Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

“Intersection dan Resection “


GT2202 Hidrografi

Disusun Oleh :
1. Ridwan Drajad (NIM. 23116085)
2. Nurul Fitriana (NIM. 23116107)
3. Wisnu Ananda (NIM. 23116083)
4. Adi Joyo P. (NIM. 23116091)
5. Apreliana Anjas (NIM. 23116045)

TEKNIK GEOMATIKA
JURUSAN TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN
KEWILAYAHAN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2018
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Dalam survey hidrografi mempelajari tentang kegiatan pemetaan laut, pengumpulan data,
kondisi dan sumber daya suatu wilayah laut yang kemudian diolah, dievaluasi dan disajikan
dalam bentuk buku, peta laut serta informasi mengenai kelautan lainnya, yang selanjutnya
digunakan untuk kepentingan pembangunan dan pertahanan keamanan suatu negara. Data
mengenai fenomena dasar perairan dan dinamika badan air diperoleh melalui pengukuran
yang kegiatannya disebut sebagai survei hidrografi. Data yang diperoleh dari survei
hidrografi kemudian diolah dan disajikan sebagai informasi geospasial atau informasi yang
terkait dengan posisi di muka bumi. Sehubungan dengan itu maka seluruh informasi yang
disajikan harus memiliki data posisi dalam ruang yang mengacu pada suatu sistem referensi
tertentu. Aktifitas utama survei hidrografi meliputi: Penentuan posisi di laut, Pengukuran
kedalaman (pemeruman), Pengamatan pasut, Pengukuran detil situasi dan garis pantai (untuk
pemetaan pesisir), penggunaan sistem referensi.Penetuan posisi dapat dilakukan dengan
metode intersection dan resection. Resection adalah metode untuk menentukan
kedudukan/posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dan
diketahui posisinya di peta. Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk
dapat membidik tanda medan yang sudah diketahui posisinya di peta. Tidak selalu dua tanda
medan yang harus dibidik, jika kita berada di tepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang
suatu punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang dibidik. Intersection
adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih
tanda medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau
memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai dan tidak
terdapat di peta. Data yang diperoleh dari aktifitas-aktifitas tersebut diatas dapat disajikan
sebagai informasi dalam bentuk peta dan non-peta.

Pada praktikum yang dilakukan saat ini merupakan bentuk simulasi sebelum
dilakukannya survey hidrografi dengan memanfaatkan metode Intersection dan resection
dalam menentukan perhitungannya. Dengan metode intersection dan resection survey
hidrografi dapat dilakukan untuk penentuan posisi kapal yang memanfaatkan metode
intersection atau pengukuran jarak dan sudut dari dua buah titik yang telah diketahui
koordinat atau dua buah titik dari tempat berdirinya alat ataupun dengan metode resection
atau pengukuran data dari tiga buah titik di lapangan tempat berdiri target (Prisma atau Jalon)
untuk memperoleh suatu titik lain di lapangan tempat berdiri alat yang akan diketahui
koordinatnya dari titik tersebut.

1.2 Tujuan Praktikum

1. Praktikum dilakukan untuk mempermudah Mahasiswa memahami pelajaran yang


diberikan di dalam kelas.
2. Mahasiswa dapat mengaplikasikan teori Intersection dan Resection.
3. Dapat mengoprasikan alat untuk dapat mengukur sudut dan azimuth menggunakan
Theodolit dan Prisma di lapangan.
4. Melatih mahasiswa memahami konsepsi sudut dan azimuth (sudut arah) dalam
membidik titik kontrol yang sudah ada.
5. Melatih untuk menghitung titik ikat/kontrol atau koordinat dari jarak, sudut dan
azimuth yang telah diketahui berdasarkan 1 dan 2 titik pasti dengan metode
intersection maupun resection.

