Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan laju perkembangan yang terus berkembang di Indonesia, maka


banyak bermunculan perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar.
Tujuan utama suatu perusahaan yaitu memperoleh laba seoptimal mungkin dan
mengawasi berjalannya perusahaan serta berkembangnya perusahaan, maka hal
yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan adalah mengadakan penilaian terhadap
persediaan dan pengaruhnya terhadap laba perusahaan. Hal ini dilakukan karena
persediaan bagi kebanyakan perusahaan merupakan salah satu modal kerja yang
sangat penting didalam suatu perusahaan, dimana prosedurnya terus menerus
mengalami perubahan dan perputaran.
Dalam suatu perusahaan, pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi
perusahaan dalam mengambil suatu keputusan dan persediaan merupakan salah satu
dari beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus
meneru diperoleh, diproduksi dan dijual. Oleh karena itu, system akuntansi itu
sendiri harus dilaksanakan sebaik mungkin sehingga tidak mengalami hal-hal yang
mengganggu jalannya operasi perusahaan.
Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk
memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan
dalam pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam
menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh. Jika persediaan akhir dinilai
terlalu rendah dan mengakibatkan harga pokok barang yang dijual terlalu rendah,
maka pendapatan bersih akan mengalami peningkatan. Begitu juga dengan lamanya
persediaan yang tersimpan digudang akan mempengaruhi biaya sehingga
kemungkinan akan terjadinya kerusakan yang mengakibatkan kerugian dan
kemungkinan juga persediaan akan kadaluarsa sehingga tidak laku dipasar.

1
Seseorang manajer hendaklah mempelajari dan memahami secara keseluruhan
tentang manajemen persediaan. Sehingga seorang manajer dapat mengetahui
keadaan bahan persedian disebuah perusahaan secara langsung dilapangan, bukan
sekedar yang termuat di laporan atau dikertas semata. Dan yang paling penting,
seorang manajer tau persis metode perhitungan persediaan seperti apa yang akan
digunakan dalam perusahaannya. Dengan demikian apabila seorang manajer
menghadapi situasi yang berkenaan dengan persediaan, manajer tersebut dengan
cepat dan mudah dalam mengambil keputusan yang tepat.

1.2 Identifikasi Masalah

Mengingat betapa pentingnya manajemen persediaan bagi suatu perusahaan,


manajer atau penengusaha dalam berbisnis. Maka, keberadaannya selalu dibutuhkan
oleh pelaku bisnis atau pengusaha untuk dipelajari dan dianalisis guna mencari,
merencanakan dan menerapkan strategi mana yang cocok dalam mengelola
persediaan sehingga mampu mengoptimalkan keuntungan dalam perusahaan.

Dengan demikan kita perlu mengetahui, mempelajari dan memahami apa itu
manajemen persediaan?. Dalam mempelajari manajemen persediaan, kita tidak akan
terlepas oleh teori-teori yang berkaitan dengan persediaan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, dalam penulisan makalah ini kelompok kami berusaha untuk
memudahkan pembahasan, supaya lebih mudah dalam penyampaiannya.

Maka, kami hanya memaparkan masalah-masalah sebagai berikut :

- Apa itu Manajemen Persediaan?


- Apa saja jenis manajemen persediaan?
- Apa pertimbangan di dalam manajemen persediaan?
- Seperti apa bentuk pengaplikasiannya terhadap suatu perusahaan?

2
Dengan pengidentifikasian beberapa masalah diatas kami juga memberikan
beberapa contoh yang nyata serta mudah dipahami.

3
BAB II
MANAJEMEN PERSEDIAAN

2.1 Pengertian Manajemen Persediaan


Istilah persediaan memberikan pengertian yang berbeda-beda tetapi pada
dasarnya maksud dan tujuannya adalah sama. Berikut pendapat para ahli mengenai
manajemen persediaan:
1. C. Rolln Niwwonger, Philip E. Fess dan Carl S. Wareen
“istilah persediaan (inventories) merupakan barang dagangan
yang disimpan untuk dijual dalam operasi perusahaan dan
merupakan barang yang terdapat dalam proses produksi atau yang
disimpan untuk tujuan itu”.
2. Prawirosentono
Persediaan adalah aktiva lancar yang terdapat dalam
perusahaan dalam bentuk persediaan bahan mentah (bahan baku / raw
material, bahan setengah jadi / work in process dan barang jadi /
finished goods).
3. Ikatan Akuntansi Indonesia.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan Indonesia, Manajemen
persediaan merupakan:
a. Tersedia untuk dijual (dalam kegiatan operasi normal)
b. Dalam proses produksi ( dalam kegiatan usaha normal)
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supllies) untuk
digunakan proses produksi atau pemberian jasa
Persediaan mempunyai arti dan peranan yang penting dalam suatu
perusahaan. Persediaan barang dagangan yang secara terus menerus dibeli dan
dijual yang merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan,
baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industry. Penjualan barang
dagangan merupakan sumber utama penghasilan bagi perusahaan, karena sebagian
besar sumber perusahaan tertanam dalam persediaan.

4
2.2 Jenis-jenis Persediaan
Jenis persediaan setiap perusahaan tidaklah sama. Karena setiap perusahaan
membutuhkan bahan persedian bergantung pada aktivitaas produksi yang
dikerjakan. Namun, secara teori persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat
dibedakan atas:
2.2.1 Jenis Persediaan Menurut Fungsinya
a. Bacth Stock/Lot Size Inventory
yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat
bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar yang
dibutuhkan pada saat itu. Jadi, dalam hal ini pembelian atas pembuatan yang
dilakukan dalam jumlah besar sedangkan penggunaan atau pengeluarannya
dalam jumlah kecil.
Terjadinya persediaan karena pengadaan barang atau bahan yang
dilakukan lebih banyak lagi yang dibutuhkan. Keuntungan yang akan
diperoleh dari adanya Bacth Stock/Lot Size Inventory ini adalah :
- Memperoleh potongan harga pada harga pembelian
- Memperoleh efisiensi produksi (manufacturing economic) karena
adanya operasi (production run) yang lebih lama.
- Adanya penghematan dalam biaya pengangkutan
b. Fluctuation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan konsumen yang dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan
mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen.
Apabila tingkat permintaan menunjukkan keadaan yang tidak beraturan atau
tidak tetap dan fluktuasi permintaan yang sangat besar, maka persediaan
yang dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik
turunnya permintaan tersebut.

5
c. Anticipation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan yang dapat diramalkan berdasarkan pola musiman yang terdapat
dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan/penjualan atau
permintaan yang meningkat. Disamping itu, menurut Rangkuti Freddy
dalam buku Manajemen Persediaan, “anticipation stock juga dimaksudkan
untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga
tidak mengganggu jalannya produksi atau untuk menghindari kemacetan
produksi”.

2.2.2 Jenis Persediaan Menurut Cara Pengolahannya Dan Posisi Barang

a. Persediaan bahan baku (Raw Material Stock)


yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam
proses produksi.
b. Persediaan bagian produksi / parts yang dibeli (Purchased
Parts/Component Stock)
yaitu persediaan barang yang terdiri dari parts yang diterima dari
perusahaan lain yang dapat secara langsung tanpa melalui proses
produksi selanjutnya.
c. Persediaan bahan pembantu / bahan-bahan pelengkap (supplier Stock),
yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan
dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang
dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan tetapi tidak
merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.

6
d. Persediaan barang setengah jadi / barang dalam proses (Works in
Process/Progress),
yaitu barang-barang yang dikeluarkan dari tiap-tiap bagian dalam
suatu pabrik atau bahan-bahan yang diolah menjadi suatu bentuk tetapi
masih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.

2.2.3 Persediaan Hubungan antara Produksi dan Penjualan Produk.


Perseddiaan dalam kategori hubungan antara produksi dan penjualan produk
terdiri dari dua jenis, yaitu:
a. Perusahaan Dagang.
- Persediaan barang dagangan.
b. Perusahaan Manufaktur
- Persediaan bahan baku
- Persediaan barang dalam proses
- Persediaan barang jadi

2.3 Alasan Memiliki Persediaan


Laba yang maksimal dapat dicapai dengan meminimalkan biaya yang
berkaitan dengan persediaan. Namun meminimalkan biaya persiapan dapat dicapai
dengan memesan atau memproduksi dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk
meminimalkan biaya pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan yang
besar dan jarang.
Jadi, meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah persediaan yang
sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan biaya pemesanan harus dilakukan
dengan melakukan pemesanan ,persediaan dalam jumlah yang relatif besar,
sehingga mendorong jumlah persediaan yang besar.
Alasan yang kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan
dalam jumlah yang relative besar adalah masalah ketidakpastian permintaan. Jika
permintaan akan bahan atau produk lebih besar dari yang diperkirakan, maka

