Anda di halaman 1dari 11

PERANAN GENDER DALAM ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM

PADA EKOSISTEM PEGUNUNGAN DI KABUPATEN SOLOK,


SUMATERA BARAT
(The Role of Gender on Climate Change Adaptation in the Mountainous
Ecosystem at Solok District, West Sumatera)
1 2
Yanto Rochmayanto & Pebriyanti Kurniasih
1
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan
Jl. Gunung Batu No. 5. Bogor, Email : yrochmayanto@yahoo.co.id
2
Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan
Jl. Raya Bangkinang-Kuok Km. 9, Bangkinang 28401, Kotak Pos 4/BKn-Riau

Diterima 25 Juni 2012, direvisi 01 November 2012, disetujui 01 April 2013

ABSTRACT
Climate change causes abominable impact to woman, but the study of gender adaptation perpectives is
still very limited. The objectives of the research were to know: (1) changes in gender roles that emerged as a
response to climate change, and (2) impact of changes in gender roles on woman's vulnerability. The research was
conducted at mountain ecosystem in Solok Regency, West Sumatera. The gender role in natural resources
management is analyzed using descriptive analysis method which emphasizes gender relationship and gender
roles that are formed in the household. The results showed that changes in temperature and rainfall patterns are
slowly changing the productive role that woman participated in the agriculture production responsibility in a
larger proportion. Changes in gender roles raises gender untillness in the farms of marginalization, stereotypes,
subordination, and adouble burden for woman. To enhance the adaptive capacity for woman, it is required to
develop the adaptation strategies covering : (1) to increase the political role of woman, (2) to increase the capacity
of woman in formal and informal education, and (3) cultural reconstruction based on gender equality.
Keywords: Climate change, vulnerability of society, gender roles and gender inequality

ABSTRAK
Perubahan iklim memberi dampak paling berat terhadap perempuan, namun studi tentang adaptasi
dalam perspektif gender masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perubahan peranan
gender sebagai respon terhadap perubahan iklim, dan (2) dampak perubahan peranan gender terhadap
kerentanan perempuan. Penelitian dilakukan pada ekosistem pegunungan di Kabupaten Solok, Sumatera
Barat. Peranan gender dalam manajemen sumberdaya alam dianalisis menggunakan analisis deskriptif
kualitatif yang menekankan pada relasi dan peran gender dalam rumah tangga. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perubahan suhu dan pola hujan secara perlahan mengubah peranan produktif
sehingga perempuan turut bertanggung jawab dalam produksi pertanian dalam proporsi yang lebih besar.
Perubahan peranan gender tersebut menimbulkan ketidakadilan gender yaitu marginalisasi, stereotype,
subordinasi dan beban ganda bagi perempuan. Untuk meningkatkan kapasitas adaptif perempuan
diperlukan strategi adaptasi berupa : (1) peningkatan peran politik perempuan, (2) peningkatan kapasitas
perempuan dalam pendidikan formal dan non formal, dan (3) rekonstruksi budaya berbasis kesetaraan
gender.
Kata kunci: Perubahan iklim, kerentanan masyarakat, peranan gender dan ketidakadilan gender

203
Peranan Gender dalam Adaptasi Perubahan Iklim . . .
Yanto Rochmayanto & Pebriyanti Kurniasih

I. PENDAHULUAN perubahan iklim di Amerika. Codjoe et al.


(2012) meneliti tentang pola adaptasi
Perubahan iklim akan berbeda dam- masyarakat laki-laki dan perempuan pada 3
paknya di setiap negara, wilayah, generasi, (tiga) macam mata pencaharian (petani,
kelas masyarakat, pekerjaan, jenis kelamin, nelayan dan produksi arang) dan Oluwatayo
usia dan pendapatan. Dari tahun 1975 - 2006 (2011) tentang kapasitas adaptif perempuan
bencana alam terbanyak terjadi di benua Asia. terhadap kelangkaan air akibat perubahan
Dari kelompok rentan terhadap bencana, iklim. Adapun hasil studi Suzuki (2001)
diantaranya 3,4 juta orang berasal dari merekomendasikan indikator gender ke dalam
kelompok masyarakat miskin, anak-anak, standar dan pedoman REDD. Studi gender
masyarakat adat, petani dan nelayan. Wanita secara mendalam di tingkat ekosistem tertentu
merupakan proporsi terbesar dari masyarakat masih belum cukup untuk dijadikan dasar dan
miskin dunia, termasuk anak-anak dan remaja masukan kebijakan pada tingkat lokal.
perempuan, sangat rentan terhadap perubahan Pilihan lokus ekosistem pegunungan
iklim (Bridge, 2008). Perubahan iklim didasarkan atas argumentasi bahwa ditinjau
memberi dampak paling berat terhadap dari beberapa aspek kawasan pegunungan
perempuan dari kelompok sosial paling rendah memiliki nilai strategis, antara lain sebagai
(CSF, 2011). Pada setiap bencana (klimatis atau indikator perubahan iklim dan integrasi tata
bukan) ternyata korban perempuan lebih guna lahan. Pegunungan sangat sensitif
besar daripada laki-laki dengan perbandingan terhadap perubahan iklim, sehingga kegagalan
4:1. Hasil analisis terhadap bencana yang dalam menangani dinamika iklim akan
terjadi di 141 negara membuktikan bahwa berdampak serius bagi sektor kehutanan dan
perbedaan jumlah korban akibat bencana alam pertanian (Pusat Studi Pariwisata UGM, 2003).
berkaitan erat dengan hak ekonomi dan sosial Penelitian ini bertujuan untuk menge-
perempuan (DTE, 2009). tahui: (1) perubahan peranan gender yang
Gender merupakan isu penting karena timbul sebagai respon terhadap perubahan
faktor ketidaksetaraannya dan kebutuhan iklim, dan (2) dampak perubahan peranan
khusus perempuan dalam situasi bencana gender terhadap kerentanan perempuan.
(BNPB, 2010). Dalam perspektif bahaya,
dimensi spasial amat penting untuk meng-
identifikasi masyarakat yang berisiko, namun II. METODE PENELITIAN
harus dihubungkan dengan pemahaman
diferensiasi sosial-ekonomi, pertalian dan A. Kerangka Teoritis Penelitian
dinamika dalam wilayah tersebut (Twigg,
Gender adalah intepretasi atau penafsiran
2009). Sayangnya, sampai saat ini pertim-
masyarakat tentang peranan, fungsi, dan
bangan gender masih belum cukup eksplisit
tanggung jawab antara perempuan dan laki-
dinyatakan dalam berbagai kebijakan
laki yang terbentuk dalam jangka waktu lama
perubahan iklim (UNDP, 2009).
sesuai dengan perkembangan zaman dan
Studi gender terhadap perubahan iklim
lingkungan tempat tinggal masyarakat
sangat terbatas, khususnya pada ekosistem
sehingga menjadi suatu kebudayaan yang dapat
pegunungan. Beberapa studi yang telah ada
mempengaruhi interaksi antar masyarakat,
dilakukan di Pegunungan Jayawijaya, namun
termasuk interaksi antara laki-laki dan
terbatas pada sektor pertanian (Saenong et al.,
perempuan (Fakih, 1996). Gender merupakan
1995). McCright (2010) melakukan studi
suatu sifat untuk mengidentifikasikan
perbedaan gender dan opini publik tentang

204
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 10 No. 3, Desember 2013 : 203 - 213

perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari 2. Peranan reproduktif, yakni peranan yang
sisi sosial dan budaya, nilai dan perilaku, berhubungan dengan tanggung jawab
mentalitas dan emosi, serta faktor non biologis pengasuhan anak dan tugas-tugas domestik
lainnya (Wijaya, 1996). untuk menjamin pemeliharaan dan repro-
Gender berbeda dengan sex, meskipun duksi tenaga kerja yang menyangkut
secara etimologis artinya sama dengan sex, kelangsungan tenaga. Contoh: melahirkan,
yaitu jenis kelamin. Secara umum sex memelihara dan mengasuh anak, meng-
digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan ambil air, memasak, mencuci, membersih-
laki-laki dan perempuan dari segi anatomi kan rumah, memperbaiki baju dan lain-
biologis, sedang gender berkonsentrasi kepada lain.
aspek sosial, budaya, dan aspek aspek 3. Peranan pengelolaan masyarakat dan
nonbiologis lainnya. Studi tentang sex politik, terdiri atas 2 (dua) kategori, yaitu:
menekankan pada perkembangan aspek a. Peranan pengelolaan masyarakat
biologis dan komposisi kimia dalam tubuh (kegiatan sosial), mencakup semua
laki-laki dan perempuan, sedangkan studi aktivitas dalam komunitas sebagai
gender menekankan pada perkembangan aspek kepanjangan peran reproduktif, ber-
maskulinitas dan femininitas seseorang. sifat sukarela dan tanpa upah.
Gender dapat mengalami perubahan dalam b. Peranan pengelolaan politik, yakni
waktu, tempat dan kelas sosial, sementara sex peranan dalam pengorganisasian
bersifat tetap (Ollenburge, et al., 2002). komunitas pada tingkat formal secara
Gender menjadi salah satu pertimbangan politik, biasanya dibayar (langsung
penentuan peran dalam pengelolaan sumber ataupun tidak langsung), dan mening-
daya alam, yang dikenal dengan peran gender. katkan kekuasaan atau status.
Adapun peranan gender merupakan suatu
Peranan gender apabila dikelola dengan
konsep perilaku yang diajarkan pada setiap
baik dapat menjadi strategi adaptasi masya-
masyarakat, komunitas dan kelompok sosial
rakat terhadap perubahan iklim, namun
tertentu yang menjadikan aktivitas, tugas-
sebaliknya jika tidak dikelola dengan baik,
tugas dan tanggungjawab tertentu diper-
dapat meningkatkan kerentanan. Mengacu
sepsikan sebagai peran perempuan dan laki-
kepada peranan gender di atas, peranan gender
laki (Fakih, 1996). Peranan pada akhirnya
dalam penelitian ini dapat dilihat dengan
memunculkan peran yang harus dimainkan
membahas tiga peranan tersebut yang
oleh individu. Peran gender merupakan
mencakup kegiatan reproduktif, produktif,
peranan yang dilakukan perempuan dan laki-
serta kegiatan pengelolaan masyarakat dan
laki sesuai status, lingkungan, budaya dan
politik.
struktur masyarakatnya (Fakih, 1996).
Fakih (1996) menjelaskan adanya 3 (tiga)
B. Waktu dan Tempat Penelitian
kategori peranan gender, yaitu:
1. Peranan produktif, yaitu peranan yang Penelitian dilaksanakan tahun 2011 di 3
dikerjakan perempuan dan laki-laki untuk (tiga) nagari di Kabupaten Solok, yaitu: (1)
memperoleh bayaran tunai, termasuk Nagari Salayo Tanang Bukit Sileh di
produksi pasar dengan suatu nilai tukar dan Kecamatan Lembang Jaya, (2) Nagari Aie
produksi rumah tangga/subsisten dengan Dingin di Kecamatan Lembah Gumanti, dan
nilai guna. Contohnya kegiatan bekerja di (3) Nagari Aie Batumbuk di Kecamatan
sektor formal maupun informal. Gunung Talang.

205
Peranan Gender dalam Adaptasi Perubahan Iklim . . .
Yanto Rochmayanto & Pebriyanti Kurniasih

C. Pengumpulan dan Analisis Data III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengumpulan data dilakukan dengan
A. Perubahan Iklim di Kabupaten Solok
menggunakan teknik wawancara dan obser-
vasi. Wawancara dilakukan terhadap 30 Berdasarkan analisis BMKG (2011a) terhadap
responden di masing-masing nagari. Observasi sifat hujan (perbandingan antara jumlah curah
lapangan dilakukan dengan mengamati hujan selama sebulan dengan nilai rata-rata atau
aktivitas harian petani pria dan wanita. normal dari bulan tersebut) bulan Juli
Analisis data dilakukan secara deskriptif Desember 2011 menunjukkan variasi antara
kualitatif untuk menerangkan fenomena yang atas normal (AN), normal (N) dan bawah
ditemukan serta menghubungkannya dengan normal (BN). Sifat hujan cenderung BN pada
kerangka teori yang digunakan. pertengahan tahun, dan kemudian AN pada
akhir tahun (Tabel 1). Dinamika tersebut
mengindikasikan adanya gangguan atmosfer,
minimal gangguan pada skala lokal dan
regional sehingga mempengaruhi curah hujan
di wilayah Solok dan sekitarnya pada semester
2 tahun 2011.

Tabel 1. Sifat hujan bulan Juli-Desember 2011 di Kabupaten Solok


Table 1. The nature of rainfall in July-December 2011 at Solok Regency
Stasiun Cuaca Juli Agustus September Oktober November Desember
(Climatological station) (July) (August) (September) (Oktober) (November) (December)
Alahan Panjang N N N N N AN
Solok BN BN N N AN N
Sumber (Sources): BMKG (2011a) dan BMKG (2011b), diolah (processed).

Rata-rata curah hujan bulanan 30 tahun yang menurun, namun kembali meningkat
terakhir di Stasiun BMKG Sukarami dan pada periode akhir pengamatan. Perilaku
Alahan Panjang menunjukkan kecenderungan curah hujan tersebut dapat memberi indikasi
meningkat. Sementara, jumlah curah hujan bahwa curah hujan pada 30 tahun terakhir
tahunan di kedua stasiun memperlihatkan tren tidak stabil (Gambar 1).

Gambar 1. Rata-rata curah hujan bulanan dan tahunan di Stasiun Pengamatan Alahan Panjang
dan Sukarami, Kabupaten Solok
Figure 1. Average monthly and yearly rainfall at climatological station of Alahan Panjang and
Sukarami, Solok Regency

206
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 10 No. 3, Desember 2013 : 203 - 213

Temperatur udara di Kabupaten Solok Di samping itu, masyarakat di lokasi


berkisar 12-33oC, saat ini sudah meningkat 2- penelitian sudah merasakan perubahan iklim,
3oC. Situasi ini sejalan dengan laporan berupa peningkatan suhu dan perubahan pola
Direktorat Jenderal Cipta Karya (2010) bahwa hujan. Seluruh responden mengakui adanya
peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi peningkatan suhu menjadi lebih panas selama
sekitar 2°C dalam 50 tahun terakhir. Hasil 30 tahun terakhir. Sebanyak 98% responden
observasi Cortez & Stephen (2009) juga menyatakan adanya ketidakteraturan pola
menunjukkan perubahan suhu yang signifikan hujan, yaitu intensitasnya semakin tinggi tapi
dalam jangka panjang di tingkat global sejak durasinya semakin pendek (Gambar 2).
tahun 1890-2000.

Persepsi masyarakat terhadap Persepsi masyarakat terhadap


perubahan suhu perubahan pola hujan

Ya Tidak Tidak tahu Ya Tidak Tidak Tahu

2%

100%

98%

Gambar 2. Persepsi responden terdahap perubahan iklim.


Figure 2. Respondents perception to climate change

Perubahan suhu dan pola hujan di daerah 3. Peningkatan kejadian longsor, meliputi :
pegunungan sangat berpengaruh terhadap a. Longsor besar, yaitu gerakan tanah yang
mata pencaharian penduduk yang berbasis terdiri atas regangan geser dan perpin-
pertanian, yaitu : dahan sepanjang bidang longsoran,
1. Penurunan produktivitas pertanian; Pen- massa berpindah dari tempat semula dan
duduk di 3 (tiga) nagari memiliki mata terpisah dari massa tanah yang mantap.
pencaharian utama sebagai petani hortikul- Longsor besar terbaru terjadi tanggal 15
tura (kentang, bawang daun, bawang Desember 2006 di Jorong Koto Baru
merah, lobak, tomat, jagung, cabe, cabe Nagari Aie Dingin. Lokasi longsor
rawit dan markisa). Penurunan produk- berada di perbukitan struktural dengan
tivitas hasil panen akibat cuaca yang tidak penutup lahan berupa hutan lahan
menentu berkisar antara 25-50%. kering sekunder, semak, belukar dan
pertanian lahan kering. Longsor terjadi
2. Perkembangan hama penyakit tanaman
karena tanah terjenuhi air hujan yang
baru; Hama penyakit tanaman hortikultura turun selama 2 (dua) hari. Longsor
yang muncul menyusul perubahan pola merusak 10 rumah dan 1 (satu) mesjid, 18
cuaca antara lain : layu daun, meningkatnya orang meninggal, 11 orang luka, 60
populasi ulat, muncul jenis kumbang baru keluarga diungsikan, 15 ha sawah rusak
yang menyerang buah, layu akar. dan gagal panen.

207
Peranan Gender dalam Adaptasi Perubahan Iklim . . .
Yanto Rochmayanto & Pebriyanti Kurniasih

b. Longsor kecil, yaitu gerakan tanah dalam 2. Peranan produktif


massa yang kecil dan tidak menyebabkan Kegiatan produktif masyarakat di lokasi
kerusakan masal. Kejadian dan potensi penelitian dilakukan oleh perempuan dan laki-
ini sangat tinggi kerena kondisi bukit, laki, meliputi kegiatan pertanian holtikultura
ladang dan kebun penduduk sebagian dan penjualan produk pertanian ke pasar atau
besar gundul. Kejadian ini terjadi di ke pedagang antara (tengkulak). Pada kegiatan
kebun warga dalam jumlah yang banyak bercocok tanam di ladang, perempuan dan
dan tersebar secara sporadis. laki-laki memiliki beban kerja yang sama, tidak
ada pembedaan tugas dalam pengelolaan lahan.
B. Perubahan Peranan Gender Pada kegiatan penjualan hasil ladang, biasanya
Respon sosial tehadap penurunan produksi para pria membawa dan menjualnya ke pasar
pertanian akibat perubahan suhu dan pola sedangkan perempuan menunggu di rumah.
hujan adalah melakukan rekonstruksi Umumnya pada keluarga petani ekonomi
terhadap peranan gender secara perlahan. menengah ke bawah, peran perempuan sangat
Perubahan peranan gender di lokasi penelitian dominan sejak awal proses penyiapan lahan
adalah sebagai berikut. sampai pemanenan. Jam kerja di ladang adalah
09.00-15.00 WIB bagi perempuan dan jam
1. Peranan reproduktif 09.00-17.00 WIB bagi laki-laki. Alokasi waktu
seperti ini terjadi karena perempuan memiliki
Kegiatan reproduktif masih didominasi tanggung jawab reproduksi sepulang dari
oleh perempuan dalam hal curahan waktu, ladang, sedangkan pria tidak.
sesuai dengan pendapat Fakih (2005) bahwa Ikut sertanya perempuan dalam kegiatan
nilai-nilai gender masih sangat kuat dianut bercocok tanam dikarenakan faktor ekonomi
masyarakat. Kegiatan melahirkan, memeli- keluarga yang tidak menentu akibat perubahan
hara, mengasuh anak, memasak, membersih- pola hujan. Perubahan iklim ini mem-
kan rumah, mencuci pakaian menjadi pengaruhi produktivitas tanaman pertanian
tanggung jawab perempuan. Sebelum berang- sehingga berdampak pada penurunan pen-
kat ke ladang, perempuan menyelesaikan dapatan keluarga. Perempuan bekerja di ladang
pekerjaan rumah tangga dan pulang dari ladang menggantikan suami yang bekerja menjadi
mereka masih melanjutkan pekerjaan di sektor buruh tani di ladang orang lain atau bekerja
domestik. Kegiatan reproduksi perempuan pada sektor lain, sehingga mendapatkan
juga dilakukan disela-sela kegiatan di ladang penghasilan tambahan.
untuk menjaga dan merawat anak yang diajak
ke ladang. 3. Peranan dalam kegiatan pengelolaan
Laki-laki kurang berperan dalam kegiatan masyarakat dan politik
reproduksi karena keseharian mereka banyak
dihabiskan di sektor publik. Mahanani (2003) Perempuan di lokasi penelitian belum aktif
menegaskan bahwa pembagian kerja antara ikut serta dalam kegiatan politik. Perempuan
laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi mempercayakan hak politiknya kepada suami
oleh nilai dan norma masyarakat, dimana atau anak laki-laki dan lebih aktif pada kegiatan
semua jenis pekerjaan yang bersifat domestik pengelolaan masyarakat yang bersifat sosial di
atau feminin yang menggunakan teknologi lembaga formal dan informal.
tradisional yang tidak memerlukan tenaga Kegiatan sosial formal antara lain berupa
kerja yang kuat dikerjakan oleh perempuan. kegiatan PKK, Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) dan Pos Pelayanan Terpadu

208
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 10 No. 3, Desember 2013 : 203 - 213

(Posyandu). Salah satu kegiatan dalam berinteraksi antar sesama perempuan. Adapun
pertemuan PKK adalah penyuluhan dan kegiatan sosial informal berupa pengajian rutin
Simpan Pinjam Perempuan (SPP) yang perempuan 1 (satu) kali seminggu. Pengajian
modalnya berasal dari dana Program Nasional diselenggarakan bersamaan dengan arisan
Pembangunan Masyarakat (PNPM) Mandiri. sembako (beras, gula atau minyak). Kegiatan
SPP membolehkan anggotanya untuk tersebut dijadikan sebagai sarana komunikasi
meminjam uang dan mengembalikannya dan sosialisasi perempuan. Namun, tidak
dengan dicicil secara mingguan. Kegiatan- semua perempuan ikut serta karena tidak
kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi memiliki waktu luang dari kegiatan
perempuan untuk membuka wawasan sambil reproduktif dan produktif (Gambar 3b).

Gambar 3. Peran perempuan pada: (a) kegiatan informal, dan (b) kegiatan formal.
Figure 3. Women roles on : (a) informal activities, and (b) formal activities

C. Dampak Perubahan Peranan Gender marginalisasi dalam hal pengelolaan sumber


terhadap Kerentanan Perempuan daya alam pertanian. Perempuan yang bekerja
sebagai buruh pertanian memiliki penghasilan
Perubahan peranan gender dalam proses
yang lebih rendah dibanding laki-laki dengan
adaptasi mayarakat terhadap perubahan suhu
beban kerja yang sama.
dan pola cuaca mengindikasikan terjadinya
Dengan upah buruh tani perempuan
ketidakseimbangan peran antara laki-laki dan
Rp. 30.000,- sampai Rp. 35.000,-/hari, lebih
perempuan, sehingga menyebabkan ketidak-
kecil dari laki-laki yaitu Rp 40.000,- sampai
adilan gender. Ketidakadilan gender meliputi:
Rp. 45.000,-/hari. Hal ini disebabkan
marginalisasi, subordinasi, stereotype, ke-
keyakinan masyarakat bahwa laki-laki adalah
kerasan dan beban ganda bagi perempuan
pencari nafkah sehingga setiap pekerjaan yang
(Fakih, 2005). Ketidakadilan gender yang
dikerjakan perempuan dinilai sebagai tam-
terkait langsung dengan perubahan iklim
bahan dan boleh dibayar rendah (Fakih, 1996).
adalah beban ganda bagi perempuan.
2. Pelabelan negatif (stereotype)
1. Marginalisasi
Banyak pelabelan negatif diberikan kepada
Marginalisasi adalah pemiskinan ekonomi perempuan yang membatasi, menyulitkan,
terhadap perempuan. Perempuan mengalami memiskinkan dan merugikan perempuan.

209
Peranan Gender dalam Adaptasi Perubahan Iklim . . .
Yanto Rochmayanto & Pebriyanti Kurniasih

Peranan perempuan dalam pengelolaan (enam) jam untuk kegiatan produksi pada
sumber daya alam pertanian masih dipandang pukul 09.00-15.00, sedangkan pria mem-
sebelah mata. Perempuan masih dianggap butuhkan waktu produksi 8 (delapan) jam.
sebagai sosok yang lemah dibandingkan Perempuan masih membutuhkan 5 (lima) jam
dengan laki-laki. Dasar perlakuan ini adalah untuk kegiatan reproduksi, sedangkan pria
anggapan bahwa kekuatan fisik perempuan tidak.
berbeda dengan laki-laki.
B. Strategi Adaptasi
3. Subordinasi
Perubahan peranan gender merupakan
Salah satu bentuk subordinasi adalah respon atas dampak dari perubahan iklim.
adanya anggapan bahwa perempuan pada Perubahan peran gender menyebabkan
akhirnya nanti akan bekerja di dapur, sehingga kapasitas adaptif atau kerentanan perempuan
tidak perlu sekolah tinggi. Pendidikan terhadap perubahan iklim meningkat.
tertinggi yang dirasakan oleh responden McCright (2010) berpendapat bahwa
perempuan adalah tingkat SMA atau SMK, perempuan bersifat underestimate dalam
sedangkan pria sampai tingkat Perguruan pengetahuan perubahan iklimnya daripada
Tinggi. Namun demikian, bentuk dan laki-laki, namun perempuan memiliki konsen
mekanisme subordinasi tersebut dapat berbeda yang lebih besar terhadap perubahan iklim
dari waktu ke waktu atau dari satu tempat ke dibanding laki-laki. Perempuan menghadapi
tempat lain. hambatan khusus dari kapasitas mereka dalam
beradaptasi terhadap dampak dari perubahan
4. Beban ganda iklim saat ini maupun yang akan datang
Penurunan pendapatan keluarga akibat (Bridge, 2008), sehingga perlu strategi yang
adanya iklim yang tidak menentu, membuat secara khusus mengarusutamakan perempuan
perempuan ikut membantu suami mencari dalam adaptasi perubahan iklim. Strategi
pendapatan tambahan. Hal ini menyebabkan tersebut diperlukan untuk memastikan upaya
alokasi waktu produksi dan reproduksi peningkatan kapasitas adaptif dan menurun-
perempuan lebih besar dari laki-laki, dan kan kerentanan perempuan terhadap peru-
alokasi waktu untuk kegiatan sosial menjadi bahan iklim (Gambar 4).
berkurang. Perempuan membutuhkan 6

Kapasitas adapt if
perempuan meningkat

Perubahan Perubahan peran


iklim gender

Pendapatan rumah Kerentanan


tangga menurun perempuan meningkat

Strategi adaptasi
Produktivitas yang diperlukan
pertanian menurun

Gambar 4. Hubungan kausalitas antara perubahan iklim, peran gender dan kerentanan sosial.
Figure 4. Causality relation of climate change, gender role and social vulnerability

210
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 10 No. 3, Desember 2013 : 203 - 213

Kebutuhan dan prioritas adaptasi menurut 3. Rekonstruksi budaya untuk menjembatani


Bridge (2008) diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) pembagian peran secara proporsional,
aspek, yaitu : (1) tempat yang nyaman untuk termasuk penciptaan lapangan kerja untuk
tinggal, (2) akses yang lebih baik terhadap memberdayakan perempuan. Perempuan
informasi perubahan iklim dan dampaknya, biasanya memiliki keterbatasan yang lebih
pelayanan kesehatan, dan terhadap akses banyak dibanding pria, antara lain dalam
transportasi, (3) pilihan mata pencaharian hal berenang dan naik pohon, serta tidak
lainnya melalui peningkatan pengetahuan bisa meninggalkan rumah karena hambatan
teknis dan ketersediaan sumberdaya pertanian kultural (Bridge, 2008). Rekonstruksi
untuk diversifikasi, irigasi dan penyuluhan budaya sangat membantu perempuan
atau pendampingan lokal. dalam meningkatkan kapasitas adaptifnya,
Berdasarkan uraian di atas, strategi yang kendati membutuhkan pendekatan dan
dapat diambil sebagai strategi adaptasi berbasis waktu yang lama.
gender untuk daerah pegunungan di lokasi
penelitian antara lain :
1. Peningkatan peran politik perempuan IV. KESIMPULAN DAN SARAN
dalam hal kepemimpinan, organisasi
kemasyarakatan, maupun penanggulangan A. Kesimpulan
bencana. Peran politik ini sudah mulai
1. Dalam pengelolaan sumber daya alam
terlihat baik bagi perempuan di Nagari Aie
pegunungan, masyarakat di lokasi pene-
Dingin dengan terpilihnya perempuan
litian memiliki peranan gender yang
sebagai Wali Nagari (setara dengan Kepala
membedakan peran antara laki-laki dan
Desa), keterlibatan perempuan dalam
perempuan. Bentuk peranan gender
organisasi penanggulangan bencana (Forum
tersebut ada tiga, yaitu peranan produktif,
Penanggulangan Resiko Bencana untuk
peranan reproduktif dan peranan dalam
tingkat Nagari dan Unit Penanggulangan
kegiatan pengelolaan masyarakat dan
Resiko Bencana untuk tingkat jorong)
politik. Perubahan suhu dan pola hujan
dengan jumlah anggota per unit di jorong
secara perlahan mengubah peranan
adalah 7 (tujuh) orang, dan 2-3 orang
produktif sehingga perempuan turut serta
diantaranya adalah wanita). Namun peran
dalam tanggung jawab produksi.
ini belum ditemukan di Nagari lainnya.
2. Perubahan peranan gender dalam hal
2. Peningkatan kapasitas perempuan berupa
peranan produktif menimbulkan bentuk-
pendidikan formal maupun keterampilan/
bentuk ketidakadilan gender berupa beban
non formal. Strategi ini dibutuhkan untuk
ganda bagi perempuan.
mereduksi stereotype dan subordinasi.
Peningkatan kapasitas keterampilan
B. Saran
perempuan dapat berupa pendidikan
pertanian menetap, budi daya tanaman hias, Untuk meningkatkan kapasitas adaptif
agribisnis dan lain-lain. Masyarakat perlu bagi perempuan, antara lain diperlukan
menghubungkan kerentanan iklim dengan strategi adaptasi berupa : (1) Peningkatan peran
masalah saat ini serta mengidentifikasi politik perempuan dalam hal kepemimpinan,
tantangan ke depan yang penting bagi organisasi kemasyarakatan, maupun penang-
dirinya, keluarganya dan mata pencaharian- gulangan bencana, (2) Peningkatan kapasitas
nya (Haque, et. al., 2012). perempuan berupa pendidikan formal

211
Peranan Gender dalam Adaptasi Perubahan Iklim . . .
Yanto Rochmayanto & Pebriyanti Kurniasih

maupun keterampilan/non formal, dan (3) (REDD) : A Participant Resources Manual.


Rekon-struksi budaya yang mendiskreditkan The Nature Conservancy. Arlington.
perempuan menjadi budaya yang berbasis
[CSF] Climate Society Forum. 2011. Keadilan
kesetaraan gender.
gender dalam keadilan iklim. Forum
Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim
(CSF). Jakarta. Http://
DAFTAR PUSTAKA
www.csoforum.net/attachments/248_Per
ubahan%20Iklim%20dan%20gender-
[BMKG] Badan Meteoroogi, Klimatologi dan
indo01.pdf. [Diakses pada tanggal 6 Juni
Geofisika. 2011a. Analisis Hujan Bulan
2012].
Juni 2011 dan Prakiraan Hujan Bulan
Agustus, September dan Oktober 2011 Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2010. Sebelas
Sumatera Barat. Stasiun Klimatologi Proyek Disiapkan Sebagai Pilot Project
Sicincin. Badan Meteoroogi, Klimatologi Pengurangan Gas Emisi. Direktorat
dan Geofisika. Sicincin. Jenderal Cipta Karya, Kementerian
Pekerjaan Umum. Http://
-----------. 2011b. Analisis Hujan Bulan Agustus
ciptakarya.pu.go.id/v2/?act=vin&nid=7
2011 dan Prakiraan Hujan Bulan Oktober,
59. [diakses pada tanggal 30 Januari 2012].
November dan Desember 2011 Sumatera
Barat. Stasiun Klimatologi Sicincin. Badan [DTE] Down to Earth. 2009. Keadilan Iklim
Meteoroogi, Klimatologi dan Geofisika. dan Penghidupan yang Berkelanjutan.
Sicincin. KIPPY Print Solution. Jakarta.
www.downtoearth-indonesia.org/old-
[BNPB] Badan Nasional Penanggulangan
site/CCcomp09.pdf. [Diakses pada
Bencana. 2010. Rencana Nasional Penang-
tanggal 6 Juni 2012].
gulangan Bencana 2010-2014. BNPB.
Jakarta. Fakih, M. 1996. Gender sebagai alat analisis
sosial. Jurnal Analisis Sosial. Edisi 4
BRIDGE. 2008. Gender and Climate Change:
November 1996. AKATIGA. Bandung.
Mapping the Linkages, A Scoping Study on
Knowledge and Gaps. BRIDGE. Institute __________. 2005. Analisis Gender dan
of Development Studies. University of Transformasi Sosial. Insist Press.
Sussex. Brighton , United Kingdom. Yogyakarta.
Codjoe, SNA., LK. Atidoh, and V. Burkett. Haque, M.A., S.S. Yamamoto, A.A. Malik,
2012. Gender and occupational per- and R. Sauerbom. 2012. Household's
spectives on adaptation to climate extremes perception on climate change and human
in the Afram Plains of Ghana. Climate health risk : A community perspective.
Change (2012) Volume 110 No. 1-2. Earth Environmental Health. Http://
and Environmental Science. SpringerLink. www.ehjournal.net/content/11/1/1.
http://www.springerlink.com/content/n [diakses pada tanggal 2 Agustus 2012].
564v5462vx02241/. [Diakses pada tanggal
[ILO] International Labor Organization. 2012.
7 Juni 2012].
Investasi Lokal untuk Adaptasi Perubahan
Cortez, R., and P. Stephen. 2009. Introductory Iklim, Green Job melalui Pekerjaan
Course on Reducing Emission from Umum Hijau. ILO untuk Indonesia dan
Defoerstation and Forest Degradation T i m o r L e s t e . J a k a r t a .

212
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 10 No. 3, Desember 2013 : 203 - 213

http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/ Maret 2003. Http://www.terranet.or.id/


---asia/---ro-bangkok/---ilo- mitra/terranet/dokumen/masukan1400.p
jakarta/documents/publication/wcms_17769 df. [Diakses pada tanggal 27 Juni 2012].
0.pdf. [Diakses pada tanggal 6 Juni 2012].
Saenong, S., F. Tabri, D. Sahari, W. Akib, dan
Mahanani, S. 2003. “Keadilan agraria bagi IGP. Sarasutha. 1995. Gender analisis di
petani dalam konteks perempuan petani Irian Jaya : Studi kasus Kabupaten
dan pengaturan sumber agraria (tanah)”, Jayawijaya. Agrikam Vol. 10 No. 1.
Jurnal Analisis Sosial, Vol. 8, Edisi 2 Balittan Maros. Maros. Http://
Oktober 2003. isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1019523
McCright, A. M. 2010. The effect of gender on 45.pdf. [Diakses pada tanggal 6 Juni 2012].
climate change knowledge and concern in Suzuki, R. (Ed.). 2011. Gender dan REDD+.
American public. Popul Environ (2010) 32 Bulletin REDD-net Asia Pacific Edisi 04,
: 66-87. Springer Science+Bussiness Media. Mei 2011. REDD-net. Http://
Ollenburger, C. Jane dan Helen A. Moore. www.recoftc.org/site/uploads/wysiwyg/
2002. Sosiologi Wanita. Jakarta: Bina d o c s / R E D D - N e t /
Aksara. REDDNet%20Gender%20FINAL%20-
%20Bahasa%20v.2%20(press).pdf.
Oluwatayo, Isaac B. 2011. Climate Change and [Diakses pada tanggal 6 Juni 2012].
Adaptive Capacity of Women ti Water
Stress in Urban Centers of Nigeria : [UNDP] United Nations Development
Emerging Concerns and Reactions. Local Programme. 2009. Resource Guide on
Sustainability (2011) Volume 1 Part 2. Gender and Climate Change. United
Resilient Cities. Earth and Environmental Nations Development Programme.
Science. SpringerLink. Http:// http://www.uneca.org/acpc/about_acpc
www.springerlink.com/content/?k=gen /docs/UNDP-GENDER-CLIMATE-
der+and+climate+change&MUD CHANGERESOURCEGUIDE. pdf.
=MP&o=40. [Diakses pada tanggal 7 Juni [Diakses pada tanggal 6 Juni 2012].
2012]. Wijaya, H.R. 1996. “Penelitian berspektif
Pusat Studi Pariwisata UGM. 2003. gender.” Jurnal Analisis Sosial, Edisi 4
Pengelolaan Terpadu Sumberdaya November 1996.
Pegunungan untuk Kesejahteraan Rakyat.
Follow Up Workshop Tahun Pegunungan
Internasional. Yogyakarta, 28 Februari 1

213