Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

KECEPATAN DISOLUSI INTRINSIK

Khamis, 8 Maret 2018

Kelompok 1 Kelas E (KPBI)

Pukul 07.00 – 10.00 WIB

Nama NPM Tugas

1. Kushiela Malar K 260110152004


2.
26 Novalisha T 260110152005
3. Nur Syahirah
4. Maria Buhaira
5. Loshieni Shri G 260110152020

LABORATORIUM BIOFARMASETIKA

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2018
I. Tujuan

Mempelajari pengaruh keadaan bahan (baku) obat (polimorfi, hidrat, solvate) terhadap
kecepatan disolusi intrinsiknya sebagai preformulasi untuk bentuk sediaannya.

II. Prinsip

1. Persamaan Noyes-Whitney

Persamaan Noyes-whitney (permukaan rata)

dM/dt = DAK (C1 - C2) / h

Keterangan:

M = jumlah obat (material) terlarut (biasanya mg atau mmol)

t = waktu (seconds)

D = koefisien difusi obat (cm2.s)

A = luas permukaan membrane (cm2)

K = koefisien partisi minyak/air

h = tebal lapisan zat cair

C1 – C2 = gradient konsentrasi dimana C1 adalah konsentrasi obat pada donor side


membrane dan C2 dalah konsentrasi obat dalam membran (Kaplan, 1974)

2. Kecepatan disolusi

Kecepatan disolusi merupakan kecepatan zat aktif larut dari suatu bentuk sediaan utuh/
pecahan/ partikel yang berasal dari bentuk sediaan itu sendiri. Kecepatan disolusi zat aktif
dari keadaan polar atau dari sediaannya didefinisikan sebagai jumlah zat aktif yang
terdisolusi per unit waktu di bawah kondisi antar permukaan padat-cair, suhu dan kompisisi
media yang dibakukan.
III. TEORI DASAR

Telah banyak publikasi yang menyatakan adanya hubungan yang bermakna antara kecepatan
disolusi berbagai bahan obat dari sediaannya dan absorpsinya. Obat-obat tersebut umumnya meliputi
obat-obat yang kecepatan disolusinya sangat lambat yang disebabkan oleh kelarutannya yang sangat
kecil. Obat-obat yang memiliki kecepatan disolusi intrinsiknya kurang dari 0,1 mgmenit-1cm-2
biasanya menimbulkan masalah serius pada absorpsinya, sedangkan obat-obat yang memiliki kecepatan
disolusi intrinsik lebih besar dari 1,0 mgmenit-1 cm-2, pada umumnya kecepatan disolusi bukan
menjadi langkah penentu, tetapi kecepatan absorpsinya (Kaplan, 1973).

Studi kecepatan disolusi intrinsic sudah diawali sejak tahun 1987 oleh Noyes dan Whitney
dengan menggunakan bahan asam benzoate dan timbale klorida, yang kemudian diperoleh persamaan
Noyes-Whitney sbb:

𝑑𝑐
𝑑𝑡
=𝐾.S.(𝐶𝑠−𝐶) (1)

dengan dC/dt = kecepatan disolusi bahan obat

K = tetapan kecepatan disolusi

S = luas permukaan bahan obat yang berdisolusi

Cs = kelarutan bahan obat yang berdisolusi

C = kadar bahan obat yang terlarut dalam cairan medium

Persamaan (1) memperlihatkan bahwa kecepatan disolusi berbanding lurus dengan luas
permukaan bahan pbat dan kelarutannya. Persamaan ini sebenarnya merupakan turunan dari persamaan
Fick pertama, yang secara matematis dinyatakan dengan:

𝜕𝐶
𝐽 = −𝐷 (2)
𝜕𝑥
dengan J = fluks bahan obat, yaitu jumlah bahan obat yang lewat per satuan waktu melalui suatu satuan
luas dengan arah tegak lurus (mg cm-2det-1)

D = koefisien distribusi

𝜕𝐶
= gradient kadar
𝜕𝑥
Pada jarak (x) = h cm dan permukaan bahan obat yang terdisolusi, akan berlaku persamaan :

𝜕𝐶 𝐶−𝐶𝑠
= (3)
𝜕𝑡 ℎ
Jika persamaan (3) dimasukkan ke dalam persamaan (2) diperoleh persamaan :

𝐷(𝐶𝑠−𝐶)
𝐽=− (4)

Selanjutnya persamaan (4) dapat diubah menjadi :

𝑑𝑚 𝐷(𝐶𝑠−𝐶)
= (5)
𝑑𝑡𝑆 ℎ

𝑑𝑚 𝑉.𝑑𝐶 𝐷.𝑠(𝐶𝑠−𝐶)
= = (6)
𝑑𝑡 𝑑𝑡 ℎ

𝑑𝐶 𝐷(𝐶𝑠−𝐶)
= (7)
𝑑𝑡 𝑉.ℎ.𝐾

Pada persamaan (7), jika D/V.h diganti dengan K (karena masing-masing merupakan tetapan), maka
hasilnya akan identik dengan persamaan (1).

Laju disolusi intrinsik merupakan laju dimana suatu padatan melarut di dalam suatu
pelarut dalam batasan kuantitatif. Bila suatu tablet sediaan obat lainnya dimasukkan ke dalam
saluran cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Jika obat
tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padatan juga mengalami disintegrasi menjadi granul-
granul dan granul yang lain emngalami pemecahan menjadi partikel-partikel yang halus.
Disintegrasi, deagregasi, dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya
suatu obat dari bentuk dimana oat tersebut diberikan. (Voight, 1999)
Pengujian disolusi sangat bermanfaat karena merupakan faktor pembatas dalam
absorbsi obat. Pengujian disolusi digunakan untuk membuktikan kesesuaian dengan spesifikasi
kampendial dan dapat merupakan persyaratan dalam registrasi obat. Disolusi digunakan pula
selama pengembangan produk dan pengujian stabilitas sebagai bagian dari spesifikasi produk.
Sebagai contoh, pengukuran tingkat pelarutan intrinsik adalah alat yang ampuh untuk
evaluasi perbedaan kelarutan antara polimorf atau larutan-larutan. Kelarutan kesetimbangan
bentuk kristal anhidrat tidak dapat ditentukan jika mengkonversi ke hidrat ketika kontak
dengan air. Perbedaan kelarutan dari anhidrat dengan bentuk kristal hidrat dapat diperkirakan
dengan mempelajari perbedaan tingkat kelarutan intrinsik awal seperti yang terjadi konversi.
Karena laju disolusi selalu dipengaruhi oleh intensitas agitasi, luas permukaan, dan konfigurasi
kontainer. Penentuan tingkat disolusi intrinsik membutuhkan metode dengan reproducibility
yang baik (Qiu et al., 2009).
 Metode Uji Disolusi
Metode uji disolusi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Metode Keranjang (Basket)
Metode keranjang terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan
transparan lain yang inert, suatu motor, suatu batang logam yang di gerakkan oleh
motor dan keranjang berbentuk silinder. Wadah tercelup sebagian didalam suatu tangas
air yang sesuai berukuran sedemikian sehingga dapat mempertahankan suhu dalam
wadah pada 370C ± 0,50C selama pengujian berlangsung dan menjaga agar gerakan air
dalam tangas air halus dan tetap. Wadah disolusi dianjurkan berbentuk silinder dengan
dasar setegah bola, tinggi 160 mm hingga 175 mm, diameter dalam 98 mm hingga 106
mm dan kapasitasnominal 1000 mL. Pada bagian atas wadah dapt digunakan suatu
tutup yang pas untuk mencegah penguapan. Batang logam berada pada posisi
sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada tiap titik dari sumbu vertikal
wadah, berputar dengan halus dan tanpa goyangan yang berarti. Batas kecepatan yang
memungkinkan untuk memilih kecepatan dan mempertahankan kecepatan seperti yang
tertera dalam masing-masing monografi dalam batas lebih kurang 4% (Depkes RI,
1995).
b. Metode Dayung
Metode dayung terdiri atas suatu dayung yang dilapisi khusus, yang
berfungsi memperkecil turbulensi yang disebabkan oleh pengadukan. Dayung diikat
secara vertikal kesuatu motor yang berputar dengan suatu kecepatan yang terkendali.
Tablet atau kapsul diletakan dalam labu pelarutan yang beralas bulat yang juga
berfungsi untuk memperkecil turbulensi dari media pelarutan. Alat ditempatkan dalam
suatu bak air yang bersuhu konstan, seperti pada metode basket dipertahankan suhu
pada 370C ± 0,50C. Posisi dan kesejajaran dayung ditetapkan dalam Farmakope
Indonesia. Metode dayung sangat peka terhadap kemiringan dayung. Pada beberapa
produk obat, kesejajaran dayung yang tidak tepat secara drastis dapat mempengaruhi
hasil pelarutan. Standar kalibrasi pelarutan yang sama digunakan untuk memeriksa
peralatan sebelum uji dilaksanakan (Shargel et al., 2012).
IV. .Alat Dan Bahan
A. Alat

a. Timbangan analitik

b. Alat-alat gelas

c. Tabung disolusi

d. Thermostat dengan penangas air

e. Penyangga (holder) sampel (berupa pellet)

f. Motor pemutar

g. Stopwatch

h. Spektrofotometer UV

B. Bahan

a. Bahan obat (teofilin, ctm, ibuprofen, dan kloramfenikol)

b. Lilin kuning murni atau parafin solid

c. Medium disolusi

V. PROSEDUR

a. Pembuatan kurva baku Teofilin

50mg teofilin dilarutkan dalam labu ukur 50ml (1000ppm). Seterusnya diambil 2.5ml
dari 1000ppm dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50ml dilakukan pengenceran ke
(50ppm/50ml). Setelah itu dilakukan penggenceran bagi 2ppm, 4ppm, 6ppm, 8ppm dan
10ppm.

b. Metode kecepatan disolusi intrinsic pellet teofilin

Pellet bentuk tablet (dibuat dengan mencetak kira-kira 300 mg bahan obat dengan
tekanan 5 ton selama 5 menit), ditaruh pada pada penyangga, lalu bagian atas pellet dituangi
lilin cair, sehingga hanya satu permukaan pellet yang terbuka, yang langsung dapat
bersinggungan dengan medium disolusi. Peyangga yang sudah berisi sampel ini lalu ditutup
dan dihubungkan dengan motor pemutar. Tabung percobaan yang telah diisi 150 ml medium
disolusi, suhunya diatur dengan thermostat pada 37 + 0,5°C. Pellet yang sudah dipasang pada
penyangga diselupkan dalam medium disolusi, diatur agar tidak ada gelembung udara di
bawahnya, lalu dipasang pada motor pemutar dan segera diputar dengan kecepatan 100 putaran
per menit. Jarak antara permukaan pellet dengan dasar tabung disolusi 2 cm. Sampel hasil
disolusi diambil tiap selang waktu tertentu (menit ke-5, 10, 20, 30, 45, dan 60). Selanjutnya
sampel yang diperoleh ditentukan kadaarnya secara spektrofotometrik.

VI. DATA PENGAMATAN

ABSORBANSI

KONSENTRASI 1 2 3 RATA-RATA

4 ppm 0.2102 0.2091 0.2089 0.2094

6 ppm 0.3198 0.3209 0.3219 0.32086667

8 ppm 0.4218 0.4218 0.4214 0.42166667

10 ppm 0.5173 0.5153 0.5159 0.51616667

12 ppm 0.6336 0.6363 0.6366 0.6355

Persamaan garis liner  y = 0.1048x + 0.1065


Pengukuran absorbansi (tablet 1 300mg) hasil disolusi dengan interval waktu
5’,10’,20’,30’,45’,60’ menit.

Menit ke- A1 A2 A3 Rata - rata


5 0.6118 0.6218 0.6171 0.6169
10 0.8494 0.8591 0.8538 0.8541
20 1.4900 1.4963 1.4879 1.4914
30 1.7784 1.7776 1.8896 1.8152
45 2.1763 2.3674 2.3197 2.2878
60 2.6233 7.0000 2.4767 4.0333

Pengukuran absorbansi (tablet 2 300mg) hasil disolusi dengan interval waktu


5’,10’,20’,30’,45’,60’ menit.

Menit ke- A1 A2 A3 Rata - rata


5 0.7222 0.7263 0.7210 0.7232
10 1.1593 1.1536 1.1600 0.7710
20 1.8448 1.8590 1.8588 1.8542
30 2.2449 2.6108 2.5391 2.4649
45 2.8548 7.0000 3.0374 4.2974
60 7.0000 2.4865 7.0000 5.4955

Menit ke- Rata – rata tablet 1 dan 2


5 0.67005
10 0.81255
20 1.6728
30 2.14005
45 3.2926
60 4.7644

Perhitungan konsentrasi obat (dalam ppm)


Y = ax + b
Y = absorbansi X = Konsentrasi
Dari graf, diketahui a = 0.1048 dan b = 0.1065

Waktu Absorbansi Kadar (ppm) Kadar Disolusi


5 0.67005 5.38 1.61%
10 0.81255 6.74 2.03 %.
20 1.6728 14.95 4.5%
30 2.14005 19.40 5.85%
45 3.2926 30.40 9.15%
60 4.7644 44.45 13.39%

i. 5 menit
Absorbansi = 0.67005
𝑦 = 0.1048x + 0.1065
0.67005 = 0.1048x + 0.1065
= 5.38 ppm (mg/L)

5.38 (mg/L) x 0.9 L = 4.84 mg

4.84 𝑚𝑔
% Kadar 5 Menit = 𝑥 100% = 1.61 %
300𝑚𝑔

5 𝑚𝐿
Faktor Koreksi = 900 𝑚𝐿 𝑥 4.84 𝑚𝑔 = 0.027 𝑚𝑔
ii. 10 menit
Absorbansi = 0.81255
𝑦 = 0.1048x + 0.1065
0.81255 = 0.1048x + 0.1065
= 6.74 ppm (mg/L)

6.74 (mg/L) x 0.9 L = 6.07 mg + F.K 5 menit


= 6.07 mg + 0.027 𝑚𝑔
= 6.097 mg

6.097 𝑚𝑔
% Kadar 10 Menit = 𝑥 100% = 2.03%
300𝑚𝑔

5 𝑚𝐿
Faktor Koreksi = 900 𝑚𝐿 𝑥 6.097 𝑚𝑔 = 0.034 𝑚𝑔

iii. 20 menit
Absorbansi = 1.6728
𝑦 = 0.1048x + 0.1065
1.6728 = 0.1048x + 0.1065
= 14.95 ppm (mg/L)

14.95 (mg/L) x 0.9 L = 13.46 mg + F.K 10 menit


= 13.46 mg + 0.034 𝑚𝑔
= 13.49 mg

13.49 𝑚𝑔
% Kadar 20 Menit = 𝑥 100% = 4.5 %
300𝑚𝑔

5 𝑚𝐿
Faktor Koreksi = 900 𝑚𝐿 𝑥 13.49 𝑚𝑔 = 0.075 𝑚𝑔

iv. 30 menit
Absorbansi = 2.14005
𝑦 = 0.1048x + 0.1065
2.14005 = 0.1048x + 0.1065
= 19.4 ppm (mg/L)

19.4 (mg/L) x 0.9 L = 17.46 mg + F.K 20 menit


= 17.46 mg + 0.075 𝑚𝑔
= 17.54 mg

17.54 𝑚𝑔
% Kadar 30 Menit = 𝑥 100% = 5.85 %
300𝑚𝑔
5 𝑚𝐿
Faktor Koreksi = 900 𝑚𝐿 𝑥 17.54 𝑚𝑔 = 0.097 𝑚𝑔

v. 45 menit
Absorbansi =3.2926
𝑦 = 0.1048x + 0.1065
3.2926 = 0.1048x + 0.1065
= 30.4 ppm (mg/L)

30.4 (mg/L) x 0.9 L = 27.36 mg + F.K 30 menit


= 27.36 mg + 0.097 𝑚𝑔
= 27.46 mg

27.46 𝑚𝑔
% Kadar 45 Menit = 𝑥 100% = 9.15 %
300𝑚𝑔

5 𝑚𝐿
Faktor Koreksi = 900 𝑚𝐿 𝑥 27.46 𝑚𝑔 = 0.15 𝑚𝑔

vi. 60 menit
Absorbansi = 4.7644
𝑦 = 0.1048x + 0.1065
4.7644 = 0.1048x + 0.1065
= 44.45 ppm (mg/L)

44.45 (mg/L) x 0.9 L = 40.005 mg + F.K 45 menit


= 40.005 mg + 0.15 𝑚𝑔
= 40.155 mg

40.155 𝑚𝑔
% Kadar 60 Menit = 𝑥 100% = 13.39 %
300𝑚𝑔

5 𝑚𝐿
Faktor Koreksi = 900 𝑚𝐿 𝑥 40.155 𝑚𝑔 = 0.22 𝑚𝑔
VII. PEMBAHASAN

Disolusi merujuk kepada proses dimana suatu fase padat (misalnya tablet atau serbuk)
menuju fase larutan. Disolusi obat adalah proses molekul obat yang dibebaskan dari fase padat
dan memasuki fase larutan. Jika tetap dalam fase padat walaupun dalam fase larutan hasilnya
suatu suspense. Penentuan jumlah zat aktif yang terlarut dalam berbagai waktu akan memberi
informasi tentang :

 Kecepatan disolusi zat aktif dari sediaan padat


 Jumlah maksimal zat aktif yang akan larut
 Kinetika kecepatan disolusi
Uji disolusi intrinsik merupakan penetapan zat yang terdisolusi dalam suatu sistem yang
luas penampangnya dibuat konstan (untuk zat aktif). Uji disolusi intrinsik (hakiki) juga adalah
penetapan zat yang terdisolusi dalam suatu sistem yang luas permukaannya dibuat selalu
konstan.

Laju disolusi intrinsik dapat didefinisikan sebagai laju disolusi dari suatu zat aktif murni
yang diperoleh dengan menjaga konstan kondisi-kondisi yang bisa mempengaruhi laju disolusi
zat tersebut, yaitu luas permukaan, suhu, laju pengadukan, pH dan kekuatan ionik dari medium
disolusi yang digunakan. Dengan demikian, besarnya laju disolusi intrinsik suatu zat aktif tidak
dipengaruhi oleh faktor formulasi sehingga bisa dijadikan ukuran kelarutan inharen obat
tersebut di dalam medium disolusi. Pelarutan intrinsik merupakan pelarutan dari suatu serbuk
yang mempertahankan luas permukaan yang tetap, yang biasanya dinyatakan dalam mg/cm2
menit. Obat-obat tersebut umumnya meliputi obat-obat yang kecepatan disolusinya sangat
lambat yang disebabkan oleh kelarutannya yang sangat lambat atau oleh kelarutannya yang
sangat kecil. Obat-obatan yang memiliki kecepatan disolusi intrinsik kurang dari 0.1 mg menit-
1 cm-1 biasanya menimbulkan masalah serius pada abrsorpsinya, sedangkan obat-obat
yang memiliki kecepatan disolusi intrinsik lebih besar dari 1.0 mg-1 cm-1 pada umumnya
kecepatan disolusi bukan menjadi langkah penentu, tetapi kecepatan absorpsinya.

Setelah itu dilakukan uji disolusi terhadap sampel bahan baku obat Teofilin sudah di bentuk
pellet dengan bobot 300 mg. Pellet ditaruh pada penyangga dengan kondisi bagian atas pellet
telah dituangi lilin cair dan satu permukaan pellet lainnya dalam keadaan terbuka yang
langsung bersinggungan dengan medium disolusi sehingga diperoleh hasil yang valid. Medium
disolusi yang digunakan adalah air sebanyak 900 ml dan suhunya sudah diatur dengan
thermostat pada 37’C. Hal ini bertujuan agar suhu percobaan sama dengan suhu tubuh sehingga
bisa sesuai dengan keadaan yang sebenarnya jika obat di dalam tubuh. Metode pengujian
disolusi ini adalah metode dayung yang dasarnya terdiri atas batang, dan daun pengaduk yang
merupakan dayung berputar dengan dimensi tertentu sesuai dengan radius bagian dalam labu
dengan dasar bundar. Di dalam bak terdapat dua tabung, kedua tabung diisi dengan medium
disolusi air sebanyak 900 ml. Hal ini dianalogikan terhadap suatu gelembung udara, maka
gelembung udara tersebut akan masuk ke pori-pori dan bekerja sebagai barier pada interfase
yang dapat menggangu proses disolusi obat. Alat disolusi di atur dengan perputaran 100 rpm
karena diumpamakan sebagai gerak peristaltik usus. Setelah 5 menit larutan dalam tabung 1
diambil sebanyak 5 ml dan dimasukkan ke dalam vial yang telah dicuci dan dibersihkan. Dalam
waktu yang bersamaan air dalam tabung 2 diambil 5 ml dan dimasukkan kedalam vial,
penggantian volume air yang diambil ini dilakukan agar volume dalam tabung tetap 900ml
karena media dianalogikan sebagai cairan tubuh. Kemudian dilakukan hal yang sama pada
menit ke 10, 20, 20, 45 dan 60 menit. Pada pengambilan cuplikan sebaiknya tempat
pengambilan cuplikan di tempat yang sama supaya kondisi juga sama karena jika diambil di
tempat yang berbeda kemungkinan akanmenghasilkan konsentrasi yang berbeda pula sehingga
pada pengukuran hasil yang diperoleh tidak akurat.

Uji hancur pada suatu tablet didasarkan pada kenyataan bahwa!talet itu pecah menjadi
partikel-partikel kecil sehingga darah permukaan media pelarut menjadi luas dan akan
berhubungan dengan tersedianya obat dalam cairan tubuh. Namun sebenarnya uji hancur hanya
menyatakan waktu yang diperlukan tablet untuk hancur dibawah kondisi yang ditetapkan. Uji
ini tidak memberikan jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat dalam
larutan dengan kecepatan yang seharusnya. oleh sebab itu uji disolusi dan kelarutan uji
dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet. Laju absorbsi dari obat-obat bersifat asam
yang diabsorbsi dengan mudah dalam saluran pencernaan sering ditetapkan dengan laju larut
obat dalam tablet. Agar diperoeh kadar obat yang tinggi di dalam darah maka kecepatan obat
dan tablet melarut menjadi sangat menentukan karena laju larut berbagai formula karena itu
dilakukannya evaluasi mengenai apakah suatu tablet melepas kandungan zat aktifnya atau tidak
bila berada didalam saluran cerna menjadi minat utama dari para ahli farmasi.

Pada praktikum kali ini, obat yang telah kelompok kami uji disolusi adalah tablet teofilin.
Teofilin adalah kelompok obat xanthine bronchodilator yang berbentuk tablet maupun kapsul.
Obat ini digunakan oleh orang yang mengalami gangguan atau obstruksi pernapasan, seperti
asma, bronkitis, emfisema, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Teofilin akan
mempermudah pernapasan dan membantu meredakan gejala batuk, sesak napas, dan napas
parau dengan cara membuka jalur udara (bronkus) lebih lebar ke paru-paru agar udara bisa
mengalir dengan lebih bebas. Obat ini membuat otot-otot saluran pernapasan lebih rileks serta
menurunkan respons paru-paru terhadap penyebab iritasi.

Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat yang dapat
terlarut tertentu setiap satuan waktu. Pada percobaan ini ditentukan tetapan disolusi dari tablet
teofillin dalam media air suling, dimana besarnya tetapan tersebut menunjukkan cepat
lambatnya disolusi atau kelarutan dari tablet teofillin tersebut. Disini digunakan air suling
sebagai media disolusi karena air merupakan cairan penyusun utama dalam tubuh manusia.
Jadi, diumpamakan obat berdisolusi di dalam tubuh. Selain itu juga karena teofilin
kelarutannya larut dalam lebih kurang 180 bagian air dan lebih mudah larut dalam air panas.
Pada percobaan ini dilakukan pemanasan yang dipertahankan pada suhu 37°C, disesuaikan
dengan suhu fisiologi tubuh manusia yaitu 37°C-38°C. Pada waktu larutan diambil, harus
diusahakan pada bagian yang sama dari cairan, yaitu tepat di samping keranjang sampel, sebab
pada bagian tersebut zat aktif langsung keluar dari keranjang dan dapat dipipet dengan tepat.
Pemipetan yang dilakukan pada tempat yang berbeda dapat mengakibatkan perbedaan kadar
zat aktif yang sangat besar. Dilakukan duplo agar hasil yang diperoleh dapat dibandingkan.

Tablet teofillin dimasukkan ke dalam alat disolusi yang mengandungi aquades dengan suhu
setinggi 37’C yang bersamaan dengan suhu badan manusia. Pada selang waktu 5, 10, 20, 30,
45 dan 60 menit, sebanyak 5mL larutan dikeluarkan dan 5mL larutan dimasukkan ke dalam
alat tersebut. Jumlah volume yang dikeluarkan mestilah sama dengan jumlah volume yang
dimasukkan. Volume yang dikeluarkan dimasukkan ke dalam vial yang berasingan dan dilabel.
Setelah selesai 60 menit, larutan diambil dan diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Bacaan yang diperoleh kemudian dihitung dengan menggunakan formula yang telah diperoleh
dari kurva baku yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan menggunakan formula dan rata-rata
absorbansi yang diperoleh, di hitung konsentrasi tablet yang terdisolusi ke dalam media
tersebut yang memungkinkan pengukuran jumlah bobot tablet yang terdisolusi selang waktu
tersebut. Bacaan adalah seperti berikut :

Waktu Absorbansi Kadar (ppm) Kadar Disolusi


5 0.67005 5.38 1.61%
10 0.81255 6.74 2.03 %.
20 1.6728 14.95 4.5%
30 2.14005 19.40 5.85%
45 3.2926 30.40 9.15%
60 4.7644 44.45 13.39%

Dengan melihat tabel diatas, pada waktu 5 menit, absorbansi telah diukur sebanyak
0.67005nm dan setelah perhitungan didapati bahwa sebanyak 1.61% obat teofillin yang telah
terdisolusi. Pada waktu 10 menit, absorbansi sebanyak 0.81255nm telah diperolehi dan didapati
sebanyak 2.03% yang terdisolusi. Pada menit ke 20, absorbansi yang telah diperoleh adalah
sebanyak 1.6728nm dan peratus obat terdisolusi dalah sebanyak 4.5%. Pada menit ke 30,
panjang gelombang 2.14005nm telah diukur dan sebanyak 5.85% obat teofillin telah
terdisolusi. Pada menit ke 45 pula, panjang gelombang sebanyak 3.2926nm telah diukur dan
diperoleh sebanyak 9.15% obat telah terdisolusi. Pada 60 menit, absorbansi yang paling
maksimum telah diperoleh yaitu sebanyak 4.7644nm dan peratus obat terdisolusi adalah
sebanyak 13.39%.

Mengikut persyaratan USP, tablet teofillin perlu terdisolusi sekurang-kurangnya 80%


dalam waktu 45menit. Jika tidak ia dianggap tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh
USP. Jadi mengikut percobaan, telah didapati bahwa pada menit ke 45, hanya sebanyak 9.15%
obat telah terdisolusi. Ini tidak mengikut persyaratan yang ditetapkan seperti di dalam USP. Ini
mungkin kerana suhu air yang digunakan untuk penambahan setiap kali 5mL dikeluarkan
adalah di bawah suhu 5mL. Mungkin juga tablet telah dikempa dengan keras.

VIII. KESIMPULAN

Uji disolusi tablet teofillin yang telah terdisolusi sebanyak 9.15% pada menit ke 45 dan tidak
memenuhi pensyaratan seperti di dalam USP yang menyatakan bahwa tablet teofillin perlu
terdisolusi sekurang-kurangnya 80% dalam waktu 45menit.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Kaplan, S.A. 1973. Biopharmaceutical in the preformulation stages of drug development. Dalam
Swarbrick, J. (ed): Current concepts in the pharmaceutical sciences: Dosage form design and
bioavailability, Lea & febiger, Phil.,pp.

Qiu, Y. et al., 2009. Developing Solid Oral Dosage Forms: Pharmaceutical Theory and Practice. New
York: Academic Press.
Shargel, L. et al., 2012. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi Kelima. Surabaya:
Airlangga University Press.

Voight. 1999. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press. Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai