Anda di halaman 1dari 4

PORTOFOLIO

Topik : Infeksi Saluran Cerna pada Anak


Tanggal (kasus) : 26 Januari 2015 Presenter : dr. Wiwin Meiriana
Tanggal presentasi : - Pendamping : 1. dr. Nunik Yuniati
2. dr. Vivin Ovita
Tempat presentasi : RSUD Talang Ubi, PALI
Obyektif presentasi :
 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa
 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil
 Deskripsi :
 Tujuan :
Bahan bahasan :  Tinjauan  Riset  Kasus  Audit
Pusaka
Cara membahas :  Diskusi  Presentasi  Email  Pos
dan diskusi

Data pasien : Nama : FT No. registrasi : 04.07.15


Nama klinik : Telp : - Terdaftar sejak : 26 Januari 2015
RSUD Talang Ubi, PALI
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis :
Demam Tifoid / demam sejak 13 hari sebelum masuk rumah sakit, demam tidak terlalu
tinggi, hilang timbul terutama dirasakan sore hari. Pasien juga mengeluh nyeri kepala,
seperti tertekan-tekan, dan mual. BAB nya menjadi tidak lancar. Sejak 3 hari yang lalu,
pasien mengeluh demam bertambah tinggi dan terus menerus, nyeri kepala, mual dan
tidak BAB. Pada pemeriksaan fisik ditemukan temperatur 39,2 ºC, ragaden (+), coated
tongue (+), nyeri tekan abdomen (+), bising usus meningkat (+).
2. Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah berobat
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit :
Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
4. Riwayat Keluarga/ Masyarakat :
Tidak ada keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien
5. Riwayat Pekerjaan :
Pasien belum bekerja
6. Lain-lain :
Widal: S.typhii O (+) 1/640, S.paratyphii C O (+) 1/320
Daftar Pustaka :
1. Darmowandowo W. Demam Tifoid. Dalam : Soedarmo SS, Garna H, Hadinegoro SR,
Eds. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Infeksi & Penyakit Tropis, Edisi 1. Jakarta :
BP FKUI, 2002 : 367-75
2. Diagnosis of Typhoid Fever. Dalam : Background document : The Diagnosis,
Treatment and Prevention of Typhoid Fever. World Health Organization, 2003 : 7-18
3. Muselina, dkk. 2004. Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan Demam Tifoid Anak
26
Menggunakan Kloramfenikol dan Seftriakson di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta
Tahun 2001-2002. Makara Kesehatan, 8(2) : 59-64
4. Sudoyo, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV. Jakarta : FK UI
5. Kusumaningtyas, D. 2009. Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien
Demam Tifoid di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Wonogiri Tahun
2007. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta
6. Pramitasari, OP. 2013. Faktor Resiko Kejadian Penyakit Demam Tifoid pada Penderita
yang Dirawat di RSUD Unggaran. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2(1) : 56-58
7. Alan, RT. Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid. Dalam : Pediatrics Update.
Jakarta : IDAI, 2003 :2-20
8. Lesser, dkk. Salmonellosis. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine. Edisi
16. Mc Graw, Philadelphia, 2005 : 897-900
9. Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson textbook of pediatrics,
18th ed. Philadelphia, 2007: p.1186-1190.
10. Hartoyo E, Yunanto A, Budiarti L. UJi sensitivitas salmonella typhi terhadap berbagai
antibiotik di bagian anak RSUD Ulin Banjarmasin. Sari Pediatri. September
2006;8(2):118-121.
11. Retnosari S, Tumbelaka AR. Pendekatan diagnostik serologik dan pelacak antigen
salmonella typhi. Sari Pediatri. 2000;2(2):90-5.
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Demam Tifoid
2. Patogenesis Demam Tifoid
3. Penatalaksanaan Demam Tifoid
4. Edukasi tentang penyebab, faktor resiko, dan penatalaksanaan yang tepat

Subyektif
- demam sejak 13 hari SMRS, demam tidak terlalu tinggi, hilang timbul terutama
dirasakan sore hari
- nyeri kepala, seperti tertekan-tekan
- mual namun tidak ada muntah
- BAB nya menjadi tidak lancar
- 3 hari SMRS, demam bertambah tinggi dan terus menerus, nyeri kepala, mual dan tidak
BAB

Objektif
- Keadaan umum : Tampak sakit sedang
- Kesadaran : Compos Mentis, GCS E4 M6 V5
- Vital Sign
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Frekuensi nadi : 72 x/menit
Frekuensi pernafasan : 20 x/menit
27
Suhu : 39,2 ºC
- Berat Badan : 45 Kg
- Gizi : Kesan cukup
- Status Generalis
Pemeriksaan Kepala : ragaden (+), coated tongue (+)
Pem Abdomen : nyeri tekan abdomen (+), hepar & lien tak
teraba, bising usus (+) meningkat
- Pemeriksaan Laboratorium
Widal test : Salmonella Typhi O (+) 1/640
Salmonella Paratyphi C O (+) 1/320

Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan:


- Gejala klinis (minggu ke-1 pola demam reminen, dan minggu ke-2 dan ke-3 demam
kontinu yang juga disertai keluhan gangguan pencernaan seperti mual dan konstipasi)
- Pemeriksaan fisik (suhu yang meningkat, ragaden, coated tongue, nyeri tekan abdomen
dan bising usus meningkat)
- Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan Widal Salmonella Typhi O (+) 1/640,
Salmonella Paratyphi C O (+) 1/320

Assesment
Demam yang terjadi pada pasien demam tifoid disebabkan oleh infeksi Salmonella
typhi. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terjadi pada saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, disertai dengan atau tanpa gangguan
kesadaran.
Gejala prodromal pada demam tifoid berupa malaise, anoreksia, sakit kepala, rasa tidak
enak di perut, dan nyeri seluruh tubuh. Pada minggu pertama demam berangsur-angsur naik,
demam terutama pada sore dan malam hari (febris reminen), dan pada minggu kedua dan
ketiga demam terus menerus tinggi (febris kontinua). Kemudian turun secara lisis. Gangguan
gastrointestinal berupa bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor, berselaput putih dan pinggir
hiperemis. Perut agak kembung dan nyeri tekan. Gejala demam tersebut disebabkan oleh
endotoksin yang dieksresikan oleh basil S. typhi, sedangkan gejala pada saluran pencernaan
disebabkan oleh kelainan pada usus. Dimana pada infeksi S. typhi, basil diserap di usus halus
kemudian melalui pembuluh limpa masuk ke aliran darah sampai ke organ hati dan limpa.

28
Basil yang menyebar ke seluruh tubuh masuk ke kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan
tukak pada mukosa di atas plaque peyeri. Hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman di
perut hingga dapat menimbulkan perdarahan dan perforasi usus.
Pemeriksaan serologi (pemeriksaan Widal) ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi
terhadap antigen kuman S. typhi. Diagnosis dinyatakan bila titer O ≥ 1/160, yang sesuai pada
pasien ini. Pemeriksaan ini tepat dilakukan pada pasien ini, dimana demamnya telah
berlangsung ± 2 minggu, mengingat titer O meningkat di akhir minggu ke-1.
Upaya diagnosis pada pasien ini sudah optimal, dinilai dari penelusuran gejala kinis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan widal yang mendukung ke arah diagnosis demam tifoid.
Namun, pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan kultur (gall culture) yang merupakan
gold standar untuk pemeriksaan demam tifoid. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu, biaya
dan fasilitas.

Plan
Diagnosis : Demam Tifoid
Pengobatan :
- Tirah baring
- IVFD RL : D5% gtt XX (makro)
- Diet lunak tinggi kalori tinggi protein (TKTP) rendah serat
- Paracetamol 3 x 500mg PO
- Ceftriaxon 2 x 1 gr IV
- Ondansentron 2 x 8 mg IV
Penatalaksanaan utama pada kasus demam tifoid adalah tirah baring (istirahat), diet
berupa diet TKTP rendah serat untuk meringankan kerja usus dan menghindari komplikasi
perdarahan saluran cerna atau perforasi usus, dan pemberian antibiotik yang sesuai. Pada
pasien ini antibiotik yang diberikan adalah ceftriaxone IV 1 gr/ 12 jam. Penatalaksanaan
lainnya berupa simtomatik, yaitu pemberian antipiretik dan antiemetik untuk mengatasi
keluhan pasien.
Pendidikan : edukasi kepada pasien untuk istirahat yang cukup, makan secara teratur,
menjaga kebersihan diri dan makanan.

29