Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Trauma kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecatatan

utama pada kelompok produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan

lalu lintas. Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya dan lebih

dari 700.000 mengalami cedera cukup berat yang memerlukan perawatan di

rumah sakit, dua pertiga berusia di bawah 30 tahun dengan jumlah laki-laki

lebih banyak dibandingkan jumlah wanita, lebih dari setengah pasien cedera

kepala mempunyai signifikasi terhadap cedera bagian tubuh lainnya.

Trauma kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada

pengguna kendaraan bermotor karena tingginya tingkat mobilitas dan

kurangnya kesadaran untuk menjaga keselamatan di jalan raya. Di samping

penerangan di lokasi kejadian dan selama transportasi ke rumah sakit, penilaian

dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan

dan prognosis selanjutnya. Lebih dari 50% kematian disebabkan oleh cedera

kepala dan kecelakaan kendaraan bermotor. Setiap tahun, lebih dari 2 juta

orang mengalami cedera kepala, 75.000 diantaranya meninggal dunia dan lebih

dari 100.000 orang yang selamat akan mengalami disabilitas.

Kasus trauma terbanyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas,

disamping kecelakaan industri, kecelakaan olahraga, jatuh dari ketinggian

maupun akibat kekerasan. Trauma kepala didefinisikan sebagai trauma non

1
degeneratif-non konginetal yang terjadi akibat ruda paksa mekanis eksteral

yang menyebabkan kepala mengalami gangguan kognitif, fisik dan psikososial

baik sementara atau permanen. Trauma kepala dapat menyebabkan kematian/

kelumpuhan pada usia dini.

Menurut penelitian nasional Amerika, di bagian kegawatdaruratan

menunjukkan bahwa penyebab primer cedera kepala karena trauma pada anak-

anak adalah karena jatuh, dan penyebab sekunder adalah terbentur oleh benda

keras. Penyebab cedera kepala pada remaja dan dewasa muda adalah

kecelakaan kendaraan bermotor dan terbentur, selain karena kekerasan.

Insidensi cedera kepala karena trauma kemudian menurun pada usia dewasa;

kecelakaan kendaraan bermotor dan kekerasan yang sebelumnya merupakan

etiologi cedera utama, digantikan oleh jatuh pada usia >45 tahun.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana konsep manajemen kegawatdaruratan pasien dengan

Trauma Kepala?

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa/(i) mampu memahami konsep dan menerapkan

manajemen kegawatdaruratan pasien dengan Trauma Kepala.

2. Tujuan Khusus

Agar mahasiswa/(i) dapat mengetahui dan memahami tentang:

2
a. Definisi Trauma Kepala

b. Etiologi Trauma Kepala

c. Web of Caution (WOC) Trauma Kepala

d. Klasifikasi Trauma Kepala

e. Manifestasi Klinis Trauma Kepala

f. Pemeriksaan Fisik (Fokus Penyakit) Trauma Kepala

g. Pemeriksaan Penunjang Trauma Kepala

h. Komplikasi Trauma Kepala

i. Penatalaksanaan Medis Trauma Kepala

j. Penatalaksanaan Keperawatan Trauma Kepala

k. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Trauma Kepala

l. Algoritma Penanganan Trauma Kepala

D. Sistematika Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini dibagi dalam beberapa bab, yaitu:

Bab I : Berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang,

rumusan masalah, tujuan dan sistematika penulisan.

Bab II : Berisi tinjauan teori yang terdiri dari definisi, etiologi,

web of caution, klasifikasi, manifestasi klinis,

pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, komplikasi,

asuhan keperawatan, dan algoritma penanganan trauma

kepala

Bab III : Berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Trauma kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang

disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak, tanpa terputusnya

kontinuitas otak, (Paula Kristanty, dkk 2009).

Trauma kepala sudah menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di

seluruh negara dan lebih dari dua per tiga dialami oleh negara berkembang

(Riyadina dan Suhardi, 2009)

Trauma kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk

atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan

(accelerasi–decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh

perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan,

serata notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai

akibat perputaran pada tingkat pencegahan, (Musliha, 2010).

Trauma kepala merupakan adanya pukulan atau benturan mendadak

pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran (Wijaya & Putri, 2013).

B. Etiologi

Trauma kepala umunya disebabkan oleh:

a. Trauma oleh benda tajam. Menyebabkan cedera setempat dan

menimbulkan cedera lokal. Kerusakan lokal meliputi Contusio serebral,

4
hematom serebral, kerusakan otak sekunder yang disebabkan perluasan

masa lesi, pergeseran otak atau hernia.

b. Trauma oleh benda tumpul dan menyebabkan cedera menyeluruh

(difusi). Kerusakannya menyebar secara luas dan terjadi dalam 4 bentuk :

cedera akson, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar,

hemoragi kecil multiple pada otak koma terjadi karena cedera menyebar

pada hemisfer cerebral, batang otak atau kedua-duanya.

c. Etiologi lainnya

1) Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan

mobil.

2) Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.

3) Cedera akibat kekerasan.

C. Klasifikasi

1. Berdasarkan berat ringannya berdasarkan GCS (Glosgow Coma Scale):

a. Cedera Kepala Ringan (kelompok risiko rendah)

1) GCS 13-15 (sadar penuh, atentif, orientatif)

2) Kehilangan kesadaran /amnesia tetapi kurang 30 mnt

3) Tak ada fraktur tengkorak

4) Tak ada contusio serebral (hematom)

5) Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing

b. Cedera Kepala Sedang

1) GCS 9-14 (konfusi, letargi, atau stupor)

5
2) Kehilangan kesadaran lebih dari 30 mnt / kurang dari 24 jam

(konkusi)

3) Dapat mengalami fraktur tengkorak

4) Muntah

5) Kejang

c. Cedera Kepala Berat

1) GCS 3-8 (koma)

2) Kehilangan kasadaran lebih dari 24 jam (penurunan kesadaran

progresif)

3) Diikuti contusio serebri, laserasi, hematoma intracranial

4) Tanda neurologist fokal

5) Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur kranium

2. Berdasarkan kerusakan jaringan otak

a. Komosio serebri (gegar otak) : gangguan fungsi neurologi ringan

tanpa adanya kerusakan struktur otak, terjadi hilangnya kesadaran

kurang dari 10 menit atau tanpa disertai amnesia, retrograde, mual,

muntah, nyeri kepala.

b. Kontusio serebri (memar) : gangguan fungsi neurologi disertai

kerusakan jaringan otak tetapi kontinuitas otak masih utuh,

hilangnya kesdaran lebih dari 10 menit.

c. Laserasio serebri : gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan

otak yang berat dengan fraktur tengkorak terbuka. Massa otak

terkelupas, keluar dari rongga intracranial.

6
3. Berdasarkan Mekanisme

a. Trauma Tumpul. Trauma tumpul adalah trauma yang terjadi akibat

kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan saat olahraga,

kecelakaan saat bekerja, jatuh, maupun cedera akibat kekerasaan

(pukulan).

b. Trauma Tembus. Trauma yang terjadi karena tembakan maupun

tusukan benda-benda tajam/runcing.

4. Berdasarkan Morfologi

a. Cedera kulit kepala

Cedera yang hanya mengenai kulit kepala. Cedera kulit kepala

dapat menjadi pintu masuk infeksi intrakranial.

b. Fraktur Tengkorak

Fraktur yang terjadi pada tulang tengkorak. Fraktur basis cranii

secara anatomis ada perbedaan struktur didaerah basis cranii dan

kalvaria yang meliputi pada basis caranii tulangnya lebih tipis

dibandingkan daerah kalvaria, durameter daerah basis lebih tipis

dibandingkan daerah kalvaria, durameter daerah basis lebih melekat

erat pada tulang dibandingkan daerah kalvaria. Sehingga bila terjadi

fraktur daerah basis mengakibatkan robekan durameter klinis

ditandai dengan bloody otorrhea, bloody rhinorrhea, liquorrhea, brill

hematom, batle’s sign, lesi nervus cranialis yang paling sering n i,

nvii dan nviii (Kasan, 2000).

Sedangkan penanganan dari fraktur basis cranii meliputi :

7
1) Cegah peningkatan tekanan intrakranial yang mendadak, misal

cegah batuk, mengejan, makanan yang tidak menyebabkan

sembelit.

2) Jaga kebersihan sekitar lubang hidung dan lubang telinga, jika

perlu dilakukan tampon steril (consul ahli tht) pada bloody

otorrhea/otoliquorrhea.

3) Pada penderita dengan tanda-tanda bloody

otorrhea/otoliquorrhea penderita tidur dengan posisi terlentang

dan kepala miring keposisi yang sehat (Kasan : 2000).

c. Cedera Otak

1) Commotio Cerebri (Gegar Otak)

Commotio Cerebri (Gegar Otak) adalah cidera otak ringan

karena terkenanya benda tumpul berat ke kepala dimana terjadi

pingsan < 10 menit. Dapat terjadi gangguan yang timbul dengan

tiba-tiba dan cepat berupa sakit kepala, mual, muntah, dan

pusing. Pada waktu sadar kembali, pada umumnya kejadian

cidera tidak diingat (amnezia antegrad), tetapi biasanya

korban/pasien tidak diingatnya pula sebelum dan sesudah cidera

(amnezia retrograd dan antegrad).

Menurut dokter ahli spesialis penyakit syaraf dan dokter

ahli bedah syaraf, gegar otak terjadi jika coma berlangsung tidak

lebih dari 1 jam. Kalau lebih dari 1 jam, dapat diperkirakan lebih

8
berat dan mungkin terjadi komplikasi kerusakan jaringan otak

yang berkepanjangan.

2) Contusio Cerebri (Memar Otak)

Merupakan perdarahan kecil jaringan akibat pecahnya

pembuluh darah kapiler. Hal ini terjadi bersama-sama dengan

rusaknya jaringan saraf/otak di daerah sekitarnya. Di antara

yang paling sering terjadi adalah kelumpuhan N. Facialis atau N.

Hypoglossus, gangguan bicara, yang tergantung pada lokalisasi

kejadian cidera kepala.

Contusio pada kepala adalah bentuk paling berat, disertai

dengan gegar otak encephalon dengan timbulnya tanda-tanda

koma, sindrom gegar otak pusat encephalon dengan tanda-tanda

gangguan pernapasan, gangguan sirkulasi paru - jantung yang

mulai dengan bradikardia, kemudian takikardia, meningginya

suhu badan, muka merah, keringat profus, serta kekejangan

tengkuk yang tidak dapat dikendalikan (decebracio rigiditas).

3) Perdarahan Intrakranial

a) Epiduralis haematoma, adalah terjadinya perdarahan antara

tengkorak dan durameter akibat robeknya arteri meningen

media atau cabang-cabangnya. Epiduralis haematoma dapat

juga terjadi di tempat lain, seperti pada frontal, parietal,

occipital dan fossa posterior.

9
b) Subduralis haematoma. Subduralis haematoma adalah

kejadian haematoma di antara durameter dan corteks,

dimana pembuluh darah kecil vena pecah atau terjadi

perdarahan. Kejadiannya keras dan cepat, karena tekanan

jaringan otak ke arteri meninggia sehingga darah cepat

tertuangkan dan memenuhi rongga antara durameter dan

corteks. Kejadian dengan cepat memberi tanda-tanda

meningginya tekanan dalam jaringan otak.

c) Subrachnoidalis Haematoma. Kejadiannya karena

perdarahan pada pembuluh darah otak, yaitu perdarahan

pada permukaan dalam duramater. Bentuk paling sering dan

berarti pada praktik sehari-hari adalah perdarahan pada

permukaan dasar jaringan otak, karena bawaan lahir

aneurysna (pelebaran pembuluh darah). Ini sering

menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak.

d) Intracerebralis Haematoma. Terjadi karena pukulan benda

tumpul di daerah korteks dan subkorteks yang

mengakibatkan pecahnya vena yang besar atau arteri pada

jaringan otak. Paling sering terjadi dalam subkorteks.

Selaput otak menjadi pecah juga karena tekanan pada

durameter bagian bawah melebar sehingga terjadilah

subduralis haematoma.

10
5. Berdasarkan Patofisiologi

a. Cedera kepala primer

Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi-

decelerasi rotasi) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Pada

cedera primer dapat terjadi gegar kepala ringan, memar otak dan

laserasi.

b. Cedera kepala sekunder

Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti

hipotensi sistemik, hipoksia, hiperkapnea, edema otak, komplikasi

pernapasan.

D. Manifestasi Klinis

Menurut Wong (2009) orang yang mengalami cedera kepala akut

memiliki beberapa tanda dan gejala, antara lain:

1. Cedera ringan

Tanda dan gejalanya:

a. Dapat menimbulkan hilang kesadaran

b. Periode konfusi (kebingungan) transien

c. Somnolen

d. Gelisah

e. Iritabilitas

f. Pucat

g. Muntah (satu kali atau lebih)

11
2. Tanda-tanda progresitivitas

a. Perubahan status mental (misalnya anak sulit dibangunkan)

b. Agitasi memuncak

c. Timbul tanda-tanda neurologik lateral fokal dan perubahan tanda-

tanda vital yang tampak jelas

3. Cedera berat

Tanda dan gejalanya:

a. Tanda-tanda peningkatan TIK

b. Perdarahan retina

c. Paralisis ekstraokular (terutama saraf kranial VI)

d. Hemiparesis

e. Kuadriplegia

f. Peningkatan suhu tubuh

g. Cara berjalan yang goyah

h. Papiledema (anak yang lebih besar) dan perdarahan retina

4. Tanda-tanda yang menyertai

a. Cedera kulit (daerah cedera pada kepala)

b. Cedera lainnya (misalnya pada ekstremitas)

Tanda dan gejala pada trauma kepala secara umum dilihat dari ada atau

tidaknya fraktur tengkorak, riwayat kejadian trauma kepala, tingkat

kesadaran, dan kerusakan jaringan otak (Tarwoto, 2013).

12
1. Fraktur tengkorak

Fraktur tengkorak dapat melukai pembuluh darah dan saraf-saraf

otak, merobek duramater yang mengakibatkan perembesan cairan

serebrospinalis. Jika terjadi fraktur tengkorak kemungkina yang terjadi

adalah :

a. Keluarnya cairan serebrospinalis atau cairan lain dari hidung

(rhinorrhoe) dan telinga (otorrhoe).

b. Kerusakan saraf cranial

c. Perdarah dibelakang membrane timpani

d. Ekimosis pada periorbital.

Jika terjadi fraktur basiler, kemungkinan adanya gangguan pada

saraf cranial dan kerusakan bagian dalam telinga. Sehingga kemungkinan

tanda dan gejalanya adalah :

a. Perubahan tajam penglihatan karena kerusakan nervus optikus.

b. Kehilangan pendengaran karena kerusakan pada nervus auditorius.

c. Dilatasi pupil dan hilangnya kemampuan pergerakan beberapa otot

mata karena kerusakan nervus okulomotorius.

d. Paresis wajah karena kerusakan nervus fasialis

e. Vertigo karena kerusakan otolith dalam telinga bagian dalam.

f. Nistagmus karena kerusakan pada system vestibular

g. Warna kebiruan dibelakang telinga diatas mastoid (Battle Sign).

13
2. Kesadaran

Tingkat kesadaran pasien tergantung dari berat ringannya cedera

kepala, ada atau tidaknya amnesia retrograt, mual dan muntah.

3. Kerusakan jaringan otak

Manifestasi klinik kerusakan jaringan otak bervariasi tergantung

dariu cedera kepala. Untuk melihat adanya kerusakan cedera kepala perlu

dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI.

E. Patofisiologi

Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa

dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel saraf hampir

seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen,

jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan

gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan

bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan

menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh

kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai

70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.

Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi

kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat

menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau

kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme

anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik. Dalam keadaan

14
normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml/menit/100 gr. jaringan

otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output dan akibat adanya perdarahan

otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan

vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi

Menurut Long (1996) trauma kepala terjadi karena cidera kepala, kulit

kepala, tulang kepala, jaringan otak. Trauma langsung bila kepala langsung

terluka. Semua itu berakibat terjadinya akselerasi, deselerasi dan

pembentukan rongga. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak

dan isinya, kekuatan itu bisa seketika/menyusul rusaknya otak dan kompresi,

goresan/tekanan. Cidera akselerasi terjadi bila kepala kena benturan dari

obyek yang bergerak dan menimbulkan gerakan. Akibat dari akselerasi,

kikisan/konstusio pada lobus oksipital dan frontal batang otak dan cerebellum

dapat terjadi. Sedangkan cidera deselerasi terjadi bila kepala membentur

bahan padat yang tidak bergerak dengan deselerasi yang cepat dari tulang

tengkorak.

Pengaruh umum cidera kepala dari tengkorak ringan sampai tingkat

berat ialah edema otak, deficit sensorik dan motorik. Peningkatan TIK

terjadi dalam rongga tengkorak (TIK normal 4-15 mmHg). Kerusakan

selanjutnya timbul masa lesi, pergeseran otot.

Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena

memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau

hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan

autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera.

15
Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area

peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua

menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan

intrakranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak

sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.

Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal”

dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk

menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari

kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral,

serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi,

pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan

kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu:

cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak

menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini

menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena

cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau dua-duanya.

Sedangkan patofisiologi menurut Markum (1999). trauma pada kepala

menyebabkan tengkorak beserta isinya bergetar, kerusakan yang terjadi

tergantung pada besarnya getaran makin besar getaran makin besar kerusakan

yang timbul, getaran dari benturan akan diteruskan menuju Galia

aponeurotika sehingga banyak energi yang diserap oleh perlindungan otak,

hal itu menyebabkan pembuluh darah robek sehingga akan menyebabkan

haematoma epidural, subdural, maupun intracranial, perdarahan tersebut juga

16
akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplay

oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan menyebabkan odema

cerebral.

Akibat dari haematoma diatas akan menyebabkan distorsi pada otak,

karena isi otak terdorong ke arah yang berlawanan yang berakibat pada

kenaikan T.I.K (Tekanan Intra Kranial) merangsang kelenjar pituitari dan

steroid adrenal sehingga sekresi asam lambung meningkat akibatnya timbul

rasa mual dan muntah dan anaroksia sehingga masukan nutrisi kurang (Satya,

1998).

17
F. Web of Caution (WOC)
Trauma Tajam Cedera kepala Trauma Tumpul

Ekstra Cranial Cranium Intra Cranial

Terputusnya Fraktur Rupur pembuluh


Terputusnya Laserasi/perdarahan
kontinuitas darah vena
jariangan otot, kulit pada otak
tulang
dan vaskulaer
Robekan arteri
menigia media
Subdural Rangsangan
Nyeri Akut simpatis
Risiko Infeksi Hematoma
Hematoma
epidural
Tekanan vaskuler,
1. Kolaborasi
pemberian Tekanan darang
antibiotic Nyeri Kepala Perubahan
2. Bersihkan area lesi Sirkulasi CSS
denan Teknik
aseptic
Mual muntah Tekanan pada
3. Jauhkan dari risiko
terpaparnya agen Peningkatan TIK paru meningkat

Gangguan suplai Penekanan


batang otak
darah ke otak
Peningkatan
Pemberian
tekanan
manitol
hidrostatik
Hipoksia Herniasi 0,25-1g/KgBB
jaringan otak 18

Iskemia
Gangguan
perfusi jaringan
Kebocoran kapiler

1. Kaji Status
kesadaran
2. Pantau TTV
3. Control
Udem pulmonal
perdarahan
dan eudema

Cerebral
Hematoma

pH Arterial Cerebral Defisit Neurologi


Disfungsi Batang
Meningkat Otak

Menstimulus Merangsang
Hipotalamus Hipofisis Gangguan Persepsi
Penggunaan Dilatasi Arteri
antikonvulsan: Sensori

1. Fenitoin atau Kerusakan saraf


fosfenitoin pada Pelepasan ACTH motorik
fase akut (1gr Aliran darah ke Streroid adrenalin
dalam kecepatan
50mg/menit) otak meningkat
2. Deazepan atau Penghentian
lorazepam
sekresi anto Peningkatan asam
3. Anastesi umum Edema serebri Gangguan
jika kejang
deuretik lambung Mobilitas Fisik
berlanjut lebih
dari 60 menit 19
Kejang Diabetes Insipidus
Mual Muntah
acceleration-deselaration

Angular force

impact Direct impact

Shock waves(gel.kejut)

Efek Tekanan

Trauma kepala

Kulit kepala Tulang kepala jaringan otak

Hematoma pd. Kulit fr. Linear, fr.comunited, komusio,hematoma,


fr.depresed, fr. basis

B1 B2 B3 B4 B5 B6

ICP meningkat ADH dilepas Meningkatnya Control motorik dan Tubuh perlu energy Rusaknya neuron
Rangsangan simpatis postural konfusi untuk perbaikan motorik pada
menurun medulla spinalis
Rangsang simpatis retensi Na& air
meningkat

20
Meningkatkan output urine tah.vaskuler Control spinkter nutrisi kurang dari Paralisi otot
tahanan vaskuler menurun sistemik&TD urinarius eksternal keb. tubuh ekstremitas
Sistemik & TD meningkat menurun atau hilang

konsentrasi elektrolit Penghancuran Perubahan kekuatan


Sistem pembuluh meningkat System pembuluh Inkontinensia urine protein otot sebagai otot, tonus dan
darah Pulmonal tek. darah pulmonal sumber nitrogen aktivitas reflek
rendah tekanan rendah utama menurun
(00028)resiko (00016)Gangguan
gangguan eliminasi urine
Meningkatkan keseimbangan cairan Tekanan hidrostatik Nitrogen hilang (00085)Hambatan
tek.hidrostatik & elektrolit meningkat mobilitas fisik
Kebocoran cairan
kapiler
(00093)kelelahan/
Edema paru kelemahan fisik
Edema cerebral
Peningkatan
hambatan Difusi O2-
Bertambahnya vol.
CO2
intra cranial krna
perdarahan otak

Hipoksemia,
hiperkapnea Resiko PTIK, CPP
meningkat, MAP
meningkat
(00032)Ketidak
Efektifna Pola napas
(00024)Ganggaun
perpusi jaringan
(00030)Gangguan Cerebral 21
Pertukaran gas
(00132)Nyeri Akut
G. Pemeriksaan Fisik (Fokus Penyakit)

1. Aspek Neurologis

Yang dikaji adalah Tingkat kesadaran, biasanya GCS kurang dari 15,

disorentasi orang/tempat dan waktu, adanya refleks babinski yang positif,

perubahan nilai tanda-tanda vital, adanya gerakan decebrasi atau

dekortikasi dan kemungkinan didapatkan kaku kuduk dengan brudzinski

positif. Adanya hemiparese.

Pada pasien sadar, dia tidak dapat membedakan berbagai

rangsangan/stimulus rasa, raba, suhu dan getaran. Terjadi gerakan-

gerakan involunter, kejang dan ataksia, karena gangguan koordinasi.

Pasien juga tidak dapat mengingat kejadian sebelum dan sesuadah

trauma. Gangguan keseimbangan dimana pasien sadar, dapat terlihat

limbung atau tidak dapat mempertajhankana keseimbangan tubuh.

Nervus kranialis dapat terganggu bila trauma kepala meluas sampai

batang otak karena edema otak atau pendarahan otak.

2. Aspek Kardiovaskuler

Didapat perubahan tekanan darah menurun, kecuali apabila terjadi

peningkatan intrakranial maka tekanan darah meningkat, denyut nadi

bradikardi, kemudian takhikardia, atau iramanya tidak teratur. Selain itu

pengkajian lain yang perlu dikumpulkan adalah adanya perdarahan atau

cairan yang keluar dari mulut, hidung, telinga, mata. Adanya hipereskresi

pada rongga mulut. Adanya perdarahan terbuka/hematoma pada bagian

tubuh lainnya. Hal ini perlu pengkajian dari kepalal hingga kaki.

22
3. Aspek sistem pernapasan

Terjadi perubahan pola napas, baik irama, kedalaman maupun

frekuensi yaitu cepat dan dangkal, irama tidak teratur (chyne stokes,

ataxia brething), bunyi napas ronchi, wheezing atau stridor. Adanya

sekret pada tracheo brokhiolus. Peningkatan suhu tubuh dapat terjadi

karena adanya infeksi atau rangsangan terhadap hipotalamus sebagai

pusat pengatur suhu tubuh.

4. Aspek sistem eliminasi

Akan didapatkan retensi/inkontinen dalam hal buang air besar atau

kecil. Terdapat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, dimana terdapat

hiponatremia atau hipokalemia. Pada sistem gastro-intestinal perlu dikaji

tanda-tanda penurunan fungsi saluran pencernaan seperti bising usus

yang tidak terdengar/lemah, aanya mual dan muntah. Hal ini menjadi

dasar dalam pemberian makanan.

H. Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi pada cedera kepala diantaranya:

1. Defisitnya neurologi fokal

2. Kejang

3. Pneumonia

4. Perdarahan gastrointestinal

5. Disritmia jantung

6. Hidrosefalus

23
7. Kerusakan kontrol respirasi

8. Inkontinensia bladder atau bowel

I. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk pasien dengan

trauma kepala yaitu:

a. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras)

Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan

ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk

mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72

jam setelah injuri.

b. MRI

Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras

radioaktif.

c. Cerebral Angiography

Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti perubahan

jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.

d. Serial EEG

Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis.

e. X-Ray

Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan

struktur garis (perdarahan/edema), fragmen tulang.

24
f. BAER (Brain Auditory Evoked Respons)

Berfungsi untuk menentukan fungsi korteks dan batang otak.

g. PET (Positron Emission Tomography)

Yaitu untuk menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme

pada otak.

2. Pemeriksaan Laboratorium

1. AGD (PO2, pH, HCO3) untuk mengkaji keadekuatan ventilasi

(mempertahankan AGD dalam rentang normal untuk menjamin

aliran darah serebral adekuat) atau untuk melihat masalah oksigenasi

yang dapat meningkatkan TIK.

2. Elektrolit serum. Cedera kepala dapat dihubungkan dengan

gangguan regulasi natrium, retensi Na berakhir dapat beberapa hari,

diikuti dengan diuresis Na, peningkatan letargi, konfusi, dan kejang

akibat ketidakseimbangan elektrolit.

3. Hematologi untuk memeriksa leukosit, Hb, albumin, Globulin,

protein serum.

4. CSS untuk menentukan kemungkinan adanya perdarahan

subarakhnoid (warna, komposisi, tekanan).

5. Pemeriksaan toksikologi untuk mendeteksi obat yang mengakibatkan

penurunan kesadaran.

6. Kadar antikonvulsan darah untuk mengetahui tingkat terapi yang

cukup efektif mengatasi kejang

25
J. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Menurut Dewanto et al. (2009) dalam pemeriksaan pada trauma

kepala dapat dilakukan primary dan secondary survei. Survei primer

mengkaji ABCDE (airway, breathing, circulation, disability, exposure),

dan survei sekunder terdiri dari observasi ketat penting pada jam-jam

pertama sejak kejadian cedera.

a. Survei Primer

1) Airway

Daerah tulang servikal harus diimobilisasi dalam posisi

netral menggunakan stiffneck collar, head block, dan diikat pada

alas yang kaku pada kecurigaan fraktur servikal.

Pastikan penanganan jalan nafas dengan teknik kontrol

servikal sehingga dapat memudahkan oksigen masuk ke paru-

paru. Lakukan posisi head up <30 derajat untuk mempermudah

aliran masuk daln keluar darah ke otak. Pada pasien dengan

GCS < 8 maka harus segera dipasang ETT.

2) Breathing

Pastikan asupan oksigen adekuat dengan mempertahankan

saturasai 95 – 100 %. Lihat perkembangan data apakah simestris

atau tidak, deviasi trakea, suara nafas tambahan, distensi vena

jugularis. Berikan oksigen dengan konsentrasi tinggi melalui

SMRM ataupun SMNRM. Apabila pasien dilakukan

26
pemasangan ETT maka di anjurkan memakai ventilator

mekanik.

3) Circulation

Kaji tekanan darah pasien, frekuensi nadi, suhu, dan

adanya ciri-ciri perdarahan. Pasang IV line 2 jarum besar. Pada

kasus peningkatan tekanan intrakranial, frekuensi nadi dan

pernapasan menurun, sedangkan tekanan darah dan suhu

meningkat.

4) Disability

Ada tidaknya penurunan kesadaran, kehilangan sensasi

dan refleks, pupil anisokor dan nilai GCS. Menurut Arif

Mansjoer. Et all. 2000 penilaian GCS beerdasarkan pada tingkat

keparahan cidera :

a) Cidera kepala ringan/minor (kelompok resiko rendah)

i) Skor skala koma Glasglow 15 (sadar penuh,atentif,dan

orientatif)

ii) Tidak ada kehilangan kesadaran(misalnya konkusi)

iii) Tidak ada intoksikasi alkohaolatau obat terlarang

iv) Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing

v) Pasien dapat menderita abrasi,laserasi,atau hematoma

kulit kepala

vi) Tidak adanya kriteria cedera sedang-berat.

b) Cidera kepala sedang (kelompok resiko sedang)

27
i) Skor skala koma glasgow 9-14 (konfusi, letargi atau

stupor)

ii) Konkusi

iii) Amnesia pasca trauma

iv) Muntah

v) Tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda battle, mata

rabun, hemotimpanum, otorhea atau rinorhea cairan

serebrospinal).

c) Cidera kepala berat (kelompok resiko berat)

i) Skor skala koma glasglow 3-8 (koma)

ii) Penurunan derajat kesadaran secara progresif

iii) Tanda neurologis fokal

iv) Cidera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi

kranium.

5) Exposure

Semua pakaian harus dilepaskan sehingga semua luka

dapat terlihat. Anak-anak sering datang dengan keadaan

hipotermia ringan karena permukaan tubuh mereka lebih luas.

Pasien dapat dihangatkan dengan alat pemancar panas, selimut

hangat, maupun pemberian cairan intravena (yang telah

dihangatkans ampai 390C) (Dewanto et al.2009).

28
b. Survei Sekunder

1) Keluhan utama

Pada pasien trauma kepala biasanya terjadi penurunan

kesadaran setelah mengalami trauma, selain itu terjadi pula

konvulsi, muntah, dispnea / takipnea, sakit kepala, wajah

simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi sekret

pada saluran napas, adanya liquor dari hidung dan telinga dan

kejang.

2) Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang

berhubungan dengan sistem persarafan maupun penyakit sistem

sistemik lainnya. demikian pula riwayat penyakit keluarga

terutama yang mempunyai penyakit menular.

Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau

keluarga sebagai data subyektif. Data-data ini sangat berarti

karena dapat mempengaruhi prognosa klien.

3) Pemeriksaan fisik (B1-B6)

Breathing (B1)

Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan

irama jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas,

kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne

Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi,

29
wheezing (kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi

peningkatan produksi sputum pada jalan napas.

Blood (B2)

Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan

darah bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan

meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung

yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat,

merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan

frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan

bradikardia, disritmia).

Brain (B3)

Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk

manifestasi adanya gangguan otak akibat cidera kepala.

Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian,

vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, baal pada

ekstrimitas. Pemeriksaan fokus pada B3 meliputi:

a) Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma

Scale (GCS)

NO KOMPONEN NILAI HASIL

1 VERBAL 1 Tidak berespon

2 Suara tidak dapat dimengerti,


rintihan

3 Bicara kacau/kata-kata tidak


tepat/tidak nyambung dengan

30
pertanyaan

4 Bicara membingungkan, jawaban


tidak tepat

5 Orientasi baik

2 MOTORIK 1 Tidak berespon

2 Ekstensi abnormal

3 Fleksi abnormal

4 Menarik area nyeri

5 Melokalisasi nyeri

6 Dengan perintah

3 Reaksi 1 Tidak berespon


membuka mata
2 Rangsang nyeri
(EYE)
3 Dengan perintah (rangsang
suara/sentuh)

4 Spontan

b) Fungsi motorik

Setiap ekstremitas diperiksa dan dinilai dengan skala

berikut yang digunakan secara internasional :

RESPON SKALA

Kekuatan normal 5

Kelemahan sedang 4

Kelemahan berat (antigravity) 3

Kelemahan berat (not antigravity) 2

Gerakan trace 1

Tak ada gerakan 0

31
c) Pemeriksaan Nervus:

i. Nervus I (Olfaktorius) : memperlihatkan gejala

penurunan daya penciuman dan anosmia bilateral.

ii. Nervus II (Optikus), pada trauma frontalis :

memperlihatkan gejala berupa penurunan gejala

penglihatan.

iii. Nervus III (Okulomotorius), Nervus IV (Trokhlearis)

dan Nervus VI (Abducens) : kerusakannya akan

menyebabkan penurunan lapang pandang, refleks

cahaya ,menurun, perubahan ukuran pupil, bola mata

tidak dapat mengikuti perintah, anisokor.

iv. Nervus V (Trigeminus) : gangguannya ditandai

dengan adanya anestesi daerah dahi.

v. Nervus VII (Fasialis) : pada trauma kapitis yang

mengenai neuron motorik atas unilateral dapat

menurunkan fungsinya, tidak adanya lipatan

nasolabial, melemahnya penutupan kelopak mata dan

hilangnya rasa pada 2/3 bagian lidah anterior lidah.

vi. Nervus VIII (Akustikus) : pada pasien sadar gejalanya

berupa menurunnya daya pendengaran dan

kesimbangan tubuh.

vii. Nervus IX (Glosofaringeus), Nervus X (Vagus), dan

Nervus XI (Assesorius) : gejala jarang ditemukan

32
karena penderita akan meninggal apabila trauma

mengenai saraf tersebut. Adanya Hiccuping

(cekungan) karena kompresi pada nervus vagus, yang

menyebabkan kompresi spasmodik dan diafragma.

Hal ini terjadi karena kompresi batang otak.

Cekungan yang terjadi, biasanya yang berisiko

peningkatan tekanan intrakranial.

viii. Nervus XII (hipoglosus) : gejala yang biasa timbul,

adalah jatuhnya lidah kesalah satu sisi, disfagia dan

disartria. Hal ini menyebabkan adanya kesulitan

menelan.

Blader (B4)

Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi,

inkontinensia uri, ketidakmampuan menahan miksi.

Bowel (B5)

Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah,

mual, muntah (mungkin proyektil), kembung dan mengalami

perubahan selera. Gangguan menelan (disfagia) dan

terganggunya proses eliminasi alvi.

Bone (B6)

Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese,

paraplegi. Pada kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur

karena imobilisasi dan dapat pula terjadi spastisitas atau

33
ketidakseimbangan antara otot-otot antagonis yang terjadi

karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf di otak

dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi

penurunan tonus otot.

5) Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan CT-Scan, MRI,

EEG, X-Ray, pemeriksaan AGD, elektrolit serum, CSS dsb.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral

b. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas

c. Nyeri Akut

d. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

e. Kerusakan Integritas Kulit

f. Resiko Infeksi

34
3. Intervensi Keperawatan

No. Diagnosa Keperawatan (NANDA) Nursing Outcome Classification (NOC) Nursing Income Classification (NIC)
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Tujuan: Manajemen Sirkulasi
Serebral (00201) 1. Status sirkulasi 1. Pantau nadi perifer
Definisi: penurunan oksigen yang 2. Status perfusi jaringan serebral 2. Catat warna kulit dan temperatur
mengakibatkan kegagalan Status sirkulasi: 3. Cek capilary refil
penerimaan nutrisi ke jaringan a. Tekanan darah dalam batas normal 4. Monitor status cairan, masukan dan keluaran yang
pada tingkat kapiler. b. Kekuatan nadi dalam batas normal sesuai
Batasan Karakteristik: c. Rata-rata tekanan darah dalam batas 5. Monitor lab Hb dan Ht
1. Perubahan status mental normal 6. Monitor perdarahan
2. Perubahan perilaku d. Tekanan vena sentral dalam batas normal 7. Monitor status hemodinamik, neurologis dan tanda vital
3. Kesulitan menelan e. Tidak ada hipotensi ortostatik Monitor Status Neurologi
4. Kelemahan f. Tidak ada bunyi jantung tambahan 8. Monitor ukuran, bentuk, kesimetrisan dan reaksi pupil
5. Ketidaknormalan dalam g. Tidak ada angina 9. Monitor tingkat kesadaran
berbicara h. Tidak ada suara napas tambahan 10. Monitor tingkat orientasi
Faktor yang berhubungan: i. AGD dalam batas normal 11. Monitor GCS
1. Gangguan aliran arteri j. Perbedaan O2 arteri dan vena dalam batas 12. Monitor tanda vital
atau vena normal 13. Monitor respon pasien terhadap pengobatan
k. Kekuatan pulsasi perifer
l. Tidak ada pelebaran vena
m. Tidak ada edema perifer
Perfusi jaringan serebral:
a. Pengisian capilary refil
b. Kekuatan pulsasi perifer distal
c. Kekuatan pulsasi perifer proksimal
d. Kesimetrisan pulsasi perifer proksimal
e. Tingkat sensasi normal
f. Warna kulit normal

35
g. Kekuatan fungsi otot
h. Keutuhan kulit
i. Suhu kulit hangat
j. Tidak ada edema perifer
k. Tidak ada nyeri pada ekstremitas
Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan intervensi selama 3x24 jam
menunjukkan status sirkulasi, yang dibuktikan
dengan:
1. Tekanan darah sistolik dan diastolik dalam
rentang yang diharapkan
2. Tidak ada ortostatik hipotensi
3. Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK
4. Klien mampu berkomunikasi dengan jelas
dan sesuai kemampuan
5. Klien menunjukkan perhatian, konsentrasi,
dan orientasi
6. Klien mampu memproses informasi
7. Klien mampu membuat keputusan dengan
benar
8. Tingkat kesadaran klien membaik
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Tujuan: Airway Management:
Napas (00031) 1. Respiratory status: airway patency 1. Monitor respirasi dan status O2
Definisi: ketidakmampuan untuk Kriteria Hasil: 2. Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan
membersihkan sekresi atau Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam 3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
obstruksi dari saluran napas diharapkan pasien mampu menunjukkan status napas buatan
untuk mempertahankan bersihan pernapasan: kepatenan jalan napas dibuktikan 4. Buka jalan napas, gunakan teknik chin lift atau jaw
jalan napas dengan: thrust bila perlu
Batasan Karakteristik: 1. Mengeluarkan sekret secara efektif 5. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

36
1. Suara napas tambahan 2. Mempunyai irama dan frekuensi dalam 6. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
seperti ronchi rentang normal 7. Lakukan suction pada mayor
2. Kesulitan untuk berbicara 3. Pada pemeriksaan auskultasi suara napas 8. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Faktor yang berhubungan: jernih 9. Berikan bronkodilator bila perlu
1. Spasme jalan napas 4. Menunjukkan jalan napas yang paten (klien Airway Suction:
tidak merasa tercekik) 10. Pastikan kebutuhan oral.tracheal suctioning
11. Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah suctioning
12. Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
13. Minta klien napas dalam sebelum suction dilakukan
14. Berikan O2 dengan menggunakan nasal untk
memfasilitasi suction nasotrakeal
15. Gunakan alat yang steril setiap melakukan tindakan
16. Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah
kateter dikeluarkan dari nasotrakeal
17. Monitor status oksigen pasien
18. Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suction
19. Hentikan suction dan berikan oksigen apabila pasien
menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi O2
Health Education:
20. Anjurkan pasien untuk menghindari posisi telentang
21. Beri dorongan untuk memilih posisi duduk, lateral, tegak
lurus untuk meningkatkan ekspansi paru
22. Anjurkan pasien untuk membuang sputum
menggunakan tisu menjaga personal hygiene ataupun
lingkungan
23. Anjurkan pasien untuk melaporkan jika ada perubahan
pada warna sputum
3. Nyeri Akut (00132) Tujuan: Pain Management:
Definisi: sensori yang tidak 1. Pain level 1. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

37
menyenangkan dan pengalaman 2. Pain control 2. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
emosional yang muncul secara Kriteria Hasil: lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, skala, kualitas dan
aktuala tau potensial kerusakan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, faktor presipitasi
jaringan atau menggambarkan pasien diharapkan mampu memperlihatkan nyeri 3. Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
adanya kerusakan. skala ringan, yang dibuktikan dengan: 4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
Batasan Karakteristik: 1. Mampu mengontrol nyeri, penyebab nyeri, seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
1. Mengekspresikan mampu menggunakan teknik non 5. Pilih dan lakukan penangan nyeri (farmakologi,
perilaku farmakologi untuk mengurangi nyeri, nonfarmakologi dan inter personal)
2. Sikap melindungi area mencari bantuan 6. Lakukan tindakan kenyamanan untuk meningkatkan
nyeri 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang relaksasi, mis. Pemijatan, mengatur posisi, teknik
3. Perubahan posisi untuk dengan menggunakan manajemen nyeri relaksasi
menghindari nyeri 3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, 7. Gunakan teknik panas dan dingin sesuai anjuran untuk
4. Sikap tubuh melindungi frekuensi dan tanda nyeri) meminimalkan nyeri
nyeri 4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri 8. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
Faktor yang berhubungan: berkurang tindakan nyeri tidak berhasil
1. Agen cedera (fisik) 5. Tanda vital dalam rentang normal 9. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
10. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Analgesic Administration
11. Cek riwayat alergi
12. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan
frekuensi
13. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
14. Pilih analgesik uang diperlukan atau kombinasi dari
analgesik ketika pemberian lebih dari satu
15. Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya
nyeri, tentukan rute pemberian, dan dosis optimal
16. Kolaborasi pemberian analgesik tepat waktu terutama
saat nyeri hebat

38
17. Evaluasi efektibitas analgesik, tanda dan gejala
4. Ketidakseimbangan nutrisi Tujuan: Monitor Nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh 1. Status nutrisi 1. Monitor BB jika memungkinkan
(00002) 2. Status gizi 2. Monitor adanya gangguan dalam input makanan
Definisi: asupan nutrisi tidak Kriteria Hasil: misalnya adanya mual muntah, perdarahan, bengkak,
mencukupi untuk memenuhi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam dsb
kebutuhan metabolik. diharapkan pasien mampu: 3. Monitor respon klien terhadap situasi yang
Batasan Karakteristik: 1. Memperlihatkan status nutrisi pasien mengharuskan klien makan
1. Mual, muntah normal, yang dibuktikan dengan: 4. Monitor intake nutrisi dan kalori
2. Ketidakmampuan a. Intake nutrien normal 5. Monitor kadar energi, kelemahan dan kelelahan
memakan makanan b. Intake makanan dan cairan normal 6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan
Faktor yang berhubungan: c. Berat badan normal dengan waktu klien makan
1. Ketidakmampuan d. Massa tubuh normal 7. Kolaborasi untuk pemberian terapi sesuai order
menelan makanan e. Pengukuran biokimia normal Manajemen Nutrisi
2. Mual, muntah 2. Memperlihatkan status gizi: asupan nutrisi 8. Kaji adanya alergi makanan
dan cairan yang dibuktikan dengan: 9. Kaji makanan yang disukai oleh klien
a. Pasien mampu menjelaskan komponen 10. Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat
diet gizi adekuat untuk mencegah konstipasi
b. Pasien mentoleransi diet yang 11. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
dianjurkan 12. Sajikan makanan dengan tampilan yang menarik
c. Pasien memiliki nilai laboratorium 13. Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisi TKTP
dalam batas normal dan banyak mengandung vitamin C
d. Pasien melaporkan tingkat energi yang 14. Kolaborasi tim gizi untuk penyediaan nutrisi TKTP
adekuat 15. Kolaborasi pemberian obat antiemetik
Manajemen Gangguan Makan
16. Yakinkan pasien dan berikan lingkungan yang tenang
selama makan
17. Siapkan kateter pengisap di samping tempat tidur dan
alat pengisap selama makan, bila diperlukan

39
18. Ubah pasien semi fowler, atau fowler tinggi untuk
memudahkan menelan, biarkan pasien pada posisi ini
selama 30 menit setelah makan untuk mencegah
aspirasi
19. Letakkan makanan pada bagian mulut yang tidak
bermasalah untuk memudahkan menelan
Monitoring Cairan
20. Tentukan riwayat jumlah dan tipe cairan dan kebiasaan
eliminasi
21. Tentukan kemungkinan faktor resiko ketidakseimbangan
cairan
22. Monitor serum albumin dan kadar protein total
23. Monitor membran mukosa, turgor kulit, dan rasa haus
24. Monitor warna, kuantitas, dan BJ urin
25. Monitor distensi vena leher, krakles pada paru-paru,
edema perifer dan peningkatan BB
26. Monitor tanda dan gejala asites
Manajemen Cairan
27. Monitor hasil lab yang relevan dengan retensi cairan
28. Monitor adanya indikasi retensi cairan
29. Monitor respon pasien terhadap terapi elektrolit
30. Berikan makanan ringan
31. Batasi intake cairan pada kondisi delusional hiponatremi
dengan Na serum dibawah 130 mEq/L
32. Konsulkan dengan dokter jika tanda dan gejala
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit meningkat atau
memburuk
33. Menata keberadaan produk darah untuk tranfusi
34. Siapkan pemberian produk darah

40
35. Berikan produk darah
Manajemen Berat Badan
36. Diskusikan dengan pasien kondisi medis yang
mempengarhi berat badan
37. Tentukan berat badan ideal pasien
38. Dorong pasien untuk membuat grafik berat badan
setiap minggu, jika sesuai
39. Informasikan pasien adanya dukungan yang bisa
membantunya
40. Bantu pasien untuk membuat perencanaan makanan
yang seimbang dan konsisten dengan tingkat
penggunaan energinya.
Manajemen Elektrolit
41. Monitor elektrolit serum abnormal, jika ada
42. Monitor manifestasi dari ketidakseimbangan elektrolit
43. Monitor respon pasien untuk menentukan therapi
elektrolit
44. Monitor efek samping pemberian suplemen elektrolit
45. Monitor secara ketat tingkat potassium serum pasien
yang mendapatkan obat digitasli dan diuretic
46. Pertahankan pencatatan intake-output cairan secara
akurat
47. Pertahankan kandungan elektrolit larutan IV dengan laju
aliran yang konstan, secara tepat
48. Berikan suplemen elektrolit sesuai dengen resep, jika
diperlukan.
49. Berikan zat pengikat elektrolit sesuai dengan yang
diresepkan.
50. Lakukan pengiriman spesimen untuk analisis tingkat

41
elektrolit di laboratorium
51. Lakukan tindakan untuk mengontrol kahilangan cairan
elektrolit yang berlebih secara tepat
52. Berikan diit yang tepat bagi pasien dengan
ketidakseimbangan elektrolit
53. Sediakan lingkungan yang aman bagi pasien dengan
gangguan neurologis atau neuromuskular sebagai
manifestasi dari ketidakseimbangan elektrolit
54. Konsultasiken dengan dokter jika tanda dan gejala
ketidakseimbangan elektrolit meningkat atau
memburuk.
55. Konsultasikan dengan dokter untuk pemberian
electrolyt-sparing medication secara tepat.
Manajemen Elektrolit: Hipokalsemia
56. Hindari pengobatan yang meurunkan kalsium serum
terionisasi
57. Hindari pemberian garam kalsium dengan bikarbonat
untuk mencegah presipitasi
58. Berikan intake vit D yang adekuat
Manajemen Elektrolit: Hiperpospathemia
59. Berikan pengikat phospat dan obat diuretik yang
diresepkan dengan makanan yang menurunkan absorbsi
phospat
60. Berikan kalsium dan vit D yang diresepkan untuk
mengurangi tingkat phospat.
Health Education:
61. Ajari keluarga mengenai jenis, penyebab dan
pengobatan ketidakseimbangan elektrolit
62. Anjurkan untuk mengkonsumsi kalsium

42
63. Hindari makanan kaya dengan phospat
5. Kerusakan Integritas Kulit Tujuan: Pengawasan kulit
(00046) 1. Integritas kulit 1. Observasi ekstremitas untuk warna, keringat, nadi,
Definisi: perubahan/gangguan Kriteria Hasil: tekstur, edema dan luka
epidermis dan/ atau dermis. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2. Inspeksi kulit dan membran mukosa untuk kemerahan,
Batasan Karakteristik: 3x24 jam diharapkan pasien menunjukkan panas, drainase
1. Kerusakan lapisan kulit integritas jaringan kulit, yang dibuktikan dengan: 3. Monitor kulit pada daerah kemerahan
2. Gangguan permukaan 1. Suhu, elastisitas, dehidrasi dan sensasi 4. Monitor penyebab tekanan
kulit 2. Perfusi jaringan 5. Monitor adanya infeksi
Faktor yang berhubungan: 3. Keutuhan kulit 6. Monitor warna kulit
Eksternal: 7. Monitor temperatur kulit
1. Faktor mekanik 8. Catat perubahan kulit dan membran
Internal: 9. Monitor kulit area kemerahan
1. Perubahan turgor Manajemen Tekanan
2. Perubahan sirkulasi 10. Elevasi ekstremitas yang terluka
11. Monitor status nutrisi pasien
12. Monitor sumber tekanan
13. Monitor mobilitas dan aktivitas pasien
14. Mobilisasi pasien minimal setiap 2 jam sekali
15. Ajarkan pasien untuk menggunakan pakaian yang
longgar.
6. Resiko Infeksi (00004) Tujuan: Kontrol Infeksi
Definisi: peningkatakan resiko 1. Meningkatkan status kekebalan pasien 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
masuknya organisme patogen. 2. Mengontrol infeksi 2. Pertahankan tehnik isolasi
Faktor yang berhubungan: Kriteria Hasil: 3. Batasi pengunjung bila perlu
1. Prosedur invasif Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4. Instruksikan pengunjung untuk mencuci tangan saat
2. Ketidakcukupan 3x24 jam diharapkan: berkunjung dan setelah berkunjung
pengetahuan untuk 1. Status kekebalan pasien meningkat, yang 5. Gunakan sabun anti mikroba untuk cuci tangan
menghindari paparan dibuktikan dengan kriteria hasil: 6. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan

43
patogen trauma a. Tidak didapatkan infeksi berulang keperawatan
3. Kerusakan jaringan dan b. Tidak didapatkan tumor 7. Gunakan universal precaution dan gunakan sarung
peningkatan paparan c. Status respirasi sesuai yang diharapkan tangan selma kontak dengan kulit yang tidak utuh
lingkungan d. Temperatur badan sesuai yang 8. Tingkatkan intake nutrisi dan cairan
4. Ruptur membran amnion diharapkan 9. Berikan terapi antibiotik bila perlu
5. Agen farmasi e. Integritas kulit 10. Observasi dan laporkan tanda dan gejal infeksi seperti
6. Malnutrisi f. Integritas mukosa kemerahan, panas, nyeri, tumor
7. Peningkatan paparan g. Tidak didapatkan fatigue kronis 11. Kaji temperatur tiap 4 jam
lingkungan patogen h. Reaksi skintes sesuai paparan 12. Catat dan laporkan hasil laboratorium, WBC
8. Imunosupresi 2. Mengontrol infeksi dengan kriteria hasil 13. Gunakan strategi untuk mencegah infeksi nosokomial
9. Ketidakadekuatan imun a. Mendeskripsikan proses penularan 14. Istirahat yang adekuat
buatan penyakit 15. Kaji warna kulit, turgor dan tekstur, cuci kulit dengan
10. Tidak adekuat b. Mendeskripsikan faktor yang hati-hati
pertahanan sekunder mempengaruhi terhadap proses 16. Ganti IV line sesuai aturan yang berlaku
11. Tidakk adekuat penularan penyakit 17. Pastikan perawatan aseptik pada IV line
pertahanan tubuh primer c. Mendeskripsikan tindakan yang dapat 18. Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
dilakukan untuk pencegahan proses 19. Berikan antibiotik sesuai autran
penularan penyakit 20. Ajari pasien dan keluarga tanda dan gejal infeksi dan
d. Mendeskripsian tanda dan gejala kalau terjadi melaporkan pada perawa
infeksi 21. Ajarkan klien dan anggota keluarga bagaimana
e. Mendeskripsikan penatalaksanaan mencegah infeksi
yang tepat untuk infeksi Proteksi Infeksi
22. Monitor tanda dan gejala infeksi
23. Monitor hitung granulosit, WBC
24. Monitor kerentanan terhadap infeks
25. Batasi pengunjung
26. Saring pengunjung terhadap penyakit menular

44
4. Discharge Planning
a. Jelaskan tentang kondisi pasien yang meemrlukan perawatan dan

pengobatan

b. Ajarkan keluarga untuk mengenal komplikasi termasuk menurunnya

kesadaran, perubahan gaya berjalan, demam, kejang, sering muntah,

dan perubahan bicara

c. Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan efek samping dan

reaksi dari pemberian obat

d. Ajarkan keluarga untuk menghindari injuri bila kejang: penggunaan

sudip lidah, mempertahankan jalan napas selama kejang

e. Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk

aktivitas sehari-hari di rumah, kebutuhan kebersihan personal,

makan-minum dan latihan ROM bila pasien mengalami gangguan

fisik

f. Ajarkan bagaimana cara mencegah injuri, seperti gangguan

pengaman

g. Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai dengan jadwal

h. Ajarkan pada keluarga bagaimana mengurangi peningkatan tekanan

intrakranial

K. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan Keperawatan

a. Pertahankan fungsi ABC

b. Observasi status neurologis

45
c. Observasi 24 jam

d. Tinggikan posisi kepala pasien 30° untuk menurunkan TIK

e. Jaga kebutuhan nutrisi pasien agar tetap terpenuhi

f. Jika pasien muntah, puasakan terlebih dahulu

g. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi nyeri

h. Awasi kemungkinan munculnya kejang

2. Penatalaksanaan Medis

a. Cairan IV

Cairan intravena harus diberikan sesuai kebutuhan untuk

resusitasi dan mempertahanakan normovolemia. Keadaan

hipovolemia pada pasien sangatlah berbahaya. Namun, perlu juga

diperhatikan untuk tidak memberikan cairan berlebihan. Jangan

diberikan cairan hipotonik. Juga, penggunaan cairan yang

mengandung glukosa dapat menyebabkan hiperglikemia yang

berakibat buruk pada otak yang cedera. Karena itu, cairan yang

dianjurkan untuk resusitasi adalah larutan Ringer Laktat atau garam

fisiologis. Kadar natrium serum perlu dimonitor pada pasien dengan

cedera kepala. Keadaan hiponatremia sangat berkaitan dengan

endema otak sehingga harus dicegah.

b. Antibiotik

Dapat diberikan terutama untuk cedera kepala terbuka,

pemasangan monitor TIK, atau infeksi pada sistem tubuh lainnya.

46
c. Obat antikejang (misal : fenitoin, dan karbamazepin)

Epilepsi pascatrauma terjadi pada 5% pasien yang dirawat di

RS dengan cedera kepala tertutup dan 15% pada cedera kepala berat.

Terdapat 3 faktor yang berkaitan dengan insiden epilepsi: (1) Kejang

awal yang terjadi dalam minggu pertama, (2) Perdarahan

Intrakranial, atau (3) Fraktur depresi. Penelitian tersamar ganda /

double blind menunjukkan bahwa fenitoin sebagai profilaksis

bermanfaat untuk menurunkan angka insidensi kejang dalam minggu

pertama cedera namun tidak setelahnya. Fenitoin atau fosfenitoin

adalah obat yang biasa diberikan pada fase akut. Untuk dewasa dosis

awalnya adalah 1 g yang diberikan secara intravena dengan

kecepatan pemberian tidak lebih cepat dari 50 mg/menit. Dosis

pemeliharaan biasanya 100 mg/8 jam, dengan titrasi untuk mencapai

kadar terapetik serum. Pada pasien dengan kejang berkepanjangan,

diazepam atau lorazepam digunakan sebagai tambahan selain

fenitoin sampai kejang berhenti. Untuk mengatasi kejang yang terus

menerus kadang memerlukan anestesi umum. Sangat jelas bahwa

kejang harus dihentikan dengan segera karena kejang yang

berlangsung lama (30 sampai 60 menit) dapat menyebabkan cedera

otak..

d. Antipiretik

Adalah golongan obat untuk demam. Saat terjadi infeksi, otak

kita akan menaikkan standar suhu tubuh diatas nilai normal sehingga

47
tubuh menjadi demam. Terdapat banyak jenis obat antipiretik

diantaranya adalah obat – obatan antiradang nonsteroid (ibuprofen,

ketoprofen, nimesulide), aspirin, paracetamol, metimazol.

e. Barbiturat

Barbiturat dosis tinggi (pentobarbital atau tiopental) akan

menginduksi koma, menurnkan TIK, dan mengurangi angka

kematian pada klien dengan TIK yang tidak terkendali yang tahan

terhadap semua tindakan medis dan bedah lainnya. Pada awalnya

diberikan 10 mg/kgBB dalam 30 menit, kemudian dilanjutkan

dengan bolus 5 mg/kgBB setiap jamserta drip 1mg/kg BB/jam untuk

mencapai kadar serum 3 – 4 mg%.

f. Glukokortikoid (dexamethazone)

Berfungsi untuk mengurangi demam. Obat ini diberikan 10 mg

untuk dosis awal, pada hari ke 2 – 3 diberikan 5 mg/8 jam, hari ke 4

diberikan 5 mg/12 jam, dan pada hari ke 5 diberikan 5 mg/24 jam.

g. Diuretic osmotic (manitol)

Manitol digunakan untuk menurunkan tekanan intrakranial

(TIK) yang meningkat. Sediaan yang tersedia cairan manitol dengan

konsentrasi 20% (20 gram setiap 100 ml larutan). Dosis yang

diberikan 0.25 – 1 g/kg BB diberikan secara bolus intravena. Manitol

jangan diberikan pada pasien yang hipotensi, karena manitol tidak

mengurangi tekanan intrakranial pada kondisi hipovolemik dan

manitol merupakan diuretic osmotic yang potensial. Adanya

48
perburukan neurologis yang akut, seperti terjadinya dilatasi pupil,

hemiparesis maupun kehilangan kesadaran saat pasien dalam

observasi merupakan indikasi kuat untuk diberikan manitol. Pada

keadaan tersebut pemberian bolus manitol (1 g/kgBB) harus

diberikan secara cepat (dalam waktu lebih dari 5 menit) dan pasien

segera di bawa ke CT scan ataupun langsung ke kamar operasi bila

lesi penyebabnya sudah diketahui.

h. Obat paralitik (pancuronium)

Digunakan jika klien dengan ventilasi mekanik untuk

mengontrol kegelisahan atau agitasi yang dapat meningkatkan resiko

peningkatan TIK.

i. THAM (Tris – Hidroksi – metil – aminometana)

Adalah suatu buffer yang dapat masuk kedalam susunan saraf

pusat dan secara teoritis lebih superior daripada natrium bikarbonat

dan dalam hal ini diharapkan dapat mengurangi TIK.

49
L. Algoritma Penanganan

Algoritma Penatalaksanaan Pasien Cedera Kepala Ringan

Pasien

IRD 1. Stabilisasi airway, breathing dan circulation (ABC)


2. Anamnesis, fisik diagnostik
3. Pemeriksaan radiologis, sesuai indikasi
4. Pemeriksaan labL DL dan GDA + Lab lain sesuai
indikasi
5. Tx. Simtomatik + antibiotik sesuai indikasi
6. Lapor jaga bedah saraf

1. Infus 0,9 NS 1,5 ml/kgBB/jam(anak <2 tahun:


D5 0,25 NS
Operasi MRS di ruang
2. Puasa 6 jam
HCU - F
3. Obat simptomatik IV atau supp
4. Observasi ketat sebagai pasien cedera otak
ICU - ROI 5. Catat keadaan vital dan neurologis bila akan
dikirim ke ruang perawatan
6. Serah terima penderita serta informasi lengkap
keadaan penderita
VS. Stabil
Neurologis Stabil

Cepat memburuk
R. Perawatan (LCU)

Resusitasi + Rediagnosis
KRS

ICU ROI - 1 Operasi

Indikasi CT Scan kepala pada Cedera Kepala Ringan :


1. Nilai GCS kurang dari 15 pada 2 jam setelah cedera.
2. Dicurigai adanya fraktur kalvaria.
3. Adanya tanda-tanda fraktur dasar tengkorak.
4. Muntah lebih dari 2 episode.
5. Usia lebih dari 65 tahun.
6. Amnesia lebih dari 30 menit.

50
7. Kejang.
8. Cedera tembus tengkorak.
9. Adanya defisit neurologis.
10. Mekanisme cedera yang berat.

Penanganan cedera kepala ringan dengan fraktur linear terbuka:


Diagnosa : Bila ada luka terbuka, eksplorasi luka sampai kalvaria sebelum luka
dijahit.
Penanganan :
1. Debridement lokal.
2. Tidak perlu fiksasi tulang.
3. Jahit luka primer.
4. Pasien di rawat inap. Observasi : Level kesadaran (GCS), bila GCS turun
berarti ada lucid interval, kemungkinan ada perdarahan Epidural, maka
pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan dengan fasilitas bedah saraf.
5. Pasien dipulangkan bila kesadaran baik setelah beberapa hari rawatan
dengan penjelasan peringatan untuk pasien cedera kepala ringan yang
dipulangkan.

Penanganan cedera kepala ringan dengan fraktur basis kranii:


Diagnosa :
1. Rhinorhea, Brill hematoma, anosmia (Fraktur basis kranii anterior).
2. Otorhea, Battle sign (Retroaurikular hematoma), parese N VII/VIII.

Penanganan :
1. Fraktur basis bukan kasus mengancam jiwa (life threatening), bila GCS
memburuk, hal itu disebabkan faktor lain atau komplikasi.
2. Pasien di rawat inap, terapi non operatif.
a. Head up 30 derajat.
b. Diet : MB
c. Obat : antibiotik (kontroversi), analgetik.
d. Perawatan rhinorhea/otorhea : biarkan mengalir, jaga kebersihan.
Umumnya berhenti spontan dalam 3 – 5 hari.
3. Observasi :
a. Tanda vital.
b. GCS/pupil/motorik
c. Rhinorhea/Otorhea
d. Tanda-tanda infeksi
e. Defisit neurologis.

51
4. Rawat jalan, bila :
a. Tanda vital stabil.
b. GCS 15.
c. Rhinorhea/Otorhea berhenti.
d. Tanda-tanda infeksi (-).

Algoritma Penatalaksanaan Pasien Cedera Kepala Sedang

Pasien
1. Stabilisasi airway, breathing dan circulation (ABC),
pasang collar brace
IRD
2. Lapor jaga bedah saraf
3. Atasi hipotensi dengan cairan isotonis, cari penyebabnya
4. Pemeriksaan darah (DL, BGA, GDA)
5. Bila tensi stabil, infus 0,9 NS 1,5 ml/kgBB/jam
6. Anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan neurologis
7. Obat simptomatik IV atau supp
8. Bila telah stabil lakukan CT scan kepala, foto leher lat,
thorax, foto AP pemeriksaan radiologis lain atas indikasi
9. Pasang kateter, evaluasi produksi urin

Operatif ICU-ROI MRS di ruang HCU-F

Membaik Memburuk

VS. Stabil 1. Stabilisasi + Resusitasi


Neurologis Stabil 2. Rediagnosis cito

R. Perawatan (LCU)
ICU ROI - 1 Operasi

52
Algoritma Penatalaksanaan Pasien Cedera Kepala Berat

Pasien 1. Resusitasi airway, breathing dan circulation


2. Bersihkan lendir, benda asing, jaw thrust bila perlu kepala tidak boleh
hiperekstensi, hiperflexi atau rotasi, pasang orofaring atau nasofaring tube bila
IRD perlu. Bila ada sumbatan jalan napas akut dilakukan cricothyrotomi dan
persiapan intubasi atau tracheostomi
3. Intubasi + kontrol ventilasi, pasang pipa lambung
4. Pasang collar brace
5. Lihat gerakan napas, auskultasi, palpasi, perkusi dada. Cari tanda-tanda
pneumothorax, hemothorax, flail chest atau fraktur costa
6. Bila shock, berikan cairan isotonis (RL, NaCl atau koloid atau darah). Cari
penyebab, pertahankan tensi >90 mmHg
7. Ada tanda-tanda TIK meningkat dan tidak ada hipotensi atau gagal ginjal dan
atau gagal jantung berikan manitol 20% 200 ml bolus dalam 20 menit atau 5
ml/kgBB, dilanjutkan 2 ml/kgBB dalam 29 menit setiap 6 jam, jaga
Lapor jaga bedah saraf osmolalitas darah <320 mOsm
8. Bila kejang: Diazepam 10 mg IV pelan, dapat ditambah hingga kejang
berhenti. Awasi depresi napas, dilanjutkan phenitoin bolus 10-18 mg/kgBB
encerkan dengan aqua steril 20 ml IV pelan, dilanjutkan 8 mg/kgBB
9. Bila telah stabil infus cairasn isotonis (NaCl 0,9%) 1,5 ml/kgBB/jam
pertahankan euvolume, pemasangan CVP atas indikasi
10. Pemeriksaan lab (DL, BGA, GDA, cross match)
11. Anamnesis pemakaian obat-obatan, sedasi, narkotika, intake terakhir, alergi
12. Pemeriksaan fisik umum dan neurologis
13. Obat simptomatik IV atau supp dan antibiotika sesuai indikasi
14. Pasang kateter, catat keadaan dan produksi urin
15. Tanda vital stabil, lakukan CT scan kepala, foto leher lat, thorax fot AP
16. Pemeriksaan radiologis lain atas indikasi
17. Pemeriksaan refleks batang otak. Hati-hati pada pemeriksaan reflek
oculocephalik
18. Pasang ICP monitor, pertahankan tekanan <15 mmHgg atau <22 cm H2O
pada pasien yang tidak ada indikasi operasi lesi intrakranial. Bila ada lesi
intrakranial indikasi operasi, ICP monitor dipasang bersamaan saat operasi
emergensi

1. Bila keadaan fungsi vital telah stabil


Operasi 2. Catat keadaan terakhir sebelum dikirim ke ruangan ICU
3. Lakukan serah terima secara lengkap (keadaan penderita, obat-obatan
yang diberikan dan rencana perawatan)

MRS di ICU-ROI R. HCU-F R. Perawatan (LCU)

53
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Trauma kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan

bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan

perlambatan (accelerasi–decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk

dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan

penurunan kecepatan, serata notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan

juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tingkat pencegahan

Dari pembahasan yang sudah dijelaskan, bisa disimpulkan bahwa

trauma kepala adalah trauma pada otak yang disebabkan adanya kekuatan

fisik dari luar yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran.

Akibatnya dapat menyebabkan gangguan kognitif, gangguan tingkah laku,

atau fungsi emosional. Gangguan ini dapat bersifat sementara atau

permanen, menimbulkan kecacatan baik partial atau total dan juga

gangguan psikososial. Menurut etiologi cedera kepala adalah Kecelakaan,

jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil, kecelakaan

pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan, cedera akibat kekerasan.

B. Saran

1. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan institusi dapat memberikan tambahan referensi tentang

54
trauma kepala, bagaimana penatalaksanaan dan terapi awal yang harus

diberikan.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk

mendapatkan hasil maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi.

3. Bagi Mahasiswa

Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui manajemen

kegawatdaruratan trauma kepala sehingga dapat menerapkannya pada

praktik klinik keperawatan di kemudian hari.

55
DAFTAR PUSTAKA

Ariani, T,A. 2012. Sistem Neurobehavior. Jakarta: Salemba Medika.

Brunner and Suddarth. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Bulechek, M.G., Howard, K.B., Joanne, M.D. (eds). 2013. Nursing

Interventions Classification (NIC). USA: Mosby Elsevier

Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi ed.3. Jakarta : EGC.

David S, Stephen A M, Jennifer A F. Management of Elevated Intracranial

Pressure in Decision Making in Neurocritical Care. Thieme. New York.

2009; 195-218.

Dewanto, George., Suwono, Wita. J., Riyanto, Budi., Turana, Yuda.

2009. Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta:

ECG.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing Diagnoses:

Definitions & Classification, 2015–2017. 10nded. Oxford: Wiley Blackwell

Hernanta, Iyan. 2013. Ilmu Kedokteran Lengkap Tentang Neurosains.

Yogyakarta: D-Medika.

Hudak CM & Gallo BM, 2010, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Edisi 6,

EGC, Jakarta.

Irwana, Olva. 2009. Cedera Kepala.Faculty Of Medicine.Article pdf.Universitas

Pekan Baru Riau

56
Moorhead, Sue. et al. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). 5th ed. USA:

Mosby.

Musliha.2010.Keperawatan Gawat Darurat.Yogyakarta:Nuha Medika

Muttaqin, Arif. 2012. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan

Sistem Persarafan. Jakarta:Salemba Medika, p.161.

New South Wales Health Government. 2012. Closed Head Injury in Adults-Initial

Management. 2nd Edition. NSW Health, p.8. Diakses pada

http://www0.health.nsw.gov.au/policies/pd/2012/pdf/PD2012_013.pdf

Satyanegara.2010. Ilmu Bedah Syaraf Edisi IV. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Wijaya, Andra dkk. 2013. KMB 2.Yogyakarta: Nuha Medika.

57