Anda di halaman 1dari 4

Skenario Diskel 1

1. Identifikasi Masalah
a. Ocular shiners : mata atau penglihatan biru atau bengkak
b. Infraorbital : di bawah atau di permukaan orbita
interior rongga tulang yang berisi bola mata, bersifat otot, pembuluh darah dan
syarafnya
c. Sekresi nasal : seluler berupa pembentukan dan pelepasan produk spesifik yang
berkaitan dengan hidung
2. Pertanyaan
1. Masalah apa yang terjadi pada anak tersebut?
2. Jelaskan bagaimana patofisiologi dari penyakit tersebut!
3. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi dari maslah/penyakit di atas!
4. Jelaskan penatapelaksanaan dari kasus diatas!
5. Sebutkan komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus di atas!
6. Jelaskan mekanisme bersin dan pengaturan pernafasan
7. Sebutkan 3 diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus diatas menurut
NANDA sealigus intervensinya!
3. Jawaban
a. Gangguan pernafasan dibagian nasal dan sinus karena ditandai dengan reaksi bersin,
pembengkakan sektum nasal atau edema membran mukosa dengan warna abu-abu
dan terjadi sekresi nasal jernih. Diagnosa sementara Rhinitis.
b. Terjadi fatofisiologi dibagian septum nasal yang bengkak (edema) sehingga
mengganggu jalan nafas dan reaksi alergi tubuh yang berlebih karna temperatur
lingkungan yang dingin yang di tunjukan melalui produksi sekret di sinus yang
berlebih.
c. Klasifikasi rhinits alergi
1) Berdasarkan lama penyakit
a) Interminten yaitu jika penderita mempunyai gejala selama kurang dari 4
hari dalam 1 minggu atau penyakitnya baru berlangsung selama 4 minggu
b) Persistem bila penderita mempunyai gejala selama lebih dari 4 hari dalam
1 minggu dan penyakitnya sudah berlangsung selama lebih dari 4 minggu
2) Berdasarkan beratnya penyakit
a) Ringan : gejala hidung tidak mengganggu tidur, aktifitas sehari-hari dan
tidak mengganggu kerja atau sekolah
b) Sedang atau berat : jika gejala hidung mengakibatkan gangguan pada satu
atau lebih aktifitas seperti tidur, aktifitas sehari-hari sekolah atau kerja
http://prints.undip.ac.id/31228/3/bab_2.pdf
4. Tindakan keperawatan untuk diagnosis ini berfokus pada pengkajian, penyebab, ketidak
efektipan pernafasan, pemantauan, status pernfasan, penyuluhan mengenai
penatalaksanaan mandiri terhadap alergi membimbing pasien untuk memperlambat
pernafasan dan mengendalikan respon dirinya, membantu pasien menjalan kan
pengobatan pernafasan dan menenangkan pasien selama periode dispnea dan nafas
pendek.
5. - Sinusitis
Sinus terinfeksi di akibatkan oleh rhinitis karena secret yang dihasilkan oleh sinus
secara alami tidak bisa menglir ke hidung seperti biasa akibat tersumbat aliran
tersebut.
- Infeksi Telinga
Rhinitis dapat menyebabkan masalah infeksi telinga bagian tengah, bagian tengah
karena bagian belakang hidung dan telinga tengah yang berfungsi mengalirkan cairan
tersumbat akibat rhnitis yang menyebabkan infeksi
- Polip Hidung
Polip hidung bisa terjadi akibat rhinitis yang tumbuh karena peradanga selaput hidung
yang memiliki ukuran dan warna yang beragam diantaranya berwarna abu, merah
muda, dan kuning, yang dapat mengganggu pernafasan, menghambat sinus dan
mengurangi indra penciuman.
- Berkurangnya kuatas hidup.
- Kurang tidur
- Memperberat ashma
6. a. Mekanisme Bersin
Bersin adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran hidung ketika
mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk kedalam hidung,
sehingga secara otomatis tubuh akan menolak bakteri itu, mekanisme terjadinya
bersin persis seperti batuk. Hanya di akhir bersin, rongga mulut menutup sehingga
akhir udara keluar melalui hidung sehingga terdoronglah kuman ataupun partikel iritan
di hidung.
Bersin juga dapat timbul akibat adanya peradangan (rhinosinusitis), benda asing,
infeksi virus, atau reaksi alergi. Alergi tersebut muncul akibat paparan terhadap bahan
alergi.
Selain karena alergi, gejala dapat disebabkan bahan-bahan non-alergi yang
ditimbulkan faktor lingkungan. Diantaranya, perubahan udara, temperatur, suhu,
kelembapan, tekanan udara, atau bahan-bahan kimia dari obat atau kosmetik tertentu.
Syaraf – syaraf yang terdapat dihidung dan mata itu sebenarnya saling bertautan
sehingga pada saat kita bersin, maka secara otomatis mata kita akan terpejam. Hal ini
untuk melindungi saluran air mata dan kapiler darah agar tidak terkontaminasi oleh
bakteri yang keluar dari membran hidung. Pada saat kita bersin, secara reflek maka
otot - otot yang ada diwajah kita menegang dan jantung kita akan berhenti berdenyut,
setelah selesai bersin maka jantung akan kembali lagi berdenyut/berdetak kembali.
b. Pengaturan Pernapasan
Pengaturan pernapasan terdiri atas kontrol syaraf dan kimia untuk
mempertahankan konsentrasi normal oksigen, karbondioksida, dan ion hidrogen
dalam cairan tubuh. Sistem syaraf tubuh menyesuaikan kecepatan ventilasi alveolar
untuk memenuhi kebutuhan tubuh sehingga 𝑃𝑂2 dan 𝑃𝐶𝑂2 tetap relatif konstan,
“Pusat Pernapasan” tubh sebenarnya merupakan sejumlah kelompok syaraf yang
berada di dalam medula oblongata dan pons cerebral.
Pusat kemosensitif yang berada di medula oblongata sangat responsif terhadap
peningkatan 𝐶𝑂2 darah atau konsentrasi ion hidrogen. Dengan memengaruhi pusat
pernapasan lain, pusat ini dapat meningkatkan aktifitas pusat inspirasi dan frekuensi
serta kedalaman respirasi. Selain stimulasi kimia secara langsung pada pusat
pernapasan di otak, reseptor syaraf khusus yang sensitif terhadap penurunan
konsentrasi 𝑂2 berada diluar sistem syaraf pusat didalam korpus karotis (tepat diatas
percabangan arteri karotis komunis) dan korpus aorta. Penurunan konsentrasi oksigen
arterial menstimulasi kemoreseptor ini dan kemudian pada gilirannya akan
menstimulasi pusat pernapasan untuk meningkatkan ventilasi. Dari ketiga gas darah
(hidrogen, oksigen, dan karbondioksida) yang dapat mencetuskan kemoreseptor,
peningkatan konsentrasi karbondioksida normalnya adalah yang paling kuat
menstimulasi pernapasan.
Namun, pada klien yang memiliki penyakit paru kronis emfisema, konsentrasi
oksigen, bukan konsentrasi karbon dioksida, untuk klien tersebut, penurunan
konsentrasi oksigen merupakan stimulus utama untuk pernapasan. Kadangkala
disebut sebagai dorongan hipoksik, peningkatan konsentrasi oksigen menekan
frekuensi pernapasan. Dengan demikian, klien ini hanya diberikan suplemen oksigen
berkonsentrasi rendah.
Fundamental Keperawatan, edisi 7, volume 2, Kozier.Erb.Berman.Snyder

7.
Diagnosa Intervensi
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan a. Menejemen jalan nafas
dengan proses inflamasi ditandai dengan lecet pada b. Pemantauan
kulit sekitar cuping hidung pernapasan
c. Bantuan ventilasi
d. Kewaspadaan aspirasi
b. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan a. Penurunan ansietas
maturasi ditandai dengan peningkatan kekhawatiran b. Bimbingan antisipasi
c. Teknik menenangkan diri
d. Peningkatan koping
e. Dukungan emosi
c. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan a. Edukasi orang tua:
keterbatasan kognitif ditandai dengan ketidaktahuan Chilbearing Family
faktor pencetus masalah b. Identifikasi resiko
c. Penyuluhan: Proses
penyakit
d. Penyuluhan: Individu
NANDA NIC NOC halaman: 445