Anda di halaman 1dari 18

CRITICAL BOOK REPORT

ORGANISASI DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN


Diajukan untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Organisasi dan Kebijakan Pendidikan

Oleh :
Helen Kristina Tambunan
( 3151131015 )
Kelas C Reguler 2015

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga penulis dapat meyelesaikan makalah
mengenai Critical Book Report Organisasi dan Kebijakan Pendidikan dengan tepat
waktu. Penulis juga berterimakasih kepada dosen pengampu yang telah
memberikan tugas CBR ini kepada kami.

Penulis berharap makalah ini dapat menambah serta memperluas wawasan dan
pengetahuan kita mengenai mata kuliah Organisasi dan Kebijakan Pendidikan.
Didalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca.

Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, sehingga tugas ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Medan, Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG 1
1.2. RUMUSAN MASALAH 1
1.3.TUJUAN 1
BAB II PEMBAHASAN

2.1. IDENTITAS BUKU 2

2.2. RINGKASAN ISI BUKU 3

2.3. ANALISIS ISI BUKU 14

BAB III PENUTUP

3.1.KESIMPULAN 15

3.2. SARAN 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan pendidikan di era ototnomi
daerah menjadi sedemikian penting. Disamping mengupayakan bagaimana mencari
solusi terhadap permasalahan – permasalahan pendidikan, juga selama ini dirasakan
peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan masih belum optimal.
Masyarakat disini dimaksudkan tidak saja para orangtua dan msayarakat sekitar,
tetapi juga dunia kerja dan dunia industry yang nantinya menjadi pemakai output
lembaga pendidikan yang ada. Dalam upaya peningkatan peran serta masyarakat
tersebut, sekarang dikenal beberapa badan yang berfungsi mem-back-up
penyelenggaraan pendidikan, seperti Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, Majelis
Madrasah, Badan Pertimbangan Pendidikan, dan sebagainya
Adanya otonomi dalam pengelolaan pendidikan merupakan potensi bagi sekolah
untuk meningkatkan kinerja para personel, menawarkan partisipasi langsung pihak-
pihak terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan di sekolah.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat dalam makalah “Critical Book Report
Organisasi dan Kebijakan Pendidikan” ini adalah :
1. Apa identitas buku yang kritik ?
2. Bagaimana ringkasan buku yang dikritik ?
3. Apa kelemahan dan kelebihan buku yang dikritik ?
1.3 Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah “Organisasi dan Kebijakan Pendidikan”
adalah untuk memenuhi salah satu kriteria penilaian tugas matakuliah dan untuk
menjawab yang menjadi pertanyaan dalam rumusan masalah yaitu mengetahui :
1. Identitas buku yang dikritik.
2. Ringkasan buku yang dikritik.
3. Kelemahan dan kelebihan buku yang dikritik

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Identitas Buku

Judul : Otonomi Pendidikan Kebijakan Otonomi dan


Implikasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan

Penulis : Hasbullah

ISBN : 979-769-059-8

Penerbit : PT. RajaGrafindo Persada

Tahun terbit : 2006

Dimensi buku : 21 cm

Tebal Buku : 230 Halaman

Cover Buku

2
2.2 Ringkasan Isi Buku

BAB I PENDAHULUAN

Dalam kehadiran UU Nomor 32 tahun 2004 (dimulai dengan UU Nomor 29


Tahun 1999) tentang pemerintahan Daerah, dimana sejumlah kewenangan telah
diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah, memungkinkan
daerah untuk melakukan kreasi, inovasi, dan improvisasi dalam pembangunan
daerahnya, termasuk dalam bidang pendidikan. Pemberlakuan otonomi daerah
tersebut membawa implikasi terhadap perubahan dalam penyelenggaraan
pendidikan, yang salah satunya adalah berkurangnya peran pemerintah pusat dalam
pengelolaan pendidikan

Dalam upaya memaksimalkan penyelenggaraan desentralisasi pendidikan


tersebut, sekarang dikembangkanlah konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
yang berupaya meningkatkan peran sekoah dan masyarakat sekitar (stakeholder)
dalam pengelolaan pendidikan, sehingga penyelenggaraan pendidikan menjadi
lebih baik dabn murtu lulusan semakin bisa ditingkatkan. MBS memberikan
kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung
jawab. Dengan adanya pengaihan kewenangan pengambilan keputusan ke level
sekolah, maka sekolah diharapkan lebih mandiri dan mampu menentukan arah
pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan lingkungan
masyarakatnya. Atau dengan kata lain, sekolah harus mampu mengembangkan
program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Adanya otonomi dalam pengelolaan pendidikan merupakan potensi bagi


sekolah untuk meningkatkan kinerja para personel, menawarkan partisipasi
langsung pihak-pihak terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap
penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

BAB II KONSEP OTONOMI DAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN


Bahwa desentralisasi merupakan adanya penyerahan wewenang urusan-
urusan yng semula menjadi kewenagnag pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah untuk melaksanakan urusan-urusan tersebut.

3
Secara politis, desentralisasi dalam pengertian devolusi dilakukan untuk
memenuhi tuntutan golongan minoritas yang menuntut otonomi dalam wilayahnya.
Semakin tinggi praktik-praktik diskriminasi, akan semakin kuat menciptakan
tuntutan akan otonomi.
Dalam praktiknya, desentralisasi pendidikan berbeda dengan desentralisasi
bidang pemerintahan lainnya, kalau desentralisasi bidang-bidang pemerintahan lain
berada pada pemerintahan di tingkat kabupaten/kota, maka desentralisasi di bidang
pendidikan tida berhenti pada tingkat kabupaten/kota, tetapi justru samapai pada
lembaga pendidikan atau sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan.
Dalam praktik desentralisasi pendidikan itulah maka dikembangkanlah yang
dinamakan MBS
Dalam konteks desentralisai ini, peran serta masyarakat sangat diperlukan.
Aparatur pendidikan baik di pusat maupun di daerah, berperan penting dalam
peningkatan peran serta, efisiensi, dan produktivitas masyarakat untuk membangun
pendidikan yang mandiri dan professional. Slah satu sasaran pembangunan adalah
mewujudkan desentralisasi daerah yang nyata, dinamis, dan bertanggungjawab.
Titik berat desentralisasi diletakkan pada kabupaten/kota. Oleh karena itu
peningkatan kualitas aparatur pendidikan di daerah amatlah mendasar peranannya,
terutama pada lapisan terdekat dengan rakyat yang mendapat pelayanan. Efektivitas
pelayanan pendidikan pada tingkat akar rumput (grass root) juga penting untuk
pendidikan.

BAB III KEBIJAKAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN DAN KENDALA


PELAKSANAANNYA

Belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain dalam pelaksanaan


desentralisasi pendidikan, Supriadi (2003:71) mengelompokkan sistem
desentralisasi pengelolaan pendidikan menjadi 4 kemungkinan, yaitu :

a. suatu Negara menganut sistem oengelolaan pendidikan sentralistik tanpa disertai


dengan MBS

b. suatu Negara menganut sistem oengelolaan pendidikan desentralistik (ke tingkat


provinsi atau kabupaten/kota), tetapi tidak diikuti dengan MBS

4
c. suatu Negara menganut sistem pengelolaan pendidikan sentralistik, tetapi pada
saat yang sama mengembangkan MBS

d. suatu Negara menganut sistem pengelolaan pendidikan desentralistik dan


sekaligus melaksanakan MBS

Dari kemungkinan-kemungkinan tersebut, tampaknya sekarang Indonesia


mengimplementasikan sistem keempat, yaitu desentralisasi sistem pengelolaan
pendidikan dan MBS.

Untuk melaksanakan desentralisasi pendidikan secara nasional di seluruh


wilayah Indonesia tampaknya mengalami banyak kesulitan, karena sejumlah
masalah dan kendala yang perlu diatasi. Masalah-masalah yang berkaitan dengan
substansi manajemen pendidikan dan perundang-undangan adalah sebagai berikut

 Masalah Kurikulum

Kurikulum sekolah yang amat terstruktur dan sarat beban menyebabkan


proses pembelajaran di sekolah menjadi steril terhadap keadaan dan perubahan
lingkungan fisik dan soial yang berkembang dalam masyarakat. Akibatnya, proses
pendidikan menjadi rutin, tidak menarik, dan kurang mampu memupuk kreativitas
murid untuk belajar serta guru an pengelola pendidikan dalam menyusun dan
melaksanakan pendekatan belajar yang inovatif. Kurikulum kelembagaan
pendidikan yang baik adalah kurikulum kelembagan pendidikan yang berkembang
dari dan untuk masyarakat, yaitu kelembagan pendidikan yang bersandarkan pada
komunitas masyarakat.

 Masalah Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber daya manusia merupakan pilar yang paling utama dalam melakukan
implementasi desntralisasi pendidikan. Banyak kekhawatiran dalam bidang
kesiapan SDM ini, diantaranya belum terpenuhinya lapangan kerja dengan
kemampuan sumber daya yang ada. Prinsip “the right man on the right place”
semakin jauh dari pelaksnaannya. .

 Masalah Dana, Sarana dan Prasarana Pendidikan

5
Persoalan dana merupakan persoalan yang paling krusial dalam perbaikan
dan pembangunan system pendidikan di Indonesia, dan dana juga merupakan salah
satu syarat atau unsur yang sangat menentukan keberhasilan penyelenggaraan
pendidikan. Selama ini dikeluhkan bahwa mutu pendidikan nasional rendah karena
dana yang tidak mencukupi, anggaran untuk pendidikan masih terlalu rendah.

 Masalah Organisasi Kelembagaan


Dalam hal kelembagaan kependidikan antarkabupaten/kota dan provinsi
tidak sama dan terkesan berjalan sendiri-sendiri, baik menyangkut struktur, nama
organisasi kelembagaan, baik menyangkut struktur, nama organisasi kelembagaan,
dan lain sebagainya. Menurut UU memang ada kewenangan lintas kabupaten/kota
tetapi kenyataannya itu hanyalah dalam tataran konsep, praktiknya tidak berjalan
 Masalah Perundang-undangan

Bagaimanapun masalah sentralisasi, dekonsentrasi, dan desntralisasi dalam


pemerintahan mempunyai implikasi langsung terhadap penyelenggaraan sistem
pendidikan nasional, terutama yang berkaitan dengan masalah kebijakan,
manajemen, mutu, kontrol, dan sumber-sumber dana pendidikan. Penyelenggaraan
system pendidikan nasional untuk masa kini, selain telah memiliki perangkat
pendukung perundang-undangan nasional, juga dihadapkan sejumlah faktor yang
menjadi tantangan dalam penerapan desentralisasi pendidikan di daerah, seperti
tingkat perkembangan ekonomi dan sosial budaya setiap daerah, tipe dan kualitas
kematangan SDM yang diperlukan oleh daerah setempat, perkembangan IPTEK,
perkembangan dunia industri, dan sebagainya

 Masalah Pembinaan dan Koordinasi

Meskipun desentralisasi sudah ada dalam peraturan dan regulasi otonomi


daerah, tetapi dalam kelembagaan dan sikap akademik guru, kepala sekolah dan
jajaran Dinas Pendidikan sebagai atasannya belum sinkron. Pemerintah daerah
belum menunjukkan penampilan dan cara kerja yang jelas, dan yang mereka
lakukan masih pada pemanfaatan dana, bukan pada “academic activity”.

6
BAB IV IMPLIKASI UMUM DESENTRALISASI PENDIDIKAN

Implementasi otonomi pendidikan, disamping banyak memiliki sisi


positifnya, perlu juga disadari oleh pelaku pendidikan baik yang diselenggarakan
oleh pemerintah maupun swasta, bahwa pelaksanaan otonomi pendidikan akan
membawa konsekuensi yang cukup berat, diantaranya sebagai berikut :

a. Dalam Bidang Pemerintahan

Dalam bidang ini, perlu terjadi pengaturan perimbangan kewenangan antara


pusat dan daerah, dan masing-masing harus mempunyai komitmen tinggi untuk
mewujudkannya. Sebab, berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah paling tidak
ditentukan oleh tiga hal, yaitu (1) adanya political will and political commitment
dari pemerintah pusat untuk benar-benar memberdayakan daerah; (2) adanya
iktikad baik dari pemerintah dalam mebantu keuangan daerah; (3) adanya
perubahan perilaku elit local untuk dapat membangun daerah.

b. Dalam Bidang Sosial Budaya

Perlunya memerhatikan persoalan bidang social budaya ini karena adanya


gejala munculnya eksklusivisme kesukuan pada daerah tertentu, yang ingin
menunjukkan sebagai daerah khusus, yang menutup untuk dialog secara plural dan
inklusif. Dalam dunia pendidikan, tindakan “eksklusivisme” semacam ini cukup
membahayakan bagi peserta didik. Apabila pengaruhnya terlalu besar dan mereka
menginternalisasi nilai-nilai eksklusivistis yang ditanamkan, hal itu akan membuat
rawan bagi terwujunya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Rendahnya
wawasan dan sikap multicultural memungkinkan munculnya tindakan-tindakan
anarkis yang pada akhir-akhir ini agak menggejalan di Indonesia.

c. Dalam Bidang Pembelajaran

sekolah sebagai ujung tombak proses pendidikan, dimana guru dan siswa
secara terus menerus melakukan kontak pendidikan dan pembelajaran, sebenarnya
mrupakan penentu utama keberhasilan pendidikan sebagai upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa. Oleh karena itu, otonomi di bidang pendidikan hendaknya tidak
7
hanya diartikan sebagai pemberian kewenangan daerah untuk mengelola
pendidikan, tetapi juga harus diartikan untuk memberikan kewenangan yang lebih
besar kepada sekolah untuk emngurus keiatan proses pengelolaan pendidikan di
sekolah dalam upaya mengoptimalkan hasil pembelajaran.

d. Anggaran Pendidikan

Menyangkut anggaran pendidikan yang sangat keciltersebut, menimbulkan


pertanyaan, apakah pemerintah benar-benar menempatkan investasi sumber daya
manusia menjadi prioritas utama dalam meningkatkan daya saing di era global yang
sangat kompetitif seperti seakarang. Namun, jika anggaran pendidikan berhasil
ditingkatkan, pertanyaan berikutnya akan muncul yaitu apakah kenaikan anggaran
pendidikan yang tiba-tiba tidak akan melahirkan ekses yang buruk, terutama dilihat
dari efisiensi penggunaannya. Ini belum lagi ketika kita lihat realitas akan masih
tingginya anka korupsi yang sangat kronis bagi bangsa ini.

e. Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan

Untuk menjalani perannya, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah


memiliki fungsi yaitu mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat
terhadap penyelenggaraan pendidikan ynag bermutu. Badan itu juga melakukan
kerjasama dengan masyarakat, baik perorangan maupun organisasi, dunia usaha
dan dunia industri, pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu. Fungsi lainnya adalah menampung dan menganalisis
aspirasi, pandangan, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan
oleh masyarakat.

BAB V PENINGKATAN KAPASITAS OTONOMI SEKOLAH

Titik simpul yang mesti diperhatikan dalam menggulirkan otonomi dan


desentralisasi dalam pendidikan adalah kepala sekolah dan guru. Pada hakikatnya,
kepala sekolah dengan segala fungsi dan tugasnya, mempunyai otoritas pendidikan
di institusi yang dipimpinnya. Selama ini makna tersebut tergadaikan kepada pihak-
pihak yang menjadi atasannya. Bahkan banyak kepala sekolah yang menempatkan
diri sebagai birokrat Dinas Pendidikan. Penyelenggaraan sekolah yang birokratik

8
sentris dan berorientasi pada factor-faktor input-krikulum, guru, siswa, buku,
fasilitas belajar- semakin mendorong kepala sekolah melupakan proses
kependidikan.

Dalam upaya membangun otonomisasi pendidikan scara benar, maka dalam


bidang pendidikan kiranya akan terbentuk pola manajemen pendidikan sebagai
berikut :

a. Manajemen Berbasis Sekolah

b. Pelibatan Masyarakat

c. Pemberdayaan Sekolah

d. Orientasi pada Kualitas

e. Meniadakan Penyeragaman

BAB VI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH UPAYA MEMBANGUN


OTONOMISASI SEKOLAH

MBS berpotensi menawarkan partisipasi masyarakat, pemerataan, efisiensi,


serta manajemen yang bertumpu pada tingkat sekolah. MBS berfungsi untuk
menjamin bahwa semakin rendahnya control pemerintah pusat, tetapi semakin
meningkatnya otonomi sekolah untuk menentukan sendiri apa yang perlu diajarkan
dan mengelola sumber daya yang ada disekolah untuk berinovasi dan
berimprovisasi.

Dengan adanya MBS sebagai salah satu program pembangunan bidang


pendidikan dan sekaligus sebagai salah satu sasaran pembinaan pendidikan dasar
dan menengah yang akan diwujudkan di masa dating, maka diperlukan adanya
kesamaan persepsi akan pengertian dan konsep dasar MBS itu sendiri. MBS dapat
didefenisikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar
kepada sekolah; memberikan fleksibilitas/keluwesan lebih besar kepada sekolah
untuk mengelola sumber daya sekolah, dan mendorong sekolah meningkatkan
partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah
atau mencapai tujuan mutu sekolah dalam kerangka pendidikan nasional. Karena
9
itu esensi MBS= otonomi sekolah+fleksibilitas+partisipasi untuk mencapai sasaran
mutu sekolah.

Agar implementasi desentraisasi lebih efektif dan efisien yang


dipresentasikan melalui MBS, maka beberapa Negara terutama di Inggris dan
Australia, telah memberikan kewenangan kepada sekolah khususnya dalam hal
pengalokasian dan optimalisasi sumber daya yang ada. System pendidikan di kedua
Negara tersebut telah menunjukkan keberhasilan dengan pola MBS ini.
Keberhasilan yang dicapai di samping kualitas out put yang bagus, juga dalam hal
akuntabilitas dan performance nya.

BAB VII PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH

Keberadaan komite sekolah bersama Dewan Pendidikan secara legal formal


telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
044/U/2002.Komite Sekolah yang berkedudukan di setiap satuan pendidikan,
merupakan badan mandiri yang tidak memiliki hubungan hierarkis dengan lembaga
pemerintahan. Komite sekolah dapat terdiri dari satuan pendidikan atau berupa
satuan pendidikan dalam jenjang yang sama, atau beberapa satuan pendidikan yang
berbeda jenjang, tetapi berada pada lokasi yang berdekatan, atau satuan-satuan
pendidikan yang dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan atau karena
pertimbangan lain.

Adapun tujuan komite sekolah yaitu (1) mewadahi dan menyalurkan


aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan
program pendidikan disatuan pendidikan, (2) meningkatkan tanggung jawab dan
peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, dan (3) menciptakan suasana
dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan
pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan.

Peran komite sekolah dalam menjembatani kepentingan di antara


masyarakat dan penyelenggara pendidikan senantiasa memerlukan kecermatan
identifikasi tersebut. Ketika ada keluhan masyarakat yang masuk, ada keengganan
memanfaatkannya sebagai masukan bagi koreksi kea rah perbaikan. Pada tingkat
apa dan dengan cara bagaimana dialog public, maka disinilah posisi dan peran
10
komite sekolah yang perlu dikenalkan manfaatnya. Dengan demikian, keberadaan
komite sekolah di samping benar-benar diperlukan, juga diharapkan dapat berjalan
efektif dan efisien.

BAB VIII OTONOMI PENDIDIKAN DAN PENGELOLAAN


MANAJEMEN SISTEM PENDIDIKAN

Dengan berjalannya konsep otonomi pendidikan demikian hakikat


pendidikan dikembalikan kepada sekolah, dalam hal ini kepala sekolah dan guru,
agar mereka dengan penuh kebebasan, kesadaran pribadi, suara hati dan imajinasi
kreatif harus mengoptimalkan pelaksaan pembelajaran, pelatihan, pembimbingan,
dan pengevaluasian agar peserta didik bisa berkembang secara optimal.

Keberhasilan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikannya sangat


ditentukan oleh manajemen pendidikan yang dijalankan disekolah yang
bersangkutan. Manajemen pendidikan merupakan bentuk kerja sama personel
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Tujuan umum yang akan
dicapai dalam kerja sama adalah pembentukan kepribadian siswa sesuai dengan
tujuan pendidikan nasional dan tingkat perkembangannya pada usia pendidikan.
Tujuan ini dijabarkan kedalam tujuan antara, yaitu tujuan kurikuler, tujuan
instruksional umum, tujuan instruksional khusus.

Manajemen pendidikan merupakan suatu proses yang merupakan daur


(siklus) penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencanaan, diikuti oleh
pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, pemantauan, dan penilaian tentang
usaha sekolah untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu, manajemen pendidikan
juag merupakan usaha untuk melakukan pengelolaan system pendidikan. Adapun
hal-hal yang di manajemen adalah :

1. Manajemen organisasi pendidikan


2. Manajemen personel
3. Manajemen kurikulum
4. Manajemen sarana dan prasarana
5. Manajemen kesiswaan
6. Manajemen pembiayaan
11
7. Manajemen kehumasan

BAB IX OTONOMI PERGURUAN TINGGI

Dengan adanya otonomi lembaga pendidikan tinggi, maka dapat dipilah-


pilah prinsip-prinsip mana yang dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan
tinggi yang ada. Mengubah suatu system manajemn pendidikan tinggi tidaklah
semudah sebagaimana yang digambarkan. Terdapat banyak kendala yang dihadapi
dalam penerapan suatu system. Selain itu, setiap perubahan system biasanya
menuntut biaya dan persiapan yang matang, apalagi jika tidak tersedia SDM yang
diperlukan, maka setiap penerapan prinsip manajmen baru akan meminta biaya
besar.

Namun demikian, dalam rangka penerapan otonomi perguruan tinggi


terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, yaitu (1) kualitas sumber daya
manusia yang terbatas, (2) sikap dan budaya kerja yang kurang disiplin, (3)
terbatasnya sumber daya emerintah untuk menyediakan biaya operasional tahap
awal, (4) terbatasnya kemampuan orang tua untuk menyekolahkan anaknya dengan
pembayaran SPP yang tinggi, (5) kurangnya kesabaran dosen, teknisi, dan tenaga
administrasi untuk berjuang bersama denan penghargaan yang terbatas sebelum
perguruan tinggi menghasilkan cukup dana dari usaha swadayanya. (Sufyarma,
2003:164).

Dalam upaya meningkatkan peran dan kualitas perguruan tinggi ke depan,


akuntabilitas dan kemandirian perguruan tinggi merupakan suatu keharusan. Oleh
karena itu, para penyelenggara pendidikan tinggi sekarang perlu melakukan
instropeksi dan retropeksi sejauh amna hal tersebut sudah dilakukan. Perguruan
tinggi yang memerhatikan akuntabilitas sdah pasti akan melibatkan partisipasi
masyarakat.Dalam hal ini, tidak saja dalam bentuk pengelolaan, tetapi juga
program-program yang dikembangkan perguuan tinggi harus menyahuti dan
mempunyai relevansi dengan berbagai kebutuhan dan kepentingan masyarakatnya.

12
BAB X OTONOMI DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam menjadi salah satu isu penting dalam setiap pembahasan
yang menyangkut kehidupan umat Islam. Itulah sebabnya berbagai pertemuan
ilmiah baik yang berskala lokal sampai internasional mengenai pendidikan Islam
sudah sekian banyak dilaksanakan..
Dari perjalanan historisnya tersebut, meskipun pendidikan Islam tidak
jarang mendapatkan tekanan dan kurang mendapat perhatian yang memadai dari
pemerintah, namun pendidikan Islam telah berhasil survive di dalam berbagai
situasi dan kondisi mengarungi masa-masa sulitnya. Hal demikian menyebabkan
pendidikan Islam menyandang berbagai jenis nilai luhur, seperti berikut :
1. Nilai historis, di mana pendidikan Islam telah survive baik pada masa
kolonial hingga zaman kemerdekaan. Pendidikan Islam telah
menyiapkan nilai-nilai yang sangat besar di dalam kesinambungan
hidup bangsa, dalam kehidupan bermasyarakat, dalam perjuangan
bangsa Indonesia mencapai kemerdekaanya. I dalam invasi kebudayaan
Barat, pendidikan Islam telah menunjukkan ketahanujiannya sehingga
tetap survive.
2. Nilai religius, pendidikan Islam di dalam perkembangannya tentunya
telah memelihara dan mengembangkan nilai-nilai agama Islam sebagai
salah satu nilai budaya bangsa Indonesia.
3. Nilai moral, pendidikan Islam tiidak diragukan lagi sebagai pusat
pemelihara dan pengembangan nilai-nilai moral yang berdasarkan
agama Islam. Sekolah-sekolah madrasah, pesantren, bukan hanya
berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat atau
benteng moral dan kehidupan mayoritas bangsa Indonesia.

13
2.3 Analisis Isi Buku
- Kelebihan Buku

(1) Buku ini memiliki bahasa yang komunikatif sehingga mudah dipahami
pembaca

(2) Buku ini dilengkapi dengan UU Sistem Pendidikan Nasional serta UU Guru
dan Dosen

(3) Pembahasan dalam tiap bab dibuku ini saling keterkaitan yaitu dimulai
dengan konsep –konsep tentang desentralisasi pendidikan itu sendiri,
peningkatan kapasitas otonomisasi sekolah, pelaksanaan Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS), Pemberdayaan Komite Sekolah, pengelolaan
system manajemen pendidikan di sekolah, otonomi perguruan tinggi, dan
otonomi pada lembaga-lembaga pendidikan Islam

(4) Isi dari buu pada setiap bab menunjukkan permasalahan yang akan diketahui
dan dibahas tuntas bagi para pembaca

(5) Memuat beberapa pendapat ahi yang mendukung kebenaran dari isi
pembahasan setiap bab yang ada dibuku

(6) Keberadaan buku ini semakin menambah informasi dan ilmu pengetahuan
yang berguna untuk menambah wawasan bagi para pembaca tentang
berbagai perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan sebagai akibat
diimplementasikannya kebijakan otonomi daerah

(7) Buku ini sangat cocok menjadi bahan acuan dalam pembelajaran terutama
pada fakultas pendidikan dan keguruan dan pelaku pendidikan.

Kelemahan Buku

(1) Masih terdapat beberapa kesalahan pegetikan/penulisan dibuku dalam


penyampaian materi

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Secara umum buku ini semakin menambah informasi dan ilmu pengetahuan
yang berguna untuk menambah wawasan tentang diimplementasikannya kebijakan
otonomi daerah ini diharapkan mampu membuka wawasan tentang arti pentingnya
otonomi di bidang pendidikan. Konsep-konsep tentang desentralisasi pendidikan,
peningkatan kapasitas otonomisasi sekolah, pelaksanaan MBS, pemberayaan
komite seklah, pengelolaan system manajemen pendidikan di sekolah, otonomi
perguruan tinggi, dan otonomi pada lembaga-lembaga pendidikan Islam yang
diuraikan dalam buku ini sangat perlu dipahami oleh pemegag kebijakan, pelaku
dibidang pendidikan, dan masyarakat selaku stakeholder dalam pengelolaan
pendidikan.

3.2 Saran

Penulis berharap agar pembaca dapat memahami isi dari critical book
report ini dan semoga dapat menambah wawasan daripada pembaca

15

Anda mungkin juga menyukai