Anda di halaman 1dari 20

DEFLEKSI

Paper ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas dalam

mata kuliah Rancangan Teknik

Pengampu : Ni Luh Yulianti, S.TP.,M.Si

Nama Anggota Kelompok 3:

1. I Gusti Ayu Prapti Pundari (1411305001)


2. Kadek Dwi Ananda Nugraha (1411305007)
3. I Muna Bhaskara (1411305011)
4. Ni Made Dea Kanikayani (1411305033)
5. Ani Faisah (1411305041)
6. Ida Bagus Raditnya Premananda (1411305042)

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
BALI
2016
Kata Pengantar

Puji syukur kamipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan paper
tentang Defleksi ini tepat pada waktunya. Tujuan dibuatnya paper ini yaitu untuk
memenuhi tugas paper yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah
Kekuatan Bahan Teknik.

Terselesaikannya tugas paper ini telah melibatkan berbagai pihak. Untuk


dukungan yang telah diberikan, saya menyampaikan ucapan terimakasih kepada
yang terhormat:

1. Ni Luh Yulianti, S.TP.,M.Si. sebagai pembimbing mata kuliah


Rancangan Teknik yang telah membimbing kami selama proses belajar
mengajar di kelas.
2. Semua pihak yang secara langsung atau pun tidak langsung
mendukung terselesaikannya paper ini.
Akhir kata, semoga paper tentang Defleksi ini bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan penulis pada khususnya. Kami menyadari bahwa dalam pembuatan
paper ini masih jauh dari sempurna untuk itu kami menerima saran dan kritik
yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata kami
mengucapkan terimakasih.

Jimbaran, 05 Oktober 2016


DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I: Pendahuluan

I.1 Latar Belakang…………………………………………………

I.2 Rumusan Masalah……………………………………………...

I.3 Tujuan……………………………………….…………………

I.4 Manfaat………………………………………………………..

Bab II: Tinjauan Pustaka

II.1 Pengertian Defleksi……………………………………………..

II.2 Jenis Defleksi……………………………………………………

II.3 Hal yang Mempengaruhi Terjadinya Defleksi…………………..

II.4 Jenis Tumpuan Defleksi…………………………………………

II.5 Jenis Batang…………………………………………………….

II. 6 Jenis Pembebanan Defleksi…………………………………….

II.7 Metode Perhitungan Defleksi……………………………………

II.8 Pengaplikasian Defleksi………………………………………...

BAB III Penutun

III .1 Kesimpulan………………………………………………………

III.2 Saran………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir


manusia begitu juga ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan
mengalami kemajuan. Disertai dengan sistem pendidikan yang mapan,
memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Sama halnya dengan
perkembangan teknologi dibidang konstruksi. Salah satu contoh penerapan ilmu
konstruksi dalam dunia industry dan juga dapat kita lihat dalam kehiduoan sehari-
hari yaitu, defleksi yang merupakan pengaplikasian pada jembatan misalnya.

Salah satu persoalan yang sangat penting diperhatikan dalam perencanaan-


perencanaan tersebut adalah perhitungan defleksi/lendutan dan tegangan pada
elemen-elemen ketika mengalami suatu pembebanan. Hal ini sangat penting
terutama dari segi kekuatan (strength) dan kekakuan (stiffness), dimana pada
batang horizontal yang diberi beban secara lateral akan mengalami defleksi.
Defleksi dan tegangan yang terjadi pada elemen-elemen yang mengalami
pembebanan harus pada suatu batas yang diijinkan, karena jika melewati batas
yang diijinkan, maka akan terjadi kerusakan pada elemen-elemen tersebut ataupun
pada elemen-elemen lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan Defleksi?
2. Apa saja yang mempengaruhi Defleksi?
3. Apa saja jenis-jenis Defleksi?
4. Apa saja tumpuan dari Defleksi?
5. Apa saja jenis pembebanan Defleksi?
6. Apa saja jenis batang yang digunakan?
7. Apa saja metode perhitungan dalam Defleksi?
8. Bagaimana pengaplikasian dari Defleksi?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Defleksi
2. Mengetahui apa saja yang mempengaruhi Defleksi
3. Mengetahui apa saja jenis-jenis Defleksi
4. Mengetahui apa saja tumpuan dari Defleksi
5. Mengetahui apa saja jenis pembebanan Defleksi
6. Mengetahui apa saja jenis batang yang digunakan
7. Mengetahui metode perhitungan dalam Defleksi
8. Mengetahui bagaimana pengaplikasian dari Defleksi
1.4 Manfaat
Dengan dibuatnya paper ini diharapkan mahasiswa mampu memahami
materi tentang defleksi serta mengetahui pengaplikasian defleksi dalam
kehidupan sehari-hari.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1Pengertian Defleksi
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya
pembebanan vertical yang diberikan pada balok atau batang. Sumbu sebuah
batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah
pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami
pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan
mengalami defleksi.
Unsure-unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk mencegah
ketidakbarisan dan mempertahankna ketelitian terhadap pengaruh beban
dalam gedung-gedung,balok lantai tidak dapat melentur secara berlebihan
untuk meniadakan pengaruh psikologis yang tidak diinginkan para penghuni
dan untuk memperkecil atau mencegah dengan bahan-bahan jadi yang rapuh.
Begitu pun kekuatan mengenai karateristik deformasi dari bangunan struktur
adalah paling penting untuk mempelajari getaran mesin seperti juga
bangunan-bangunan stasioner dan penerbangan.
2.2. Jenis Defleksi
Defleksi ada 2 yaitu :

2.2.1.Deflkesi Vertikal (Δw)

Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal (tarik,


tekan) hingga membentuk sudut defleksi, dan posisi batang vertikal,
kemudian kembali ke posisi semula.

Gambar 1 Defleksi Vertikal


2.2.2 Defleksi Horisontal (Δp)

Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal


(bending) posisi batang horizontal, hingga membentuk sudut defleksi,
kemudian kembali ke posisi semula.

Gambar 2 Defleksi Horizontal

2.3. Yang Mempengaruhi Terjadinya Defleksi


Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu :
1. Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi
pada batang akan semakin kecil
2. Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus
dengan besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar
beban yang dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin
kecil
3. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jika
karena itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-
beda tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang
melawan gaya dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol
lebih besar dari tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada
tumpuan pin lebih besar dari tumpuan jepit.
4. Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titik, keduanya memiliki
kurva defleksi yang berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata
slope yang terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar
dari slope titik. Ini karena sepanjang batang mengalami beban
sedangkan pada beban titik hanya terjadi pada beban titik tertentu saja.
2.4 Macam Tumpuan Pada Defleksi
Macam-macam tumpuan, antara lain:
1. Engsel
Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi
vertikal dan gaya reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak ini
mampu melawan gaya yang bekerja dalam setiap arah dari bidang.

Gambar 1.3 Tumpuan Engsel


2. Rol
Rol merupakan tumpuan yang hanya dapat menerima gaya
reaksi vertikal. Jenis tumpuan ini mampu melawan gaya-gaya dalam
suatu garis aksi yang spesifik.

Gambar 1.4 Tumpuan Rol


3. Jepit
Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi
vertikal, gaya reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua
penampang. Tumpuan jepit ini mampu melawan gaya dalam setiap
arah dan juga mampu melawan suatu kopel atau momen.

Gambar 1.5 Tumpuan Jepit


2.5 Jenis Batang
Jenis-Jenis atang yang digunakan pada defleksi adalah sebagai berikut :
1. Batang tumpuan sederhana
Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak atau rol.

Gambar 3. Batang tumpuan sederhana


2. Batang kartilever
Bila salah satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas.
Gambar 4. Batang kantilever
3. Batang Overhang
Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana

Gambar 5. Batang Overhang


4. Batang menerus
Bila tumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik.

Gambar 6 Batang menerus


Suatu batang kontinu yang ditumpu akan melendut jika mengalami beban lentur.
Defleksi berdasarkan pembebanan yang terjadi pada batang terdiri atas:

1. Defleksi Aksial

Defleksi aksial terjadi jika pembebanan pada luas penampang.

Gambar 1. Defleksi Aksial


P
  dari hukum hooke:   E
A

P
  L  L0    / L0 E 
A
P
E  / L0  
A

P
E  / L0  
A

Pl0
 
AE

2. Defleksi Kantilever dan Lateral

Defleksi yang terjadi jika pembebanan tegak lurus pada luas penampang.

Gambar 2. Defleksi Kantilever

Gambar 3. Defleksi Lateral Secara Tegak Lurus Penampang

3. Defleksi Oleh Gaya Geser atau Puntir Pada Batang

Unsur-unsur dari mesin haruslah tegar untuk mempertahankan ketelitian


dimensional terhadap pengaruh beban. Suatu batang kontinu yang ditumpu akan
melendut jika mengalami beban lentur.
Gambar 4. Defleksi Karena Adanya Momen Puntir
2.6 Jenis Pembebanan Defleksi
Jenis-jenis pembebanan, antara lain:
1. Beban terpusat
Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena
luas kontaknya kecil.

Gambar 1.6 Pembebanan Terpusat


2. Beban merata
Disebut beban merata karena terdistribusi merata di
sepanjang batang dan dinyatakan dalam qm (kg/m atau kN/m)

Gambar 1.7 Pembebanan Terbagi Merata


3. Beban bervariasi uniform
Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang
batang besarnya tidak merata.
Gambar 1.8 Pembebanan Bervariasi Uniform

2.7 Metode Perhitungan Defleksi


Defleksi yang terjadi disetiap titik pada batang tersebut dapat dihitung
dengan berbagai metode, antara lain (Popov, E.P., 1984) :

1. Metode Integrasi Ganda (Double Integrations)


2. Metode Luas Bidang Momen (Momen Area Method)
3. Metode Energi
4. Metode Superposisi

1. Metode Integrasi Ganda

Pandangan samping permukaan netral balok yang melendut disebut kurva


elastis balok (lihat gambar). Gambar tersebut memperlihatkan bagaimana
menetapkan persamaan kurva ini, yaitu bagaimana menetapkan lendutan tegak y
dari setiap titik dengan terminologi koordinat x.

Pilihlah ujung kiri batang sebagai origin sumbu x searah dengan


kedudukan balok original tanpa lendutan, dan sumbu Y arah keatas positif.
Lendutan dianggap kecil sehingga tidak terdapat perbedaan panjang original balok
dengan proyeksi panjang lendutannya. Konsekwensinya kurva elastis sangat datar
dan kemiringannya pada setiap sangat kecil. Harga kemiringan, tan q =dy / dx ,
dengan kesalahan sangat kecil bisa dibuat sama dengan q, oleh karena itu

  dy / dx

d dy
dan 
dx dx
Gambar 5. Metode Integrasi Ganda
ds   d

Dimana r adalah jari-jari kurva sepanjang busur ds. Karena kurva elastis
sangat datar, ds pada prakteknya sama dengan dx: sehingga peroleh persamaan :

1 d d
  atau
 ds dx

1 d2y

 dx 2

Dimana rumus lentur yang terjadi adalah

1 M

 EI

Dengan menyamakan harga 1 dari persamaan diatas, kita peroleh


d2y
EI M
dx 2

Persamaan diatas dikenal sebagai persamaan differensial kurva elastis


balok. Perkalian EI, disebut kekauan lentur balok, biasanya tetap sepanjang balok.
Apabila persamaan diatas diintegrasi, andaikan EI diperoleh :

dy
dx 
EI  Mdx  C1

Persamaan diatas adalah persamaan kemiringan yang menunjukkan


kemiringan atau harga dy / dx pada setiap titik. Dapat dicatat disini bahwa M
menyatakan persamaan momen yang dinyatakan dalam terminologi x, dan C1
adalah konstanta yang dievaluasi dari kondisi pembebanan tertentu. Sekarang
integrasi persamaan diatas untuk memperoleh

EIy   Mdxdx  C1  C2

Persamaan diatas adalah persamaan lendutan kurva elastis yang


dikehendaki guna menunjukkan harga y untuk setiap harga x; 2 C adalah
konstanta integrasi lain yang harus dievaluasi dari kondisi balok tertentu dan
pembebannya. Apabila kondisi pembebanan dirubah sepanjang balok, maka
persamaan momen akan berubah pula. Pengevaluasian konstanta integrasi
menjadi sangat rumit. Kesulitan ini dapat dihindari dengan menuliskan persamaan
momen tunggal sedemikan rupa sehingga menjadi persamaan kontinu untuk
seluruh panjang balok meskipun pembebanan tidak seimbang.

2. Metode Luas Bidang Momen

Metode yang berguna untuk menetapkan kemiringan dan lendutan batang


menyangkut luas diagram momen dan momen luas adalah metode momen luas.
Motode momen luas mempunyai batasan yang sama seperti metode integrasi
ganda. Kurva elastis merupakan pandangan samping permukaan netral, dengan
lendutan yang diperbesar, diagram momen. Jarak busur diukur sepanjang kurva
elastis antara dua penampang sama dengan r ´dq , dimana r adalah jari-jari
lengkungan kurva elastis pada kedudukan tertentu. Dari persamaan momen lentur
diperoleh:

1 M

 EI

karena ds = r dq , maka

1 M d M
  atau d  ds
 EI ds EI

Pada banyak kasus praktis kurva elastis sangat datar sehingga tidak ada
kesalahan serius yang diperbuat dengan menganggap panjang ds = proyeksi dx.
Dengan anggapan itu kita peroleh :

M
d  dx
EI
Gambar 6. Sketsa Metode Luas Momen
Perubahan kemiringan antara garis yang menyinggung kurva pada dua
titik sembarang A dan B akan sama dengan jumlah sudut-sudut kecil tersebut:
B X
1 B
  d 
EI XA
 AB Mdx
A

Jarak dari B pada kurva elastis (diukur tegak lurus terhadap kedudukan
balok original) yang akan memotong garis singgung yang ditarik kekurva ini pada
setiap titik lain A adalah jumlah pintasan dt yang timbul akibat garis singgung
kekurva pada titik yang berdekatan. Setiap pintasan ini dianggap sebagai busur
lingkaran jari-jari x yang dipisahkan oleh sudut dq :

dt = xdq

oleh karena itu


XB

tb / a   dt   x(Md )
XA

Dengan memasukkan harga dq, diperoleh


XB
1
tb / a   dt   x(Md )
EI XA
Panjang b a t / dikenal sebagai penyimpangan B dari garis singgung yang
ditarik pada A, atau sebagai penyimpangan tangensial B terhadap A. Secara
umum penyimpangan seperti ini tidak sama.

Pengertian geometris mengembangkan dasar teori metode momen luas


dari diagram momen yang mana kita melihat bahwa Mdx adalah luas elemen
arsiran yang berkedudukan pada jarak x dari ordinat melalui B karena integral M
dx berarti jumlah elemen, maka dinyatakan sebagai,

1
 AB  (luas ) AB
EI

3. Metode Superposisi

Persamaan diferensial kurva defleksi balok adalah persamaan diferensial


linier, yaitu semua faktor yang mengandung defleksi w dan turunannya
dikembangkan ke tingkat pertama saja. Karena itu, penyelesaian persamaan untuk
bermacam-macam kondisi pembebanan boleh di superposisi. Jadi defleksi balok
akibat beberapa beban yang bekerja bersama-sama dapat dihitung dengan
superposisi dari defleksi akibat masing-masing beban yang bekerja sendiri-sendiri

M
w ''  
EIy
Q
w '''  
EIy
q
wIV  
EIy

w( x )  w1( x )  w2( x )

Berlaku analog

w '( x )  w '1( x )  w '2( x )


M ( x )  M 1( x )  M 2( x )
Q( x )  Q1( x )  Q2( x )
Gambar 7. Metode Superposisi
2.8 Pengaplikasian Defleksi
Aplikasi dari analisa lendutan batang dalam bidang keteknikan sangat luas,
mulai dari perancangan poros transmisi sebuah kendaraan bermotor ini,
menujukkan bahwa pentingnya analisa lendutan batang ini dalam
perancangan. Sebuah konstruksi teknik, berikut adalah beberapa aplikasi dari
lendutan batang :
1. Jembatan
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang
sangat penting. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan
benda atau kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar
dan dinamis yang bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan
mengakibatkan terjadinya lendutan batang atau defleksi pada batang-
batang konstruksi jembatan tersebut. Defleksi 12 yang terjadi secara
berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada jembatang
tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan
2. Poros Transmisi
Pada poros transmisi roda gigi yang saling bersinggungan untuk
mentransmisikan gaya torsi memberikan beban pada batang poros
secara radial. Ini yang menyebabkan terjadinya defleksi pada batang
poros transmisi. Defleksi yang terjadi pada poros membuat sumbu
poros tidak lurus. Ketidaklurusan sumbu poros akan menimbulkan
efek getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda gigi. Selain
itu,benda dinamis yang berputar pada sumbunya.
3. Rangka (chasis) kendaraan
Kendaraan-kendaraan pengangkut yang berdaya muatan
besar,memiliki kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang-
batang penyusun konstruksinya.
4. Konstruksi Badan Pesawat Terbang
Pada perancangan sebuah pesawat material-material pembangunan
pesawat tersebut merupakan material-material ringan dengan tingkat
elestitas yang tinggi namun memiliki kekuatan yang baik. Oleh karena
itu,diperlukan analisa lendutan batang untuk mengetahui defleksi yang
terjadi pada material 13 atau batang-batang penyusun pesawat
tersebut,untuk mencegah terjadinya defleksi secara berlebihan yang
menyebabkan perpatahan atau fatik karena beban terus-menerus
5. Mesin Pengangkut Material
Pada alat ini ujung pengankutan merupakan ujung bebas tak
bertumpuan sedangkan ujung yang satu lagi berhubungan langsung
atau dapat dianggap dijepit pada menara kontrolnya. Oleh karena
itu,saat mengangkat material kemungkinan untuk terjadi defleksi. Pada
konstruksinya sangat besar karena salah satu ujungnya bebas tak
bertumpuan. Disini analisa lendutan batang akan mengalami batas
tahan maksimum yang boleh diangkut oleh alat pengangkut tersebut
(James M.Gere 1978)
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Defleksi banyak digunakan untuk acuan perhitungan berbagai kebutuhan
hidup manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, defleksi juga
memiliki peran penting untuk memajukan kehidupan manusia dan bisa
dipakai untuk jangka waktu yang panjang.
3.2. Saran
Mudah-mudahan paper ini dapat membantu menyelesaikan perhitungan
tentang defleksi.
DAFTAR PUSTAKA
 http//:www.wikipedia.com/defleksi
 http://iktutaryanto.blogspot.com/2010/05/kekuatan-bahan-untuk-defleksi-
dengan.html
 http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/