Anda di halaman 1dari 9

PROPOSAL PENELITIAN

LIKOPEN DARI BUAH TOMAT

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

ASMAN ARDIANSYAH (E1M015006)

HARTAMI TSANIA (E1M015027)

LIAN YULIANTI (E1M015041)

PUPUT RAHMADANI UTAMI (E1M015054)


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman yang menuntut kemajuan dalam segala hal
menyebabkan begitu banyak pembaruan dalam berbagai bidang. Dalam ilmu
kesehatan dan ilmu gizi, kini untuk mengobati penyakit tidak hanya dengan
menggunakan obat. Namun, dilakukan berbagai cara lain seperti dengan
menggunakan antioksidan untuk memperlambat proses oksidasi yang akan
menetralkan radikal bebas. Antioksidan akan memperbaiki sel tubuh yang mengalami
kerusakan diakibatkan oleh radikal bebas.
Antioksidan banyak terkandung dalam makanan yakni buah-buahan dan
sayuran. Salah satunya adalah tomat yang mengandung antioksidan yang disebut
dengan likopen. Kandungan likopen dalam tomat sekitar 63,6%. Likopen adalah
suatu pigmen yang memberikan warna merah pada tomat. Zat antioksidan likopen
sangat ampuh untuk melumpuhkan radikal bebas yang dapat merusak sel, sehingga
fungsi fisik dan mental akan tetap terjaga serta awet muda. Tak heran jika sari buah
tomat yang pekat sering digunakan sebagai bahan pembuatan kosmetika anti penuaan.
Selain itu, likopen juga ampuh dalam memerangi akibat dari hiperlipidemia atau
kadar lemak darah berlebihan, kolesterol darah maupun trigliserida darah), seperti
kekakuan pembuluh darah akibat penyumbatan, stroke atau serangan jantung.
Bagi masyarakat Indonesia, tentu tomat merupakan sesuatu yang tidak asing
lagi. Karena tomat hampir digunakan setiap hari dalam mengolah makanan baik
makanan rumahan maupun restaurant. Kurangnya pengetahuan akan kandungan
antioksidan dalam tomat menyebabkan tomat hanya digunakan sebagai bumbu
masakan saja tanpa ada pengolahan lanjutan untuk mendapatkan antioksidan yang
maksimal.

Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan isolasi agar mendapatkan
kandungan likopen pada tomat secara maksimal sebagai antioksidan yang baik bagi
tubuh sehingga dapat menambah pengetahuan masyarakat akan pengolahan dari buah
tomat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah cara mengisolasi likopen dalam tomat sehingga mendapatkan
hasil yang maskimal?
2. Bagaimanakah cara mengidentifikasi likopen dalam tomat?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengisolasi likopen dalam tomat sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.
2. Mengidentifikasi likopen dalam tomat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tomat termasuk tanaman sayuran dalam family Solanaceae. Kata tomat
berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian, yaitu xitomate atau xitotomate.
Tanaman tomat banyak ditanam di dataran tinggi, dataran sedang, atau dataran
rendah. Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang berumur sekitar 4 bulan.
Tanaman tomat dapat ditanam sepanjang tahun. Namun, waktu yang paling baik
untuk menanam tomat adalah pada musim kemarau yang dibantu dengan penyiraman
secukupnya. Tanaman tomat berasal dari Peru dan Ekuador, kemudian menyebar ke
seluruh Amerika, terutama ke wilayah yang beriklim tropik, sebagai gulma. Orang
beranggapan yang membawa tanaman tomat ke Eropa adalah Christopher Colombus.
Pada waktu itu, tanaman tomat dianggap sebagai tanaman beracun dan hanya ditanam
sebagai tanaman hias dan obat kanker (Pracaya, 1998).
Buah tomat mengandung pigmen karotenoid, terutama likopen dan β-karoten
yang merupakan komponen utama penentu warna pada buah tomat masak. Warna dan
tekstur pada tomat segar merupakan atribut kualitas utama, yang secara langsung
berhubungan dengan pemasaran. Karotenoid selain sebagai penentu warna, juga
bermanfaat bagi kesehatan (Liu et al., 2008). Selain zat likopen di dalam buah tomat
terdapat juga zat tomatin. Asam malat dan asam sitrat dalam tomat membantu
membersihkan saluran empedu, sehingga kemungkinan menderita batu empedu dapat
dicegah (Apriadji, 2007). Warna jingga pada buah tomat merupakan kandungan
karotin yang berperan sebagai provitamin A, sedangkan warna merah menunjukkan
kandungan likopen yang juga sangat baik untuk mencegah penyakit kekurangan
vitamin A (Xerophthalmia). Sementara rasa masam disebabkan oleh kandungan asam
sitrat dapat berfungsi sebagai penggumpal (Rukmana, 1994).
Likopen termasuk salah satu kelompok senyawa karotenoid. Oleh karena
karotenoid termasuk terpenoid, maka likopen juga termasuk terpenoid. Likopen
ditemukan pada buah-buahan, yakni pemberi warna merah pada buah. Buah
semangka termasuk buah yang mengandung likopen cukup tinggi. Buah lain yang
juga mengandung likopen adalah buah tomat, pepaya dan jambu biji. Likopen dari
buah-buahan termasuk buah semangka dapat dipisahkan dari komponen lain
menggunakan pelarut air (Muchtadi,1992).
Likopen mempunyai rumus molekul C40H56 dengan berat molekul 536,85 Da
dan titik cair 172°C – 175°C. Bentuk kristal seperti jarum, panjang, dalam bentuk
tepung berwarna kecoklatan. Larut dalam kloroform, benzen, heksen, dan pelarut
organik lainnya dan bersifat hidrofobik kuat. Dapat mengalami degradasi melalui
proses isomerisasi dan oksidasi karena cahaya, oksigen, suhu tinggi, teknik
pengeringan, proses pengelupasan, penyimpanan dan asam. Likopen merupakan suatu
hidrokarbon polien dengan rantai asiklik terbuka tak jenuh, mempunyai 13 ikatan
rangkap, 11 diantaranya ikatan rangkap konjugasi yang tersusun linier dan tidak
mempunyai aktivitas provitamin A. Di alam, dalam bentuk all-trans yang secara
termodinamika merupakan bentuk yang stabil. Dengan pengaruh cahaya dan
pemanasan bentuk all-trans dapat berubah menjadi isomer mono atau poli cis
(Tranggono,1990).
Likopen mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan tubuh manusia.
Likopen dapat mencegah bahaya radikal bebas yang merupakan limbah dari hasil
metabolisme tubuh karena merupakan senyawa antioksidan. Radikal bebas dapat
menyebabkan timbulnya beberapa penyakit karena merusak sel-sel. Adanya
antioksidan efektif dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta menjaga
ketebalan dan fluiditas membran sel. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa
dengan mengkonsumsi makanan seperti tersebut diatas yang kaya likopen dapat
menghasilkan manfaat kesehatan yang luar biasa. Likopen secara khusus dapat
mencegah berbagai jenis kanker dan beberapa penyakit lainnya seperti penyakit
jantung, ketidak suburan, penyakit diabetes. Selain itu likopen juga dapat mencegah
penyakit yang terkait dengan usia atau penyakit degeneratif seperti degenerasi makula
dan katarak, mencegah gajala penuaan pada kulit dan menjaganya sehingga terlihat
lebih muda, serta menceegah terjadinya Osteoporosis atau tulang keropos (Winarno,
2002).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

a. Labu leher tiga,


b. Refluks kondensor,
c. Statif dan klem,
d. Termometer,
e. Neraca analitik,
f. Corong pemisah,
g. Blender,
h. Hot plate,
i. Magnetic stirrer
j. Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) atau KLT.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Tomat matang
b. Etanol
c. Metanol
d. Heksana
e. Etil asetat
f. Senyawa Ninhidrin

3. Cara kerja
a. Persiapan Bahan Baku
1) Dicuci buah tomat yang matang dengan air keran beberapa kali hingga bersih.
2) Dipotong - potong buah tomat lalu dihaluskan menggunakan blender.
3) Disimpan Buah tomat (sampel) yang telah dihaluskan di dalam chiller sampai
digunakan.
b. Ekstraksi
1) Diukur 150 ml sampel kemudian sampel diekstraksi menggunakan refluks
selama 3 jam dengan pelarut heksana dengan perbandingan tomat : pelarut (1:2)
pada temperatur 65oC.
2) Dicuci Ekstrak yang diperoleh dengan aquadest kemudian dimasukkan ke dalam
corong pemisah untuk memisahkan ekstrak.
3) Diguncang Ekstrak yang dicuci dengan aquadest untuk memisahkan ekstrak
dengan pengotor-pengotornya.
4) Setelah terbentuk 2 lapisan, diambilkan semua lapisan atas (nonpolar) kemudian
tampung ke dalam beaker glass.
5) Diulangi langkah 1-4 dengan sampel yang berbeda .
6) Dikumpulkan semua hasil yang didapatkan jadi satu.
c. Kristalisasi dengan Antisolvent
1) Ditampung semua lapisan atas (nonpolar) ke dalam beaker glass,
2) Ditambahkan 100 ml metanol sebagai anti solvent kemudian didiamkan beberapa
jam hingga terbentuk kristal.
3) Disaring Kristal yang terbentuk menggunakan kertas saring, setelah itu
ditimbang massa kristal yang diperoleh menngunakan neraca analitik.
d. Identifikasi Senyawa Likopen dengan plat KLT.
1) Kristal Likopen yang telah didapatkan dilarutkan dengan larutan n-
heksana secukupnya.
2) Selanjutnya ditotolkan larutan tersebut pada plat KLT yang sudah diberi
batas bawah 1,5 cm dan batas atas 0,5 cm.
3) Plat dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi eluen yang telah
disediakan.
4) Diamati plat KLT secara visual.
5) Diangkat plat KLT dari gelas kimia, kemudian dikeringkan.
6) Plat KLT yang telah kering diamati dengan alat UV lamp dan ditandai
spot yang ada.
7) Agar spot terlihat jelas, maka plat KLT disemprotkan dengan senyawa
ninhidrin.
8) Dihitung nilai Rf dari spot yang terbentuk dengan rumus :
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑛𝑜𝑑𝑎
Rf = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛 .
DAFTAR PUSTAKA

Apriadji, Wied Harry. (2007). Makan Enak untuk Hidup Sehat, Bahagia, dan Awet
Muda. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Goodwin,T.W. and Briton, G. (1988). Distribution and Analysis Of Carotenoids In
‘Plant Pigments’ (Ed TW Goodwin) PP.61-132- (Academic Press Limited. San
Diego).
Liu, L.H., D. Zabaras, L.E. Bennett, P. Aguas, dan B.W. Woonton. (2008). Effects of
UV-C, Red Light and Sun Light on The Carotenoid Content and Physical
Qualities of Tomatoes During Post-Harvest Storage. FoodChemistry. 115:495-
500.
Muchtadi, TR., dan Sugiono. (1992). Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Pusat
Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB, Bogor.
Pracaya. (2010). Bertanam Tomat. Yogyakarta: Kanisius.
Rukmana, Rahmat. (1994). Tomat dan Cherry. Yogyakarta: Kanisius.
Tranggono dan Sutardi, (1990). Biokimia dan teknologi pasca panen. Pusat Antar
Universitas Pangan Dan Gizi, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Press,
Winarno, F.G. 2002. Fisiologi Lepas Panen Produk Hortikultura. M-Brio Press,
Bogor.