Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept. 2015 – Feb.

2016
 
KAJIAN TEKNIS PRODUKSI ALAT GALI-MUAT DAN ALAT ANGKUT
PADA PENGUPASAN OVERBURDEN DI TAMBANG BATUBARA
PT. RIAN PRATAMA MANDIRI KABUPATEN TANAH LAUT
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Ardyan Febrianto, Edy Nursanto, Dwi Poetranto W.A.

Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral


Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
Jl. SWK 104 (Lingkar Utara), Yogyakarta 55283 Indonesia

Abstrak
PT. Rian Pratama Mandiri (RPM) adalah salah satu perusahaan kontraktor pertambangan yang bergerak dalam
penambangan batubara. PT. Rian Pratama Mandiri melaksanakan kegiatan penambangan di lokasi izin
Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) site Asam-Asam Timur milik PT. Arutmin
Indonesia dengan luas area 2.498 Ha di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan.
Sistem penambangan yang dipakai adalah open pit mining.
Pit RPM adalah salah satu pit yang ada di PT. Rian Pratama Mandiri. Kegiatan penambangan dimulai dengan
melakukan pengupasan overburden sebelum melakukan coal getting. Dalam melakukan pengupasan overburden
di pit RPM, peralatan yang digunakan adalah backhoe Doosan S500LC-V dengan kapasitas bucket 3,2 m3 yang
menggunakan metode pemuatan single back-up dan top loading. Alat angkut yang digunakan adalah truk jungkit
Hino 700ZS 4141 dengan kapasitas bak 18 m3. Pit RPM akan meningkatkan nilai stripping ratio sehingga target
produksi pengupasan overburden yang harus dicapai adalah 515 BCM/jam.
Perhitungan produksi pengupasan menggunakan simulasi teori antrian yang memasukkan parameter waktu
tunggu alat angkut pada waktu edar alat angkut. Setelah dilakukan perhitungan dengan simulasi teori antrian
diketahui produksi pengupasan saat ini yaitu 385,00 BCM/jam dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1
0,64; fleet 2 0,81 dan fleet 3 0,68. Faktor teknis yang mempengaruhi produksi adalah kondisi kerja, volume
penggalian serta pemuatan, efisiensi operasi dan keserasian kerja alat. Rekomendasi yang diberikan untuk
meningkatkan produksi yaitu perbaikan geometri jalan dan area pemuatan yang tidak sesuai standar,
penambahan jumlah curah bucket pada material claystone dari 4 curah menjadi 5 curah, mengurangi hambatan
kerja mekanis dan operasi, dan penambahan jumlah alat angkut masing-masing satu unit pada fleet 1 dan fleet 3.
Produksi pengupasan berdasarkan simulasi dengan teori antrian akan meningkat menjadi 520,38 BCM/jam
dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1 1,01; fleet 2 0,97 dan fleet 3 0,91.
Kata kunci: Produksi Overburden, Alat Gali-Muat, Alat Angkut, Simulasi Antrian

1. PENDAHULUAN kajian terhadap produksi alat gali-muat dan alat


angkut yang ada saat ini untuk memenuhi sasaran
PT. Rian Pratama Mandiri (RPM) menerapkan sistem
produksi yang direncanakan.
tambang terbuka dengan bahan galian yang
ditambang adalah batubara. Kegiatan penambangan Kemampuan produksi alat gali-muat dan alat angkut
dimulai dengan pengupasan overburden dan saat ini belum diketahui dan akan dilakukan
kemudian dilakukan produksi batubara dengan peningkatan nilai stripping ratio yang berdampak
menerapkan stripping ratio 2:1 dengan produksi pada peningkatan sasaran produksi pengupasan.
pengupasan overburden 345 BCM/jam dan produksi Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
batubara 170 BCM/jam. Pada proses pengupasan produktivitas alat adalah hambatan kerja, kondisi
overburden digunakan alat mekanis yaitu alat gali- kerja dan keserasian kerja alat gali-muat dan alat
muat dan alat angkut. Alat gali-muat yang digunakan angkut.
berupa backhoe dan alat angkut berupa dump truck.
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah
Produksi alat gali-muat dan alat angkut yang ada
bahwa penelitian dilakukan di Pit RPM, alat gali-
harus memenuhi stripping ratio yang diterapkan. PT.
muat yang digunakan adalah backhoe Doosan S
RPM merencanakan untuk meningkatkan nilai
500LC-V Giant dengan kapasitas bucket 3,2 m3, alat
stripping ratio menjadi 3:1. Peningkatan nilai
angkut yang digunakan adalah dump truck Hino
stripping ratio akan mengubah sasaran produksi
700ZS 4141 dengan kapasitas bak 18 m3, dan tidak
pengupasan overburden menjadi 515 BCM/jam.
memperhatikan faktor ekonomis dalam analisis.
Dengan peningkatan tersebut maka perlu dilakukan

