Anda di halaman 1dari 7

PROPOSAL

PELAKSANAAN KEGIATAN PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG


THALASEMIA DI RUANGAN RAWAT INAP RINDU B RSUP HAM MEDAN
TAHUN 2018

OLEH:
KELOMPOK II

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
TAHUN 2018
PELAKSANAAN KEGIATAN PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG
THALASEMIA DI RUANGAN RAWAT INAP RINDU B RSUP HAM MEDAN
TAHUN 2018

A. Latar Belakang

Thalasemia pertama kali ditemukan di sekitar Laut Tengah oleh seorang dokter di
Detroit USA yang bernama Thomas B. Cooley pada tahun 1925. Ia menjumpai
anak-anak yang menderita anemia dengan pembesaran limpa setelah berusia 1
tahun. Selanjutnya, anemia ini dinamakan anemia splenic atau eritroblastosis atau
anemia mediteranean atau anemia Cooley sesuai dengan nama penemunya.

Thalasemia adalah penyakit keturunan terbanyak di dunia. Data WHO


menyebutkan 250 juta penduduk dunia (4,5%) membawa genetik Thalasemia.
Presentasi klinis Thalasemia di seluruh dunia mencapai 15 juta orang. Fakta ini
mendukung Thalasemia sebagai salah satu penyakit turunan yang terbanyak.1
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2006 sekitar 7%
penduduk dunia diduga carrier Thalasemia, dan sekitar 300.000-500.000 bayi
lahir dengan kelainan ini setiap tahunnya.

Thalasemia tidak hanya ditemukan di sekitar Laut Tengah, tetapi juga di Asia
Tenggara yang sering disebut sabuk Thalasemia (WHO, 2006).2 Menurut
penelitian Weatherall tahun 2001, prevalensi carrier Thalasemia α adalah 10-20%
di Afrika, 40% di Timur Tengah dan India, dan mencapai 80% d 2 Arabia yaitu
antara 1-15%. Sedangkan prevalensi carrier Thalasemia β di Asia berkisar antara
1-15% dengan perincian di Singapura 4%, Hong Kong 2,8%, Sri Lanka 2,2%, dan
India 3-17%. 4 Penelitian di Thailand pada tahun 2007 menyatakan bahwa
Thalasemia mempunyai prevalensi yang tinggi di Asia sehingga menyebabkan
masalah kesehatan masyarakat dan sosioekonomi.
Di Indonesia prevalensi sebagai pembawa Thalasemia α sebanyak 6-16% dan
Thalasemia β sebanyak 3-10%.5 Thalasemia International Federation (TIF) juga
memperkirakan 1.5% populasi global, yaitu sekitar 80-90 juta orang, membawa
Thalasemia β dengan insidens 60.000 kelahiran setiap tahun, terutama di negara-
negara berkembang. Laporan TIF juga menunjukkan bahwa hanya 200.000 pasien
penderita Thalasemia mayor yang masih bertahan hidup.6 Indonesia termasuk
dalam kelompok negara yang beresiko tinggi untuk penyakit Thalasemia.

Yayasan Thalasemia Indonesia menyebutkan bahwa setidaknya 100.000 anak


lahir di dunia dengan Thalasemia α. Di Indonesia sendiri, tidak kurang dari 1.000
anak kecil menderita penyakit ini. Penderita Thalasemia β jumlahnya mencapai
sekitar 200.000 orang. Angka kejadian carrier Thalasemia β di Indonesia sekitar 3-
5%, bahkan di beberapa daerah mencapai 10%. 2.500 bayi baru lahir diperkirakan
akan mengidap Thalasemia setiap tahunnya.

Prevalensi Thalasemia bawaan atau carrier di Indonesia adalah sekitar 3-8%.


Dengan angka kelahiran 23 per 1000 dari 240 juta penduduk Indonesia,
diperkirakan ada sekitar 5.520.000 bayi penderita Thalasemia yang lahir tiap
tahunnya. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan prevalensi
nasional Thalasemia di 3 Indonesia adalah 0,1%.8 Terdapat 6 provinsi yang
menunjukkan prevalensi Thalasemia lebih tinggi daripada prevalensi nasional.

Beberapa dari 6 provinsi itu antara lain adalah Aceh dengan prevalensi 13,4%,
Jakarta dengan prevalensi 12,3%, Sumatera Selatan dengan prevalensi 5,4%,
Sumatera Utara dengan prevalensi 3,71%, Gorontalo dengan prevalensi 3,1%, dan
Kepulauan Riau dengan prevalensi 3%.9 Menurut penelitian Ganie (2005),
Sumatera Utara khususnya di Medan, prevalensi Thalasemia α adalah 3.35%
sedangkan bagi Thalasemia β adalah 4.07%. Skrining donor darah yang dilakukan
di Medan juga menunjukkan prevalensi Thalasemia lebih dari 5%.1 Data yang
diperoleh dari rekam medik di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2004-2005
ditemukan penderita Thalasemia rawat inap sebanyak 35 orang, pada tahun 2006-
2008 sebanyak 120 orang, pada tahun 2009-2010 sebanyak 160 orang.

B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan tentang orangtua anak memahami management
penatalaksanaan anak dengan thalasemia.

b. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan:
1) Orangtua memahami defenisi thalasemia.
2) Orangtua memahami penyebab thalasemia.
3) Orangtua memahami tanda dan gejala thalasemia.
4) Orangtua memahami management penatalaksanaan anak dengan thalasemia.

c. Bentuk Kegiatan
1) Penyuluhan tentang thalasemia.
2) Ceramah

C. Pelaksanaan Kegiatan
a. Topik Kegiatan
- Management penatalaksanaan thalasemia..
b. Sasaran
- Orangtua anak yang berada di ruangan rawat inap Rindu B RSUP HAM
c. Metode
- Ceramah dan Diskusi
d. Strategi
- Penyaji memberi informasi.
- Fasilitator memfasilitasi jalannya peyuluhan.
e. Media/ Alat:
- LCD
- TOA dan Mikrofon
- Speaker
- Laptop
- Banner
- Leafled

f. Waktu/Tempat
Hari/tanggal :
Waktu :
Tempat : Ruangan rawat inap Rindu B RSUP HAM

g. Pengorganisasian waktu
No Kegiatan Waktu
1. Pembukaan dari protokol 5 Menit
2. Penyajian materi 15 Menit
3. Diskusi 10 Menit
4. Evaluasi 5 Menit

h. Susunan kepanitiaan
Ketua :
Sekretaris :
Penyaji :
Fasilitator :
Sie. Perlengkapan :
Dokumentasi :
Sie. Konsumsi :

i. Setting tempat

Keterangan :

: Penyaji

: Protokol

: Dokumentasi

: Fasilitator

: Orang Tua Anak


D. Kriteria Evaluasi
a) Evaluasi struktur
 Waktu pelaksanaan sudah ditentukan yaitu
Hari :
Waktu :
 Tempat : Ruangan Rindu B RSUP HAM
 Undangan disebarkan 1 hari sebelum kegiatan.
 Media dan alat sudah dipersiapkan.

b) Evaluasi proses
 100% Orangtua mengerti diadakannya penyuluhan.
 100% Orangtua aktif mengikuti kegiatan .
 100% Orangtua hadir dan menjalankan tugasnya masing-masing.
c) Evaluasi hasil
 Orangtua diharapkan mengerti tentang Thalasemia.