Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

SAP 8
“ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN PARA
PENGAMBIL KEPUTUSAN”

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:


1. I Putu Bayu Suyadnya Pratama (1406305035)
2. Ni Putu Meiditya Ningsih (1406305126)
3. Anisa Sheirina Cahyadi (1406305135)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2017
1. Proses Pengambilan Keputusan
1.1 Definisi
Dalam organisasi, pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan
alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti
(digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah yang terdiri dari beberapa orang
untuk mencapai tujuan bersama. Langkah-langkah pengambilan keputusan, yaitu:
1) Pengenalan dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang
Untuk mengenali dan mendefinisikan masalah atau peluang, para pengambil
keputusan memerlukan informasi mengenai lingkungan, keuangan, dan operasi.
2) Pencarian atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya
Pada langkah ini, alternatif praktis sebaiknya sebanyak mungkin diidentifikasi
dan dievaluasi. Pencarian sering dimulai dengan melihat masalah serupa yang
terjadi di masa lalu dan tindakan yang dipilih pada saat itu. Fitur-fitur yang
dapat dikuantifikasikan akan berupa estimasi keuangan atas biaya dan manfaat
yang berkaitan dengan setiap alternatif.
3) Pemilihan alternatif yang optimal atau memuaskan
Tahap yang paling penting dalam proses pengambilan keputusan adalah memilih
salah satu dari beberapa alternatif. Meskipun langkah ini mungkin
memunculkan pilihan rasional, pilihan terakhir sering didasarkan pada
pertimbangan politik dan psikologis daripada fakta ekonomi.
4) Penerapan dan tindak lanjut
Kesuksesan atau kegagalan dari keputusan akhir bergantung pada efisiensi
penerapannya. Pelaksanaan hanya akan berhasil jika individu-individu yang
memiliki kontrol atas sumber daya organisasi yang diperlukan untuk
melaksanakan keputusan (misalnya, uang, orang, dan informasi) benar-benar
berkomitmen untuk membuatnya bekerja.

1.2 Motif Kesadaran


Motif kesadaran ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu yang masih berada dalam tingkat kesadaran seseorang. Terdapat

1
dua faktor penting dari motif kesadaran dalam konteks pengambilan keputusan,
yaitu:
a. Keinginan akan kestabilan atau kepastian
Keinginan akan kestabilan menegaskan adanya kemampuan untuk
memprediksikan. Motif ini mengaktifkan baik pikiran sadar dan bawah sadar
untuk membuat masuk akal suatu ketidakseimbangan, ambigu, atau
ketidakpastian informasi.
b. Keinginan akan kompleksitas dan keragaman
Motif kompleksitas menimbulkan keinginan akan suatu stimulus dan eksplorasi
serta mengaktifkan pikiran sadar dan bawah sadar untuk mencari data baru dari
ingatan atau lingkungan, kemudian menyeimbangkannya dan mengaturnya
dengan motif. Dua faktor penting dari proses pengambilan keputusan adalah
kompleksitas dan prediksinya (pasti atau tidak pasti). Dengan menggunakan
dimensi-dimensi kompleksitas dan kemampuan untuk membuat prediksi, para
ahli psikologi telah mengembangkan empat jenis model keputusan:
a. Model keputusan yang diprogram secara sederhana
Model ini ditandai dengan aturan-aturan prediksi yang tidak kompleks, yang
ditetapkan oleh orang lain yang bukan si pengambil keputusan.
b. Model keputusan yang tidak diprogram secara sederhana
Pada model ini, apa pun akan terlihat baik pada saat itu bagi si pengambil
keputusan yang langsung memilih alternatif tersebut. Informasi bersumber
dari prasangka melalui keyakinan-keyakinan umum.
c. Model keputusan yang diprogram secara kompleks
Pada model ini melibatkan perencanaan yang begitu rinci. Masalah dan
peluang diantisipasi dengan skala prioritas yang begitu hati-hati. Alternatif-
alternatif yang ada dievaluasi berdasarkan pertimbangan untuk
memaksimalkan manfaat jangka panjang.
d. Model keputusan yang tidak diprogram diprogram secara kompleks
Model ini memiliki ciri khas yaitu partisipasi yang terus-menerus dari semua
orang yang terlibat untuk memaksimalkan perolehan informasi dan

2
koordinasi.

1.3 Jenis-jenis dari Model Proses


Tiga model utama dalam pengambilan keputusan dari seorang pengambilan
keputusan dalam suatu organisasi, model-model tersebut adalah:
a. Model Ekonomi
Model tradisional mengasumsikan bahwa semua tindakan manusia dan
keputusan secara sempurna rasional dan bahwa dalam sebuah organisasi, ada
konsistensi antara berbagai motif dan tujuan.
b. Model Sosial
Model ini mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya tidak rasional dan
bahwa keputusan dihitung berdasarkan interaksi sosial.
c. Model Kepuasan Simon
Model ini didasarkan pada konsep Simon tentang orang administrasi, di mana
manusia dipandang rasional karena mereka memiliki kemampuan untuk berpikir,
memproses informasi, membuat pilihan, dan belajar.

2. Cara Pengambilan Keputusan dalam Organisasi


Berikut merupakan tinjauan atas suatu bukti penting yang akan memberikan
penjelasan yang lebih akurat tentang bagaimana sebenarnya kebanyakan keputusan
dalam organisasi yang diambil.
a. Rasional Terbatas
Salah satu aspek yang menarik dari konsep rasional terbatas adalah membuat urutan
pertimbangan beberapa alternative. Pengurutan alternative tersebut sangat penting
dalam menentukan alternative yang dipilih.
b. Intuisi
Pengambilan keputusan intuitif merupakan suatu proses tidak sadar yang diciptakan
dari pengalaman bersaing. Intuisi ini tidak harus berjalan secara independen dari
analisis rasional.
c. Identifikasi Masalah

3
Masalah-masalah yang tampak cenderung memiliki kemungkinan terpilih yang lebih
tinggi dibandingkan dengan masalah-masalah yang penting. Pernyataan ini
didasarkan pada dua alasan. Pertama mudah untuk mengenali masalah-masalah yang
tampak, kedua perlu diingat bahwa semua orang menaruh perhatian yang besar
terhadap pengambilan keputusan dalam organisasi.
d. Membuat Pilihan
Untuk menghindari informasi yang terlalu padat, para pengambil keputusan
mengandalkan heuristic atau jalan pintas penilaian dalam pengambilan keputusan.
e. Perbedaan Individu: Gaya Pengambilan Keputusan
Riset tentang gaya pengambilan keputusan telah mengidentifikasi empat pendekatan
individual yang berbeda terhadap pengambilan keputusan. Pertama adalah cara
berpikir ada yang memang logis dan rasional sebaliknya ada orang yang intuitif dan
kreatif. Orang yang menggunakan gaya direktif memiliki toleransi yang rendah atas
ambiguitas dan mencari rasionalitas. Tipe analitis memiliki toleransi yang lebih
besar terhadap ambiguitas dibandingkan dengan mengambil keputusan yang direktif.
Konseptual cenderung menjadi sangat luas dalam pandangan mereka dan
mempertimbangkan banyak alternative sehingga orientasi mereka jangka panjang.
Kategori terakhir gaya perilaku yang dicirikan oleh pengambil keputusan yang dapat
bekerja baik dengan pihak lain.
f. Keterbatasan Organisasi
Organisasi itu sendiri merupakan penghambat bagi para pengambil keputusan, para
manajer misalnya membentuk keputusan untuk mencerminkan sistem penilaian
kinerja dan pemberian imbalan untuk memenuhi peraturan-peraturan formal dan
untuk memenuhi batas waktu yang ditetapkan organisasi.

3. Asumsi Keperilakuan Dalam Pengambilan Keputusan Organisasi


3.1 Perusahaan Sebagai Unit Pengambilan Keputusan
Perusahaan dapat dianggap unit pengambilan keputusan yang mirip dalam
banyak cara untuk individu. Masalah keputusan yang dihadapi perusahaan sangat
banyak dan gejala masalah dana alternatif yang paling jelas. Cybert dan March

4
menggambarkan 4 konsep dasar relasional sebagai inti dari pengambilan keputusan
bisnis yaitu:
a. Resolusi semu dari konflik
Teori keputusan klasik mengasumsikan bahwa konflik dapat diselesaikan
dengan menggunakan rasionalitas lokal.
b. Penghindaran ketidakpastian
Cyber dan March (1963) menemukan bahwa para pengambil keputusan dalam
organisasi sering kali menggunakan strategi yang kurang rumit ketika
berhadapan dengan risiko dan ketidakpastian. Schiff dan Lewin (1974)
menambahkan slack organisasi ke alat-alat yang digunakan untuk menghindari
ketidakpastian.
c. Pencarian masalah
Menurut Cybert dan March, pencarian masalah didefinisikan sebagai proses
menemukan suatu solusi atas suatu masalah tertentu atau sebagai suatu cara
untuk bereaksi terhadap suatu peluang.
d. Pembelajaran organisasi
Walaupun organisasi tidak mengalami proses pembelajaran seperti yang dialami
oleh individu, organisasi memperlihatkan perilaku adaptif dari karyawannya.

3.2 Manusia-Para Pengambil Keputusan Organisasional


Penting untuk diingat bahwa manusia yang mengenali, mendefinisikan
masalah atau peluang, yang mencari tindakan alternatif secara optimal dan
menerapkanya. Pengaturan organisasi di mana orang yang digunakan tergantung pada
jenis masalah keputusan atau oppurtinity yang ditemui.

3.3 Kekuatan dan Kelemahan Individu sebagai Pengambilan Keputusan


Rasionalitas manusia adalah sangat terbatas karena mereka hampir tidak
pernah memperoleh informasi yang penuh dan hanya mampu memproses informasi
yang tersedia secara berurutan. Batasan pengambilan keputusan yang rasional
bervariasi sesuai dengan:

5
a. Lingkup pengetahuan yang tersedia sehubungan dengan semua alternatif yang
mungkin dan konsekuensinya.
b. Gaya kognitif mereka dengan asumsi bahwa tidak ada satu gaya yang selalu
unggul karena dalam situasi masalah spesifik, lebih dari satu pendekatan dapat
menyebabkan hasil yang dapat diterima.
c. Struktur nilai mereka yang berubah.
d. Kecenderungan mereka untuk "memuaskan" daripada untuk melakukan
optimalisasi.

3.4 Peran Kelompok sebagai Pembuat Keputusan dan Pemecahan Masalah


1) Fenomena Pemikiran Kelompok
Pemikiran kelompok (group think) menggambarkan situasi dimana tekanan
untuk mematuhi mencegah anggota-anggota kelompok individual untuk
mempresentasikan ide atau pandangan yang tidak populer.
2) Fenomena Pergeseran yang Berisiko (Dampak Kelompok)
Pergeseran yang berisiko atau dampak kelompok, merupakan efek samping dari
interaksi manusia, ini dicirikan oleh kelompok yang lebih memilih alternatif
yang lebih agresif berisiko dibandingkan dengan apa yang mungkin oleh
individu-individu jika mereka bertindak sendiri.
3) Kesatuan Kelompok
Kesatuan kelompok didefinisikan sebagai tingkat dimana anggota-anggota
kelompok tertarik satu sama lain dan memiliki tujuan kelompok yang sama.
Dengan kesatuan yang kuat pada umumnya lebih efektif dalam pengambilan
keputusan dibandingkan dengan kelompok yang terdapat banyak konflik
internal dan kurangnya semangat kerja sesama anggotanya.

3.5 Pengambilan Keputusan dengan Kosensus versus Aturan Mayoritas


Kesepakatan dalam konteks pengambilan keputusan didefinisikan oleh Holder
(1972) sebagai “kesepakatan semua anggota kelompok dalam pengambilan
keputusan.” Dalam kebanyakan situasi, kesepakatan hanya bisa dicapai setelah

6
pertimbangan yang matang serta evaluasi yang kritis atas lebih atau kurangnya.
Pengambilan keputusan dengan kesepakatan membutuhkan lebih banyak waktu
dibandingkan dengan pengambilan keputusan dengan pengaturan mayoritas.

3.6 Kontroversi yang Disebabkan oleh Hubungan Atasan dan Bawahan


Ketika suatu tim yang akan mengambil keputusan terdiri atas atasan dan
bawahan, kontroversi tidak dapat dihindarkan. Atasan mempunyai akses terhadap
informasi yang berbeda, sehingga memiliki pendapat yang berbeda pula dibandingkan
dengan bawahannya. Kualitas dari pilihan keputusan akan sangat bergantung
bagaimana atasan menangani kontroversi tersebut. Atasan sebagai pemimpin memiliki
pilihan keperilakuan sebagai berikut:

a. Menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan sendiri dengan menggunakan


informasi yang tersedia pada saat itu.
b. Mendapatkan informasi yang diperlukan dari bawahan, kemudian informasi
tersebut digunakan untuk pengambilan keputusan terhadap masalah tersebut.
c. Menceritakan masalah tersebut dengan bawahan yang relevan secara pribadi,
mendapatkan ide-ide serta saran-saran mereka. Kemudian, ide dan saran-saran
tersebut dapat dipertimbangkan untuk digunakan atau tidak sehingga keputusan
dapat diambil.
d. Menceritakan masalah tersebut dengan bawahan secara kelompok, mendiskusikan
kelebihan dan kekurangan yang ada, kemudian mencoba untuk mencapai suatu
kesepakatan atau suatu solusi.
Masing-masing pilihan keperilakuan dapat mengarah kepada keputusan yang
memuaskan, tetapi riset yang menguji validitasnya menemukan bahwa metode
partisipasi unggul ketika kualitas dari keputusan tersebut penting dan penerimaan
serta implementasi yang dipaksakan bersifat meragukan.

3.7 Pengaruh Dasar Kekuasaan


Dalam pengambilan keputusan, seseorang dapat memengaruhi hasil keputusan
karena wewenang atau kekuasaan yang diberikan oleh organisasi. Elemen kekuasaan

7
yang paling sering disebutkan adalah kekuasaan posisi, kekuasaan keahlian,
kekuasaan sumber daya, atau kekuasaan politik.

3.8 Dampak dari Tekanan Waktu


Tekanan waktu menyebabkan para anggota kelompok menjadi lebih sering
setuju guna mencapai kesepakatan bersama. Seseorang lebih membatasi partisipasi
dalam proses pengambilan keputusan hanya pada relatif sedikit anggota dan lebih
menyukai aturan mayoritas. Tekanan waktu juga mendorong perilaku pengambilan
keputusan yang otokratis.

4. Pengambilan Keputusan oleh Pendatang Baru vs Oleh Pakar


Bouwman (1984) mengungkapkan sejumlah perbedaan yang menarik dalam
strategi dan pendekatan yang digunakan serta data spesifik yang dipilih oleh pakar dan
pendatang baru ketika mengambil keputusan berdasarkan informasi akuntansi atau
informasi keuangan lainnya. Pendatang baru cenderung mengumpulkan informasi tanpa
melakukan diskriminasi dan melihat apa yang terjadi. Sebaliknya, para pakar
mengumpulkan data secara diskriminatif guna menindaklanjuti observasi tertentu.
Untuk menggambarkan perbedaan dalam penggunaan data dibagi kedalam
kedalam tiga komponen:
a. Pengujian Informasi
Pengujian didefinisikan sebagai kegiatan menganalisis informasi yang disajikan dan
diseleksi untuk pertimbangan lebih lanjut, hanya informasi yang terlihat sangat
relevan terkait pengambilan keputusan itu yang harus dilaksanakan. Para pakar lebih
banyak mengandalkan aturan yang diperoleh berdasarkan pengalaman dibandingkan
dengan para pendatang baru dan mereka juga menguji data dari lebih banyak tahun.
b. Integrasi pengamatan dan temuan
Pada konteks ini integrasi melibatkan pengelompokkan atas pengamatan, baik
berdasarkan hubungan sebab akibat maupun bardasarkan komponen fungsional dari
perusahaan. Para pendatang baru menghubungkan pengamatan dan temuan yang
menjelaskan satu sama lain dan mengabaikan yang tidak. Sebaliknya para pakar

8
menempatkan penekanan khusus pada kontradiksi yang potensial dalam pengamatan
dan temuan sebagai alat untuk mendeteksi masalah yang mendasari.
c. Pertimbangan
Pertimbangan yang digunakan di sepanjang proses pengambilan keputusan yang
tampak lebih jelas dalam formulasi hipotesis, pengembangan petunjuk dalam
formulasi keputusan akhir, dan dalam penyusunan ringkasan temuan.

5. Peran Kepribadian dan Gaya Kognitif dalam Pengambilan Keputusan


Kepribadian mengacu pada sikap atau keyakinan individu, sementara gaya
kognitif mengacu pada cara atau metode dengan mana seseorang menerima, menyimpan,
memproses, serta meneruskan informasi. Dalam pengambilan keputusan, kepribadian
dan gaya kognitif saling berinteraksi dan mempengaruhi (menambah atau mengurangi)
dampak dari informasi akuntansi.

6. Peran Informasi Akuntansi dalam Pengambilan Keputusan


Keputusan manajemen mempengaruhi kejadian atau tindakan masa depan.
Sedangkan informasi akuntansi memfokuskan pada peristiwa-peristiwa dimasa lalu dan
tidak dengan sendirinya dapat mengubah kejadian atau dampaknya, kecuali jika hal itu
dilakukan melalui proses pengambilan keputusan dengan kejadian masa depan beserta
konsekuensinya ditentukan. Karena pengambilan keputusan dan informasi mengenai
hasil kinerja akuntansi fokus pada periode waktu yang berbeda, maka keduanya hanya
dihubungkan oleh fakta bahwa proses pengambilan keputusan menggunakan data
akuntansi tertentu yang dimodifikasi selain informasi nonkeuangan.

6.1. Data Akuntansi sebagai Stimuli dalam Pengenalan Masalah


Akuntansi dapat berfungsi sebagai stimuli dalam pengenalan masalah melalui
pelaporan deviasi kinerja aktual dari sasaran standar anggaran atau melalui
informasi kepada manajer bahwa mereka gagal mencapai target output atau laba
yang ditentukan sebelumnya. Ketika informasi akuntansi digunakan sebagai alat
pengenalan masalah, maka informasi tersebut juga digunakan sebagai dasar untuk

9
menentukan konsekuensi yang dapat dikuantifikasi atas tindakan alternatif yang
perlu dipertimbangkan lebih lanjut.

6.2. Dampak Data Akuntansi dalam Pilihan Keputusan


Bobot yang diberikan kepada informasi akuntansi dalam pilihan akhir sangat
bervariasi. Hal itu bergantung pada sejauh mana hal itu dipandang mengurangi
ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. Dua elemen lainnya yang
mempengaruhi keyakinan yang diberikan pada informasi akuntansi adalah
permintaan dan persaingan. Perusahaan yang menghadapi sedikit persaingan dan
memiliki permintaan yang tidak elastis akan lebih banyak bergantung pada data
biaya yang disediakan oleh sistem akuntansinya ketika membuat keputusan
mengenai pasar yang kompetitif.
Informasi akuntansi memainkan peran penting dalam keputusan jangka
pendek dibandingkan dalam keputusan yang melibatkan konsekuensi jangka
panjang, karena informasi akuntansi hanya mencerminkan biaya dan pendapatan
yang berkaitan dengan operasi sekarang.

6.3. Hipotesis Keperilakuan dari Dampak Data Akuntansi


Informasi akuntansi adalah salah satu input dalam model pengambilan
keputusan. Para pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai “ukuran yang
tidak sempurna” dengan kemungkinan besar bahwa nilai yang sesungguhnya akan
berbeda dengan nilai yang dilaporkan, karena kesalahan dan inakurasi dalam
proses pengukuran dan pelaporan tidak dapat dihindari. Tingkat pengaruh
informasi akuntansi juga bervariasi berdasarkan jenis pengambil keputusan. Burns
(1981) mengelompokkan pengambil keputusan kedalam tiga kelompok:
a. Para pembuat keputusan dalam perusahaan yang mengambil keputusan
mengenai operasi dan sistem akuntansi digunakan untuk menyusun laporan
(manajemen puncak).
b. Para pengambil keputusan dalam perusahaan yang hanya dapat membuat
keputusan mengenai operasi saja.

10
c. Mereka yang berada di luar perusahaan yang membuat keputusan mengenai
perusahaan tersebut yang dapat mempengaruhi lingkungan dan operasinya,
tetapi yang tidak memiliki kendali langsung atas operasi perusahaan.

6.4. Umpan Balik


Untuk memahami perubahan dalam metode akuntansi dan untuk
menyesuaikan aturan pengambilan keputusan sesuai dengan hal tersebut, maka
pengambil keputusan harus menerima informasi mengenai perubahan tersebut atau
memiliki umpan balik tidak langsung mengenai perubahan tersebut. Jika seseorang
mengabaikan dampak jangka pendek yang mungkin akibat selang waktu antara
perubahan dan indikasinya, maka kecil kemungkinannya bahwa tidak terdapat
umpan balik sama sekali.

6.5. Fiksasi Fungsional


Hal ini merupakan fenomena keperilakuan yang mengimplikasikan
ketidakmampuan di pihak pengguna informasi akuntansi untuk memahami apa
yang tersirat di balik label yang diberikan kepada suatu angka. Ketika mereka
menerima pendekatan pengukuran akuntansi sebagai alat untuk mengelola proses
pengambilan keputusan mereka, maka perilaku mereka jarang sekali akan
dipengaruhi oleh perubahan dalam metode akuntansi yang digunakan. Sebagai
suatu atribut dari pengambilan keputusan, fiksasi fungsional bervariasi tingkatnya
dari situasi yang satu ke situasi yang lain, namun tidak pernah tidak ada sama
sekali.

11
DAFTAR RUJUKAN

Ay, Haris. 2016. Aspek Keperilakuan pada Pengambil Keputusan dan Para Pengambil
Keputusan. http://mohayworld.blogspot.co.id/2016/12/aspek-keperilakuan-pada-
pengambilan.html. Diakses pada tanggal 1 April 2017.

Christanty, Made Puspita. 2015. Aspek Keperilakuan pada Pengambilan Keputusan dan Para
Pengambil Keputusan. http://thequeenparadise.blogspot.co.id/2015/05/aspek-
keperilakuan-pada-pengambilan.html. Diakses pada tanggal 1 April 2017.

Lubis, Arfan Ikhsan. 2011. Akuntansi Keperilakuan. Edisi ke 2. Jakarta: Salemba Empat.

Setiawan, Hendra. 2013. Aspek Keperilakuan pada Pengambilan Keputusan dan Para
Pengambil Keputusan. http://henrich27.blogspot.co.id/2013/01/aspek-keperilakuan-
pada-pengambilan.html. Diakses pada tanggal 1 April 2017.

12