Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN KECEMASAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kuliah Keperawatan Gerontik


Dosen Pengampu: Ns. Alfeus Manuntung ,S.Kep., M.Kep.

Disusun oleh: Kelompok III


Ika Ulya Cahyani Putri : NIM. PO.62.20.16.145
Irda Ayu Sundah : NIM. PO.62.20.16.147
Julyanto Putra Atmadja : NIM. PO.62.20.16.148
Krisdayanti : NIM. PO.62.20.16.149
Kristanti Monika Sari : NIM. PO.62.20.16.150
Luter King James : NIM. PO.62.20.16.151
M. Dilah Rasit : NIM. PO.62.20.16.152
Monika Yayu : NIM. PO.62.20.16.153
Muhammad Sidik : NIM. PO.62.20.16.154
Nurul Fitria Oktaviani : NIM. PO.62.20.16.155
Ratih Emasia Putri : NIM. PO.62.20.16.156
Raupini : NIM. PO.62.20.16.157

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA


DIV KEPERAWATAN REGULER III
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Kasih dan KaruniaNya
sehingga saya dapat menyelesaikan laporan tentang “Asuhan Keperawatan Pada
Lansia Dengan Kecemasan”.
Laporan ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak dan buku sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan
ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih untuk semua yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar saya dapat memperbaiki laporan ini.
Akhir kata saya berharap laporan ini dapat memberikan sumbangan
pikiran, manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Palangka Raya, Maret 2018

Kelompok III

ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN DEPAN
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1


1. Latar Belakang .........................................................................................1
2. Tujuan ......................................................................................................1
a. Tujuan Umum ...........................................................................1
b. Tujuan khusus ...........................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................3


1. Pengertian ...............................................................................................3
2. Klasifikasi ..............................................................................................5
3. Etiologi ...................................................................................................6
4. Tanda dan Gejala....................................................................................9
5. Jenis Gangguan Kecemasan .................................................................11
6. Penatalaksanaan ...................................................................................13
7. Asuhan Keperawatan ..........................................................................14
a. Pengkajian ...............................................................................14
b. Diagnosa .................................................................................14
c. Intervensi.................................................................................14
d. implementasi ...........................................................................17
e. Evaluasi ...................................................................................17

BAB III PENUTUP ..............................................................................................19


1. Kesimpulan ..........................................................................................19
2. Saran .....................................................................................................19
Daftar pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Masa penuaan yang terjadi pada setiap orang memiliki berbagai macam
penyambutan. Ada individu yang memang sudah mempersiapkan segalanya
bagi hidupnya di masa tua, namun ada juga individu yang merasa terbebani
atau merasa cemas ketika mereka beranjak tua. Takut ditinggalkan oleh
keluarga, takut merasa tersisihkan dan takut akan rasa kesepian yang akan
datang. Keberadaan lingkungan keluarga dan sosial yang menerima lansia
juga akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sosio-emosional
lansia, namun begitu pula sebaliknya jika lingkungan keluarga dan sosial
menolaknya atau tidak memberikan ruang hidup atau ruang interaksi bagi
mereka maka tentunya memberikan dampak negatif bagi kelangsungan hidup
lansia.

Semua orang pernah mengalami reaksi kecemasan, termasuk para lansia. Bila
seseorang bertambah tua maka kemampuan fisik dan psikisnya perlahan-
lahan akan mengalami penurunan yang berpengaruh pada kondisi mental dan
psilokogi seperti kurang percaya diri, cemas, stress dan depresi . Gejala
kecemasan sering terjadi dan sangat mencolok pada usia lanjut karena
menghadapi masa tua. Gejala-gejala tersebut seperti ketakutan, panik,
gangguan perut, mual, muntah, diare, sembelit, sesak napas, dan ketidak
mampuan bergaul dengan orang lain

2. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penulisan laporan ini adalah untuk
mengetahui teori tentang Lansia dengan Kecemasan serta Asuhan
Keperawatan Pada Lansia Dengan Kecemasan.

1
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian Lansia dengan Kecemasan
b. Mengetahui klasifikasi Lansia dengan Kecemasan
c. Mengetahui Etiologi Lansia dengan Kecemasan
d. Mengetahui Tanda dan Gejala Lansia dengan Kecemasan
e. Mengetahui Jenis gangguan kecemasan pada lansia
f. Mengetahui Penatalaksanaan Lansia dengan Kecemasan
g. Mengetahui Asuhan Keperawatan Lansia dengan Kecemasan

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian
Lansia menurut Setianto, 2004 adalah Seseorang dikatakan lanjut usia
(lansia) apabila usianya 65 tahun keatas.
Lansia (Pudjiastuti, 2003) merupakan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk
beradaptasi dengan stres lingkungan.
Lansia menurut BKKBN, 1995 yaitu Individu yang berusia diatas 60
tahun, pada umumnya memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-
fungsi biologis, psikologis, sosial, ekonomi.
Kecemasan adalah Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar
disertai respon autonom (sumber sering kai tidak spesifik) perasaan takut
yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Perasaan ini merupakan
isyarat kewaspadaan yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan
memampukan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman.
Sigmound Freud menyatakan bahwa ketegangan atau kecemasan yang
terjadi pada diri individu tanpa tujuan atau objek, tidak disadari dan
berkaitan dengan kehilangan self image.
Sulivan menyatakan bahwa kecemasan timbul karena adanya ancaman
terhadap self esteem oleh orang terdekat. Pada orang dewasa kecemasan
terjadi bila pretige dan dignity diri terancam oleh orang lain.
Pepleu menyatakan bahwa kecemasan dapat mempengaruhi hubungan
interpersonal. Disamping itu kecemasan merupakan respon terhadap
bahaya yang tidak diketahui dan terjadi bila ada hambatan pemenuhan
kebutuhan.

1. Anxiety atau kecemasan berasal dari bahasa latin “Anxietas” yang berarti
menjengkelkan atau mengganggu. Kecemasan menghadirkan perasaan
gelisah, tidak nyaman dan mengganggu integritas individu dalam
melaksanakan aktifitas sehari-harinya. Kecemasan adalah suatu pernyataan

3
yang dihasilkan oleh stres atau perubahan dan sering dihubungkan dengan
rasa takut.
2. Menurut Capernito (2001) kecemasan adalah keadaan individu atau
kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas
sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas,
non spesifik.
3. Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan perasaan,
keadaan emosional yang dimiliki seseorang pada saat menghadapi
kenyataan atau kejadian dalam hidupnya (Rivai,2000).
4. Kecemasan adalah perasaan individu dan pengalaman subjektif yang tidak
diamati secara langsung dan perasaan tanpa objek yang spesifik dipacu
oleh ketidak tahuan dan didahului oleh pengalaman yang baru (Stuart
dkk,1998)
5. Berdasarkan definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kecemasan
adalah perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir dan
gelisah. Keadaan emosi ini tanpa objek yang spesifik, dialami secara
subjektif dipacu oleh ketidak tahuan yang didahului oleh pengalaman baru,
dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.

Kecemasan pada lansia adalah hal yang paling sering terjadi.


Sebagian besar lansia mengalami kecemasan seiring dengan
bertambahnya usia. Lansia pada periode awal, adalah masa-masa
kecemasan yang paling tinggi, tetapi, seiring dengan semakin
bertambahnya usia, lansia berusaha menerima keadaan mereka dan
merasa pasrah. Usia lanjut dipandang sebagai masa degenerasi biologis
yang disertai dengan berbagai penderitaan seperti beberapa penyakit dan
keudzuran serta kesadaran bahwa setiap orang akan mati, maka
kecemasan akan kematian menjadi masalah psikologis yang penting pada
lansia, khususnya lansia yang mengalami penyakit kronis. Pada orang
lanjut usia biasanya memiliki kecenderungan penyakit kronis
(menahun/berlangsung beberapa tahun) dan progresif (makin berat)
sampai penderitanya mengalami kematian. Kenyataannya, proses penuaan
dibarengi bersamaan dengan menurunnya daya tahan tubuh serta

4
metabolisme sehingga menjadi rawan terhadap penyakit, tetapi banyak
penyakit yang menyertai proses ketuaan dewasa ini dapat dikontrol dan
diobati. Masalah fisik dan psikologis sering ditemukan pada lanjut usia.
Faktor psikologis diantaranya perasaan bosan, keletihan atau perasaan
depresi (Nugroho, 2000).

2. Klasifikasi
Tingkat kecemasan sebagai berikut:
1. Kecemasan ringan.
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan
menyebabkan seseorang menjadi waspada dan menghasilkan lahan
persepsinya. Kecemasan dapat memotivasi bekpar dan menghasilkan
pertumbuhan dan kreatifitas.
2. Kecemasan sedang.
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian
yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
Dengan kata lain, lapang persepsi terhadap lingkungan menurun.
Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan
mengesampingkan hal lain.
3. Kecemasan berat.
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung
untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak
dapat berfikir pada hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada satu area lain.
4. Tingkat panik dari kecemasan.
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dari orang yang mengalami
panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.
Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Dengan panik, terjadi
peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan

5
kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan
dengan kehidupan, dan juga berlangsung terus dalam waktu yang lama,
dapat terjadi kelelahan yang sangat, bahkan kematian. Pada tingkat ini
individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat
melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan.

3. Etiologi
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan pada lansia yang
mengalami penyakit kronis dalam menghadapi kematian diantaranya
adalah selalu memikirkan penyakit yang dideritanya, kendala ekonomi,
waktu berkumpul dengan keluarga yang dimiliki sangat sedikit karena
anak-anaknya tidak berada satu rumah/berlainan kota dengan subyek,
kepikiran anaknya yang belum menikah, sering merasa kesepian, kadang
sulit tidur dan kurangnya nafsu makan karena selalu memikirkan penyakit
yang dideritanya.
Beberapa faktor lain diantaranya:

1. Faktor Apa Saja yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Kecemasan

Penyebab kecemasan

1. Traumalitas
2. Stres yang berkepanjangan/depresi
3. Konflik-konflik
4. Ketidakseimbangan kimia dalam tubuh
5. Perubahan struktur otak
6. Stres/trauma/phobia lingkungan.

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan:


1. Umur

Prawirohardjo (2003) menspesifikasikan umur kedalam tiga kategori, yaitu:


kurang dari 20 tahun (tergolong muda), 20-30 tahun (tergolong menengah),
dan lebih dari 30 tahun (tergolong tua). Soewandi (1997) mengungkapkan

6
bahwa umur yang lebih muda lebih mudah menderita stress dari pada umur
tua.

2. Keadaan fisik

Menurut Carpenito (2001) penyakit adalah salah satu faktor yang


menyebabkan kecemasan. Seseorang yang sedang menderita penyakit akan
lebih mudah mengalami kecemasan dibandingkan dengan orang yang tidak
sedang menderita penyakit.

3. Sosial budaya

Menurut Soewardi (1997), cara hidup orang dimasyarakat juga sangat


memungkinkan timbulnya stress. Individu yang mempunyai cara hidup
teratur akan mempunyai filsafat hidup yang jelas sehingga umumnya lebih
sukar mengalami stress. Demikian juga dengan seseorang yang keyakinan
agamanya rendah.

4. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang berpengaruh dalam memberikan respon


terhadap sesuatu yang datang baik dari dalam maupun dari luar. Orang yang
akan mempunyai pendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih
rasional dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah atau mereka
yang tidak berpendidikan. Kecemasan adalah respon yang dapat dipelajari.
Dengan demikian pendidikan yang rendah menjadi faktor penunjang
terjadinya kecemasan (Raystone, cit Meria 2005).

5. Tingkat pengetahuan

Soewandi (1997) mengatakan bahwa pengetahuan yang rendah


mengakibatkan seseorang mudah mengalami stress. Ketidaktahuan terhadap
suatu hal dianggap sebagai tekanan yang dapat mengakibatkan krisis dan
dapat menimbulkan kecemasan. Stress dan kecemasan dapat terjadi pada

7
individu dengan tingkat pengetahuan yang rendah, disebabkan karena
kurangnya informasi yang diperoleh.

b. Faktor predisposisi

Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal ansietas :

1. Dalam pandangan psikoanalitik, ansietas adalah konflik emosional yang


terjadi antara dua elemen kepribadian, id dan superego. Id mewakili
dorongan insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego
mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma- norma
budaya seseorang. Ego atau Aku, berfungsi menengahi hambatan dari dua
elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego
bahwa ada bahaya.
2. Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut
terhadap tidak adanya penerimaan dari hubungan interpersonal. Ansietas
juga berhubungan dengan perkembangan, trauma seperti perpisahan dan
kehilangan sehingga menimbulkan kelemahan spesifik. Orang dengan
harga diri rendah mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
3. Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitu
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Daftar tentang pembelajaran meyakini bahwa
individu yang terbiasa dalam kehidupan dininya dihadapkan pada
ketakutan yng berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas pada
kehidupan selanjutnya.
4. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal
yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam
gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi.
5. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus
benzodiazepine. Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas
penghambat dalam aminobutirik. Gamma neuroregulator (GABA) juga
mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis
berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya endorfin. Selain itu

8
telah dibuktikan kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata
sebagai predisposisi terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan
gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk
mengatasi stressor.

c. Faktor presipitasi

Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal.


Stressor pencetus dapat dikelompokkan menjadi 2 katagori :

1. Ancaman terhadapintegritas seseorang meliputi ketidakmampuan


fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk
melakukan aktifitas hidup sehari- hari.
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan
identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.

4. Tanda dan Gejala

a. Bagaimanakah Perilaku Pada Lansia dengan Kecemasan.

Menurut Carpenito (2001), sindrom kecemasan berfariasi tergantung tingkat


kecemasan yang dialami seseorang, yang manifestasi gejalanya terdiri dari :

1. Gejala fisiologis

Peningkatan frekuensi nadi, tekanan darah, nafsu, gemetar, mual


muntah, sering berkemih, diare, insomnia, kelelahan dan kelemahan,
kemerahan atau pucat pada wajah, mulut kering, nyeri (dada,
punggung dan leher), gelisah, pingsan dan pusing.

2. Gejala emosional
Individu mengatakan merasa ketakutan, tidak berdaya, gugup,
kehilangan percaya diri, tegang, tidak dapat rileks, individu juga
memperlihatkan peka terhadap rangsang, tidak sabar, mudah marah,

9
menangis, cenderung menyalahkan orang lain, mengkritik diri sendiri
dan orang lain.

3. Gejala kognitif
Tidak mampu berkonsentrasi, kurangnya orientasi lingkungan, pelupa
(ketidakmampuan untuk mengingat) dan perhatian yang berlebihan.
b. Tanda gejala

Penderita yang mengalami kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang


khas dan terbagi dalam beberapa fase, yaitu :

1. Fase 1

Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh


mempersiapkan diri untuk fight (berjuang), atau flight (lari secepat-
cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak sebagai akibat
dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan nor adrenalin.

Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa
tegang di otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan
punggung. Dalam persiapannya untuk berjuang, menyebabkan otot
akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri dan
spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok
agonis dan antagonis akan menimbulkan tremor dan gemetar yang
dengan mudah dapat dilihat pada jari-jari tangan (Wilkie, 1985). Pada
fase ini kecemasan merupakan mekanisme peningkatan dari sistem
syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai
gagal mengolah informasi yang ada secara benar (Asdie, 1988).

2. Fase 2 (dua)
Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah,
ketegangan otot, gangguan tidur dan keluhan perut, penderita juga
mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada motifasi diri
(Wilkie, 1985).

10
Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah menangis tanpa sebab,
yang beberapa saat kemudian menjadi tertawa. Mudah menangis yang
berkaitan dengan stres mudah diketahui. Akan tetapi kadang-kadang
dari cara tertawa yang agak keras dapat menunjukkan tanda adanya
gangguan kecemasan fase dua (Asdie, 1988). Kehilangan motivasi diri
bisa terlihat pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan barang
ke tanah, kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya
melihat barang yang jatuh tanpa berbuat sesuatu (Asdie, 1988).

3. Fase 3
Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan
stresor tetap saja berlanjut, penderita akan jatuh kedalam kecemasan
fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala yang terlihat pada fase satu
dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres, gejala
kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah
laku dan umumnya tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres. Pada
fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti : intoleransi dengan rangsang
sensoris, kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang
sebelumnya telah mampu ia tolerir, gangguan reaksi terhadap sesuatu
yang sepintas terlihat sebagai gangguan kepribadian (Asdie, 1988).

5. Jenis gangguan kecemasan

Beberapa jenis gangguan kecemasan adalah :

1. Fobia

Kriterianya seperti penolakan berdasarkan ketakutan terhadap benda-benda


atau situasi yang dihadapi yang sebetulnya tidak berbahaya dan penderita
mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya, seperti sumber binatang,
ketinggian, tempat tertutup, darah

11
2. Agrofobia

Sekelompok ketakutan yang berpusat pada tempat-tempat publik, takut


berbelanja, takut kerumunan, takut berpergiaan dan banyak yang minta
pertolongan

3. Fobia Sosial

Kecemasan sosial tidak rasional karena adanya orang lain. contoh : takut
bicara di hadapan publik, takut makan di tempat umum, takut menggunakan
wc umum, jarang minta bantuan, terjadi pada masa remaja, karena masa itu
kesadaran dan interaksi sosial dengan orang lain menjadi penting dalam
kehidupannya.

4. Gangguan Panik

Tanda-tanda sekonyong-konyong sesak nafas, detak jantung keras, sakit di


dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh, bergetar, ketakutan yang sangat akan
teror, ketakutan akan ada hukuman, perasaan ada di luar badan, merasa dunia
tidak nyata, ketakutan kehilangan kontrol , ketakutan menjadi gila dan takut
akan mati.

5. Gangguan Kecemasan Menyelur (GAD)

Gangguan ini melibatkan rasa khawatir yang berlebihan, sering kali tidak
realistis, meski tidak ada hal-hal yang memprovokasi ketakutan tersebut.
Tanda-tandanya adalah kecemasan kronis terus menerus mencakup situasi
hidup, adanya keluhan somatis, seperti berpeluh, jantung berdetak keras,
mulut kering, tangan dan kaki dingin, ketegangan otot dan sulit untuk
berkonsentrasi.

6. Gangguan Obsesif kompulsif (OCD)

Orang-orang yang mengalami OCD ini biasanya memiliki gangguan pikiran


yang konstan dan ketakutan-ketakutan tertentu akan sesuatu secara berlebihan

12
sehingga mendorongnya untuk melakukan ritual atau rutinitas tertentu.
Misalnya, orang yang takut pada kuman secara berlebihan sering kali
berpikiran bahwa ada banyak kuman di sekelilingnya, sehingga setiap kali ia
menyentuh sesuatu, ia harus segera mencuci tangan atau menggunakan
pembersih tangan.

7. Gangguan Kecemasan Pasca Trauma (PTSD)

Orang dengan gangguan PTSD ini biasanya pernah mengalami trauma atau
peristiwa yang sangat mengerikan seperti pelecehan seksual atau fisik,
kematian tak terduga orang yang dicintai, atau bencana alam. Orang dengan
PTSD sering memiliki pikiran dan kenangan yang abadi dan cenderung
menakutkan terhadap kejadian tersebut. Biasanya, mereka cenderung mati rasa
secara emosional.

6. PENATALAKSANAAN KECEMASAN
Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap
pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat
holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik,
psikososial dan psikoreligius. Selengkpanya seperti pada uraian berikut :
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :
a. Makan makanan yang berigizi dan seimbang
b. Tidur yang cukup
c. Olahraga yang teratur
d. Tidak merokok dan tidak minum minuman keras
2. Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti cemas
(anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam,
buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam.
3. Terapi somatic
Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan
atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan

13
keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang
ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.

4. Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain
a. Psikoterapi suportif
b. Psikoterapi re-edukatif
c. Psikoterapi re-konstruktif
d. Psikoterapi kognitif
e. Psikoterapi psikodinamik
f. Psikoterapi keluarga

5. Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan
kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan
yang merupakan stressor psikososial.

7. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
Untuk lansia
1. kaji depresi yang sering tersamarkan oleh ansietas pada lansia
2. gunakan pendekatan yang tenang dan tidak terburu-buru
3. upayakan konsistensi diantara pemberi asuhan dan didalam lingkungan

B. Diagnosa Keperawatan
1. Cemas tingkat berat/Panik
2. Cemas sedang

C. Intervensi
1. Cemas Berat/panik
Tujuan yang diharapakan :
a. Klien terlindung dari bahaya

14
b. Klien dapat menyesuaikan dengan lingkungan barunya
c. Klien dapat mengikuti aktifitas yang telah dijadwalkan
d. Klien dapat mengalami kesembuhan dengan berkurangnya tanda gejala

Rencana tindakan keperawatan


1. Lindungi klien dari bahaya
a. Bina hubungan terapeutik : terima terlebih dahulu kehendaknya
dan beri dukungan klien dari pada melawan
b. Kenalkan realitas nyeri yang berhubungan dengan mekanisme
koping Jangan fokuskan pada fobia, ritual atau keluhan fisik.
c. Beri umpan balik tentang : perilaku stress, penilaian stresor dan
sumber koping
d. Perkuat ide bahwa kesehatan fisik Berhubungan dengan
kesehatan emosi
e. Kemudian mulailah membuat batasan perilaku mal-adaptif klien
dengan cara mendukung
2. Modifikasi lingkungan yang dapat mengurangi
kecemasan
a. Lakukan cara yang tenang kepada klien
b. Kurangi stimulasi lingkungan
c. Batasi interaksi pasien dengan orang lain, untuk meminimalkan
menularnya cemas pada orang lain.
d. Identifikasi dan modifikasi situasi yang mempengaruhi kecemasan
e. Berikan tindakan yang dapat mendukung fisik, seperti; mandi
hangat, massage.
3. Dorong klien melakukan aktifitas yang telah dijadwalkan
a. Dukung klien untuk beraktifitas dengan berbagi kegiatan seperti
membersihkan ruangan, merawat taman selanjutnya berikan
penguatan perilaku produktif secara social
b. Berikan beberapa jenis latihan fisik seperti; senam, relaksasi.
c. Bersama-sama klien untuk membuat jadwal kegiatan

15
d. Libatkan keluarga atau sismtem pendukung lainnya yang
memungkinkan
4. Kolaborasi pemberian obat-obat anti ansietas untuk menurunkan
gejal-gejala cemas berat
b. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas,
c. Amati efek samping obat

2. Cemas tingkat sedang


Tujuan Umum
a. Klien dapat mengidentifikasi perasaan cemas
b. Klien dapat mengenali penyebab cemas
c. Klien dapat menguraikan respon koping adaptif dan mal-adaptif
d. Klien dapat melaksanakan 2 respon adaptif untuk mengatasi cemas

Rencana tindakan keperawatan

1) Identifikasi perasaan cemas


d. Bina hubungan saling percaya
e. Bantu klien mengidentifikasi dan menguraikan
perasaannya
f. Monitor adakah kesesuaian perilaku dengan perasaan
g. Validasi pasien tentang perasaan cemasnya semua
perubahan dari asumsi yang ada
h. Gunakan pertanyaan terbuka , kaitkan perilaku klien
dengan perasaan klien
i. Lakukan konfrontasi suportif secara bijaksana. (jika perlu)

2) Kenali penyebab kecemasan klien


3. Bantu klien untuk menggambarkan situasi dan interaksi
yang mendahului cemas
4. Tinjau penilaian klien terhadap; stresor; nilai-nilai yang
terancam; timbulnya konflik

16
5. Hubungkan pengalaman klien sekarang dengan masa lalu

3) Dorong klien untuk menguraikan cara koping adaptif


a) Gali bagaimana klien mengatasi cemas dimasa lalu
dan bagaimana tindakan yang dilakukan
b) Tunjukan efek distruktif dari koping mal-adaptif
c) Dorong klien untuk melakukan koping adaptif yang
efektif
d) Beri tanggung jawab klien
e) Bantu klien menilai kembali : nilai, sifat dan arti
stressor
f) Diskusikan dengan klien manfaat manfaat
berhubungan dan akibat kita tidak berhubungan

4) Bantu klien melakukan 2 respon adaptif untuk mengatasi


cemas
1. Bantu klien mengidentifikasi cara untuk membangun kembali : pikiran
positif; perilaku adaptif, penggunaan sumber-sumer koping, dan menguji
respon koping yang baru
2. Beri dorongan untuk melakukan aktifitas fisik dalam menyalurkan
energi
3. Libatkan orang terdekat sebagai sumber koping/dukungan social
4. Ajarkan latihan relaksasi untuk meningkatkan pengendalian diri,
relevansi diri serta mengurangi stress.

D. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi

E. Evaluasi
Evaluasi disesuaikan dengan tujuan dan kriteria hasil dari intervensi

17
\

24

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir


dan gelisah. Kecemasan pada lansia adalah hal yang paling sering terjadi.
Sebagian besar lansia mengalami kecemasan seiring dengan bertambahnya
usia. Penyebab kecemasan diantaranya adalah Traumalitas, Stres yang
berkepanjangan/depresi, Konflik-konflik, Ketidakseimbangan kimia dalam
tubuh, Perubahan struktur otak, Stres/trauma/phobia lingkungan.dan banyak
faktor pendukung lainnya.

B. Saran
Dari Laporan pendahuluan ini saya menyadari masih banyak terdapat
kekurangan dan kesalahan. Untuk itu penyusun sangat mengharapkan saran
yang bersifat membangun dari semua pihak, agar dalam pembuatan laporan
pendahuluan yang akan datang akan lebih baik dan tidak akan terjadi
kesalahan lagi. Semoga dengan adanya laporan ini, kita dapat mengetahui
tentang asuhan keperawatan pada lansia dengan kecemasan.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://keperawatantanjungkarang.blogspot.co.id/2014/10/askep-psikososial-
kecemasan-kelompok-1_91.html

https://marialiwun.wordpress.com/2014/09/16/kecemasan-pada-lansia/

http://www.psychologymania.com/2012/08/kecemasan-pada-lansia.html

http://klana-blog.blogspot.co.id/2011/08/askep-lansia-ansietas.html

http://kumpulanasuhankeperawatanlengkap.blogspot.co.id/2013/06/askep-cemas-
ansietas_5.html

20