Anda di halaman 1dari 24

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/313579682

DIAGRAM INTERAKSI PERANCANGAN KOLOM


DENGAN TULANGAN PADA EMPAT SISI
BERDASARKAN SNI 2847:2013 DAN ACI 3....

Article · April 2016


DOI: 10.24002/jts.v13i4.935

CITATIONS READS

0 2,064

1 author:

Yoyong Arfiadi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
30 PUBLICATIONS 280 CITATIONS

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Analytical solution to pre-defined compression steel ratios of RC beams View project

All content following this page was uploaded by Yoyong Arfiadi on 11 February 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Volume 13, No. 4, April 2016, 268 – 290

DIAGRAM INTERAKSI PERANCANGAN KOLOM DENGAN


TULANGAN PADA EMPAT SISI
BERDASARKAN SNI 2847:2013 DAN ACI 318M-11

Yoyong Arfiadi
Program Studi Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jln Babarsari 43 Yogyakarta
Email: yoyong@mail.uajy.ac.id
Abstract: This paper discusses column design according to SNI 2847: 2013 and ACI 318M-11. For
practical purpose, charts are developed as a design tool. The columns to be considered are rectangular
columns with bars at four faces, where the area of reinforcements in each face is the same. In the
derivation of equations and charts, reinforcements are assumed as a thin layer of steel, where the
thickness of the layer is adjusted so that it has the same area as the area of reinforcement. Forces and
moments equilibriums are then developed for various possible stress and strain diagrams. As the
approximation, displaced concrete is not considered in this paper. Charts for various concrete
compressive strength and steel yield stress are developed for practical applications. In this case, non-
dimensional interaction diagrams of columns are presented, so that the diagrams are independent of
the column dimension. In each diagram several reinforcement ratios are provided. The interaction
diagram are created for required, nominal, and probable strength of columns. Therefore, the diagrams
can be used for designing columns of ordinary, intermediate, and special moment frames as stipulated
in the building codes. At the end of the paper, the use of interaction diagram are presented as a tool for
designing reinforced concrete columns.
Keywords: column design, SNI 2847:2013, ACI 318M-11, interaction diagram, special moment
frames, concrete codes 2013
Abstrak: Dalam tulisan ini dibahas perancangan kolom yang disesuaikan dengan SNI 2847:2013 dan
ACI 318M-11. Untuk keperluan praktis, dikembangkan diagram-diagram sebagai alat bantu
perancangan. Kolom yang ditinjau adalah kolom empat persegi panjang dengan tulangan pada
keempat sisinya, di mana masing-masing sisi mempunyai luas tulangan yang sama. Dalam penurunan
rumus-rumus dan grafik-grafik, tulangan dianggap sebagai pias baja dengan tebal tertentu yang sesuai
dengan luas tulangan masing-masing sisi. Persamaan-persamaan keseimbangan gaya dan momen
kemudian diturunkan untuk berbagai diagram regangan dan tegangan yang mungkin terjadi. Sebagai
pendekatan, dalam penurunan persamaan, luas tulangan yang ditempati oleh baja desak tidak ditinjau.
Diagram-diagram untuk berbagai mutu beton dan baja selanjutnya dibuat untuk memudahkan
perancangan kolom. Diagram interaksi dibuat tak-berdimensi, sehingga dapat digunakan untuk
berbagai ukuran kolom. Dalam setiap diagram, disediakan beberapa rasio tulangan yang dapat
digunakan untuk perencanaan. Diagram interaksi dibuat untuk kuat perlu, kuat nominal dan kapasitas
maksimum. Dengan demikian diagram interaksi yang dikembangkan dapat digunakan untuk
perencanaan kolom-kolom struktur sebagai kolom pada struktur rangka momen biasa, rangka momen
menengah, dan rangka momen khusus menurut peraturan gempa yang berlaku. Pada bagian akhir
disajikan beberapa aplikasi penggunaan diagram interaksi yang dibuat sebagai alat bantu perancangan.
Kata kunci: perencanaan kolom, SNI 2847:2013, ACI 318M-11, diagram interaksi, rangka momen
khusus, SNI Beton 2013

PENDAHULUAN dengan balok, gaya-gaya yang bekerja pada


kolom merupakan kombinasi momen lentur dan
Perencanaan kolom merupakan suatu hal yang gaya aksial. Dengan adanya gaya aksial,
penting, mengingat kolom merupakan elemen penyelesaian persamaan keseimbangan menjadi
struktur utama yang mendukung beban-beban lebih sulit untuk diselesaikan. Seperti diketahui
yang bekerja pada suatu gedung. Berbeda pada balok dengan tulangan rangkap pun masih

268
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

sulit untuk menyelesaikan persamaan secara METODE DAN ANGGAPAN


langsung. Untuk memudahkan perencanaan
kolom, umumnya digunakan diagram interaksi Untuk pembuatan diagram interaksi, dilakukan
momen dan gaya aksial untuk rasio tulangan pendekatan di mana tulangan yang tersebar pada
tertentu. keempat sisi kolom diekivalenkan dengan plat
baja tipis, di mana pada setiap sisi luas plat baja
Walaupun saat ini banyak perangkat lunak yang dibuat sama dengan luas tulangan yang
tersedia, diagram-diagram yang dikembangkan terpasang seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
dalam tulisan ini dapat dikatakan sebagai cara Anggapan lain adalah pengurangan luas beton
praktis untuk perencanaan kolom. Diagram yang yang ditempati oleh baja desak tidak
dikembangkan, didasarkan pada lentur satu arah. diperhitungkan, sehingga dalam hitungan
Untuk tinjauan lentur dua arah dapat mengacu digunakan luas beton desak secara utuh.
misalnya pada Ludovoco dkk. (2010). Tinjauan
yang cukup lengkap tentang perencanaan kolom Selanjutnya dapat dibuat diagram-diagram
dapat dilihat dalam Fattah (2012). interaksi untuk berbagai mutu beton dan baja
serta untuk berbagai level kuat bahan. Agar
Penurunan persamaan yang digunakan dalam dapat digunakan untuk berbagai ukuran
tulisan ini mengikuti Wangsadinata (1977), yang tampang, diagram-diagram dibuat tak
terkait dengan peraturan beton Indonesia tahun berdimensi.
1971; dan mengikuti Everard dan Cohen (1964),
yang sesuai dengan ACI yang berlaku saat itu. Diagram-diagram tersebut dibuat untuk kuat
Arfiadi (2004) mengembangkan grafik yang nominal, kuat perlu, dan kapasitas maksimum
sesuai dengan SNI 2847-2002. Selain itu Wight tampang. Pada kapasitas maksimum tampang,
dan MacGregor (2012) juga menyajikan grafik- kuat luluh baja tulangan dinaikkan sebesar 1,25
grafik yang sejenis. Diagram interaksi juga kalinya, sehingga kapasitas momen maksimum
dikembangkan oleh Rocca dkk. (2009) tetapi dapat diperoleh. Hal ini berguna untuk
untuk kolom dengan Fiber Reinforced Polymer perencanaan geser kolom pada sistem rangka
(FRP) sebagai pengekang. momen khusus.

Dalam tulisan ini, selain persamaan-persamaan Diagram-diagram yang dibuat dapat digunakan
dalam keadaan nominal, persamaaan dalam untuk perencanaan kolom, baik pada rangka
keadaan ultimit dengan memperhitungkan faktor momen biasa, rangka momen menengah, dan
reduksi kekuatan juga disajikan. Faktor reduksi rangka momen khusus yang diatur dalam SNI
kekuatan disesuaikan dengan SNI 2847:2013 1726-2012 (Badan Standardisasi Nasional, 2012)
(Badan Standardisasi Nasional, 2013) dan ACI atau ASCE/SEI 7-10 (ASCE, 2010). Selanjutnya
318M-11 (ACI, 2011), yang pada awalnya program komputer dikembangkan dan ditulis
diusulkan oleh Mast (1992). Berdasarkan konsep dalam Matlab.
ini, faktor reduksi kekuatan ditentukan FORMULASI PERSAMAAN
berdasarkan apakah suatu tampang masuk ke
dalam kondisi terkendali tarik, transisi, atau Mengacu pada Gambar 1, tulangan yang tersebar
terkendali tekan. Untuk struktur dengan pada keempat sisi dibuat menjadi plat baja tipis
regangan pada serat tulangan tarik terluar ekivalen (Everard dan Cohen, 1964,
mencapai nilai 0,005 maka faktor reduksi Wangsadinata, 1977). Tebal plat baja ekivalen
kekuatan diambil sebesar 0,9. Jika struktur ada pada tiap sisi kolom dapat dihitung menurut
dalam kondisi terkendali tekan, yaitu regangan persamaan:
pada serat tulangan tarik terluar lebih kecil atau 1A
sama dengan regangan luluh, maka faktor ts = 4 tot
(1a)
reduksi kekuatan diambil sebesar 0,65. Untuk μh
nilai regangan pada serat tulangan tarik terluar 1 Atot
yang terletak di antaranya, nilai faktor reduksi te = 4
(1b)
kekuatan dapat diinterpolasi. μb