7
persediaan dapat berfungsi sebagai penyangga, yang memberikan perusahaan
kemampuan untuk memenuhi tanggal penyerahan sehingga pelanggan merasa puas.
Secara umum alasan untuk memiliki persediaan disebuah perusahaan adalah
sebagai berikut :
1. Untuk menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dan biaya
penyimpanan.
2. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, misalnya menepati tanggal
pengiriman.
3. Untuk menghindari penutupan fasilitas manufaktur akibat :
a. Kerusakan mesin
b. Kerusakan komponen
c. Tidak tersedianya komponen
d. Pengiriman komponen yang terlambat
4. Untuk menyanggah proses produksi yang tidak dapat diandalkan.
5. Untuk memanfaatkan diskon
6. Untuk menghadapi kenaikan harga di masa yang akan datang
2.4 Fungsi dan Manfaat Manajemen Persediaan
Menurut Handoko Manajemen Persediaan memiliki banyak sekali fungsi dan
manfaat dalam sebuah perusahaan. Beberapa fungsi dari manajemen persediaan dapat
mempengaruhi kestabilan, kelancaran, keuntungan sebuah perusahaan. Fusngsi-
fungsi terrsebut antara lain yaitu:
a. Fungsi Decoupling

Persediaan decoupling ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi


permintan langganan tanpa tergantung pada supplier. Untuk dapat memenuhi
fungsi ini dilakukan cara-cara sebagai berikut:

- Persediaan bahan mentah disiapkan dengan tujuan agar perusahaan tidak


sepenuhnya tergantung penyediaannya pada suplier dalam hal kuantitas dan
pengiriman.

8
- Persediaan barang dalam proses ditujukan agar tiap bagian yang terlibat
dapat lebih leluasa dalam berbuat.
- Persediaan barang jadi disiapkan pula dengan tujuan untuk memenuhi
permintaan yang bersifat tidak pasti dari langganan.

b. Fungsi Economic Lot Sizing

Tujuan dari fungsi ini adalah pengumpulan persediaan agar perusahaan


dapat berproduksi serta menggunakan seluruh sumber daya yang ada dalam jumlah
yang cukup dengan tujuan agar dapat menguranginya biaya perunit produk.

c. Fungsi Antisipasi

Perusahaan sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan


permintaan akan barang barang selama periode pemesanan kembali, sehingga
memerlukan kuantitas persediaan ekstra. Persediaan antisipasi ini penting agar
proses produksi tidak terganggu. Sehubungan dengan hal tersebut perusahaan
sebaiknya mengadakan seaseonal inventory (persediaan musiman).

Adapun manfaat dari persediaan adalah menjamin kebebasan atau kelancaran


kegiatan operasional internal dan eksternal sehingga permintaan pelanggan dapat
terpenuhi tanpa tergantung pemasok.

9
BAB III
PERTIMBANGAN MANAJEMEN PERSEDIAAN

Mengingat peranan dan fungsi manajemen dalam perusahaan begitu penting, maka
seorang manajer dalam mengambil keputusan atau kebijakan harus mempertimbangkan
sesuatu dengan matang dan teliti. Sehingga dalam pengambilan keputusan dan kebijakan
tidak merugikan sebuah perusahaan yang dikelolanya.
Pertimbangan pertimbangan yang harus di perhatikan tidaklah semudah
mengucapkan kata-kata. Melainkan harus dilakukan sebuah evaluasi dan metode-metode
perhitungan manajemen persediaan. Tujuannya tidak lain untuk meminimalisasi persediaan
dan menciptakan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Pada bab ketiga ini akan membahas tentang hal-hal dan beberapa metode
perhitungan persediaan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan seorang manajer
dalam memanajemen perseediaan.

3.1 Prinsip Pengendalian Manajemen Persediaan


Prinsip dalam mengendalikan persediaan sangat diperlukan dalam
Manajemen persediaan. Hal ini dikarenakan prinsip persediaan dijadikan sebagai
salah satu landasan dan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Menurut Matz,
sistem dan teknik pengendaliaan persediaan harus didasarkan pada prinsip-prinsip
berikut:
a. Persediaan diciptakan dari pembelian bahan dan suku cadang, tambahan
biaya pekerja dan overhead untuk mengelola bahan menjadi barang jadi.

b. Persediaan berkurang melalui penjualan dan perusakan.

c. Perkiraan yang tepat atas jadwal penjualan dan produksi merupakan hal
yang esensial bagi pembelian, penanganan, dan investasi bahan yang
efisien.

10
d. Kebijakan manajemen, yang berupaya menciptakan keseimbangan antara
keragaman dan kuantitas persediaan bagi operasi yang efisien dengan biaya
pemilikan persediaan tersebut merupakan faktor yang paling utama dalam
menentukan investasi persediaan.

e. Pemesanan bahan merupakan tanggapan terhadap perkiraan dan


penyusunan rencana pengendalian produksi.

f. Pencatatan persediaan saja tidak akan mencapai pengendalian atas


persediaan.

g. Pengendalian bersifat komparatif dan relatif, tidak mutlak.

3.2 Pertimbangan Manajemen Persediaan


Banyak hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam
manajemen persediaan. Baik itu dari segi biaya, waktu, proses pemesanan, dan juga
dari jenis bahan persediaan yang dibutuhkan. Seorang manajer akan menganalisis itu
semua dengan pertimbangan yang sudah mereka tetapkan. Berikut beberapa hal yang
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam manajemen persediaan:
1. Struktur Biaya Persediaan
Struktur biaya persediaan dapat kita kelompokkan sesuai dengan model
pemesannanya, seperti:
a. Biaya per unit (item cost)
b. Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost)
- Biaya pembuatan perintah pembelian (purchasing order)
- Biaya pengiriman pemesanan
- Biaya transportasi
- Biaya penerimaan (Receiving cost)
- Jika diproduksi sendiri maka akan ada biaya penyiapan (set up
cost): surat
- menyurat dan biaya untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan.

11
c. Biaya pengelolaan persediaan (Carrying cost)
- Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang
apabila nilai persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital).
- Biaya yang meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of
storage). Biaya ini berubah sesuai dengan nilai persediaan.
d. Biaya resiko kerusakan dan kehilangan (Cost of obsolescence,
deterioration and loss).
e. Biaya akibat kehabisan persediaan (Stockout cost)
2. Faktor yang mempengaruhi investasi dalam persediaan
Faktor ini mencakup beberapa aspek yang berkaitan dengan proses
produksi dan daya tahan suatu persediaan. Beriut cakupapn dari faktor yang
mempengaruhi investasi dalam persediaan:
a. Tingkat Penjualan.
Semakin tinggi omzet penjualan maka makin besar investasi
persediaannya. Begitu juga sebaliknya. Jika omzet penjualannya rendah
maka persediaan akan sedikit.
b. Sifak Teknis dan Sifat Produksi
- Produksi pesanan => persediaan beragam dan banyak
- Produksi massal => persediaan bisa diatur
c. Lamanya Proses Produksi
Jika proses produksi persediaan lama maka akan mengakibatkan
BDP biayanya semakin mahal dan tidak efisien.
d. Daya Tahan Bahan Baku dan Produk Akhir
- Barang tahan lama => Persediaan relatif tinggi
- Barang tahan tidak lama => Persediaan relatif rendah
- Barang Musiman => Persediaan tinggii pada musimnya
e. Lama Pembelian dan pengiriman

12
3.3 Metode Perhitungan Manajemen Persediaan
Penanganan persediaan tidak hanya dilakukan dengan melihat semata.
Tetapi, terdapat hal yang bisa dihitung untuk dijadikan sebagai bahan dalam
menentukan kebijakan dalam manajemen persediaan. Perhitungan dalam manajemen
persediaan banyak sekali jenisnya. Makalah ini akan membahas beberapa jenis
perhitungan yang sangat penting dalam manajemen persediaan dan juga sering
digunakan dalam sebuah perusahaan terutama dalam perusahaan industri manufaktur.

Dalam perusahaan industri manufaktur, bahan baku diproses menjadi


barang jadi, kemudian dijual. Proses ini memerlukan waktu panjang sehingga modal
yang diinvestasikan dalam persediaan cukup besar dan perputarannya relatif lambat.
Kondisi yang demikian manajemen persediaan harus mendapatkan perhatian
manajemen yang sangat serius. Kelebihan persediaan akan mengakibatkan
pemborosan penggunaan modal, sedangkan kekurangan persediaan proses produksi
bisa terganggu.

Mengelola persediaan dalam perusahaan industri manufaktur relatif lebih


sulit dibanding dengan mengelola persediaan dalam perusahaan dagang. Dalam
perusahaan dagang, persediaan barang dagangan dibeli untuk dijual; waktu yang
dibutuhkan relatif pendek, sehingga modal yang digunakan berputar relatif cepat.

Manajemen persediaan dalam perusahaan industri manufaktur dapat


dikategorikan menjadi dua, yaitu model Economic Order Quantity atau EOQ dan
Tepat Waktu atau Just in Time (JIT). Penggunaan model tersebut tergantung pada
kebijakan manajemen terhadap pemasok. Jika pemasok diperlukan sebagai pesaing,
yaitu mencari pemasok yang paling murah dapat menyediakan bahan baku, maka
model EOQ lazim digunakan. Tetapi jika pemasok diperlakukan sebagai partner
bisnis yang setia dan dinyatakan satu kesatuan dalam proses produksi, maka model
JIT lazim digunakan.

13
3.3.1 Model Economic Order Quantity (EOQ).
Pada umumnya perusahaan menggunakan cara tradisional dalam
mengelola persediaan, yaitu dengan cara memiliki persediaan minimal untuk
mendukung kelancaran proses produksi. Di samping itu, perusahaan juga
memperhitungkan biaya persediaan yang paling ekonomis yang dikenal
dengan istilah Economic Order Quantity atau EOQ. EOQ akan menjawab
pertanyaan berapa banyak kualitas bahan baku yang harus dipesan dan berapa
biayanya yang paling murah atau paling ekonomis.
Biaya-biaya dalam manajemen persediaan sudah dipaparkan dalam
bab tiga dalam pertimbangan-pertimbangan manajemen persediaan. Pada bab
ini kita tinggal mengaitkan biaya-biaya yang sudah dipaparkan pada bab tiga
dengan metode EOQ. Pada umumnya biaya-biaya dalam manajemen
persediaan saling berkaitan dan dapat mempengaruhi harga persediaan.
Sehingga seorang manajer harus jeli dan teliti dalam memutuskan berapa
persedeiaan yang harus dibeli. Hal ini tidak bisa dilihat dari kasat mata saja
tentunya.
Metode ini, Manajemen harus menghitung biaya yang paling
ekonomis pada setiap jumlah barang yang dibeli (dipesan). Biaya tersebut
adalah saling hubungan antara harga bahan baku, biaya penyimpanan yang
umumnya dihitung berdasar persentase tertentu dari nilai persediaan rata-rata,
jumlah bahan baku yang dibutuhkan dalam satu periode misalnya dalam satu
tahun, dan biaya pesanan. Untuk itu mari kita bahas satu persatu agar lebih
jelas dalam memahaminya

14
1. Total Biaya Penyimpanan Persediaan ( Total Carrying Cost / TCC)

Biaya penyimpanan persediaan dalam EOQ bersifat Variabel


terhadap jumlah inventori yang dibeli. Sehingga rumusnya sebagai berikut:

- Total Biaya Penyimpanan Dimana :

TCC = C. P. A Q = Kuantitas Pesanan


S = Penjualan Tahunan
- Persediaan Rata-Rata N = Frekuensi Pemesanan
C = Biaya Penyimpanan
A = Q/2 P = Harga Beli Per Unit

=(S/N)/2
-

Biaya TCC ini mencakup sewa gudang, pemeliharaan barang


didalam gudang, modal yang tertanam dalam inventori, pajak dan ansuransi.
Besarnya biaya TCC dapat diperhitungkan dengan dua cara yaitu berdasarkan
presentasi tertentu dari nilai Inventori rata-rata dan berdasarkan biaya perunit
barang yang disimpan ( dari jumlah rata-rata).

2. Total Biaya Pemesanan ( Total Ordering Cost / TOC)


Biaya pemesanan persediaan dalam bersifat Variabel terhadap
frekuensi pesanan yang dibeli. Sehingga rumusnya sebagai berikut:

- Total Biaya Pesanan Dimana :

Q = Kuantitas Pesanan
S = Penjualan Tahunan
TOC = F. ( S / Q ) F = Biaya Tetap

15
3. Total Biaya Persediaan ( Total Inventory Cost / TIC)
Total Biaya Perseddiaan atau TIC ini didapat dari penjumlahan toatal
biaya persediaan dan total biaya pemesanan. Sehingga hasilnya diketahui total
biaya persediaan tersebut. Jadi rumusnya sebagai berikut:

- Total Biaya Persediaan Dimana :

TIC = TCC + TOC Q = Kuantitas Pesanan


S = Penjualan Tahunan
Atau N = Frekuensi Pemesanan
C = Biaya Penyimpanan
P = Harga Beli Per Unit
TIC = C.P.( Q/2 ) + F. ( S/Q )

Ketiga perhitungan diatas bertujuan untuk mengetahui besaran biaya


dimasing-masing kategori. Setelah itu kita bisa mengaitkannya dengan Kuantitas
Pemesanan yang Ekonomis atau dikenal dengan EOQ ( Economic Ordering
Quantity Model).
Terdapat dua dasar keputusan dalam model EOQ ini dalam manajemen
persediaan, diantaranya yaitu:
1. Berapa jumlah bahan mentah yang harus dipesan pada saat bahan tersebut perlu
dibeli kembali – Replenishment Cycle.
2. Kapan perlu dilakukan pembelian kembali – Reorder point.
Rumus Model EOQ sebagai Beriku:

Dimana :
𝟐.𝐅.𝐒
EOQ = √ F = Biaya Tetap
𝐂.𝐏 S = Penjualan Tahunan
C = Biaya Penyimpanan
P = Harga Beli Per Unit

16
Model EOQ tidak lepas dari beberapa asumsi agar perhitungannya akurat.
Berikut ini beberapa asumsi mengenai model EOQ:
- Jumlah kebutuhan bahan mentah sudah dapat ditentukan lebih dulu secara
pasti untuk penggunaan selama satu tahun atau satu periode.
- Penggunaan bahan selalu pada tingkat yang konstan secara kontinyu
- Pesanan persis diterima pada saat tingkat persediaan sama dengan nol atau
diatas safety stock
- Harga konstan selama periode tersebut.
Metode EOQ memiliki kaitan dengan beberapa aktifitas disebuah industri
manufaktur, seperti aktifitas dalam manajemen persediaan di bawah ini:
- Permesanan ulang ( Reorder Point )
- Persediaan Pengaman (Safety Stocks)
- Penentuan Besaran Safety Stocks
Agar pemahaman tentang aktifitas diatas lebih mendalam lagi. Mari kita bahas
perhitungan atau rumus – rumusnya sekali lagi.

a. Pemesanan Ulang ( Reorder Point )


Pada dasarnya, sebuaah perusahaan dalam mempersiapkan bahan
persediaan tidak menunggu bahan perssediaan di gudang habis secara
keseluruhan. Hal ini dapat menghambat dan memperlambat proses produksi
didalam perusahaan tersebut. Sehingga seorang manajer akan menentukan titik
minimum atau standar dimana perusahaan harus melakukan pemesanan
kembali untuk mengisi persediaan yang telah kosong.

17
Jika digambarkan dalam sebuah grafik akan berbentuk seperti
dibawah ini sebagai ilustrasi:

Gambar i: Grafik Ilustrasi Pemesanan Ulang

Dari grafik tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa Rusmus


Pemesanan Ulang atau Reorder Point yaitu:

Titik Pemesanan Ulang

Waktu Tunggu X Tingkat Penggunaan

b. Persediaan Pengaman ( Safety Stocks )


Persediaan Pengaman ini memang disengaja disediakan oleh
perusahaan untuk dijadikan alternatif pengganti terhadap perubahan tingkat
penjualan atau keterlambatan produksi-pengiriman. Tujuannya tidak lain
sebagai jaga-jaga agar aktifitas disebuah perusahaan tidak berhenti.

18
Dari gambaran itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa persediaan awal
mengandung safety stock. Jadi bisa di simpulkan menjadi:

Persediaan Awal
EOQ + Safety Stock
Persediaan Rata-rata
( EOQ / 2 ) + Safety Stock

Penentuan besar kecilnya Safety Stock dipengaruhi oleh faktor pengalaman,


Faktor dugaan, Faktor Biaya dan Faktor keterlambatan. Jadi, setiap perusahaan
dalam menentukan besar kecilnya safety stock persediaan tidaklah sama.
Contohnya sebagai berikut:
Diketahui:
- Penggunaan perhari 15 Kg.
- Keterlambatan Pengiriman 10 hari
Ditanya:
- Berapa besarnya Safety stock yang harus disiapkan??
Jawab:
Safety stock = Penggunaan per hari X Kendala atau faktor-faktor
= 10 x 15 kg
= 150 Kg.
Jadi Safety stock yang harus disediakan sebesar 150 kg.

Metode EOQ dalam manajemen persedian mempunyai kelebihan dan juga


kekurangan. Sehingga kita harus mengetahuinya. Berikut beberapa kelebihan dan
kelemahan dalam metode ini:

- Keunggulan Model EOQ:

1. Dapat dijadikan dasar penukaran (trade off) antara biaya penyimpanan


dengan biaya persiapan atau biaya pemesanan (setup cost).

19
2. Dapat mengatasi ketidakpastian penggunaan persediaan pengaman atau
persediaan besi (safety stock).

3. Mudah diaplikasikan pada proses produksi yang outputnya telah memiliki


standar tertentu dan diproduksi secara massal.

4. Lazim digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat. Jika ada
pasien yang sakit mendadak dan perlu obat segera, apotek rumah sakit dapat
melayani dengan cepat.

Kelemahan Model EOQ:

Hakikatnya model EOQ adalah model yang menempatkan pemasok


sebagai mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan
pada mereka, sehingga penggunaan model ini terjadi berganti-ganti
pemasok, dan hal ini dapat mengganggu proses produksi.

3.3.2 Model Periodic Order Quality (POQ).


Period Order Quantity (POQ) : Pendekatan menggunakan konsep
jumlah pemesanan ekonomis agar dapat dipakai pada periode bersifat
permintaan diskrit, teknik ini dilandasi oleh metode EOQ. Dengan mengambil
dasar perhitungan pada metode pesanan ekonomis maka akan diperoleh
besarnya jumlah pesanan yang harus dilakukan dan interval periode
pemesanannya adalah setahun.

PenggunaanPOQ:

 POQ digunakan sebagai pengganti EOQ, bila permintaan tidak uniform.


 Formula EOQ digunakan untuk menghitung waktu antarpemesanan
(economic time between orders)
 POQ = EOQ/Rata2 pemakaian per minggu
 Dengan POQ ini kuantitas pemesanan ditentukan oleh permintaan
aktual, sehingga akan menurunkan biaya penyimpanan (carrying cost).

20
3.3.3 Model Quantity Discount Model (QDM).
Dalam rangka meningkatkan volume penjualan seringkali
perusahaan (supplier) memberikan harga yang lebih rendah kepada pelanggan
yang membeli dalam jumlah yang lebih besar. Jadi harga per unit ditentukan
semakin murah dengan semakin banyaknya jumlah yang dibeli.
Dalam model potongan harga ini kita harus mempertimbangkan
trade off antara biaya pembelian dengan biaya penyimpanan, dimana semakin
banyak jumlah yang dibeli maka biaya pembelian per unit akan semakin
menurun, tapi di lain pihak biaya penyimpanan akan semakin meningkat

3.3.4 Model Analisis ABC.

Analisis ABC adalah metode dalam manajemen persediaan


(inventory management) untuk mengendalikan sejumlah kecil barang, tetapi
mempunyai nilai investasi yang tinggi.

Analisis ABC didasarkan pada sebuah konsep yang dikenal dengan


nama Hukum Pareto (Ley de Pareto), dari nama ekonom dan sosiolog Italia,
Vilfredo Pareto (1848-1923). Hukum Pareto menyatakan bahwa sebuah grup
selalu memiliki persentase terkecil (20%) yang bernilai atau memiliki dampak
terbesar (80%). Pada tahun 1940-an, Ford Dickie dari General Electric
mengembangkan konsep Pareto ini untuk menciptakan konsep ABC dalam
klasifikasi barang persediaan.

Berdasarkan hukum Pareto, analisis ABC dapat menggolongkan


barang berdasarkan peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan
kemudian dibagi menjadi kelas-kelas besar terprioritas; biasanya kelas
dinamai A, B, C, dan seterusnya secara berurutan dari peringkat nilai tertinggi
hingga terendah, oleh karena itu analisis ini dinamakan “Analisis ABC”.
Umumnya kelas A memiliki jumlah jenis barang yang sedikit, namun
memiliki nilai yang sangat tinggi.

21
Dalam hal ini, saya akan menggunakan tiga kelas, yaitu: A, B, dan C,
di mana besaran masing-masing kelas ditentukan sebagai berikut (Sutarman,
2003, pp. 144–145):

1. Kelas A, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 15-


20% dari total seluruh barang, tetapi merepresentasikan 75-80% dari
total nilai uang.
2. Kelas B, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 20-
25% dari total seluruh barang, tetapi merepresentasikan 10-15% dari
total nilai uang.
3. Kelas C, merupakan barang-barang dalam jumlah unit berkisar 60-
65% dari total seluruh barang, tetapi merepresentasikan 5-10% dari
total nilai uang.

Besaran masing-masing kelas di atas akan membentuk suatu kurva


sebagaimana terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar ii: Kurva Analisis ABC

Adapun langkah-langkah atau prosedur klasikasi barang dalam analisis


ABC adalah sebagai berikut:

22
1. Menentukan jumlah unit untuk setiap tipe barang.
2. Menentukan harga per unit untuk setiap tipe barang.
3. Mengalikan harga per unit dengan jumlah unit untuk menentukan total
nilai uang dari masing-masing tipe barang.
4. Menyusun urutan tipe barang menurut besarnya total nilai uang,
dengan urutan pertama tipe barang dengan total nilai uang paling
besar.
5. Menghitung persentase kumulatif barang dari banyaknya tipe barang.
6. Menghitung persentase kumulatif nilai uang barang dari total nilai
uang.
7. Membentuk kelas-kelas berdasarkan persentase barang dan persentase
nilai uang barang.
8. Menggambarkan kurva analisis ABC (bagan Pareto) atau menunjuk
tingkat kepentingan masalah.

Dengan analisis ABC, kita dapat melihat tingkat kepentingan masalah


dari suatu barang. Dengan begitu, kita dapat melihat barang mana saja yang
perlu diberikan perhatian terlebih dahulu.

3.3.5 Model Just In Time (JIT).


Salah satu metode untuk mengendalikan persediaan yang modern
adalah metode Just In Time atau bisa disebut juga JIT. Metode ini bertujuan
untuk meminimalkan biaya persediaan karena menggunakan metode JIT
setiap pemesanan dari konsumen akan langsung di produksi. Dalam JIT
diusahakan persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak
signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan
pelaporan keuangan.

23
Dimana :
Rumusan JIT yang digunakan adalah : 𝑿𝟏 = Unit produk yang
harus dijual untuk
𝑰 + 𝑭𝟏 + 𝑿𝟐 . 𝑽𝟐 mencapai laba
𝑿𝟏 = tertentu
𝑷 − 𝑽𝟏 I = Laba Sebelum Pajak
𝑭𝟏 = Total Biaya Tetap
𝑿𝟐 = Jumlah kuantitas
Non Unit
𝑽𝟐 = Biaya Variable Non
Unit
𝑽𝟏 = Biaya Variable per
unit
P = Harga Jual per unit
3.4 Pengawasan Persediaan
Hakikat dari pengawasan persediaan barang adalah mulai bahan baku
dipesan sampai produk jadi digunakan oleh konsumen, yang terdiri dari pengawasan
fisik, nilai, dan biaya. Pengawasan barang meliputi pengawasan bahan baku, bahan
pembantu, barang dalam proses, dan pengawasan barang jadi. Pengawasan bahan
baku dan bahan pembantu dimulai dari bahan dipesan sampai dengan permintaan
pemakaian bahan dalam proses produksi; pengawasan itu meliputi fisik (jumlah unit,
kerusakan, keuangan, kehilangan, dan tingkat perputaran), biayanya, dan nilainya
dala bentuk satuan uang.

Pengawasan barang dalam proses meliputi produk cacat, produk rusak,


produk hilang dalam proses produksi. Sedangkan pengawasan barang jadi meliputi
rencana penjualan, jadwal pengiriman, dan pelayanan purna jual. Keempat jenis
barang itu (bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, dan barang jadi)
jumlah persediaannya secara fisik harus dikendalikan, agar tidak terjadi kekurangan
dan kelebihan. Kekurangan persediaan bahan baku dan bahan pemabantu dapat
mengakibatkan proses produksi terganggu, dan kekurangan persediaan barang jadi
akan mengakibatkan kesulitan memenuhi permintaan konsumen.

24
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Perusahaan dalam melakukan pelaporan mengenai persediaan sangat penting
bagi perusahaan dalam mengambil suatu keputusan dan persediaan merupakan salah
satu dari beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara
terus meneru diperoleh, diproduksi dan dijual. Oleh karena itu, system akuntansi itu
sendiri harus dilaksanakan sebaik mungkin sehingga tidak mengalami hal-hal yang
mengganggu jalannya operasi perusahaan.
Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk
memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan
dalam pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam
menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh.

5.2 Saran
Berdasarkan dari pembahasan diatas, maka penulis mengemukakan saran
bahwa penerapan Manajemen Persediaan yang baik harus dilaksanakan secara
efektif, karena akan menunjang keberhasilan perusahaan tersebut.

25
DAFTAR PUSTAKA

Rangkuti Freddy. 1995: Manajemen Persediaan. Cetakan Pertama, raja


Grafindo Persada, Jakarta
http://habibiarifin.blogspot.com/2010/05/manajemen-persediaan-
inventory.html, diakses pada tanggal 29 Maret 2013
http://eriskusnadi.wordpress.com/2009/10/03/analisis-abc/. diakses pada
tanggal 29 Maret 2013
www.wikipedia.com.

26