Anda di halaman 1dari 4

BAB III

PORTOFOLIO

Topik : Demam Tifoid


Tanggal (kasus) : 2015 Presenter : dr. Wiwin Meiriana
Tanggal presentasi : - Pendamping : dr. Nunik Yuniati
Tempat presentasi : RSUD Talang Ubi, PALI
Obyektif presentasi :
 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa
 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil
 Deskripsi :
 Tujuan :
Bahan bahasan :  Tinjauan  Riset  Kasus  Audit
Pusaka
Cara membahas :  Diskusi  Presentasi  Email  Pos
dan diskusi

Data pasien : Nama : No. registrasi :


Nama klinik : Telp : Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis : Demam Tifoid
2. Riwayat Pengobatan : -
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit : Demam 7 hari
4. Riwayat Keluarga/ Masyarakat : -
5. Riwayat Pekerjaan : -
6. Lain-lain : -
Daftar Pustaka :
1. Arif Mansjoer., d.k.k,. 2000. Kejang Demam di Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius
FKUI. Jakarta.
2. Behrem RE, Kliegman RM,. 1992. Nelson Texbook of Pediatrics. WB Sauders.Philadelpia.
3. Hardiono D. Pusponegoro, Dwi Putro Widodo dan Sofwan Ismail. 2006. Konsensus
Penatalaksanaan Kejang Demam. Badan Penerbit IDAI. Jakarta
4. Hardiono D. Pusponegoro, dkk,.2005. Kejang Demam di Standar Pelayanan Medis Kesehatan
Anak. Badan penerbit IDAI. Jakarta
5. Staf Pengajar IKA FKUI. 1985. Kejang Demam di Ilmu Kesehatan Anak 2. FKUI. Jakarta.

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Demam Tifoid
2. Patogenesis Demam Tifoid
3. Penatalaksanaan Demam Tifoid
4. Edukasi tentang penyebab, faktor resiko, dan penatalaksanaan yang tepat

26
Subyektif

Pasien mengeluh demam yang timbul sjak ± 7 hari SMRS, demam terutama tinggi pada sore
hingga malam hari, mual (+), muntah (+), sakit kepala (+), nyeri ulu hati (+), badan terasa
pegal-pegal, tidak ada menggigil dan tidak berkeringat, riwayat perdarahan gusi (-), mimisan
(-), BAK normal, BAB (+) normal. Pasien punya kebiasaan makan jajanan di luar. Adanya
keluhan demam yang berlangsung selama 1 minggu dapat mengarah kepada demam tifoid,
demam berdarah dengue, dan malaria.

Objektif

Vital sign : TD = 120/80 mmHg

HR = 100 x/i

RR = 20 x/i

T = 380C

Pem. Rumple Leed = (-)

Pem. Kepala = CA (-/-), SI (-/-), lidah kotor (+)

Pem. Thoraks =gerakan dada simetris, suara napas vesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-), BJ I
dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Pem Abdomen =perut datar, supel, NT epigastrium (+), H/L tidak teraba, Timpani, BU
(+) normal

Ekstremitas =akral hangat, CRT < 2 detik

Hasil Laboratorium

Hb = 12 g/dl WBC = 6.700/µl

Ht = 36% PLT = 137.000

Widal S. H = 1/160

Widal S. O = 1/320

27
Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium mendukung diagnosis ke arah demam
tifoid. Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan:

- Gejala klinis (minggu ke-1 pola demam reminen, dan minggu ke-2 dan ke-3 demam
kontinu)

- Riwayat kebiasaan yang kurang higienis (makan jajanan di luar)

- Pemeriksaan fisik (lidak kotor)

- Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan Widal S.H = 1/160 dan Widal S.O = 1/320

Assesment (penalaran klinis)

Demam yang terjadi pada pasien demam tifoid disebabkan oleh infeksi Salmonella typhi.
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terjadi pada saluran pencernaan
dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, disertai dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

Gejala prodromal pada demam tifoid berupa malaise, anoreksia, sakit kepala, rasa tidak enak
di perut, dan nyeri seluruh tubuh. Pada minggu pertama demam berangsur-angsur naik,
demam terutama pada sore dan malam hari (febris reminen), dan pada minggu kedua dan
ketiga demam terus menerus tinggi (febris kontinua). Kemudian turun secara lisis. Gangguan
gastrointestinal berupa bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor, berselaput putih dan pinggir
hiperemis. Perut agak kembung dan nyeri tekan. Gejala demam tersebut disebabkan oleh
endotoksin yang dieksresikan oleh basil S. typhi, sedangkan gejala pada saluran pencernaan
disebabkan oleh kelainan pada usus. Dimana pada infeksi S. typhi, basil diserap di usus halus
kemudian melalui pembuluh limpa masuk ke aliran darah sampai ke organ hati dan limpa.
Basil yang menyebar ke seluruh tubuh masuk ke kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan
tukak pada mukosa di atas plaque peyeri. Hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman di
perut hingga dapat menimbulkan perdaraha dan perforasi usus.

Pemeriksaan serologi (pemeriksaan Widal) ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi


terhadap antigen kuman S. typhi. Diagnosis dinyatakan bila titer O = 1/160, yang sesuai pada
pasien ini. Pemeriksaan ini tepat dilakukan pada pasien ini, dimana demamnya telah
berlangsung 1 minggu, mengingat titer O meningkat di akhir minggu ke-1.

28
Plan

Diagnosis : Upaya diagnosis sudah optimal dinilai dari penelusuran gejala kinis, pola
kebiasaan pasien, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan widal yang mendukung ke arah
diagnosis demam tifoid. Kekurangannya tidak dilakukan pemeriksaan kultur (gall culture)
yang merupakan gold standar untuk pemeriksaan demam tifoid. Hal ini dikarenakan
keterbatasan fasilitas.

Pengobatan :

- IVFD D5% : NaCL = 2 : 1 gtt XX

- Paracetamol 3x500 mg

- Ceftriaxone IV 1 gr/ 12 jam

- Domperidon 3x10 mg

- Ranitidin 1 amp/ 8 jam

- Antasida syr 3x1 C

- Diet TKTP rendah serat

- Bedrest

Penatalaksanaan utama pada kasus demam tifoid adalah istirahat, diet berupa diet
TKTP rendah serat untuk meringankan kerja usus dan menghindari komplikasi
perdarahan saluran cerna atau perforasi usus, dan pemberian antibiotik yang sesuai.
Pada pasien ini antibiotik yang diberikan adalah ceftriaxone IV 1 gr/ 12 jam.

Penatalaksanaan lainnya berupa simtomatik, yaitu pemberian antipiretik, antiemetik


dan vitamin untuk mengatasi keluhan pasien dan pemberian antiulserasi berupa
ranitidin dan antasid untuk mengurangi kerusakan usus lebih lanjut.

Pendidikan : edukasi kepada pasien untuk makan secara teratur, menjaga kebersihan diri dan
makanan.

29