Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum

Dasar-Dasar Ekologi

INTERAKSI KOMPETISI DAN BIOMASSA

Nama : Muthmainnah Nur


NIM : G011171550
Kelas : DDE G
Kelompok :2
Asisten : 1. Yulianti
2. Nurul Amin

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organisme hidup di dalam suatu ekosistem yang didalamnya saling berinteraksi
antar satu spesies dengan spesies lain. Interaksi tersebut dapat berupa interaksi
positif yang saling menguntungkan dapat juga interaksi negatif seperti kompetisi.
Kompetisi tumbuhan dalam suatu spesies mampu di liat pada jarak antar
tumbuhan, di mana sebenarnya persaingan yang paling keras terjadi antara
tumbuhan yang sama spesiesnya, sehingga tegakan besar dari sepesies tunggal
sangat jarang di temukan di alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini
mempengaruhi pertumbuhannya karena pada umumnya bersifat merugikan.
Kompetisi adalah salah satu bentuk interaksi antara dua atau lebih organisme
dalam memperebutkan sumber daya yang berupa ruang tumbuh, unsur hara, air,
oksigen, cahaya dan sebagainya. Kompetisi dapat menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan tanaman sehingga tidak mencapai maksimal. Kompetisi yang
terjadi akan mem-pengaruhi bahan organik (biomassa) yang dihasilkan oleh
tanaman. Biomassa terkait erat dengan produktifitas tanaman yang sangat
dipengaruhi oleh faktor fisik (iklim dan tanah), kimia (unsur hara) dan biologis
(hama, penyakit dan besarnya populasi).
Di alam organisme tidak hidup sendirian tetapi berdampingan dan saling
berinteraksi dengan organisme yang lainnya. Begitupun yang terjadi terhadap
tumbuhan, interaksi ini bisa terjadi antara tumbuhan yang sejenis ataupun tidak
sejenis. Kompetisi dapat berbentuk perebutan sumber daya yang terbatas
(resource competition) atau saling menyakiti antar indifidu yang sejenis dengan
kekuatan fisik (interference competition). Kompetisi yang terjadi antara individu
sejenis disebut sebagai kompetisi intraspesifik sedangakan interaksi antara
individuyang tidak sejenis disebut interaksi interspesifik.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan percobaan interaksi kompetisi
dan biomassa untuk mengetahui pengaruh terjadinya kompetisi secara
interspesifik dan intraspesifik terhadap pertumbuhan tanaman.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui pengaruh terjadinya kompetisi secara
interspesifik dan intraspesifik terhadap pertumbuhan tanaman dan menghitung
besarnya biomassa yang dihasilkan oleh tanaman pada luasan tertentu dari jenis
tanaman tertentu.
Kegunaan praktikum diharapkan dapat memberikan pengertian tentang
interaksi tanaman pada tahap kompetisi dan memberikan pemahaman tentang
konsep produktivitas (biomassa) tanaman yang dihasilkan dalam suatu periode
tumbuh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kompetisi Secara Interspesifik dan Intraspesifik
Kompettisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada
pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu
(intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik
kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan
yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan
dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan
hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya
air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono, 2005).
Interaksi interspesifik adalah interaksi antara kedua jenis tumbuhan yang
berbeda sedangkan inteaksi intraspesifik adalah inteaksi antar jenis yang sama di
dalam satu tempat (Soejono, 2009).
Di alam organisme itu tidak berdiri sendiri-sendiri atau tidak dapat hidup
sendiri-sendiri, melainkan menjadi suatu kumpulan individu-individu yang
mengisi suatu tempat dan pada waktu tertentu, sehingga antarorganisme akan
terjadi yang namanya interaksi. Interaksi-interaksi yang terjadi dapat berupa
interaksi antarindividu dari spesies yang sama (intraspesifik) atau interaksi
antarindividu dari spesies yang berbeda (interspesifik) (Indriyanto, 2008).
Di alam persaingan yang dilakukan oleh tumbuhan dapat terjadi antara
individu-individu dari satu jenis yang sama (intraspesifik) atau individu-individu
dari jenis yang berbeda (interspesifik). Persaingan ini terjadi dikarenakan
individu-individu termasuk mempunyai kebutuhan yang sama factor-faktor
tertentu yang tidak tersedia dalam jumlah yang cukup dalam lingkunganny,
seperti : makanan, tempat hidup, cahaya, O2, air, dan lain-lain. Akibat dari
persaingan ini kedua belah pihak akan saling mempengaruhi laju pertumbuhannya
dan akan menurunkan produksi yang dihasilkannya (Budiastuti, 2009).
2.2 Keuntungan dan Kerugian Kompetisi Interspesifik
Pengaruh dari kompetisi interspesifik dapat secara fisiologi maupun morfologi.
Kompetisi dapat berpengaruh terhadap struktur tanaman, pada lingkungan yang
minim unsur hara. Tanaman yang menang dalam kompetisi akan menunjukkan
pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan tanaman yang kalah dalam persaingan
memperebutkan unsur hara bahkan mungkin mengalami kematian. Pengaturan
jarak tanam antar tumbuhan sangat perlu diperhatikan untuk dapat
mengoptimalkan hasil budidaya tanaman (Mangla, 2011).
Kompetisi yang paling keras terjadi pada tumbuhan yang memiliki spesies
yang sama. Hal tersebut dapat terjadi karena tumbuhan yang berspesies sama akan
memerlukan unsur hara yang sama jenisnya dan jumlahnya. Sehingga antar
tanaman dengan spesies yang sama kompestisi yang terjadi sangat keras. Di
lingkungan hutan hujan tropis, hal tersebut sangat terlihat bahwa pepohonan tua
menekan perkembangan anakan dari spesies mereka sendiri (Indriyanto,2010).

2.3 Keuntungan dan Kerugian Kompetisi Intraspesifik


Kompetisi intraspesifik terjadi antara anggota individu dari populasi yang sama,
misalnya, ketika kecambah tumbuh dari benih yang tersebar erat di tanah.
Beberapa bibit akan dapat tumbuh lebih cepat dari yang lain dan akan
menghambat pertumbuhan bibit yang kurang kuat dengan membayangi mereka.
Daerah yang berbeda atau komunitas mendukung karakteristik pertumbuhan yang
berbeda.Jika, di sisi lain, spesies tidak bisa mentolerir terlalu banyak sinar
matahari, spesies tumbuh-pendek yang bisa mendapatkan keuntungan dengan
berlindung dari bayangan tanaman yang lebih besar di dekatnya akan memiliki
keunggulan kompetitif atas naungan daun tanaman lainnya (Mangla, 2011).
Persaingan di alam itu menyebabkan spesies tertentu mendominasi lingkungan
dan berkembang untuk beradaptasi dengan itu, sementara spesies yang keluar dari
kompetisi pindah ke tempat lain atau punah. Manusia dapat memanfaatkan
hasilkompetisi antara spesies untuk keuntungan mereka sendiri. Prinsip ini sangat
berguna di bidang pertanian (Budisman, 2014).
2.4 Bahan Organik (Biomassa) Interaksi Kompetisi
Biomassa merupakan bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis,
baik berupa produk maupun buangan. Biomassa salah satu ukuran yang berguna
dan mudah diperoleh, tetapi tidak memberikan petunjuk dinamika populasi.
Pengamatan terhadap biomassa membuat tertarik para peneliti ekologi dengan
alasan pada produktivitas pada biomassa karena bila bobot kering suatu komunitas
dapat ditentukan pada waktu tertentu dan laju perubahan bobot kering dapat
diukur, data itu dapat diubah menjadi perpindahan energi melalui suatu ekosistem.
Dengan menggunakan informasi ini ekosistem yang berbeda dapat dibandingkan
dan efisien nisbi untuk perubahan penyinaran matahari menjadi bahan organik
dapat dihitung atau diketahui jumlahnya (Indriyanto, 2006).

2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Biomassa


Faktor yang mempengaruhi besar ataupun kecilnya biomassa adalah cahaya
matahari yang dapat memberikan energi sehingga yang dapat menggerakan
hampir seluruh ekosistem, meskipun hanya tumbuhan dan organisme fotosintetik
lain yang menggunakan sumber energi ini secara langsung. Intensitas cahaya
bukan satu-satunya yang merupakan faktor terpenting yang membatasi
pertumbuhan tumbuhan dalam biomassa dilingkungan darat tetapi masih banyak
faktor yang lain, tetapi penaungan oleh kanopi hutan, membuat persaingan
tanaman untuk mendapatkan cahaya matahari di bawah kanopi tersebut menjadi
sangat ketat dikarenakan ada yang membatasinya (Naufaldi, 2014).
BAB III
METODOLOGI
3.1Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan hari Rabu pada tanggal 1 November 2017 pada jam
07.30 WITA sampai selesai. Dilakukan di Ex-Farm, Fakultas Pertanian,
Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2 Alat dan Bahan
Adapaun Alat-alat yang digunakan adalah meteran, cangkul, sekop, parang,
ember, oven, timbangan dan alat tulis menulis.
Sedangkan Bahan-bahan yang digunakan adalah pupuk kandang, label,
polybag ukuran (40x60) cm 12 lembar dan tanah.
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini :
1. Membersih lahan yang akan digunakan.
2. Mengisi polybag dengan media tanam berupa tanah dan pupuk kandang (2 : 1)
kemudian jenuhkan dengan air.
3. Merendam benih yang akan digunakan dalam air.
4. Melakukan penanaman sesuai perlakuan dan tempatkan secara acak pada
polybag.
5. Melakukan penyulaman jika ada tanaman yang mati.
6. Meakukan penyiangan jika ada gulma.
7. Menyiraman dilakukan pagi dan sore hari.
8. Pengamatan dilakukan mulai umur 7 HST hingga akhir percobaan dengan
selang 2 minggu sekali.
9. Komponen pengamatan adalah :
a. Tinggi tanaman (cm)
b. Jumlah daun (helai)
c. Berat kering (g)
d. Boimassa (g m-2)
DAFTAR PUSTAKA

Arisandi, P. 2002. Mengelolah sampah dapur menjadi kompos, mmelihara sugai


dan laut. Jurnal Manajemen Hutan Tropica 11(2): 1-14.
Dita, Leo, Fara 2007. Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea
balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Indriyanto.2010.Ekologi Hutan. Cetakan Ketiga. Jakarta, PT Bumi Aksara.
Mangla Seema, Roger L. Sheley, Jeremy J. James dan Steven R.Radosevich.2011.
Intra and Interspesific Competition among Invasive and Native Spesies
during Early Stages of Plant Grow. Jurnal Plant Ecol 212:531-542.
Naufaldi, Labib. 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengomposan. Jakarta.
Sutanto, Rahman. 2002. Pertanian Organik. Yogyakarta.
Osono, Takede. 2006. Dekomposisi Serasah. PMID.