Anda di halaman 1dari 103

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit hipertensi tahun demi tahun terus mengalami peningkatan,

karena masih banyaknya orang yang tidak menyadari bahwa dirinya

menderita hipertensi, hal ini disebabkan gejalanya yang tidak spesifik

seperti hanya pusing. Sebanyak 1 milyar orang di dunia atau 1 dari 4 orang

dewasa menderita penyakit hipertensi. Bahkan, diperkirakan jumlah

penderita hipertensi akan meningkat menjadi 1,6 milyar menjelang tahun

2025. Kurang lebih 10-30% penduduk dewasa di hampir semua negara

mengalami penyakit hipertensi, dan sekitar 50-60% penduduk dewasa

dapat dikategorikan sebagai mayoritas utama yang status kesehatannya

akan menjadi lebih baik bila dapat dikontrol tekanan darahnya.(1)

Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran

pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8 persen, tertinggi di Bangka Belitung

(30,9%), diikuti Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%)

dan Jawa Barat (29,4%). Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat

melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen, yang

didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5

persen.(1)

1
2

Prevalensi hipertensi di Pulau Jawa adalah 41,9%. Prevalensi yang

paling rendah ditemukan di provinsi Banten (36,6%) dan paling tinggi di

provinsi DI Yogyakarta (47,7%). Prevalensi hipertensi di perkotaan adalah

39,9% yang terkecil di Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Tengah (37,0%)

dan terbesar di Provinsi Jawa Timur (45,8%), sedangkan di pedesaan adalah

44,1% dengan kisaran yang terkecil di Povinsi Banten (36,2%) dan yang

terbesar di Provinsi DIY Yogyakarta (51,7%).(1)

Hipertensi yang tidak mendapat penanganan yang baik menyebabkan

komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal

dan kebutaan. stroke (51%) dan penyakit jantung koroner (45%) merupakan

penyebab kematian tertinggi. (1)

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh

darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung

bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen

dan nutrisi tubuh. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi

organ-organ lain, terutama organ-organ vital seperti jantung dan ginjal.(2)

Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik

sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg.

Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi

juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh

darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar resikonya.(2)

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat

yang terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi


3

merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke (15,4 %) dan

tuberkulosis (7,5 %), yakni mencapai 6,8 % dari populasi kematian pada

semua umur di Indonesia. Angka kejadian hipertensi di seluruh dunia

mungkin mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7,1 juta kematian akibat

hipertensi terjadi setiap tahunnya.(2)

Kerusakan organ target akibat komplikasi Hipertensi akan

tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan darah dan lamanya

kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Organ-

organ tubuh yang menjadi target antara lain otak, mata, jantung, ginjal, dan

dapat juga berakibat kepada pembuluh darah arteri perifer itu sendiri.(2)

Selain itu hipertensi banyak terjadi pada umur 35-44 tahun (6,3%),

umur 45-54 tahun (11,9%), dan umur 55-64 tahun (17,2%). Sedangkan

menurut status ekonominya, proporsi hipertensi terbanyak pada tingkat

menengah bawah (27,2%) dan menengah (25,9%).(3)

Penyakit hipertensi pada lansia banyak sekali terjadi hampir sekitar

60% orang yang sudah lansia mengalami penyakit hipertensi dan rata-rata

berusia diatas 70 tahun keatas, terutama bagi lansia yang mengalami

penyakit diabetes harus melakukan kontrol yang ketat pada tekanan darah

untuk melakukan pencegahan penyakit hipertensi yang tidak terkendali.

Kebanyakan dari lansia mengalami penyakit hipertensi sistolik, penyakit

hipertensi pada lansia bisa dicirikan dengan meningkatnya tekanan darah

diastolik dan sistolik yang menetap. (2)


4

Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun

2014, hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab

kematian nomor 5 (lima) pada semua umur. (3)

Hipertensi terbagi menjadi hipertensi primer (esensial) atau

hipertensi sekunder. Sekitar 90–95% kasus tergolong "hipertensi primer",

yang berarti tekanan darah tinggi tanpa penyebab medis yang jelas.

Kondisi lain yang mempengaruhi ginjal, arteri, jantung, atau sistem

endokrin menyebabkan 5-10% kasus lainnya (hipertensi sekunder). (2)

Dari banyak penelitian epidemiologi, didapatkan bahwa dengan

meningkatnya umur dan tekanan darah meninggi, hipertensi menjadi

masalah pada lanjut usia karena sering ditemukan dan menjadi faktor

utama payah jantung dan penyakit jantung koroner.Lebih dari separuh

kematian di atas usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan

serebrovaskular. (2)

Pada hipertensi sistolik, masih kontroversial mengenai target tekanan

darah yang dianjurkan penurunnannya bertahap sampai sekitar sistolik

140-160 mmHg. (2)

Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih

dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Hipertensi

sering menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang dapat

mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah. (2)


5

Hipertensi dianggap sebagai penyakit yang serius, karena dampak

yang ditimbulkan sangat luas, bahkan dapat berakhir pada kematian.

Hipertensi dijuluki sebagai “silent killer” karena hipertensi datang tanpa

menimbulkan gejala apapun. Hipertensi merupakan kondisi medis kronis

dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini mengakibatkan

jantung harus bekerja lebih keras untuk mengedarkan darah melalui

pembuluh darah. (4)

Hipertensi dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah secara

teratur. Penderita hipertensi, apabila tidak ditangani dengan baik, akan

mempunyai resiko besar untuk meninggal karena komplikasi

kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal

ginjal. (2)

Tabel 2.1 Laporan bulanan dari Penyakit Tidak Menular (PTM)

No Bulan Jumlah Lansia

1 Januari 6

2 Februari 12

3 Maret 9

4 April 9

5 Mei 15

6 Juni 9

7 Juli 9

8 Agustus 9

9 September 9

10 Oktober 9

11 November 15
6

12 Desember 14

Jumlah 125

Sumber : (5)

Berdasarkan hal-hal diatas, maka penyusun tertarik untuk menyusun

Asuhan Keperawatan Pada Ny. S dengan Hipertensi di UPTD Puskesmas

Beber Kabupaten Cirebon Tahun 2018.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka penulis melakukan

Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Hipertensi di UPTD Puskesmas

Beber Kabupaten Cirebon Tahun 2018.

1.3. Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan

hipertensi penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan secara

komprehensif dan sesuai standar asuhan keperawatan yang berlaku.

1.3.2 Tujuan Khusus

Setelah melakukan asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi

penulis dapat:

1. Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data baik

melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang

dibutuhkan untuk menilai keadaan pasien secara menyeluruh pada

pasien dengan hipertensi.


7

2. Mampu menganalisa masalah- masalah yang muncul pada pasien

dengan hipertensi.

3. Mampu merumuskan diagnosa dan memprioritaskan masalah pada

pasien dengan hipertensi.

4. Mampu membuat perencanaan tindakan asuhan keperawatan pada

pasien dengan hipertensi.

5. Mampu melaksanakan rencana asuhan keperawatan pada pasien

dengan hipertensi.

6. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada

pasien dengan hipertensi.

7. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah

dilaksanakan.

1.4. Ruang Lingkup

1.4.1 Sasaran

Berdasarkan uraian diatas maka ruang lingkup penulisan adalah

pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Hipertensi di

UPTD Puskesmas Beber Kabupaten Cirebon Tahun 2018

1.4.2 Tempat dan Waktu

Di UPTD Puskesmas Beber Kabupaten Cirebon tanggal 25 Januari 2018.


8

1.4.3 Manfaat

1. Bagi penulis

Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan pangalaman dalam

pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi

2. Bagi Puskesmas

Dapat dijadikan bahan masukan bagi perawat di puskesmas dalam

melakukan tindakan asuhan keperawatan dalam rangka meningkatkan

mutu pelayanan yang baik khususnya pada pasien dengan hipertensi.

3. Bagi institusi pendidikan

Sebagai bahan evaluasi sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam

melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.

4. Bagi perawatan untuk pasien hipertensi

Dapat di jadikan masukan dan menambah ilmu pengetahuan tentang

hipertensi.

5. Keilmuan keperawatan Medikal Bedah

Hasil dari penelitian ini di harapkan dapat menjadi referensi atau

masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal

Asuhan Keperawatan pada pasien hipertensi ilmu keperawatan

medical bedah.

1.4.4 Metode Memperoleh Data

Penulis menggunakan metode deskriptif yaitu metode ilmiah yang

bersifat mengumpulkan data, menganalisa data dan menarik kesimpulan

dengan pendekatan studi kasus. Penulis menggambarkan suatu proses


9

keperawatan pada Ny. S dengan hipertensi dari pengkajian sampai

evaluasi.

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai

berikut :

1. Observasi partisipatif

Observasi partisipatif adalah suatu teknik pengumpulan data

yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan melaksanakan

asuhan keperawatan pada pasien selama dirawat di rumah sakit dan

lebih bersifat obyektif, yaitu dengan melihat respon pasien setelah

dilakukan tindakan. Penulis melakukan observasi partisipatif dengan

cara melihat respon pasien setelah penulis melakukan tindakan

keperawatan.

2. Wawancara

Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab

tentang masalah yang dihadapi pasien. Penulis melakukan wawancara

langsung dengan pasien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lain

mengenai tentang teori keadaan pasien dengan hipertensi. Penulis

melakukan perawatan secara langsung pada Ny. S dengan hipertensi.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik adalah teknik pemgumpulan data dengan

melakukan pemeriksaan mulai dari inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi untuk mendapatkan data fisik pasien secara keseluruhan.

Penulis melakukan pemeriksaan fisik secara langsung pada Ny. S


10

Dengan Hipertensi di UPTD Puskesmas Beber Kabupaten Cirebon

Tahun 2018

1.5. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan terdiri dari 5 bab yaitu :

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan

masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, sistematika

penulisan, metode penulisan dan teknik pengumpulan

data.

BAB II : Tinjauan Pustaka yang terdiri dari konsep medis sinusitis

dan konsep asuhan keperawatan.

BAB III : Metode Penelitian

BAB IV : Tinjauan Kasus yang terdiri dari pengkajian, perumusan

diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.

BAB V : Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.


11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hipertensi

2.1.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik

sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg.

Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi

juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh

darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar resikonya.(2)

Hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan

darah diastolik ≥ 90 mmHg.(2)

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140

mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali

pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup

istirahat/ tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam

jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal, jantung,

dan otak bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang

memadai.(4)

11
12

2.1.2 Etiologi Hipertensi

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis

yang beragam. Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak

diketahui (essensial atau hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak

dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi

dengan persentase rendah mempunyaipenyebab yang khusus, dikenal

sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebabhipertensi sekunder;

endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensisekunder dapat

diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapatdisembuhkan secara

potensial.(2)

Ada pun klasifikasi hipertensi terbagi menjadi:

1. Berdasarkan penyebab

(1) Hipertensi Primer

Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik),

walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti

kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar

90% penderita hipertensi. (2)

(2) Hipertensi Sekunder

Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10%

penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada

sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau

pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). (2)


13

2. Berdasarkan bentuk Hipertensi

Hipertensi diastolik {diastolic hypertension}, Hipertensi

campuran (sistol dan diastol yang meninggi), Hipertensi sistolik

(isolated systolic hypertension). (2)

Terdapat jenis hipertensi yang lain:(2)

1. Hipertensi Pulmonal

Suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah

pada pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas,

pusing dan pingsan pada saat melakukan aktivitas. (5)

Berdasar penyebabnya hipertensi pulmonal dapat menjadi

penyakit berat yang ditandai dengan penurunan toleransi dalam

melakukan aktivitas dan gagal jantung kanan.

Hipertensi pulmonal primer sering didapatkan pada usia muda dan

usia pertengahan, lebih sering didapatkan pada perempuan dengan

perbandingan 2:1, angka kejadian pertahun sekitar 2-3 kasus per 1 juta

penduduk, dengan mean survival / sampai timbulnya gejala penyakit

sekitar 2-3 tahun. (2)

Kriteria diagnosis untuk hipertensi pulmonal merujuk pada

National Institute of Health; bila tekanan sistolik arteri pulmonalis lebih

dari 35 mmHg atau "mean"tekanan arteri pulmonalis lebih dari 25

mmHg pada saat istirahat atau lebih 30 mmHg pada aktifitas dan tidak

didapatkan adanya kelainan katup pada jantung kiri, penyakit


14

myokardium, penyakit jantung kongenital dan tidak adanya kelainan

paru.(2)

2. Hipertensi Pada Kehamilan

Pada dasarnya terdapat 4 jenis hipertensi yang umumnya terdapat

pada saat kehamilan, yaitu:

(1) Preeklampsia-eklampsia atau disebut juga sebagai hipertensi yang

diakibatkan kehamilan/keracunan kehamilan ( selain tekanan darah

yang meninggi, juga didapatkan kelainan pada air kencingnya ).

Preeklamsi adalah penyakit yang timbul dengan tanda-tanda

hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan.

(2) Hipertensi kronik yaitu hipertensi yang sudah ada sejak sebelum ibu

mengandung janin.

(3) Preeklampsia pada hipertensi kronik, yang merupakan gabungan

preeklampsia dengan hipertensi kronik.

(4) Hipertensi gestasional atau hipertensi yang sesaat. (2)

Penyebab hipertensi dalam kehamilan sebenarnya belum jelas.

Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut diakibatkan oleh kelainan

pembuluh darah, ada yang mengatakan karena faktor diet, tetapi ada

juga yang mengatakan disebabkan faktor keturunan, dan lain

sebagainya.(2)
15

2.1.3 Tanda dan Gejala

Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan

darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina,

seperti perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus

berat dapat ditemukan edema pupil (edema pada diskus optikus). Menurut

Price, gejala hipertensi antara lain sakit kepala bagian belakang, kaku

kuduk, sulit tidur, gelisah, kepala pusing, dada berdebar-debar, lemas, sesak

nafas, berkeringat dan pusing.(2)

Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita

hipertensi maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal

hipertensi yaitu sakit kepala, gelisah, jantung berdebar, perdarahan hidung,

sulit tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tekuk terasa berat,

berdebar dan sering kencing di malam hari. Gejala akibat komplikasi

hipertensi yang pernah dijumpai meliputi gangguan penglihatan, saraf,

jantung, fungsi ginjal dan gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan

kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan

kelumpuhan dan gangguan kesadaran hingga koma.(2)

Sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi

bertahun-tahun adalah nyeri kepala saat terjaga, kadang kadang disertai

mual dan muntah yang disebabkan peningkatan tekanan darah

intrakranial.(7)
16

2.1.4 Faktor- Faktor Risiko

1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah

Faktor risiko yang tidak dapat dirubah yang antara lain usia, jenis

kelamin dan genetik. (6)

(1) Usia

Usia mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan

bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar

sehingga prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi,

yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar di atas usia 65 tahun.

Pada usia lanjut, hipertensi terutama ditemukan hanya berupa

kenaikan tekanan sistolik. Sedangkan menurut WHO memakai

tekanan diastolik sebagai bagian tekanan yang lebih tepat dipakai

dalam menentukan ada tidaknya hipertensi. Tingginya hipertensi

sejalan dengan bertambahnya umur yang disebabkan oleh

perubahaan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen

menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi lebih

kaku, sebagai akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah sistolik.

Penelitian yang dilakukan di 6 kota besar seperti Jakarta, Padang,

Bandung, Yogyakarta, Denpasar dan Makassar terhadap usia lanjut

(55-85 tahun), didapatkan prevalensi hipertensi terbesar 52,5 %.(6)

Tidak terdapat hubungan bermakna antara usia dengan

penderita hipertensi Diketahui bahwa adanya hubungan nyata positif

antara usia dan hipertensi. Dalam penelitian Irza (2009) menyatakan


17

bahwa risiko hipertensi 17 kali lebih tinggi pada subyek > 40 tahun

dibandingkan dengan yang berusia ≤ 40 tahun.(6)

(2) Jenis Kelamin

Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana

pria lebih banyak yang menderita hipertensi dibandingkan wanita,

dengan rasio sekitar 2,29 untuk peningkatan tekanan darah sistolik.

Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat

meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan wanita Namun,

setelah memasuki manopause, prevalensi hipertensi pada wanita

meningkat. Setelah usia 65 tahun, terjadinya hipertensi pada wanita

lebih meningkat dibandingkan dengan pria yang diakibatkan faktor

hormonal. Penelitian di Indonesia prevalensi yang lebih tinggi

terdapat pada wanita. (9)

Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) menyebutkan bahwa

prevalensi penderita hipertensi di Indonesia lebih besar pada

perempuan (8,6%) dibandingkan laki-laki (5,8%). Sedangkan

menurut Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (2006),

sampai umur 55 tahun, laki-laki lebih banyak menderita hipertensi

dibanding perempuan. Dari umur 55 sampai 74 tahun, sedikit lebih

banyak perempuan dibanding laki-laki yang menderita hipertensi.(3)

(3) Keturunan (Genetik)

Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor

keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi, terutama


18

pada hipertensi primer. Tentunya faktor genetik ini juga

dipenggaruhi faktor-faktor lingkungan, yang kemudian

menyebabkan seorang menderita hipertensi. Faktor genetik juga

berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin

membran sel. Menurut Davidson bila kedua orang tuanya menderita

hipertensi, maka sekitar 45% akan turun ke anak-anaknya dan bila

salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka sekitar 30%

akan turun ke anak-anaknya.(3)

2. Faktor risiko yang dapat diubah

Faktor risiko penyakit jantung koroner yang diakibatkan perilaku

tidak sehat dari penderita hipertensi antara lain merokok, diet rendah

serat, kurang aktifitas gerak, berat badan berlebihan/kegemukan,

komsumsi alkohol, hiperlipidemia atau hiperkolestrolemia, stress dan

komsumsi garam berlebih sangat berhubungan erat dengan hipertensi.(2)

(1) Kegemukan (Obesitas)

Kegemukan (obesitas) adalah presentase abnormalitas lemak

yang dinyatakan dalam Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu

perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam

meter. Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan kenaikan

tekanan darah telah dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan

IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan

darah sistolik. Sedangkan, pada penderita hipertensi ditemukan

sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (overweight).(6)


19

IMT merupakan indikator yang paling sering digunakan untuk

mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan obesitas pada

orang dewasa.(6)

Menurut Supariasa, penggunaan IMT hanya berlaku untuk

orang dewasa berumur di atas 18 tahun.(6)

Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi

hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk

menderita hipertensi pada orang gemuk 5 kali lebih tinggi

dibandingkan dengan seorang yang badannya normal. Pada

penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat badan

lebih (overweight).(6)

Hipertensi pada seseorang yang kurus atau normal dapat juga

disebabkan oleh sistem simpatis dan sistem renin angiotensin(2)

Aktivitas dari saraf simpatis adalah mengatur fungsi saraf dan

hormon, sehingga dapat meningkatkan denyut jantung,

menyempitkan pembuluh darah, dan meningkatkan retensi air dan

garam.(6)

(2) Psikososial dan stres

Stres adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya

transaksi antara individu dengan lingkungannya yang mendorong

seseorang untuk mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan

situasi dan sumber daya (biologis, psikologis dan sosial) yang ada

pada diri seseorang.(6)


20

Stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah,

dendam, rasa takut dan rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar

anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung

berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan

meningkat. Jika stress berlangsung lama, tubuh akan berusaha

mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau

perubahaan patologis.

Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit

maag. Diperkirakan, prevalensi atau kejadian hipertensi pada orang

kulit hitam di Amerika Serikat lebih tinggi dibandingkan dengan

orang kulit putih disebabkan stress atau rasa tidak puas orang kulit

hitam pada nasib mereka.(6)

(3) Merokok

Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida

yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat

merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri yang mengakibatkan

proses artereosklerosis dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi,

dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan adanya

artereosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok juga

meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai

ke otot-otot jantung. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi

semakin meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah

arteri.(6)
21

Dibuktikan dalam penelitian bahwa dalam satu batang rokok

terkandung 4000 racun kimia berbahaya termasuk 43 senyawa.

Bahan utama rokok terdiri dari 3 zat, yaitu 1) Nikotin, merupakan

salah satu jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan

sirkulasi darah dengan adanya penyempitan pembuluh darah,

peningkatan denyut jantung, pengerasan pembuluh darah dan

penggumpalan darah. 2) Tar, dapat mengakibatkan kerusakan sel

paru-paru dan menyebabkan kanker. 3) Karbon Monoksida (CO)

merupakan gas beracun yang dapat menghasilkan berkurangnya

kemampuan darah membawa oksigen.(6)

(4) Olahraga

Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh

dan sistem penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot

membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan

jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk

mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk

mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh.(11)

Olahraga dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner

melalui mekanisme penurunan denyut jantung, tekanan darah,

penurunan tonus simpatis, meningkatkan diameter arteri koroner,

sistem kolateralisasi pembuluh darah, meningkatkan HDL (High

Density Lipoprotein) dan menurunkan LDL (Low Density

Lipoprotein) darah. Melalui kegiatan olahraga, jantung dapat


22

bekerja secara lebih efisien. Frekuensi denyut nadi berkurang,

namun kekuatan jantung semakin kuat, penurunan kebutuhan

oksigen jantung pada intensitas tertentu, penurunan lemak badan dan

berat badan serta menurunkan tekanan darah.(13)

Olahraga yang teratur dapat membantu menurunkan tekanan

darah dan bermanfaat bagi penderita hipertensi ringan. Pada orang

tertentu dengan melakukan olahraga aerobik yang teratur dapat

menurunkan tekanan darah tanpa perlu sampai berat badan turun.(7)

(5) Konsumsi Alkohol Berlebih

Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah

dibuktikan. Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol

masih belum jelas. Namun, diduga peningkatan kadar kortisol dan

peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah

berperan dalam menaikkan tekanan darah. Beberapa studi

menunjukkan hubungan langsung antara tekanan darah dan asupan

alkohol dilaporkan menimbulkan efek terhadap tekanan darah baru

terlihat apabila mengkomsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran

standar setiap harinya.(7)

Di negara barat seperti Amerika, komsumsi alkohol yang

berlebihan berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar 10%

hipertensi di Amerika disebabkan oleh asupan alkohol yang

berlebihan di kalangan pria separuh baya. Akibatnya, kebiasaan


23

meminum alkohol ini menyebabkan hipertensi sekunder di usia

ini.(7)

Komsumsi alkohol seharusnya kurang dari dua kali per hari

pada laki-laki untuk pencegahan peningkatan tekanan darah. Bagi

perempuan dan orang yang memiliki berat badan berlebih,

direkomendasikan tidak lebih satu kali minum per hari.(7)

(6) Komsumsi Garam Berlebihan

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena

menarik cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan

meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus

hipertensi primer (essensial) terjadi respon penurunan tekanan darah

dengan mengurangi asupan garam 3 gram atau kurang, ditemukan

tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada masyarakat asupan

garam sekitar 7-8 gram tekanan rata-rata lebih tinggi.(7)

Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler.

Pengaturan keseimbangan natrium dalam darah diatur oleh ginjal.

Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl, selain itu

garam lainnya bisa dalam bentuk soda kue (NaHCO3), baking

powder, natrium benzoate dan vetsin (monosodium glutamate).

Kelebihan natrium akan menyebabkan keracunan yang dalam

keadaan akut menyebabkan edema dan hipertensi. WHO

menganjurkan bahwa komsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih

6 gram/hari setara 110 mmol natrium.(7)


24

(7) Hiperlipidemia/Hiperkolestrolemia

Kelainan metabolisme lipid (lemak) yang ditandai dengan

peningkatan kadar kolestrol total, trigliserida, kolestrol LDL atau

penurunan kadar kolestrol HDL dalam darah. Kolestrol merupakan

faktor penting dalam terjadinya aterosklerosis yang mengakibatkan

peninggian tahanan perifer pembuluh darah sehingga tekanan darah

meningkat. Didapatkan hubungan antara kadar kolestrol darah

dengan tekanan darah sistolik dan diastolik.(7)

Diketahui sering mengkomsumsi lemak jenuh mempunyai

risiko untuk terserang hipertensi sebesar 7,72 kali dibandingkan

orang yang tidak mengkomsumsi lemak jenuh.(7)

2.1.5 Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah oleh JNC VII untuk pasien dewasa

berdasarkan rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua

atau lebih kunjungan klinis

Tabel 2.2. Klasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori, dengan nilai

normal tekanan darah sistolik (TDS).

Kategori Tekanan Darah Tekanan Sistolik (mmHg) Tekanan Diastolik

(mmHg)

Normal ≤120 ≤ 80

Prehipertensi 120-139 80-89

Hipertensi stadium 1 140-159 90-99

Hipertensi stadium 2 ≥160 ≥100

Sumber : (1)
25

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh

tekanan darah yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan

atau telah terjadinya kelainan organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan

darah >180/120 mmHg, dikategorikan sebagai hipertensi emergensi atau

hipertensi urgensi.(3)

Pada hipertensi emergensi, tekanan darah meningkat ekstrim disertai

dengan kerusakan organ target akut yang bersifat progresif, sehingga

tekanan darah harus diturunkan segera (dalam hitungan menit-jam) untuk

mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Contoh gangguan organ target

akut antara lain, encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal ventrikel

kiri akut disertai edema paru, dissecting aortic aneurysm, angina pectoris

tidak stabil dan eklampsia atau hipertensi berat selama kehamilan.(7)

2.1.6 Patofisiologi

Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan

darah secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi dan

mempertahankan stabilitas tekanan darah dalam jangka panjang. Sistem

pengendalian tekanan darah sangat kompleks. Pengendalian dimulai dari

sistem reaksi cepat seperti refleks kardiovaskuler melalui sistem saraf,

refleks kemoreseptor, respon iskemia, susunan saraf pusat yang berasal

dari atrium, dan arteri pulmonalis otot polos. Sedangkan sistem

pengendalian reaksi lambat melalui perpindahan cairan antara sirkulasi

kapiler dan rongga intertisial yang dikontrol oleh hormon angiotensin dan
26

vasopresin. Kemudian dilanjutkan sistem poten dan berlangsung dalam

jangka panjang yang dipertahankan oleh sistem pengaturan jumlah cairan

tubuh yang melibatkan berbagai organ.(6)

Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama terjadi apabila

terdapat peningkatan volume plasma berkepanjangan akibat gangguan

penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam berlebihan.

Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran

darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal.

Peningkatan volume plasma menyebabkan peningkatan volume diastolik

akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah.

Peningkata preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan

sistolik.(7)

Peningkatan resistensi perifer disebabkan oleh resistensi garam

(hipertensi tinggi renin) dan sensitif garam (hipertensi rendah renin).

Penderita hipertensi tinggi renin memiliki kadar renin tinggi akibat jumlah

natrium dalam tubuh yang menyebabkan pelepasan angiotensin II.

Kelebihan angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan memacu

hipertrofi dan proliferasi otot polos vaskular. Kadar renin dan angiotensin

II yang tinggi pada hipertensi berkorelasi dengan kerusakan vaskular.

Sedangkan pada pasien rendah renin, akan mengalami retensi natrium dan

air yang mensupresi sekresi renin. Hipertensi rendah renin akan

diperburuk dengan asupan tinggi garam.(8),(9)


27

Jantung harus memompa secara kuat dan menghasilkan tekanan

lebih besar untuk mendorong darah melintasi pembuluh darah yang

menyempit pada peningkatan Total Periperial Resistence. Keadaan ini

disebut peningkatan afterload jantung yang berkaitan dengan peningkatan

tekanan diastolik. Peningkatan afterload yang berlangsung lama,

menyebabkan ventrikel kiri mengalami hipertrofi. Terjadinya hipertrofi

mengakibatkan kebutuhan oksigen ventrikel semakin meningkat sehingga

ventrikel harus mampu memompa darah lebih keras untuk memenuhi

kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung mulai

menegang melebihi panjang normalnya yang akhirnya menyebabkan

penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup.(10)


28

2.1.7 Pathway

Bagan 1. Gambar Pathway Hipertensi


Faktor predisposisi : usia, jenis kelamin, Beban kerja Aliran darah makin cepat keseluruh tubuh
merokok, stress, olahraga, alkohol, konsentrasi jantung sedangkan nutrisi dala sel sudah mencukupi
kebutuhan

Kerusakan vaskuler HIPERTENSI


pembuluh darah Tekanan sistemik darah

Perubahan struktur Perubahan Krisis Metode koping


kesehatan Situasional yang tidak efektif

Penyumbatan pembuluh
Paparan Kurang pengetahuan Ketidakefektifan Koping
darah
informasi
kurang
vasokontriksi
Resistensi pembuluh darah otak Nyeri Kepala

Gangguan Resiko
Otak Suplai O2 ke Otak ketidakefektifan perfusijaringan
Sirkulasi
otak

Ginjal Retina Pembuluh darah

Vasokontriksi pemb. Spasme arteriol


Darah ginjal Sistemik Koroner

Resiko Cidera
Blood flowdarah vasokontriksi Iskemia
miokrad

Respon RAA Penurunan Curah Jantung Afterload nyeri

Merangsang aldosteron Kelebihan vol cairan fatigue

Edema Intoleransi aktivitas


Retensi Na

(8)
Sumber:
29

2.1.8 Komplikasi Hipertensi

Menurut Elisabeth J Corwin komplikasi hipertensi terdiri dari stroke,

infark miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan otak) dan

pregnancyincluded hypertension (PIH).(15)

(1) Stroke

Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut,

lebih dari 24 jam yang berasal dari gangguan aliran darah otak dan

bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah. Stroke dengan defisit

neurologik yang terjadi tiba-tiba dapat disebabkan oleh iskemia atau

perdarahan otak. Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi fokal

pembuluh darah yang menyebabkan turunnya suplai oksigen dan

glukosa ke bagian otak yang mengalami oklusi.(15)

Stroke dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di otak atau

akibat embolus yang terlepas dari pembuluh otak yang terpajan tekanan

tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri

yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga

aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahi berkurang. Arteri-arteri

otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga

meningkatkan kemungkinan terbentuknya anurisma.(7)

(2) Infark Miokardium

Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang

arterosklerotik tidak dapat mensuplai cukup oksigen ke miokardium

atau apabila terbentuk trombus yang menyumbat aliran darah melalui


30

pembuluh tersebut. Akibat hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel,

maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan

dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga,

hipertrofi dapat menimbulkan perubahaan-perubahan waktu hantaran

listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi distritmia, hipoksia jantung

dan peningkatan risiko pembentukan bekuan.(7)

(3) Gagal Ginjal

Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal

yang progresif dan irreversible dari berbagai penyebab, salah satunya

pada bagian yang menuju ke kardiovaskular. Mekanisme terjadinya

hipertensi pada gagal ginjal kronik oleh karena penimbunan garam dan

air atau sistem Renin Angiotensin Aldosteron (RAA).(7)

Hipertensi berisiko 4 kali lebih besar terhadap kejadian gagal

ginjal bila dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami

hipertensi.(9)

(4) Ensefalopati (Kerusakan Otak)

Ensefalopati (Kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada

hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang

sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan

kapiler dan mendorong ke dalam ruang intersitium diseluruh susunan

saraf pusat. Neuron-neuron disekitarnya kolaps yang dapat

menyebabkan ketulian, kebutaan dan tak jarang juga koma serta

kematian mendadak. Keterikatan antara kerusakan otak dengan


31

hipertensi, bahwa hipertensi berisiko 4 kali terhadap kerusakan otak

dibandingkan dengan orang yang tidak menderita hipertensi.(8)

2.1.9 Penatalaksanaan Hipertensi

1. Pengendalian Faktor Risiko

Pengendalian faktor risiko penyakit jantung koroner yang dapat

saling berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi, hanya terbatas pada

faktor risiko yang dapat diubah, dengan usaha-usaha sebagai berikut :

(1) Mengatasi obesitas/ menurunkan kelebihan berat badan

Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi

hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk

menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi

dibandingkan dengan sesorang yang badannya normal. Sedangkan,

pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat

badan lebih (overweight). Dengan demikian, obesitas harus

dikendalikan dengan menurunkan berat badan.(1)

Beberapa studi menunjukkan bahwa seseorang yang

mempunyai kelebihan berat badan lebih dari 20% dan hiperkolestrol

mempunyai risiko yang lebih besar terkena hipertensi.(9)

(2) Mengurangi asupan garam didalam tubuh

Nasehat pengurangan garam harus memperhatikan kebiasaan

makan penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan


32

sulit dirasakan. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok

teh) per hari pada saat memasak.(9)

(3) Ciptakan keadaan rileks

Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis

dapat mengontrol sistem saraf yang akan menurunkan tekanan

darah(1)

(4) Melakukan olahraga teratur

Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-

45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat

menambah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang

akhirnya mengontrol tekanan darah.(9)

(5) Berhenti merokok

Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah

sehingga dapat memperburuk hipertensi. Zat-zat kimia beracun

seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok

yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak jaringan endotel

pembuluh darah arteri yang mengakibatkan proses arterosklerosis

dan peningkatan tekanan darah. Merokok juga dapat meningkatkan

denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot

jantung. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin

meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri. Tidak

ada cara yang benar-benar efektif untuk memberhentikan kebiasaan


33

merokok. Beberapa metode yang secara umum dicoba adalah

sebagai berikut :

1) Insiatif Sendiri

Banyak perokok menghentikan kebiasaannya atas inisiatif

sendiri, tidak memakai pertolongan pihak luar, inisiatif sendiri

banyak menarik para perokok karena hal-hal berikut :

a) Dapat dilakukan secara diam-diam.

b) Program diselesaikan dengan tingkat dan jadwal sesuai

kemauan.

c) Tidak perlu menghadiri rapat-rapat penyuluhan.

d) Tidak memakai ongkos.

2) Menggunakan permen yang mengandung nikotin

Kecanduan nikotin membuat perokok sulit meninggalkan

merokok. Permen nikotin mengandung nikotin untuk

mengurangi penggunaan rokok. Di negara-negara tertentu

permen ini diperoleh dengan resep dokter. Ada jangka waktu

tertentu untuk menggunakan permen ini. Selama menggunakan

permen ini penderita dilarang merokok. Dengan demikian,

diharapkan perokok sudah berhenti merokok secara total sesuai

jangka waktu yang ditentukan.(9)

3) Kelompok program

Beberapa orang mendapatkan manfaat dari dukungan

kelompok untuk dapat berhenti merokok. Para anggota


34

kelompok dapat saling memberi nasihat dan dukungan. Program

yang demikian banyak yang berhasil, tetapi biaya dan waktu

yang diperlukan untuk menghadiri rapat-rapat seringkali

membuat enggan bergabung.(9)

(6) Mengurangi Komsumsi Alkohol

Hindari komsumsi alkohol berlebihan

Laki-laki : Tidak lebih dari 2 gelas per hari

Wanita : Tidak lebih dari 1 gelas per hari

2.2. Tinjauan Teori Keperawatan

Manajemen Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu

konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini biasanya disebut

sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu teknik

dan keterampilan interversional dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan

klien.(11)

2.2.1 Pengkajian

Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan

menentukan hasil dari tahap berikutnya. Pengkajian dilakukan secara

sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi dan evaulasi status

kesehatan klien. (16)

Pengkajian data fisik berdasarkan pada pengkajian abdomen dapat

menunjukan benjolan pada lipat paha atau area umbilikal. Keluhan

tentang aktivitas yang mempengaruhi ukuran benjolan. Benjolan mungkin


35

ada secara spontan atau hanya tampak pada aktivitas yang meningkatkan

tekanan intra abdomen, seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau

defekasi. Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan

dialami karena tegangan yang meningkatkan tekanan intra abdomen,

seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi. (11)

Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan

dialami karena tegangan. Nyeri menandakan strangulasi dan kebutuhan

terhadap pembedahan segera. Selain itu manifestasi obstruksi usus dapat

dideteksi (bising usus, nada tinggi sampai tidak ada mual/muntah).Data

yang diperoleh atau dikaji tergantung pada tempat terjadinya, beratnya,

apakah akut atau kronik apakah berpengaruh terhadap struktur

disekelilingnya dan banyaknya akar saraf yang terkompresi atau

tertekan.(11)

1. Identitas

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan

merupakan suatu proses yang sistematis dalam mengumpulkan data

dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi

status kesehatan klien.(10)

Pengkajian dalam sistem imun meliputi riwayat kesehatan,

pemeriksaan fisik, dan prosedur diagnostik yang merupakan data yang

menunjang keadaan klinis dari pasien. (10)


36

Identitas klien yang terdiri dari nama, umur, suku/bangsa, status

perkawinan, agama, pendidikan, alamat, nomor register, tanggal datang

ke rumah sakit. (10)

Identitas klien yang biasa dikaji pada hipertensi adalah usia dan

pekerjaan.

2. Keluhan Utama

Keluhan utama adalah keluhan atau gejala apa yang menyebabkan

pasien berobat atau keluhan atau gejala saat awal dilakukan pengkajian

pertama kali yang utama. Keluhan utama klien tonsilitis biasanya nyeri

pada tenggorokan dan pada saat menelan disertai demam. (9)

Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan hernia

inguinalis seperti: muncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan

dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong. Klien mengeluh

terdapat benjolan disebelah kanan bawah dekat lipatan paha.

3. Riwayat penyakit sekarang

Riwayat kesehatan sekarang adalah faktor yang melatarbelakangi

atau mempengaruhi dan mendahuli keluhan, bagaimana sifat terjadinya

gejala (mendadak, perlahan-lahan, terus menerus atau berupa serangan,

hilang dan timbul atau berhubungan dengan waktu), lokalisasi

gejalanya dimana dan sifatnya bagaimana (menjalar, menyebar,

berpindah-pindah atau menetap). Bagaimana berat ringannya keluhan

berkurang, lamanya keluhan berlangsung atau mulai kapan serta upaya

yang telah dilakukan apa saja.(10)


37

Riwayat kesehatan saat ini berupa uraian mengenai penyakit yang

diderita oleh klien dari timbulnya keluhan yang dirasakan sampai klien

dibawa ke Rumah Sakit, dan apakah pernah memeriksakan diri ke

tempat lain selain Rumah Sakit umum serta pengobatan apa yang

pernah diberikan dan bagaimana perubahannya dan data yang

didapatkan saat pengkajian.

4. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit hernia inguinalis sebelumnya, riwayat

pekerjaan pada pekerja yang berhubungan dengan adanya riwayat

penyakit hernia inguinalis, penggunaan obat-obatan, riwayat

mengkonsumsi alkohol dan merokok.

5. Riwayat penyakit keluarga

Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang menderita

penyakit yang sama karena faktor genetic/keturunan.

6. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum

Keadaan umum klien mengeluh adanya sensasi nyeri yang

menyebar biasanya pada hernia ingunalis lateralis, perasaan nyeri

yang menyebar hingga ke scrotum.

b. Kesadaran

Kesadaran klien biasanya composmentis.

c. Tanda-tanda Vital

1) Suhu meningkat (>37o C).


38

2) Nadi meningkat (N : 86x/menit).

3) Tekanan darah 110/70 mmHg

d. Pemeriksaan Review Of System (ROS)

1) Sistem Pernafasan (B1 : Breathing)

Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau masih dalam

batas normal.

2) Sistem Sirkulasi (B2 : Bleeding)

Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apical, sirkulasi

perifer, warna, dan kehangatan.

3) Sistem Persarafan (B3 : Brain)

Kaji adanya hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot, terlihat

kelemahan/hilang fungsi. Pergerakan mata/kejelasan melihat,

dilatasi pupil. Agitasi (mungkin berhubungan dengan

nyeri/ansietas).

4) Sistem Perkemihan (B4 : Bleder)

Perubahan pola berkemih, seperti inkotinensia urin, disuria,

distensi kandung kemih, warna dan bau urin, dan

kebersihannya.

5) Sistem Pencernaan (B5 : Bowel)

Konstipasi, konsisten feses, frekuensi eliminasi, auskultasi

bising usus, anoreksia, adanya distensi abdomen, nyeri tekan

abdomen.
39

6) Sistem Muskuloskeletal (B6 : Bone)

Kaji adanya nyeri berat tiba-tiba/mungkin terlokalisasi pada

area jaringan, dapat berkurang pada imobilisasi, kekuatan otot,

kontraktur, atrofi otot, laserasi kulit dan perubahan warna.

e. Pola fungsi kesehatan

Yang perlu dikaji adalah aktivitas apa saja yang biasa dilakukan

sehubungan dengan adanya nyeri pada persendian,

ketidakmampuan mobilisasi.

1) Pola presepsi dan tata laksana hidup sehat

Menggambarkan presepsi, pemeliharaan, dan penanganan

kesehatan.

2) Pola nutrisi

Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan, dan elektrolit,

nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan,

mual/muntah, dan makanan kesukaan.

3) Pola eliminasi

Menjelaskan fungsi ekskresi, kandung kemih, defekasi, ada

tidaknya masalah defekasi, masalah nutrisi, dan penggunaan

kateter.

4) Pola tidur dan istirahat

Menggambarkan pola tidur, istirahat, dan presepsi terhadap

energi, jumlah jam tidur pada siang dan malam, masalah tidur,

dan insomnia.
40

5) Pola aktivitas dan istirahat

Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernafasan, dan

sirkulasi, riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama, dan

kedalaman pernapasan.

6) Pola hubungan peran

Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran klien

terhadap anggota keluarga dan masyarakat ke tempat tinggal,

pekerjaan, tidak punya rumah, dan masalah keuangan.

7) Pola sensori dan kognitif

Pola presepsi sensori meliputi pengkajian penglihatan,

pendengaran, perasaan, dan pembau.

8) Pola presepsi dan konsep diri

Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan presepsi

terhadap kemampuan konsep diri. Konsep diri menggambarkan

gambaran diri, harga diri, peran, identitas diri.

9) Pola seksual dan reproduksi

Menggambarkan kepuasan/masalah terhadap seksualitas.

10) Pola mekanisme/penanggulangan stress dan koping

Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress.

11) Pola tata nilai dan kepercayaan

Menggambarkan dan menjelaskan pola, nilai keyakinan

termasuk spiritual
41

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai

seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah

kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. (12)

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan

respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari

individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat

mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga

status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah.(11)

Diagnosa keperawatan adalah ”keputusan klinik tentang respon

individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau

potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai

tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat”.(8)

Semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data, dimana

menurut NANDA diartikan sebagai ”defenisi karakteristik”. Definisi

karakteristik tersebut dinamakan ”Tanda dan gejala”, Tanda adalah

sesuatu yang dapat diobservasi dan gejala adalah sesuatu yang dirasakan

oleh klien. (8)

Diagnosa keperawatan menjadi dasar untuk pemilihan tindakan

keperawatan untuk mencapai hasil bagi anda, sebagai perawat, yang dapat

diandalakan(8) Jenis-jenis Diagnosa Keperawatan :


42

1. Diagnosis Keperawatan Aktual

Diagnosis keperawatan aktual adalah diagnosis yang menyajikan

keadaan klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik

mayor yang diidentifikasi.

Diagnosis keperawatan mempunyai empat komponen : label,

definisi, batasan karakteristik, dan faktor yang berhubungan.

Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan

karakteristik. Definisi menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk

diagnosa. Batasan karakteristik adalah karakteristik yang mengacu pada

petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif. Batasan ini juga mengacu

pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada diagnosis

keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor.

Faktor yang berhubungan merupakan etiologi atau faktor

penunjang. Faktor ini dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Faktor yang berhubungan terdiri dari empat komponen : patofisiologi,

tindakan yang berhubungan, situasional, dan maturasional.

Contoh diagnosis keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas

berhubungan dengan penurunan transport oksigen, sekunder terhadap

tirah baring lama, ditandai dengan nafas pendek, frekuensi nafas 30

x/mnt, nadi 62/mnt-lemah, pucat, sianosis.(8)

2. Diagnosis Keperawatan Resiko

Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang

individu, keluarga atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami


43

masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama

atau hampir sama.

Validasi untuk menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko

yang memperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap

klien atau kelompok dan tidak menggunakan batasan karakteristik.

Penulisan rumusan diagnosis ini adalag : PE (problem & etiologi).

Contoh : Resiko penularan TB paru berhubungan dengan

kurangnya pengetahuan tentang resiko penularan TB Paru, ditandai

dengan keluarga klien sering menanyakan penyakit klien itu apa dan

tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko penularan

(membiarkan klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan

hidung).

3. Diagnosis Keperawatan Kemungkinan

Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih

memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk

memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya faktor resiko.

Contoh : Kemungkinan gangguan konsep diri : gambaran diri

berhubungan dengan tindakan mastektomi.

4. Diagnosis Keperawatan Sejahtera

Diagnosis keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis

mengenai individu, kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari

tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik. Cara

pembuatan diagnsosis ini adalah dengan menggabungkan pernyataan


44

fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai

alat pengkajian yang disahkan. Dalam menentukan diagnosis

keperawatan sejahtera, menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi

kesehatan menjadi fungsi yang positif.

Sebagai contoh, pasangan muda yang kemudian menjadi orangtua

telah melaprkan fungsi positif dalam peran pola hubungan. Perawat

dapat memakai informasi dan lahirnya bayi baru sebagai tambahan

dalam unit keluarga, untuk membantu keluarga mempertahankan pola

hubungan yang efektif.

Contoh : perilaku mencari bantuan kesehatan berhubungan dengan

kurang pengetahuan tentang peran sebagai orangtua baru.

5. Diagnosis Keperawatan Sindrom

Diagnosis keperawatan sindrom merupakan diagnosis

keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosis keperawatan aktual

atau resiko, yang diduga akan muncul karena suatu kejadian atau situasi

tertentu.(8)

Diagnosa keperawatan yang timbul pada diagnosa keperawatan

pasien dengan hipertensi yang seharusnya di dapatkan yaitu :

1. Resiko penurunan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan

peningkatan afterload, vasodilatasi, hioertrofi/regiditas ventrikel,

iskemia miokard

2. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan

suplai dan kebutuhan oksigen


45

3. Nyeri akut : sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan

vaskuler serebral

4. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan masukan berlebihan(14)

2.2.3 Intervensi

Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dirancang untuk

membantu klien dalam beralih dari tingkat kesehatan saat ini ke tingkat yang

diinginkan dalam hasil yang diharapkan. Intervensi keperawatan adalah

semua tindakan asuhan yang perawat lakukan atas nama klien. Tindakan ini

termasuk intervensi yang diprakarsai oleh perawat, dokter, atau intervensi

kolaboratif. (13)

Intervensi (perencanaan) adalah kegiatan dalam keperawatan yang

meliputi; meletakkan pusat tujuan pada klien, menetapkan hasil yang ingin

dicapai, dan memilih intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan. (13)

Tahap perencanaan memberi kesempatan kepada perawat, klien, keluarga

dan orang terdekat klien untuk merumuskan rencana tindakan keperawatan

guna mengatasi masalah yang dialami klien. Perencanaan ini merupakan

suatu petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat rencana tindakan

keperawatan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya

berdasarkan diagnosis keperawatan. (13)

Tahap perencanaan dapat disebut sebagai inti atau pokok dari proses

keperawatan sebab perencanaan merupakan keputusan awal yang memberi


46

arah bagi tujuan yang ingin dicapai, hal yang akan dilakukan, termasuk

bagaimana, kapan, dan siapa yang akan melakukan tindakan keperawatan.

Karenanya, dalam menyusun rencana tindakan keperawatan untuk klien,

keluarga dan orang terdekat perlu dilibatkan secara maksimal. (13)

Tahap perencanaan ini memiliki beberapa tujuan penting, diantaranya

sebagai alat komunikasi antara sesama perawat dan tim kesehatan lainnya;

meningkatkan kesinambungan asuhan keperawatan bagi klien; serta

mendokumentasikan proses dan kriteria hasil asuhan keperawatan yang

ingin dicapai. (13)

Unsur terpenting pada tahap perencanaan ini adalah membuat prioritas

urutan diagnosis keperawatan, merumuskan tujuan, merumuskan kriteria

evaluasi dan merumuskan intervensi keperawatan.(13)

Tindakan/perencanaan keperawatan dipilih untuk membantu pasien

dalam mencapai hasil yang diharapkan dan tujuan pemulangan.( 14)


47

Tabel 3.1 Intervens NIC, Hasil NOC

No. DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)

Dx KEPERAWATAN DAN

KOLABORASI

1 Resiko penurunan perfusi NOC : NIC :

jaringan jantung berhubungan  Cardiac Pump Cardiac Care

dengan peningkatan afterload, Efectivitass 1. Evaluasi adanya

vasodilatasi,  Circulation Status nyeri dada

hioertrofi/regiditas ventrikel,  Vital Sign Status 2. Catat adanya

iskemia miokard Kriteria Hasil : disritmia jantung

1. Tanda Vital dalam 3. Catat adanya tanda

rentang normal ( dan gejala

Tekanan darah, Nadi, penurunan cardiac

respirasi) putput

2. Dapat mentoleransi 4. Monitor status

aktivitas, tidak ada pernafasan yang

kelelahan menandakan gagal

3. Tidak ada edema paru, jantung

perifer, dan tidak ada 5. Monitor balance

asites cairan

4. Tidak ada penurunan 6. Monitor respon

kesadaran pasien terhadap efek

5. AGD dalam batas pengobatan

normal antiaritmia

6. Tidak ada distensi 7. Atur periode latihan

vena dan istirahat untuk

7. Warna kulit normal


48

menghindari

kelelahan

8. Monitor toleransi

aktivitas pasien

9. Monitor adanya

dyspneu, fatigue,

tekipneu dan

ortopneu

10. Anjurkan untuk

menurunkan stress

Vital Sign

Monitoring :

1. Monitor TD, nadi,

suhu, dan RR

2. Monitor VS saat

pasien berbaring,

duduk, atau berdiri

3. Auskultasi TD pada

kedua lengan dan

bandingkan

4. Monitor TD, nadi,

RR, sebelum,

selama, dan setelah

aktivitas
49

5. Monitor jumlah,

bunyi dan irama

jantung

6. Monitor frekuensi

dan irama

pernapasan

7. Monitor pola

pernapasan

abnormal

8. Monitor suhu,

warna, dan

kelembaban kulit

9. Monitor sianosis

perifer

10. Monitor adanya

cushing triad

(tekanan nadi

yang melebar,

bradikardi,

peningkatan sistolik)

11. Identifikasi

penyebab dari

perubahan vital sign

12. Jelaskan pada pasien

tujuan dari

pemberian oksigen
50

13. Sediakan informasi

untuk mengurangi

stress

14. Kelola pemberian

obat anti aritmia,

inotropik,

nitrogliserin dan

vasodilator untuk

mempertahankan

kontraktilitas

jantung

15. Kelola pemberian

antikoagulan untuk

mencegah trombus

perifer

16. Minimalkan stress

lingkungan

2 Intolerasi aktivitas NOC: NIC :

berhubungan dengan  Energy Conservation Energy Management

kelemahan,  Activity Tolerance 1. Observasi adanya

ketidakseimbangan suplai dan  Self Care : ADLs pembatasan klien

kebutuhan oksigen(14) Kriteria Hasil : dalam melakukan

1. Berpartisipasi dalam aktivitas

aktivitas fisik tanpa 2. Dorong anal untuk

disertai peningkatan mengungkapkan

tekanan darah, nadi perasaan terhadap

dan PR keterbatasan
51

2. Mampu melakukan 3. Kaji adanya faktor

aktivitas sehari-hari yang menyebabkan

(ADLs) secara kelelahan

mandiri(8) 4. Monitor nutrisi dan

sumber energi yang

adekuat

5. Monitor pasien

akan adanya

kelelahan fisik dan

emosi secara

berlebihan

6. Monitor respon

kardiovaskuler

terhadap aktivitas

7. Monitor pola tidur

dan lamanya

tidur/istirahat pasien

Activity Therapy

1. Kolaborasi dengan

tenaga rehabilitasi

medik dalam

merencanakan

program terapi yang

tepat

2. Bantu klien untuk

mengidentifikasi
52

aktivitas yang

mampu dilakukan

3. Bantu untuk

memilih aktivitas

konsisten yang

sesuai dengan

kemampuan fisik,

psikologi, dan sosial

4. Bantu untuk

mengidentifikasi dan

mendapatkan

sumber yang

diperlukan untuk

aktivitas yang

diinginkan

5. Bantu untuk

mendapatkan alat

bantuan aktivitas

seperti kursi roda,

dan krek

6. Bantu untuk

mengidentifikasi

aktivitas yang

disukai

7. Bantu klien untuk

membuat jadwal
53

latihan diwaktu

luang

8. Bantu

pasien/keluarga

untuk

mengidentifikasi

kekurangan dalam

beraktivitas

9. Sediakan

penguatan positif

bagi yang aktif

beraktivitas

10. Bantu pasien untuk

mengembangkan

motivasi diri dan

penguatan

11. Monitor respon fisik,

emosi, sosial dan

spiritual

3 Nyeri akut : sakit kepala NOC: NIC :

berhubungan dengan  Pain Level Pain Management

peningkatan tekanan vaskuler  Pain Control 1. Lakukan

serebral(14)  Comfort Level pengkajian nyeri

secara komprehensip

Kriteria Hasil: termasuk lokasi,

1. Mampu mengontrol karakteristik, durasi,

nyeri (tahu penyebab


54

nyeri, mampu frekuensi, kualitas,

menggunakan teknik dan faktor presipitasi

nonfarmakologi untuk 2. Observasi reaksi

mengurangi nyeri, nonverbal dari

mencari bantuan) ketidaknyaman

2. Melaporkan bahwa 3. Gunakan teknik

nyeri berkurang komunikasi

dengan menggunakan terapeutik untuk

manajemen nyeri mengetahui

3. Mampu mengenali pengalaman nyeri

nyeri (skala, pasien

intensitas, frekuensi 4. Kaji kultur yang

dan tanda nyeri) mempengaruhi

4. Menyatakan rasa respon nyeri

nyaman setelah nyeri 5. Evaluasi

berkurang(14) pengalaman nyeri

masa lampau

6. Evaluasi bersama

pasien dan tim

kesehatan lain

tentang

ketidakefektivan

kontrol nyeri masa

lampau

7. Bantu pasien dan

keluarga untuk

mencari dan
55

menemukan

dukungan

8. Kontrol lingkungan

yang dapat

mempengaruhi nyeri

seperti suhu

ruangan,

pencahayaan dan

kebisingan

9. Kurangi faktor

presipitasi nyeri

10. Pilih dan lakukan

penanganan nyeri

(farmakoligi, non

farmakologi dan

interpersonal)

11. Kaji tipe dan sumber

nyeri untuk

menentukan

intervensi

12. Ajarkan tentang

teknik non

farmakologi

13. Berikan analgetik

untuk mengurangi

nyeri
56

14. Evaluasi keefektifan

kontrol nyeri

15. Tingkatkan istirahat

16. Kolaborasi dengan

dokter jika ada

keluhan dan

tindakan nyeri tidak

berhasil

17. Monitor penerimaan

pasien tentang

managemen nyeri

Analgesic

Administration

1. Tentukan lokasi,

karakteristik,

kualitas, dan derajat

nyeri sebelum

pemberian obat

2. Cek instruksi

dokter tentang jenis

obat, dosis, dan

frekuensi

3. Cek riwayat alergi

4. Pilih analgesik

yang diperlukan atau

kombinasi dsari
57

analgesik ketika

pemberian lebih dari

satu

5. Tentukan pilihan

analgesik tergantung

tipe dan beratnya

nyeri

6. Pilih rute

pemberian secara

IV, IM untuk

pengobatan nyeri

secara teratur

7. Monitor TTV

sebelum dan sesudah

pemberian analgesik

pertama kali

8. Berikan analgesik

tepat waktu terutama

saat nyeri hebat

9. Evaluasi efektivitas

analgesik, tanda dan

gejala (efek

samping)

4 Ketidakseimbangan nutrisi NIC: NOC:

lebih dari kebutuhan tubuh  Nutritional Status : Nutrion Management

berhubungan dengan masukan Food And Fluid Intake 1. Kaji adanya alergi

berlebihan(14) makanan
58

 Nutrional Status : 2. Kolaborasi dengan

Nutrien Intake ahli gizi untuk

 Weight Control menentukan jumlah

kalori dan nutrisi

Kriteri Hasil : yang dibutuhkan

1. Adanya peningkatan pasien

BB sesuai dengan 3. Anjurkan pasien

tujuan untuk meningkatkan

2. BB ideal sesuai intake Fe

dengan tinggi badan 4. Anjurkan pasien

3. Mampu untuk meningkatkan

mengidentifikasi protein dan vitamin

kebutuhan nutrisi C

4. Tidak ada tanda- 5. Berikan substasi

tanda malnutrisi gula

5. Menunjukan 6. Yakinkan diet yang

peningkatan fungsi dimakan

pengecapan dari mengandung tinggi

menelan serat untuk

6. Tidak terjadi mencegah konstipasi

penurunan BB yang 7. Berikan makanan

berarti(14) yang terpilih (sudah

dikonsultasikan

dengan ahli gizi)

8. Ajarkan pasien

bagaimana membuat
59

catatan makanan

harian

Nutrition monitoring

1. BB pasien dalam

batas normal

2. Monitor adanya

penurunan BB

3. Monitor tipe dan

jumlah aktivitas

yang biasa

dilakukan, monitor

interaksi anak atau

orangtua selama

makan

4. Monitor lingkungan

selama makan

5. Monitor lingkungan

selama makan

6. Jadwalkan

pengobatan dan

tindakan tidak

selama jam makan

7. Monitor kulit kering

dan perubahan

pigmentasi

8. Monitor turgor kulit


60

9. Monitor kekeringan,

rambut kusam dan

mudah patah

10. Monitor mual dan

muntah(14)

5 Gangguan kualitas dan NOC NIC

kuantitas waktu tidur akibat 1. Anxiety reduction 1. Sleep Enhancement

faktor eksternal 2. Comfort level 2. Determinasi efek-

3. Pain level efek medikasi

4. Rest : Extent and terhadap pola tidur

Pattern 3. Jelaskan pentingnya

5. Sleep : Extent an tidur yang adekuat

Pattern 4. Fasilitas untuk

mempertahankan

Kriteria Hasil : aktivitas sebelum

1. Jumlah jam tidur tidur (membaca)

dalam batas normal 6- 5. Ciptakan lingkungan

8 jam/hari yang nyaman

2. Pola tidur, kualitas 6. Kolaborasikan

dalam batas normal pemberian obat tidur

3. Perasaan segar 7. Diskusikan dengan

sesudah tidur atau pasien dan keluarga

istirahat tentang teknik tidur

4. Mampu pasien

mengidentifikasikan 8. Instruksikan untuk

hal-hal yang memonitor tidur

meningkatkan tidur pasien


61

9. Monitor waktu

makan dan minum

dengan waktu tidur

10. Monitor/catat

kebutuhan tidur

pasien setiap hari

dan jam

2.2.4 Implementasi

Implementasi adalah proses keperawatan dengan melaksanakan

berbagai strategis keperawatan (tindakan keperawatan) yaitu telah

direncanakan. (13)

Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai

tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan

pencegahan penyakit. Pemulihan kesehatan dan mempasilitas koping

perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik.

Jika klien mempunyai keinginan untuk berpatisipasi dalam pelaksanaan

tindakan keperawatan selama tahap pelaksanaan perawat terus melakukan

pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai

dengan kebutuhan klien tindakan.

Implementasi atau pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan

untuk mencapai tujuan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan

dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan,


62

mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta

menilai data yang baru. (10)

Implentasi merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan

dengan melaksanakan berbagai strategi (tindakan keperawatan) yang te;ah

direncanakan. Dalam tahap ini perawat harus mengetahuiberbagai hal,

diantaranya bahaya fisik dan pelindungan kepada pasien, teknik komunikasi

kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak pasien,

tingkat perkembangan pasien. Dalam tahap pelaksanaan , terhadap dua

tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi. (10)

Tujuan implementasi

1. Membantu klien dalam mencapai tujuan yag telah ditetapkan

2. Mencankup peningkatan kesehatan

3. Mencegah penyakit

4. Pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. (10)

2.2.5 Evaluasi

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam

mencapai tujuan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan mengadakan hubungan

dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang

diberikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan. (13)

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan

keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang

dibuat pada tahap perencanaan.( 13)


63

1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi merupakan penilaian dengan cara membandingkan perubahan

keadaan pasien (hasil yan diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang

dibuat pada tahap perencanaan. (13)

2. Tujuan Evaluasi

a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan

b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan

c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan. (13)

3. Jenis-jenis Evaluasi

a. Frekuensi Proses (promotif)

1) Evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan.

2) Berorientasi pada etiologi.

3) Dilakukan secara terus menerussampai tujuan yang telah

ditentukan tercapai. (13)

b. Evaluasi hasil

1) Evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan

secara paripurna..

2) Berorientasi pada masalah keperawatan.

3) Menjelaskan keberhasilan atau ketidakberhasilan.

4) Rekapulasi dan kesimpulan status kesehatan klien sesuai dengan

kerangka waktu yang diharapkan. (13)


64

4. Komponen SOAP/ SOAPIER yaitu :

Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau

perkembangan klien, digunakan komponen SOAP/SOAPIE/SOAPIER.

Penggunaannya tergantung dari kebijakan setempat .

(1) S : Data Subjektif

Perawat menuliskan keluham pasien yang masih dirasakan

setelah dilakukan tindakan keperawatan.

(2) O : Data Objektif

Data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat

secara langsung kepada klien , dan yang dirasakan klien setelah

dilakukan tindakan keperawatan.

(3) A : Analisis

Interpretasi dan data subjektif dan data objektif , analis

merupakan suatu maslah atau diagnosis keperawatan yang masih

terjadi atau juga dapat dituliskan masalah baru yang terjadi akibat

perubahan setatus kesehatan klien yang telah terdentifikasi datanya

dalam data subjektif dan objektif.

(4) P : Planning

Perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan , dihentikan ,

dimodifikasi , dari rencana tindakan keperawatan yang telah

ditentukan sebelumnya.

Tindakan yang perlu dilanjutkan adalah tindakan yang masih

kompeten untuk menyelesaikan masalah klien, tetapi perlu ditingkatkan


65

kualitasnya atau mempunyai alternatif pilihan yang lain, sedangkan

rencana atindakan yang baru atau sebelumnya tidak dapat ditentukan bila

timbul masalah baru atau rencana tindakan yang ada sudah tidak

kompeten lagi untuk menyelesaikan masalah yang ada. (13)


66

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S

DENGAN HIPERTENSI

3.1 Pengkajian

1. Identitas Pasien

Nama : Ny. S

Umur : 70

Jenis Kelamin : Perempuan

Status Perkawinan : Cerai mati

Agama : Islam

Pendidikan : SD

Keluarga yang dapat di hubungi :Ny i

Diagnosa Medis : Hipertensi

Tanggal pengkajian : 25 Januari 2018

2. Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien merasa sering sakit kepala/pusing

P : beban pikiran

Q : terasa tertekan berat

R : Di daerah kepala

S : skala nyeri 3 dari (1-10) – Nyeri sedang

T : Sejak 2 tahun yang lalu, terjadi secara mendadak, malam hari

66
67

3. Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien mengatakan pernah mengalami penyakit gastritis.

4. Riwayat Psikososial dan Spiritual

Klien berhubungan dengan baik dengan anggota keluarga serta

berinteraksi baik dengan tetangga. Klien beragama islam dan klien

menjalankan ibadah shalat dalam 5 waktu.

5. Genogram
68

Keterangan :

: Laki-laki yang sudah meninggal

: Laki-laki yang masih hidup

: Perempuan yang sudah meninggal

: Klien

: Perempuan yang masih hidup

6. Pola kebiasaan sehari hari

Kegiatan Frekuensi

1 2

1. Nutrisi

a. Makan 3 x / hari

½ porsi

b. Nafsu makan Nafsu makan baik

c. Jenis makan Nasi, tempe, dan sayur.

d. Makanan yang tidak di sukai Tidak ada

e. Kebiasaan sebelum makan Tidak ada

f. BB 38

g. TB 145 cm
69

2. Eliminasi

a. BAK

-warna Kuning bening

- keluhan Tidak ada

b. BAB

-warna Tidak di lihat

-keluhan/konsistensi Tidak ada, keras

3. Personal Hygine

a. Mandi 2x /hari

b. Hygine oral 1x /hari

c. Cuci Rambut 1x/ hari

d. Gunting kuku 3 hari 1x

4. Istirahat dan tidur

a. waktu 4 jam

b. tidur siang Jarang

5. Aktivitas dan latihan

a. Olah Raga Tidak

b. Waktu Luang ada

c. Keluhan Dalam Beraktifitas Kepala pusing

6. a. Merokok

b. minuman keras Tidak ada

c. ketergantungan obat Tidak ada


70

7. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

Klien tampak rapih dalam berpakaian dan bersih.

b. Kesadaran Umum

Compos Mentis (CM) GCS : 15 ( E : 4, M : 5, V : 6 )

Tekanan Darah : 170/100 mmHg

Nadi : 85 x/menit

Pernapasan : 22 x/menit

Suhu : 350c

c. Kepala

Bentuk kepala bulat, rambut berwarna putih, adanya nyeri tekan,

tidak ada lesi, kulit kepala bersih.

d. Hidung

Bentuk hidung simetris, tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan, tidak

ada secret, bisa membedakan bau bauan seperti bau wangi dan

bau aroma terapi.

e. Mata

Ketajaman penglihatan klien kurang baik, tidak ada nyeri tekan di

daerah mata sekitar mata, konjungtifa berwarna merah muda,

sclera berwarna putih, bulu mata ada, alis mata tidak lebat.

f. Mulut, Gigi dan tenggorokan

Mukosa bibir tampak lembab, tidak ada sariawan, tidak bau mulut,

lidah berwarna merah muda, pengecapan masih berfungsi bisa


71

merasakan gula terasa manis dan garam terasa asin. Gigi seri, gigi

taring, gigi graham, sudah tidak lengkap.

g. Leher

Saat di palpasi tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri

tekan.

h. Dada (Thorak & Paru)

Bentuk dada simetris, nafas baik dengan frekuensi nadi 22x/menit,

suara nafas vesicular, tidak ada nyeri tekan.

i. Jantung

Denyut nadi perifer teraba melemah, frekuensi nadi 85x/menit,

bunyi dantung normal Lup Dup (Tidak ada bunyi tambahan).

j. Abdomen

Tidak terdapat lesi, dan perut pasien membuncit, tidak ada nyeri

tekan.

k. Genitalia

Tidak terkaji

l. Ekstermitas

Kekuatan otot klien : klien tidak dapat menahan beban yang di

berikan

4 4

4 4
72

Keterangan :

0 = Tidak ada kontaksi.

1 = Terdapat kontaksi tapi tidak dapat bergeser.

2 = haya ada pergeseran atau gerakan sendi.

3 = dapat mengadakan gerakan melawan grafitasi tetapi tidak

bisa melawan grafitasi.

4 = dapat melawan grafitasi tetapi tidak dapat melawan melawan

tahanan pemeriksaan ( lemah).

5 = dapat melawan tahanan pemeriksan dengan kekuatan penuh.

Ekstermitas atas : Keterangan sudah tidak mampu menahan beban

yang di beri.

Ekstermitas bawah : dapat gerak dan dapat melawan hambatan

yang ringan.

8. Pengkajian sistem funsional

a. Modifikasi Barther Indeks

No KRITERIA Dengan Mandiri

bantuan

1 2 3 4

1. Makan 10

2 Minum 10

3 Perpindahan dari tempat tidur ke kursi 15

4 Personal toilet(cuci muka,menyisir, menggosok 15

gigi)
73

5 Keluar masuk toilet(Mencuci baju, menyeka tubuh, 10

menyiram)

6 Mandi 15

7 Jalan di permukaan datar 10

8 Naik turun tangga 5

9 Mengenakan pakaian 10

10 Kontrol bowel (BAB) 10

11 Kontrol bleder(BAK) 10

12 Olah raga 10

13 Rekreasiatau pemanfaatan waktu 10

140
Total Score

Interpretasi Barther Indeks untuk status fungsional klien adalah :

Mandiri penuh

Keterangan : Mandiri

Mandiri : 140

Ketergantungan sebagian : 60-125

Ketergantungan Total : 60

b. KATZ

Kemampuan klien dalam melakukan aktifitas sehari-hari seperti

mandi, berpakaian, ke kamar mandi atau toilet, bergerak atau

mobilisasi, kontrol BAB dan BAK dan makan klien masih bisa

sendiri dan masuk dalam kategori mandiridalam 6 fungsi (A)


74

c. Short Portable Mental Questionare ( SPMSQ )

No Pertanyaan 1+1 1-1

1 2 3 4

1 Tanggal berapa hari ini?

2 Hari apa sekarang? 

3 Apa nama tempat ini? 

4 Berapa no telepon no saudara 

anda?

5 Di mana alamat saudara? 

6 Berapa umur saudara? 

7 Kapan anda dan suami istri anda 

lahir?

8 Siapa presiden indonesia sekarang? 

Siapa nama kecil anda?

9 -3 dari angka 20 secara menurun? 

10 

Total Score 3

Interpretasi hasil SPMSQ pada klien menunjukan adanya kerusakan

intelektual Ringan

Jadi Klien kesalahan :

Intelektual Utuh : kesalahan 0 – 3

Intelektual ringan :kesalahan 4 – 5


75

Intelektual sedang : kesalahan 6 – 8

Intelektual Berat : Kesalahan 9 – 10

3.2 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1 2 3 4

1 DS : Hipertensi Gangguan rasa

- Klien mengatakan nyeri pada daerah  nyaman nyeri

kepalanya. Gagguan

P : beban pikiran sirkulasi otak

Q : terasa tertekan berat 

R : Di daerah kepala Resistensi

S : skala nyeri 3 dari (1-10) – Nyeri sedang pembuluh darah

T : Sejak 2 tahun yang lalu, terjadi secara otak naik

mendadak, malam hari 

DO : Nyeri Kepala

- Klien terlihat meringis sambil

memegang kepalanya

- Skala nyeri 3 (1-10) nyeri sedang

- Tekanan Darah : 170/100 mmHg

- Respirasi :22x / menit

- Suhu :350c

- Nadi : 85 x/ menit

2 DS: Intoleransi aktifitas

- Klien mengatakan sakit pada bagian Pembuluh darah

lutut 

DO : Sistemik
76

- Klien tampak memegang Lutut 

asokontriksi

Afterload

Meningkat

Fatique

Intoleransi

aktifitas

3 DS : Kurangnya

- Klien mengatakan tidak paham dan Hipertensi pengetahuan

tidak mengerti tentang penyakit yang 

di deritanya. Perubahan

DO Status

- Klien tampak bingung saat di tanya Kesehatan

tentang penyakitnya oleh mahasiswa 

Paparan

informasi

kurang

Kurang

pengetahuan

3.3 Diagnosa dan Prioritas Masalah

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan gangguan

sirkulasi pada otak.


77

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahann.

3. Kurangnya pengetahuan tentang hipertensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi.

3.4 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

1 2 3 4 5

Gangguan rasa Setelah di lakukan 1. Lakukan 1. Mengetahui

nyaman nyeri kepalaa tindakan asuhan pengkajian nyeri skala nyeri yang

berhubungan dengan keperawatan secara di rasakan klien

gangguan sirkulasi diharapkan : konprehensif

pada otak 1. Mampu termasuk lokasi,

mengontrol karakteristik,

nyeri durasi, frekuensi, 2. Untuk

2. Melaporkan kualitas dan mengetahui

bahwa nyeri faktor presipitasi reaksi nyeri

berkurang 2. Observasi reaksi klien

3. Menyatakan rasa non verbal dari

nyaman setelah ketidaknyamanan

nyeri berkurang

2 Intoleransi aktifitas Setelah di lakukan 1. Kaji adanya 1. Mengetahui

berhubungan dengan asuhan faktor yang penyebab

adanya kelemahan keperawatan di menyebabkan kelelahan

harapkan klien kelelahan

mampu melakukan
78

aktifitas sehari hari 2. Monitor nutrisi 2. Mengetahui

(ADLS) secara dan sumber asupan nutrisi

mandiri. energi yang klien

adekuat 3. Memberikan

3. Monitor klien rasa nyaman

akan adanya 4. Terkontrolnya

kelelahan jam tidur/

4. Monitor pola istirahat

tidur dan

lamanya

tidur/istirahat

klien

3 Kurangnya Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Adanya

pengetahuan tentang intervensi diharapkan pengetahuan informasi akan

hiprtensi berhubungan klien mengatakan klien. meningkatkan

dengan keterbatasan paham mengenai pemahaman

informasi penyakitnya. 2. Berikan klien tentang

pendidikan penyakitnya.

kesehatan 2. Mengetahui

tentang cara sejauh mana

mencegah dan klien memahami

mengatasi tentang penyakit

hipertensi yang di

deritanya

3.5 Implementasi Keperawatan


79

No Hari/ Tanggal/ Diagnosa Tindakan Keperawatan Respon Hasil Paraf

Waktu

1 Kamis, 25 Gangguan rasa 1. Melakukan pengkajian 1. Skala nyeri 3 (0-

Januari 2018 nyaman nyeri nyeri secara 10)

Pkl 10.00 kepala konprehensif termasuk Tekanan Darah :

WIB berhubungan lokasi, karakteristik, 170/100 mmHg

dengan gangguan durasi, frekuensi, Respirasi :22x /

sirkulasi pada otak kualitas dan faktor menit

presipitasi Suhu :350c

2. Mengobservasi reaksi Nadi : 85 x/

non verbal dari menit

ketidaknyamanan
Klien
3. Memberikan obat
mengatakan
analgesik sesuai indikasi
nyeri pada daerah

kepalanya.

2. Klien terlihat

meringis sambil

memegang

kepalanya

3. Klien mendapat

obat analgesic

2 Kamis, 25 Intoleransi aktifitas 1. Mengkaji adanya faktor 1. Klien

Januari 2018 berhubungan yang menyebabkan mengatakan sakit

Pkl 11.00 dengan adanya kelelahan pada bagian lutut

WIB kelemahan 2. Memonitor nutrisi dan 2. Klien lemas dan

sumber energi yang masih berbaring

adekuat di tempat tidur.


80

3. Memonitor klien akan 3. Klien tampak

adanya kelelahan memegang lutut

4. Memonitor pola tidur 4. Klien tidur

dan lamanya terlentang

tidur/istirahat klien

3 Kamis, 25 Kurangnya 1. Mengkaji tingkatan 1. Klien

Januari 2018 pengetahuan pengetahuan klien. mengatakan tidak

Pkl 11.30 tentang hiprtensi 2. Memberikan pendidikan paham dan tidak

WIB berhubungan kesehatan tentang cara mengerti tentang

dengan mencegah dan penyakit yang di

keterbatasan mengatasi hipertensi deritanya.

informasi 2. Klien tampak

bingung saat di

tanya tentang

penyakitnya oleh

mahasiswa

No Hari/ Tanggal/ Diagnosa Tindakan Keperawatan Respon hasil Paraf

Waktu

1 Jumat, 26 Gangguan rasa 1. Melakukan 1. Skala nyeri – 3

Januari 2018 nyaman nyeri pengkajian nyeri 2. Obat sudah diberikan

Pkl 10.00 WIB kepalaa secara ke pasien dan

berhubungan konprehensif menjelaskan cara

dengan termasuk lokasi, penggunaan obat dan

gangguan karakteristik, efek samping obat,

durasi, frekuensi, klien tampak


81

sirkulasi pada kualitas dan faktor mengerti dengan

otak presipitasi penjelasan perawat.

2. Memberikan obat

analgesik sesuai

indikasi

2 Jumat, 26 Intoleransi 1. Mengkaji adanya 1. Klien mengatakan

Januari 2018 aktifitas faktor yang sakit pada bagian

Pkl 11.00 WIB berhubungan menyebabkan lutut

dengan adanya kelelahan 2. Klien tampak

kelemahan 2. Memonitor nutrisi memegang lutut

dan sumber energi 3. Klien lemas dan

yang adekuat masih berbaring di

3. Memonitor pola tempat tidur.

tidur dan lamanya

tidur/istirahat klien

3 Jumat, 26 Kurangnya 1. Mengkaji 1. Klien tampak

Januari 2018 pengetahuan tingkatan mendengar pnjelasan

Pkl 13.00 WIB tentang hiprtensi pengetahuan klien. perawat

berhubungan 2. Memberikan 2. Klien tampak

dengan pendidikan memperhatikan dan

keterbatasan kesehatan tentang tampak mengangguk

informasi cara mencegah dan dan akan melakukan

mengatasi saran yang diberikan

hipertensi perawat.

No Tanggal Diagnosa Tindakan Keperawatan Respon Hasil Paraf


82

1 Sabtu, 27 Gangguan rasa 1. Melakukan pengkajian 1. Skala nyeri 1

Januari 2018 nyaman nyeri nyeri secara 2. Klien meminum

Pkl 10.00 kepalaa konprehensif termasuk obat analgesik

WIB berhubungan lokasi, karakteristik,

dengan gangguan durasi, frekuensi,

sirkulasi pada otak kualitas dan faktor

presipitasi

2. Memberikan obat

analgesik sesuai

indikasi

2 Sabtu, 27 Intoleransi aktifitas 1. Memonitor nutrisi dan 1. Klien

Januari 2018 berhubungan sumber energi yang mengatakan sakit

Pkl 11.00 dengan adanya adekuat pada bagian lutut

WIB kelemahan 2. Memonitor pola tidur mulai berkurang

dan lamanya 2. Klien lemas dan

tidur/istirahat klien masih berbaring

di tempat tidur.

3 Sabtu, 27 Kurangnya 1. Mengkaji tingkatan 1. Klien tampak

Januari 2018 pengetahuan pengetahuan klien. mendengarkan

Pkl 13.00 tentang hiprtensi 2. Memberikan perawat.

WIB berhubungan pendidikan kesehatan 2. Klien tampak

dengan tentang cara mencegah mengerti dan

keterbatasan dan mengatasi mengikuti serta

informasi hipertensi berpartisipasi

dalam

penyembuhannya

3.6 Evaluasi Keperawatan


83

No Hari/ tanggal/ Diagnosa SOAP Tanda

Waktu Keperawatan Tangan

1 2 3 4 5

1 Kamis, 25 Gangguan rasa 1. Melakukan pengkajian

Januari 2018 nyaman nyeri kepalaa nyeri secara konprehensif

Pkl 10.30 WIB berhubungan dengan termasuk lokasi,

gangguan sirkulasi karakteristik, durasi,

pada otak frekuensi, kualitas dan

faktor presipitasi

2. Mengbservasi reaksi non

verbal dari

ketidaknyamanan

3. Memberikan obat

analgesik sesuai indikasi

S : Klien mengatakan nyeri

dibagian kepala

O : Klien terlihat meringis

sambil memegang kepala

- Skala : 3(0-5)

- TD : 180/mmHg

- RR : 22x/menit

- Nadi : 80x/ menit

A : Gangguan rasa nyaman

nyeri kepalaa berhubungan

dengan gangguan sirkulasi

pada otak
84

P : Intervensi lanjutkan ke hari

ke-2

1. Melakukan pengkajian

nyeri secara konprehensif

termasuk lokasi,

karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan

faktor presipitasi

2. Memberikan obat

analgesik sesuai indikasi

2 Kamis, 25 Intoleransi aktifitas 1. Mengkaji adanya faktor

Januari 2018 berhubungan dengan yang menyebabkan

Pkl 11.15 WIB adanya kelemahan kelelahan

2. Memonitor nutrisi dan

sumber energi yang

adekuat

3. Memonitor klien akan

adanya kelelahan

4. Memonitor pola tidur dan

lamanya tidur/istirahat

klien

S : Klien mengatakan sakit

pada bagian lutut apabila

berjalan

O : Klien nampak memegang

lutut

- Skala nyeri : 3 (0-5)


85

A : Intoleransi aktifitas

berhubungan dengan

adanya kelemahan

P : Intervensi lanjutkan ke hari

ke-2

1. Mengkaji adanya faktor

yang menyebabkan

kelelahan

2. Memonitor nutrisi dan

sumber energi yang

adekuat

3. Memonitor pola tidur dan

lamanya tidur/istirahat

klien

3 Kamis, 25 Kurangnya 1. Mengkaji tingkatan

Januari 2018 pengetahuan tentang pengetahuan klien.

Pkl 11.45 WIB hiprtensi 2. Memberikan pendidikan

berhubungan dengan kesehatan tentang cara

keterbatasan mencegah dan mengatasi

informasi hipertensi

S : Klien mengatakan tidak

paham dan tidak mengerti

tentang penyakit yang

dideritanya

O : Klien tampak bingung saat

ditanya tentang penyakit

oleh mahasiswa
86

A : Kurangnya pengetahuan

tentang hiprtensi

berhubungan dengan

keterbatasan informasi

P : Intervensi lanjutkan ke hari

ke -2

1. Mengkaji tingkatan

pengetahuan klien.

2. Memberikan pendidikan

kesehatan tentang cara

mencegah dan mengatasi

hipertensi

No Hari/ tanggal/ Diagnosa SOAP Tanda

Waktu Keperawatan Tangan

1 2 3 4 5

1 Jumat, 26 Gangguan rasa 1. Melakukan pengkajian

Januari 2018 nyaman nyeri kepalaa nyeri secara konprehensif

Pkl 10.30 WIB berhubungan dengan termasuk lokasi,

gangguan sirkulasi karakteristik, durasi,

pada otak frekuensi, kualitas dan

faktor presipitasi

2. Memberikan obat

analgesik sesuai indikasi


87

S : Klien mengatakan nyeri

dibagian kepalamulai

berkurang

O : Klien terlihat sesekali

memgang kepalanya

- Skala : 3(0-5)

- TD : 170/mmHg

- RR : 22x/menit

- Nadi : 80x/ menit

A : Gangguan rasa nyaman

nyeri kepalaa berhubungan

dengan gangguan sirkulasi

pada otak

P : Intervensi lanjutkan ke hari

ke-3

1. Melakukan pengkajian

nyeri secara konprehensif

termasuk lokasi,

karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan

faktor presipitasi

2. Memberikan obat

analgesik sesuai indikasi

2 Jumat, 26 Intoleransi aktifitas 1. Mengkaji adanya faktor

Januari 2018 berhubungan dengan yang menyebabkan

Pkl 11.15 WIB adanya kelemahan kelelahan


88

2. Memonitor nutrisi dan

sumber energi yang

adekuat

3. Memonitor pola tidur dan

lamanya tidur/istirahat

klien

S : Klien mengatakan

berkurang pada bagian lutut

apabila berjalan

O : Klien nampak sesekali

memegang lutut

- Skala nyeri : 3 (0-5)

A : Intoleransi aktifitas

berhubungan dengan

adanya kelemahan

P : Intervensi lanjutkan ke hari

ke-3

1. Memonitor nutrisi dan

sumber energi yang

adekuat

2. Memonitor pola tidur dan

lamanya tidur/istirahat

klien

3 Jumat, 26 Kurangnya 1. Mengkaji tingkatan

Januari 2018 pengetahuan tentang pengetahuan klien.

Pkl 13.30 WIB hiprtensi 2. Memberikan pendidikan

berhubungan dengan kesehatan tentang cara


89

keterbatasan mencegah dan mengatasi

informasi hipertensi

S : Klien mengatakan sedikit

paham dan sedikit mengerti

tentang penyakit yang

dideritanya

O : Klien masih nampak

bingung saat ditanya

tentang penyakit oleh

mahasiswa

A : Kurangnya pengetahuan

tentang hiprtensi

berhubungan dengan

keterbatasan informasi

P : Intervensi lanjutkan ke hari

ke -3

1. Mengkaji tingkatan

pengetahuan klien.

2. Memberikan pendidikan

kesehatan tentang cara

mencegah dan mengatasi

hipertensi

No Hari/ Tanggal/ Diagnosa SOAP Tanda

Waktu Keperawatan Tangan

1 2 3 4 5

1 Sabtu, 27 Gangguan rasa 1. Melakukan pengkajian nyeri

Januari 2018 nyaman nyeri kepalaa secara konprehensif termasuk


90

Pkl 10.30 WIB berhubungan dengan lokasi, karakteristik, durasi,

gangguan sirkulasi frekuensi, kualitas dan faktor

pada otak presipitasi

2. Memberikan obat analgesik

sesuai indikasi

S : Klien mengatakan nyeri

dibagian kepalanya berkurang

O : Klien sudah tidak memgang

kepalanya

- Skala : 2 (0-5)

- TD : 170/mmHg

- RR : 22x/menit

- Nadi : 80x/ menit

A : Gangguan rasa nyaman nyeri

kepalaa berhubungan dengan

gangguan sirkulasi pada otak

P : Intervensi dipertahankan

1. Memberikan obat analgesik

sesuai indikasi

2 Sabtu, 27 Intoleransi aktifitas 1. Memonitor nutrisi dan sumber

Januari 2018 berhubungan dengan energi yang adekuat

Pkl 11.15 WIB adanya kelemahan 2. Memonitor pola tidur dan

lamanya tidur/ istirahat klien

S : Klien mengatakan sakitnya

berkurang bagian lutut apabila

berjalan
91

O : Klien sudah tidak memegang

lututnya

- Skala nyeri : 2 (0-5)

A : Intoleransi aktifitas

berhubungan dengan adanya

kelemahan

P : Intervensi dipertahankan

1. Memonitor nutrisi dan sumber

energi yang adekuat

3 Sabtu, 27 Kurangnya 1. Mengkaji tingkatan

Januari 2018 pengetahuan tentang pengetahuan klien.

Pkl 13.30 WIB hiprtensi 2. Memberikan pendidikan

berhubungan dengan kesehatan tentang cara

keterbatasan mencegah dan mengatasi

informasi hipertensi

S : Klien mengatakan paham dan

mengerti tentang penyakit yang

dideritanya

O : Klien masih nampak mengerti

saat ditanya tentang penyakit

oleh mahasiswa

A : Kurangnya pengetahuan

tentang hiprtensi berhubungan

dengan keterbatasan informasi

P : Intervensi diberhentikan
92
93

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab pembahasan ini akan diungkapkan antara kesenjangan antara teori

dan kenyataan yang ditemukan klien dengan hipertensi di UPTD Puskesmas Beber

Kabupaten Cirebon Tahun 2018. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas makan

kesenjangan yang terjadi akan diuraikan dalam setiap komponen keperawatan. Dan

komponen yang mengalami kesenjangan dimana pada kasus tidak muncul tetapi

terdapat pada teori yaitu pada proses keperawatan pengkajian dan diagnosa

keperawatan, munculnya pengangkatan masalah baru maka secara otomatis

intervensi, implementasi dan evaluasi tidak muncul.

4.1 Pengkajian

Teori mengatakan bahwa hipertensi merupakan gejala penyakit

yang ditandai peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan

tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg(3). Klien mengalami hipertensi

menunjukan gejala seperti : sakit kepala, pusing, lemas, mual muntah,

epistaksis, sesak napas dan kesadaran menurun.

Dalam pengkajian Ny. S didapat pengkajiansebagai berikut : Ny.S

mengatakan nyeri pada daerah kepalanya, skala nyeri 3 (0-10), Ny. K suka

mengkonsumsi sayur, Ny. S sering tidur siang selama 30 menit.

91
94

Dalam penelitian, penulis tidak menemukan hambatan Ny. S

bersedia menerima penulis dan secara terbuka memberikan keterangan –

keterangan yang diperlukan.

Disini terjadi kesenjangan antara teori dan kenyataan karena di teori

ditemuan gejala hipertensi seperti : mual muntah, epistaksis dan sesak

napas, sedangkan dikenyataan tidak ditemukan gejala hipertensi seperti :

mual muntah, epistaksis dan sesak napas.

4.2 Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan literatur yang ada, terdapat 5 diagnosa keperawatan.

Adapun diagnosa kelima tersebut adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan gangguan

sirkulasi pada otak.

2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum laporan

verbal tentang kelebihan atau kelemahan.

3. Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

masukan berlebihan dengan kebutuhan merabolik.

4. Koping, individual, infektif berhubunga dengan dengan krisis

situasional/maturasional.

5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana

pengobatan berbungan dengan kurang pengetahuan.(15)


95

Sedangkan dari tinjauan kasus, asuhan keperawatan pada klien Ny. K

didapat 3 diagnosa sebagai berikut :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan gangguan

sirkulasi pada otak.

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahann.

3. Kurangnya pengetahuan tentang hipertensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi.

Dengan demikian dari diagnosa keperawatan ditemukan 3 diagnosa

keperawatan, sedangkan 2 diagnosa yaitu :

1. Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

masukan berlebihan dengan kebutuhan merabolik.

2. Koping, individual, infektif berhubunga dengan dengan krisis

situasional/maturasional.

Tidak ditemukan, karena tidak ada data yang mendukung adanya

diagnosa keperawatan tersebut.

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan gangguan

sirkulasi pada otak. Klien mengatakan nyeri dibagian kepala, klien

terlihat meringis sambil memegang kepala.

- Skala : 3(0-5)

- TD : 180/mmHg

- RR : 22x/menit

- Nadi : 80x/ menit


96

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahan. Klien

mengatakan sakit pada bagian lutut apabila berjalan, klien nampak

memegang lutut, skala nyeri : 3 (0-5)

3. Kurangnya pengetahuan tentang hiprtensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi. Klien mengatakan tidak paham dan tidak

mengerti tentang penyakit yang dideritanya, klien tampak bingung saat

ditanya tentang penyakit oleh mahasiswa

4.3 Intervensi Keperawatan

Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk teknis tertulis yang

menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang akan

dilakukanterhadap pasien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan

diagnosa yang ada.

Merencanakan pada Ny. S dibuat dengan sesuai teori yang ada.

Adapun jenis tindakan yang direncakan terhadap Ny. S meliputi :

penyuluhan kesehatan, memelihara dan meningkatkan kesehatan Ny. S,

serta lebih menekankan perubahan Ny. S dari perilaku yang memperburuk

penyakit yang dideritanya.

Intervensi yang dilakukan setelah diagnosa :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepalaa berhubungan dengan gangguan

sirkulasi pada otak

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan :


97

a. Mampu mengontrol nyeri

b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang

c. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Intervensi :

a. Lakukan pengkajian nyeri secara konprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

b. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan

c. Pemberian obat analgesik sesuai indikasi

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan :

Klien mampu melakukan aktifitas sehari hari (ADLS) secara mandiri.

Intervensi :

a. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan

b. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

c. Monitor klien akan adanya kelelahan

d. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat klien

3. Kurangnya pengetahuan tentang hiprtensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan :

Klien mengatakan paham mengenai penyakitnya.


98

Intervensi :

a. Kaji tingkat pengetahuan klien.

b. Berikan pendidikan kesehatan tentang cara mencegah dan

mengatasi hipertensi

4.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana

keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.

Dari diagnosa 1-3 implementasi dapat dilakukan sesuai dengan

intervensi yang ada. Implementasi yang dilakukan dari 3 diagnosa tinjauan

kasus adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepalaa berhubungan dengan gangguan

sirkulasi pada otak

a. Melakukan pengkajian nyeri secara konprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

b. Mengobservasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan

c. Memberian obat analgesik sesuai indikasi

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahan

a. Mengkaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan

b. Memonitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

c. Memonitor klien akan adanya kelelahan

d. Memonitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat klien


99

3. Kurangnya pengetahuan tentang hiprtensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi

a. Mengkaji tingkat pengetahuan klien.

b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara mencegah dan

mengatasi hipertensi

4.5 Evaluasi Keperawatan

Menurut teori penilaian atau evaluasi adalah mengukur keberhasilan

dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam

memenuhi kebutuhan pasien. Evaluasi yang dilakukan dari 3 diagnosa

tinjauan kasus adalah :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri kepalaa berhubungan dengan gangguan

sirkulasi pada otak

S : Klien mengatakan nyeri dibagian kepalanya berkurang

O : Klien sudah tidak memgang kepalanya

- Skala : 2 (0-5)

- TD : 170/mmHg

- RR : 22x/menit

- Nadi : 80x/ menit

A : Gangguan rasa nyaman nyeri kepalaa berhubungan dengan

gangguan sirkulasi pada otak

P : Intervensi dipertahankan

1. Memberikan obat analgesik sesuai indikasi


100

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahan

S : Klien mengatakan sakitnya berkurang bagian lutut apabila berjalan

O : Klien sudah tidak memegang lututnya

Skala nyeri : 2 (0-5)

A : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahan

P : Intervensi dipertahankan

1. Memonitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

3. Kurangnya pengetahuan tentang hiprtensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi

S : Klien mengatakan paham dan mengerti tentang penyakit yang

dideritanya

O : Klien masih nampak mengerti saat ditanya tentang penyakit oleh

mahasiswa

A : Kurangnya pengetahuan tentang hiprtensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi

P : Intervensi diberhentikan

Dari diagnosa 1- 3 setelah dilakukan evaluasi masalah dapat teratasi.


101

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan dengan

hipertensi di UPTD Puskesmas Beber Kabupaten Cirebon Tahun 2018 dari tanggal

25 Januari 2018, maka penulis dapat menentukan simpulan dan serta memberikan

saran.

5.1 Simpulan

1. Dalam hasil pengkajian ternyata ditemukan beberapa masalah

keperawatan pada Ny. S yang memerlukan penanganan dari petugas

kesehatan.Ny. S mengatakan nyeri pada daerah kepalanya, skala nyeri

3 (0-10), Ny. S suka mengkonsumsi sayur, Ny. S sering tidur siang

selama 30 menit.

2. Didapatkan 3 diagnosa yaitu :

a. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan

gangguan sirkulasi pada otak.

b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahann.

c. Kurangnya pengetahuan tentang hipertensi berhubungan dengan

keterbatasan informasi.

3. Membuat rencana asuhan keperawatan pada Ny. S dengan hipertensi

meliputi : penyuluhan kesehatan, memelihara dan meningkatkan


102

kesehatan Ny. S, serta lebih menekankan perubahan Ny. S dari perilaku

yang memperburuk penyakit yang dideritanya.

4. Melaksanakan implementasi pada Ny. S dengan hipertensi :

a. Melakukan pengkajian nyeri secara konprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasiserta

memberikan obat analgesik sesuai indikasi

b. Mengkaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan serta

memonitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara mencegah dan

mengatasi hipertensi

5. Mengevaluasi tindakan keperawatan pada Ny. S dengan gangguan

sistem kardiovaskuler: hipertensi, klien mengatakan nyerti kepalanya

berkurang setelah rutin mengkonsumsi obat dan mengimbangi dengan

istirahat cukup.

5.2 Saran

1. Puskesmas

Untuk lebih memperhatikan masalah – masalah kesehatan yang timbul

terutama pada Ny. S. Memberikan informasi tentang hipertensi dengan

melakukan penyuluhan kesehatan serta pemberian leaflet.

2. Klien

Hindari gaya hidup yang dapat memperburuk masalah hipertensi. Ganti

dengan gaya hidup sehat seperti : tidak bekerja berlebihan, olahraga dan
103

menu makanan sesuai dengan kebutuhan diit hipertensi. Serta lebih

memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada di Wilayah setempat.

3. Institusi

Institusi tetap melaksanakan program pengambilan kasus karya tulis

ilmiah di komunitas terutama pada keluarga tetap dilakukan, tetapi

diharapkan institusi lebih mempersiapkannya secara lebih matang lagi

sehingga kedepannya pengambilan kasus karya tulis ilmiah pada

keluarga dapat berjalan lebih bagus lagi.