Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan dan
kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan laporan yang berjudul “Kebudayaan
Melayu Tentang Tari Serampang Duabelas” ini tepat pada waktunya.
Penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselesaikannya
makalah ini, terkhusus kepada dosen mata kuliah Seni, Budaya dan Kepariwisataan yang
selalu mengarahkan dan membimbing penyusun untuk membuat laporan dengan baik.
Penulis menyadari banyak kekurngan dari hasil makalah ini. Oleh karena itu, kritik
dan saran dari pembaca sangatlah penyusun harapkan. Penulis juga berharap seomga makalah
ini dapat berguna bagi pembaca sebagai pendukung kegiatan belajar dan menjadi
pengetahuan baru

Medan, 24 Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. 2

DAFTAR ISI............................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang.................................................................................................. 4

1.2 Tujuan ............................................................................................................... 4

1.3 Manfaat ............................................................................................................ 5

BAB IIPEMBAHASAN ........................................................................................... 6

2.1 Asal Usul Tari Serampang Duabelas.................................................................. 6

2.2 Peralatan Tari Serampang Duabelas.................................................................... 8

2.3 Gerakan Tari Serampang Duabelas..................................................................... 9

2.4 Nilai- Nilai........................................................................................................... 12

BAB III PENUTUP .................................................................................................. 14

3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 14

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seni merupakan sebuah kata yang semua orang pasti mengenalnya. Berapa jawaban dapat
diberikan oleh para pengamat dan pelaku seni. Menurut Sumardjo (2001:1) “seni adalah
bagian dari kehidupan manusia dan msyarakat”. Seni dapat dinikmati melalui pacera indera,
seperti pendengaran (seni suara), penglihatan (senilukis/seni rupa), atau dilahirkan dengan
perantara gerak (seni tari , drama)”.

Setiap daerah di Indonesia memiliki kesenian yang berbeda, seperti halnya seni tari yang
merupakan ciri khas dari daerahnya masing-masing. Menurut Soedarsono ( 1976:15)
merupakan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah “.
Berdasarkan pola garapnya, tari dapat dibagi menjadi dua jenis , yaitu tari tradisional dan
kreasi baru. Adapun dilihat dari fungsinya tari memiliki unsi primer dan sekunder. Kesenian
yang memiliki fungsi primer sebagi sarana ritual, hiburan pribadi presentasi estestis seperti
yang dikemukakan oleh Soedarsono dalam Narawati (2005:16). Mengajarkan bagaimana
selayaknya manusia berprilaku sosial. Seni tari merupakan salah satu bidang seni yang
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Kesenian Melayu adalah ekspresi dari kebudayaan Masyarakat Melayu. Di dalamnya


terkandung sistem nilai Melayu, yang dijadikan pedoman dan tunjuk ajar da;am
berkebudayaan. Kesenian Melayu menjadi bahagian yang integral dari institusi adat.
Kesenian Melayu menyumbangkan berbagai nilai kepada perkembangan budaya secara
nasional dan tradisional, khususnya dikalangan negeri-negeri rumpun Melayu.

Melalui makalah ini penulis kan mengkaji salah satu kesenian Melayu dari daerah serdang
bedagai yaitu Tari Serampang Duabelas. Dalam kajian ini penulis menjabarkan tentang Tari
Serampang Duabelas mulai dari asal usulnya, peralatan, gerakan dan nilai-nilai yang
terkadung didalmnya.

3
1.2 Manfaat Penulisan

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain sebagai berikut;

- Memberikan pengetahuan tentang Kesenia Melayu khususnya tentang Trai


Serampang Duabelas
- Menjadi bahan referensi/rujukan bagi penulis lain tentang Tari Serampang Duabelas

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Asal Usul Tari Serampang Duabelas

Tari Serampang Duabelas merupakan salah satu dari sekian banyak tarian yang berkembang
dibawah Kesultanan Serdang di Kabupaten Serdang Bedagai. Tari ini merupakan jenis tari
tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesan tentang
perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun
1940-an dan diubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960. Sebelum bernama
Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, Sesuai dengan judul lagu yang
mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari. Sedikitnya ada dua alasan mengapa nama Tari
Pulau Sari diganti menjadi Serampang Duabelas. Pertama, nama Pulau Sari kurang tepat
karena tarian ini bertempo cepat (uick step). Menurut Tengku Mira Sinar, nama tarian yang
diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau
Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari
Serampang Laut. Berdasarkan hal terserbut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari
Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat diantar
lagu yang bernama serampang ( Sinar, 2009:48). Kedua, Penamaan Tari Serampang Duabelas
merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu : pertemuan perrtama, cinta
meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang , isyarat tanda cinta, balasan isyarat,
menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin dan
pertemuan kasih (Sinar , 2009:49-52).

Pada awalnya perkembangan Tari Serampang Duabelas hanya boleh dibawakan oleh laki-
laki. Hal ini karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan tampil di depan
umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya. Tetapi dengan perkembangan
zaman, dimana perempuan sudah dapat berpartisipasi secara lebih leluasa dalam segala
kegiatan, maka Tari Serampang Duabelas kemudian dimaikan secara berpasangan antara
laki-laki dan perempuan di berbagai pesta dan arena perteunjukan.

Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian
Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak
tariannya dan kedinamisan irama musik pengiringnya. Tari Serampang Duabelas berkisah
tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri
dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna. Oleh karena

5
menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan secara
berpasangan, laki-laki dan permpuan. Diperbolehkannya perempuan memainkan Tari
Serampang Duabelas ternyata berpengaruh positif terhadap perkembangan tarian ini.
Serampang Duabelas tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayah
Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia,seperti Riau,
Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku. bahkan tarian ini sering di
pentaskan di manca negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Hongkong.

Keberadaan Tari Serampang Duabelas yang semakin mendunia ternyata memantik


kegelisahan sebgaian masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Sumatera Utara pada
umumnya. Kekhawtiran tersebut muncul karena dua hal anatara lain :

- Pertama, persebaran Tari Serampang Duabelas ke berabgai daerah dan negara tidak
diimbangi dengan transformasi kualitasnya. Artinya transformasi Tari Serampang
Duabelas terjadi hanya pada bentuknya saja , bukab kepada tekniknya. Menurut Jose
Rizal Firdaus (Kompas,1 Juli 2008), salah satu yang mengkhawatirkan dari
perkembangan Tarian Serampang Duabelas adalah pendangkalan dalam hal teknik
menari. Hal ini disebabkan oleh orang-orang dari luar daerah Deli Serdang yang
memainkan tarian ini tidak didukung oleh penguasaan terhadap teknik yang benar.
Akibtanya, terjadi pergeseran teknik tari dari aslinya .
- Kedua, minimnya kepedulian generasi muda kepada Tari Serampang Duabelas.
Meluasnya perserbaran tarian ini ke berbagai daerah ternyata tidak diimbangi dengan
meningkatnya kecintaan generasi muda Serdang Bedagai terhadap tarian ini. Kondisi
ini tidak saja dapat menyebabkan Tari Serampang Duabelas hilang karena tidak ada
penerusnya, tapi juga bisa hilang karen diklaim oleh pihak lain.

Kedua fenomena tersebut harus disikapi secara cepat dan tepat agar Tari Serampang
Duabelas tidak saja lestari, tetapi juga dapat diberikan manfaat bagi masyarakat Serdang
Bedagai pada khususnya, dan Indonesi pada umumnya. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat
dilakukan untuk menyelamatkan Tari Serampang Duabelas yaitu :

- Pertama, menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai aset daerah. Artinya


pemerintah harus melakukan proteksi agar tarian ini tidak di klaim oleh pihak lain,
yaitu dengan mematenkan hak ciptanya

6
- Kedua,mendekatkan Tari Serampang Duabelas kepada anak-anak dan remaja. Cara
yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebgai
salah satu materi pengajaran muatan lokal.
- Ketiga, menyelenggarakan perlombaan rutin Tari Serampang Duabelas.
- Keempat,memberikan jaminan kesejahteraan hidup para pelestarinya. Pada stake
holder, khususnya pemerintah, perlu membuat terobosan agar pelestari Tari
Serampang Duabelas, dan juga para pelestari warisan budaya lainnya, dapat hidup
secara layak.

2.2 Peralatan Tari Serampang Duabelas

Untuk menarikan Trai Serampang Duabelas, sedikitnya ada tiga hal yang harus dipersiapkan
yaiu:

- Musik pendukung. Pada awal perkembangannya, musik pendukung tarian ini


menggunakan peralatan musik tradisional. Namun seiring perkembangan zaman,
peralatan musik yang digunakan semakin beragam
- Pakaian penari. Biasanya, pakaina yang digunakan untuk menari Tari Serampang
Duabelas adalah pakian adat Melayu Pesisir pantai Timur Pulau Sumatera. Walaupun
bukan menjadi peralatan utama , keberadaan pakaian ini sangat penting. Yaitu;
pertama, warna-warni pakaian adat yang digunakan akan menjadikan ragam Tarian
Serampang Duabelas yang dimainkan sangat indah dan menarik . kedua, penggunaan
pakaian adat menjadi penanda daerah asal Tari Serampang Duabelas.
- Sapu Tangan, Sapu tangan dalam tari Serampang Duabelas mempunyai dua fungis,
yaitu sebagai kombinasi pakaian adat dan sebagai media tari pada gerakan penutup
tarian.

7
“Penari laki-laki memakai pakaian Teluk Belanga dan penari perempuan memakai kebaya Kakek. Sapu tangan yang
ditautkan merupakan simbol bersatunya cinta kasih sepasang muda-mudi

2.3 Gerakan Tari Serampang Duabelas

Dinamakan Tari Serampang Duabelas karena gerakan tari yang bercerita tentang proses
pencarian jodoh ini terdiri dari dua belas ragam gerakan. Keduabelas ragam gerakan
tersebut adalah;

- Ragam I: Tari permulaan ( Pertemuan pertama dua orang muda-mudi)

Gerakan pembuka Tari Serampang Duabelas diawali dengan menari ditempat, kemudian
mundur sambil berputar sembari melompat-lompat kecil. Gerakan ini bertutur tentang
bertemunya sepasang anak muda. Pada pertemuan pertama tersebut, dalam diri sepasang
pemuda muncul rasa ingin mengenal tapi masih malu-malu

- Ragam II: Tari berjalan ( cinta meresap)

Pada ragam kedua ini gerak tarian dilakukan sambil berjalan kecil, berputar dan berbalik
keposisi semula. Ragam ini menunjukkan bahwa dalam hati sepasang anak muda tersebut
mulai muncul benih-benih cinta. Benih- benih cinta tersebut terus berkembangn namun masih
belum berani untuk mengutarakannya.

- Ragam III: Tari Pusing ( memendam cinta)

Dinamakan tari pusing karena gerakan tari berputar-putar. Dalam ragam ini sepasang pemuda
semakin sering bertemu., sehingga benih-benih cinta dalam hati mereka semakin tumbuh
subur. Namun, cinta mereka yang menggelora harus mereka pendam. Kondisi ini
menyebabkan sepasang pemuda yang sedang kasmaran semakin tersiksa .

8
Kedua muda-mudi mulai saling jatuh cinta

- Ragam IV: Tari gila (gila karena mabuk kepayang)

Pada ragam IV ini, gerakan tarinya berlenggak-lenggok dan terhuyung-huyung sebagaimana


orang yang sedang mabuk. Gerakan seperti orang mabuk merupakan simbol dari dua pasang
kekasih yang sedang mabuk kepayang, akibat terlalu lama harus memendam cinta yang
semakin menggelora.

- Ragam V: Tari berjalan bersipat (isyarat tanda cinta)

Gerakan tari pada ragam V ini sering juga disebut dengan ragam gila. Ragam ini
menunjukkan bahwa sang pemuda semakin tidak mampu menahan hasrat hatinya.
Kemanapun si gadis pergi, si pemuda senantiasa mengikuti. Nampaknya, dalam diri sang
pemuda telah muncul tekad sekali melangkah pantang surut kebelakang. Pada tahap ini sang
pemuda mulai mengirimkan tanda-tanda bahwa ia jatuh cinta kepada sigadis.

- Ragam VI: Tari goncet-goncet ( balasan isyarat)

Tari dengan sikap goncet-goncet merupakan simbol pihak si gadis membalas isyarat yang
disampaikan si pemuda, dan si pemuda berupaya untuk memahami maksud dari isyarat
tersebut. Setelah sepasang pemuda tersebut mengetahui perasaan masing-masing, hati
keduanya semakin mantap untuk bersatu. Rasa mantap tersebut dapat dilihat pada gerakan
tari yang seirama dan sejalan.

9
- Ragam VII: Tari sebelah kaki kiri /kanan ( menduga-duga)

Ragam ini menunjukkan bahwa dalam hati sepasang pemuda tersebut mulai tumbuh
kesepahaman atas isyarat-isyarat yang mereka kirimkan. Keyakinan mereka dikuatkan
dengan janji untuk melanjutkan kisah yang mereka rajut hingga memasuki jenjang
perkawinan. Setelah janji diucapkan, sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara tersebut
pulang untuk bersiap-siap melanjutkan cerita indah selanjutnya.

- Ragam VIII: Tari langkah tiga melonjak maju mundur ( masih belum percaya )

Pada ragam ini, gerakan tarinya melonjak maju mundur. Gerakan ini merupakan simbol dari
proses meyakinkan diri terhadap calon pasangannya. Sepasang muda mudi yang telah
berjanji, mencoba kembali meresapi dan lebih meyakinkan diri untuk memasuki tahap
kehidupan selanjutnya.

- Ragam IX: Tari melonjak ( jawaban)

Disebut tari melonjak karena gerakan tari dilakukan dengan melonjak-lonjak. Gerakan ini
sebgai simbol menunggu restu kedua orang tua masing-masing. Hati kedua pemuda tersebut
berdebar-debar menunggu jawaban dan restu orang tua mereka.

- Ragam X: Tari datang-mendatangi ( pinang – meninang)

Setelah ada jawaban kepastian dan restu dari kedua orang tua masing-masing, maka pihak
pemuda mengambil insiatif untuk melakukan peminangan terhadap pihak perempuan. Hal ini
dilakukan agar cinta yang sudah lama bersemi dapat bersatu dalam sebuah ikatan suci, yaitu
perkawinan.

- Ragam XI: Tari rupa-rupa ( mengantar pengantin)

Ragam ini berisi tarian yang memperlihatkan gerakan jalan dengan beraneka cara. Gerakan
tari ini sebagai simbol proses mengantar pengantin ke pelaminan. Setelah lamaran yang
diajukan oleh pemuda diterima, maka kedua keluarga akan melangsungkan perkawinan.
Gerakan tari biasanya dilakukan dengan nuansa ceria sebagai ungkapan rasa syukur
menyatunya dua kekasih yang sudah lama dimabuk asmara menuju pelaminan dengan hati
yang berbahagia.

10
- Ragam XII: Tari sapu tangan ( pertemua kekasih)

Penggunaan sapu tangan merupakan ragam terakhir dari Tari Serampang Duabelas. Pada
ragam ini, gerakan tari dilakukan dengan menyatukan sapu tangan. Penggunaan sapu tangan
merupakan simbol telah menyatunya dua hati yang saling mencintai dalam ikatan
perkawinan, dan tidak akan terpisahkan baik dalam keadaan senang maupun susah.

2.4 Nilai- Nilai

Tari Serampang Duabelas tidak sekedar tarian yang menceritakan pertemuan sepasang
pemuda yang dilanjutkan dengan perkawinan , tetapi juga merekam nilai-nilai yang hidup
dan berkembang dalan masyrakat Kesultanan Serdang. Nilai-nilai tersebut antara lain:

- Akulturasi Budaya . Tari Serampang Duabelas merupakan hasil dari akulturasi antara
budaya Melayu dengan budaya Portugis. Pertemuan antara Melayu dan Portugis,
walaupun melalui kolonialisasi, ternyata juga memberikan dampak positif terhadap
perkembangan seni, khususnya seni tari di daerah Kesultanan Serdang. Penciptaan
Tari Serampang Duabelas juga menunjukkan bahwa dengan membuka diri terhadap
kebudayaan lain, sebuah kebudayaan akan menjadi kaya.
- Sifat inklusif bangsa Melayu. Keberadaan Tari Serampang Duabelas menunjukkan
bahwa bangsa Melayu, khususnya Melayu Serdang mempunyai sikap yang terbuka
terhadap budaya lain. Gerakan kaki yang cukup lincah pada Tari Serampang Duabelas
diadopsi dari seni tari yang berkembang di Portugis. Hal yang dapat diambil dari sifat

11
terbuka bangsa Melayu ini adalah bahwa Melayu dapat menerima kebudayaan apa
saja yang datang dari mana saja asalkan sesuai dengan nilai-nilai Melayu.
- Mencari jodoh . Tari Serampang Duabelas mengisahkan tentang perjalanan kisah
anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap
pernikahan. Tarian ini mengajarkan bahwa untuk memilih jodoh tidak hanya atas
dasar kecocokan kedua orang yang akan menikah , tetapi juga harus mendapatkan
persetujuan dari orang tua.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tari Serampang Duabelas merupakan khazanah warisan Melayu yang merefleksikan nilai-
nilai luhur Melayu. Melalui tarian ini, kita tidak saja mengetahui keindahan sebuah tarian
Melayu, tetapi juga akan mengetahui bagaimana proses pencarian jodoh masyarakat Melayu,
khususnya Melayu Serdang. Selain itu, tarian ini juga menginformasikan tentang sifat dasar
Melayu yang inklusif terhadap nilai-nilai yang berasal dari luar.

13
14