Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


IV.1 Hasil Pengamatan

Partisi Cair-Cair Evaporasi

IV.2 Perhitungan Rendamen


IV.2.1 Maserasi
Dik : Vol. Ekstrak kental = 36 g
Vol. Ekstrak cair = 1.210 mL

Dit : Rendamen?
Vol. Ekstrak kental
Peny : x 100%
Vol. ekstrak cair

36 g
x 100% = 2,9%
1.210 mL

IV.2.2 Perkolasi

Dik : Vol. Ekstrak kental = 16 g

Vol. Ekstrak cair = 290 mL

Dit : Rendamen?
Vol. Ekstrak kental
Peny : x 100%
Vol. ekstrak cair

16 g
x 100% = 24,6%
290 mL

IV.2.3 Refluks

Dik : Vol. Ekstrak kental = 1,1 g

Vol. Ekstrak cair = 140 mL


Dit : Rendamen?
Vol. Ekstrak kental
Peny : x 100%
Vol. ekstrak cair

1,1 g
x 100% = 1,4%
140 mL

IV.2.4 Soxhletasi

Dik : Vol. Ekstrak kental lapisan atas =1g

Vol. Ekstrak kental lapisan bawah = 2 g

Vol Ekstrak cair lapisan atas = 45 mL

Vol. Ekstrak cair lapisan bawah = 55 mL

Dit : Rendamen?
Vol. Ekstrak kental
Peny : x 100
Vol. ekstrak cair

1g
x 100% = 2,2% (lapisan atas)
45 mL

2g
x 100%= 3,6% (lapisan bawah)
55 mL

IV.2 Pembahasan
IV.2.1 Partisi Cair-Cair
Partisi cair-cair adalah metode corong pisah, dimana jika suatu
cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang telah dilakukan dalam cairan
lain yang tidak dapat bercampur dengan pertama dan terbentuk dua
lapisan. Hal tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang
dapat terlarut dalam air dan adapula senyawa yang dapat larut dalam
pelarut organik (Mirwan, 2013).
Prinsip kerja partisi cair cair adalah cara pemisahan komponen
kimia diantara 2 fase pelarut yag tidak saling bercampur. Dimana sebagian
komponen larut pada fase pertama, dan sebagian larut pada fase kedua.
Lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, dan didiamkan
sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan. Yakni fase
cair dan komponen kimia yang terpisah (Sudjadi, 1994).
Pada percobaan ini dilakukan ekstraksi dengan metode partisi cair-
cair untuk memisahkan senyawa yang bersifat polar dan non polar pada
sampel kayu manis (Cimommun burmani) yang sebelumnya telah
dilakukan proses ekstraksi dengan metode soxhletasi dan menggunakan
pelarut metanol. Dimana pelarut metanol berfungsi untuk melarutkan
senyawa-senyawa yang bersifat polar (Alfiandi, 2012).
Hal pertama yang kami lakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan
dan dilanjutkan dengan merangkai alat partisi cair cair. Alat yang kami
gunakan adalah corong pisah. Digunakannya corong pisah untuk
melakukan ekstraksi secara sederhana dengan dua pelarut yang tidak
saling bercampur (Febriyanti, 2004).
Hal selanjutnya yang kami lakukan yaitu memasukan 130 mL
ekstrak soxhletasi ke dalam corong pisah dan ditambahkan dengan n hexan
130 mL. Hal tersebut dilakukan agar terjadi pemisahan antar kedua fase
tersebut. Larutan metanol berfungsi untuk melarutkan senyawa-senyawa
yang bersifat polar, sedangkan n-heksan berfungsi untuk melarutkan
senyawa-senyawa yang bersifat non polar (Sudjadi, 1994).
Hal selanjutnya yaitu dikocok corong pisah. Dilakukan pengocokan
untuk memisahkan larutan organik dan non organik dimana terjadi
distribusi diantara kedua pelarut tersebut saat terjadi pengocokan larutan
(Malik, 2013).
Hal selanjutnya yakni didiamkan beberapa menit sampai terjadi
pemisahan. Dipindahkan bagian polar dan non polar ke dalam wadah gelas
kaca yang berbeda dan diberi label. Diukur berapa mL dari masing
masing. Didapatkan hasil ekstrak cair polar yaitu sebanyak 55 mL, dan
hasil ekstrak cair non polar sebanyak 45 mL.
IV.2.2 Evaporasi
DAFTAR PUSTAKA

Alfiandi, A.2012. Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: UNAIR Press

Febriyanti, N. 2004. Skrinning Fitokimia Ekstrak Metanol Kulit Buah. Surabaya:


Universitas Airlangga

Malik. 2013. Penuntun dan Buku Kerja Praktikum Fitokimia 1. Makassar: UMI

Mirwan, A. 2013. Keberlakuan model HB-GFT System n-heksana-mek-air pada


Ekstraksi Cair-Cair Kolom Isian. Banjarmasin: Universitas Lambung
Mangkurat

Sudjadi. 1994. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Kanisius