Anda di halaman 1dari 17

MA KALAH REPRODUKSI TERNAK

ORGA N REPRODUKSI TERNAK BETI NA

Oleh:
Kelas: E
Kelompok: 4

Ihsan Muhamad Ervian 200110160238


Bo ndan Naufal Lathief 200110150134
Ti o Ruby Anggara 200110150136
Fadhli Rohman 200110150137
Faisal Muhamad Rizal 200110150138
Fauzan Aufarrahman 200110150139

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-
Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat
menyelesaikan Tugas Makalah mata kuliah Reprodukksi Ternak. Kemudian
shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad
SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk
keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Reproduksi Ternak
dengan judul Organ Reproduksi Ternak Betina. Selanjutnya kami mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Ir. Nurcholidah Solihati,M.si .
selaku dosen mata kuliah Biokimia dan kepada segenap pihak yang telah
memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan Makalah ini.
Kami menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam
penulisan Makalah ini, tetapi semoga dalam pembuatan makalah-makalah
berikutnya dapat lebih baik. Aamiin.

Sumedang, September 2016

Penyusun

i
DAFTAR PUSTAKA
Kata Pengantar ................................................................................................ i

Daftar Pustaka ................................................................................................. ii


BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah ............................................................................ 1
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................. 1
1.4 Manfaat Penulisan ............................................................................... 2
BAB II

PEMBAHASAN .............................................................................................. 3
2.1 Organ Reproduksi Betina Ternak Mamalia .................................. 3
2.1.1 Ovarium .............................................................................................. 4
2.1.2 Tuba Falloppi (Oviduk) ....................................................................... 4
2.1.3 Uterus .................................................................................................. 5
2.1.4 Serviks ................................................................................................. 5
2.1.5 Vagina ................................................................................................. 6
2.1.6 Vulva ................................................................................................... 7
2.2 Organ Reproduksi Betina Ternak Unggas ..................................... 8
2.2.1 Ovarium ............................................................................................. 8
2.2.2 Oviduk ............................................................................................... 10
BAB III

KESIMPULAN .............................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reproduksi merupakan suatu proses perkembangbiakan yang diawali
dengan bersatunya sel telur dengan sperma yang kemudain berkembang menjadi
zigot dan akhirnya terjadi kelahiran. Pada sistem reproduksi betina, terdiri atas
beberapa organ yang saling berhubungan satu sama lain, karena tidak hanya
menerima sel-sel telur yang diovulasikan oleh ovarium dan membawa sel-sel telur
tersebut ke rahim, tetapi juga menerima sperma dan membawanya ke tuba falopii.
Dalam bidang peternakan, reproduksi tidak dapat didpisahkan dengan
produktivitas ternak. Sebagai contoh untuk menghasilkan telur, susu, dan bakalan
ternak, haruslah melalui proses reproduksi. yang dimulai dengan pembentukan sel
telur/sel sperma, ovulasi, fertilisasi, pertumbuhan dan perkembangan fetus sampai
dengan dilahirkan (partus).
Dengan demikian ilmu reproduksi ternak jantan maupun betina merupakan
hal yang penting untuk dipelajari. Dengan mempelajari anatomi reproduksi ternak
betina kita mengetahui cara kerja sistem reproduksi ternak dan diharapkan mampu
diaplikasikan langsung di lapangan.

1.2 Identifikasi Masalah


Apa organ-organ reproduksi ternak betina mamalia?
Apa organ-organ reproduksi unggas betina?
Bagaimana fungsi dari organ-organ reproduksi ternak betina mamalia?
Bagaimana fungsi dari organ-organ reproduksi unggas betina?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang dipaparkan
diatas maka tujuan dari penulisan ini adalah:
Mengetahui organ-organ reproduksi ternak betina mamalia.
Mengetahui organ-organ reproduksi unggas betina.
Mengetahui fungsi dari organ-organ reproduksi ternak betina mamalia.
Mengetahui dari organ-organ reproduksi unggas betina.

1
1.4 Manfaat Penulisan
Berdasarkan hasil penulisan makalah ini diperoleh gagasan tertulis
mengenai pengenalan organ-organ reproduksi ternak betina dan juga mengetahui
fungsi dari organ-organ tersebut.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Organ Reproduksi Betina Ternak Mamalia


Organ reproduksi betina terbagi menjadi beberapa bagian, yang tersusun dan
bekerja sama secara kompleks hingga membentuk suatu kesatuan kerja sehingga
dapat digunakan dalam proses reproduksi dan menghasilkan keturunan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup suatu spesies. Organ reproduksi betina
terdiri dari beberapa bagian diantaranya adalah Ovarium, Tuba Falopii (Oviduk),
Uterus, Serviks, Vagina, dan Vulva.

Gambar 1. Organ Reproduksi Sapi Betina

Gambar 2. Organ Reproduksi Sapi Betina

3
2.1.1 Ovarium
Ovarium terletak di dalam kavum abdominalis, mempunyai dua fungsi,
yaitu sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan organ
endokrin yang mengeluarkan hormon reproduksi betina yaitu estrogen dan
progesteron. Pada umumnya ovarium terdapat dua buah, kanan dan kiri yang
terletak di dalam pelvis. Bentuk dan ukuran ovarium berbeda-beda menurut
spesies dan fase dari siklus estrus. Ovarium terdiri atas bagian dalam yang disebut
medulla dan bagain luar yaitu korteks (Soeparna & N.Solihati, 2014).
Dua komponen penting yang terdapat pada ovarium yaitu folikel dan korpus
luteum. Folikel pada ovarium berasal dari epitel benih yang melapisi permukaan
ovarium. Dalam mencapai berkembangannya, folikel mealui tingkatan-tingkatan
folikel primer, sekunder, tersier (yang sedang tumbuh) dan de Graf (yang matang)
(Tita D.L & Ismudiono, 2013).
Pada sapi, berbentuk oval dengan ukuran bervariasi dengan panjang 1,3-5,0
cm, dan lebar 1,3-3,2 cm, dan tebal 0,6-1,9cm. pada domba, ovarium berbentuk
lonjong dengan panjang berkisar 1,3-1,9 cm, sedangkan pada kuda berbentuk
seperti ginjal dengan ukuran panjang 4,0-8,0 cm, lebar 3,0-6,0 dan tebal 3,0-5,0
cm. Ovarium pada babi, berbentuk lonjong menyerupai serangkai buah anggur
karena banyaknya folikel dan orpus luteum (Soeparna & N.Solihati, 2014).

2.1.2 Tuba Fallopii (Oviduk)


Saluran tuba atau tuba fallopi adalah salah satu komponen utama dari sistem
reproduksi betina, dan mereka harus bekerja dengan baik untuk memastikan
kesuburan. Setiap sisi rahim memiliki tuba falopi yang membentang mencapai ke
ovarium pada sisi yang sesuai.
Fungsi utama dari saluran tuba adalah untuk menangkap telur yang
dilepaskan dari ovarium setiap bulan selama ovulasi, dan membimbing mereka ke
dalam rahim. Satu ovarium melepaskan telur setiap bulan secara sehat, ovulasi
perempuan. Setelah telur muncul dari ovarium, serat kecil seperti rambut di ujung
saluran tuba menarik telur di dalam tabung.
Tuba fallopi juga dikenal dengan istilah oviduct (saluran telur) dan kadang-
kadang disebut tuba uterina. Saluran ini terdapat pada setiap sisi uterus dan

4
membentang daricornu uteri ke arah dinding lateral pelvis (Farrer, 1996). Oviduct
bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku yang menjulur dari daerah ovarium ke
cornu uteri dan menyalurkan ovum, spermatozoa dan zigot. Tiga segmen tuba
uterina dapat dibedakan, yakni infundibulum (berbentuk corong besar), ampulla
(bagian berdinding tipis yang mengarah ke belakang dari infundibulum, dan
isthmus (segmen berotot yang berhubungan langsung dengan uterus (Dellman and
Brown, 1992).

2.1.3 Uterus
Uterus merupakan suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk
penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan fetus, dan stadium
permulaan eksplusi fetus pada waktu kelahiran. Uterus pada mamalia terdiri dari
corpus, serviks dan dua tanduk atau cornua. Proporsi relative masing-masing
bagian ini demikian pula bentuk dan susunan akan berbeda-beda pada setiap
spesies sebagaimana organ-organ internal berongga pada umumnya dinding uterus
terdiri dari selaput mukosa dibagian dalam, selapis otot licin dibagian tengah, dan
selapis serosa dibagian luar ialah peritorneum (Lestari, Damayanti. 2014).
Menurut T.D Lestari dan Ismudiono (2013) dinding uterus terdapat tiga
lapisan yaitu selaput mukosa dan sub mukosa yang disebut endometrium, lapisan
yang ditengah yang merupakan otot disebut myometrium dan lapisan luar yaitu
serosa disebut perimetrium.
Uterus terdiri dari cornua uteri yang berfungsi tempat menempelnya zigot
dan corpus uteri yang berfungsi sebagai tempat deposisi semen saat Inseminasi
Buatan.

2.1.4 Serviks
Serviks meupakan otot sphincter yang terletak di antara uterus dan vagina.
Struktur serviks pada hewan mamalia berbeda-beda tetapi umumnya dicirikan
adanya penonjolan-penonjolan pada dindingnya. Pada ruminansia penonjolan-
penonjolan ini ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng transversal dan saling
menyilang, disebut cincin-cincin annuler (annulus servikalis). Cincin-cincin

5
tersebut tersusun dalam bentuk sekrup ulir (pembuka tutup botol) yang
disesuaikan dengan perputaran spiralis penis babi. (Soeparna & N.Solihati, 2014).
Fungsi serviks yang utama adalah menutup lumen uterus sehingga tidak
memberi kemungkinan untuk masuknya jasad renik ke dalam uterus. Lumen
serviks selalu tertutup kecuali pada waktu birahi dan melahirkan. Pada waktu
birahi hanya terbua sedikit untuk emberi jalan masuk bagi semen.(Tita D.L &
Ismudiono, 2013).

2.1.5 Vagina
Vagina merupakan buluh berotot yang menjulur dari cervix sampai
vestibulum. Lipatan memanjang rendah dari mukosa-submukosa terentang
sepanjang vagina. Vagina sapi betina, lipatan melingkar yang penting juga
terdapat di bagian kranial vagina. Variasi daur tampak pada tinggi serta struktur
epitel. Peningkatan jumlah lendir vagina selama berahi terutama berasal dari
cervix. Epitel yang mengalami kornifikasi yang meluas merupakan gejala berahi.
Proses ekstensifikasi sangat jelas pada karnivora dan rodensia, tidak terjadi secara
nyata pada ruminansia, mungkin karena pengeluaran estrogen yang rendah pada
jenis ruminansia pada umumnya (Dellmann and Brown, 1992).
Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di
antara uterus (arah cranial) dan vulva (caudal). Vagina juga berperan sebagai
selaput yang menerima penis dari hewan jantan pada saat kopulasi (Frandson,
1992). Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler
yang terletak di dalam rongga pelvis dorsal dari vesica urinaria dan berfungsi
sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus
(Feradis, 2010). Vagina memiliki fungsi sebagai alat kopulasi dan tempat semen
dideposisikan (pada ruminansia), saluran keluar dari cervix, uterus, dan oviduct,
dan jalan peranakan selama proses beranak (Widayati et al., 2008).
Vagina terletak di bagian belakang dari rongga pelvis sebelah atas dari
kantong kencing. Pada waktu melahirkan rongga vagina dapat meluas dan
membesar sesuai dengan besar fetus yang akan dilahirkan (Hardjopranjoto, 1995).
Vagina berbentuk pipa, berdinding tipis dan elastis. Lapisan luar berupa tunika
serosa yang diikuti oleh lapisan otot polos yang mengandung serabut otot

6
longitudinal dan sirkular. Lapisan mukosa umumnya terbentuk dari stratified
squamous epithelial cells. Sel epitel ini berubah menjadi sel yang tanpa nukleus
karena pengaruh estrogen. Membran mukosa vagina terdiri dari sel kelenjar dan
sel bersilia. Sel kelenjarnya sangat sedikit yaitu hanya pada bagian depan. Sel
kelenjar ini menghasilkan lendir yang berfungsi sebagai lubrikasi dan melindungi
terjadinya aberasi pada saat kopulasi (Widayati et al., 2008). Menurut Widayati et
al. (2008), ukuran vagina bervariasi tergantung pada jenis hewan, umur, dan
frekuensi melahirkan (semakin sering melahirkan, maka vagina semakin lebar).
Vagina terdiri dari dua bagian, yaitu portio vaginalis cervices (bagian yang dekat
cervix) dan vestibulum.
Bagian depan dari vagina mencakup portio vaginalis uteri dan permuaraan
luar uterus dinamakan fornix vaginae. Dindingnya tipis terdiri dari otot licin,
lumennya diseliputi oleh selaput mukosa yang berlipat-lipat, tanpa kelenjar, di
mana lapisan mukosanya memperlihatkan berbagai keadaan yang secara
fungsional tergantung kepada fase dari siklus birahinya (Hardjopranjoto, 1995).
Legokan yang dibentuk oleh penonjolan cervix ke dalam vagina disebut fornix. Ia
dapat membentuk suatu lingkaran penuh sekeliling cervix seperti pada kuda atau
atau tidak ada sama sekali seperti pada babi. Suatu fornix dorsal dapat ditemukan
pada sapi dan domba (Feradis, 2010).

2.1.6 Vulva
Vulva merupakan bagian terluar dari organ reproduksi betina. Alat kelamin
luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vestibulum merupakan bagian dari saluran
kelamin betina yang berfungsi sebagai saluran reproduksi dan urinaria. Pada vulva
terdapat bulu-bulu halus, vulva berfungsi sebagai tempat masuknya penis ternak
jantan, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wodzicka et all.,
(1991). Labia terdiri atas labia mayora (lipatan luar vulva) dan labia minora
(lipatan dalam vulva). Labia vulva ditutupi oleh bulu-bulu yang jarang dan
menjaga lubang luar saluran reproduksi. Pada domba commisure dorsal nya agak
membulat, sedangkan dari bagian ventral labia diteruskan sebagai tonjolan di
tengah-tengah. (Saliasbury, 1985). Dinding labia majora banyak mengandung
kelenjar sebaceous dan tubuler, lemak jaringan elastic, selapis tipis

7
otot licin, serta mempunyai struktur permukaan luar yang sama seperti kulit. Labia
minora adalah bibir yang lebih dengan jaringan ikat dibagian dalamnya. Pada
berbagai jenis ternak bibir vulva hanya sederhana dan tidak terdiri dari labia
majora dan minora.
Siklus estrus pada ternak betina dapat dilihat dari perubahan pada vulvanya.
Vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah yang mengalir ke
dalamnya. Ciri khas yang tampak dari selaput lendirnya adalah Merah, Hangat,
dan Bengkak. Vulva juga dapat berfungsi sebagai pelindung bagian vagina.

2.2 Organ Reproduksi Betina Ternak Unggas


Organ reproduksi ayam betina ini pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu
ovarium dan oviduk, namun bagian dari oviduk ini terbagi menjadi lima bagian
yaitu infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina, kloaka. Bagian organ –
organ tersebut yang akan membantu dalam proses pembentukan telur (yolk)
dengan sempurna.

Gambar 3. Organ Reproduksi Betina Unggas

2.2.1 Ovarium
Pada unggas ovarium dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti buah
anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan
bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada saat ayam
menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur 12

8
minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin.
Folikel akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid
pakan ataupun karotenoid yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen
maka penimbunan materi penyusun folikel menjadikan lapisan konsentris tidak
seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang
merupakan sintesis asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen,
kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai volikel atau ovum yang
dinamakan yolk (kuning telur). (Tri, 2004).

Gambar 4. Penampang Melintang Folikel


Folikel ini akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengamh
karoteiod pakan maupun karoteniod yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak
homogen maka penimbunan materi penyusun folikel tersebut menjadikan lapisan
konsentris yang tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni
(vitelogenesis) yang merupakan sintesa asam lemak di hati yang dikontrol oleh
hormon estrogen kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai folikel
atau ovum yang kemudian dinamakan yolk atau kuning telur. Dikenal dua fase
perkembangan yolk yaitu fase cepat antara 7-4 hari sebelum ovulasi dan fase
lambat pada 10-8 hari sebelum ovulasi serta pada 2-1 hari sebelum ovulasi. Akibat
prekembangan cepat tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada
kuning telur. Hal ini disebabkan perbedaan kadar xantopil dan karotenoid pada
pakan yang dibelah oleh latebra dimana latebra ini juga menghubungkan antara
inti yolk dengan diskus germinalis (Tri Y,2004).
Pada ayam Dewasa kelamin diantaranya dipengaruhi oleh faktor cahaya dan
pakan. Pengaruh pakan terhadap dewasa kelamin sangat ditentukan oleh kadar

9
protein, lemak, protein dan kalsium, karena akan menyebabkan peningkatan
hormon estrogen yang diperlukan untuk pembentukan sel telur, merangsang
peregangan tulang pubis dan pembesaran vent guna mempersiapkan ayam betina
untuk bertelur. Pola pemberian pakan dan nilai gizi yang terkandung di dalamnya
sangat menentukan kondisi menjelang dewasa kelamin terutama organ reproduksi
mulai dari ovarium sampai kloaka (Martha, 2012).

2.2.2 Oviduk
Menurut Tri, (2004) secara anatomi alat reproduksi ayam (oviduk) terbagi
ke dalam 3 bagian (dari anterior ke posterior) yaitu sebagai berikut:
Infundibulum atau Papilon
Panjang dari bagian ini adalah 9 cm dan fungsi utama dari mfundibulum ini
hanyalah menangkap ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan
mensekresikan sumber protein yang mengelilingi membran vitelina. Kuning
telur berada di bagian mi antara 15-30 menit. Perbatasan antara
infundibulum dan magnum yang dinamakan dengan sarang spermatozoa
merupakan terminal akhir dari lajulintas spermatozoa sebelum terjadi
pembuahan.
Magnum
Merupakan bagian yang terpanjang dari oviduk yaitu 33 cm dan magnum
tersusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel dimana sintesa dan
sekresi putih telur terjadi di sini. Mukosa dari magnum tersususun dari sel
gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur
berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam.
Isthmus
Berfungsi mengsekresikan membran atau selaput telur. Panjang dari saluran
isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini antara 1 jam 15 menit sampai
1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna
putih sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh
darah sehingga memberikan warna merah.

10
Uterus
Uterus disebut pula glandula kerabang telur yang panjangnya 10 cm, pada
bagian mi terjadi dua phenomena yaitu hidratasi putih telur atau plumping
kemudian terbentuk karabang telur. Warna dari kerabang telur yang terdiri
dari sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir dari mineralisasi
kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20-21 jam.
Vagina
Bagian ini hampir dikatakan tidak terdapat sekresi di dalam pembentukan
telur. Telur melewati vagina dengan cepat yaitu sekitar 3 menit, kemudian
telur dike-luarkan (oviposttiori) dan 30 menit setelah peneluran akan terjadi
kembali ovulasi.
Kloaka
Kloaka adalah bagian ujung luar dari oviduk tempat dikeluarkannya telur.
Total waktu yang diperlukan untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26
jam. Inilah salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur 2
lebih dari satu butir/hari. Disamping itu saluran reproduksi ayam betina
bersifat tunggal, artinya hanya oviduk bagian kiri saja yang mampu
berkembang. Padahal ketika ada benda asing seperti yolk dan gumpalan
darah menyebabkan tidak terjadinya ovulasi. Proses pengeluaran telur ini
diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian belakang (pituitaria pars
posterior).
2.2.3 Tabel Organ-Organ Reproduksi Ayam Betina dan Fungsinya
Anatomi reproduksi Fungsi Waktu

Ovarium Ukuran (cm) Bagian

7 Folikel Penghasil gamet 150hari


betina
Pembentukan 10hari
kuning telur
Oviduk 9 Infundibulu Menangkap ovum 20 menit
m (yolk) terjadinya
fertilisasi

11
33 Magnum Produksi putih 3 jam 30
telur kental menit
bagian dalam
10 Isthmus Pembentukan 11 jam15 menit
kerabang tipis menit

10 Uterus Pembentukan 16-21 jam


kerabang telur

10 Vagina Pembentukan 15 menit


kulikula dan
pewarnaan
kerabang

10 Kloaka Peneluran Sesaat


(oviposisi)

12
BAB III
KESIMPULAN

Jadi kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan organ-organ


reproduksi betina mamalia dan unggas adalah:
Organ reproduksi ternak betina mamalia terdiri dari ovarium, tuba fallopii
(oviduk), uterus, serviks, vagina dan vulva.
Organ reproduksi ayam betina terdiri dari ovarium dan oviduk, namun bagian
dari oviduk ini terbagi menjadi lima bagian yaitu infundibulum, magnum,
isthmus, uterus, vagina, kloaka.
Fungsi organ reproduksi ternak mamalia betina dari ovarium adalah
menghasilkan sel telur dan hormon esterogen, tuba falopii adalah untuk
menangkap telur yang dilepaskan dari ovarium setiap bulan selama
ovulasi, uterus merupakan saluran untuk penerimaan sel telur yang telah
dibuahi, nutrisi dan perlindungan fetus, serviks adalah menutup lumen
utuerus, vagina berfungsi sebagai lubrikasi dan melindungi terjadinya
aberasi pada saat kopulasi, vulva berfungsi sebagai saluran reproduksi dan
urinaria.
Fungsi organ reproduksi betina unggas dari ovarium adalah penghasil gamet
betina dan pembentukan kuning telur, Infundibulum berfungsi menangkap
ovum (yolk) terjadinya fertilisasi, Magnum berfungsi Produksi putih telur
kental bagian dalam, Isthmus berfungsi Pembentukan kerabang tipis,
Uterus berfungsi pembentukan kerabang telur, Vagina berfungsi
Pembentukan kulikula dan pewarnaan kerabang, dan Kloaka berfungsi
Pengeluaran telur dan organ reproduksi terluar.

13
DAFTAR PUSTAKA

Dellmann, H. Dieter and Etsher M. Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner
II. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Bandung: Alfabeta.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Horhoruw, Martha Wiesje. 2012. Ukuran Saluran Reproduksi Ayam Petelur Fase
Pullet yang Diberi Pakan Dengan Campuran Rumput Laut. Jurnal Ilmu
Ternak Dan Tanaman. Vol 2, No. 2, Hal 39-41.
Lestari, Tita Damayanti & Ismudiono. 2014. Ilmu Reproduksi Ternak. Surabaya:
Airlangga University Press.
Saliasbury, G.M. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sobah. 2014. Laporan Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak Acara Anatomi Betina.
http://nurussobah.web.ugm.ac.id/2014/12/23/laporan-anatomi-betina. (Dia
kses pada Hari Minggu, 25 September 2016 Pukul 20:00 WIB).
Soeparna & N.Solihati, 2014. Ilmu Reproduksi Ternak. Bogor: IPB Press.
Toilehere, M. R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung: Angkasa.
Widayati, D.T, Kustono., Ismaya., S. Bintara. 2008. Ilmu Reproduksi Ternak.
Fakultas Peternakan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta: Kanisius.

14