Anda di halaman 1dari 7

Jaringan Sosial Pedagang Barang Antik di Kota Surabaya

JARINGAN SOSIAL PEDAGANG BARANG ANTIK DI KOTA SURABAYA


(Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Pedagang Klithikan Barang Antik di Jalan Bodri Kota Surabaya)

Tri Hayyu Parasmo


Program StudI S1-Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya
Kingroad16@@gmail.com

Diyah Utami
Program StudI S1-Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya
diyahutami@unesa.ac.id

Abstrak

Pusat perdagangan dan komunitas barang antik di Kota Surabaya merupakan tempat terjadinya transaksi
jual – beli barang yang memiliki nilai kuno dan bernilai seni tinggi, serta merupakan tempat interaksi
sesama pecinta barang antik untuk mendapatkan barang antik sesuai keinginan. Akan tetapi untuk
memperoleh barang antik dibutuhkan usaha dari para pedagang dalam proses pengadaan barang antik
yang nantinya akan dijual. Penelitian ini menjelaskan tentang jaringan sosial yang terdapat pada para
pedagang barang antik di Jalan Bodri Kota Surabaya dalam mendapatkan barang antik dan berusaha
untuk menjabarkan aktor yang terlibat didalamnya. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan
pola dan bentuk jaringan sosial pedagang barang antik, mendeskripsikan pelaku yang terlibat dalam
jaringan sosial dan mendeskripsikan fungsi masing-masing aktor yang terlibat. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori jaringan sosial dari James S. Coleman..
Subjek penelitian ini yaitu para pedagang barang antik yang menjalankan bisnisnya melalui jaringan
sosialnya dan peran aktor makelar, tengkulak dan pengepul dibaliknya. Penelitian ini menggunakan
teknik analisis model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
adanya jaringan sosial dalam bisnis barang antik guna membangun hubungan sosial antara satu sama
lain yang secara dinamis saling terjalin. Aspek modal sosial di dalam jaringan sosial memainkan peran
penting yaitu kepercayaan dan resiprositas yang terjadi antara pedagang dengan pedagang, makelar
dengan tengkulak, tengkulak dengan pengepul, dan pedagang dengan tengkulak ketika terjadi proses
perburuan barang antik. Sedangkan hubungan antara makelar dan tengkulak terdapat jaringan
tersembunyi yang dilakukan sebagai salah satu cara untuk memperoleh hasil maksimal.
Kata kunci : Jaringan Sosial, Peran Aktor, Pedagang Barang Antik.

Abstract

The center of commerce and antiques community in Surabaya is the place where the sale and purchase
of goods that have ancient value and high artistic value, as well as a place of interaction among antique
lovers to get the antique as desired. However, to obtain the antiques required the efforts of the traders in
the process of procurement of antiques that will be sold. This research explains the social networking of
antique dealers in Jalan Bodri Kota Surabaya in getting antiques and trying to describe the actors
involved in it. The purpose of this study is to describe the patterns and forms of social networks of
antique dealers, to describe the actors involved in social networks and to describe the functions of each
of the actors involved. This study used a qualitative approach with social network theory perspective
from James S. Coleman. The subject of this research is the antique dealers who run their business
through social network and the role of actors realtor, wholesalers and collectors behind it. This research
uses analytical model analysis techniques interactive Miles and Huberman. The results of this study
indicate the existence of social networks in the antiques business in order to build social relationships
between each other that are dynamically intertwined. The social capital aspect in social network plays
an important role of trust and reciprocity between traders and traders, brokers with middlemen,
wholesalers with collectors, and traders with middlemen in the process of hunting for antiques. While
the relationship between realtor and middleman there is a hidden network that is done as one way to
obtain maximum results.
Keywords: social network , the role of actors , antique dealer.

1
Paradigma. Volume 05. Nomor 03. Tahun 2017

PENDAHULUAN melarang tindakan ekonomi tersebut. Sebaliknya jika


Kehidupan masyarakat tidak terlepas dari proses kerugian akan diperoleh bila suatu tindakan dilakukan
ekonomi, sosial dan politik maupun budaya yang terdapat maka seseorang akan menghindari untuk tidak
disekitarnya. Adanya kontinuitas problematika kehidupan melaksanakan tindakan tersebut.
dan solusi merupakan ciri dari kehidupan sedang berjalan Pedagang juga membutuhan suatu jaringan dengan
seiring dengan aktivitas yang dijalankannya. Keadaan ini orang lain sebagai ikatan antara satu sama lain.
berlangsung disemua sektor termasuk bidang ekonomi. ketersediaan jaringan dalam ruang lingkup pedagang
Pada era modern saat ini setiap manusia tidak lagi barang antik menjadi prioritas utama untuk mendapatkan
memenuhi kebutuhannya dengan cara memproduksi atau akses informasi mengenai barang antik yang terdengar
menghasilkan sendiri barang atau jasa yang dibutuhkan, dari orang atau kelompok melalui media hubungan sosial.
tetapi manusia satu sama lain melakukan berbagai Adanya jaringan tersebut juga memudahkan mobilitas
aktivitas seperti pertukaran, perdagangan, jual-beli, pedagang untuk mempertahankan usaha bisnisnya dan
penyewaan dan banyak lagi. Semua aktivitas inilah yang menggerakkan sumber daya dalam bentuk finansial
menggambarkan apa yang dinamakan dengan bisnis maupun informasi. Peran modal sosial juga diperlukan
(Nilamsari dan Wilujeng, 2006:2). Di dalam bisnis pula agar terciptanya hubungan antara pedagang, pembeli dan
terdapat relasi jaringan sosial yang tidak terbatas, hal itu aktor dibaliknya. Unsur utama dan terpenting dari modal
memberikan kesempatan bagi masyarakat mengenai sosial adalah kepercayaan (trust). Atau dapat dikatakan
informasi yang bisa memberikan nilai ekonomis sesuai bahwa trust merupakan syarat keharusan untuk
dengan bisnis yang sedang digelutinya. Begitu pula membentuk dan membangun modal sosial di masyarakat.
dengan bisnis barang antik. Asal barang antik di Lokasi Jalan Bodri yang tepatnya berada di sisi
indonesia lebih banyak dari barang peninggalan penjajah, selatan Gelora Pancasila Surabaya, Kawasan ini sudah
pada masa pemerintahan Belanda masih menggunakan terkenal sebagai lokasi utama untuk berburu barang antik
perdagangan dengan sistem barter khususya dipulau Jawa bagi warga lokal hingga mancanegara. Walaupun hanya
sebagai pusat pemerintahan pada waktu itu, kemudian untuk berjalan-jalan dengan melihat barang antik langka
barang-barang tersebut banyak dijual atau diloak karena yang dijual, tetapi rasa tertarik untuk memiliki salah satu
sudah tidak terpakai. Oleh sebab itu pada masyarakat barang zaman dulu (kuno) yang dijual tidak bisa
indonesia pasar barang antik atau klithikan sering dihindari bagi sebagian kalangan masyarakat. Bagi
terkesan sebagai pasar loak padahal barang antik ini kalangan pedagang, tidak sedikit pula yang sekedar
memiliki nilai seni tinggi dan menjadi buruan oleh turis menanyakan harga barang-barang antik yang dijual lalu
mancanegara (Jurnal Dimensi Arsitektur Vol. II. No.I, tidak membelinya. Untuk mengatasi hal tersebut para
2014:43). pedagang berusaha untuk mencari jalan solusi dengan
Cara mereka mendapatkan barang dagangan biasanya upaya berburu barang antik untuk memperbanyak koleksi
mereka hunting (berburu) ke kota dan pedesaan atau dari di lapaknya agar semakin menarik perhatian para
keluarga yang masih berhubungan darah dengan para pengunjung yang melihatnya, dan memanfaatkan
ningrat. Menurut penjualnya barang yang dibandrol hubungan sosial dengan orang terdekat dalam strategi
sampai puluhan juta tersebut didapat dari para abdi dalem bisnis yang dilakukan.
yang sedang butuh dana. Mobilitas warga juga semakin Hal itulah yang kemudian menurut peneliti menjadi
meningkat seiring berkembangnya waktu sehingga alasan mengenai suatu pentingngnya relasi maupun
kegiatan bisnis menjadi upaya yang dilakukan oleh jaringan antar suatu individu atau kelompok tertentu
masyarakat yang semakin mendominasi aktivitas sebagai dalam kaitannya dengan bisnis berdagang barang antik
masyarakat modern. penting untuk dikaji sebagai usaha dalam menjalankan
Barang antik atau kuno saat sekarang ini semakin bisnis tersebut. Penelitian ini berusaha untuk melihat
jarang dijumpai, keberadaanya semakin langka karena sebuah proses jaringan sosial dan melihat gambaran fakta
banyak masyarakat yang rela untuk memburu barang yang terdapat dilapangan dengan maksud dan tujuan yang
antik walaupun dengan harga yang tinggi. Bisnis dilakukan dalam memaknai usahanya untuk mendapatkan
klithikan bagi yang menjalaninya adalah salah satu upaya keuntungan.
dalam proses ekonomi sekaligus menyalurkan hobi bagi
para pemain atau penikmat barang antik. Bagi pedagang KAJIAN PUSTAKA
barang antik, tindakan ekonomi yang dilakukan Jaringan merupakan terjemahan dari net dan work.
diantaranya lebih mengutamakan untung rugi yang Menurut M.Z Lawang jaringan didefinisikan sebagai
menjadi pertimbangan (cost-benefit ratio). Jika gabungan kata net dan work, sehingga menjadi network,
keuntungan didepan mata maka pedagang tersebut akan yang penekanannya terletak pada kerja bukan pada jaring
meraihnya meski nilai dan norma adat atau agama dan ditafsirkan sebagai kerja (bekerja) dalam hubungan
Jaringan Sosial Pedagang Barang Antik di Kota Surabaya

antara simpul-simpul seperti halnya jaring (net). kolektivitas) mempunyai akses berbeda terhadap sumber
Berdasarkan cara berpikir seperti itu, maka jaringan daya yang bernilai (kekayaan, kekuasaan, informasi).
(network), menurut lawang dimengerti sebagai: (1) Ada Akibatnya adalah bahwa sistem yang terstruktur
ikatan antar simpul (orang atau kelompok) yang cenderung terstratifikasi, komponen tertentu tergantung
dihubungkan dengan media (hubungan sosial). Hubungan pada komponen yang lain (Ritzer dan Goodman, 2011:
sosial ini diikat dengan kepercayaan. Kepercayaan itu 383).
dipertahankan oleh norma yang mengikat kedua belah Menurut pandangan ekonomi, tindakan ekonomi
pihak; (2) Ada kerja antar simpul (orang atau kelompok) dibatasi oleh selera dan kelangkaan sumberdaya,
yang melalui media hubungan sosial menjadi satu termasuk tekonologi. Dengan demikian secara prinsip,
kerjasama, bukan kerja bersama-sama; (3) Seperti halnya sekali hal tersebut dikenal maka mudah untuk
sebuah jaring (yang tidak putus) kerja yang terjalin antar memprediksi tingkahlaku aktor, karena selalu
simpul itu pasti kuat menahan beban bersama; (4) Dalam memaksimalkan pemanfaatan dan keuntungan. Tindakan
kerja jaring tersebut terdapat ikatan (simpul) yang tidak ekonomi biasanya tidak berada di ruang hampa, suatu
dapat berdiri sendiri. Jika satu simpul tersebut putus, ruang yang tidak melibatkan hubungan sosial dengan
maka keseluruhan jaring itu tidak bisa berfungsi lagi, orang atau kelompok lain. Tetapi, pada umumnya sebuah
sampai simpul tersebut diperbaiki. Semua simpul menjadi tindakan ekonomi terjadi dalam konteks hubungan sosial
satu kesatuan dan ikatan yang kuat. Dalam hal ini analogi dengan orang lain. Dalam pertukaran sosial (social
tidak seluruhnya tepat terutama kalau orang yang exchange) telah menimbulkan perbedaan yang
membentuk jaring itu hanya dua saja; (5) Media (benang berkepanjangan, sebuah perspektif yang berkembang di
atau kawat) dan simpul tidak dapat dipisahkan, atau seputar konsep resiprositas. Pertukaran sosial dilandaskan
antara orang-orang dan hubungannya tidak dapat pada prinsip transaksi ekonomis yangg elementer dalam
dipisahkan; dan (6) Ikatan atau pengikat (simpul) adalah artian pilihan rasional. Orang yang menyediakan barang
norma yang mengatur dan menjaga bagaiman ikatan dan atau jasa sebagai imbalannya berharap memperoleh
medianya itu dipelihara dan dipertahankan. barang atau jasa yang diinginkan (Upe, 2010: 171).
Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa studi Menurut James S. Coleman, pilihan rasional memusatkan
jaringan sosial melihat hubungan antar individu yang perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai manusia
memiliki makna subyektif yang berhubungan atau yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud.
dikaitkan dengan sesuatu sebagai simpul dan ikatan. Artinya aktor mempunyai tujuan dan tindakan yang
Simpul dilihat melalui aktor inidividu di dalam jaringan, tertuju pada upaya unutk mencapai tujuan itu. aktor pun
sedangkan ikatan merupakan hubungan antar para aktor dipandang mempunyai pilihan, nilai atau keperluan.
tersebut (Damsar, 2011: 158).
Jaringan sosial melihat suatu hubungan-hubungan METODE
yang tercipta antar banyak individu dalam suatu Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan perspektif teori jaringan sosial terutama pada konsep
kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa modal sosial James S Coleman sebagai suatu inti
dalam bentuk formal maupun bentuk informal. Hubungan hubungan sosial. Perspektif jaringan sosial ini berusaha
sosial merupakan bentuk gambaran atau cerminan dari untuk melihat sebuah fenomena sosiologi ekonomi yakni
kerjasama dan koordinasi antar warga yang didasari oleh jaringan yang saling terhubung antar aktor satu dengan
ikatan sosial yang aktif. James S Coleman menjelaskan yang lainnya dalam realitas yang terdapat dipedagang
bahwa aktor individu biasanya mengejar kepentingan diri barang antik. Teori jaringan menggambarkan hubungan-
mereka sendiri, jika mereka memilih bekerjasama, itu hubungan sosial atau pola objektif ikatan-ikatan yang
semua karena hal tersebut menjadi kepentingannya (John mnghubungkan para anggota (individu dan kolektif) di
Field, 2010: 39). masyarakat. Modal sosial menurut coleman merupakan
Pedagang barang antik dalam menjalankan bisnisnya suatu sumber daya yang melibatkan harapan akan
perlu sebuah kerjasama agar tetap berjalan dengan resiprositas, dan melampaui individu manapun sehingga
adanya hubungan orang disekitarnya yang mempunyai melibatkan jaringan yang lebih luas yang hubungannya
sumber informasi tentang sumber keberadaan barang diatur oleh tingginya tingkat kepercayaan dan nilai-nilai
antik didaerah tertentu, maupun hubungan untuk bersama.
mendatangkan calon pembeli. Mark Granoveter Subjek dalam penelitian ini adalah para pedagang
melukiskan hubungan di tingkat mikro seperti tindakan barang antik yang dalam aktivitasnya menjalankan bisnis
yang “melekat” dalam hubungan pribadi konkret dan barang antik melalui jaringan sosialnya untuk
dalam struktur (jaringan) hubungan itu. Hubungan ini memperoleh barang dagangan dan peran aktor dibalik
berlandaskan gagasan bahwa setiap aktor (individu atau jaringan sosial pedagang barang antik yaitu makelar,

3
Paradigma. Volume 05. Nomor 03. Tahun 2017

tengkulak dan pengepul yang bertugas memberikan digunakan untuk mengetahui dan menggali secara
informasi dan mencarikan barang antik sesuai dengan mendalam data-data yang berkaitan dengan Jaringan
permintaan para pedagang. Berdasarkan fokus dari Sosial Pedagang Barang Antik di Jalan Bodri Kota
penelitian jaringan sosial pedagang barang antik, maka Surabaya. sebelum melakukan wawancara peneliti
subyek yang menjadi informan dalam penelitian kali ini menyusun pedoman wawancara berupa garis besar
terdapat empat orang pedagang dan satu orang tengulak pokok pertanyaan dan wawancara kali ini tidak dilakukan
yakni Agus Sophian (43 tahun), Ryan Hidayat (25 secara terstruktur dan lebih terbuka agar jawaban dari
tahun), Agus Setyawan (36 Tahun), H. Muharram (54 informan lebih lugas dan mendalam.
tahun), Sumanto (44 tahun), Agus Solikin (51 Tahun), Tahap Pengumpulan Data Merupakan suatu
dan Sudiran (52 Tahun). Alasan pemilihan informan pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan
diatas karena telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan tertentu dan sejenisnya. Pengumpulan data dilakukan
dalam penelitian jaringan sosial pedagang barang antik di untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam
kota Surabaya. rangka mencapai tujuan penelitian. Kedua, reduksi data
Berkaitan dengan permasalahan maupun tujuan yaitu Proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penelitian yang telah diuraikan di depan, maka dalam penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data
kaitan ini peneliti mengambil lokasi di Jalan Bodri Kota kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di
Surabaya tepatnya berada di sisi selatan Gelora Pancasila lapangan. Reduksi data berlangsung terus-menerus
sebagai lokasi penelitian. Lokasi tersebut tersebut dipilih selama proyek yang berorientasi penelitian kualitatif
karena ada deretan kios yang menjual berbagai macam berlangsung. Ketiga, penyajian data merupakan bentuk
barang-barang antik yang sesuai dengan apa yang sedang uraian singkat, bagan, hubungan antarkategori, dan
di teliti yaitu tentang Jaringan Sosial Pedagang Barang sejenisnya. Menurut Miles dan Huberman, yang paling
Antik di Kota Surabaya dengan pertimbangan bahwa sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian
pasar barang antik dengan kualitas maupun kondisi yang kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
benar-benar terawat adalah di Jalan Bodri tersebut, Keempat, penarikan kesimpulan ialah pernyataan singkat
bahkan pasar barang antik tersebut sudah menjadi jujukan tentang hasil analisis deskripsi dan pembahasan maupun
para wisatawan lokal hingga mancanegara. Dibalik hal tentang hasil pengetesan hipotesis. Tujuan penulisan
ini tentunya terdapat sebuah jaringan yang saling kesimpulan adalah untuk memberikan kesempatan dan
terhubung antara satu sama lain yang secara dinamis informasi kepada para pembaca guna mengetahui secara
saling terjalin untuk mendapatkan salah satu barang antik cepat tentang apa hasil akhir yang diperoleh dari
dengan kondisi sempurna sehingga memiliki nilai jual penelitian yang telah dilakukan (Hadi, 1978: 3).
tinggi, hal itu tentunya diperlukan sebuah aktor-aktor
yang saling bekerjasama didalamnya untuk saling HASIL DAN PEMBAHASAN
membantu dalam memburu maupun melobi pemilik Jaringan social merupakan suatu pengelompokan yang
barang antik tertentu untuk melepasnya agar dapat di terdiri atas sejumlah orang, paling sedikit kurang dari tiga
perjualbelikan, keterkaitan masing-masing aktor dalam orang, yang masing – masing mempunyai identitas yang
proses memburu barang antik menjadi peranan penting tersendiri dan masing – masing dihubungakan antara satu
dalam kesuksesan para pedagang. dengan lainnya melalui hubungan sosial yang ada
Proses mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh sehingga melalui hubungan tersebut mereka itu dapat
peneliti diperlukan pengumpulan data dengan dikelompokkan sebagai suatu kesatuan social (Bruner,
menggunakan metode-metode sebagai berikut: pertama, 1998: 47). Jaringan sosial pada suatu masyarakat
Observasi merupakan peninjauan secara cermat atau menunjukkan tipe hubungan sosial yang terikat atas dasar
pengamatan (Salim dan Salim, 1991: 1051). Melalui identitas kekerabatan, ras, etnis, pertemanan, ketanggaan,
observasi, peneliti dapat menangkap gambaran keadaan ataupun atas dasar kepentingan tertentu dan
dilapangan secara nyata. Dalam penelitian ini observasi memperlihatkan suatu hubungan sosial yang terjadi
yang dilakukan yaitu observasi partisipatif dimana sehingga lebih menunjukkan proses dari pada bentuk.
peneliti akan melibatkan diri dalam setiap kegiatan yang Pedagang barang antik memiliki keunikan tersendiri
dilakukan oleh informan untuk dapat melihat tentang dalam menjalankan bisnisnya. dalam usaha ini, pedagang
interaksi yang dilakukan informan serta dapat lebih barang antik diharuskan mempunyai jaringan yang
memahami tentang jawaban apa yang akan diberikan atau didalamnya terdapat modal sosial. Modal sosial
disampaikan oleh informan. Serta dengan menggunakan terhubung dengan individu atau kelompok yang berada
metode observasi ini diharapkan data yang diperoleh didalam ruang lingkup tertentu, Modal sosial menjadi
dapat memenuhi validitas dan kesesuaian hasil dengan berpengaruh bagi para pedagang barang antik untuk
keadaan di lapangan. Kedua, Metode wawancara
Jaringan Sosial Pedagang Barang Antik di Kota Surabaya

meluaskan jaringannya dalam usahanya tersebut, adanya tengkulak tidak akan terburu-buru melainkan dengan cara
modal sosial yang terfokus pada jaringan sosial berguna perlahan dan bertahap; (3) Peran aktor pengepul dalam
untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. norma yang dilakukannya ialah menjalin kesepakatan
Menurut James S Coleman, modal sosial adalah sarana dengan tengkulak ketika pengepul memperoleh sebuah
untuk menjelaskan bagaimana orang atau aktor berusaha barang antik dari usahanya sebagai penadah barang-
bekerja sama melalui hubungan sosialnya yang barang bekas. Melakukan komunikasi ialah satu cara
mencakup berbagai entitas, dan secara keseluruhan terdiri yang dilakukan oleh pengepul ketika dia mendapat
dari beberapa aspek struktur sosial, dan itu semua barang antik agar hubungan sosial ini tetap terbentuk;
memfasilitasi tindakan tertentu para aktor atau orang dan (4) Norma bagi pedagang ialah menjual barang antik
yang bekerja sama dalam struktur tersebut (Field, 2010: sesuai dengan kondisi yang di dapatkan agar pengunjung
37). tidak merasa kecewa. Bagi pedagang barang antik
Berdasarkan hasil penelitian, terbentuknya jaringan kebiasaan untuk menjaga dan memperbaiki barang antik
sosial pedagang barang antik karena terdapat: Pertama, menjadi tanggung jawab yang mutlak untuk kesuksesan
resiprositas terjadi apabila hubungan timbal balik antar bisnis yang sedang dijalankan.
individu – individu atau antara kelompok – kelompok
sering dilakukan. Hubungan ini bersifat simetris antara Hubungan Sosial Antar Aktor
berbagai pihak yang memiliki posisi dan peranan yang Para aktor khususnya memiliki modal sosial yang
relatif sama dalam suatu proses pertukaran. Hubungan ini dimiliki untuk mempermudah dalam aktivitasnya ini.
terjadi dalam hubungan sosial berbagai pihak bersifat Tindakan yang dilakukan oleh pedagang untuk
intim dan akrab. Kedua, kepercayaan adalah unsur memperoleh barang antik yang mereka incar diharuskan
penting dalam modal sosial yang merupakan perekat bagi mampu membangun konsep dalam modal sosial salah
suatu hubungan sosial dalam kelompok masyarakat. satunya yaitu kepercayaan. Sehingga kepercayaan
Dengan menjaga suatu kepercayaan, orang-orang bisa tersebut memunculkan hubungan sosial yang terjalin
bekerja sama secara efektif. Social kapital adalah antara: (1) Hubungan sosial yang terjadi antara
kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum didalam Tengkulak dan makelar menciptakan kepercayaan dalam
sebuah masayarakat atau bagian-bagian tertentu darinya. perburuan barang antik, tengkulak yang bekerjasama
Social kapital bisa dilembagakan dalam kelompok sosial dengan makelar memerlukan informasi darinya untuk
yang paling kecil dan paling mendasar. Menurut Lawang, menjembatani tengkulak dan pemilik barang antik agar
kepercayaan merupakan hubungan antara dua belah keduanya bisa berkomunikasi; (2) Pola ini mengharuskan
pihak atau lebih yang menguntungkan salah satu pihak seorang tengkulak memiliki sebuah jaringan sosial yang
atau kedua belah pihak melalui interaksi sosial. Ketiga, luas karena dia tidak hanya mengandalkan salah seorang
nilai dan norma sosial, nilai Merupakan suatu makelar semata, melainkan berusaha berinteraksi dengan
pengalaman yang berkaitan dengan ide yang dimiliki pengepul sebanyak-banyaknya yang menjadi jaringannya
secara bersama tentang sesuatu yang baik dan buruk. dalam memburu barang antik; (3) Hubungan yang
Sedangkan norma ialah ketentuan yang berisi aturan terbentuk antara tengkulak dan pedagang barang antik
dalam suatu kelompok masyarakat yang harus dijalankan dalam bisnis yang sedang dijalankan oleh pedagang di
demi terwujudnya sebuah nilai. Menurut Sullivan dan kawasan Jalan Bodri muncul karena pedagang
Thompson membagi norma atas tiga macam yaitu: membutuhkan barang antik di saat tidak memburu ke luar
kebiasaan, tata kelakuan, dan hukum. Dalam kaitannya kota. Dengan memiliki sumber daya barang antik,
dengan aktor dalam jaringan sosial pedagang barang membuat tengkulak mendapat kepercayaan bagi
antik, norma memberikan suatu aturan bagi para aktor pedagang dalam hal bisnis barang antik; dan (4)
dibaliknya untuk tetap mempertimbangkan untung rugi Hubungan sosial ini terdapat jalinan interaksi antar
dan mampu menghasilkan keuntungan. Berikut adalah pedagang dan pembeli yang berkaitan dengan barang
norma yang terdapat pada masing-masing aktor: (1) Bagi antik. dalam hal ini seorang konsumen secara tidak
seorang makelar barang antic, norma dan nilai dalam langsung terjalin keakraban dengan pedagang barang
aktivitasnya ini ialah dengan memberikan sebuah kabar antik ketika barang tersebut laku terjual. Keberadaan
informasi kepada tengkulak yang dikenalnya mengenai seorang pembeli dalam hal ini ialah mewujudkan harapan
keberadaan barang antik yang telah menjadi kesepakatan dari proses perburuan barang antik untuk mendapatkan
dia dengan tengkulak, sebagai usaha mensukseskan keuntungan dari upaya jaringan sosial didalamnya.
perburuan barang antik; (2) Norma tengkulak sendiri
ialah memburu barang antik yang sesuai dengan
informasi dari makelar itu sendiri, dan ketika melakukan
proses perburuan kepada pemilik barang antik, seorang

5
Paradigma. Volume 05. Nomor 03. Tahun 2017

Tabel Model Kerjasama Antar Aktor Bagan Pola bekerjanya aktor dalam jaringan sosial
pedagang barang antik
No Hubungan antar actor Model Kerjasama
1. Tengkulak-makelar • Kedua aktor saling berkaitan
selama proses perburuan
Makelar
(Akses Informasi)
barang antik yang dilakukan
oleh tengkulak.
• Saling memiliki pegangan Tengkulak
yakni modal sosial berupa
informasi yang dimiliki
makelar, dan modal materi
Pengepul
berupa uang yang dimiliki barang bekas
tengkulak untuk
memperlancar proses
perburuan.
• Ada kesepakatan proses timbal
pengunjung Pedagang
balik antar aktor terkait barang
Barang antik
antik yang diperoleh.
2. Tengkulak-Pengepul • Berusaha berinteraksi
(merangkul) pengepul
Mewujudkan nilai dan norma
sebanyak-banyaknya dengan
cara melalui jaringan sosial Pengunjung
yang luas. Ket:
• Muncul kesepakatan
kepercayaan antar dua aktor = Jaringan tersembunyi
yakni pihak yang memberikan = Jaringan tidak tersembunyi
kepercayaan (seorang
tengkulak) dan yang diberi PENUTUP
kepercayaan (seorang Simpulan
pengepul), sebagai upaya agar
barang antik bisa tidak lolos Proses mendapatkan barang dagangan bagi para
ke tangan orang lain. pedagang barang antik di Gelora Pancasila Surabaya
3. Tengkulak-pedagang • Tengkulak memiliki memerlukan suatu usaha yang tidak langsung secara
keterikatan hubungan sosial instan bisa memenuhi keinginannya. Peran-peran aktor
kepada beberapa pedagang
barang antik.
secara perlahan memunculkan jaringan sosial yang terjadi
• Tengkulak Menawarkan dalam suatu kelompok tertentu. Tindakan yang dilakukan
barang antik sesuai permintaan oleh beberapa aktor seperti makelar, tengkulak dan
pedagang dengan harga yang pengepul untuk memperoleh barang antik merupakan
sudah disepakati.
pola jaringan sosial yang terbentuk secara alami karena
• Memanfaatkan wadah
paguyuban untuk menjalin saling memiliki kebutuhan masing-masing. Terbentuknya
interaksi secara intens. jaringan sosial mempermudah masing-masing aktor
4. Pedagang-pembeli • Menerima pesanan permintaan untuk memenuhi tujuan, terutama bagi tengkulak untuk
barang antik dari konsumen
sesuai kesepakatan masing- menyalurkan barang antik kepada pedagang. Di sisi lain
masing. para pedagang di Jalan Bodri Gelora Pancasila Surabaya
• Membangun interaksi antar juga memanfaatkan sosial media sebagai jaringannya
dua pihak untuk menarik
minat konsumen. terlepas dari ketergantungan kepada tengkulak, hal itu
dilakukan semata-mata agar usaha bisnisnya tetap
berjalan sekaligus memenuhi hasrat pedagang sebagai
penghobi barang jadul. Aspek modal sosial di dalam
jaringan sosial memainkan peran penting yaitu
kepercayaan dan resiprositas yang terajadi antara
pedagang dengan pedagang, makelar dengan tengkulak,
tengkulak dengan pengepul, dan pedagang dengan
tengkulak ketika terjadi proses perburuan barang antik
atas dasar kepercayaan yang dijunjung oleh aspek
kekerabatan dan kepentingan tujuan bersama.
SARAN DAFTAR PUSTAKA
Proses perdagangan jual beli barang antik yang terjadi di
kota-kota besar seperti Kota Surabaya ini memberikan Bruner, Edward. 1998, “Jaringan Sosial” dalam Parsudi
keunikan tersendiri dalam kegiatan bisnis yang dilakukan Suparlan. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta:
oleh masyarakat. Perburuan barang antik yang terjadi Gramedia.
sejak lama merupakan wadah bagi para penikmat
sekaligus penghobi yang memiliki kesenangan terhadap Damsar. 2011, Pengantar Sosiologi Ekonomi Edisi
benda-benda klasik. Dalam bisnis yang dijalankan ini Revisi. Jakarta: Kencana.
terdapat jaringan sosial dibaliknya yang sangatlah Field, John. 2010, Modal Sosial. Bantul: Kreasi Wacana.
penting untuk mempererat jalinan komunikasi antar
kelompok tertentu. dalam jaringan sosial pedagang Hadi, Sutrisno. 1978, Metodologi Research. Yogyakarta:
barang antik ini sebaiknya peran aktor dibaliknya ketika Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
menjalankan aktivitasnya diharapkan sesuai dengan alur Moleong, Lexy J. 2011, Metodologi Penelitian
yang positif dengan tidak memburu barang antik yang Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja
dilindungi demi keuntungan semata, jadi hal itu kembali Rosdakarya.
lagi kepada kesadaran pada diri individu masing-masing
Nilasari, Irma dan Wiludjeng, Sri. 2006, Pengantar
dalam menghargai kekayaan sejarah.
Bisnis. yogyakarta: Graha Ilmu.
Salim, Peter dan Salim, Yenny. 1991, Kamus Bahasa
Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern
English Press.
Upe, Ambo. 2010, Tradisi Aliran dalam Sosiologi Dari
Filosofi Positivistik ke Post Positivistik.
Jakarta: Rajawali Pers.