Anda di halaman 1dari 113

BAB I

BATIK, KEBIJAKAN TAK TERBATAS TERSIMPAN RAPI DALAM POLA


DAN MOTIFMU

Agar bisa dimengerti, kebudayaan harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk indrawi,


difungsikan, dan dimaknai secara spiritual. Makna budaya dapat membuka suatu cakrawala
bila manusia mampu menempatkan diri (grewes, Jawa). Salah satu wujud kebudayaan itu
adalah batik. Batik di Indonesia merupakan suatu keseluruhan teknik, teknologi, serta
pengembangan motif dan budaya yang terkait, yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai
Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi (Masterpieces of the Oral and
Intangible Heritage of Humanity) sejak Oktober 2009.
Berdasarkan etimologi dan terminologinya, batik merupakan rangkaian kata mbat dan
tik. Mbat dalam bahasa Jawa diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali,
sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi, membatik berarti melempar titik-titik berkali-kali
pada kain. Sehingga akhirnya bentuk-bentuk titik tersebut berhimpitan menjadi bentuk garis.
Menurut seni rupa, garis adalah kumpulan dari titik-titik. Selain itu, batik juga berasal dari
kata mbat yang merupakan kependekan dari kata membuat, sedangkan tik adalah titik. Ada
juga yang berpendapat bahwa batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa amba yang
bermakna menulis dan titik yang bermakna titik.
Batik selalu mengacu pada dua hal. Pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan
menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Teknik ini disebut wax-
resist dyeing. Kedua, batik adalah kain atau busana yang menggunakan motif-motif tertentu
yang memiliki kekhasan.
Batik menggunakan teknik tutup-celup yang sudah dikenal di berbagai belahan dunia,
bahkan hampir semuanya memakai istilah "batik". Batik Indonesia, terutama batik jawa
memiliki keunggulan pada desain dan komposisi warnanya yang sangat kaya. Karya itu
sudah diwujudkan secara turun-temurun sehingga menjadi tradisi masyarakat Indonesia.
Pelukis batik Amri Yahya mendefinisikan batik sebagai karya seni yang banyak
memanfaatkan unsur menggambar ornamen pada kain dengan proses tutup-celup maksudnya
mencoret dengan malam pada kain yang berisikan motif-motif ornamentatif. Di masa lalu,
karya seni yang ornamentatif ini dikatakan sebagai karya seni tulis karena sebagian batik
dibuat mirip dengan teknik menulis atau menyungging. Oleh karenanya, istilah batik itu
kurang lebih sejajar dengan seni tulis atau seni lukis atau seni sungging yang ornamentis.
Memang batik layak disebut sebagai karya tulis. Logika ini bermuara pada teknik
membatik dengan menggunakan canting yang dapat mengeluarkan cairan berupa malam dan
dikerjakan secara teliti seperti layaknya orang menulis. Istilah ini dapat juga bertumpu pada
istilah batik dalam krama inggil (bahasa Jawa halus), yaitu nyerat (membatik). Kemudian
istilah nyerat ini diterjemahkan menjadi tulis atau menulis dan lukis atau melukis. Jadi, batik
adalah seni lukis, hal ini terbukti dengan ditunjukkannya kemampuan seorang pembatik
melukiskan ornamen-ornamen (motif) pada batik yang penuh dengan simbol.
Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian
dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Kala itu, pola kerja tukang batik sangat
dipengaruhi oleh siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi,
mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka
sepenuhnya bekerja sebagai tukang batik. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, pekerja
batik tidak lagi didominasi para petani. Mereka berasal dari berbagai kalangan yang ingin
mencari nafkah. Hidup mereka sepenuhnya tergantung pada pekerjaan membatik.
Para perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan membatik sebagai
mata pencaharian sehingga pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan. Saat
ditemukan teknik membatik dengan cap, kaum laki-laki dimungkinkan masuk di bidang ini.
Misalnya, batik pesisir memiliki garis maskulin seperti yang terlihat pada corak
megamendung. Di wilayah ini, pekerjaan membatik merupakan hal yang lazim bagi kaum
lelaki.
Di sisi lain, menurut Linda Kaun, kata batik paling tidak memiliki tiga arti dan
konotasi. Bagi sebagian besar orang asing, batik adalah perbuatan yang aktual dan secara
fisik mendekorasi kain dengan malam, kemudian mewarnai kain tersebut Hal ini bisa
dilakukan dengan cara pencelupan atau aplikasi langsung. Kuncinya adalah malam. Kata
batik juga berlaku untuk hasil produksi yakni kain batik yang merupakan hasil dari tindakan
menggambar dengan malam dan mewarnai kain. Gambar itu pada akhirnya terpantul pada
sisi belakang kain.
Pelukis batik, Tulus Warsito mengungkapkan setidaknya ada dua pengertian tentang
batik. Pertama, batik merupakan teknik tutup-celup (resist technique) dalam pembentukan
gambar kain, menggunakan lilin sebagai perintang dan zat pewarna bersuhu dingin sebagai
bahan pewarna desain pada katun. Kedua, batik adalah sekumpulan desain yang sering
digunakan dalam pembatikan pada pengertian pertama tadi, yang kemudian berkembang
menjadi ciri khas desain tersendiri walaupun desain tersebut tidak lagi dibuat di atas katun
dan tidak lagi menggunakan lilin. Istilah "batik" bisa saja berarti satu desain tradisional
bernama kawung, tetapi bukan dibuat pada kain katun melainkan teknik cetak digital pada
kertas kado misalnya. Secara lebih sederhana, kita bisa menyebut bahwa batik bisa diartikan
sebagai 1) teknik (pembuatan desain pada kain), dan yang berikutnya adalah (2) sebagai
desain itu sendiri. Sebagai teknik, batik memerlukan media kain katun alam, lilin, atau media
lain sebagai perintang atau penghalang warna, dan zat pewarna. Sebagai desain, di Indonesia,
terutama Jawa, batik adalah merupakan motif-motif tradisional tertentu yang dipergunakan
pada hiasan kain.

SEJARAH BATIK

Di Indonesia, batik sudah ada sejak zaman Majapahit dan sangat populer pada abad
XVIII atau awal abad XIX. Sampai abad XX, semua batik yang dihasilkan adalah batik tulis.
Kemudian setelah perang dunia I, batik cap baru dikenal.
Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa tidaklah
tercatat. G.P Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari
India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7. Sehubungan dengan hal ini, Amri Yahya
berpendapat bahwa masih banyak kesimpangsiuran mengenai asal batik Indonesia, yang
diperkirakan berasal dari daratan India khususnya di sekitar pantai Koromandel dan Madura,
sebab di sana sudah dikenal teknik tutup-celup ini sejak beberapa abad sebelum Masehi.
Pendapat ini belum meyakinkan karena teknik batik tutup-celup yang digunakan India
berbeda dengan di Jawa. Keduanya memang menggunakan jenis alat yang hampir sama
bentuknya, misalnya di India menggunakan sejenis kuas atau jagul dan di Jawa pun
demikian. Akan tetapi, kalau dilihat dari segi penutupnya, jelas dua bentuk karya seni itu
tidak ada hubungannya sama sekali. Batik di Jawa menggunakan bahan lilin (wax) untuk
menutup dan ramuan dedaunan, seperti nila dan soga, untuk pewarnaan. Di samping itu,
teknik pewarnaan dengan celupan dan rendaman pun berbeda. Batik di India menggunakan
teknik tutup dengan jenangan kanji atau beras ketan, sehingga teknik pewarnaannya pasti
berbeda dengan yang ada di Jawa. Teknik rendam atau celup jelas tidak dapat dilaksanakan
mengingat bahan kanji akan luntur jika mengalami perendaman selama beberapa jam atau
hari.
Amri Yahya menambahkan bahwa sebagian ahli berpendapat bahwa batik berasal dari
daratan Cina. Kesaksian ini diperkuat dengan ditemukannya jenis batik dengan teknik tutup-
celup sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi. Batik yang ditemukan tersebut menggunakan
warna biru dan putih saja, dan sudah menggunakan teknik yang baik. Akan tetapi, artefak ini
belum dapat memberikan kesaksian yang murni dan dapat dipercaya karena terdapat
perbedaan alat serta bahan yang digunakan.
Dalam ensiklopedia Indonesia disebutkan, teknik batik diduga berasal dari India. Jadi,
diduga teknik ini dibawa oleh bangsa Hindu ke Jawa. Sebaliknya sebelum kedatangan bangsa
Hindu, teknik ini telah dikenal di Indonesia. Misalnya oleh suku Toraja di Sulawesi Tengah.
Mereka memakai hiasan-hiasan geometris yang juga terdapat pada batik-batik tua dari
priangan (simbut). Pada pembuatan simbut, ketan digunakan sebagai pengganti lilin.
Sedangkan sebilah bambu digunakan sebagai pengganti canting. Di bagian timur Indonesia,
teknik batik digunakan untuk menganyam tudung-tudung dari pandan atau bahan lainnya.
Asal mula batik tidak dapat dipastikan, tetapi perkembangan batik yang begitu pesat tidak
terdapat di mana pun juga selain di Indonesia.
Banyak daerah pusat perbatikan di Jawa adalah wilayah santri. Di daerah ini, batik
menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang muslim melawan
perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah
satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia. Memang pada awalnya batik dikerjakan hanya
terbatas dalam keraton. Hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga, serta para pengikutnya.
Batik yang masuk kalangan istana diklaim sebagai milik dalam benteng, orang lain tidak
boleh mempergunakannya. Sebagai contoh, peraturan yang dikemukakan oleh Sri Susuhunan
Pakubuwono III yang tertera pada tahun 1769 berbunyi sebagai berikut: "Ana dene kang
arupa jajarit kang kalebu ing larangangsun: batik sawat tan batik parang rusak, batik
cumangkiri kang calacap, modang, bangun-tulak, lenga-teleng, daragem lan tumpal. Anadene
batik cumangkirang ingkang acalacap lung-lungan utawa kekembangan, ingkang ingsun
kawenangaken anganggoha pepatih ingsun lati sentanaingsun, kawulaning wedana". Hal
inilah yang menyebabkan kekuasaan raja serta pola tata laku masyarakat dipakai sebagai
landasan penciptaan batik. Akhirnya, didapat konsepsi pengertian adanya batik klasik dan
batik tradisional. Penentuan ukuran klasik adalah hak prerogatif raja.
Walaupun ada larangan pemakaian batik motif tertentu, kerajaan juga memberikan
sugesti tinggi terhadap pemakai sinjangan batik. Misalnya, Raden Wijaya menganugerahkan
kain batik bermotif lancingan gringsing kepada punggawa terkemuka sebagai tanda derajat
kepadanya, yaitu derajat Senopati Agung. Istilah ini dihubungkan dengan perang mati-
matian. Kharisma raja dengan anugerah tersebut dapat memberikan semangat keperwiraan
yang tinggi. Dan di lain pihak, semangat tersebut merupakan dorongan yang kuat untuk
mengorbankan jiwa dan raga.
Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian
batik ini mereka bawa keluar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing. Akhirnya,
kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum
wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang
tadinya hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari
oleh wanita dan pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan
sendiri.
Sementara itu, bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli
Indonesia yang dibuat sendiri, antara lain pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sodanya
dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Bahan kainnya umumnya
berupa mori, sutra, katun, atau pun media lainnya.
Bahan lain yang biasa digunakan adalah malam atau lilin lebah. Dalam ensiklopedia
Indonesia disebutkan bahwa malam adalah hasil sekresi dari lebah madu dan jenis lebah
lainnya untuk keperluan tertentu tidak dapat digantikan dengan lilin buatan.
Pada awal keberadaannya, motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna,
yang bernuansa tradisional Jawa, Islami, Hinduisme, dan Budhisme. Dalam
perkembangannya, batik diperkaya oleh nuansa budaya lain seperti Cina dan Eropa modern.
Perkembangan batik dipengaruhi oleh Hinduisme, misalnya pada motif kawung.
Secara spesifik, Amri Yahya memandang bahwa secara sekilas memang ada hubungan antara
motif kawung yang dipakai oleh patung-patung Hindu pada sinjangan. Jika kita mau
menerawang lebih jauh, mestinya motif itu dipergunakan lebih dahulu pada sinjangan
sebelum dipahatkan pada patung.
Memang pada dasarnya jiwa batik adalah kelembutan, kedamaian, dan toleransi. Jiwa
batik bersedia membuka pintu bagi masuknya kebudayaan-kebudayaan lain yang justru
memperkaya pernak-pernik dalam kehidupannya. Itulah yang merupakan kedigdayaan
budaya batik sehingga mampu bertahan hidup dan berkembang hingga rambahannya secara
signifikan menembus batas-batas kedaerahan, menjadi identitas nasional, dan menjadi bagian
dari budaya dunia.
Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada masa silam, seni batik bukan sekadar
melatih keterampilan melukis dan sungging. Seni batik sesungguhnya sarat akan pendidikan
etika dan estetika bagi wanita zaman dulu. Selain itu, batik pun punya makna untuk menandai
peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa. Misalnya, batik corak truntum cocok
untuk upacara ijab atau midodareni. Sementara itu, motif grompol, semen rama, dan nagasari
cocok untuk pernikahan. Namun juga ada semacam larangan mengenakan kain parang rusak,
agar terhindar dari pernikahan yang rusak. Dengan menggunakan kain motif sidoluhur atau
sidomukti, para orang tua berharap anaknya nanti menjadi orang terpandang.
Nyai Kushardjanti mengungkapkan bahwa seni batik menjadi salah satu contoh bukti
dari kebenaran konsep Tro Kon, yakni teori tentang pengembangan budaya seperti yang
diutarakan Ki Hadjar Dewantoro bahwa pengembangan budaya yang berkesinambungan
harus keterbukaan terhadap budaya lain demi kesinambungan budaya itu sendiri dan agar
menyatu dengan budaya dunia, namun tetap harus konsentris pada budaya tradisionalnya,
agar tetap memiliki kepribadian di tengah-tengah budaya dunia. Senada dengan hal itu,
Josephine Komara, pendiri Bin House (dalam mandala-magazine.com) yang merupakan salah
satu penghasil batik terbaik dengan gerai toko yang tersebar sampai ke Singapura dan Jepang,
menandaskan, "Batik, yang dihasilkan di Indonesia, hanya dapat dihasilkan di Indonesia."
Kecintaan budaya batik terhadap kebinekaan merupakan refleksi dari sikap budaya
masyarakat Mataram-Surakarta-Yogyakarta. Di dalam budaya batik, hal tersebut tampak pada
pola-pola yang disusun dengan "seni mozaik" yang indah dari berbagai pola yang
menampilkan kebinekaan budaya, seperti pola-pola ceplokan, tambal, dan sekar jagad.
Meski dalam hal bentuk, fungsi, dan makna batik dapat dipilah-pilah, namun akan
terasa pincang bila membedah makna kreasi seni batik tanpa membedah juga bentuk-bentuk
simbolisnya. Dengan kaidah seni, bentuk itu menjadi motif atau pola-pola yang bermakna
simbolis filosofis.
Simbol adalah kreasi manusia untuk mengejawantahkan ekspresi dan gejala-gejala
alam dengan bentuk-bentuk bermakna, yang artinya dapat dipahami dan disetujui oleh
masyarakat tertentu. Manusia tidak dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya tanpa
simbol-simbol karena manusia sebagai makhluk budaya tidak dapat mengekspresikan jalan
pikiran atau penalarannya.
Motif batik tradisional dikatakan sebagai kreasi seni, dan masyarakat luas
mengakuinya. Nyi Kushardjanti mengatakan bahwa karya seni merupakan simpulan dari
berbagai ajaran tentang seni zaman Yunani Kuno hingga masa kini. Karya seni adalah suatu
kreasi yang melibatkan cipta, rasa, dan karsa manusia, merupakan pengejawantahan dari
ekspresi manusia menyangkut rasa, emosi, cita-cita, harapan, gagasan, khayalan, serta
pengalamannya, yang divisualisasikan pada suatu media, dengan keterampilan dalam bentuk-
bentuk berstruktur yang merupakan satu kesatuan yang organis, dengan menggunakan media
indrawi, sehingga dapat ditangkap dan ditanggapi oleh indera manusia sebagai suatu yang
bermakna bagi pencipta dan pengamatnya. Dalam hal batik tradisional, medianya adalah
kain.
Sementara itu, konsep filsafat yang diterapkan adalah filsafat sebagai seni bertanya
diri, yaitu usaha manusia untuk memperoleh pengertian dan pengetahuan tentang hidup
menyeluruh dengan mempergunakan kemampuan rasa dan karsanya.
Di dalam ilmu tentang keindahan seni (estetika), ide pelahiran bentuk-bentuk dalam
seni rupa adalah naturalis, intuitif, abstrak, abstraktif, arsitektoris, figuratif, dan filosofis
(Raharjo, 1986, dalam Haruisman, 2001: 137). Pelahiran bentuk pola/motif batik tradisional
yang termasuk seni rupa dwimatra yang bentuk-bentuknya terbina dari unsur titik, garis, dan
bidang. Ciri-cirinya antara lain adalah bentuknya abstrak, yakni bentuk natural (alami) ke
bentuk deformatif dengan teknik distorsi atau stilisasi. Selain itu, ada juga Bentuk figuratif
yang perubahannya disesuaikan dengan konsep-konsep dan pandangan hidup seseorang atau
bangsa. Konsepsi bangsa timur, termasuk Indonesia menghendaki simbolisme. Yang terakhir,
bentuk filosofis yang merupakan bentuk-bentuk simbolis yang diciptakan atas dasar falsafah
manusia yang bersifat kosmologis maupun falsafah kehidupan.
Menurut Amri Yahya, batik dalam konsepsi kejawen lebih banyak berisikan konsepsi-
konsepsi spiritual yang terwujud dalam bentuk simbolika filosofis. Maksudnya erat dengan
makna-makna yang simbolis, misalnya adalah motif gurda pada batik klasik atau tradisional.
Sinjangan (kain panjang) yang bermotif gurda ini sebenarnya bermula dari bentuk burung
garuda. Burung ini telah dipakai sebagai lambang pada masa purna Indonesia. Hal ini muncul
pada panji-panji sebagai lambang kendaraan menuju surga, misalnya pada candi-candi Dieng.
Sedangkan pada perkembangan Hindu selanjutnya, terutama di Jawa Timur, burung garuda
merupakan kendaraan dewa. Lalu, dapat disimpulkan bahwa motif gurda atau garuda ini pada
masa lalu digunakan oleh para priyagung keraton. Motif gurda ini berubah menjadi bentuk
sayap atau lar saat Islam masuk. Komposisi pengaturan dalam penebaran pada sinjangan pun
semakin terlihat bagus.
Pada pertengahan abad ke-17, di era Sultan Agung Hanyakrakusuma, bentuk-bentuk
motif batik diejawantahkan dengan cara yang sederhana dan dengan ukuran yang relatif besar
karena pada waktu itu belum ditemukan canting tulis, sebuah alat sederhana yang digunakan
untuk menorehkan lilin cair untuk mengekspresikan bentuk-bentuk yang rumit, kecil, dan
indah.
Awalnya, motif parang barong, kawung, dan tunggak semi ditampilkan dengan jegul
kecil, semacam kuas yang dibuat dari benang. Seni dekorasi kain tersebut disebut batik, yang
artinya menggambar hingga sekecil-kecilnya atau titik-titik. Dalam bahasa Jawa halus,
membatik juga disebut nyerat/menulis, sebab pada zaman dahulu huruf masih merupakan
gambar.
Usaha pengembangan seni batik dan penyebaran tekniknya dilakukan melalui
perdagangan yang dilakukan bangsa Portugal pada tahun 1519 dan Belanda di tahun 1603 ke
seluruh pelosok nusantara. Maka tak heran jika pada abad XVII dan XVIII banyak wanita di
Aceh dan Maluku menggunakan sinjangan yang berasal dari Jawa. Inilah yang menyebabkan
kaburnya titik pijak dari mana asal batik itu.

BATIK DALAM TANTANGAN MODERNITAS

Kemajuan teknologi produksi serta dinamika aspirasi konsumen dewasa ini telah
membuka berbagai kemungkinan baru bagi dunia pembuatan produk-produk tekstil sehingga
semakin meningkatkan keanekaragaman pada aspek-aspek fungsinya. Hal ini menempatkan
batik pada ajang persaingan yang semakin tajam dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Pembuatan batik di Indonesia menunjukkan suatu spektrum ungkapan rupa yang amat
beraneka ragam karena kain tersebut sejak dahulu telah menjadi salah satu ungkapan budaya
yang terpenting dari masyarakat Jawa, terutama dalam konteks adati, misalnya sebagai
busana serta perangkat pendukung upacara. Batik juga menjadi komoditas dalam bentuk
bahan dasar untuk beraneka ragam kebutuhan masa kini seperti fashion, elemen pelengkap
interior, dan lain-lain. la diusahakan untuk tampil mengikuti kecenderungan mode.
Selama lebih dari 150 tahun terakhir, produksi batik terlibat dengan berbagai
perkembangan gagasan, baik pada aspek estetis, teknologi, maupun fungsionalnya.
Eksistensinya juga tidak hanya terbatas sebagai sebuah entitas lokal (pribumi), tetapi juga
merambah ke dalam ruang kehidupan para pendatang. Bangsa-bangsa Arab, Cina, dan
Belanda ikut menjadikannya sebagai produk budaya dalam gayanya masing-masing.
Kesemuanya menunjukkan suatu tradisi dari sebuah produk kebudayaan Indonesia yang tidak
statis, melainkan senantiasa berada dalam dinamika sesuai dengan perkembangan lingkungan
dan semangat zaman, sebagai suatu bentuk dari integrasi tradisi dengan modernitas. Namun
tidak berarti perkembangan batik ke dalam ruang-ruang tekstil modern bebas masalah.
Sebagai sebuah cabang seni, batik Indonesia, khususnya buatan masyarakat Jawa, memang
sudah memperoleh pengakuan para pakar dan pengagumnya dari mancanegara, baik dari segi
pencorakan maupun tekniknya. Batik diakui sebagai sebuah ungkapan budaya tradisi, sebuah
seni asli bangsa Indonesia yang unggul. Dan seiring perkembangan waktu, batik telah
melahirkan sebuah karakter khas, yang kemudian menyebabkan timbulnya beberapa masalah
Karena karakter yang sangat khas tersebut, batik tidak cukup hanya disebut sebagai
seni tapi juga mengalami kategorisasi ketat dalam aspek estetik dan teknisnya. Bentuk-bentuk
corak dan pencorakan yang bukan mencerminkan kekhasan daerah yang secara tradisional
dikenal sebagai pusat pembatikan sulit memperoleh pengakuan sebagai batik (kalau tidak
ingin disebut sebagai bukan batik), walaupun secara teknis ia melalui proses batik.
Daerah yang tidak memiliki sejarah batik, walaupun bersungguh-sungguh membuat
batik tidak mudah diakui produk batiknya selain oleh masyarakat daerah tersebut. Sebagian
besar produk tersebut dinamakan batik, lengkap dengan embel-embel nama daerah di
belakangnya, seperti batik jambi, batik papua, batik betawi, dan sebagainya, meniru
penamaan batik tradisional Jawa yang sudah punya nama besar seperti batik yogya, batik
solo, batik pekalongan, batik cirebon, dan lain-lain. Sekalipun demikian, mereka tetap belum
dianggap sebagai anggota lingkaran dalam keluarga besar batik jawa dan madura. Ini terasa
dan tampak jelas pada berbagai pameran kerajinan dan batik seperti Inacraft, Indocraft,
Adwastra, dan lain sebagainya di mana batik luar Jawa termarginalisasi. Sebaliknya,
walaupun coraknya menunjukkan kekhasan batik, tapi kalau tekniknya tidak batik, printing,
atau tenunan, maka ia disebut kain bermotif batik. Sebuah sikap protektif yang memiliki
kekuatan namun sekaligus juga kelemahan. Kekuatan dari sikap ini adalah tumbuhnya daya
tahan yang besar bagi kekhasan pada aspek estetik formal batik, khususnya pada kualitas
tampilan motif dan detailnya yang amat rumit, pada konfigurasi pencorakannya yang
menyebar memenuhi segenap pelosok kain tanpa menyisakan bidang kosong, dan pada
berbagai simbolisme, pemaknaan serta mitos yang berada di baliknya. Sebuah kekhasan yang
sedemikian teguh diyakini para pembuatnya dari dulu hingga dewasa ini sehingga
menumbuhkan stigma bahwa batik memiliki corak yang rumit, penuh detail halus dan amat
ramai tampilannya, penuh dengan makna simbolik dan tabu, kuno dalam arti motif-motifnya
tidak mengalami perkembangan berarti bila dibandingkan kebebasan ungkapan rupa tekstil
modern, serta merupakan pusaka bangsa yang tidak bisa diubah. Kesemua itu sah-sah saja
apabila batik tetap ingin dipertahankan dan dilihat sebagaimana semangat zaman masa lalu
mengharuskannya. Ternyata kemudian tidak begitu kemauannya.
Batik juga ingin dijadikan sebuah produk yang mengikuti dinamika selera modern. Ia
ingin ditempatkan sejajar dengan kain-kain modern lainnya yang ikut dan telah berhasil
dalam percaturan selera internasional masa kini, katakanlah selera fashion internasional,
namun dengan modal pencorakan khas dan stigmatis tersebut Di sinilah batik harus
berhadapan dengan berbagai tuntutan masa kini yang seringkali tidak sejalan atau bahkan
berlawanan dengan stigma tersebut, khususnya kalau memperbincangkan kebutuhan kain
untuk fashion atau perangkat interior.
Bentuk dan gaya corak kain masa kini memiliki kemungkinan gagasan yang tidak
terbatas, bersifat dekoratif sekuler ketimbang simbolis spiritual, serta amat dinamis siklus-
siklus pergantiannya. Kebutuhan terhadap kain bercorak tidak selalu memerlukan corak
dengan latar belakang budaya tertentu seperti batik dengan segenap kekhasannya itu. Benar,
percorakan tekstil juga tidak hanya berorientasi pada kesederhanaan bentuk dan warna motif,
tetapi juga tidak terlalu memerlukan corak sebagaimana ditunjukkan batik. Bukan itu saja,
selain harus tanggap terhadap dinamika bentuk dan gaya, stigma tersebut juga harus bisa
menjawab pertanyaan perenial tentang efisiensi dalam segala bentuknya, termasuk efisiensi
produksi sebagai hal yang paling esensial dalam persaingan perebutan pasar (hal yang
sebenarnya sudah terjadi pada batik sejak pertengahan abad XIX ketika cap dan zat pewarna
sintetis mulai diterapkan padanya). Kerumitan dan detail yang kaya khas batik memang
memiliki daya pesona tersendiri tapi sulit menjawab tantangan efisiensi produksi, hal yang
pada gilirannya menunjuk pada keterjangkauannya, baik secara ekonomi maupun sosial.
Pada konteks bahan baku, zat pewarna alam yang pernah menjadi elemen utama
dalam batik kini sedang naik daun kembali. Zat pewarna alam memang punya pesona serta
potensi ekonomi tersendiri walaupun terbatas. Menurut Biranul Anas, populeritasnya tidak
mendorong perekonomian masyarakat luas, apalagi perekonomian nasional, melainkan
terbatas mendorong perolehan ekonomi para pengusaha zat tersebut dan para pengusaha
batik. Di samping itu, zat pewarna alam ternyata juga tidak menyebabkan batik menjadi lebih
terjangkau secara ekonomis. Akibatnya mudah diduga, batik hanya menjadi konsumsi
kalangan berada. Padahal kalau mau merebut pangsa pasar atau pasar masa kini yang identik
dengan istilah in fashion, salah satu filosofinya adalah sebuah produk harus meluas
digunakan masyarakat Untuk itu, produk tersebut harus bersifat demokratis, artinya tersebar
dan digunakan oleh masyarakat luas karena keterjangkauannya secara ekonomi. Lagipula
potensi dan pesona sebuah substansi bukan monopoli zat warna tertentu, melainkan juga
kadar keahlian dalam perancangan/desain tekstil dan keahlian yang sejauh ini telah
mengalami pelecehan akut.

APA, BAGAIMANA, DAN MENGAPA BATIK DIKEMBANGKAN

Terdapat setidaknya tiga hal dasar yang harus diketahui dalam pengembangan kain-
kain tradisional menjadi produk masa kini atau tekstil modern. Pertama, faktor apa yang mau
dikembangkan. Ini merujuk pada diperlukannya pengetahuan berbagai segi tentang produksi
tekstil pada kedua konteks tersebut sebagai sebuah keniscayaan. Kedua, faktor bagaimana
pengembangannya, yang erat kaitannya dengan kemampuan daya cipta (kreativitas). Ketiga,
tujuan atau peruntukan pengembangan tersebut, yang menyangkut fungsi produk yang telah
dikembangkan. Agar dapat memperoleh hasil maksimal, ketiganya harus dipahami serta
dilaksanakan secara terintegrasi.
Faktor pertama adalah mengenai apa yang mau dikembangkan. Konteks pembahasan
ini menyangkut pada aspek estetika formal, lebih jelas lagi sifat corak dan pencorakan. Ini
diperlukan untuk bisa mengetahui serta memahami sejauh apa potensi yang terkandung
dalam produk tekstil tradisional yang dapat dimanfaatkan serta disesuaikan dengan
persyaratan tekstil modern. Tekstil tradisional dan tekstil modern masing-masing tumbuh dari
kebutuhan budaya internal (adat istiadat dan alam spiritual) masyarakat, sedangkan tekstil
modern tumbuh dari paham fungsionalisme yang dikendalikan oleh pasar eksternal,
singkatnya paham komersialisme.
Secara garis besar, ada dua aspek perupaan jenis, yaitu tekstil tradisional dan tekstil
modern. Tekstil tradisional memiliki bentuk dan gaya figuratif dengan corak stilisasi dari
flora, fauna, dan manusia; bersifat sederhana dalam konsep konfigurasi pencorakan, yakni
umumnya menggunakan pola simetris; pencorakan dengan komposisi tertutup; tata letak
corak cenderung menutup seluruh bidang kerja; corak umumnya bersifat simbolik spiritual;
dan corak dibuat dalam lingkup fungsi-fungsi adati. Sedangkan tekstil modern disebabkan
oleh perubahan nilai dalam masyarakat yang merupakan salah satu aspirasi konsumen
terhadap barang-barang kebutuhan hidup.
Secara umum dapat dikatakan bahwa tekstil modern cenderung tampil dalam variasi
bentuk dan gaya yang amat luas dan bebas, yang dikendalikan oleh perkembangan berbagai
konsep di bidang seni dan kendali pasar eksternal; konsep konfigurasi pencorakan beragam;
pencorakan dalam berbagai komposisi; tata letak corak bebas; corak bersifat dekoratif
sekuler; serta corak berorientasi pada fungsi-fungsi sesuai dengan keperluan dan tuntutan
masyarakat modern, yakni untuk bermacam-macam kebutuhan baru berikut spesifikasi teknis
dan estetiknya masing-masing yang secara khusus dapat dirancang sesuai kebutuhan.
Selain mengetahui perbedaan sifat corak antara kedua jenis tekstil tersebut, juga
diperlukan pengetahuan tentang perbedaan sifat teknologi produksi dan ketersediaan kualitas
atau jenis-jenis bahan antar keduanya. Tekstil tradisional umumnya terbentuk oleh teknologi
produksi dan bahan baku tradisional berdasarkan aturan adat. Pembuatannya melibatkan
kekuatan fisik manusia yang tinggi (umumnya buatan tangan) dan bergantung pada sumber-
sumber daya alam lingkungan daerah pembuatannya.
Tekstil tradisional umumnya juga hadir dalam kualitas dan fungsi terbatas, sesuai
dengan kekuatan adat. Berbeda dengan itu, tekstil modern terbentuk dari teknologi produksi
dan bahan baku yang menekankan efisiensi, baik dalam keterlibatan fisik manusia di berbagai
sektor produksinya maupun proses dan teknologi produksi. Tekstil modern juga tidak
tergantung pada bahan baku alami semata. la juga bersifat diversifikatif, hadir dalam berbagai
pilihan jenis/ kualitas teknis dan fungsi akibat dari resiprokalitas antara perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan aspirasi pasar eksternal. Oleh sebab itu, produksi tekstil modern
bertumpu pada pengetahuan tentang modernitas dalam segala aspeknya, yakni estetika,
teknologi produksi, bahan baku, fungsi, serta kemampuan untuk tanggap terhadap dinamika
pasar eksternal.
Teknologi produksi dan bahan baku tekstil dewasa ini mampu menawarkan varian
produk yang amat luas dan beragam. Berbagai jenis serat alam dan buatan (sintetis) serta
beragam dimensi kain berdasarkan aneka teknik tenun, rajut, sulam, dan kempa berikut
keistimewaannya masing-masing telah diproduksi dan hadir di antara kita. Demikian pula
halnya dengan teknologi pewarnaan yang telah mengetengahkan berbagai cara dan kualitas
pencelupan kain dan pencetakan ragam hias dalam zat-zat pewarna dengan daya tahan
unggul. Kemudian juga teknologi proses-proses penyempurnaan (finishing) tekstil karena
besar peranannya dalam peningkatan kualitas struktural dan perwajahan kain sehubungan
dengan fungsinya. Dari sudut kefungsiannya, sebagai mana telah disebutkan, tekstil masa kini
berada dalam tingkat pendayagunaan yang tinggi. Banyak sekali kebutuhan hidup yang baru
hadir dalam bentuk tekstil berikut spesifikasinya masing-masing. Kini kita semakin banyak
mendengar tentang tekstil untuk interior, perlengkapan rumah tangga dan olah raga, di
samping fungsinya sebagai salah satu bahan busana yang juga sudah beraneka ragam.
Batik hadir dalam variasi corak yang beragam dan khas sesuai daerah pembuatannya
masing-masing. Pernyataan-pernyataan seperti itu dapat membangkitkan gairah dan mungkin
sedikit fanatisme budaya, namun tidak cukup sebagai sebuah pengetahuan, khususnya
pengetahuan yang menjadi basis dari semua tindak lanjut pengembangan corak batik. Oleh
sebab itu, seluruh proses penggalian kekayaan corak batik, dalam berbagai tujuan dan arah
pengembangannya seperti modifikasi atau diversifikasi, semestinya bertolak dari
pengetahuan tentang segenap aspek produk batik terlebih dahulu, baik teknis (bahan, proses,
dimensi), estetis, fungsional, maupun historis. Hal ini berguna untuk dapat mengetahui
potensi juga kelemahannya yang dapat digunakan sebagai instrumen strategis bagi
pengembangannya, karena produk batik dapat saja dikembangkan hanya berdasarkan salah
satu, atau sebagian atau semua aspeknya sekaligus, khususnya pada aspek teknis, estetis, dan
fungsional.
Tidak seorang pun menyangkal bahwa inovasi berperan penting. Akan tetapi,
sebagaimana batik melangkah menuju dunia mode masa kini, kita juga tidak dapat
menyangkal bahwa keinginan agar nilai-nilai tradisional yang terkandung didalamnya tidak
hilang.
Industri batik bisa tetap hidup karena kebebasan artistik para seniman atau perajinnya.
Hal ini didukung oleh peminat batik yang semakin meningkat baik batik yang dibuat oleh
para perancang busana, high fashion, hingga batik garmen. Jika awalnya batik hanya didesain
berupa kemeja dan daster, saat ini telah berkembang menjadi busana muslim dan baju santai
untuk remaja dan anak-anak. Sedangkan untuk kalangan muda, batik biasanya dipakai
sebagai baju kasual, bisa dipakai sehari-hari dengan corak warna dan desain motif yang
sesuai mode terkini. Bahannya pun disesuaikan dengan minat mereka, misalnya stretch, lycra,
dan katun. Pengembangan aplikasi batik lainnya antara lain berupa tas, aksesori, dan selop.
Selain itu, pola motif batik juga dimodifikasi dengan tetap menggunakan konsep batik
tradisional yang dipadukan dengan motif batik kreasi. Misalnya, menggabungkan motif-
motifnya dengan desain batik belanda yang bergaya individual, cina yang berornamen
oriental, atau arab yang bernuansa Islami, karena mempunyai latar belakang sejarah batik
klasik yang hampir serupa. Atau pun olahan desainnya digabung dengan motif-motif cirebon,
pekalongan, kudus, dan demakyang berwarna cerah dan pastel.
BAB 2
PROSES PEMBUATAN BATIK

Menurut prosesnya, batik dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu batik tulis, batik cap,
dan kombinasi antara batik tulis dan cap. Selanjutnya sesuai dengan perkembangan teknologi
dan menghindari lamanya proses produksi batik, digunakan screen printing agar dapat
diproduksi dengan cepat. Walaupun begitu, produk ini tidak bisa digolongkan sebagai suatu
batik tetapi dinamakan tekstil motif batik atau batik printing.
Dengan perkembangan material dan teknologi, perkembangan batik pun menjadi
sangat beragam, seperti batik tulis halus dan kasar, batik cap, sablon (screening), dan
printing, atau kombinasi dari proses-proses tersebut. Biasanya bahan dasarnya adalah katun
(mori), sutra, rayon, poliester, dan hasil tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).
Sedangkan bahan kain batik lainnya adalah serat alam. Kain dari serat nanas dan
batang pisang antara lain terdapat di daerah Jepara dan Pemalang, Jawa Tengah. Sementara
kain dari serat anggrek yang berasal dari Kalimantan Timur disebut ulap doyo. Ada juga serat
daun rotan yang dibuat oleh masyarakat Badui Dalam di Banten. Kain berbahan serat alam
diolah dengan cara batik. Motifnya cenderung kontemporer. Kemudian, kain batik tersebut
dibuat aneka produk interior rumah. Serat alam juga dibuat untuk kain panjang dan selendang
atau scarf. Ada yang dibuat menjadi baju untuk pria dan wanita. Selain ramah lingkungan,
bahan kain dari serat alam nyaman untuk dipakai.

