 635 651 664

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 18 


 
Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 3 : Meningkatkan calon tenaga kerja yang terampil dan berdaya saing serta terpenuhi hak dan perlindungannya.
1 Meningkatnya kualitas,
daya saing dan
penempatan tenaga Tingkat pengangguran
kerja, serta 6,74 6,7 6,5 6,6 6,7 6,8 6,4
terbuka
perlindungan terhadap
tenaga kerja.
Presentase tenaga kerja
yang mendapatkan
% 66,67 68 72 75 77 80 82
pelatihan berbasis
kompetensi
2 Meningkatnya
perlindungan Persentase kasus
pengembangan perselisihan pengusaha % 92,6 70 72 75 78 82 84
lembaga pekerja yang terselesaikan
ketenagakerjaan

 
 
 
 
 
 

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 19 


 
Tabel 5-5
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 5

Misi 5 : Mewujudkan pembangunan karakter masyarakat yang religius dan berbudaya Melayu sebagai landasan
pembangunan masyarakat

Target Kinerja Sasaran

Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 1 : Melestarikan Nilai-Nilai dan Seni Budaya Melayu


1 Meningkatnya
kelestarian nilai-nilai
dan seni budaya Jumlah grup kesenian (yang
Grup 35 35 35 35 35 35 35
melayu sebagai dibina)
kekayaan budaya
daerah
Jumlah cagar budaya yang
cagar 14 14 14 14 14 14 14
dilindungi dan dipelihara

Tujuan 2 : Peningkatan kualitas kehidupan beragama bagi seluruh lapisan masyarakat Bintan
1 Terwujudnya toleransi Jumlah kasus perselisihan
antar umat beragama Kasus 0 0 0 0 0 0 0
antar umat beragama
2 Terwujudnya
pemahaman dan
Jumlah masyarakat yang
pengamalan agama
mengikuti pelatihan dan
sesuai dengan agama Orang 4.300 3.500 8.700 15.000 15.000
pendidikan pengetahuan 6.200 10.900
dan keyakinan masing-
keagamaan
masing

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 20 


 
Tabel 5-6
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 6

Misi 6 : Mengoptimalkan pemberdayaan masayarakat, Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dan pengarusutamaan gender
dalam berbagai aspek pembangunan

Target Kinerja Sasaran

Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 1 : Meningkatkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pembangunan


1 Meningkatnya
kesetaraan dan
keadilan gender dalam
Indeks Pembangunan
pembangunan serta % 60,9 60.9 60.9 60.9 60.9 60.9 60.9
Gender
perlindungan terhadap
perempuan dan anak.

Meningkatkan
kesejahteraan sosial
masyarakat
1 Menurunnya
persentase penduduk Persentase penduduk miskin % 6 6 5.9 5.8 5.7 5.6 5,5
miskin
Persentase rumah tangga
% 51.12 51.12 55 60 62 64 66
miskin yang ditangani
Jumlah rumah tidak layak
Unit 2100 814 172 140 140 140 140
huni yang direhab

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 21 


 
Target Kinerja Sasaran

Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)
2 Meningkatnya Persentase pekerja social
penanganan terhadap dan tenaga kerja
penyandang masalah kesejahteraan social yang % 23,62 23,62 35 37 39 41 43
kesejahteraan sosial komperen/terlatih (terkait
tenaga kerja)
Persentase penanganan
penyandang masalah % 40,28 40.28 45.28 50,28 55.28 60,28 65.28
kesejahteraan sosial
Tujuan 2 : Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Desa
1 Meningkatnya Persentase Partisipasi
partisipasi masyarakat Masyarakat dalam program % 50% 55% 60% 65% 70& 75% 80%
dalam pembangunan pembangunan
Indeks Pemberdayaan
75.68 75.68 75.68 75.68 75.68 75.68 75.68
Masyarakat
2 Meningkatnya
pengelolaan Persentase tingkat keterisian
% 74 80 85 90 95 100 100
pembangunan oleh profil desa dan kelurahan
pemerintah desa
Persentase akses
masyarakat desa terhadap 40% 45% 50% 55% 60% 65% 70%
media publik
Persentase Kenaikan PADes 5 10 20 30 40 50 60
Persentase Desa yang
menyampai kan Laporan
Keuangan Desa tepat waktu 84% 84% 88% 92% 96% 100% 100%
sesuai dengan aturan yang
berlaku

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 22 


 
Tabel 5-7
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 7

Misi 7 : Memberdayakan pemuda sebagai pelopor pembangunan di Kabupaten Bintan


Target Kinerja Sasaran
Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 1 : Meningkatkan peran generasi muda dan prestasi olah raga


1 Meningkatnya
pemberdayaan Persentase organisasi
% 50 60 65 70 75 80 85
generasi muda dan olah kepemudaan yang aktif
raga
Jumlah pemuda yang mandiri
Orang 43 48 51 54 57 60 63
dan berdaya saing
Jumlah prestasi olah raga yang
Prestasi 43 33 40 45 48 50 53
diraih

 
 
 
 
 
 
 

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 23 


 
Tabel 5-8
Tujuan dan Sasaran RPJMD
Kabupaten Bintan di Misi 8

Misi 8 : Mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan
Target Kinerja Sasaran

Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 1 : Meningkatkan Produksi dan Produktivitas Pertanian, perkebunan dan peternakan guna memenuhi kebutuhan masyarakat
1 Meningkatnya jumlah
produksi dan
Capaian produksi tanaman
produktivitas pertanian Ton 19.248 20400 20600 20800 21000 21200 21.400
sayuran (Ton)
dan perkebunan

Capaian produksi tanaman


Ton 18.506 12000 12100 12200 12300 12400 12.500
buah-buahan (Ton)

Pembangunan/Perbaikan Jalan
Pertanian (Jalan usaha tani Km n/a - 5 5 5 1 1
dan jalan produksi) (Km)

Pembangunan/Perbaikan
Unit n/a - 3 3 3 1 1
Sumber-sumber air (Unit)
2 Meningkatnya jumlah
produksi dan Jumlah Produksi Daging dan
Ton 4.360 4.360 4.360 4.360 4.361 4.362 4.363
produktivitas Telur (Ton)
Peternakan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 24 


 
Target Kinerja Sasaran

Kondisi Kondisi
No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Akhir
2016 2017 2018 2019 2020
Awal RPJMD
(2015) (2021)

Tujuan 2 : Meningkatkan Ketahanan Pangan Masyarakat secara merata di seluruh desa dan kelurahan
1 Meningkatnya
ketersediaan, distribusi
dan konsumsi pangan
yang beragam, bergizi, Stabilitas harga pangan pokok
% 90 95 95 95 95 95 95
berimbang dan aman (beras) di tingkat konsumen
serta terjangkau bagi
masyarakat di seluruh
wilayah
Skor Pola Pangan Harapan
% 90 95 95 95 95 95 95
(PPH)
Persentase Ketersediaan
% 100 100 100 100 100 100 100
Pangan Masyarakat
Jumlah Lokasi Rawan Pangan Lokasi 9 9 8 4 3 2 1
Ketersediaan pangan utama kg/pdd/th 1,805 1,805 1895,25 1990 2089,5 2193,98 2303,68

Tujuan 3 : Meningkatkan kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan


1 Meningkatnya
kebersihan lingkungan
serta upaya Persentase penanganan
meningkatkan kualitas % 50 50 55 60 65 70 75
sampah
lingkungan hidup
secara berkelanjutan
Persentase sampah yang
% 30 30 35 40 50 60 70
dikelola
2 Meningkatnya luas
Luas Ruang Terbuka Hijau
ruang terbuka hijau M2 218.000 218.000 218,4 218,8 219,2 219,6 220
yang dikelola
yang dikelola
Rasio tempat pemakaman
1.17 1.17 1.20 1.20 1.20 1.22 1.25
umum per 1000 penduduk

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 25 


 
 

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan       V ‐ 26 


 
 

  RPJMD 2016-2021

BAB.
  VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN DAERAH

6.1. STRATEGI

Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-


program indikatif utuk mewujudkan visi dan misi. Satu strategi dapat
terhubung dengan pencapaian satu sasaran. Dalam hal beberapa sasaran
bersifat inheren dengan satu tema, satu strategi dapat dirumuskan untuk
mencapai gabungan beberapa sasaran tersebut.

MISI 1 Mewujudkan Kabupaten Bintan sebagai daerah tujuan


investasi yang berdaya saing dengan mengoptimalkan
potensi ekonomi lokal terutama di bidang pariwisata dan
kelautan

Tujuan Sasaran Strategi

1 Terciptanya iklim yang Meningkatnya realisasi Meningkatkan kerjasama


kondusif bagi penanaman investasi dan pelayanan investasi di Kabupaten Bintan
modal untuk kegiatan perijinan
pembangunan di wilayah
Kabupaten Bintan yang
sesuai dengan tata ruang;
Optimalisasi pelayanan perijinan
Meningkatnya tingkat Peningkatan mekanisme dan
kepatuhan masyarakat peran pemangku kepentingan
terhadap perda penataan dalam perencanaan penataan
Ruang ruang
Meningkatkan pengendalian
pemanfaatan ruang untuk
mewujudkan tata ruang wilayah
yang efisien, berkelanjutan dan
konsisten
2 Mengoptimalkan potensi Meningkatnya jumlah Memberdayakan potensi
ekonomi lokal terutama di kunjungan wisatawan masyarakat lokal serta
bidang pariwisata dan nusantara dan Optimalisasi potensi ekonomi
Kelautan mancanegara lokal dibidang pariwisata
Meningkatkan promosi dan
pemasaran pariwisata
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 1 

 
Tujuan Sasaran Strategi

Meningkatnya
pengembangan usaha dan
industri pariwisata melalui
kemitraan dan pembinaan
BUMD
Mengembangkan usaha ekonomi
produktif melalui peningkatan
cluster yang aktif
Mengembangkan pengelolaan
aset dan peluang di bidang
kelautan dan pariwisata
Meningkatnya jumlah Meningkatkan produksi hasil
produksi perikanan perikanan budidaya dan tangkap
Berkembangnya industri Mendorong tumbuhnya industri
pengolahan dan pengolahan
terjaganya stabilitas harga
kebutuhan pokok
Menjaga stabilitas harga dan
distribusi barang kebutuhan
pokok

MISI 2. Mewujudkan pelayanan infrastruktur daerah yang


berkualitas, terintegrasi dan merata

No Tujuan Sasaran Strategi

1 Meningkatkan Terhubungnya pusat-pusat Meningkatkan sarana dan


ketersediaan infrastruktur kegiatan dan pusat prasarana perhubungan darat,
dan keterhubungan antar produksi (konektivitas) laut dan udara, dan
wilayah dan antar pulau antar pulau pengembangan sistem
untuk mendukung manajemen transportasi.
pertumbuhan wilayah
secara merata

Pengembangan dan Meningkatkan keandalan sistem


pemantapan jaringan dan jaringan jalan melalui
prasarana transportasi pengembangan jaringan
infrastruktur transportasi jalan
bagi peningkatkan kelancaran
mobilitas barang dan manusia
serta aksesibilitas wilayah
Meningkatnya kapasitas Meningkatkan jangkauan
dan fungsi sanitasi, air pelayanan air bersih di
bersih/minum lingkungan permukiman serta
meningkatkan rumah tinggal
bersanitasi

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 2 

 
No Tujuan Sasaran Strategi

Meningkatnya kualitas Rehabilitasi kawasan kumuh


lingkungan permukiman melalui penataan lingkungan
dan perumahan dikawasan
perkotaan dan perdesaan
2 Meningkatkan sarana Meningkatnya Meningkatkan kualitas
prasarana pengairan untuk pengembangan dan pengelolaan jaringan pengairan
mengurangi resiko pengelolaan jaringan melalui pembangunan,
bencana pengairan rehabilitasi, dan pengelolaan
sarana prasarana pengairan
3 Meningkatkan pemerataan Meratanya pembangunan Meningkatkan pembangunan
sarana dan prasarana sarana dan prasarana di sarana dan prasarana
wilayah perbatasan wilayah perbatasan perbatasan

MISI 3. Mewujudkan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan


yang baik (good governance) dan demokratis sebagai langkah
melayani masyarakat dengan sepenuh hati. 

No Tujuan Sasaran Strategi

1 Mewujudkan Meningkatnya Menata sistem seleksi pejabat


penyelenggaraan tata kemampuan, dari sistem tertutup menjadi
kelola pemerintahan yang profesionalitas dan etos sistem seleksi terbuka secara
baik (good governance) kerja aparatur pemerintah bertahap
dan demokratis

Meningkatnya Meningkatkan kualitas aparatur


Akuntabilitas dan Kinerja pengawasan dan pembinaan
Pemerintah Daerah akuntabilitas dan kinerja
pemerintah daerah
Meningkatkan penataan
peraturan perundang-undangan
oleh pemerintah daerah

Meningkatkan penataan
kebijakan bidang perekonomian,
kualitas pelayanan informasi
publik, administrasi
pembangunan dan pembinaan
pemerintahan daerah bawahan
Mengurangi risiko bencana,
meningkatkan ketangguhan
pemerintah dan peran serta
masyarakat terhadap bencana,
serta memperkuat kapasitas
mitigasi dan adaptasi perubahan
iklim.

Meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam penyusunan
produk legislasi daerah

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 3 

 
No Tujuan Sasaran Strategi

Meningkatnya Kualitas Memperbaiki sistem perpajakan,


Pengelolaan Keuangan dan meningkatkan pengendalian
Aset Pemerintah Daerah pelaksanaan pengelolaan
keuangan daerah, serta
pembinaan pengelolaan
keuangan Daerah
2 Meningkatkan kinerja Meningkatnya partisipasi Mewujudkan perencanaan yang
perencanaan masyarakat dalam berkualitas dan akuntabel
Pembangunan perencanaan
pembangunan

Meningkatnya kualitas Mewujudkan integrasi/


perencanaan konektivitas data melalui
pembangunan daerah dan pengelolaan satu data
kapasitas pengendalian pembangunan
dan evaluasi
pembangunan daerah
Meningkatan konsistensi
perencanaan pembangunan
daerah

Meningkatkan kapasitas
pengendalian dan evaluasi
pembangunan daerah
3 Meningkatkan kualitas Meningkatnya kualitas Meningkatkan kualitas aparatur
pelayanan publik pelayanan publik serta sarana prasarana
pendukung
Meningkatkan jumlah jaringan
sistem kependudukan di seluruh
kecamatan
Meningkatkan pelayanan di
bidang kearsipan dan
perpustakaan
4. Meningkatkan kesadaran Meningkatnya kesadaran Meningkatkan cakupan
masyarakat dan aparatur dan ketaatan masyarakat penegakan peraturan daerah
terhadap hukum dan dalam penerapan produk dan perkada
wawasan kebangsaan hukum
Meningkatnya kesadaran Meningkatkan pemahaman
masyarakat dalam masyarakat tentang hak dan
kehidupan politik dan kewajiban politik serta wawasan
wawasan kebangsaan kebangsaan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 4 

 
MISI 4. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan serta kualitas
SDM agar bisa bersaing dalam kompetisi global

No Tujuan Sasaran Strategi

1 Meningkatkan Kualitas Meningkatnya keluasan Meningkatkan mutu pendidikan


sumberdaya manusia agar dan kemerataan akses anak usia dini untuk
berpendidikan, PAUD bermutu pembangunan berkelanjutan
berprestasi dan berdaya
saing
Meningkatnya Angka Peningkatan pelayanan
Partisipasi Murni dan pendidikan dasar bagi seluruh
Angka Partisipasi Kasar anak Kabupaten Bintan dengan
(SD/MI/SLB/Paket A dan memberikan peluang yang lebih
SMP/MTS/Paket B) besar bagi anak dari keluarga
kurang mampu
Meningkatnya angka Peningkatan ketersediaan dan
melek huruf didorong keterjangkauan, kualitas dan
dengan meningkatnya kepastian Pendidikan Dasar 9
Ketersediaan, Tahun
Keterjangkauan, Kualitas,
Kesetaraan dan Kepastian
pendidikan
Meningkatnya kompetensi Peningkatan profesionalisme,
Guru dan Tenaga kualitas serta akuntabilitas guru
Kependidikan yang dan tenaga kependidikan melalui
berdampak pada kualitas pengutan sistem uji kompetensi
hasil belajar siswa guru dan tenaga kependidikan
sebagai bagian dari proses
penilaian hasil belajar siswa

2 Meningkatkan derajat Meningkatnya status Peningkatan Upaya Kesehatan


kesehatan masyarakat kesehatan dan gizi ibu, masyarakat melalui Puskesmas
yang tinggi dengan anak dan lansia serta serta melaksanakan bina gizi
pelayanan yang terjangkau pengendalian penyakit dan kesehatan bagi ibu dan
dan berkualitas. menular dan tidak menular anak
Meningkatnya kualitas dan Peningkatan akses pelayanan
kuantitas sumber daya kesehatan dasar, kefarmasian
kesehatan serta dan pengawasan obat dan
ketersediaan obat dan alat makanan melalui jaringan SIK
kesehatan online

Meningkatnya cakupan Peningkatan pelayanan


jaminan pemeliharaan kesehatan penduduk miskin
kesehatan keluarga miskin
serta pemberdayaan dan
promosi kesehatan kepada
Masyarakat
Peningkatan pemberdayaan
desa / kelurahan dan CSR dari
perusahaan untuk program
kesehatan serta promosi
kesehatan kepada masyarakat

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 5 

 
No Tujuan Sasaran Strategi

Terkendalinya Meningkatkan kualitas dan


pertumbuhan penduduk kuantitas peserta KB
serta meningkatnya
keluarga yang berkualitas
dan sejahtera
Peningkatan Ketahanan dan
pemberdayaan keluarga
3 Meningkatkan calon Meningkatnya kualitas, Mengembangkan program
tenaga kerja yang terampil daya saing dan kemitraan antara pemerintah
dan berdaya saing serta penempatan tenaga kerja, dengan dunia usaha, dan
terpenuhi hak dan serta perlindungan penataan lembaga pelatihan
perlindungannya. terhadap tenaga kerja. berbasis kompetensi.

Meningkatnya Mengupayakan hubungan


perlindungan industrial harmonis, dinamis dan
pengembangan lembaga berkeadilan, kelangsungan
ketenagakerjaan usaha serta peningkatan
kesejahteraan pekerja dan
perlindungan tenaga kerja

MISI 5. Mewujudkan pembangunan karakter masyarakat yang


religius dan berbudaya Melayu sebagai landasan
pembangunan masyarakat

No Tujuan Sasaran Strategi

1 Melestarikan Nilai-Nilai Meningkatnya kelestarian Memberdayakan lembaga-


dan Seni Budaya Melayu nilai-nilai dan seni budaya lembaga adat terutama adat
melayu sebagai kekayaan melayu untuk melestarikan nilai-
budaya daerah nilai budaya melayu dalam
kehidupan masyarakat.

2 Peningkatan kualitas Terwujudnya toleransi Meningkatkan kerukunan umat


kehidupan beragama bagi antar umat beragama bergama.
seluruh lapisan
masyarakat Bintan.
Terwujudnya pemahaman Pengembangan pendidikan
dan pengamalan agama agama di masyarakat dan
sesuai dengan agama dan sekolah
keyakinan masing- masing

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 6 

 
MISI 6. Mengoptimalkan pemberdayaan masayarakat, Mewujudkan
Kesejahteraan Sosial dan pengarusutamaan gender dalam
berbagai aspek pembangunan

No Tujuan Sasaran Strategi

1 Meningkatkan kesetaraan Meningkatnya kesetaraan Menerapkan Perencanaan dan


dan keadilan gender dalam dan keadilan gender dalam Penganggaran yang Responsif
pembangunan pembangunan serta Gender (PPRG), dan
perlindungan terhadap Memperkuat sistem
perempuan dan anak. perlindungan anak dan
perempuan dari berbagai tindak
kekerasan, termasuk tindak
pidana perdagangan orang
(TPPO), dengan melakukan
berbagai upaya pencegahan dan
penindakan.

2 Meningkatkan Menurunnya persentase Memperbaiki program


kesejahteraan sosial penduduk miskin perlindungan sosial,
masyarakat meningkatkan akses terhadap
pelayanan dasar, Pemberdayaan
kelompok masyarakat miskin
serta
menciptakan pembangunan
yang inklusif.
Meningkatnya penanganan Meningkatkan pembudayaan
terhadap penyandang kesetiakawanan sosial dalam
masalah kesejahteraan penyelenggaraan kesejahteraan
sosial sosial
3 Meningkatkan Meningkatnya partisipasi Memperkuat Kelembagaan,
Pemberdayaan Masyarakat masyarakat dalam Pengembangan Partisipasi
dan Pembangunan Desa pembangunan masyarakat dan Peningkatan
pemberdayaan sosial, budaya
dan ekonomi masyarakat
Meningkatnya pengelolaan Mengembangkan kelembagaan
pembangunan oleh ekonomi pedesaan dan aparatur
pemerintah desa desa

MISI 7. Memberdayakan pemuda sebagai pelopor pembangunan di


Kabupaten Bintan

No Tujuan Sasaran Strategi

1 Meningkatkan peran Meningkatnya Meningkatkan kualitas dan


generasi muda dan pemberdayaan generasi kuantitas generasi muda melalui
prestasi olah raga muda dan olah raga pembinaan dan peningkatan
prestasi olah raga

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 7 

 
No Tujuan Sasaran Strategi

Meningkatkan pemberdayaan
pemuda dalam pembangunan
diperbatasan
 

MISI 8. Mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas


pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan

No Tujuan Sasaran Strategi

1 Meningkatkan Produksi Meningkatnya jumlah Peningkatan produktivitas


dan Produktivitas produksi dan produktivitas perkebunan melalui revitalisasi
Pertanian, perkebunan dan pertanian dan perkebunan penyuluhan dan pemberdayaan
peternakan guna kelompok tani secara
memenuhi kebutuhan berkelanjutan
masyarakat.
Peningkatan produktivitas
Pertanian Tanaman Pangan
melalui revitalisasi penyuluhan
dan pemberdayaan kelompok
tani secara berkelanjutan
Peningkatan produktivitas
Pertanian Tanaman Hortikultura
ramah lingkungan melalui
revitalisasi penyuluhan dan
pemberdayaan kelompok tani
secara berkelanjutan
Peningkatan penyediaan dan
pengembangan Prasarana dan
sarana Pertanian melalui
revitalisasi penyuluhan dan
pemberdayaan kelompok tani
secara berkelanjutan
Meningkatnya jumlah Peningkatan produktivitas
produksi dan produktivitas perternakan melalui revitalisasi
Peternakan penyuluhan dan pemberdayaan
kelompok peternak secara
berkelanjutan
2 Meningkatkan Ketahanan Meningkatnya Meningkatkan kerjasama
Pangan Masyarakat secara ketersediaan, distribusi dengan lembaga yang bergerak
merata di seluruh desa dan dan konsumsi pangan yang dalam bidang distribusi pangan
kelurahan beragam, bergizi, untuk memastikan ketersediaan
berimbang dan aman serta pasokan pangan dan stabilitas
terjangkau bagi harga pangan pokok.
masyarakat di seluruh
wilayah

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 8 

 
No Tujuan Sasaran Strategi

3 Meningkatkan kualitas Meningkatnya kebersihan Meningkatkan kualitas


lingkungan hidup secara lingkungan serta upaya lingkungan yang menyeluruh
berkelanjutan meningkatkan kualitas melalui Penguatan sistem
lingkungan hidup secara pemantauan kualitas lingkungan
berkelanjutan hidup, penegakan hukum
lingkungan, dan pemanfaatan
sumber daya alam secara
berkelanjutan.
Meningkatnya luas ruang Meningkatkan/ Mempertahankan
terbuka hijau yang dikelola luas ruang terbuka hijau dan
pengelolaan tempat pemakaman
umum

6.2 ARAH KEBIJAKAN

Strategi harus dirumuskan secara spesifik terhadap horizon waktu.


Dengan arah kebijakan, strategi dapat diterangkan secara logis kapan
suatu strategi dijalankan mendahului atau menjadi prasyarat bagi
strategi lainnya. Urut-urutan strategi dari tahun ke tahun selama 5 (lima)
tahun dipandu dan dijelaskan dengan arah kebijakan.

MISI 1 Mewujudkan Kabupaten Bintan sebagai daerah tujuan


investasi yang berdaya saing dengan mengoptimalkan
potensi ekonomi lokal terutama di bidang pariwisata dan
kelautan

No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Meningkatnya Meningkatkan kerjasama Peningkatan Program Pengawasan


realisasi investasi investasi di Kabupaten kerjasama investasi di dan Pengendalian
dan pelayanan Bintan tingkat lokal, regional Investasi
perijinan maupun nasional
dengan menjaga
investasi yang sudah
ada serta melalui
promosi

Program Peningkatan
Daya Saing
Penanaman Modal
Program Peningkatan
Promosi dan
Kerjasama Investasi

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 9 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

Optimalisasi pelayanan Perbaikan kualitas Program Peningkatan


perijinan pelayanan perijinan Iklim Investasi dan
dengan Realisasi Investasi
menyederhanakan
proses birokrasi
Program Pelayanan
Perizinan Non
Investasi
2 Meningkatnya Peningkatan mekanisme Penyelenggaraan Program Perencanaan
tingkat kepatuhan dan peran pemangku forum konsultasi Tata Ruang
masyarakat kepentingan dalam publik dalam
terhadap perda perencanaan penataan penyusunan dokumen
penataan Ruang ruang perencanaan
penatataan ruang
Meningkatkan Pelaksanaan Program
pengendalian pengawasan dan Pengendalian
pemanfaatan ruang untuk pengendalian yang Pemanfaatan Ruang
mewujudkan tata ruang mengacu pada
wilayah yang efisien, instrumen tata ruang
berkelanjutan dan
konsisten

3 Meningkatnya Memberdayakan potensi Pembangunan Program


jumlah kunjungan masyarakat lokal serta Destinasi wisata Pengembangan
wisatawan Optimalisasi potensi dengan Destinasi Pariwisata
nusantara dan ekonomi lokal dibidang memberdayakan
mancanegara pariwisata potensi ekonomi
maupun kebudayaan
lokal
Meningkatkan promosi Promosi dan Program
dan pemasaran Pemasaran wisata Pengembangan
pariwisata melalui Pemasaran Pariwisata
penyelenggaraan
even berskala
nasional maupun
internasional
4 Meningkatnya Memfasililtasi Fasilitasi
pengembangan pembentukan organisasi terbentuknya forum Program
usaha dan industri usaha industri pariwisata kerjasama antar Pengembangan Usaha
pariwisata melalui dan Industri
serta pengembangan usaha pariwisata
kemitraan dan Pariwisata
pembinaan BUMD kemitraan

Mengembangkan
pola-pola kemitraan Program
industri pariwisata Pengembangan
lintas sektor Kemitraan

Mengembangkan usaha Pengembangan usaha


ekonomi produktif melalui ekonomi produktif Program Peningkatan
peningkatan cluster yang serta peningkatan Kemampuan
aktif jumlah wirausaha Kewirausahaan bagi
baru Koperasi dan UMKM