269
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar 1. Tulangan ekivalen sebagai plat baja tipis berdasarkan tulangan terpasang

dengan t s = tebal plat baja ekivalen pada sisi ⎛ h − d' −c ⎞ '


ε s = −⎜ ⎟ ε cu (5a)
samping kiri dan kanan, t e = tebal plat baja ⎝ c ⎠
ekivalen pada sisi atas dan bawah, Atot = luas atau:
tulangan longitudinal kolom total, h = tinggi ⎛c −d ⎞ '
εs = ⎜ ⎟ ε cu (5b)
h − 2 d' ⎝ c ⎠
kolom, b = lebar kolom, μ = ,dan d' =
h Tanda negatif pada persamaan (5a)
jarak dari sisi terluar kolom ke pusat berat menunjukkan regangan tarik.
tulangan terluar. Dengan memperhatikan persamaan (4) dan
mengingat f s' = Es ε's , dengan
E s = 200000
Tegangan-tegangan yang terjadi
Misal tegangan pada baja tulangan yang letaknya MPa, rasio tegangan pada tulangan desak yang
terdekat dan terjauh dari sisi desak beton terluar dapat dinyatakan dengan
dinyatakan dengan notasi: 600 ⎛ 1 − μ ⎞
ψ' = ⎜1 − ⎟ ≤1
f y ⎜⎝ 2ξ ⎟⎠
(6)

f s' = ψ' f y (2) dengan


fs = ψ f y (3) c
ξ= (7)
dengan f s' = tegangan pada baja sisi luar yang h
Dengan cara yang sama, dengan memperhatikan
letaknya terdekat dari sisi desak beton, f s =
persamaan (3) dan (5) dan mengingat f s = Es ε s ,
tegangan pada baja sisi luar yang letaknya
kita dapat memperoleh:
terjauh dari sisi desak, f y = tegangan luluh baja
600 ⎛ 1 + μ ⎞
tulangan, ψ' = rasio f s' f y , dan ψ = rasio −1 ≤ ψ = ⎜1 − ⎟ ≤1
f y ⎜⎝ 2ξ ⎟⎠
(8)
fs f y .
Gaya-gaya yang terjadi
Regangan pada baja desak terluar dapat dihitung Gaya-gaya yang terjadi pada tampang kolom
dengan: terdiri dari gaya-gaya aksial pada baja yang
c − d' ' letaknya terjauh dan terdekat dari sis desak beton
ε's = ε cu (4) terluar (atas dan bawah), gaya-gaya aksial pada
c
setiap sisi kolom (kiri dan kanan), dan gaya
ε 's = regangan pada baja desak terluar, and ε 'cu = aksial pada beton desak.
tegangan ultimit beton = 0.003, dan c = tinggi Keseimbangan gaya-gaya dalam keadaan
garis netral. nominal menghasilkan:
Dengan cara yang sama, regangan pada baja
tarik terluar dapat dihitung dengan:
270
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

n 1
Pn = N se1 + N se 2 + 2∑ N ssi + Cc (9) yc = h ( 1 −β1 ξ ) (12c)
i =1 2
dengan: Sedangkan yssi tergantung dari bentuk geometri
Nse1 = gaya aksial pada baja terluar (atas) yang diagram tegangan sepanjang tinggi tampang
letaknya terdekat dari sisi desak, kolom. Kemungkinan bentuk diagram tegangan
Nse2 = gaya aksial pada baja terluar (bawah) yang yang terjadi sepanjang tinggi tampang kolom
letaknya terjauh dari sisi desak, dapat diuraikan sebagai berikut ini.
Nssi = gaya aksial pada setengah sisi tulangan
(satu sisi) kiri atau kanan untuk segmen-i, Kasus 1
Cc = gaya desak pada beton. Kasus 1 terjadi jika baja terluar yang terdekat ke
Nssi pada persamaan (9) tergantung kondisi sisi desak masih elastik (εs’ ≤ εy), tetapi baja
bentuk-bentuk geometri dari tegangan pada baja terluar yang terjauh dari sisi desak sudah luluh
tulangan.
Gaya desak pada beton dapat ditulis sebagai: (εs > εy). Dalam hal ini ψ' ≤ 1 dan ψ = −1
Cc = 0,85 f c' ab seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
(10a)
Atau dengan mengingat persamaan (7): Komponen gaya yang ada dalam persamaan (9)
Cc = 0,85 f c' β1 ξ hb (10b) untuk Kasus 1 ini dapat ditulis sebagai:
1
dengan a = β1 c = β1 ξ h = tinggi blok desak N se1 = Atot ψ' f y (13a)
4
beton ekivalen, dan β1 = rasio tinggi blok
1
desak beton ekivalen terhadap tinggi garis netral. Nse2 = − Atot f y (13b)
Dalam persamaan (10) pengurangan luas beton 4
yang ditempati baja desak tidak diperhitungkan. 1
Atot
⎛1 1⎞
N ss1 = − 4 fy ⎜ μ − ξ −β + ⎟ (13c)
Momen nominal yang terjadi μ ⎝2 2⎠
Dengan mengambil momen terhadap pusat berat 1
Atot
tampang kolom diperoleh momen nominal ⎛1 ⎞
sebagai berikut: N ss 2 = − 4 f y ⎜ β⎟ (13d)
μ ⎝2 ⎠
n
M n = N se1 yse1 + N se 2 yse 2 + 2∑ N ssi yssi + Cc yc (11) 1
Atot
i =1 ⎛ 1 ⎞⎛ 1 1⎞
dengan: N ss3 = − 4 f y ⎜ ψ' ⎟⎜ μ + ξ − ⎟ (13e)
μ ⎝ 2 ⎠⎝ 2 2⎠
yse1 = jarak dari pusat berat kolom terhadap dengan:
pusat berat gaya desak terluar, fy
yse2 = jarak dari pusat berat kolom terhadap β= ξ (13f)
600
pusat berat gaya desak terjauh dari sisi desak, Lengan momen untuk setiap komponen gaya
yssi = jarak dari pusat berat kolom terhadap aksial dari baja di sisi kiri dan kanan tampang
pusat berat gaya desak di sisi kiri dan kanan, pada Gambar 2(c) terhadap pusat berat tampang
yc = jarak dari pusat berat kolom terhadap pusat kolom dalam persamaan (10) dapat diperoleh
dengan menggunakan persamaan:
berat gaya desak beton.
⎛ 1 1 1 1⎞
Dalam hal ini: y ss1 = h ⎜ − μ − ξ − β + ⎟ (14c)
1 ⎝ 4 2 2 4⎠
yse1 = μ h (12a)
2 ⎛ 2 1⎞
y ss 2 = h ⎜ − ξ − β + ⎟ (14d)
1 ⎝ 3 2⎠
yse2 = − μ h (12b)
2 ⎛1 1 1⎞
y ss 3 = h ⎜ μ − ξ + ⎟ (14e)
⎝3 3 6⎠

271
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar 2. Kasus 1
Untuk lengan momen dari komponen gaya aksial
baja di sisi atas dan bawah, dan lengan momen Kasus 3
gaya aksial dari beton desak mengikuti
Pada kasus 3 baja tulangan terluar yang letaknya
persamaan (12a) sampai dengan (12c).
terdekat ke sisi desak telah mengalami
Kasus 2 keluluhan (εs’ > εy), tetapi baja tulangan terluar
yang letaknya terjauh dari sisi desak masih
Keadaan ini terjadi jika regangan pada baja sisi elastik (εs < εy) seperti ditunjukkan pada Gambar
terluar (desak dan tarik) melebihi regangan 4. Gaya-gaya dapat diperoleh sebagai berikut:
luluhnya seperti ditunjukkan pada Gambar 3, 1
N se1 = Atot f y (17a)
yaitu ε's > ε y dan ε s > ε y . Pada kondisi ini 4
ψ' = 1 dan ψ = −1 seperti terlihat pada Gambar 1
N se2 = Atot ψ f y (17b)
3. Komponen gaya-gaya pada persamaan (9) 4
untuk Kasus 2 adalah: 1
Atot
⎛ 1 ⎞⎛ 1 1⎞
1
N se1 = Atot f y (15a) N ss1 = − 4 f y ⎜ ψ ⎟⎜ μ − ξ + ⎟ (17c)
4 μ ⎝ 2 ⎠⎝ 2 2⎠
1 1
N se2 = − Atot f y Atot
(15b) ⎛1 ⎞
4 N ss 2 = 4 f y ⎜ β⎟ (17d)
μ ⎝2 ⎠
1
Atot 1
⎛1 1⎞
N ss1 = − 4 fy ⎜ μ − ξ −β + ⎟ (15c) Atot
⎛1 1⎞
μ ⎝ 2 2⎠ N ss 3 = 4 fy ⎜ μ +ξ−β− ⎟ (17e)
μ ⎝2 2⎠
1
Atot Lengan momen untuk segmen gaya pada
⎛1 ⎞
N ss 2 = − 4 f y ⎜ β⎟ (15d) Gambar 4 dapat diperoleh sebagai berikut:
μ ⎝2 ⎠
⎛ 1 1 1⎞
1 y ss1 = h ⎜ − μ − ξ + ⎟ (18a)
Atot
⎛1 ⎞ ⎝ 3 3 6⎠
N ss 3 = 4 f y ⎜ β⎟ (15e)
μ ⎝2 ⎠ ⎛ 2 1⎞
y ss 2 = h ⎜ − ξ + β + ⎟ (18b)
1 ⎝ 3 2⎠
Atot
⎛1 1⎞ ⎛1 1 1 1⎞
N ss 4 = 4 fy ⎜ μ + ξ −β − ⎟ (15f) y ss3 = h ⎜ μ − ξ + β + ⎟ (18c)
μ ⎝2 2⎠ ⎝4 2 2 4⎠

272
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar 3. Kasus 2

Gambar 4. Kasus 3

Kasus 4 1
Atot
Kasus 4 terjadi jika seluruh tampang kolom N ss1 = 4 f y ψ (1 − ψ )β (19c)
dalam keadaan desak, tetapi tidak seluruh baja μ
telah mencapai tegangan luluhnya. Garis netral 1
( )
Atot
dalam hal ini terletak di luar tampang kolom, ⎧1 ⎫
N ss 2 = 4 f y ⎨ 1 − ψ 2 β⎬ (19d)
dan satu sisi baja tulangan terluar yang μ ⎩ 2 ⎭
mengalami tegangan desak telah luluh (εs’ > εy), 1
sedangkan baja tulangan terluar yang lain juga Atot
telah mengalami tegangan desak tetapi belum N ss 3 = 4 f y {μ − (1 − ψ )β} (19e)
μ
luluh (εs < εy) seperti ditunjukkan pada Gambar
5. Komponen gaya untuk Kasus 4 seperti Lengan momen untuk gaya-gaya pada Kasus 4
ditunjukkan pada Gambar 5 dapat diperoleh dapat diperoleh sebagai berikut:
⎧ 1 ⎫
y ss1 = h ⎨− μ + (1 − ψ )β⎬
sebagai berikut ini: 1
(20a)
1 ⎩ 2 2 ⎭
N se1 = Atot f y (19a)
⎧1 ⎫
y ss3 = h ⎨ (1 − ψ ) β ⎬
4
(20c)
1 ⎩2 ⎭
N se2 = Atot ψ f y (19b)
4 Dalam hal ini nilai β1ξ pada persamaan (10)
dan (12) sama dengan 1.

273
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar 5. Kasus 4

Kasus 5 paling dekat dari sisi desak masih elastik. (εs’ <
Dalam keadaan ini, semua tampang kolom εy dan εs < εy), seperti ditunjukkan pada
mengalami desak dan semua baja tulangan telah Gambar 7.
luluh seperti ditunjukkan pada Gambar 6. Gaya-gaya yang terjadi dapat dihtiung dengan
Gaya-gaya yang terjadi dapat dihitung menurut: persamaan:
1 1
N se1 = Atot f y (21a) N se1 = Atot ψ' f y (23a)
4 4
1 1
N se2 = Atot f y (21b) N se2 = Atot ψ f y (23b)
4 4
1 1
N ss1 = Atot f y (21c) Atot
4 ⎛ 1 ⎞⎛ 1 1⎞
N ss1 = 4 f y ⎜ ψ ⎟⎜ μ − ξ + ⎟ (23c)
Karena β1ξ =1, lengan momen gaya pada baja di μ ⎝ 2 ⎠⎝ 2 2⎠
sisi kiri dan kanan, serta lengan momen beton 1
Atot
desak terhadap pusat tampang kolom = 0, yaitu ⎛ 1 ⎞⎛ 1 1⎞
N ss 2 = 4 f y ⎜ ψ' ⎟⎜ μ + ξ − ⎟ (23d)
yss1 = 0 (22a) μ ⎝ 2 ⎠⎝ 2 2⎠
yc = 0 (22b) Sedangkan lengan momen pada kasus ini adalah:
⎛ 1 1 1⎞
y ss1 = h ⎜ − μ − ξ + ⎟ (24a)
⎝ 3 3 6⎠
Kasus 6
⎛1 1 1⎞
Kasus 6 terjadi jika digunakan baja kuat tarik y ss 2 = h ⎜ μ − ξ + ⎟ (24b)
tinggi, di mana garis netral jatuh pada tampang ⎝3 3 6⎠
beton tetapi baja yang terletak paling jauh dan

Gambar 6. Kasus 5

274
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar 7. Kasus 6

1
Atot
⎧1 ⎫
Kasus 7 N ss1 = 4 f y ⎨ (ψ' −ψ )⎬ (25c)
μ ⎩2 ⎭
Pada Kasus 7 semua tampang telah mengalami 1
desak dan regangan baja yang paling mengalami Atot
desak belum mencapai regangan luluh (εs’ < εy), N ss 2 = 4 f y (ψ − ψ' ) (25d)
μ
seperti ditunjukkan ada Gambar 8. Dalam
Sedangkan lengan momen pada Gambar 8 dapat
keadaan ini seluruh baja tulangan masih dalam
dihitung dengan:
keadaan elastik. Hal ini dapat terjadi untuk
kolom yang diberi tulangan baja kuat tarik yss1 = 0 (26a)
tinggi. Gaya-gaya yang terajadi pada Kasus 7 ⎛1 ⎞
seperti ditunjukkan pada Gambar 8 dapat y ss 2 = h ⎜ μ ⎟ (26b)
⎝6 ⎠
dihitung dengan:
Perlu dicatat pula bahwa untuk tampang yang
1 seluruhnya mengalami desak nilai β1ξ pada
N se1 = Atot ψ' f y (25a)
4 persamaan (10) dan(12) sama dengan 1.
1
N se2 = Atot ψ f y (25b)
4

Gambar 8. Kasus 7

275
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

DIAGRAM INTERAKSI
Berdasarkan persamaan-persamaan yang telah Kata tekan pada kalimat sebelumnya ditulis
diturunkan, dapat dibuat diagram interaksi untuk dengan huruf tebal, karena ada kesalahan
berbagai mutu baja tulangan. Diagram interaksi penulisan dalam SNI 2847:2013 yaitu tertulis
dapat dibuat untuk hubungan φMn − φPn , ”tarik”, seharusnya “tekan” sesuai dengan ACI
Mn − Pn , dan M pr − Ppr , dengan φ = faktor 318M-11. Batas regangan terkendali tekan
adalah regangan tarik neto dalam tulangan pada
reduksi kekuatan. kondisi regangan seimbang. Selanjutnya definisi
Faktor reduksi kekuatan diambil sesuai dengan tersebut ditunjukkan pada Gambar 9.
Untuk berbagai mutu beton tinggi blok desak
SNI 2847: 2013, yaitu φ = 0,90 untuk tampang
beton ekivalen tergantung dari nilai β1 yang
terkendali tarik, dan φ = 0,65 untuk tampang
menurut SNI 2847:2013 pasal 10.2.7.3 diambil
terkendali tekan, sesuai dengan pasal 9.3.2.1 dan sebagai berikut ini.
pasal 9.3.2.2 SNI 2847:2013. Sedangkan untuk
kondisi transisi nilai faktor reduksi kekuatan β1 = 0,85 untuk f c' ≤ 28 MPa (28a)
dapat diinterpolasi dengan persamaan:
β1 = 0,85 −
0,05 '
7
( )
f c − 28 tetapi β1 ≥ 0,65 (28b)
( )
φ = 0,65 + ε t − ε y ⎜
⎛ 250 ⎞
⎟ (27a) untuk f c' ≥ 28 MPa  
⎝ 3 ⎠
Diagram interaksi yang dihasilkan dapat dilihat
⎧⎪⎛ 1 ⎞ ⎛ 5 ⎞⎫⎪
φ = 0,65 + 0,25⎨⎜⎜ ⎟ − ⎜ ⎟⎬ (27b) pada Gambar A1-A6 untuk φMn − φPn , B1-B6
⎪⎩⎝ c / d t ⎟⎠ ⎝ 3 ⎠⎪⎭
untuk Mn − Pn , dan C1-C6 untuk M pr − Ppr .
Suatu tampang dikatakan terkendali tekan
Dalam diagram interaksi yang dihasilkan,
menurut pasal 10.3.3 SNI 2847:2013 atau ACI
318M-11 adalah jika regangan tarik neto dalam diambil nilai μ = 0,70. Dalam diagram-diagram
yang dihasilkan, gaya normal maksimum yang
baja tarik terjauh, ε t , sama dengan atau kurang
disyaratkan dalan SNI 2847:2013 dan ACI
dari batas regangan terkendali tekan, bila beton 318M-11 juga telah diperhitungkan.
tekan mencapai batas regangan asumsi sebesar
0,003.

Gambar 9. Faktor reduksi kekuatan

276
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

APLIKASI (Gambar 10), sehingga As = ρ b h = 3600 mm2.


Selanjutnya digunakan tulangan 8 D25.
Aplikasi 1:
Suatu kolom dengan ukuran b = 450 mm, dan h Aplikasi 2:
= 500 mm, dengan f c' = 30 MPa dan f y = 400 Suatu kolom dengan ukuran b = 550 mm, h =
MPa. 550 mm, dengan f c' = 25 MPa dan f y = 400
Dari analisis struktur diketahui Pu = 2025 kN MPa
dan M u = 319 kNm. Rencanakan tulangan (a) Rencanakan tulangan jika Pu min = 1087.13
longitudinal kolom tersebut.
kN, dan Pu max = 2412.55 kN, M u = 466.68
Penyelesaian: kNm.
Selanjutnya dihitung: (b) Jika kolom merupakan kolom Sistem
Pu Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)
= 0,30 dengan momen nominal balok di sisi kiri dan
f c' bh
Mu kanan balok adalah sama, yaitu M nb( + ) =
= 0,095
f c' bh 2 162.112 kNm, M nb( − ) = 304.232 kNm,
Dari diagram interaksi Pu - M u untuk f c' = 30 periksa apakah desain kolom pada (a)
memenuhi syarat, jika ukuran dan tinggi
MPa dan f y = 400 MPa diperoleh ρ = 1,6% kolom di bawah dan di atas pertemuan balok
kolom adalah sama.

Gambar 10. Hitungan tulangan kolom aplikasi 1

277
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Penyelesaian: dengan ∑ Mnc = jumlah momen kolom pada


Pu Mu
(a) Untuk min = 0,14 dan =0,112, pertemuan balok-kolom, ∑ Mnb = jumlah
'
f c bh f c' bh 2 momen balok yang bertemu pada
dari diagram interaksi M u − Pu untuk f c' = sambungan balok-kolom.

25 MPa dan f y = 400 MPa diperoleh ρ= Dari hasil hitungan 1,2∑ M nb =559,613
0,014 (Gambar 11). kNm. Karena ukuran dan tinggi kolom atas
dan bawah pada pertemuan balok-kolom
Pu Mu adalah sama, maka momen balok yang harus
Untuk maks = 0,32 dan =0,112, didukung oleh kolom atas dan bawah juga
f c' bh f c' bh 2 sama. Dengan demikian M nc = 559,613/2 =
dari diagram interaksi M u − Pu untuk f c' = 279,806 kNm (Gambar 12).
25 MPa dan f y = 400 MPa diperoleh ρ= Pu Mn
Untuk min = 0,14 dan =0,067,
0,022 (Gambar 11). f c' bh f c' bh 2
Pu Mn
serta maks = 0,32 dan =0,067,
Dengan demikian yang menentukan adalah ρ= f c' bh f c' bh 2
0,022, diperoleh As = ρ b h = 6655 mm2. lalu diletakkan pada diagram M n − Pn seperti
terlihat pada Gambar 13 sesuai dengan FEMA P-
Digunakan 16 D25. As terpasang =7853,982
751  (Building Seismic Safety Council, 2012).
mm2, dengan ρ ≈ 2,6%. Dari Gambar 13 tampak bahwa titik-titik yang
digambarkan berada di dalam diagram untuk ρ
(b) Berdasarkan pesyaratan kolom kuat balok
≈ 2,6%. Dengan demikian kolom dapat
lemah harus dipenuhi ∑ M nc ≥ 1,2∑ M nb ,
dinyatakan aman.

Gambar 11. Hitungan tulangan kolom aplikasi 2

278
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar 12. Momen pada pertemuan balok-kolom

Gambar 13. Pemeriksaan kolom kuat balok lemah pada pertemuan balok-kolom

279
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar 14. Hitungan momen kapasitas maksimum

Aplikasi 3: Untuk tulangan dengan ρ ≈ 0,16, nilai


Suatu kolom dengan ukuran b = 500 mm, h= M pr
maksimum = 0,1475, yang diambil
500 mm, dengan f c' = 25 MPa dan f y = 400 f c' bh 2
MPa, dengan tulangan 12 D 25, Pu = 1750 kN. kemungkinan nilai yang terbesar dari variasi
Perkirakan nilai Mpr kolom tersebut. gaya normal, sehingga M pr = 645,31 kNm

KESIMPULAN
Penyelesaian:
Dalam tulisan ini telah dikembangkan diagram-
Pu
Dengan Pu = 1750 kN, = 0,2. Tulangan diagram untuk perencanaan kolom beton
f c' bh bertulang sesuai dengan SNI 284:2013 dan AC
12 D25, ρ= 0,156 ≈ 0,16. Dari diagram 318M-11. Kolom dengan tulangan pada
keempat sisi didekati sebagi baja dengan
M pr
M pr − Ppr untuk f c' = 35 MPa diperoleh ketebalan yang merata pada tiap sisinya. Karena
f c' bh 2 grafik-grafik diturunkan dengan anggapan
tersebut, maka hasilnya merupakan pendekatan
= 0,136 (lihat Gambar 14), sehingga M pr = 595
dari cara yang sesungguhnya. Namun demikian,
kNm. hasil yang diperoleh akan mendekati hasil dari
keadaan sesungguhnya.

280
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

DAFTAR PUSTAKA Fattah, AMA, 2012, Behavior of Concrete


Columns Under Various Confinement
ACI, 2011, Building Code Requirements for Effects, Ph.D. Dissertation, Kansas State
Structural Concrete (ACI 318M-11), University.
Farmington Hills, MI Ludovico, MD, Lignla, GP., Prota, A, dan
Arfiadi, Y., 2004, Alat Bantu Perancangan Cosenza, E., 2010).Nonlinear Analysis of
Kolom dengan Tulangan pada Keempat Cross Sectons under Axial Load and
Sisinya, Seminar HAKI , Jakarta , Agustus. Biaxial Bending, ACI Structural Journal,
ASCE, 2010, ASCE/SEI 7-10: Minimum Design July-August, 390-399.
Loads for Buildings and Other Structures, Mast, RF., 1992, Unified Design Provision for
American Society of Civil Engineers, Reinforced and Prestressed Concrete
Reston, Virginia. Flexural and Compression Members. ACI
Badan Standardisasi Nasional, 2012, SNI Structural Journal, V89, 185-199.
1726:2012: Tata cara perencanaan Rocca, S., Galati, N., Nanni, A., 2009,
ketahanan gempa untuk struktur bangunan Interaction diagram Methodology for
gedung dan non gedung. Jakarta. Design of FRP-confined reinforced
Badan Standardisasi Nasional, 2012, SNI concrete columns. Construction and
2847:2013: Persyaratan beton struktural Building Materials, 23, 1508-1520.
untuk bangunan gedung. Jakarta. Wangsadinata, W., 1977, Analysis of Reinforced
Building Seismic Safety Council, 2012) NEHRP Concrete Column Sections. Departemen
Recommended Seismic Provisions: Design Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik,
Examples: FEMA P-751, Washington, D.C. Direktorat Jenderal Ciptakarya, Direktorat
Everard, N. J dan Cohen, E., 1964, Ultimate Penyelidikan Masalah Bangunan.
Strength Design of Reinforced Concrete Wight, J dan MacGregor, JG., 2012, Reinforced
Columns. American Concrete Institute, Concrete Mechanics and Design. Prentice-
Detroit. Hall International, Inc. NJ.

281
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

LAMPIRAN

Gambar A-1. φM n − φPn , f c = 20 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7.


'

Gambar A-2. φM n − φPn , f c = 25 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7.


'

282
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar A-3. φM n − φPn , f c = 30 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7.


'

 
 

Gambar A-4. φM n − φPn , f c = 35 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7.


'

283
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar A-5. φM n − φPn , f c = 40 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7.


'

Gambar A-6. φM n − φPn , f c = 45 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7.


'

284
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar B-1. M n − Pn , f c = 20 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7


'

Gambar B-2. M n − Pn , f c = 25 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7


'

285
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar B-3. M n − Pn , f c = 30 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7


'

Gambar B-4. M n − Pn , f c = 35 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7


'

286
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar B-5. M n − Pn , f c = 40 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7


'

Gambar B-6. M n − Pn , f c = 45 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7


'

287
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar C-1. M pr − Ppr , f c' = 20 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7

Gambar C-2. M pr − Ppr , f c' = 25 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7

288
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

Gambar C-3. M pr − Ppr , f c' = 30 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7

Gambar C-4. M pr − Ppr , f c' = 35 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7

289
 
Arfiadi / Diagram Interaksi Perancangan Kolom / JTS, VoL. 13, No. 4, April 2016, hlm 268-290

 
Gambar C-5. M pr − Ppr , f c = 40 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7
'

 
Gambar C-6. M pr − Ppr , f c = 45 MPa, f y = 400 MPa, μ = 0,7
'

290
 

View publication stats