BATIK TULIS

Batik tulis dikerjakan dengan menggunakan canting. Canting merupakan alat yang
terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik). Ujungnya berupa
saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam yang digunakan untuk membentuk gambar pada
permukaan bahan yang akan dibatik. Pengerjaan batik tulis dibagi menjadi dua, yaitu batik
tulis halus dan batik tulis kasar.
Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangannya yang jelas, sehingga
gambar lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan
batik cap. Gambar batik tulis tampak rata pada kedua sisi kain (tembus bolak-balik),
khususnya bagi batik tulis halus.
Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan
motif (batik tulis putihan/tembokan). Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada
lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik
cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara satu gambar dengan gambar lainnya.
Mencorak batik berkualitas adalah pekerjaan yang memakan waktu. Batik tulis
memiliki ratusan corak yang mesti digambar dengan tangan pada secarik kain dengan
menggunakan lilin cair dan alat gambar berupa canting.
Kain kemudian diberi warna sehingga corak yang tergambar akan muncul pada sisi
belakang kain. Pada tahap akhir, lilin kemudian akan dikupas. Sesuai dengan tingkat
kerumitan desain, proses ini dapat diulang sebanyak 20 kali, dengan tenggang waktu satu hari
untuk mengeringkan kain. Proses ini sama seperti melukis, sehingga hasil lukisannya tidak
akan sama.
Batik tulis bukan sekadar pekerjaan tukang, akan tetapi merupakan energi kreatif yang
menyatukan tangan, hati, dan pikiran untuk memahami malam, canting, bagaimana cara
menyapukan malam panas di atas kain dan melihatnya meresap, dan menciptakan semua efek
yang berbeda. Semuanya memerlukan tangan yang sangat terampil dengan banyak praktik
supaya bisa melakukannya dengan baik. Hal itu merupakan bagian yang bersifat meditatif
dari keseluruhan proses. Mengalir dengan garis malam, mendapatkan ritme yang tepat, tidak
terlalu cepat, tidak terlalu pelan, dengan temperatur malam yang tepat.
Saat ini banyak sekali orang yang telah mampu membeli batik berkualitas, suatu
gambaran semakin banyaknya masyarakat Indonesia dengan keadaan ekonomi yang cukup
baik. Selain itu, kewajiban mengenakan batik pada hari-hari tertentu menyebabkan
permintaan akan batik semakin meningkat.
Batik tulis, sebagai batik dengan kualitas tinggi, memiliki segmen pasar tersendiri.
Harga jual batik tulis relatif mahal karena kualitasnya lebih bagus, mewah, dan unik. Nilai
estetika Indonesia yang mengandung arti batik tulis versi Jawa tidak dapat diproduksi di
mana pun selain di Indonesia. Tidak mengherankan untuk memproduksi sepotong kain batik
tulis halus dibutuhkan empat bulan. Tetapi untuk menyelesaikan batik tulis kasar dengan
motif sederhana, diperlukan waktu hanya satu minggu.

BATIK CAP

Batik cap adalah kain yang dihias dengan motif atau corak batik dengan
menggunakan media canting cap. Canting cap adalah suatu alat dari tembaga di mana
terdapat desain suatu motif.
Permintaan akan batik cap didorong oleh banyaknya permintaan akan batik.
Permintaan ini direspons oleh pengusaha batik dengan membuat cap mengingat pembuatan
batik tulis memerlukan waktu yang relatif lama. Sekitar pertengahan abad ke-19, canting cap
(biasanya disebut hanya cap saja) mulai dikembangkan.
Dalam buku Batik Belanda 1840-1940 disebutkan bahwa Raffles pernah
menggunakan kayu sebagai bahan cap guna mengaplikasikan pewarna tumbuhan pada kain
katun untuk membuat tiruan palempore India di Jawa. Sayangnya warnanya tidak bertahan
lama. Sementara itu menurut Soerachman, cap dari bahan yang berbeda digunakan untuk
menggambar kain dengan malam. Aslinya, masyarakat membuat cap dari ketela rambat
(Ipomoea batata). Motif batiknya diukir pada permukaan ketela yang lebar. Cap ini kemudian
dikeringkan dan digunakan untuk mengecap. Sayangnya, cap ini tidak bertahan lama dan
hasil corak batik dengan menggunakan malam tampak kurang menarik. Penggunaan kayu
sebagai cap ternyata kurang bagus untuk mengaplikasikan malam pada kain. Ada juga kayu
yang diberi paku-paku dari baja. Jenis cap ini lebih diprioritaskan untuk membuat pola nitik
yaitu berupa titik-titik dan kotak-kotak kecil.
Cap merupakan sebuah alat berbentuk semacam stempel besar yang telah digambar
pola batik. Pada umumnya, pola pada canting cap ini dibentuk dari bahan dasar tembaga,
tetapi ada pula yang dikombinasikan dengan besi. Dari jenis produksi batik cap ini, pembatik
bisa menghemat tenaga dan tak perlu menggambar pola atau desain di atas kain.
Batik cap juga mengalami perkembangan, dengan dikenalnya cap kayu. Cap yang
terbuat dari kayu ini lebih ekonomis dan lebih mudah pembuatannnya. Pola pada kayu diukir
dan dibentuk seperti stempel sama halnya dengan cap tembaga. Batik menggunakan cap kayu
ini dapat dibedakan dari cap tembaga karena kayu tidak menghantarkan panas sebaik
tembaga sehingga malam (lilin) yang menempel pada kayu lebih tipis, dan hasil
pengecapannya yang terbentuk pun memiliki kekhasan tersendiri, biasanya terdapat sedikit
warna yang meresap pada batik karena lilin yang menempel terlalu tipis, sehingga terlihat
gradasi warna pada pola antara pinggir motif dan tengahnya.
Cap yang masih digunakan hingga saat ini terbuat dari tembaga. Diperkirakan
pertama kali cap dari tembaga dibuat pada tahun 1845. Dahulu, cap ini sangat kecil dengan
besar yang tidak lebih dari 10x10 cm. Setiap pola batik memerlukan cap yang berbeda
sehingga memerlukan biaya yang relatif mahal untuk membuat capnya.
Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar 20x20 cm,
dibutuhkan waktu rata-rata dua minggu. Adapun batik cap merupakan jenis batik yang lebih
murah, di mana corak tidak dilukis tetapi disablon secara manual. Saat ini, mesin canggih
semakin mempermudah proses pembuatan batik di mana mesin mencetak corak pada kain
(biasanya kain poliester atau rayon) secara massal yang kemudian melahirkan sebutan batik
cetak.
Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu mengalami pengulangan yang jelas,
sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif
relatif besar dibandingkan dengan batik tulis. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada
kedua sisi kain. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada
goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar
motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Dengan
demikian waktu produksi lebih cepat dan harga jual lebih murah. Waktu yang dibutuhkan
untuk sehelai kain batik cap berkisar 1-3 minggu.
Untuk membuat batik cap dengan beragam motif, maka diperlukan banyak cap,
sementara harga cap batik relatif lebih mahal daripada canting. Jangka waktu pemakaian cap
batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 hingga 10 tahun. Harga jual batik cap relatif
lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, karena biasanya jumlahnya banyak dan
memiliki kesamaan satu dan lainnya sehingga kurang unik, tidak istimewa, dan kurang
eksklusif.

BATIK TULIS DAN CAP

Proses pembuatan batik dapat dilakukan dengan menggunakan perpaduan antara


screen printing (sablon) atau memakai cap dengan malam atau lilin. Caranya, bed warna
pertama dengan menggunakan screen printing atau cap, kemudian tutup sebagian motifnya
dengan canting tulis. Setelah itu, lilin pertama dilekatkan dengan screen printing dan
dilanjutkan dengan proses pencelupan atau pewarnaan.

Batik Printing
Rahardi Ramelan menyatakan bahwa di era 1990-an dunia batik dilanda pengaruh
munculnya "batik" printing atau tekstil dengan motif batik. Akibatnya, banyak pengrajin
batik tulis dan cap mengurangi kegiatannya atau pun menutup perusahaannya. Keadaan ini
diperparah dengan krisis ekonomi tahun 1997/1998. Batik printing terus berkembang
menggerogoti pasar batik tradisional seiring dengan banyaknya permintaan, khususnya untuk
bisnis jual beli di Bali. Sampai saat ini pun produksi batik printing ini jumlahnya lebih
banyak dibandingkan batik cap dan batik tulis.
Teknik pembuatan batik printing relatif sama dengan produksi sablon, yaitu
menggunakan klise (kasa) untuk mencetak motif batik di atas kain. Proses pewarnaannya
sama dengan proses pembuatan tekstil biasa yaitu dengan menggunakan pasta yang telah
dicampur pewarna sesuai keinginan, kemudian dicetak sesuai motif yang telah dibuat. Jenis
batik ini dapat diproduksi dalam jumlah besar karena tidak melalui proses penempelan lilin
dan pencelupan seperti batik pada umumnya, hanya saja motif yang dibuat adalah motif
batik. Batik ini dapat dikerjakan secara manual atau pun menggunakan mesin. Oleh karena
itu, batik printing merupakan salah satu jenis batik yang fenomenal, kemunculannya
dipertanyakan oleh beberapa seniman dan pengrajin batik karena dianggap merusak tatanan
dalam seni batik, sehingga mereka lebih suka menyebutnya kain bermotif batik.
Secara kasat mata, kita dapat membedakan batik printing dan batik tulis atau cap
dengan melihat permukaan di balik kain. Biasanya warna kain batik printing tidak meresap ke
seluruh serat kain dan hanya menempel pada permukaan kain, sehingga kain di baliknya
masih terlihat sedikit berwarna putih. Belakangan muncul perkembangan baru pada batik
printing dengan adanya metode print malam. Metode ini dapat dikatakan merupakan
perpaduan antara sablon dan batik. Pada print malam, materi yang dicetak pada kain adalah
malam (lilin) dan bukan pasta seperti batik printing konvensional. Setelah malam menempel,
kemudian kain tersebut melalui proses pencelupan seperti pembuatan batik pada umumnya.

Ornamentasi Batik
Ornamentasi batik dibagi dalam tiga bentuk yaitu klowongan, isen-isen, dan
ornamentasi harmoni. Klowongan merupakan proses penggambaran dan pembentukan
elemen dasar dari desain batik secara umum. Isen-isen adalah proses pengisian bagian-bagian
ornamen dari pola isen yang ditentukan. Terdapat beberapa pola yang biasa digunakan secara
tradisional seperti motif cecek, sawut, cecek sawut, sisik melik, dan sebagainya. Ornamentasi
harmoni adalah penempatan berbagai latar belakang dari desain secara keseluruhan sehingga
menunjukkan harmonisasi secara umum. Pola yang digunakan biasanya adalah pola ukel,
galar, gringsing, atau beberapa pengaturan yang menunjukkan modifikasi tertentu dari pola
isen, misalnya sekar sedhah, rembyang, sekar pacar, dan sebagainya.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi turun-temurun sehingga kadang
kala motifnya dapat dikenali dari keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan
status seseorang. Bahkan sampai saat ini motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga
keraton Yogyakarta dan Surakarta. Sementara itu, masyarakat mengembangkan motif
tradisional dengan memodifikasikannya dengan motif batik lainnya.
Pewarnaan Batik
Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan
motif. Setiap potongan gambarnya harus diulang pada lembar kain, sehingga biasanya bentuk
dan ukurannya tidak akan pernah sama. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya
bisa sama persis antara satu gambar dengan gambar lainnya.
Menurut pakar batik, Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman, sebelum abad ke-17 batik
Jawa hanya berwarna biru putih (kelengan), sesudahnya berwarna sogan yaitu ditambahkan
pencelupan berwarna kecokelatan. Semua pencelupan dilakukan dengan zat warna alam,
dimulai dengan pencelupan pasta daun Indigofera tinctoria, kemudian dicelupkan dalam
campuran bahan alami pula yang menghasilkan warna cokelat. Indigofera tinctoria yang
dikenal di Jawa sebagai nila adalah emas biru VOC dan Pemerintah Hindia Belanda, yang
diimpor dari Jawa melalui jalur indigo dengan kapal-kapal ke pelabuhan Amsterdam/
Rotterdam sebanyak 500.000 kilogram pasta setiap tahun. Sesudah Badische Anilin Soda
Fabric (1897) di Jerman menghasilkan indigo kimia, hancurlah dunia nila di Jawa, bahkan
batik jawa kemudian dicelup dengan indigo kimia dan zat warna, aneka rona warna yang
semuanya adalah produk kimia sintetik. Hal ini dibenarkan oleh pakar batik, Tulus Warsito,
bahwa kalau kita mau jujur, bahan-bahan yang dipakai untuk memproduksi batik di Indonesia
hingga saat ini sebagian besar adalah produk impor. Hanya lilin, sebagian kain katun dan
pembatiknya saja yang asli Indonesia. Bahan pewarna (bahkan yang natural), pelorot lilin,
dan bahan bantu lainnya semuanya harus impor, sehingga harganya sangat tergantung dari
fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Amri Yahya berpendapat, warna batik klasik terdiri dari tiga warna. Yaitu cokelat
identik dengan merah, biru identik dengan warna hitam, dan kuning atau cokelat muda pada
batik identik dengan warna putih. Ketiga warna ini sebenarnya mempunyai alegori sesuai
dengan 3 konsepsi dewa Hindu, yaitu Trimurti. Menurut penuturan Kuswadji
Kawindrosusanto, ketiga warna itu melambangkan cokelat atau merah, lambang Dewa
Brahma atau lambang keberanian. Biru atau hitam lambang Dewa Wisnu atau lambang
ketenangan, sedangkan kuning atau putih melambangkan Syiwa. Hidupnya batik pada masa
tersebut, dilihat dari perkembangan masyarakatnya (sosiologi), memberikan pandangan
bahwa gradasi masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya dapat dilihat dari sandang serta
kedudukannya. Para kaum Brahmana menggunakan pakaian berwarna putih, sedangkan para
Kesatria menggunakan sinjangan yang bermotif sebagai lambang kehidupan dengan
idealisme tinggi. Sementara itu rakyat atau kaum Sudra hanya diperkenankan menggunakan
warna hitam. Warna hitam melambangkan kehidupan bawah yang polos dan memberikan
kesaksian tingkat hidup yang papa.
Menurut Haryani Winotosastro, dalam prosesnya batik membutuhkan dua macam
pewarnaan. Pada awalnya digunakan pewarna alami dari bahan alami, antara lain daun, kulit
pohon, kayu, kulit akar, bunga, dan sebagainya. Dengan semakin berkembangnya zaman dan
kebutuhan akan pewarna yang lebih mudah penggunaannya, maka dipakailah pewarna
kimiawi/sintetis. Pewarna kimiawi/sintetis adalah pewarna yang diperoleh dari bahan-bahan
antara lain naftol, indigosol, dan remazol.
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam
(lilin) adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini
telah dikenal sejak abad ke-4 SM dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga
dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di
Tiongkok semasa Dinasti Tang (618-907) serta di India dan Jepang semasa periode Nara
(645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta suku
Soninke dan Wolof di Senegal.
Di Indonesia, batik diduga sudah ada sejak zaman Majapahit dan sangat populer pada
abad XVIII atau awal abad XIX. Semua batik yang dihasilkan adalah batik tulis hingga awal
abad XX. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Dalam
buku History of Java yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, pada tahun 1873
saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat
berkunjung ke Indonesia ke museum Etnik di Rotterdam pada awal abad XIX. Itulah awal
zaman keemasan batik. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris tahun 1900,
batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Pewarna Batik Alami


Secara konvensional, nenek moyang kita menghasilkan kain tradisional tanpa
menggunakan pewarna sintetis. Pewarna alam sifatnya sebagai penambah ragam warna
tekstil, tidak bisa dibandingkan dengan pewarna sintetik. Beberapa tanaman dapat digunakan
sebagai pewarna alam, antara lain:
 Soga tegeran
Tanaman perdu berduri ini dimanfaatkan sebagai pembuat warna kuning pada kain.
Tanaman ini banyak tersebar di Jawa, Madura, Kalimantan, serta Sulawesi. Habitat yang
cocok untuk tanaman ini adalah di ketinggian 100 meter di atas permukaan laut atau di
dataran rendah tropika. Bila dimanfaatkan sebagai pewarna alam, tegeran atau kayu
kuning perlu diekstraksi dan diberi bahan fiksasi atau penguat warna.
 Soga tingi
Tanaman yang masih rumpun perdu dengan daun majemuk yang menggerombol di ujung
cabang ini sekilas mirip dengan tanaman bakau, tetapi ukurannya lebih kecil. Kulit
kayunya digunakan sebagai penghasil warna merah gelap kecokelatan pada tekstil.
 Soga jambal
Tanaman ini menghasilkan warna cokelat kemerahan dari kayu batangnya. Ketika musim
bunga, tanaman ini akan semarak dengan tandan bunga-bunga kuning yang muncul
serempak. Itulah sebabnya tanaman ini disebut yellow flame three atau yellow
flamboyant. Akan tetapi, berbeda dengan 1 jenis soga lainnya, tanaman ini termasuk jenis
pohon besar karena mampu mencapai tinggi 25 meter.
 Indigo
Indigofera tinctoria adalah sejenis tanaman polong-polongan berbunga ungu (violet).
Sejak dahulu, daunnya dimanfaatkan untuk menghasilkan warna biru dari perendaman
daun selama semalaman, kemudian dilanjutkan dengan proses ekstraksi hingga layak
digunakan pada proses pencelupan kain atau benang. Selain sebagai penghasil warna biru,
indigo atau tarum juga digunakan sebagai penghasil warna hijau dengan
mengombinasikan dengan pewarna alam kuning lainnya.
 Mengkudu
Kulit akar mengkudu menghasilkan warna merah tua untuk tekstil.
 Kunyit
Rimpang kunyit dapat digunakan sebagai pewarna tekstil. Bila dicampur dengan buah
jarak dan jeruk, kunyit dapat menghasilkan warna hijau tua. Bila dicampur dengan tarum
(indigo), kunyit akan menghasilkan warna hijau. Yang perlu diingat, intensitas warna
yang dihasilkan akan sangat tergantung pada takaran dan proses yang dilaluinya.
 Daun mangga
Mangga bukan hanya enak buahnya, ternyata daunnya dapat digunakan sebagai pewarna.
Jika diekstrak, daun mangga akan menghasilkan warna hijau.
 Kesumba
Awalnya, biji tanaman kesumba banyak dimafaatkan sebagai pewarna makanan seperti
keju, ikan, margarin, atau minyak salad. Namun pada perkembangannya, biji kesumba
juga dikembangkan oleh perusahaan kimia sebagai pewarna alam yang aplikatif tak hanya
pada produk makanan, juga untuk tekstil. Biji kesumba menghasilkan warna merah
oranye,

CARA MEMBUAT BATIK

Alat dan bahan yang disiapkan untuk membuat batik tulis, yaitu:
1. Bandul
Bandul terbuat dari logam, misalnya besi, timah, tembaga, atau kuningan. Bisa juga
menggunakan kayu atau batu. Fungsinya adalah untuk menahan kain mori yang baru
dibatik agar tidak mudah ditiup angin atau tarikan pembatik secara tidak sengaja.
2. Dingklik
Dingklik atau bangku adalah tempat duduk yang digunakan untuk pembatik. Tingginya
disesuaikan dengan tinggi orang yang membatik. Bangku ini biasanya terbuat dari kayu
atau rotan.
3. Gawangan
Gawangan digunakan sebagai tempat untuk menyampirkan kain. Gawangan atau yang
disebut juga dengan sampiran terbuat dari kayu atau bambu. Fungsinya adalah untuk
menggantungkan kain rnori yang akan dibatik. Sampiran ini biasanya berbahan ringan
dan mudah dipindah-pindah.
4. Taplak
Taplak biasanya dibuat dari kain. Fungsinya adalah untuk menutup dan melindungi paha
pembatik dari tetesan lilin (malam) dari canting,
5. Meja kayu/kemptongan
Meja kayu/kemplongan merupakan alat penghalus kain secara tradisional, yang terbuat
dari kayu yang berbentuk meja. Kemplongan ini terdiri dari palu, kayu, dan penggilasan
kayu. Alat ini digunakan untuk meratakan kain mori yang kusut sebelum diberi pola motif
batik dan dibatik.
6. Canting
Canting merupakan alat untuk melukis atau menggambar dengan coretan lilin/malam
pada mori. Canting sebagai alat pembentuk motif halus, sedangkan kuas untuk ukuran
motif besar. Canting akan sangat menentukan nama batik yang akan dihasilkan menjadi
batik tulis. Alat ini terbuat dari kombinasi tembaga dan kayu atau bambu. Sifatnya lentur
dan ringan.
Saat membatik, canting yang telah diisi dengan malam harus ditiup sebelum
diaplikasikan ke kain. Tujuannya antara lain adalah:
a. Untuk mengembalikan cairan malam dalam cucuk ke dalam nyamplungan. Tujuannya
agar tidak menetes sebelum ujung canting ditempelkan ke mori.
b. Untuk menghilangkan cairan malam yang membasahi cucuk canting, karena cucuk
canting yang berlumuran malam akan mengurangi kualitas goresan, terutama saat
pertama kali canting digoreskan pada mori.
c. Untuk mengontrol cucuk canting dari kemungkinan tersumbat oleh kotoran malam.
Kalau tersumbat, cairan dalam nyamplungan tidak bersuara, karena udara tidak dapat
masuk. Jika hal itu terjadi, maka lubang canting harus ditusuk dengan ijuk atau benda
apa pun yang bisa melancarkan keluarnya cairan malam dari lubang canting.

Menurut fungsinya canting dibagi beberapa macam:


a. Canting reng-rengan. Canting ini digunakan untuk membatik reng-rengan. Reng-
rengan adalah batikan pertama yang sesuai dengan pola atau membatik kerangka dari
motif pola dasar sebelum pembatikan selanjutnya. Pola adalah lukisan motif batik
yang digunakan untuk model contoh. Canting reng-rengan bercucuk sedang atau
tunggal.
b. Canting isen. Canting isen adalah canting untuk mengisi bidang polan. Polan adalah
hasil mencontoh kerangka pola batik bersama isen. Canting isen bercucuk kecil, baik
tunggal maupun rangkap.
Menurut besar kecilnya, cucuk dibagi menjadi tiga macam yaitu canting carat (cucuk)
kecil, canting carat (cucuk) sedang, dan canting carat (cucuk) besar.

Menurut banyaknya carat (cucuk), canting dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Canting cecekan/titik
Canting cecekan bercucuk satu (tunggal), kecil, digunakan untuk membuat titik-titik
kecil (cecek). Kegiatan membuat titik-titik dengan canting cecekan disebut nyeceki.
Selain untuk membuat titik-titik kecil sebagai pengisi bidang, canting cecekan
dipergunakan juga untuk membuat garis-garis kecil.
b. Canting loron/ganda
Loron yang merupakan bahasa Jawa ini berarti dua. Canting ini bercucuk dua, berjajar
dari atas ke bawah, digunakan untuk membuat garis rangkap.
c. Canting telon/tiga cucuk
Telon berasal dari kata telu dalam bahasa Jawa, yang berarti tiga. Canting ini
bercucuk tiga dengan susunan bentuk segitiga. Jika canting ini digunakan, maka akan
terlihat bekas segitiga yang dibentuk oleh tiga cucuk.
d. Canting prapatan/empat cucuk
Prapatan dari kata papat dalam bahasa Jawa yang artinya empat. Canting ini bercucuk
empat yang berguna untuk membuat empat buah titik yang membentuk bujur sangkar
sebagai pengisi bidang.
e. Canting liman/lima cucuk
Canting ini digunakan untuk membuat bujur sangkar kecil yang dibentuk oleh empat
buah titik dan sebuah titik di tengahnya.
f. Canting byok
Canting byok adalah canting yang bercucuk tujuh buah atau lebih. Biasanya
digunakan untuk membentuk lingkaran kecil yang terdiri atas titik-titik, sebuah titik
atau lebih, sesuai dengan banyaknya cucuk atau besar kecilnya lingkaran. Canting
byok biasanya bercucuk ganjil.
g. Canting renteng/galaran
Galaran berasal dari kata galar atau tempat tidur yang terbuat dari bambu yang
dicacah membujur. Renteng adalah rangkaian yang berjejer, cara merangkainya
adalah dengan sistem tusuk. Canting galaran atau renteng selalu bercucuk genap,
misalnya empat buah cucuk atau lebih, paling banyak berjumlah enam buah, tersusun
dari bawah ke atas.
7. Kain mori
Kain mori adalah kain yang terbuat dari kapas. Akan tetapi, dewasa ini batik juga
dibuat di atas bahan lain seperti sutra, poliester, rayon, dan bahan lainnya. Mori adalah
bahan baku batik dari katun. Kualitas mori bermacam-macam dan jenisnya sangat
menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Ukurannya disesuaikan dengan
kebutuhan. Misalnya, untuk udeng (ikat kepala), diperlukan kain mori lebih kecil,
sedangkan untuk kain dodot dibutuhkan 7 mori kacu. Kain dodot biasanya dipakai oleh
keluarga keraton atau penari klasik. Kain panjang (jarik) membutuhkan 2 atau 2,5 kacu.
Baik atau buruknya pengolahan kain mori akan memengaruhi baik buruknya kain
mori tersebut. Sebelum kain mori diolah, terlebih dahulu kain mori dipotong kemudian
diplipit. Diplipit yaitu dijahit pada bekas yang dipotong supaya benang pakan tidak
terlepas. Setelah diplipit, mori dicuci dengan air tawar sampai bersih. Kalau mori kotor,
maka kotoran itu akan menahan meresapnya cairan lilin (malam) dan menahan cairan
warna pada waktu proses pembabaran. Di daerah Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon,
mori dicuci terlebih dahulu dan dijemur sampai kering. Tetapi di daerah Blora, mori yang
telah dicuci selanjutnya direbus beberapa menit Mori kemudian diangkat dan dicuci untuk
menghilangkan kotoran sewaktu direbus. Setelah dicuci, barulah mori dijemur sampai
kering. Jika mori sudah lemas, selanjutnya dikanji. Bahan kanji adalah beras.
Cara membuat kanji yaitu beras direndam beberapa saat dalam air secukupnya.
Setelah itu, beras dan air direbus sampai mendidih. Air rebusan beras diambil, air rebusan
ini disebut tajin. Mori yang kering dimasukkan dalam tajin sampai merata, tanpa diperas
langsung dijemur.
Setelah dijemur, mori menjadi kaku, setelah mori lembap, kemudian mori
dikemplong. Dikemplong yaitu dipukuli pada tempat tertentu dengan cara tertentu pula.
Tujuannya supaya benang-benang menjadi kendor dan lemas. Setelah dikemplong, kain
dapat digambari pola atau motif yang diinginkan.
8. Lilin (malam)
Lilin (malam) yang digunakan adalah lilin yang telah dicairkan. Ada berbagai macam
jenis malam yang bisa digunakan, dan tiap jenis malam berpengaruh pada hasil dari batik.
Jenis lilin yang bisa digunakan, antara lain:
a. Malam tawon (lebah) yang berasal dari sarang lebah (tala tawon). Tala tawon
dipisahkan dari telur lebah dengan cara merebusnya.
b. Malam lancing berasal dari tawon lancing.
c. Malam timur berasal dari minyak tanah buatan pabrik.
d. Malam sedang pabrikan berasal dari minyak tanah.
e. Malam putih pabrikan berasal dari minyak tanah.
f. Malam kuning pabrikan berasal dari minyak tanah.
g. Malam songkal pabrikan berasal dari minyak tanah.
h. Malam geplak pabrikan berasal dari minyak tanah.
i. Malam gandarukem pabrikan berasal dari minyak tanah.
9. Kompor
Wajan kecil dan kompor kecil untuk memanaskan lilin. Kompor yang digunakan biasanya
menggunakan bahan bakar minyak tanah. Dalam perkembangannya kompor batik dibuat
dengan energi listrik atau bahan bakar lainnya.
10. Zat pewarna
Zat pewarna batik dapat berasal dari pewarna sintetis maupun alami.
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembuatan batik tulis, yaitu:
1. Membuat desain batik (molani).
Tahap awal dalam membatik dilakukan dengan membuat pola atau gambar lukisan
motif batik. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera yang
berbeda-beda. Ada yang lebih suka membuat motif sendiri, ada pula yang memilih
untuk mengikuti motif-motif umum yang sudah ada. Motif yang kerap dipakai di
Indonesia adalah batik keraton dan batik pesisiran. Desain dibuat dengan
menggunakan pensil.
2. Setelah molani, langkah selanjutnya adalah melukis dengan lilin (malam)
menggunakan canting (dikandang/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
Sebelumnya, kompor minyak dan wajan yang diisi lilin lalu dipanaskan hingga
mencair. Lilin harus sempurna cairnya supaya lancar keluar dari cucuk canting. Api
kompor minyak harus tetap menyala dengan api kecil.
3. Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin pada bagian-bagian yang akan tetap
berwarna putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian
berukuran besar. Tujuannya, supaya saat pencelupan bahan ke dalam larutan pewarna,
bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
4. Berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin
dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu.
5. Setelah dicelup, kain tersebut dijemur sampai kering.
6. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin
menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada
pewarnaan yang pertama.
7. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
8. Proses berikutnya, menghilangkan lilin dari kain tersebut dengan cara mencelupkan
kain tersebut dengan air panas di atas tungku.
9. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan
dengan penutupan lilin (menggunakan canting) untuk menahan warna pertama dan
kedua.
10. Proses membuka dan menutup lilin dapat dilakukan berulang kali sesuai dengan
banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
11. Proses selanjutnya adalah nglorot, kain yang telah berubah warna direbus air panas.
Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah
digambar sebelumnya terlihat jelas. Pencelupan ini tidak akan membuat motif yang
telah digambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti
lapisan tipis karena lilin tidak sepenuhnya luntur. Setelah selesai, batik tersebut telah
siap untuk digunakan.
12. Proses terakhir adalah mencuci kain batik dan mengeringkannya. Proses pembuatan
batik menurut ensiklopedia Indonesia adalah sebagai berikut: bagian-bagian kain
dasar yang harus tetap tidak berwarna, jadi ia dilapisi dengan lilin. Sesudah itu, kain
tersebut dimasukkan seluruhnya ke dalam cat dan kemudian lilin tadi dibuang.
Pengerjaan semacam ini dapat diulangi beberapa kali untuk menuakan warna atau
untuk membuat berbagai warna. Agar lilin dapat melekat pada kainnya, maka kain itu
terlebih dahulu dihilangkan kanjinya dan direbus. Agar lilin itu tidak berkembang,
kain kembali dikanji (dalam air beras), dikeringkan, disetrika atau dilicinkan, dan
dipasang pada semacam rak. Dipergunakan lilin lebah yang kuning, dicampur dengan
parafin, damar, atau colophomeum. Campuran ini dipanaskan di atas angle. Campuran
yang berwarna cokelat ini dimasukkan dalam canting yang bercorot satu atau
beberapa buah. Dengan canting itu, lilin itu dituangkan di tempat yang tidak perlu
diberi warna. Juga dipakai semacam cap untuk menaruh lilin tersebut. Jika lilin tadi
sudah diaplikasikan, maka kainnya diletakkan ke dalam air supaya lilinnya membeku.
Agar terjadi kurai-kurai (garis-garis halus), kain tersebut diperas dengan tangan
(corak craquale). Setelah diberi warna, lilin dibuang dengan merebusnya dalam air
atau melarutkannya dalam bensin.

Pembuatan batik tulis melalui beberapa tahapan:


 Ngloyor, yaitu proses membersihkan kain dari pabrik yang biasanya masih mengandung
kanji, menggunakan air panas yang dicampur dengan merang atau jerarmi.
 Ngemplong, yaitu proses memadatkan serat-serat kain yang baru dibersihkan.
 Memola, yaitu pembuatan pola menggunakan pensil ke atas kain.
 Mbatik, yaitu menempelkan lilin/malam batik pada pola yang telah digambar
menggunakan canting.
 Nembok, yaitu menutup bagian yang nantinya dibiarkan putih dengan lilin tembokan.
 Medel, yaitu mencelup kain yang telah dipola, dilapisi lilin ke pewarna yang sudah
disiapkan.
 Ngerok/nggirah, yaitu proses menghilangkan lilin dengan alat pengerok.
 Mbironi, yaitu menutup bagian-bagian yang akan dibiarkan tetap berwarna putih dan
tempat-tempat yang terdapat cecek (titik-titik).
 Nyoga, yaitu mencelup lagi dengan pewarna sesuai dengan warna yang diinginkan.
 Nglorod, yaitu proses menghilangkan lilin dengan air mendidih untuk kemudian
dijemur.

Proses pewarnaan dan penghilangan lilin dapat dilakukan berkali-kali sampai


menghasilkan warna dan kualitas yang diinginkan. Oleh karena itu, kemudian ada batik
dengan istilah 1x proses, 2x proses, dan 3x proses. Batik tulis Ix proses dapat diselesaikan
dalam waktu satu minggu. Sedangkan yang melalui 2x proses dan 3x proses memerlukan
waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
RAGAM BATIK DAN LOKASI WISATA BATIK

Batik di Indonesia penuh dengan keragaman latar belakang sejarah dan budaya dari
daerah-daerah di Indonesia. Tiap batik dari daerah yang berbeda tidak bisa dibandingkan
keindahannya sebab masing-masing memiliki kekayaan corak yang unik dan khas sehingga
para pencinta batik dapat mengatakan ciri-ciri suatu motif hanya dengan melihat sekilas.
Keunikan dan keindahan karya batik rakyat, terutama yang telah berkembang di Jawa yang
harus digali terus, semakin memperkaya keanekaragaman batik Indonesia. Daerah Istimewa
Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur dikenal dengan keanekaragaman
batik, misalnya batik Garutan, Pacitan, Tuban, Lasem, Pati, Kudus, Demak, Semarang,
Batang, Pekalongan, Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu, Slawi, Banjarnegara, Sokaraja,
Banyumas, Kebumen, Purworejo, Imogiri, Bantulan, Bayat, Solo, Sragen, Wonogiri,
Sukoharjo, Tulungagung, Sidoarjo.
Berdasarkan temuan batik-batik itu, maka batik dari sisi geografi dibagi menjadi dua,
yaitu batik pesisir dan nonpesisir (batik keraton). Batik nonpesisir adalah batik tradisional
yang umumnya masih memegang pakem, yang sampai saat ini masih bisa dijumpai di daerah
Solo dan Yogyakarta. Dahulu, batik-batik ini kebanyakan dipakai oleh kalangan terbatas
(kerabat keraton) dengan corak yang ditentukan. Untuk acara perkawinan, kain batik yang
digunakan harus bermotif sidomukti dan/atau sidoluhur. Sedangkan untuk acara mitoni (7
bulanan), kain batik yang boleh digunakan adalah bermotif ceplok garuda dan/atau parang
mangkoro, begitu seterusnya untuk acara-acara upacara adatyang lain.
Batik pesisir memiliki kebebasan berekspresi dengan corak-corak yang tidak memiliki
pakem, umumnya berwarna cerah/berani dengan motif yang sangat kaya dan cantik. Batik
pesisir ini telah berakulturasi dengan budaya asing. Misalnya, motif bunga-bunga dipengaruhi
oleh India dan Eropa (bunga tulip), serta warna merah dan motif burung phoenix, kupu-kupu,
dan lain-lain dipengaruhi oleh Cina. Motif hewan laut (kerang, bintang laut) adalah motif asli
batik tulis pesisir nusantara. Batik pesisir ini dapat kita temui di daerah Pekalongan, Cirebon,
Lasem, Tuban, dan Madura.
Dalam perkembangannya, ditemukan batik di daerah yang bukan dikategorikan
sebagai batik pesisir maupun nonpesisir, yaitu batik yang dibuat di daerah-daerah yang
memiliki kekhasan tersendiri. Daerah tersebut bukan terletak di wilayah pantai (pesisir),
misalnya, batik bantulan, batik imogiri, batik bayat, batik purworejo, batik madiun, dan batik
dari wilayah-wilayah lainnya. Batik-batik tersebut umumnya bercorak seperti batik pesisir,
yaitu menggunakan warna-warna cerah dengan motif yang lebih beragam, seperti motif
tumbuhan, hewan, kapal, dan sebagainya.
Sementara itu dengan meningkatnya minat akan batik, banyak pula batik yang
diciptakan secara individu, baik oleh seniman, pengrajin, atau pun perusahaan yang memiliki
minat atas batik. Misalnya, batik bola, batik motif mobil, dan kreasi pribadi lainnya. Batik
yang demikian ini dikategorikan dalam ragam kreasi batik (lihat Bab 4: Berbagai Ragam
Kreasi Batik).

Batik Keraton
Batik keraton ditemukan di Yogyakarta dan Solo. Motif seni batik keraton memiliki
arti filosofis dan sarat akan makna kehidupan. Gambarnya rumit dan halus, serta hanya
memiliki beberapa warna, misalnya warna biru, kuning muda, atau putih. Motif kuno keraton
seperti pola panji (abad ke-14), gringsing (abad 14), kawung yang diciptakan Sultan Agung
(1613-1645), dan parang, serta motif anyaman seperti tirta teja.
Motif batikyang diperuntukkan bagi raja dan keturunannya di lingkungan istana
memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, motif lereng atau parang merupakan ciri khas batik
mataram. Sejarahnya dimulai dari berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan
Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Pajang ke Mataram, beliau sering
melakukan tapa brata di sepanjang Pesisir Selatan, menyisir Pantai Parangkusuma ke Dlepih
Parang Gupita. Sang raja menelusuri tebing Pengunungan Seribu yang tampak seperti pereng
atau tebing berbaris. Sebagai seorang yang menguasai seni, tempat pengembaraan itu
mengilhami karya cipta motif batik lereng atau parang. Karena penciptanya adalah pendiri
Mataram, maka hak eksklusif diberikan hanya bagi raja dan keturunannya. Rakyat dilarang
menggunakan motif ini. Larangan ini awalnya dicanangkan oleh Sri Sultan HB I pada tahun
1785, yang antara lain termasuk kain motif parang rusak barong. Terakhir, Sri Sultan HB VIII
menetapkan revisi larangan dengan membuat Pranatan Dalem bob Namanipun Pengangge
Keprabon ing Nagarl Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dimuat dalam Rijksblad van
Djokjakarta No. 19 tahun 1972. Pranatan ini sampai sekarang tidak diperbarui, tetapi menjadi
semacam pranatan tak tertulis dan kemudian menjadi tradisi di lingkungan keraton.
Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya dan masih dipakai dalam upacara
adat karena masing-masing corak memiliki perlambangan atau nilai filosofis.
Bentuk Filosofis
Batik dalam konsepsi kejawen lebih banyak berisikan konsepsi-konsepsi spiritual
yang terwujud dalam bentuk simbol filosofis. Maksudnya erat dengan makna-makna yang
simbolis. Misalnya seperti motif gurda pada batik klasik atau tradisional. Sinjangan yang
bermotif gurda sebenarnya bermula dari bentuk burung garuda. Burung ini telah dipakai
sebagai lambang pada masa purna Indonesia. Hal ini muncul pada panji-panji sebagai
lambang kendaraan menuju surga, misalnya pada candi-candi Dieng. Sedangkan pada
perkembangan Hindu selanjutnya, terutama di Jawa Timur, burung Garuda merupakan
kendaraan Dewa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tempo dulu motif gurda atau
garuda ini digunakan oleh para priagung keraton atau kerajaan. Motif gurda ini berubah saat
Islam masuk, menjadi bentuk sayap atau far. Komposisi pengaturan dalam penebaran pada
sinjangan pun semakin terlihat bagus.
Sementara itu, munculnya Islam memberikan kematangan penciptaan bentuk-bentuk
yang ornamentis yang hingga saat ini dijadikan kaidah pola penciptaan batik dan seni batik.
Misalnya, motif parang yang dikombinasi dengan berbagai bentuk lar serta pewarnaan yang
modern menjadikan batik sinjangan tetap lestari. Di sisi lain, perkembangan daerah Lasem,
Bayat, Pekalongan, Wonogiri, atau daerah lainnya bermuara pada seni batik yang dipengaruhi
Islam. Gaya ornamentis pohon beringin, rumah, motif manusia, dan gunungan mahameru
ditebarkan sedemikian rupa pada kain batik yang bergaya ornamentis sehingga menjadi motif
semen. Akan tetapi, gaya tersebut tidak meninggalkan pola-pola lama yang bersifat
purbakala, seperti kawung dan hiasan permadani (yang terdapat pada candi) yang digubah
menjadi motif truntum seperti sekarang ini.
Ide dasar dari kelahiran pola-polanya adalah filosofi kehidupan dan kosmologis dari
seniman penciptanya. Bentuk-bentuk simbolis sangat dipengaruhi oleh akar budaya dan
pengalaman estetis penciptanya, sehingga terkadang sangat jauh dari realita, sebab
merupakan simbol dalam bentuk simbol, misalnya kawung semar, parang rusak barong, nitik
truntum, semen rama, motif burung huk, gurda, pohon hayat, dan lain-lainnya.

Motif Burung Huk


Bentuk dasar ragam hiasnya adalah seekor anak burung yang baru menetas,
menggeleparkan kedua sayapnya yang masih lemah, berusaha lepas dari cangkang telurnya.
Separuh badan dan kedua kakinya masih berada dalam cangkang. Ide dasarnya ialah
pandangan hidup tentang "ke mana jiwa manusia sesudah mati". Disebut motif atau ragam
hias karena dalam perwujudannya tidak pernah berdiri sendiri. Pada kain batik, motif tersebut
selalu berada dalam susunan estetis bersama motif dan pola yang lain. Misalnya, sebagai
ceplokan dengan latar gringsing, sebagai selingan motif parang, dalam bentuk mozaik dengan
beberapa motif lain, atau berbaur dengan pola nitik.
Diceritakan, konon pada permulaan era Islam di Jawa, ada seorang seniman yang
ingin mendapatkan jawaban "ke mana manusia sesudah mati". Di dalam diri si seniman
tersebut masih merambat akar-akar budaya Hindu, sementara ajaran Islam mulai
memengaruhi pandangan hidupnya. Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya,
si seniman melakukan meditasi zikir dan kontemplasi. Dalam khusuknya berzikir, ia
menyebut asma Allah (Allah Huk Akbar, Allah Maha Besar), dan ketika hanya tertinggal satu
kata "Huk" dari mulutnya (dalam puncak zikirnya), dia melihat seekor burung yang baru
mulai menetas, menayeleparkan sayapnya yang masih lemah, berusaha melepaskan diri dari
cangkangnya, namun kakinya masih tetap berada di dalam telur. Ketika terbangun dari
meditasinya, ia lalu merenung dan membuat kesimpulan, bahwa mati itu hanya kerusakan
raga, namun jiwanya tetap hidup entah terbang ke mana, mungkin mencari raga yang baru
atau mungkin mencari Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Dari kejadian tersebut,
terciptalah bentuk seni yang dinamai burung "Huk".
Kaki anak burung yang masih ada dalam telur, masih menginjak bumi, adalah sebagai
simbol bahwa kesimpulan yang dibuatnya sesungguhnya masih meragukan dirinya, sebab
kesimpulan itu adalah tentang perjalanan manusia sesudah mati, sedangkan dia yang
membuat kesimpulan itu adalah manusia biasa yang masih hidup, masih menginjak bumi.

Motif Gurda (Burung Garuda)


Bentuk dasar motif ini adalah seekor burung garuda yang dilihat tepat dari belakang
sehingga kepala burung tidak tampak, dideformasi dan distilisasi untuk keindahan dan
toleransi terhadap ajaran Islami. Motif ini merupakan motif khas batik yang paling banyak
dikenal.
Bentuk simbolik gurda diilhami oleh mitos Hinduisme, yaitu burung garuda
kendaraan Dewa Wisnu, Sang Pemelihara Yang Bijaksana, namun ditampilkan dengan
nuansa Islami (bentuk makhluk hidup ditampilkan dengan cara disamarkan).
Bentuk dasarnya terdiri dari tiga hal. Yang pertama adalah sepasang sayap
mengembang yang ditata sama dan simetris. Masing-masing sayap bersap dua sampai lima,
tiap bulunya diisi dengan isen-isen sawut. Yang kedua adalah ekor burung yang juga sedang
mengembang, bulu ekornya berjumlah ganjil, tiga sampai tujuh helai, diisi dengan isen-isen
sawut, tersusun seperti bentuk kerucut secara vertikal. Yang ketiga adalah Bentuk abstraktif-
simbolik dari isi raga burung atau manusia, yang digambarkan seperti garis kontur bersap-
sap, terletak di bawah ekor, simbol dari isi kepala, tembolok, isi perut burung, organ seks,
hingga dubur sebagai alat pembuangan. Terdapat bentuk simbolik dari konsep sembilan
lorong energi manusia yang biasa disebut hawa sanga (nawa sanga). Semua itu dideformasi
dan distilisasi untuk keindahan. Jadi sebenarnya rincian burung ini relatif komplit, hanya
pengejawantahannya disesuaikan dengan ajaran Islam yang melarang menggambarkan
makhluk bernyawa. Secara keseluruhan, bentuk garuda merupakan simbol keperkasaan,
ketabahan, dan sikap melindungi yang dilandasi kebijaksanaan.

Motif/Pola Kawung
Ragam hias kawung merupakan bentuk yang ditiru/mimesis dari biji kawung, yakni
biji buah siwalan atau buah pohon tal yang dibelah melintang. Bentuk pola kawung adalah
babon atau induk dari bentuk estetis kawung, yaitu bentuk yang paling mirip dengan bentuk
biji buah pohon enau atau pohon tal, sehingga disebut kawung saja.
Ide dasar pola kawung adalah simbolisasi dari konsep "Pancapat". Pelahiran bentuk
simboliknya bersifat filosofis. Bentuk simbolik tersebut disusun dari bentuk dasar dan
tekstur-tekstur sederhana, yang selalu melambangkan jumlah empat (empat bentuk yang
sama), dan satu bentuk kelima (berbentuk lain) sebagai pusat atau intinya. Pancapat
merupakan kehidupan, peraturan kenegaraan, politik, ekonomi, dan lain-lain, seperti yang
terurai berikut ini:
1. Keblat Papat Lima Pancer, artinya di mana pun kita menyebut empat penjuru angin
(kiblat), manusianya selalu berada di tengah-tengah.
2. Sedulur Papat Lima Pancer. Suatu pandangan hidup tradisional, bahwa ketika bayi
dilahirkan akan selalu bersamaan dengan empat saudara kembarnya, yang berwujud darah
merah, air ketuban, ari-ari (plasenta), dan puput puser, yang diyakini akan saling
memengaruhi hingga usia tertentu.
3. Catur Ubhaya (empat ikrar menjalani kehidupan). Suatu kearifan tradisional, bahwa
semua manusia yang dititahkan lahir sebagai makhluk hidup, pada umumnya akan
sanggup menjalani empat ikrar, yakni lahir, birahi, palakrama (pernikahan), dan pralaya
(mati). Bentuk yang kelima adalah simbol manusianya.
4. Catalan kearifan tradisional dalam menghadapi emosi yang bergejolak. Empat macam
bunyi (tertulis) pada bandul kalung punakawan dalam pewayangan (Semar, Gareng,
Petruk, dan Bagong) yang bila digoyang akan berbunyi "neng ning nung nang". Artinya,
jika emosi manusia sedang bergolak, langkah untuk mengatasinya ialah me-neng (diam),
karena dalam keadaan diam akan timbul keheningan sehingga pikiran akan menjadi we-
ning (bening). Bila pikiran telah menjadi bening, maka arah tindakan menjadi du-nung
(terarah dan masuk akal, sesuai dengan kenyataan dan kemampuan pribadinya) . Bila
tindakan yang dijalani terarah dengan benar, maka menang (sukses) akan menjadi hasil
akhirnya.
5. Catatan tentang politik pemerintahan pada zaman Mataram, di mana raja memerintah
dibantu oleh empat penasehatnya, dalam bidang politik, ekonomi, pertahanan-keamanan,
teknologi dan spiritual. Pemerintahan negara dibagi dalam empat wilayah, yakni
Kutanegara, Negaragung, Mancanegara, dan Pesisiran, dengan keraton sebagai pusat
pemerintahan.
6. Empat sifat dari 99 sifat Tuhan Yang Maha Esa, di mana sifat indah dimaksudkan, yakni
Agung (Jalal), Elok (Jamal), Kuasa (Kahar), dan sempurna atau Kamal (Abdullah, dalam
Koesno, 1981:19).
7. Perilaku manusia yang terjelma karena adanya empat hasrat, yakni Mutmainah, Amanah,
Lauwamah, dan Supiah, di mana keinginan yang baik (Mutmainah) sering berlawanan
dengan tiga keinginan lainnya.

Motif atau pola kawung yang bentuk kawungnya agak membulat seperti bentuk tubuh
Kyai Semar disebut juga kawung semar. Dalam pewayangan sering dipakai oleh Kyai Samar
Badranaya. Sering juga disebut kawung kentang karena ukuran tiap bentuknya sebesar umbi
kentang lokal. Pola kawung yang sederhana ini didominasi warna putih, kontras dengan garis
berwarna gelap yang membingkai motifnya hingga mampu menampilkan keagungan dan
kesederhanaan.
Pola kawung yang sarat makna pandangan hidup tersebut termasuk pola batik
larangan, bahkan ada yang disakralkan agar orang senantiasa menghormati maknanya.
Kawung ini termasuk pola geometris, bentuk bujur sangkar, selalu disusun dari empat bentuk
yang sama dalam susunan simetris. Pada kain batik dengan ukuran 105 cm x 250 cm terpeta
kurang lebih 250 motif kawung semar atau kira-kira seribu buah oval bentuk kawung, dan
berkembang menjadi berbagai macam jenis kawung yang begitu banyak jumlahnya, beberapa
di antaranya:
1. Kawung kemplang, dengan ukuran sebesar kawung kentang dengan variasi isen-isen pada
bentuk ke limanya untuk lebih memperindah tampilannya. Kawung kemplang ini pernah
disakralkan, yakni dipakai untuk persembahan pada upacara labuhan. Kawung kemplang
(dalam bahasa Jawa ngemplang berarti tak dapat membayar hutang) menyadarkan
manusia bahwa dengan cara apa pun hingga akhir hidupnya, manusia tidak dapat
membalas budi hingga impas segala kebaikan budi dari alam yang telah memberinya
lahan kehidupan, dengan air, api, bumi, udara, dan energi, meskipun semua itu atas
perkenan Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi.
2. Kawung picis, kawung yang diiris-iris sehingga bentuknya menjadi kecil-kecil. Ragam
hias ini sebenarnya sudah sangat tua. Sejak 2.000 tahun sebelum Masehi, ragam hias ini
sudah tampil dalam masyarakat Jawa, tetapi baru divisualisasikan pada batik dan dinamai
kawung picis sesudah ditemukan alat canting tulis. Kawung picis mengandung makna
bahwa kepedihan/kesusahan itu sudah menjadi ciri lelakon hidup manusia, yang
sebenarnya selalu imbang dengan rasa senangnya, namun yang lebih dirasakan adalah
kesusahannya.
3. Kawung geger sekurung, berbentuk unik, seolah gambang kawung pada kaca berlapis-
lapis, terdiri dari beberapa jenis kawung. Pola ini menggambarkan peristiwa konflik
politis di antara keluarga yang membuat geger dan membingungkan rakyat kecil.

Pola Parang dan Lereng


Kedua jenis pola memiliki ratusan variasi yang beberapa nama dan maknanya belum
disosialisasikan. Terdapat persamaan dan perbedaan pada kedua jenis pola ini. Persamaannya,
keduanya merupakan pola geometris dengan bentuk belah ketupat. Susunan motifnya
merupakan garis lurus miring tegas 45 derajat. Perbedaannya, pada pola parang terdapat
bentuk estetis yang disebut parang, sedang pada pola lereng bentuk parang tidak dijumpai.
Secara umum, pola berstruktur garis miring merupakan simbol pandangan hidup,
bahwa dalam perjalanan hidupnya, setiap manusia pasti pernah mendapat cobaan. Untuk
merunut jalan Ilahi, manusia harus mendaki jalan berbatu-batu yang tegas menuju ke atas.
Perlu iman ketabahan untuk sampai ke tujuan.

Pola Parang Rusak Barong


Ide dasarnya adalah filosofi atau pandangan hidup seniman penciptanya, yaitu Sultan
Agung Hanyakrakusuma, yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai seorang
raja dengan segala kewajibannya dan kesadarannya sebagai seorang manusia yang kecil di
hadapan Sang Maha Pencipta. Hal ini diejawantakan secara estetis dalam bentuk dan simbol-
simbol berdasarkan pengalaman dan penginderaan di alam sekitarnya, dengan personifikasi
manusia dalam bentuk burung besar semacam garuda atau rajawali yang berdiri di atas tebing
berbatu (dalam bahasa Jawa disebut parang). Di bawah tebing (parang), ombak laut susul-
menyusul menerpa tebing. Bentuk-bentuk tersebut dideformasi dan distilisasi untuk
keindahan dan demi toleransi terhadap pandangan atau ajaran agama Islam, yang melarang
penggambaran makhluk bernyawa. Pola ini pernah menjadi pola larangan (larangan utama),
hanya boleh dipakai oleh raja, permaisuri, dan putera-puteri raja yang telah dewasa, serta
Pepatih Dalem.
Pola ini merupakan pola geometris dengan bentuk belah ketupat. Keseluruhan bentuk
pada media kain menampakkan pola batik bergaris miring tegas, empat puluh lima derajat.
Pola parang rusak barong merupakan induk dari semua pola parang.
Kata parang dalam bahasa Jawa dapat juga berarti musuh dalam peperangan (parang
muka). Perang juga dapat diartikan sebagai perang batin yang senantiasa dialami oleh orang
dewasa. Dalam hal perang fisik, yang terpaksa sering dilakukannya pada masa
pemerintahannya, sebagai seniman, Sultan Agung menyampirkan pesan bahwa meskipun
perang kadang-kadang harus dilakoni, perang fisik itu merusak, dan setiap pemimpin yang
memakai kain batik dengan pola tersebut diingatkan untuk sangat berhati-hati menerapkan
kebijakan represif atau perang.
Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan hal ini tercermin pula pada besarnya
ukuran tinggi (vertikal) motif tersebut pada kain, yakni antara 18 cm hingga 24 cm dan
ukuran lebarnya 6 cm hingga 8 cm. Pada media kain berukuran 110x260 cm, dapat
dituangkan kira-kira 200 buah motif yang sama, yang disusun secara jungkir-balik.
Bentuk dasar pola parang rusak barong adalah sebagai berikut:
1. Bentuk barong merupakan deformasi dari bentuk burung besar garuda sejenis rajawali,
simbol dari Wong Agung. Secara estetis terdiri dari:
 Kepala burung. Mengandung makna intelektualitas/kecerdasan;
 Lidah burung, sebagai manifestasi dari isi mulut (paruh) dilukiskan sebagai lidah api.
Ucapannya dapat membakar orang banyak. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus
sangat berhati-hati dalam berucap dan berwacana;
 Tuding (menunjuk dengan jari), yaitu bentuk seperti jari telunjuk yang membingkai
bentuk uceng. Mengandung makna bahwa tudingan seorang pemimpin akan sangat
menentukan nasib orang banyak;
 Badan burung yang dideformasi secara sederhana. Mengandung makna kekuatan
fisik/kesehatan sangat diperlukan bagi seorang pemimpin. Sayap mengandung makna
kemampuan beraktivitas dan mobilitas yang sangat diperlukan bagi seorang
pemimpin;
 Masing-masing bentuk tersebut dibingkai garis kontur (dalam perbatikan disebut
sawut) berwarna cokelat soga, bermakna spirit.
2. Bentuk parang, sesungguhnya merupakan deformasi dari beberapa bentuk, seperti:
 Bentuk ombak laut yang susul-menyusul menerpa tebing tempat burung bertengger,
mengandung arti bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang serba mulus. Semuanya
pasti mengalami gangguan, cobaan, atau ujian. Bila dihadapi dengan sabar dan bijak,
justru akan mendatangkan ketegaran. Semua keberhasilan harus melalui pengorbanan
lahir dan batin;
 Bentuk pusaran air di antara ombak, yang distilisasi menjadi bentuk permata. Bentuk
ini dalam "dunia pembatik" biasa disebut mlijon, bermakna bahwa perjuangan sebagai
pemimpin seperti berjuang di dalam pusaran air, bila berhasil, seolah menemukan
permata dalam hidupnya. Akan tetapi, kesuksesan, keperkasaan, kadang-kadang
memabukkan, ibarat terlena di atas pusaran air yang telah menjadi permata, nikmat
namun bisa membahayakan.

Motif Batik Kreasi


Batik kreasi merupakan inovasi baru hasil kreativitas individu untuk menciptakan
motif-motif batik, misalnya dengan menggunakan komputer. Selain itu, batik kreasi juga
diciptakan oleh individu baik untuk pemenuhan selera pribadi maupun untuk perusahaan atau
pun masyarakat umum. Akan tetapi, batik kreasi ini tidak berpatokan pada corak batik
keraton (nonpesisiran), batik pesisiran, maupun batik daerah. Jadi sifatnya lebih pada karya
individu.

Batik Fraktal
Jika batik merupakan seni budaya tradisional Indonesia yang dikerjakan dalam proyek
kriya tradisional secara turun-temurun, maka fraktal adalah sebuah bentuk karya yang muncul
dari perkembangan lanjut geometri kontemporer. Keduanya berbicara tentang bentuk dan
upaya "pengisian ruang yang kosong" dalam bidang dua dimensi yang diciptakan secara
generatif dan iteratif. Generatif karena ia dapat dikonstruksi ulang dengan teknik yang sama,
dan iteratif karena cara mengkonstruksinya dilakukan dalam pola pseudo-algoritmik yang
mirip secara berulang.
Perbedaan batik fraktal itu dengan batik pada umumnya terletak pada segi teknis
pembuatannya menggunakan komputer. Batik tradisional menggunakan canting sedangkan
batik fraktal ini memanfaatkan software khusus atau ultrafraktal saat membuat mendesain
berbagai motif batik Batik fraktal (CFB=Computational Fractal Batik) adalah bentuk
konstruksi yang mengakuisisi tradisi Indonesia dan tradisi matematika Barat yang dilakukan
secara komputasional. Desain kriya yang lahir dari tangan pembatik ditiru dalam teknik
komputasional melahirkan inovasi kreasi batik.
Batik fraktal komputasional diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu:
1. Batik Fraktal Sederhana: hasil simulasi komputer dalam bentuk fraktal yang memiliki
kemiripan dengan desain batik tradisional. Beberapa jenis fraktal yang dikustomisasi
sedemikian sehingga memiliki pola tertentu dapat didesain sebagai inspirasi atas
konstruksi desain batik. Kustomisasi dapat dilakukan atas aturan-aturan iteratifnya,
modifikasi pada bentuk pencorakan warna, dan sebagainya.
2. Batik Hibrida: Pola motif dalam fraktal dan motif batik digunakan sebagai bahan
ornamentasi dan dekorasi untuk desain batik secara bersamaan. Pola-pola dari fraktal
dapat digunakan sebagai pola model utama dari ornamentasi dan dasar dekorasi bersama-
sama dengan isen original dari motif dasar batik dan sebaliknya. Hal ini dapat dilakukan
dengan menggunakan secara komputasional apa yang merupakan motif batik tradisional
dengan hasil adaptasi sedemikian dari fraktal nonbatik. Modus desain ini menggabungkan
secara estetik pola fraktal yang dilahirkan secara komputasional dan apa yang dilahirkan
melalui tradisi budaya batik yang luas dikenal.
3. Batik Inovatif. Pola motif batik tradisional didesain ulang dengan menggunakan teknologi
komputasional fraktal. Merupakan bentuk implementasi dari gambar dengan pola tertentu
dan atau acak dengan menggunakan bentuk-bentuk teselasi iteratif atau algoritma
pengisian dari ornamentasi batik yang asli sebagai isen atau pola batik yang telah dikenal
secara tradisional. Hal ini dapat dilakukan dengan ekstraksi motif dasar dari ornamentasi
batik yang kemudian diiterasi ulang dengan menggunakan pseudo-algoritma batik yang
telah dikenal. Misalnya, dua motif batik di-proses ulang secara komputasional dengan
memberikan desain besar atas pola umum yang secara komputasional akan diproses (isen
dan harmonisasi) yang menghasilkan sifat-sifat fraktal sehingga menghasilkan motif yang
sama sekali baru dengan memperhatikan pola dan prinsip proses mbatik. Pengguna dapat
melakukan kustomisasi dengan pewarnaan tertentu.

Dengan sentuhan teknologi ini, berbagai macam motif batik fraktal bisa dibuat hanya
dengan tiga puluh menit sampai satu jam. Inspirasinya dapat diperoleh di sekitar kita,
misalnya pigmentasi kerang, pola sulir cangkang kerang, bentuk-bentuk rumit dari bunga
salju, pertumbuhan kanker, bahkan beberapa pola pergerakan harga saham dan indeks dalam
ekonomi menunjukkan pola-pola fraktal. Dengan melakukan "peniruan" secara
komputasional dengan berbagai sistem komputasional, kita mengetahui bagaimana pola-pola
kompleks dapat terjadi di alam semesta dan lingkungan sosial kita. Analisis semacam ini
dikenal pula sebagai bentuk analisis berdasarkan ilmu generatif dan berbagai objek estetik
yang melahirkannya dinamai seni generatif komputasional.
Ketika batik telah dapat ditunjukkan pola fraktalnya, maka ia menjadi nnemiliki
peluang untuk dilihat sebagai bentuk generatif. Beberapa jenis pola fraktal yang telah dikenal
sebagai "keindahan matematika" dapat pula menginspirasi pola batik. Sayangnya hingga saat
ini perkembangan motif batik itu masih mengalami kendala. Belum semua bisa dijadikan
motif pada kain. Selain itu, tidak semua warna pada batik fraktal terlihat jelas saat dicetak
pada kain.

Sejarah Batik Fraktal


Dalam www.ristek.go.id disebutkan bahwa sebuah kelompok riset desain asal Institut
Teknologi Bandung (ITB) bernama Pixel People Project mengadakan penelitian mendalam
tentang batik sejak 2007. Mereka pun kemudian meluncurkan jenis batik yang dikenal
dengan nama batik fraktal.
Fraktal sejatinya merupakan benda geometris yang kasar pada segala skala dan dapat
"dibagi-bagi" dengan cara yang radikal. Secara sederhana, dapat pula diartikan sebagai
sebuah hasil karya yang hadir dari perkembangan lanjut geometri kontemporer.
Terdapat hal yang menyatukan fraktal dengan batik, keduanya sama-sama
membicarakan bentuk dan upaya "pengisian ruang kosong" dalam bidang dua dimensi yang
diciptakan secara generatif dan iteratif. Generatif artinya dibangun ulang dengan teknik yang
sama, dan iteratif merupakan cara mengkonstruksinya dengan pola pseudo-algoritmik yang
mirip secara berulang.
Adalah Nancy Margried, Muhamad Lukman, dan Yun Hariadi yang tergabung
dalam Pixel People Project yang awalnya secara tak sengaja mendesain gambar tumbuhan
dengan teknik fraktal. Mereka tak menyangka, hasil iseng-iseng mereka menghasilkan sebuah
desain mirip batik. Mereka menjabarkan batik fraktal sebagai motif batik tradisional yang
ditulis ulang secara matematis.
Hasil penulisan ulang dimodifikasi lebih kompleks atau diubah rumusnya sehingga
menghasilkan motif yang baru atau berbeda. Motif fraktal ini kemudian digunakan baik
dengan teknis batik tradisional atau dengan mesin laser. Karena bisa dibahasakan secara
matematis, Pixel People Project kemudian mengembangkan sebuah perangkat lunak untuk
batik fraktal. Program berbasis Java ini memudahkan seorang pemula sekalipun untuk
mengembangkan motif batik dalam formula fraktal yang desainnya tersimpan dalam format
png.
Motif batik yang dihasilkan dari perkawinan antara seni dengan sains ini kemudian
mendapat apresiasi dari Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia. Bahkan dalam waktu
bersamaan, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB, UNESCO pun
turut memberikan penghargaan. Batik fraktal dinilai memiliki kualitas tinggi serta berpotensi
besar di pasar internasional.

Ragam Hias Nitik


Termasuk pola/motif geometris, berbentuk lingkaran atau segi empat. Struktur
bangunan bentuknya terbina secara unik, yaitu susunan dari tutulan atau titik-titik kecil
persegi empat. Hampir tidak ada garis yang merupakan titik-titik berjejer padat. Pada batik
tulis tradisional, titik-titik segi empat yang membangun seluruh bentuk motifnya dibuat
dengan menutul-tutulkan atau menitik-titikkan lilin cair dengan menggunakan canting yang
ujung corongnya dibelah empat. Canting merupakan temuan teknologi yang sangat sederhana
tetapi dapat menghasilkan karya seni pola batik nitik yang unik dan elok.
Pelahiran pola atau motif batik nitik diilhami oleh pola kain bwat keling yang disebut
juga kain cinde atau kain patola, yang berasal dari India. Di negeri asalnya, kain patola
merupakan kain tenun ikat ganda dari benang sutra, berwarna merah, putih, dan hitam. Kain
patola awalnya dibawa sebagai barang dagangan oleh pedagang-pedagang India pada masa
Kerajaan Wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang beragama Budha Mahayana (752-856 M).
Kain cinde tersebut sangat dikagumi oleh masyarakat Jawa/Nusantara, namun karena langka
dan sangat mahal harganya, maka hanya kalangan tertentu yang mampu memilikinya.
Masyarakat Jawa mencoba meniru bentuk pola cinde atau kain patola dengan teknik batik
(resist-dye), dengan menggunakan lilin sebagai bahan res/st-nya. Untuk menorehkan lilinnya,
mula-mula hanya memakai jegul sehingga penampilannya jauh dari bentuk yang ditiru,
kemudian menggunakan anting tulis. Meskipun hasilnya tampak lebih baik dengan tiruan
sebelumnya, tetap belum menyerupai aslinya. Kedua tiruan tersebut disebut kain cinden
.tiruan cinde atau cinde-cindean). Kain cinden masih diproduksi hingga saat ini, dengan
teknik batik tulis, batik cap atau sablon, dan dipakai sebagai kelengkapan pakaian tradisional
Jawa, dan untuk perlengkapan pakaian penari. Kadang-kadang dipakai juga untuk membuat
kantung pembungkus keris atau pusaka lainnya.
Sesudah ditemukan jenis canting tulis khusus untuk pembuatan motif nitik, tiruan
tenunan patola berkembang pesat dengan berbagai variasi bentuk yang umumnya rumit,
lembut dan elok, yang disebut batik nitik. Perkembangan ragamnya justru jauh melampaui
aslinya, sebab kain patola sangat sulit pembuatannya, sedang dengan menggunakan canting
nitik, disertai keterampilan dan kelembutan rasa seniman batik, berbagai variasi dapat
divisualisasikan.
Pada umumnya, susunan dari segenap unsur-unsur perupaan pola bitik kelihatan
rumit, lembut, namun tidak monoton, didominasi warna cokelat soga yang berbaur warna
hitam, putih (off-white), dan krem. Warna biru nila hampir tidak muncul, sebab latar kain
dibiarkan terbuka pada proses pencelupan warna. Sebagian besar dari pola-pola nitik
merupakan deformasi stilisasi dari bunga-bunga yang disusun melingkar atau berkeliling
membentuk segi empat, tersusun secara seimbang dan simetris. Keseluruhan penampilannya
mengandung makna kedamaian dan kesejahteraan dalam keseimbangan, yang merupakan
harapan kehidupan yang diilhami ajaran Budhisme.
Pengejawantahan pada media kain biasanya dalam bentuk satu macam motif yang
disusun berulang-ulang, atau diberi variasi motif lain yang berbentuk ceplok, ada pula yang
berselang-seling dengan motif parang, atau tersusun bersamaan dalam suatu mozaik pola
ceplokan, tambal atau sekar jagad.
Masih banyak lagi bentuk pola/motif yang masing-masing memiliki kandungan
estetika dan filosofinya tersendiri, seperti pola banji, ganggong, ceplokan, semen, buketan,
atau lung-lungan. Dan dari paparan-pararan yang pernah dijumpai, baik empiris maupun
teoritis, ternyata masih sangat banyak motif dan desain batik klasik yang belum disampaikan
maknanya. Di samping itu, terdapat penyampaian makna-makna yang tidak sesuai dengan
penampilan bentuk-bentuk simbolisnya, juga interpretasi makna yang keliru karena bentuk
pola kain yang ditafsirkan bukan pola kain yang dimaksud. Misalnya, mau membedah makna
motif parang rusak barong, tetapi yang ditampilkan untuk dibedah adalah motif parang
purung yang sesungguhnya sangat berbeda bentuk motifnya. Di samping itu, sering terjadi
pendangkalan makna yang salah kaprah.

Motif Batik Kontemporer


Busana batik dengan motif kontemporer menjadi salah satu jenis batik yang paling
diminati saat ini. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya pesanan motif itu. Batik dengan motif
kontemporer merupakan modifikasi dari motif batik yang telah ada, seperti gabungan antara
motif parang dan klithik atau improvisasi dari motif sekar jagad. Biasanya motif tersebut
diterapkan pada busana batik dengan model yang agak rumit. Tingginya pesanan batik
tersebut seiring dengan semakin beragamnya model batik sehingga dapat digunakan untuk
kegiatan nonformal seperti, busana pesta, pakaian untuk bepergian, dan pakaian sehari-hari.
Ada batik jenis kasual yang bisa dipakai saat acara santai.
Menurut pengrajin batik dari Lendah, Kulonprogo, Supriyono, batik dengan motif
kontemporer lebih banyak disukai. Desain dan warna yang tidak terikat pada pakem
menyebabkan pengerjaannya relatif mudah dan dapat dikerjakan dalam waktu singkat.
Motifnya tidak serumit batik klasik.

Batik Pesisir
Motif batik pesisir memperlihatkan gambaran yang berbeda dengan motif batik
keraton. Batik pesisir lebih bebas serta kaya motif dan warna. Mereka tidak terikat dengan
aturan keraton, akan tetapi memiliki sedikit nilai filosofi. Motif batik pesisir berupa tanaman,
binatang, dan ciri khas lingkungannya. Warnanya semarak agar lebih menarik konsumen.
Batik pesisiran banyak menyerap pengaruh luar, seperti pedagang asing dan para penjajah.
Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh etnis Tionghoa yang juga
mempopulerkan corak phoenix. Sementara itu, bangsa penjajah Eropa, khususnya Belanda
juga mengambil minat pada batik. Hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak
dikenal, seperti bunga tulip dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah, misalnya
gedung, kereta kuda, meriam, atau pun kapal. Warnanya pun tergantung dari kesukaan
mereka, seperti warna biru.
Batik pesisir merupakan julukan untuk batik yang ditemukan di wilayah pesisir atau
pantai, misalnya daerah Cirebon, Lasem, Pekalongan, Tuban, dan wilayah lainnya.

Batik Cirebon
Motif batik megamendung merupakan salah satu ciri khas batik cirebon. Motif
megamendung yang merupakan akulturasi dengan budaya Cina tersebut dikembangkan
seniman batik cirebon sesuai cita rasa masyarakat Cirebon yang beragama Islam. Batik motif
ini dapat dijumpai di daerah-daerah pesisir penghasil batik lain di utara Jawa, seperti
Indramayu, Pekalongan, maupun Lasem.
Kekhasan megamendung atau awan-awanan tidak saja terletak pada motifnya yang
berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, seperti biru dan merah. Motif
berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal tersebut biasanya membentuk bingkai pada
gambar utama.
Sejarah batik di Cirebon terkait erat dengan proses asimilasi budaya serta tradisi ritual
religius. Prosesnya berlangsung sejak Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam di Cirebon
sekitar abad ke-16. Sejarah batik Cirebon dimulai ketika Pelabuhan Muara Jati (Cirebon)
menjadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab, Persia, dan India. Saat itu terjadi
asimilasi dan akulturasi beragam budaya yang menghasilkan banyak tradisi baru bagi
masyarakat Cirebon.
Pernikahan Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Jati merupakan "pintu gerbang"
masuknya budaya dan tradisi Tiongkok (Cina) ke keraton. Ketika itu, keraton menjadi pusat
kosmik sehingga ide atau gagasan, pernak-pernik tradisi, dan budaya Cina yang masuk
bersama Putri Ong Tien menjadi pusat perhatian oara seniman Cirebon. Pernak-pernik Cina
yang dibawa Putri Ong Tien sebagai persembahan kepada Sunan Gunung Jati menjadi
inspirasi seniman, termasuk pern batik.
Keramik cina, porselen, atau kain sutra dari zaman Dinasti Ming dan Ching yang
memiliki banyak motif menginspirasi seniman Cirebon. Gambar simbol kebudayaan Cina,
seperti burung hong (phoenix), liong (naga), kupu-kupu, kilin, dan banji (swastika atau
simbol kehidupan abadi) menjadi akrab dengan masyarakat Cirebon. Para pembatik keraton
menuangkannya dalam karya batik. Salah satunya adalah motif megamendung.
Motif megamendung gaya Cirebon memiliki kekhasan, sehingga tidak sama persis
dengan megamendung Cina. Pada megamendung dari Cina, garis-garis awan berbentuk
bulatan atau lingkaran, sedangkan megamandung cirebon cenderung lonjong, lancip, dan
berbentuk segitiga.
Ada pula yang menyebutkan bahwa motif megamendung adalah ciptaan Pangeran
Cakrabuana (1452-1479). Motif tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon
karena pada awalnya seni batik cirebon hanya dikenal di kalangan keraton. Sekarang di
Cirebon, batik motif megamendung telah banyak digunakan berbagai kalangan, dari seragam
batik sekolah, seragam batik para pegawai, hingga busana kasual.
Persentuhan budaya Cina dengan seniman batik di Cirebon melahirkan motif batik
baru khas Cirebon dengan motif cina sebagai inspirasi. Seniman batik cirebon kemudian
mengolahnya dengan cita rasa masyarakat setempat yang beragama Islam. Dari situ, lahirlah
motif batik dengan ragam bias dan keunikan khas, seperti paksi naga liman, wadasan, banji,
patran keris, singa payung, singa barong, banjar balong, ayam alas, dan yang paling dikenal
ialah megamendung.
Meskipun megamendung terpengaruh budaya Cina, penuangannya secara
fundamental berbeda. Megamendung cirebon sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis
gambarnya merupakan simbol perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja,
dewasa, berumah tangga, sampai mati. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung
yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Tuhan.
Sejarah batik di Cirebon juga terkait perkembangan gerakan tarekat yang konon
berpusat di Banjarmasin, Kalimantan. Oleh karena itu, kendati terpengaruh motif Cina,
penuangan gambarnya berbeda, dengan warna nuansa Islam. Contohnya adalah batik dengan
motif paksi naga lima. Motif itu merupakan simbol pesan keagamaan.
Paksi menggambarkan rajawali, naga adalah ular naga, dan liman itu gajah. Motif
tersebut menggambarkan peperangan kebaikan melawan keburukan dalam mencapai
kesempurnaan. Motif itu juga menggambarkan percampuran Islam, Cina, dan India.
Pada megamendung, selain perjalanan manusia, juga ada pesan terkait kepemimpinan
yang mengayomi, dan juga perlambang keluasan dan kesuburan. Komarudin mengemukakan,
bentuk awan merupakan simbol dunia luas, bebas, dan transenden. Ada nuansa sufisme di
balik motif itu.
Membatik pada awalnya dikerjakan anggota tarekat yang mengabdi kepada keraton
sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tersebut. Di Cirebon, para pengikut
tarekat tinggal di Desa Trusmi dan sekitarnya seperti Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah,
dan Panembahan, di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Oleh karena itu, sampai
sekarang batik cirebon, identik dengan batik trusmi. Masyarakat Trusmi sudah ratusan tahun
mengenal batik. Keberadaan tarekat menjadikan batik cirebon berbeda dengan batik pesisir
lain. Karena yang aktif di tarekat adalah laki-laki, mereka pula yang awalnya merintis tradisi
batik. Ini berbeda dengan daerah lain, membatik hanya dikerjakan oleh wanita.
Warna-warna cerah merah dan biru yang menggambarkan maskulinitas dan suasana
dinamis, karena ada campur tangan laki-laki dalam proses pembuatan batik. Di Trusmi
pekerjaan membatik merupakan pekerjaan semesta. Artinya, seluruh anggota keluarga
berperan, si bapak membuat rancangan gambar, ibu yang mewarnai, dan anak yang
menjemurnya. Oleh karena itu, warna-warna biru dan merah tua yang digunakan pada motif
megamendung, mengambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan
egaliter.

Batik Belanda
Belanda memberi pengaruh pada desain busana di Indonesia. Hal ini dibuktikan
dengan diketemukannya motif atau corak batik Little Red Riding Hood yang merupakan
suatu cerita dongeng yang berkembang di Eropa, antara tahun 1840-1940 di sekitar daerah
pesisir. Suatu motif batik yang memberi pengaruh motif batik pada Indonesia selanjutnya.
Yang kemudian disebut sebagai Batik Belanda.
Batik Belanda awalnya diproduksi di Pekalongan pada tahun 1900. Beberapa pabrik
besar yang memproduksi batik antara lain dilakukan oleh Mrs. Eliza Charlotta van Zuylen
dan Mrs. L Metzelaar. Sedangkan batik dalam skala industry kecil dikerjakan oleh Mrs.
Simonet (Nee Tan len Nio) dan Raden Mas Padmo Soediro.
Istilah batik Belanda ini timbul karena yang membuat batik-batik itu adalah
perusahaan atau industri batik milik wanita pengusaha Indo-Eropa. Hal ini dapat dikenali dari
pola-pola serta motif Eropanya.
Batik Belanda ini awal mulanya diprakarsai oleh Gubernur Sir Thomas Stamford
Raffles yang tertarik untuk menggunakan motif batik sebagai motif cetak pada kain. Sehingga
ketika sesampainya di Indonesia, penggagas Kebun Raya Bogor ini mengirim kain-kain batik
ke Inggris untuk dilakukan proses percetakan secara massal. Di Belanda terdapat beberapa
perusahaan industri batik seperti Oosterom, Metzelaar, dan Franquemont.
Uniknya kain batik yang dipakai wanita Indo ini lebih panjang dibanding kain batik
yang digunakan wanita pribumi, ini dikarenakan postur tubuh wanita pribumi kala itu lebih
pendek dibanding postur tubuh wanita Indo. Biasanya nyonya-nyonya Belanda atau Indo-
Eropa ini menggunakan kain batik sebagai bahan untuk rok, bukan tapih ataujari/c seperti
yang dilakukan Wanita Pribumi. Bahkan kain batik ini dibuat seperti baju-baju yang populer
masa itu. Sedang para pria menggunakan kain batik sebagai bahan untuk membuat celana
panjang. Biasanya dipakai ketika para pria sedang bersantai di rumah, dengan dipadu
padankan baju katun yang pendek berwarna putih.
Mengenai pewarnaan yang dilakukan terhadap kain batik, awalnya mereka
menggunakan pewarna alami seperti yang dilakukan penduduk pribumi kala itu. Namun,
karena tuntutan produksi akhirnya pengusaha Batik Belanda menggunakan pewarna sintetis.
Motif batik Belanda lebih kepada nuansa Eropa. Selain bercorak cerita Si topi Merah
(Dongeng-dongeng yang beredar di Eropa kala itu), juga ada cerita Snow White, Hanzel and
Gretel. Corak lainnya yaitu tema batik seperti Batik Sirkus, Batik Kapal Api dan Batik
Wayang.
Kesamaan antara motif batik Belanda dengan motif batik Indonesia adalah:
1. Pola pengisi pada batik Belanda cenderung sama dengan batik Jawa yang lain.
2. Isen-isen pada batik Belanda sama persis dengan batik Jawa, karena pemilik tidak
memberikan isen pada patron pola yang mereka buat sehingga para pembatik
memberikan isen sesuai dengan isen yang biasa mereka buat untuk batik.

Sedangkan yang membedakan antara batik Indonesia dengan Batik belanda adalah
ukuran batik Belanda lebih lebar dari 110 cm. Kualitas kainnya pun lebih bagus karena
merupakan kain impor dari India.

Batik Batavia
Batik Batavia sangat dipengaruhi oleh bangsa Eropa pada masa penjajahan
Belanda. Kain batik di masa itu banyak dipakai oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria
jarang memakai batik. Saat penjajahan Belanda, jika seorang laki-laki mengenakan batik ada
semacam pelecehan tingkah laku yang sangat menyakitkan oleh orang Eropa terhadap
pemakai batik. Jika bule Belanda membeli batik, tujuannya untuk merendahkan martabat
lelaki bangsa Indonesia. Kain batik bagi orang Eropa digunakan untuk serbet, mencuci mobil
dan piyama. Tindakan ini merupakan penghinaan. Padahal batik bagi bangsa Indonesia
digunakan untuk upacara-upacara sacral, kebesaran raja-raja dan adat keagamaan.
Walaupun demikian, ada juga orang Belanda yang justru mempelajari batik secara
serius. Bahkan mereka mengembangkan batik dengan gaya eropa. Ada juga yang
mengirimkan batik ke keluarganya di Eropa.

Batik Pekalongan
Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana
ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik
pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan Cina dan
Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang
sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang
atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani dengan
kombinasi yang dinamis. Walaupun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di
Pekalongan, diduga batik Pekalongan sudah ada sekitar tahun 1800. Sebab, dari data yang
diperoleh Deperindag Pekalongan, motif batik itu ada yang dibuat 1802. Misalnya, motif
pohon kecil pada bahan baju.
Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada
tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau
perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga keraton serta para
pengikutnya meninggalkan kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat.
Kemudian di daerah - daerah baru itulah keluarga kerjaaan dan pengikutnya mengembangkan
batik.
Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di
Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke
arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, legal, Cirebon dan Pekalongan.
Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin
berkembang. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian
mengembangkan usaha batik di sekitar daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan
sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo.
Batik pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan
pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun
lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di
rumah-rumah. Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat
Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan
Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti
perkembangan zaman. Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan
nama 'Batik Jawa Hokokai', yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang.
Pada umumnya batik jawa hokokai ini merupakan dengan motif pagi-sore.
Sementara itu batik Pesisir Pekalongan memiliki corak dan komposisi warna yang
lebih kaya. Corak batik biasanya disesuaikan dengan keadaan daerahnya. Seperti Batik
Pesisir Pekalongan, simbolisasi motifnya pun bernuansa pesisir. Misalnya motif bunga laut
dan binatang laut. Lain halnya dengan Batik Jawa yang dominan dengan motif garis, kotak-
kotak, dan konstruksi geometri lainnya. Walau bentuk tangkai, bunga, dan hewanjuga masih
mendominasi.
Corak batik di daerah ini banyak dipengaruhi oleh kultur Demak yang kental dengan
Islam dan juga kultur para pedagang yang datang. Tak heran jika kemudian mereka bisa
menerima macam-macam warna dan gambar yang akhirnya bisa menunjukan sikap
keterbukaan mereka.
Pada tahun enam puluhan juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada
tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif 'SBY' yaitu
motif batik yang mirip dengan kain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer
lainnya adalah motif Tsunami. Lalu mengapa motif batik pesisir lebih beragam dan kaya?
Banyak ahli batik berpendapat hal ini dikarenakan masyarakat pantai jauh lebih terbuka
sehingga berani mengekspresikan diri.

Batik Lasem
Kota kecamatan Lasem terletak 12 km arah timur Ibukota Kabupaten Rembang
berbatasan dengan Laut Jawa sebelah Utara. Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten
Rembang, Jawa Tengah. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang
setelah kota Rembang.
Lasem dikenal juga sebagai "Tiongkok kecil" karena merupakan kota awal pendaratan
orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan tionghoa yang sangat banyak. Di
Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas.
Di kota ini juga terdapat sentra industri batik kendatipun tidak setenar batik produksi
Solo, Jogja atau Pekalongan. Namun kehadiran Batik Lasem merupakan kebanggaan sendiri
bagi penduduk kota nelayan ini.
Batik produksi Lasem bercorak khas dengan warna merah darah ayam yang konon
tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Sebelum ada pewarna kimia, pembatik
Lasem menggunakan pewarna alam. Misalnya, untuk menghasilkan warna merah
menggunakan kulit mengkudu atau pace dicampur dengan kayu-kayuan. Saat ini pembatik
Lasem banyak menggunakan pewarna kimia karena pengerjaannya lebih cepat dan tidak
rumit.
Kekhasan lain Batik Lasem ini terletak pada coraknya yang merupakan gabungan
pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara Jawa Tengah serta Budaya
Keraton Solo dan Yogyakarta. Konon para pedagang Tionghoa perantauan yang datang ke
Lasem memberi pengaruh terhadap corak batik di daerah ini. Bahkan banyak pedagang ini
yang kemudian beralih menjadi pengusaha batik di kota Lasem ini.
Menurut sejarah industri batik nusantara kehadiran batik Lasem ini sudah ada sejak
berabad silam. Awalnya batik Lasem ini menjadi batik Encim, batik yang dipakai oleh wanita
keturunan Tionghoa yang berusia lanjut.
Pengaruh keraton juga ikut mewarnai corak, motif dan ragam batik tulis Lasem ini.
Terbukti dengan adanya motif/ornamen kawung dan parang. Pengaruh budaya Cina terasa
kental di sini. Sedang pengaruh masyarakat pesisir utara terlihat pada kombinasi warna cerah
merah, biru, kuning dan hijau.
Ketika membuat desain motif batik tulis para pengusaha batik Lasem sangat
dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan legendanya. Misalnya terdapat
corak ragam hias burung Hong dan binatang legendaris kilin atau singa. Bahkan cerita klasik
Tiongkok seperti Sam Pek Eng ley pernah menjadi motif batik tulis Lasem ini. Oleh karena
itu batik tulis Lasem ini kemudian dikenal sebagai batik Encim.
Pada masa kejayaan batik tulis Lasem setiap rumah tinggal orang Tionghoa
mengusahakan pembatikan dengan merekrut tenaga pembatik dari daerah desa sekitar Lasem,
seperti Sarang dan Pamotan. Tenaga kerja ini melakukan pekerjaan sebagai sambilan saat
menunggu musim panen dan musim tanam padi di sawah, sehingga pada musim tanam dan
panen padi mereka pulang ke desa. Akibatnya tenaga pembatik ini berkurang dan dengan
sendirinya proses produksi batik terganggu. Anak pengusaha batik pun lebih senang bekerja
sebagai pegawai kantor dan merantau keluar kota Lasem.
Diduga sekitar abad ke-16 sudah ada yang mulai membuat batik di Lasem.
Industrinya mulai berkembang dan mencapai produksi masal di abad ke-19. Kemudian
mencapai masa keemasan pada 1900-1942 saat Jepang masuk Indonesia. Setelah itu industri
batik tutup 100%. Tidak ada industri di sana. Sekarang sangat pengusaha batik Lasem bukan
100% etnis Tionghoa dan tinggal di kota. Justru saat ini 2/3 dari etnis Jawa yang pengusaha
batik Lasem, dan tinggalnya di sekitar kota Lasem atau di daerah pedesaan.

Batik Pati
Batik Pati dapat ditemui antara lain di Kecamatan Juwana. Usaha ini tepatnya berada
di Desa Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon. Oleh karenanya, batik Pati lebih di kenal dengan
sebutan batik bakaran.
Tahun 1975, batik bakaran nyaris hilang dari peredaran pasar tradisional. Pasalnya,
Sutarsih yang berusia 86 tahun, satu-satunya generasi keempat pembatik bakaran, tak mampu
lagi membatik. Namun, Bukhari, putra ke-12 Sutarsih, yang mewarisi kemampuan membatik,
berusaha keras menjadikan batik bakaran kembali "bermasa depan".
Agar batik bakaran lebih dikenal luas, Bukhari memberi merek batiknya 'Tjokro". Ia
mengambil nama kakeknya, Turiman Tjokro Satmoko. Alasannya, pada era Tjokro, batik
bakaran menjadi komoditas perdagangan di Pelabuhan Juwana dan menjadi tren pakaian para
pejabat Kawedanan Juwana.
Lonjakan permintaan pasar pada era 1980-an itu menyebabkan Bukhari menambah
tenaga kerja dari dua orang menjadi 20 pembatik. Tenaga pembatik itu berasal dari para ibu
rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya.
Pada tahun 1998 Bukhari terpaksa menutup usaha batik dan memberhentikan para
pekerjanya. Industri rumah tangga batik yang dia kembangkan mulai dari nol itu terkena
imbas krisis moneter. Alasannya, harga bahan baku batik meningkat berlipat-lipat sehingga
harga batik menjadi sangat tinggi. Hal Ini mengakibatkan batik bakaran sepi pembeli.
Pada tahun 2006 Bukhari mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Pati untuk
melestarikan dan meningkatkan pemasaran batik bakaran. Pemkab Pati menerima usulan itu
dengan menggalakkan program pemakaian batik bagi pegawai negeri sipil (PNS) pada hari-
hari tertentu. Saat ini pemasaran batik bakaran telah menyebar ke beberapa daerah dan
bahkan luar negeri.

Batik Tuban
Motif batik Tuban merupakan gabungan tiga budaya yang berbeda, yaitu Islam, Cina,
dan Hindu. Pengaruh budaya Islam, misalnya pada motif kijing miring. Sementara pengaruh
budaya Cina, diwakili dalam motif Lok Chan yang menyertakan gambar burung Hong.
Sedangkan pengaruh Hindu, bisa dilihat dari motif panji ori atau panji serong.
Tuban berada di kawasan pesisir yang juga merupakan daerah pertanian. Alhasil,
nuansa flora dan faunanya juga sangat kental. Pada batik klasik Tuban, selalu ada gambar
ganggang atau rumput laut. Sedangkan kembang waluh menggambarkan Tuban sebagai
daerah agraris. Ciri khas lainnya adalah warna merah dari kebudayaan Cina dan biru gelap.
Tuban juga memiliki batik gedog. Saat proses pembuatan batik gedog, selalu
terdengar suara dog, ketika perajin merapatkan benang "lawe" dengan peralatan "uro", salah
satu bagian peralatan "kemplongan". Berangkat dari itu, tenun karya perajin batik setempat
dikenal dengan nama batik gedog. Batik gedog dibuat dengan menggunakan alat tenun bukan
mesin.
Dalam perkembangannya, suara dog yang ditimbulkan dari peralatan "kemplongan"
itu, bunyinya sudah berubah. Hampir mayoritas suaranya sudah tidak lagi, dog, namun "jrek".
Masalahnya, warga setempat mulai mengganti "cacak kemplongan" dengan bambu. Jika
semua pengrajin sudah mengganti peralatan dengan bambu, maka bisa muncul nama baru
yaitu batik ‘gejrek’.
Untuk menenun benang "lawe", agar bisa menjadi bahan batik gedog, siap jadi yang
panjangnya bisa 2 meter atau 3 meter, masing-masing lebarnya 85 cm, membutuhkan waktu
berkisar dua hari. Perhitungannya, setiap potong bahan kain batik gedog itu, membutuhkan
benang "lawe" sekitar 1, 5 kilogram.
Dalam buku "Batik Fabled Cloth of Java" karangan Inger McCabe Elliot tertulis, ada
kemiripan batik gedog Tuban dengan batik Cirebon, yang tumbuh pertengahan abad XIX.
Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru
pada proses pencelupan.
Perbedaannya, batik gedog Tuban tetap bertahan dan terus berkembang dengan warna
khas nila, kegelap-gelapan. Sedangkan batik Cirebon, mengalami perubahan, karena adanya
perubahan Kota Cirebon sendiri dalam berbagai bidang. Saat ini batik gedog warna biru
masih dipertahankan, karena diyakini bisa menyembuhkan penyakit.
Kecamatan Kerek, Tuban merupakan sentra perajin batik gedog, mulai Desa
Kedungrejo, Jarorejo, Margorejo, Gaji dan desa lainnya. Hampir semua petaninya, menanam
kapuk kapas yang dimanfaatkan untuk membuat "lawe".
Perwarnaan batik gedog menggunakan warna alam. Misalnya, warna biru
memanfaatkan daun indigo. Sedangkan warna cokelat bisa memanfaatkan kulit kayu mahoni,
tinggi dan secang.
Batik gedog memiliki bahan yang kasar. Harganya relatif murah, bergantung kualitas.

Batik Madura
Motif batik Madura sangat kontras. Adat keraton di Madura banyak menimbulkan
pengaruh terhadap motif dan warna batik yang menyebabkan gaya batik Madura sangat
konservatif. Hal ini disebabkan keadaan alam Madura yang sangat keras sehingga batik
Madura sangat filosofis.

BATIK PEDALAMAN
Batik Imogiri
Motif batik yang khas di daerah Imogiri adalah batik motif baito geni atau kapal api.
Wilayah ini terkenal sebagai tempat makam raja-raja mataram. Motif kapal api itu merupakan
salah satu motif batik yang mendapat pengaruh dari penjajahan Belanda.
Motif ini terasa unik karena wilayah Imogiri merupakan daerah perbukitan yang
otomatis bukanlah tempat untuk kapal bersandar. Selain itu dijumpai pula dan motif serdadu
Belanda. Hal ini cukup mengejutkan, demikian ungkap pendiri dan kurator museum
lingkungan batik "Cipto Wening" Imogiri, Yogyakarta, Larasati Suliantoro Sulaiman "Saya
terkaget-kaget orang Imogiri belum pernah melihat kapal, tapi saya belajar dari tesis De Graf
di Imogiri itu banyak tawanan. Mungkin tawanan itu yang menggambarkan (kapal api), atau
mungkin orang Imogiri yang pergi ke Tuban atau Rembang dengan laskar Sultan Agung saat
perang menyerbu Batavia,"
Kondisi ini dikuatkan dengan catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Sultan Agung
yang pernah menyerbu Batavia itu meninggal di wilayah Pleret, Bantul pada tahun 1645.
Wilayah Pleret hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Imogiri. Diduga banyak prajurit
Sultan Agung berasal dari wilayah Imogiri. Mereka adalah bagian dari 14.000 prajurit Sultan
Agung yang menyerang Batavia pada tahun 1629.
Motif batik kapal api berupa kapal laut lengkap dengan tiang-tiang berbendera
Indonesia. Bendera merah putih diduga sebagai perlawanan simbolik terhadap penjajahan
Belanda. Seharusnya bendera yang dikibarkan di tiang kapal adalah bendera Belanda.
Bendera merupakan kode simbolik kekuasaan yang dominan. Dalam batik itu juga
digambarkan kapal yang mengeluarkan asap pada cerobongnya. Kapal tampak seperti
berlayar di lautan dilengkapi dengan ornamen binatang air, misalnya ikan.
Batik motif kapal api ini dibuat oleh masyarakat Imogiri. Sebagai contoh, karya
pengrajin batik Giriloyo, Wukir Sari, Imogiri ini menggunakan kain katun primisima dengan
pewarna natural yang berasal dari mahoni. Warna batik yang dihasilkan seperti cokelat susu.
Sedangkan kelompok batik tulis lestari, memiliki motif batik kapal api yang berwarna biru, di
tempat lain yaitu di museum batik Mustoko Weni, Imogiri dapat dijumpai batik motif kapal
api dengan perpaduan warna galaran putih dan gambar kapal berwarna cokelat.

Batik Kulonprogo, Yogyakarta


Batik Kulonprogo memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan ikon wilayah itu
berupa tanaman buah naga. Demikian ungkap pengrajin batik, Kang Giren yang beralamat di
Sembungan Gulurejo, Lendah Kulonprogo. Wilayah pesisir Kulonprogo memang pada saat
batik ini dibuat merupakan daerah perkebunan buah naga, terutama di pantai Glagah.
Batik bermotif tanaman buah naga ini dibuat berupa batik tulis dengan warna buah
berwarna merah dan daun yang berwarna hijau. Sedangkan ornamentasi lainnya berupa motif
galaran. Gaya batik yang ditampilkan adalah batik kontemporer.
Salah satu wilayah yang menghasilkan batik di kabupaten Gunung Kidul adalah desa
Sendangrejo, Tancep, Ngawen, Gunung Kidul. Pembatik setempat menyebut batiknya yaitu
batik tancep. Pewarna batik banyak menggunakan pewarna alam.
Keunikan dari batik Tancep adalah pewarna yang digunakan untuk membatik yakni
dengan menggunakan warna alarm yang diambil dari alam seperti daun mahon, biji jalawe,
akar mengkudu, akar akasia, tunjung, daun torn dan lain-lainnya.
Salah satu pengrajin batik tancep adalah kelompok Nur Giri Indah. Produknya berupa
batik tulis dan cap kombinasi yang meliputi kain, stola, kemeja, bantalan sofa, taplak, sprei
bantal dan guling, sapu tangan dan produk am seperti suvenir. Pengrajin batik daerah ini
awalnya belajar sebagai buruh oatik di Yogyakarta. Kemudian mereka mengembangkan
keahlian membatik di wilayahnya sendiri.
Motif batik tancep beraneka ragam. Misalnya, motif satwa seperti binatang laut,
capung dan lain-lain yang terdapat di desa tersebut.

Batik Garutan
Batik tulis Garutan, merupakan produk kegiatan usaha perbatikan warisan turun-
temurun. Pembatikan di tempat ini berkembang cukup lama sebelum masa kemerdekaan.
Batik itu mengalami kejayaannya pada tahun 1967-1985. Sesuai dengan nama daerah Garut
maka batik yang dihasilkan dinamakan batik Garutan.
Umumnya batik Garutan digunakan untuk kain "sinjang" dan pemenuhan kebutuhan
sandang lainnya. Motifnya mencerminkan kearifan lokal sosial budaya, falsafah hidup serta
adat-istiadat warga Sunda. Sehingga beragam perwujudan batik tulis Garutan, secara visual
tergambar melalui motif dan corak warnanya, antara lain berbentuk geometrik sebagai ciri
khas ragam hiasnya.
Motif lainnya, berupa flora dan fauna. Selain itu juga bentuk goresan yang
membentuk garis diagonal serta bentuk kawung atau belah ketupat. Batik ini didomiansi
dengan warna krem cerah dipadukan dengan warna-warni lainnya, menggambarkan
karakteristik khas mata dagangan itu.

Batik Madiun
Batik Madiun dapat ditemukan di Desa Kenogorejo, Kecamatan Pilangkaceng,
Kabupaten Madiun. Di era 80-an batik Madiun mengalami kejayaan. Saat ini jumlah pembuat
motif batik ini semakin langka, diduga tidak adanya regenerasi yang menjadi penyebab utama
menurunnya produksi batik. Salah satu ciri batik ini mencantumkan bunga kenanga dalam
motif batiknya.

Batik Ponorogo
Batik Ponorogo bermotif sangat kasar. Hal ini menggambarkan keadaan masyarakat
Ponorogo yang mempunyai temperamen sangat tinggi. Warna batik Ponorogo didominasi
oleh warna cokelat hitam dengan warna dasar putih. Ponorogo juga dipengaruhi oleh batik
Banyumas yang bercorak garis, kotak, lingkaran dan meniru pola alam seperti bunga,
dedaunan atau kehidupan satwa seperti merak. Selain itu kehidupan masyarakat Ponorogo
yang agamis juga memengaruhi corak batiknya yang bernuansa agamis.

Batik Temanggung (Batik Mbako)


Batik Temanggung dapat ditemukan di dusun legal Temu, Kelurahan Manding,
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Batik bermotif tembakau merupakan salah satu ciri
khas batik dari daerah penghasil tembakau ini.
Pengrajin batik tembakau atau yang biasa disebut dengan batik mbako, Lily Setiawati
mengatakan, batik khas Temanggung ini menggunakan motif yang berkaitan dengan tanaman
tembakau. Batik mbako diproduksi dalam bentuk tulis dan cap.
Pembuatan batik mbako ini disesuaikan dengan ciri khas lingkungan Temanggung
sebagai daerah penghasil tembakau, keindahan alam dan kehidupan social budaya masyarakat
petani Temanggung.
Pengrajin batik Lyli Setiawati telah mematenkan empat motif batik mbako yaitu 'ron
mbako', 'sekar mentari', 'rigen', dan motif kontemporer. Motif Yon mbako' merupakan corak
tentang daun tembakau, 'sekar mentari' bunga tembakau yang terkena sinar matahari, 'rigen'
merupakan anyaman bambu sebagai tempat penjemuran tembakau. Sedangkan motif lainnya
karya Setyo Nugroho berupa motif daun selanjar. Motif ini terlihat alur jalan yang kemudian
membelit daun tembakau. Ini menceritakan aktivitas warga yang sering menjemur tembakau
di tepi jalan. Motif lainnya, yaitu daun kering memperlihatkan potongan daun-daun tembakau
dalam ukuran kecil, sebagai gambaran daun tembakau rajangan.
Selain itu batik Temanggung juga berinovasi dengan motif kontemporer. Motif ini
merupakan pengembangan dari motif tembakau. Motif kontemporer sebagai kombinasi dan
menyesuaikan permintaan pasar karena konsumen tidak hanya menyukai motif asli tetapi
juga motif abstrak.
Soal pewarnaan, saat ini sedang diusahakan bahan pewarna batik dari ekstrak
tembakau menggantikan pewarna kimia yang telah dipakai. Tujuannya agar menyatu antara
motif dengan bahan pewarna.

Batik Jember (Motif Tembakau)


Batik Jember dapat ditemukan di desa Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe,
Kabupaten Jember, Jatim. Selama beberapa tahun terakhir pengrajin batik, Mawar di
mencoba mempertahankan motif daun tembakau yang diyakini sebagai motif batik khas
Jember. Jember merupakan salah satu kabupaten yang dikenal sebagai produsen tembakau,
sehingga tidak heran para perajin batik di kabupaten ini berusaha mempertahankan motif
tembakau sebagai motif batik khas Jember.
Sekilas, batik "sumber jambe" terlihat hampir sama dengan batik di daerah lainnya
yang kaya dengan motif dan penuh dengan sentuhan seni para pembatiknya. Bedanya, dalam
berbagai motif batik dipadukan dengan motif daun tembakau. Harganya relatif murah.
Bahannya menggunakan kain katun dan sutra.
Di Jember, setidaknya ada tiga kelompok industri rumah tangga yang
mengembangkan usaha batik yang memiliki puluhan buruh pembatik yang berasal dari warga
desa setempat.

Batik Badui
Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten memiliki batik khas
Badui. Motif dan warnanya unik serta memiliki seni yang cukup tinggi.
Pengrajin batik Badui dapat ditemukan di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar,
Kabupaten Lebak. Batik Badui memiliki warna didominasi biru dan h/tam juga motif batik
berbeda dengan produk Solo dan Pekalongan, Jawa Tengah.

Batik Bayat (Klaten)


Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen-Klaten, Jawa Tengah. Letaknya lebih kurang
21 Km sebelah Timur kota Klaten Kota kecil ini adalah salah satu situs penting dalam
pengembangan agama Islam di Jawa Tengah bagian selatan pasca kerajaan Demak.
Bayat ini adalah desa yang terletak dikaki gunung tetapi tanahnya gersang dan minus.
Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten. Riwayat
pembatikan disini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah kerajaan keraton Surakarta.
Dengan perkembangan budaya batik di Keraton Surakarta dan Yogyakarta, Bayat juga
menjadi tempat bagi para seniman batik berekspresi dan berkarya sesuai zamannya.
Pengusaha-pengusaha batik di Bayat walanya berasal dari pengrajin dan buruh batik di Solo.
Motif batik dan warna yang paling berpengaruh hingga sekarang adalah motif dan warna
bercorak kasunananan Surakarta. Seiring dengan perkembangan batik dan diakuinya batik
sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, motif dan warna batik yang dibuat di Bayat
juga dibuat beragam batik kontemporer. Walaupun begitu, batik tradisional yang merupakan
awal mula budaya batik di Bayat tetap dilestarikan.
Batik Sragen
Batik Sragen terkenal dengan nama Batik Kliwonan. Akan tetapi ada juga yang
menyebut dengan batik Girli yang merupakan singkatan dari Pinggir Kali. Mengapa disebut
Girli karena memang desa-desa penghasil batik tadi letaknya di pinggiran sungai atau kali
Bengawan Solo, di sisi kiri dan sisi kanannya. Rumah-rumah pembatiknya juga banyak yang
di pinggiran kali. Kalau menyusuri kali Bengawan Solo dengan perahu atau gethek, di
beberapa lokasi dapat terlihat aktivitas membatik di rumah-rumah yang ada di pinggir kali.
Awalnya gaya batik Sragen memang identik dengan Solo. Sebab sejarah
berkembangnya batik Sragen memang tidak lepas dari perkembangan batik Solo. Di zaman
dulu, juragan-juragan batik Solo banyak memperkerjakan pembatik-pembatik yang kebetulan
berasal dari Sragen. Ada yang polanya sanggan yakni membawa bahan batik dari juragan
Batik Solo lalu dibawa pulang dan dikerjakan di rumah masing-masing di Sragen. Ada pula si
pembatik asal Sragen yang menjadi buruh di pabrik batik di Solo.
Pada tahun 60-an ada beberapa perajin batik asal Desa Kliwonan dan Desa Pilang
yang mencoba membuka usaha batik sendiri di rumah. Ternyata berhasil, akhirnya tetangga-
tetangga yang lain juga ikut mencoba membuka usaha batik. Pada tahun 1990-an eksistensi
makin kuat, mengalami trend meningkat dan terus berkembang hingga sekarang ini. Gaya
batik Sragen awalnya identik dengan gaya Solo. Dalam perkembangannya batik Sragen mulai
menemukan kekhasannya yaitu menerapkan kombinasi motif baku semisal parang, sidoluhur,
sidomukti, kawung, sekarjagad, babon angrem, srikaton, wahyu tumurun dipadukan dengan
corak flora dan fauna. Selain itu warna-warna batik Sragen juga lebih bervariatif. Tidak cuma
warna gelap sogan, tapi juga warna-warna cerah seperti hijau, merah, pink, biru, ungu.
Sragen juga dikenal dari batik gaya lawasannya. Maksudnya membuat batik menjadi
seolah-olah berumur puluhan tahun atau ratusan tahun, terkesan kuno dan antik. Ini mirip
teknik retro di bidang mebel, memproduksi barang dari bahan baku yang berumur muda
dibuat dan difinishing sedemikian rupa hingga seolah-olah antik.

Batik Tegalan
Pembatikan di Tegal dikenal pada akhir abad ke-XIX. Pewarna batiknya
menggunakan pewarna buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace
(mengkudu), nila, soga kayu.
Warna batik Tegal, awalnya berwarna sogan dan babaran abu-abu. Setelah dikenal
nila pabrik warnanya meningkat menjadi warna merah-biru. Sedangkan kainnya
menggunakan tenunan sendiri.
Pasaran batik legal waktu itu sudah dijual di luar wilayahnya antara lain ke Jawa
Barat. Dagangan batiknya dibawa sendiri oleh para pedagang dengan jalan kaki. Mereka
inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis disamping
pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.
Pada awal abad ke-XX sudah dikenal mori import dan obat-obat import baru dikenal
sesudah perang dunia ke-1. Pengusaha-pengusaha batik di legal kebanyakan lemah dalam
permodalan dan bahan baku di dapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual
pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatik-
pembatik legal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan perang
dunia kedua. Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi. Namun saat ini batik legal
telah bangkit kembali seiring trend batik yang semakin berkembang.

Batik Pasuruan
Sentra batik Pasuruan dapat ditemukan antara lain di Kalirejo, Bangil, Pasuruan.
Rumah produksi ini memiliki ciri khas batik yaitu dengan penggunaan bahan organik untuk
pewarna kain. Misalnya menggunakan getah daun mangga, jolawe (sejenis rumput-
rumputan), mahoni, kunyit, dan bahan-bahan dasar lainnya untuk pewarna batik produksinya.
Kain batik yang dihasilkan beraneka warna. Dari kuning keemasan hingga cokelat tua,
bahkan kebiru-biruan.
Untuk mendapatkan gradasi dan kedalaman warna bergantung pada proses fiksasinya
atau yang biasa disebut teknik pencelupan. Proses fiksasi ini menggunakan zat pengikat
seperti kapur, tawas, atau batu tunjung.
Kain batik organik harganya menjadi lebih mahal, karena prosesnya menjadi lebih
lama. Pemrosesan kain batik menggunakan pewarna kimia hanya memerlukan waktu yang
relatif singkat. Akan tetapijika menggunakan pewarna organik, prosesnya bisa mencapai
antara satu sampai dua bulan. Itulah sebabnya yang menyebabkan kain batik organik
harganya lebih mahal daripada kain batik dengan pewarna dari bahan kimia.
Dalam mendesain motif, batik Pasuruan disesuaikan dengan potensi daerah. Di
antaranya, Sumirat Ambarwangi, kain batik dengan motif bunga sedap malam yang
merupakan bunga ikon Pasuruan. Batik Welirang Gondo Mukti, yaitu batik bermotif Gunung
Welirang, kawasan wisata andalan Pasuruan. Batik Ciptaning Kusuma Wijaya, yakni batik
bermotif Raja Airlangga yang sedang bersemedi di Gunung Arjuna. Ada juga batik Wiyosing
Widi, batik dengan motif bunga krisan, khas Nongkojajar, dan batik Husadaning Yekti, batik
bermotif daun sirih, dan batik Jumputan pasir Bromo yang merupakan objek wisata andalan
Pasuruan.

Batik Banyumas
Daerah pengembangan batik Banyumas berpusat di Sokaraja. Awalnya, batik ini
dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah akhir peperangan tahun 1830.
Para pengikut Diponegoro ini kebanyakan menetap di daerah Banyumas.
Pengikut Diponegoro yang terkenal waktu itu adalah Najendra. Dialah yang
mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri.
Sedangkan pewarnanya menggunakan pohon torn, pohon pace dan mengkudu yang memberi
warna merah kesemuan kuning.
Selanjutnya pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja. Pada akhir abad ke-XIX para
pembatik bahkan telah berhubungan langsung dengan pembatik di Solo dan Ponorogo.
Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan wama
khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu
pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina. Merekajuga memperdagangkan batik.

Batik Ciamis
Pembatikan di Ciamis diduga mulai berkembang sekitar abad ke-XIX setelah
selesainya peperangan Diponegoro. Saat itu para pengikut Diponegoro banyak yang
meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah
Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis
dan Tasikmalaya.
Mereka merantau dengan keluarganya dan di tempat baru menetap menjadi penduduk
serta melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli
dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama
kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan
sehari-hari atau hubungan keluarga.
Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya adalah hasil tenunan sendiri, Bahan catnya
dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon torn, dan sebagainya.
Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh
daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-XX pembatikan
di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran.

Batik Kebumen
Pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-XIX yang dibawa oleh
pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam antara lain dibawa oleh
Penghulu Nusjaf. la menetetap Timur Kali Lukolo. Peninggalannya berupa masjid.
Proses batik pertama di Kebumen dinamakan teng-abang atau blambangan dan
selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-XX untuk
membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu.
Motif batik Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Sedangkan bahan catnya
berasal dari pohon pace dan nila.
Pemakaian zat pewarna impor di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920. Dengan
adanya bahan pewarna sintetis, akhirnya para pengrajin batik meninggalkan bahan-bahan
pewarna buatan sendiri, karena menghemat waktu.
Pemakaian cap dari tembaga dikenal di wilayah Kebumen sekitar tahun 1930.
Sedangkan daerah pembatikan di Kebumen dapat ditemukan antara lain di desa Watugarut
dan Tanurekso.

Batik Tasikmalaya
Pembatikan di daerah Tasikmalaya diduga telah dikenal sejak zaman Tarumanagara.
Peninggalan yang masih tersisa hingga saat ini adalah banyaknya pohon tarum yang terdapat
disana yang berguna untuk pembuatan batik. Beberapa wilayah yang masih aktif membatik
yaitu desa Wurug (terkenal dengan batik kerajinannya), Sukapura, Mangunraja, Manonjaya
dan Tasikmalaya kota.
Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura,
Indihiang yang terletak dipinggir kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-XVII
dan awal abad ke-XVIII akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka
banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau
kedaerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini
adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju kearah Barat sambil berdagang
batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembuatan batik
memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah
campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas dan Kudus yang beraneka pola
dan warna.

Batik di Daerah Lainnya


Batik yang kembali booming beberapa tahun terakhir menjadi momentum
kebangkitan batik. Hampir di setiap daerah kini muncul usaha batik. Meskipun sama-sama
kain batik, motif yang ditampilkan berbeda-beda. Masing-masing daerah berupaya
menampilkan ciri khas daerahnya. Batik dan teknik membatik boleh sama. Motif harus tampil
lain agar memiliki ciri pembeda dan kekuatan ekonomi. Beberapa batik daerah antara lain:
1. Batik Magelang mengambil ide getuk yang beraneka bentuk, jenis makanan khas kota
berhawa sejuk itu.
2. Kabupaten Magelang, menampilkan kopi sebagai inspirasi motif, seperti kopi pecah dan
daun pohon kopi.
3. Kabupaten Wonosobo menampilkan karika, buah khas dari daerah itu.
4. Batik Purworejo menghadirkan motif manggis, durian, tarian dolalak, dan kambing etawa
yang merupakan komoditas dan budaya unggulan daerah itu.
5. Batik Wonogiri mengangkat kacang mete dan buah jambu mete yang merupakan produk
khas Wonogiri. Selain itu ditampilkan motif daun dan pohon singkong dan buah mangga.

Tekstil Bermotif Batik


Batik print merupakan salah satu jenis batik yang baru muncul. Tidak diketahui pasti
kapan mulai dikenal, tetapi kini menjadi produksi batik dengan jumlah paling banyakjika
dibanding batik cap apalagi batik tulis.
Teknik pembuatan batik print relatif sama dengan produksi sablon, yaitu
menggunakan klise (kassa) untuk mencetak motif batik di atas kain. Proses pewarnaannya
sama dengan proses pembuatan tekstil biasa yaitu dengan menggunakan pasta yang telah
dicampur pewarna sesuai keinginan, kemudian diprintkan sesuai motif yang telah dibuat.
Jenis batik ini dapat diproduksi dalam jumlah besar karena tidak melalui proses penempelan
lilin dan pencelupan seperti batik pada umumnya, hanya saja motif yang dibuat adalah motif
batik, oleh karena itu batik print merupakan salah satu jenis batik yang fenomenal,
kemunculannya dipertanyakan oleh beberapa seniman dan pengrajin batik karena dianggap
merusak tatanan dalam seni batik, sehingga mereka lebih suka menyebutnya kain bermotif
batik.
Secara kasat mata kita dapat membedakan batik print dan batik tulis maupun cap
dengan melihat permukaan di balik kain. Biasanya kain batik print warnanya tidak meresap
ke seluruh serat kain, dan hanya menempel pada permukaan kain, sehingga di balik kain
masih terlihat sedikit berwarna putih.
Belakangan muncul perkembangan baru pada batik print, dengan adanya metode print
malam. Metode ini dapat dikatakan perpaduan antara sablon dan batik, pada print malam,
materi yang di printkan pada kain adalah malam (lilin) dan bukan pasta seperti batik print
konvensional. Setelah malam menempel, kemudian kain tersebut melalui proses pencelupan
seperti pembuatan batik pada umumnya.

LOKASI WISATA BATIK


Yogyakarta
Yogyakarta merupakan daerah wisata batik yang wajib dikunjungi. Mengingat daerah
ini memiliki beberapa lokasi wisata batik yang menyajikan batik dari cara pembuatan hingga
siap untuk digunakan. Daerah wisata batiknya tersebar dari pusat kota Malioboro hingga
pelosok, seperti Imogiri dan Wijirejo-Bantul. Di beberapa tempat, selain berwisata juga dapat
mengikuti kursus membatik dalam waktu singkat.

Malioboro
Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Keraton Yogyakarta, Tugu
dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah
Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar
tradisional semenjak tahun 1758. Hingga saat ini, tempat itu masih bertahan sebagai suatu
kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan
Malioboro.
Terletak sekitar 800 meter dari Keraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi
dengan karangan bunga setiap kali Keraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam
bahasa sansekerta berarti "karangan bunga" menjadi dasar penamaan jalan tersebut.
Jalan Malioboro dipenuhi dengan pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel
berbintang dan bangunan bersejarah. Jalan ini di masa lalunya menjadi basis perjuangan saat
agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948. Selain itu juga pernah menjadi lahan
pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK)
pimpinan seniman Umbu Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.
Di Malioboro kita bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade).
Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari
produk kerajinan lokal hingga beragam batik. Biasanya batik yang ditawarkan di pedagang
kaki lima ini kualitasnya kurang terjamin. Kita harus jeji dalam melihat produknya.
Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah
maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar
harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.
Akan tetapi jika kita malas tawar menawar, maka di sepanjang malioboro juga
terdapat banyak toko batik dan butik batik dengan beragam harga yang ditawarkan. Walaupun
di toko, harga batiknya juga relatif murah akan tetapi produk batik yang dijual lebih terjamin
kualitasnya. Sedangkan harga biasanya sudah ditentukan oleh toko itu.
Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik
Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekadar mencari tirai
penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Hampir semua produk di
lokasi ini mengambil batik sebagai tema utamanya. Tema batiknya pun beragam tergantung
pada trend.

Toko atau tempat penjualan batik yang layak dikunjungi:


Pasar Seni Nadzar
Jl. Malioboro 187 Yogyakarta
Telp (0274) 582 581, 512 458
Bentuknya seperti toko, tetapi lokasi pusat batik dan kerajinan ini menyebut dirinya
Pasar Seni Nadzar. Lokasinya di depan hotel Natour, dekat dengan papan nama jalan:
Malioboro di sebelah utara stasiun Tugu. Di sini tersedia beragam kerajinan. Misalnya gelang
batik, tas batik, sandal batik dan pernak-pernik lainnya. Selain itu juga tersedia beragam
pakaian batik untuk segala usia.

Batik Mangkoro
Jl. Malioboro 163 Yogyakarta
Telp. (0274) 514 335
Batik Mangkoro menyediakan beragam kebaya etnik dengan paduan batik yang
menawan. Rancangan kebaya dan pilihan batiknya tampak ekslusif mengingat toko batik ini
merancang sendiri batik dan kebaya yang dipamerkan. Soal harga relatif murah, tegantung
pada kualitas batik dan rancangannya.

Batik Taruntum
Jl. Malioboro 143 Yogyakarta. Telp (0274) 55 77 31
Batik Taruntum mengambil slogan: Pelestari Tradisi Anak Negeri. Beragam batik
dapat ditemukan di sini, terutama batik-batik klasik.

Batik Sekar Arum


Jl. A Yani 59 (Maiioboro Selatan)
Telp. (0274) 560 434
Batik Sekar Arum menyajikan beragam pakaian batik untuk pria dan wanita. Motif-
motifnya yang kontempoer sangat cocok bagi yang berjiwa muda. Selain batik untuk
kesempatan resmi, juga disediakan batik untuk santai. Warna-warna batik yang cerah seperti
hijau, merah hingga cokelat terlihat modis.

Batik Soenardi
Jl. Jend Ahmad yani No. 27 Maiioboro, Yogyakarta.
Telp/fax: (0274) 561 499.
Toko batik yang berdiri sejak tahun 1957. Pengusaha batik ini juga membuka kiosnya
di Pasar Beringharjo. Beragam kebaya modern dipadukan dengan batik tersedia di tempat ini.
Selain itujuga dijual beragam pernak-pernik batik mulai dari bantal hingga tas batik yang
unik. Kualitas batiknya sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Mirota Batik
Mirota Batik merupakan tempat untuk membeli oleh-oleh, hiasan-hiasan etnik
maupun batik dengan konsep swalayan. Di tempat ini kita dapat membeli barang-barang di
atas dengan harga yang 'tidak diketok', terutama untuk orang yang tidak mahir tawar-
menawar.
Ada 2 lokasi Mirota Batik di Jogja, yang pertama adalah pusatnya yaitu di depan
pasar Beringharjo, alamat lengkapnya adalah Jl Jend A Yani No. 9, Telp. (0274) 588524. Yang
kedua adalah di daerah Kaliurang tepatnya Jl Kaliurang Km 15, 5 (sekitar kampus UII) Telp.
(0274) 897068 / 897033
Para pramuniaga berpakaian tradisional Jawa, dan semuanya terlihat cekatan dan
ramah. Di setiap sudut ruangan akan tercium bau kembang setaman dan dupa sebagai aroma
terapi yang membuat suasana semakin unik.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo adalah pasar tradisional yang terletak di Jl. Jend A. Yani Kawasan
Malioboro, Yogyakarta. Pasar ini terkenal dengan koleksi dagangan batik, baik yang berupa
kain batik atau pun produk garmen batik lainnya seperti, daster, celana pendek, piyama dll.
Lokasi pasar ini bersebelahan dengan museum sejarah Benteng Vredeburg dan berseberangan
dengan Gedung Agung. Pasar ini terkenal sebagai salah satu tujuan wisata dan sekaligus
merupakan pusat kegiatan perdagangan produk batik Yogyakarta.
Pasar Beringharjo memiliki sebutan "EENDER MOOISTE PASSER OP JAVA" atau
salah satu pasar terindah di Jawa. Pasar yang berkonstruksi beton bertulang dalam bentuk dan
wujud yang akrab dengan arsitektur tropis ini juga merupakan pasar tertua yang
keberadaanya mempunyai nilai historis dan filosofis yang tidak dapat dipisahkan dengan
keraton Yogyakarta.
Pasar tradisional yang terus berkembang ini dibangun di atas tanah seluas 2, 5 hektar
dan mengalami rehabilitasi sebanyak dua kali pada tahun 1951 dan 1970. Seiring dengan
perkembangan zaman dan pemerintahan, maka pasar Beringharjo diambil alih oleh
pemerintah kota Yogyakarta.
Pasar Beringharjo merupakan salah satu komponen utama dalam pola tata kota
kerajaan Islam yang biasa disebut pola catur tunggal, yaitu keraton, alun-alun, pasar, dan
masjid. Di zaman dulu pasar Beringharjo dahulu hanyalah sebuah lapangan luas yang becek
dan banyak ditumbuhi pohon beringin. Di sisi timur pasar itu dahulunya adalah bekas makam
orang-orang Belanda. Pada 1758, Sri Sultan menetapkan daerah ini menjadi tempat
pertemuan rakyat. Sejak itu, mulai bermunculan payon-payon sebagai peneduh.
Pada 24 Maret 1925, Nederlanch Indisch Beton Maatschapij ditugaskan membangun
11 los pasar. Pasar berkonstruksi beton bertulang dengan arsitektur disebut Eender Mooiste
Passers Op Java, yang artinya pasar terindah di Jawa.
Nama Beringharjo baru diberikan setelah bertakhtanya Sri Sultan Hamengku Buwono
IX. Beliau memerintahkan agar nama-nama Jawa dipergunakan untuk semua nama instansi di
bawah kesultanan. Beringharjo merupakan nama yang paling sesuai untuk nama pasar di
tengah kota ini mengingat lokasi itu dulunya adalah hutan beringin.
Pohon beringin menunjukkan kebesaran dan pengayom bagi banyak orang. Jadi,
sesuai dengan apa yang diemban pasar tersebut sebagai pasar pusat atau pasar gedhe bagi
kota Yogyakarta.
Jika kita ingin berbelanja batik di pasar Beringharjo, tidak perlu datang terlalu pagi,
mengingat para pedagang batik itu siap melayani pengunjung mulai jam 9 pagi. Pada los
bagian depan pintu gerbang pasar ini dipajang beragam batik sesuai trend yang berlaku saat
itu.
Hati-hati jika tawar-menawar, tawarlah setengah harga dari yang disarankan penjual.
Biasanya penjual di wilayah ini menawarkan harga mahal untuk para wisatawan.
Apabila menginginkan batik-batik klasik atau batik tulis kita dapat mendatangi
wilayah kiri jika kita datangnya dari pintu gerbang utama. Harganya relatif murah, tapi hati-
hati bila kita belum paham tentang batik di sini juga banyak batik yang terlihat halus
motifnya dan ternyata itu hanyalah batik cap atau pun printing.
Di Pasar Beringharjo ini tersedia beraneka ragam batik, mulai dari kemeja, baju untuk
wanita, anak-anak dan remaja. Juga tersedia bed cover, tas batik, ransel batik, sandal batik,
dan kain batik printing yang dijual gulungan. Tidak semua batik yang dijual di sini asli
Yogyakarta, bahkan lebih banyak yang merupakan produksi Solo atau pun Pekalongan.

Kauman
Kauman adalah sebuah Kampung yang terletak di selatan. Malioboro dan di utara
Keraton Yogyakarta. Sebelah utara kampung ini dibatasi Jalan K.H.A. Dahlan, sebelah
selatan dibatasi Jalan Kauman, sebelah timur dengan batas Jalan Pekapalan dan Jalan Trikora,
sementara di sebelah barat dibatasi Jalan Nyai Ahmad Dahlan atau dulu dikenal dengan Jalan
Gerjen.
Di kampung Kauman ini terletak Masjid Cede yang terkenal. Lapangan masjid ini
selalu digunakan untuk acara tahunan grebeg pada setiap penyelenggaraan Sekaten oleh
pihak Keraton Yogyakarta. Dahulu merupakan tempat tinggal para abdi dalem pametakan
atau Penghulu keraton yaitu abdi dalem/pegawai keraton yang mengurusi bidang keagamaan
Islam di lingkungan Keraton Ngayogyakarta.
Kauman Yogyakarta dikenal sebagai basis dari organisasi Islam Muhammadiyah. Di
kampung inilah Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Tokoh ini merupakan
pedagang batik yang sukses di zamannya. Selain itu tempat ini juga merupakan komunitas
terbesar bagi keturunan Arab di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bagi pecinta batik, kampung Kauman ini bisa menjadi wilayah penjelajahan untuk
belanja batik. Lokasinya yang tidak jauh dari Malioboro membuat lokasi ini mudah
dijangkau. Jika lelah berjalan kaki, kita bisa naik becak dengan harga relatif murah. Beberapa
lokasi belanja batik yang layak dikunjungi antara lain:

BATIK YOGYA KEMBALI


Jl. Kha Dahlan No. 8 Yogyakarta
Phone: +62 274 545485, +62 274 7138018
Fax: +62 274 548080
Contact Person:
Firda Nurul Aini, SE: +62 811254323
Toko Batik Yogya Kembali menyediakan beragam varian busana batik mulai dari
busana formal, semi formal, atau pun santai. Selain itu kita akan menjumpai batik hasil
bermacam teknik seperti cap, tulis, dan printing.
Kemeja lengan panjang dan pendek untuk pria yang ingin tampil resmi dalam nuansa
tradisional. Aneka blus batik cantik yang tampak formal tapi santai siap menemani aktivitas
wanita pekerja. Ada juga bermacam produk busana muslimah bagi para ukhti yang ingin
bergaya dengan batik namun tetap ingin menjalankan perintah-Nya.
Batik Yogya Kembali juga menyediakan banyak produk batik bagi generasi muda.
Terdapat kaos-kaos bermotif batik aneka warna untuk bergaya dalam balutan warisan leluhur
bangsa. Bagi para remaja putri dihadirkan blus batik yang diberi sentuhan kontemporer
seperti aksen kain jeans dan payet.
Selain busana batik, Batik Yogya kembali juga menyediakan produk-produk
fungsional yang terbuat dari batik seperti taplak meja dan sarung bantal.
Koleksi busana batik Yogya Kembali memiliki motif yang berasal dari beberapa
daerah seperti motif Yogyakarta dengan warna kalemnya, motif Solo yang berwarna cerah
namun lembut, dan motif Pekalongan yang terkenal dengan warna-warna terang nan berani.

YARSILK
Yarsilk atau PT Yarsilk Gora Mahottama
Jl. KHA Ahmad Dahlan 73 Yogyakarta Telpon (0274) 418 600 fax (0274) 411930
Yarsilk atau PT Gora Mahottama ini juga disebut Royal Silk. Produk yang
dipamerkan dan dipasarkan berupa batik atau pun kerajinan lainnya yang berbahan ulat sutra
alam. Benang ulat sutra itu dipintal dan dibuat selembar kain sutra. Produknya berupa
pakaian, bros, cincin atau hiasan lainnya yang menggunakan ulat sutra. Uniknya, bahan
pakaian dari ulat sutra ini juga dihias dengan motif batik.

Tamansari
Ketika kita ke Tamansari, jangan lupa ke Istana Air Tamansari. Terletak lebih kurang
400 meter dari komplek Keraton Yogyakarta. Kita juga bisa menggunakan becak menuju ke
lokasi ini.
Tamansari berarti Taman yang indah. Di zaman dahulu merupakan tempat rekreasi
bagi Sultan Yogyakarta beserta kerabat istana. Kini, Tamansari dapat dikunjungi oleh
masyarakat umum.
Di kompleks ini terdapat tempat yang masih dianggap sakral di lingkungan
Tamansari, yakni Taman Ledoksari di mana tempat ini merupakan tempat peraduan dan
tempat pribadi Sultan. Diantara bangunan yang menarik adalah Sumur Gemuling yang berupa
bangunan bertingkat 2 dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah. Di masa lalu,
bangunan ini merupakan semacam surau tempat Sultan melakukan ibadah sholat. Bagian ini
dapat dicapai melalui lorong bawah tanah. Di bagian lain masih banyak lorong bawah tanah
yang lain, yang merupakan jalan rahasia, dan dipersiapkan sebagai jalan penyelamat bila
sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh. Di sebelah Utara kompleks
Tamansari terletak pasar Ngasem.
Bagi pecinta batik, di Tamansari juga dapat ditemukan beragam produk batik dan
tempat pembuatannya. Batik lukis merupakan salah satu produk asli dari Tamansari yang
telah dikenal oleh masyarakat luas.
Dari asal katanya, batik lukis merupakan suatu metode melukis dengan memanfaatkan
atau menggunakan prinsip-prinsip membatik. Seperti halnya pada membatik, pembuatan
batik lukis ini juga menggunakan peralatan-peralatan seperti: canting, malam, pewarna dan
sebagainya. Selain itu juga prosesnya hampir sama dengan membatik, akan tetapi lebih
variatif sesuai dengan kreativitas pelukis. Semakin kompleks warna yang digunakan, maka
semakin lama pula proses pembuatannya.
Apabila tertarik untuk belajar, di sana banyak terdapat tempat pelatihan yang
menawarkan proses belajar dari tingkat pemula hingga tingkat mahir. Ada beragam aliran
lukisan yang disediakan seperti naturalisme, primitif, klasik, realisme, surealisme,
ekspresionisme dan sebagainya sesuai keinginan. Proses pembelajarannya bervariasi, mulai
dari 1 sampai 2 hari apabila kita hanya ingin mengenal teknik dasarnya saja. Akan tetapi jika
ingin menguasai teknik membatik hingga detail-detailnya kita memerlukan waktu yang relatif
lama.

Balai Batik
Lembaga yang berlokasi di Jalan Kusumanegara ini menyiapkan tenaga dan ruangan
khusus bagi kita ingin belajar membatik. Biaya yang dikeluarkan bervariasi sesuai durasi
kursus yang diinginkan. Kita juga bisa melihat beragam karya batik nusantara yang
dipamerkan di Balai Batik.

Museum batik
Museum Batik Yogyakarta adalah museum batik pertama di Yogyakarta didirikan atas
prakarsa Hadi Nugroho, pemilik museum. Museum swasta ini terletak di Jalan Dr. Sutomo
13-A, Yogyakarta, buka mulai pukul 09.00 sampai 12.00 WIB, berlanjut pukul 13.00 hingga
15.00 (kecuali Minggu dan hari besar).
Bangunan ini dikelola oleh pasangan suami istri Dewi dan Hadi Nugroho. Pada 12
Mei 1977, museum diresmikan Kanwil P & K Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Museum ini mendiami area seluas 400 m2 dan sekaligus dijadikan tempat tinggal pemiliknya.
Museum ini menyimpan lebih dari 1.200 koleksi perbatikan yang terdiri dari 500
lembar kain batik tulis, 560 batik cap, 124 canting, dan 35 wajan serta bahan pewarna,
termasuk malam.
Koleksi museum antara lain batik gaya Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan gaya
tradisional lainnya dalam bentuk kain panjang, sarung, dan sebagainya. Beragam motif juga
dijumpai di sini, misalnya motif pesisiran, pinggiran, terang bulan, dan motif esuk-sore.
Beberapa koleksinya yang terkenal antara lain: Kain Panjang Soga Jawa (1950-1960),
Kain Panjang Soga Ergan Lama (tahun tidak tercatat), Sarung Isen-isen Antik (1880-1890),
Sarung Isen-isen Antik (kelengan) (1880-1890) buatan Nyonya Belanda EV. Zeuylen dari
Pekalongan, dan Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930) buatan Nyonya Lie Djing Kiem
dari Yogyakarta. Semua koleksi yang ada dalam museum ini diperoleh dari keluarga pendiri
Museum Batik Yogyakarta. Koleksi tertuanya adalah batik buatan tahun 1840.
Di dalam museum ini ada tiga ruangan. Di ruang terdepan dipajang bermacam alat
membatik. Selanjutnya pengunjung dipandu ke ruang koleksi batik Soga Yogya dan Solo.
Terakhir, pengunjung dapat menikmati koleksi batik pesisiran.
Tempat wisata dan Belanja Batik Lainnya
Kawasan baluwarti atau lebih dikenal dengan sebutan jeron benteng, yang dulu
banyak ditempati oleh para pangeran, sentana dalem dan abdi dalem Keraton Kasultanan
Yogyakarta, seperti Panembahan, Ngadinegaran, Yudonegaran, Gamelan, Siliran,
Langenastran, Taman, Ngasem, dan sebagainya hingga saat ini juga dipenuhi oleh sentra
batik, baik dalam produksi maupun penjualan. Begitu pula kawasan sekitar keraton seperti
Kauman, Mangkuyudan, dan sekitarnya juga banyak dijumpai produksi dan penjualan batik.
Beberapa tempat sentra batik di Yogyakarta yang terekam dari data www.tembi.org di
antaranya:
 Tjokrosoeharto Batik & Silverwork di Jalan Panembahan 58
 Candra Remaja di Jalan Panembahan 11/91
 Senastri Batik & Handycraft Perus di Jalan Nagan Kidul 4
 Bu Karti Batik Asli di Jalan Taman BI KT1/420, Kerajinan dan Batik Widya Asih di Jalan
Nagan Tengah 11
 Utari Batik di Jalan Taman KT 1/287
 Wirajaya Batik di Jalan Kadipaten 5
 Toko Murah Rejeki di Jalan Ngasem 15
 Toko Sekar Jagad di Jalan Kadipaten Kidul 9 Yogyakarta
 Batik Hotel di Jalan Dagen
 Batik Narendra di Jalan Mayjen Panjaitan 102
 Dalmi Batik Collection di Jalan Suryodiningratan BI MJ 2
 Dia Dio Batik di Jalan Kauman 39
 Genthong Batik di Jalan Rotowijayan 20A
 Harumi Batik di Jalan Kadipaten Kidul 63
 Luwes Putra Art di Jalan Mangkuyudan 45
 Mataram Rumah Batik di Jalan Suryodiningratan 20
 Batik Jogja Kembali di Jalan KH. Ahmad Dahlan
 Batik Beta di Jalan Sosrowijayan Wetan BI KT 1/67
 Ibu Marsiyah Batik Antik di Jalan Suryodiningratan BI MJ 2/708
 Klenthung Batik di Jalan Jogokaryan MJ HI/719
 Mangkoro Batik di Jalan Mayor Suryotomo 31
 Margaria Wisma Batik di Jalan Rotowijayan 20 B
 Mekar Batik di Jalan Wakhid Hasyim 75
 Plengkung Gading Batik di Jalan Mayjen Sutoyo 5
 Prapanca Batik di Jalan Trikora 6
 Ramayana Puri Batik di Jalan Ahmad Dahlan 21
 Seno Batik di Jalan Mantrijeron MJ HI/800
 Surya Kencana Batik di Jalan Ngadinegaran MJ III/133
 Tiyas Galeri & Batik Course di Jalan Sosrowijayan Wetan GT-1/7 A
 Toko Wisnu di Jalan Ibu Ruswo
 Toko Wulandari di Jalan Kauman 2
 Atik Handoyo Batik di Jalan Prawirotaman 34
 Batik Sri Timur di Jalan Parangtritis 65
 Tribuwana Batik Kp. Karangkajen MG 3/727.
 Batik Nusa Indah di Jalan Jogja Solo Km 18, 5
 Batik Ya Halwa di Jalan Bantul Km 8, 5
 Ardiyanto Wijayakusuma di Jalan Magelang Km 5, 8
 Batik Danarhadi di Jalan Laksda Adisucipto 3
 Batik Terang Bulan Putra di Jalan C. Simanjuntak 66
 Pertiwi Batik di Jalan Sisingamangaraja 67
 Ndalem Pertiwi, Griya Batik Nusantara, Jl. Singoranu No. 542 Ring Road Selatan,
Tamanan, Yogyakarta
 Margaria Group di Jalan Tamansiswa 149
 Pudni Batik di Jalan Godean Km 7
 Puri Melati Batik di Jalan Laksda Adisucipto Km 7, 5.

Itulah beberapa pusat produksi dan penjualan koleksi batik yang dapat dijadikan referensi
bagi para penggemar batik Yogyakarta, walaupun sebenarnya masih banyak tempat lain.

BANTUL

Imogiri, Bantul
Imogiri merupakan wilayah bagian selatan Yogyakarta. Daerah ini terkenal dengan
makam raja-raja Mataram. Lokasinya di perbukitan dengan tanah berwarna merah. Selain
dapat berwisata spiritual, di wilayah ini kita juga dapat berwisata batik. Seputar makam
imogiri banyak pengrajin batik. Beberapa pengrajin batik yang layak dikunjungi antara lain:

Batik Giriloyo Exotic Natural


Lokasinya di Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Pengelolanya: Hj.
Giyarti Takarina. Telp. (0274) 684 8233 atau 085 6433 68806. Di lokasi ini kita dapat melihat
aktifitas pengrajin batik. Batik yang diproduksi pengrajin ini lebih banyak menggunakan
pewarna alami seperti indigo dan mahoni. Batik yang cukup menarik untuk dikoleksi adalah
batik motif kapalan yang dibuat dengan pewarna alami maupun sintetis. Warna batik kapalan
yang dibuat Giyarti lebih banyak berwarna cokelat. Giyarti juga menyediakan pakaian batik
siap pakai untuk pria maupun wanita.

Kelompok Batik Tulis Berkah Lestari


Lokasi di Karangkulon RT 02 Giriloyo Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Ketua
kelompoknya bernama Mukhoyaroh. Jika ingin berkunjung dapat menghubungi Nani: 081
915 522 076 atau Erni: 081 328 174 522 atau Choirul: 081 578 888 610.
Kelompok ini sering mengadakan kursus singkat membatik dengan biaya yang murah.
Berbagai produk batik yang dihasilkan antara lain batik warna alam, batik sintetis, dan
aplikasi dari berbagai jenis lainnya. Batik yang dihasilkan antara lain batik motif kapalan
dengan warna biru. Selain itu kempok ini juga menerima pembuatan batik sesuai dengan
pesanan.

Batik Suka Maju


Lokasi di Cengkehan, RT 03 Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Kontak person:
Agus (0274) 655 7238 atau 082 8292 1927. Produk yang ditawarkan antara lain batik warna
alami, sintetik, batik kayu, batik lukis, batik kain, aplikasi berbagai kain, jarit, kain sutra,
selendang, kaos dan baju batik. Di tempat ini pengunjung dapat mengikuti kursus singkat
membatik dan proses pewarnaan.

Museum Lingkungan Batik Cipto Wening


Museum Lingkungan Batik Cipto Wening terletak di Imogiri. Museum ini
menggunakan rumah joglo. Letaknya di dusun Paseban, desa Ketandan Tengah, tak jauh di
utara pasar lama Kecamatan Imogiri, Bantul.
Dari terminal Giwangan Yogyakarta, Cipto Wening berjarak sekitar 17 km ke arah
selatan. Tepatnya di Dusun Ketandan Tengah, Kec Imogiri, Kab Bantul. Perjalanan ke
wilayah ini sangat mudah dilakukan karena anda akan berangkat dari terminal yang tepat
berada di ujung utara ruas jalan Imogiri menuju desa tepat di ujung selatan ruas jalan ini.
Museum Lingkungan Batik Ciptowening menyimpan koleksi batik kuno yang usianya
lebih dari 100 tahun. Konon batik-batik kuno itu pernah digunakan oleh Pakualam ke VII dan
Pakualam ke VIII. Batik kuno tersebut bermotif sogan. Museum Lingkungan Batik
Ciptowening ini diresmikan kembali oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Museum yang didirikan pada 2004 silam ini rusak akibat gempa yang meluluhlantakkan
sebagian besar wilayah Bantul pada 2006 lalu. Akan tetapi saat ini museum tersebut telah
berdiri sempurna dan dapat kita kunjungi.
Sebelumnya, museum ini juga diresmikan oleh Sultan HB X. Museum batik ini
memiliki 250 hingga 300 koleksi batik dari berbagai motif. Batik-batik ini berasal dari batik
Yogya dan batik Solo. Batik Yogya sendiri berasal dari batik Imogiri, Bantul, dan motif-motif
lainnya.
Beberapa batik koleksi museum ini sudah sulit ditemukan. Mulai dari motif lereng,
atau beberapa batik kuno seperti motif sidomukti, sidoluhur, atau wahyu tumurun. Banyak
pembatik yang sudah tidak bisa membuatnya. Selain sulit, butuh ketelatenan yang lebih
dibandingkan membuat batik biasa.
Di museum yang dibuka untuk umum setiap Sabtu dan Minggu ini, membuka
pelatihan batik untuk umum. Pengelola museum juga akan menyediakan peralatan membatik
sekaligus instrukturnya.
Tujuan pendirian museum batik ini adalah untuk melestarikan batik-batik kuno asal
Bantul, Yogyakarta, dan wilayah sekitarnya. Disamping menampilkan koleksi ratusan batik
kuno, museum ini juga menyediakan ruang pamer bagi hasil karya pengrajin batik di wilayah
Imogiri khususnya dan Bantul umumnya.
Joglo Cipto Wening merupakan rumah tradisional berusia lebih dari 200 tahun. Joglo
ini dianugerahi peringkat 2 Rumah tradisional dalam kategori Joglo terbaik se-Daerah
Istimewa Yogyakarta. Museum yang dilengkapi sebuah galeri dan toko cindera mata ini
memberi suguhan tambahan pada pengunjung tiap hari minggu dan had libur, berupa
pasartiban. Pasartiban ini menjual berbagai jajanan pasar dan minuman tradisional.

Wijirejo, Pandak, Bantul


Lokasi wisata batik di kabupaten Bantul yang paling banyak dikunjungi adalah desa
Wijirejo, Pandak, Bantul. Di sini dapat ditemukan batik Bantulan. Desa Wijirejo, Pandak
bantul ini juga memiliki sejarah yang unik. Konon di wilayah ini dimakamkan Panembahan
Bodho. Nama aslinya adalah Raden Trenggono yang merupakan keturunan majapahit yang
hidup pada abad ke-14. Rade Terenggono atau yang disebut adipati Terung ke III yang juga
merupakan murid Sunan Kalijaga. Karena Panermbahan Bodho lebih memilih dan
mengutamakan siar agama Islam dan menolak jabatan adipati, maka sering disebut bodho
atau bodoh.
Panembahan Bodho merupakan tokoh yang disegani dan dianggap sesepuh pendahulu
dari raja Panembahan Senopati Sultan Mataram dan kemudian diberi Tanah Perdikan bekas
kekuasaan Mangir yang mempunyai wilayah timur Sungai Progo utara sampai Gunung
Merapi. Lokasi desa wisata di Bantul ini memang terdapat dipelosok Bantul. Jauh dari
keramaian kota, akan tetapi di sini kita akan menemukan beragam batik dengan warna-warna
cerah.
Motif-motif yang ditampilkan, antara lain motif gringsing, galaran dan motif
kontemporer. Hampir di seluruh desa baik di pinggir jalan raya maupun pelosok memajang
karya-karya batik mereka baik di rumah maupun di toko. Di sini kita juga bisa melihat proses
pembuatan batik. Harga batiknya relatif mahal dibandingkan dengan batik printing karena di
desa ini banyak diproduksi batik tulis dan cap dengan pewarna alami maupun sintetis.

Tempat pembuatan dan penjualan batik yang layak dikunjungi:


Erisa Batik
Alamat: Pijenan Wijirejo, Pandak, Bantu I
Telpon (0274) 745 3242
Di Erisa Batik dapat ditemukan beragam baju batik siap pakai untuk pria dan wanita.
Motifnya beragam dari klasik hingga kontemporer. Di sini juga dijual beraneka ragam tas
batik, ransel batik hingga dompet batik. Selain itu juga dijual batik sogan dan batik lasem.
Adapula taplak meja, batik seragam sekolah, batik warna alam dan batik tulis.

Pasar Seni Gabusan


Pasar Seni Gabusan dirancang untuk membuka akses pengrajin ke pasar internasional.
Karenanya, tak seperti pasar lain, desain pasar yang menampung sekitar 444 pengrajin ini
juga bertaraf internasional. Di pasar ini terdapat 16 los. Mereka memajang dan menjual karya
seni yang dihasilkan pengrajin Bantul. Pasar ini terletak di Jl. Parangtritis KM 9, 5 Bantul
Yogyakarta.
Pasar seni Gabusan menjual kerajinan dari ragam bahan dasar, mulai dari kulit,
logam, kayu, tanah liat hingga eceng gondok. Beragam bentuk kerajinan dapat ditemukan di
sini dari tas hingga mebel dan batik.
Memasuki los pertama, anda dapat menikmati kerajinan tas yang terbuat dari bahan
semacam rotan. Anyaman tas yang sangat rapi memberi kesan kuat dan paduan kain sebagai
aksesori. Ragam desain tas yang unik sekaligus elegan menjadikannya multifungsi.
Jenis kerajinan lain yang terdapat di los itu adalah kotak yang terbuat dari anyaman
bambu. Meski sederhana secara desain maupun fungsinya, kotak itu tetap memiliki keunikan,
apalagi tersedia dalam ragam warna cerah.
Pernak-pernik kecil yang fungsional juga terdapat di pasar ini. Tentu dengan desain
yang lebih artistik sehingga memiliki nilai tambah di samping fungsi utamanya. Sebuah
pigura, misalnya, banyak yang didesain menarik meski dengan bentuk yang standar. Ada
yang bagian pinggirnya dihiasi motif tertentu, misalnya motif seperti naga, sehingga semakin
mempercantik.
Pernik lain seperti tempat pensil juga terdapat dalam berbagai variasi. Misalnya,
tempat pensil yang berbentuk orang sedang duduk dengan hiasan rambut berwarna putih di
bagian kepalanya, sementara lubang tempat pensilnya terdapat di bagian depan. Akan lebih
banyak lagi pernak-pernik hasil kreativitas warga Bantul yang dapat dijumpai, seperti baki
(alat penyaji minuman) dengan desainnya yang beragam.
Selain pernak-pernik yang artistic itu, kita juga dapat berbelanja batik di lokasi ini.
Beragam batik disediakan, terutama produk batik yang merupakan produk buatan pengrajin
dari bantul. Misalnya, batik dengan motif gringsing dengan warna-warni cerah.
Sebuah pusat informasi yang terdapat di ruko yang terletak di kawasan ini akan
membantu kita mencari produk kerajinan yang diinginkan. Di pusat informasi itu, anda bisa
melihat detail produk beserta harga dan di kios mana memesan. Terhubung dengan jaringan
internet, adanya pusat informasi ini sekaligus memberi petunjuk bagi anda bahwa semua
barang yang tersedia di Pasar Seni Gabusan bisa dipesan secara online.

Kulonprogo
Kabupaten Kulonprogo yang terletak di bagian barat Yogyakarta merupakan salah
satu daerah yang layak dikunjungi sebagai tempat wisata batik. Daerah yang sentra batiknya
terutama di daerah Lendah terletak sekitar 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Jika Anda
termasuk orang yang suka berpetualangan dan mau agak bersusah-susah menemukan batik
yang lain daripada yang lain. Maka di sinilah tempatnya.
Lokasi batik ini berjarak sekitar 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Untuk menemukan
lokasi batik di Lendah, dari Yogyakarta kita menuju arah barat yaitu jalan wates hingga tiba
di Sentolo. Setelah pasar Sentolo kita akan menemukan desa Salamrejo yang merupakan
sentra berbagai kerajinan serat alam, baik yang terbuat dari enceng gondok, pelepah pisang,
rami atau pun serat alam lainnya. Misalnya berupa tas, tikar atau pun sketsel. Pengrajin
daerah ini lebih banyak menjual kerajinanya ke luar daerah seperti Bali bahkan juga ekspor
ke mancanegara.
Dari desa Salamrejo, barulah kita menuju ke desa Lendah tempat para pengrajin batik
membuat karyanya. Sepanjangjalan kita dapat menikmati suasana hutan jati dan keindahan
sungai Progo. Rumah-rumah penduduk yang tampak sederhana terbuat dari bambu
menambah keasrian desa itu. Dari Salamrejo kita dapat terus mengikuti jalan utama wilayah
itu hingga akhirnya tiba di Lendah.

Lokasi pengrajin batik yang bisa kita kunjungi antara lain:


Manggala Batik
Desa Mirisewu, Ngentakrejo, Lendah, Kulonprogo.
No telpon (0274) 8225225 atau 0815 1122 3788.
Manggala batik menyebut dirinya pembuat kreasi batik elit simetris, tulis, dan cap,
kombinasi serta jenis batik lainnya. Pemiliknya bernama Supriyono. Di Manggala Batik ini
kita bisa belajar membuat batik. Selain itu dapat juga menyaksikan beberapa pengrajin yang
tengah menyelesaikan batiknya. Batik yang dibuat di sini berwarna cerah seperti merah,
hijau. Ada juga warna hitam atau biru tua dengan motif minimalis. Motif batiknya
kontemporer dan berjiwa muda.

Sanggar Sembung Batik


Sembungan, Gulurejo, Lendah, Kulonprogo.
Telpon 081 328 654 723.
Sanggar ini dimiliki oleh Kang Giren yang merupakan salah satu pengrajin batik yang
membuat motif buah naga. Motif ini merupakan ikon wilayah Kulonprogo. Di tempat ini kita
dapat menyaksikan para pembatik yang tengah bekerja.
Jika ingin membeli batik, Kang Giren juga menyiapkan beberapa batiknya.
Sedangkan jika ingin memesan batik, baik motif buatan Kang Giren maupun motif yang kita
rancang sendiri, di sini dapat dilayani.

Desa Wisata Batik Kayu Krebet


Desa Wisata Batik Kayu Krebet terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan,
kurang lebih 5 (lima) kilometer sebelah barat Kota Bantul atau berjarak 12 km dari pusat kota
Yogyakarta. Desa wisata ini memproduksi berbagai jenis kerajinan batik kayu, seperti topeng
batik, tempat perhiasan, patung kayu, dan lain sebagainya.
Harga batik kayu relatif terjangkau dan bervariasi sesuai dengan kualitas dan
kerumitan pengerjaannya. Di sini kita juga dapat mengamati secara langsung proses
pembuatan batik kayu atau tinggal bersama penduduk setempat secara homestay dalam
nuansa pedesaan.
Yang menarik, peralatan yang dipakai dalam proses membatik pun tidak modern.
Lebih banyak dikerjakan secara manual. Workshop sekaligus galeri tempat memajang aneka
hasil kerajinan pun tampak alami. Sangat sederhana namun nyentrik. Nuansa seni budaya
nusantara khas tanah Jawa terekam kuat di Desa Krebet. Uniknya, semua pembuat sekaligus
penjual batik kayu di tempat ini memakai nama sanggar di depan nama usahanya.
Ada 16 sanggar yang tercatat di Dusun Krebet, Sendangsari, yang menghasilkan
berbagai bentuk benda seni. Beberapa sanggar yang layak dikunjungi antara lain:
Sanggar Punokawan
Dusun Krebet, Rt 04 Sendangsari, Pajangan, Bantui, Yogyakarta.
Telpon (0274) 64 66 730
HP 081 804 036 842.
Sanggar Punokawan, milik Anton Wahono. Galeri sekaligus tempat pembuatan
berbagai bentuk benda itu berciri sangat khas. Di depan tokonya berdiri patung tokoh
pewayangan yang terkenal, semar. Berwarna putih, berukuran besar dengan telunjuk kanan
sedang menunjuk.
Aneka bentuk barang bercorak batik dihasilkan dari usaha yang dirintis Sanggar
Punokawan sejak tahun 1985 itu. Patung, topeng, asbak, kap lampu, kotak serbaguna, sampai
beraneka jenis hiasan rumah lainnya dihasilkan dari tangan-tangan terampil anak buahnya.

Sanggar Peni
Krebet Sendangsari, Pajangan, Bantui, Yogyakarta.
Telp. (0274) 748 6125
HP 081 6685954.
Pemiliknya adalah Kemiskidi. Sanggar ini menjual aneka bentuk gantung-an kunci,
patung-patung hewan dan manusia, aneka bentuk wadah, sandal batik, gelang batik sampai
kursi bermotif batik. Sanggar Peni juga menerima berbagai bentuk pesanan untuk jumlah
yang besar atau kecil. Selain itu juga memberikan kursus singkat membatik kayu.
Di tempat ini para pemilik sanggar kerap melakukan demo proses pembuatan.
Setidaknya pengunjung pun bebas bertanya kepada para seniman. Bahkan di antaranya
diperbolehkan mencoba untuk melakukan proses tahap demi tahap hingga jadi.

Ragiel Handicraft 212


Krebet RT 04, Sendangsari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta.
Telpon (0274) 64 66 728 atau 081 794 33 855
Dengan kontak person Riyadi, di tempat ini kita dapat melihat berbagai macam
kerajinan kayu yang dibatik mulai dari hiasan dinding, gelang, gantungan kunci, cermin,
wayang klitik, topeng, patung, batik, loro blonyo (pasangan lelaki dan perempuan jawa), serta
aneka souvenir. Di tempat ini kita dapat memesan beragam kerajinan kayu batik.
Di belakang dan samping ruang pamer batiknya, kita dapat meliha proses pembuatan
batik kayu. Warna batik kayu bukan hanya cokelat sogan, akan tetapi banyakjuga yang dibuat
dengan warna-warna cerah. Misalnya topeng berwarna biru atau hijau, gelang batik berwarna
merah, atau gantungan kunci berbentuk gajah dengan warna biru.

Sleman
Museum Batik Ullen Sentalu
Museum Ullen Sentalu didirikan oleh Keluarga Haryono. Museum ini dikelola di
bawah Yayasan Ulateng Blencong yang mendapat dukungan para sesepuh Dinasti Mataram,
diantaranya I.S.K.S PB XII, GBPH Poeger, KGPAA PA IX, GRAy. Siti Nurul
Kusumawardhani, dan mantan ibu negara Ibu Martini Soekarno. Secara resmi dibuka
Gubernur DIY, Paku Alam VIII pada 1 Maret 1997. Ulateng Blencong Sejatine Tataraning
Lumaku, adalah akronim dari ULLEN SENTALU.
Koleksi museum adalah sejarah seni dan budaya Mataram yang merupakan warisan
intangible yang dituangkan dalam karya-karya fine arts antara lain berupa lukisan dan foto
keluarga Mataram, batik keraton yang dapat membuka ruang dan waktu dalam penelusuran
sejarah Mataram Islam maupun Klasikyang menjadi sumber identitas budaya bangsa.
Lokasi di Kawasan Wisata Kaliurang di kaki Gunung Merapi yang merupakan tempat
sacral dan panorama alam nan indah menjadi inspirasi penggagas arsitektur museum untuk
mendesain bangunan secara "In The Field Architecture Concept", di mana bangunan dibuat
dengan mengindahkan landscape dan menyatu dengan alam itu sendiri. Dikenakan tiket
masuk untuk menikmati koleksi museum ini. Buka setiap Selasa - Minggu (hari libur nasional
tetap buka) mulai pukul 09.00-16.00 WIB. Website: www.ullensentalu.com e-mail:
info@ullensentalu.com. tel/fax: (274) 880158, 895161 / 881743.

Solo
Pasar Klewer
Bagi wisatawan yang berkantong tipis, tidak akan menjadi halangan untuk berbelanja
batik. Cukup dengan datang ke Pasar Klewer, wisatawan langsung bisa menyalurkan hobi
berbelanjanya. Lokasi Pasar Klewer yang di tengah kota pun cukup mudah untuk dijangkau.
Apalagi pasar yang dibangun pada tahun 1970 itu berada dalam kompleks Keraton Surakarta.
Mulai dari harga belasan ribu hingga ratusan ribu, kain batik dalam berbagai motif
dan model, bisa ditemui di pasar batik terbesar di Indonesia ini. Baju lengan pendek dengan
motif batik di sini bisa dibeli dengan harga relatif murah, sedangkan batik berbahan kain
sutra, harganya tentu saja jauh lebih mahal.
Meskipun sudah lebih murah dibandingkan dengan harga toko, tetapi pembeli juga
harus berhati-hati. Pasalnya, sering pembeli yang tidak mengetahui seluk-beluk batik akan
tertipu, baik soal harga maupun bahannya. Itulah sebabnya, kita harus pintar menawar harga.
Selain itu, pembeli juga harus teliti dalam memilih kain batik yang akan dibeli. Sebab,
dengan dagangan yang begitu banyak, kadang penjual sering tidak memperhatikan kualitas
barang dagangannya. Misalnya, jahitan baju yang kurang sempurna . Tidak jarang barang di
dalam bungkusan cacat.
Satu lagi yang perlu diperhatikan oleh pengunjung. Karena Pasar Klewer merupakan
pasar tradisional, jangan harap pengunjung bisa menikmati dengan nyaman acara berbelanja
di tempat ini. Suasana panas dan penuh sesak dengan pedagang dan pembeli yang lain sering
menjadi alasan mengapa pengunjung tidak mau membeli batik di tempat ini.

Pusat Grosir Solo dan kawasan Beteng


Tempat belanja batik lainnya adalah Pusat Grosir Solo (PGS) dan kawasan Beteng.
Kedua pusat perbelanjaan itu memang mengkhususkan berjualan batik meskipun tidak semua
kios di sana berjualan batik.
Sama halnya dengan di Pasar Klewer, harga kain dan baju batik di kedua tempat itu
masih bisa terjangkau. Meskipun, jika dibandingkan dengan di Klewer, batik yang dijual di
tempat itu masih kalah lengkap. Walaupun begitu, di lokasi ini kita dapat membeli baju-baju
batik dengan kualitas yang lebih baik. Beberapa kios memajang dagangannya dengan gaya
butik. Bahkan ada beberapa merek batik tertentu membuka outlet di tempat ini. Dengan
demikian akan memudahkan kita untuk memilih batik yang berkualitas dengan harga yang
terjangkau. Desain batiknya pun lebih beragam dan modis.

Kampung Batik Kauman


Kampung batik kauman terletak di sebelah masjid besar yang berada di seberang
pasar Klewer. Mencari lokasi itu sangat gampang, akan tetapi tidak ada tanda yang spesifik
untuk menuju lokasi itu. Sesekali ada beberapa orang yang menawarkan untuk mampir di
sentra batik kauman.
Dalam situs www.pasarsolo.com, berbekal keahlian yang diberikan Keraton
Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kini masyarakat Kauman dapat menghasilkan karya batik
yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga
keraton. Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di Kampung kauman dapat dibedakan
menjadi tiga bentuk batik, yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap, dan
model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi
oleh seni batik Keraton Kasunanan merupakan produk unggulan Kampung Batik Kauman.
Produk-produk batik Kampung batik Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan
sutra tenun, dan katun jenis primisima.
Kampung yang memiliki 20-30 an home industry ini menjadi langganan para pembeli
secara turun-temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara, dan
Amerika Serikat). Di sini wisatawan bisa berbelanja sambil mengetahui secara langsung
proses pembuatan batik. Bahkan bisa juga mencoba sendiri kegiatan membatik.
Di samping produk batik, Kampung Batik Kauman juga dilingkupi bangunan
bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial, dan perpaduan arsitektur Jawa
dan kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap terjaga di tengah arsitektur modern
pusat perbelanjaan, homestay dan hotel yang banyak terdapat di sekitar Kampung Kauman.
Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar Kampung Kauman menyediakan
kemudahan-kemudahan bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.
Kampung Batik Laweyan
Kawasan sentra industri batik ini sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546
M. Seni batik tradisional yang dulu banyak didominasi oleh para juragan batik sebagai
pemilik usaha batik, sampai sekarang masih terus ditekuni masyarakat Laweyan sampai
sekarang.
Sebagai langkah strategis untuk melestarikan seni batik, Kampung Laweyan didesain
sebagai kampung batik terpadu, memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 24 ha yang terdiri
dari 3 blok.
Konsep pengembangan ini untuk memunculkan nuansa batik yang dominan yang
secara langsung akan mengantarkan para pengunjung pada keindahan seni batik. Di antara
ratusan motif batik yang dapat ditemukan di Kampung Batik Laweyan, jarik dengan motif
Tirto Tejo dan Truntum jadi ciri khas Batik Laweyan. Batik di lokasi ini lebih ekslusif dengan
harga yang relatif murah. Pengelolaan Karnpung Batik Laweyan ditujukan untuk
menciptakan suasana wisata dengan konsep utama "Rumahku adalah Galeriku". Artinya
rumah memiliki fungsi ganda sebagai showroom sekaligus rumah produksi.
Keroncong, karawitan, dan rebana merupakan jenis kesenian tradisional yang banyak
ditemukan di masyarakat Laweyan. Di kampung ini juga dapat ditemukan Makam Kyai
Ageng Henis (tokohyang menurunkan raja-raja Mataram), bekas rumah Kyai Ageng Henis
dan Sutawijaya (Panembahan Senopati), bekas Pasar Laweyan, bekas Bandar Kabanaran,
Makam Jayengrana (Prajurit Untung Surapati), Langgar Merdeka, Langgar Makmoer, dan
rumah H. Samanhudi pendiri Serikat Dagang Islam.
Laweyan juga terkenal dengan bentuk bangunan rumah para juragan batik yang
dipengaruhi arsitektur tradisional Jawa, Eropa, Cina, dan Islam. Bangunan-bangunan tersebut
dilengkapi dengan pagar tinggi atau "beteng" yang menyebabkan terbentuknya gang-gang
sempit spesifik seperti kawasan Town Space.

Museum Batik Danarhadi


Museum Batik Danarhadi terletak di dalam kompleks Ndalem Wuryaningratan.
Tepatnya di Jl. Slamet Riyadi 261 Solo, buka setiap hari jam 09.00 - 15.00 WIB, Galeri Batik
ini didirikan oleh H. Santosa Doellah.
Koleksi museum batik ini mencapai sepuluh ribuan koleksi batik kuno. Semuanya
merupakan koleksi H. Doellah. Museum ini bertema "Batik: Pengaruh Zaman dan
Lingkungan". Koleksinya antara lain, Batik Belanda, Batik Cina, Batik Jawa, Hakokai, Batik
pengaruh India, Batik Karaton, Batik pengaruh Karaton, Batik Saudagaran, Batik Petani,
Batik Indonesia, dan Batik Danarhadi. Setiap tujuh sampai sembilan bulan sekali koleksi
pajangan diganti.
Diresmikan oleh Megawati Sukarno Putri pada tanggal 20 Oktober 2000, dengan
nama "Galeri Batik Kuno Danar Hadi" saat ini berubah namanya menjadi "Museum Batik
Danar Hadi". Walaupun sebenarnya perusahaan Danar Hadi sendiri sudah berdiri sejaktahun
1967. Batik Danar Hadi merupakan perusahaan induk yang didirikan oleh Keluarga Santosa
Doellah.
Museum Batik Danar Hadi berupa Batik Kuno yang semua koleksinya adalah milik
pribadi yang berjumlah 10.000 potong yang berhasil dikumpulkan dalam kurun 30 tahun. Ada
1.500 potong batik yang diperoleh dari koleksi pribadi seorang kurator Museum Troupen,
Belanda. Batik-batik itu berangka tahun pembuatan antara 1840-1910.
Sejumlah kain batik kuno dengan motif khusus menempati satu ruang di bagian dalam
yang cukup luas. Di ruangan yang didesain dengan atmosfer aristokrat ini, terpajang puluhan
potong kain batik yang amat langka. Batik-batik itu pada zamannya hanya dibuat khusus
untuk para raja atau bangsawan tinggi setingkat adipati dan pangeran. Pada masa itu, batik-
batik dengan motif-motif khusus tersebut merupakan batik sengkeran yang dilarang keras
dikenakan oleh orang awam. Larangan yang dikeluarkan raja itu menimbulkan efek
psikologis bahwa batik dengan motif seperti Parang Barong, Udan Liris, Semen Ageng,
Semen Gurda mengandung sifat magis dan sakral.
Koleksi-koleksi itu sebagian diperoleh langsung dari empat istana di Solo dan
Yogyakarta yaitu Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura
Mangkunegaran serta Pura Pakualaman. Kurator Museum Batik Kuno Danar Hadi, Ir Ny TT
Soerjanto, menunjukkan, pihaknya berhasil mengoleksi kain batik milik Sri Susuhunan Paku
Buwono X (1893-1939). "Kain dengan motif Ceplok Dempel ini konon ageman dalem
(busana raja), tetapi entah kebenarannya," tuturnya. la mengakui, karena berbagai faktor, data
ten-tang koleksi memang lemah.
Ada beberapa kain koleksi PB X dipajang di satu sudut dengan foto diri Raja
Surakarta itu beserta permaisuri GKR Emas. Di sudut lain, sejumlah kain koleksi Pura
Mangkunegaran yang sebagian merupakan karya tulis (aim) Nyi Ageng Mardusari, salah
seorang selir KGPAA Mangkoenagoro VII yang dikenal sebagai pesinden dan pembatik
ulung.
Karya batik Nyai Mardusari seperti Bogas Pakis memang amat elok, begitu pula
karya KRAy Mangunkusumo, Gragah Waluh. Atau koleksi lain seperti Parang Sarpa. Warna
soganya yang kekuningan dipadu dengan motif yang berlatar kebiruan menghasilkan nansa
yang mengesankan. Nuansa soga pun setiap istana memiliki ciri masing-masing. Batik
Kasunanan cenderung cokelat kemerahan, Batik Kasultanan cokelat dan kontras dengan latar
putihnya, sedang Batik Pakualaman cenderung krem.
Adapun sejumlah kain koleksi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta serta Pakualaman
menempati sudut yang lain. Di antaranya kain kemben liris koleksi permaisuri Sri Sultan
Hamengku Buwono VII, serta batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman.
Ada pula koleksi kain dodot yang khusus dikenakan untuk busana tari Bedhaya
Ketawang. Kain dodot biasanya berukuran panjang 4, 5 meter dengan lebar 2, 25 meter.
Motifnya disebut alas-alasan yang menggambarkan isi hutan, dengan bentuk stilisasi (hewan
dan tumbuhan) yang sederhana. Warnanya hijau polos, sedang lukisannya menggunakan
bahan perada emas.
Beberapa lokasi batik lainnya yang layak kita kunjungi (sumber: solo batik sale
2010):
 Dandan Batik, Kampung Batik Laweyan, Jl. Sidoluhur 51B. Telpon (0271) 8000808 HP
081804022323
 Batik Putra Laweyan, Kampung Batik Laweyan, Jl. Sidoluhur No. 6 Laweyan, Solo.
Telpon (0271) 712123
 Batik Cahaya Putra, Kampung Batik Laweyan, Jl. Sidoluhur No. 4 Solo. Telpon (0271)
718608
 Putri Kentjana, Jl. Veteran Gg. Citarum 1/7 Menangan, Joyosuran, Solo, HP
08172853328
 Batik Mahkota Laweyan, Sayangan Kulon No. 9 RT Ol/III Laweyan Solo. Telpon (0271)
712276
 Danar Hadi, Jl Gatot Subroto Solo. Telpon (0271) 635743
 Danar Hadi, Jl. Slamet Riyadi 261 Solo
 Danar Hadi, Jl. Rajiman 164, Solo. Telpon (0271) 648598
 Ratu Batik Solo, Jl. Dr. Rajiman No. 6 Solo, Telpon (0271) 667727, 669111
 Batik Zaenal, Jl Raya Srogol Gg. Seruni, RT 02/III Solo, Telpon (0271) 7060002
 Batik Pria Tampan, Jl. Slamet Riyadi 246 Solo, telpon (0271) 635763
 Batik Kencana Murni, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 37 Solo, telpon (0271) 714045
 Rumah Batik Mutiara Timur, Jl. Trisula 47, Solo, telpon (0271) 7504561
 Kedung Batik Ndunggudel, Kedung gudel RT 04/III. Kel. Kenep Sukoharjo. HP 081 329
404172
 Seni Batik Tulis Tradisional, Gunawan setiawan, Jl. Cakra No. 21 Kauman Solo. Telpon
(0271) 667659
 Lumbung Batik PPBS, jl. KH Agus Salim 17 Solo. Telpon (0271) 8004185
 PCS (Pusat Grosir Solo), Jl Mayor Sunaryo No. 1 Solo. Telp (0271) 666800
 BTC, Jl. Mayor Sunaryo, Solo, Telp (0271) 643300, 643301

Sragen
Batik Kliwonan
Sragen memiliki sentra batik yang dinamakan Sentra batik Kliwonan, letaknya di
Kecamatan Masaran. Sentra ini terdiri dari Desa Kliwonan, Pilang, dan Sidodadi, Selain itu
terdapat beberapa desa lainnya yang terletak di Kecamatan Plupuh yakni Desa Jabung,
Gedongan dan Pungsari.
Di Sentra Batik Kliwonan terdapat 85 UKM batik yang mampu menyerap 5000
tenaga batik. Kapasitas produksi dalam setahun mampu menghasilkan batik jenis sutra dari
alat tenun bukan mesin (ATBM) sebanyak 50.000 potong dan batik jenis katun sebanyak
365.000 potong. Sebagian besar UKM adalah batik kombinasi antara tulis dan cap, atau
kombinasi antara tulis dan printing manual. Sedangkan untuk UKM yang masih menekuni
batik tulis murni ada sekitar 15 UKM.
Para pembatik ini memiliki kemampuan membatik yang diturunkan dari para orang
tua mereka, turun menurun dari generasi ke generasi. Sehingga bagi masyarakat desa, yang
namanya membatik itu sudah bukan hal yang asing, bahkan anak-anak sudah bisa membatik.
Desa Wisata Batik Kliwonan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Sragen, Jawa
Tengah. Jalur menuju Desa Wisata Batik Kliwonan sangat mudah dan nyaman dilalui.
Jaraknya 15 kilometer sebelah timur laut kota Solo atau 12 kilometer sebelah selatan pusat
kota Sragen. Dari arah Solo cukup ditempuh selama 20 menit dengan mengendarai mobil
atau bus.
Menyusuri jalan utama Solo-Surabaya, setelah melewati gapura batas Kabupaten
Karanganyar dan memasuki Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen, tanda penunjuk jalan
menuju Desa Wisata Batik Kliwonan dapat dijumpai. Dari jalan raya Solo-Surabaya menuju
lokasi desa wisata jaraknya sekitar4 kilometer. Harga batik dari perajin di sentra batik tentu
jauh lebih murah bila dibandingkan dengan daerah lain. Sangat bisa bersaing dengan daerah
lain. Tak cuma harga tapi kualitas pun dapat dibandingkan dengan batik daerah lain.
Di wilayah Sragen dikembangkan ekoturisme yakni turisme berbasis masyarakat,
lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Di sini juga dapat ditemukan beragam
souvenir yang berbasis batik kain perca batik, serta kayu batik.
Suasana pedesaan yang masih relatif asri dan alami ini menarik untuk dikunjungi.
Udaranya masih segar, tidak seperti perkotaan. Setelah itu wisata belanja, langsung ke rumah
produksi milik perajin batik. Potensi yang lain adalah wisata pendidikan. Wisata ini meliputi
belajar membatik, belajar bertani, belajar mengenai tanaman obat dan cara pemanfaatannya.
Ketika wisata belajar membatik, dapat berkunjung ke rumah-rumah produksi para perajin.
Dapat dilihat proses pembuatan batik dari pembuatan pola, pelapisan pola dengan lilin
(mencanting), pewarnaan, pelorodan, hingga produk jadi. Pengunjung dapat membeli produk
batik, langsung dari tangan pertama dengan harga jauh lebih murah.
Paket wisata belajar membatik singkat, hanya tiga jam juga dapat dilakukan di sini.
Tapi jika ingin belajar mendalam, sifatnya privat, bisa juga dilakukan. Harga paketnya
tergantug pada item yang ingin dipelajari. Ini nanti kesepakatan langsung dengan perajin
yang akan dituju. Tapi dijamin tidak akan memberatkan.
Selama ini 3 macamjenis batik yang kita ketahui adalah batik tulis, batik cap dan batik
printing. Di desa wisata batik Kliwonan yang sudah turun-temurun membuat batik ternyata
ada beberapa cara baru membuat batik selain 3 cara biasa dikenal. Misalnya teknik colet dan
teknik print cabut yang dapat pula dikombinasikan dengan teknik tulis manual. Teknik Cabut
sendiri adalah proses pemisahan warna dari kain batik. Dari segi motif, Desa Wisata Batik
Kliwonan sudah mengembangkan motif yang mengkombinasikan batik klasik dan tema flora
fauna/kontemporer. Berikut dua diantara sekian banyak perajin batik yang layak dikunjungi:

Dewi Brotojoyo
Rumah batik Dewi Brotojoyo terletak di sebelah Balai Desa Pilang, Masaran, Sragen.
Di sini pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan batik yang dicolet. Selain itu
tersedia beragam kain batik dan baju batik siap pakai. Motif yang banyak ditawarkan
terutama motif kontemporer dengan warna yang cerah. Untuk mengunjunginya dapat
menghubungi Eko Wahyudi atau Krisny Telpon (0271) 7007441 atau HP 081 2258 9245.

Batik Dewi Ratih


Kerajinan batik yang dimiliki Ibu Wartitik ini mengerjakan batik tulis dan cap manual
maupun kombinasi antara cap dan tulis. Salah satu tempat yang saya rekomendasikan untuk
berbelanja karena kualitas batik yang baik dan harga yang jauh lebih murah dari harga normal
di pasaran. Batik tulis di wilayah ini harganya relatif murah. Selain itu kita dapat memilih
batik cap dengan beragam kreasi motif dari tradisional hingga kontemporer. Seperti pengrajin
batik lain di Kliwonan, Sragen yaitu batik Dewi Ratih juga menerima pesanan kain batik
dengan motif maupun warna tertentu.

Batik Abimanyu
Kerajinan batik yang satu ini dimiliki oleh Wahid Al Amin. Yang menjadi keunikan
dari batik Abimanyu adalah pembuatan batik dengan teknik colet, yaitu pewarnaan dengan
bambu yang di"colet"kan ke kain batik. Dengan lokasi alam yang mendukung baik dari segi
keindahan maupun pencahayaan, lokasi batik Abimanyu bahkan pernah dimanfaatkan oleh
Garin Nugroho untuk pembuatan film dokumenter "Anak Seribu Pulau".

Pekalongan
Pasar Grosir Pekalongan
Sesuai dengan identitasnya sebagai Kota Batik, kini Pekalongan mengembangkan
wisata belanja, khususnya produk batik dan tekstil produksi alat tenun bukan mesin (ATBM).
Di daerah ini, ada tiga pasar grosir yang menjadi tempat wisata belanja, yakni Pasar Grosir
Setono, Pusat Grosir Gamer, dan Mega Grosir MM, semuanya berada dalam satu lokasi di Jl
Dr Soetomo, Pekalongan. Bentuknya memang seperti pasar, namun pengunjung pasti
menikmati datang ke sana. Hal ini terjadi karena lokasinya dibuat sedemikian rupa, sehingga
berkesan bersih dan enak dipandang. Pasar Grosir Pekalongan menyediakan berbagai produk
batik dan tekstil hasil ATBM.
Terdapat sekitar 650 kios yang semuanya menjual tekstil, baik untuk kebutuhan anak-
anak maupun dewasa. Harganya pun bervariasi. Motifnya pun beragam, sehingga pengunjung
yang akan berbelanja dapat memilih sesuai dengan selera.
Di pasar grosir itu, dilengkapi dengan fasilitas seperti wartel, tolilet dan kamar mandi.
Juga tempat peristirahatan yang nyaman serta tempat ibadah yang memadai. Kalau lelah
jalan-jalan di pasar, bisa istirahat dengan nyaman.

Museum Batik Nasional Pekalongan, Jawa Tengah


Museum Batik Nasional Pekalongan, Jawa Tengah, hingga kini mengoleksi sedikitnya
1.089 kain batik dari berbagai macam motif dan corak. Berlokasi di Jl, Jetayu No. 10.
Telepon 0285-431 698. Museum Batik Pekalongan awalnya merupakan peninggalan Kantor
Administrasi Pabrik Gula Belanda. Di sana ada 4 ruangan pameran. Ruang I terdapat jenis
batik pesisiran yaitu lasem, Cirebon, dan pekalongan. Di ruangan itu juga terdapat alat-alat
dan bahan membatik, seperti canting tulis, canting cap, lilin, pewarna alami dan pewarna
buatan.
Nama motif-motif batik juga unik. Batik Pekalongan selama ini dikenal dengan motif
buketan (rangkaian bunga atau buket) dan jlamprang (kesimbangan/simbolisasi beberapa arah
mata angin).
Selanjutnya pada ruang pameran batik Nusantara, yang merupakan koleksi batik
beberapa daerah di Indonesia, seperti batik Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan papua.
Sedangkan batik keraton merupakan batik pedalaman, terdapat di ruang 3. Misalnya, Batik
Keraton Surakarta. Di ruang 4 berupa ruang workshop dengan sistem ruang terbuka. Di sini
pengunjung dapat belajar membatik atau sekadar melihat proses pembuatan batik tulis dan
cap serta pewarnaan yang dikenal dengan istilah "nyolet".
Museum ini memiliki lebih dari 1000 koleksi batik yang sebagian batik mancanegara.
Beragam koleksi batiknya antara lain batikmotif kontemporer, tradisional, dan pesisir ini
berasal dari sumbangan para pencinta batik Indonesia. Motif batiknya dipengaruhi oleh
Keraton Solo, Yogyakarta, Pekalongan, dan Lasem. Koleksi batik kuno di museum ini
dipamerkan secara bergantian, mengingat tempat untuk pameran yang terbatas.terlalu sempit
Museum Batik Nasional Pekalongan yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pada tanggal 12 Juli 2006.
Beberapa tempat wisata batik di Pekalongan lainnyayang layakdikunjungi (Sumber:
Dishubkominfoparbud Kota Pekalongan Tahun 2010):
1. Grosir Batik Setono, Kelurahan Baros
2. Grosir Batik Gamer, Kelurahan Gamer
3. Grosir Batik MM, Kelurahan Baros
4. Grosir Batik Pasar Banjarsari, Kelurahan Sugihwaras
5. Grosir Batik PPIP
6. Kampung Batik ATBM Medono, Kelurahan Medono
7. Dupan Mall
8. Kampung Batik Kauman, Kelurahan Kauman, Gg. I, 08156552637, Paguyuban Kampung
Batik Kauman/Ir. Rofiqur Rusdi
9. Kampung Batik Pesindon, Jl. Hayam WurukII A/ 1A, 0285-420592, Sekretariat/ Bpk.
Zakaria
Pati
Jika berkunjung kabupaten Pati, Jawa Tengah, sempatkan mengunjungi desa Bakaran
Kecamatan Juwana. Tempat ini sangat terkenal dengan batik bakaran. Menurut pengusaha
batik, Bukhari dalam wawancaranya dengan kompas. com memaparkan, sejarah batik
bakaran terkait erat dengan kisah Nyi Danowati atau Nyai Ageng Siti Sabirah, penjaga
pusaka dan pengurus seragam Kerajaan Majapahit akhir abad ke-14. la datang ke Desa
Bakaran untuk mencari tempat persembunyian karena dikejar-kejar prajurit Kerajaan Demak.
Dalam penyamarannya di Desa Bakaran, Nyi Danowati membuat langgar tanpa
mihrab yang disebut Sigit, dan sampai kini menjadi pepunden, tempat warga menggelar
tradisi manganan. Di halaman Sigit itulah Bukhari mengajar membatik kepada warga sekitar.
Menurut dia, motif batik Nyi Danowati yang masih berkembang hingga kini adalah
motif sekar jagad, gandrung, padas gempal, magel ati, dan limaran. Motif-motif itu mirip
dengan motif batik dari Jawa Timur. Dahulu, pewarna batik motif itu menggunakan bahan-
bahan alami. Misalnya, kulit pohon tingi yang menghasilkan warna cokelat, kayu tegoran
untuk warna kuning, dan akar kudu sebagai pewarna sawo matang. "Sayangnya, bahan-bahan
itu sudah sulit didapat," kata Bukhari.
Selain motif-motif bakaran kuno, Bukhari juga mengembangkan motif kontemporer
berdasarkan kekhasan daerah dan tren yang dilihatnya berkembang di masyarakat. Misalnya,
motif gelombang cinta juwana, begisar, kembang rowo, peksi papua, pohon druju, dan jambu
alas.
Beberapa tempat penjualan batik yang direkomendasikan dalam situs
http://www.promojateng-:

JUWANA CRAFT
Jln. Nangka No 255 Growong Lor 07/111 Juwana Pati - Pati
Telpon: 0295-552909
Website: www.juwanacraft.com
Produk: Kuningan dan Batik

BATIK BUKHARI
Alamat: Desa Juwana – Pati
Telpon: 08122936231
Produk: Batik
Pasar Produk: Domestik
BATIK BAKARAN
Nama Kontak: Ibu Yahyu
Alamat Bakaran Kulon Rt.01/Rw.l Kecamatan Juwana Kab. - Pati
Telpon: 081390203867
Produk: Kain Batik & Sarung Batik
Pasar Produk: Lokal (Jawa Tengah)

BATIK COKRO BAKARAN


Nama Kontak: Ibu Tini Sukari
Alamat: Ds. Bakaran Wetan Rt.2/ Rw.02 Kecamatan Juwana Kab. - Pati
Telpon: (0295) 471660
Produk: Kain Batik

UPPKS "Putri Kota Garam"


Central Batik Tulis Bakaran
Nama kontak: Erni Handayani (Ninuk)
Alamat: Ds. Bakaran Kulon Rt 02/Rw 05 Juwana- Pati
Telp: (0295) 471 826 Hp 081 229 22270

Jakarta
Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah
pembatikan lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-XIX. Pembatikan ini dibawa oleh
pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanyakan didaerah-
daerah pembatikan. Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar didekat Tanah Abang
yaitu: Karet, Bendungan Ilir dan Udik, Kebayoran Lama dan daerah Mampang Prapatan serta
Tebet.
Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan
antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia
kesatu selesai, di mana proses pembatikan cap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan
pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Daerah pasaran untuk tekstil dan
batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota. Yang terbesar
ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang. Batik-batik produksi daerah
Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan
Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim ke
daerah-daerah di luar Jawa. Pedagang batik didominasi oleh bangsa Cina dan Arab.
Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Jakarta khususnya Tanah Abang,
dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan di tempat yang sama, maka timbul
pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta dan
tempatnya ialah berdekatan dengan Tanah Abang. Pengusaha-pengusaha batik yang muncul
sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa cina, dan buruh-buruh batiknya di datangkan
dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, Solo dan lain-lain. Selain dari buruh batik
luar Jakarta itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat di sekitar daerah pembatikan
sebagai pekerjaannya. Berikutnya, melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan
kerja baru, maka penduduk asli daerah tersebut juga membuka perusahaan-perusahaan batik.
Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal buruhnya didatangkan yaitu: Pekalongan,
Yogya, Solo dan Banyumas.
Bahan-bahan baku batik yang dipergunakan ialah hasil tenunan sendiri. Zat
pewarnanya pun diramu sendiri dari bahan-bahan kayu mengkudu, pace, kunyit dan
sebagainya. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya warnanya sama
dengan batik Banyumas. Beberapa tempat penjualan batik di Jakarta antara lainnya:
 Allure
Jl Kemang Raya 27A, Jakarta Selatan www.allurebatik.com
 Bin House
Jl Teluk Betung 10, Jakarta Pusat www.binhouse.com
 Danar Hadi
Jl Melawai Raya 69-70, Jakarta Selatan www.danarhadibatik.com
 IwanTirta
Jl Wijaya XIII No 11A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan www.iwantirtabatik.com
BAB 4
BERBAGAI RAGAM KREASI BATIK

Kreativitas, Kebebasan Ungkapan Rupa, dan Peruntukan


Apabila faktor pertama tentang pengembangan batik menyangkut pengetahuan atau
segi 'apa' darinya, maka faktor kedua adalah 'bagaimana' pengembangan itu dilakukan yang
tidak bisa dipisahkan dari faktor ketiga yakni tujuan pengembangannya atau peruntukannya.
Namun pembahasannya dilakukan terpisah untuk memperjelas permasalahannya.
Pembahasan tentang aspek 'bagaimana' pengembangan batik untuk menjawab berbagai
tantangan dan persoalan secara mendasar sebenarnya mempermasalahkan sikap dalam
berproduksi. Bila dipelajari secara lebih dekat produksi batik sepanjang masa sebenarnya
telah menunjukkan sikap kreatif yang dimiliki oleh para produsennya. Produksi batik
merupakan sebuah perayaan kreativitas baik dari segi estetik maupun teknologi. Kreativitas
adalah istilah yang amat sering terucapkan namun tidak sering terdengar diartikan dan
diuraikan. Bukan tujuan bahasan ini untuk menguraikannya secara panjang lebar namun
beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari arti kreativitas adalah dimilikinya kemampuan
atau daya untuk mencipta yang bersifat orisinal dan imajinatif. Secara lebih terurai kreativitas
merupakan sebuah kemampuan untuk menggunakan imajinasi, wawasan dan kekuatan
berfikir serta perasaan dan emosi untuk melahirkan sebuah gagasan baru.
Pada konteks kreativitas sejarah menunjukkan bahwa batik tidaklah terlalu asing
dengan berbagai penetrasi kekuatan eksternal dalam produksinya, baik dalam aspek corak
dan pencorakan (estetik) maupun teknis. Hal ini tumbuh dari kreativitas sektor produksi batik
dalam menanggapi aspirasi sektor konsumsi atau pasar. Artinya, batik sebagai sebuah
ungkapan budaya, sebagai sebuah seni, telah lama berada dalam wahana komoditisasi. Batik,
khususnya apa yang disebut sebagai batik pesisir, menunjukkan dengan jelas betapa sebuah
seni bertaut dengan hukum-hukum pasar, betapa corak dan pencorakannya berorientasi pada
kebutuhan eksternal, pada fungsi batik sebagai produk akhir sesuai dengan aspirasi
konsumen. Demikian pula halnya dari aspek medium pembentuknya.
Sejarah batik memperlihatkan permainan kreatif dan kejamakan teknologi produksi
dan material yang terakit dengan orientasinya pada komoditisasi. Semua itu menjelaskan dua
hal pokok. Pertama, bahwa batik menunjukkan sifatnya yang dinamis, menjelajah (lihat
Yuliman, 1990), baik pada aspek estetik dan teknis. Kedua, bahwa dinamika tersebut
memiliki implikasi kreativitas sebagai sebuah kekuatan inspiratif dan instruktif yang mampu
menjadi pemandu bagi upaya pengembangan batik dalam menanggapi perkembangan zaman.
Mestinya warisan tersebut, selain sebagai tradisi juga dilihat sebagai daya untuk
menumbuhkan gagasan atau pertanyaan apakah batik selalu harus pada kain katun, adakah
kemungkinan pada jenis kain lain atau bahkan bahan dasar lain (lihat Hasanudin dan Biranul
Anas et. Al. 1998). Apakah coraknya selalu harus batik sebagaimana pakem atau tradisi
mengharuskan. Mungkinkah perbedaharaannya diperluas atau bahkan keberanian untuk
menciptakan corak yang tidak taat pakem. Apakah selalu harus malam sebagai perintang,
adakah bahan lain yang bisa menggantikannya, dan seterusnya.
Di masa lalu produksi batik sudah berulang kali menunjukkan bahwa tantangan
dijawab dengan kreativitas. Kreativitas yang berhasil menjadikan informasi eksternal sebagai
energi untuk mengetengahkan corak dan pencorakan baru, juga kemungkinan medium baru.
Pencorakan kreatif yang menerobos ke masa kini, mencipta yang baru berdasarkan sikap baru
dan arus informasi yang terkaji, tersistem dan terkelola.
Batik telah melewati masa-masa kreatifnya di waktu siiam, dan kini kreativitas
tersebut terlihat kembali lewat sejumlah pekerja seni batik di Jakarta, Bandung, Cirebon,
Yogya dan Pekalongan. Patut dipelajari bagaimana mereka bekerja, apa yang menjadi
obsesinya, seperti apa cara berfikir mereka dalam berproduksi, dan apa yang
diimajinasikannya. Dapat dipastikan bahwa segenap energi dicurahkan untuk menciptakan
citra-citra baru bagi batik, terutama dalam hal penggarapan aspek presentasi visual yang baru.
Singkatnya, corak dan pencorakannya. Apakah secara langsung cukup bertolak dari
permainan bentuk, gaya dan warna atau dari teksturtenunan, konstruksi tenun, permainan
dimensi benang lusi pakan, variasi serat benang, atau semua sekaligus.
Atau, apakah sudah dipikirkan menggunakan corak dan pencorakan yang sama sekali
tidak terkait dengan stigma dan pakem batik. Seringkali terlihat penggunaan corak -corak dari
kebudayaan material suku-suku bangsa lain di Indonesia, tapi apakah berlanjut secara sadar
dalam strategi pengembangan batik ke masa depan, penetrasinya ke pasar eksternal yang
lebih luas dan penuh rivalitas dewasa ini, rasanya belumi
Atau, apakah pernah terfikir untuk menggunakan corak dan pencorakan yang
bersumber pada kultur mancanegara dan hanya menyisakan batik sebagai teknik, rasanya
juga belum atau belum terlalu terdengar. Dan sebabnya dapat diduga, ada faktor ketakutan
melanggar tradisi, ketakutan keluar dari anggapan dan stigma batik yang sudah berakar lama,
takut disebut bukan batik kalau memakai corak baru, dan anggapan yang mengakar bahwa
batik adalah juga teknik dan juga motif dan seterusnya.
Sementara negeri jiran, dalam hal ini sudah lebih maju. Walaupun tetap mengakui
bahwa asal muasal tradisi batik mereka dari Pekalongan. Arah strategi mereka kini adalah
pasar dunia. Bertolak dari slogan 'Batik Malaysia for the World' mereka terjun dalam strategi
penjelajahan kreatif corak dan pencorakan yang sama sekali baru, penjelajahan yang terpola
dan tersistem, bahkan cara pembatikan yang 'baru' pula. Benar bahwa mereka tidak 'terbebani'
oleh kebesaran tradisi dan stigma batik sebagaimana kita, sehingga lebih mudah berkiprah ke
'luar'. Tapi masalahnya bukan pada terbebani atau tidak, melainkan pada sikap mental
produksi, pada keberanian untuk menerobos, menembus segala anggapan dan praduga yang
ada sebelumnya dan kepandaian melihat kemungkinan baru (lama juga mereka terbebani
anggapan bahwa batik adalah Indonesia). Ini membutuhkan kecerdasan, strategi ke depan,
keterbukaan dan keberanian berkreasi, memandang ke dunia luas serta memahami dan
melayani aspirasi pasar global. Singkatnya, ini adalah kreativitas dalam arti yang seluasnya.
Masalah ketiga adalah untuk apa pengembangan batik dilakukan, atau dalam kalimat
lain, apa fungsi produk yang dituju oleh pengembangan batik, akan berguna sebagai benda
apa. Telah disinggung di atas bahwa masalah ketiga ini terkait dengan masalah kedua yang
menyangkut bagaimana cara pengembangannya, tetapi lebih jauh juga menyangkut strategi
desain. Perbincangan pada konteks fungsi semata sebenarnya sudah cukup untuk menunjuk
pada berbagai kemungkinan pengembangan aspek teknis dan estetisnya. Era modern
membuka banyak sekali peluang dan kemungkinan bagi batik untuk mengisi berbagai
kebutuhan masa kini, mulai dari perhiasan, peralatan rumah tangga, elemen interior bagunan,
peralatan olah raga, fashion, berbagai jenis aksesori, dekorasi, hingga aneka ragam produk
kebutuhan pariwisata (tourism oriented products). Namun persoalannya tidak berhenti di situ
mengingat pengembangan batik sebenarnya teramat kontekstual, khususnya bila dihubungkan
dengan berbagai ungkapan yang menempatkannya pada premis ekonomi seperti culture
industries (sudah lama tidak kedengaran lagi), creative industries dan sekarang creative
economies. Singkatnya semua istilah itu pada hakekatnya menunjuk pada konteks
komoditisasi produk, yang mendudukkan batik pada orientasi pelayanan pasar eksternal.
Keterkaitan antara cara pengembangan dan fungsi produk semakin mengemukakan aspek
fungsi batik pada keniscayaan untuk tunduk pada ekonomi pasar, pada aspirasi konsumen.
Hal ini selain menempatkan batik di luar sistem budaya masyarakat pembuat batik (budaya
internal), juga mendudukkannya sebagai produk komunitas modern dengan orientasinya pada
fungsionalisme, efisiensi dan efektifitas. Komoditisasinya mengalihkan batik dari posisinya
sebagai produk untuk melayani budaya internal, produk adat yang dibuat terbatas untuk
kepentingan sendiri, menjadi produk. Singkatnya, produk batik beralih ranah, dari non
komersial ke komersial. Peralihan ranah ini menjadikannya bagian dari sistem ekonomi pasar
yang terdiri dari unsur-unsur produksi konsumsi yang bekerja secara sistem berdasarkan
prinsip pasokan dan kebutuhan (supply and demand) perebutan pangsa pasar. Dari perspektif
pengembangan produk ini berarti batik menghadapi permasalahan kompleks yang melekat
(inherent) dengan kebijakan (policy) dan strategi desain. Ini tidak hanya bersangkut paut
dengan aspek estetika atau corak dan pencorakan, tapi juga aspek medium, teknologi
produksi hingga ekonomi. Sebuah kenyataan yang sebenarnya menyelipkan peluang bagi
terciptanya berbagai alternatif, baik pada aspek estetika (perancangan desain) maupun aspek
teknologi (bahan dan proses).
Permasalahan pengetahuan, kreativitas dan strategi peruntukan batik tersebut di atas
menunjuk pada kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang mampu memahami serta
mengejawantahkannya. Sehubungan dengan itu, maka pendidikan formal dalam bidang
tekstil, baik pada aspek estetis dan teknis memiliki peran yang amat strategis dan penting.
Dunia pendidikan tekstil dewasa ini, khususnya pendidikan tinggi, hanya terdapat di beberapa
kota saja di Indonesia, yakni di Bandung (STTB dan FSRD-ITB), Jakarta (FSRD - IKJ), dan
Yogyakarta (FSRD-ISI), serta sejumlah jenjang pendidikan tekstil tingkat diploma dan SLTA.
Selain dirasakan masih amat kurang dalam jumlah, kebanyakan jenjang pendidikan tekstil
tersebut, kecuali di FSRD-ITB, ISI Yogyakarta dan IKJ Jakarta, hanya berkonsentrasi pada
rekayasa tekstil modern (bukan rekayasa tradisional Indonesia). Bukan hendak mengatakan
bahwa bidang rekayasa modern tidak diperlukan. Tetapi bagi sebuah negeri dengan tradisi
seni tekstil yang amat panjang dan kaya seyogyanya konsentrasi juga difokuskan pada
pembelajaran kreativitas tekstil tradisional apabila hendak membuatnya mampu bertahan di
kancah persaingan masa kini.
Pendidikan tekstil di FSRD-ITB (tergabung di bawah Program Studi Kriya Tekstil)
sedang melaksanakan kurikulum yang bertolak dari pencapaian asli bangsa Indonesia di
bidang seni kain seperti batik, ikat, dan tenun dengan orientasi pada fenomena modernitas
(fashion, tekstil untuk interior, kebutuhan rumah tangga, pariwisata dan lain sebagainya).
Menurut Faruk (2008) Fenomena seni rupa mutakhir menunjukkan tidak hanya
hilangnya batas-batas yang memisahkan seni rupa murni dari seni rupa terapan atau pun seni
rupa yang reproduktif, melainkan bahkan batas-batas yang memisahkan seni rupa dengan seni
yang bukan rupa, entah yang verbal, musical dan bahkan seni rabaan dan sentuhan. Seni rupa
kemudian masuk ke dalam apa yang dikenal sebagai seni multimedia. Lebih jauh, ia bahkan
tidak lagi dapat memisahkan diri dari apa yang dianggap bukan seni, segala objek remeh-
temeh yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Seni batik sebenarnya sudah lama melakukan hal itu. Sejak lama batik sudah
mencairkan dan menerobos berbagai batas dalam sistem klasifikasi seni rupa yang struktural
itu. Pertama, seni rupa ini di dalam dirinya memang sudah merupakan campuran antara seni
rupa yang murni dengan seni terapan. Kedua, ia kemudian masuk ke dalam wilayah seni rupa
yang reproduktif, massal, industrial. Ketiga, seni batik kemudian bergerak ke dalam seni rupa
murni, menjadi semacam lukisan yang dibebaskan dari fungsi-fungsi praktisnya sebagai seni
terapan. Dari seni murni, batik bergerak kembali dan menjelma menjadi seni rupa kitsch yang
reproduktif, yang dijajakan di pasar pariwisata. Lebih jauh, seni ini bahkan masuk ke dalam
tidak hanya sektor ekonomi, melainkan politik dengan menempatkan diri sebagai "pakaian
nasional", lambang identitas politik masyarakat Indonesia. Tidak ada yang tabu pada batik.
Batik bisa masuk ke mana saja, melakukan kolaborasi dengan apa saja. Identitas baik sejak
semula bersifat plural: enak dipandang, enak disandang.

Ragam Kreasi Batik


Batik dapat dikreasikan menjadi berbagai macam produk terapan. Misalnya pada
fashion, aksesori, pernak-pernik, interior dan gift.

Fashion
Untuk fashion batik dapat diterapkan dengan beragam corak baik yang klasik maupun
kontemporer. Misalnya pada motif batik bola dan batik mobil.

Batik Bola
Di desa Gunting, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Desa Gunting ini berjarak
20 kilometer dari Tugu Yogyakarta pengrajin batik, Tumilan terinspirasi untuk membuat batik
bola. Tiga bulan lamanya ia berkutat untuk mewujudkan ide batik bola yang ternspirasi dari
Piala Dunia. "Batik itu saya ciptakan dengan motif bola. Penuangan karyanya dalam bentuk
kontemporer. Pewarnaannya menggunakan gaya pewarnaan batik klasik. Sedangkan proses
batiknya digabungkan antara batik painting dengan batik fashion"
Soal warna, Tumilan menggunakan warna-warna batik kontemporer seperti biru, ungu
atau agak kemerah-merahan dipadu dengan warna bola hitam putih. Teknik pewarnaan
menggunakan air brush. Motif yang paling favorit adalah motif bola lancip yaitu perpaduan
antara gambar bola dan batik motif parang lancip. Warna ini juga disesuaikan dengan warna
bendera peserta piala dunia. "Biar itu lebih menarik, ada pendukung fanatis masing-masing
tim itu, maka warnanya juga disesuaikan dengan warna bendera atau warna kostum pemain
bola itu,"
Batik bola biasanya digunakan untuk baju, yang paling dominan penggunanya adalah
laki-laki karena itu ditujukan untuk para penggila bola. Itulah sebabnya pemilihan warna juga
disesuaikan dengan selera para pria. Walaupun begitu, para wanita juga bisa
menggenakannya sebagai bahan untuk baju atau rok.
Berkaitan dengan batik bola, menurut Konsultan Desain, Sumbo Tinarbuko,
pembuatan batik ini prinsipnya adalah strategi dagang. Di dalam ajang piala dunia pastilah
membutuhkan souvenir. Indonesia, walaupun tidak dapat masuk berlaga dalam piala dunia
setidaknya tetap bisa berpartisipasi pada ajang piala dunia. Dosen Komunikasi Visual Institut
Seni Indonesia Yogyakarta ini menambahkan bahwa batik bola merupakan terobosan yang
luar biasa karena batik bukan hanya dilihat dalam bentuk ulir-uliran, stilisasi flora fauna dan
sebagainya. "Ternyata Indonesia itu tidak juara bola tapi ia menguasai hal-hal yang berkaitan
dengan penanda bola itu," begitu Sumbo menandaskan.
Sayangnya, kata Sumbo, sebagian besar pengrajin Indonesia hanya sebagai tukang
sementara labelnya bisa menggunakan negara mana saja. "Bentuk-bentuk warna ungu,
kuning dan seterusnya gayanya Mandela, gaya ala afrika asli. Yang terjadi adalah sulit untuk
mengklaim bahwa ini produk Indonesia."
Apa pun kondisinya pecinta batik, Ekoriyanto merasa senang dengan motif batik bola.
Baginya, batik ini unik dan warnanya cocok untuk yang berjiwa muda. Batik selama ini
memang lebih dikenal di Indonesia, sebagai milik orang Indonesia. Langkah selanjutnya
adalah bagaimana caranya agar batik bukan hanya berbentuk klasik tetapi juga kontemporer
atau kekinian yang menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Salah satu jawabannya,
adalah batik bola.
Sementara itu di Jakarta juga diciptakan batik bola. Salah satu bentuknya adalah
kemeja. Batik bola ini juga dipengaruhi oleh gegap gempita Piala Dunia 2010 menjadi ajang
empuk bagi pelaku bisnis yang jeli. Kemeja batik motif bola pun mencari celah di antara
banjir produk bertema Piala Dunia. Kemeja ini menawarkan pilihan baru selain kaos "klasik"
tim atau pemain sepak bola.
Lambang asosiasi tim peserta Piala Dunia pun menjadi motif batik yang apik. "Saya
ingin membuat terobosan. Batik sedang marak dan bisa dieksplorasi sesuai momen. Tak
hanya Piala Dunia, bisa juga momen lain seperti Hari Lingkungan Hidup," kata Ajanis
Maliki, penggagas batik motif Piala Dunia di Pejaten Village, Jakarta Selatan.
Logo kesebelasan Belanda dan Argentina relatif mudah dieksplorasi. Misalnya simbol
kepala singa tim Belanda dimodifikasi dan dipadu motif tribal yang sudah mendunia. "Motif
ini tidak kelihatan batik, tapi saya modifikasi dengan titik-titik agar unsur batiknya kelihatan,
"kata Ajanis. Sedangkan logo timnas Argentina dimodifikasi dengan motif-motif batik
tradisional, yaitu parang dari Yogya dan truntum dari Solo, sehingga tampak seperti batik
pada umumnya. Untuk mempertegas kesan Argentina, di bagian saku ada tulisan AFA,
Argentina Football Association.

Batik Mobil
Dalam situs www.astaga.com, dikabarkan tentang kreasi batik dengan motif mobil
dinamakan Batik ala Toyota Fortuner. Penggagasnya adalah Toyota Fortuner Club of
Indonesia (ID42NER) turut membuat batik lewat kreasi batik mobil.
Klub yang menaungi para pemilik Toyota Fortuner di Indonesia itu mengenalkan
batik khusus. Motifnya adalah Toyota Fortuner yang dikombinasi dengan sentuhan etnis khas
nusantara. "Ini adalah batik tulis motif Toyota Fortuner made in Maliya Boutique, " papar
Totok Sediyantoro, Wakil Ketua Toyota Fortuner Club of Indonesia. Usut punya usut, alasan
dipakainya Toyota Fortuner sebagai motif batik adalah demi meningkatkan rasa bangga
terhadap produk asli bangsa Indonesia.

Batik Singkong
Singkong ternyata tidak hanya berfungsi sebagai pengganti nasi, juga dapat dijadikan
salah satu motif pada kain batik. Kain batik tulis bermotif singkong ini merupakan khas
buatan Bondowoso, Jawa Timur, yang biasa disebut Batik Singkong Maesan atau Batik
Sumbersari.
Sebenarnya motif ini sudah mulai punah, tapi masih terdapat perajin yang konsisten
dengan motif singkong. Yuke Yuliantaries berhasil menggabungkan motif batik singkong
dengan motif kuno maupun kontemporer, sehingga motif ini terlihat lebih modern.
Sementara itu di harian Kedaulatan Rakyat, 16 September 2010, dijelaskan bahwa di
wilayah pantai selatan jawa yang tandus ternyata juga memiliki potensi batik. Dalam berita
itu tidak disebutkan secara rinci di mana wilayah pantai selatan yang dimaksud, namun
demikian dalam kenyataannya Prof. Dr. Andrik Purwasito DEA menyatakan bahwa pihaknya
berusaha mengangkat potensi batik pantai selatan dengan motif batik ketela. Motif yang
ditunjukkan pada foto yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat itu berupa kemeja lengan
pendek dengan gambar daun ketela berwarna hijau.
Prof. Andrik mengungkapkan bahwa motif batik ini diharapkan mampu mengangkat
kesejahteraan masyarakat pantai selatan. Sementara itu di wilayah pantai selatan hanya
dikenal sebagai penghasil gaplek. Tanaman singkong bahan baku gaplek sebagai makanan
sekunder tumbuh subur, tidak saja di wilayah Trenggalek, tetapi juga di wilayah Selatan Jawa
seperti Tulungagung, Wonogiri, Ponorogo, Blitar, Pacitan maupun wilayah lainnya. Dan
tanaman ketela itulah yang akhirnya mengilhami lahirnya motif batik.
Soal batik motif daun ketela Prof. Andrik menjelaskan, sebanyak 5 daun ketela
menggambarkan bahwa bangsa Indonesia harus tetap menempatkan Pancasila sebagai
sumber segala sumber hukum. Ini merupakan inti ajaran kebegaraan yang wajib dijunjung
tinggi oleh bangsa Indonesia. Di luar centrum terdapat daun yang melingkar berjumlah 9
yang berarti hitungan tertinggi.
Sementara empat yang berada di setiap sudut melambangkan empat penjuru angin,
yang menggambarkan Pancasila mampu memberikan perlindungan terhadap heterogenitas
bangsa yang tercermin dalam konsep Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu).

Pernak-pernik Batik
Kerajinan adalah salah satu keunggulan daya tarik wisata yang mampu mendukung
suatu daerah. berbagai barang kerajinan tumbuh dengan pesat di seiring dengan kesadaran
untuk berwisata. Barang kerajinan yang mereka hasilkan ada yang dijual untuk wilayah
domestik, maupun mancanegara. Di dukung dengan banyaknya sumber bahan baku dan
keterampilan yang dimiliki, baik dari pengrajin berskala besar maupun pengrajin dalam skala
kecil, berusaha menawarkan produk terbaiknya pada konsumen, sehingga muncul persaingan
antar pengrajin. Aneka macam kerajinan semakin tumbuh dan berkembang sesuai dengan
permintaan pasar. Seperti halnya kerajinan batik, yang sekarang ini dikembangkan bukan
hanya pada media kain, melainkan pada media kayu.
Kekhasan batik kayu buatan warga Krebet adalah dari jenis kayu. Kayu asal pohon
Sengon banyak dipilih karena keunggulannnya. Dalam proses pembuatah, peralatan untuk
membatik kayu rupanya tak beda juga dengan alat-alat yang dipakai dalam membatik kain.
Selain kayu sebagai bahan dasar dan lilin atau disebut malam, untuk membuat motif, ada pula
benda yang disebut canting. Alat seperti pensil yang ujungnya dapat menampung dan
mengeluarkan malam atau lilin cair. Ditambah pula dengan kompor berukuran kecil serta
wajannya, yang berguna untuk mencairkan lilin.
Pembuatan batik kayu dengan beragam bentuk dan corak tidak terlalu sulit. Mulanya
batang kayu dipotong menjadi bentuk yang diinginkan. Ada pula yang dicungkil atau dipahat
menjadi berbagai bentuk. Setelah itu, dibuat pola batik dengan beragam motif. Kemudian
masuk proses finishing dan dijemur. Untuk hasil yang baik dapat diolesi dengan melamin.
Proses pembatikan tak beda dengan batik kain. Motif hiasan langsung dilukis di atas
permukaan kayu. Penjemuran dilakukan setelah kerajinan kayu dibatik. Proses pewarnaan
dikerjakan secara manual. Tercatat lebih 108 jenis produk kerajinan dalam bentuk suvenir dan
hiasan lain yang dihasilkan sejumlah sanggar di Krebet Harga yang ditawarkannya juga
cukup bervariasi. Misalnya, harga gantungan kunci seharga Rp. 3.500, -. Ada pula kursi kayu,
cermin kayu, bahkan lemari kayu yang semuanya dibatik.

Pisau Batik
Kreasi pisau dengan hiasan motif batik yang diproduksi Sudiman, warga Kasihan
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan hanya berfungsi sebagai pemotong
namun juga hiasan sebagai rumah. "Saya membuat pisau batik ini untuk meningkatkan daya
jual pisau yang saya buat, sebelumnya saya hanya membuat pisau dapur biasa tetapi karena
penjualan tidak bisa optimal maka saya membuat pisau dengan hiasan batik agar lebih
menarik," kata Sudiman di rumah produksinya Dusun Krengseng Bangunjiwo, Kasihan
Bantul.
Ia mengatakan, hiasan batik tulis tidak mengurangi fungsi produkya sebagai pisau.
"Pisau batik ini tetap pisau fungsional sehingga masih bisa digunakan sebagaimana pisau
dapur pada umumnya," katanya. Di desanya setidaknya ada 25 pengrajin pisau. "Saya
kemudian mendirikan paguyuban Rukun Karya Lestari, dan sampai saat ini telah membuat
aneka pisau dengan hiasan batik untuk meningkatkan daya jual," katanya.
Pembuatan hiasan batik tulis dilakukan seperti membatik pada umumnya hanya saja
media yang digunakan berupa kayu gagang pisau. Gagang pisau juga dibuat beraneka ragam
bentuk wayang misalnya Rama dan Shinta termasuk membentuk aneka shio atau bermacam-
macam jenis binatang. "Pembuatan gagang maupun tempat pisau menggunakan kayu klepu
yang didatangkan dari Klaten. Kayu ini selain awet, bentuknya halus sehingga mudah untuk
dibatik," katanya. Pisau batik kayu juga bisa didapatkan di desa krebetyang merupakan pusat
pembuatan batik kayu.
Kompas.com dari Solo mengabarkan tentang gitar batik. Awalnya Indro Mulyanto
sekadar mengerjakan pesanan gitar batik dari temannya, musisi di Yogya yang akhirnya
memiliki toko alat musik. Sejak itu, pesanan gitar batik Indro meningkat. Kini ia pun
mengerjakan pesanan untuk beberapa pelanggan di Yogya, Surabaya, dan Jakarta. Indro jadi
perajin gitar batik satu-satunya di Solo. Soal harga terrgantung pada kualitas gitar dan kain
batik yang dipakai. Gitar dengan kain batik tulis lebih mahal ketimbang yang menggunakan
batik printing. "Gitar ini selain untuk dimainkan juga banyak dimanfaatkan sebagai suvenir,"
katanya.

Tas Kain Perca Batik


Sisa kain batik yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pakaian ternyata juga
bisa dimanfaatkan menjadi sebuah tas cantik. Tas batik yang terbuat dari potongan - potongan
kain perca batik yang disambung dengan jahitan yang unik. Berbagai bentuktas dengan
berbagai kuran, tas ransel, hingga tas laptop pun terlihat cantik walaupun terbuat dari kain
perca.
Selain kecantikan beragam warna dan corak batik yang tergabung pada tas tersebut,
produk tas perca batik juga memiliki harga yang relatif murah.
BONUS
TIPS BELANJA BATIK MURAH DAN GAYA

Sebelum berbelanja, ketahui terlebih dahulu tips untuk memilih beragam batik. Selain
motif batik yang menarik selera, perhatikan pula jenis kain, potongan kain dan jahitan.
Intinya, jangan terburu-buru menentukan pilihan batik walaupun harganya murah sekalipun.

Tips Memilih Batik Tulis


Kalau kita jalan-jalan di pasar batik atau di toko- toko batik, kita sering merasa "tidak
tahu", bingung dan mengalami kesulitan waktu akan membeli batik tulis. Harga yang mahal
tidak dapat dijadikan jaminan bahwa batik itu baik kualitasnya dan tergolong sebagai batik
tulis. Toko-toko dan di pasar-pasar batik memang dijual bermacam-macam kain batik.
Harganya pun sangat bervariasi, dari yang cukup murah sampai yang super mahal.
Untuk mengetahui apakah sehelai kain batik itu termasuk jenis batik tulis atau yang lain,
diperlukan kejelian dan ketelitian ekstra. Ada beberapa ciri dari setiap jenis batik. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membeli batik tulis antara lain
(bulletin.alambahasa.com):
 Perhatikan bahan dasarnya. Pada umumnya bahan dasar yang digunakan adalah terbuat
dari serat alam atau serat selulosa atau serat yang dihasilkan dari binatang. Jenis kain
batik yang digunakan secara umum diantaranya adalah kain katun, kain rayon, kain rami
dan kain sutra. Proses batik tidak bisa menggunakan jenis kain yang terbuat dari bahan
poliester.
 Biasanya setiap gambar dan setiap motifnya tidak sama persis (asimetris). Ada bagian
yang terlalu kecil dan ada bagian yang terlalu besar. "Cecek-cecek" dan "isinen" dalam
tiap gambar juga tidak sama besar-kecilnya. Bentuk ragam hias atau ornamen pada
sehelai kain batik terkadang tidak ada kesamaan yang tepat antara motif yang satu dengan
yang lainnya, sekalipun secara proses kain batik tersebut dibuat dengan teknik batik cap.
Apalagi bentuk motif yang ada pada satu lembar kain batik yang satu dengan yang
lainnya kemungkinan besar pasti ada perbedaan.
 Batik tulis selalu dibatik terusan, maksudnya sesudah dibatik "ngengrengan" dibatik lagi
di belakang kain agar motif kelihatan lebih jelas. Detail gambar pada kain batik relatif
lebih sederhana bilamana dibandingkan dengan tekstil bermotif batik. Khusus untuk
detail gambar dengan ukuran yang kecil-kecil dengan warna lebih gelap akan sangat
susah didapatkan pada kain batik. Hal ini dikarenakan keterbatasan pada proses
pengerjaan pelilinannya.
 Mori yang dipakai biasanya lebih berat dibanding mori untuk jenis batik lainnya.
 Semakin kecil-kecil dan rumit motifnya, biasanya batik itu semakin halus.
 Dilihat, perhatikan warna batik. Batik yang asli memiliki warna yang natural, solid dan
kuat. Sedangkan tekstil bermotif batik warnanya sintetik, tidak alami, buram dan tidak
solid. Selain itu motif batik yang asli terlihat kurang rajin/ kurang beraturan, disebabkan
karena pengerjaannya dengan menggunakan tangan. Disinilah letak nilai seni batik yang
tinggi, karena dikerjakan secara manual dengan tangan pengrajin. Sedangkan motif pada
tekstil, terlihat terlalu sempurna, hampir tidak ada cacat Inilah yang menghilangkan nilai
seni batik.
 Diraba, pegang dan rasakan tekstur kainnya. Batik yang asli bila dipegang, kainnya akan
mudah jatuh, tidak kaku serta teskturnya lembut. Sedangkan bila tekstil, bila dipegang
kainnya kaku serta memiliki tekstur yang relatif kasar. Hal ini disebabkan sifat pewarna
yang hanya menempel pada lapisan luar kain, tidak meresap pada kain seperti halnya
batik yang asli.
 Dicium, rasakan baunya pada permukaan kain. Batik yang asli memiliki bau yang khas
yaitu bau lilin. Sedangkan tekstil bermotif batik mengeluarkan bau minyakyang kuat.
Batik tulis memang memiliki aroma yang khas karena kain batik ini "disoga" atau
diwarnai dengan kulit-kulit kayu, seperti kayu tingi (untuk warna hitam), kayu teger
(untuk warna kuning), kayu jambal (untuk warna cokelat), daun Tom dan akarnya (untuk
warna biru).
 Dibalik, perhatikan sisi kain sebaliknya. Batik yang asli, sisi dalamnya memiliki motif
dan warna yang hampir sama dengan sisi luarnya. Sedangkan tekstil bermotif batik atau
pun batik cap, bila diperhatikan motif dan warna sisi dalam berbeda jauh dengan sisi
luarnya.
 Harga lebih mahal dan jumlahnya terbatas. Jangan terlalu senang bila menjumpai batik
dengan harga murah. Walaupun harga merupakan hal yang relatif, namun perlu
diperhatikan bahwa batik yang asli relatif berharga lebih mahal dari pada tekstil bermotif
batik. Karena diproses secara tradisional menyebabkan biaya pengerjaan juga lebih
mahal. Lain halnya dengan tekstil bermotif batik, karena proses pengerjaannya dengan
mesin, harga jualnya menjadi lebih murah.
 Kain batik jarang kita temui dalam bentuk kemasan gulungan. Biasanya kain batik
dikemas dalam bentuk lipatan atau dibungkus satu persatu atau set.

Tips Memilih Batik Cap


 Batik cap secara umum memiliki corak besar-besar dan teratur (sama). Walaupun
coraknya sama dan teratur, akan tetapi tetap tampak unik karena dikerjakan menggunakan
tangan. Berbeda dengan batik printing yang menggunakan mesin yang menghasilkan
corak sangat seragam.
 Warnanya cenderung terang dan cerah (bukan warna-warna alam). Warna bagian depan
kain terlihat jelas, sedangkan bagian belakang kain terlihat buram.
 Kain yang digunakan cenderung kaku meskipun terkadang batik cap juga menggunakan
kain sutra dan kain katun mori.
 Batik cap yang dipadukan dengan batik tulis (misalnya pada motif isen-isennya),
beraroma khas malam (lilin).
 Kainnya pun jika dipegang akan terasa lebih berat dibandingkan batik printing.
 Harganya lebih murah dibandingkan dengan batik tulis.

Tips Memilih Tekstil Bermotif Batik


Tekstil bermotif batik paling banyak digunakan oleh masyarakat. Ragam warna dan
desain baju yang menarik serta harganya yang murah merupakan daya tarik bagi siapa pun
baik yang menyukai batik atau pun sekadar memakainya karena harga yang murah. Walaupun
begitu perlu diketahui cara memilih tekstil bermotif batik agar tampil elegan walaupun
dengan biaya yang murah.

Beberapa tips sebagai berikut


1. Tekstil bermotif batik pada umumnya bahan dasar yang digunakan adalah terbuat dari
serat poliester walaupun ada juga yang terbuat dari kain katun, kain rayon, kain rami dan
kain sutra seperti halnya pada kain batik tulis atau cap.
2. Gambar pada kain tekstil bermotif batik biasanya tidak akan tembus hingga pada bagian
belakang kain.
3. Kain sablon tidak tercium bau lilin dan hampir tidak ada aroma apa pun. Bahkan
kemungkinan besar berbau zat kimia, mengingat pewarnaannya menggunakan pewarna
kimia.
4. Umumnya mencontoh desain batik yang sudah ada, dari batik tradisional hingga batik
modern.
5. Warna batik printing kebanyakan tidak tembus karena proses pewarnaannya satu sisi saja
yaitu bagian depan kain. Selain itu warna batik printing terlihat seperti tekstil pada
umumnya.
6. Detail gambar pada kain sablon relatif lebih halus dan lebih lengkap bilamana
dibandingkan dengan kain batik. Pada kain tekstil bermotif batik (sablon) detail
gambarnya lebih bisa mencapai ukuran yang kecil-kecil dengan warna-warna yang lebih
gelap bisa didapatkan, berbeda dengan kain batik. Hal ini dikarenakan kemampuan proses
sablon semakin bagus dan teknologinya semakin maju. Proses sablon sendiri banyak
macamnya diantaranya adalah dengan teknik sablon tangan (hand printing),
menggunakan plat dan sistem rotary yaitu dengan teknik pencetakan berputar
menggunakan silinder. Tiap teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing
yang berhubungan dengan ukuran gambar dan kualitas detail motifnya.
7. Harga kain sablon relatif lebih murah, serta jumlah produksinya biasanya lebih banyak
hal ini ditempuh agar biaya untuk pembuatan film/plat atau pembuatan screen sablon bisa
tertutupi (break event point), karena biaya pembuatan film cukup mahal, sehingga bila
diproduksinya sedikit maka dengan sendirinya harga kain akan sama mahalnya dengan
kain batik.
8. Bentuk ragam hias atau ornamen pada lembaran kain sablon sudah pasti akan banyak
kesamaannya dan tepat antara motif yang satu dengan yang lainnya.
9. Kain sablon bisa kita temui dalam bentuk gulungan. Biasanya dalam satu gulung bisa
mencapai panjangnya lebih dari 100 meter.

Bagaimanapun pilihan batik sesuaikan dengan selera kita. Akan tetapi tetap
perhatikan tips berikut ini:
1. Tentukan jenis kain batik, desain Batik yang kita inginkan.
2. Jika dilihat dari proses pembuatan batik, perhatikan bahwa batik tulis memiliki motif
yang sama pada bagian dalam dan luar pakaian. Sedangkan, Batik print Design, lebih
terang dibagian luarnya dan agak pudar di bagian dalam pakaian. Untuk memastikannya,
Anda bisa menceknya langsung.
3. Memilih batik tulis maupun batik tua akan memperlihatkan penampilan yang lebih elegan
dan "terlihat mahal" mengingat batik, terutama yang memang batik tua dibuat
berdasarkan hobi, bukan semata-mata untuk dijual. Batik tersebut memiliki nilai filosofi
yang tinggi, terlihat elegan, etnik, dan sangat special.
4. Jika dilihat dari bahannya, ada model batik lawas yang awalnya digunakan untuk kain
gendongan yang sifatnya mudah sobek. Secara penggunaan bahan ini digemari karena
adem dan nyaman kala dipakai. Namun secara tekstur, kainnya lebih tebal. Hati-hati
memilih batik ini karena beberapa pengrajin memodifikasi sedemikian rupa sehingga
batik baru pun dapat terlihat seperti batik tua.
5. Untuk kategori Model Batik, bahan yang paling baik digunakan biasanya alat tenun
bukan mesin (ATBM), biasanya bahan dasar yang digunakan adalah sutra jadi wajar saja
jika harganya paling mahal dikelasnya.
6. Selalu beli batik asli Indonesia

Tips Memilih Jenis Kain Batik, Motif, dan Warna


Tampil menarik dan elegan dengan batik memang bukan hal yang mudah. Kita harus
jeli dalam menggunakan kain, motif serta warna batik yang menarik. Panduannya:

Busana Kerja
1. Pilihlah batik dalam kombinasi warna gelap atau pastel, serta bercorak geometris agar
penampilan Anda tetap terlihat rapi, simpel, dan formal.
2. Untuk Anda yang bertubuh besar, pilihiah motif geometris yang berukuran sedang, atau
kombinasi motif geometris yang besar dengan yang ukurannya kecil agar sesuai dengan
proporsi tubuh Anda.
3. Bila tubuh Anda mungil jangan ragu untuk memilih batik bermotif geometris berukuran
sedang agar bentuk tubuh tampak lebih proporsional.
4. Untuk aktivitas kerja, pastikan Anda memilih desain busana yang simpel namun tegas,
sehingga tetap berkesan profesional. Hanya jika diperlukan bisa ditambah detail atraktif
yang terkesan minimalis, seperti opnaisel, ploi, saku, atau tali pinggang.
5. Untuk busana kerja, pilihlah batik yang terbuat dari katun dan tambahkan superlining
sebagai pelapis dalam (faring) agar jatuhnya busana terlihat lebih tegas dan rapi.

Busana Pesta
1. Jika Anda ingin membuat busana pesta atau resmi dari kain batik, Anda bisa
menggunakan berbagai jenis motif dan paduan warna. Yang penting, pilihlah warna serta
motif batik yang sesuai dengan jenis acara yang akan Anda hadiri (suasana pesta).
2. Untuk acara pesta yang berat mosfer santai atau semi resmi, Anda bisa memilih batik
bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah atau pun terang.
3. Untuk acara pesta yang resmi, batik bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah
atau pun terang.
4. Untuk acara pesta yang resmi, batik bermotif geometris berukuran sedang atau motif-
motif klasik, seperti motif Jlamprang dan Truntum dalam sentuhan warna terang atau
gelap yang terkesan mewah bisa menjadi pilihan yang tepat.
5. Batik bermotif flora juga bisa Anda pilih untuk menciptakan busana resmi yang terkesan
elegan.
6. Buatlah busana untuk pesta (resmi maupun tidak resmi) bermotif batik yang siluetnya
simpel namun berdetail cantik dan unik, seperti ikatan pita atau memainkan pola-pola
draperi.
7. Untuk busana pesta, Anda bisa memilih batik yang terbuat dari katun, sutra (sutra satin,
raw silk, crepe silk) dan tenun ATBM.

Busana Kasual
1. Pilih batik bercorak fauna dan flora dalam paduan warna cerah, sehingga memberi kesan
aktif dan ceria.
2. Jika Anda bertubuh besar, pilihlah motif batik yang ukurannya sedang. Hindari motif
yang ukurannya terlalu besar atau pun terlalu kecil.
3. Apabila Anda bertubuh mungil, pastikan Anda memilih motif batik berukuran kecil.
4. Untuk gaya kasual, kenakan busana berpotongan simpel dengan aplikasi atau detail
menarik.
5. Agar nyaman dipakai, untuk busana kasual pilihlah batik yang terbuat dari katun.

Tips Memilih Batik untuk Pesta


Memilih bahan kain batik, corak/motif batik untuk baju pesta bukanlah perkara
mudah. Pemilihan baju batik yang tepat akan membuat kita tampil jauh lebih cantik dan
anggun di tempat pesta.
Berikut ini tips-nya.
1. Pilih Bahan Kain Batik
Pilih baju batik yang terbuat dari katun atau sutra (sutra satin, raw silk, crepe silk).
2. Pilih Berdasarkan Siluet Tubuh
Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih baju pesta adalah siluet/bentuk
tubuh. Gunakan prinsip 'menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihan'. Misalnya
untuk siluet tubuh besar, dapat ditutupi dengan warna-warna gelap, motif yang kecil,
jarang atau sama sekali polos. Sebaliknya untuk yang bertubuh kurus gunakan warna
cerah dan tentunya motif yang variatif tergantung selera anda, tapi hindari motif vertikal
karena akan membuat siluet anda semakin memanjang. Buatlah busana untuk pesta (resmi
maupun tidak resmi) bermotif batik yang siluetnya simpel namun berdetail cantik dan
unik, seperti ikatan pita atau memainkan pola-pola draperi.
3. Pilih Berdasarkan Tempat dan Tema Acara.
Tempat di mana pesta diselenggarakan dan tema juga perlu diperhatikan. Gaun siluet H-
line sepanjang lutut dan Gaun 3/4 akan membuat Anda jauh lebih cantik menghadiri pesta
di pantai. Jangan lupa perhatikan kartu undangan, karena kemungkinan ada dress code
yang tercantum di sana. Hal ini untuk mencegah anda salah dalam memilih gaun. Jika
Anda ingin membuat Baju Pesta Batik, Anda bisa menggunakan berbagai jenis motif dan
paduan warna. Yang penting, pilihlah warna serta motif batik yang sesuai dengan jenis
acara yang akan Anda hadiri (suasana pesta).
4. Pilih Berdasarkan Warna Kulit
Warna kulit anda juga berpengaruh dalam mendapatkan gaun yang cocok. Umumnya
warna kulit diklasifikasi menjadi 2 kelompok utama. Tipe kulit pucat dan tipe gelap. Jika
anda termasuk tipe kulit pucat, anda beruntung karena dapat mengenakan gaun hampir
dengan segala warna, sedangkan jika anda termasuk tipe yang cenderung gelap, Jangan
bingung... Cobalah warna-warna seperti gold, gading, peach, orange atau cokelat dengan
tingkatan warna yang lebih lembut.
5. Pilih Motif Batik yang Tepat
Untuk acara pesta yang beratmosfer santai atau semiresmi, Anda bisa memilih batik
bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah atau pun terang. Untuk acara pesta
yang resmi, batik bermotif geometris berukuran sedang atau motif-motif klasik, dalam
sentuhan warna terang atau gelap yang terkesan mewah bisa menjadi pilihan yang tepat.

Saat anda ingin membeli kain batik untuk digunakan sebagai bahan pembuatan baju
batik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita mendapatkan baju batik sesuai
dengan harapan & budget.
Perhatikan pada jenis kain. Ada beberapa jenis kain yang bisa Anda jadikan bahan
pembuatan baju batik misal yaitu Katun (Prima & Primis), Dobi, Viscos, hingga Sutra. Katun
prima kualitasnya berada di bawah katun primis yang lebih halus. Baik katun prima atau pun
primis mempunyai tingkatan kain yang berbeda-beda, dari mulai kasar, agak kasar, hingga
paling halus. Kain dobi bisa dibilang sebagai setengah sutra, ada beberapa tingkatan seperti
halnya katun prima & primis dari yang kasar hingga halus, meskipun demikian Dobi memang
berciri khas pada tekstur kasarnya, jadi tingkat kehalusan tetap akan dirasa serat-serat yang
menonjol. Kain Viscos, bahan cenderung licin & jatuh, tampak serat seperti Dobi. Tingkat
kehalusan & kelicinannya pun ada tingkatannya. Sutra, tentunya termasuk bahan pembuatan
baju batik berkualitas tinggi dengan harga pada segmentasi tertentu.
Selain bahan yang dibatik, juga perhatikan hal-hal sebagai berikut:
 Perhatikan pula motif batik yang kita pilih dalam perencanaan pembuatan baju batik.
Apakah motif batik yang menjadi pilihan kita adalah motif-motif batik klasik, motif batik
modern/ kontemporer, ataukah perpaduan di antara keduanya.
 Selain itu, sebaiknya kita mencari referensi model baju yang akan menjadi patokan
pembuatan baju batik Anda.
 Yang terpenting adalah, sesuaikan kebutuhan & budget kita mulai dari pemilihan kain
sebagai bahan baju batik hingga berapa biaya jasa tukang jahit yang akan membuat baju
batik agar kita mendapatkan baju batik sesuai dengan keinginan Anda.

Tips Berbusana Batik


Pemakaian batik tidak serta merta akan terlihat elegan saat dikenakan. Sebab setiap
orang memiliki aktivitas, karakter serta bentuk tubuh yang berbeda-beda.
Masing-masing menampilkan kesan yang berbeda pula.
Do
Lakukan hal-hal berikut ini agar tampilan kita selaras dengan menggunakan batik.
1. Pilih model batik yang sesuai dengan acara formal, kasual, ke kantor, berbelanja, atau
acara keluarga.
2. Sebaiknya, padu padankan motif batik dengan padanan yang berdetail ringan (warna
polos dan cutting yang simpel) untuk mendapatkan tampilan yang seimbang.
3. Gunakan aksesori yang berwarna senada dengan batik.
4. Kenakan aksesori simpel untuk Anda yang beraktivitas tinggi.
5. Motif batik dapat dipadukan dengan motif lurik atau kotak-kotak.
6. Bagi yang memiliki leher jenjang, coba pakai kerah mandarin agar leher Anda semakin
terlihat memesona.
7. Bukan suatu masalah memadankan dua motif batik dalam satu padanan. Carilah warna
yang senada dengan motif yang hampir serupa.
8. Baju batik dapat dipadupadankan dengan rok maupun celana jeans.
9. Bagi pria, gunakan motif dan warna simpel untuk acara formal.
10. Pria dapat memakai aksesori yang berbahan logam dan kulit untuk mempermanis
tampilan.

Don't
Agar padu padan dalam berbatik terlihat cocok, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut ini.
1. Hindari pola cutting terbuka untuk acara ke kantor.
2. Hindari motif batik yang besar dan mencolok bagi yang berbadan besar. Batik dengan
motif kecil-kecil lebih cocok untuk Anda.
3. Bila kita memiliki tubuh berkulit gelap, hindari batik yang bercorak gelap. Pilihlah batik
warna cerah.
4. Bagi yang berkulit putih, hindari pemakaian batik yang bermotif cerah karena tampak
kurang elegan.
5. Bagi yang memakai jilbab, tidak perlu menggunakan kerudung motif batik jika sudah
memakai baju motif batik.
6. Bagi yang ingin kelihatan dewasa dan elegan, hindari motif batik cerah.
7. Hindari model kerah menggelembung bagi yang memiliki leher pendek yang akan
memberikan kesan leher kita semakin pendek.
8. Untuk pria, sebaiknya hindari baju batik berlengan pendek pada acara formal.
9. Jika memiliki dada besar, hindari motif batik besar dan berkerut pada bagian dada. Ini
memberi kesan dada semakin penuh.
10. Hindari pemakaian aksesori yang berlebihan karena menghilangkan kesan elegan batik
Anda.
11. Sesuaikan motif batik dengan tubuh kita. Mengikuti tren batik yang masih terus bergulir
boleh-boleh saja, termasuk memilih batik dengan motif tabrak yang dipadupadankan
dengan celana jeans atau denim, asalkan bisa meng-cover kekurangan yang dimiliki
tubuh.
Untuk padu padan batik lakukan sebagai berikut:
Batik dapat dipadupadankan dengan celana apa saja untuk hasil yang terbaik. Yang
penting batik yang dikenakan bisa menutup kekurangan yang ada pada tubuh seperti
kekurusan dengan mengenakan busana batik dengan detail leher tegak atau krah bervolume.
Dalam memilih motif batik pun harus match sesuai dengan ukuran atau postur tubuh.
Misal untuk yang bertubuh kurus bisa memilih motif parang-parangan atau motif lainnya
dengan ukuran yang agak besar agar menutupi tubuhnya yang kurus. Hindari memakai motif
batik kawung yang kecil-kecil karena akan semakin membuatnya terlihat kurus. Sebaliknya
yang memiliki tubuh gemuk bisa memilih busana batik dengan motif kawung atau motif lain
agar tubuhnya yang gemuk bisa sedikit tersamarkan dengan motif batik yang kecil-kecil. Ada
banyak motif kawung, namun untuk yang bertubuh gemuk pilihnya motif batik kawung yang
runcing, jangan yang bulat-bulat untuk membuat tubuhnya terlihat lebih langsing.
Hargailah motif batik tradisional yang memiliki nilai seni tinggi. Motif batik
tradisional sebisa mungkin jangan dijungkir balikkan motifnya, misalnya motif garuda sebisa
mungkin garudanya jangan sampai terbalik posisinya, menghargai sedikit motif tradisi yang
adiluhung, jangan asal main tabrak saja.
Saat ini marak motif tabrak pada busana batik, sepanjang tidak sampai
menjungkirbalikan motif tidak masalah. Fashion yang sekarang dikenakan anak muda dengan
padu padan jeans atau denim. Merupakan salah satu cara membudayakan batik pada anak
muda dengan padu padankan yang sudah tidak asing dia kenakan seperti jeans.
Warna batik juga merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Warna gelap atau
redup hendaknya dihindari bagi orang yang berkulit gelap karena dapat memberi kesan
pemakainya bertambah hitam/gelap. Pemakaian warna yang agak lembut dan terang seperti
warna-warna pastel sangat cocok karena dapat memberikan efek lebih terang pada wajah dan
kulit. Sedangkan bagi pemakai yang berkulit kuning langsat atau putih, hindari pemakaian
bahan dengan warna yang lembut dan terlalu terang karena efeknya wajah terlihat lebih
pucat. Untuk yang bertubuh kurus gunakan warna cerah seperti putih, kuning atau pink
membuat tubuh terlihat lebih besar. Warna gelap memberi kesan menguruskan, maka jika
tidak ingin membuat tubuh terlihat lebih kurus sebaiknya tidak mengenakan pakaian dengan
warna-warna gelap.

Tips Merawat Batik


Merawat batik secara tradisional dapat menggunakan lerak. Ciu (terutama Sapindus
rarak De Condole, dapat pula S. mukorossi) atau dikenal juga sebagai rerek atau lamuran
adalah tumbuhan yang dikenal karena kegunaan bijinya yang dipakai sebagai deterjen
tradisional. Batik biasanya dianjurkan untuk dicuci dengan lerak karena dianggap sebagai
bahan pencuci paling sesuai untuk menjaga kualitas warna batik.
Tumbuhan lerak berbentuk pohon dan rata-rata memiliki tinggi 10m walaupun bisa
mencapai 42 meter dengan diameter 1m, karenanya pohon lerak besar dengan kualitas kayu
yang setara kayu jati banyak ditebang karena memiliki nilai ekonomis. Bentuk daunnya
bulat-telur berujung runcing, bertepi rata, bertangkai pendek dan berwarna hijau. Biji
terbungkus kulit cukup keras bulat seperti kelereng, kalau sudah masak warnanya cokelat
kehitaman, permukaan buah licin dan mengkilat.
Biji lerak mengandung saponin, suatu alkaloid beracun, saponin inilah yang
menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan
sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan memandikan dan membersihkan
binatang peliharaan. Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektisida. Kulit
buah lerak dapat digunakan sebagai wajah untuk mengurangi jerawat dan kudis. Buah lerak
relatif mudah didapatkan biasanya dijual di pasar-pasar tradisional.
Kain batik tulis memang tidak dapat diperlakukan seperti kain pada umumnya,
terutama saat mencucinya. Batik memerlukan bahan pencuci khusus, baik berupa zat kimia
buatan maupun alami. Lerak, merupakan salah satu bahan untuk mencuci batik. Buah lerak
yang telah dikeringkan, kemudian ditumbuk halus dan dicampur dengan air hangat,
digunakan untuk merendam kain batik selama satu malam. Pencucian kain batik dengan
ekstrak buah lerak ini akan mempertahankan kualitas kain batik.
Popularitas lerak sebagai buah pencuci kain batik sepertinya telah tergeser oleh
pencucian "dry cleaning". Mirota Batik masih menjual buah lerak kering. Lerak selain
digunakan untuk mencuci pakaian, juga digunakan untuk membersihkan keris, kerajinan dari
kuningan, atau pun perhiasan dari emas. Lerak hingga saat ini masih digunakan beberapa
perajin batik di Pekalongan, Solo, maupun Purwokerto. Beberapa daerah penghasil lerak
terbesar di Indonesia adalah Kediri, Banten, dan Madura.
Lerak juga bisa digunakan untuk mencuci pakaian biasa, bahkan membuat pakaian
lebih awet karena tidak mengandung bahan-bahan deterjen. Masukkan 3-5 buah lerak ke
dalam empat gelas air panas, lalu diremas-remas sampai muncul saponin atau buih-buih
alami. Campurkan cairan saponin itu ke tempat cucian yang sudah diisi air. Saponin ini
bekerja sebagai surfaktan, yang membuat air cucian "lebih basah". Akibatnya, saponin mudah
masuk ke dalam serat-serat kain yang dicuci, mengikat kotoran yang melekat, dan melepas
kotoran tadi dari kain cucian.
Lerak juga bisa digunakan dalam mesin cuci. Caranya, masukkan 3-5 buah lerak ke
kantong kain yang tersedia, lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci. Hindari penggunaan
deterjen, bahan pengharum (fragrance), maupun pelembut (softener). Atur suhu air pada
keadaan dingin/sedang dengan putaran normal, lalu mulailah mencuci. Agar bekerja efektif
dan optimal, usahakan lerak dapat bersirkulasi secara bebas dan tidak terjebak dalam lipatan
kain berukuran besar (misalnya seprai).
Untuk mengharumkan pakaian, Anda dapat menambahkan beberapa tetes essential oii
yang disukai. Jika menggunakan mesin cuci, buah lerak dapat digunakan untuk tiga kali
pemakaian. Untuk membersihkan peranti dapur, hancurkan lima buah lerak menggunakan
palu atau diiris-iris dengan pisau. Lerak yang hancur ini diseduh dengan 300 ml air panas.
Biarkan hingga dingin, kemudian disaring.

Kain batik memerlukan perawatan yang khusus, caranya sebagai berikut:


 Cuci dengan lerak. Cara terbaik untuk merawat kain batik adalah dengan mencucinya
menggunakan cairan khusus yang banyak dijual di pasaran (lerak) atau bisa juga dengan
menggunakan shampo. Larutkan sampo dalam air secukupnya hingga betul-betul merata
agar terhindar dari pudarnya warna pada kain batik. Bila terkena noda, rendam batik
dengan air hangat lalu masukkan buah lerak, alias klerek. Buah ini akan membuat air
menjadi busa yang bisa menghilangkan noda. Rendam batik dalam larutan air lerak
selama 5 menit sambil dikucek pelan-pelan pada bagian yang kotor. Di toko penjual batik,
biasanya dijual sabun cair yang terbuat dari buah ini. Aroma buah lerak mampu mencegah
munculnya hewan kecil yang bisa merusak kain.
 Mencuci batik juga bisa menggunakan daun tanaman dilem yang sudah direndam air
hangat. Caranya, remas-remas daun dilem sampai mengeluarkan busa lalu tambahkan air
secukupnya, dan siap untuk mencuci batik.
 Jangan menyikat atau menggosok saat mencuci. Hal tersebut dapat mengakibatkan warna
dan tekstur batik lama kelamaan akan pudar. Kalau sekiranya tidak terlalu kotor cukup
dicuci dengan air hangat.
 Dapat memanfaatkan sabun mandi dan kulit jeruk. Jika batik Anda terkena noda seperti
makanan maka Anda dapat menghilangkannya dengan mengusapkan sabun mandi
(secukupnya) dan kulit jeruk pada bagian yang terkena noda saja. Kemudian bilas dan
Jangan peras terlalu keras.
 Jangan menggunakan deterjen. Penggunaan deterjen pada kain batik dapat melunturkan
warna dan corak yang ada. Apabila terdapat noda yang membandel dan sulit dihilangkan
dengan lerak maupun shampo atau sabun cud biasa, cobalah hilangkan noda tersebut
dengan kulit jeruk tetapi jangan pada seluruh permukaan kain, melainkan hanya pada
bagian yang terkena noda saja. Kalau terpaksa, gunakan shampo untuk mencuci batik,
namun shamponya harus shampo bayi. Caranya sediakan air hangat, taruh shampo bayi
sedikit dan diamkan selama 10 menit. Bisa juga menggunakan shampo rambut.
Sebelumnya, larutkan shampo di air sampai tak ada bagian yang mengental. Lalu,
celupkan kain batik. Jangan direndam dalam larutan sabun terlalu lama. Jika dipandang
tidak terlalu kotor langsung cuci saja dengan tangan, terutama untuk batik tulis atau yang
berbahan halus seperti sutra dan serat. Sebaliknya kain batik printing tidak masalah jika
direndam beberapa saat (misalnya 15 menit), tetapi perlu diperhatikan saat mencuci
terutama untuk batik print yang pertama kali dicuci, dipisahkan dengan cucian lainnya.
Sebab, biasanya kain batik printing akan luntur pada pencucian pertama. Jangan berikan
pewangi atau pelembut apa pun saat mencuci batik. Untuk membuat batik menjadi wangi,
kita bisa melakukannya saat penyimpanan, bukan pencucian.
 Jangan menggunakan mesin cuci. mesin cuci merupakan salah satu alat pencuci yang
Anda hindari karena dapat merusak tekstur kain seperti batik sutra atau batik yang telah
dimodifikasi dengan beberapa serat. Lebih baik dicuci dengan tangan. Setelah dicuci,
biarkan kain batik mengering secara alami di tempat yang cukup teduh, jangan langsung
dijemur dibawah terik matahari. Memeras kain batik dapat merusak warna dan motif kain.
Untuk perawatan, Batik berbahan premium salah satunya sutra harus di drydean agar
lebih awet dan terjaga serat kainnya. Sedangkan batik biasa, pencuciannya direndam
tanpa sabun. Hal ini bertujuan untuk menjaga warnanya agar tidak cepat pudar.
 Ketahui teliti teknik setelah pencucian. Hal fatal yang kedua setelah tahap pencucian kain
batik yang perlu kita perhatikan adalah proses setelahnya seperti saat kita menjemur,
rentangkan kain batik agar tidak ada bagian yang terlipat. Usahakan jangan terlalu
mendapatkan terik matahari langsung karena ada kain batik yang hanya diangin-anginkan
saja (ketahui macam kain batik kita). Batik yang sudah dibilas, jangan diperas karena
akan membuat batik menjadi kusut dan sulit rapi nantinya. Angkat saja seperti biasa.
Sebaiknya batik jangan sering-sering dicuci karena berisiko rusak. Batik yang tidak
terlalu kotor, lebih baik diangin-anginkan saja selama 1 jam. Lebih bagus lagi kalau kita
memiliki alat steam, sehingga batik yang sudah selesai dipakai bisa langsung di-sfeam.
Hati-hati menjemur batik. Jangan biarkan batik langsung bersinggungan dengan kawat/
tambang jemuran. Untuk melindunginya, pertama bentangkan handuk di atas
kawat/tambang jemuran. Setelah itu bentangkan batik di atas handuk tersebut. Dengan
begitu batik pun tidak berisiko rusak. Jangan menjemur batik di tempat yang langsung
terkena matahari. Sinar matahari bisa membuat warna batik menjadi pudar.
 Proses penyetrikaan yang benar, sebaiknya jangan menyetrika secara langsung, berikan
alas kain putih di atas kain batik yang akan disetrika, terutama untuk batik tulis.
Sedangkan batik printing dapat diperlakukan seperti pakaian pada umumnya.
 Hindari penyemprotan wewangian secara langsung. Sebaiknya jangan diberi pewangi dan
pelembut kain di batik tulis. Jika ingin memakai pewangi atau parfum jangan
disemprotkan secara langsung terutama di kain batik sutra dengan pewarna alami.
Sebaiknya saat menyemprotkan pewangi tutupi terlebih dahulu batik dengan koran
kemudian semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain saat akan diseterika.
 Hindari penyimpanan di tempat yang lembap. Untuk penyimpanan ini, taruhlah batik di
dalam plastik pakaian agar terhindar dari kutu busuk dan rayap. Jangan memberi kapur
barus karena dapat merusak kain batik. Taruhlah merica yang telah dibungkus tisu untuk
mengusir serangga yang mengganggu. Dapat juga menggunakan akar wangi diletakkan di
lemari tempat batik disimpan. Akar wangi sebelum digunakan harus mengalami proses
pencelupan dalam air panas dan dijemur hingga kering. Jika Anda pengoleksi kain batik
seringlah di keluarkan dari almari untuk diangin-anginkan 2-3 menit.