Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

Otak manusia kira-kira merupakan 2 % dari berat badan orang dewasa


(sekitar 3 pon). Otak menerima sekitar 20% curah jantung dan memerlukan
20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kkal energi setiap harinya. Otak
merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh tubuh
manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa.
Jaringan otak sangat rentan dan kebutuhan akan oksigen dan glukosa melalui
aliran darah bersifat spontan. Metabolisme otak merupakan proses tetap dan
kontinu, tanpa ada waktu istirahat. Bila aliran darah terhenti selama 10 detik
saja, kesadaran mungkin sudah akan hilang dan penghentian dalam beberapa
menit saja dapat menimbulkan kerusakan irreversible. Hipoglikemia yang
terjadi berkepanjangan juga merusak jaringan otak. Aktivitas otak yang tak
pernah berhenti ini berkaitan dengan fungsinya yang kritis sebagai pusat
integrasi dan koordinasi organ-organ sensorik dan sistem efektor perifer tubuh,
dan fungsi sebagai pengatur informasi yang masuk, simpanan pengalaman,
impuls yang keluar, dan tingkah laku.1

Otak terletak di dalam cavum cranii dan bersambung dengan medulla


spinalis melalui foramen magnum. Otak dibungkus oleh tiga meningen; dura
mater, arachnoidea mater, dan pia mater, dan ketiganya berlanjut ke medulla
spinalis. Liquor cerebrospinalis mengelilingi otak di dalam spatium
subarachnoideum.4

Secara konvensional, otak dibagi menjadi tiga bagian utama. Bagian-


bagian tersebut secara berurutan dari medulla spinalis ke atas adalah
rhombencephamon, mesencephalon, dan prosencephalon. Romboncephalon
dibagi menjadi medulla oblongata, pons, dan cerebellum. Prosencephalon dapat
dibagi menjadi diecenphalon (diantara otak), yang merupakan bagian sentral
prosencephalon, dan cerebrum. Batang otak (istilah untuk gabungan medulla
oblongata, pons, dan mesencephalon) adalah bagian otak yang tertinggal setelah
hemispherium cerebri dan cerebellum diangkat.4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. MENINGS

Otak dan mendulla spinalis oleh tiga lapisan (meninx) yang berasal dari
mesodermal. Duramater yang kuat terletak paling luar diikuti oleh arachnoid,
dan terakhir piamater. Duramater disebutkan juga pachymeninx (membran yang
kuat) sedangkan arakhnoid dan piamater secara bersama-sama disebut
leptomeninges (membran yang tipis).3

1. Duramater
Secara konvensional, duramater otak digambarkan terdiri dari dua
lapis, yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Lapisan tersebut
bersatu dengan erat, kecuali pada garis-garis tertentu , tempat lapisan ini
berpisah untuk membentuk sinus venosus. 4

Lapisan endosteal merupakan periosteum yang menutupi permukaan


dalam tulang tengkorak. Pada foramen magnum, lapisan ini tidak
bersambung dengan duramater medulla spinalis. Di sekitar pinggir semua
foramina di dalam tengkorak, lapisan ini menyambung dengan periosteum
pada permukaan luar tulang tengkorak. Pada sutura-sutura, lapisan
endosteal bersambung dengan ligamentum suturae. Lapisan endosteal
melekat paling kuat pada tulang-tulang di atas basis cranii.4

Lapisan meningeal adalah lapisan dura mater yang sebenarnya;


merupakan membran fibrosa yang kuat dan padat yang meliputi otak serta
bersambung dengan dura mater medulla spinalis melalui foramen magnum.
Lapisan meningeal ini membentuk selubung tubular untuk saraf kranial
saat saraf kranial ini melintasi foramina di tengkorak. Di luar cranium,
sarung-sarung ini menyatu dengan epinerium saraf.4

Lapisan meningeal membentuk empat septa ke arah dalam yang


membagi cavum cranii menjadi ruang-ruang yang dapat berhubungan
secara bebas dan merupakan tempat bagian-bagian otak. Fungsi septa-septa
ini adalah untuk membatasi pergeseran otak akibat akselerasi dan
deselerasi saat kepala digerakkan.4

Falx cerebri adalah lipatan dura mater yang berbentuk bulan sabit,
terletak di bagian tengah di antara kedua hemispherium cerebri dan ujung
anteriornya yang sempit melekat pada crista frontalis interna dan crista
galli. Bagian posteriornya yang lebar bergabung di garis tengah dengan
permukaan atas tentorium cerebelli. Sinus sagittalis superior berjalan pada
pinggir atasnya yang terfiksasi; sinus sagittalis inferior berjalan pada
pinggir bawah yang bebas dan berbentuk konkaf; serta sinus rectus berjalan
di epanjang perlekatannya dengan tentorium cerebelli.4

Tentorium cerebelli merupakan lipatan dura mater yang berbentuk


bulan sabit yang membentuk atap di atas fossa cranii. Tentorium menutupi
permukaan atas cerebellum dan menyokong lobus occipitalis
hemispherium cerebri. Pada pinggir anterior terdapat suatu celah, incisura
tentorii, untuk tempat lewatnya mesencephalon yang membentuk pinggir
bagian luar yang terfiksasi yang melekat pada processus clinoideus
posterior, batas superior os petrosus, dan tepi-tepi sulcus sinus transversus
ossis occipitalis. 4

Secara berturut-turut, falx cerebri dan falx cerebelli melekat pada


permukaan atas dan bawah tentorium. Sinus rectus berjalan di sepanjang
perlekatannya dengan falx cerebri; sinus petrosus superior berjalan
sepanjang tempat perlekatannya dengan os petrosus dan sinus transversus
di sepanjang tempat perlekatannya dengan occipitale.4

Falx cerebri, lipatan dura mater kecil yang berbentuk bulan sabit,
melekat pada crista occipitalis interna, menonjol ke depan di antara kedua
hemispherium cerebelli. Pinggir posteriornya yang terfiksasi berisi sinus
occipitalis. Diaphragma sellae adalah lipatan dura mater yang kecil dan
berbentuk sirkular yang membentuk atap sella turcica.4

Arteri-arteri dural relatif besar karena pembuluh darah tersebut


menyuplai tulang tengkorak selain dura mater. Pembuluh darah terbesar
adalah arteri meningea media, yang cabang-cabangnya tersebar di seluruh
konveksitas tengkorak. Arteri ini adalah cabang dari arteri maksillaris yang
berasal arteri carotis eksterna; arteri meningea media memasuki tengkorak
melalui foramen spinosum. Arteri meningea anterior relatif kecil dan
mendarahi bagian tengah dura mater frontalis dan bagian anterior falx
cerebri. Arteri ini masuk ke dalam rongga tengkorak melalui bagian
anterior falx cerebri. Arteri ini masuk kedalam rongga tengkorak melalui
bagian anterior lamina kribrosa. Pembuluh darah ini adalah cabang arteri
ethmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari arteri oftalmika, dengan
demikian pembuluh darah tersebut membawa darah dari arteri karotis
interna. Arteri meningea posterior memasuki rongga tengkorak melalui
foramen jugulare untuk mendarahi dura mater di fossa kranii posterior.3

2. Arachnoid
Arachnoid mater merupakan membran yang halus dan bersifat
impermeabel, yang menutupi otak dan terletak di antara pia mater di baian
dalamnya dan dura mater di bagian luar. Arachnoidea mater dipisahkan
dari dura mater oleh ruang potensial, spatium subdurale yang terisi oleh
ruang selapis cairan , arachnoidea mater dipisahkan dari pia mater oleh
spatium subarachnoideum yang berisi cairan cerebrospinal.4

Archnoid menjembatani antarsulkus pada permukaan otak serta pada


tempat-tempat tertentu, arachnoidea dan pia terpisah agak lebar untuk
membentuk cisternae subarachnoidea. Cisterna cerebellomedularis terletak
di antara permukaan inferior cerebellum dan atap ventriculus quartus.
Cisterna interpeduncularis terletak di antara kedua pedunculus cerebri.
Semua sisterna berhubungan bebas antara satu dengan yang lain dan
dengan spatium subarachnoideum lainnya.4

Cairan cerebrospinal dihasilkan oleh plexus choroideus di dalam


ventriculus lateralis, ventriculus tertius dan ventriculus quartus. Cairan ini
keluar dari sistem ventrikular atau melalui tiga buah foramina di atap
venticulus quartus, lalu masuk ke dalam spatium subarachnoideum
selanjutnya cairan ini mengalir ke atas di atas permukaan hemispherium
cerebri dan ke bawah sekitar medulla pinalis. Spatium subarahcnoideum
spinal membentang ke bawah sampai sejauh vertebra sacralis II. Akhirnya,
cairan cerebrospinal masuk ke dalam aliran darah melalui vili arachnoidea
dan berdifusi melalui dindingnya.4

3. Piamater
Pia mater terdiri dari lapisan sel-sel mesodermal yang menyerupai
endotelium.3 Pia mater melekat pada sistem saraf pusat di bawahnya
melalui membran ektodermal yang terdiri dari astrositerginal (membran
pial-glial). Pia mater melekat erat di otak, menutupi gyrus-gyrus, dan turun
hingga mencapai bagian sulcus yang paling dalam. Lapisan ini meluas
keluar hingga mencapai saraf kranial dan menyatu dengan epineuriumnya.
Arteri cerebri masuk ke dalam jaringan otak setelah dibungkus oleh pia
mater.4
Pia mater membentuk tela choroidea di atap ventriculus tertius dan
quartus, dan bergabung dengan ependyma untuk membentuk plexus
choroideus di ventriculus lateralis, ventriculus tertius, dan ventriculus
quartus di dalam otak.4

Pembuluh darah yang memasuki atau meninggalkan otak dan medulla


spinalis melalui ruang subarachnoidea dikelilingi oleh selubung seperti
terowongan pia mater. Ruang di antara pembuluh darah dan pia mater di
sekitarnya disebut ruang Virchow-Robin.3

Gambar 1. Atap tengkorak, calvaria, dan selaput otak, Meninx potongan


frontol setinggi ubun-ubun. 5

B. EMBRIOLOGI OTAK

Otak manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengkonsumsi


25% oksigen dan menerima 1,5% curah jantung. Bagian cranial pada tabung saraf
membentuk tiga pembesaran (vesikel) yang berdiferensiasi untuk membentuk
otak : otak depan, otak tengah dan otak belakang.

Otak depan (proensefalon) terbagi menjadi dua subdivisi : telensefalon


dan diensefalon. Telensefalon merupakan awal hemisfer serebral atau serebrum
dan basal ganglia serta korpus striatum (substansi abu-abu) pada serebrum.
Diensefalon menjadi thalamus, hipotalamus dan epitalamus.

Otak tengah (mesensefalon) terus tumbuh dan pada orang dewasa disebut
otak tengah.

Otak belakang (rombensefalon) terbagi menjadi dua subdivisi :


metensefalon dan mielensefalon. Metensefalon berubah menjadi batang otak
(pons) dan serebelum. Mielensefalon menjadi medulla oblongata.

Rongga pada tabung saraf tidak berubah dan berkembang menjadi


ventrikel otak dan kanal sentral medulla spinalis.
Gambar 1.

Gambar 2.
C. BAGIAN – BAGIAN OTAK

1. Telecephalon

a. Cerebrum

Cerebrum (Telecephalon) merupakan bagian terbesar otak dan


menempati fossa cranial tengah dan anterior. Cerebrum juga disebut dengan
cerebral cortex, forebrain atau otak depan. Cerebrum merupakan bagian otak
yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia
memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran,
perencanaan, memori dan kemampuan fisual. Kecerdasan intelektual atau IQ
manusia juga ditentukan oleh kualitas cerebrum.

Cerebrum dibagi oleh suatu celah yang dalam, fisura serebri


longitudinal, menjadi hemisfer kiri dan kanan, dimana setiap hemisfer ini
berisi satu ventrikel lateral. Di otak bagian dalam, hemisfer dihubungkan oleh
massa substansi albikan (serat saraf) yang disebut korpus kalosum (corpus
callosum). Bagian superfisial cerebrum terdiri atas badan sel syaraf atau
substansi grisea, yang membentuk korteks serebri,dan lapisan dalam yang
terdiri atas serat syaraf atau substansi albikan.

Secara umum, belahan belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh,
dan belahan orak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam
kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan
berpikir rasional.

1) Cerebrum dibagi menjadi beberapa lobus, yaitu:

a) Lobus frontalis

Lobus frontalis berperan sebagai pusat fungsi intelektual yang


lebih tinggi, seperti kemampuan berpikir abstrak dan nalar, bicara
(area broca di hemisfer kiri), pusat penghidu, dan emosi. Bagian ini
mengandung pusat pengontrolan gerakan volunter di gyrus presentralis
(area motorik primer) dan terdapat area asosiasi motorik (area
premotor). Pada lobus ini terdapat daerah broca yang mengatur
ekspresi bicara, lobus ini juga mengatur gerakan sadar, perilaku sosial,
berbicara, motivasi dan inisiatif.

b) Lobus temporalis

Lobus temporalis mencakup bagian korteks serebrum yang


berjalan ke bawah dari fisura laterali dan sebelah posterior dari fisura
parieto-oksipitalis. Lobus ini berfungsi untuk mengatur daya ingat
verbal, visual, pendengaran dan berperan dlm pembentukan dan
perkembangan emosi.

c) Lobus parietalis
Lobus Parietalis merupakan daerah pusat kesadaran sensorik di
gyrus postsentralis (area sensorik primer) untuk rasa raba dan
pendengaran.

d) Lobus oksipitalis

Lobus oksipitalis berfungsi untuk pusat penglihatan dan area


asosiasi penglihatan: menginterpretasi dan memproses rangsang
penglihatan dari nervus optikus dan mengasosiasikan rangsang ini
dengan informasi saraf lain & memori .
2. Diensephalon

Terletak di antara serebrum dan otak tengah serta tersembunyi di balik


hemisfer serebral, kecuali pada sisi basal.

a. Thalamus

Terdiri dari dua massa oval (lebar 1 ¼ cm dan panjang 3 ¾ cm)


substansi abu-abu yang sebagian tertutup substansi putih. Masing-masing
massa menonjol ke luar untuk membentuk sisi dinding ventrikel ketiga.

Talamus merupakan sub organ dari diencephalon, struktur ini


terletak di tengah otak. Tepatnya diantara korteks serebral dan otak
tengah. Fungsi utama kelenjar talamus yaitu untuk menyampaikan sinyal
sensorik dan motorik yang berhubungan dengan kesadaran, tidur dan
kewaspadaan ke korteks otak. Adapun fungsi talamus yaitu:

1) Menyampaikan informasi yang berhubungan dengan kesadaran, siklus


tidur dan kewaspadaan.
2) Sebagai stasiun pemancar dan meneruskan informasi mengenai
reseptor indera seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa,
kecuali indera penciuman.

b. Hipothalamus

Terletak di inferior thalamus dan membentuk dasar serta bagian


bawah sisi dinding ventrikel ketiga. Hipotalamus berperan penting dalam
pengendalian aktivitas SSO yang melakukan fungsi vegetatif penting
untuk kehidupan, seperti pengaturan frekwensi jantung, tekanan darah,
suhu tubuh, keseimbangan air, selera makan, saluran pencernaan dan
aktivitas seksual.

Hipotalamus juga berperan sebagai pusat otak untuk emosi seperti


kesenangan, nyeri, kegembiraan dan kemarahan. Hipotalamus
memproduksi hormon yang mengatur pelepasan atau inhibisi hormon
kelenjar hipofise sehingga mempengaruhi keseluruhan sistem endokrin.

c. Epithalamus

Membentuk langit-langit tipis ventrikel ketiga. Suatu massa


berukuran kecil, badan pineal yang mungkin memiliki fungsi endokrin
(menghambat homon gonadotropik), menjulur dari ujung posterior
epitalamus.

d. System limbic
Sistem limbic merupakan suatu bagian otak yang berada pada
bagian atas batang otak dan di bawah korteks. Adapun peran – peranan
dari struktur sistem limbic itu sendiri antara lain banyak terlibat dengan
fungsi emosi (misal : perasaan senang yang berhubungan dengan
kelangsungan hidup, seperti pengalaman yang didapatkan setelah makan
atau pengalaman seksual), motivasi yang ada pada diri manusia, learning,
fungsi neuroendokrin dan aktivitas autonomi dan memory yang nantinya
akan mempengaruhi mekanisme tingkah laku individu. Sehingga nantinya
sistem limbic juga memiliki peran dalam fungsi-fungsi seperti flight or
fight, homeostatis, self-maintenance, napsu makan, dan seksualitas.
Berdasarkan pemaparan atas fungsi – fungsi sistem limbic, dapat
dikatakan bahwa sistem limbic merupakan ’nyawa’ yang menentukan
bagaimana individu tersebut hidup dan berperilaku di lingkungannya.
Sehingga penting untuk mengetahui lebih detail mengenai sistem limbic
itu sendiri. Adapun di bagian selanjutnya akan dibahas mengenai anatomi,
fisiologi, dan gangguan dari sistem limbic.

Sistem limbic merupakan suatu bagian otak yang berada pada


bagian atas batang otak dan di bawah korteks. Struktur limbic terdiri dari
beberapa bagian yaitu:

1. Hipothalamus

Berukuran kecil, seperti mutiara. Bagian otak ini memegang


peranan penting dalam aliran adrenalin, pusat emosi, mengontrol
molekul-molekul yang membuat seseorang merasa marah, atau tidak
senang. Hipotalamus adalah bagian otak yang berisi sejumlah nukleus
kecil. Hipotalamus terletak di bawah thalamus, tepat di atas batang
otak. Dalam terminologi neuroanatomy, membentuk bagian ventral
diencephalon tersebut. Semua otak vertebrata yang mengandung
hipotalamus. Pada manusia, itu adalah kira-kira ukuran badam.
Hipotalamus bertanggung jawab untuk proses metabolisme tertentu
dan kegiatan lain dari Sistem Saraf otonom. Ini mensintesis dan
mengeluarkan neurohormonnya, sering disebut hipotalamus-
melepaskan hormon, dan ini pada gilirannya merangsang atau
menghambat sekresi hormon hipofisis.

2. Septum

Septum (dari bahasa Latin yang artinya sesuatu yang


melingkupi, jamak: Septa) adalah pembatas yang memisahkan suatu
rongga atau ruang.

3. Epithalamus

Epithalamus adalah segmen posterior dorsal diencephalon


(segmen di tengah otak yang juga mengandung hipotalamus dan
thalamus) yang meliputi habenula habenula, the stria medullaris dan
pineal body. Fungsinya adalah hubungan antara sistem limbik ke
bagian lain dari otak

4. Nuklei Anterior Thalamus

Kumpulan nuclei pada ujung rostral bagian thalamus dorsal.


Nuklei Anterior thalamus menerima serabut afferent mammillary
bodies melalui mammillothalamic tract dan subiculum, melalui fornix.
Mereka juga memproses untuk cingulate gyrus.

5. Ganglia Basalis

Kumpulan massa abu-abu yang berada pada bagian dalam


hemisfer celebri (massa putih/serabut saraf) dan terdiri dari nucleus
caudatus. Nukleus caudatus adalah massa kelabu yangmemanjang
bagian cranial tepat di sisi lateral ventrikel lateralis dan
berbentukseperti buah per memanjang ke belakangmempunyai ekor
dan berakhir pada amygdala. Terlihat melingkari putamen
danmelakukan hubungan commisura dengan putamen – commisura
asosiasi.

6. Hipokampus

Hipokampus (bahasa Inggris: Hippocampus) adalah bagian


dari otak besar yang terletak di lobus temporal. Manusia memiliki dua
hippocampus, yakni pada sisi kiri dan kanan. Hipokampus merupakan
bagian dari sistem limbik dan berperan pada kegiatan mengingat
(memori) dan navigasi ruangan.
3. Batang otak

Batang otak merupakan struktur pada bagian posterior (belakang) otak.


Pada gerak volunter, batang otak merupakan jalur yang dilalui impuls
rangsang sebelum mencapai cerebrum. Impuls rangsang diantarkan oleh
traktus ascendentes ( serat-serat saraf yang menghantarkan impuls ke otak)
untuk diolah diotak, lalu impuls respons dihantarakan oleh traktus
descendentes. Pada perbatasan antara batang otak dan sumsum tulang
belakang medulla spinalis terjadi deccusatio (penyilangan) seratserat
kortikospinal (serat-serat saraf descendentes) dari cerebrum ke modulla
spinalis. Serat-serat kortokospinal dari otak kiri menyilang kebagian kanan
medula spinalis dan serat dari otak kanan menyilang kebagian kiri.
Penyilangan ini menyebabkan bagian tubuh kanan di kendalikan oleh otak kiri
dan bagian tubuh kiri dikendalikan oleh otak kanan. Batang otak merupakan
tempat melekatnya seluruh syaraf kranial, kecuali syaraf I dan II yang
menempel pada cerebrum (otak besar).

Batang otak merupakan sebutan untuk kesatuan dari tiga stuktur yaitu
medulla oblongata, pons dan mesencephalon(otak tangah), yang menempati
fossa cranii posterior tengkorak.

a. Mesecephalon (otak tengah)

Mesecephalon membentuk wilayah tengah otak dan merupakan


bagian penting dari system syaraf pusat. mesecephalon melakukan
sejumlah tugas individu sangat penting yaitu bangun atau tidur,
kecemasan, kontrol motor, pendengaran, penglihatan, pengaturan suhu.
pada ujung anterior, terhubung dengan otak depan dan diujung posterior
melekat metencephalon (pons),sehingga di tempatkan didekat pusat otak .

b. Medulla oblongata

Medulla oblongata menghubungkan pons yang teretak di superior


dengan medulla spinalis yang terletak diinferior. pertemuan medulla
oblongata dan medulla spinalis terletak ditempat pangkal radiks anterior
dan posterior nervus spinalis cervicalis pertama, yang kira-kira terletak
setinggi foramen magnum. Medulla oblongata berbentuk kerucut, ujung
yang lebar mengarah ke superior. Medulla oblongata terletak di bagian
bawah batang otak. Panjangnya sekitar 2,5 cm dan terletak tepat dibawah
kranium diatas foramen magnum. Medulla oblongata adalah titik awal
saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan,
begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol fungsi otomatis otak, seperti
detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.

Pada tiap-tiap sisi fissura mediana terdapat tonjolan yang disebut


pyramis, terdiri dari berkas serabut saraf, serabut dulla corticospinalis,
yang berasal dari sel-sel saraf yang besar di dalam gyrus precentralis
cortex cerebri. Pyramis mengecil di inferior, dan di tempat ini, sebagian
besar serabut-serabut desendens menyilang ke sisi kontralateral
membentuk decussatio pyramidum. Fibrae arcuatae externae anteriores
merupakan sebagian kecil serabut saraf yang muncul dari fissura mediana
anterior di atas decussatio pyramidum dan berjalan ke lateral di
permukaan medulla oblongata masuk ke cerebellum. Posterolateral
terhadap pyramis adalah oliva, merupakan peninggian ber bentuk oval
yang disebabkan oleh nuclei olivares inferiores yang terletak di bawahnya.
Posterior terhadap oliva terdapat pedunculus cerebellaris inferior yang
menghubungkan medulla oblongata dengan cerebellum. Di dalam sulcus,
di antara oliva dan pedunculus cerebellaris inferior keluar radix nervi
glossopharyngeus.

c. Pons

Struktur utama di bagian atas dari batang otak yang disebut pons.
Pons berada didepan sereblum, di bawah otak tengah. Pons terdiri atas
serat saraf yang membentuk jembatan antara dua hemisfer sereblum, dan
serat yang melalui antara posisi otak yang lebih tinggi dan medula
spinalis. . Pons bertugas untuk menghubungkan jalur sensoris dari medula
spinalis ke talamus dan otak kecil (serebelum). Pons memiliki dua peran.
Yang pertama adalah regulasi pernapasan . Di pons, ada struktur yang
disebut pusat pneumotaxic . Pons mengontrol jumlah udara napas dan
napas per menit , yang dikenal sebagai tingkat pernapasan . Selain itu,
pons terlibat dalam transmisi sinyal ke dan dari struktur lain di otak ,
seperti otak atau otak kecil. Pons merupakan stasiun pemancar yang
mengirimkan data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular Pons
juga terlibat dalam sensasi seperti pendengaran, rasa, dan keseimbangan .
Akhirnya, pons juga terlibat dalam regulasi tidur nyenyak maupun terjaga.

Batang otak mempunyai tiga fungsi utama:

1) Sebagai tempat lewatnya traktus asendens dan desendens keberbagai


pusat yang lebih tinggi diotak depan.

2) Pusat-pusat refleks penting yang mengatur sistem respirasi dan sistem


kardiovaskular serta pengendali kesadaran.

3) Melekatnya nuclei saraf kranial III sampai XII yang penting.


Namun batang otak juga memiliki fungsi lainnya, meliputi:
kewaspadaan, gairah, pernapasan, tekanan darah, pencernaan, tingkat
jantung, fungsi otonom lainnya, menyampaikan informasi antara saraf
perifer dan sumsum tulang belakang ke atas bagian otak

4. Cerebellum

Cerebellum adalah struktur kompleks yang mengandung lebih banyak


neuron dibandingkan otak secara keseluruhan. Memiliki peran koordinasi
yang penting dalam fungsi motorik yang didasarkan pada informasi
somatosensori yang diterima, inputnya 40 kali lebih banyak dibandingkan
output. Cerebellum terdiri dari tiga bagian fungsional yang berbeda yang
menerima dan menyampaikan informasi ke bagian lain dari sistem saraf pusat.
Cerebellum merupakan pusat koordinasi untuk keseimbangan dan tonus otot.
Mengendalikan kontraksi otot-otot volunter secara optimal. Bagian-bagian
dari cerebellum adalah lobus anterior, lobus medialis dan lobus
fluccolonodularis.

Cerebellum terdiri dari lapisan bagian luar substantia grisea yang


disebut cortex, dan lapisan bagian dalam substantia alba. Di dalam substantia
alba setiap hemipsherium, terdapat tiga masa subtantia alba yang terbentuk
nuclei intracerebelli.

a. Struktur Cortex Cerebelli

Cortex cerebelli dapat diumpamakan sebagai sebuah lembaran


besar yang berlipat-lipat dan terletak pada bidang koronel atau transversal.
Setiap lipatan atau folium terdiri dari substanpia alba dibagian dalam yang
ditutupi oleh substantia grisea dibagian luarnya.

Potongan yang dibuat melalui cerebellum yang sejajar dengan


bidang median membagi folia menjadi bagian-bagian yang bagus untuk
dipelajari, dan bentuk potongan permukaan yang bercabang-cabang
disebut arbor vitae.

Substantia grisea corticis diseluruh cerebellum memiliki struktur yang


sama. Substantia terbagi menjadi 3 lapisan, yaitu :

1) Lapisan luar(lapisan molekuler), Terdiri dari dua tipe neuron ; sel


stellatum yang terletak di sebelah luar dan sel basket yang terletak
disebelah dalam.

2) Lapisan tengah (lapisan sel purkinje), neuron Golgi tipe I yang besar.
Berbentuk seperti botol dan tersusun dalam satu lapis

3) Lapisan dalam (lapisan granular), Lapisan granular dipadati oleh sel-


sel kecil dengan inti berwarna gelap serta sedikit sitoplasma.

b. Area Fungsional Cortex Cerebelli

Observasi klinis oleh ahli saraf dan ahli bedah saraf, serta
penelitian dengan menggunakan PET scan menunjukkan bahwa cortex
cerebelli dapat dibagi menjadi 3 area berdasarkan fungsinya.

Kortex daerah vermis memperngaruhi gerakan-gerakan sumbu


panjang tubuh, yaitu leher, bahu, koraks, abdomen, dan panggul. Tepat di
latecerebelli. Area ini berfungsi mengendalikan otot-otot bagian distal
eksmtremitas, terutama tangan dan kaki. Area lateral masing-masing
hemispherium cerebelli tampaknya berhubungan dengan perencanaan
serangkaian gerakan diseluruh tubuh dan terlibat dalam penilaian sadar
terhadap gangguan.

c. Fungsi Cerebellum
Fungsi otak kecil (cerebellum) adalah untuk mengatur sikap atau
posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara
sadar. Cerebellum menerima aferen mengenai gerakan volunteer dari cortex
cerebri dan dari otot, tendon, dan sendi. Cerebellum juga menerima informasi
keseimbangan dari nervus vestibularis dan mungkin juga informasi
penglihatan dari tractus tectocerebellaris. Semua informasi ini diteruskan ke
cortex cerebelli.

Ahli fisiologi membuat postulat bahwa fungsi cerebellum sebagai


koordinator ketepatan gerak dilakukan dengan cara membandingkan output
dari area motorik cortex cereberii dengan informasi propioseptif yang diterima
dari tempat kerja otak secara terus-menerus. Fungsi lain cerebellum, yaitu :

1. Bertanggung jawab untuk mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan


gerakan otot dengan baik. Bagian ini memastikan bahwa gerakan yang di
cetuskan suatu tempat di system saraf pusat berlangsung dengan halus
bukan mendadak dan terorganisasi.

2. Cellebelum juga berfungsi untuk mempertahankan postur.

3. Bagian ini juga membantu mempertahankan ekuilibrium tubuh. Informasi


sesorik dari telinga dalam di bawa kelabus cellebelum.

D. VASKULARISASI OTAK

Suplai darah serebral berasal dari arteri karotis interna dan arteri
vrtebralis. Arteri karotis interna pada kedua sisi menghantarkan darah ke otak
melalui percabangan utamanya, arteri serebri media dan arteri serebri anterior
serta arteri khoroidalis anterior (sirkulasi anterior). Kedua arteri vertebralis
bergabung digaris tengah dengan batas kaudal pons untuk membentuk arteri
basilaris, yang menghantarkan darah ke batang otak dan serebelum, serta sebagian
hemisfer serebri melalui cabang terminalnya, arteri serebri posterior (sirkulasi
posterior). Sirkulasi anterior dan posterior berhubungan satu dengan lainnya
melalui sirkulus arteriosus willisi. Terdapat pula banyak hubungan anastomosis
lain diantara arteri-arteri yang mendarahi otak, dan antara sirkulasi intracranial
dan ekstrakranial sehingga oklusi pada sebuah pembuluh darah besar tidak selalu
menimbulkan stroke karena jaringan otak dibagian distal oklusi mungkin
mendapatkan perfusi yang adekuat dari pembuluh darah kolateral. 3

Gambar 10. Arteri-arteri otak tampak bawah. 6

Empat pembuluh darah yang besar menyuplai otak dengan darah yakni arteri
karotis interna kanan dan kiri serta arteri vertebralis kanan dan kiri. Arteri karotis
interna memiliki caliber yang sama pada kedua sisi, tetapi kedua arteri vertebralis
seringkali mempunyai ukuran yang berbeda pada tiap individu. Semua arteri yang
menyuplai otak saling berhubungan secara anastomosis didasar otak melalui
sirkulus arteriosus willisi. 3
Gambar 11. Cincin arteri otak (Circulus arteriosus cerebri) WILLIS. 5

Pembuluh darah tersebut juga saling berhubungan di ekstrakranial melalui


cabang-cabang kecil diotot dan jaringan ikat, yang dapat menjadi penting pada
proses patologis tertentu yang mengenai pembuluh darah, tetapi terlalu kecil
untuk dapat dilihat. Struktur di fosa kranii anterior dan fosa kranii media terutama
disuplai oleh arteri karotis interna (sirkulasi anterior), sedangkan struktur difosa
kranii posterior diperdarahi oleh arteri vertebralis (sirkulasi posterior). 3

Darah vena otak mengalir dari vena profunda serebri dan vena
superfisialis serebri menuju sinus venosus duramater, dan dari sini menuju vena
jugularis interna kedua sisi. 3

Vena-vena otak, tuidak seperti vena pada bagian tubuh lainnya. Teritori
arteri serebri tidak sama dengan area drainase vena serebal. Darah vena dari
parenkim otak melewati ruang subarahnoid dan ruang subdural didalam vena
kortikal yang pendek yang memiliki anatomi yang relatif sama. Vena-vena
tersebut meliputi vena anastomotika superior (Troland), vena dorsalis superior
serebri, vena media superfisialis serebri, dan vena anastomotika inferior (Labbe)
pada permukaan lateral lobus temporalis. 3

Darah dari vena regio otak yang dalam, termasuk ganglia basalia dan
thalamus, mengalir ke sepasang vena interna serebri dan sepasang ven basalis
Rosenthlm. Vena interna serebri terbentuk oleh penggabungan vena-vena septum
pelusidum (vena septalis) dengan vena thalamostriata. Keempat vena ini, dari
kedua sisi, bergabung dibelakang splenium untuk membentuk vena magna serebri
galen. Dari sini, darah vena mengalir ke sinus rektus mengalir kedalam kedalam
gabungan sinus (confluens sinuum, torcular herophii), yang merupakan pertautan
sinus rektus, sinus sagitalis superior, dan sinus transversus kedua sisi. 3

E. CAIRAN SEREBROSPINAL

Cairan serebrospinal yang berada di ruang subarakhnoid merupakan salah


satu proteksi untuk melindungi jaringan otak dan medula spinalis terhadap
trauma atau gangguan dari luar. Pada orang dewasa volume intrakranial kurang
lebih 1700 ml, volume otak sekitar 1400 ml, volume cairan serebrospinal 52-162
ml (rata-rata 104 ml) dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari
cairan, baik ekstra sel maupun intra sel. Rata-rata cairan serebrospinal dibentuk
sebanyak 0,35 ml/menit atau 500 ml/hari, sedangkan total volume cairan
serebrospinal berkisar 75-150 ml dalam sewaktu. Ini merupakan suatu kegiatan
dinamis, berupa pembentukan, sirkulasi dan absorpsi. Untuk mempertahankan
jumlah cairan serebrospinal tetap dalam sewaktu, maka cairan serebrospinal
diganti 4-5 kali dalam sehari. Perubahan dalam cairan serebrospinal dapat
merupakan proses dasar patologi suatu kelainan klinik. Pemeriksaan cairan
serebrospinal sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit-penyakit neurologi.
Selain itu juga untuk evaluasi pengobatan dan perjalanan penyakit, serta
menentukan prognosa penyakit. Pemeriksaan cairan serebrospinal adalah suatu
tindakan yang aman, tidak mahal dan cepat untuk menetapkan diagnosa,
mengidentifikasi organisme penyebab serta dapat untuk melakukan test
sensitivitas antibiotika.

Sistem ventrikel terdiri dari 2 buah ventrikel lateral, ventrikel III dan
ventrikel IV Ventrikel lateral terdapat di bagian dalam serebrum, masing - masing
ventrikel terdiri dari 5 bagian yaitu kornu anterior, kornu posterior, kornu inferior,
badan dan atrium. Ventrikel III adalah suatu rongga sempit di garis tengah yang
berbentuk corong unilokuler, letaknya di tengah kepala, ditengah korpus kalosum
dan bagian korpus unilokuler ventrikel lateral, diatas sela tursica, kelenjar
hipofisa dan otak tengah dan diantara hemisfer serebri, thalamus dan dinding
hipothalanus. Disebelah anteropeoterior berhubungan dengan ventrikel IV melalui
aquaductus sylvii. Ventrikel IV merupakan suatu rongga berbentuk kompleks,
terletak di sebelah ventral serebrum dan dorsal dari pons dan medula oblongata

Meningen dan ruang subarakhnoid adalah selaput otak yang merupakan


bagian dari susunan saraf yang bersiaft non neural. Meningen terdiri dari
jarningan ikat berupa membran yang menyelubungi seluruh permukaan otak,
batang otak dan medula spinalis. Meningen terdiri dari 3 lapisan, yaitu Piamater,
arakhnoid dan duramater. Piameter merupakan selaput tipis yang melekat pada
permukaan otak yang mengikuti setiap lekukan-lekukan pada sulkus-sulkus dan
fisura-fisura, juga melekat pada permukaan batang otak dan medula spinalis, terus
ke kaudal sampai ke ujung medula spinalis setinggi korpus vertebra. Arakhnoid
mempunyai banyak trabekula halus yang berhubungan dengan piameter, tetapi
tidak mengikuti setiap lekukan otak. Diantara arakhnoid dan piameter disebut
ruang subrakhnoid, yang berisi cairan serebrospinal dan pembuluh-pembuluh
darah. Karena arakhnoid tidak mengikuti lekukanlekukan otak, maka di beberapa
tempat ruang subarakhnoid melebar yang disebut sisterna. Yang paling besar
adalah siterna magna, terletak diantara bagian inferior serebelum danme
oblongata. Lainnya adalah sisterna pontis di permukaan ventral pons, sisterna
interpedunkularis di permukaan venttralmesensefalon, sisterna siasmatis di depan
lamina terminalis. Pada sudut antara serebelum dan lamina quadrigemina terdapat
sisterna vena magna serebri. Sisterna ini berhubungan dengan sisterna
interpedunkularis melalui sisterna ambiens. Ruang subarakhnoid spinal yang
merupakan lanjutan dari sisterna magna dan sisterna pontis merupakan selubung
dari medula spinalis sampai setinggi S2. Ruang subarakhnoid dibawah L2
dinamakan sakus atau teka lumbalis, tempat dimana cairan serebrospinal diambil
pada waktu pungsi lumbal. Durameter terdiri dari lapisan luar durameter dan
lapisan dalam durameter. Lapisan luar dirameter di daerah kepala menjadi satu
dengan periosteum tulang tengkorak dan berhubungan erat dengan endosteumnya.

Pembentukan, Sirkulasi dan Absorpsi Cairan Serebrospinal (CSS) Cairan


serebrospinal (CSS) dibentuk terutama oleh pleksus khoroideus, dimana sejumlah
pembuluh darah kapiler dikelilingi oleh epitel kuboid/kolumner yang menutupi
stroma di bagian tengah dan merupakan modifikasi dari sel ependim, yang
menonjol ke ventrikel. Pleksus khoroideus membentuk lobul-lobul Dan
membentuk seperti daun pakis yang ditutupi oleh mikrovili dan silia. Tapi sel
epitel kuboid berhubungan satu sama lain dengan tigth junction pada sisi aspeks,
dasar sel epitel kuboid terdapat membran basalis dengan ruang stroma
diantaranya. Ditengah villus terdapat endotel yang menjorok ke dalam (kapiler
fenestrata). Inilah yang disebut sawar darah LCS. Gambaran histologis khusus ini
mempunyai karakteristik yaitu epitel untuk transport bahan dengan berat molekul
besar dan kapiler fenestrata untuk transport cairan aktif.

Pembentukan CSS melalui 2 tahap, yang pertama terbentuknya ultrafiltrat


plasma di luar kapiler oleh karena tekanan hidrostatik dan kemudian ultrafiltrasi
diubah menjadi sekresi pada epitel khoroid melalui proses metabolik aktif.
Mekanisme sekresi CSS oleh pleksus khoroideus adalah sebagai berikut: Natrium
dipompa/disekresikan secara aktif oleh epitel kuboid pleksus khoroideus sehingga
menimbulkan muatan positif di dalam CSS. Hal ini akan menarik ion-ion
bermuatan negatif, terutama clorida ke dalam CSS. Akibatnya terjadi kelebihan
ion di dalam cairan neuron sehingga meningkatkan tekanan somotik cairan
ventrikel sekitar 160 mmHg lebih tinggi dari pada dalam plasma. Kekuatan
osmotik ini menyebabkan sejumlah air dan zat terlarut lain bergerak melalui
membran khoroideus ke dalam CSS. Bikarbonat terbentuk oleh karbonik
abhidrase dan ion hidrogen yang dihasilkan akan mengembalikan pompa Na
dengan ion penggantinya yaitu Kalium. Proses ini disebut Na-K Pump yang
terjadi dgnbantuan Na-K-ATP ase, yang berlangsung dalam keseimbangan. Obat
yang menghambat proses ini dapat menghambat produksi CSS. Penetrasi obat-
obat dan metabolit lain tergantung kelarutannya dalam lemak. Ion campuran
seperti glukosa, asam amino, amin danhormon tyroid relatif tidak larut dalam
lemak, memasuki CSS secara lambat dengan bantuan sistim transport membran.
Juga insulin dan transferin memerlukan reseptor transport media. Fasilitas ini
(carrier) bersifat stereospesifik, hanya membawa larutan yang mempunyai
susunan spesifik untuk melewati membran kemudian melepaskannya di CSS.
Natrium memasuki CSS dengan dua cara, transport aktif dan difusi pasif. Kalium
disekresi ke CSS dgnmekanisme transport aktif, demikian juga keluarnya dari
CSS ke jaringan otak. Perpindahan Cairan, Mg dan Phosfor ke CSS dan jaringan
otak juga terjadi terutama dengan mekanisme transport aktif, dan konsentrasinya
dalam CSS tidak tergantung pada konsentrasinya dalam serum. Perbedaan difusi
menentukan masuknya protein serum ke dalam CSS dan juga pengeluaran CO2.
Air dan Na berdifusi secara mudah dari darah ke CSS dan juga pengeluaran CO2.
Air dan Na berdifusi secara mudah dari darah ke CSS dan ruang interseluler,
demikian juga sebaliknya. Hal ini dapat menjelaskan efek cepat penyuntikan
intervena cairan hipotonik dan hipertonik. Ada 2 kelompok pleksus yang utama
menghasilkan CSS: yang pertama dan terbanyak terletak di dasar tiap ventrikel
lateral, yang kedua (lebih sedikit) terdapat di atap ventrikel III dan IV.
Diperkirakan CSS yang dihasilkan oleh ventrikel lateral sekitar 95%. Rata-rata
pembentukan CSS 20 ml/jam. CSS bukan hanya ultrafiltrat dari serum saja tapi
pembentukannya dikontrol oleh proses enzimatik. CSS dari ventrikel lateral
melalui foramen interventrikular monroe masuk ke dalam ventrikel III,
selanjutnya melalui aquaductus sylvii masuk ke dlam ventrikel IV. Tiga buah
lubang dalam ventrikel IV yang terdiri dari 2 foramen ventrikel lateral (foramen
luschka) yang berlokasi pada atap resesus lateral ventrikel IV dan foramen
ventrikuler medial (foramen magendi) yang berada di bagian tengah atap
ventrikel III memungkinkan CSS keluar dari sistem ventrikel masuk ke dalam
rongga subarakhnoid. CSS mengisi rongga subarakhnoid sekeliling medula
spinalis sampai batas sekitar S2, juga mengisi keliling jaringan otak. Dari daerah
medula spinalis dan dasar otak, CSS mengalir perlahan menuju sisterna basalis,
sisterna ambiens, melalui apertura tentorial dan berakhir dipermukaan atas dan
samping serebri dimana sebagian besar CSS akan diabsorpsi melalui villi
arakhnoid (granula Pacchioni) pada dinding sinus sagitalis superior. Yang
mempengaruhi alirannya adalah: metabolisme otak, kekuatan hidrodinamik aliran
darah dan perubahan dalam tekanan osmotik darah. CSS akan melewati villi
masuk ke dalam aliran adrah vena dalam sinus. Villi arakhnoid berfungsi sebagai
katup yang dapat dilalui CSS dari satu arah, dimana semua unsur pokok dari
cairan CSS akan tetap berada di dalam CSS, suatu proses yang dikenal sebagai
bulk flow. CSS juga diserap di rongga subrakhnoid yang mengelilingi batang otak
dan medula spinalis oleh pembuluh darah yang terdapat pada sarung/selaput saraf
kranial dan spinal. Vena-vena dan kapiler pada piameter mampu memindahkan
CSS dengan cara difusi melalui dindingnya. Perluasan rongga subarakhnoid ke
dalam jaringan sistem saraf melalui perluasaan sekeliling pembuluh darah
membawa juga selaput piametr disamping selaput arakhnoid. Sejumlah kecil
cairan berdifusi secara bebas antara cairan ekstraselluler dan css dalam rongga
perivaskuler dan juga sepanjang permukaan ependim dari ventrikel sehingga
metabolit dapat berpindah dari jaringan otak ke dalam rongga subrakhnoid. Pada
kedalaman sistem saraf pusat, lapisan pia dan arakhnoid bergabung sehingga
rongga perivaskuler tidak melanjutkan diri pada tingkatan kapiler.

Cairan serebrospinal dibentuk dari kombinasi filtrasi kapiler dan sekresi


aktif dari epitel. CSS hampir meyerupai ultrafiltrat dari plasma darah tapi berisi
konsentrasi Na, K, bikarbonat, Cairan, glukosa yang lebih kecil dan konsentrasi
Mg dan klorida yang lebih tinggi. Ph CSS lebih rendah dari darah.

Fungsi cerebrospinal

1. menyediakan keseimbangan dalam sistem saraf. Unsur unsur pokok pada CSS
berada dalam keseimbangan dengan cairan otak ekstraseluler, jadi
mempertahankan lingkungan luar yang konstan terhadap sel-sel dalam sistem
saraf.

2. mengakibatkann otak dikelilingi cairan, mengurangi berat otak dalam


tengkorak dan menyediakan bantalan mekanik, melindungi otak dari
keadaan/trauma yang mengenai tulang tengkorak
3. mengalirkan bahan-bahan yang tidak diperlukan dari otak, seperti CO2,laktat,
dan ion Hidrogen. Hal ini penting karena otak hanya mempunyai sedikit
sistem limfatik. Dan untuk memindahkan produk seperti darah, bakteri, materi
purulen dan nekrotik lainnya yang akan diirigasi dan dikeluarkan melalui villi
arakhnoid.

4. Bertindak sebagai saluran untuk transport intraserebral. Hormon- hormon dari


lobus posterior hipofise, hipothalamus, melatonin dari fineal dapat
dikeluarkan ke CSS dan transportasi ke sisi lain melalui intraserebral.

5. Mempertahankan tekanan intrakranial. Dengan cara pengurangan CSS dengan


mengalirkannya ke luar rongga tengkorak, baik dengan mempercepat
pengalirannya melalui berbagai foramina, hingga mencapai sinus venosus,
atau masuk ke dalam rongga subarakhnoid lumbal yang mempunyai
kemampuan mengembang sekitar 30%.

Keadaan normal dan beberapa kelainan cairan serebrospinal dapat


diketahui dengan memperhatikan:

1. Warna Normal cairan serebrospinal warnamya jernih dan patologis bila


berwarna: kuning,santokhrom, cucian daging, purulenta atau keruh. Warna
kuning muncul dari protein. Peningkatan protein yang penting danbermakna
dalam perubahan warna adalah bila lebih dari 1 g/L. Cairan serebrospinal
berwarna pink berasal dari darah dengan jumlah sel darah merah lebih dari
500 sdm/cm3. Sel darah merah yang utuh akan memberikan warna merah
segar. Eritrosit akan lisis dalam satu jam danakan memberikan warna cucian
daging di dalam cairan serebrospinal. Cairan serebrospinal tampak purulenta
bila jumlah leukosit lebih dari 1000 sel/ml.

2. Tekanan CSS diatur oleh hasil kali dari kecepatan pembentukan cairan dan
tahanan terhadap absorpsi melalui villi arakhnoid. Bila salah satu dari
keduanya naik, maka tekanan naik, bila salah satu dari keduanya turun, maka
tekanannya turun. Tekanan CSS tergantung pada posisi, bila posisi berbaring
maka tekanan normal cairan serebrospinal antara 8-20 cm H2O pada daerahh
lumbal, siterna magna dan ventrikel, sedangkan jika penderita duduk tekanan
cairan serebrospinal akan meningkat 10-30 cm H2O. Kalau tidak ada
sumbatan pada ruang subarakhnoid, maka perubahan tekanan hidrostastik
akan ditransmisikan melalui ruang serebrospinalis. Pada pengukuran dengan
manometer, normal tekanan akan sedikit naik pada perubahan nadi dan
respirasi, juga akan berubah pada penekanan abdomen dan waktu batuk.. Bila
terdapat penyumbatan pada subarakhnoid, dapat dilakukan pemeriksaan
Queckenstedt yaitu dengan penekanan pada kedua vena jugularis. Pada
keadaan normal penekanan vena jugularis akan meninggikan tekanan 10-20
cm H2O dan tekanan kembali ke asal dalam waktu 10 detik. Bila ada
penyumbatan, tak terlihat atau sedikit sekali peninggian tekanan. Karena
keadaan rongga kranium kaku, tekanan intrakranial juga dapat meningkat,
yang bisa disebabkan oleh karena peningkatan volume dalam ruang kranial,
peningkatan cairan serebrospinal atau penurunan absorbsi, adanya masa
intrakranial dan oedema serebri. Kegagalan sirkulasi normal CSS dapat
menyebabkan pelebaran ven dan hidrocephalus. Keadaan ini sering dibagi
menjadi hidrosefalus komunikans dan hidrosefalus obstruktif. Pada
hidrosefalus komunikans terjadi gangguan reabsorpsi CSS, dimana sirkulasi
CSS dari ventrikel ke ruang subarakhnoid tidak terganggu. Kelainan ini bisa
disebabkan oleh adanya infeksi, perdarahan subarakhnoid, trombosis sinus
sagitalis superior, keadaan-keadaan dimana viscositas CSS meningkat
danproduksi CSS yang meningkat. Hidrosefalus obstruktif terjadi akibat
adanya ganguan aliran CSS dalam sistim ventrikel atau pada jalan keluar ke
ruang subarakhnoid. Kelainan ini dapat disebabkan stenosis aquaduktus
serebri, atau penekanan suatu msa terhadap foramen Luschka for Magendi
ventrikel IV, aq. Sylvi dan for. Monroe. Kelainan tersebut bis aberupa
kelainan bawaan atau didapat.

3. Jumlah sel leukosit normal tertinggi 4-5 sel/mm3, dan mungkin hanya
terdapat 1 sel polymorphonuklear saja, Sel leukosit junlahnya akan meningkat
pada proses inflamasi. Perhitungan jumlah sel harus sesegera mungkin
dilakukan, jangan lebih dari 30 menit setelah dilakukan lumbal punksi. Bila
tertunda maka sel akan mengalami lisis, pengendapan dan terbentuk fibrin.
Keadaaan ini akan merubah jumlah sel secara bermakna. Leukositosis ringan
antara 5-20 sel/mm3 adalah abnormal tetapi tidak spesifik. Pada meningitis
bakterial akut akan cenderung memberikan respon perubahan sel yang lebih
besar terhadap peradangan dibanding dengan yang meningitis aseptik. Pada
meningitis bakterial biasanya jumlah sel lebih dari 1000 sel/mm3, sedang
pada meningitis aseptik jarang jumlah selnya tinggi. Jika jumlah sel
meningkat secara berlebihan (5000-10000 sel /mm3), kemungkinan telah
terjadi rupture dari abses serebri atau perimeningeal perlu dipertimbangkan.
Perbedaan jumlah sel memberikan petunjuk ke arah penyebab peradangan.
Monositosis tampak pada inflamasi kronik oleh L. monocytogenes.
Eosinophil relatif jarang ditemukan dan akan tampak pada infeksi cacing dan
penyakit parasit lainnya termasuk Cysticercosis, juga meningitis tuberculosis,
neurosiphilis, lympoma susunan saraf pusat, reaksi tubuh terhadap benda
asing.

4. kadar glukosa berkisar 45-80 mg%. Kadar glukosa cairan serebrospinal sangat
bervariasi di dalam susunan saraf pusat, kadarnya makin menurun dari mulai
tempat pembuatannya di ventrikel, sisterna dan ruang subarakhnoid lumbar.
Rasio normal kadar glukosa cairan serebrospinal lumbal dibandingkan kadar
glukosa serum adalah >0,6. Perpindahan glukosa dari darah ke cairan
serebrospinal secara difusi difasilitasi transportasi membran. Bila kadar
glukosa cairan serebrospinalis rendah, pada keadaan hipoglikemia, rasio
kadar glukosa cairan serebrospinalis, glukosa serum tetap terpelihara.
Hypoglicorrhacia menunjukkan penurunan rasio kadar glukosa cairan
serebrospinal, glukosa serum, keadaan ini ditemukan pada derjat yang
bervariasi, dan paling umum pada proses inflamasi bakteri akut, tuberkulosis,
jamur dan meningitis oleh carcinoma. Penurunan kadar glukosa ringan sering
juga ditemukan pada meningitis sarcoidosis, infeksi parasit misalnya,
cysticercosis dan trichinosis atau meningitis zat khemikal. Inflamasi
pembuluh darah semacam lupus serebral atau meningitis rhematoid mungkin
juga ditemukan kadar glukosa cairan serebrospinal yang rendah. Meningitis
viral, mump, limphostic khoriomeningitis atau herpes simplek dapat
menurunkan kadar glukosa ringan sampai sedang.

5. protein normal cairan serebrospinal pada ventrikel adalah 5-15 mg%. pada
sisterna 10-25 mg% dan pada daerah lumbal adalah 15-45 ,g%. Kadar gamma
globulin normal 5-15 mg% dari total protein. Kadar protein lebih dari 150
mg% akan menyebabkan cairan serebrospinal berwarna xantokrom, pada
peningkatan kadar protein yang ekstrim lebih dari 1,5 gr% akan menyebabkan
pada permukaan tampak sarang laba-laba (pellicle) atau bekuan yang
menunjukkan tingginya kadar fibrinogen. Kadar protein cairan serebrospinal
akan meningkat oleh karena hilangnya sawar darah otak (blood barin
barrier), reabsorbsi yang lambat atau

6. peningkatan sintesis immunoglobulin loka. Sawar darah otak hilang biasanya


terjadi pada keadaan peradangan,iskemia baktrial trauma atau
neovaskularisasi tumor, reabsorsi yang lambat dapat terjadi pada situasi yang
berhubungan dengan tingginya kadar protein cairan serebrospinal, misalnya
pada meningitis atau perdarahan subarakhnoid. Peningkatan kadar
immunoglobulin cairan serebrospinal ditemukan pada multiple sklerosis, acut
inflamatory polyradikulopati, juga ditemukan pada tumor intra kranial dan
penyakit infeksi susunan saraf pusat lainnya, termasuk ensefalitis, meningitis,
neurosipilis, arakhnoiditis dan SSPE (sub acut sclerosing panensefalitis).
Perubahan kadar protein di cairan serebrospinal bersifat umum tapi bermakna
sedikit, bila dinilai sendirian akan memberikan sedikit nilai diagnostik pada
infeksi susunan saraf pusat.

7. elektrolit normal CSS adalah Na 141-150 mEq/L, K 2,2-3,3 mRq, Cl 120-130


mEq/L, Mg 2,7 mEq/L. Kadar elektrolit ini dalam cairan serebrospinal tidak
menunjukkan perubahan pada kelainan neurologis, hanya terdpat penurunan
kadar Cl pada meningitis tapi tidak spesifik.

8. osmolaritas yang sama antara CSS dan darah (299 mosmol/L0. Bila terdapat
perubahan osmolaritas darah akan diikuti perubahan osmolaritas CSS.
h!br0ken!!PH Keseimbangan asam bas harus dipertimbangkan pada
metabolik asidosis danmetabolik alkalosis. PH cairan serebrospinal lebih
rendah dari PH darah, sedangkan PCO2 lebih tinggi pada cairan serebrospinal.
Kadar HCO3 adalah sama (23 mEg/L). PH CSS relatif tidak berubah bila
metabolik asidosis terjadi secara subakut atau kronik, dan akan berubah bila
metabolik asidosis atau alkalosis terjadi secara cepat.

Pengambilann cairan serebrospinal dapat dilakukan dengan cara Lumbal


Punksi, Sisternal Punksi atau Lateral Cervical Punksi. Lumbal Punksi merupakan
prosedure neuro diagnostik yang paling sering dilakukan, sedangkan sisternal
punksi dan lateral hanya dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli.

Indikasi Lumbal Punksi:

1. Untuk mengetahui tekanan dan mengambil sampel untuk pemeriksan sel,


kimia dan bakteriologi
2. Untuk membantu pengobatan melalui spinal, pemberian antibiotika, anti
tumor dan spinal anastesi

3. Untuk membantu diagnosa dengan penyuntikan udara pada


pneumoencephalografi, dan zat kontras pada myelografi

Kontra Indikasi Lumbal Punski:

1. Adanya peninggian tekanan intra kranial dengan tanda-tanda nyeri kepala,


muntah dan papil edema

2. Penyakit kardiopulmonal yang berat

3. Ada infeksi lokal pada tempat Lumbal Punksi

Persiapan Lumbal Punksi:

1. Periksa gula darah 15-30 menit sebelum dilakukan LP

2. Jelaskan prosedur pemeriksaan, bila perlu diminta persetujuan pasen/keluarga


terutama pada LP dengan resiko tinggi

Teknik Lumbal Punksi:

1. Pasien diletakkan pada pinggir tempat tidur, dalam posisi lateral decubitus
dengan leher, punggung, pinggul dan tumit lemas. Boleh diberikan bantal
tipis dibawah kepala atau lutut.

2. Tempat melakukan pungsi adalah pada kolumna vetebralis setinggi L 3-4,


yaitu setinggi crista iliaca. Bila tidak berhasil dapat dicoba lagi intervertebrale
ke atas atau ke bawah. Pada bayi dan anak setinggi intervertebrale L4-5

3. Bersihkan dengan yodium dan alkohol daerah yang akan dipungsi

4. Dapat diberikan anasthesi lokal lidocain HCL


5. Gunakan sarung tangan steril dan lakukan punksi, masukkan jarum tegak
lurus dengan ujung jarum yang mirip menghadap ke atas. Bila telah dirasakan
menembus jaringan meningen penusukan dihentikan, kemudian jarum diputar
dengan bagian pinggir yang miring menghadap ke kepala.

6. Dilakukan pemeriksaan tekanan dengan manometer dan test Queckenstedt


bila diperlukan. Kemudian ambil sampel untuk pemeriksaan jumlah danjenis
sel, kadar gula, protein, kultur baktri dan sebagainya.

Komplikasi Lumbal Punksi

1. Sakit kepala Biasanya dirasakan segera sesudah lumbal punksi, ini timbul
karena pengurangan cairan serebrospinal

2. Backache, biasanya di lokasi bekas punksi disebabkan spasme otot

3. Infeksi

4. Herniasi

5. Untrakranial subdural hematom

6. Hematom dengan penekanan pada radiks

7. Tumor epidermoid intraspinal


BAB III

KESIMPULAN