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 10 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

Mengembangkan Program Pembinaan


pengelolaan aset dan Melakukan revitalisasi BUMD
peluang di bidang terhadap BUMD
kelautan dan pariwisata dengan difokuskan
pada bidang kelautan
dan pariwisata

5 Meningkatnya Meningkatkan produksi Peningkatan produksi Program


jumlah produksi hasil perikanan budidaya perikanan budidaya pengembangan
perikanan dan tangkap budidaya perikanan

Program pencegahan
dan penanggulangan
hama penyakit ikan

Program
Pengembangan
Perikanan Tangkap

Mengoptimalkan Program
pengembangan pemberdayaan
potensi ekonomi ekonomi masyarakat
masyarakat pesisir pesisir
melalui
pemberdayaan
mayarakat

6 Berkembangnya Mendorong tumbuhnya Memberdayakan Program


industri industri pengolahan koperasi dan UMKM Pemberdayaan dan
pengolahan dan serta pemberian Peningkatan
terjaganya insentif untuk Kapasitas
stabilitas harga mendorong Kelembagaan
kebutuhan pokok tumbuhnya Industri Koperasi dan UMKM
pengolahan

Program
Pengembangan
Industri Kecil dan
Menengah
Menjaga stabilitas harga Meningkatkan volume Program Perlindungan
dan distribusi barang operasi pasar serta Konsumen dan
kebutuhan pokok pengawasan barang pengamanan
beredar perdagangan

Program
Pengembangan dan
Peningkatan Sarana
dan Prasarana
Perdagangan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 11 

 
MISI 2. Mewujudkan pelayanan infrastruktur daerah yang
berkualitas, terintegrasi dan merata

No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Terhubungnya Meningkatkan sarana Peningkatan kuantitas Program


pusat-pusat dan prasarana dan kualitas sarana Pembangunan
kegiatan dan pusat perhubungan darat, laut dan prasarana Prasarana dan
produksi dan udara, dan perhubungan darat, Fasilitas Perhubungan
(konektivitas) pengembangan sistem laut dan udara
antar pulau manajemen transportasi.
Program Rehabilitasi
dan Pemeliharaan
Prasarana dan
Fasilitas Perhubungan
Program Peningkatan
Pelayanan Angkutan

Program
Pembangunan Sarana
dan Prasarana
Perhubungan
Program Peningkatan
dan Pengamanan Lalu
Lintas
Program Peningkatan
Kelaikan
Pengoperasian
Kendaraan Bermotor
Program Pembinaan
dan Pengawasan
Bidang Pos dan
Telekomunikasi
2 Pengembangan Meningkatkan keandalan Peningkatan kualitas Program
dan pemantapan sistem jaringan jalan dan kuantitas Pembangunan Jalan
jaringan dan melalui pengembangan jaringan infrastruktur dan Jembatan
prasarana jaringan infrastruktur transportasi dengan
transportasi transportasi jalan bagi fokus jalan dan
peningkatkan kelancaran jembatan.
mobilitas barang dan
manusia serta
aksesibilitas wilayah

Program Rehabilitasi /
Pemeliharan Jalan
dan Jembatan
Program Peningkatan
Perencanaan Teknis

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 12 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

3 Meningkatnya Meningkatkan jangkauan Peningkatan Program


kapasitas dan pelayanan air bersih di jangkauan pelayanan Pengembangan
fungsi sanitasi, air lingkungan permukiman air bersih serta Kinerja Air Minum dan
bersih/minum serta meningkatkan peningkatan rumah Air Limbah
rumah tinggal bersanitasi tinggal bersanitasi
melalui pembangunan
jaringan air bersih
serta peningkatan
kualitas lingkungan
perumahan yang
bersanitasi

4 Meningkatnya Rehabilitasi kawasan Peningkatan kualitas Program Penyehatan


kualitas kumuh melalui penataan kawasan permukiman Lingkungan
lingkungan lingkungan melalui pembangunan Permukiman
permukiman dan infrastruktur dasar
perumahan dan pembangunan
dikawasan terhadap rumah tidak
perkotaan dan layak huni
perdesaan
Program
Pengembangan
Sarana prasarana
Perumahan Dan
Permukiman

5 Meningkatnya Meningkatkan kualitas Peningkatan kualitas Program


pengembangan pengelolaan jaringan jaringan pengairan pengembangan dan
dan pengelolaan pengairan melalui dengan melakukan pengelolaan jaringan
jaringan pengairan pembangunan, normalisasi saluran / irigasi dan jaringan
rehabilitasi, dan sungai serta pengairan lainnya
pengelolaan sarana pembangunan
prasarana pengairan drainase jalan

Program
Pengendalian Banjir

Program
Pembangunan
Drainase dan Gorong-
Gorong Jalan
6 Meratanya Meningkatkan Pemerataan Program
pembangunan pembangunan sarana pembangunan sarana Pengembangan
sarana dan dan prasarana dan prasarana di Wilayah Perbatasan
prasarana di perbatasan daerah perbatasan
wilayah berkoordinasi dengan
perbatasan pemerintah provinsi
dan pusat

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 13 

 
MISI 3. Mewujudkan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan
yang baik (good governance) dan demokratis sebagai langkah
melayani masyarakat dengan sepenuh hati

No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Meningkatnya Menata sistem seleksi Peningkatan Program Pendidikan


kemampuan, pejabat dari sistem kapasitas, kompetensi Kedinasan
profesionalitas dan tertutup menjadi sistem dan profesionalitas
etos kerja aparatur seleksi terbuka secara pegawai dan pejabat
pemerintah bertahap pemerintah Daerah

Program Peningkatan
Administrasi dan
Mutasi Kepegawaian
Daerah
Program Pembinaan
dan Pengembangan
Aparatur
2 Meningkatnya Meningkatkan kualitas Peningkatan Program Penataan
Akuntabilitas dan aparatur pengawasan akuntabilitas dan dan Pembinaan
Kinerja dan pembinaan kinerja Pemerintah Pemerintahan Umum
Pemerintah akuntabilitas dan kinerja Daerah melaui dan Daerah Bawahan
Daerah pemerintah daerah pembinaan,
pengawasan dan
pengendalian
pengelolaan
pembangunan
Program Pengawasan
dan Pengendalian
Internal dan Eksternal
Program Pengawasan
dan Peningkatan
Akuntabilitas Aparatur
Program Pembinaan
dan Pengawasan
serta Peningkatan
Akuntabilitas
Pembangunan Daerah
Program Pengelolaan
Administrasi Wilayah
Perbatasan
Penataan, Mewajibkan kepada Program Penataan,
Ketatalaksanaan dan semua SKPD untuk Ketatalaksanaan dan
Peningkatan Kapasitas menyusun SOP sesuai Peningkatan
Kelembagaan Daerah dengan tugas pokok Kapasitas
dan fungsinya Kelembagaan Daerah
Program Pengawasan
dan Peningkatan
Akuntabilitas Aparatur
Meningkatkan penataan Meningkatkan peran Program Penataan
peraturan perundang- pemerintah daerah Peraturan Perundang-
undangan oleh dalam pembinaan undangan
pemerintah daerah tentang hukum
maupun bantuan
hukum

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 14 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

Program Penataan
Peraturan Perundang-
undangan
Program Penataan,
Penguasaan,
Pemilikan,
Penggunaan dan
Pemanfaatan Tanah
Program Pembinaan
Pertanahan
Meningkatkan penataan Peningkatan Program Koordinasi
kebijakan bidang koordinasi dengan Kebijakan Bidang
perekonomian, kualitas instansi terkait Perekonomian
pelayanan informasi tentang kebijakan
publik, administrasi bidang
pembangunan dan perekonomian,
pembinaan pemerintahan kualitas pelayanan
daerah bawahan informasi publik,
administrasi
pembangunan dan
pembinaan
pemerintahan daerah
bawahan
Program Pembinaan
BUMD
Program Peningkatan
Administrasi
Pembangunan Daerah
Program Peningkatan
Kualitas Pelayanan
Informasi Publik dan
Keprotokolan
Program Penataan
dan Pembinaan
Pemerintahan Umum
dan Daerah Bawahan
Program Penataan
dan Pembinaan
Pemerintahan Umum
dan Daerah Bawahan
Program Peningkatan
Pelayanan Kedinasan
Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah
Mengurangi risiko Peningkatan Program
bencana, meningkatkan pemantauan kualitas Penanggulangan
ketangguhan pemerintah dan daya dukung Bencana
dan peran serta lingkungan,
masyarakat terhadap pengendalian
bencana, serta pencemaran dan
memperkuat kapasitas kerusakan lingkungan
mitigasi dan adaptasi hidup serta
perubahan iklim. penanggulangan
pasca bencana

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 15 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

Program Mitigasi
Bencana
Program
Pengendalain Banjir
Program Rekonstruksi
dan Rehabilitasi Pasca
Bencana Daerah
Meningkatkan partisipasi Membangun Program Penataan
masyarakat dalam harmonisasi antara Peraturan Perundang-
penyusunan produk legislatif dan undangan
legislasi daerah eksekutif melalui
peningkatan kualitas
produk legislasi
daerah
Program Peningkatan
Kapasitas Lembaga
Perwakilan Rakyat
Daerah
3 Meningkatnya Memperbaiki sistem Peningkatan Program Peningkatan
Kualitas perpajakan, intensifikasi pajak, dan Pengembangan
Pengelolaan meningkatkan retribusi daerah dan Pengelolaan
Keuangan dan Aset pengendalian pemanfaaatan asset Keuangan Daerah
Pemerintah pelaksanaan pengelolaan daerah dalam
Daerah keuangan daerah, serta peningkatan
pembinaan pengelolaan pendapatan daerah,
keuangan Daerah serta peningkatan
kualitas pengelolaan
keuangan dan aset
daerah.
Program Manajemen
Aset Daerah
Program Peningkatan
Penerimaan dan
Pengamanan
Keuangan Daerah
Meningkatkan
pembinaan dan Program Pembinaan
fasilitasi terhadap dan Fasilitas
pengelolaan Pengelolaan
keuangan pemerintah Keuangan Desa
desa
4 Meningkatnya Mewujudkan Meningkatkan Program Perencanaan
partisipasi perencanaan yang partisipasi Pembangunan Daerah
masyarakat dalam berkualitas dan akuntabel masyarakat dalam
perencanaan perencanaan
pembangunan pembangunan daerah
yang berkualitas,
aplikatif dan responsif
Program Perencanaan
Pembangunan
Kecamatan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 16 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

5 Meningkatnya Mewujudkan integrasi/ Mewujudkan Program


kualitas konektivitas data melalui pengelolaan data Pengembangan Data
perencanaan pengelolaan satu data yang akurat, relevan dan Informasi
pembangunan pembangunan dan terkini dengan
daerah dan membangun koneksi
kapasitas data SKPD untuk
pengendalian dan mendukung proses
evaluasi perencanaan
pembangunan pembangunan
daerah
Program Penelitian
Perencanaan
Pembangunan
Program
Pengembangan
Perencanaan
Pembangunan
Meningkatan konsistensi Menjabarkan Program Perencanaan
perencanaan perencanaan Pembangunan Daerah
pembangunan daerah pembangunan yang
ada di tingkat yang
lebih tinggi ke dalam
perencanaan
pembangunan di
bawahnya
Program
perencanaan
pembangunan
ekonomi
Program
perencanaan
pembangunan
infrastruktur dan SDA
Program Perencanaan
Pembangunan Daerah
Bawahan
Meningkatkan kapasitas Program
pengendalian dan Melakukan monitoring Pengendalian dan
evaluasi pembangunan dan evaluasi Evaluasi
daerah pembangunan daerah Pembangunan Daerah
dengan melibatkan
semua instansi terkait
sesuai dengan SOP
6 Meningkatnya Meningkatkan kualitas Melakukan Program Pembinaan
kualitas pelayanan aparatur serta sarana pengembangan Masyarakat
publik prasarana pendukung kapasitas terhadap Kecamatan
aparatur yang
melakukan pelayanan
publik serta
mengoptimalkan
fungsi sarana
prasarana pendukung
Program Pelayanan
Administrasi Terpadu
Kecamatan dan
Kelurahan
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 17 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

Program Pembinaan
Masyarakat
Kecamatan
Meningkatkan jumlah Peningkatan akurasi Program Penataan
jaringan sistem data informasi Administrasi
kependudukan di seluruh kependudukan, Kependudukan
kecamatan Catatan Sipil melalui
pembangunan sistem
informasi
kependudukan yang
berkualitas
Meningkatkan
kepemilikan akte
kelahiran dan KTP-el
dengan
menyederhanakan
birokrasi
Meningkatkan pelayanan Meningkatkan Program
di bidang kearsipan dan pengelolaan arsip penyelamatan dan
perpustakaan secara baku serta pelestarian
peningkatan SDM dokumen/arsip
pengelola kearsipan daerah
dan pustaka
Program perbaikan
sistem administrasi
kearsipan
Program
Penyelenggaraan
Kearsipan Daerah
Program
Pengembangan
Perpustakaan
Program
Pengembangan
Budaya Baca dan
Pembinaan
Perpustakaan
7 Meningkatnya Meningkatkan cakupan Meningkatkan
kesadaran dan penegakan peraturan pemeliharaan
ketaatan daerah dan perkada kamtrantibmas dan
masyarakat dalam pembinaan potensi
penerapan produk ketahanan dan
hukum perlindungan
masyarakat
Program
Pemeliharaan
Kamtrantibmas dan
Pencegahan Tindak
Kriminal
Program Penegakan
Peraturan Daerah dan
Pengembangan
Kapasitas Pol PP
Program Pembinaan
Potensi Ketahanan
dan Perlindungan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 18 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

Masyarakat

8 Meningkatnya Meningkatkan Membekali Program


kesadaran pemahaman masyarakat masyarakat tentang Pengembangan
masyarakat dalam tentang hak dan wawasan Wawasan
kehidupan politik kewajiban politik serta kebangsaan, serta Kebangsaan
dan wawasan wawasan kebangsaan meningkatkan
kebangsaan pembinaan terhadap
LSM, Ormas dan OKP
Program Pembinaan
Kesatuan Bangsa dan
Politik
 

MISI 4. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan serta kualitas


SDM agar bisa bersaing dalam kompetisi global

No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Meningkatnya Meningkatkan mutu Peningkatan Program


keluasan dan pendidikan anak usia dini ketersediaan dan Pengembangan
kemerataan akses untuk pembangunan kualitas tenaga Pendidikan Anak Usia
PAUD bermutu berkelanjutan pendidik PAUD yang Dini dan Taman
merata di Kecamatan Kanak-Kanak
2 Meningkatnya Peningkatan pelayanan Melaksanakan wajib Program Pendidikan
Angka Partisipasi pendidikan dasar bagi belajar 9 Tahun Dasar (Wajib Belajar
Murni dan Angka seluruh anak Kabupaten dengan cara 9 Tahun)
Partisipasi Kasar Bintan dengan melanjutkan upaya
(SD/MI/SLB/Paket memberikan peluang gratis biaya sekolah
A dan yang lebih besar bagi dari tingkat
SMP/MTS/Paket anak dari keluarga pendidikan dasar
B) kurang mampu sampai dengan
tingkat menengah
3 Meningkatnya Peningkatan ketersediaan Pelaksanaan Wajib Program Penyediaan
angka melek huruf dan keterjangkauan, Belajar 9 Tahun sarana dan
didorong dengan kualitas dan kepastian untuk menuntaskan Prasarana Pendidikan
meningkatnya Pendidikan Dasar 9 buta aksara dengan
Ketersediaan, Tahun memperluas akses
Keterjangkauan, pendidikan yang
Kualitas, berkualitas melalui
Kesetaraan dan penyediaan layanan
Kepastian serta penyediaan
pendidikan sarana dan prasarana
pendidikan
Program Non Formal
Program Perencanaan
Sosial Budaya

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 19 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

4 Meningkatnya Peningkatan Meningkatkan Program Peningkatan


kompetensi Guru profesionalisme, kualitas kualifikasi akademik, Mutu Pendidik dan
dan Tenaga serta akuntabilitas guru sertifikasi guru dan Tenaga Kependidikan
Kependidikan yang dan tenaga kependidikan tenaga kependidikan
berdampak pada melalui pengutan sistem dengan perbaikan
kualitas hasil uji kompetensi guru dan desain program
belajar siswa tenaga kependidikan keselarasan disiplin
sebagai bagian dari ilmu
proses penilaian hasil
belajar siswa

5 Meningkatnya Peningkatan Upaya Meningkatkan Program Upaya


status kesehatan Kesehatan masyarakat Pembinaan Upaya Kesehatan
dan gizi ibu, anak melalui Puskesmas serta Kesehatan Masyarakat
dan lansia serta melaksanakan bina gizi masyarakat dan bina
pengendalian dan kesehatan bagi ibu gizi ibu dan anak
penyakit menular dan anak
dan tidak menular
Program Upaya
Kesehatan
Masyarakat
Program Bina Gizi dan
Kesehatan Ibu dan
Anak
Peningkatan usaha Program Peningkatan
pelayanan kesehatan Pelayanan Kesehatan
lansia Lansia
Peningkatan
Program
pengendalian
Pengendalian
penyakit menular dan
Penyakit dan
tidak menular serta
Penyehatan
usaha penyehatan
Lingkungan
lingkungan
6 Meningkatnya Peningkatan akses Meningkatkan Program Standarisasi
kualitas dan pelayanan kesehatan standarisasi Pelayanan Kesehatan
kuantitas sumber dasar, kefarmasian dan pelayanan kesehatan
daya kesehatan pengawasan obat dan melalui peningkatan
serta ketersediaan makanan melalui jaringan SDM kesehatan dan
obat dan alat SIK online melengkapi
kesehatan ketersediaan data
dan informasi
kesehatan
Pengadaan
Peningkatan Sarana
dan Prasarana Rumah
sakit
Meningkatkan Akses
dan Mutu Sediaan
Program Kefarmasian
Farmasi, Alat
dan Alat Kesehatan
Kesehatan dan
Perbekalan Kesehatan
Program Pengawasan
Obat dan Makanan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 20 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

7 Meningkatnya Peningkatan pelayanan Meningkatkan


cakupan jaminan kesehatan penduduk Pelayanan Kesehatan
pemeliharaan miskin Dasar dan Rujukan
kesehatan bagi Peserta JKN
Program Pelayanan
keluarga miskin dengan
Kesehatan Penduduk
serta mempermudah
Miskin
pemberdayaan dan pengurusan
promosi kesehatan administrasi
kepada
Masyarakat
Peningkatan Meningkatkan
pemberdayaan desa / Pelaksanaan
kelurahan dan CSR dari Pemberdayaan dan Program Promosi
perusahaan untuk Promosi Kesehatan Kesehatan dan
program kesehatan serta kepada Masyarakat Pemberdayaan
promosi kesehatan Masyarakat
kepada masyarakat

8 Terkendalinya Meningkatkan kualitas Meningkatkan Program Keluarga


pertumbuhan dan kuantitas peserta KB Kelestarian dan Berencana
penduduk serta kemandirian peserta
meningkatnya KB
keluarga yang
berkualitas dan
sejahtera
Peningkatan Ketahanan Pembentukan, Program Ketahanan
dan pemberdayaan Pembinaan dan dan Pemberdayaan
keluarga Pengembangan Bina Keluarga
Keluarga

9 Meningkatnya Mengembangkan Peningkatan Program Penempatan


kualitas, daya program kemitraan Kompetensi dan dan Perluasan
saing dan antara pemerintah Produktivitas Tenaga Kesempatan Kerja
penempatan dengan dunia usaha, dan Kerja diutamakan
tenaga kerja, serta penataan lembaga untuk para pemuda
perlindungan pelatihan berbasis Bintan yang belum
terhadap tenaga kompetensi. bekerja dan tidak
kerja. melanjutkan
pendidikan ke
perguruan tinggi.
Program Peningkatan
Kompetensi dan
Produktifitas Tenaga
Kerja
Program Perlindungan
Pengembangan
Lembaga
Ketenagakerjaan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 21 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

10 Meningkatnya Mengupayakan hubungan Perbaikan Iklim Program


perlindungan industrial harmonis, Ketenagakerjaan dan Pengembangan
pengembangan dinamis dan berkeadilan, Hubungan Industrial Hubungan Industrial
lembaga kelangsungan usaha yang harmonis. dan Peningkatan
ketenagakerjaan serta peningkatan Jaminan Sosial
kesejahteraan pekerja Tenaga Kerja
dan perlindungan tenaga
kerja
 

MISI 5. Mewujudkan pembangunan karakter masyarakat yang


religius dan berbudaya Melayu sebagai landasan
pembangunan masyarakat
 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Meningkatnya Memberdayakan Peningkatan kegiatan Program Pengelolaan


kelestarian nilai- lembaga-lembaga adat budaya, Keragaman Budaya
nilai dan seni terutama adat melayu penyelenggaraan
budaya melayu untuk melestarikan nilai- festival seni budaya,
sebagai kekayaan nilai budaya melayu serta Cagar Budaya
budaya daerah dalam kehidupan
masyarakat.

Program Pengelolaan
Kekayaan Budaya
2 Terwujudnya Meningkatkan kerukunan Peningkatan kualitas Program Peningkatan
toleransi antar umat bergama. pemahaman, Toleransi dan
umat beragama pengamalan dan Kerukunan Umat
kerukunan umat Beragama
beragama melalui
komunikasi lintas
Agama
Program Pemenuhan
Kebutuhan Sarana
Peribadatan
3 Terwujudnya Pengembangan Pelaksanaan kegiatan Program Pembinaan
pemahaman dan pendidikan agama di keagamaan di Keagamaan
pengamalan masyarakat dan sekolah masyarakat dan
agama sesuai sekolah-sekolah dan
dengan agama dan pembangunan rumah
keyakinan masing- tahfiz di setiap
masing kecamatan
Program Pembinaan
Kesejahteraan Rakyat
 

 
 
Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 22 

 
MISI 6. Mengoptimalkan pemberdayaan masayarakat, Mewujudkan
Kesejahteraan Sosial dan pengarusutamaan gender dalam
berbagai aspek pembangunan

No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Meningkatnya Menerapkan Perencanaan Peningkatan Program Kesetaraan


kesetaraan dan dan Penganggaran yang kapasitas Gender dan
keadilan gender Responsif Gender kelembagaan Pemberdayaan
dalam (PPRG), dan Memperkuat pengarusutamaan Perempuan
pembangunan sistem perlindungan anak gender, peningkatan
serta perlindungan dan perempuan dari kualitas hidup dan
terhadap berbagai tindak peran perempuan,
perempuan dan kekerasan, termasuk serta Peningkatan
anak. tindak pidana upaya pencegahan,
perdagangan orang penanganan, dan
(TPPO), dengan rehabilitasi terhadap
melakukan berbagai anak, perempuan,
upaya pencegahan dan dan kelompok
penindakan. marjinal.

Program Perlindungan
Anak
2 Menurunnya Memperbaiki program Peningkatan Program
persentase perlindungan sosial, implementasi Penanggulangan
penduduk miskin meningkatkan akses program-program Kemiskinan
terhadap pelayanan penanggulangan
dasar, Pemberdayaan kemiskinan secara
kelompok masyarakat terpadu dan
miskin serta berkelanjutan.
menciptakan pembangun
an yang inklusif.
Program Perlindungan
dan Jaminan Sosial
3 Meningkatnya Meningkatkan Peningkatan Program
penanganan pembudayaan pemberdayaan dan Pemberdayaan Sosial
terhadap kesetiakawanan sosial pelayanan rehabilitasi
penyandang dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial
masalah kesejahteraan sosial
kesejahteraan
sosial
Program Rehabilitasi
Sosial
4 Meningkatnya Memperkuat Penguatan Program Peningkatan
partisipasi Kelembagaan, Kelembagaan Pemberdayaan dan
masyarakat dalam Pengembangan Masyarakat untuk Partisipasi Masyarakat
pembangunan Partisipasi masyarakat berpartisipasi dalam dalam Pembangunan
dan Peningkatan pembangunan serta
pemberdayaan sosial, peningkatan
budaya dan ekonomi keswadayaan
masyarakat masyarakat
Program Perencanaan
Pembangunan Daerah
Bawahan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 23 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

5 Meningkatnya Mengembangkan Pengembangan data Program Perencanaan


pengelolaan kelembagaan ekonomi dan informasi Pembangunan Daerah
pembangunan oleh pedesaan dan aparatur pedesaan, Bawahan
pemerintah desa desa pengembangan
lembaga ekonomi
desa serta
peningkatan
kapasitas aparatur
pemerintah desa
Program
pengembangan
lembaga ekonomi
pedesaan
Program peningkatan
kapasitas aparatur
pemerintah desa
Program pembinaan
dan fasilitasi
pengelolaan
keuangan desa

MISI 7. Memberdayakan pemuda sebagai pelopor pembangunan di


Kabupaten Bintan

No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Meningkatnya Meningkatkan kualitas Meningkatkan kualitas Program Peningkatan


pemberdayaan dan kuantitas generasi generasi muda dan peran serta
generasi muda dan muda melalui pembinaan olah raga Kepemudaan
olah raga dan peningkatan prestasi
olah raga

Meningkatkan Meningkatkan kualitas Program Pembinaan


pemberdayaan pemuda sarana dan prasarana dan Pemasyarakatan
dalam pembangunan olah raga Olah Raga
diperbatasan

Program peningkatan
sarana dan prasarana
Olahraga
 

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 24 

 
MISI 8. Mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas
pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan

No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

1 Meningkatnya Peningkatan produktivitas Meningkatkan Program Peningkatan


jumlah produksi perkebunan melalui produksi, produtifitas Produksi Produktivitas
dan produktivitas revitalisasi penyuluhan dan mutu tanaman dan Mutu Produk
pertanian dan dan pemberdayaan perkebunan Tanaman Perkebunan
perkebunan kelompok tani secara berkelanjutan melalui Berkelanjutan
berkelanjutan pengembangan
komoditas, SDM,
Kelembagaan dan
Kemitraan usaha,
Investasi usaha
perkebunan sesuai
dengan kaedah
pengelolaan sumber
daya alam dan
lingkungan hidup.
Peningkatan produktivitas Meningkatkan Program Peningkatan
Pertanian Tanaman produksi, produtifitas Produksi,
Pangan melalui dan mutu tanaman Produktivitas, dan
revitalisasi penyuluhan pangan melalui Mutu Produk
dan pemberdayaan pengembangan Tanaman Pangan
kelompok tani secara komoditas, SDM,
berkelanjutan Kelembagaan dan
Kemitraan usaha,
Investasi usaha
perkebunan sesuai
dengan kaedah
pengelolaan sumber
daya alam dan
lingkungan hidup.
Peningkatan produktivitas Meningkatkan Program Peningkatan
Pertanian Tanaman produksi, produtifitas Produksi,
Hortikultura ramah dan mutu tanaman Produktivitas, dan
lingkungan melalui hortikultura ramah Mutu hasil Tanaman
revitalisasi penyuluhan lingkungan melalui Hortikultura Ramah
dan pemberdayaan pengembangan Lingkungan
kelompok tani secara komoditas, SDM,
berkelanjutan Kelembagaan dan
Kemitraan usaha,
Investasi usaha
perkebunan sesuai
dengan kaedah
pengelolaan sumber
daya alam dan
lingkungan hidup.

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 25 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

Peningkatan penyediaan Meningkatkan Program Penyediaan


dan pengembangan penyediaan dan dan Pengembangan
Prasarana dan sarana pengembangan Prasarana dan Sarana
Pertanian melalui Prasarana dan Sarana Pertanian
revitalisasi penyuluhan pertanian melalui
dan pemberdayaan pengembangan
kelompok tani secara komoditas, SDM,
berkelanjutan Kelembagaan dan
Kemitraan usaha,
Investasi usaha
perkebunan sesuai
dengan kaedah
pengelolaan sumber
daya alam dan
lingkungan hidup.
2 Meningkatnya Peningkatan produktivitas Meningkatkan Program Pemenuhan
jumlah produksi perternakan melalui produksi, produtifitas Pangan Asal Ternak
dan produktivitas revitalisasi penyuluhan dan mutu ternak dan Agribisnis
Peternakan dan pemberdayaan berkelanjutan melalui Peternakan Rakyat
kelompok peternak pengembangan
secara berkelanjutan komoditas, SDM,
Kelembagaan dan
Kemitraan usaha,
Investasi usaha
peternakan sesuai
dengan kaedah
pengelolaan sumber
daya alam dan
lingkungan hidup.
3 Meningkatnya Meningkatkan kerjasama Peningkatan Program Peningkatan
ketersediaan, dengan lembaga yang cadangan pangan, Ketahanan Pangan
distribusi dan bergerak dalam bidang pemantauan harga, pertanian/perkebunan
konsumsi pangan distribusi pangan untuk distribusi dan
yang beragam, memastikan ketersediaan keamanan pangan,
bergizi, berimbang pasokan pangan dan serta
dan aman serta stabilitas harga pangan penganekaragaman
terjangkau bagi pokok. konsumsi pangan
masyarakat di secara merata di
seluruh wilayah seluruh wilayah.

Program Peningkatan
Ketahanan Pangan
pertanian/perkebunan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 26 

 
No Sasaran Strategi Arah Kebijakan Program

4 Meningkatnya Meningkatkan kualitas Peningkatan Program


kebersihan lingkungan yang pengawasan dan Pengendalian
lingkungan serta menyeluruh melalui pengendalian Pencemaran dan
upaya Penguatan sistem pencemaran/ Perusakan
meningkatkan pemantauan kualitas perusakan lingkungan Lingkungan Hidup
kualitas lingkungan hidup, hidup.
lingkungan hidup penegakan hukum
secara lingkungan, dan
berkelanjutan pemanfaatan sumber
daya alam secara
berkelanjutan.

Penyelenggaraan
pendidikan, pelatihan,
dan penyuluhan
lingkungan hidup
untuk lembaga
kemasyarakatan
tingkat Daerah
Program Peningkatan
Kualitas dan Akses
Informasi Sumber
Daya dan Lingkungan
Hidup
Program Pengelolaan
Sumber Daya Alam
dan Lingkungan
Hidup
Program
Pengembangan
Kinerja Pengelolaan
Persampahan
Program
Pengembangan
Sarana dan Prasarana
Persampahan
5 Meningkatnya luas Meningkatkan/ Pengelolaan ruang Program Peningkatan
ruang terbuka Mempertahankan luas terbuka hijau dan Prasarana
hijau yang dikelola ruang terbuka hijau dan tempat pemakaman Penerangan Jalan
pengelolaan tempat umum dengan Umum
pemakaman umum memperhatikan
lingkungan yang
berkelanjutan
Program Pengelolaan
Ruang Terbuka Hijau
Program Pengelolaan
Tempat Pemakaman
Umum

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan   VI ‐ 27 

 
RPJMD 2016-2021

BAB. VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM


PEMBANGUNAN DAERAH

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun


2010 perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah
dalam bab tujuh bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara
bidang urusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator
kinerja sasaran yang menjadi acuan penyusunan program
pembangunan jangka menengah daerah berdasarkan strategi dan arah
kebijakan yang ditetapkan. Melalui rumusan kebijakan umum, diperoleh
sarana untuk menghasilkan berbagai program yang paling efektif
dalam mencapai sasaran.
Sedangkan dari perumusan program pembangunan daerah
menghasilkan rencana pembangunan yang konkrit dalam bentuk
program prioritas yang secara khusus berhubungan dengan capaian
sasaran pembangunan daerah. Dalam mewujudkan capaian
keberhasilan pembangunan, Pemerintah Kabupaten Bintan menetapkan
rangkaian program sesuai dengan Urusan Wajib dan Urusan Pilihan
yang dilaksanakan oleh SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Bintan. Penetapan program pembangunan dan penanganan urusan
pembangunan yang disesuaikan dengan misi pembangunan daerah
adalah sebagai berikut.

MISI 1 Mewujudkan Kabupaten Bintan sebagai daerah tujuan


investasi yang berdaya saing dengan mengoptimalkan
potensi ekonomi lokal terutama di bidang pariwisata
dan kelautan

Program untuk mendukung misi ini adalah :


1) Urusan Penanaman Modal

a. Program Pengawasan dan Pengendalian Investasi

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐1


b. Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi
a.
c. Program Peningkatan Daya Saing Penanaman Modal
b. P
Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi
d. r
Investasi
o
e. g Program Pelayanan Perizinan Non Investasi

2) Urusan Penataan Ruang

a. Program Perencanaan Tata Ruang


b. Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang

3) Urusan Pariwisata
a. Program Pengembangan Destinasi Pariwisata

b. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata

C. Program Pengembangan Usaha dan Industri Pariwisata

d. Program Pengembangan Kemitraan

4) Urusan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah


a. Program Peningkatan Kemampuan Kewirausahaan bagi
Koperasi dan UMKM
b. Program Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas
Kelembagaan Koperasi dan UMKM

5) Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi


Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian
a. Program Pembinaan BUMD

6) Urusan Kelautan dan Perikanan


a. Program pengembangan budidaya perikanan

b. Program Pengembangan Perikanan Tangkap


Program pencegahan dan penanggulangan hama penyakit
c.
ikan
d. Program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐2


7) Urusan Perindustrian
a. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah

8) Urusan Perdagangan
Program Perlindungan Konsumen dan pengamanan
a.
perdagangan
Program Pengembangan dan Peningkatan Sarana dan
b.
Prasarana Perdagangan

MISI 2. Mewujudkan pelayanan infrastruktur daerah yang


berkualitas, terintegrasi dan merata
1) Urusan Perhubungan
Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas
a.
Perhubungan
b. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan

c. Program Peningkatan dan Pengamanan Lalu Lintas


Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pos dan
d.
Telekomunikasi
Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan
e.
Fasilitas Perhubungan
f. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan
Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kendaraan
g.
Bermotor

2) Urusan Pekerjaan Umum

a. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan

b. Program Rehabilitasi / Pemeliharan Jalan dan Jembatan

c. Program Peningkatan Perencanaan Teknis


Program Pengembangan Sarana prasarana Perumahan Dan
d.
Permukiman
Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi
e.
dan jaringan pengairan lainnya
f. Program Pengendalian Banjir

g. Program Pembangunan Drainase dan Gorong-Gorong Jalan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐3


3) Urusan Perumahan
a. Program Pengembangan Kinerja Air Minum dan Air Limbah

b. Program Penyehatan Lingkungan Permukiman

4) Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi


Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian
a. Program Pengembangan Wilayah Perbatasan

MISI 3. Mewujudkan penyelenggaraan tata kelola


pemerintahan yang baik (good governance) dan
demokratis sebagai langkah melayani masyarakat
dengan sepenuh hati
1) Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian

a. Program Pendidikan Kedinasan


Program Peningkatan Administrasi dan Mutasi Kepegawaian
b.
Daerah
c. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur
Program Penataan dan Pembinaan Pemerintahan Umum
d.
dan Daerah Bawahan
Program Pengawasan dan Pengendalian Internal dan
e.
Eksternal
Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas
f.
Aparatur
Program Pembinaan dan Pengawasan serta Peningkatan
g.
Akuntabilitas Pembangunan Daerah
h. Program Pengelolaan Administrasi Wilayah Perbatasan
Program Penataan, Ketatalaksanaan dan Peningkatan
i.
Kapasitas Kelembagaan Daerah
Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas
j.
Aparatur
k. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐4


l. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan
Program Penataan, Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan
m.
dan Pemanfaatan Tanah
n. Program Pembinaan Pertanahan

o. Program Koordinasi Kebijakan Bidang Perekonomian

p. Program Pembinaan BUMD

q. Program Peningkatan Administrasi Pembangunan Daerah


Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Publik
r.
dan Keprotokolan
Program Penataan dan Pembinaan Pemerintahan Umum
s.
dan Daerah Bawahan
Program Penataan dan Pembinaan Pemerintahan Umum
t.
dan Daerah Bawahan
Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah
u.
dan Wakil Kepala Daerah
v. Program Penanggulangan Bencana

w. Program Mitigasi Bencana

x. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan


Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan
y.
Rakyat Daerah
Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan
z.
Keuangan Daerah
aa. Program Manajemen Aset Daerah
Program Peningkatan Penerimaan dan Pengamanan
bb.
Keuangan Daerah
Program Pembinaan dan Fasilitas Pengelolaan Keuangan
cc.
Desa
dd. Program Perencanaan Pembangunan Kecamatan

ee. Program Pembinaan Masyarakat Kecamatan


Program Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan dan
ff.
Kelurahan
Program Pemeliharaan Kamtrantibmas dan Pencegahan
gg.
Tindak Kriminal
Program Penegakan Peraturan Daerah dan Pengembangan
hh.
Kapasitas Pol PP

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐5


Program Pembinaan Potensi Ketahanan dan Perlindungan
ii.
Masyarakat
2) Urusan Pekerjaan Umum
Program Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pasca Bencana
a.
Daerah
b. Program Pengendalain Banjir

3) Urusan Perencanaan Pembangunan

a. Program Perencanaan Pembangunan Daerah

b. Program Pengembangan Data dan Informasi

c. Program Penelitian Perencanaan Pembangunan

d. Program Pengembangan Perencanaan Pembangunan

e. Program perencanaan pembangunan ekonomi

Program perencanaan pembangunan infrastruktur dan


f.
SDA

g. Program Perencanaan Pembangunan Daerah Bawahan

h. Program Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah

4) Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil

a. Program Penataan Administrasi Kependudukan


5) Urusan Kearsipan
Program penyelamatan dan pelestarian dokumen/arsip
a.
daerah
b. Program perbaikan sistem administrasi kearsipan
c. Program Penyelenggaraan Kearsipan Daerah
6) Pendidikan
a.
Program Pengembangan Perpustakaan
b. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan
Perpustakaan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐6


7) Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
a. Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan

b.
Program Pembinaan Kesatuan Bangsa dan Politik

MISI 4. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan serta


kualitas SDM agar bisa bersaing dalam kompetisi global
1) Urusan Pendidikan
Program Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan
a.
Taman Kanak-Kanak
b. Program Pendidikan Dasar (Wajib Belajar 9 Tahun)

c. Program Penyediaan sarana dan Prasarana Pendidikan

d. Program Non Formal


Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
e.
Kependidikan

2) Urusan Perencanaan Pembangunan


a. Program Perencanaan Sosial Budaya

3) Urusan Kesehatan
a. Program Upaya Kesehatan Masyarakat

b. Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak

c. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia


Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
d.
Lingkungan
e. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan

f. Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan

g. Program Pengawasan Obat dan Makanan

h. Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin

i. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐7


4) Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
a. Program Keluarga Berencana

b. Program Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga

5) Urusan Ketenagakerjaan

a. Program Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja


Program Peningkatan Kompetensi dan Produktifitas Tenaga
b.
Kerja
Program Perlindungan Pengembangan Lembaga
c.
Ketenagakerjaan
Program Pengembangan Hubungan Industrial dan
d.
Peningkatan Jaminan Sosial Tenaga Kerja

MISI 5. Mewujudkan pembangunan karakter masyarakat yang


religius dan berbudaya Melayu sebagai landasan
pembangunan masyarakat
1) Urusan Kebudayaan
a. Program Pengelolaan Keragaman Budaya

b. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya

2) Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri


Program Peningkatan Toleransi dan Kerukunan Umat
a.
Beragama

3) Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi


Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian
a. Program Pemenuhan Kebutuhan Sarana Peribadatan

b. Program Pembinaan Keagamaan

Program Pembinaan Kesejahteraan Rakyat

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐8


MISI 6. Mengoptimalkan pemberdayaan masayarakat,
Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dan
pengarusutamaan gender dalam berbagai aspek
pembangunan
1) Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Program Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
a.
Program Perlindungan Anak
b.
2) Urusan Sosial
Program Pemberdayaan Sosial
a.
Program Penanggulangan Kemiskinan
b.

c. Program Rehabilitasi Sosial


Program Perlindungan dan Jaminan Sosial
d.
3) Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Program Peningkatan Pemberdayaan dan Partisipasi
a.
Masyarakat dalam Pembangunan
b. Program pengembangan lembaga ekonomi pedesaan

c. Program peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa


Program pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan
d.
desa
4) Urusan Perencanaan Pembangunan
a. Program Perencanaan Pembangunan Daerah Bawahan

MISI 7. Memberdayakan pemuda sebagai pelopor pembangunan


di Kabupaten Bintan
1) Kepemudaan dan Olahraga
a. Program Peningkatan peran serta Kepemudaan

b. Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga

c. Program peningkatan sarana dan prasarana Olahraga

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐9


MISI 8. Mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan
kualitas pengelolaan lingkungan hidup yang
berkelanjutan
1) Urusan Pertanian
Program Peningkatan Produksi Produktivitas dan Mutu
a.
Produk Tanaman Perkebunan Berkelanjutan
Program Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu
b.
Produk Tanaman Pangan
Program Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu
c.
hasil Tanaman Hortikultura Ramah Lingkungan
Program Penyediaan dan Pengembangan Prasarana dan
d.
Sarana Pertanian
Program Pemenuhan Pangan Asal Ternak dan Agribisnis
e.
Peternakan Rakyat

2) Urusan Ketahanan Pangan


a. Program Peningkatan Ketahanan Pangan
pertanian/perkebunan

3) Urusan Lingkungan Hidup


Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan
a.
Lingkungan Hidup
Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber
b.
Daya dan Lingkungan Hidup
Program Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan
c.
Hidup
d. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan
Program Pengembangan Sarana dan Prasarana
e.
Persampahan

4) Pekerjaan Umum
a. Program Peningkatan Prasarana Penerangan Jalan Umum

b. Program Pengelolaan Tempat Pemakaman Umum

5) Penataan Ruang
a. Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VII‐10


RPJMD 2016-2021
BAB. VIII
INDIKASI RENCANA PROGRAM
PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN
PENDANAAN

Dalam bagian ini berdasarkan penjelasan dari Peraturan Menteri Dalam


Negeri nomor 54 Tahun 2010, diuraikan hubungan urusan pemerintah
dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab
SKPD. Selain itu juga disajikan pula pencapaian target indikator kinerja
pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan
pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan.

Setelah program prioritas diketahui, dibuatlah alokasi pagu untuk setiap


program. Pagu indikatif program merupakan jumlah dana yang tersedia
untuk mendanai program prioritas tahunan yang penghitungannya
berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

lndikasi rencana program prioritas Pemerintah Kabupaten Bintan berisi


program- program baik untuk mencapai visi dan misi pembangunan
jangka menengah maupun untuk pemenuhan layanan SKPD dalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah. Adapun pagu indikatif
sebagai wujud kebutuhan pendanaan adalah jumlah dana yang tersedia
untuk penyusunan program dan kegiatan tahunan. Program-program
prioritas yang telah disertai kebutuhan pendanaan atau pagu indikatif
selanjutnya dijadikan sebagai acuan bagi SKPD dalam penyusunan
Rencana Strategis SKPD, termasuk dalam menjabarkannya ke dalam
kegiatan prioritas beserta kebutuhan pendanaannya.

Pencapaian target kinerja program (outcome) di masing-masing urusan


sesungguhnya tidak hanya didukung oleh pendanaan yang
bersumber dari APBD Kabupaten Bintan, tetapi juga dari sumber
pendanaan lainnya (APBN, APBD Propinsi, dan Sumber-sumber

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VIII - 1


pendanaan lainnya). Namun demikian, pencantuman pendanaan di
dalam Tabel 8.1 hanya yang bersumber dari APBD Kabupaten Bintan

Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai


kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil
verifikasi terhadap rencana program, kegiatan, indikator kinerja,
kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan
Renstra SKPD. Penjelasan selengkapnya dapat dilihat pada tabel
berikut ini :

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan VIII - 2


Tabel 8-1
Indikasi Rencana Program Prioritas

Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

Rutin (Urusan Wajib dan Pilihan)


121.28
Program Pelayanan Administrasi 95.033.1 99.784. 104.774. 110.012.7 115.513.
9.075.
Perkantoran 64.263 822.476 063.600 66.780 405.119
375
57.151
Program Peningkatan Sarana dan 44.779.3 47.018. 49.369.2 51.837.72 54.429.6
.087.3
Prasarana Aparatur 72.359 340.977 58.026 0.927 06.973
22
4.908.
Program Peningkatan Disiplin 3.846.15 4.038.4 4.240.39 4.452.410. 4.675.03
782.06
Aparatur 9.194 67.154 0.511 037 0.539
6
7.104.
Program Peningkatan Kapasitas 5.566.25 5.844.5 6.136.80 6.443.640. 6.765.82
113.73
Sumber Daya Aparatur 9.000 71.950 0.548 575 2.604
4
Program Peningkatan Pengembangan 4.199.
3.290.24 3.454.7 3.627.49 3.808.867. 3.999.31
Sistem Pelaporan Capaian Kinerja 276.34
2.900 55.045 2.797 437 0.809
dan Keuangan 9

Dinas Pendidikan
Pendidikan
Program Pengembangan Pendidikan
Anak Usia Dini dan Taman Kanak-
Kanak
APK PAUD 0-6 Tahun 56,74 57,73 58,73 59,73 61.00 62,5
Rasio guru murid PAUD 01:09 01:08 01:08 01:08 1:8 01:08 01:08
Jumlah lembaga PAUD yang
17 20 23 26 29 29
terakreditasi
Program Pendidikan Dasar (Wajib
21.660 21.660 21.660 21.660 21.660
Belajar 9 Tahun)

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 3
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
APM SD/MI/SLB/Paket A 94,69 95,21 95,75 96,31 96,89 97 97,5
APK SD/MI/SLB/Paket A 102,75 104,79 104,25 103,69 103,11 103 102,5
APM SMP/MTs/Paket B 76,95 77,3 77,8 78 78,3 78,95 80
APK SMP/MTs/Paket B 100,5 122,7 122,2 122 121,7 121,1 120
Angka putus sekolah SD/SMP 0,22 0,20 0,18 0,16 0,14 0,12 0,10
Rasio APM perempuan laki-laki di SD 99,67 99,7 99,78 99,83 100 100 100
Rasio APM perempuan laki-laki di
101,09 100,78 100,52 100,88 100 100 100
SMP
Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) 8,28 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00
Program Peningkatan Mutu Pendidik
400 450 600 600 600
dan Tenaga Kependidikan
Persentase guru TK bersertifikat
profesi 13,2 17,6 19,02 20,54 22,6 24,86 27,34

Persentase guru SD bersertifikat


profesi 44,2 49,2 53,12 57,37 63 69,41 76,35

Persentase guru SLTP bersertifikat


profesi 43,7 63,5 68,63 74,12 81,53 89,68 98,65

Persentase pengawas bersertifikat


profesi 35,7 100 100 100 100 100 100

Guru yang memenuhi kualifikasi


S1/D-IV 79,73 83,1 87,3 92,3 95 98 100

Persentase guru yang lulus Uji


Kompetensi Guru (UKG) 16,92 52,52 57,77 66,44 76,4 87,86 100

Program Non Formal 50 3.473 3.717 3.947 4.149

Angka Melek Huruf (AMH) 99,63 99,63 99,72 99,81 99,91 100 100

Pemuda dan Olahraga


Program Peningkatan peran serta
4.660 5.970 7.335 5.285
Kepemudaan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 4
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Persentase organisasi kepemudaan
50 60 65 70 75 80 85
yang aktif
Jumlah pemuda yang mandiri dan
43 48 51 54 57 60 63
berdaya saing
Program Pembinaan dan
2.820 2.490 3.220 2.770
Pemasyarakatan Olah Raga
Jumlah prestasi olah raga yang diraih 43 33 40 45 48 50 53
Program peningkatan sarana dan
2,980 3.593 4.232 4.949
prasarana Olahraga
Persentase sarana dan prasarana
0 40 50 58 69 75 80
olahraga yang standar
Dinas Kesehatan
Kesehatan
7.462.
Program Upaya Kesehatan 9.558.2 8.984.73 8.445.653. 7.938.91
579.69
Masyarakat 32.000 8.080 795 4.567
3
Persentase Puskesmas yang 0 0 20 40 60 80 80
menyelenggarakan kesehatan kerja - - - -
dasar
Jumlah Pos UKK yang terbentuk 0 1 2 - 3 - 4 - 5 - 5
Persentase Puskesmas yang 0 13 26 45 60 75 75
menyelenggarakan kesehatan - - - -
tradisional dan komplementer
Jumlah Puskesmas Yang Menerapkan 0 2 4 7 11 15 15
Pelayanan Keperawatan Kesehatan - - - -
Masyarakat (Perkesmas)
2.501.
Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu 3.204.2 3.011.98 2.831.262. 2.661.38
703.94
dan Anak 36.029 1.867 955 7.178
7
Persentase ibu hamil Kurang Energi
Protein (KEK) yang mendapat 95 95 96 97 98 98 98
makanan tambahan
Persentase ibu hamil yang mendapat 92,67 93 94 95 96 98 98
- - - -
Tablet Tambah Darah (TTD)

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 5
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Persentase bayi usia kurang dari 6 0 26 27 28 29 30 30
bulan yang mendapat ASI Eklusif - - - -

Persentase bayi baru lahir mendapat 0 50 55 60 65 70 70


Inisiasi Menyusui Dini (IMD) - - - -

Persentase balita (baduta=bayi dua 95 95 96 97 98 98 98


tahun) kurus yang mendapat - - - -
makanan tambahan
Persentase Anemia Ibu Hamil 0,38 0,37 0,35 - 0,32 - 0,3 - 0,25 - 0,25
Persentase Bayi BBLR 0,4 0,4 0,4 - 0,4 - 0,4 - 0,4 - 0,4
Persentase balita gizi kurang 2,14 2,14 2,14 - 2,14 - 2,14 - 2,14 - 2,14
Persentase balita Wasting ( Kurus ) 0,8 0,8 0,79 - 0,78 - 0,77 - 0,75 - 0,75
Persentase Baduta Stunting 32 31 30 29 28 28
- - - -

Presentase balita gizi buruk 0,35 0,35 0,35 - 0,34 - 0,33 - 0,33 - 0,33
Persentase balita Gizi buruk yang 100 100 100 100 100 100 100
- - - -
dirawat
Persentase balita ditimbang berat 83,6 83,7 83,8 84 84,5 85 85
- - - -
badannya
Persentase pemberian makanan 100 100 100 100 100 100 100
pendamping ASI pada anak usia 6-24 - - - -
bulan keluarga miskin
Persentase Balita dapat Vit. A dosis 95,84 95,85 95,87 95,89 96 96 96
- - - -
tinggi (200.000 IU)
Persentase kunjungan neonatal 80 80 85 90 95 95 95
pertama (KN1) - - - -

Persentase pelayanan kesehatan 98 98 98 98 98 98 98


Neonatus 0 sampai 28 hari (KN - - - -
Lengkap)
Kasus Kematian Bayi 32 39 37 - 35 - 34 - 32 - 32
Jumlah kasus kematian anak balita 6 6 6 - 6 - 6 - 6 - 6
Persentase kunjungan bayi 85 85 86 - 87 - 88 - 90 - 90

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 6
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Persentase kunjungan balita 71 71 72 73 74 75 75
- - - -

Puskesmas yg melaksanakan 0 81 81 86 93 93 93
pelayanan Neonatal Esensial sesuai - - - -
standar.
Angka Kelangsungan Hidup Bayi 990 990 990 990 990 990 990
- - - -
(AKHB).
Persentase Puskesmas yang 33 40 40 47 60 60 60
Melaksanakan Penjaringan Kesehatan - - - -
untuk Peserta Didik Kelas 7 dan 10
Persentase remaja puteri yang 0 10 15 20 25 30 30
- - - -
mendapat Tablet Tambah Darah (TTD)
Persentase Puskesmas yang 80 80 87 93 93 100 100
melaksanakan kelas ibu hamil - - - -

Persentase Puskesmas Puskesmas 80 80 87 87 93 100 100


yang melakukan orientasi program
- - - -
Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K)
Persentase ibu hamil yang 95,4 74 76 76 78 85 85
mendapatkan Pelayanan antenatal
- - - -
minimal 4 kali (K4) dengan pelayanan
10 T
Persentase persalinan oleh tenaga 96,4 96,4 96,5 96,5 97,1 97,2 97,2
- - - -
kesehatan (PN)
Persentase persalinan di fasilitas 98 98 98 98 98 98 98
- - - -
pelayanan kesehatan (PF)
Persentase kunjungan ibu nifas 96,4 96,4 96,5 96,5 97,1 97,2 97,2
- - - -
lengkap
Jumlah kasus kematian ibu 7 7 7 - 7 - 7 - 7 - 7
Persentase Bumil Komplikasi yang 100 100 100 100 100 100 100
- - - -
Ditangani
Program Peningkatan Pelayanan
160.122 150.515. 141.484.4 132.995. 125.01
Kesehatan Lansia
.700 338 18 353 5.631
Persentase Puskesmas yang
Menyelenggarakan Pelayanan 10 20 30 40 50 53 53
Kesehatan Usia Lanjut

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 7
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia 70 72 74 76 78 80 80
- - - -
Lanjut
Program Pengendalian Penyakit dan
292.129 274.601. 258.125.4 242.637. 228.07
Penyehatan Lingkungan
.286 529 37 911 9.636
Persentase anak usia o sampai 11
bulan yang mendapat imunisasi dasar 97 97 97 97 97 97 97
lengkap
Persentase sinyal kewaspadaan dini 91 92 93 94 95 95 95
- - - -
yang direspon
Persentase hasil pemeriksaan haji (3 100 100 100 100 100 100 100
bulan sebelum operasional) - - - -

Persentase penurunan kasus Penyakit 34,5 35 37 38 40 40 40


yang dapat Dicegah Dengan Imunisasi - - - -
(PD3I) tertentu
Jumlah Kecamatan dengan API < 1 10 10 10 10 10 10 10
per 1.000 penduduk - - - -

Jumlah Kecamatan endemis Filariasis 0 2 2 2 2 2 2


berhasil menurunkan angka - - - -
mikrofiliria menjadi < 1%
Persentase Kecamatan dengan IR 20 33 33 33 33 33 33
DBD < 49 per 100.000 penduduk - - - -

Persentase cakupan penemuan kasus 80 81 82 83 84 85 85


baru kusta tanpa cacat - - - -

Persentase Kecamatan dengan angka 80 81 82 83 84 85 85


keberhaslan pengobatan TB Paru BTA - - - -
Positif (sucsess rate) minimal 85%
Persentase angka kasus HIV yang 90 90 90 90 90 90 90
diobati. - - - -

Persentase Kecamatan yang 50% 53 53 60 67 73 80 80


Puskesmasnya melakukan
- - - -
pemeriksaan dan tatalaksana
Pneumonia melalui program MTBS
Persentase Puskesmas yang 0 20 30 40 50 50 50
melaksanakan pengendalian PTM - - - -
terpadu

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 8
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Persentase Desa/Kelurahan yang 29,4 31 35 41 45 51 51
melaksanakan kegiatan Pos - - - -
Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM
Persentase penurunan prevalensi 7,2 6,9 6,4 5,9 5,6 5,4 5,4
merokok pada usia ≤ 18 tahun - - - -

Jumlah Desa/Kelurahan yang 18 19 20 21 22 23 23


melaksanakan STBM - - - -

Persentase sarana air minum yang 60 63 66 69 72 75 75


dilakukan pengawasan - - - -

Persentase Tempat Umum yang 80 82 84 86 88 90 90


memenuhi syarat kesehatan - - - -

Persentase RS yang melakukan 0 50 50 100 100 100 100


pengelolaan limbah medis sesuai - - - -
standar
Persentase Tempat Pengelolaan 80 82 84 86 88 90 90
Makanan (TPM) yang memenuhi - - - -
syarat kesehatan
Persentase penduduk yang 76 78 80 82 84 86 86
melaksanakan STOP BABS - - - -

Jumlah Desa/Kelurahan yang 8 9 11 13 15 17 17


menyelenggarakan tatanan kawasan - - - -
sehat
Program Standarisasi Pelayanan 1.099.
1.408.8 1.324.28 1.244.828. 1.170.13
Kesehatan 930.66
14.770 5.884 731 9.007
7
Jumlah Kecamatan yang memiiliki 0 1 2 4 7 10 10
1Puskesmas yang tersertifikasi
akreditasi
Jumlah Puskesmas yang Minimal 5 5 7 9 12 15 15
- - - -
Memiliki 5 Jenis Tenaga Kesehatan
Jumlah Puskesmas yang memiliki 5 5 6 7 8 9 9
- - - -
Jaringan SIK Online
30 55 80 105 130 155 180
Jumlah SDM Kesehatan yang dilatih - - - -
Program Kefarmasian dan Alat 8.705.0 8.182.74 7.691.779. 7.230.27 6.796.
Kesehatan 47.300 4.462 794 3.007 456.62

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 9
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
6

Persentase kesediaan obat dan vaksin


67,5 70 73 75 78 80 80
di Puskesmas
Jumlah Puskesmas yang Memiliki 6 7 8 9 10 10
70% Alat Kesehatan Sesuai 5 - - - -
Permenkes 75 Tahun 2014
Program Pengawasan Obat dan 147.291 138.453. 130.146.6 122.337. 114.99
Makanan .362 880 47 849 7.578
Persentase Puskesmas yang
melaksanakan pelayanan kefarmasian 13 13 20 33 46 60 60
sesuai standar
Persentase penggunaan obat rasional 55,2 55,5 55,8 56,1 56,4 56,7 56,7
di Puskesmas - - - -

Program Pelayanan Kesehatan 4.914.2 4.619.44 4.342.273. 4.081.73 3.836.


Penduduk Miskin 98.074 0.190 778 7.351 833.11
0
Jumlah penduduk yang menjadi
12.00
peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) 1.140 5.000 6.000 8.000 10.000 12.000
0
melalui JKN
Persentase kunjungan peserta JKN di 120 130 150 170 180 180 180
FKTP - - - -

Jumlah rujukan ke Fasilitas 76 60 50 40 30 20 20


Kesehatan Rencana Tindak Lanjut - - - -
luar daerah
Program Promosi Kesehatan dan
879.580 826.805. 777.196.9 730.565. 686.73
Pemberdayaan Masyarakat
.078 273 57 140 1.231
Jumlah Kebijakan Publik yang
Berwawasan Kesehatan 1 1 2 3 4 5 5

Persentase Desa Memanfaatkan Dana 0 6 10 14 16 18 18


Desa 10% untuk UKBM - - - -

Persentase Desa Siaga Aktif 100 100 100 - 100 - 100 - 100 - 100
Jumlah Dunia Usaha yang 2 2 2 2 2 2 2
Memanfaatkan CSRnya untuk - - - -

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 10
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Program Kesehatan

Jumlah Organisasi Kemasyarakatan 0 3 5 5 5 5 5


yang memanfaatkan sumber dayanya - - - -
untuk mendukung kesehatan
Persentase Desa yang melaksanakan 43 47 50 58 62 70 70
PHBS - - - -

Cakupan penjaringan kesehatan siswa 100 100 100 100 100 100 100
SD dan setingkat - - - -

RSUD
Kesehatan
Upaya Kesehatan Masyarakat 12.680 13.935 15.200 16.555 18.120
BOR (Bed Occupancy Ratio) 52,9% 40% 45% 50% 55% 60% 60%
Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 75 75 75 78 78 80 80
Standarisasi Pelayanan Kesehatan 300 850 900 900 950
Terselenggaranya Standarisasi dan
Akreditasi Rumah sakit oleh komisi
Perdan Tk. Tk. Tk. Tk.
Akreditasi rumah sakit (KARS)
- - a dasar dasar Madya Madya
Pengadaan Peningkatan Sarana dan
Prasarana Rumah sakit 600 45.400 49.700 13.600 13.400
Peningkatan Kelas/Type Rumah sakit D D D C C C C
Dinas Pekerjaan Umum
Pekerjaan Umum
Program Pembangunan Jalan dan
Jembatan
Persentase tingkat kemantapan jalan 1,442 1,442 1,442 1,442 1,442 1,442 1,442
(Mantap Sempurna)
Persentase tingkat kemantapan jalan 89,896 89,896 89,896 89,896 89,896 89,89 89,896
(Mantap Marginal) 6

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 11
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Persentase tingkat kemantapan jalan 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662
(Tidak Mantap)
Jumlah jembatan yang dibangun 3 - - - - 1 10.000.00 1 11.000.0 1 12.000 3
0.000 00.000 .000.0
00
Panjang jalan yang dibangun dan 531,76 29,095 98.580. 20 81.750.0 15 86.655.00 17 91.854.3 20 97.365 543,76
ditingkatkan 960.000 00.000 0.000 00.000 .558.0
00
7.700.
Program Rehabilitasi / Pemeliharan
2.826.8 5.100.00 6.150.000. 6.700.00 000.00
Jalan dan Jembatan
00.000 0.000 000 0.000 0
Panjang jaringan jalan yang 222,93 10 15 17 17 20 372,93
dipelihara
Jumlah Jembatan yang dipelihara 6 0 0 1 1 2 2 6
9.537.
Program Pembangunan Drainase dan
10.183. 8.875.00 9.075.000. 9.29500 000.00
Gorong-Gorong Jalan
500.000 0.000 000 0.000 0
Persentase drainase jalan yang 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662 8,662
terbangun
Panjang Drainase jalan yang 12980 4919 2600 2600 2600 2600 25699
terbangun
1.335.0 1.588.65 1.683.974. 1.785.01 1.892.
Program Pengendalian Banjir 00.000 5.000 300 2.758 113.52
3
Jumlah panjang normalisasi saluran/ 2521 3000 3000 3000 758 3000 14521
sungai 2550
Program pengembangan dan - - - - 500.000.0 550.000. 625.00
pengelolaan jaringan irigasi dan 00 000 0.000
jaringan pengairan lainnya
Panjang jaringan irigasi yang - - - - 3000 3000 3300 10000
dipelihara(9300 M)
2.960.0 5.920.00 8.880.000. 11.840.0 14.800
Program Peningkatan Perencanaan
00.000 0.000 000 00.000 .000.0
Teknis
00
Persentase Dokumen Perencanaan 49 59,26 69,14 79,01 88,88 98,77 100
teknis yang dihasilkan (Total 81

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 12
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Dokumen)

Perumahan
17.493
Program Pengembangan Kinerja Air
20.912. 12.450.0 7.715.000. 16.227.4 .740.0
Minum dan Air Limbah
134.000 00.000 000 00.000 00
Persentase Rumah Tangga (RT) yang 63,75 73,02 78,05 83,63 90,88 98,14 98,14
menggunakan air bersih
Jumlah Sambungan Rumah (SR) 3302 654 250 250 270 290 5016
perdesaan yang terpasang
Jumlah Sambungan Rumah (SR) 2410 177 200 250 380 360 3777
Perkotaan yang terpasang
2.611.2 2.767.92 3.088.421. 3.437.41 3.470.
Program Penyehatan Lingkungan
50.000 5.000 579 3.217 150.48
Permukiman
6
Jumlah Luas Kawasan Kumuh 18,01 19 20 21 20 98,01
Perkotaan (98,01 Ha) n/a
Program Pengembangan Sarana 21.539. 30.000.0 32.000.00 35.200.0 40.000
prasarana Perumahan Dan 846.000 00.000 0.000 00.000 .000.0
Permukiman 00
Persentase kawasan pemukiman 8 10 10 10 12 50
yang tertata (6.176,36 Ha) 3,30
Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah
Penataan Ruang
1.024.
700.000 770.000. 847.000.0 931.700.
Program Perencanaan Tata ruang 870.00
.000 000 00 000
0
Jumlah Dokumen Tata ruang dan
1 1 2 2 2 2
turunannya yang dihasilkan 5
Program Pengendalian Pemanfaatan 555.000 610.500. 671.550.0 738.705. 812.57
Ruang .000 000 00 000 5 5.500
Tingkat kesesuaian pemanfaatan
ruang 75 95 95 95 95 95

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 13
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Perencanaan Pembangunan
1.766.0 1.942.60 2.136.860. 2.350.54 2.585.
Program Perencanaan Pembangunan
00.000 0.000 000 6.000 600.60
Daerah
0
Persentase usulan melalui 100 100 100 100 100 100
mekanisme perencanaan yang
diakomodir dalam RKPD
Penjabaran Program RPJMD ke dalam
RKPD 100 100 100 100 100 100
Persentase RENJA SKPD yang selaras
dengan dokumen perencanaan. 100 100 100 100 100 100
Program Pengembangan data dan 324.000 356.400. 392.040.0 431.244. 474.36
Informasi .000 000 00 000 8.400
Persentase tingkat keterisian data
SIPD 40 50 60 70 80 90 90
Tingkat kepuasan pengguna
informasi atas data/informasi
pembangunan daerah bintan yang
disajikan dalam website
Pemkab/Bappeda Bintan 100 100 100 100 100 100 100
Program Penelitian dan
pengembangan Daerah
350.000. 385.000.0 423.500. 465.85
Jumlah penelitian yang dihasilkan
N/A N/A N/A 1 000 1 00 1 000 1 0.000 1
Program Pengembangan Perencanaan
Pembangunan
Jumlah pengembangan inovasi yang 250.000. 275.000.0 302.500. 332.75
dihasilkan N/A N/A N/A 1 000 0 00 1 000 0 0.000 1
Program Perencanaan Ekonomi
Jumlah dokumen perencanaan 2.436.
1.830.63 2.013.700. 2.215.07
pembangunan ekonomi yang 1.664.2 577.91
7.050 755 0.831
dihasilkan 3 3 15.500 3 3 3 3 4 3
Program perencanaan pembangunan
infrastruktur dan SDA

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 14
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Jumlah dokumen perencanaan
pembangunan infrastruktur dan SDA
yang dihasilkan 5 2 N/A 6 2 2 2 2
Program Perencanaan Pembangunan 518.471 570.318. 627.350.6 690.085. 759.09
Daerah Bawahan .600 760 36 700 4.270
Persentase desa yang menyusun
RPJMDes sesuai peraturan N/A 100 100 100 100 100 100
1.079.
Program Pengendalian dan Evaluasi 811.117. 892.228.9 981.451.
737.379 596.98
Pembangunan Daerah 197 17 808
.270 9
Tingkat kesesuaian perencanaan
dengan pelaksanaan dilapangan
96 100 100 100 100 100 100
Persentase dokumen pelaporan yang
disusun tepat waktu. 100 100 100 100 100 100 100

Program Perencanaan Sosial Budaya 450.000. 495.000.0 544.500. 598.95


000 00 000 0.000
Jumlah dokumen perencanaan
pembangunan sosial yang dihasilkan 4 4 N/A 4 4 4 4 4
Dinas Perhubungan
Perhubungan
1.890.
Program Pembangunan Prasarana dan 180.000 475.000. 3.590.000. 3.590.00
- - - - - 000.00
Fasilitas Perhubungan .000 000 000 0.000
0
Jumlah penyusunan perencanaan
pembangunan sarana, prasarana dan 8 1 2 5 3 1 20
fasilitas perhubungan
Jumlah Penyusunan norma,
kebijakan, standar dan prosedur 1 - - - 1 - 2
bidang perhubungan
Program Rehabilitasi dan 3.580.
1.301.0 1.313.00 2.532.500. 3.414.00
Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas - - - - - 500.00
00.000 0.000 000 0.000
Perhubungan 0
Jumlah rehabilitasi/ pemeliharaan
- 1 1 3 3 3 11
dermaga/ pelabuhan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 15
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Jumlah rehabilitasi/ pemeliharaan
APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu 38 34 42 45 46 48 49
Lintas
Program Peningkatan Pelayanan 500.000 605.000. 740.000.0 710.000. 900.00
- - - - -
Angkutan .000 000 00 000 0.000
Jumlah Pulau yang tercakupi jaringan
8 8 - 8 - 9 10 11 11
Transportasi
Jumlah pelayanan pas kecil
1000 1000 1000 1050 1100 1100 1100

10.000
Program Pembangunan Sarana dan 3.500.0 2.000.000. 14.500.0
- - 0 - - - .000.0
Prasarana Perhubungan 00.000 000 00.000
00
Jumlah Pembangunan Gedung
1 - - - 1 1 11
Terminal
Jumlah Pembangunan
terminal/Pelabuhan 1 1 - - - - - 1 - 1 - 4
Sungai,danau,dan Penyebrangan
Jumlah pengadaan sarana
transportasi - - - - 2 - 2

1.300.
Program Peningkatan dan 1.226.4 1.740.00 1.255.000. 1.680.00
000.00
Pengamanan Lalu Lintas 20000 0 000 0.000
0

Jumlah Traffic Light 9 - 1 - 1 - 11

Jumlah warning Light 29 4 2 1 1 1 38

Jumlah Penurunan Kecelakaan Lalu


60 58 - 56 - 54 - 52 51 38
Lintas Jalan
Program Peningkatan Kelaikan 177.000 221.000. 4.240.000. 250.000. 250.00
- - 1 - -
Pengoperasian Kendaraan Bermotor .000 000 000 000 0.000
Jumlah pengujian kendaraan
1952 2200 2.200 2.200 2.200 2.200 2.200
bermotor wajib uji (KIR)
Program Pembinaan dan Pengawasan 75.000. 80.000.0 85.000.00 90.000.0 95.000
- - - - -
Bidang Pos dan Telekomunikasi 000 00 0 00 .000

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 16
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Persentase wilayah yang tercakupi
jaringan operator selular 95% 95% - 96% - 97% - 98% - 100% - 100%

Badan Lingkungan Hidup


Lingkungan Hidup
Program Pengendalian Pencemaran 348.695 200.000. 525.000.0 590.000. 700.00
dan Perusakan Lingkungan Hidup .951 000 00 000 0.000
Jumlah usaha/kegiatan yang
mendapat pengawasan kinerja
penaatan, pengendalian dan
pengelolaan lingkungan hidup 10/50 50 50 55 60 65 65
Jumlah pengaduan masyarakat akibat
adanya dugaan pecemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup yang
ditindaklanjuti 90 90 90 90 90 90 90
Mendapat penghargaan Adipura
Jumlah titik sampel lokasi
pemantauan kualitas air 0 22 22 22 23 24 24
Jumlah titik sampel lokasi
pemantauan kualitas udara (yang
bergerak dan tidak bergerak) 0 8 8 9 9 9 9
Program Peningkatan Kualitas dan
Akses Informasi Sumber Daya dan 75.000. 50.000.0 150.000.0 150.000. 150.00
Lingkungan Hidup 000 00 00 000 0.000
Jumlah Status Lingkungan Hidup
Daerah (SLHD ) yang disusun 7 7 7 7 7 7 7
Program Pengelolaan Sumber Daya 182.266 380.000. 470.000.0 560.000. 650.00
Alam dan Lingkungan Hidup .000 000 00 000 0.000
Jumlah kelompok masyarakat
bersama Pemda yang terlibat dalam
melaksanakan 3R (Reduce, 80.000. 150.000. 160.000.0 180.000. 200.00
Reuse,Recycle) 6 8 000 10 000 12 00 14 000 16 0.000 16

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 17
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Jumlah sekolah/Kampus yang peduli 24
dan berbudaya lingkungan (adiwiyata) sekolah
tingkat
kabupate
n, 12
provinsi,
6 102.266 80.000.0 150.000.0 200.000. 250.00
Nasional 5 .000 10 00 15 00 20 000 25 0.000 25
Persentase volume pengurangan 150.000. 160.000.0 180.000. 200.00
sampah melalui 3R 7 2 - 2 000 2 00 2 000 2 0.000 2
Dinas Kebersihan, Pertamanan dan
Pemakaman
Lingkungan Hidup
10.680
Program Pengembangan Kinerja
8.783.20 10.230.00 10.380.0 .000.0
Pengelolaan Persampahan
0.000 0.000 00.000 00
Persentase penanganan sampah
50 50 55 60 65 70 75
Persentase sampah yang dikelola
30 30 35 40 50 60 70
Program Pengembangan Sarana dan
Prasarana Persampahan
Rasio tempat pembuangan sampah
(TPS) per satuan penduduk 0.37 0.37 0.40 0.42 0.45 0.48 0.51
Pekerjaan Umum
2.500.
Program Peningkatan Prasarana
1.766.32 2.500.000. 2.500.00 000.00
Penerangan Jalan Umum
0.000 .000 0.000 0
Jumlah lampu jalan yang telah
terpasang 1.716 1.716 1.900 2.200 2.500 2.800 3.000
Program Pengelolaan Tempat
Pemakaman Umum
Rasio tempat pemakaman umum per
1000 penduduk 1.17 1.17 1.20 1.20 1.20 1.22 1.25
Penataan Ruang
Program Pengelolaan Ruang Terbuka 1.154.77 2.800.000. 3.000.00 3.300.
Hijau 0.000 000 0.000 000.00

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 18
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
0
Luas Ruang Terbuka Hijau yang 218,40 218,80 219,20 219,6
dikelola 218.000 218.000 0 0 0 00 220,000
Rasio ruang terbuka hijau per satuan 30%:70 30%:70 30%:70 30%:70 30%:7 30%:7 30%:70
luas wilayah ber HPL/HGB % % % % 0% 0% %
Jumlah Tempat Pengelolaan sampah
terpadu (TPST) 0 0 0 1 2 3 3
Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil
Kependudukan dan catatan sipil
3.562.
Program Penataan Administrasi
2.284.0 2.686.09 2.954.706. 3.249.17 094.46
Kependudukan
84.466 6.515 167 6.783 1
Persentase penduduk ber KTP-el dari
jumlah penduduk wajib KTP-el 93% 93% 95% 100% 100% 100% 100%
Persentase bayi berakte kelahiran per
Bayi Lahir 77% 77% 79% 81% 83% 85% 85%
Persentase kepemilikan akte
kelahiran penduduk 61% 61% 62% 63% 64% 65% 65%
Persentase Penduduk Berakta
Kematian dari jumlah meninggal 45% 45% 55% 65% 75% 85% 85%
Persentase penduduk yang belum
memiliki dokumen perkawinan (non
Muslim) 18% 18% 17% 16% 15% 14% 14%
Dinas Sosial
Sosial
1.047.
Program Pemberdayaan Sosial 752.600 958.600. 1.047.000. 1.047.00 000.00
.000 000 000 0.000 0
Jumlah kelembagaan kesejahteraan
sosial yang di bina 62 62 84 84 84 84 96
Persentase pekerja social dan tenaga
kerja kesejahteraan social yang
komperen/terlatih (terkait tenaga
kerja) 23,62 23,62 35 37 39 41 43

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 19
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Program Penanggulangan 36.159. 34.229.0 31.529.00 35.309.0 33.329
Kemiskinan 000 00 0 00 .000

Persentase penduduk miskin


6 6 5.9 5.8 5.7 5.6 5,5

Persentase rumah tangga miskin


22,49 22.49 22.27 22.05 21.83 21.61 21.39
Persentase rumah tangga miskin yang
ditangani 51.12 51.12 55 60 62 64 66
Jumlah rumah tidak layak huni yang
direhab 2100 814 172 140 140 140 140
2.773.
Program Rehabilitasi Sosial 2.542.0 2.600.00 2.658.000. 2.715.00 000.00
00.000 0.000 000 0.000 0
Jumlah PMKS (tidak termasuk
keluarga miskin) 3.242 3.242 3.080 2.926 2.779 2.640 2.508
Persentase penanganan penyandang
masalah kesejahteraan sosial 40,28 40.28 45.28 50,28 55.28 60,28 65.28
Sarana pelayanan rehabilitasi social
seperti panti asuhan, panti jompo dan
panti rehabilitasi 11 11 11 11 11 11 11
2.504.
Program Perlindungan dan Jaminan
2.130.0 2.504.00 2.504.000. 2.504.00 000.00
Sosial
00.000 0.000 000 0.000 0
Persentase masyarakat yang
mendapatkan bantuan jaminan sosial 6,88 6.88 7.43 7.43 7.43 7.43 7.43
Dinas Tenaga Kerja
Ketenagakerjaan
Program Penempatan dan Perluasan 1.391.0 753.656. 1.447.448. 1.447.44 1447.4
Kesempatan Kerja 26.950 200 150 8.150 48.150
Tingkat partisipasi angkatan kerja 65,01 62 62,50 63 63,50 64 64,5
Persentase pencari kerja yang
terdaftar yang ditempatkan 61,17 50 51 51,50 52 52,50 53
Tingkat pengangguran terbuka 6,74 6,70 6,50 6,60 6,70 6,80 6,4

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 20
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Rasio Penduduk yang bekerja 0.93 0,90 0,91 0,92 0,93 0,94 0,95
Program Peningkatan kompetensi dan 450.000 240.000. 240.000.0 240.000. 240.00
Produktifitas Tenaga Kerja .000 000 00 000 0.000
Presentase tenaga kerja yang
mendapatkan pelatihan berbasis
kompetensi 66,67 68 72 75 77 80 82
Persentase tenaga kerja yang
mendapatkan pelatihan
kewirausahaan 100 65 68 70 72 75 77
Program Perlindungan Pengembangan 795.715 700.717. 810.000.0 820.000. 825.00
Lembaga Ketenagakerjaan .000 800 00 000 0.000
Persentase kasus yang terselesaikan
dengan perjanjian bersama (PB) 74 60 60,2 60,5 61 61,5 62
Program Pengembangan Hubungan
Industrial dan Peningkatan Jaminan 142.440 322.440. 340.000.0 165.500. 170.00
Sosial Tenaga Kerja .000 000 00 000 0.000
Persentase kasus PHK yang
terselesaikan 90,9 65 68 70 72 75 77
Persentase kasus perselisihan
pengusaha pekerja yang terselesaikan 92,6 70 72 75 78 82 84
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian
dan Perdagangan
Koperasi Usaha Kecil dan Menengah
Program Peningkatan Kemampuan
350.000 350.000. 350.000.0 350.000. 350.00
Kewirausahaan bagi Koperasi dan
.000 000 00 000 0.000
UMKM
Persentase Pelaku Usaha yang
terlatih 25 30 35 40 45 50
20
Program Pemberdayaan dan
Peningkatan Kapasitas Kelembagaan 650.000 650.000. 650.000.0 650.000. 650.00
Koperasi dan UMKM .000 000 00 000 0.000

Persentase koperasi aktif 50 55 60 65 70 75 80

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 21
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Jumlah Pengurus Koperasi yang
200 270 340 410 480 550 620
terlatih
Program Peningkatan Daya Saing 600.000 600.000. 600.000.0 600.000. 600.00
Usaha bagi Koperasi dan UMKM .000 000 00 000 0.000
Jumlah UMKM 2.538 2645 2794 2985 3218 3493 3621
Jumlah tenaga kerja yang terserap di
10806 10915 11076 11289 11554 12051 12304
sektor UMKM
Industri

1.000.
Program Pengembangan Industri
1.000.0 1.000.00 1.000.000. 1.000.00 000.00
Kecil dan Menengah
00.000 0.000 000 0.000 0

Jumlah IKM 319 349 379 409 439 469 499

Persentase IKM bersertifikasi mutu


40 45 50 55 60 65 70
produk

Perdagangan

1.050.
Program Perlindungan Konsumen dan
350.000 1.050.00 1.050.000. 1.050.00 000.00
pengamanan perdagangan
.000 0.000 000 0.000 0

Persentase tertib ukur terhadap UTTP n/a n/a 40 45 50 55 60

Persentase ketersediaan barang


100 100 100 100 100 100 100
kebutuhan pokok bagi masyarakat
Program Pengembangan dan
700.000 700.000. 700.000.0 700.000. 700.00
Peningkatan Sarana dan Prasarana
.000 000 00 000 0.000
Perdagangan
Persentase Fasilitas Pasar yang
Memadai 15 20 25 30 35 40
n/a
Badan Penanaman Modal dan Promisi
Daerah
Penanaman Modal/Pertanahan

Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bintan


VIII - 22
Target
Kondisi
Bidang Urusan Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kinerja
Kinerja
Pemerintahan/Program Prioritas Akhir
Awal Prioritas
Pembangunan/Indikator Kinerja Tahun
Tahun 2016 2017 2018 2019 2020
2021
2015
Dana Dana Dana Dana
Target Target Target Dana (Rp) Target Target
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Program Peningkatan Iklim Investasi
dan Realisasi Investasi 735 771 735 807 843
Jumlah perizinan investasi yang
dapat diproses dalam satu tahun 1.312 1.312 1.320 1.330 1.340 1.350 1.360
Lama proses perijinan 3-14 3-14 3-14 3-14 3-14
3-14 hari hari hari hari hari hari 3-14 hari
Sistem informasi pelayanan perijinan
dan admistrasi pemerintah ada ada ada ada ada ada ada
Penyelesaian ijin lokasi
100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Program Pelayanan Perizinan Non
Investasi 55 60 65 70 75
Jumlah perijinan non investasi yang
dapat diproses dalam satu tahun 350 375 400