87  
 
Kajian Teknis Produksi Alat Gali-Muat Dan Alat Angkut … Ardyan Febrianto
 
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah satu adalah selebar ±21 m, loading point dua selebar
mengetahui kemampuan produksi alat gali-muat dan ±15 m dan loading point tiga selebar ±17 m. Lebar
alat angkut saat ini, menganalisa faktor-faktor yang area pemuatan dibentuk oleh backhoe dan dibantu
mempengaruhi produksi alat gali-muat dan alat oleh bulldozer.
angkut., memberikan rekomendasi perubahan pada
parameter produktivitas alat untuk mencapai sasaran
produksi yang direncanakan.
Lokasi daerah penelitian PT. RPM secara LP  2  
administratif terletak di Desa Pandansari, Kecamatan
Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan LP    1  
Selatan. Secara astronomis terletak pada koordinat
3°48’44,48” – 3°54’39,53” LS, dan 115°05’43,91” –
115°15’51,52” BT. LP  3  

2. HASIL PENELITIAN
Peralatan DP    3  
Pekerjaan pengupasan overburden di Pit RPM
dilakukan dengan tiga fleet kombinasi backhoe
berupa backhoe Doosan S500LC-V Giant dengan DP    1   DP    2  
kapasitas bucket 3,2 m3 dan dump truck berupa dump
truck Hino 700 ZS4141 dengan kapasitas bak 18 m3.
Unit yang bekerja setiap fleet terlihat pada tabel 1. Gambar 1. Skema Jalan Angkut Tambang Pit RPM

Tabel 1. Unit yang Bekerja di Fleet


Fleet Backhoe Dump Truck
Waktu Edar
1 EX-001 DT-001, DT-002, DT-003 Data waktu edar alat gali-muat dan data waktu edar
2 EX-002 DT-004, DT-005, DT-006, alat angkut terlihat pada tabel 2.
DT-007
3 EX-003 DT-008, DT-009, DT-010
Tabel 2. Waktu Edar Alat Gali-Muat dan Alat Angkut
Kondisi Jalan Angkut Unit Fleet 1 2 3
Fleet pertama melakukan kegiatan penggalian dan Penggalian,
pemuatan overburden di Loading Point 1 (LP 1) detik 15,35 20,14 18,01
dan melakukan dumping di Dumping Point 1 (DP 1). Swing Isi, detik 4,84 4,20 3,45
Fleet kedua melakukan kegiatan penggalian dan Penumpahan,
Backhoe
pemuatan overburden di Loading Point 2 (LP 2) dan detik 4,40 4,13 3,85
melakukan dumping di Dumping Point 2 (DP 2). Swing Kosong,
Fleet ketiga melakukan kegiatan penggalian dan detik 3,96 3,16 3,66
pemuatan overburden di Loading Point 3 (LP 3) dan TOTAL, detik 28,56 31,63 28,97
melakukan dumping di Dumping Point 3 (DP 3). Pemuatan, detik 114,25 126,50 115,88
Lokasi loading point, dumping point dan jalan angkut Travel dengan
muatan, detik 184,39 207,05 143,31
yang dilalui terlihat pada gambar 1. Terdapat
Mengambil
beberapa segmen jalan yang sama digunakan oleh
posisi dumping,
fleet pertama dan fleet kedua. Jumlah jalur yang ada detik 42,22 46,32 42,85
di setiap segmen jalan bervariasi yang terdiri atas satu Dump
Dumping, detik 42,84 42,97 40,45
dan dua jalur. Panjang jalan yang dilalui fleet pertama Truck
Travel tanpa
adalah sepanjang 895 m, fleet kedua sepanjang 1.681 muatan, detik 106,46 134,30 113,85
m dan fleet ketiga sepanjang 780 m. Secara umum Mengambil
kondisi jalan angkut baik yaitu rata dan tidak adanya posisi pemuatan,
amblesan. detik 48,71 63,76 54,31
TOTAL, detik 538,88 620,91 510,65
Metode Pemuatan
Metode pemuatan yang diterapkan adalah top loading
dan single back-up. Hambatan Kerja
Waktu kerja yang diterapkan di Pit RPM adalah 10
jam per shift. Pengamatan dilakukan selama 100
Kondisi Area Pemuatan (seratus) jam dengan menghitung hambatan-
Kondisi area pemuatan secara umum memiliki hambatan yang terjadi terlihat pada tabel3.
permukaan kerja yang rata dan tidak terdapat
genangan air, namun pada beberapa kondisi undulasi
dapat. Lebar area pemuatan rata-rata di loading point
88  
 
Kajian Teknis Produksi Alat Gali-Muat Dan Alat Angkut … Ardyan Febrianto
 
Faktor Penyusutan Material
Tabel 3. Hambatan Kerja Faktor penyusutan material di loading point satu
Fleet 1 2 3
bernilai 0,68; loading point dua bernilai 0,68 dan di
Unit BH DT BH DT BH DT loading point tiga bernilai 0,80.
Waktu
Pengamatan 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000
Faktor Pengisian Bucket
(He), menit Faktor pengisian bucket di loading point satu bernilai
Hambatan 0,90; loading point dua bernilai 0,90 dan loading
Tidak point tiga bernilai 0,96.
180 180 180 180 180 180
Terkendali
(Hds), menit
Waktu Produksi Pengupasan
Terjadwal 5.820 5.820 5.820 5.820 5.820 5.820 Produktivitas Alat Gali-Muat dan Alat Angkut
(Hs), menit Produktivitas alat gali-muat dan alat angkut terlihat
Hambatan pada tabel5 sebagai berikut:
Mekanis
810 135 780 555 245 750
(Hdm), Tabel 5. Produktivitas Alat Gali-Muat dan Alat
menit
Angkut Saat Ini
Waktu
Tersedia 5.010 5.685 5.040 5.265 5.575 5.070 Prod Tot Prod
Fleet Unit Jml
(Ha), menit (BCM/jam) (BCM/jam)
Hambatan 1 1 196,26
Operasi 365 460 410 460 420 475 2 Backhoe 1 176,51 644,60
(Hdu), menit 3 1 271,84
Waktu 1 3 140,42
Penggunaan 4.645 5.225 4.630 4.805 5.155 4.595 Dump
(Hu), menit 2 4 149,28 454,66
Truck
3 3 164,96
Kesediaan dan Penggunaan Alat
Kesediaan/availibility (A) adalah jumlah waktu alat Faktor Keserasian Kerja Alat
tersedia (tidak mengalami kerusakan) terhadap waktu Keserasian kerja alat gali-muat dan alat angkut saat
yang dijadwalkan. Penggunaan/utilization (U) adalah ini terlihat pada tabel 6.
jumlah waktu alat digunakan untuk melakukan Tabel 6. Keserasian Kerja Alat Gali-Muat dan Alat
pekerjaannya (tanpa hambatan operasi) terhadap Angkut Saat Ini
waktu yang tersedia. Efisiensi Operasi (OE) adalah Fleet 1 2 3
tingkat efisiensi melakukan pekerjaan yang Jumlah Backhoe 1 1 1
ditugaskan terhadap waktu yang dijadwalkan. Jumlah Dump Truck 3 4 3
Kesediaan, penggunaan dan efisiensi operasi terlihat Match Factor 0,64 0,81 0,68
pada tabel 4. Faktor Kerja Dump
Truck 100% 100% 100%
Tabel 4. Penggunaan, Kesediaan dan Efisiensi Faktor Kerja Backhoe 64% 81% 68%
Operasi Alat Waktu Tunggu Backhoe,
detik 65 29 54
Fleet 1 2 3
BH DT BH DT BH DT Produksi Fleet
Unit
(%) (%) (%) (%) (%) (%) Produksi fleet dihitung dengan simulasi teori antrian
Avail 86,08 97,68 86,60 90,46 95,79 87,11 yang merupakan sistem antrian pelayanan tunggal
Usage 92,71 91,91 91,87 91,26 92,47 90,63 dengan kapasitas terbatas setiap fleet-nya dengan
Eff Op 79,81 89,78 79,55 82,56 88,57 78,95
sistem kerja dengan sistem kerjanya terdiri dari dua
EO
Rata-rata
84.79 84,79 81,06 tahap. Produksi fleet menjadi hasil akhir dari simulasi
teori antrian dengan memasukkan parameter efisiensi
Volume Penggalian serta Pemuatan operasi rata-rata dari alat gali-muat dan alat angkut.
Material overburden di loading point satu dan Produksi fleet didasarkan pada tingkat kedatangan
loading point dua adalah material claystone dalam alat angkut di loading point dan volume penggalian
kondisi asli sedangkan material di loading point tiga yang dilakukan setiap siklus kerja. Hasil perhitungan
adalah material timbunan berupa claystone dan terlihat di tabel 7.
sandstone dalam kondisi lepas dan terpadatkan. Tabel 7. Produksi Fleet Saat Ini
Jml
Jumlah Curah Material
Fleet Jml BH DT Produksi, BCM/jam
Jumlah curah material rata-rata dengan bucket pada 1 1 3 115,23
alat gali-muat yang diterapkan di loading point satu 2 1 4 122,75
sampai loading point tiga berjumlah 4 (empat) curah. 3 1 3 147,02
TOTAL 385,00

89  
 
Kajian Teknis Produksi Alat Gali-Muat Dan Alat Angkut … Ardyan Febrianto
 
3. PEMBAHASAN digunakan dengan beberapa pertimbangan.
Pertimbangannya adalah jenis bak dump truck, grade
Kemampuan Produksi Alat Gali-Muat dan Alat
jalan maksimal yang diijinkan dan kapasitas dump
Angkut
truck terlihat pada tabel 10.
Kemampuan produksi pengupasan berdasarkan
produktivitas alat gali-muat dan alat angkut secara Tabel 8. Perbandingan Lebar dan Grade Jalan
terpisah memiliki kekurangan maka produksi fleet Saat Ini dengan Standar
dengan simulasi antrian dapat menjadi parameter
Lebar Jalan Grade Jalan
produksi pengupasan yang lebih tepat dan lebih Seg (m) (%) Keterangan
mendekati keadaan asli di lapangan. Gambar 2 Skrg Stand Skrg Maks
menggambarkan produktivitas alat angkut dan C-C' 11 6 16 15 Grade perlu diperbaiki
produksi fleet belum mencapai sasaran produksi yang I'-I 11 6 -18 -15 Grade perlu diperbaiki
direncanakan. K-K' 12 10 17 15 Grade perlu diperbaiki
L-L' 11 10 15 15 Grade perlu diperhatikan
M-
Grade perlu diperbaiki
M' 20 15 19 15
P-P' 11 10 19 15 Grade perlu diperbaiki
Q-Q' 11 15 14 15 Lebar perlu diperbaiki
R-R' 11 10 16 15 Grade perlu diperbaiki
T-T' 6 6 19 15 Grade perlu diperbaiki
Grade perlu diperhatikan,
U-U' 6 15 15
7 lebar perlu diperbaiki
Grade dan lebar perlu
V'-V 6 -19 -15
7 diperbaiki
X'-X 6 6 -15 -15 Grade perlu diperhatikan

Tabel 9. Lebar Area Pemuatan


Gambar 2. Grafik Produksi Alat Saat Ini terhadap Saat Ini dan Standar Minimum
Sasaran Produksi berdasarkan Nilai Stripping Ratio
Loading Saat Standar
Keterangan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Point ini, m Minimum, m
Metode Pemuatan 1 ±21 20
Metode pemuatan yang diterapkan sudah sesuai 2 ±15 20 Perlu
dengan alat gali-muat yang tersedia. Tinggi jenjang diperbaiki
pemuatan rata-rata saat ini adalah lebih tinggi dari 3 ±17 20 Perlu
dasar bak dump truck dan lebih pendek dari panjang duperbaiki
stick backhoe. Metode double back-up tidak tepat
diterapkan karena membutuhkan jumlah dump truck Tabel 10. Perbandingan Volume dan Berat Material
yang cukup banyak yang tidak tersedia saat ini. setiap Jumlah Curah

Kondisi Jalan Angkut V Kap Tonase Kap


Jml
Fleet Material DT Material DT
Lebar jalan untuk dua jalur yang didapat dari hasil curah
(LCM) (LCM) (Ton) (Ton)
perhitungan dengan mendasarkan pada AASHTO 4 11,49 18,00 14,17 30,53
Manual Rural High Way Design (2001) pada jalan
1 5 14,36 18,00 17,71 30,53
lurus adalah 10 meter dan untuk jalan pada tikungan
6 17,23 18,00 21,25 30,53
adalah 15 meter. Perbandingan terlihat pada tabel 8.
4 11,50 18,00 14,18 30,53
Kondisi jalan yang baik adalah rata dan tidak terdapat
2 5 14,37 18,00 17,72 30,53
amblesan. Pekerjaan perawatan jalan secara berkala
6 17,24 18,00 21,26 30,53
perlu ditingkatkan dan pekerjaan perbaikan jalan
4 12,32 18,00 16,25 30,53
akibat amblesan juga perlu ditingkatkan.
3 5 15,40 18,00 20,32 30,53
6 18,48 18,00 24,38 30,53
Kondisi Area Pemuatan
Lebar minimum area pemuatan berdasarkan Komatsu
Application and Performance Handbook (2009)
Efisiensi Operasi
adalah 20 m. Lebar area pemuatan yang tidak standar
Waktu perbaikan alat sebagian besar dihabiskan
akan menyebabkan waktu manuver yang lebih besar.
bukan untuk melakukan pekerjaan perbaikan tetapi
Kondisi area pemuatan dengan adanya undulasi perlu
menunggu spare part yang tidak tersedia di workshop
diperbaiki.
dapat dikurangi dengan merubah sistem penyediaan
Volume Penggalian serta Pemuatan spare part. Hambatan operasi yang dapat dihindari
Perhitungan jumlah curah maksimal didapatkan seperti pemanasan dan pendinginan yang terlalu lama
jumlah curah maksimal adalah 6 (enam) curah untuk dapat dikurangi dengan menetapkan aturan maksimal
setiap fleet. Hasil perhitungan curah maksimal tidak pemanasan dan pendinginan alat.

90  
 
Kajian Teknis Produksi Alat Gali-Muat Dan Alat Angkut … Ardyan Febrianto
 
Tabel 11. Efisiensi Operasi Alat Saat Ini dan Rencana tetapi belum mencapai sasaran produksi yang
diinginkan.
Eff Op (%) Eff Op rata2 (%)
Fleet Unit
Skrg Rencana Skrg Rencana Rekomendasi akhir yang diberikan adalah melakukan
BH 79,81 87,29 pilihan pertama hingga pilhan keempat dengan
1 84,79 88,75
DT 89,78 90,21 pertimbangan memasukkan pilihan pertama adalah
BH 79,55 87,20 kondisi kerja yang baik akan menjaga maksimalnya
2 81,06 87,27
DT 82,56 87,34 pekerjaan produksi. Rekomendasi akhir akan
BH 88,57 89,43 meningkatkan produksi sebesar 35,16 % dan telah
3 83,76 87,50
DT 78,95 85,57
mencapai sasaran produksi yang diinginkan.
Keserasian Kerja
Menggunakan grafik efisiensi kerja alat dengan
jumlah yang berbeda dapat menunjukkan faktor kerja
backhoe yang kurang dari 80 % dengan waktu tunggu
lebih dari satu menit yang berarti kurang baik. Perlu
dilakukan penambahan jumlah dump truck di fleet
pertama dan fleet ketiga agar faktor kerja backhoe
dapat meningkat menjadi lebih dari 80 %.
Tabel 12. Keserasian Kerja Alat Saat Ini dan Rencana
Fleet 1 2 3
Kond Skrg Renc Skrg Renc Skrg Renc
Jmlh Gambar 3. Grafik Peningkatan Produksi dengan
1 1 1 1 1 1
BH Rekomendasi Akhir
Jml
3 4 4 4 3 4 Tabel 13. Pengaruh Rekomendasi Akhir terhadap
DT
MF 0,64 0,85 0,81 0,81 0,68 0,91 Faktor Produksi
Fleet 1 2 3
Rekomendasi untuk Peningkatan Produksi Jumlah Backhoe 1 1 1
Setelah dilakukan analisa data yang ada maka untuk Jumlah Dump Truck 4 4 4
Jumlah Curah Bucket 5 5 4
meningkatkan kemampuan produksi pengupasan
Efisiensi Operasi, % 88,75 87,27 87,50%
yang ada di Pit RPM dapat dilakukan dengan cara
Produktivitas Backhoe,
sebagai berikut: BCM/jam 214,63 193,47 274,48
1) Memperbaiki kondisi area pemuatan dan jalan Produktivitas Dump
angkut yang belum mencapai standar agar 221,19 179,64 239,36
Truck, BCM/jam
mendukung kegiatan pemuatan dan Produksi Fleet,
pengangkutan. BCM/jam 175,33 149,15 195,89
2) Meningkatkan jumlah curah backhoe dari empat Match Factor 1,01 0,97 0,91
curah menjadi lima curah pada material clasytone
yaitu pada loading point satu dan loading point
4. KESIMPULAN DAN SARAN
dua sehingga meningkatkan material yang
diangkut tiap siklus kerja. Pilihan ini dapat Kesimpulan
meningkatkan produksi fleet sebesar 8,35 %, Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini
tetapi belum mencapai sasaran produksi yang adalah sebagai berikut:
diinginkan. 1. Sasaran produksi Pit RPM dengan peningkatan nilai
3) Meningkatkan efisiensi operasi yang sebelumnya stripping ratio adalah 515 BCM/jam. Produksi total
berada di bawah standar 85 % dengan melakukan dengan tiga fleet saat ini yang terdiri atas satu unit
pengurangan hambatan kerja sebesar 50 % pada alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant
waktu perbaikan dan menerapkan aturan dan tiga unit alat angkut dump truck Hino 700ZS
pemanasan dan pendinginan masing-masing 4141 di fleet pertama, satu unit alat gali-muat
maksimal lima menit setiap shift, pilihan ini dapat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan empat unit
meningkatkan produksi sebesar 5,54 %, tetapi alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet
belum mencapai sasaran produksi yang kedua, satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S
diinginkan. 500LC-V Giant dan tiga unit alat angkut dump truck
4) Meningkatkan keserasian kerja untuk fleet yang Hino 700ZS 4141 di fleet ketiga pada saat ini adalah
memiliki faktor kerja backhoe di bawah 80 % sebesar 385,00 BCM/jam, sehingga produksi
dengan menambah masing-masing satu unit dump pengupasan pada saat ini belum mencapai sasaran
truck di fleet pertama dan fleet ketiga. Pilihan ini produksi sebesar 515 BCM/jam.
dapat meningkatkan produksi sebesar 19,28 %,

91  
 
Kajian Teknis Produksi Alat Gali-Muat Dan Alat Angkut … Ardyan Febrianto
 
2. Faktor teknis yang mempengaruhi produksi fleet Produksi fleet total dengan tiga fleet rencana yang
adalah: terdiri atas satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S
a. Kondisi kerja yang mempengaruhi produksi 500LC-V Giant dan empat unit alat angkut dump truck
terdiri atas kondisi jalan angkut dan kondisi Hino 700ZS 4141 di fleet pertama, satu unit alat gali-
area pemuatan. Segmen jalan C, I, K, M, P, Q, muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan empat unit
R, T, U, V, W belum memenuhi standar alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet kedua,
minimum lebar jalan yaitu 15 meter pada satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V
tikungan dan 10 meter pada jalan lurus serta Giant dan empat unit alat angkut dump truck Hino
grade jalan maksimal yang diijinkan 15 %. 700ZS 4141 di fleet ketiga yang dihasilkan adalah
Lebar area pemuatan di loading point 2 dan sebesar 520,38 BCM/jam dan mencapai sasaran
loading point 3 kurang dari standar minimum produksi yang diinginkan sebesar 515 BCM/jam.
lebar area pemuatan standar yaitu 20 m.
Saran
b. Volume penggalian serta pemuatan yang Saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian dan
belum optimal dengan jumlah curah mangkuk pembahasan adalah:
backhoe saat ini berjumlah empat curah yang 1. Peningkatan pengawasan terhadap pekerjaan
dapat ditambah hingga lima curah pada penggalian, pemuatan, pengangkutan dan
loading point satu dan loading point dua dan penimbunan diperlukan agar produksi pengupasan
masih dapat diatasi baik volume ataupun overburden berjalan sesuai dengan rencana.
tonase oleh dump truck.
2. Pengadaan pelatihan untuk operator dan driver
c. Efisiensi operasi yang terdiri atas kesediaan yang diperlukan untuk menunjang pekerjaan di
dan penggunaan alat. Efisiensi operasi unit lapangan.
backhoe pada fleet pertama dan kedua serta
3. Pengadaan standar prosedur untuk operasi
unit dump truck pada fleet kedua dan ketiga
pengupasan sehingga pekerjaan pengupasan
belum mencapai standar minimum operasi
memiliki acuan kerja.
yang baik yaitu sebesar 85 %. Hal tersebut
disebabkan oleh besarnya hambatan kerja
mekanis dan operasi.
5. DAFTAR PUSTAKA
d. Keserasian kerja alat di loading point satu dan
Abramson, W.L., Thomas S.L., Sharma S., dan
loading point tiga rendah dengan nilai masing-
Boyce G.M., 1996, Slope Stability and
masing 0,64 dan 0,68 yang menyebabkan
Stabilization Methods, Canada, John Wiley
faktor kerja alat di bawah 80 % dan waktu
& Sons Inc, Edisi I.
tunggu di atas 60 detik. Hal tersebut
Departemen Pekerjaan Umum, 1987, Perencanaan
disebabkan oleh kurangnya jumlah alat
Penanggulangan Longsoran, Yayasan
angkut.
Badan Penerbit PU, Jakarta.
3. Rekomendasi peningkatan produksi: Bieniawski, Z.T., 1973, Engineering rock mass
a. Perbaikan lebar dan grade jalan angkut yang classifications, Professor of Mineral
belum memenuhi standar minimum serta Engineering and Director Mining and
perbaikan lebar area pemuatan sesuai standar Resources Research Institute The Pennsylvia
minimum. State University.
Giani Paolo Gian, 1992, Rock Slope Stability
b. Penambahan jumlah curah pada material
Analysis, AA Balkema, Rotterdam.
claystone di loading point satu dan loading
Made Astawa Rai, 1993, Pit Design (Analisis
point dua dari empat curah menjadi lima
Kemantapan Lereng), Direktorat Jendral
curah.
Pertambangan Umum, Pusat Pengembangan
c. Pengurangan hambatan kerja mekanis sebesar Tenaga Pertambangan, Bandung.
50 % pada hambatan yang memiliki hambatan Sitanala Arsyad, 2006, Konservasi Tanah dan Air,
mekanis lebih dari 300 menit, pengaturan IPB Press, Bogor.
waktu pemanasan dan pendinginan masing- _______, 2008, Diktat Kuliah Geoteknik, Universitas
masing maksimal lima menit per shift untuk Pembangunan Nasional “Veteran”
mengurangi hambatan operasi. Yogyakarta, Yogyakarta.
_______, 2014, Biro Perencanaan dan Pengawasan
d. Penambahan satu unit alat angkut masing-
Tambang, PT. Semen Indonesia (Persero).
masing pada fleet pertama dan fleet ketiga
untuk meningkatkan keserasian kerja.

92