Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

PENYAKIT HEPATITIS

DISUSUN OLEH:

1. ADIL AZMI 10. FEBBY RAMADHANI


2. AFIFAH AMNA TULLA 11. NADIA SAPUTRI
3. AMELIA FITRI 12. NORIZA SAFIRA
4. ANNISA MADRHATILLA 13. PUTRI AYU FATMA
5. ASIH PURNAMA SARI 14. RAMA CHANDRA
6. ATTINI PUTRI HADERANI 15. RAHMI HANIFAH
7. DENI SAPUTRA 16. SITTI HARDIYANTI
8. DHEAFNA NIKYTA 17. SURYA ROMADHONA
9. ELGA HENDIANA 18. WIDIA JULIANI

DOSEN PEMBIMBING: Ns. DONA AMELIA,S. Kep, M. Kep

DIII KEPERAWATAN TINGKAT II


STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGI
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
agama dan manusia ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran,
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Bukittinggi, 10 Januari 2017

Hormat kami
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

Virus Hepatitis A

Etiologi Hepatitis A

Patofisiologi Hepatitis A

Tanda dan Gejala Hepatitis A

Pemeriksaan Penunjang Hepatitis A

Penatalaksanaan Hepatitis A

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Daftar Pustaka.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hepatitis merupakan inflamasi dan cedera pada hepar, penyakit ini dapat disebabkan oleh
infeksi atau oleh toksin termasuk alkohol dan dijumpai pada kanker hati. Hepatitis virus
adalah istilah yang digunakan untuk infeksi hepar oleh virus, identifikasi virus penyakit
dilakukan terus menerus, tetapi agen virus A, B, C, D, E, F dan G terhitung kira-kira 95%
kasus dari hepatitis virus akut. (Ester Monica, 2002 : 93)
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi pada
sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia serta selular yang khas.
Sampai saat ini sudah teridentifikasi lima tipe hepatitis virus yang pasti : hepatitis A,B,C,D,
dan E. Hepatitis Adan E mempunyai cara penularan yang serupa(jalurfekal-oral) sedangkan
hepatitis B,C,D memiliki banyak karakteristik yang sama. Pedoman terminologi yang
berkaitan dengan hepatitis virus diberikan dalam bagan 38-1. Terdapat bukti adanya jenis-
jenis hepatitis virus yang lain.
Insidens hepatitis virus yang terus meningkat semakin menjadi maslah kesehatan
masyarakat. Penyakit tersebut penting karena mudah ditularkan, memiliki morbiditas yang
tinggi dan menyebabkan penderitanya absen dari sekolah atau pekerjaan untuk waktu yang
lama.
Enam puluh sampai 90% dari kasus-kasusnhepatitis virus diperkirakan berlangsung tanpa
dilaporkan. Keberadaan kasus-ksus subklinis, ketidakberhasilan untuk mengenali kasus-kasus
yang ringan dan kesalahan diagnosis diperkirakan turut menjadi penyebab pelaporan yang
kurang dari keadaan sebenarnya. Meskipun kurang-lebih 50% orang dewasa di Amerika
Serikat telah memiliki antibodi terhadap virus hepatitis A, banyak orang tidak dapat
mengingat kembali episode atau kejadian sebelumnya yang memperlihatkan gejala hepatitis.
Implikasi Keperawatan. Perawat terutama terlibat dengan tiga bidang permasalahan
hepatitis virus yang utama: (1) perawatan penderita hepatitis ;(2) kenyataan bahwa banyak
penderita hepatitis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) yang dapat menjadi masalah
epimiologi yang serius; dan (3) kebutuhan kesehatan yang jelas menuntut eliminasi berbagai
bentuk penyakit tersebut. Kategori terakhir ini mencakup berbagai pertimbangan berikut:

 Sanitasi rumah dan komunitas yang baik


 Kesadaran yang terus-menerus akan higiene perorangan (khususnya dalam kebiasaan
membasuh tulang)
 Praktik yang aman dalam menyiapkan dan membagikan makanan
 Penyelian kesehatan efektif di sekolah, asrama,fasilitas, perawatan yang diperluas,
barak-barak dan kamp-kamp
 Program pendidikan kesehatan yang berkelanjutan
 Pelaporan setiap kasus hepatitis virus kepada Departemen Kesehatan setempat.

