Anda di halaman 1dari 16

BLOK GASTROENTEROHEPATIKA

REFERAT PENYAKIT CROHN

DISUSUN OLEH:

Ness Yudhi Batara Girsang

2014-83-057

PENANGGUNG JAWAB BLOK:

dr. Is Asma’il Haq Hataul

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON

2017
PENYAKIT CROHN

Definisi

Penyakit Crohn adalah suatu penyakit nonspesifik dimana terjadi proses


inflamasi yang bersifat transmural. Penyakit crohn biasanya terjadi pada bagian
distal ileum dan kolon tetapi dapat juga terjadi pada seluruh bagian traktus
gastrointestinal.1

Penyakit Crohn terjadi 25% pada anak anak dan pada masa remaja dan
prevalensi yang ditemukan umumnya penyakit ini terjadi pada negara Negara
berkembang.1

Etiologi dan Epidemiologi

Dasar penyebab dari penyakit crohn ini umumnya tidak diketahui secara
pasti. Bukti bukti yang ada menyimpulkan bahwa adanya faktor predisposisi
seperti faktor genetik yang mempengaruhi respon sistem imun intestinal
terhadap lingkungan, makanan, dan agen agen infeksi. Namun belum ada agen
infeksi yang sudah dapat diidentifikasi sebagai penyebab penyakit Crohn.
Merokok merupakan faktor yang dapat mengembangkan eksaserbasi dari
penyakit ini.

Selama beberapa dekade, insidensi penyakit crohn meningkat pada


populasi negara negara barat seperti, eropa utara, ras kulit hitam amerika latin,
dan negara asia pasifik. Insiden biasanya terjadi pada umur dibawah 30 tahun
dan pada rentang umur antara 14-24 tahun dan tidak terdepat perbedaan yang
bermakna anatara pria dan wanita. Untuk populasi negara barat tampaknya
orang kulit putih yang lebih banyak terkena disbanding dengan orang kulit
hitam.1,2

Di Indonesia belum dilakukan studi epidemiologi ini. Data banyak


berdasarkan laporan rumah sakit (Hospital Based). Sangat mungkin terjadi variasi
akurasi diagnostiknya antara laporan mengingat akan terdapatnya perbedaan
sarana diagnostic penunjang yang tersedia.

Berdasarkan data dari unit-unit endoskopi di Jakarta dilaporkan


penyakitCrohn terdapat pada 1,4-5,2 % dari total pemeriksaan kolonoskopi.

Beberapa laporan kasus penyakit Crohn berdasarkan hasil peeriksaan


kolonoskopi di Indonesia (Konsensus Nasional tahun 2011) dapat dilihat pada
tabel 1.

Tabel 1. Prevalensi Kasus Penyakit Crohn di Unit-Unit Endoskopi2


RSCM Jakarta 2,9%
RS. Gatot Subroto Jakarta 3,2%
RS. Hasan Sadikin Bandung 1,56%
RS Sardjito Djogjakarta 3,3%
RS. Zainal Abidin Banda Aceh 1,7%
RS. Pekan Baru 2,15%
RS. Syaiful Anwar Malang 1%
RS. Usada Insani Tangerang 10,2%

Patologi 1

Pada Penyakit Crohn terdapat lesi pada mukosa berupa inflamasi kriptitis
dan abses kripta yang dapat bekembang menjadi ulserasi, umumnya berlokasi
pada nodul jaringan limfoid. Proses inflamasi dapat bekembang menjadi
peningkatan atau proliferasi makrofag dan sel inflamasi lain.
Inflamasi transmural yang berkembang dapat berakibat menjadi
limfadema dan penebalan dinding usus yang diakibatkan oleh fibrosis. Nodus
limfa mesenterika biasanya mengelami pembesaran ukuran. Inflamasi
transmural, ulserasi dalam, proliferasi otot muscular, fibrosis yang menyebabkan
fistula, abses mesenterika dan obstruksi adalah komplikasi lokal yang biasa nya
terjadi pada penyakit ini.

Granuloma dapat terjadi pada limfonodus, peritoneum, dan seluruh


bagian lapisan dinding usus yang dapat diihat dari pemeriksaaan laparotomi dan
laparoskopi berupa gambaran nodus milier.

Gejala Klinis1

Diare kronik dengan nyeri perut, demam, anoreksi, dan bagian perut
kanan bawah biasanya terdapat massa atau seperti perasaan penuh merupakan
keadaan yang biasanya terjadi pada penyakit Crohn. Banyak pasien yang dating
dengan gejala yang sama seperti apendisitis atau obstruksi intestinal. Artritis,
anemia, FUO, retardasi mental dapat terjadi pada gejala. Tanda yang paling
penting dapat dijumpai pada penyakit Crohn adalah (1) Inflamasi yang ditandai
dengan nyeri pada perut bagian kanan bawah. (2) Nyeri yang kambuh berulang
akibat adanya obstruksi disebabkan oleh stenosis intestinal yang ditandai dengan
peninkatan tekanan abdominal, konstipasi, mual. (3) difusi usus halus yang
mengakibatkan malnutrisi dan (4) fistula abdomen, abses yang kadang
mengakibatkan demam, nyeri abdomen yang massif,dan sering buang air.1

Manifestasi extraintestinal yang diakibatkan penyakit Inflammatory


Bowel Disease (IBD) berupa penyakit dermatologi seperti ertema nodosum
terjadi pada 15% pasien penyakit Crohn, penyakit Rematik seperti arthritis yang
banyak terdapat pada pasien penyakit Crohn sekitar 15-20% pasien IDB, penyakit
konjungtivitis pada mata, kolelitiasis pada hati yang lebih banyak terjadi pada
pasien penyakit crohn daripada penyakit colitis ulsratif yang juga merupakan
jenis penyakit IBD, penyakit urologic seperti nefrolitiasis dapat terjadi pada 10-
20% pasien penyakit Crohn. Penurunan massa tulag juga dapat terjadi sebagai
manifestasi extraintestinal penyakit crohn.3

Pemeriksaan Penunjang

Gambaran Laboratorium
Adanya abnormalitas , parameter labroatorium dalam hal kadar
hemoglobin,lekosit, LED, trombosit, C-reactive protein, kadar besi serum
dapat trjadi pada kasus penyakit Crohn, tetepi gambaran demikian juga
dapat ada pada kasus infeksi. Tidak ada parameter laboratorium yang
khusus dan sepsifik ntuk IBD. Tidak terdapat perbedaan laboratorium
yang khusus pada IBD akibat colitis ulseratif ataupun penyakit crohn.

Spesimen feses dapatdiperiksa untuk menilai adanya bakteri


patogen atau parasit. Sebagai petanda serologic dan dicoba dikaitkan
dengan pemeriksaan serologic unruk mendpatkan diagnosis pasti IBD.
Seperti Antineutrhopil citoplasmic antibodies (ANCA) banyak dikaitkan
dengan penyakit crohn.2

Endoskopi dan Radiologi


Pemeriksaan endoskopi mempunyai peranan penting dalam
diagnosis dan penatalaksanaan IBD. Akurasi diaagnostik kolonoskopi pada
IBD adalah 89% dengan 4% kesalahan dan 7% hasil yang meragukan .
Penyakit crohn bersifat transmural, segmental dan dapat terjadi pada
saluran cerna bagian atas, usus halus atau kolon. Dari data yang ada
dillaporkan bahwa 11% kasus penyakit crohn terbatas pada ilecaecal,33%
ilekolon, dan 56%hanya pada daerah kolon. Daerah ilecaecal mrupakan
daerha pedileksi untuk beberapa penyakit yaitu penyakit crohn, TBC,
amoebiasis.
Kapsul endoskopi dapat dipakai untuk memvisualisasikan lumen usus
halus padapenyakit crohn, tapi harus dipertimbangkan resiko apabila
terdaat striktur usus halus yang dapat menimbulkan retensi kapsul dan
berdampak padatimbulnya obstruksi usus.

Pada pemeriksaan radiologi peran CT scan dan ultrasonografi


lebih banyak ditujukan pada penyakit crohn dalam mendeteksi adanya
fistula maupun abses.

Histopatologi
Spesimen yang berasal dari operasi lebih mempunyai nilai
diagnostic dari pada specimen yang diambil secara biopsy parendoskopik.
Terlebih lagi bagi peyakit crohn yang lesinya bersifat transmural sehingga
terjangkau dengan teknik biopsy paredoskopi. Gambaran khas pada
penyakit crohn berupa adanya granuloma tuberkuloid (terdapat pada 20-
40% kasus) merupakan karakteristik disamping adanya infiltrasi sel
makrofag dan limfosit dilamina propria sertaulserasi yang dalam.

Prognosis Dan Komplikasi2


Prognosis
IBD biasanya ditandai oleh adanya periode eksaserbasi dan
remisi. Hanya 1% penderita PC yang tidak mengalami kekambuhan
setelah diagnosis dan pengobatan awal. Terdapat risiko
berkembangnya kanker pada penyakit usus kronis yang risikonya
sama antara PC dan KU.

Komplikasi
Dalam perjalanan penyakit ini, dapat terjadi komplikasi;

 Perforasi usus yang terlibat


 Terjadinya stenosis usus akibat proses fibrosis
 Megakolon toksik
 Perdarahan
 Degenerasi maligna

Penyakit crohn sering menimbulkan komplikasi akibat adanya lesi


penetrasi dan stnosis yang menimbulkan perforasi, abses, fistulasi
dan obstruksi gastrointestinal. Keterlibatan usus halus juga dapat
berdampak pada malabsorpsi yang menimbulkan anemia.
Predileksi penyakit crohn pada ileo-caecal juga dapat mengganggu
proses reabsorpsi empedu.

Alur Penegakan Diagnosis2

Tidak ada parameter tunggal baik dari symptom, pemeriksaan fisik,


pemeriksaan penunjang yang dapat menegakkan diagnosis pasti IBD.diagnoss
ditegakkan berdasarkan kombinasi eua aspek klinis.

Secara praktis diagnosis dapat didasarkan pada manifestasi klinis yang


ditimbulkan penyakit crohn yang sudah dibahas diatas. Anamnesis yang akurat
mengenai perjalanan penyakit yang akut disertai eksaserbasi kronik-remisi diare,
kadang berdarah, dan nyeri perut serta ada riwayat penyakit ini didalam
keluarga.

Pemeriksaan laboratorium yang dapat ditemukan nonspesifik dan dapat


ditemukan anemia, leukositosis, hipoalbuminemia.

Diagnosis Banding

Berbagai keadaan penyakit dapat miripdengan IBD baik secara


klinis,radiologic maupun endoskopi. Situasi nyeri perut yang disertai diare dan
hematokezia umum dapat terjadi pada colitis akibat infeksi akibat
campylobacter, salmonella, shigella dan E. Coli. Yerisinia dan mycobacterium
tuberculosis mempunyai predileksi ileum dan caecm sehingga mrip dengan
penyakit crohn. Kolitisiskemik juga dapat bermanfestasi klinik seperti IBD,
demikian pula keganasan gastrointestinal.

Tabel 2. Perbedaan antara penyakit crohn dengan colitis ulseratif.1

PENYAKIT CROHN KOLITIS ULSERATIF


Terdapat pada usus halus pada 80% Dibatasi pada daerah kolon
kasus
Pengaruh pada rectosigmoid Rectosigmoid tidak selalu
umumnya tidak ada. Dan biasanya terkena,perkembangan pada usus
terjadi pada kolon bagian kanan terjadi di daerah sebelah kiti usus
Perdarahan rectum biasanya tidak Perdarahan rectumselalu terjadi.
terdapat pada 15-25% kasus
Terjadi fistula, massa, abses. Fistula tidak terjadi
Lesi perianal terdapat signifikan pada Lesi perianal tidak terjadi
15-25% kasus
Pada pemriksaan sinar x dinding usus Dinding usus lesi simetrikal pada
ditemukan lesi segmental dan proximal rektum
asimetrikal
Mikroskopik inflamasi dan fissure Inflamasi hanya pada mukos pada
menyebar transmural kecuali pada beberapa kasus
Epiteloid granuloma pada dinding Granuloma epitelialtidak terlihat
usus atau limfonoduns pada 25-50%
kasus
Gambaran endoskopi tidak jelas Inflamasi dan difus
dengan ulserasi pada segmen

Penatalaksanaan
Mengingat bahwa etiologi dan patogenesisi IBD belum jelas maka
pengobatannya lebih ditekankan pada penghambatan kaskade proses inflamasi
yang berdampak pada hilangnya atau berkurangnya symptom. Disamping itu,
tujuan terapi adalh untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Obat Golongan Kortikosteroid

Obat golongan glukokortikoid merupakan obat pilihan untuk Penyakit


crohn semua derajat. Pada uumnya pilihan jatuh kepada prednisone atau metal
prednisolon . Pada keadaan bert dberikan kortikosteroid parenteral. Dosis rata
rata steroid yang banyak digunakan untuk mencapai fase remisi adalah setara
dengan 40-60mg rednisn. Pada penyakit crohn,kortikosteroid oral maupun
intravena efektif dalam menginduksi remisi.

Obat Golongan Asam Amino Salisilat

5-Aminosalisilat. Dosis: 50-100 mg/kgBB/ hari merupakan obat utama


untuk colitis ulseratif yang ada penyakit crohn didapatkan hasil rata-rata
menginduksi remisi.

Azthioprine dan 6-MP adalah analog purin yang juga efektif


mempetahankan remisi pada penyakit crohn dan menyembuhkan fistulasi dan
meminimalisasi penggunaan steroid. Efek samping yang serius adalah
leucopenia. Dosis standar 2,2,5mg/kg/hari dan 6-MP 1-1,5mg/kg/hari.

Methotrexate adalah intimetabolik folat yang dapat menginduksi remisi


Penyakit Crohn (pada dosis 25mg perminggu intramuskuler atau subkutan)

Terapi Bedah
Peran terapi beda terutama pada pengobatan konservatif gagal ata
terjadi komplikasi berupa perdarahan. Pada penyakitcrohn operasi biasanya
ditujukan pada komplikasi abses, fistula, perforasi, dan obstruksi.

REFERENSI

1. Mark, H.B, Berkow, R. (1999) The Merck Manual of Diagnosis and


Therapy, 17 edn., USA: Merck Research Laboratories.
2. Setiati, S., Alwi I. Dkk (2009) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, VI edn.,
Jakata: Interna Publishing.
LAMPIRAN REFERENSI DALAM BENTUK FOTO: