Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal balik dan mempunyai

pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung,

berita yang didengar, atau surat kabar. Jadi interaksi penduduk adalah suatu proses yang sifatnya

timbal balik antara orang-orang yang berada di antara dua wilayah atau lebih yang dapat menimbulkan

gejala atau masalah baru yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain

secara terus menerus / kontinu.

Interaksi penduduk desa dan kot adalah proses hubungan yang bersifat timbal balik antar

unsur-unsur yang ada dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang

bersangkutan melalui kontak langsung, berita yang didengar atau surat kabar sehingga

melahirkan sebuah gejala baru, baik berupa fisik maupun non fisik

Interaksi wilayah adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara

dua wilayah atau lebih, yang dapat melahirkan gejala, kenampakkan dan permasalahan

baru, secara langsung maupun tidak langsung, sebagai contoh antara kota dan desa. Istilah

interaksi wilayah menurut Ullman mencakup berbagai gerak mulai dari barang, penumpang,

migran, uang informasi. Interaksi wilayah merupakan hal yang penting dilakukan karena

setiap wilayah tidak dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Untuk mengetahui seberapa

besar kekuatan interaksi antara dua wilayah dapat dilakukan secara kuantitatif dengan

rumus-rumus.

1
B. Rumusan Masalah

 Apa Pengertian Interaksi Penduduk ?

 Apa manfaat interaksi desa dan kota?

 Bagaimana Dampak Interaksi Penduduk Desa Dan Kota?

 Bagaimana Menghitung Kekuatan Interaksi Antara Duaa Wilayah Menurut Carrothers?

 Mengapa adanya kesempatan untuk berintervensi (intervening opportunity) sangat

mempengaruhi interaksi desa dan kota?

 Mengapa desa sangat berperan dalam pengembangan kota?

C. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini pada dasarnya ialah yang pertama merupakan tugas

sekolah mata pelajaran “Geografi”. Namun dari sisi lain kami juga ingin Memberikan

wawasan kepada para pelajar yang belum paham tentang interaksi peduduk dan dampak-

dampaknya.

D. Manfaat

 Mengetahuin pengertian interaksi penduduk.

 Mengetahui dampak interaksi penduduk desa dan kota.

 Mengetahui cara menghitung interaksi penduduk.

 Mengetahai manfaat interaksi desa dan kota

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Interaksi Penduduk

Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal balik dan mempunyai

pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung,

berita yang didengar, atau surat kabar. Dan ada juga yang mengatakan bahwa interaksi

adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek

mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam

konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat.Kombinasi dari

interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang

mengejutkan.Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki makna yang berbeda.

Sedangkan penduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah yang terikat

oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus /

kontinu. Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempatiwilayah

geografi dan ruang tertentu. Jadi interaksi penduduk adalah suatu proses yang sifatnya

timbal balik antara orang-orang yang berada di antara dua wilayah atau lebih yang dapat

menimbulkan gejala atau masalah baru yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan

saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus / kontinu.

B. Interaksi Penduduk Desa dan Kota

1. Definisi Desa

3
a. Menurut Bintarto (1983: 11), desa adalah merupakan suatu hasil perpaduan antara

kegiatan kelompok manusia dengan lingkunganya.

b. Menurut Kartohardikusumo dalam Bintarto (1983:11), desa merupakan suatu

kesatuan hukum tempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan

pemerintahan sendiri.

c. Menurut UU No 22 Tahun 1999, bab I, pasal 1 Desa adalah kesatuan masyarakat

hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat berdasarkan asal usul serta adat istiadat setempat yang diakui

dalam sistem pemerintahan nasional di daerah kabupaten.

2. Potensi Desa

Secara umum, potensi adalah segala sesuatu yang dimiliki tetapi belum

dimanfaatkan. Selama belum dimanfaatkan maka potensi suatu wilayah tidak akan

memberi manfaat apapun bagi masyarakat. Menurut Bintarto (1983:11) potensi desa

dapat diartikan sebagai berbagai sumber daya alam (fisik) dan sumber daya manusia

(non fisik) yang tersimpan dan terdapat di suatu desa.

a. Potensi Fisik

Potensi-potensi fisik yang dimiliki perdesaan adalah sebagai berikut :

- Tanah, meliputi berbagai sumber tambang dan mineral, lahan untuk

tumbuhnya tanaman.

- Air, dalam artian sumber air yang meliputi keadaan atau kondisi, tata airnya

untuk irigasi, pertanian dan kebutuhan hidup sehari-hari.

- Iklim, peranannya sangat penting bagi desa yang bersifat agraris.

4
- Ternak , sebagai sumber tenaga, bahan makanan,dan pendapatan.

- Manusia, sebagai sumber tenaga kerja potensial (potential man power), baik

pengolah tanah, dan produsen dalam bidang pertanian, maupun tenaga kerja

industri di kota.

b. Potensi Non-Fisik

Potensi-potensi non fisik yang dimiliki perdesaan adalah sebagai berikut :

- Masyarakat desa, yang hidup berdasarkan gotong-royong. Gotong-royong

merupakan suatu kekuatan berproduksi atau kekuatan membangun atas dasar

kerja sama, dan saling pengertian.

- Lembaga-lembaga sosial, yaitu lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi-

organisasi sosial yang dapat memberikan bantuan sosial dan bimbingan

terhadap masyarakat.

- Aparatur atau pamong desa, untuk menjaga ketertiban dan keamanan demi

kelancaran jalannya pemerintahan desa.

3. Kedudukan Desa

a. Desa berfungsi sebagai hinterland atau daerah dukung yang berfungsi sebagai

suatu daerah pemberi bahan makanan pokok seperti padi, jagung, ketela disamping

bahan makanan lain seperti kacang, kedelai, buah-buahan dan bahan makanan lain

yang berasal dari hewan.

b. Dari sudut ekonomi, sebagai bahan lumbung mentah.

c. Pensupplai tenaga kerja

5
d. Dari segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris, desa

manufaktur, desa industri, desa nelayan dan sebagainya.

4. Perkembangan Desa

Menurut Bintarto (1983:11) potensi antara satu desa dengan desa yang lainnya

tidak sama, karena keadaan geografis dan penduduknya berbeda, luas tanah, macam

tanah dan tingkat kesuburan tanah yang tidak sama.

Sumber air dan tata air yang berlainan menyebabakan cara penyesuaian atau

corak kehidupannya berbeda. Keadaan penduduk dan dasar kehidupan masyarakat desa

yang berbeda mengakibatkan adanya berbagai karakteristik dan berbagai tingkat

kemajuan desa yaitu :

a. Desa yang kurang berkembang.

b. Desa yang sedang berkembang.

c. Desa berkembang atau desa maju.

5. Dampak Desa

a. Dampak Positif

- Tingkat pengetahuan penduduk desa bertambah karena lebih banyak sekolah

di pedesaan. Demikian pengetahuan tentang pemilihan bibit unggul,

pemeliharaan keawetan atau kelestarian kesuburan tanah menjadi lebih

diperhatikan. Pengetahuan mengenai usaha-usaha lain di bidang yang

nonagraris menjadi lebih terbuka.

- Mengurangi ketertinggalan dan ketimpangan.

6
- Terbukanya wilayah desa karena transportasi yang baik sehingga hubungan

sosial - konomi warga desa dan kota semakin baik.

- Masuknya para ahli di berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan banyak

bermanfaat bagi desa dalam melestarikan lingkungan pedesaan khususnya

pencegahan erosi dan pencarian sumber air bersih dan di bidang pengairan.

- Teknologi masuk desa menyebabkan deversifikasi produk, misalnya teknologi

tepat guna di bidang pertanian dan peternakan meningkatkan produksi desa,

sehingga penghasilan penduduk desa dapat bertambah.

- Campur tangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah meningkatkan

kualitas dan kuantitas di bidang wiraswasta seperti kerajinan tangan, industri

rumah tangga, peternak unggas dan sapi.

- Pengetahuan tentang masalah kependudukan lebih merata di pedesaan. Ini

penting karena desa dikenal dengan keluarga yang besar dan ini harus di

cegah.

- Pengetahuan dan kesadaran mempunyai keluarga kecil telah mulai diresapi di

banyak daerah pedesaan.

- Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial di pedesaan telah

menunjukkan bukti juga adanya pengaruh positif di daerah pedesaan.

b. Dampak Negatif

- Penetrasi kebudayaan kota ke desa yang tidak sesuai dengan kebu-dayaan atau

tradisi desa mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa. Misalnya

pengaruh dari “fashion-show”, atau berbagai kontes kecantikan telah ditiru

oleh para wanita di beberapa daerah pedesaan.

7
- Pengaruh televisi mempunyai segi negatif, misalnya pengaruh dari film-film

barat yang berbau kejahatan dapat meningkatkan kriminalitas di pedesaan.

- Terbukanya kesempatan kerja dan daya tarik kota di berbagai bidang telah

banyak menyerap pemuda desa sehingga desa mengalami pengurangan tenaga

potensial di bidang pertanian karena yang tinggal di pedesaan hanya orang-

orang tua yang semakin kurang produktif.

- Motivasi urbanisasi tinggi sehinga terjadi perluasan kota dan masuknya

orang-orang kota ke daerah pedesaan yang telah banyak mengubah tata guna

lahan di pedesaan, terutama di tepian kota yang berbatasan dengan kota.

Banyak daerah hijau telah menjadi daerah pemukiman atau bangunan lainnya.

- Munculnya slum area dan squatter area.

6. Definisi Kota

a. Menurut Bintarto (1983:36), kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia

yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, serta sosial ekonomi yang

heterogen dan kehidupan materealistis.

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI No.4 tahun 1980 menyebutkan bahwa kota

terdiri atas dua bagian yaitu:

- Kota sebagai suatu wadah yang memiliki batasan administratif sebagaimana

diatur dalam perundang-undangan.

- Kota sebagai lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non-

agraris, misalnya ibu kota kabupaten, ibu kota kecamatan, serta berfungsi

sebagai pusat pertumbuhan dan permukiman.

8
7. Klarifikasi Kota

Klarifikasi kota berdasarkan perkembangannya antara lain :

a. Eolis adalah desa yang maju yang berkembang menjadi kota kemudian menjadi

kota kecamatan. (Contohnya adalah Cibadak dan Cisaat)

b. Polis adalah kota yang sebagian masyarakatnya masih bersifat agraris kemudian

berkembang menjadi kota kabupaten. (Contohnya adalah Sukabumi dan Cianjur)

c. Metropolis adalah kota besar dengan ciri industri. (Contohnya adalah Bandung,

Jakarta dan Surabaya)

d. Megapolis adalah beberapa kota yang tergabung melalui jaringan. (Contohnya

adalah Jabodetabek)

e. Tyranopolis adalah kota yang menuju kehancuran. (Contohnya adalah New York)

f. Neukropolis adalah kota mati. (Contohnya adalah kota di Babylonia)

Klasifikasi kota berdasarkan sejarah lahir/tumbuhnya antara lain:

a. Kota Perkebunan adalah kota yang lahir karena sebelumnya ada kegiatan

perkebunan. (Contohnya adalah Kabupaten Sukabumi, Cianjur Bandung)

b. Kota Administratif adalah kota yang lahir karena sebelumnya ada kegiatan layanan

pemerintahan kepada masyarakat. (Contohnya adalah Kota Sukabumi dan Cimahi)

c. Kota Perdagangan adalah kota yang lahir dari aktifitas niaga. (Contohnya adalah

Jakarta, Surabaya, Semarang)

d. Kota Pertambangan dan industry adalah kota yang lahir karena adanya aktifitas

pertambangan dan industry. (Contohnya adalah Plaju di Sumatera Selatan,

Cilegon, Cikotok).

9
C. Definisi Interaksi Desa dan Kota

Interaksi desa-kota adalah proses hubungan yang bersifat timbal balik antar unsur-

unsur yang ada dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang

bersangkutan melalui kontak langsung, berita yang didengar atau surat kabar sehingga

melahirkan sebuah gejala baru, baik berupa fisik maupun non fisik.

1. Bentuk Interaksi Desa-Kota

a. Kerjasama antarpenduduk

b. Penyesuaian fasilitas hidup

c. Asimilasi

Interaksi antara desa - kota melahirkan suatu perkembangan baru bagi desa

maupun bagi kota. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan potensi yang dimiliki

desa maupun kota, dan adanya persamaan kepentingan. Menurut Edward Ulman ada 3

faktor penyebab interaksi antarwilayah, yaitu :

a. Region Complementary (wilayah yang saling melengkapi)

Apabila kota-kota yang saling berlainan atau kelompok manusia yang

saling berbeda, hal itu tidak otomatis menimbulkan gerak. Jadi harus ada

kebutuhan saling melengkapi atau komplementaritas. Ini didorong oleh permintaan

dan penawaran. Perancis berdagang anggur dengan Belanda karena Belanda

merupakan konsumennya. Relasi komplementartas hanya terjadi jika tawaran

bermanfaat bagi

10
Pihak yang minta. Manfaatya ditentukan oleh banyak hal seperti : budaya,

pengetahuan, teknik, kondisi kehidupan dan sebagainya. Semakin besar

komplementaritas, semakin besar arus komoditas.

b. Intervening Opportunity (kesempatan untuk berintervensi)

Misalnya terjadi bencana alam seperti letusan gunung, gempa bumi dan

sebagainya sehingga gerak migrasi, transportasi, komunikasi menjadi terganggu

atau tidak terlaksana, maka manusia akan memutuskan memilih tujuan lain karena

rencananya semula gagal. Pilihan lain untuk melaksanakan rencana semula ini

disebut intervening opportunity. Jadi, semakin besar intervening opportunity,

semakin kecil arus komoditas. Spatial Transfer Ability (kemudahan pemindahan

dalam ruang)

Kemungkinan barang atau manusia dapat dipindahkan ke tempat lain,

selain dibutuhkan biaya dan waktu juga masih perlu diperhitungkan peraturan dan

tata tertib pelaksanaannya yang masuk transfer abilitas. Sementara itu pesawat

terbang, kapal laut dan kereta api bersaing untuk mempromosikan ongkos yang

sesuai dengan jasanya. Jadi, semakin mudah transfer abilitas, semakin besar arus

komoditas.

2. Penyebab Melemahnya Interaksi Desa-Kota

a. Jarak mutlak maupun jarak relatif

b. Biaya transportasi

c. Kelancaran transportasi

3. Dampak dan pengaruh adanya interaksi desa-kota

11
Interaksi antara desa dan kota dapat menimbulkan pengaruh positif maupun

pengaruh negatif terhadap desa dan kota termasuk penghuninya.

a. Dampak positif bagi kota akibat adanya interaksi desa dan kota sebagai berikut :

- Tercukupinya kebutuhan bahan pangan bagi penduduk perkotaan yang

sebagian besar berasal dari daerah perdesaan, seperti sayuran, buah-buahan,

beras, dan lain sebagainya.

- Jumlah tenaga kerja di perkotaan melimpah karena banyaknya penduduk dari

desa yang pergi ke kota.

- Produk-produk yang dihasilkan di daerah perkotaan dapat dipasarkan sampai

ke pelosok desa sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar.

- Pengetahuan penduduk desa menjadi meningkat karena banyak sekolah

dibangun di desa. Demikian pula informasi perkembangan dunia dan ilmu

pengetahuan yang diterima penduduk kota dengan mudah menyebar ke desa.

Misalnya, pengetahuan tentang bibit unggul, pengawetan kesuburan tanah,

dan pengolahan hasil panen.

- Jumlah guru dan sekolah yang banyak terdapat di desa memungkinkan

menjadi penggerak kemajuan penduduk desa melalui pendidikan. Angka buta

huruf penduduk desa semakin berkurang.

- Perluasan jalur jalan desa-kota dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor

telah menjangkau daerah perdesaan sehingga hubungan desa-kota semakin

terbuka. Hasil panen dari desa menjadi mudah diangkut ke kota. Kelangkaan

bahan pangan di kota dapat dihindari karena suplai bahan pangan mudah

dilakukan.

12
- Produktivitas desa makin meningkat dengan hadirnya teknologi tepat guna.

Kehadiran teknologi tepat guna akan meningkatkan kesejahteraan penduduk

desa.

- Pelestarian lingkungan hidup perdesaan , seperti pencegahan erosi dan banjir,

penyediaan air bersih, serta pengaturan pengairan dapat dilakukan dengan

hadirnya para ahli dari berbagai disiplin ilmu.

- Peningkatan kegiatan wiraswasta yang menghasilkan produk berkualitas,

seperti kerajinan tangan, industri rumah tangga, teknik perhubungan dan

perbengkelan, serta peternakan dapat dilakukan karena pemerintah turun

tangan.

- Memiliki banyak anggota keluarga. Kesadaran memiliki keluarga kecil telah

diterima oleh masyarakat desa.

- Koperasi dan organisasi sosial yang berkembang di perdesaan telah memberi

manfaat dalam peningkatan kesejahteraan penduduk dan pembangunan desa.

- Tingkat pengetahuan penduduk meningkat.

- Masuknya lembaga pendidikan di desa.

- Hubungan semakin lancar antara desa dan kota.

- Masuknya para ahli dan teknologi mempercepat pembangunan desa.

- Tersedianya tenaga kerja.

- Semakin luas pemasaran hasil industri dari kota.

- Desa merupakan mitra dalam pembangunan kota.

- Desa merupakan sumber bahan baku bagi industri kota.

13
b. Dampak negatif bagi kota akibat adanya interaksi desa dan kota sebagai berikut :

- Jumlah penduduk desa yang pergi ke kota tanpa keahlian menimbulkan

permasalahan bagi daerah perkotaan, yaitu semakin meningkatnya jumlah

pengangguran dan penduduk miskin.

- Penduduk dengan pendapatan rendah kesulitan mencukupi kebutuhan

hidupnya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, hiburan, dan

lain sebagainya.

- Nilai lahan di perkotaan yang mahal, memaksa warga menggunakan lahan

atau tempat yang tidak layak untuk permukiman, misalnya di bantaran sungai,

pinggiran rel kereta api, kuburan, dan kolong jembatan. Umumnya

permukiman yang terbentuk adalah permukiman kumuh. Menurut para

geograf, wilayah perkampungan kumuh memiliki empat ciri khas, yaitu tidak

tersedia air bersih untuk minum, tidak ada saluran pembuangan air,

penumpukan sampah dan kotoran, serta akses ke luar perkampungan yang

sulit.

- Terjadi degradasi kualitas lingkungan. Peningkatan jumlah penduduk kota

yang pesat mendorong pembangunan rumah-rumah di wilayah kota.

- Modernisasi kota telah melunturkan orientasi pertanian yang menjadi pokok

kehidupan mereka. Misalnya, budaya kontes kecantikan, peragaan busana,

dan foto model.

- Siaran televisi yang dapat ditangkap di pelosok desa dapat meningkatkan

konsumerisme dan kriminalitas. Penduduk desa dengan mudah meniru iklan

dan tindak kejahatan dalam film atau sinetron yang ditayangkan televisi.

14
- Pengurangan tenaga produktif bidang pertanian di desa, karena banyak tenaga

muda yang lebih tertarik bekerja di kota. Mereka beranggapan di kota banyak

kesempatan kerja dengan upah yang tinggi. Akibatnya, di desa hanya tinggal

orang tua dan anak-anak yang tidak produktif.

- Perubahan tata guna lahan di perdesaan akibat perluasan wilayah kota dan

banyak orang kota membeli lahan di wilayah perbatasan desa-kota. Tindakan

orang kota ini menyebabkan lahan di perbatasan desa-kota berubah menjadi

permukiman atau bangunan lain.

- Tata cara dan kebiasaan yang menjadi budaya kota masuk ke pelosok desa dan

cenderung mengubah budaya desa. Banyak kebudayaan kota yang tidak sesuai

dengan kebudayaan atau tradisi desa, sehingga sering menimbulkan masalah

dalam kehidupan masyarakat desa.

- Ketersediaan bahan pangan yang berkurang, peningkatan pengangguran, dan

pencemaran lingkungan menjadi masalah penting akibat interaksi desa-kota.

- Semakin lunturnya kehidupan asli masyarakat desa.

- Semakin kurangnya tenaga kerja di desa.

- Pengaruh budaya kota yang tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat desa.

- Meningkatnya kriminalitas karena tekanan ekonomi.

- Banyaknya gelandangan di kota.

c. Pengaruh positif dari interaksi kota ke desa anatara lain :

- Pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat.

15
- Banyaknya sekolah dan guru-guru desa yang tersedia di daerah pedesaan

dengan pengetahuan yang cukup luas mengenai masalah pembangunan dapat

menjadi penggerak kemajuan warga desa yang bersekolah.

- Dengan terbukanya hubungan desa denagn kota melalui perluasan jalur jalan

desa kota dan banyaknya kendaraan bermotor yang sudah dapat menjangkau

daerah pedesaan sangat meningkatkan frekuensi hubungan sosial ekonomi

warga desa dengan warga kota.

- Teknologitepat guna di bidang pertanian dan peternakan meningkatkan

produksi desa sehingga penghasilan dapat bertambah.

d. Pengaruh negatif yang dapat dilihat di daerah pedesaan antara lain :

- Modernisasi kota

- Pengaruh televisi

- Desa mengalami pengurangan tenaga potensial di bidang pertanian

- Perluasan kota telah banyak mengubah tata guna lahan di tepian kota yang

berbatasan desa inti kota

4. Hubungan antara kota dengan desa dapat dilihat dari peran desa dalam pengembangan

kota antara lain :

a. Desa sebagai pusat penghasil dan pensuplai bahan mentah dan baku untuk

pembangunan di kota.

b. Desa menyediakan tenaga kerja yang berperan dalam pembangunan kota.

c. Desa menjadi daerah pemasaran produk-produk hasil industri di kota.

16
Demikian sebaliknya, kota turut punya peran besar sehingga muncul interaksi

antara desa dengan kota, antara lain:

a. Kota menyediakan pusat-pusat pelatihan bagi peningkatan keterampilan penduduk

desa.

b. Kota menghasilkan barang-barang siap pakai yang dimanfaatkan di desa.

c. Kota menjadi pusat informasi yang bermanfaat bagi desa.

d. Kota menjadi pusat permodalan yang dibutuhkan masyarakat desa.

5. Beberapa hal yang dapat berpengaruh dalam interaksi desa dan kota

a. Lokasi pertokoan dan perdagangan.

Didalam kota tiap toko warung atau kantor akan menepati lokasi disekitar

daerah konsumen dekat pada jalan-jalan utama.

Dengan dalih tersebut, maka berbagai kegiatan dibidang jasa akan memilih

tempatnya didekat atau didalam pusat daerah kegiatan atau diselaput inti kota,

sepanjang jalan utama disekitar terminal bus atau setasiun kereta api.

b. Lokasi pabrik

Untuk menetukan lokasi pabrik didalam kota besar seorang menejer lebih

mementingkan biaya dari pada memperhatikan konsumen ,karena pada umumnya

para konsumen akan membeli hasil buatan pabrik pada toko-toko. Lokasi pabrik

akan ditentukan mengingat pengeluaran biaya yang minimal.

Lokasi pabrik dapat dijumpai di tiga daerah yaitu:

- Didaerah-daerah pada tepian kota.

- Di dekat daerah-daerah pedagangan.

17
- Disepanjang jalan dengan lalulintas untuk angkutan berat.

- Lokasi permukiman.

D. Faktor Interaksi Desa dan Kota

Edward Ulman mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi

antara desa dan kota, antara lain:

1. Adanya wilayah – wilayah yang saling melengkapi (regional complementarity) artinya,

terdapat kebutuhan timbal balik antar wilayah sebagai akibat adanya perbedaan potensi

yang dimiliki oleh tiap wilayah

2. Adanya kesempatan untuk berintervensi (intervening opportunity) artinya, kedua

wilayah memiliki kesempatan melakukan hubungan timbal balik serta tidak ada pihak

ketiga yang membatasi kesempatan itu.

3. Adanya campur tangan /intervensi pihak ketiga (wilayah ketiga) dapat

menjadi penghambat atau melemahkan interaksi antara dua wilayah.

4. Adanya kemudahan transfer/pemindahan dalam ruang (spacial transferability) artinya

kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang baik manusia, informasi ataupun

barang sangat bergantung dengan faktor jarak, biaya angkasa (transportasi) dan

kelancaran prasarana transportasi. Jadi semakin mudah transferbilitas, maka akan

semakin besar arus komoditas.

E. Aspek Interaksi Desa dan Kota

Dalam interaksi desa – kota terdapat beberapa aspek penting yang timbul akibat

interaksi tersebut. Aspek interaksi desa – kota adalah sebagai berikut:

18
1. Aspek Ekonomi meliputi :

i. Melancarkan hubungan antara desa dengan kota.

ii. Meningkatkan volume perdagangan antara desa dengan kota.

iii. Meningkatkan pendapatan penduduk.

iv. Menimbulkan kawasan perdagangan.

v. Menimbulkan perubahan orientasi ekonomi penduduk desa.

2. Aspek Sosial meliputi :

- Terjadinya mobilitas penduduk desa dan kota.

- Terjadinya saling ketergantungan antara desa dengan kota.

- Meningkatnya wawasan warga desa akibat terjalinnya pengaruh hubungan antara

warga desa dengan warga kota.

3. Aspek Budaya meliputi :

- Meningkatnya pendidikan di desa yang ditandai dengan meningkatnya jumlah

sekolah dan siswanya yang bersekolah

- Terjadinya perubahan tingkah laku masyarakat desa yang mendapatkan pengaruh

dari masyarakat kota

- Potensi sumber budaya yang terdapat di desa hingga melahirkan arus wisatawan

masuk desa.

F. Manfaat Interaksi Kota

Kehidupan suatu kota tidak terlepas dari dukungan daerah-daerah di sekitarnya,

sehingga terjadi interaksi antara kota dengan desa-desa di sekelilingnya. Hal ini dapat

menimbulkan beberapa manfaat, sebagai berikut:

19
1. Meningkatnya hubungan sosial ekonomi penduduk kota dan penduduk desa.

2. Pengetahuan penduduk desa akan meningkat, terutama di bidang pertanian dengan

adanya pemanfaatan teknologi tepat guna.

3. Dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya pendidikan dan

keterampilan bekerja untuk meningkatkan taraf hidupnya masing-masing.

4. Dapat menumbuhkan heterogenitas atau keanekaragaman mata pencaharian penduduk

desa.

5. Terjadinya peningkatan pendapatan penduduk.

6. Terpenuhinya berbagai kebutuhan penduduk, baik di perkotaan maupun pedesaan.

G. Zone Interaksi

Sebagai tambahan penjelasan perlu diketahui pengertian mengenai zone-zone desa

kota yang dapat menimbulkan berbagai wujud interaksi desa kota antara lain:

1. City diidentikkan dengan kota

2. Suburban atau faubourgh adalah suatu area yang lokasinya dekat pada pusat kota atau

inti kota dengan luas yang mencakup daerah penglaju atau ‘comuters’ (sub daerah

perkotaan).

3. Suburban fringe adalah suatu area yang melingkari suburban dan merupakan daerah

peralihan antara kota dan desa.(jalur tepi sub daerah perkotaan).

4. Urban fringe adalah semua daerah batas luar kota yang mempunyai sifat-sifat mirip

kota, kecuali inti kota.( jalur tepi daerah perkotaan paling luar).

5. Rural urban fringe adalah suatu jalur daerah yang terletak antara daerah kota dan

daerah desa yang dintandai dengan penggunaan tanah campuran (jalur batas desa kota).

20
H. Interaksi Antar Dua Wilayah

Interaksi wilayah adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara

dua wilayah atau lebih, yang dapat melahirkan gejala, kenampakkan dan permasalahan

baru, secara langsung maupun tidak langsung, sebagai contoh antara kota dan desa.

Interaksi ini dapat dilihat sebagai suatu proses sosial, proses ekonomi, porses budaya

ataupun proses politik dan sejenisnya yang lambat atau pun cepat dapat menimbulkan suatu

realita atau kenyataan. Interaksi antara desa dan kota dapat terjadi karena berbagai faktor

atau unsur yang ada dalam desa, dalam kota dan diantara desa dan kota. Kemajuan

masyarakat desa , kebutuhan timbal balik desa dan kota telah memacu interaksi desa kota

secara bertahap dan efektif. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa interaksi antar

wilayah memiliki tiga prinsip pokok sebagai berikut :

1. Hubungan timbal – balik terjadi antara dua wilayah atau lebih

2. Hubungan timbal balik mengakibatkan proses pengerakan yaitu :

a. Pergerakan manusia (Mobilitas Penduduk)

b. Pergerakan informasi atau gagasan, misalnya : informasi IPTEK, kondisi suatu

wilayah

c. Pergerakan materi / benda, misalnya distribusi bahan pangan, pakaian, bangunan

dan sebagainya

3. Hubungan timbal balik menimbulkan gejala, kenampakkan dan permasalahan baru

yang bersifat positif dan negatif, sebagai contoh :

a. Kota mejadi sasaran urbanisasi

Urbanisasi merupakan salah satu bentuk dari interaksi desa-kota. Menurut

Hope Tisdale Eldrige (1956), pengertian urbanisasi adalah proses perpindahan

21
penduduk ke kota atau daerah permukiman padat. Istilah urbanisasi juga

digunakan untuk mendeskripsikan perubahan kelompok sosial yang terjadi sebagai

akibat konsentrasi manusia.

Urbanisasi dapat juga berarti proses perubahan daerah desa menjadi daerah

kota.

Pengertian urbanisasi tersebut menunjukkan bahwa penduduk desa lebih

mengenal kota. Banyak penduduk desa meninggalkan daerahnya dan pindah ke

kota terdekat. Sebagian dari mereka bekerja di kota, tetapi bertempat tinggal di

desa.

b. Faktor Terjadinya Urbanisasi

Urbanisasi biasanya timbul seperti faktor berikut :

1). Adanya faktor yang mendorong (push factors) penduduk desa untuk

meninggalkan daerah kediamannya. Faktor-faktor tersebut adalah :

 Kurangnya lapangan kerja

 Terbatasnya kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan

 Kemiskinan

 Kurang fasilitas pendidikan

 Adat istiadat yang ketat

 Kurangnya sarana hiburan, dan sebagainya.

2). Adanya faktor yang menarik penduduk desa untuk pindah ke kota (pull

factors), yaitu:

 Tersedianya lapangan kerja yang relatif banyak dan bermacam-macam

22
 Luasnya kesempatan untuk sekolah, sampai ke jenjang paling tinggi

sekalipun

 Upah kerja tinggi

 Tersedianya aneka sarana hiburan dan luasnya pergaulan

3). Bintarto (Nurmala Dewi, 2009) mengemukakan beberapa program pemerintah

dalam mengatasi masalah urbanisasi, yaitu:

 Mempelajari, meneliti, dan melaksanakan pengembangan wilayah di

berbagai tempat, terutama di kota-kota besar yang ada di Pulau Jawa dan

di luar Pulau Jawa

 Mengembangkan industri kecil atau industri rumah tangga di berbagai

daerah pedesaan

 Mengatur arus migrasi penduduk dari daerah pedesaan ke kota melalui

kegiatan administratif dan kebijaksanaan kebijaksanaan lainnya

 Melancarkan kegiatan Keluarga Berencana (KB) dengan lebih ketat, baik

di desa maupun di kota

 Menghidupkan daerah pedesaan dengan berbagai kegiatan pembangunan,

antara lain mengembangkan dan meningkatkan jalur transportasi dan

komunikasi, sehingga masyarakat desa tidak merasa tertinggal dari

masyarakat kota

 Pembangunan perumahan rakyat yang murah dan memenuhi syarat-

syarat kualitas kesehatan di daerah tepian kota, sehingga dapat dihindari

meluasnya pemukiman kumuh

23
c. Dampak Interaksi dan Urbanisasi Bagi Kota

Dalam kenyataannya, wujud interaksi itu tidak hanya berlangsung antara

kota dengan kota, melainkan juga antara kota dengan desa. Kedua jenis interaksi

itu berlangsung terus tanpa henti. Hal ini dapat kita saksikan dengan hilir

mudiknya kendaraan yang memadati jalan raya, atau pun gaungnya aneka siaran

televisi dan radio dari satu kota ke kota lain atau ke sudut-sudut desa yang jauh

sekalipun.

Adanya interaksi itu menimbulkan aneka pengaruh, baik yang positif maupun yang

negatif. Pengaruh-pengaruh tersebut ialah sebagai berikut:

1). Pengaruh Positif

 Tingkat pengetahuan penduduk semakin meningkat. Peningkatan

pengetahuan penduduk itu bisa terjadi karena pergaulan atau adanya

saling tukar informasi dan pengalaman antarpenduduk; pendirian

lembaga- lembaga pendidikan, dan keterampilan (khusus); melanjutkan

pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi; dan arus informasi, baik lewat

media elektronik maupun surat kabar.

 Tersedianya tenaga kerja dari desa.

 Adanya tempat permasaran hasil teknologi dari kota ke desa, misal

peralatan teknologi pertanian.

 Desa sebagai mitra pembangunan wilayah perkotaan.

 Desa sebagai sumber bahan mentah bagi daerah perkotaan

 Produk-produk yang dihasilkan di daerah perkotaan dapat dipasarkan

sampai ke pelosok desa sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar.

24
2). Pengaruh Negatif

Dampak negatif adanya interksi desa-kota bagi kota yang paling nyata

adalah terjadinya urbanisasi yang tidak terkendali. Hal ini disebabkan

banyaknya penduduk desa yang bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan

da penghidupan yang lebih layak.

Sebagai akibat dari urbanisasi tersebut kota tidak mampu lagi

menampung penduduk, sehingga timbul permasalahan-permasalah antara lain

sebagai berikut:

 Meningkatnya tingkat kriminalitas atau kejahatan seperti pencurian dan

perampokan.

 Jumlah penduduk desa yang pergi ke kota tanpa keahlian menimbulkan

permasalahan bagi daerah perkotaan, yaitu semakin meningkatnya

jumlah pengangguran, penduduk miskin, gelandangan dan pengemis.

 Meningkatnya jumlah permukiman kumuh (slump) berupa gubuk-gubuk

liar yang terletak di bantaran sungai, di sepanjang rel kereta api, dan

sebagainya.

 Terjadinya degradasi kualitas lingkungan. Peningkatan jumlah penduduk

desa yang pesat mendorong pembangunan rumah-rumah di wilayah kota

yang berpengaruh terhadap penurunan atau degradasi kualitas

lingkungan. Degradasi kualitas lingkungan dapat terjadi pada lingkungan

fisik dan sosial. Degradasi lingkungan fisik dapat disebabkan oleh

pencemaran, seperti pencemaran air, udara dan suara. Jenis pencemaran

25
yang dapat digolongkan sabagai degradasi kualitas lingkungan social

yaitu:

 Kepadatan lalulintas kendaraan dapat menimbulkan perasaan jengkel

dan kesal akibat kemacetan.

 Semakin berkembangnya sikap hidup materialistic dan

individualistis.

 Tumpukan sampah yang terdapat di banyak tempat, terutama dekat

permukiman mengganggu kesehatan dan keindahan lingkungan.

 Rumah dan bangunan kota yang terlantar dan tidak terawat

menggangu pemandangan di sekitarnya.

 Terjadinya perkawinan antar suku dengan budaya yang berbeda

Ullman mengemukakan terdapat tiga faktor utama yang mendasari atau

memengaruhi interaksi antar wilayah sebagai berikut:

a. Adanya Wilayah yang Saling Melengkapi (Komplementaritas Regional)

Menurut teori ini, hubungan timbal balik antarwilayah akan terjadi bila di

antara keduanya memiliki potensi yang saling melengkapi atau saling

membutuhkan. Wilayah A memiliki surplus potensi yang tidak dimiliki wilayah B.

Sebaliknya, wilayah B memiliki surplus potensi yang tidak dimiliki wilayah A.

Maka, dengan kondisi seperti itu, antara keduanya akan timbul interaksi, hubungan

imbal balik antara A dan B.

b. Munculnya Kesempatan untuk Berintervensi

26
Munculnya kesempatan untuk berintervensi dimungkinkan karena terdapat

wilayah antara di antara dua wilayah yang akan saling berinteraksi. Akibatnya,

akan muncul persaingan di antara dua wilayah. Sebagai contoh, kota A kekurangan

barang B yang terdapat di kota B, sedangkan kota B membutuhkan barang A yang

terdapat di kota A. Keadaan ini secara langsung akan menimbulkan interaksi antara

kota A dan kota B. Akan tetapi, dengan munculnya kota C yang menyediakan

barang A dan B yang dibutuhkan oleh kota A dan kota B, hubungan kedua kota

tersebut melemah. Di sinilah muncul persaingan di antara ketiga kota tersebut

sehingga ketiga kota berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan. Pada akhirnya,

pemenuhan kebutuhan untuk masing-masing kota dipengaruhi oleh keterjangkauan

aksesibilitas sehingga bisa menekan biaya untuk mendapatkan kebutuhan tersebut.

c. Kemudahan Pemindahan dalam Ruang

Pada umumnya, pemenuhan sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu

tempat akan memilih tempat-tempat yang memiliki berbagai kemudahan dalam

pemenuhanannya, yaitu:

1). Lengkapnya fasilitas komunikasi

27
2). Jarak yang relatif dekat

3). Biaya transportasi yang murah, atau

4). Kelancaran arus transportasi.

Interaksi wilayah merupakan hal yang penting dilakukan karena setiap

wilayah tidak dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Untuk mengetahui seberapa

besar kekuatan interaksi antara dua wilayah dapat dilakukan secara kuantitatif

dengan rumus-rumus di bawah ini.

1). Rumus Carrothers

Menurut teori ini, kekuatan hubungan ekonomis antara dua tempat,

berbanding lurus dengan besarnya penduduk dan berbanding terbalik dengan

jarak antaranya. Jadi, makin banyak jumlah penduduk di dua tempat, makin

besarlah interaksi ekonominya, tetapi makin jauh jarak antaranya makin

kecillah interaksinya.

Misalnya : ada tiga buah kota, A berpenduduk 15.000 jiwa, B (10.000 jiwa),

dan C (20.000 jiwa) seperti di bawah ini. Di situ lokasi B ada di tengah,

jaraknya dari A 30 km dan dari C 50 km.

28
Bagaimana menghitung besarnya interaksi ekonomi antara A dan B

dibandingkan B dan C?

Dari perhitungan di atas, terlihat bahwa interaksi antara A dan B lebih besar

dari interaksi antara B dan untuk membuktikan interaksi AB lebih kuat

daripada C, juga dapat dilihat dari jumlah penumpang kendaraan, angkutan

barang, arus transportasi, dan jenis interaksi lain.

d. Hukum Gravitasi

Dasar interaksi desa-kota adalah hukum gravitasi dari Issac Newton,

seorang ahli ilmu fisika. Sir Issac Newton (1687) mengatakan bahwa dua buah

benda atau materi memiliki gaya tarik-menarik yang kekuatannya berbanding lurus

29
dengan hasil kali kedua massa tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat

jarak benda tersebut.

Hukum gravitasi Newton dapat diterapkan dalam studi geografi pemasaran

dan studi transportasi. Selain itu, juga digunakan dalam studi perpindahan

penduduk, masalah memilih lokasi, dan masalah interaksi. Jika hukum gravitasi

Newton digunakan untuk menghitung besarnya interaksi antara wilayah

pertumbuhan A dan B, maka rumusnya menjadi:

Contoh soal:

Hitunglah interaksi antara A, B, dan C, bila diketahui:

Jumlah penduduk wilayah pertumbuhan A = 300.000 jiwa.

Jumlah penduduk wilayah pertumbuhan B = 20.000 jiwa.

Jumlah penduduk wilayah pertumbuhan C = 10.000 jiwa.

Jarak antara wilayah pertumbuhan A dengan wilayah pertumbuhan B = 5 km

maka,

30
Jika di dekat wilayah pertumbuhan A ada desa lain, yaitu wilayah pertumbuhan C dengan jumlah

penduduk 10.000 jiwa dan jaraknya dengan A = 10 km, maka

Jadi, interaksi antara wilayah pertumbuhan A dengan wilayah pertumbuhan B dan wilayah

pertumbuhan C dapat ditulis dengan angka sederhana, yaitu 24 berbanding 3 atau 8 berbanding

1. Jika digambarkan sebagai berikut.

Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa interaksi A dengan B lebih besar daripada interaksi

antara A dengan C. Berarti pengaruh A terhadap B lebih besar daripada pengaruh A terhadap C.

31
BAB III

PENUTUP

 Kesimpulan

Interaksi penduduk desa dan kota adalah proses hubungan yang bersifat timbal balik antar

unsur-unsur yang ada dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang

bersangkutan melalui kontak langsung, berita yang didengar atau surat kabar sehingga

melahirkan sebuah gejala baru, baik berupa fisik maupun non fisik

Dampak positif dari interaksi desa-kota yaitu tingkat pengetahuan penduduk semakin

meningkat, tersedianya tenaga kerja dari desa, desa sebagai mitra pembangunan wilayah

perkotaan, desa sebagai sumber bahan mentah bagi daerah perkotaan. Sedangkan dampak negatif

adanya interksi desa-kota bagi kota yang paling nyata adalah terjadinya urbanisasi yang tidak

terkendali sehingga menimbulkan permasalahan seperti meledaknya jumlah penduduk,

meningkatnya pengangguran, kemiskinan, dan pemukiman kumuh.

 Saran

Sebaiknya interaksi antara kota dan desa lebih ditingkatkan agar tidak menimbulkan sifat

individualisme dan kemakmuran antar desa dan kota meningkat. Karena interaksi desa dan kota

saat ini banyak berdampak negatif dan hal tersebut sangat mengganggu kemakmuran interaksi

antar desa dan kota.

32
DAFTAR PUSTAKA

Bintarto. 1984. Interaksi Desa-Kota. Jakarta:Ghalia Indonesia.

Bintarto, R. 1977. Pengantar Geografi Kota. Yogyakarta : U.P.Spring.

Bintarto, R. 1977. Suatu Pengantar Geografi Desa. Yogyakarta : U.P.Spring.

Daldjoeni, N. 1998. Geografi Kota dan Desa. Bandung : P.T. Alumni.

Dewi, Nurmala. 2009. Geografi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan

Departemen Pendidikan Nasional.

Endarto, Danang dkk. 2009. Geografi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan

Departemen Pendidikan Nasional.

Hartono. 2009. Geografi 3 Jelajah Bumi dan Alam Semesta untuk Kelas XII. Jakarta: Pusat

Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Hauser, Philip M. dkk. 1985. Penduduk dan Masa Depan Perkotaan. Jakarta:PT. Midas Surya

Grafindo.

http://DONY GEOGRAF SEJATI»Blog Archive»INTERAKSI DESA KOTA.htm. Diakses pada

hari Rabu tanggal 27 Oktober 2010 pada pukul 13.16 WIB.

http://Ilmu Sosial Dasar Bag 2«CARI ILMU ONLINE BORNEO_files/Ilmu Sosial Dasar Bag

2«CARI ILMU ONLINE BORNEO.htm. Diakses pada hari Rabu tanggal 27 Oktober

2010 pada pukul 13.18 WIB

http://INTERAKSI DESA KOTA « DONY PURNOMO BLOG.htm. Diakses pada hari Rabu

tanggal 27 Oktober 2010 pada pukul 13.20 WIB.

http://ssbelajar.blogspot.com/2012/12/menghitung-kekuatan-interaksi-antar-dua.html

33