1.3 Waktu Praktikum

Pengukuran Penentuan Posisi :


Hari / Tanggal : Jumat, 9 Maret 2018
Waktu : 08.00 – 17.00
Pengukuran Resection :
Hari / Tanggal : Senin, 19 Maret 2018
Waktu : 11.00 – 16.00

1.4 Volume Kerja


1. Mendengarkan pengarahan dari asisten praktikum tentang pengukuran intersection
dan resection saat melakukan asistensi.
2. Meninjam alat di laboratorium geomatika, lalu mensurvey lapangan untuk memasang
patok, setiap anggota kelompok memasang satu patok, antar patok harus berjarak ±10
meter.
3. Patok diletakan ditempat yang terjangkau oleh titik-titik yang telah diketahui
koordinatnya : H1 dan H2
4. Pengukuran pertama, intersection:
 Memasang alat OS dititik H1, prisma dititik H2, dan prisma dititik patok P1.
 Melakukan pengukuran biasa dan luar biasa.
 Mengambil 5 data pengukuran pada setiap patok.
 Pengukuran yang sama dilakukan hanya dengan memindahkan prisma pada
titik patok P2, P3, P4, P5.
 Memasang alat OS dititik H2, prisma dititik H1, dan prisma dititik patok P1
 Melakukan pengukuran biasa dan luar biasa.
 Mengambil 5 data pengukuran pada setiap patok.
 Pengukuran yang sama dilakukan hanya dengan memindahkan prisma pada
titik patok P2, P3, P4, P5.
5. Pengukuran kedua, resection:
 Memasang alat OS pada titik patok P1, prisma dititik H1, H2, dan titik bantu
H.
 Melakukan pengukuran biasa dan luar biasa.
 Mengambil data pengukuran sebanyak 5 kali.
 Pengukuran yang sama dilakukan hanya dengan memindahkan alat OS pada
titik patok P2, P3, P4, P5.
6. Ketelitian dalam pengukuran ≤0,05
1.5 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum :
Nama Alat Jumlah Keterangan
OS 1 Baik
Prisma 3 Baik
Statif 4 Baik
Payung 2 Baik
Papan Mika 1 Baik
Patok 5 Baik
Helm 5 Baik
Rompi 5 Baik

1.6 Lokasi Praktikum


Lokasi praktikum Hidrografi I tentang Intersection dan Resection kelompok kami berada
di Titik H1 dan H2 disekitaran Embung dekat Gedung C di Institut Teknologi Sumatera.
BAB II
Dasar Teori

2.1 Intersection

Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di pet dengan menggunakan dua atau
lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau
memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection,
kita sudah yakin pada posisi kita di peta.
Langkah-langkah melakukan intersection :
a) lakukan orientasi medan, dan pastikan posisi kita; b)bidik obyek yang kita amati; c) pindahkan
sudut yang kita dapat dipeta; d) bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta, lakukan
langkah b dan c; e) perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek
yang dimaksud.

3. Resection
Resection adalah metode menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih
tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat
membidik tanda medan. Tidak selalu tanda medan harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai,
sepanjang jalan, atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang
dibidik.
Langkah-langkah resection :
a) Lakukan orientasi peta; b) Cari tanda medan yang mudah dikenali dilapangan dan di peta, minimal
dua buah; c) Dengan penggaris buat salib sumbu pada pusat tanda-tanda medan itu; d)Bidik dengan
kompas tanda-tanda medan itu dari posisi kita,sudut bidikan dari kompas itu disebut azimuth; e)
pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta, dan hitung sudut pelurusnya; f) perpotongan garis yang
ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita di peta
BAB III
LANGKAH KERJA

A. INTERSECTION
Langkah kerja Intersection adalah sebagai berikut:
1. Siapkan alat praktikum yaitu OS, dan 2 Prisma;
2. Langkah pertama yaitu pengukuran OS yang berdiri di ITR H2;
3. Berdirikan alat OS di ITR H2, Prisma di ITR H1, dan titik yang akan diukur yaitu
P1, P2, P3, P4, dan P5;
4. Bidik OS ke Prisma di ITR H1 lalu set 0;
5. Pertama untuk mendapatkan sudut biasa yaitu atur lensa bidik pada OS menjadi
pengukuran sudut biasa;
6. Bidik ke arah Prisma P1 lalu tekan measure pada OS dan didapatkan sudut biasa
kanan;
7. Bidik lagi ke arah Prisma di ITR H1 lalu tekan meassure dan didapatkan sudut
biasa kiri;
8. Putar lensa OS menjadi pengukuran sudut luar biasa, lalu bidik lagi ke Prisma di
titik P1, tekan meassure dan didapat sudut luar biasa kanan;
9. Arahkan dan bidik lagi ke Prisma di ITR H1, tekan meassure dan didapat sudut
luar biasa kiri;
10. Lakukan langkah 5-9 sebanyak 5 kali pengukuran;
11. Praktikum ini dilakukan oleh 5 orang Praktikan, jadi ada 5 titik P, maka dari itu
lakukan langkah 3-10 pada masing-masing titik P;
12. Langkah kedua yaitu tukar posisi alat OS ITR H2 dengan Prisma ITR H1,
berdirikan alat dan lakukan sentering;
13. Bidik dan set 0 alat OS pada Prisma di ITR H2;
14. Gunakan lensa pengukuran sudut biasa lalu bidik di Prisma H2, dan didapat sudut
biasa kanan;
15. Lalu bidik kearah Prisma di titik P1 dan tekan meassure dan didapat sudut biasa
kiri;
16. Putar lensa menjadi pengukuran sudut luar biasa lalu bidik ke Prisma ITR H2 dan
tekan meassure, didapat sudut luar biasa kanan;
17. Selanjutnya bidik lagi ke Prisma di titik P1, tekan meassure dan didapat sudut luar
biasa kiri;
18. Lakukan langkah 14-17 sebanyak 5 kali untuk mendapat pengukuran lebih;
19. Praktikum ini dilakukan oleh 5 orang Praktikan, jadi ada 5 titik P, maka dari itu
lakukan langkah 13-18 pada masing-masing titik P;
20. Catat semua hasil data yang didapat dan lakukan koreksi agar mengetahui data
layak diambil atau tidak.
B. RESECTION
Langkah kerja Resection adalah sebagai berikut:
1. Kebalikan dari Intersection, disini OS yang berpindah-pindah di tiap titik P, dan
Prisma berada di ITR H2, ITR H1, dan satu lagi berada di titik bantu;
2. Berdirikan dan sentering OS di P1, Prisma masing-masing pada ITR H1, ITR H2,
dan titik bantu;
3. Langkah pertama yaitu mengukur sudut biasa dengan mengatur lensa OS menjadi
pengukutan sudut biasa;
4. Arahkan dan bidik OS ke arah Prisma titik bantu lalu set 0 dan tekan meassure,
didapatlah sudut biasa titik bantu;
5. Setelah itu bidik ke arah Prisma di ITR H2 dan tekan meassure, didapatlah sudut
biasa H2;
6. Bidik lagi ke arah Prisma ITR H1, tekan meassure dan didapatlah sudut biasa H1;
7. Selanjutnya putar lensa OS menjadi pengukuran sudut luar biasa;
8. Bidik dan arahkan ke masing-masing Prisma di ITR H1, ITR H2, dan titik bantu,
tekan meassure dan didapatlah sudut luar biasa H1, H2, dan titik bantu;
9. Lakukan langkah 3-8 sebanyak 5 kali untuk pengukuran lebih;
10. Praktikum ini dilakukan oleh 5 orang Praktikan, jadi ada 5 titik P, maka dari itu
lakukan langkah 2-9 pada masing-masing titik P (P1, P2, P3, P4, dan P5)
11. Catat semua hasil data yang didapat dan lakukan koreksi agar mengetahui data
layak diambil atau tidak.
BAB IV
Data dan Pengolahan Data
4.1 Data
4.1.1 Tabel pengukuran intersection
4.1.2 Tabel pengukuran resection
4.1.3 Gambar Intersection
4.1.4. Gambar Resection

4.2 Pengolahan Data

4.2.1 Pengolahan data Intersection


Koreksi = 360 - ( Sudut LB. Kiri + Sudut LB. Kanan) – (Sudut B kiri + Sudut B kanan)
Rata – rata = Jumlah Sudut / jumlah sudut
B1= ((LB kanan – LB kiri) +(B kanan- B kiri)) /2
B2=((LB kanan – LB kiri) +(B kanan- B kiri)) /2
B3= 180-(B1+B2_
Azimuth H1H2= atand (XB-XA) / ( YB-YA)
Azimuth H1P = Azimurh H1H2 – B2
Jh12= sqrt ( (Xb-xa)^2+(Yb-Ya)^2)

JH1p= ( sin (B1)* Jh12 ) / sin (B3)


Xp= Xh1 + Jh1p * sin (azimuth H1P)
Yp= Yh1 + Jh1p * cos (azimuth H1P)

Hasil Perhitungan dalam koordinat kartesian

Intersection
XP1 -1677282.3 m
YP1 6125031.22 m
XP2 -1677277.6 m
YP2 6125040.76 m
XP3 -1677271.8 m
YP3 6125046.67 m
XP4 -1677271.7 m
YP4 61250406.3 m
XP5 -1677281.9 m
YP5 6125033.89 m

4.2.2 Pengolahan data Resection


alfa=((LB kanan – LB tengah)+(B kanan – B tengah)) / 2
beta=((LB tengah – LB kiri )+(B tengah – B kiri)) / 2
gamma=180-(alfa+beta)
Jab=sqrt ((x2-x1)^2+(y2-y1)^2)
Jah=(sind(gamma)/sind(alfa))*Jab
Azimut ab=atand ((xb-xa)/(yb-ya))
Azimut ah=azimutab-beta

Xh=x1+(Jah*sind(azimutah))
Yh=y1+(Jah*cosd(azimutah))

Azimut hc=atand((xc-xh)/(yc-yh))
Azimut hb=atand((xb-xh)/(xb-xh))
Teta = azimut hb-azimut hc
Epsilon = 180-(alfa+teta)

Jap=(sind(epsilon)/sind(alfa))*Jab
azimutap=azimutab-teta

xp=x1+Jap*sind(azimutap)
yp=y1+Jap*cosd(azimutap)

Hasil perhitungan dalam koordinat katesian

Intersection Rescetion
XP1 -1677282.3 -1677282.469
YP1 6125031.22 6125031.75
XP2 -1677277.6 -1677277.397
YP2 6125040.76 6125040.96
XP3 -1677271.8 -1677272.367
YP3 6125046.67 6125046.8
XP4 -1677271.7 -1677272.507
YP4 61250406.3 6125046.75
XP5 -1677281.9 -1677281.047
YP5 6125033.89 6125033.87

4.3 Script Matlab perhitungan intersection


clc
clear all
format long g

x1=-1677243.683
y1=6125051.979
x2=-1677275.037
y2=6125043.936

a1= dms2degrees([57 53 24]);


a2= dms2degrees([57 53 23]);
a3= dms2degrees([57 53 22]);
a4= dms2degrees([57 53 23]);
a5= dms2degrees([57 53 23]);

al1=dms2degrees ([237 53 23]);


al2=dms2degrees ([237 53 24]);
al3=dms2degrees ([237 53 23]);
al4=dms2degrees ([237 53 24]);
al5=dms2degrees ([237 53 23]);

b1=0;
b2=0;
b3=0;
b4=0;
b5=0;

bl1=dms2degrees ([180 0 0]);


bl2=dms2degrees ([180 0 0]);
bl3=dms2degrees ([180 0 0]);
bl4=dms2degrees ([180 0 0]);
bl5=dms2degrees ([180 0 0]);

c1= dms2degrees([88 49 32]);


c2= dms2degrees([88 49 31]);
c3= dms2degrees([88 49 30]);
c4= dms2degrees([88 49 32]);
c5= dms2degrees([88 49 32]);

cl1=dms2degrees ([268 49 31]);


cl2=dms2degrees ([268 49 30]);
cl3=dms2degrees ([268 49 31]);
cl4=dms2degrees ([268 49 32]);
cl5=dms2degrees ([268 49 29]);

d1=0;
d2=0;
d3=0;
d4=0;
d5=0;

dl1=dms2degrees ([180 0 0]);


dl2=dms2degrees ([180 0 0]);
dl3=dms2degrees ([180 0 0]);
dl4=dms2degrees ([180 0 0]);
dl5=dms2degrees ([180 0 0]);

c=[c1;c2;c3;c4;c5];
cl=[cl1;cl2;cl3;cl4;cl5];
d=[d1;d2;d3;d4;d5];
dl=[dl1;dl2;dl3;dl4;dl5];
total=[360;360;360;360;360];

koreksi=total-((cl+dl)-(c+d))

k1=degrees2dms(koreksi(1,1))
k2=degrees2dms(koreksi(2,1))
k3=degrees2dms(koreksi(3,1))
k4=degrees2dms(koreksi(4,1))
k5=degrees2dms(koreksi(5,1))

rc=(c1+c2+c3+c4+c5)/5
rcl=(cl1+cl2+cl3+cl4+cl5)/5
rd=(d1+d2+d3+d4+d5)/5
rdl=(dl1+dl2+dl3+dl4+dl5)/5

beta2=((rcl-rdl)+(rc-rd))/2
beta2=degrees2dms(beta2)

a=[a1;a2;a3;a4;a5];
al=[al1;al2;al3;al4;al5];
b=[b1;b2;b3;b4;b5];
bl=[bl1;bl2;bl3;bl4;bl5];
total=[360;360;360;360;360];

koreksi=total-((al+bl)-(a+b))

k1=degrees2dms(koreksi(1,1))
k2=degrees2dms(koreksi(2,1))
k3=degrees2dms(koreksi(3,1))
k4=degrees2dms(koreksi(4,1))
k5=degrees2dms(koreksi(5,1))

ra=(a1+a2+a3+a4+a5)/5
ral=(al1+al2+al3+al4+al5)/5
rb=(b1+b2+b3+b4+b5)/5
rbl=(bl1+bl2+bl3+bl4+bl5)/5

beta1=((ral-rbl)+(ra-rb))/2
beta2=88.825

beta3=180-(beta1+beta2)

dh12=sqrt((x2-x1)^2+(y2-y1)^2)

dh1p=(sind(beta1)*dh12)/sind(beta3)

xc=x2-x1
yc=y2-y1
if xc<0 && yc <0
xx=180;

elseif xc>0 && yc<0


xx=180;

elseif xc<0 && yc>0


xx=360;

else
xx=0;
end

alfah1h2=atand((xc)/(yc))+xx
alfah1p=alfah1h2-beta2

xp=x1+(dh1p*sind(alfah1p))
yp=y1+(dh1p*cosd(alfah1p))

4.4 Script Matlab Perhitungan Resection


clc
clear all
format long g

x1=-1677243.6825037
y1=66125051.97876251
x2=-1677275.03721407
y2=66125043.93586964
x3=-1677207.70297913
y3=6124997.83242221

k1=dms2degrees([0 0 0])
k2=dms2degrees([0 0 0])
k3=dms2degrees([0 0 0])
k4=dms2degrees([0 0 0])
k5=dms2degrees([0 0 0])

kl1=dms2degrees([180 0 0])
kl2=dms2degrees([180 0 0])
kl3=dms2degrees([180 0 0])
kl4=dms2degrees([180 0 0])
kl5=dms2degrees([180 0 0])

t1=dms2degrees([31 22 24])
t2=dms2degrees([31 22 25])
t3=dms2degrees([31 22 26])
t4=dms2degrees([31 22 25])
t5=dms2degrees([31 22 24])

tl1=dms2degrees([211 22 25])
tl2=dms2degrees([211 22 25])
tl3=dms2degrees([211 22 24])
tl4=dms2degrees([211 22 26])
tl5=dms2degrees([211 22 24])

ka1=dms2degrees([62 27 14])
ka2=dms2degrees([62 27 14])
ka3=dms2degrees([62 27 13])
ka4=dms2degrees([62 27 15])
ka5=dms2degrees([62 27 14])

kal1=dms2degrees([242 27 13])
kal2=dms2degrees([242 27 15])
kal3=dms2degrees([242 27 15])
kal4=dms2degrees([242 27 16])
kal5=dms2degrees([242 27 14])

k=[k1;k2;k3;k4;k5]
kl=[kl1;kl2;kl3;kl4;kl5]
t=[t1;t2;t3;t4;t5]
tl=[tl1;tl2;tl3;tl4;tl5]
ka=[ka1;ka2;ka3;ka4;ka5]
kal=[kal1;kal2;kal3;kal4;kal5]

ratak=(k1+k2+k3+k4+k5)/5
ratakl=(kl1+kl2+kl3+kl4+kl5)/5
ratat=(t1+t2+t3+t4+t5)/5
ratatl=(tl1+tl2+tl3+tl4+tl5)/5
rataka=(ka1+ka2+ka3+ka4+ka5)/5
ratakal=(kal1+kal2+kal3+kal4+kal5)/5

alfa=((ratakal-ratatl)+(rataka-ratat))/2
beta=((ratatl-ratakl)+(ratat-ratak))/2

gamma=180-(alfa+beta)

Jab=sqrt((x2-x1)^2+(y2-y1)^2)
Jah=(sind(gamma)/sind(alfa))*Jab

xc=x2-x1
yc=y2-y1
if xc<0 && yc <0
xx=180;

elseif xc>0 && yc<0


xx=180;

elseif xc<0 && yc>0


xx=360;

else
xx=0;
end

azimutab=atand((xc)/(yc))+xx
azimutah=azimutab-beta

Xh=x1+(Jah*sind(azimutah))
Yh=y1+(Jah*cosd(azimutah))

xd=x3-Xh
yd=y3-Yh
if xd<0 && yd <0
xx=180;

elseif xd>0 && yd<0


xx=180;

elseif xd<0 && yd>0


xx=360;

else
xx=0;
end

azimuthc=atand((xd)/(yd))+xx

xe=x2-Xh
ye=y2-Yh
if xe<0 && ye <0
xx=180;

elseif xe>0 && ye<0


xx=180;

elseif xe<0 && ye>0


xx=360;
else
xx=0;
end

azimuthb=atand((xe)/(ye))+xx
teta=azimuthb-azimuthc

epsilon=180-(alfa+teta)
Jap=(sind(epsilon)/sind(alfa))*Jab
azimutap=azimutab-teta

xp=x1+Jap*sind(azimutap)
yp=y1+Jap*cosd(azimutap)
BAB V
Analisis
1. Ridwan
Pada hasil perhitungan X dan Y Intersection dan Resection terlihat sedikit berbeda
pada belakang koma, hal ini dikarenakan titik bantu menggunakan titik hasil dari
perhitungan bukan dari hasil GPS RTK, titik bantu tersebut masih mempunyai
kesalahan yang belum ter koreksi. Selain itu pun terdapat kesalahan sistematis yaitu
suhu ketika melakukan pengukuran sangat panas yang membuat pandangan menjadi
kabur.Kesalahan kesalahan inilah yang menyebabkan perbedaan angka pada hasil
pengukuran P(x,y) intersection dan P(x,y) Resection.

2. Nurul
Pada praktikum kali ini, memiliki beberapa kendala dalam pengukuran dikarenakan
sedikitnya titik yang disediakan dan harus bergantian dengan kelompok yang lain.
Hasil yang didapat pada pengolahan data intersection dan resection adalah koordinat.

XP1 -1677282.3 -1677282.469


YP1 6125031.22 6125031.75
XP2 -1677277.6 -1677277.397
YP2 6125040.76 6125040.96
XP3 -1677271.8 -1677272.367
YP3 6125046.67 6125046.8
XP4 -1677271.7 -1677272.507
YP4 61250406.3 6125046.75
XP5 -1677281.9 -1677281.047
YP5 6125033.89 6125033.87

3. Adi Joyo Prasetyo


Berdasarkan data yang kami dapatkan diketahui bahwa salah satu faktor kesalahan
pengukuran yaitu kesalahan sistematis dimana saat melakukan pengukuran cuaca
sangat panas dan tidak mendukung, sehingga menyebabkan pandangan mulai terlihat
kabur saat melakukan pembidikan pada alat, hal ini tentu saja mengakibatkan tidak
konsistennya penembakan kearah Prisma. Selain itu cuaca panas juga mneyebabkan
nipo pada alat lama-kelamaan bergeser dan tidak sentring seperti sebelumnya, hal ini
tentu dapat mengubah sedikit sudut yang akan di dapatkan, sehingga tingkat
kekonsistenan pengukuran tidak sama namun bedanya relatif tidak berjauhan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Resection adalah metode untuk menentukan kedudukan/posisi di peta dengan
menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dan diketahui posisinya
di peta.
2. Intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan
dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk
mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan, tetapi sukar
untuk dicapai dan tidak terdapat di peta.
3. Pada hasil pengolahan data koordinat yang didapat terlihat sedikit berbeda pada
belakang koma, hal ini dikarenakan titik bantu menggunakan titik hasil dari
perhitungan bukan dari hasil GPS RTK, titik bantu tersebut masih mempunyai
kesalahan yang belum ter koreksi.

6.2. Saran
Saran untuk praktikum kedepannya berjalan dengan lancar yaitu :
1. Praktikan harus terlebih dahulu mengetahui tentang teori pengambilan data
dilapangan.
2. Praktikan harus bisa memaksimalkan waktu praktikum agar praktikum cepat
selesai dan hasil yang didapatkan juga maksimal.
3. Perhatikan kondisi dari alat ukur, pastikan selalu melakukan kolimasi sebelum
pengambilan dat agar tidak terjadi error.
4. Jika terjadi terjadi kendala maka segera tanyakan kepada asisten yang
mendampingi.
5. Kerjasama dalam kelompok sangat diperlukan saat praktikum sampai pembuatan
laporan.
Daftar Pustaka
Soewandito Soeodomo, Agoes. “Dasar dasar Perpetaan”.
Poerbandono, Der nat. 2012. “Survei Hidrografi”. Bandung: PT Refika Aditama
Suryoto. 1992. “
Wahyudi, Noor.2006. “Ilmu Ukur Tanah. Jatibaru
Lampiran

Anda mungkin juga menyukai