Anda di halaman 1dari 16

TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI

Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan yang terjadi sesudah

sesaat proses persalinan berlangsung dengan volume perdarahan melebihi dari

500 ml. Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan

volume perdarahan yang terjadi karena tercampur dengan air ketuban, dan

serapan pakaian atau kain alas tidur. Oleh sebab itu operasional untuk periode

pasca persalinan adalah setelah bayi lahir. Sedangkan tentang jumlah

perdarahan, disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal dimana

dapat menyebabkan perubahan tanda vital, seperti; pasien mengeluh lemah,

limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik <90 mmHg, nadi

>100 x/menit, dan kadar Hb <8 g% (Saifuddin, 2001).

Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan,

baik fisik maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera

setelah bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali

mendekati keadaan sebelum hamil ( 6 minggu ).

Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate post partum

dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan Late

post partum period ( minggu kedua sampai minggu ke enam)..Potensial

bahaya yang sering terjadi adalah pada immediate dan early post partum

period sedangkan perubahan secara bertahap kebanyakan terjadi pada late post

partum period. Bahaya yang paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska

persalinan atau HPP.

Menurut Willams & Wilkins (1988) perdarahan paska persalinan

adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang lebih dari 500 cc

segera setelah bayi lahir. Tetapi menentukan jumlah perdarahan pada saat

persalinan sulit karena bercampurnya darah dengan air ketuban serta

rembesan dikain pada alas tidur. POGI, tahun 2000 mendefinisikan


perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post

partum yang menyebabkan perubahan tanda vital seperti klien mengeluh

lemah, limbung, berkeringat dingin, dalam pemeriksaan fisik hiperpnea,

sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar HB < 8 gr %.

2. ETIOLOGI

Penyebab umum perdarahan postpartum adalah:

1. Atonia Uteri

2. Retensi Plasenta

3. Sisa Plasenta dan selaput ketuban

- Pelekatan yang abnormal (plasaenta akreta dan perkreta)

- Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta seccenturia)

4. Trauma jalan lahir

a. Episiotomi yang lebar

b. Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim

c. Rupture uteri

5. Penyakit darah

Etiologi perdarahan post partum:


1. Atonia uteri
Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri adalah :

1) Umur : umur yang terlalu muda atau tua

2) Paritas : sering dijumpai terjadi pada multipara dan grandemultipara

3) Partus lama

4) Obstetri operatif dan narkosa

5) Uterus terlalu regang dan besar, misalnya gemelli, hidramnion, atau

janin besar

6) Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri, uterus couvelair pada

solusio plasenta

7) Faktor sosial ekonomi, yaitu malnutrisi.


1. Sisa plasenta dan selaput ketuban

2. Jalan lahir : robekan perineu, vagina, serviks, forniks dan rahim.

3. Penyakit darah.

3. TANDA DAN GEJALA

Gejala dan tanda Penyulit Diagnosa penyebab :

1) Uterus tidak berkontraksi dan lembek.


2) Perdarahan segera setelah bayi lahir.
3) Syok.
4) Bekuan darah pada serviks atau pada posisi terlentang akan menghambat

aliran darah keluar.


5) Atonia uteri.
6) Darah segar mengalir segera setelah anak lahir.
7) Uterus berkontraksi dan keras.
8) Plasenta lengkap.
9) Pucat.
10) Lemah.
11) Mengigil.
12) Robekan jalan lahir
13) Plasenta belum lahir setelah 30 menit
14) Perdarahan segera, uterus berkontraksi dan keras
15) Tali pusat putus
16) Inversio uteri
17) Perdarahan lanjutan
18) Retensio plasenta
19) Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap
20) Perdarahan segera
21) Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus uteri tidak berkurang
22) Tertinggalnya sebagian plasenta
23) Uterus tidak teraba
24) Lumen vagina terisi massa
25) Neurogenik syok, pucat dan limbung
26) Inversio uteri
4. PATOFISIOLOGI

Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam

uterus masih terbuka. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah

dalam stratum spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis ditempat

insersinya plasenta terbuka.

Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka

tersebut akan menutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan

darah sehingga perdarahan akan terhenti. Adanya gangguan retraksi dan

kontraksi otot uterus, akan menghambat penutupan pembuluh darah dan


menyebabkan perdarahan yang banyak. Keadaan demikian menjadi faktor

utama penyebab perdarahan paska persalinan. Perlukaan yang luas akan

menambah perdarahan seperti robekan servix, vagina dan perinium.

5. KLASIFIKASI

1 Perdarahan post partum primer / dini (early postpartum hemarrhage),

yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utamanya

adalah atonia uteri, retention plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan

lahir. Banyaknya terjadi pada 2 jam pertama

2. Perdarahan Post Partum Sekunder / lambat (late postpartum

hemorrhage), yaitu-perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama.

6. KOMPLIKASI

1) Anemia yang berkelanjutan


2) Infeksi puerperium.
2. Terjadi rehrosis hipofisis anterior dan sindrom sheehan
1) Kelemahan umum (Asthenia)
2) Menurunnya berat badan sampai cachexia
3) Penurunan fungsi sexsual
4) Memudarnya tanda-tanda seks sekunder
5) Turunnya metabolisme – hipotensi
6) Amenarea sekunder
3. Kematian perdarahan post partum

7. PENATALAKSANAAN

a. Penatalaksanaan umum
1) Ketahui secara pasti kondisi ibu bersalin sejak awal
2) Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan

aman
3) Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat
4) Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila

dihadapkan dengan masalah dan komplikasi


5) Atasi syok jika terjadi syok
6) Pastikan kontraksi berlangsung baik ( keluarkan bekuan darah,

lakukan pijatan uterus, beri uterotonika 10 IV dilanjutkan infus 20

ml dalam 500 cc NS/RL dengan tetesan 40 tetes/menit ).


7) Pastikan plasenta telah lahir lengkap dan eksplorasi kemungkinan

robekan jalan lahir


8) Bila perdarahan tidak berlangsung, lakukan uji bekuan darah.
9) Pasang kateter tetap dan pantau cairan keluar masuk
10) Lakukan observasi ketat pada 2 jam pertama paska persalinan dan

lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya.


b. Penatalaksanaan khusus
a) Atonia uteri
1. Kenali dan tegakan kerja atonia uteri
2. Sambil melakukan pemasangan infus dan pemberian

uterotonika, lakukan pengurutan uterus


3. Pastikan plasenta lahir lengkap dan tidak ada laserasi jalan lahir
4. Lakukan tindakan spesifik yang diperlukan :
5. Kompresi bimanual eksternal yaitu menekan uterus melalui

dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah

telapak tangan yang melingkupi uteus. Bila perdarahan

berkurang kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus

dapat kembali berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehata

rujukan.
6. Kompresi bimanual internal yaituv uterus ditekan diantara

telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam

vagina untuk menjempit pembuluh darah didalam miometrium.


7. Kompresi aorta abdominalis yaitu raba arteri femoralis dengan

ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut genggam

tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak

lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna

vertebralis, penekanan yang tepat akan menghetikan atau

mengurangi, denyut arteri femoralis.


b) Retensio plasenta dengan separasi parsial
1. Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan

tindakan yang akan diambil.


2. Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengejan, bila

ekspulsi tidak terjadi cobakan traksi terkontrol tali pusat.


3. Pasang infus oksitosin 20 unit/500 cc NS atau RL dengan

tetesan 40/menit, bila perlu kombinasikan dengan misoprostol

400mg per rektal.


4. Bila traksi terkontrol gagal melahirkan plasenta, lakukan

manual plasenta secara hati-hati dan halus.


5. Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.
6. Lakukan transfusi darah bila diperlukan.
7. Berikan antibivotik profilaksis ( ampicilin 2 gr IV/oral +

metronidazole 1 g supp/oral ).
c) Plasenta inkaserata
1. Tentukan diagnosis kerja
2. Siapkan peralatan dan bahan untuk menghilangkan kontriksi

serviks yang kuat, tetapi siapkan infus fluothane atau eter untuk

menghilangkan kontriksi serviks yang kuat, tetapi siapkan infus

oksitosin 20 Untuk500 NS atau RL untuk mengantisipasi

gangguan kontraksi uterus yang mungkin timbul.


3. Bila bahan anestesi tidak tersedia, lakukan manuver sekrup

untuk melahirkan plasenta.


4. Pasang spekulum Sims sehingga ostium dan sebagian plasenta

tampak jelas.
5. Jepit porsio dengan klem ovum pada jam 12, 4 dan 8 dan

lepaskan spekulum
6. Tarik ketiga klem ovum agar ostium, tali pusat dan plasenta

tampak jelas.
7. Tarik tali pusat ke lateral sehingga menampakkan plasenta disisi

berlawanan agar dapat dijepit sebanyak mungkin, minta asisten

untuk memegang klem tersebut.


8. Lakukan hal yang sama pada plasenta kontra lateral
9. Satukan kedua klem tersebut, kemudian sambil diputar searah

jarum jam tarik plasenta keluar perlahan-lahan.


d) Ruptur uteri
1. Berikan segera cairan isotonik ( RL/NS) 500 cc dalam 15-20

menit dan siapkan laparatomi


2. Lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta,

fasilitas pelayanan kesehatan dasar harus merujuk pasien ke

rumah sakit rujukan


3. Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan

memungkinkan, lakukan operasi uterus


4. Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien

mengkwatirkan lakukan histerektomi


5. Lakukan bilasan peritonial dan pasang drain dari cavum

abdomen
6. Antibiotik dan serum anti tetanus, bila ada tanda-tanda infeksi.
e) Sisa plasenta
1. Penemuan secara dini, dengan memeriksa kelengkapan plasenta

setelah dilahirkan
2. Berika antibiotika karena kemungkinan ada endometriosis
3. Lakukan eksplorasi digital/bila serviks terbuka dan

mengeluarkan bekuan darah atau jaringan, bila serviks hanya

dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa plasenta

dengan dilatasi dan kuret.


4. Hbv 8 gr% berikan transfusi atau berikan sulfat ferosus

600mg/hari selama 10 hari.


5. f. Ruptur peritonium dan robekan dinding vagina
6. Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan

sumber perdarahan
7. Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik
8. Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat

dengan benang yang dapat diserap


9. Lakukan penjahitan luka dari bagian yang paling distal
10. Khusus pada ruptur perineum komplit dilakukan penjahitan

lapis demi lapis dengan bantuan busi pada rektum, sebagai

berikut :
11. Setelah prosedur aseptik- antiseptik, pasang busi rektum hingga

ujung robekan
12. Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul

sub mukosa, menggunakan benang polyglikolik No 2/0

( deton/vierge ) hingga ke sfinter ani, jepit kedua sfinter ani

dengan klem dan jahit dengan benang no 2/0.


13. Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perineum dan sub mukosa

dengan benang yang sama ( atau kromik 2/0 ) secara jelujur.


14. Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara sub mukosa

dan sub kutikuler


15. Berikan antibiotik profilaksis. Jika luka kotor berikan

antibiotika untuk terapi.


f) Robekan serviks
1. Sering terjadi pada sisi lateral, karena serviks yang terjulur akan

mengalami robekan pada posisi spina ishiadika tertekan oleh

kepala bayi.
2. Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi

perdarahan banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri

dan kanan porsio


3. Jepitan klem ovum pada kedua sisi porsio yang robek sehingga

perdarahan dapat segera di hentikan, jika setelah eksploitasi

lanjutkan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan,

jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah luar

sehingga semua robekan dapat dijahit


4. Setelah tindakan periksa tanda vital, kontraksi uterus, tinggi

fundus uteri dan perdarahan paska tindakan


5. Berikan antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tanda-

tanda infeksi
6. Bila terjadi defisit cairan lakukan restorasi dan bila kadar Hb

dibawah 8 gr% berikan transfusi darah

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Langkah awal proses askeb yaitu mengumpulkan data, mengolah data dan

menganalisa data yang diperoleh dalam bentuk data subyektif, data obyektif

dan data penunjang yang akan memberikan gambaran keadaan kesehatan

klien.

A. Data Subjektif

Adalah data yang diperoleh dari hasil anamnesa dari klien, keluarga dan

anggota tim kesehatan lain yang mencakup semua keluhan klien pada

masalah kesehatan yang dialaminya. Anamnesa ini meliputi :

a. Biodata

Nama yang jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari –

hari.

b. Umur dicatat dalam tahun, sebaiknya juga ditanyakan tanggal lahir

klien, umur berguna untuk mengantisipasi pasti diagnosa masalah

kesehatan dan tindakan yang akan dilakukan.

c. Suku / bangsa perlu dicatat karena hal tersebut sangat berpengaruh

dalam kehidupan termasuk kesehatan. Disamping itu memudahkan

dalam melakukan pendekatan dan melakukan asuhan kebidanan.

d. agama perlu dicatat karena hal tersebut sangat berpengaruh dalam

kehidupan termasuk kesehatan. Disamping itu memudahkan dalam

melakukan pendekatan dan melakukan asuhan kebidanan.

e. pendidikan klien perlu ditanyakan untuk mengetahui tingkat

intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku

kesehatan seseorang.

f. Pekerjaan dicatat untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kesehatan

klien dalam pembiayaan.

g. Alamat perlu dicatat untuk mempermudah hubungan bila keadaan

mendesak. Misalnya memerlukan bantuan keluarga, alamat juga dapat

memberikan petunjuk keadaan lingkungan tempat tinggal klien.


Dari biodata ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang

faktor resiko, keadaan social, ekonomi dan pendidikan klien serta

keluarga yang dapat mempengaruhi kesembuhan klien.

B. Keluhan Utama

Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke

fasilitas pelayanan kesehatan.

Pada kasus ibu postpartum normal misalnya, keluhan utamanya adalah

karena ia ingin memeriksakan kembali kesehatannya setelah persalinan

atau pada kasus postpartum patologis, ibu datang ke fasilitas pelayanan

kesehatan karena demam, keluar darah segar dalam jumlah banyak, nyeri,

infeksi luka jahitan dan lain – lain.

C. Riwayat menstruasi

Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan masa nifas,

namun dari data yang kita peroleh kita akan mempunyai gambaran

tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data yang

harus kita peroleh dari riwayat menstruasi antara lain :

- menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Wanita

indonesia pada umumnya mengalami menarche sekitar 12 sampai 16

tahun.

- siklus menstruasi adalah jarak menstruasi yang dialami dengan

menstruasi berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23

sampai 32 hari.

- volume. Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang

dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk mendapatkan data yang

valid. Sebagai acuan biasanya kita gunakan kriteria banyak, sedang,

dan sedikit. Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat

subyektif, namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan beberapa
pertanyaan pendukung, misalnya sampai berapa kali mengganti

pembalut dalam sehari.

D. Status perkawinan

Ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan mendapatkan

gambaran mengenai suasana rumah tangga pasangan. Beberapa

pertanyaan yang dapat diajukan antara lain sebagai berikut :

- berapa tahun usia ibu ketika menikah pertama kali?

- Lama pernikahan?

- Ini adalah suami yang ke?

E. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas, dan kb yang lalu

Hal ini penting untuk mengetahui faktor resiko pada persalinan

berikutnya. Yang perlu ditanyakan : kehamilan, penolong, apakah

masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan,

seperti perdarahan, kelainan letak juga riwayat pre eklamsi. Selain itu

ditanyakan pula tempat melahirkan, cara melahirkan(spontan atau dengan

tindakan) begitu juga dengan kelahiran anak meliputi BB, PB, jenis

kelamin, dan keadaan sekarang (hidup atau mati).

F. Riwayat Kehamilan Sekarang

Yang ditanyakan usia kehamilan, kapan dan dimana ANC berapa kali,

dimana, dan kapan pernah dapat imunisasi, jika ya kapan, dimana, berapa

kali, obat - obatan yang didapatkan dan keluhan yang dirasakan.

Informasi apa yang didapatkan waktu periksa hamil.

G. Riwayat Persalinan Sekarang

Kita tanyakan bagimana proses persalinannya, mulai datang keluhan

sampai persalinan kala I dan IV nya untuk melakukan penatalaksanaan

yang tepat sesuai dengan masalahnya.

H. Riwayat kesehatan yang lalu


Dari data riwayat kesehatan ini dapat digunakan sebagai “penanda” akan

adanya penyulit selama masa nifas. Adanya perubahan fisik dan fisiologis

pada masa nifas yang melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan

mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting

tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah

pasien pernah menderita penyakit menular (TBC, AIDS, hepatitis),

menahun (Asma, jantung, hipertensi), dan menurun (DM, Asma,

Hipertensi).

I. Riwayat kesehatan keluarga

Dari data riwayat kesehatan ini dapat digunakan sebagai “penanda”

penyakit menular (TBC, AIDS, hepatitis), menahun (Asma, jantung,

hipertensi), dan menurun (DM, Asma, Hipertensi).

J. Pola kehidupan sehari - hari

1. pola nutrisi

Perlu ditanyakan bagaimana pemenuhan nutrisi selama dirumah sakit,

apakah klien menghabiskan porsi yang disajikan, apakah sudah sesuai

dengan kebutuhan ibu nifas. Begitu juga dengan cairan yang diberikan.

2. pola eliminasi

Apakah setelah melahirkan sudah BAB, bagaimana konsistensinya,

warna, bau dan kapan. Begitu juga bagaimana dengan BAKnya, berapa

kali sehari, apakah mengalami kesulitan atau sudah pergi ke kamar

mandi sendiri. Dalam keadaan normal, klien dapat BAK secara

spontan dalam 8 jam setelah melahirkan, sedangkan BAB biasanya

tertunda 2 sampai 3 hari setelah melahirkan.

K. Pola istirahat

Setelah melahirkan apakah klien dapat istirahat atau tidur sesuai

kebutuhannya. Berapa jam klien tidur dalam sehari dan apakah ada

kesulitan selama ibu melakukan istirahat. Kebutuhan istirahat dan tidur


selama phase taking hold dimana klien ingin seklai menerima tanggung

jawab sebagai ibu. Kebutuhan tidur ± 8 jam pada malam hari dan 1 jam

pada siang hari.

L. Pola aktifitas

Ditanyakan kemampuan aktifitas setelah melahirkan. Sejauh mana ibu

melakukan ambulasi dini, apakah mengalami hambatan atau kesulitan.

Mobilisasi hendaknya dilakukan secepatnya.

M. Pola personal hygiene

Setelah melahirkan apakah dapat melaksanakan mandi sendiri di kamar

mandi, bagaimana kebersihan alat kemaluannya apakah dicuci memakai

sabun, bagaimana mengenai pembalut, kapan ganti dan berapa kali.

Begitu juga dengan kebersihan payudara. Hal ini perlu diperhatikan

untuk mencegahsumber infeksi dan memberi rasa nyaman. Segera

setelah klien cukup kuat/ sehat boleh mandi minimal kurang lebih 1 jam

PP dan dilakukan 2X sehari. Begitu juga dengan kebersihan vagina

dilakukan 2X sehari (mandi pagi dan mandi sore), maksimal setiap kali

BAB/BAK. Sedangkan pembalut diganti setiap kali BAB dan setiap

perawatan. Kebersihan payudara juga dilakukan minimal 2X sehari

selama mandi

N. Riwayat psikososial

Yang perlu dikaji adalah bagaimana sikap klien terhadap interaksi yang

dilakukan:

Hari ke 3 – 10 : terjadi phase taking hold, kadang terjadi postpartum

bluess

Hari ke >10 : terjadi phase letting go

O. Riwayat Sosial budaya


Yang ditanyakan adalah kebiasan yang ada dilingkungan klien.

Kebiasaan yang menunjang seperti selamatan / selapan / tujuh bulanan.

Rencana meneteki sampai usia berapa. Kebiasaan yang menghambat

seperti minum jamu, pijat dan ibu dilarang untuk keluar rumah selama

hamil.

P. Riwayat spiritual

Data ini diperlukan untuk mengetahui kebiasaan beragama/ketaatan

pasien terhadap agamanya.

B. Data obyektif

Adalah data yang dikumpulkan melalui pemeriksaan fisik secara

inspeksi palpasi, auscultasi. Data objektif ini meliputi :

a. Pemeriksaan Keadaan Umum

Langkah awal pemeriksaan fisik adalah dengan inspeksi atau

periksa pandang secara berurutan dari kepala sampai kaki,

keadaan umum ditunjukan pada keadaan klien, kesadaran, tensi,

suhu, nadi, pernafasan, BB, TB, dan cara berjalan. Bila hal itu

semua dalam batas normal berarti tidak ada gangguan kesehatan

pada klien.

b. Pemeriksaan fisik

.) Inspeksi

Kepala dan Rambut : simetris/tidak, bersih/tidak, warna ,

rontok/tidak, berketombe/tidak.

Muka : simetris/tidak, pucat/tidak , oedema/

tidak , ada chloasma gravidarum / tidak.

Mata : simetris/tidak, sklera mata ikterus / tidak,

konjungtiva merah anemi/ tidak, ada bintik bitot/tidak.


Hidung : simetris/tidak, bersih/tidak, ada

sekret/tidak, ada polip/ tidak , ada pernafasan cuping

hidung/tidak.

Mulut dan gigi : simetris/tidak, mukosa bibir lembab

/kering,stomatitis / tidak, cyanosis/ tidak , ada caries/tidak

Telinga : simetris/tidak, bersih/tidak, ada

serumen/tidak

Leher : ada pembesaran kelenjar limfe/ tidak, ada

pembesaran kelenjar tiroid/ tidak dan ada bendungan vena

jugularis/ tidak.

Dada : simetris/ tidak, ada tarikan intercostae/

tidak, pernafasan teratur/ tidak

Payudara : simetris/ tidak,keadaan puting susu,

hiperpigmentasi areola mammae/tidak, ada pembesaran

kelenjar montgommery / tidak,

Perut : ada linea alba/ tidak , ada linea nigra /

tidak dan ada striae gravidarum/tidak , ada bekas jahitan SC /

tidak.

Genetalia : ada varises/ tidak, oedema/ tidak.

Anus : ada hemorroid/ tidak

Ekstremitas

Atas : oedema/tidak,

Bawah :oedema/tidak, ada gangguan pergerakan /

tidak.

2.) Palpasi

Kepala : tidak ada massa/

benjolan .
Leher : Ada bendungan vena jugularis/tidak dan

kelenjar thyroid / tidak.

Dada : Ada massa pada payudara / tidak.

Abdomen : kontraksi uterus baik/tidak , konsis-

tensi keras/tidak, besar TFU

Ekstrimitas

Atas : odema/ tidak, ada nyeri tekan/tidak.

Bawah : odema/ tidak, ada nyeri tekan/tidak.

3.) Perkusi

Refleks patella +/+

4.) Auskultasi

Dada : ada whezzing/tidak atau ronchi.

c. Pemeriksaan penunjang

Merupakan data yang diperoleh dari hasil laborat, yang

perlu dilakukan dalam pemeriksaan laborat adalah Hb,

leukosit,eritrosit, trombosit, PCV, Gula darah acak.