(Brunner & Sudarth, 2001 : 1169)


B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi hepatitis?
2. Bagaimana Etiologi dari hepatitis?
3. Bagaimana patofisiologi dari hepatitis?
4. Bagaimana tanda dan gejala dari hepatitis?
5. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari hepatitis?

C. Tujuan Penulisan
1. Dapat mengetahui defenisi hepatitis
2. Dapat mengetahui etiologi hepatitis
3. Dapat mengetahui patofisiologi hepatitis
4. Dapat mengetahui tanda dan gejala hepatitis
5. Dapat mengetahui pemeriksaan penunjang hepatitis
6. Dapat mengetahui pencegahan hepatitis
7. Dapat mengetahui penatalaksanaan hepatitis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi Hepatitis A
Hepatitis A, yang dahulu dinamakan hepatitis infeksiosa, disebabkan oleh virus RNA
dari famili enterovirus. Cara penularan penyakit ini adalah melalui jalur fekal-oral, terutam
lewat konsumsi makanan atau minuman yang tercemar virus tersebut. Virus hepatitis A
ditemukan dalam tinja pasien yang terinfeksi sebelum gejalanya muncul dan selama beberapa
hari pertama menderita sakit. Secara khas, seorang pasien dewasa muda akan terjangkit
infeksi disekolah dan membawanya kerumah dimana kebiasaan sanitasi yang kurang sehat
menyebarkannya ke seluruh anggota keluarga. Hepatitis A lebih prevalen di negara-negara
berkembang atau pada populasi yang tinggalnya berdesakan dengan sanitasi yang buruk.
Penjaja makanan yang terinfeksi dapat menyebarkan penyakit tersebut, dan masyarakat dapat
terjangkit melalui konsumsi air atau ikan dari sungai yang tercemar limbah. Wabah hepatitis
A dapat terjadi pada pusat-pusat kesehatan dan panti akibat kurangnya kebersihan
perorangan. Kadang-kadang enyakit ini ditularkan melalui transfusi darah.
Masa inkubasi hepatitis A diperkirakan berkisar dari 1 sampai 7 minggu dengan rata-
rata 30 hari. Perjalanan penyakit dapat berlangsung lama, dari 4 hingga 8 minggu. Umumnya
hepatitis A berlangsung lebih lama dan lebih berat pada penderita yang berusia di atas 40
tahun.
Virus hepatitis A hanya terdapat dalam waktu singkat di dalam serum; pada saat
timbul ikterus, kemungkinan pasien tidak infeksius lagi. Brunner & Sudarth, 2001 : 1169)

Hepatitis merupakan istilah umum yang berarti peradangan pada sel-sel hati. Peradangan
hati ini dapat disebabkan oleh infeksi, paparan alcohol, obat-obatan tertentu, bahan kimia,
atau racun, atau dari system kekebalan tubuh. ( Arif Muttaqin, 2011 )

Hepatitis virus akut adalah penyakit infeksi yang penyebarannya luas, walaupun efek
utamanya pada hati.( Syivia .A. price, 2005 )

Jenis-jenis Hepatitis

1. Hepatitis A : yang dahulu dinamakan hepatitis infeksiosa, disebabkan oleh virus RNA
dari family enterovirus. Cara penularan penyakit ini adalah melalui jalur fekal-oral,
terutama lewat konsumsi makanan atau minuman yang tercemar virus tersebut.
Umumnya terjadi didaerah kumuh berupa endemik. Masa inkubasi : 2-6 minggu,
kemudian menunjukkan gejala klinis. Populasi paling sering terinfeksi adalah anak-
anak dan dewasa muda.( Brunner & Suddarth, 2001 )
2. Hepatitis B : yang dahulu dinamakan hepatitis serum. Disebabkan oleh virus
hepatitis B ( HBV ), Cara penularan penyakit ini adalah parental atau lewat kontak
dengan karier atau penderita infeksi akut, kontak seksual dan oral-oral. Penularan
perinatal dari ibu kepada bayinya. Ancaman kesehatan kerja yang penting bagi
petugas kesehatan. ( Brunner & Suddarth, 2001 ) Golongan yang beresiko tinggi
adalah mereka yang sering tranfusi darah, pengguna obat injeksi. Masa inkubasi
mulai 6 minggu sampai dengan 6 bulan sampai timbul gejala klinis.
3. Hepatitis C : yang dahulu dinamakan non-A, non-B. suatu peradangan pada sel-sel
hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV ). cara penularan HCV sama
dengan HBV, tetapi terutama transfuse darah dan produk darah, terkena darah yang
terkontaminasi lewat peralatan atau parafenalia obat. ( Brunner & Suddarth, 2001 ).
Populasi yang paling sering terinfeksi adalah pengguna obat injeksi, individu yang
menerima produk darah, potensial risiko terhadap pekerja perawatan kesehatan dan
keamanan masyarakat yang terpajan pada darah. Masa inkubasinya adalah selama 18-
180 hari.
4. Hepatitis D : yang dahulu sering disebut hepatitis delta, suatu peradangan pada sel-sel
hati yang disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV ). Cara penularan sama seperti
HBV. Antigen permukaan HBV diperlukan untuk replikasi, pola penularan serupa
dengan pola penularan hepatitis B. (Brunner & Suddarth, 2001 ; Arief Muttaqin,
2011). Populasi yang sering terinfeksi adalah pengguna obat injeksi, hemofili,
resipien tranfusi darah multipel (infeksi hanya individu yang telah mempunyai HBV).
Masa inkubasinya belum diketahui secara pasti. HDV ini meningkatkan resiko
timbulnya hepatitis fulminan, kegagalan hati, dan kematian
5. Hepatitis E : mengacu pada peradangan pada sel-sel yang disebabkan oleh infeksi
virus hepatitis E (HEV). Cara penularan melalui jalur-jalur fekal-oral, kontak antar
manusia dimungkinkan menskipun resikonya rendah. (Brunner & Suddarth, 2001 ;
Arief Muttaqin, 2011). . populasi yang paling sering terinfeksi adalah orang yang
hidup pada atau perjalanan pada bagian Asia, Afrika atau Meksiko dimana sanitasi
buruk, dan paling sering pada dewasa muda hingga pertengahan.
6. Kemungkinan Hepatitis F dan G : Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan tentang
hepatitis F. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit
hepatitis yang terpisah. Sedangkan hepatitis G gejala serupa hepatitis C, seringkali
infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis
fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik.

B. Etiologi
Klasifikasi agen penyebab hepatitis virus yaitu :
1. Transmisi secara entirik terdiri dari Virus Hepatitis A (HAV)dan Virus hepatitis E
(HEV):
Virus tanpa selubung
Tahan terhadap cairan empedu
Ditemukan di tinja
Tidak dihungkan dengan penyakit kronik
Tidak terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi karier intestina
2. Transmisi melalui darah terdiri atas virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis D
(DHV), dan virus hepatitis C (HCV) :
Virus dengan selubung (envelope)
Rusak bila terpajan cairan empedu/detergen
Tidak terdapat dalam tinja
Perbandingan berbagai hepatitis
- Dihubungkan dengan penyakit kronik
- Dihubungkan dengan viremia yang persisten
Gejala hepatitis akut terbagi dalam4 tahap yaitu : (Sudoyo Aru, dkk 2009)
1. Fase inkubasi : waktu antara masuknya virus dan timbulnya gejala atau ikterus.
Panjang fase tergantung pada dosis inokulum yang ditularkan dan jalur penularan
makin besar dosis inokulum, makin pendek fase inkubasi.
2. Fase prodormal (praikterik) : fase diantar timbulnya keluhan-keluhan pertama dan
timbulnya gejala-gejala ikterus. Awitanya dapat disingkat atau insidious ditandai
dengan malaise umum,mialgia,atralgia,muda lelah,gejala saluran nafas atas dan
anoreksia,diare,demam,dan nyeri abdomen di kuadran kanan atas/epigastrium
3. Fase ikterus : fase munculnya setelah 5-10 hari tetapi dapat juga muncul bersamaan
dengan munculnya gejala. Setelah timbul ikterus jarang terjadi perburukan gejala
prodomal,tetapi justru akan terjadi perbaikan klinis yang nyata.
4. Fase konvalesen(penyembuhan) : menghilangnya ikterus dan keluhan lain, tetapi
hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati tetap ada.nafsu makan kembali normal
keaadan akut akan membaik dalam 2-3 minngu.pada hepatitis A perbaikan klinis dan
laboratorium lengkap terjadi dalam 9 mingggu dan 16 minggu untuk hepatitis B
Secara umum agen hepatitis virus dapat di klasifikasikan kedalam grup yaitu hepatitis
dengan tranmisi secara enteric dan tranmisi melalui darah. (NANDA:2:66)

PATOFISIOLOGI
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan
oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari
hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan
berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap
suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar.
Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon
sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian
besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan
peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran
kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang
belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya
kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan
billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi.
Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi
retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum
mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi
(bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam
pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.
Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). Karena
bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga
menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin
terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan
menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.
C. TANDA DAN GEJALA
Banyak pasien tidak tampak ikterik (tidak memperlihatkan gejala ikterus) dan tanpa
gejala. Ketika gejalanya muncul,bentuknya berupa infeksi saluran nafas atas yang ringan
seperti flu dengan panas yang tidak begitu tinggi. Anoreksia merupakan gejala dini dan
biasanya berat. Gejala ini diperkirakan terjadi akibat pelepasan toksin oleh hati yang rusak
atau akibat kegagalan sel hati yang rusak tersebut untuk melakukan detoksifikasi produk yang
abnormal. Belakangan dapat timbul ikterus dan urin yang berwarna gelap. Gejala dispepsia
dapat terjadi dalam berbagai derajat yang ditandai oleh rasa nyeri epigastrium, mual, nyeri
ulu hati dan flatulensi. Pasien biasanya menolak rokok, bau asap rokok atau bau-bau lain
yang keras.
Semua gejala ini cenderung menghilang segera setelah gejala ikterus mencapai
puncaknya mungkin 10 hari sesudah kemunculan awal. Hati dan limpa sering mengalami
pembesaran moderat selama beberapa hari setelah awitan penyakit; bila tidak, ada beberapa
tanda fisik yang harus dicari selain gejala ikterus.
Meskipun gejala hepatitis, penyakit ini A pada anak-anak mungkin sangat ringan, namun
pada pasien dewasa, penyakit ini cenderung lebih bersifat simtomatik dengan gejala yang
lebih berat dan perjalanan penyakit yang lebih lama.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan pigmen
- Urobilirubin direk
- Billirubin serum total
- Billirubin urine
- Urobilinogen urine
- Urobilinogen feses
b. Pemeriksaan protein
- Protein total serum
- Albumin serum
- Globulin serum
- HbsA akut dan kronis hepatitis B
- Ig.M anti HB akut
c. Wakru protombin
- Respon waktu protombin terhadap vitamin K
d. Pemeriksaan serum transferase dan transminase
- AST atau SGOT
- ALT atau SGPT
- LDH
- Amonia serum
2. Radiologi
- Foto rontgen abdomen
- Pemindahan hati dengan preparat technetium,emas,atau rose bengal yang
berlabel radioaktif
- Kolestogram dan kalangiogram
- Arteriografi pembuluh dara saliaka
3. Pemeriksaan tambahan
- Laparoskopi
- Biopsi hati
E. PENATALAKSAAN
Tirah baring selama stadium akut dan diet yang akseptabel serta bergizi merupakan
bagian dari pengobatan dan asuhan keperawatan.
Selama periode anoreksia pasien harus makan sedikit-sedikit tapi sering dan jika
diperlukan, disertai dengan infus glukosa.karena pasien sering menolak makanan, kreatifitas
dan bujukan yang persisten namun dilakukan dngan halus mungkin diperlukan untuk
merangsang selera makan pasien. Jumlah makanan dan cairan yang optimal diperlukan untuk
menghadapi penurunan berat badan dan kesembuhan yang lambat. Namun demikian, banyak
pasien telah puli selera makannya bahkan sebelum fase ikterik tidak perlu diingatkan untuk
mempertahankan diet yang baik.
Perasaan sehat yang dialami pasien disamping hasil-hasil pemeriksaan laboratorium
umumnya menjadi pedoman yang tepat untuk menentukan diperlukannya tirah baring dan
pembatasan aktifitas fisik. Ambolasi bertahap namun progresif akan mempercepat pemulihan
bila pasien beristirahat sesudah melakukan aktifitas dan tidak turut serta dalam aktifitas yang
menimbulkan kelemahan.
I. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HEPATITIS

1. Pengkajian
Anamnesis
· Identitas
Nama :
jenis kelamin :
usia :
alamat :
agama :
pendidikan :
pekerjaan :
nomor register :
tanggal masuk rumah sakit :
diagnosis medis. :
·
Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh adanya ikterus, anoreksia, mual, muntah, kulit gatal, dan gangguan pola
tidur. Pada beberapa pasien juga mengeluh demam ringan, nyeri otot, nyeri dan merasa ada
benjolan pada abdomen kanan atas, keluhan nyeri kepala, keluahan riwayat mudah
mengalami perdarahan, serta bias didapatkan adanya perubahan kesadaran secara progresif
sebagai respons dari hepatic ensefalopati, seperti agitasi (gelisah), tremor, disorientasi,
confussion, kesadaran delirium sampai koma.

· Riwayat penyakit dahulu


Adanya riwayat menderita hepatitis virus, khususnya hepatitis B dan C, riwayat
penggunaan alcohol, dan riwayat penyakit kuning yang penyebabnya belum jelas.

· Riwayat penyakit psikososialspiritual


Akan didapatkan peningkatan kecemasan, serta perlunya pemenuhan informasi intervensi
keperawatan dan pengobatan. Pada pasien dalam kondisi terminal, pasien dan keluarga
membutuhkan dukungan perawat atau ahli spiritual sesuai dengan keyakinan pasien.

Dasar Data Pengkajian:

Keluhan Utama
Keluhan dapat berupa nafsu makan menurun, muntah, lemah, sakit kepala, batuk, sakit perut
kanan atas, demam dan kuning
1. Aktifitas / istirahat :
Gejala : Kelemahan,kelelahan,malaise umum
2. Sirkulasi
Tanda : Bradikardia (hipebilirubinemia berat)
3. Eliminasi
Gejala : Urine gelap , diare / konstipasi feses warna tanah liat , adanya / berulangnya
hemodialisa
4. Makanan atau Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan atau anoreksia , penurunan berat badan atau meningkat
(edema) , mual atau muntah
Tanda : Asites

5. Neurosensori
Tanda : Peka rangsang , cenderung tidur letargi , asteriksis
6. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Kram abdomen , nyeri tekan pada kuadran kanan atas , mialgia , artralgia ,
sakit kepala , gatal (pruritus)
Tanda : otot tegang , gelisah
7. Pernafasan
Gejala : Tidak minat atau enggan merokok (perokok)
8. Keamanan
Gejala : Adanya transfusi darah atau produk darah
Tanda : Demam , urtikaria , lesi , makulopapular , eritema tak beraturan , exsaserbasi
jerawat , angioma jaring2, eritemapalmar , ginekomastia (kadang-kadang ada pada
hepatitis alkoholik) , splenomegali , pembesaran nodus serfikal posterior
9. Seksualitas
Gejala : Pola hidup/prilaku, meningkatkan risiko terpajan (contoh hemoseksual
aktif/biseksual pada wanita

2. Diagnosa Keperawatan
1. hipertermia b.d invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar
2. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perasaan tidak nyaman di
kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan
masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual, muntah
3. nyeri akut b.d pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan
semu porta
4. intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
5. resiko gangguan fungsi hati b.d penurunan fungsi hati dan terinfeksi virus hepatitis
6. resiko ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d gangguan metabolisme karbohidrat dan
protein, kurang penerimaan terhadap asupan diet yang tepat.
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 hipertermia b.d invasi NOC : NIC :
agent dalam sirkulasi  Thermoregulation Temperature regulation
darah sekunder  Thermoregulation : -Monitor suhu minimal
terhadap inflamasi neonate tiap 2 jam
hepar Kriteria Hasil : -Rencanakan monitoring
 Suhu tubuh dalam suhu secara kontinyu
rentang normal -Monitor TD,Nadi dan RR
 Nadi dan RR dalam -Monitor warna dan suhu
rentang normal kulit
-Monitor Tanda-tanda
Hipertermi dan Hipotermi
-Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi
-Selimuti pasien untuk
mencegah untuk hilangnya
kehangatan tubuh
-Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat
panas
-Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan
efek negatif dari
kedinginin
-Beritahukan tentang
indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan
emergency yang
diperlukan
-Ajarkan indikasi dan
hipotermi dan penanganan
yang diperlukan
-Berikan anti piretik jika
perlu.
Vital Sign Monitoring :
-Monitor TD,Nadi,suhu
dan RR
-Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
-Monitor VS saat pasien
berbaring,duduk atau
berdiri
-Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
-Monitor TD,Nadi,RR
sebelum selama dan
setelah aktivitas
-Monitor kualitas dari nadi
-Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
-Monitor suara paru
-Monitor pola pernafasan
abnormal
-Monitor suhu,warna,dan
kelembapan kulit
-Monitor sianosis perifer
-Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar , bradikardi,
peningatan sistolik)
-Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
2 ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari  Nutritional status Nutrition management
kebutuhan tubuh  Nutritional status : -Kaji adanya alergi
b.d perasaan tidak food and fluid makanan
nyaman di kuadran  Intake -Kolaborasi dengan ahli
kanan atas,  Nuritional status : gizi untuk menentukan
gangguan absorbsi nutrient intake jumlah kalori dan nutrisi
dan metabolisme  Weight Control yang dibutuhkan pasien
pencernaan Kriteria Hasil : -Anjurkan pasien untuk
makanan,  Adanya peningkatan meningkatkan intake fe
kegagalan berat badan sesuai -Anjurkan pasien untuk
masukan untuk dengan tujuan meningkatkan protein dan
memenuhi  Berat badan ideal vitamin C
kebutuhan sesuai dengan tinggi -Berikan supstansi gula
metabolik karena badan -Yakinkan diet yang
anoreksia, mual,  Mampu dimakan mengandung
muntah mengidentifikasi tinggi serat untuk
kebutuhan nutrisi mencegah konstipasi
 Tidak ada tanda-tanda -Berikan makanan yang
malnutrisi terpilih atau sudah
 Menunjukkan dikonsultasikan dengan
peningkatan fungsi ahli gizi
pengecapan dari -Ajarkan pasien bagaiman
menelan membuat catatan makanan
 Tidak terjadi harian
penurunan berat -Berikan informasi tentang
badan yang berarti kebutuhn nutrisi
-Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
Nutrisi Monitoring :
-BB dlm batas normal
-Monitor adanya
kepenurunan berat badan
-Monitor tipe dan jumlah
aktifitas yang biasa
dilakukan
-Monitor interaksi anak
atau orang tua selama
makan
-Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
-Monitor turgor kulit
-Monitor kekeringan
rambut , kusam dan mudah
patah
-Monitor mual dan muntah
-Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
-Monitor pucat,kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
-Catat adanya edema
hiperemik , hipertonik
,papila lida dan kafitas oral
-Catat jika lidah berwarna
magenta
3 nyeri akut b.d NOC: NIC
pembengkakan  Pain level Pain Management
hepar yang  Pain control -lakukan pengkajian nyeri
mengalami  Comfort level secara komprehensif
inflamasi hati dan Kriteria hasil: termasuk lokasi,
bendungan semu Mampu mengontrol karakteristik, durasi,
porta nyeri(tahu penyebab nyeri, frekuensi, kualitas dan
mampu menggunakan teknik faktor presipitasi
nonfarmakologi untuk -observasi reaksi
mengurangi nyeri, mencari nonverbal dari
bantuan. ketidaknyamanan
Melaporkan bahwa nyeri Gunakan teknik
berkurang dengan komunikasi terapeutik
menggunakan manajemen untuk mengetahui
nyeri. pengalaman nyeri pasien.
Mampu mengenali nyeri -kaji kultur yang
(skala, intensitas, frekuensi, mempengaruhi respon
dan tanda nyeri) nyeri
Menyatakan rasa nyaman -evaluasi pengalaman
setelah nyeri berkurang nyeri masa lampau
-bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
-kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
-kurangi faktor presipitasi
nyeri
-ajarkan tentang teknik
non farmakologi
-berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
-tingkatkan istirahat
-monitor penerimaan
pasien tentang manajemen
nyeri
Analgesic Administration
-tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
-cek riwayat alergi
-tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
-monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
-berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
-evaluasi efektivitas
analgesik tanda dan gejala
4 intoleransi aktivitas NOC: NIC
b.d kelemahan umum,  Energy concervation Activity teraphi
ketidakseimbangan  Ctivity tolerance -kolaborasikan dengan
antara suplai dan  Self care: ADLs tenaga rehabilitasi medik
kebutuhan oksigen Kriteria Hasil: dalam merencanakan
Berpartisipasi dalam aktivitas program terapi yang tepat
fisik tanpa disertai -bantu klien untuk
peningkatan tekanan darah, mengidentifikasi aktivitas
nadi dan RR. yang mampu dilakukan
Mampu melakukan aktivitas -bantu untuk memilih
sehari-hari(ADLs) secara aktivitas konsisten yang
mandiri. sesuai dengan kemampuan
Tanda-tanda Vital normal fisik, psikologi dan sosial
Energi psikomotor -bantu untuk
Level kelemahan mengidentifikasi dan
Mampu berpindah dengan mendapatkan sumber yang
atau tanpa bantuan alat. diperlukan untuk aktivitas
Status kordio pulmunary yang diinginkan
adekuat -bantu untuk mendapatkan
Sirkulasi status baik alat bantuan aktivitas
Status respirasi : pertukaran seperti kursi roda, krek
gas dan ventilasi adekuat. -bantu untuk
mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan
diwaktu luang
-bantu pasien dan keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan beraktivitas
Sediakan penguatan positif
bagi yang aktiv
beraktivitas
-bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
-monitor respon fisik,
emosi, sosial dan spiritual
5 resiko gangguan NOC: NIC
fungsi hati b.d  Liver function risk for Teaching disease process
penurunan fungsi hati impaired -beritahukan pengetahuan
dan terinfeksi virus  Risk control drug use tentang proses penyakit
hepatitis  Risk control alcohol -kaji pengetahuan klien
use tentang kondisinya
 Risk control: sexually Identifikasi kemungkinan
transmitted penyebab
 Disease (STD) Jelaskan perjalanan
Kriteria hasil: penyakit dan bagaimana
Penghentian prilaku hubungannya dengan
Penyalahgunaan alkohol anatomi dan fisiologi
Pembekuan darah -berikan medikasi dan
Penghentian prilaku terapi untukproses
Penyalahgunaan narkoba penyakit yang mendasari
Elektrolit & asam/ untuk menurunkan resiko
keseimbangan basa gangguan fungsi hati
Pengetahuan: pengobatan -Mendiskusikan pilihan
Respon terhadap pengobatan terapi
Pengendalian risiko -berikan instruksi kepada
pengguanaan alkohol pasien tentang tanda dan
Pengendalian risiko gejala yang menyertai
penggunaan narkoba penyakit
Pengendalian risiko penyakit -dorong pasien untuk
menular seksual (PMS) mengemukakan pilihan
Deteksi risiko atau mendapatkan pilihan
Zat penarikan keparahan kedua
Perfusi jaringan selular -identifikasi perubahan
kondisi fisik pasien
Diskriksikan kemungkinan
komplikasi kronik
Memberikan informasi
kepada keluarga tentang
kemajuan kesehatan pasien
Surveilance
Menumpulkan
mengitreprestasi dan
mensintesis data pasien
secara terarah dan
kontinui untuk
mengambil keputusan
klinis
6 resiko NOC: NIC:
ketidakstabilan  Blood Glucuse, risk Hyperglikemia
kadar glukosa for unstable management
darah b.d  Diabetes self -memantau kadar glukosa
gangguan management darah, seperti yang
metabolisme Kriteria Hasil : ditunjukkan
karbohidrat dan  Penerimaan : kondisi -pantau tanda-tanda dan
protein, kurang kesehatan gejala hiperglikemia
penerimaan  Kepatuhan perilaku : -memantau keton urine,
terhadap asupan diet sehat seperti yang ditunjukkan
diet yang tepat.  Dapat mengontrol -memantau tekanan darah
kadar glukosa darah dan denyut nadi ortostatik
 Dapat mengontrol -mengelola urine
stres sepertiyang ditunjukkan
 Dapat memanajemen -mendorong asupan cairan
dan mencegah oral
penyakit semakin -menjaga akses IV
parah -memberikan cairan IV
 Tingkat pemahaman sesuai kebutuhan
untuk dan pencegahan -mengelola kalium seperti
komplikasi yang di tunjukkan
 Dapat meningkatkan -konsultasikan dengan
istirahat dokter jika tanda dan
 Mengontrol perilaku gejala hiperglikemia
berat badan menetap atau buruk
 Pemahaman -membantu ambulasi jika
manajemen diabetes hipotensi ortostatik hadir
 Status nutrisi adekuat -menginstruksikan orang
 Olahraga teratur lain pasien dan signifikan
terhadap manajemen
diabetes termasuk
penggunaan insulin dan
agen oral asupn cairan
pemantauan pengganti
karbohidrat dan kapan
harus mencari kesehatan
bantuan profesional
Memberikan bantuan
dalam menyesuaikan
rejimen untuk mencegah
dan mengobati
hiperglikemia
-memfasilitasi kepatuhan
terhadap diet dan latihan
-uji kadar glukosa darah
anggota keluarga

BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
1. Hepatitis adalah penyakit hati kronik yang di sebabkan oleh virus yang ditandai dengan
hilangnya sebagian besar fungsi hati
2. Penanganan untuk mengatasi masalah pada pasien dengan Hepatitis harus dilakukan
melalui tindakan keperawatan yang berurutan dan sistematis yang terdiri dari pengkajian,
perumusan masalah, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi
3. Peningkatan pengetahuan penyakit, perawatan dan pengobatan pada keluarga dan
masyarakat untuk mengenal manifestasi klinik yang dialami pasien Hepatitis serta cara
untuk mengatasinya.

b. Saran
Diharapakan mahasiswa/i agar lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
khususnya seluruh komponen proses keperawatan seiring dengan perkembangan
penemuan baru di dunia keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mutaqin Arif, Sari kumala 2011. Gangguan Gastrointestinal. Jakarta : Salemba
Medical
2. Smeltzer,C.Suzanne. dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajaran Keperawatan Medikal-
Bedah (Brunner & Suddarth), Edisi 8, vol 2. Jakarta : EGC
3. Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson 2005. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses
penyakit, Volume, Edisi Ke-6, . Jakarta : EGC
4. Doenges, Marilynn E 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC