Anda di halaman 1dari 19

Asuhan Keperawatan anak pada TBC :

A. DEFINISI

` Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman TBC (Depkes RI, 2002). Definisi lain menyebutkan bahwa Tuberkulosis paru adalah

suatu penyakit infeksi menahun yang menular yang disebabkan oleh mybacterium

tuberculosis (Depkes RI, 1998). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia

melalui udara (pernapasan) ke dalam paru. Kemudian kuman tersebut menyebar dari paru ke

organ tubuh yang lain melaui peredaran darah, kelenjar limfe, saluran nafas, atau penyebaran

langsung ke organ tubuh lain (Depkes RI, 2002).

B. ETIOLOGI

 Tuberculosis merupakan penyakit paru yang disebabkan mycobacterium tuberculosis

ditemukan oleh Robert Koch (1882).

 Kuman berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada

pewarnaan, oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat

mati dengan sinar matahari langsung.

 Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering

tetapi dapat mati pada suhu 60 derajad C dalam 15 – 20 menit.

C. KLASIFIKASI

Tuberkulosis dibedakan menjadi dua yaitu tuberkulosis primer dan tuberkulosis post

primer. Pada tuberkulosis primer penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman

dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Dalam suasana gelap

dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel ini

terhisap oleh orang yang sehat maka akan menempel pada jalan nafas atau paru. Kebanyakan

partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag yang keluar dari cabang trakheo-

bronkhial beserta gerakan silia dengan sekretnya. Sedangkan Tuberculosis Post Primer
dari TBC primer akan muncul bertahun-tahun lamanya menjadi TBC post Primer. Post

Primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di sebagian apical posterior atau

inferior pada paru. (Soeparman, 1990; Snieltzer, 2000).

D.PATOFISIOLOGI

Bakteri juga dapat masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tetapi jarang sekali

terjadi. Bila bakteri menetap di jaringan paru, akan tumbuh dan berkembang biak dalam

sitoplasma makrofag. Bakteri terbawa masuk ke organ lainnya. Bakteri yang bersarang di

jaringan paru akan membentuk sarang tuberculosis pneumonia kecil dan disebut sarang

primer atau efek efek primer. Sarang primer ini dapat terjadi di bagian-bagian jaringan paru.

Dari sarang primer ini akan timbul peradangan saluran getah bening hilus (limfangitis lokal),

dan diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis hilus). Sarang primer,

limfangitis local, limfadenitis regional disebut sebagai kompleks primer (Soeparman, 1990;

Snieltzer, 2000).

Kompleks primer selanjutnya dapat menjadi sembuh dengan meninggalkan cacat atau

sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus

atau kompleks (sarang) Ghon, ataupun bisa berkomplikasi dan menyebar secara

perkontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya, secara bronkhogen pada paru yang

bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan

ludah sehingga menyebar ke usus, secara limfogen, secara hematogen, ke organ lainnya

(Soeparman, 1990; Snieltzer, 2000).


E. TANDA DAN GEJALA

Gejala-gejala klinis yang muncul pada klien TBC paru adalah sebagai berikut :

demam yang terjadi biasanya menyerupai demam pada influenza, terkadang sampai 40-410 C.

Batuk terjadi karena iritasi bronchus, sifat batuk dimulai dari batuk non produktif kemudian

setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif. Keadaan lanjut dapat terjadi hemoptoe

karena pecahnya pembuluh darah. Ini terjadi karena kavitas, tapi dapat juga terjadi ulkus

dinding bronchus. Sesak nafas terjadi pada kondisi lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah

bagian paru. Nyeri dada timbul bila sudah terjadi infiltrasi ke pleura sehingga menimbulkan

pleuritis. Malaise dengan gejala yang dapat ditemukan adalah anorexia, berat badan menurun,

sakit kepala, nyeri otot, keringat malam hari (Soeparman, 1990; Heitkemper, 2000).

F. CARA PENULARAN

 Penyakit TBC menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri

mycobacterium tuberculosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk,

dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC

dewasa.

 Bacteri bia masuk dan terkumpul dalam paru-paru akan berkembang biak

menjadi banyak (terutama daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar

melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itu infeksi

TBC menginfeksi hamper seluruh organ tubuh sesperti: paru-paru, otak, ginjal,

saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening.

 Factor lain adalah kondisi rumah lembab karena cahaya matahari dan udara

tidak bersirkulasi dengan baik sehingga bakteri tuberculosis berkembang

dengan baik dan membahayakan orang yang tinggal didalam rumah.


G. PENEGAKAN DIAGNOSIS TBC

Diagnosis tuberkulosis paru ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan

fisik, foto thoraks, uji tuberkulin, laboratorium, dan pemerikasaan patologi anatomi (PA). Di

Indonesia sebagai standar untuk penegakan diagnosis tuberkulosis paru adalah pemeriksaan

mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis sangat cocok dengan kondisi Puskesmas dalam

menegakkan diagnosis tuberkulosis paru (Depkes RI, 2002). Oleh karena itu untuk deteksi

kuman TBC digunakan pemeriksaan mikroskopis dalam menetapkan diagnosis dan

pengobatan.

H. PENGOBATAN

Pengobatan Tuberkulosis Paru mempunyai tujuan : 1) Menyembuhkan klien dengan

gangguan seminimal mungkin; 2) Mencegah kematian klien yang sakit sangat berat; 3)

Mencegah kerusakan paru lebih luas dan komplikasi yang terkait; 4) Mencegah kambuhnya

penyakit; 5) Mencegah kuman TBC menjadi resisten; 6) Melindungi keluarga dan masyarakat

terhadap infeksi (Crofton, Norman & Miller, 2002).

Sistem pengobatan klien tuberkulosis paru dahulu, seorang klien harus disuntik dalam

waktu 1-2 tahun. Akibatnya klien menjadi tidak sabar dan bosan untuk berobat. Sistem

pengobatan sekarang, seorang klien diwajibkan minum obat selama 6 bulan. Jenis obat yang

harus diminum harus disesuaikan dengan kategori pengobatan yang diberikan (Depkes RI,

1997).

Terapi obat yang dilakukan sekarang dengan terapi jangka pendek selama enam bulan

dengan jenis obat INH atau Isoniasid (H), Rifampicin (R), Pirazinamid (Z), Etambutol (E),

dan Streptomisin (Soeparman, 1990). Paduan obat anti tuberkulosis tabel 1 adalah paduan

yang digunakan dalam program nasional penanggulangan tuberkulosis dan dikemas dalam
bentuk paket kombipak (Depkes RI, 2002). Paduan pengobatan terbaru dengan menggunakan

FDCs (Fix Dose Combinations) yaitu kombinasi dari obat anti tuberkulosis dalam satu

kemasan (WHO, 2002)

KATEGORI PENGOBATAN KLIEN TBC PARU

Paduan Obat
Kategori Tahap Intensif Tahap Lanjutan Untuk Klien Tuberkulosis
I 2HRZE 4H3R3  TBC Paru baru BTA (+)

 TBC Paru BTA (-) Ro (+) dengan

kerusakan jaringan paru yang luas

 TBC ekstra paru sakit berat


II 2HRZES atau 5H3R3E3  TBC paru BTA (+), kambuh

1HRZE  TBC paru BTA (+), gagal

 TBC paru BTA (+), pengobatan ulang

karena lalai berobat


III 2HRZ 4H3R3  TBC paru BTA (-) Ro (+)

 TBC ekstra paru

Keterangan :

H : INH; R : Rifampicin; E : Etambutol; Z : Pirasinamid; S : Streptomisin (Depkes, RI, 2002)

Angka yang berada di depan menunjukkan lamanya minum obat dalam bulan,

sedangkan angka di belakang huruf menunjukkan berapa kali dalam seminggu obat tersebut

diminum. Sebagai contoh 2HRZ artinya INH, Rifampicin dan Pirasinamid diminum dalam

jangka waktu 2 bulan dan minumnya setiap hari. 4H3R3 artinya INH, Rifampicin diminum

selama 4 bulan dan diminum 3 kali dalam seminggu (Depkes RI, 2002).

Efek samping yang ditimbulkan dari obat-obat tersebut adalah : INH : Hepatotoksik.

Rifampicin dapat terjadi sindrom flu dan hepatotoksik. Pada Streptomisin dapat
mengakibatkan nefrotoksik, gangguan nervus VIII cranial. Pirazinamid dapat mengakibatkan

hepatotoksik dan hiperurisemia. Etambutol dapat mengakibatkan neurosis optika,

nefrotoksik, skin rash atau dermatitis. Efek samping dari obat anti tuberkulosis yang tersering

terjadi pada klien adalah pusing, mual, muntah-muntah, gatal-gatal, mata kabur dan nyeri otot

atau tulang (Depkes RI, 2002). Agar pengobatan berhasil, efek samping dapat terdeteksi

secara dini dan dapat segera dirujuk ke fasilitas pelayanan terdekat, maka diperlukan

pengawas minum obat karena ketidakteraturan minum obat dapat menyebabkan resistensi

terhadap obat.

Upaya untuk mencegah terjadinya resistensi, terapi tuberkulosis paru dilakukan

dengan memakai paduan obat, sedikitnya 2 macam obat yang bakterisid. Dengan memakai

obat ini, kemungkinan resistensi awal dapat diabaikan karena jarang ditemukan resistensi

terhadap 2 macam obat atau lebih, dan pola resistensi yang terbanyak ditemukan ialah INH

(Soeparman, 1990; Depkes RI, 2001). Peran perawat komunitas untuk menghindari

terjadinya resistensi obat adalah dengan selalu memantau pengobatan dengan kunjungan

rumah dan memberikan penyuluhan akibat ketidakteraturan minum obat.

Selain menggunakan OATS ada metode lain yang dapat digunakan yaitu:

 Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS)

Adalah nama suatu strategi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk

mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB paru. Strategi ini terdiri dari lima komponen

yaitu:

a. Dukungan politik para pemimpin disetiap jenjang sehongga program ini menjadi salah satu

prioritas dan pendanaan oun akan tersedia.

b. Mikroskop sebagai komponene utama untuk mendiagnosa TB paru melalui pemeriksaan

sputum langsung pasien tersangka dengan penemuan secara pasif.


c. Pengawasan minum obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercaya baik oleh pasien

maupun petugas kesehatan yang akan ikut mengawasi pasien minum obat seluruh obatnya

sehngga dapat dipastikan bahwa pasien betul minum seluruh obat dan diharapkan

keswembuhan pada akhir masa pengobatannya

d. Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar sebagai bagian dari sistem surveilans

penyakit ini sehingga pemantauan pasien dapat berjalan.

e. Panduan obat anti TB paru jangka pendek yang benar, termasuk dosis, dan jangka waktu

yang tepat sangat penting untuk keberhasilan pengobatan.

I. KOMPLIKASI

 TB laring

 Pleuritis eksudatif

 Pneumotorak

 Abses paru

J. PENCEGAHAN

 Vaksinasi BCG

Pembrian BCG meninggikan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberculosis

yang virulen. Imunitas timbul enam sampai delapan minggu setelah pemberian BCG.

Imunitas yang terjadi tidaklah lengkap sehingga masih mungkin terjadi super infeksi

meskipun biasanya tidak progresif dan menimbukan komplikasi yang berat.

 Mempertahankan sistem imunitas seluler dalam keadaan optimal dengan

sedapat mungkin menghindarkan faktor-faktor yang dapat melemahkan seperti

kortikosteroid dan kurang gizi.

 Menghindari kontak dengan penderita aktif TB


 Menggunakan obat obatan sebagai langkah pencegahan pada kasus beresiko

tinggi.

 Menjaga stándar hidup yang baik, kasus baru dan pasien yang berpotensi

tertular interprestasi melalui penggunaan dan interprestasi tes kulit tuberculin

yang tepat imunisasi BCG.

K. PROGNOSIS

 Dengan pengobatan yang tepat dan disiplin 95% dapat diatasi.

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

A. Pengkajian

1. Pengkajian Inti
a. Usia : semua rentang usia memiliki resiko untuk terkena penyakit TB paru

b. Jenis kelamin : baik laki – laki maupun perempuan dapat terkena penyakit TB paru

c. Suku bangsa : semua suku bangsa bisa terkena TB paru

d. Keluhan yang dirasakan masyarakat : adanya salah satu warga atau beberapa orang

warga yang memiliki tanda-tanda TB Paru seperti batuk yang lama, demam tinggi,

BB menurun,dll.

e. Pengkajian Fisik meliputi tanda-tanda vital, pemeriksaan dahak, pemeriksaan darah,

status nutrisi.

f. Angka kematian penderita TB Paru di Indonesia mencapai angka 250 juta kasus baru

diantaranya 140 ribu menyebabkan kematian.

2. Pengkajian Instrumen

a. Lingkungan fisik

 Pemukiman : daerah pada penduduk.

 Sanitasi :

- penyediaan air bersih

- peneyediaan air minum

- pembuangan sampah

 sumber polusi

b. Pelayanan kesehatan dan social

 Pelayanan kesehatan :

- Lokasi sarana kesehatan : bisa dijangkau oleh masyarakat

- Sumber daya yang dimiliki : adanya kader atau tenaga kesehatan yang

terlatih

- Jumlah kunjungan : presentase jumlah penderita TB Paru yang

berkunjung ke pelayanan kesehatan


- Sistem rujukan : memiliki system rujukan ke pelayanan kesehatan yang

lebih tinggi

 Fasilitas social ( pasar, took, swalayan )

- Lokasi : dalam komunitas apakah bisa dijangkau oleh masyarakat

- Kepemilikan : fasilitas dimiliki oleh pribadi/individu atau pemerintah

 Kecukupan : dapat memenuhi kebutuhan masyarakat

c. Ekonomi

 Jenis pekerjaan : pekerjaan masyarakat setempat, biasanya petani dan tukang,

buruh

 Jumlah penghasilan rata-rata per bulan :

 Jumlah pengeluaran rata-rata per bulan : >Rp. 200.000,00

d. Pendidikan

 Tingkat pendidikan komunitas : rata-rata lulusan SMA

 Fasilitas pendidikan yang tersedia : formal atau non formal

 Jenis bahasa yang digunakan : bahasa Indonesia dan bahasa daerah setempat

e. Kebijakan dan Pemerintahan

 Penyediaan tempat rehabilitasi TB Paru

 Pelatihan PMO (Pengawas Minum Obat)

B. Analisa Data
No. Data Subjektif Data Objektif Etiologi Problem

1. -Masyarakat -Tidak ada Kurangnya Terjadinya

mengatakan pengkhususan pengetahuan penularan TB paru

sering meludah alat tenun dan alat masyarakat

disembarang makan antara tentang penyakit

tempat penderita dengan TB paru

orang yang sehat.

-Masyarakat

mengatakan - 50 KK dari 1000

tidak tahu KK menderita

mengenai penyakit TB paru

penyakit TB ditandai dengan

paru masyarakat

terlihat batuk

terus menerus,

lemas, letih.
2. -Masyarakat -40% dari -kurangnya -terjadi kegagalan

mengatakan masyarakat desa PMO di pengobatan (drop

malas dan sering X masih banyak komunitas. out) di desa X

lupa minum obat yang menderita

karena harus TB paru.

meminum obat

secara rutin -Tidak adanya


dalam jangka pengawas OAT.

waktu yang

lama.

-Masyarakat

mengatakan

kurangnya

pengawasan

dalam minum

OAT
3. -Masyarakat -Masyarakat Status ekonomi Gangguan nutrisi

yang menderita terlihat kurus, rendah

TB paru lemah, letih, dan

mengatakan lesu.

nafsu makan

menurun.

C. DIAGNOSA PERAWATAN
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko :
 Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis
 Kerusakan membran alveolar kapiler
 Sekret yang kental
 Edema bronchial
b. Resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :
 Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap
 Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar
 Malnutrisi
 Terkontaminasi oleh lingkungan
 Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman
c. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, pencegahan,
berhubungan dengan :
 Tidak ada yang menerangkan
 Interpretasi yang salah, tidak akurat
 Informasi yang didapat tidak lengkap
 Terbatasnya pengetahuan / kognitif
d. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan :
 Kelelahan
 Batuk yang sering, adanya produksi sputum
 Dyspnoe
 Anoreksia
 Penurunan kemampuan finansial (keluarga).

D. INTERVENSI KEPERAWATAN DAN RASIONAL

1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko :


 Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis
 Kerusakan membran alveolar kapiler
 Sekret yang kental
 Edema bronchial

a. INTERVENSI
1. Kaji dyspnoe, takipnoe, bunyi pernafasan abnormal. Meningkatnya respirasi,
keterbatasan ekspansi dada dan fatique.
TB paru dapat menyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-paru yang berasal dari
bronchopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural efusion dan
meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.

2. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan kulit,
selaput mukosa dan warna kuku.
Akumulasi sekret dapat mengganggu oksigenasi di organ vital dan jaringan

3. Demontrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan nafas dengan bibir disiutkan, terutama


pada klien dengan fibrosis atau kerusakan parenkhim.
Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan nafas dan
mengurangi residu dari paru-paru
4. Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktivitas
Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi
5. Kolaborasi
Monitor BGA
Menurunnya oksigen ( PaO2 ), saturasi atau meningkatnya PaCo2 menunjukkan
perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan therapi.
6. Memberikan oksigen tambahan
Membantu mengoreksi hipoksemia yang secara sekunder mengurangi ventilasi dan
menurunnya tegangan paru.

2. Resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :


 Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap
 Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar
 Malnutrisi
 Terkontaminasi oleh lingkungan
 Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman

Intervensi
1. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, menyebarnya infeksi melalui
bronkhus pada jaringan sekitarnya atau melalui aliran darah atau sistem limfe dan
potensial infeksi melalui batuk, bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.
Membantu klien agar klien mau mengerti dan menerima terhadap terapi yang
diberikan untuk mencegah komplikasi.
2. Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya infeksi seperti
anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.
Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk mendapatkan terapi
pencegahan.
3. Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk
Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.
4. Gunakan masker setap melakukan tindakan
Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi
5. Monitor temperatur
Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.
6. Ditekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani
Periode menular dapat terjadi hanya 2 – 3 hari setelah permulaan kemoterapi tetapi
dalam keadaan sudah terjadi kavitas atau penyakit sudah berlanjut sampai tiga bulan.

KOLABORASI
7. Pemberian terapi untuk anak
a. INH, Etambutol, Rifampisin
INH adalah obat pilihan bagi penyakit TB primer dikombinasikan dengan obat-obat
lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan
etambutol untuk 2 bulan pertama.
b. Pyrazinamid ( PZA ) / aldinamide, Paraamino Salicyl ( PAS ), Sycloserine,
Streptomysin
Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.
c. Monitor sputum BTA
Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA negatif, terapi diteruskan sampai batas waktu
yang ditentukan.
3. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, pencegahan, berhubungan
dengan :
 Tidak ada yang menerangkan
 Interpretasi yang salah, tidak akurat
 Informasi yang didapat tidak lengkap
 Terbatasnya pengetahuan / kognitif

Intervensi

1 Kaji kemampuan belajar klien misalnya : tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat
partisipasi, lingkungan yang memungkinkan klien untuk belajar, seberapa banyak yang telah
diketahui, media yang tepat dan siapa yang dipercaya.
Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan
tergantung pada sebatasmana kemampuan klien.

2 Mengidentifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya : hemoptisis,


nyeri dada, demam, kesulitan nafas, kehilangan pendengaran, vertigo.
Mengindikasikan perkembangan penyakit atau efek samping dari pengobatan yang
membutuhkan evaluasi secepatnya.

3 Menekankan pentingnya asupan diet TKTP dan intake cairan yang adekuat.
Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan yang memadai
membantu mengencerkan dahak.

4 Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan untuk klien dan keluarga misalnya :
jadwal minum obat.
Informasi tertulis dapat mengingatkan klien tentang informasi yang telah diberikan.
Pengulangan informasi dapat membantu mengingatkan klien.

5 Menjelaskan dosis obat, frekwensi, tindakan yang diharapkan dan perlunya therapi dalam
jangka waktu lama. Mengulangi penyuluhan mengenai potensial interaksi antara obat yang
diminum dengan obat / subtansi lain.
Meningkatkan partisipasi klien dan keluarga untuk mematuhi aturan therapi dan mencegah
terjadinya putus obat.

6 Jelaskan tentang efek samping dari pengobatan yang mungkin timbul, misalnya : mulut
kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.
Dapat mencegah keraguan terhadap pengobatan dan meningkatkan kemampuan klien untuk
menjalani terapi.

7 Merujuk pemeriksaan mata saat memulai dan menjalani therpi etambutol.


Efek samping utama etambutol adalah menurunkan ketajaman penglihatan dan juga
mengurangi kemampuan untuk mempersepsikan warna hijau.
8 Memberikan dorongan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan
kecemasan/keprihatinannya serta memberikan jawaban yang jujur atas pertayaannya. Jangan
berusaha menyangkal pernyataanya.
Memberikan kesempatan untuk mengubah pandangannya yang salah dan meredakan
kecemasannya. Penyangkalan terhadap perasaannya akan memperburuk mekanisme koping
yang merugikan kesehatannya.

9 Review tentang cara penularan TB ( misalnya : umumnya melalui inhalasi udara yang
mengandung kuman, tapi mungkin juga menular melalui urine jika infeksinya mengenai
sistem urinaria ) dan resiko kambuh kembali.

Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan / kambuh kembali. Komplikasi
yang berhubungan dengan tidak adekuatnya penyembuhan TB meliputi : formasi abses,
empisema, pneumothorak, fibrosis, efusi pleura, empyema, bronkhiektasis, hemoptisis,
ulcerasi GI, fistula bronkopleural, TB laring, dan penularan kuman.

4. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan :


 Kelelahan
 Batuk yang sering, adanya produksi sputum
 Dyspnoe
 Anoreksia
 Penurunan kemampuan finansial (keluarga).

Intervensi
Kaji dan komunikasikan status nutrisi klien dan keluarga seperti yang dianjurkan :
1. Catat turgor kulit

2. Timbang berat badan

3. Integritas mukosa mulut, kemampuan dan ketidakmampuan menelan, adanya bising usus,
riwayat nausea, vomiting atau diare.
Digunakan untuk mendefinisikan tingkat masalah dan intervensi

4. Mengkaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai


Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien.

5. Memonitor intake dan output secara periodik.


Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.

6. Catat adanya anoreksia, nausea, vomiting, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan
medikasi. Monitor volume, frekwensi, konsistensi BAB.
Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan
intake nutrisi.

7. Anjurkan bedrest
Membantu menghemat energi khususnya terjadinya metabolik saat demam.
8. Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi
Mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan untuk
pengobatan yang dapat merangsang vomiting.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. EGC. Jakarta.

Doengoes, ME. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta.

IDAI dan PP IDAI UKK Pulmonologi. 2000. Tatalaksana Mutakhir Penyakit Respiratorik
Pada Anak; Dalam Temu Ahli Respirologi Anak-Anak. Jakarta.

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak; Volume 2 Edisi 15. EGC. Jakarta.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta.

Soeparman. 1999. Ilmu Penyakit Dalam; Jilid I. FKUI. Jakarta.

Staf Pengajar Ilmu Keperawatan Anak FKUI. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak.
FKUI. Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN
KOMUNITAS
PASIEN DENGAN TBC
Disusun guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah komunitas

Dosen pengampu : Ns. I Nyoman M Adinatha,S.Kep,M.Si,Med

Disusun oleh :
1. Veny Kristine
2. Suparno
3. Abri Teguh
4. Marvita
5. Dwi H
6. Evi Safitri
7. Girinta
8. Edi Mulyono

STIKES KARYA HUSADA SEMARANG